"Ucapan Milad untuk "SAHABAT""
Depok, 28 Oktober 2014
Media: Kertas Gambar A3
Yeah, saya merindukan teman di kampus, ketika beberapa semester lalu ini. Dia dipanggil Dila di kesehariannya. Saya pertama kali berkenalan dengannya di FB, ketika sama-sama baru diterima di FKM UI. Kami pun bertukaran nomor dan beberapa kali SMS.
Ketika Welcoming Maba FKM UI jalur SIMAK, tanpa diduga-duga, ternyata kami betul-betul dipertemukan secara lahir, dalam FGD yang sama. Hanya saja, kami sama-sama belum menyadari. Saya memperkenalkan diri saya sebagai Ani sedangkan dia memperkenalkan dirinya sebagai Dila. Saya pun curiga, jika dia adalah Dila yang saya kenal lewat FB. Namun, kenapa dia tidak mengenali saya? Selain itu, di dunia nyata, dia tampak lebih datar, jika dibandingkan dengan saat di FB. Saya pun iseng, mencoba me-miscall nomornya. Jika dia bergerak-gerak merogoh HP ketika saya miscall, berarti dia adalah Dila yang sama dengan Dila di FB. Namun, dia diam. Setelah perkenalan, saya pun mencoba menyapanya secara personal untuk memastikan bahwa dia adalah Dila yang pernah bertukar nomor hp dengan saya. Dan ternyata benar. Dan dia tetap berwajah datar. Oh, doang. Padahal, ketika itu, saya mengharapkan respons yang lebih hangat dan bahagia darinya, karena bertemu dengan orang yang selama sebulan hanya bersapa lewat dunia maya. Awalnya, saya mengira saya akan dapat berteman dengan baik dengannya. Namun, melihat respons datarnya, saya urungkan perkiraan saya.
Saya bertemu lagi dengannya di kumpul angkatan FKM UI 2010 di dekat danau Balairung. Dia masih datar. Akan tetapi, ada yang berbeda, dia lebih banyak bicara dibandingkan dengan di saat pertemuan WM. Lambat laun, saya memahami sesuatu. Ternyata, wajah datarnya bisa jadi adalah output dari sifatnya yang sedikit pendiam dan tidak terlalu ingin terlibat dalam banyak hal yang menegangkan (apakah ini nyambung?). Sejak saat itu, saya memberanikan diri untuk mendekatkan diri dengannya dan sepertinya dia menyambut dengan cukup baik upaya pendekatan dari saya.
Saya dan dia, sama-sama bukanlah orang yang ingin terlihat menonjol. Sama-sama, orang yang tidak datang ke suatu hal yang tidak perlu didatangi. Sama-sama, orang yang agak suka bersembunyi. Sama-sama, orang yang menyukai benda yang lebih mudah terbeli. Sama-sama, menyukai membaca cerita fiksi. Sama-sama, ah sama-sama lebih banyak mengamati daripada menyampaikan opini. Sama-sama, biasa saja. Kami pun terkadang berjalan-jalan bersama, untuk melakukan hal-hal biasa saja, bersama dengan beberapa orang teman tetap lain.
Mungkin, ada banyak "sama-sama" yang sudah saya sebutkan. Namun, anggapan "sama-sama" dari saya tersebut, ternyata membuat saya egois dan lupa bahwa seberapa sama pun kami, tetaplah ada perbedaan yang menjurangi pribadi tiap manusia kebanyakan. Laun, saya pun dapat membaca perbedaan tersebut. Dia orang yang lurus, yang tak mudah berbelok dari tujuan utamanya, terutama dalam urusan menuntut ilmu. Saya sebaliknya. Dia orang yang pandai dan rajin, yang mempersiapkan dengan baik apa yang akan dipersembahkannya. Saya sebaliknya. Dia orang yang tidak akan bermain-main, di saat yang seharusnya kami mengencangkan ikat pinggang. Saya sebaliknya. Dia orang yang memiliki target dan tujuan. Saya sebaliknya. Dia orang yang akan terganggu, jika apa yang didapatkannya tidak sesuai dengan ekspektasi atau usaha kerasnya. Saya juga, tapi dengan cara penyampaian yang berbeda. Dia terlalu baik hati. Saya sebaliknya. Dia fokus. Saya sebaliknya.
Awalnya, saya kira saya dapat bertahan mengikuti jalan lurusnya, dapat berguna sebagai teman baginya, dapat mengikuti sifat rajinnya, dapat mengerti dan menjadi teman yang baik baginya, atau dapat yang lain-lainnya. Namun, entah ini hanya pikiran tidak sehat saya atau bukan...saya merasa saya telah menjadi teman yang tidak baik dan tidak berguna baginya dan yang lain, hingga puncaknya di semester lima. Saya merasa saya adalah orang yang sangat kurang dan tidak pantas menjadi bagian dari mereka, orang-orang yang sangat pandai dan baik. Terlebih, saya selalu buruk dan tertinggal dalam hal akademis. Perbedaan besar saya, dia dan mereka, terutama dalam hal minat di bidang akademis ini, sepertinya telah menciutkan nyali saya untuk sering bersama mereka. Saya takut magabut dan merepotkan pada mereka.
Hingga suatu hari di semester lima itu, entah karena apa dan dengan cara apa, saya mendapati diri saya tidak mampu lagi mendekatinya dan teman-teman tetap saya yang lain. Saya pun menjadi jauh dari mereka. Semua. Saya menjadi seorang mahasiswa solo yang berkelana dan mencari informasi seorang diri. Hinggap di titik satu, lalu berpindah ke titik lain, untuk hanya sekadar hinggap. Meskipun menikmatinya, tetapi saya akui, ini terlalu sepi dan tidak asyik dilihat. Saya tidak menyangka, praduga dan pemikiran saya setidak sehat ini. Hingga kini, saya berakhir seperti ini: Bingung dan Sepi. Salah saya memang, tak sering menanyakan informasi atau kabar ke mereka.
Ah! Bohong, jika saya tidak merindukan dia dan semua orang. Dusta, jika saya tidak ingin bertemu atau mengobrol dengan dia dan teman-teman lain. Namun, mengapa? Mengapa saya tidak dapat kembali menyapa dia dan orang-orang seperti dulu? Mengapa saya selalu merasa takut, saya akan menyakiti mereka dengan kekurangan saya? Mengapa saya merasa serendah diri ini, ketika berkomunikasi atau bersanding dengan mereka? Mengapa saya tidak berkutik ketika melihat mereka? Mengapa saya menjadi sebodoh ini? Berpikir liar, lalu terpuruk sendiri karena hal-hal, yang tidak tepat untuk dijadikan alasan sebuah keterpurukan. Mengapa saya takut pada orang-orang, yang bahkan mereka sendiri mungkin tidak pernah kepikiran memiliki masalah dengan saya. Jangankan memiliki masalah, memiliki ingatan berarti dengan dan/atau tentang saya juga sepertinya tidak ada. Hehehe.
See? BETAPA TIDAK DEWASANYA SAYA.
Saya mengotori ucapan ulang tahun untuk teman saya sendiri dengan bicara tentang hal-hal tidak penting seperti ini. Seharusnya, saya memberikan doa terbaik untuknya.
Baiklah, Dila, sahabat lucu saya, teman (non-Kebumen) pertama saya di FKM, saya tidak pandai merangkai untaian doa. Saya sudah beberapa kali mencobanya, tapi tetap saja, hasilnya tidak indah. Hanya saja, saya hanya mampu berharap kau bahagia dan tetap tersenyum dalam menapaki perjalananmu. Saya dengar, kau sudah bekerja, walaupun saya tidak tahu pasti di mana tempatnya. Selamat ya, semoga kau betah dan menikmatinya. Saya yakin, kamu pasti mengerjakan semuanya dengan baik, di sana. Saya juga dengar, kau mendapatkan rekomendasi beasiswa Bidik Misi, yang, ah, saya tidak tahu apa namanya. Saya tidak heran, kau sangat layak mendapatkannya. Saya senang. Oh, iya, terkait studi dan kariermu, semoga sukses keduanya. Untuk hal lain-lain, saya hanya mampu mengamini segala harapan dan mimpimu. Kau pandai menjalani rencana dan menghadapi uji dan coba dari-Nya dalam mencapai tujuanmu, jadi saya yakin kau pasti akan lebih dari sekadar berbahagia di setiap akhir pencapaianmu.
Sekali lagi, selamat ya, hei cantik yang akhirnya berumur dua puluh dua.
^-^
|