Showing posts with label Copaste. Show all posts
Showing posts with label Copaste. Show all posts

Wednesday, 24 September 2014

Twenty Facts About Me

Bagi beberapa orang, tantangan geje di instagram yang ber-hashtag #20factsaboutme ini, mungkin mengganggu, tidak penting, memaksa seseorang menceritakan privasinya, dan sebagainya. Setidaknya, saya mendengar secara langsung dari dua tiga orang yang menyatakan ketidaksetujuan untuk melakukan aktivitas aneh-aneh, dengan mengepos hal tidak berguna semacam tantangan tersebut. Saya sebetulnya sependapat dengan mereka, awalnya. Namun, entah mengapa setelah di-tag oleh dua orang adik kelas yang tidak disangka-sangka akan menge-tag saya, saya merasa terharu dengan begitu berlebihan. Saya merasa sangat terhormat karena telah diingat oleh mereka berdua hingga mereka repot-repot menge-tag saya di kiriman foto instagram. Sebagai bentuk terima kasih saya kepada mereka berdua yang telah mengingat saya, saya pun memutuskan untuk ikut menuliskan dua puluh fakta tentang diri saya. Sebetulnya saya agak bingung dalam memutuskan dua puluh fakta dari seluruh fakta diri saya. Fakta seperti apa yang layak untuk dipublikasikan? Poin-poin diri saya yang seperti apa yang cukup perlu untuk dibagikan ke orang lain? Namun, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan dua puluh hal di bawah ini. Sebetulnya, ini adalah versi caption asli yang awalnya akan saya sertakan pada foto tantangan #20factsaboutme ini. Namun, ternyata, caption tersebut terlalu panjang sehingga saya edit dan persingkat caption-nya. Oke, inilah caption asli dari tantangan #20factsaboutme-nya Ani...

Uhn, di-tag tantangan beginian sama dedek @sofiiwa dan @husnulkhotimah24. Okelah, meskipun sebetulnya masih bingung ini esensinya apaan, tapi ya sudahlah ikut-ikutan aja... #20factsaboutme
  1. Nama lahir Anifatun Mu'asyaroh. Awalnya hampir dinamai Chanifatul Maesaroh. Nama panggilan lazim: Ani, Anifatun, Ayoh, Mba Ani, Mba An. Nama panggilan plesetan: Mbayo, Anif, Anifa, Ani-chan, Mbah, Mbe, Manusia kulkas, Animonster, Ani-chun, Anipacul MasyaAllah. ID: aniamarilis, aurigaamarilis...
  2. Lahir 15 Maret 1992, tapi di akta kelahiran tertulis 13 Maret 1992. Alhasil, tidak jarang saya mendapat ucapan ultah dua kali dalam setahun.
  3. Golongan darah B+ dan cukup mempercayai teori golongan darah.
  4. Melankolis-sanguinis kalau kata @adeeiam. Namun, kayaknya lebih ke melankolis doang deh.
  5. Penyuka warna ungu (suka pake banget), coklat, biru gelap, tosca, putih, dan hitam.
  6. Memiliki telapak yang hampir selalu basah dan suhu tubuh yang adaptif terhadap suhu lingkungan. (Kalau suhu sekitar rendah kulit saya sedingin air kulkas, kalau suhunya tinggi, sehangat sauna. Apakah saya manusia berdarah dispenser?)...
  7. Anti makanan amis (ikan, telur tanpa campuran, dl), anti dingin, anti (hampir semua) binatang terutama bekicot dan keluarganya...
  8. Mahasiswa Biostatistika yang suka berkhayal, pilih-pilih matkul tertentu (yang diseriusin), dan belum siap untuk lulus.
  9. Penyayang bocah dan masih kepengen jadi guru TK atau penulis cerita anak-anak.
  10. Jujur, kekanak-kanakan tapi sensitif dan mudah curiga jika diberi pujian atau perhatian berlebihan.
  11. Lebih sering main di paguyuban daripada di kampus atau sama teman (?) kampus. Terus di paguyuban, kata orang saya terlihat lebih sering main sama adik angkatan, daripada sama anak seangkatan apalagi kakak angkatan. Mungkin ini yang bikin proses pendewasaan saya lambat. Hehe.
  12. Kurus parah, makanya sekarang sedang jaga pola makan dan diet TKTP buat menaikkan BB.
  13. Pelit, pikun dan lola.
  14. Mudah stres dengan tiba-tiba dan misteriusnya. Kalau stres bakal cari pelarian, semacam ngeblog geje, ngegambar geje, main musik geje, jalan-jalan geje atau ngapain aja asalkan sendirian dan bikin capek biar cepet tidur.
  15. Introvert, moody, pendiam, penyendiri, agoraphobia, dan tidak tahan terlalu lama dalam kebisingan.
  16. Sering mengeluarkan suara-suara aneh dan cempreng dengan spontan atau tanpa sadar, tapi katanya cocok jadi dubber kartun atau semacamnya.
  17. Suka fotografi (meski belum punya kamera layak), juga hiking, camping atau bedah alam asalkan ada yang mengajak atau tebengan.
  18. Memiliki rasa ingin tahu, penasaran, kepo dan semangat tinggi untuk hal-hal tertentu yang menarik.
  19. Sempat tomboy, makanya nggak jago masak. (Berhubungankah?)
  20. Satu-satunya olahraga yang bisa saya lakukan cuma badminton, meski nggak jago.
Wah, cuma 20 doang udah sepanjang ini??? Hehe. Uhn, saya bingung mau nge-tag siapa, tapi besar harapan saya, yang saya tag mau ikutan game (?) ini juga. Eohooo... :p

Yah, jadi seperti itulah. Mungkin saya terlalu jujur dalam menuliskan fakta tentang saya ini. Saya lebih banyak menuliskan tentang apa yang melekat pada saya, tentang kekurangan saya, tentang aktivitas saya, dan tentang sesuatu yang tidak jelas. Ini berbeda dengan beberapa orang lain, di mana mereka menuliskan tentang cita-cita, tokoh tertentu, orang paling berjasa, kecintaan kepada Tuhan, atau harapan akan masa depan mereka. Hehe. Mungkin saya memang tidak terlalu tahu tentang keinginan dan harapan saya di masa depan. Saya terlalu sering terpaku pada masa lalu dan menikmati arus yang sedang diarungi saat ini, tanpa terlalu ingin tahu tentang apa yang sedang menghadang di depan jalan. Ini kekurangan terbesar saya. 

Monday, 22 September 2014

Pesan Terakhir di Ujung Masa Bhaktinya...

"We have ever thought about being family. We have ever thought about home. Sharing the same roof, stepping the same floor. I tried to understand you, your activities, your schedule. Last time I told you to come at 8, but you came at 11. Then I tried to reschedule our family meeting. I told you to come at 3. Yet you don't come.

Don't we need a head of our family? Don't we need someone, or two, to keep our home standing? Don't we need somewhere, a place we can call it 'home'?

Why do we force our little brothers and sisters to attend our family meeting while we sleep at our own dorm, when we play happily with our friends? Do you think our brothers and sisters not have the same right to see outer world? Why do we hope this home will never be broken when we can't even go back for a while?

Who do you think you are? The owner of our house? You can't even pay us whom you chose to keep and clean our home! All you need to do is just come and we will welcome you, with a big smile, happily.

Our meeting will start at 6.30 pm.

Please, come.

Please, don't show this shame to our little brothers and sisters.
Please, I'm begging you.

I believe today is not the last day of this home."

*******
Itu adalah pesan berantai yang dikirimkannya ke grup rumah kebersamaan kami. Ah, adik yang satu ini memang sesuatu sekali. Dia memang gadis kuat yang selalu memiliki keteguhan prinsip dan juga penuh kejutan. Tiga tahun lebih mengenalnya, baru beberapa bulan terakhir ini, terhitung sejak kepindahannya ke keluarga Yellow Orchid, saya betul-betul jatuh hati tanpa sungkan kepadanya. Meski demikian, saya sangat kaget ketika membaca pesan tersebut. Saya telat membacanya karena handphone saya mati ketika pesan itu terkirim ke grup. Ketika itu, saya sudah berada di TKP. Eri lah yang menyodorkan tabletnya, yang ternyata tersaji pesan tersebut, ke saya. Hwah...sontak saya kaget. Saya betul-betul tidak peka, tidak pandai membaca kondisi. Saya sama sekali tidak memahami bagaimana perasaan dia dan mereka yang telah mempersiapkan dan hadir dengan sangat awal. Ah, mungkin beberapa orang menilai tindakannya --menulis pesan tersebut-- berlebihan. Namun, bagi orang yang mungkin berperasaan terlampau sensitif atau mengetahui bagaimana perjuangannya setahun terakhir plus ekstra berpikir-banting tulang selama ini, mungkin akan tersentil tertunduk malu pun akan dapat memakluminya. Lagipula ini acara besar, penentuan pemimpin baru keluarga ini pun juga untuk memprediksi ke mana arah kepemimpinan keluarga ini setahun ke depan. 

Saya sendiri sangat malu, sebagai salah satu orang yang tergolong ke dalam rombongan senior, karena datang sangat telat. Jujur, saya memang hampir memutuskan untuk tidak datang, karena ketidaksukaan saya menghadiri acara beramai-ramai orang dan bertensi tinggi semacam itu. Namun, setelah melihat jawaban chat dari dedek R pada pukul 4 sore, bahwa acara belum dimulai karena menanti kehadiran anak angkatan saya, tetiba perasaan saya tidak enak dan...sedih. Akhirnya, saya nekad mengepos chat ke grup angkatan, berisi ajakan atau semacamnya. Yeah, saya sudah lupa kalau saya adalah saya, orang yang hampir selalu tak terespon ketika berbicara di grup tersebut. Masa bodoh, saya hanya ingin berusaha....berusaha saja. Awalnya hanya ada dua orang yang merespon. Namun pada akhirnya, setidaknya ada lima orang yang menjawab.Terharu sekali saya. Meskipun jawabannya sedikit tidak menggemberikan. Namun, inilah kenyataannya...bahwa kebanyakan dari kami memang sudah terbang ke luar Depok. Jadi, dipaksakan dengan bagaimana pun caranya, tidak akan mungkin ada banyak dari angkatan kami yang datang.

Jam 5 lebih, saya bertanya sekaligus memberi tahunya keadaan dan respon angkatan saya. Hening. Seperti dia sedang berhati-hati atau memilih kata yang tepat untuk menjawab. Saya semakin gelisah. Apakah di sana baik-baik saja? Apakah jika saya datang ke sana akan sedikit bermanfaat meskipun hanya menyetorkan muka atas nama angkatan? Apakah saya akan berani berbicara seperti mereka yang sudah berpengalaman? Apakah saya akan baik-baik saja dalam keramaian tersebut? Akhirnya, saya memutuskan untuk mematahkan keegoisan dan kecemasan saya untuk dia, adik-adik angkatan saya dan mungkin rumah keluarga ini. Lagi-lagi, saya kembali ke sana karena faktor perasaan yang tak beralasan kuat.

Betul saja, saat sampai di TKP, suasana sedikit sepi yang tertangkap mata. Beberapa anak tengah menjalankan ibadah salat magrib berjamaah. Sisanya mungkin berkeliaran sementara di luar TKP. Namun, syukurlah ternyata dari pihak yang diistilahkan "senior" sudah ada beberapa orang yang tampak dan kesemuanya adalah angkatan di atas saya. 'Di mana anak angkatan saya? Oh, iya mereka sibuk dan sedang di luar kota,' batin saya. Umam pun bertanya hal yang sama, yang hanya saya jawab dengan cengiran dan doa dalam batin. Tidak lama kemudian, banyak orang berdatangan. Adik angkatan semua awalnya. Lalu Aan dan disusul Jodi yang menyempatkan datang jauh-jauh dari Bandung dengan so sweet-nya. Setengah jam kemudian, Widya dan Ifah juga datang. Mereka bergabung dengan para alumni atau senior. Sejam kemudian Leli dan suaminya juga datang.

Ah, bahagianya...dan saya dapat melihatnya sesekali memandang ke arah kami, orang-orang tua yang hobi menelatkan diri. Menjelang berakhirnya acara, ternyata Hari dan Martyn juga datang. Mereka juga ikut berkontribusi dalam menilai...hingga akhir acara, hingga terpilihnya dedek Reza dan Roland menjadi pemimpin rumah kelurga ini yang baru. Selamat...

*******
Saat sampai kamar rumah kos, saya tetiba terpikirkan pesan panjang yang dibuat dan dikirim olehnya. Lantas, saya baru ingat bahwa saya sempat memintanya membuatkan jarkom yang agak ngena agar kami ter-jleb saat membacanya. Tidak jelas juga mengapa saya mengatakan tersebut. Yeah, saat itu saya memang sempat miris karena hampir tidak direspon oleh teman seangkatan saya. Oleh karena itu, saya memintanya membuat jarkom yang nantinya akan saya teruskan ke grup angkatan dan melabelinya dengan "pesan dari panitia". Namun, handphone saya mati dan saya tidak terlalu berminat lagi untuk memberisiki grup angkatan. Saya memutuskan berangkat ke TKP sendirian selepas magrib...hingga akhirnya saya membaca pesan tersebut lewat tablet milik Eri. Saya mengira-ngira dalam hati, "Jangan-jangan pesan ini adalah jarkom yang dibuat berdasarkan pesan-pesan saya ke dia sebelumnya?"

Dan ternyata benar... (sudah diiyakan olehnya)

Lalu saya merasa bersalah sekali.

Oke, ini sudah berakhir. Masanya telah selesai dengan mengesankan dan penuh kenangan yang menyenangkan dan juga tak terlupakan bagi anggota kepengurusannya. Dia begitu total dan berdedikasi demi keluarga ini. Dia tegar dan setia mendampingi pemimpinnya, tanpa berniat atau berkeinginan melangkah lebih dulu atau berhenti atau membelok arah dalam perjalanan sehingga dia tidak tertinggal atau meninggalkan apa yang seharusnya didampinginya. Hohooo... Banyak sekali hal yang ingin saya tuliskan tentang dia, tetapi saya sudahi saja lah, tulisan yang tidak bertujuan jelas ini, sampai di sini.
Semangat semester akhirnya... :)

Sunday, 21 November 2010

Inspiring Words (I love it)

SABTU, 07 MARET 2009

Anonim
Buku yang paling bermanfaat adalah buku yang paling membuat kamu berpikir (Theodore Parker)
.
Orang yang bijaksana mempelajari banyak hal dari musuhnya (Aristophanes)
.
Orang yang di usia mudanya mengabaikan pelajaran berarti kehilangan masa lalunya dan mati untuk masa tuanya (Euripides)
.
Takut bertanya bearti malu belajar (peribahasa Denmark)
.
Guru yang biasa-biasa saja,mengajar dengan memberitahu. Guru yang baik,mengajar dengan menjelaskan. Guru yang unggul,mengajar dengan memberi contoh. Guru yang besar,mengajar dengan memberi inspirasi (William Arthur Ward)
.
Orang yang berani mengajar tidak boleh berhenti belajar (Richard Henry Dann)

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...