Sunday, 6 April 2014

Suatu Hari di Gudang Buku

Rerindangan pohon, dinginnya bangku semen dan kotak-kotak kayu pengap yang ragu bergeming... Di antara celah mereka, kulihat seorang anak berjalan, akan menghampiri. Hampir-hampir hilang nafasku, henti nadiku dan hangus akal sehatku dalam setengah detik kala itu. Bukan! Bukan karena serangan jantung atau stroke, melainkan karena terkaget pikiran warasku. 

Kuikuti sepasang kaki. Dari balikku, muncul langkah kaki, tapi lain. Dia karibnya. Kami berpapasan, aku berdebar, dia tak ubah raut muka. Kami bertiga saling diam. Kawannya melirik muka, aku terdiam sejenak. Berharap, milirik pula mata manusia di sampingnya. Namun tidak. Seekor kupu-kupu hampir mati di sudut lemari kayu.

Aku malu, lantas beringsut ke dalam gudang buku. Ibu garang memoles muka. Ibu sayu mengukur pengunjung. Jemariku mencari buku tentang penari, sedang mata melirik ke sana dan ke sini. Aman untuk menjadi diri sendiri kataku dalam hati.

Berhenti menoleh, kuperoleh sebuah manuskrip tua. Dia coklat, berbau khas dan tampak megah. Kubuka lembar pertama, dadaku tertinju kagum. Kubuka halaman terakhir, air mata tanpa permisi berlari mengalir. Aku dan perasaanku, dibolak-balikkan lembaran tua tak punya judul diri.

Aku jatuh hati untuk kesejuta kali. Kumantapkan hati menulis tentang ini. Secarik kartu terlampau buruk kutarik dari saku dada. Sehelai kertas nota bekas kugelar di atas meja kusam. Pensil menari, otak bersalto liar tanpa kendali. 'Guruku akan bahagia dengan ini!' teriakku tanpa berbunyi.

Aku selesai dan bersiap mengunjungi para ibu. Pintu tiba-tiba sesak dan sinar mentari terhalang benda berbayang tidak normal. Dia menyeruak. Kepala lebih dulu, lantas tangan menyusul melambai tanpa gaya. Karibnya muncul, meninggalkannya, tertawa tanpa bahasa. Aku kaku. Hatiku ingin meraih, tapi otak tak jua memberi izin. Jiwaku ingin menghambur, tapi raga tak mampu bergerak barang seinci.

Keheningan terpecah sebaris bibir seruapa bulan sabit. Tanganku tak tahu cara berdusta, lantas melambai segirang Amelia. Tersadar, terbaca rasa tak biasa, aku mencoba bertingkah luar biasa. Tak ada daya upaya, kakiku melangkah menyamping persis seekor kepiting dikejar burung ceking. Menuju tikus elektronik, menjaring informasi palsu tetang kupu-kupu hitam putih. Nafas berlari, tempat duduk pun seakan tak mau kompromi. Dia masih menatap, aku pura-pura tak lihat.

Dalam hati aku meminta bantuan. "Oh tolong, kau karibnya, cepatlah datang. Bawa dia pulang. Masukkan dia dalam lubang di mana kalian biasa berkubang, di mana di depannya aku terbiasa berpura-pura lalu lalang."

Aku heran kepada jaring yang berlubang besar. Kupu-kupu hitam putih lolos dari tangkapan. Aku kehabisan akal, lantas aku hilang tingkah. Dia masih di samping para ibu. Aku tak bernyali untuk mendekat. Gudang buku tiba-tiba berlalat. Oleh aku yang ternyata mulai membusuk, kehabisan waktu menghimpun nyali, kehabisan energi karena kaki tak henti bergetar penuh ekspresi.

Aku tak bisa pergi. Lantas pura-pura membuka diary. Ibu garang melempar perhatian. Ibu sayu masih sibuk mengukur. Dia hilang! Aku terlonjak senang. Berdiri tanpa hati-hati dan menyenggol tubuh lemari. Bruk! Suara lemari teraniaya manusia terlepas manisnya mara bahaya.  Ibu garang makin penasaran. Berhenti menebar bedak dan membulatkan mata di balik kacamata segiempat. Aku tersenyum tanpa makna.

Aku mendekat dan menyiapkan manuskrip tua. Secarik kartu tehidang di atasnya. Pulpen masuk saku, nota bekas terselip di pengaitnya. Aku harus bergegas sebelum dia muncul dan membuatku lupa bernafas. 

Perkiraanku tak sering salah, akan kucapai si ibu dalam lima langkah. Aku melayang, ringan nian dalam ketergesaan. Namun sial! Jidatku menghantam punggung yang lebar! Aku memeluk lantai dan dia memutar badan. Alangkah kesialan ini begitu penuh bintang-bintang, sang pemilik tubuh mengulurkan tangan. Mataku terbuka dan seketika inginku hilang ingatan. Dia! Dia lagi dengan wajah gelisah dan penuh rasa bersalah.

Aku berdiri tanpa menjbat tangan. Lantas tanpa sadar bertingkah tidak wajar. Si manuskrip tanpa alasan ingin kujejalkan dalam tas tangan. Si ibu tahu lantas menyetop laju tanganku. Aku malu dia melihatku. Aku bertingkah salah tingkah, si ibu mengira aku kleptomania. Sedangkan dia tertawa menahan tawa. Aku memerah dan dia menjadi salah tingkah.

Aku berbalik. Membuka lemari berjudul sastra dan melempar si manuskrip. Aku lupa si guru dan lupa tujuan kunjunganku. Dia bermuka heran, si ibu sayu berhenti mengukur. Karibnya datang dari pojok ruang. Dia meminta maaf, aku bersiap angkat bicara. 

Karibnya ingin berucap dan dia telah siap mendengar pernyataan. Aku tak rela, maku dengan kecepatan kereta kuda, aku mengambil alih percakapan, "Hai! Namaku Amarilis. Bukankah kau mengenalku sejak lama, Antaresta?"

_________________________________________________________________________________
Depok, 24 April 2012

Dia (1)

Aku melihat dia duduk di tepi tiang voli. Sesekali bertepuk tangan, tapi lebih jarang tidaknya. Mungkin dia menjagokan tim yang salah atau kalah atau belum waktunya menang atau sinonimnya. Seorang teman memberitahuku bahwa dia adalah dia. Aku kaget awalnya karena ternyata dia sangat berbeda dengan dia yang ada di imajinasiku. Kawanku berkata dia pendiam dan pelajar yang berbudi baik. Aku menganggapnya sebagai orang aneh yang tidak bisa mengatakan hal yang serius, tidak bisa diam dan penuh dengan pikiran lawak.

Aku mengamati wajahnya dari radius terlalu jauh yang tidak dapat ditolerir mata minusku. Aku hanya mampu menangkap sepasang benda hitam menghiasi daerah kapalanya. Aku bersyukur menonton pertandingan voli sore itu karena setidaknya aku berhasil menemukan dia, orang aneh yang selalu bersembunyi di balik kata-kata sihir. 

Sore itu, kemeriahan suporter dari kedua kubu tidak mampu menandingi kerasnya degup jantungku. Mustahil memang, tapi aku memang selalu mendengarkan kata hatiku atau pikiranku saja. Inilah modal utama keegoisanku.

****

Aku mulai membanting barang-barang di dekatku. Sebuah botol parfum dengan suksesnya menghantam sebuah foto yang terpajang miring dinding. Tatanannya yang memang kubuat miring, sekarang semakin miring karena hanya tinggal satu pengait saja yang masih bertahan. Aku mendekati bingkai foto yang tampak kasihan itu itu. Kacanya pecah dan aku yakin salah satu kepingan kecilnya telah menusuk daging di telapak kaki kananku. Aku tidak peduli dengan sakit itu, aku lebih tertarik memandang apa yang ada di dalam foto. Dia tersenyum manis dengan seorang bayi perempuan kecil yang manis dan sipit di gendongannya.

Ya Tuhan, dia sangat menyayangi Lintang.

****

Aku tahu dia adalah orang yang sangat tepat menjadi objek pelarianku. Terkadang aku jenuh menulis cerita anak-anak yang ceria dan menyenangkan. Meskipun itu profesiku, tapi aku tidak menyukainya. Aku tidak bisa terus berpura-pura ceria sambil terus menulis kalimat-kalimat yang menghibur anak-anak itu. Sandiwara bagiku. Saat aku mulai menjadi seorang anarkis dan menjejalkan muatan-muatan horor ke dalam cerita-ceritaku, aku akan menghubungi dia. Sekedar hubungan jarak jauh lewat telepon, chatting atau e-mail. Dia selalu membangkitkan jiwa kanak-kanakku. Dia memperlakukanku seperti seseorang yang sebaya. Padahal usiaku jauh di atasnya. Gurauan segar mengalir dengan spontan dan menyenangkan sekali berbicara dengannya.

Seminggu setelah aku melihatnya di tribun penenton saat pertandingan voli, aku mulai menyapanya dan menceritakan identitasku yang sebenarnya. Aku terus menceritakan diriku tanpa membiarkannya berbicara sepatah kata pun. Aku sangat suka menceritakan akui dan tidak akan berhenti sebelum aku kehabisan akal untuk mendeskripsikan siapa aku. Aku memang egois dan aku sudah mengatakan hal itu ratusan kali kepadanya. Namun, dia hanya tersenyum bijak. Kilatan pelangi di matanya sungguh menyejukkan. Benarkah dia lebih muda dariku? Dia seperti kakakku... Kakak yang tidak pernah kupunya karena aku memang anak perytama. 

Baru sekali ini aku kehabisan kata saat berbincang dengan seseorang. Orang lain akan pergi karena bosan mendengarkan ocehanku yang mempunyai panjang dan lebar yang tidak proposional. Namun, dia tidak. Dia tetap mendengarkan dan tersenyum. Aku tidak tahu apakah dia paham sepenuhnya omonganku atau tidak. Yang pasti aku mulai merasakan canggung yang tidak biasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ya Tuhan... 

Dia sangat berbeda dengan dia yang kukenal sebelum ini. Dia adalah sahabat penaku. Aku mendapatkan surat pertama darinya di kebun belakang sekolah saat aku sedang membolos mata pelajaran sejarah yang membosankan. Aku duduk di kelas 2 SMA saat itu. Akulah yang pertama meletakkan sepucuk kertas di pagar kebun belakang berisi umpatanku tentang seorang guru. Seminggu kemudian di tempat yang sama dengan aku meletakkan suratku, kutemukan balasan suratku. Penasaran, aku membacanya dan aku langsung menyukai caranya berbicara dan berpikir. Hal itu berlanjut hingga kami sering chatting lewat messenger.

Dia selalu punya penyelesaian untuk masalah-masalahku. Mottonya saja "menyelesaikan masalah tanpa masalah" dan aku curiga dia mendapatkan motto itu karena sering menggadaikan perhiasan ibunya mengingat tingkah lakunya yang bandel. Namun, Ya Tuhaan... aku jatuh cinta kepadanya...

(bersambung)

_____________________________________________________________________________________________
Depok, 7 November 2010

Mimpi

Saat itu, hujan berderai di sekitar stasiun. Aku tidak tahu apakah hal yang sama terjadi di tempatmu, kawan. Kuhitung beberapa tetesannya, hingga lama-lama aku tertidur memangku koran.

Aku bermimpi bertemu dengan seorang bapak tua dengan semangat yang tak kalah dari semangat pemuda 17 tahun. Entah kenapa aku menyimpulkannya sebagai seorang tua, padahal rambutnya jauh dari kata ubanan, senyumannya tak diikuti keriput dan lekuk-lekuk aliran keringat. Yeah... hanya saja terlihat jauh lebih tua dariku. Tua pengalamannya. Aku yang loper koran adalah seorang yang dangkal pengalaman dan rendah pengetahuan.

Si bapak terlihat kalem. Kalem di awal ternyata pecicilan di tengah perkenalan. Si bapak menggandeng seorang wanita sebaya dengannya. Wanita yang tak kalah semangat dengannya, tak kalah mempesonanya dengan si bapak. Lalu aku mulai memanggilnya dengan sebutan si ibu. Si bapak dan ibu ini menyapaku terlebih dulu. Dua batang lollypop susu disodorkan padaku. Aku sempat curiga jangan-jangan lollypop itu sudah diberi racun atau setidaknya obat tidur. Terbayang adegan di mana aku sedang mengemut-emut lollypop dengan beringas, lalu aku tiba-tiba pingsan dan si bapak ibu itu menjarah barang-barangku serta kabur meninggalkanku, membiarkanku jadi gelandangan. Namun, setelah kupikir-pikir, barang apa yang bisa mereka rampas dariku? Koran-koran pagi yang hingga semalaman ini belum laku terjual? 

Aku terima lollypop susu yang terlihat mahal itu. Aku cicipi dan aku biarkan rasanya meleleh di permukaan lidahku. Manis dan legit. Manis sekali, meskipun itu ada di dalam mimpi. Aku tahu ini mimpi dan aku masih tak ingin terbangun karena aku pikir ini akan menjadi mimpi yang sangat indah, karena aku mengharapkan hal-hal lain yang lebih menakjubkan terjadi setelah aku menghisap lollypop ini, karena aku merindukan sosok bapak dan ibu yang belum pernah kuraba jemari tangannya.

Aku menatap wajah bapak dan ibu itu. Mereka tersenyum haru. Seolah-olah adegan seorang loper koran mengemut lollypop adalah adegan paling mengharukan yang pernah mereka temui sepanjang hidup mereka. Si ibu mendekat, seolah akan mengatakan sesuatu. Dia semakin mendekat dan mendekat hingga wajah kami hanya berjarak lima senti. Tiba-tiba bibirnya mendekat ke telinga kananku dan berbisik, "Dek, mau ngga ngamen bareng kami? Kami kekurangan personil nih. Kami pernah dengar suara adek, ngga parah-parah amat nyanyinya."

Belum sempat aku terkaget, si Bapak suadah mengimbuhi, "Iya, dek. Kami butuh vokalis. Aku main perkusi dan harmonika, sedangkan istriku terbiasa main gitar sambil menyanyi, tapi sayang sekali suaranya sangat tidak enak didengar!" kata si Bapak sambil melirik ke arah si ibu yang sekarang sedang melemparkan deathglare kepadanya. Si Bapak lantas mengangguk-angguk minta maaf kepada si ibu yang tersenyam-senyum palsu. Aku bisa menebak si ibu pasti sedang menunda emosinya meletus.

Aku harus mencerna tawaran mereka setidaknya selama semenit. Hingga mereka mengira aku pingsan sambil melotot, aku masih enggan menanggapi tawaran mereka. Aku memikirkan kawanku yang saat ini belum datang ke stasiun. Jika aku pergi dengan mereka, yang aku takutkan aku tidak akan bertemu lagi dengan kawan tercintaku itu. Aku tak bisa mendengarkan senandung lembutnya lagi, aku akan kehilangan senyum dan tawanya untuk lama waktu hingga kami berpapasan di suatu tempat saat aku nampil dan dia sedang melambai-lambaikan koran kepada calon pembeli. 

Namun, toh aku kembali berpikir, ini adalah mimpi, semuanya akan berakhir saat aku terbangun dan aku masih tidak ingin kehilangan momment ini. Yeah... meskipun pada awalnya kukira bapak ibu ini adalah sepasang suami istri kaya raya yang sedang mencari anak adopsi lalu berniat mengadopsiku setelah melihatku, tapi aku tetap senang jika aku berada di dekat orang-orang yang menginginkanku. Aku senand di dekat mereka, meskipun mereka hanya pengamen yang mengadakan penampilan di pinggir jalan. Kawanku, maaf aku meninggalkanmu, sekali ini saja, di mimpi ini saja.

Kudekati gitar itu. Gitar si ibu yang tersandar pada salah satu tiang peron. Kupetik satu per satu dawainya. Merdu. Dari dawai pertama hingga keenam, dari yang paling nyaring hingga paling dalam. Aku menyukai suaranya, lalu aku mengangguk pada si ibu. 

*****
Aku terbangun di pagi harinya. Koran-koranku masih tak laku. Aku benar-benar tidur semalaman dan menikmati mimpi tak jelas yang cukup menyenangkan. Bernyanyi dengan dua orang yang baru kukenal di dekat bangunan di Kota Tua, dilingkari penonton yang takjub dengan tabuhan perkusi bapak dan permainan petikan gitar ibu serta sedikit mendengarkan cicit nyanyian suara cempreng seorang anak usia 12 tahun milikku. Yeah... mereka berdua membiarkanku memanggil mereka bapak dan ibu, dan aku pun membiarkan mereka memanggilku Nada. Aku entah bagaimana caranya bisa bernyanyi sekali di mimpi malam itu. Aku mampu mendengarkan setiap beat yang diciptakan secara mantap oleh bapak dan permainan gitar ibu yang begitu harmonis.  Aku lupa bahwa aku bisu di luar mimpiku.Kini, aku kembali ke rutinitas. Kuikhlaskan koran yang tak terbeli, teronggok begitu saja di bawah bangku stasiun. Kudengar peluit kereta dari arah Jakarta Kota semakin jelas dan aku tertarik dengan nyanyian indah seseorang yang sangat kukenal di sampingku. Kawanku, kau sudah kembali? Kataku dalam hati.

Aku memang bisu, tapi aku tak tuli. Aku mampu menciptakan sebuah lagu dengan memanfaatkan tetesan air hujan yang menimpa seng-seng penutup rumah Ipan jika aku mau. Aku mampu memainkan konser ria perkusi dari sendok dan pecahan gelas piring jika aku mau. Dan mungkin aku mampu bernyanyi jika ada yang memintaku. Sayangnya, belum ada orang yang memintaku. 

Aku bisu bukan karena aku benar-benar bisu. Aku bisu karena bapak ibuku meninggalkanku hingga aku lupa caranya bersuara. Trauma. Dan kawanku adalah satu-satunya orang yang mampu membuatku terus bernyanyi dalam diam. Dia loper koran dengan masa depan cerah jika boleh kukatakan. Suaranya adalah masa depannya. Hanya saja orang-orang terlalu malas mendengarkan suara orang seperti kami. Hanya saja kami membutuhkan penampilan agar orang-orang melirik kami. Hanya saja, aku bisa melakukan hal yang sama dengan yang terjadi di dalam mimpiku... Yeah! Aku bisa membuatnya terjadi. Aku mampu membuat kawanku mengadakan penampilan jalanan bersama pengamen jalanan. Apa yang kualami di mimpiku, bisa kawanku alami di alam nyata ini. Ini tekadku.

Pintu gerbong kereta arah Jakarta Kota tepat berhenti lima meter di depan lututku. Satu per satu penumpang turun dengan berdesakkan. Aku tak terlalu tertarik mengamati mereka kepala demi kepala. Aku mengalaihkan pandanganku mencari keberadaan kawanku. Dia tertidur nyenyak di lantai batu stasiun, memeluk koran yang masih baru dan bau percetakan. Sekilas, aku teringat mimpiku semalam saat aku mulai tertidur dan menyongsong mimpi indah itu.

Tiba-tiba dari arah gerbong kereta muncul suara-suara yang kukenal. Kukenal belum lama. Suara baritone seorang laki-laki yang masih hangat terekam di otak, disusul suara halus seorang wanita yang sangat menenteramkan. Kulemparkan pandanganku dari tempat kawanku menuju asal suara itu. Dan terlihatlah jari-jari lentik si pemetik gitar yang kulihat semalam lengkap dengan gitar coklat kayunya di pegangan tangan kanan. Dua buah perkusi tertenteng merana di tangan orang di dekatnya, dia si bapak yang semalam mengatakan suara istrinya tidak enak didengar. 

Dan aku tahu, mimpiku akan terulang lagi untuk kawanku hari ini.

_________________________________________________________________________________
Depok, 17 Mei 2011

Surat Keheranan untuk "Yang Terlalu Sering Berpikir Kejauhan"

Hay...
Syukurlah jika kabarmu baik. Aku bingung dalam menanggapi keresahanmu dan kabar-kabarmu. Mungkin, jika aku harus mengabarkan kabarku aku akan berkata kalau aku baik-baik saja. Apakah ini menjawab seluruh isi suratmu? Aku tidak suka membaca tulisan dalam suratmu yang begitu panjang paadahal intinya sama. 

Tentang perjumpaan kita
Kukira beberapa minggu lalu kita berjumpa dan makan bersama. Definisi perjumpaan yang macam apa yang kau harapkan, sebenarnya? Pesta kembang api? Pesta pernikahan? Aku bahkan sudah lupa tentang itu. Tidak sekalian saja kau sebutkan tentang pesta teh botol, pesta rakyat, pesta panen dan yang lainnya? Kenapa kau kesal karena aku tak bersimpati? Lagipula kenapa aku harus bersimpati? Aku sungguh tidak dapat menangkap maksudmu. Apakah aku telah melakukan kesalahan? Perasaan, hanya begitu saja. Apakah kau hanya mampu mengingat setiap hal kecil yang tidak penting seperti itu? 

Sebenarnya, kita dapat berjumpa saat itu. Jika kau datang. Jika kau menurunkan sedikit saja kadar egomu. Aku cukup berharap dapat bertemu denganmu di saat itu. Namun, ke mana kau? Bersembunyi sembari menuliskan kalimat-kalimat yang mengisyarakatkan penderitaan? Jangan-jangan aku salah satu orang yang paling membuatmu menderita, hmm? Ah, kau menulariku cara berpikir yang seperti ini.

Tentang rindumu untukku
Terima kasih untuk rindu yang tersimpan untukku selama ini. Tentu saja, aku merasa cukup pantas dirindukan sesungguhnya. Pesonaku yang keren memang selalu membuat orang-orang mudah merindukanku. Namun, kau cukup berani menuliskan surat semacam itu untukku, di sini. Apa kau cukup punya stok keberanian untuk menahan malu yang akan kau tanggung jika banyak orang yang berpikir macam-macam untukmu? Mungkin, yeah...kau benar. Sulit bagiku untuk merindukan kau atau yang lain. Kenapa? Karena aku tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal seperti itu atau merasakan rasa-rasa yang tak penting semacam itu. 

Kau tahu sendiri, aku pandai bukan? Kau pikir, aku pandai tanpa usaha sama sekali? Sejenius apa pun aku ini, aku perlu memusatkan perhatian untuk studiku. Kau pikir aku sedang bermain dengan hal lain? Aku bukan sepertimu, yang kelebihan waktu luang, hingga kebingungan menghabiskannya. Tch! Apakah kau kelebihan waktu luang atau memang meluangkan waktu terlalu berlebihan? Sepertinya, kau yang bermasalah, bukan aku. Kau terlalu memikirkan urusan orang berlebihan, termasuk urusanku. Mungkin, kau perhatian, tapi mungkin lebih baik kau menyalurkan perhatian itu untuk hal-hal lain yang lebih krusial. Aku heran, sungguh heran dengan cara berpikirmu. 

Tentang kau yang tak menyukaiku dan aku yang tak memenuhi standarmu
Sepertinya kau memang menyukaiku. Kenapa kau masih berkilah? Kau bilang aku tak memenuhi standarmu. Namun, apa kau pernah berpikir tentang dirimu sendiri, apakah kau sudah cukup memenuhi standarku, bahkan untuk hanya sekadar menjadi perindu. Kau menyebutku orang yang tak pantas untuk dirindukan. Namun, apa kau sudah cukup pantas untuk merindukanku? 

Maaf, jika balasan surat yang kuberikan tidak sesuai dengan harapanmu, jika isi tulisan ini justru seperti semacam serangan balik untukmu. Aku hanya ingin kau berubah dari segala pikiran-pikiran itu, yang negatif, yang tidak penting sama sekali. Meski kuakui, aku hampir tak menyangka akan ada orang yang memperhatikanku dan merindukanku hingga sebegitu besarnya, di saat aku bahkan mungkin mengingat tentangmu pun tidak. Namun, yakinlah...bahwa kau jauh lebih baik dari sekadar melakukan hal-hal tidak jelas ini. Sadarlah... Jalani sisa studimu dengan benar. 

Dariku yang terlalu heran denganmu yang terlalu berpikir kejauhan,

PS: Lain kali, kirimkanlah pesan (hanya) yang bermanfaat. Aku tidak suka membaca tulisan panjang dan harus membalasnya dengan tulisan yang panjang juga. 

Saturday, 5 April 2014

Surat Rindu untuk Kau yang Tak Pantas Dirindu

Hey, apa kabar?
Aku ingin menyampaikan kabarku, bahwa aku baik-baik saja di sini. Aku mendapatkan asupan makanan yang cukup, hiburan dan rekreasi yang tidak kurang, porsi tidur yang justru berlebihan dan kebebasan yang cukup tak pernah membuatku ingin melarikan diri dari dalam kamar kost-an. Aku sungguh termanjakan dengan kehidupanku saat ini, meskipun kuakui...aku mulai was-was dengan nasib studiku.


Kapan terakhir kali kita berjumpa?
Apakah ketika pesta kembang api tahun lalu? Oh, tidak. Tidak mungkin, aku ingat betul kalau kita batal menontonnya bersama. Kau bilang kau ingin berlayar pulang dan aku tidak mungkin memintamu untuk tetap menemaniku. Padamu aku menyebut nama seseorang yang kita sama-sama kenal, "Aku akan pergi ke pesta kembang api itu bersamanya." Berbohong? Pada saat mengatakannya, aku belum yakin jika aku sedang berbohong karena memang pada awalnya dia akan menontonnya juga. Kukira, aku akan berjumpa dengannya di pesta itu. Namun, ternyata, kami tidak saling lihat batang hidung masing-masing. Alhasil, aku pun menonton sendirian. 

Mungkin, kau tidak tahu, aku beberapa kali bercerita pada teman kerjaku bahwa aku akan menontonnya bersamamu sehingga aku menolak untuk pergi bersamanya dan satu orang yang lain. Aku sedikit kesal sekaligus malu ketika kau bertanya, "Jadi datang? Dengan siapa? Kirimi aku fotonya." Jika aku menjawab jujur tentang aku yang datang sendirian, aku akan malu karena aku semacam telah berbohong dan terkesan ngotot keterlaluan untuk datang ke acara yang penuh orang itu, sendirian. Jika aku tidak menjawab jujur, aku tidak nyaman. Akhirnya, aku menjawab bahwa aku sendirian sembari menyisipkan pesan ajakan (tanpa harapan) agar kau datang turut menyaksikan karena pestanya baru akan dimulai dalam setengah jam. Sudah pasti kau menolak. Namun, yang membuatku kesal adalah kau sama sekali tidak bersimpati padaku yang betul-betul sendirian. Tahu begitu, aku mengajak orang yang lain juga, tak hanya kau.

Jadi, kapan terakhir kali kita berjumpa yang sebenarnya berjumpa? 
Sepertinya, perjumpaan terakhir kita justru setelah pesta kembang api itu, di sebuah pesta yang lain, di pesta hajatan seseorang, yang sama-sama tidak kita kenal. Saat itu, kau bilang bahwa kau baru saja mendaki bukit yang tak tinggi bersama beberapa orang temanmu. Kalian tak jalan kaki, tapi ini bukan tidak melelahkan juga, katamu. Aku sudah tahu tentang perjalananmu itu dari seorang temanmu, maka aku hanya menjawab, "Aku tahu kok!" dan berakhirlah semua percakapan kita. Hari itu, kita tidak hanya berdua dalam menyaksikan sebuah perayaan sakral, peresmian menyatunya dua insan yang penuh cinta itu. Di saat itulah aku mencurigai satu hal bahwa kau sedikit mampu membaca gerak-gerikku. Sejak itulah, aku ingin menjaga jarak agar kau tidak mampu membacaku, agar aku tidak dapat memunculkan tanda-tanda padamu. Namun, aku bukan penepat janji yang baik. Aku masih belum mampu menjaga tekadku ini dengan baik, sebaik kau, yang justru telah mampu menjauhkan dirimu dari "ini" dengan baik, untuk mendekatkan diri dengan hal lain yang lebih baik dan menarik dari "ini", katamu. 

Mengapa rindu?
Ini adalah pertanyaan yang akan sulit untuk kujawab. Aku tidak memiliki alasan yang pasti, yang mendasari segala perbuatan tidak sopanku, merindukanmu, selama ini. Satu hal yang jelas adalah karena aku "hanya" penasaran. Aku hanya ingin tahu apa yang sedang kau pikiran dan lakukan; hanya ingin memastikan kau sedang dalam kondisi superbaik dan tidak kesepian; hanya menginginkan kau tidak hilang dan membenci keadaan yang timbul akibat apa yang sudah terjadi dan kau jalani di masa-masa itu; hanya ingin tahu bagaimana kabarmu. Apakah ini pantas disebut sebagai sekadar "hanya"? Percayalah, aku hanya merindukan keceriaanmu. Kerendahan hatimu yang kau gunakan untuk membalut kepandaianmu dan menyajikannya dalam humor dan tawa adalah hal yang tak ingin kulewatkan ketika tengah berada di satu tempat yang sama denganmu. Kukira itu ada padamu yang dulu. Itulah yang kurindukan. Keceriaanmu yang kau tampakkan pada semua orang. 

Mengapa kau tak pantas dirindu?
Ini pertanyaan sangat mudah, tetapi aku sedikit tidak rela untuk menyuarakan atau menuliskannya. Aku tengah merindukan seseorang yang bahkan dia sendiri tengah merindukan orang lain dalam waktu cukup lama; yang bahkan dia sendiri tidak mengizinkan dirinya untuk dirindukan oleh orang lain; yang bahkan dia sendiri tak pernah merindukan orang-orang yang selalu berada di sampingnya. Bukankah ini sebuah rindu yang tak terbalas? Bukankah sebenarnya kau adalah sosok yang tak pantas untuk kurindukan?

Lalu mengapa tetap menulis surat rindu ini?
Jika kau menganggap surat ini adalah sebuah wahana mencari perhatian dari orang-orang, maka kau salah. Aku hanya ingin membahasakan rinduku dengan rapi. Jika aku tak diizinkan untuk bercerita tentangmu pada sesosok manusia, sebuah dosakah jika aku menceritakan kerinduanku di sini? Bukankah hanya aku sendiri yang akan bertanggung jawab dengan tulisanku sendiri? Lalu, mengapa ada saja orang-orang yang berisik membicarakan setiap hal yang kutuliskan? Aku sudah hampir tidak tahu bagaimana caranya bersuara dan bercerita karena kukira ini akan lebih baik untukku dan orang-orang yang pernah mendengarkanku. Akankah aku juga diharamkan untuk menulis di wilayahku sendiri, bahkan untuk sekadar menulis surat rindu untukmu? Terkadang, aku heran mengapa aturan manusia, terkait hal-hal yang sebenarnya tak perlu diatur, begitu banyak. Dan lagi, apakah aku masih salah menuliskan ini?

Hey, siapa kau sebenarnya?
Aku sungguh belum mengenalmu dan ketika aku mulai ingin mengenalmu, kesempatan itu telah hilang dan aku tidak tahu, akankah Dia hadirkan lagi atau tidak. Sejauh ini, aku hanya mengenal namamu, sedikit kepandaianmu, sedikit caramu memperlakukan orang-orang di sekitarmu, sedikit langkahmu dalam menyelesaikan permasalahan orang lain. Hanya itu dan aku ingin tahu lebih tentangmu.

Apakah aku menyukai atau bahkan mencintaimu?
Ayolah, apakah rindu selalu sama dengan cinta? Bisa jadi, dia adalah prasyarat cinta, tetapi sudah lama aku memantapkan keputusan bahwa rasa rindu dan penasaran ini tidaklah sama dengan cinta. Lagipula, kau akan terkejut jika kau tahu satu janji rahasiaku tentangku sendiri, tentang rahasia besarku tentang masa depan, ujung kisah cintaku. Saat ini kau bahkan tak masuk ke dalam jajaran kandidat yang kumau karena aku tahu, dengan perangai dan pemahamanmu saat ini, kau bukanlah orang yang cocok dan mau menerima janjiku. Jadi, berbahagialah kau bukanlah orang yang sedang kucintai, meski kau adalah salah satu orang yang kurindukan dan membuatku nyaman (dulu kala). 

Ah, sudah panjang surat ini dan terlanjur lemah baterai laptopku. Kuakhiri surat rindu ini. Akan kusambung dengan surat berisi rindu-rindu lain, nanti-nanti.

Selamat pagi, selamat menempuhi rute barumu.


Salam rindu dariku, hey!

Friday, 4 April 2014

Vio Lin


Gambar di samping adalah saya. Percaya atau tidak, ini selfie loh. Saya mengambil foto ini dengan kamera digital yang diatur timer-nya selama 10 detik, terus saya lari-lari ke depan lemari yang saya pilih jadi background, sambil meraih violin yang emang udah disiapkan ditaruh di depan lemari tersebut. Jadi, mungkin dapat kita lihat, citra bow (busur biola) yang saya pegang dengan tangan kanan tampak kabur, yang menandakan adanya kekurangsiapan dalam berfoto. Tepatkah disebut sebagai selfie? Wkwk. Ah iya, meski sedikit kabur begitu, tapi foto ini adalah salah satu foto yang paling sering saya gunakan sebagai profile picture, display picture atau avatar, hehe.

By the way, mulai hari ini saya akan menggunakan kata ganti pertama saya atau aku dalam menulis post-post di blog saya. Sepertinya, ini membuat tulisan-tulisan di sini menjadi tampak lebih rapi jika dibandingkan dengan ketika saya menggunakan kata ganti pertama: gue. Selamat tinggal gue! Selamat datang saya dan aku! :D

Dari gambar di atas, mungkin sudah dapat diterka, saya mau menulis tentang ada dalam post ini. Yep! Tepat sekali, tentang selfie! What!?? Bukan! Bukan! Maksud saya tentang bagaimana hubungan saya dengan violin (?). Violinnya Dzakia lebih tepatnya. Meski saya menulis tentang violin, bukan berarti saya dapat memainkannya. Violin memang merupakan salah satu dari tiga alat musik (dua yang lain adalah gitar dan piano) yang ingin saya pelajari dan kuasai dalam hidup saya. Oleh, karena itu saya menulis ini.

Violin, atau yang sering disebut juga dengan biola di Indonesia, merupakan alat musik gesek yang terdiri dari empat senar berbeda nada, yaitu G-D-A-E. Nada terendahnya adalah nada G sedangkan yang tertinggi adalah nada E. Di antara saudara-saudaranya, violin ini menghasilkan nada yang paling tinggi, tidak seperti viola (biola bass) dan cello yang nadanya cenderung rendah. Kunci dasar yang digunakan untuk violin adalah kunci G sehingga pada kertas musik, di bar pertama suatu partitur, hampir selalu menggunakan atau ditulis pada kunci G. (Wikipedia)

Begitu pula dengan violinnya Dzakia, yang saya gunakan sebagai teman berpose pada foto di atas, dia memiliki empat senar yang berbeda nada dan ketebalan. Namun, ada yang unik dari violinnya. Senar ke-1, yaitu senar E (nada tertinggi) begitu rentan putus. Pernah suatu kali, saya mengganti senarnya di Gramedia Margonda, sekalian menyetem senar-senar lainnya. Namun, belum ada satu minggu senar itu dipasang, sudah putus dia tanpa sebab yang jelas. Tidak ada satu orang pun yang menyaksikan putusnya senar tertipis itu. 

Saya adalah saksi yang pertama kali menemukannya sudah dalam kondisi terputus ketika saya membuka case-nya. Senar tersebut putus tepat di bagian tengah. Hal ini membuat saya terheran-heran dan tidak enak kepada Dzakia karena saya adalah orang yang paling sering meminjamnya dan memainkannya sesuka hati, tanpa teknik yang benar, tanpa menghasilkan suara yang indah didengarkan. 

Merk violin milik Dzakia ini adalah Paladin. Jika tidak salah ingat, dia membelinya ketika di tingkat dua kuliah. Saya tidak tahu menahu tentang spesifikasi-spesifikasi merk-merk biola Indonesia dan kelebihannya, sebetulnya. Sebagai seorang pemula, yang bahkan tak memiliki violin, apa pun merk violinnya bukan jadi masalah untuk berlatih menggesek dan bermain. 

Sebenarnya, bukan baru-baru ini saya tahu atau pegang violin (orang lain). Ketika masih maba dulu, pernah beberapa kali saya melihat violin milik Kyu, yang diberi nama Vi. Kyu membelinya ketika baru lulus SMA atau sebelum berangkat ke Depok (jika tidak salah). Dia membawanya ke Depok dan sering kali menggunakannya dalam persembahan di Perhimak UI. Terkadang dia mampir ke kamar saya sambil membawa Vi-nya atau saya yang ke kamarnya untuk sekadar melihat Vi itu atau jika sedang sangat ingin meminjamnya, saya akan meminjamnya. 

Kyu adalah orang pertama yang mengizinkan saya meminjam violin. Dari Kyu pula, saya belajar bagaimana cara membuatnya berbunyi, mengetahui nama bagian-bagian tubuhnya, bagaimana membiasakan meletakan jari-jari tangan kiri di tiap senarnya yang tak memiliki fret ini, dan lain-lain. Saya sangat berterima kasih padanya untuk kesabarannya memperkenalkan Vi-nya dan mengajari saya bermain. 

Bagian-bagian Violin
Sumber: Wikipedia
Oke, mari move on to topik yang lebih bermanfaat tentang violin. Gambar di samping adalah ilustrasi violin beserta bagian-bagiannya. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa susunan violin cukup rumit.

Seperti yang sudah saya bilang di atas, violin tidak memiliki fret. Leher biola dan papan jarinya mulus, tanpa memiliki batas-batas kunci (fret) seperti yang ada pada gitar. Oleh karena itu, kita harus mampu mengira letak nada pada senar-senar tersebut. Semakin sering memainkannya, semakin terbiasa jemari kiri kita untuk menemukan nada yang tepat secara otomatis. Selain membiasakan jari, kita juga harus terbiasa melatih pendengaran telinga (hearing) kita sehingga dapat mengenali nada-nada yang tepat atau sumbang. Saya juga belum bisa melakukannya, haha. 

Fret pada Violin (Penjarian)
Sumber: Wikipedia


Senar
Gambar di samping adalah gambar penampang senar violin, yang terdiri dari senar bernada G-D-A-E. Untuk menghasilkan bunyi bernada G, kita dapat menggesek senar ke-4 (senar paling kiri, senar G) tanpa menekan senarnya sama sekali. Begitu pula untuk menghasilkan nada D-A-E, kita dapat menggesek senar ke-2, 3 dan 4.

Selanjutnya, untuk menghasilkan nada A-B-C kita dapat menekan senar ke-4 (senar G) hingga menghasilkan nada A. Nada A adalah nada setelah G (ya iyalah) sehingga jaraknya paling dekat dengan batas bawah kepala biola, seperti gambar di samping. 

Ingat jarak antarnada, kan? 
c-d   :    1
d-e   :    1
e-f    : 1/2
f-g    :    1
g-A   :    1
A-B  :    1
B-C  : 1/2

Dalam penjarian ini, posisi meletakkan jari juga berdasarkan jarak antarnada tersebut. Jarak antara nada B-C dan E-F (mi ke fa dan si jalam ke do dalam kunci G=do) tidak sama dengan jarak A-B, C-D, D-E, dll, karena jarak B-C dan E-F hanya setengah. Oleh karena itu, jarak peletakkan jarinya pun setengah jarak. 


Bow (Busur Violin)
Bow inilah yang sering kita lihat untuk menggesek senar violin. Dia terbuat dari kayu dan sekumpulan rambut ekor kuda putih jantan, yang warnanya tampak putih keemasan. Bulu-bulu ini diikatkan pada bow di setiap ujungnya. Pada salah satu ujung, yaitu ujung yang dipegang, bow ini memiliki sekrup yang dapat digunakan untuk mengencangkan atau mengendurkan rambut tersebut. Bow dikencangkan ketika akan digunakan untuk bermain dan dikendurkan ketika akan disimpan. 

Bermain violin memang memang tidak mudah. Kita harus memiliki kemampuan hearing, mengenali nada, estimasi penjarian dan menggesek yang baik. Selain itu, suara yang dihasilkan pun belum tentu bagus dan lembut seperti yang sering kita dengarkan dari para pemusik violin selama ini. Perlu banyak latihan dan penguasaan teknik menggesek, vibrasi, dll. Namun, hal ini dapat dilatih sedari dini. Dininya kapan? Ya, mungkin dulu dan sekarang pun oke saja, jika memang memiliki minat sungguhan untuk mempelajarinya. Semangat belajar violin, Ani, untuk nanti diajarkan pada anak-anakmu. Hahaha....

Thursday, 3 April 2014

Kita di Pantai (2012)





 











Ais

Ini adik pertama saya, namanya Achmad Fariz Faizin. Dari kecil hingga sekarang kami memanggil dia Ais (dari nama tengah Fariz). Dia lahir pada hari Jumat Kliwon, 14 Februari 1997 silam atau selisih 4 tahun 11 bulan persis dengan saya. 


Dia begitu berbeda dengan saya dan adik kedua saya. Jika saat kecil dulu saya adalah bocah yang paling tidak suka menangis di depan umum, maka Ais ini kebalikannya. Dia sangat suka menangis tak kenal waktu dan tempat dan melempar benda-benda di dekatnya ke segala arah. Dia mengalami masa-masa menjadi anak "ragil" yang cukup lama hingga adik kedua saya, Zahra Nurussyifa (Yaya), lahir pada hari Kamis Kliwon, 4 November 2004. Tujuh tahun dia menjadi anak ragil, tujuh tahun itu pula dia merasa dirinya paling kecil dan paling wajar untuk berbuat jail atau manja di rumah. Ais kecil adalah seorang anak mama dan sangat ciwek. Jika dia terjatuh, dia akan menangis sekeras mungkin dan tidak akan mau bangun dan berhenti menangis, kecuali mama datang dan membangunkannya. Kapan pun, di mana pun, mama harus siap sedia untuk bocah ini. 

Pernah suatu kali, Ais balita pergi main hingga ke RT sebelah dengan anak tetangga kami, Emon. Dia bermain lari-larian dan terjatuh di tepi jalan, dekat selokan. Sontak, dia menangis seketika, membuat teman-teman mainnya kebingungan dan ibu-ibu di RT sebelah berdatangan untuk membantu membangunkannya. Namun, Ais justru tidak mau bangun dan semakin memperkeras tangisnya. Ibu-ibu dan teman-temannya semakin bingung, "Apakah terjadi hal yang serius pada bocah ini?" Akhirnya, mereka menyuruh Emon memanggil mama. 

Mama datang dengan cepat dan membangunkan Ais yang guling-guling di jalan. Mama langsung mengecek kondisi badan Ais satu per satu: dahi, siku, lutut, telapak tangan dan hasilnya tidak ada luka parah yang berarti. Bocah ini hanya lecet di telapak tangan karena dia menyangga tubuhnya dengan tangan ketika jatuh. Mama pun menggendong Ais dengan paksa, sembari sedikit mencubiti pantatnya. Tak lupa mama meminta maaf kepada ibu-ibu tetangga karena membuat mereka resah. Kebiasaan cengeng dan manja di masa kecilnya inilah yang membuat saya sedikit malas mengajaknya bermain bersama dengan teman-teman saya. Kalau menangis, hanya mama yang mampu mendiamkannya. Masa iya, saya bawa mama juga? Hal ini membuat saya tidak terlalu dekat dengannya, dulu. 

Layaknya anak laki-laki sebanyanya yang lain, Ais sangat suka dolan atau main. Dia juga tidak suka tidur siang. Padahal, romo sangat kesal pada anak-anaknya yang tidak mau tidur siang. Beliau sering mencari-cari kami yang tidak pulang selepas adzan bedug (dhuhur). Jika beliau menemukan kami di tempat yang terlalu jauh dari rumah, beliau akan langsung menciduk kami, menaruh kami ke dalam gendongannya, boncengan sepeda atau motornya, sembari ngomel-ngomel. Sampai di rumah, romo melemparkan kami ke atas kasur. Kami pun dikeloninya sampai tertidur, meskipun faktanya akan sangat sulit tertidur jika ada beliau di samping kami. Ais ini yang paling sering kena omel. Namun, lama-lama omelan untuknya itu berkurang karena dia semakin lihai untuk kabur di jam tidur siang. Romo pun lama-lama tidak sempat mencari anak-anaknya satu per satu di jam tidur siang akibat kesibukannya bekerja. 

Ais juga bukan seorang perfeksionis di bidang pelajaran. Dia tidak pernah ambil pusing dengan nilai-nilainya yang mepet-mepet dengan nilai rata-rata. Dia tidak bingung jika dia tidak masuk SMP favorit. Dia tetap santai bermain PS, komputer atau game online-nya meski besoknya adalah ujian nasional. Seringkali mama kesal dengan tingkah lakunya itu. Ketika Ais masih SMP, hampir setiap hari mama mendatangi warung-warung game atau internet di desa kami untuk mencarinya. Dengan sepeda mininya, sembari memboncengkan Yaya, beliau masuki warung-warung berteknologi modern itu demi menjemput putra laki-lakinya yang tak pulang-pulang seharian. Yaya pun sampai hafal dengan letak tempat-tempat itu. Namun, lama-lama beliau lelah juga. Setelah masuk SMK, mama sudah tidak lagi serajin dulu dalam menjemput Ais. Kata beliau, biarkan saja Ais, sudah seharusnya Ais paham dengan kewajiban dan tanggung jawabnya sendiri. 

Meski Ais bandel, tapi sepertinya dia memiliki bakat di bidang multimedia. Yeah, dia sudah SMK. Dia mengambil jurusan multimedia, jurusan yang bisa jadi berhubungan dengan hobinya: nge-game, main komputer, dsb. Beberapa liburan ini, saya lihat dia sudah mulai melakukan tugas-tugas coding, walau masih menggunakan software sederhana, semacam dreamweaver. Dia juga sering membantu teman-temannya mengerjakan tugas IT lainnya, instal ulang komputer atau laptop, dsb. Tak jarang dia memperoleh tip dari apa yang dia lakukan. Namun, entah ke mana perginya rupiah-rupiah itu, hanya dia dan Tuhan yang mengetahuinya. Dia sama sekali tidak bisa menabung. Alhasil, sedikit-sedikit dia minta jatah ke mama, hanya ke mama. 

Ais sudah besar sekarang. Dia sedang duduk di kelas 2 SMK. Dia sudah lebih tinggi dari saya, mungkin sekitar 165-168 cm tingginya. Dia juga sudah lebih mampu mengontrol emosinya, tidak manja dan ciwek lagi. Namun, dia masih keras kepala seperti dulu dan saat dia marah kata-kata tidak sopan kadang kali muncul dari mulutnya. Ini yang paling tidak saya suka darinya. Baru-baru ini dia melakukannya pada saya dan mama. Namun, saya yakin...nanti, dia pasti berubah menjadi anak laki-laki yang lebih baik dan berbakti pada mama dan romo. Hnn... Jika dilihat kami bertiga memang sedikit terlambat dalam mengalami perkembangan psikologis. Jadi, bisa jadi tingkah lakunya yang mirip bocah ini akan segera berubah menjadi lebih rasional, stabil, dewasa dan taktis. Suatu saat nanti, Ais pasti akan mengerti bahwa ada yang lebih patut diperjuangkan dan diutamakan dari apa yang dilakukannya saat ini. 

Toh, sebenarnya dia anak lurus-lurus saja. Dia tidak pernah mencoba merokok. Tidak berpacaran. Tidak pernah minta dibelikan motor bagus. Tidak minta yang macam-macam, kecuali jatah uang jajan yang teradang membengkak dibandingkan yang dianggarkan mama...

Hnnn... Pray for Ais, semoga cepat dewasaaaa.... Wah, tidak terasa dia sudah 17 tahun. Dewasa muda yang masih bertingkah seperti remaja muda. Hmmm...

Hanya Saja...

Entahlah... Hanya saja, aku tahu.
Aku tahu dan hanya bisa bertingkah gagu.
Ini betul, aku lebih nyaman menjawab setiap hal dengan membisu.
Aku semakin menyukai memendam suaraku yang tidak memiliki kekuatan, melainkan ragu.

Entahlah...
Hanya saja, diamlah yang dapat aku lakukan,
meski batin sempat terkoyak, meski sesekali lenyap ketenangan jiwa.
Aku menyimpan, memendam, tidak mendendam, tapi merasa bersalah berkepanjangan.
Hingga kucuran permintaan maaf dan berhati-hati setiap saat lah yang terlaksana berulang-ulang

Entahlah...
Hanya saja, aku mengerti.
Aku tidak bermasalah dengan semua kepasrahan ini,
karena aku bukan pelopor, pencetus ide-ide yang bijak bestari.
Aku bukan juga pemberi nasihat, yang dapat membantu mereka memecahkan rumitnya teka-teki.

Entahlah...
Hanya saja, aku ingin memberi kabar.
Aku tidak ingin dihujani belas kasihan atau bela sungkawa,
karena aku tidak sedang menderita atau berduka cita.
Aku hanya ingin dibiarkan sendiri, menumpas kebodohanku yang hanya dapat ditangani olehku saja.

Entahlah...
Hanya saja, aku merasa sedih ketika hilang kepercayaan.
Banyak yang berdalih, aku yang tak terbuka membuat mereka enggan percaya.
Namun, setiap kali aku berupaya ingin terbuka, sebanyak kali itu pula upayaku ternilai gagal.
Sampai-sampai aku tak mengerti keterbukaanku yang macam apa yang sebenarnya orang-orang inginkan?
Sepertinya memang aku yang tidak mengerti makna terbuka dan tidak tahu cara melakukannya.

Hanya saja, aku masih tidak tahu apa mauku...
Terlalu memikirkan mereka, terlalu tidak tertarik padaku sendiri, terlalu asyik berfantasi dalam imajinasi.
Mungkin ini yang membuatku bertampang bimbang, membuat orang-orang begitu mudah menekan dan mengancam...

Hei, tapi aku tidak merasa tertekan...
Hanya saja aku tidak suka diberi tuduhan dan pertanyaan, yang menyangkut urusanku seorang, 
tidak layak untuk mereka ketahui lebih dalam.

Oh, mungkin ini yang mereka bilang tertutup...
Namun, bukankah setiap orang memiliki batas privasinya sendiri?
Dan bukankah setiap orang berhak menentukan seberapa luas lahan privasi yang akan dihuninya sendiri?

Aku, mungkin salah satu orang yang terkadang lancang menginjak teras batas privasi orang lain...
Namun, aku bukan pemaksa yang akan mendobrak masuk pintu privasi seseorang yang telah menolak untuk menjawab ketukan dan salam yang dikirimkan.

Kau tahu bagaimana rasanya dituduh: ingin dianggap sebagai orang malang?
Aku tahu.
Kau tahu bagaimana rasanya disebut dengan umpatan "Anjing!"?
Aku tahu.
Kau tahu bagaimana rasanya diusir dan tak diizinkan untuk kembali?
Aku tahu.
Kau tahu bagaimana rasanya diancam akan dibunuh?
Aku tahu.

Aku tahu rasa-rasa dari penolakan, pelabelan, sedikit pengasingan dan mengalami pembedaan.
Mungkin ini yang membuatku berhati-hati, mungkin ini yang membuatku menjadi tertutup seperti apa kata mereka.

Wednesday, 2 April 2014

Ibuku, Perempuan Perkasa

Apa yang dapat kutuliskan tentang ibuku? Lebih dari banyak, seharusnya. 

Beliau yang selalu menemani, tak pergi, tak menghakimi, meski kami tengah dalam masa terpuruk dan sulit membangkitkan diri. 
Beliau, yang mendukung setiap langkah kami, dalam diam serta kekhusyukan doa dan sujudnya. 
Beliau, yang tak pernah letih memperhatikan dan memenuhi setiap detil kebutuhan dan keinginan anak-anaknya yang hampir tak pernah terpuaskan, meski telah habis receh dalam dompet bercap toko emasnya. 
Beliau, yang tak pernah mengambil seratus rupiah pun dari jatah yang dititipkan kepadanya untuk diberikan kepada anak-anaknya, meskipun telah begitu lama tak turun jatah bagi dirinya. 
Beliau, yang hanya mampu menanti sembari menyederhanakan pengeluaran hanya miliknya sendiri, jika satu-satunya pemasukan dari usaha kost-nya tersendat, akibat kelalaian para siswa SMK penyewa kamar di rumah... yang parahnya ini terjadi setiap bulan.
Beliau, yang dengan teguh dan sabar mengajari anak-anaknya dalam belajar ilmu dunia dan ilmu agama, semampunya, sebatas bekal sekolah setingkat SMP-nya yang dapat ia tular-ajar-kan kepada kami, anak-anaknya yang berbeda minat dan kecepatan dalam mencerna setiap input yang diberikannya.
Beliau, yang tidak akan terlelap tidur, jika ada satu saja anaknya: yang masih terjaga merampungkan tugas pribadinya, menikmati cobaan sakit yang terkadang dirintihkan terlalu berlebihan, belum pulang hingga larut malam atau tak juga terpejam karena diselimuti resah dan gulana.
Beliau, yang entah bagaimana pun caranya akan berusaha membuat anak-anaknya bahagia, meski itu artinya beliau akan menumpuk derita yang harus berangsur-angsur dikuranginya agar tidak menggunung dan merobohkan ketahanan hidupnya.
Beliau, yang tak pernah mengeluh dalam setiap putaran roda dan kayuhan pedal sepeda mini ukuran sedang, satu-satunya kendaraan butut dengan sadel yang hanya tinggal separuh bagian, yang beliau gunakan untuk pergi ke tempat manapun, jauh dekat, menurun menanjak, berjalan mulus atau terjal, entah ke perkampungan atau ke tengah perkotaan...dan hingga kini tak pernah menginginkan untuk diberi yang lebih baik.
Beliau, yang tak pernah meminta apa pun kepada suaminya, jika itu untuk kepentingan pribadinya sendiri hingga lama-lama tak mampu mengingat dan mengenali apa saja kepentingan pribadinya, apa saja yang diinginkannya. 
Beliau, yang selalu sabar meladeni kami yang berbeda tingkah dan sifat, berbeda mau dan taraf kepatuhan, berbeda di mana-mana dalam setiap hal dan beliau tetap ada tak kabur untuk memerdekakan diri.

Ah! 
Ibuku, ibu nomor satu sedunia. 
Ibu paling mandiri dan sabar yang tidak pernah betul-betul marah, meski anak-anaknya sering kali durhaka dan membantah petuah-petuahnya. 
Ibuku, ibu yang tak pernah lelah berjuang, sejak langit menerang hingga menggelap, sejak diucapkannya kata bersedia dan janji untuk setia mengabdi pada orang yang memintanya menjadi istri dan (aku yakin) hingga nanti orang tersebut tak lagi gagah dan terlalu lelah, bahkan untuk sekadar menghirup dan melepas nafas.
Ibuku, perempuan yang telah menjadi seorang ibu ketika usianya masih begitu muda, merelakan jatah mudanya untuk mengabdikan diri pada suaminya yang unik dan membesarkan buah hati-buah hatinya yang sedikit menarik. 
Ibuku, perempuan paling tangguh, yang tak pernah mengeluh dalam kucuran peluhnya yang mungkin hanya beberapa kali kami sadari dan hargai dengan tulus. 

Hnnn...
Aku tidak ingin lagi ibuku mengerjakan hal-hal seperti yang dikerjakan Cinderella untuk keluarga tirinya. 
Aku tidak ingin ibuku lama-lama menjadi Rapunzell yang terkurung dan hanya mengenali rumahnya sendiri tanpa pernah melihat dunia yang lebih luas dari apa yang ditinggalinya saat ini.
Aku tidak ingin ibuku terbiasa menanti, mandiri dalam kepasrahan, yang aku yakin ini dapat diperbaiki...

Aku tidak ingin ibuku dipandang sebagai ibu yang kasihan dan menderita karena dia adalah seorang ibu yang kuat, perempuan perkasa pertama yang kukenal, Perempuan Pilihan...
Satu-satunya orang yang mampu dan mau mendampingi kami setiap waktu di setiap kondisi yang terjadi.

Dan aku merasa bahagia dan terhormat, Tuhan menjodohkanku dengannya,
menjadi anak pertamanya yang menyaksikan perjuangannya lebih lama dari adik-adikku,
menjadi orang yang beruntung, yang seharusnya dapat memetik jauh lebih banyak pelajaran-pelajaran dari perjalanan dan perjuangan hidupnya  untuk disemaikan kepada adik-adikku juga anak-anakku nanti.

Ibuku, Perempuan Perkasa...
Ibu juara satu di dunia...

Monday, 31 March 2014

Saya Suka, tapi Tidak Suka

Saya menyukai banyak hal. Saya ingin dapat melakukan banyak hal. Saya ingin belajar dan berlatih untuk dapat melakukan banyak hal itu. Namun, saya tidak tahu...setiap saya mulai mencoba saya merasa tidak pantas dan tidak memiliki dorongan semangat untuk terus melakukannya.

Saya suka menari. Namun, setiap kali saya bercermin saya pasti akan tersadar bahwa saya tidak memiliki modal untuk menjadi seorang penari, bahwa kesukaan saya dalam menari tidak seharusnya untuk dipertontonkan kepada orang-orang, bahwa meski saya berusaha sekeras apa pun untuk menari di pentas, saya tidak akan mampu menari dengan bahagia... karena saya tidak membiarkan diri saya untuk dilihat oleh orang lain. Sudah banyak kali saya menari, terhitung sejak kelas 3 SD. Tari tradisional, tari India, tari kontemporer, dan tari-tari yang lainnya... Namun, untuk apa saya menari? Apakah untuk dilihat? Tidak. Saya hanya suka ketika melakukannya bersama dengan yang lain. Saya suka melakukan gerakan indah dengan baik dan tepat dan saya benci tingkah laku saya dilihat oleh orang. Pada akhirnya, sebagian besar alasan menari saya adalah untuk pemenuh kewajiban atau pelengkap suatu acara pentas karena tidak ada satu pun orang lain yang mau melakukannya. Mungkin terlihat pas, saya suka menari dan tidak ada yang mau menari. Saya dapat menari untuk mengisi kekosongan itu. Namun, saya tidak suka terlihat. Saya pun tidak mampu menari dengan bahagia. Setelah selesai menari pun, saya tidak pernah dihadiahi dengan senyuman. Tidak, tidak...tidak usah diberi pujian karena saya sangat tidak suka dipuji, apalagi yang berlebihan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Kasihan mereka berbohong untuk kesia-siaan. Bukan, bukan tidak ikhlas juga dalam melaksanakannya, hanya saja saya bingung mengapa saya betul-betul melakukannya?

Saya suka menulis. Namun, ya seperti inilah tulisan saya. Tidak bermutu, tidak berkualitas. Menulis pun kurang konsisten. Meski saya sudah tahu minat saya ke tulisan fiksi, tetapi topik, tema dan inti ceritanya tidak banyak yang berbeda. Hwoaaah. Beri saya waktu untuk mengembangkannya. Ah, saya tengah berkata kepada siapa sebenarnya? Awang-awang? Langit-langit kamar? Pembaca? Hmmm...siapa yang pernah membaca cerpen-cerpen saya? Hampir tidak ada. Iya, iyalah. Kapan saya menulis cerpen? Setahun sekali pun belum tentu. Masih pantaskah saya mengaku suka menulis? 

Saya suka membantu terlaksananya sebuah acara. Namun, saya tidak suka berada di dalam keramaian pelaksanaan acara-acara tersebut. Saya tidak suka terlihat dan dilihat dan saya tidak punya alasan yang tepat untuk menjelaskan ketidaksukaan saya yang satu ini. Inilah yang membuat saya suka berorganisasi atau mengikuti suatu kepanitiaan, tetapi saya tidak suka menghadiri pelaksanaan acara besarnya. Saya akan memilih menjadi pembantu di belakang layar. Saya sangat menyukai menjadi pemanjat tangga dibandingkan pengisi panggung. Saya sangat menyukai merencakan suatu pementasan daripada memberikan sambutan. Saya sangat menyukai berkeliling kota mencari kebutuhan acara dibandingkan harus menyapa satu per satu tamu yang datang. Saya tidak suka bertemu dan menyaksikan banyak manusia... Mereka membuat saya pusing dan mual.

Saya suka musik. Namun, saya akan berhenti memainkannya ketika ada orang yang mulai memuji. Bagi saya, pujian adalah sindiran secara halus. Oleh karena itu, saya lebih memilih bermain ketika sendirian, bermain ketika tidak ada orang yang memperhatikan dan bermain hanya untuk diriku sendiri. Saya memang suka bermain musik, tapi saya tidak pandai bermain musik. Inilah yang membuat saya sebal ketika ada orang yang bilang bahwa saya pandai bermain musik. Apa yang saya lakukan adalah hal-hal yang dapat dilakukan orang lain. Meski demikian, jika ada orang yang mau mendekat dan bernyanyi bersama, saya akan menyukainya. Asalkan dia diam dan tidak memuji dengan hal-hal yang benar. Saya bersedia membagikan apa yang saya tahu tentang musik, tapi saya akan berhenti berbagi dengannya ketika dia bilang saya jago atau sebagainya. Ada yang salah dengan saya? Biarkan saja. 

Saya suka menggambar. Namun, ini tidak konsisten. Saya hanya penjiplak. Saya menggambar dengan melihat contoh objek yang akan digambar. Imajinasi saya sebetulnya sangat buruk. Sama seperti yang lainnya, saya tidak suka diberi pujian untuk gambar-gambar saya, meskipun saya suka memperlihatkan gambar-gambar saya. Saya hanya suka meminta saran, bukan diberi pujian. Namun, uhn...entahlah.

Saya suka fotografi. Namun, saya sadar diri dengan apa yang saya miliki saat ini, saya belum dapat memenuhi keinginan berburu dan berbagi foto yang bagus. Meski demikian, saya cukup suka membagi satu, dua foto meski tak beresolusi baik, setidaknya tak banyak diedit. 

Saya suka desain dan film. Namun, ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kuliah yang saya geluti. Pantaskah saya tetap penasaran dengan desain dan perfilman?

Saya suka drama. Saya sangat suka menyaksikannya maupun melaksanakannya. Beberapa kali saya pernah menjadi sutradara atau penulisnya atau sebagainya. Namun, saya tidak memiliki cukup potensi menjadi pemimpin dan penyampai gagasan yang baik. Alhasil, saya menjadi sutradara yang buruk. Meski demikian, saya tetap suka menonton drama. Ini menyenangkan melihat orang bersandiwara di atas panggung secara langsung.

Saya suka melakukan banyak hal...tapi saya tidak memiliki cukup keberanian untuk menjaga kesukaan saya... Saya merasa tidak pantas melakukan semua hal karena terlalu sering dikomentari di belakang dan dipuji berlebihan di depan. Saya tidak suka. Saya tidak tahu, mana yang sebenarnya benar-benar pantas saya lakukan karena ini...

Friday, 28 March 2014

Dreams

Sebuah cerita pendek yang ditulis pada tahun 2006, tepatnya ketika gue duduk di kelas IX SMP. 

*****

Hujan rintik bergemericik, diselingi gemuruh petir yang tak begitu keras, membangunkan tidur seorang gadis remaja yang tidak pulas. Gadis ini bernama Widia. Kali ini, ia bermimpi sangat buruk. Ia bermimpi tentang kecelakaan mobil yang akan menimpa ibunya dan menyebabkannya meninggal. Mama, begitu dia memanggil ibu tercintanya, adalah satu-satunya orang tua yang masih dimilikinya. Papanya telah pergi entah ke mana 



Tuesday, 25 March 2014

Saya Senang

Saya senang karena... karena ada banyak hal yang membuat saya senang, yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Saya memang sedang senang, meskipun saya tampak diam dan mungkin uhn... yeah...karena begitulah saya, si Ratu awkward dan krik yang tidak tahu cara berkomunikasi dengan wajar di dunia nyata. Apakah saya cukup dapat membuat orang lain senang, seperti senang yang saya rasakan setiap kali mereka mengingat dan memanggil saya yang pendiam? Uhn, saya hanya berharap dapat tetap bermanfaat tanpa membuat orang-orang di sekitar saya kecewa.

Namun, entah mengapa, saya merasa saya aneh, meskipun saya mudah merasa senang. Dapat kau tangkap keanehan saya? Saking anehnya, sampai-sampai saya tidak tahu bagaimana cara menjelaskan keanehan saya...

Saya menyukai kesendirian, tapi tak ingin ketinggalan informasi dari orang-orang yang saya kenal. Saya tak ingin ditanyai tentang saya, tapi saya suka sekali bertanya tentang aktivitas dan rencana orang lain. Ini hanya sedikit contoh. Saya aneh, kan? Namun, saya menikmati ini, menjadi misterius seperti yang dikatakan oleh Fajar Adhi Hartanto ketika saya kelas X dulu. Oleh karena itu, meski saya aneh, jangan anggap saya seperti orang menderita yang butuh pertolongan atau penanganan atau petuah atau apapun. Karena saya menikmatinya dan saya senang. :)

Abaikan saya, beserta keanehan saya. Jangan menanyakan hal-hal tentang saya, yang hanya menyangkut saya. Saya suka menjawab, jika itu tentang kepentingan umum atau informasi tentang hal lain yang saya tahu dan dapat dipertanggungjawabkan, yang bukan tentang saya.

Saya sedang ingin menutup rapat semua pintu, jendela dan ventilasi pikiran dan hati saya untuk dimasuki atau hanya sekadar diketuk, kecuali jika saya rasa kau cukup dapat saya percayai untuk menjaga apa yang ada di dalamnya: menutupnya ketika badai menerpa, membukanya ketika mentari bersinar hangat.

Hoah. Entah kapan kau yang demikian datang, yang tak berteriak tiba-tiba, tak mengoleskan balsem pada luka bakar,yang tak berbicara banyak ketika saya memintamu diam, yang mau menjawab ketika saya menanyakanmu pertanyaan khas saya yang aneh dan kadang sulit diterima akal.

:)

Thursday, 13 March 2014

Kebetulan?

Kebetulan adalah ketika baru nge-post tentang PKM, terus tetiba malamnya salah satu anggota tim PKM tersebut menyebut-nyebut sebuah ide untuk PKM. 

Kebetulan juga adalah ketika secara random pernah menuliskan tentang batuk dua minggu yang pernah diderita seseorang, lalu ketika bertemu orang tersebut, dia bercerita bahwa saat itu dia juga sedang batuk dan lamanya sudah dua minggu. 

Kebetulan lainnya adalah ketika memimpikan orang, kemudian ketika terbangun ada WA dari orang yang dimimpikan. Ini sudah sangat sering terjadi.

Kebetulan yang lainnya lagi adalah ketika bermimpi tentang seseorang, kemudian keesokan malamnya bertemu dengan orang tersebut dan ini sudah beberapa kali terjadi. 

Lalu, apakah kebetulan itu memang benar-benar ada? 

Friday, 7 March 2014

PKM Gagal :'D









USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
SOFA ANGIN MODULAR: INOVASI SARANA ISTIRAHAT SERBAGUNA DAN RAMAH LINGKUNGAN SEBAGAI SOLUSI CERDAS MENGATASI KETERBATASAN PADA HUNIAN SEMPIT

BIDANG KEGIATAN:
PKM K




Diusulkan oleh:
Tiara Deysha Rianti        Teknik Arsitektur Interior      1006766163
Anifatun Mu’asyaroh      Kesehatan Masyarakat           1006668014
Noarly Ayu Laksita         Kesehatan Masyarakat           1006665731
Rizki Purnamasari           Sastra Jepang                        1006700734
Junaidi Sidiq                   Teknik Sipil                           1106015825










UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK

2012 



Sofa Angin Modular:
Inovasi Sarana Istirahat Serbaguna dan Ramah Lingkungan sebagai Solusi Cerdas Mengatasi Keterbatasan pada Hunian Sempit

­­­
A.    Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan salah satu negara produsen produk furnitur yang unik dan terbaik. Namun sayangnya, saat ini industri furnitur di Indonesia masih boros dalam hal penggunaan bahan baku, seperti kayu, rotan dan bambu. Selain itu, proses pengambilan dan penggunaan bahan baku yang tidak ramah lingkungan juga semakin meningkat sehingga berdampak pada semakin tingginya permasalahan lingkungan. Di lain pihak, upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut masih sangat kurang. Tidak banyak industri furnitur yang membuat terobosan baru dengan membuat desain furnitur yang memadukan material yang tidak merusak hutan.
Hal yang berbeda terjadi di beberapa negara lain, seperti Cina, di mana mereka sudah dapat menghasilkan produk dengan kualitas sebaik produk-produk Indonesia dengan penggunaan bahan baku kayu yang minim. Desainer interior asal Cina dapat menciptakan produk furnitur dengan bahan baku alam yang rendah, yaitu dengan komposisi unsur kayu sekitar 30%. Sedangkan di Indonesia hampir 100% bahan baku furniturnya menggunakan kayu. Pada tahun 2007, nilai ekspor furnitur Indonesia mengalami peningkatan sebesar 8,08% dari US$ 1,86 miliar (2006) menjadi US$ 2,01 miliar (2007). Sedangkan untuk nilai ekspor kerajinan mengalami pertumbuhan 19,51% dari US$ 518 juta (2006) menjadi US$ 620,1 juta (2007).
Di lain sisi, berdasarkan data sensus penduduk yang dihimpun oleh BPS (2010), DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan DI Aceh serta wilayah perkotaan lain secara berturut-turut menduduki peringkat tertinggi dengan jumlah rumah tangga yang menempaati luas lantai hunian kurang dari 20m2 terbesar di Indonesia. Sempitnya lahan rumah yang dimiliki oleh masyarakat perkoatan tersebut menimbukan penggunaan furnitur, seperti sofa, kursi dan kasur pada rumah-rumah penduduk di Indonesia menjadi kesulitan bagi mereka. Akibatnya, untuk mengatasi hal tersebut, masyarakat enggan untuk meletakkan banyak furnitur di rumahnya yang notabene merupakan sarana beristirahat dan merilekskan anggota badan karena ukurannya yang cenderung besar dan memakan spasi yang tidak sedikit.
Masalah yang sama juga dapat terjadi pada saat berpergian jauh, di mana tidak menutup kemungkinan pada kendaraan atau di tempat tujuan tidak ada sarana beristirahat atau duduk untuk melepas lelah. Jika terjebak dalam kondisi tersebut, seseorang cenderung akan berdiri dan beristirahat pada tempat seadanya. Dipandang dari aspek kesehatan dan keselamatan, hal tersebut tidak berdampak baik bagi tubuh. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah produk yang dapat digunakan sebagai sarana beristirahat yang bersifat flexibel, praktis dan mudah digunakan di mana pun.
Berdasarkan fakta dan permasalahan di atas, dapat diketahui bahwa produk furnitur merupakan salah satu barang komoditi yang memberi sumbangan cukup besar, baik terhadap pertumbuhan ekonomi maupun peningkatan kesehatan masyarakat. Meski demikian, dalam hal produksi, pemanfaatan bahan baku furnitur masih tidak ramah lingkungan dan menimbulkan ancaman lain bagi ekosistem, sedangkan dalam hal efisiensi dan kepraktisan produk furnitur tersebut masih memiliki kekurangan dalam hal penerapan produk di spasi hunian yang sempit. Oleh karena itu, diperlukan adanya inovasi produk furnitur baru yang dapat mengatasi kedua permasalahan yang umumnya timbul pada masyarakat yang mendiami spasi atau hunian yang sempit tersebut.
Gagasan yang diusulkan dalam karya tulis ilmiah ini adalah menciptakan sebuah program kewirausahaan di bidang furnitur dengan menghasilkan produk furnitur ekonomis, serbaguna, ramah lingkungan dan dapat dirangkai sesuai dengan keinginan pengguna. Produk ini dinamakan Sofa Angin Modular. Sebuah produk kewirausahaan berbahan baku Polyvinyl Chloride (PVC) dan beludru yang aman, nyaman dan mudah dilipat dengan mengkolaborasikan konsep antara sofa angin yang sudah dikenal masyarakat luas dan mainan lego yang mudah dibongkar pasang dan dibentuk. Langkah awal realisasi program kewirausahaan ini akan dimulai di kota Depok. Hal ini dikarenakan kota Depok dipandang sebagai salah satu kota besar yang juga dekat dengan kota-kota besar lainnya, di mana banyak rumah berlahan sempit terdapat di sana khususnya pada area sekitar perguruan tinggi yang didiami banyak penyewa rumah atau kost berukuran sempit.

B.     Perumusan Masalah
Berdasarkan paparan latar belakang di atas, diperoleh beberapa butir rumusan permasalahan sebagai berikut.
1.    Pemanfaatan bahan baku produk furnitur di Indonesia masih tidak ramah lingkungan karena hampir secara keseluruhan produk berasal dari alam sehingga dapat menimbulkan permasalahan lingkungan.
2.    Ukuran dan bentuk produk furnitur saat ini yang cenderung besar, tidak fleksibel dan tidak mudah dibawa bepergian menyebabkan kesulitan bagi masyarakat, terutama dalam upaya memenuhi kebutuhan beristirahat.

C.    Tujuan Program
Tujuan Program Kreativitas Mahasiswa dalam bidang Kewirausahaan ini adalah sebagai berikut.
1.    Mengenalkan produk furnitur baru berupa sofa angin modular yang praktis, ramah dan serbaguna kepada masyarakat.
2.    Mengajak masyarakat untuk menggunakan produk furnitur semacam sofa angin yang tidak menggunakan bahan baku alam.
3.    Memproduksi sofa angin modular sebagai program kewirausahaan.
4.    Membantu menurunkan produksi furnitur berbahan baku alam yang dapat merusak lingkungan.
5.    Membantu mengatasi kesulitan penggunaan furnitur pada masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan hunian.

D.    Luaran yang Diharapkan
1.    Menurunnya produksi dan penggunaan produk furnitur yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari alam.
2.    Meningkatnya konsumsi sofa angin modular atau produk serupa sebagai pengganti sofa atau furnitur berbahan baku dari alam sebagai sarana untuk beristirahat sehingga dapat meningkatkan taraf kesehatan masyarakat.

E.     Kegunaan Program
Bagi Mahasiswa
1.    Meningkatkan jiwa enterpreneurship.
2.    Melatih kerja sama dalam bidang kemitraan dengan produsen-produsen pengrajin sofa.
3.    Meningkatkan kreativitas mahasiswa dalam menciptakan ide-ide baru dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat akan produk furnitur serbaguna yang praktis, serbaguna dan ramah lingkungan.
Bagi Masyarakat           
1.    Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan produk yang ramah lingkungan.
2.    Membantu masyarakat memperoleh produk yang ramah lingkungan, praktis, serbaguna dan fleksibel untuk digunakan di berbagai tempat di waktu kapan pun.
3.    Memberikan inovasi dan peluang kerja baru bagi masyarakat, baik yang berwirausaha di bidang furnitur maupun yang baru memulai usaha.
4.    Membantu mengatasi kesulitan penggunaan furnitur di tempat sempit.
Bagi Lingkungan
Menurunkan penggunaan kayu, bambu rotan dan tanaman bahan baku produksi lain sehingga mampu menekan laju kerusakan lingkungan.

F.     Gambaran Umum Rencana Usaha
1.    Bentuk Kepemilikan
Bentuk kepemilikan wirausaha ini dapat dimiliki oleh kelompok /memiliki partnership. Hal ini karena dalam program kewirausahaan ini, selain membutuhkan modal yang cukup besar, dibutuhkan pula partner yang berperan dalam proses produksi. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan program kewirausahaan ini direncanakan akan mengajak bekerja sama salah satu produsen sofa, khususnya sofa angin, di daerah Depok. Modal yang digunakan berasal dari dana yang diberikan oleh DIKTI.
2.    Text Box: Penanggung JawabStruktur Organisasi
Ø Penanggung Jawab
Penanggung jawab bertugas memimpin jalannya kewirausahaan ini dan bertanggung jawab atas semua yang terjadi dalam proses kewirausahaan baik produksi, pemasaran dan keuangan. Dalam hal ini adalah Ketua Pelaksana PKM-K ini.
Ø Bagian Produksi
Tugas utamanya berkaitan dalam hal proses produksi dari awal hingga akhir. Mereka terdiri dari SDM yang berasal dari partner.
Ø Bagian Pemasaran
Berperan memasarkan hasil produksi sofa dan menangani perjanjian-perjanjian mengenai produk dengan instansi lain.
Ø Bagian Keuangan
Mengelola pendapatan yang masuk dan keluar merupakan tugas utama bagian keuangan. Sedangkan tugas lainnya adalah menghitung laba, modal dan pengeluaran; menulis pembukuan; dan meramalkan biaya yang dibutuhkan pada setiap proses produksi.
3.        Sumber Daya Material
Bahan utama dalam pembuatan sofa angin modular yaitu Polyvinyl Chloride (PVC) dan beludru yang aman, nyaman, tahan air dan mudah dilipat.
4.        Sumber Daya Manusia
SDM yang dibutuhkan untuk produksi awal adalah para pengrajin sofa yang sudah terlatih dan berasal dari produsen sofa yang merupakan partner dalam kegiatan ini. Untuk ke depannya, setelah diperoleh keuntungan dari hasil penjualan produksi awal atau pertama tersebut, tidak menutup kemungkinan dilakukan training terhadap masyarakat umum sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi mereka.
5.        Kompetitor
Dalam bidang wirausaha furnitur dan sofa ini, jumlah produsennya memang sudah banyak. Meski demikian, sofa angin modular ini adalah yang pertama dan belum pernah diproduksi sebelumnya. Kelebihannya, yaitu dapat dibongkar pasang dan dibentuk sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pengguna dapat memberi nilai lebih dalam pemasaran. Dengan demikian, dalam satu bulan, diperkirakan sofa angin modular ini sudah dapat bersaing di pasaran.
6.        Analisis Permintaan Pasar
Kemungkinan, pada awalnya permintaan yang masuk masih sedikit. Namun, setelah melakukan promosi dan dalam waktu sekitar sau bulan diperkirakan permintaan akan meningkat mengingat harganya yang ekonomis dan terjangkau. Sofa angin modular ini diprediksikan akan menjadi produk furnitur yang diminati oleh warga, dari setiap kalangan, terutama di wilayah perkotaan yang membutuhkan produk yang praktis, fleksibel, mudah dipindahkan, dibentuk dan nyaman digunakan.
7.        Analisis Ekonomi
Modal awal yang dibutuhkan diperkirakan sebesar Rp 5.000.000,00. Modal ini digunakan untuk membeli bahan baku berupa kain PVC dan Beludru yang terbilang tidak terlalu murah.

G.    Analisis SWOT
Ø  Strength:
Produk sofa angin memilik keunggulandalam segi kemudahan, praktis, dan tidak menyita banyak ruang saat penyimpanan. Sofaa angin ini dapat difungsikan menjadi tiga furnitur sekaligus, sebagai sofa tunggal, sofa reguler, dan tempat tidur runggal. Selain itu, penggunan udara sebagai pengisi sofa membuatnya dapat disimpan dengan praktis dan dapat digunakan dengan hanya menggunakan pompa tangan.
Ø  Weakness:
Sofa angin kami belum diuji dimensi dan kapasitas berat maksimal penggunanya.
Ø  Opportunity:
Sofa angin kami masih memiliki desain yang sangat sederhana. Proses pengembangan desain akan dilakukan beriringan dengan berjalannya program, seperti penggembangan bentuk segi enam atau bentuk puzzle. Inovasi desain ini akan sangat diminati oleh pasar karena membuat furnitur lebih unik dan tidak monoton
Ø  Threat:
Dengan berjalannya program, kami akn melakukan uji konstruksi furnitur dan uji laboratorium ergonomi untuk menguji keamanan sofa.

H.    Metode Pelaksanaan Program
Dalam pembuatan sofa angin modular ini, ada beberapa tahap yang ditempuh.
1.      Tahap Persiapan
Dalam tahap ini dilakukan pembuatan desain sofa dan mencari partner yang bersedia diajak bekerja sama melakukan percobaan pembuatan 20 unit sofa angin modular. Desain sofa angin tersebut adalah sebagai berikut.
Keterangan Ukuran:
Bagian Atas (bantal merah)     Bagian Bawah
-Panjang: 40 cm                                -Panjang: 36 cm
-Lebar    : 40 cm                               -Lebar    : 38 cm
-Tinggi   : 10 cm                               -Tinggi   : 20 cm

-Panjang: 40 cm
-Lebar    : 30 cm
-Tinggi   : 10 cm
 


Gambar 1. Desain Satuan Sofa Angin Modular (Travelling Mini Sofa)

Untitled.jpg
 



Gambar 2. Desain Satuan Sofa Angin Modular dengan Resleting Dikaitkan (Wind Pillow)

Gambar 3. Desain Sofa Angin Modular Setelah Dirangkai
(Relaxing Sofa)

Gambar 4. Desain Sofa Angin Modular Setelah Dirangkai
(Single Bed)

-  Mekanisme kerja sofa angin modular: dipompa menggunakan alat pompa seperti pada tensimeter yang dapat dipasang/dilepas
2.      Survei Lapangan Produksi
3.      Pembinaan terhadap Para Calon Pengrajin Sofa Angin Modular
4.      Proses produksi
5.      Pengenalan Sofa Angin Modular ke Pasar
6.      Perngembangan Produk
Dalam tahapan ini produsen akan mengusahakan untuk terus mencari jenis bahan yang paling hemat dan berkualitas. Dengan demikian, diharapkan usaha sofa angin modular ini terus mengalami perkembangan.
7.      Perluasan Cabang
Dalam tahap ini, perluasan daerah pendistribusian juga akan dilaksanakan. Pendistribusian tak hanya dilakukan di pusat produksi. Penyaluran hasil produksi sofa angin modular akan berusaha diperluas hingga menembus supermarket seperti  Hypermart, Giant, dsb.
8.      Pertahanan Kualitas
Fokus pada tahap ini adalah untuk mempertahankan kualitas sofa angin modular agar masyarakat merasa puas dan merasakan manfaatnya secara optimal. Loyalitas juga sangat diperlukan agar masyarakat tak hanya puas dengan kualitas produk, tetapi juga pelayanan.
            Target Pasar
a.       Masyarakat daerah perkotaan yang memiliki pemukiman sempit.
b.      Para traveler, backpacker atau semacamnya yang sering berpergian.
Penetapan Harga
Harga penjualan ditetapkan berdasarkan pada:
Ø Biaya bahan seperti kulit beludru dan upholstri yang habis selama satu minggu= Rp 977.200 : 7 hari = Rp 139.600/hari
Ø  Biaya investasi peralatan seperti alat press selama 5 tahun = Rp 3.700.000 : 5 tahun : 365 hari = Rp 2.000/hari
Ø  Biaya lain-lain selama satu bulan= Rp 554.000 : 30 hari = Rp 18.500/hari
Distribusi
Produk sofa angin modular ini didistribusikan kepada masyarakat melalui penjual furnitur dan beberapa agen yang sudah ter-link dengan partner.
Strategi Promosi
     - Pemasaran                                                                                                  
Ø  Bannerflier dan poster sofa angin modular
Banner, flier/, baliho, dan spanduk digunakan untuk mempromosikan dan mengenalkan produk sofa ini kepada masyarakat. Cara ini dilakukan dengan meletakkan beberapa standing banner di depan pintu tempat penjualan sofa; atau membagikan flier di daerah strategis yang banyak dijamah orang; dan menempelkan poster di tempat-tempat umum dengan  tujuan:
ü Masyarakat mengenal produk kami
ü Meningkatkan brand awareness di mata masyarakat
Ø  Online Shop (Toko Online)
Selain melalui media cetak, akan dibuat sebuah website khusus yang digunakan sebagai media publikasi dan pemesanan. Dengan demikian, proses publikasi dapat dilakukan secara maksimal hingga di ke luar daerah Depok. Untuk pelanggan yang membeli di luar Depok, produk akan dikirim melalui paket dengan dibebani biaya pengiriman.

I.       Jadwal Kegiatan Program
Jadwal pelaksanaan kegiatan program yang akan dijalankan adalah seperti pada tabel berikut.
Tabel 1. Jadwal Pelaksanaan Program
No
Kegiatan
Minggu ke-
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
1
Persiapan












2
Survey lapangan












3
Pembinaan Calon SDM












4
Produksi












5
Pengenalan Sofa Angin Modular ke Pasar












6
Perngembangan Produk












7
Perluasan Cabang












8
Pertahanan Kualitas













J.      Rancangan Biaya
Tabel 2. Rincian Dana Kebutuhan Program
.No
Jenis Kebutuhan
Jumlah
Biaya
1
Kesekretariatan:


Print, fotocopy,  jilid proposal
20 bendel
Rp  300.000,00
Print surat pengajuan partnership
30 lembar
Rp    30.000,00
Stempel
1 buah
Rp    10.000,00
Alat tulis kantor

Rp  150.000,00
2
Publikasi dan dokumentasi


Online Shop
Registrasi Domain
Rp  300.000,00
Poster dan Flyer
200 lembar
Rp  300.000,00
Iklan Radio

Rp  300.000,00
Banner

Rp  300.000,00
3
Training Praproduksi


Hand Out Materi
10 bendel
Rp    50.000,00
Konsumsi
20 buah
Rp  200.000,00
4
Material Produksi


Bahan Baku Utama (PVC dan Beludru)

Rp3.000.000,00
Kancing, Benang dan Resleting

Rp   500.000,00
Sewa Mesin Jahit dan Listrik

Rp   500.000,00
Upah Produksi
5 orang
Rp3.000.000,00
5
Transportasi dan Komunikasi

Rp1.000.000,00
Total
Rp9.940.000,00

K.    Nama dan Biodata Ketua Serta Anggota Kelompok
1.    Ketua dan Pelaksana Kegiatan
Nama Lengkap                       : Tiara Deysha Rianti
NPM                                      : 1006766163
Fakultas/Program Studi            : FT/Arsitektur Interior 2010
Perguruan Tinggi                     : Universitas Indonesia
Waktu dan Kegiatan PKM        : September – PKM-K

2.      Anggota pelaksana
Nama Lengkap                         : Anifatun Mu’asyaroh
NPM                                      : 1006668014
Fakultas/Program Studi             : FKM/Kesehatan Masyarakat
Perguruan Tinggi                      : Universitas Indonesia
Waktu dan Kegiatan PKM         : September – PKM-K

Nama Lengkap                         : Noarly Ayu Laksita
NPM                                       : 1006665731
Fakultas/Program Studi             : FKM/Kesehatan Masyarakat
Perguruan Tinggi                      : Universitas Indonesia
Waktu dan Kegiatan PKM         : September – PKM-K

Nama Lengkap                        : Rizki Purnamasari
NPM                                      : 1006700734
Fakultas/Program Studi             : FIB/Sastra Jepang
Perguruan Tinggi                      : Universitas Indonesia
Waktu dan Kegiatan PKM         : September  – PKM-K

Nama Lengkap                          : Junaidi Sidiq
NPM                                         : 1106015825
Fakultas/Program Studi               : FT/Teknik Sipil
Perguruan Tinggi                        : Universitas Indonesia
Waktu dan Kegiatan PKM           : September  – PKM-K

L.       Nama dan Biodata Dosen Pendamping
1.    Nama Lengkap dan Gelar      : Enira Arvanda, ST, M.Dipl.
2.    Golongan Pangkat dan NIP   :
3.    Jabatan Fungsional                 :
4.    Jabatan Struktural                  :
5.    Fakultas/Program Studi         : Fakultas Teknik
6.    Perguruan Tinggi                   : Universitas Indonesia
7.    Bidang Keahlian                    :           
8.    Waktu dan Kegiatan PKM    : September – PKM-K










Sumber Pustaka

Penataan Ruang Tamu. http://www.dnaberita.com/berita-68088-penataan-ruang-tamu.html  (4 September 00.13)


Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...