Kisah ini tentang Nai. Nai bertemu Robert pada suatu senja larut. Dia memperhatikan Robert yang tampak cupu dengan rambut bergaya John Lennon dan kacamata minus berbingkai besi tak bercat. Kalau kau tahu kacamata milik Harry Potter, kacamata Robert sama sekali tidak mirip dengan kacamata Harry. Jika, kau mengenali dengan pasti kacamata Betty Lavea dan mengira kacamata Robert akan mirip dengan miliknya, maka kau juga salah besar. Pokoknya kacamata itu aneh, dan parahnya, kacamata itu yang membuat Nai tertarik mengamati Robert.
******
Nai sama sekali tidak mengenal Robert hingga suatu hari dia menginjak bulpoin bergambar Spongebob yang terjatuh di samping kaki Robert. Tindakan tidak sengaja Nai membuat bulpoin Spongebob itu tertawa keras khas Spongebob: “Aaahahaha’! Aaahahahha’!” Sontak seluruh mahasiswa di kelas itu pun tertawa terpingkal-pingkal, tak terkecuali Nai dan Pak Matthew, dosen yang sedang mengajar mata kuliah Anatomy saat itu.
Satu-satunya orang yang tidak tertawa hanyalah Robert. Jika kau mengira dia membisu dikarenakan malu, maka kau salah. Dia tidak pernah mengenal kata malu dalam kamus hidupnya. Lalu, jika kau mengira dia diam karena tertidur, maka kau juga sangat salah. Baginya, terlelap di tengah-tengah perkuliahan merupakan salah satu tindakan paling amoral di dunia. Lagipula, dia adalah pemenang lomba nonton tv paling lama tanpa tertidur selama 5 tahun berturut-turut di kotanya. Rekor terlamanya adalah 27 jam 23 menit 5 detik, jadi sangat tidak mudah baginya untuk tertidur di depan dosen saat jam perkuliahan. Lalu apa yang lakukan dalam diam itu? Oh tidak! Dia memang tidak melakukan apa-apa! Dia diam, menatap lurus ke layar dan sesekali mencatat istilah-istilah yang berada di slide.
Jlep! Perlahan gemuruh tawa mulai berhenti dengan sendirinya. Mereka salah tingkah karena melihat Robert yang tak bertingkah sedikit pun. Nai yang awalnya merasa bersalah dan mengira telah membuat malu Robert ke seantero kelas berubah ekspresi mukanya di depan Robert yang tanpa ekspresi. Diambilnya bulpoin Spongebob yang terjugkal parah di lantai dan diserahkannya kepada Robert yang bermuka datar sedatar tembok sambil berkata, “Maaf ya, kawan!”
Diam. Tidak ada respon dari Robert. Nai mulai bosan dengan orang itu. Situasi dan suasana ini semakin terlihat berlebihan saja. Bagaimana mungkin orang ini marah setengah mati hanya karena bulpoinnya terinjak? Akh!
“Maaf, tuan muda yang terhormat! Maaf karena aku telah menginjak bulpoinmu yang lucu ini,” kata Nai seraya menyerahkan bulpoin berwarna kuning cerah itu. Namun, Robert tetap tak menjawab. Dia menunduk tepekur dan khusyuk pada buku catatannya. Hal ini membuat Nai sangat kesal hingga membuatnya setengah berteriak, “Hei, tuan muda cupu berkacamata kuda! Aku sedang bicara padamu!”
‘Berhasil!’ pekik Nai dalam hati. Akhirnya, Robert mengalihkan pandangannya ke Nai. Kacamatanya tebal dan berbingkai besi tak berwarna, menyembunyikan sebuah kilatan mata tajam yang mampu membekukan nyali siapa pun yang menatapnya. Siapa pun atau hanya Nai?
“M... Mm-aaf!” hanya kata itu yang mampu Nai ucapkan.
“Sudah empat kali kau mengucapkan kata maaf. Apa kau hanya mengenal kata itu? Oh iya, sepertinya kau salah alamat,” jawab Robert tenang memandang lurus ke arah mata Nai. Penghuni kelas yang lain seolah-oleh terhipnotis oleh percakapan mereka, bahkan Pak Matthew berhenti memainkan mouse komputernya. Sebaris adegan telenovela seakan tengah berputar di layar yang tertancap tengah kelas. Nai salah tingkah untuk yang kesekian kalinya menerima terpaan aura teman-teman dan dosennya yang super berlebihan itu.
“Apa maksudmu dengan salah alamat, tuan?” tanya Nai seperempat emosi.
“Bolpoin itu bukan milikku, tapi milik gadis berbaju kuning di sebelahku yang saat ini sedang ke kamar mandi,” jawab Robert sambil menunjuk sebuah kursi kosong di sampingnya. Tiba-tiba terdengar suara kekehan tertahan dari seluruh penghuni kelas itu. Robert tak lagi memandang Nai. Perhatiannya telah beralih kepada sebuah buku tebal di hadapannya yang sedang ia bolak-balik. Deg! Angin topan superkencang seakan baru saja menerpa kepala Nai hingga membuatnya jatuh tertunduk keras dengan awan-awan hitam memayungi di atasnya.
“Siapa namamu?” tanya Nai dengan kepala yang masih tertunduk.
Krekk! Suara pintu kelas terbuka diikuti masuknya seorang gadis berambut coklat tua panjang dan berbaju kuning cerah. Dia menuju kursi di mana Robert dan Nai berada. Diliriknya sebuah benda kuning yang tergeletak di meja Robert dan tiba-tiba dia berteriak, “Aaaaa! Robert! Terima kasih telah mengambilkan bolpoin itu. Akhirnya kamu perhatian juga sama aku. Aaaa *^$#*^&$#!@%#$@&^%$#E#$………” kata gadis itu dengan cerewetnya kepada Robert.
“A… Arigatou, R..R-obert-san!” kata Nai membuat si gadis berbaju kuning berhenti mengoceh.
Robert terdiam dengan wajah yang masih menghadap ke buku. Tak ada yang tahu bahwa sebenarnya dia kaget karena Nai tiba-tiba berkata terima kasih. Dia menoleh kepada Nai, memandang matanya sejenak, lalu menyunggingkan kedua sudut bibirnya dengan sangat simetris. “Iie… Douitashimashitte, Nai-chan!”
“………”
(bersambung)
Depok, 30 Desember 2010
Ini tentang melukiskan dunia dalam kata; tentang aku dan jejalanan yang akan atau telah aku lewati; tentang Kawan yang lebih berwarna dibandingkan pelangi; tentang ramainya penjelajah ilmu yang selalu haus memecahkan teka-teki; tentang cinta yang tak kan pernah henti meski listrik mati; dan tentang aku yang masih mencari jati diri. Aku menulis... untuk mempertahankan memoriku hidup lama, jauh lebih lama dari aku menempuhi hidup ini.
Showing posts with label Keping Novel. Show all posts
Showing posts with label Keping Novel. Show all posts
Thursday, 8 September 2011
Monday, 30 August 2010
Experience is Gold (part 5): "Mr. Wilson"
Namun, aku tak pernah menyangka bahwa kami betul-betul tidak disambut seperti ini. Mungkin benar apa yang dikatakan Sandra, penginapan ini kosong.
Karena tidak juga ada suara, aku pun menjadi penasaran. Dengan hati-hati aku melangkah memasuki penginapan diikuti keempat temanku. Tangan kananku masih memegangi pintu, mencoba memperkecil gerakan pintu yang dapat membunyikan bell nyaring itu lagi. Kami menemukan sebuah ruangan --mungkin dapat disebut lobi penginapan-- berpenerangan neon redup dan berlantai hitam kelam dari batu pualam. Dindingnya berlapis kertas dinding berwarna coklat kusam yang aku yakin dulunya pasti berwarna krem dengan corak keemasan. Keemasan? Lagi-lagi keemasan? Hn! Sebuah meja tinggi panjang terletak di tepi pintu masuk yang tampaknya berfungsi sebagai meja resepsionis. Hn, ini penginapan tua yang besar, terawat dan mahal kalau dijual. Ada yang merawatnya? Itu berarti penginapan ini kemungkinan memang masih disewakan. Dan aku sedang mulai berpikir untuk memanggil si empunya penginapan ketika Karen "kring...kring...kring..." lagi-lagi berulah --memencet-mencet bell resepsionis dengan antusias. Dia betul-betul bertingkah seperti anak kecil diberi sekarung permen sekarang, senang tak alang kepalang. Sammy dan Sandra pun hampir tak mampu memisahkannya dari bell berlukisan angsa kembar itu. Hn, bahkan bell pun ada lukisannya? Detail sekali segala hal di tempat ini? Menarik.
Ulah Karen pun membuahkan hasil. Tiga orang laki-laki berbeda usia tiba-tiba berlari dari arah tak terduga ke arah kami. Satu orang di antaranya tampak berumur sekitar 60 tahunan, sedangkan yang lain tak tertebak. Postur tubuh keduanya yang mungil sempat membuatku berpikir apakah aku baru saja memasuki kerajaan liliput?
Si orang tua pun mulai bicara diiringi nafasnya yang berkejaran, "Se..selamat datang di penginapan ini. Saya Mr. Wilson pemilik penginap..pan ini. Ad.. Ada yang bisa kami bantu?" Di akhir ucapannya pun dia masih terlihat ngos-ngossan. Kasihan.
"Iya. Terima kasih kami dari Hogsmitry sedang mencari Horsehouse. Tapi karena kemalaman, akhirnya kami memutuskan untuk mencari penginapan dan kami menemukan tempat ini. Jadi kami pesan lima kamar untuk kami. Terima kasih," ucap Sammy dengan lancar, sopan dan intonasi pidato yang tepat diakhiri senyum lebar yang memukau. Sungguh jika aku seorang gadis aku akan terpesona padanya. Tapi karena aku bukan perempuan, aku hanya beriya-iya sambil mengangguk-angguk seperti demonstran yang tak tahu apa-apa mengiyakan ucapan pemimpin demonya.
Lama sekali kami menunggu reaksi dari Mr. Wilson. Dia tak juga menanggapi kami dan terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Apa orang ini sedang bertelepati? Ah aku meracau lagi. Namun, aku pikir ekspresi wajahnya memang terlalu cepat berubah setelah mendengar ucapan Sammy. Ada yang aneh kah dengan kami?
"kriiiing..." Terdengar suara bell yang lagi-lagi dipencet oleh Karen. Kali ini sudah keterlaluan karena dia berhasil membuat Mr. Wilson melonjak kaget sambil memegang dada kirinya. Hampir saja dia menimpa dua orang mungil yang ada di sampingnya.
"Maaf! Maaf ta...tadi saya sedang melamun. Oh iya, kalau boleh saya tahu ada urusan apa kalian ke Kastil Lu... Maaf maksud saya Horsehouse. Padahal jarak Hogsmitry sangat jauh dari sini," kata Mr. Wilson setelah beberapa detik. Nada bicaranya berubah drastis dari ramah menjadi panik. Dan kenapa dia tiba-tiba hampir menyebutkan nama kastil itu, tapi tak jadi? Tatapan matanya pun penuh selidik. Ada apa sebenarnya? Aku lihat Sammy pun sama curiganya denganku. Sepertinya kami berdua berpikiran sama tentang orang ini. Dia aneh! Seperti hari ini!
"Tidak ada apa-apa. Kami hanya ingin berlibur. Anda tahu kan? Berkuda, itu sangat menyenangkan. Yeah! Cowboy Amerika! Huhuhu..." jawabku asal-asalan. Aku sendiri bingung kenapa aku mengatakan itu. Sungguh aku geli sendiri melihat tingkahku menari-nari dan berteriak ala Indian, padahal tadi aku menyebut cowboy. Kurasakan panas di wajahku. Pasti mukaku merah sekali sekarang. Alih-alih itu aku melempar pandangan pada Sean dan Sandra yang sedang membekap mulut Karen sambil menahan tawa. Syukurlah mereka berdua bertindak cepat. Jika tidak, mungkin Karen sudah mengatakan yang sebenarnya tanpa bisa direm.
"Boleh kami minta kunci kamarnya?" kataku setelah aku dapat mengatasi rasa maluku.
"Tentu! Ini dia!" kata Mr. Wilson disertai senyum yang dipaksakan. Sepertinya dia menyadari kecurigaanku sehingga dengan cepat dia mengubah air mukanya. Lalu dia menyuruh dua orang pegawainya tadi yang ternyata bernama Chuck dan Jones untuk mengantarkan kami ke kamar.
Kami pun meninggalkan lobi dengan cepat karena ingin segera memeluk selimut dan bantal. Saat aku menengok ke belakang kulihat Sammy yang juga sedang berlaku sama denganku. Aku mendekatinya dan bertanya, "Ada apa, Sammy?"
"Mr. Wilson terus mengawasi kita hingga kita berbelok ke koridor ini dan hilang dari pandangannya. Memangnya kita terlihat seperti penjahat?" jawab Sammy....
Karena tidak juga ada suara, aku pun menjadi penasaran. Dengan hati-hati aku melangkah memasuki penginapan diikuti keempat temanku. Tangan kananku masih memegangi pintu, mencoba memperkecil gerakan pintu yang dapat membunyikan bell nyaring itu lagi. Kami menemukan sebuah ruangan --mungkin dapat disebut lobi penginapan-- berpenerangan neon redup dan berlantai hitam kelam dari batu pualam. Dindingnya berlapis kertas dinding berwarna coklat kusam yang aku yakin dulunya pasti berwarna krem dengan corak keemasan. Keemasan? Lagi-lagi keemasan? Hn! Sebuah meja tinggi panjang terletak di tepi pintu masuk yang tampaknya berfungsi sebagai meja resepsionis. Hn, ini penginapan tua yang besar, terawat dan mahal kalau dijual. Ada yang merawatnya? Itu berarti penginapan ini kemungkinan memang masih disewakan. Dan aku sedang mulai berpikir untuk memanggil si empunya penginapan ketika Karen "kring...kring...kring..." lagi-lagi berulah --memencet-mencet bell resepsionis dengan antusias. Dia betul-betul bertingkah seperti anak kecil diberi sekarung permen sekarang, senang tak alang kepalang. Sammy dan Sandra pun hampir tak mampu memisahkannya dari bell berlukisan angsa kembar itu. Hn, bahkan bell pun ada lukisannya? Detail sekali segala hal di tempat ini? Menarik.
Ulah Karen pun membuahkan hasil. Tiga orang laki-laki berbeda usia tiba-tiba berlari dari arah tak terduga ke arah kami. Satu orang di antaranya tampak berumur sekitar 60 tahunan, sedangkan yang lain tak tertebak. Postur tubuh keduanya yang mungil sempat membuatku berpikir apakah aku baru saja memasuki kerajaan liliput?
Si orang tua pun mulai bicara diiringi nafasnya yang berkejaran, "Se..selamat datang di penginapan ini. Saya Mr. Wilson pemilik penginap..pan ini. Ad.. Ada yang bisa kami bantu?" Di akhir ucapannya pun dia masih terlihat ngos-ngossan. Kasihan.
"Iya. Terima kasih kami dari Hogsmitry sedang mencari Horsehouse. Tapi karena kemalaman, akhirnya kami memutuskan untuk mencari penginapan dan kami menemukan tempat ini. Jadi kami pesan lima kamar untuk kami. Terima kasih," ucap Sammy dengan lancar, sopan dan intonasi pidato yang tepat diakhiri senyum lebar yang memukau. Sungguh jika aku seorang gadis aku akan terpesona padanya. Tapi karena aku bukan perempuan, aku hanya beriya-iya sambil mengangguk-angguk seperti demonstran yang tak tahu apa-apa mengiyakan ucapan pemimpin demonya.
Lama sekali kami menunggu reaksi dari Mr. Wilson. Dia tak juga menanggapi kami dan terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Apa orang ini sedang bertelepati? Ah aku meracau lagi. Namun, aku pikir ekspresi wajahnya memang terlalu cepat berubah setelah mendengar ucapan Sammy. Ada yang aneh kah dengan kami?
"kriiiing..." Terdengar suara bell yang lagi-lagi dipencet oleh Karen. Kali ini sudah keterlaluan karena dia berhasil membuat Mr. Wilson melonjak kaget sambil memegang dada kirinya. Hampir saja dia menimpa dua orang mungil yang ada di sampingnya.
"Maaf! Maaf ta...tadi saya sedang melamun. Oh iya, kalau boleh saya tahu ada urusan apa kalian ke Kastil Lu... Maaf maksud saya Horsehouse. Padahal jarak Hogsmitry sangat jauh dari sini," kata Mr. Wilson setelah beberapa detik. Nada bicaranya berubah drastis dari ramah menjadi panik. Dan kenapa dia tiba-tiba hampir menyebutkan nama kastil itu, tapi tak jadi? Tatapan matanya pun penuh selidik. Ada apa sebenarnya? Aku lihat Sammy pun sama curiganya denganku. Sepertinya kami berdua berpikiran sama tentang orang ini. Dia aneh! Seperti hari ini!
"Tidak ada apa-apa. Kami hanya ingin berlibur. Anda tahu kan? Berkuda, itu sangat menyenangkan. Yeah! Cowboy Amerika! Huhuhu..." jawabku asal-asalan. Aku sendiri bingung kenapa aku mengatakan itu. Sungguh aku geli sendiri melihat tingkahku menari-nari dan berteriak ala Indian, padahal tadi aku menyebut cowboy. Kurasakan panas di wajahku. Pasti mukaku merah sekali sekarang. Alih-alih itu aku melempar pandangan pada Sean dan Sandra yang sedang membekap mulut Karen sambil menahan tawa. Syukurlah mereka berdua bertindak cepat. Jika tidak, mungkin Karen sudah mengatakan yang sebenarnya tanpa bisa direm.
"Boleh kami minta kunci kamarnya?" kataku setelah aku dapat mengatasi rasa maluku.
"Tentu! Ini dia!" kata Mr. Wilson disertai senyum yang dipaksakan. Sepertinya dia menyadari kecurigaanku sehingga dengan cepat dia mengubah air mukanya. Lalu dia menyuruh dua orang pegawainya tadi yang ternyata bernama Chuck dan Jones untuk mengantarkan kami ke kamar.
Kami pun meninggalkan lobi dengan cepat karena ingin segera memeluk selimut dan bantal. Saat aku menengok ke belakang kulihat Sammy yang juga sedang berlaku sama denganku. Aku mendekatinya dan bertanya, "Ada apa, Sammy?"
"Mr. Wilson terus mengawasi kita hingga kita berbelok ke koridor ini dan hilang dari pandangannya. Memangnya kita terlihat seperti penjahat?" jawab Sammy....
Experience is Gold (part 4): "Penginapan Calmbell"
"APA? Jadi kamu baru dapat SIM kemarin sore? Gila!! Tidak meyakinkan sekali! Aku mana mungkin bisa menyetir, Sean, umurku baru 16 tahun! Ah kau ini!" kataku pada Sean setengah kesal membuat dia terbingung-bingung.
Aku sendiri juga bingung kenapa aku tiba-tiba marah begitu. Mungkin itu disebabkan oleh kondisi badan dan pikiran yang sudah sama-sama lelah. Kulihat keempat temanku juga sama bingungnya denganku sehingga aku memutuskan angkat bicara.
"Ya sudah lah! Maaf tadi emosi sesaat. Hehe. Lebih baik sekarang kita lanjutkan mencari penginapan. Okay?" kataku berharap dapat mencairkan suasana.
Kulihat bibir Sean komat-kamit menggumamkan beberapa umpatan ringan yang pastinya untukku. Darimana aku tahu dia mengumpat? Ah, itu memang sudah kebiasaannya. Aku sudah hafal. Dia memang berbeda dengan Sammy yang tenang atau boleh dibilang sok cool. Hehe.
Mobil melaju pelan di tepian malam dan jalanan yang basah. Binatang malam mulai menyanyikan intro dari theme song malam hari. Kedengarannya katak-katak lah yang mendominasi orkes malam yang basah ini. Gerimis pun belum mereda, sedangkan mobil yang kami naiki sudah hampir dehidrasi.
"Penginapan Calmbell 100 meter lagi," ucap Sandra.
"Apa? Mana di mana? Oh yeah, kau benar Sandra! Aku bisa melihat papan itu. Oke tinggal masuk gang dan kita akan segera sampai. Akhirnya, aku bisa melepaskan jari-jari kerenku dari setir mobil yang membosankan ini. Kenapa di mana-mana setir mobil bentuknya seperti ini? Aku besok mau bikin yang bentuk... " cerocos Sean sangat panjang dan lumayan lebar.
"Cerewet sekali kamu! Dasar kodok! Makan saja sekalian itu setir biar mulutmu bisa diem. Rewel!" kata Karen memotong ucapan Sean dengan tajam setajam samurai. Menurutku, Karen tak akan pernah akur dengan Sean sebelum perang dunia ketiga pecah.
Sepanjang seratus meter jalan aspal menuju penginapan itu, penerangan semakin buruk. Pepohonan berjajar semakin rapat seolah-olah ingin bergandengan. Gelap dan lagi-lagi mencekam. Aku lihat Sandra kembali membuat jok bergetar. Mungkin dia bakal berpikir tujuh kali untuk menginap di penginapan itu melihat lingkungan di sekitarnya seperti ini. Ah lagi-lagi aku mengkhayal. Lama-lama aku tertular penyakit Sammy nih, berkhayal tanpa batas.
Sebenarnya aku merasa aneh. Di tempat seperti ini, begitu mudahnya ditemukan penginapan. Apa mungkin laku? Apa di sini banyak pengunjung dan turis? Hn! Aneh!
"Kita sampai! Horrree!" teriak Sammy dan Sean bersamaan seperti anak ayam tersesat bertemu induknya . Kali ini sepertinya Sammy lupa kalau dia sedang berlaga cool. 'Thank's God!' batinku.
Benar dugaanku! Sandra mulai menampakkan tampang tampang panik dan ketidaksetujuannya. Dia pun mulai bicara dengan suara sedikit bergetar, "Apa kalian tidak merasa penginapan ini aneh? Apalagi pohon ek yang itu. Bukanlah dia terlalu menyeramkan? Apa kita serius mau menginap di sini? Mungkin saja ini penginapan kosong dan sudah ditutup. Le.. lebih baik kita c..cari yang lain ss..saja.... Atau...." Sungguh Sandra semakin gawat karena mulai terbata-bata seperti itu.
Karen pun mulai bertindak. Ia mengitari pohon. Menelitinya dengan seksama bak seorang ilmuwan memainkan mikroskop. Setelah memutari pohon itu setidaknya enam kali, tiba-tiba ia berteriak keras dengan telunjuk terangkat ke atas, "PANTAS! Pantas saja dia tampak aneh! Dia memang aneh. Dia sakit. Pohon ini mengalami gizi buruk. Daunnya menggulung dan kulit batangnya terkelupas di sana-sini. Itulah yang bikin dia aneh! Kasihan banget kamu. Huhu! Yah aku tahu kan? Hebat kan aku?" Selama beberapa saat Sandra merasa senang karena ia kira Karen sependapat dengannya mengingat ekspresi bicara Karen pada awalnya begitu meyakinkan. Namun, ucapan hipotesa atau malah simpulan si gadis penyuka biologi ini sungguh sangat berakhir sad ending bagi kami sehingga cukup membuat kami sweatdropped akut.
Aku heran kenapa teman-temanku semakin tak jelas begini di saat seperti ini di tempat yang tidak tepat seperti ini. Oh My... Help me!
"Hey! Teman-teman, apa kita mau semalaman menunggui pohon ini? Kalau aku sih mau tidur saja. Aku masuk dulu ya. Bye..." kata Sammy sambil berlalu menuju pintu masuk penginapan.
"TUNGGU AKU!!!" teriak aku, Sean, Karen dan Sandra bersamaan dengan Sandra yang hampir boleh disebut meraung.
Entah bagaimana caranya, Sean sudah sampai di depan pintu masuk lebih dulu. Untuk hal-hal yang cepat-cepat dia memang sangat bersemangat. Selama kurang lebih dua detik mata birunya terpaku pada gagang pintu yang bercat keemasan. Lalu diputarnya gagang pintu itu hingga pintu terbuka. Klinthing... Suara bell berbentuk sinterklas yang terpasang di balik pintu bergemerincing keras. Aku yakin si resepsionis penginapan akan terkaget mendengarkan bunyinya yang membahana memecah kesunyian. Ya! Memang saat itu betul-betul sunyi dan sepi. Hanya kami berlima yang teridentifikasi sebagai makhluk berisik di sana.
Namun, aku tak pernah menyangka bahwa......
Aku sendiri juga bingung kenapa aku tiba-tiba marah begitu. Mungkin itu disebabkan oleh kondisi badan dan pikiran yang sudah sama-sama lelah. Kulihat keempat temanku juga sama bingungnya denganku sehingga aku memutuskan angkat bicara.
"Ya sudah lah! Maaf tadi emosi sesaat. Hehe. Lebih baik sekarang kita lanjutkan mencari penginapan. Okay?" kataku berharap dapat mencairkan suasana.
Kulihat bibir Sean komat-kamit menggumamkan beberapa umpatan ringan yang pastinya untukku. Darimana aku tahu dia mengumpat? Ah, itu memang sudah kebiasaannya. Aku sudah hafal. Dia memang berbeda dengan Sammy yang tenang atau boleh dibilang sok cool. Hehe.
Mobil melaju pelan di tepian malam dan jalanan yang basah. Binatang malam mulai menyanyikan intro dari theme song malam hari. Kedengarannya katak-katak lah yang mendominasi orkes malam yang basah ini. Gerimis pun belum mereda, sedangkan mobil yang kami naiki sudah hampir dehidrasi.
"Penginapan Calmbell 100 meter lagi," ucap Sandra.
"Apa? Mana di mana? Oh yeah, kau benar Sandra! Aku bisa melihat papan itu. Oke tinggal masuk gang dan kita akan segera sampai. Akhirnya, aku bisa melepaskan jari-jari kerenku dari setir mobil yang membosankan ini. Kenapa di mana-mana setir mobil bentuknya seperti ini? Aku besok mau bikin yang bentuk... " cerocos Sean sangat panjang dan lumayan lebar.
"Cerewet sekali kamu! Dasar kodok! Makan saja sekalian itu setir biar mulutmu bisa diem. Rewel!" kata Karen memotong ucapan Sean dengan tajam setajam samurai. Menurutku, Karen tak akan pernah akur dengan Sean sebelum perang dunia ketiga pecah.
Sepanjang seratus meter jalan aspal menuju penginapan itu, penerangan semakin buruk. Pepohonan berjajar semakin rapat seolah-olah ingin bergandengan. Gelap dan lagi-lagi mencekam. Aku lihat Sandra kembali membuat jok bergetar. Mungkin dia bakal berpikir tujuh kali untuk menginap di penginapan itu melihat lingkungan di sekitarnya seperti ini. Ah lagi-lagi aku mengkhayal. Lama-lama aku tertular penyakit Sammy nih, berkhayal tanpa batas.
Sebenarnya aku merasa aneh. Di tempat seperti ini, begitu mudahnya ditemukan penginapan. Apa mungkin laku? Apa di sini banyak pengunjung dan turis? Hn! Aneh!
"Kita sampai! Horrree!" teriak Sammy dan Sean bersamaan seperti anak ayam tersesat bertemu induknya . Kali ini sepertinya Sammy lupa kalau dia sedang berlaga cool. 'Thank's God!' batinku.
Benar dugaanku! Sandra mulai menampakkan tampang tampang panik dan ketidaksetujuannya. Dia pun mulai bicara dengan suara sedikit bergetar, "Apa kalian tidak merasa penginapan ini aneh? Apalagi pohon ek yang itu. Bukanlah dia terlalu menyeramkan? Apa kita serius mau menginap di sini? Mungkin saja ini penginapan kosong dan sudah ditutup. Le.. lebih baik kita c..cari yang lain ss..saja.... Atau...." Sungguh Sandra semakin gawat karena mulai terbata-bata seperti itu.
Karen pun mulai bertindak. Ia mengitari pohon. Menelitinya dengan seksama bak seorang ilmuwan memainkan mikroskop. Setelah memutari pohon itu setidaknya enam kali, tiba-tiba ia berteriak keras dengan telunjuk terangkat ke atas, "PANTAS! Pantas saja dia tampak aneh! Dia memang aneh. Dia sakit. Pohon ini mengalami gizi buruk. Daunnya menggulung dan kulit batangnya terkelupas di sana-sini. Itulah yang bikin dia aneh! Kasihan banget kamu. Huhu! Yah aku tahu kan? Hebat kan aku?" Selama beberapa saat Sandra merasa senang karena ia kira Karen sependapat dengannya mengingat ekspresi bicara Karen pada awalnya begitu meyakinkan. Namun, ucapan hipotesa atau malah simpulan si gadis penyuka biologi ini sungguh sangat berakhir sad ending bagi kami sehingga cukup membuat kami sweatdropped akut.
Aku heran kenapa teman-temanku semakin tak jelas begini di saat seperti ini di tempat yang tidak tepat seperti ini. Oh My... Help me!
"Hey! Teman-teman, apa kita mau semalaman menunggui pohon ini? Kalau aku sih mau tidur saja. Aku masuk dulu ya. Bye..." kata Sammy sambil berlalu menuju pintu masuk penginapan.
"TUNGGU AKU!!!" teriak aku, Sean, Karen dan Sandra bersamaan dengan Sandra yang hampir boleh disebut meraung.
Entah bagaimana caranya, Sean sudah sampai di depan pintu masuk lebih dulu. Untuk hal-hal yang cepat-cepat dia memang sangat bersemangat. Selama kurang lebih dua detik mata birunya terpaku pada gagang pintu yang bercat keemasan. Lalu diputarnya gagang pintu itu hingga pintu terbuka. Klinthing... Suara bell berbentuk sinterklas yang terpasang di balik pintu bergemerincing keras. Aku yakin si resepsionis penginapan akan terkaget mendengarkan bunyinya yang membahana memecah kesunyian. Ya! Memang saat itu betul-betul sunyi dan sepi. Hanya kami berlima yang teridentifikasi sebagai makhluk berisik di sana.
Namun, aku tak pernah menyangka bahwa......
Experience is Gold (part 3): "Pesan dari Chloe"
....ucapku keras hingga membuat Sandra melompat ke jok depan di antara Sammy dan Sean yang tak kalah kaget.
"Apa-apaan kamu sih? Bikin kaget orang aja! Kasihan Sandra tuh! Dasar Beo! Dari tadi diam 1001 bahasa, sekali ngomong bikin orang jantungan! Justin Beo!" kata Sean bak kereta super cepat shin kan zen.
"Oia, I'm so sorry, Sandra," ucapku penuh penyesalan sekaligus agak geli melihat tampang Sandra yang amburadul tak karuan. Kasihan juga sih.
"It's okay, Justin! By the way, tadi katanya ada sms dari Chloe. Apa katanya? Apa tentang farm ini? Atau tentang apa? Cepat katakan pada kami!" jawab dan desak Sandra yang kini mulai kembali menjadi dirinya yang biasanya, cerewet. Aku pun lega melihatnya kembali ceria. Sammy dan Sean pun tak lagi bermuka serius dan mulai melontarkan joke-joke garing. Niatnya mungkin mau mencairkan keadaan yang sedingin es sejak lima belas menit yang lalu. Namun yang aneh, Karen belum mengubah raut wajahnya yang serius dan tampak memikirkan sesuatu. Tunggu dulu... Berpikir? Atau mungkin tepatnya mengingat-ingat sesuatu? Ah nanti saja. Aku mau membacakan sms dari Chloe.
"Oke teman-teman, aku bacakan sms-nya ya! "'Justin! Kenapa kamu matikan teleponnya tadi? Aku kan mau mengingatkan kalian harus hati-hati pas lewat Naomi Farm. Itu farm baru dibeli oleh keluargaku and baru direnovasi jadi penerangannya belum berfungsi. Aku mau menyarankan kalian lewat Kings Street yang lebih ramai dan dekat, eh malah ditutup teleponnya! Apa-apaan?? Hah? Aku ngambek!"' Dan kuakhiri sms itu dengan prosesi pengangkatan setengah alis, pemerahan muka dan penyusunan kembali mukaku yang baru saja hancur dihantam malu. Tenggorokanku serasa dipaksa menelan paku sebanyak sepuluh kuintal. Sial!
Kulihat Sammy, Sean dan Sandra melotot sambil menghembuskan nafas kesal kepadaku membuatku salah tingkah. Karen masih berpikir. Ah whatever lah dengan anak ini! Aku memikirkan kata-kata yang pas untuk membela diri dan tiba-tiba sms lain dari Chloe mendesak masuk di inbox-ku. Aku membacanya dengan suara gemetar, "Oh iya, tadi teleponmu tidak bisa dihubungi jadi aku sms ke Karen juga. Semoga dia menyampaikannya pada kalian."
"NAH ITU! Tadi Chloe sms tentang sesuatu! Nah aku mau bilang itu, tapi aku lupa! Aku sudah berusaha mengingatnya tapi susah. Untung kau memperingatkanku, Justin! Trims ya! Hihihihi. Hey, kenapa wajah kalian begitu? Ada yang salah dengan ucapanku?" celetuk Karen dengan wajah tanpa dosa. "KAREN!!!" teriak kami berempat nyaris bersamaan.
"Iya?"
"KAU MENYEBALKAN!" teriak Sammy, Sandra dan aku.
"Karen, my sweetheart. Kok kamu pikun amat sih? Jadi tambah lucu aja deh!"
"SEAN!!!" teriak Karen, Sandra dan Sammy dengan Karen yang paling keras. "STOP IT!!"
"Hey! Sejak kapan kita punya hubungan, Kodok?! Hih! Aku kan ngga pernah menerima cintamu bahkan saat kau menembakku untuk yang ke-99 kali!" teriak Karen sejadi-jadinya membuat aku, Sandra dan Sammy diam sambil bertingkah selayak ibu-ibu rumah tangga menyaksikan soap opera percintaan. Mereka bertengkar layaknya sepasang kekasih yang baru saja diuji kekuatan cintanya.
Setelah menurutku sudah cukup lama mereka bercerita cinta, hn, tepatnya bertengkar seperti kucing jantan dan kucing betina aku pun berusaha menghentikan mereka berdua, "Hello friends, bersambung dulu ini ya. Hari sudah gelap dan kita baru masuk kawasan Bestonia. Rumah Chloe masih sekitar dua puluh lima kilometer lagi, sedangkan mobil kita sudah kehausan. Saranku, lebih baik kita mencari penginapan terdekat saja, bagaimana menurut kalian?" Ternyata usahaku berhasil. Karen dan Sean tak lagi bertengkar. Alih-alih itu mereka berdua mendengarkanku dengan seksama. "AKU SETUJU!", "Aku juga!", "AKU SANGAT SETUJU!!!" teriak Karen, Sammy dan Sandra bergantian. Aku mengangguk untuk memantapkan mereka bertiga. Namun, aku belum mendengar Sean berkata setuju. Dengan bahasa tubuh aku bertanya lagi kepadanya. Dan dia menjawab, "Tentu saja aku setuju. Gila apa kalau kita sampai bermalam di sini?! Eh, Beo! Gantian dong, kamu yang menyetir! Badanku capek. Apalagi kemarin baru ikut ujian SIM, bosan lihat setiran terus. Hehehe."
"APA? Jadi kamu baru dapat SIM kemarin sore? Gila!! Tidak meyakinkan sekali! Aku mana mungkin bisa menyetir, Sean, umurku baru 16 tahun! Ah kau ini!" kataku pada Sean setengah kesal membuat dia terbingung-bingung.
Monday, April 5th 2010
"Apa-apaan kamu sih? Bikin kaget orang aja! Kasihan Sandra tuh! Dasar Beo! Dari tadi diam 1001 bahasa, sekali ngomong bikin orang jantungan! Justin Beo!" kata Sean bak kereta super cepat shin kan zen.
"Oia, I'm so sorry, Sandra," ucapku penuh penyesalan sekaligus agak geli melihat tampang Sandra yang amburadul tak karuan. Kasihan juga sih.
"It's okay, Justin! By the way, tadi katanya ada sms dari Chloe. Apa katanya? Apa tentang farm ini? Atau tentang apa? Cepat katakan pada kami!" jawab dan desak Sandra yang kini mulai kembali menjadi dirinya yang biasanya, cerewet. Aku pun lega melihatnya kembali ceria. Sammy dan Sean pun tak lagi bermuka serius dan mulai melontarkan joke-joke garing. Niatnya mungkin mau mencairkan keadaan yang sedingin es sejak lima belas menit yang lalu. Namun yang aneh, Karen belum mengubah raut wajahnya yang serius dan tampak memikirkan sesuatu. Tunggu dulu... Berpikir? Atau mungkin tepatnya mengingat-ingat sesuatu? Ah nanti saja. Aku mau membacakan sms dari Chloe.
"Oke teman-teman, aku bacakan sms-nya ya! "'Justin! Kenapa kamu matikan teleponnya tadi? Aku kan mau mengingatkan kalian harus hati-hati pas lewat Naomi Farm. Itu farm baru dibeli oleh keluargaku and baru direnovasi jadi penerangannya belum berfungsi. Aku mau menyarankan kalian lewat Kings Street yang lebih ramai dan dekat, eh malah ditutup teleponnya! Apa-apaan?? Hah? Aku ngambek!"' Dan kuakhiri sms itu dengan prosesi pengangkatan setengah alis, pemerahan muka dan penyusunan kembali mukaku yang baru saja hancur dihantam malu. Tenggorokanku serasa dipaksa menelan paku sebanyak sepuluh kuintal. Sial!
Kulihat Sammy, Sean dan Sandra melotot sambil menghembuskan nafas kesal kepadaku membuatku salah tingkah. Karen masih berpikir. Ah whatever lah dengan anak ini! Aku memikirkan kata-kata yang pas untuk membela diri dan tiba-tiba sms lain dari Chloe mendesak masuk di inbox-ku. Aku membacanya dengan suara gemetar, "Oh iya, tadi teleponmu tidak bisa dihubungi jadi aku sms ke Karen juga. Semoga dia menyampaikannya pada kalian."
"NAH ITU! Tadi Chloe sms tentang sesuatu! Nah aku mau bilang itu, tapi aku lupa! Aku sudah berusaha mengingatnya tapi susah. Untung kau memperingatkanku, Justin! Trims ya! Hihihihi. Hey, kenapa wajah kalian begitu? Ada yang salah dengan ucapanku?" celetuk Karen dengan wajah tanpa dosa. "KAREN!!!" teriak kami berempat nyaris bersamaan.
"Iya?"
"KAU MENYEBALKAN!" teriak Sammy, Sandra dan aku.
"Karen, my sweetheart. Kok kamu pikun amat sih? Jadi tambah lucu aja deh!"
"SEAN!!!" teriak Karen, Sandra dan Sammy dengan Karen yang paling keras. "STOP IT!!"
"Hey! Sejak kapan kita punya hubungan, Kodok?! Hih! Aku kan ngga pernah menerima cintamu bahkan saat kau menembakku untuk yang ke-99 kali!" teriak Karen sejadi-jadinya membuat aku, Sandra dan Sammy diam sambil bertingkah selayak ibu-ibu rumah tangga menyaksikan soap opera percintaan. Mereka bertengkar layaknya sepasang kekasih yang baru saja diuji kekuatan cintanya.
Setelah menurutku sudah cukup lama mereka bercerita cinta, hn, tepatnya bertengkar seperti kucing jantan dan kucing betina aku pun berusaha menghentikan mereka berdua, "Hello friends, bersambung dulu ini ya. Hari sudah gelap dan kita baru masuk kawasan Bestonia. Rumah Chloe masih sekitar dua puluh lima kilometer lagi, sedangkan mobil kita sudah kehausan. Saranku, lebih baik kita mencari penginapan terdekat saja, bagaimana menurut kalian?" Ternyata usahaku berhasil. Karen dan Sean tak lagi bertengkar. Alih-alih itu mereka berdua mendengarkanku dengan seksama. "AKU SETUJU!", "Aku juga!", "AKU SANGAT SETUJU!!!" teriak Karen, Sammy dan Sandra bergantian. Aku mengangguk untuk memantapkan mereka bertiga. Namun, aku belum mendengar Sean berkata setuju. Dengan bahasa tubuh aku bertanya lagi kepadanya. Dan dia menjawab, "Tentu saja aku setuju. Gila apa kalau kita sampai bermalam di sini?! Eh, Beo! Gantian dong, kamu yang menyetir! Badanku capek. Apalagi kemarin baru ikut ujian SIM, bosan lihat setiran terus. Hehehe."
"APA? Jadi kamu baru dapat SIM kemarin sore? Gila!! Tidak meyakinkan sekali! Aku mana mungkin bisa menyetir, Sean, umurku baru 16 tahun! Ah kau ini!" kataku pada Sean setengah kesal membuat dia terbingung-bingung.
Monday, April 5th 2010
Experience is Gold (part 2): "Naomi Farm"
.... Aku lupa tujuan awalku datang ke sini untuk bertualang dan memecahkan misteri.
"Oke, Chloe! Mungkin kami tiba di sana saat hari gelap. Apalagi sekarang gerimis, jadi pasti kami akan sangat terlambat," kataku sambil menempelkan erat telepon genggam ke telinga kananku.
"Oke, Justin! Hati-hati di jalan terutama saat melintasi Naomi Farm. Soalnya di sana..." ucap Chloe dari seberang sana.
"Oke! Oke, Chloe! Kau tak usah terlalu cemas begitu. Thank's untuk semua informasinya dan tunggu kami di sana. Bye..." ucapku cepat-cepat dan kuakhiri dengan memencet tombol end call pada telepon genggamku.
Gerimis tak lagi mau kompromi. Volumenya makin bertambah dan hampir boleh disebut hujan. Jajaran pohon pinus dan cemara angin setinggi hampir dua kali tinggi orang dewasa membingkai kanan kiri jejalanan yang kami lewati. Begitu rapat jarak mereka satu sama lain sehingga dapat aku dengar gesekkan dedaunannya yang terdengar seperti orang merintih di tengah hujan. Bulu kudukku mulai bereaksi dan kuakui suasana saat itu memang cukup mencekam. Kupandangi wajah kelima orang temanku dan tampak jelas mereka sedang tak bahagia. Mungkin mereka merasakan hal yang sama denganku. Aku tak takut cuma merasa ngeri. Kengerian yang tak biasa dan membuat penasaran. Satu menit kemudian, aku melihat papan nama usang tertancap kuat di tanah kering sebuah peternakan tak terurus. "Naomi Farm", bunyi tulisan itu. Selama beberapa detik, aku menyesal tak mau mendengarkan penjelasan Chloe tentang peternakan ini tadi. Aku merasakan jok mobil yang aku duduki sedikit bergetar. Saat aku menoleh ke arah Sandra, kulihat wajahnya sedikit pucat dan kakinya bergoyang ke atas bawah tak berfrekuensi tetap. Aku yakin, sikapnya yang mudah panik tengah kambuh. Sementara Sean --yang bertugas menyetir-- dan Sammy saling berpandangan satu sama lain. 'Nampaknya, si kembar ini sedang bercakapan lewat ikatan batin,' pikirku mulai kacau.
Aku pun kembali memperhatikan apa yang ada di luar jendela. 'Ladang dan peternakan ini cukup luas tapi tampak tak terurus. Apa mungkin ini tak ada yang punya lagi? Atau jangan-jangan... Jangan-jangan apa? Ah! Aku tak mau berpikir macam-macam! Lebih baik aku menelpon Chloe,' pikirku lagi. Secepat kilat aku meng-contact Chloe tapi ternyata tak ada sinyal di sana. Sementara itu, langit telah menggelap, guncangan di jok mobil oleh Sandra pun semakin kencang. Kini wajahnya hampir sepucat salju. Di tengah-tengah kegalauan itu, Sean berteriak-teriak setengah berbisik, "Bensin limit, Justin! Kita harus segera menemukan GAS atau kita akan bermalam di sini."
(lanjutannya, mulai di sini... Hehe)
Pikiranku semakin tak karuan. Kulihat Karen tak cemas sedikit pun. Wajahnya memang sedang sangat serius tapi ia tak panik sedikit pun. Apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan? Sammy yang selama ini kukenal tenang orangnya pun mulai berkeringat yang aku yakin pasti keringat dingin. Aku merasa bersalah pada teman-temanku karena tidak memberitahu mereka bahwa aku hampir saja mengetahui sesuatu tentang Naomi Farm. Namun, hatiku mencegahku untuk memberitahu mereka.
Tak ada apa pun yang bisa kami lakukan selain duduk di dalam mobil dan menikmati keangkeran farm ini. Sementara itu, kudengar Sean mengeluarkan umpatan-umpatan ringan yang mungkin ditujukan untukku karena aku tak merespon ucapannya. Sungguh! Mulutku serasa terkunci. Dan Karen, aku benar-benar masih belum bisa membaca pikirannya.
Angin berhembus kencang membuat ilalang menarikan tarian kematian. Mentari sudah setengahnya sembunyi dan kawanan binatang malam pun sudah melancarkan aksi. Mereka seakan mencibir kepadaku, mengejekku yang sedang speechless dan miskin nyali saat ini. Tidak! Aku sudah betul-betul meracau sekarang!
Dari kejauhan tampak pendar lampu neon. Terang! Menurut perhitunganku, beberapa lama lagi kami akan segera keluar dari wilayah farm yang mistik ini. Namun, aku masih menanti sesuatu terjadi. Entah itu seekor werewolf yang tiba-tiba keluar dari farm, entah beberapa hantu Asia yang mengerikan, entah hantu petani penasaran karena mati dibunuh calon pembeli ladangnya atau sekedar tupai yang melompat dari atas satu-satunya pohon kenari besar itu. Namun, tak satupun yang terjadi selain gejala-gejala alam sehari-hari.
Sammy dan Sean sekarang tak lagi berkomunikasi dalam diam. Telingaku menangkap kata jurang yang tersebut berkali-kali. Benar saja, di kiri jalan sebuah jurang landai tapi tampak dalam siap menangkap mobil kami jika Sean tak berhati-hati sedikit saja. Oh My... Kapankah kami keluar dari peternakan sialan ini?
Baru selesai aku membatin, tampak lampu yang tadi kulihat semakin jelas menerangi sebuah papan lain yang lebih baru tertancap di ujung ladang Naomi Farm bertuliskan, "Naomi Farm sudah menjadi milik keluarga Woods".
"Keluarga Woods? Jangan-jangan yang itu nama keluarga Chloe? Sudah ada sinyal! Aku akan menghubungi Chloe. Eh, tapi, ternyata dia udah sms duluan," ucapku keras hingga membuat Sandra melompat ke jok depan.
"Oke, Chloe! Mungkin kami tiba di sana saat hari gelap. Apalagi sekarang gerimis, jadi pasti kami akan sangat terlambat," kataku sambil menempelkan erat telepon genggam ke telinga kananku.
"Oke, Justin! Hati-hati di jalan terutama saat melintasi Naomi Farm. Soalnya di sana..." ucap Chloe dari seberang sana.
"Oke! Oke, Chloe! Kau tak usah terlalu cemas begitu. Thank's untuk semua informasinya dan tunggu kami di sana. Bye..." ucapku cepat-cepat dan kuakhiri dengan memencet tombol end call pada telepon genggamku.
Gerimis tak lagi mau kompromi. Volumenya makin bertambah dan hampir boleh disebut hujan. Jajaran pohon pinus dan cemara angin setinggi hampir dua kali tinggi orang dewasa membingkai kanan kiri jejalanan yang kami lewati. Begitu rapat jarak mereka satu sama lain sehingga dapat aku dengar gesekkan dedaunannya yang terdengar seperti orang merintih di tengah hujan. Bulu kudukku mulai bereaksi dan kuakui suasana saat itu memang cukup mencekam. Kupandangi wajah kelima orang temanku dan tampak jelas mereka sedang tak bahagia. Mungkin mereka merasakan hal yang sama denganku. Aku tak takut cuma merasa ngeri. Kengerian yang tak biasa dan membuat penasaran. Satu menit kemudian, aku melihat papan nama usang tertancap kuat di tanah kering sebuah peternakan tak terurus. "Naomi Farm", bunyi tulisan itu. Selama beberapa detik, aku menyesal tak mau mendengarkan penjelasan Chloe tentang peternakan ini tadi. Aku merasakan jok mobil yang aku duduki sedikit bergetar. Saat aku menoleh ke arah Sandra, kulihat wajahnya sedikit pucat dan kakinya bergoyang ke atas bawah tak berfrekuensi tetap. Aku yakin, sikapnya yang mudah panik tengah kambuh. Sementara Sean --yang bertugas menyetir-- dan Sammy saling berpandangan satu sama lain. 'Nampaknya, si kembar ini sedang bercakapan lewat ikatan batin,' pikirku mulai kacau.
Aku pun kembali memperhatikan apa yang ada di luar jendela. 'Ladang dan peternakan ini cukup luas tapi tampak tak terurus. Apa mungkin ini tak ada yang punya lagi? Atau jangan-jangan... Jangan-jangan apa? Ah! Aku tak mau berpikir macam-macam! Lebih baik aku menelpon Chloe,' pikirku lagi. Secepat kilat aku meng-contact Chloe tapi ternyata tak ada sinyal di sana. Sementara itu, langit telah menggelap, guncangan di jok mobil oleh Sandra pun semakin kencang. Kini wajahnya hampir sepucat salju. Di tengah-tengah kegalauan itu, Sean berteriak-teriak setengah berbisik, "Bensin limit, Justin! Kita harus segera menemukan GAS atau kita akan bermalam di sini."
(lanjutannya, mulai di sini... Hehe)
Pikiranku semakin tak karuan. Kulihat Karen tak cemas sedikit pun. Wajahnya memang sedang sangat serius tapi ia tak panik sedikit pun. Apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan? Sammy yang selama ini kukenal tenang orangnya pun mulai berkeringat yang aku yakin pasti keringat dingin. Aku merasa bersalah pada teman-temanku karena tidak memberitahu mereka bahwa aku hampir saja mengetahui sesuatu tentang Naomi Farm. Namun, hatiku mencegahku untuk memberitahu mereka.
Tak ada apa pun yang bisa kami lakukan selain duduk di dalam mobil dan menikmati keangkeran farm ini. Sementara itu, kudengar Sean mengeluarkan umpatan-umpatan ringan yang mungkin ditujukan untukku karena aku tak merespon ucapannya. Sungguh! Mulutku serasa terkunci. Dan Karen, aku benar-benar masih belum bisa membaca pikirannya.
Angin berhembus kencang membuat ilalang menarikan tarian kematian. Mentari sudah setengahnya sembunyi dan kawanan binatang malam pun sudah melancarkan aksi. Mereka seakan mencibir kepadaku, mengejekku yang sedang speechless dan miskin nyali saat ini. Tidak! Aku sudah betul-betul meracau sekarang!
Dari kejauhan tampak pendar lampu neon. Terang! Menurut perhitunganku, beberapa lama lagi kami akan segera keluar dari wilayah farm yang mistik ini. Namun, aku masih menanti sesuatu terjadi. Entah itu seekor werewolf yang tiba-tiba keluar dari farm, entah beberapa hantu Asia yang mengerikan, entah hantu petani penasaran karena mati dibunuh calon pembeli ladangnya atau sekedar tupai yang melompat dari atas satu-satunya pohon kenari besar itu. Namun, tak satupun yang terjadi selain gejala-gejala alam sehari-hari.
Sammy dan Sean sekarang tak lagi berkomunikasi dalam diam. Telingaku menangkap kata jurang yang tersebut berkali-kali. Benar saja, di kiri jalan sebuah jurang landai tapi tampak dalam siap menangkap mobil kami jika Sean tak berhati-hati sedikit saja. Oh My... Kapankah kami keluar dari peternakan sialan ini?
Baru selesai aku membatin, tampak lampu yang tadi kulihat semakin jelas menerangi sebuah papan lain yang lebih baru tertancap di ujung ladang Naomi Farm bertuliskan, "Naomi Farm sudah menjadi milik keluarga Woods".
"Keluarga Woods? Jangan-jangan yang itu nama keluarga Chloe? Sudah ada sinyal! Aku akan menghubungi Chloe. Eh, tapi, ternyata dia udah sms duluan," ucapku keras hingga membuat Sandra melompat ke jok depan.
Wednesday, 21 July 2010
Experience is Gold: Hari Kelahiran (bagian 1)
Butiran gerimis menyambut kami di perjalanan menuju sebuah peternakan di kawasan Bestonia. Hijaunya semak, riuhnya pohon Pinus merkusii dan bongkahan besar fosil foraminifera yang tersementasi mengundang decak kagum setiap orang. Kawasan Bestonia terletak di utara kota Petropolis yang kaya akan minyak dan terselimuti awan hitam oleh asam pabrik. Meskipun Bestonia berada di balik awan, tetapi jejak Petropolis tak tertoreh sedikit pun di kota kecil yang asri itu. Bestonia menyimpan keindahan alam yang menakjubkan dengan peternakan dan perkebunan di setiap hamparan tanahnya.
Penyelidikan kami dimulai di sini, di Bestonia, tentang apa atau mungkin siapa yang ada di balik misteri sebuah kastil tua bernama Luna de Moony. Kami hanya sekelompok anak muda dari Hogsmitry yang tertarik dengan hal-hal berbau misteri dan membutuhkan logika berpikir.
SMARTIES, itulah nama kumpulan kami yang kami dapat dari singkatan nama-nama kami, yaitu Sammy, Karen, Aku, Sean dan Sandra. Lalu siapa aku? Aku adalah bagian dari SMARTIES.
Kastil Luna de Moony adalah titik awal petualangan kami pasca peresmian nama SMARTIES pada tanggal 15 Maret yang indah.
**^o^**
Di Bestonia terdapat sebuah peternakan kuda bernama Horsehouse. Tidak banyak orang yang mengenal seluk beluk Horsehouse bahkan mendengar namanya saja hampir tak pernah. Namun anehnya, hanya sedikit orang yang tak tahu tentang sebuah kastil di dekatnya, yaitu Kastil Luna de Moony. Aku sendiri mengenal kastil itu sejak umurku lima tahun dan itu berarti sebelas tahun yang lalu.
Kastil ini beraksen Belanda dan menghadap Barat ke arah sebuah pohon ek tua yang tinggi besar dan gelap. Luna de Moony berdinding tebal. Ia dipenuhi lumut dan picis di setiap jengkal permukaannya. Atapnya memiliki bentuk yang aneh untuk sebuah kastil. Di mataku, tempat itu sungguh terlampau besar. Ukurannya yang abnormal itu sebanding dengan volume bangunannya yang tak kalah besar.
Sebuah taman labirin yang gelap dan membingungkan adalah alasan mengapa kastil ini begitu dikenal orang. Ya, labirin itu ada di dalam kastil aneh itu.
Setiap tahun, semakin banyak orang yang ingin mencicipi labirin tersebut, tak terkecuali kami.
Namun yang membuatku heran, kebanyakkan orang yang baru keluar dari dalamnya akan menampakkan rupa lesu, bingung, kecewa, sia-sia atau bahkan gila. Wah! Inilah yang kusuka! Dua hari setelah peresmian nama yang berlangsung di John and Ronn Cafe, kami berangkat ke Bestonia.
Salah seorang saudaraku yang tinggal di sana, Chloe, bersedia menyediakan beberapa kamar untuk kami berlima.
Oh iya, Chloe pula lah yang dulu memberitahuku mitos kastil Luna de Moony ini. Katanya, setiap awal musim khususnya musim dingin, orang-orang berbondong-bondong menyerbu kastil. Mereka sangat antusias seperti mencari sesuatu, padahal hingga sekarang tak ada satu pun yang mereka dapat dari dalamnya. Namun, mereka terus mengulangi dan mengulanginya di tiap awal musim.
Menurut Chloe ada sesuatu semacam harta karun di dalamnya, beberapa kilogram emas mungkin. Aku sudah membayangkan saat-saat di mana kami berfoto di depan kastil sambil memperlihatkan emas-emas yang berpendaran disorot matahari. Oh My... Aku lupa tujuan awalku datang ke sini untuk bertualang dan memecahkan misteri.
Penyelidikan kami dimulai di sini, di Bestonia, tentang apa atau mungkin siapa yang ada di balik misteri sebuah kastil tua bernama Luna de Moony. Kami hanya sekelompok anak muda dari Hogsmitry yang tertarik dengan hal-hal berbau misteri dan membutuhkan logika berpikir.
SMARTIES, itulah nama kumpulan kami yang kami dapat dari singkatan nama-nama kami, yaitu Sammy, Karen, Aku, Sean dan Sandra. Lalu siapa aku? Aku adalah bagian dari SMARTIES.
Kastil Luna de Moony adalah titik awal petualangan kami pasca peresmian nama SMARTIES pada tanggal 15 Maret yang indah.
**^o^**
Di Bestonia terdapat sebuah peternakan kuda bernama Horsehouse. Tidak banyak orang yang mengenal seluk beluk Horsehouse bahkan mendengar namanya saja hampir tak pernah. Namun anehnya, hanya sedikit orang yang tak tahu tentang sebuah kastil di dekatnya, yaitu Kastil Luna de Moony. Aku sendiri mengenal kastil itu sejak umurku lima tahun dan itu berarti sebelas tahun yang lalu.
Kastil ini beraksen Belanda dan menghadap Barat ke arah sebuah pohon ek tua yang tinggi besar dan gelap. Luna de Moony berdinding tebal. Ia dipenuhi lumut dan picis di setiap jengkal permukaannya. Atapnya memiliki bentuk yang aneh untuk sebuah kastil. Di mataku, tempat itu sungguh terlampau besar. Ukurannya yang abnormal itu sebanding dengan volume bangunannya yang tak kalah besar.
Sebuah taman labirin yang gelap dan membingungkan adalah alasan mengapa kastil ini begitu dikenal orang. Ya, labirin itu ada di dalam kastil aneh itu.
Setiap tahun, semakin banyak orang yang ingin mencicipi labirin tersebut, tak terkecuali kami.
Namun yang membuatku heran, kebanyakkan orang yang baru keluar dari dalamnya akan menampakkan rupa lesu, bingung, kecewa, sia-sia atau bahkan gila. Wah! Inilah yang kusuka! Dua hari setelah peresmian nama yang berlangsung di John and Ronn Cafe, kami berangkat ke Bestonia.
Salah seorang saudaraku yang tinggal di sana, Chloe, bersedia menyediakan beberapa kamar untuk kami berlima.
Oh iya, Chloe pula lah yang dulu memberitahuku mitos kastil Luna de Moony ini. Katanya, setiap awal musim khususnya musim dingin, orang-orang berbondong-bondong menyerbu kastil. Mereka sangat antusias seperti mencari sesuatu, padahal hingga sekarang tak ada satu pun yang mereka dapat dari dalamnya. Namun, mereka terus mengulangi dan mengulanginya di tiap awal musim.
Menurut Chloe ada sesuatu semacam harta karun di dalamnya, beberapa kilogram emas mungkin. Aku sudah membayangkan saat-saat di mana kami berfoto di depan kastil sambil memperlihatkan emas-emas yang berpendaran disorot matahari. Oh My... Aku lupa tujuan awalku datang ke sini untuk bertualang dan memecahkan misteri.
Subscribe to:
Comments (Atom)
Agustus Ke-80
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
Lagu di atas merupakan lagu Amaryllis karya komposer Henri Ghys. Saya memainkannya dengan aplikasi piano pada ponsel saya. Oh iya, mohon...
-
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
“Mau semangka?” “Aku puasa,” jawabnya sekenanya. “Oh, afwan. Nggak pulang, Di?” tanyaku. “Tidak,” jawabnya singkat. “Kenapa...