Showing posts with label Soul. Show all posts
Showing posts with label Soul. Show all posts

Wednesday, 12 November 2014

(Bukan) Orang Biasa

Dari apa yang orang-orang kicaukan, saya dengar hanya kisah-kisah menarik yang dibumbui aksi kepahlawanan, sarat motivasi dan pelajaran, menghibur dan mengaduk-aduk emosi, dan minimal memiliki alur atau tujuanlah, yang akan dibaca, didengarkan, dan mungkin terus diingat oleh orang-orang. Apakah ini berarti bahwa orang-orang biasa tak layak berkisah? Apakah kisah terlalu biasa tersebut tak pantas diceritakan kepada orang-orang, tak cukup berbobot untuk diunduh pelajaran darinya, tak baik untuk dikonsumsi orang awam karena dikhawatirkan tidak akan membuat mereka lebih hebat dari sekadar orang biasa?

Senjang. Kesenjangan menimbulkan masalah. Masalah menghadirkan ancaman juga pahlawan. Ancaman menjanjikan kehancuran, sedang pahlawanlah yang digadang-gadang akan meminimalisasi atau mengatasi kehancuran tersebut. Pahlawan. Semua orang ingin menjadi pahlawan. Orang kuat, sudah pasti masuk kandidat, bekal kuasa. Orang pintar, sangat mungkin dinobatkan, bonus gelar. Orang licik, bisa juga jadi nominasi, menang taktik. Orang biasa, tak tinggal diam, angkat senjata, modal nekad. Orang biasa, juga pandai diam, menanti saat, lalu bersorak, "Kita menang!"

Saya tidak mengerti, mengapa ada banyak sekali orang tak ingin menjadi orang biasa. Padahal, orang biasa merupakan orang berjasa. Tanpa mereka, para calon pahlawan tidak akan benar-benar menjadi pahlawan. Orang biasa seharusnya berbangga. Berkat mereka, para pahlawan memiliki pekerjaan dan pengagum di mana-mana. Orang biasa seharusnya berbahagia. Mereka menjadi orang biasa bukan tanpa alasan dan peran, melainkan sebagai tokoh utama yang nantinya akan menjadi prioritas nomor satu mereka, para pahlawan, untuk diselamatkan. Meskipun mungkin kisah dan keberadaan mereka tidak untuk diselipkan dalam sejarah yang diturun-temurunkan, tetapi sebagai salah satu dari orang biasa tersebut, saya sangat bersyukur memiliki peran ini. Terlebih inilah hal yang memang sepertinya saya inginkan.

Perkenalkan, saya Ani. Orang biasa. Saya masih seorang mahasiswa. Masih, karena saya memutuskan untuk menjadi demikian, menjadi tertinggal dan menyandang predikat "yang tersisa" dari angkatan saya yang belum menamatkan studi, di saat lebih dari tiga perempat rekan satu angkatan di peminatan saya telah menapaki dunia kerja. 

Saya "berkuliah" di jurusan Kesehatan Masyarakat, peminatan Biostatistika, angkatan 2010. Dengan demikian, kini saya tengah menempuh semester 9. Saya tahu, saya tahu. Saya tidak seperti orang lain pada umumnya karena sengaja berlama-lama berkutat dengan "apa yang mereka sebut skripsi" sejak semester 7 silam. 

Mungkin, karena saya terlalu biasa, saya pikir saya tak mampu melakukan hal-hal luar biasa seperti mereka. Rendah diri saya tinggi, memang. Namun, jika tidak salah ingat, saya merupakan tipe orang yang mampu memperkirakan akurasi pencapaian saya sendiri. Dengan demikian, saya hanya akan melakukan hal-hal yang menurut saya dapat saya lakukan dan, menurut perkiraan saya, akan berhasil saya capai sesuai keinginan. Contohnya, perkiraan ketika mendaftar masuk universitas ini. Saya memiliki keyakinan besar saya akan berkesempatan memijakkan kaki di sini. Hanya saja, saya tidak yakin, saya sudah cukup tahu apa yang akan saya lakukan ketika kaki saya telah betul-betul berdiri di tanah penuh manusia cendekia ini.

Setidaknya, perkiraan keberhasilan tersebut terbukti. Pada Mei 2010, saya resmi diterima di jurusan yang sudah saya sebutkan di atas, jurusan pilihan kedua saya. Lantas, apa jurusan pilihan pertama saya? Ah, tidak perlu saya sebutkan. Saya tidak yakin, saya tidak sedang tidur ketika memilih pilihan jurusan pertama, pun dengan pilihan jurusan kedua tersebut. Meski prosesi yang saya lalui hingga sampai ke tempat belajar ini bertabur dengan ketidakyakinan, tetapi saya masih memiliki sisa keyakinan lain, bahwa saya dapat bertahan meski akan sempoyongan.

Satu tahun. Saya memutuskan untuk memilih peminatan Biostatistika. Satu-satunya mata kuliah yang nilainya tidak hancur pada saat semester 2 adalah mata kuliah yang belajar tentang dasar-dasar ilmu yang berkenaan dengan statistika ini. Maka saya setengah yakin, di kemudian hari, barangkali saya tidak akan hancur juga pada hal yang sama. Namun, jauh di dalam lubuk hati yang paling dalam, saya belum jatuh cinta pada apa pun yang ada di sini. Saya masih terombang-ambing di lautan ilmu yang saya renangi selama ratusan hari. Sayang, hanya sedikit "benda laut" di dalamnya yang menyerap dalam pori-pori memori saya. Atau mungkin saya yang tidak mengizinkan mereka memasuki akal saya? Saya masih belum bisa memastikannya hingga saat ini. Pun demikian, saya tetap berjalan sembari berhalusinasi. Barangkali, saya akan menemukan sesuatu yang menarik, yang betul-betul saya inginkan dan akan saya perjuangkan untuk saya genggam, ketika saya sudah semakin mencapai ujung dari perjalanan, yang kata orang-orang namanya menimba ilmu ini.

Tiga setengah tahun. Saya mulai kelabakan dalam diam yang menyeramkan. Saya sepertinya mengalami hal yang dikenal dengan sindrom tingkat akhir. Namun, apakah semua mahasiswa di tingkat akhir merasa seperti ini: TIDAK MEMILIKI KEINGINAN. Saya menceracau dan meragu. Apakah saya betul-betul orang biasa? Orang biasa bahkan memiliki mimpi dan tahu apa yang mereka sukai. Atau justru saya orang bodoh, pemalas, dan merugi? Saya pun memutuskan untuk berlari, melarikan diri dari semua yang hal yang berkaitan dengan pendidikan saya. Asing. Hawa, penampilan, aroma, dan irama mereka masih asing bagi saya. 

Perlahan, beberapa orang dapat membacanya, keganjilan perilaku. Beberapa opini dari mereka tentang saya yang seperti ini, baik secara langsung, maupun tidak langsung, sampai ke telinga atau mata saya. Banyak saran dan komentar, baik yang hanya sekadar saran lewat, maupun saran bermanfaat, yang saya terima. Tak sedikit tamparan pedas yang saya terima karena ulah saya semakin memurukkan diri. Namun, mengapa saya tetap bergeming?

Empat tahun. Saya masih bebal. Saya tidak tergoda iri pada mereka yang sudah menggenggam kunci. Saya tidak ingin mengejar mereka yang tengah berlari menjemput mimpi. Saya puas dengan hanya mengamati mereka berlelah, berbahagia, bercerita, berbagi, berpindah, berlari, berlain-lain. Saya pemalas dan mulai menjadi sampah. Apa yang terjadi pada saya? 

Apakah saya terlalu terbuai dalam hidup dan peran saya sebagai orang biasa? Apakah saya memang terlalu bodoh hingga tak mampu mengenali keinginan dan mimpi saya sendiri? Apakah saya cukup pantas disebut manusia, alih-alih mayat hidup, karena saya tidak memiliki keinginan dan mimpi?

Saya masih akan berusaha merampungkan apa yang seharusnya sudah saya rampungkan sejak berbulan-bulan lalu. Namun, saya tidak yakin, saya dapat melanjutkan langkah saya di jalur ini, jalur yang samar-samar saya lukis selama tiga empat tahun belakangan dengan kuas nomor satu dan cat tanpa warna. 

Perkiraan saya tentang pencapaian keinginan saya, berhenti di sini. Tidak perlu lagi ada akurasi karena tidak ada perkiraan yang terpampang. Kosong.

Mungkin, saya bukan lagi orang biasa. Saya orang bebal, yang mencampakan diri sendiri tanpa berpikir matang-matang. Saya orang gagal, yang bangga berkoar tentang kisah kehilangan arahnya kepada orang-orang. Saya orang tertinggal, yang tidak memiliki hasrat untuk mengejar mereka yang telah lebih dahulu berlari meraih tujuan. Saya orang menjengkelkan, yang kata beberapa orang sengaja jatuh untuk mencari belas kasihan. Saya orang tak punya mimpi, yang kata para pengarang cerita berpahlawan, adalah pesakitan yang tinggal menunggu mati. Saya orang pengecut, yang bersembunyi di balik ketiak malam dan pagi, katanya tak akan pernah berhasil melakukan debut. 

Tak perlu lagi bertanya. Terlalu banyak tanya yang patah tanpa sempat terjawab. Gamblang. Bosan. Murahan.

Banyak orang ingin orang seperti saya diam, meskipun mereka tidak menyampaikannya secara verbal. Terkadang, mulut mereka diam. Namun, mata dan langkah mereka berteriak lebih keras dari mulut bungkam tersebut. Saya tahu karena saya juga diberi tahu oleh mereka yang tanpa sadar memberi tahu.

Pada akhirnya, saya disuruh diam dan menyelesaikan masalah saya sendiri. Tak perlu saya kembali diperingatkan untuk menyimpan salah, masalah, dan kesalahan saya hanya untuk saya sendiri. Tentu saja. Saya sudah tahu diri. Saya tahu, memang hanya saya yang dapat melakukannya hingga selesai. Hanya saya yang dapat mengais dan menggali lubang hingga saya menemukan apa yang saya cari dan inginkan. 

Saya mengerti, tak baik menggantungkan apa pun pada siapa pun selain pada Tuhan. Ah, saya bersyukur saya memiliki-Nya, membuat saya mengingat hal-hal indah, membuat saya tidak ingin memperjuangkan mati, membuat saya masih bertahan sembari berpayah mencari hingga saat ini.

Tuhan, tolong jaga saya dalam perjalanan saya, tetap menjadi orang biasa, manusia biasa. Saya tidak berharap kisah keluh kesah seorang biasa seperti saya dipungut orang lewat. Namun, setidaknya jangan biarkan saya terinjak hingga mati, ketika saya tengah mengais untuk menemukan keinganan saya di jejalanan. Ah, Tuhan pasti melakukannya tanpa dipinta. Mengapa sedetik tadi saya meragukan-Nya beserta kejutan indah dari-Nya? Hmm.

Saturday, 11 October 2014

Terpaku

Aku belum mengizinkan diriku diterbangkan oleh angin,
sebab aku gembira menanamkan jiwaku di sini,
meski aku berdusta dan mengkhianati ragaku sendiri,
yang telah lebih dulu pergi,
dan kini ia terjebak setengah diri,
di perbatasan alam nyata dan mimpi

Dua kepala bocah telah kulompati,
detik dan jarak perjalananku tak lagi terasa berarti,
kulaju langkahku tanpa henti,
tetapi bayangku tak jua mengikuti
Haruskah aku berhenti,
dan mulai membangun tenda di sini?

Tatkala mentari mulai menenggelamkan diri,
kehampaan memenjarakanku dalam bui tanpa jeruji,
aku memakukan diri tanpa berniat untuk melarikan diri,
menguping gagak yang berkicau tanpa solmisasi,
memandang ilalang yang menari tanpa emosi,
hingga tetiba rembulan datang mencibir sembari menendang pergi sang mentari

Aku tak ingin meraih gemintang,
tak berhasrat menorehkan jejak di pasir pantai milik seseorang,
tak berniat menancapkan bendera di puncak gemunung untuk disaksikan banyak orang,
tak berdaya untuk melukiskan peta dan merancang menara pencakar angkasa,
dan karenanya aku menderita kelumpuhan tak kasat mata
Aku tak bergerak, kehilangan kendali, bahkan suara untuk memanjatkan pinta

Keterjebakanku, tanpa melaun-laun, telah mematikan sendi dan kesadaran
Aku tak tahu cara mempersatukan raga dan jiwaku yang telah berseberangan alam
Aku tak kuasa memaksa bayanganku menyamai langkah yang telah berlari meninggalkannya
Aku tak mampu memecahkan kehampaan yang memurukkanku dalam kegelapan
Apakah akan ada keajaiban atau setidaknya kesempatan

bagi seseorang yang telah kehilangan keinginan bahkan ingatan akan pencapaian? 

Thursday, 24 April 2014

Buku Harian Rindah (1)

Awal Minggu Ke-4 April 2014

Sudah? Kau hanya mengatakan itu saja, lantas pergi?

Kau tahu, aku sangat senang dapat melihatmu. Kau datang sesuai janjimu. Kau membawakanku satu buket bunga, berisi amarilis dan berjumlah tujuh tangkai. Ketujuhnya berwarna putih. Dari kejauhan, kukira kau membawa bunga lili putih. Aku sangat senang melihatnya. Namun, ternyata kau membawakanku amarilis putih bersih yang sangat kusuka dan ini membuatku lebih dari sekadar sangat senang.  Siapa yang menyangka bahwa kau masih mengingat bunga kesukaanku? Selalu ada hal yang menarik dari seorang jenius memang. Aku akan menyimpan bunga-bunga itu dengan baik. Semoga dia dapat bertahan lama, lebih lama dari sekadar "selamanya".

Dewa, apakah aku pernah bercerita padamu bahwa setiap bunga di dunia ini memiliki arti? Atau malah, aku pernah menceritakan padamu bagaimana awal mula kelahiran bunga amarilis berdasarkan mitologi Yunani? Aku penasaran, apakah hal-hal semacam ini cukup penting untuk kau ketahui. Namun, mungkinkah kau tahu mengapa aku menyukai bunga ini? Ini karena aku merasa aku terlalu mirip dengan si dewi dalam mitologi tersebut, yang menjelma menjadi bunga ini, meskipun aku tidak ingin memiliki akhir hidup yang sama dengannya. Aku tidak ingin menusuk jantung hatiku sendiri untuk membuat satu-satunya orang, yang mengisinya, mengisi hati ini, menyadari betapa besarnya kasih dan cinta untuknya, yang telah dia jaga dengan susah payah dalam diamnya suara, dalam dalamnya tatapan, dalam dinginnya perhatian.

Meski kau telah menepati janjimu untuk datang, tapi aku tidak merasakan kehadiranmu sepenuhnya ada bersamaku, wahai Dewa. Aku dapat membaca senyummu, senyum yang kau berikan merupakan senyuman yang berhiaskan isyarat kasihan. Aku dapat membaca kerutan dahimu, kerutan yang hanya akan muncul ketika kau menyembunyikan sesuatu. Aku dapat menghirup aroma jaketmu, aroma tidak harum hasil perpaduan antara material-material praktikum dan parfum yang sama, yang kau pakai sejak tujuh tahun lalu, tetapi tidak cukup mampu untuk menutupi aroma kerja kerasmu kali itu. Aku mendengar pembicaraanmu dengan pembimbingmu dalam telepon itu, meskipun kau telah berusaha menyembunyikannya dengan beralasan akan membeli es serut tropicana fruit di kedai Abah Ali. Aku dapat menerjemahkan isyarat matamu, yang hanya memandangku sesekali dalam sepuluh menit, yang terlalu sering menjadikan layar bioskop sebagai lawan bicaramu. Aku dapat membacamu... Aku dapat melakukannya, karena kita sudah saling mengenal selama sepuluh tahun. 

Apakah dia, Dewa ini, semakin bodoh dalam menyembunyikan kegelisahan dan isi pikirannya? Satu-satu kebodohannya adalah dia tidak tahu kalau aku dapat membaca setiap detil tingkahnya.

Aku, merasa sangat berdosa karena membuatmu yang tengah sangat sibuk datang menemuiku. Aku merasa telah menunda kesuksesanmu karena telah meminta satu harimu untuk dihabiskan dengan melakukan hal-hal kekanak-kanakan yang kuminta. Dewa, apakah aku orang yang sangat tidak baik... untukmu? Dewa, maafkan aku.

_________
Rian, apakah aku harus menceritakan setiap hal kepada mereka berdua? Aku masih tidak tahu bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan mereka. Aku tidak yakin mereka akan mengerti. Rian, aku sedang tidak ingin membahas tentang mereka.

Kuha, sepertinya aku memang terlalu bergantung pada Dewa. Suasana hatiku bergantung pada suasana hatinya. Semangatku bergantung pada semangat dan dorongan darinya. Segala hal yang kupilih untuk kujalankan bergantung pada segala hal yang terjadi dan telah dijalankan olehnya. Padahal, aku tidak merasa dia terpengaruh olehku atau dengan kata lain tidak sering terpikirkan aku dalam setiap langkahnya. Aku iri dengannya yang dapat mengendalikan hidupnya sesuai keinginan dan pilihannya. Kukira aku mulai percaya dengan apa katanya, bahwa sukses adalah pilihan. Apakah kebergantungan ini terjadi mungkin karena aku lebih memilih Dewa dibandingkan sukses itu sendiri sehingga aku seperti ini? Kuha, apakah aku memang menyukainya... Uhn, oke... ini baru satu setengah bulan sejak aku memutuskan untuk mengambil keputusan untuk tidak menyukainya, lebih dari suka terhadap kawan?

___________

Hari kunjungan Dewa saat itu, diakhiri dengan tolehan sembilan puluh derajat darinya. Di atas motor besarnya, sebelum dia pulang, sembari memutar arah motornya menuju jalan setapak sempit itu, dia menoleh padaku. Aku menghadiahinya dengan lambaian sampai jumpa. Namun, dia hanya tersenyum dingin dan berkata, "Sudah?!" Kata pertama dan terakhir yang kudengar selama tujuh jam kebersamaan kami berdua di weekend itu. Kemudian, dia mengegas sepeda motornya menjauhiku yang berdiri mematung di tempat sembari mengawasi kepergiannya. 

'Bukankah ini adalah weekend yang sangat dingin?' batinku.

Tiba-tiba, sepeda motornya menghilang dari pandangan dalam tiga detik dan semuanya menjadi gelap.

Aku terbangun di sini, di ruang perawatan rumah sakit di tempat yang tidak tahu ada di mana karena kami berpisah di suatu tempat yang tak kukenali dengan baik karena menurunnya kesadaranku. Ternyata, kesadaranku yang tiba-tiba menghilang, bukan sepeda motor Dewa. Aku mengetik ini segera setelah terbangun. Kata suster, tekanan darahku sangat rendah dan maag kronisku semakin buruk....dan aku tidak bertanya lebih lanjut tentang yang lain, haha. Sekarang dia sedang menyiapkan makanan "spesial" untukku. Aku hanya mampu menulis sampai sini karena aku takut dia segera datang dan memarahiku karena tidak menuruti perkataannya. Uhn...aku yakin sebentar lagi Rindy akan datang karena suster bilang bahwa pihak rumah sakit telah menghubungi pihak keluargaku dan pasti itulah Rindy, karena aku masih belum menyimpan nomor ayah dan ibu. 

Oke, sudah dulu Rian dan Kuha... 
Aku menyayangi kalian! :)

Sunday, 6 April 2014

Pulanglah Sejenak

“Mau semangka?”

“Aku puasa,” jawabnya sekenanya.

“Oh, afwan. Nggak pulang, Di?” tanyaku.

“Tidak,” jawabnya singkat.

“Kenapa?” tanyaku lagi dengan penasaran. Ini aneh. Semua peserta bimbingan belajar yang ada di sini pulang ke kampung halaman untuk merayakan pesta pelepasan. Namun, dia masih di sini, duduk lesehan memangku dan menekuni buku berjudul Sejarah dan Perkembangan Islam di balkon Rumah Belajar.

“Aku lebih suka meng-khatam-kan buku yang kakak kasih ini daripada membuang enam belas jam waktuku untuk perjalanan pulang,” jawabnya datar tanpa menatap wajahku sedetik pun. Dia aneh, meskipun dia sangat jenius dan selalu menduduki peringkat lima besar dalam Try Out di bimbingan belajar ini. ‘Kamu unik, dik! Tidak udik seperti yang teman-temanmu bilang,’ batinku.

“Baiklah, teruskan belajarmu, Ardi,” jawabku tak kalah singkat.

*****

“Ardi! Selamat ya! Manajemen FE UI, heh? Itu keren sekali,”; “Masya Allah!”; “Hei udik, keren sekali kamu!”; “Ardi barokalloh, selamat ya!”

Berbagai ucapan selamat dari teman-temannya, sesama peserta bimbel, melayang untuk Ardi. Syukur alhamdulillah, perjuangannya dua bulan merantau jauh lintas pulau untuk fokus belajar di bimbingan belajar ini tidaklah percuma.

Sekilas aku teringat dua bulan lalu, saat ia mengayuh sebuah sepeda kumbang yang pedal pengayuhnya telah menggundul. Dua puluh kilometer, jarak dari kampungnya ke pelabuhan, dia tempuh tanpa duka di pagi buta untuk menemuiku. Dia membawa tas selempang kecil dengan muatan yang bentuknya lebih terbaca sebagai buku dibandingkan bekal dan pakaian. Di depan mataku, dia menemui seorang nahkoda kapal dan menukarkan sepeda itu dengan empat lembar uang kertas yang tidak dapat kuterka berapa nominalnya. Dia meloloskan selembar uang biru dari kumpulan uang kertas itu dan menyerahkannya kepada petugas kapal feri. Masya Allah, sebesar itu tekadnya kah untuk mampu menembus UI, Rabb? Jika iya, maka teguhkan dan ridhoilah dia. Aamiin.

“Kak, izinkan aku ikut denganmu ke tanah perjuangan, Depok! Aku hanya punya segini untuk membayar bimbelmu,” Ia mengakhiri kata-katanya seraya menyodorkan tiga lembar uang seratus ribuan. Hatiku tertampar. Pedih. Segera kudorong tangannya dan kuucapkan, “Simpanlah untuk bekalmu nanti di sana. Ibukota tidaklah seramah kampung Minang.”

Diturunkanlah kedua tangannya lalu ia berkata, “Baiklah, kak. Namun, aku bukan seorang free rider, kak. Terimalah selembar dan sisanya akan kulunasi setelah aku berhasil menembus gerbatama UI.”

Hatiku bergetar. Kuanggukkan kepalaku dan kuucapkan, “Aku jamin aku akan menerimanya dengan tangan terbuka menengadah ke langit-Nya.” Begitulah ia merelakan satu-satunya miliknya yang berharga untuk menyambung mimpi. Kapal feri pun memecah ombak dan buih.

Kini, Allah memberinya hadiah yang ia minta dan memang ia butuhkan untuk menggapai cita-citanya.
“Selamat, Ardi. Jagalah amanah dan pemberian-Nya dengan tetap struggle seperti tempo hari saat sudah di bangku perkuliahan nanti!” ucapku padanya dengan penuh rasa bahagia.

*****

“Sudah setahun ya, Ardi? Alhamdulillah, bukan maba lagi, ya?” sapaku saat bertemu dirinya di Rumah
Belajar tahun ini. Sudah setahun sejak dia tiba di sini sebagai peserta bimbel, tanpa pernah pulang sekali pun ke Minang hingga kini dia menjadi mahasiswa UI.

“Oh, halo, kak Jun. Kau benar. Sudah selama itu, ya?” balasnya, retoris.

“Begitulah. Tidak ingin pulang menjenguk ibu dan kedua adikmu?” tanyaku, menajamkah arah pembicaraan.

“Belum.”

“Kenapa? Tidak merindukan mereka? Tidak ingin memberi tahu ibumu hasil belajarmu setahun di sini yang berbuah cum laude?” tambahku yang diikuti dengan ekspresi wajah menyuram darinya.

“Iya. Aku berhasil dan juga gagal,” jawabnya di luar dugaan dan tanpa ada benang merah dengan percakapan sebelumnya. Mengerti kebingunganku, ia pun menambahkan, “Aku abang yang gagal bagi kedua adikku, kak.”

“Ceritakanlah!” perintahku tanpa merubah nada.

“Riana, adik pertamaku, dikeluarkan dari sekolah karena… terpergok mencuri oleh gurunya. Sedangkan Dzikra adik keduaku, dia tidak berhasil naik ke kelas 3 SD karena masih tak bisa membaca hingga akhir kelas 2. Aku benar-benar bersalah kepada mereka. Aku abang yang benar-benar gagal dan tak pandai mengajari saudara,” ungkapnya datar. Namun, dapat kulihat matanya berkaca-kaca.

“Oh iya, kak. Haha, aku pun belum bisa membayar janji dan hutangku tahun lalu padamu. Tunggulah sebulan lagi. Aku akan segera menerima upahku sebagai pengajar privat dan pekerja kontruksi selama liburan ini. Afwan jiddan, kak,” tambahnya lagi dengan diakhiri tundukkan kepala.

Entah bagaimana aku tak mampu menyela kalimatnya. Ardi ini telah melampaui ketegaran dan perjuangan seorang anak sekaligus ayah sejak kematian ayahnya di umurnya yang belum genap sembilan tahun. Mana mungkin aku membenarkan kegagalan dirinya? Seorang Ardi yang datar dan diam, tak kusangka dia memendam sekian besar beban pikiran.

“Hei, Ardi. Kau percaya takdir dan rencana Allah bukan? Setiap orang pastilah punya keistimewaan masing-masing. Bukankah kau bercerita bahwa Riana sangat pandai merangkai kata dan bait? Bukankah kau berkata bahwa Dzikra sangat lihai melukis awan dan bukit? Bukanlah salahmu jika Riana menderita kleptomania dan Dzikra disleksia. Allah telah mengatur kompensasi dan komposisi hidup mereka, kau dan aku. Pulanglah. Mereka juga butuh raga dan jiwamu untuk mengarahkan mereka. Bukan hanya kiriman surat, wesel dan uang-uang yang telah kau peroleh dari hasil membanting tulang. Bagilah cerita perjalanan dan perjuanganmu di sini, biarkan berpikir dan memecahkan sendiri apa yang disebut dengan perjuangan dalam segala keterbatasan. Kau belum gagal, kawan!” aku tak pernah berbicara sepanjang ini karena aku belum pernah benar-benar berjuang. Kutarik secarik kertas bergambar dan berlabel penerbangan dari kantong kemejaku. Kusodorkan ke arahnya. Sedetik kemudian Ardi pun melinangkan air mata pertama dalam hidupnya.

(terinspirasi dari kisah seorang kawan dengan banyak pengubahan)

_________________________________________________________________________________
Depok, 15 Juli 2012

Suatu Hari di Gudang Buku

Rerindangan pohon, dinginnya bangku semen dan kotak-kotak kayu pengap yang ragu bergeming... Di antara celah mereka, kulihat seorang anak berjalan, akan menghampiri. Hampir-hampir hilang nafasku, henti nadiku dan hangus akal sehatku dalam setengah detik kala itu. Bukan! Bukan karena serangan jantung atau stroke, melainkan karena terkaget pikiran warasku. 

Kuikuti sepasang kaki. Dari balikku, muncul langkah kaki, tapi lain. Dia karibnya. Kami berpapasan, aku berdebar, dia tak ubah raut muka. Kami bertiga saling diam. Kawannya melirik muka, aku terdiam sejenak. Berharap, milirik pula mata manusia di sampingnya. Namun tidak. Seekor kupu-kupu hampir mati di sudut lemari kayu.

Aku malu, lantas beringsut ke dalam gudang buku. Ibu garang memoles muka. Ibu sayu mengukur pengunjung. Jemariku mencari buku tentang penari, sedang mata melirik ke sana dan ke sini. Aman untuk menjadi diri sendiri kataku dalam hati.

Berhenti menoleh, kuperoleh sebuah manuskrip tua. Dia coklat, berbau khas dan tampak megah. Kubuka lembar pertama, dadaku tertinju kagum. Kubuka halaman terakhir, air mata tanpa permisi berlari mengalir. Aku dan perasaanku, dibolak-balikkan lembaran tua tak punya judul diri.

Aku jatuh hati untuk kesejuta kali. Kumantapkan hati menulis tentang ini. Secarik kartu terlampau buruk kutarik dari saku dada. Sehelai kertas nota bekas kugelar di atas meja kusam. Pensil menari, otak bersalto liar tanpa kendali. 'Guruku akan bahagia dengan ini!' teriakku tanpa berbunyi.

Aku selesai dan bersiap mengunjungi para ibu. Pintu tiba-tiba sesak dan sinar mentari terhalang benda berbayang tidak normal. Dia menyeruak. Kepala lebih dulu, lantas tangan menyusul melambai tanpa gaya. Karibnya muncul, meninggalkannya, tertawa tanpa bahasa. Aku kaku. Hatiku ingin meraih, tapi otak tak jua memberi izin. Jiwaku ingin menghambur, tapi raga tak mampu bergerak barang seinci.

Keheningan terpecah sebaris bibir seruapa bulan sabit. Tanganku tak tahu cara berdusta, lantas melambai segirang Amelia. Tersadar, terbaca rasa tak biasa, aku mencoba bertingkah luar biasa. Tak ada daya upaya, kakiku melangkah menyamping persis seekor kepiting dikejar burung ceking. Menuju tikus elektronik, menjaring informasi palsu tetang kupu-kupu hitam putih. Nafas berlari, tempat duduk pun seakan tak mau kompromi. Dia masih menatap, aku pura-pura tak lihat.

Dalam hati aku meminta bantuan. "Oh tolong, kau karibnya, cepatlah datang. Bawa dia pulang. Masukkan dia dalam lubang di mana kalian biasa berkubang, di mana di depannya aku terbiasa berpura-pura lalu lalang."

Aku heran kepada jaring yang berlubang besar. Kupu-kupu hitam putih lolos dari tangkapan. Aku kehabisan akal, lantas aku hilang tingkah. Dia masih di samping para ibu. Aku tak bernyali untuk mendekat. Gudang buku tiba-tiba berlalat. Oleh aku yang ternyata mulai membusuk, kehabisan waktu menghimpun nyali, kehabisan energi karena kaki tak henti bergetar penuh ekspresi.

Aku tak bisa pergi. Lantas pura-pura membuka diary. Ibu garang melempar perhatian. Ibu sayu masih sibuk mengukur. Dia hilang! Aku terlonjak senang. Berdiri tanpa hati-hati dan menyenggol tubuh lemari. Bruk! Suara lemari teraniaya manusia terlepas manisnya mara bahaya.  Ibu garang makin penasaran. Berhenti menebar bedak dan membulatkan mata di balik kacamata segiempat. Aku tersenyum tanpa makna.

Aku mendekat dan menyiapkan manuskrip tua. Secarik kartu tehidang di atasnya. Pulpen masuk saku, nota bekas terselip di pengaitnya. Aku harus bergegas sebelum dia muncul dan membuatku lupa bernafas. 

Perkiraanku tak sering salah, akan kucapai si ibu dalam lima langkah. Aku melayang, ringan nian dalam ketergesaan. Namun sial! Jidatku menghantam punggung yang lebar! Aku memeluk lantai dan dia memutar badan. Alangkah kesialan ini begitu penuh bintang-bintang, sang pemilik tubuh mengulurkan tangan. Mataku terbuka dan seketika inginku hilang ingatan. Dia! Dia lagi dengan wajah gelisah dan penuh rasa bersalah.

Aku berdiri tanpa menjbat tangan. Lantas tanpa sadar bertingkah tidak wajar. Si manuskrip tanpa alasan ingin kujejalkan dalam tas tangan. Si ibu tahu lantas menyetop laju tanganku. Aku malu dia melihatku. Aku bertingkah salah tingkah, si ibu mengira aku kleptomania. Sedangkan dia tertawa menahan tawa. Aku memerah dan dia menjadi salah tingkah.

Aku berbalik. Membuka lemari berjudul sastra dan melempar si manuskrip. Aku lupa si guru dan lupa tujuan kunjunganku. Dia bermuka heran, si ibu sayu berhenti mengukur. Karibnya datang dari pojok ruang. Dia meminta maaf, aku bersiap angkat bicara. 

Karibnya ingin berucap dan dia telah siap mendengar pernyataan. Aku tak rela, maku dengan kecepatan kereta kuda, aku mengambil alih percakapan, "Hai! Namaku Amarilis. Bukankah kau mengenalku sejak lama, Antaresta?"

_________________________________________________________________________________
Depok, 24 April 2012

Dia (1)

Aku melihat dia duduk di tepi tiang voli. Sesekali bertepuk tangan, tapi lebih jarang tidaknya. Mungkin dia menjagokan tim yang salah atau kalah atau belum waktunya menang atau sinonimnya. Seorang teman memberitahuku bahwa dia adalah dia. Aku kaget awalnya karena ternyata dia sangat berbeda dengan dia yang ada di imajinasiku. Kawanku berkata dia pendiam dan pelajar yang berbudi baik. Aku menganggapnya sebagai orang aneh yang tidak bisa mengatakan hal yang serius, tidak bisa diam dan penuh dengan pikiran lawak.

Aku mengamati wajahnya dari radius terlalu jauh yang tidak dapat ditolerir mata minusku. Aku hanya mampu menangkap sepasang benda hitam menghiasi daerah kapalanya. Aku bersyukur menonton pertandingan voli sore itu karena setidaknya aku berhasil menemukan dia, orang aneh yang selalu bersembunyi di balik kata-kata sihir. 

Sore itu, kemeriahan suporter dari kedua kubu tidak mampu menandingi kerasnya degup jantungku. Mustahil memang, tapi aku memang selalu mendengarkan kata hatiku atau pikiranku saja. Inilah modal utama keegoisanku.

****

Aku mulai membanting barang-barang di dekatku. Sebuah botol parfum dengan suksesnya menghantam sebuah foto yang terpajang miring dinding. Tatanannya yang memang kubuat miring, sekarang semakin miring karena hanya tinggal satu pengait saja yang masih bertahan. Aku mendekati bingkai foto yang tampak kasihan itu itu. Kacanya pecah dan aku yakin salah satu kepingan kecilnya telah menusuk daging di telapak kaki kananku. Aku tidak peduli dengan sakit itu, aku lebih tertarik memandang apa yang ada di dalam foto. Dia tersenyum manis dengan seorang bayi perempuan kecil yang manis dan sipit di gendongannya.

Ya Tuhan, dia sangat menyayangi Lintang.

****

Aku tahu dia adalah orang yang sangat tepat menjadi objek pelarianku. Terkadang aku jenuh menulis cerita anak-anak yang ceria dan menyenangkan. Meskipun itu profesiku, tapi aku tidak menyukainya. Aku tidak bisa terus berpura-pura ceria sambil terus menulis kalimat-kalimat yang menghibur anak-anak itu. Sandiwara bagiku. Saat aku mulai menjadi seorang anarkis dan menjejalkan muatan-muatan horor ke dalam cerita-ceritaku, aku akan menghubungi dia. Sekedar hubungan jarak jauh lewat telepon, chatting atau e-mail. Dia selalu membangkitkan jiwa kanak-kanakku. Dia memperlakukanku seperti seseorang yang sebaya. Padahal usiaku jauh di atasnya. Gurauan segar mengalir dengan spontan dan menyenangkan sekali berbicara dengannya.

Seminggu setelah aku melihatnya di tribun penenton saat pertandingan voli, aku mulai menyapanya dan menceritakan identitasku yang sebenarnya. Aku terus menceritakan diriku tanpa membiarkannya berbicara sepatah kata pun. Aku sangat suka menceritakan akui dan tidak akan berhenti sebelum aku kehabisan akal untuk mendeskripsikan siapa aku. Aku memang egois dan aku sudah mengatakan hal itu ratusan kali kepadanya. Namun, dia hanya tersenyum bijak. Kilatan pelangi di matanya sungguh menyejukkan. Benarkah dia lebih muda dariku? Dia seperti kakakku... Kakak yang tidak pernah kupunya karena aku memang anak perytama. 

Baru sekali ini aku kehabisan kata saat berbincang dengan seseorang. Orang lain akan pergi karena bosan mendengarkan ocehanku yang mempunyai panjang dan lebar yang tidak proposional. Namun, dia tidak. Dia tetap mendengarkan dan tersenyum. Aku tidak tahu apakah dia paham sepenuhnya omonganku atau tidak. Yang pasti aku mulai merasakan canggung yang tidak biasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ya Tuhan... 

Dia sangat berbeda dengan dia yang kukenal sebelum ini. Dia adalah sahabat penaku. Aku mendapatkan surat pertama darinya di kebun belakang sekolah saat aku sedang membolos mata pelajaran sejarah yang membosankan. Aku duduk di kelas 2 SMA saat itu. Akulah yang pertama meletakkan sepucuk kertas di pagar kebun belakang berisi umpatanku tentang seorang guru. Seminggu kemudian di tempat yang sama dengan aku meletakkan suratku, kutemukan balasan suratku. Penasaran, aku membacanya dan aku langsung menyukai caranya berbicara dan berpikir. Hal itu berlanjut hingga kami sering chatting lewat messenger.

Dia selalu punya penyelesaian untuk masalah-masalahku. Mottonya saja "menyelesaikan masalah tanpa masalah" dan aku curiga dia mendapatkan motto itu karena sering menggadaikan perhiasan ibunya mengingat tingkah lakunya yang bandel. Namun, Ya Tuhaan... aku jatuh cinta kepadanya...

(bersambung)

_____________________________________________________________________________________________
Depok, 7 November 2010

Thursday, 3 April 2014

Hanya Saja...

Entahlah... Hanya saja, aku tahu.
Aku tahu dan hanya bisa bertingkah gagu.
Ini betul, aku lebih nyaman menjawab setiap hal dengan membisu.
Aku semakin menyukai memendam suaraku yang tidak memiliki kekuatan, melainkan ragu.

Entahlah...
Hanya saja, diamlah yang dapat aku lakukan,
meski batin sempat terkoyak, meski sesekali lenyap ketenangan jiwa.
Aku menyimpan, memendam, tidak mendendam, tapi merasa bersalah berkepanjangan.
Hingga kucuran permintaan maaf dan berhati-hati setiap saat lah yang terlaksana berulang-ulang

Entahlah...
Hanya saja, aku mengerti.
Aku tidak bermasalah dengan semua kepasrahan ini,
karena aku bukan pelopor, pencetus ide-ide yang bijak bestari.
Aku bukan juga pemberi nasihat, yang dapat membantu mereka memecahkan rumitnya teka-teki.

Entahlah...
Hanya saja, aku ingin memberi kabar.
Aku tidak ingin dihujani belas kasihan atau bela sungkawa,
karena aku tidak sedang menderita atau berduka cita.
Aku hanya ingin dibiarkan sendiri, menumpas kebodohanku yang hanya dapat ditangani olehku saja.

Entahlah...
Hanya saja, aku merasa sedih ketika hilang kepercayaan.
Banyak yang berdalih, aku yang tak terbuka membuat mereka enggan percaya.
Namun, setiap kali aku berupaya ingin terbuka, sebanyak kali itu pula upayaku ternilai gagal.
Sampai-sampai aku tak mengerti keterbukaanku yang macam apa yang sebenarnya orang-orang inginkan?
Sepertinya memang aku yang tidak mengerti makna terbuka dan tidak tahu cara melakukannya.

Hanya saja, aku masih tidak tahu apa mauku...
Terlalu memikirkan mereka, terlalu tidak tertarik padaku sendiri, terlalu asyik berfantasi dalam imajinasi.
Mungkin ini yang membuatku bertampang bimbang, membuat orang-orang begitu mudah menekan dan mengancam...

Hei, tapi aku tidak merasa tertekan...
Hanya saja aku tidak suka diberi tuduhan dan pertanyaan, yang menyangkut urusanku seorang, 
tidak layak untuk mereka ketahui lebih dalam.

Oh, mungkin ini yang mereka bilang tertutup...
Namun, bukankah setiap orang memiliki batas privasinya sendiri?
Dan bukankah setiap orang berhak menentukan seberapa luas lahan privasi yang akan dihuninya sendiri?

Aku, mungkin salah satu orang yang terkadang lancang menginjak teras batas privasi orang lain...
Namun, aku bukan pemaksa yang akan mendobrak masuk pintu privasi seseorang yang telah menolak untuk menjawab ketukan dan salam yang dikirimkan.

Kau tahu bagaimana rasanya dituduh: ingin dianggap sebagai orang malang?
Aku tahu.
Kau tahu bagaimana rasanya disebut dengan umpatan "Anjing!"?
Aku tahu.
Kau tahu bagaimana rasanya diusir dan tak diizinkan untuk kembali?
Aku tahu.
Kau tahu bagaimana rasanya diancam akan dibunuh?
Aku tahu.

Aku tahu rasa-rasa dari penolakan, pelabelan, sedikit pengasingan dan mengalami pembedaan.
Mungkin ini yang membuatku berhati-hati, mungkin ini yang membuatku menjadi tertutup seperti apa kata mereka.

Wednesday, 2 April 2014

Ibuku, Perempuan Perkasa

Apa yang dapat kutuliskan tentang ibuku? Lebih dari banyak, seharusnya. 

Beliau yang selalu menemani, tak pergi, tak menghakimi, meski kami tengah dalam masa terpuruk dan sulit membangkitkan diri. 
Beliau, yang mendukung setiap langkah kami, dalam diam serta kekhusyukan doa dan sujudnya. 
Beliau, yang tak pernah letih memperhatikan dan memenuhi setiap detil kebutuhan dan keinginan anak-anaknya yang hampir tak pernah terpuaskan, meski telah habis receh dalam dompet bercap toko emasnya. 
Beliau, yang tak pernah mengambil seratus rupiah pun dari jatah yang dititipkan kepadanya untuk diberikan kepada anak-anaknya, meskipun telah begitu lama tak turun jatah bagi dirinya. 
Beliau, yang hanya mampu menanti sembari menyederhanakan pengeluaran hanya miliknya sendiri, jika satu-satunya pemasukan dari usaha kost-nya tersendat, akibat kelalaian para siswa SMK penyewa kamar di rumah... yang parahnya ini terjadi setiap bulan.
Beliau, yang dengan teguh dan sabar mengajari anak-anaknya dalam belajar ilmu dunia dan ilmu agama, semampunya, sebatas bekal sekolah setingkat SMP-nya yang dapat ia tular-ajar-kan kepada kami, anak-anaknya yang berbeda minat dan kecepatan dalam mencerna setiap input yang diberikannya.
Beliau, yang tidak akan terlelap tidur, jika ada satu saja anaknya: yang masih terjaga merampungkan tugas pribadinya, menikmati cobaan sakit yang terkadang dirintihkan terlalu berlebihan, belum pulang hingga larut malam atau tak juga terpejam karena diselimuti resah dan gulana.
Beliau, yang entah bagaimana pun caranya akan berusaha membuat anak-anaknya bahagia, meski itu artinya beliau akan menumpuk derita yang harus berangsur-angsur dikuranginya agar tidak menggunung dan merobohkan ketahanan hidupnya.
Beliau, yang tak pernah mengeluh dalam setiap putaran roda dan kayuhan pedal sepeda mini ukuran sedang, satu-satunya kendaraan butut dengan sadel yang hanya tinggal separuh bagian, yang beliau gunakan untuk pergi ke tempat manapun, jauh dekat, menurun menanjak, berjalan mulus atau terjal, entah ke perkampungan atau ke tengah perkotaan...dan hingga kini tak pernah menginginkan untuk diberi yang lebih baik.
Beliau, yang tak pernah meminta apa pun kepada suaminya, jika itu untuk kepentingan pribadinya sendiri hingga lama-lama tak mampu mengingat dan mengenali apa saja kepentingan pribadinya, apa saja yang diinginkannya. 
Beliau, yang selalu sabar meladeni kami yang berbeda tingkah dan sifat, berbeda mau dan taraf kepatuhan, berbeda di mana-mana dalam setiap hal dan beliau tetap ada tak kabur untuk memerdekakan diri.

Ah! 
Ibuku, ibu nomor satu sedunia. 
Ibu paling mandiri dan sabar yang tidak pernah betul-betul marah, meski anak-anaknya sering kali durhaka dan membantah petuah-petuahnya. 
Ibuku, ibu yang tak pernah lelah berjuang, sejak langit menerang hingga menggelap, sejak diucapkannya kata bersedia dan janji untuk setia mengabdi pada orang yang memintanya menjadi istri dan (aku yakin) hingga nanti orang tersebut tak lagi gagah dan terlalu lelah, bahkan untuk sekadar menghirup dan melepas nafas.
Ibuku, perempuan yang telah menjadi seorang ibu ketika usianya masih begitu muda, merelakan jatah mudanya untuk mengabdikan diri pada suaminya yang unik dan membesarkan buah hati-buah hatinya yang sedikit menarik. 
Ibuku, perempuan paling tangguh, yang tak pernah mengeluh dalam kucuran peluhnya yang mungkin hanya beberapa kali kami sadari dan hargai dengan tulus. 

Hnnn...
Aku tidak ingin lagi ibuku mengerjakan hal-hal seperti yang dikerjakan Cinderella untuk keluarga tirinya. 
Aku tidak ingin ibuku lama-lama menjadi Rapunzell yang terkurung dan hanya mengenali rumahnya sendiri tanpa pernah melihat dunia yang lebih luas dari apa yang ditinggalinya saat ini.
Aku tidak ingin ibuku terbiasa menanti, mandiri dalam kepasrahan, yang aku yakin ini dapat diperbaiki...

Aku tidak ingin ibuku dipandang sebagai ibu yang kasihan dan menderita karena dia adalah seorang ibu yang kuat, perempuan perkasa pertama yang kukenal, Perempuan Pilihan...
Satu-satunya orang yang mampu dan mau mendampingi kami setiap waktu di setiap kondisi yang terjadi.

Dan aku merasa bahagia dan terhormat, Tuhan menjodohkanku dengannya,
menjadi anak pertamanya yang menyaksikan perjuangannya lebih lama dari adik-adikku,
menjadi orang yang beruntung, yang seharusnya dapat memetik jauh lebih banyak pelajaran-pelajaran dari perjalanan dan perjuangan hidupnya  untuk disemaikan kepada adik-adikku juga anak-anakku nanti.

Ibuku, Perempuan Perkasa...
Ibu juara satu di dunia...

Sunday, 21 August 2011

Ramadhan...

‘Allahu akbar… Allahu akbar…’ Sayup-sayup suara penyeru kebesaran Tuhan mulai terdengar, merdu bersautan, menuntun mataku melirik ke ufuk barat nan memerah merona. Beberapa orang membuat barikade teratur mengelilingi meja berukuran sedang yang tidak biasanya tampak manis menggiurkan dengan gelas-gelas berisi sejenis limun segar di atasnya. Tepat di samping meja, kudapati kolong “rumah kegiatan” kampusku yang tampak lebih putih dari biasanya. Subhanallah! Ternyata puluhan pejuang baru kampus ungu telah tiba. Kostum serba putih yang menyelimuti lantai 1 BKM seolah menandakan lembaran baru mereka yang siap mereka isi dan tulisi perjuangan yang melahirkan sejarah. Entahlah ikut menyambut atau apa, tanpa sadar selarik syair lagu Selamat Datang Pahlawan Muda meluncur ringan dari bibirku.
Hari itu bertepatan dengan pertengahan Ramadhan tahun ini, pun bertepatan dengan berakhirnya (untuk sementara waktu) salah satu kegiatan paling tak terlupakan oleh kebanyakan para mahasiswa FKM, OKK IM FKM UI. Dua kali tak kulewatkan kegiatan tersebut. Meski dengan status berbeda, umur berbeda, partner berbeda, tugas serta kewajiban berbeda tetapi tetap saja makhluk bernama OKK ini selalu menyisakan banyak kesan yang tak terlupakan. Kesan tak terlupakan, bukankah tidak selalu berbentuk sesuatu yang menyenangkan? Dan kurang lebih kesan yang kudapat bukanlah sesuatu yang menyenangkan apalagi menyakitkan. Alih-alih itu semua, kesan itu berupa pembelajaran yang mendewasakan dan mengingatkan kita untuk selalu ingat dan bersyukur kepada Allah.
Hampir seharian penuh selama dua hari tersebut, aku berkubang di ruangan ber-AC, meneliti coretan tangan dan kreasi pejuang termuda di kampus ungu saat ini. Lalu dalam hati aku berkata, “Alhamdulillah, terima kasih untuk udara dingin dan segar yang senantiasa bertiup mengusir kegerahan di Ramadhan siang ini. Alhamdulillah, terima kasih untuk kesempatan yang telah Engkau berikan sehingga saya dapat mengenal para pejuang ini melalui pola pikir mereka yang tertuang di atas helai-helai kertas ini. Alhamdulillah, terima kasih Yaa Rabb Yang Maha Bijaksana yang telah menempatkan saya di antara orang-orang hebat saat ini bahkan selama setahun ini di sini.”
Kupandangi sekeliling ruangan. Ruangan yang dulu pernah kuhuni selama 300 menit setiap minggunya untuk mengikuti perkuliahan MPKT. ‘Sedikit tampak lebih menyenangkan dibandingkan setengah tahun yang lalu,’ pikirku. Mungkin setengah tahun lalu pressure dan atmosfernya berbeda dengan saat ini sehingga ruangan ini terasa lebih nyaman. Beberapa orang mengantuk karena saking nyamannya. Salah! Mereka terlalu lelah setelah bekerja keras bersama dengan yang lain demi kesuksesan kegiatan ini dan terwujudnya tujuan kegiatan bagi para mahasiswa baru ini. Kalian benar-benar hebat! Dan aku yakin mereka yang tadi berbalut kostum putih itu juga mempunyai kehebatannya sendiri. Sungguh aku terkejut saat komitmen mereka benar-benar terpenuhi. Seratus persen datang lebih baik dari on time merupakan bukti yang tak terbantahkan: bahwa mereka punya keyakinan, bahwa mereka tak ragu berjuang, bahwa mereka datang ke kampus ini tak untuk main-main. Jujur, aku sempat merasa kalah dari mereka.
Saat Ramadhan, iman dan kesabaranmu benar-benar diuji, memanglah benar ungkapan itu. Aku bertemu seseorang, sesama pejuang 2010. Tak dekat, kurang kenal dan tanganku terbuka untuk menyambutnya. Menit berlalu, asyik. Beberapa menit kurang enak pun tiba-tiba hadir, saat si pejuang itu mengungkapkan kata IP. Dia sejajarkan diriku dengan orang-orang pintar yang mempunyai skala mendekati sempurna. Terusik, aku menyela, “Gara-gara IPU?” Yeah! Sudah kuduga, siapa yang tidak mengenalku gara-gara IPU? Pemilik NPM ditandai kuning karena nilai Kuis dan UTS-nya tak setimpal. Orang yang selalu memperoleh nilai sempurna di kuis hari Rabu. Siapa yang tak mengenalku? Siang ini semakin gerah. Kurasakan panas yang menjalar dari leher hingga pipi dan dahiku. Sontak emosiku menaik. Aku mulai menenggelamkan kepala ke dekapan tanganku sendiri. Aneh! Perilaku yang sangat aneh dipandang orang lain. Namun, aku tak peduli. Lebih baik aku mengingsut seperti itu, meracau tidak jelas dibandingkan berteriak atau berkata keras kepada orang lain. Seperti orang gila saja! Tanpa sadar aku mulai menggumamkan kata-kata dengan jelas, “Lupakan saya, ngga usah inget-inget saya. Saya ngga mau dikenal, ngga usah inget-inget Ani.”
Siapa wanita yang tidak salah tingkah saat orang di hadapannya tiba-tiba berperilaku aneh sepertiku? Seolah merasakan beban penderitaanku, si pejuang wanita 2010 yang tiba-tiba seperti telah kenal lama itu tiba-tiba berbicara, “Maaf ya, Ani, kalau perkataanku membuatmu sedih, membuatmu ingat hal tersebut.” Sebenarnya aku tidak terlalu mempermalahkan perkataannya yang sebelumnya. Aku hanya sedang sedikit mengutuki diriku sendiri saat itu. Aku yang selalu tidak mampu bertindak maksimal di saat yang seharusnya perlu tindakan supermaksimal. Pun aku yang selalu down dan memikirkan setiap hal dengan rumit seolah-olah dunia akan kiamat jika aku tidak memikirkannya dengan rumit dan teliti. Aku mulai menyadari bahwa diriku memang masih sangat belum bisa dikatakan dewasa saat itu. Seorang dewasa mungkin akan tenang menghadapi kondisi seperti itu, berpikir jernih dan menjawab segala halnya seperti seorang putri Indonesia. Ah… OKK memang mengesankan. Ramadhan ini memang penuh kejutan. FKM UI tampaknya masih asing bagiku. Ini memang aku yang terlalu suka mengasingkan diri pastinya. Namun, keikutsertaanku di perjuangan di tengah Ramadhan kali ini, toh membuatku semakin tidak asing dengannya dan dengan mereka.
Keberadaanku di kampus berakhir setelah shalat Maghrib berjama’ah. Asyik sekali shalat berjama’ah sebenarnya. Namun, kenapa aku lebih suka shalat sendiri? Aku merasa aku memang terlalu suka mengasingkan diri. Sungguh Yaa Rabb, saya tak ingin asing di hadapanmu, tak ingin mengasingkan diri darimu, atau membuat-Mu asing bagiku karena terlalu sibuk dengan urusan sendiri dan lupa bersyukur dan berkomunikasi dengan-Mu. Sungguh Yaa Rabb, saya hanya terlalu tidak menyukai di tengah banyak orang, meski saya tahu bertemu dan bersilaturahmi dengan banyak orang mempunyai banyak sekali manfaat yang salah satunya memperpanjang umur. Maaf Yaa Rabb, saya pun sedang berusaha mengatasi fobia orang ini. Saya suka bertemu orang, hanya saja saya takut tersakiti dan menyakiti orang lain.
Ramadhan tahun ini seharusnya sangat indah…
Dan memang sepertinya akan lebih indah jika aku lebih percaya pada diri, lebih menjauhi dendam, lebih melupakan dan meperbaiki keburukan serta lebih mendekat kepada Allah…




Monday, 7 March 2011

Mamaaaaa...

Kemarin itu hari Minggu ya???

Dateng ke TFS MBUI di gymnasium!
Kirain bakal menyenangkan, tapi... kayaknya tetep aja suntuk, muka tertekuk-tekuk, ngantuk-ngantuk mulu pas training. Bahkan, aku rada kurang bisa membedakan mana yang kak Ari mana yang Renny. Ngantuk dahsayat. Baru pas waktu sesi PBB aja nih mata melek. Pun masih suntuk... Minggu kemarin, pikiran ngga tenang. Inget kuis Biostatistik Dasar. Inget TB Medium yang ke Bookfair di Senayan. Inget hal-hal yang ngga menyenangkan. Kayak dihisap Dementor aja tuh rasanya.

Satu-satunya hal yang menyenangkan pas hari Minggu itu adalah adanya sms dari Mama dalam bahasa Jawa. Jika diterjemahkan kurang lebih artinya adalah "Ayoh... Mama sekarang lagi makan nasi kuning. Ini untuk selametan anak Mama yang lagi kuliah jauh. Sebenarnya ulang tahunnya yang ke-19 sih masih seminggu lagi, yaitu Selasa minggu depan. Namun, karena hari ini adalah weton dia, makanya Mama buatin nasi kuningnya hari ini."

Dan kalian tahu? Air mataku nyaris tumpah dari kelopak... Namun, segera kutahan agar menarik perhatian tentunya. Yeah! Walaupun aku memang tidak pernah menarik perhatian. Siapa sih yang tertarik dengan seorang pendiam berwajah bingung yang suka bermimpi sepertiku ini?

Subhanallah.. siapa orang yang paling berhak kau hormati selain ibu? Mamaku, Mama nomor 1 di dunia. Mamaku, Mama yang selalu tersenyum meski hatinya sedang dicambuk keadaan. Mamaku, Mama yang selalu membuatku mandiri dan tidak bergantung. Mamaku, Mama paling hebat dalam memotivasiku. Aku kok rindu ya?

Maaa... Anakmu ini ingin bercerita tentang apa yang dialaminya di sini. Di sini dia mengurung diri, sibuk sendiri dengan urusannya, dengan terkaan dan dugaan, memikirkan orang-orang yang dialaminya. Mama... anakmu ini, masih suka terlalu bangga dengan kemampuan dirinya sendiri. Padahal, Mama selalu mendidikku untuk tidak cepat berpuas diri. Mama tidak pernah memberikan hadiah terbaik saat juara kelas, dan tidak terlalu menampakkan kepuasan dan kegembiraan Mama saat aku mendapat prestasi lebih. Mama sama seperti Bapak. Aku pun terbiasa. Mama dan Bapak memang terlalu diam dan sederhana. Mama bercerita seperlunya ke para tetangga tentang anak-anaknya yang biasa saja di sekolah, tapi sudah membuatnya tersenyum bahagia di setiap tidurnya.

Maaa... Anakmu ini masih terlalu sombong. Jarang membalas sms-mu, jarang menanyakan kabarmu dan kurang peduli dengan petuahmu. Anakmu ini masih terlalu kekanakkan karena menangis jika kesepian dan diberi suara keras dan kasar. Anakmu ini belum bisa tegar. Egois dan pemarah. Mamaaa.... di umurku yang nyaris 19 tahun ini, anakmu masih seperti anakmu lima belas tahun yang lalu.

Mama... aku tahu betul, di dalam do'amu, namaku disebut. Mama mengharapkan yang baik-baik untukku, agar aku menjadi putri yang baik yang bisa berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Mama tidak pernah egois... Mama... wajahmu terbayang seperti bulan yang tertutup mendung. Mendung itu adalah aku yang masih tidak jelas arah dan tujuannya, yang belum bisa membanggakan dan membahagiakanmu, mencerahkan senyummu...

Maaaa... satu-satunya yang ingin aku lakukan di umur 19 tahun nanti dan seterusnya hingga aku mati, aku hanya ingin berbakti sepenuh hati padamu, padamu, padamu dan Bapak.

Maaaa... jangan bosan tersenyum... Tidak ada senyum yang lebih indah di dunia ini, selain senyummu. Ummi... Ummi... Ummi... Tunggu hingga mendung ini menyingkir dari senyum indahmu. Aku akan menjaga senyummu...tak mau melukaimu, Mamaaa....

Friday, 7 January 2011

Wednesday, 5 January 2011

My Lovely Sister


Yeah... Ini adek gue! Namanya Zahra Nurussyifa. Ini nama yang bikin gue lho, bagus kan? Ahaha... Zahra means flower, while nur means light, and syifa means obat. So, kalo diartiin kurang lebih adaladh: Bunga Cahaya Pengobat (Nah lho? Kebayang ngga, kayak apa tuh obat?? eh bunga? haha)

Semua orang panggil Yaya (sebenernya sih gue yang meksa semua orang suruh manggil dia Yaya, biar lucu sih, lagian dia dulu cadel sih waktu umur satu tahun, ya iyalah!!! haha)

Yaya selalu bisa jadi obat buat gue. Yeah, just like her name. Kenapa? Setiap gue lagi kesel, jengkel, marah dan pengen mbanting bantal ke muka ayam-ayam peliharaan Mama gue (sejak kapan emak gue pelihara ayam? adanya juga bebek), gue pasti ngga jadi kesel, jengkel, marah dan pengen mabanting bantal ke muka ayam (mumpung di blog bukan LTM, mau alay ah! haha) setiap lihat muka dia. Innocent banget!!! Dia begitu tampak dewasa, lebih dewasa dari gue. Dan kalian tahu berapa umurnya?? Baru 6 tahun... Gue mah waktu segitu masih suka nangis guling-guling kalo ngga dibeliin es krim.
Dulu, waktu dia masih bayi, the real bayi lah, gue sama Ais, adek pertama gue, berduel dengan asyiknya, hingga membuat gaduh seisi rumah. Entah kenapa si Yaya tiba-tiba mukanya jadi manyun-manyun mau nangis, dan beberapa detik kemudian dia nangis tanpa suara. Kasihan deh...akhirnya gue sama Ais berhenti bertengkar lalu menonton si Yaya yang nangis tanpa suara...oops, maksudnya berhenti bertengkar karena kasihan dan malu pada si Yaya. Ngga cuma saat itu aja, setiap gue sama Ais, atau sama Bapak atau Mama mulai berselisih paham, si Yaya langsung nangis-nangis gitu... Bener-bener deh, nih anak udah jadi cahaya di keluarga kami... Love you so much, Dek!!



Layaknya anak kecil biasa, si Yaya doyan main. Sejak bayi, dia jarang banget nangis. Bahkan saat gue ngga sengaja ngelukain jidat dia sampai berdarah-darah kayak drakula (??), dia cuma nangis beberapa detik, lalu tidur lagi. Gue ngga inget jelas berapa umur dia, tapi kayaknya belom ada dua bulan sih. Dia juga penurut, kalo lagi mood. Terus gampang banget kenal sama orang. Supel dah. Hingga suatu hari, seorang ibu-ibu gila lewat di depan rumah. Yaya lagi mainan pasar-pasaran di halaman. Si ibu baik hati dan ramah yang sayangnya gila itu mendekati Yaya, dan mau menggendongnya. Yaya yang notabene anak baik dan penurut serta ngga mudah curigaan (ini penurut apa rada bego sih Yaya? *dilempar drum minyak sama Mama*), sontak mengulurkan tangan-tangan mungilnya ke si Ibu baik hati dan murah senyum tapi gila dan berniat menculik. Untung Mama segera dateng dan dengan kekuatan bulan segera menghukum si Ibu murah senyum tapi gila yang gagal menculik anak. Ngga menghukum kok, cuma melotot dan komat-kamit ngga jelas. Si Ibu yang notabene tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar, mana yang ancaman mana yang hiburan, malah tepuk tangan kegirangan sambil nyanyi lagu pelangi-palangi. Yaaa...sudahlah, hari itu Yaya kecil yang baru bisa jalan terselamatkan.

Sejak saat itu, Mama gue jadi over protective dan lebih sering mengajak Yaya main di dalam rumah. Toh teman sebaya Yaya di lingkungan kami sedikit. Jadilah Yaya si anak pingitan (hah???)


Seperti namanya, Zahra, yang berarti bunga, Yaya sangat menyukai tanaman, bertanam lalu merusak sendiri hasil tanamannya. Pernah suatu ketika Mama membiarkan si Yaya yang mulai mengenal nama-nama tumbuhan untuk bermain di taman dalam di dekat kolam. Mama sangat senang, putri bungsunya ini menuruni hobinya, menanam dan mengelus-elus bunga. Mama lalu pergi ke dalam rumah mengerjakan tugasnya sebagai Ibu Rumah Tangga yang baik (I love you Mom!). Beberapa menit kemudian, saat Mama menengok Yaya yang dikira sedang bercocok tanam, terlihatlah pemandangan mengerikan di mana salah satu tanaman kesukaan Mama gundul dengan naasnya dipangkas seluruh daunnya oleh Yaya. Lemes deh Mama. Parahnya lagi, tuh daun pohon dibikin main masak-masakkan dan hampir nyuruh Mama nyicipin hasil masakannya itu. Dasar bocah!

Belakangan Mama berpikir kalo Yaya tidak berpotensi sebagai pembudidaya tanaman, melainkan pembawa berita karena dia kalo cerita bener-bener jujur, aktual tajam dan terpercaya mirip Rosiana Silalahi. Sedangkan Yaya sendiri mengaku dirinya adalah seorang guru TK, bukan presenter berita.

Terserah deeeh... Pokoknya besok aku mau pulang dan ketemu Yayaaaa.... yeeey!!! Haha...

Saturday, 1 January 2011

Abstrak, Ngga Ngerti Jelas...

Ini tahun baru
Ada dua angka kembar di tahun ini
Aku menemukan tantangan berganda menghadang di depan mata
Tentang mencangkul ilmu
Tentang bermain bunyi-bunyian
Tentang sekelompok pasukan
Tentang paguyuban
Tentang komitmen
Dan tentang-tentang lain yang tak bisa kuhitung dengan gabungan jari tangan dan kakiku sekali pun

Yeah... Ini tahun baru
Aku bertekad membabat habis disiplin ilmu tertentu
Semangatku berapi-api untuk menjadi seorang jenius
Jenius memainkan isi kepalaku juga pukulan tanganku
Oh My... Sungguh aku ingin menjadi seperti kakak ituuu...
Dua di kanan, dua di kiri
Lalu menari tanpa beban berarti...
Ingiiiiiiin...

Waw! Ini tahun baru???
Aku ingin segera mencari tahu kebenaran sastra
Keistimewaan sastra
Kelurusan serta kemiringan sastra
Aku ingin mengeksekusi beberapa milikku
Lalu mempertemukan mereka dengan ujung-ujung yang menyimpul
Wieew! Ingin sekali melihat mereka terpampang..

Iya! Ini tahun baru...
Akhir Desember
Aku akhiri dengan menyaksikan kemegahan kemenangan salah satu milikku
Melihat mereka mengangkat piala
Menciumi benda berlapis sedikit emas
Dikalungi benda bulat yang memancarkan aura kemenangan
Yah, mereka memang menang
Hadiah tahun baru terbaik untukku,
dengan melihat senyum dan air mata memolesi warna-warni wajah mereka

Benar-benar tahun baru ya?
Iya aku yakin sekarang
Hampir dua belas jam aku terbaring
Sesekali bangun melihat sekeliling
Ragu-ragu bermimpi
Lalu terlelap lagi tanpa pikir-pikir


Capek berlari dalam dunia tak terpijaki
Aku terjaga
Lantas meraih ember mandi
Kurasakan dinginnya air tahun baru
Iya ini bukan mimpi
Make A Wish!!!
selamat tahun baru
aku memulai catatan ini....

Hoaaam...
Oyasuminasai...

Monday, 27 December 2010

Aku Tahu Caramu Menyayangiku

Aku Tahu Caramu Menyayangiku
Oleh Anifatun Mu’asyaroh (1006668014)

Depok tidak panas hari ini. Langitnya menggelap dengan petir yang sesekali berteriak parau seperti anak kucing lapar. Sekawanan tikus got berlari santai menyeberangi gazebo asrama. Saking santainya atau tepatnya lalainya, hampir saja ada seekor tikus yang tertendang kaki mahasiswi bergaya tomboy ini. Dia berjalan gontai di tengah keramaian kantin. Bukan untuk mengisi perut tujuan kunjungannya, melainkan sekedar menumpang lewat sambil mencari kalau-kalau ada menemukan ceceran inspirasi.
Petir berteriak lagi, menyadarkan si mahasiswi bahwa keberadaanya di kantin hanya sia-sia. Dia memutar langkahnya ke arah kamarnya di gedung C. Tangga-tangga pendek itu terasa jauh lebih tinggi dari biasanya. Lambat. Dan dia merasakan kamarnya seakan sejauh kampung halamannya di Wonogiri. Dia sudah akan memutar pintu, tapi...
“Oh My! Aku benci hari ini! Arrrgh! UTS! Presentasi! Shit semua! Aku benci sastra!” teriaknya yang sukses membangunkan tidur siang beberapa tetangga kamarnya. Dibukanya daun pintu dengan kasar, lalu dia lemparkan pintu sekenanya hingga menimbulkan bunyi super gaduh. Kasur yang busanya sudah sedikit “sakit” menjadi korbannya yang selanjutnya. Dia berbaring, memejamkan mata tanpa berniat untuk tidur. Lalu tiba-tiba dia menangis. Tangisan pertamanya tahun ini. Diambilnya Lintang, lalu menarilah jemarinya di atas Lintang, si laptop jadul kesayangannya.



Senin, 8 November 2010
Tiba-tiba aku teringat lebaran tahun lalu, saat aku melukai hatinya. Kami bertikai, mempersoalkan hal yang sungguh sepele. Hingga ujungnya, aku mengunci diri di kamar paling timur dan tak mau mendengarkan sepatah kata pun dari mulutnya.

Aku sedang kesal padanya saat itu dan jujur aku memang tidak menyukai sifatnya yang keras dan benar-benar susah dibelokkan, benci bahkan. Namun, aku juga tidak pantas menyakiti hatinya, tidak sama sekali. Sebab aku sendiri pun seperti itu. Aku keras, baik kepala maupun hati. Emosiku labil dan jarang stabil... dan aku amat tahu, kesemuanya itu aku dapatkan dari dia. Tentu saja! Setiap inchi tubuhku adalah berasal darinya.

Hari ini, saat aku sendiri, saat aku tidak ada di sisinya, aku menyadari bahwa aku menyayanginya... Aku sadar betul, setiap hal yang kunikmati adalah karena dia, setiap tetes ilmu yang kudapat adalah berkat tetes keringatnya dan setiap keberhasilanku adalah karena ridho di setiap hembusan nafasnya. Lalu kenapa aku selalu berpura-pura tidak tahu dengan bertingkah sombong kepadanya? Perlahan, aku mengaku, “Aku malu!”

Pernahkah aku memujinya? Pernahkah aku memijiti bahunya sehabis kerja? Pernahkah aku mengucapkan selamat datang saat dia pulang? Tidak. Hingga tiba saatnya aku pergi untuk waktu lama, aku pun tidak menyentuh tangannya. Pernahkah aku bercerita tentang dia di depan teman-temanku? Tidak. Bukan malu, hanya bingung, apa yang ingin aku ceritakan tentang dia kepada mereka. Dia kaku sekaku karang yang congkak dihantam ombak.

Namun, hari ini aku menyadari bagaimana caranya menyayangiku. Dia tidak pernah mengucapakan sayang padaku, seperti yang aku harapkan dari dulu, seperti yang biasa terlihat di dalam televisi. Dia tidak pernah memujiku saat aku mendapatkan peringkat satu di kelas. Bahkan, dia bersikap tidak peduli saat aku diterima di perguruan tinggi impianku. Benarkah dia tidak tahu?

Memang, aku ingin sekali melihat dan merasakan kehangatan seperti yang dirasakan oleh teman-temanku yang lain. Dipeluk, dicium, dibelikan boneka atau diajak berlibur ke pulau Bali. Namun, sekarang aku sudah tahu, semua itu memang bukanlah caranya.

Suatu hari, di luar sana, dia tersenyum bahagia di antara kerumunannya. Aku iri karena orang lain begitu mudah mendapatkan senyumnya, sedangkan aku tidak. Aku melihat dia bercanda-canda, lalu menceritakan hal yang menarik membuat orang lain terkagum-kagum. Dia tampak bahagia. Aku tidak pernah melihat ekspresi seperti itu. Aku sadar, aku tidak bisa membuatnya tersenyum dan tertawa seperti itu. Aku iri lalu pergi...

Aku memendam iriku berhari-hari hingga tidak mampu dihitung dengan jari.
Hingga saat lebaran itu, aku sudah terlalu lama memendam kejengkelan. Aku muntab, lalu membanting pintu tepat di depan hidungnya. Aku menolak diajak ke tempat rekannya dan menolak apa pun yang dia perintahkan. Aku menulis catatan nista itu lalu disukai oleh beberapa teman di facebook. Aku malu sebenarnya, tapi itulah aku, seorang yang sok. Lalu sekarang, lagi-lagi aku malu...

Aku sudah bilang aku sudah tahu bagaimana caranya menyayangiku. Dia berkata sayang lewat diam. Belakangan aku tahu, dia menimbun harta untuk aku bisa sekolah. Aku pun tahu dia menceritakan aku yang mendapat juara satu, aku yang diterima di SMA favorit, aku yang mendaftar di jurusan farmasi dan arsitektur UGM dan aku yang mendapat beasiswa serta diterima di universitas impianku di jurusan Sastra Indonesia. Dia bercerita kepada teman-temannya, di kerumunnya, dengan bahagia. Dia bahagia bercerita tentang aku.

Dia tidak menampakkan kegembiraannya saat aku bercerita tentang prestasiku karena dia tidak ingin aku menjadi gadis sombong. Dia tidak pernah menanggapi soal gambar atau tulisanku karena dia tidak ingin aku cepat berpuas diri. Dia tidak selalu menuruti setiap hal yang aku mau karena dia ingin aku menjadi manusia mandiri yang tidak materialistik. Dia tidak menunjukkan lemah lembutanya karena dia tidak mau aku menjadi seorang yang tidak menghormatinya.

Astaghfirullohal’adzim... Maafkan aku, God! Maafkan aku, sayangku, yang selama ini buta oleh keinginan-keinginan yang berlebihan, yang terkadang imajiner, yang terlalu menuntut kepadanya tanpa pernah terlalu berusaha membuatmu bangga! Padahal kau tidak pernah menuntutku bisa ini dan bisa itu. Aku malu... Karena aku baru menyadari indahnya cintamu saat aku tidak di sampingmu, aku malu karena aku selalu merepotkan dan tidak pandai membuatmu senang, dan sekali lagi karena tahun ini aku belum bisa mempersembahkan yang terbaik bagimu. Maafkan aku! Maafkan Nabila, Dad...!




Dia sedang mengklik pilihan “TERBITKAN ENTRI” ketika handphone-nya tiba-tiba berbunyi. Dengan air mata yang masih mengalir dan suara yang sedikit bergetar dia berkata ke suara di seberang, “Dad, aku tahu caramu menyayangiku... Aishiteru!”\


Cerpen untuk tugas Penulisan Ilmiah

Friday, 24 December 2010

About Pisces (Cause I'm a Pisces Girl)

1. #Pisces emotions are the most valuable to them and they will do what ever it takes to avoid emotional pain.
--> Bagi seorang Pisces, emosi adalah hal yang paling berharga bagi mereka, dan mereka akan melakukan hal apa pun yang mereka ambil untuk menghindari rasa sakit emosional. (yeah, I think it's the real me)

2. However do not be fooled by a #Pisces weaknesses for they are excessively intuitive and observant of what you do.

--> Namun, jangan terkecoh dengan kelemahan seorang Pisces karena mereka terlalu intuitif dan jeli terhadap apa yang kamu kerjakan. (Yeah, saya pengamat ulung, saya suka memperhatikan orang dalam diam saya...meski saya sedang terlihat bingung dan bodoh pun, saya sebenarnya sedang sedikit memperhatikan sesuatu)

3. #Pisces is worthy of getting to know; a tad bit insecure inside.They are the kind of boss who will never yell at you.
--> Pisces layak mengenal; sedikit seorang anak laki-laki dalam aman (aduh bahasanya ancur). Mereka adalah jenis atasan yang tidak pernah akan berteriak pada Anda. (Yeah, begitulah saya. Saya pandai menyimpan emosi saya, tapi kalau sudah meledak, wedhus gembel kalah sama kemarahan saya. Hnn, setiap memimpin memang saya cenderung sok tenang, dan ngga menyuruh-nyuruh. Sadar diri soalnya, seorang pemimpin juga bukan pemimpin tanpa anak buah mereka, jadi saya cenderung akan menghilangkan suasana pemimpin-dan yang dipimpin)

4.
#Pisces you get stuck in what you wish could happen and lose track of reality, and when you go back, everything is a mess.
--> Sebagai seorang Pisces, Anda sering terjebak dalam pikiran Anda sendiri, terhadap apa yang Anda inginkan dan seolah-olah bisa terjadi lalu kehilangan jejak dari realitas, dan ketika anda kembali, semuanya berantakan. (Yeah, sayangnya hal ini benar. Aku sangat suka mengkhayal dan mungkin ini semua terlihat dari seluruh tulisanku. Sekitar 60% tulisanku bersifat fiktif atau ada sedikit sapuan fiktif. Aku pernah berkhayal aku mendapat surat dari Hogwarts School of Witchcraft and Wizardy pada kelas 8 SMP, yang menyatakan bahwa aku diterima di sekolah tersebut. Haha, gila gila Ani)

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...