Showing posts with label Surat. Show all posts
Showing posts with label Surat. Show all posts

Tuesday, 23 September 2014

Selamat, Bang Ko

Hallo, Bang Ko... 
Maaf karena saya tidak mengucapkan ini tepat waktu, tetapi... "SELAMAT ULANG TAHUN!"
Saya memang tidak dapat mengucapkannya secara langsung kepadamu karena saya tidak mengetahui letak pasti keberadaanmu. Oleh karena itu, saya mengucapkannya melalui tulisan ini. 
Ini adalah ulang tahun kedua yang kita lewati semenjak pertama kali berkenalan dan saya memutuskan untuk tetap menyapamu jika suatu saat bertemu. Meskipun saya tidak begitu mengenalmu dengan baik dan, dapat dipastikan, kau juga sangat tidak mengenal saya, saya memutuskan untuk rajin mengucapkan selamat di setiap ulang tahunmu seperti saya mengucapkannya kepada teman-teman baik saya. 
Saya tidak menyertakan hadiah apa pun untukmu karena Dia pasti akan memberikan hadiah terbaik untuk-Mu. Saya titip pada-Nya harapan terbaik untukmu, meski sebetulnya saya tidak memiliki banyak harapan. Saya juga tidak pandai menyusun kalimat doa berisi harapan dan kebaikan yang detail untukmu. Saya hanya dapat mengamini hal-hal baik terjadi padamu, cita-cita tertinggimu dapat tercapai sesegera mungkin sesuai targetmu, misi-misi perjalananmu dapat kau lalui dengan lancar, kendala yang menghadang langkahmu dapat teratasi tanpa harus terlalu banyak mengorbankan diri, keinginan baikmu dikabulkan-Nya, serta semoga kau senantiasa dilimpahi-Nya dengan kejutan indah yang bahkan tak kau duga-duga kedatangannya. Aamiin.
Di pertemuan terakhir denganmu di dunia pertama, yang entah kapan waktunya, saya melihat raut wajahmu lebih cerah dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya di mana kau tampak cemberut dan seolah-olah tak rela untuk bertemu. Apakah kau sedang berbahagia? Semoga kebahagiaan itu senantiasa mengiri setiap langkah perjalananmu. Kau juga tampak lebih merawat diri dan kesehatanmu, meski kau sempat berujar bahwa tenggorokanmu sedang serak entah karena hal apa. Namun, saya tetap bersyukur, kau terlihat sedikit lebih gemuk, Bang. Semoga di usia barumu, kesehatanmu lebih terjaga. Di pertemuan itu juga, kau tampak begitu akrab dengan lebih banyak orang, meskipun menurut seseorang kau tampak menyendiri seperti orang bingung yang tak punya teman. Semoga di usia barumu, kau memiliki lebih banyak teman di mana-mana, di atau ke mana pun kau berada, dan semakin disayangi oleh mereka dengan ketulusan bukan untuk pemanfaatan. Selain itu, kau terlihat sangat serius dengan masa depan yang akan segera kau pijaki, kau menanyakan banyak hal yang tidak saya mengerti kepada seorang yang berpengalaman itu. Apa pun itu, saya hanya mampu mendoakan kelancaran pencapainnya untukmu. Ah iya, semoga prestasimu senantiasa meningkat pula. Semoga kau semakin lembut kepada orang-orang di sekitarmu yang menyayangimu. Semoga kau sering tersenyum dan tak terlihat seperti penyendiri. Ah, saya mulai bosan menulis rincian doa dan harapan untukmu, toh ini hanyalah sebuah ucapan ulang tahun. Pokoknya, semoga kau di tahun-tahun yang akan datang lebih baik, bertabur keberkahan, dan mampu bermanfaat bagi orang lain. 
Saya ingin memberimu sesuatu, tetapi sepertinya ini tidak perlu, mengingat kau dan saya tidak bertalian apa pun dan bukan sepantasnya menghabiskan recehan saya untuk hal-hal seperti itu. Namun, jujur, tahun lalu saya hampir memberikanmu sebuah jam tangan murahan yang dapat saya jangkau dengan sisa uang jajan saya. Untung saya membatalkannya, karena ternyata kau sudah memilikinya entah kapan dan dari mana kau mendapatkannya. Kali ini saya memutuskan untuk tidak memberikanmu apa-apa...atau mungkin saya akan membuat sebuah lagu singkat untukmu? Ah, saya tidak tahu bagaimana cara membuat lagu. Atau mungkin memberimu sebuah gambar? Uhn, saya juga tidak tahu cara menggambar. Atau membuatkan sebuah puisi persahabatan? Oh tidak, kita tidak pernah betul-betul bersahabat saya kira. Saya perkirakan, kau akan menerima banyak hadiah dari orang lain yang lebih berharga dan indah dari rencana hadiah-hadiah yang akan saya berikan. Jadi, kau tidak akan kekurangan hadiah pastinya. Lagipula, jika saya memberikanmu sesuatu pun, sepertinya pemberianku tidak akan cukup untuk membuatmu gembira, alih-alih bingung dan menerka siapa pemberinya.
Mengapa ucapan ini menjadi sepanjang ini? Namun, awalnya, saya kira saya akan menuliskan lebih panjang dari ini. Ternyata, saya terlalu bingung mau menuliskan apa untukmu. Saya kira, sampai di sini ucapan selamat dari saya. Selamat, selamat, selamat, Bang Ko. Semoga Allah memberkahi sisa umurmu... :)

Thursday, 17 April 2014

Surat Panjang untuk "Kau yang Berjanji Akan Datang"

Hahahahaha... Apa kau begitu mencemaskanku? Baru sekali ini, kau tidak tampak cool sama sekali. Suratmu terlihat begitu kacau dan cerewet! Kau mengingatkanku pada adikmu, Ambalika. Ngomong-ngomong apa kabarnya? Bagaimana ujian akhirnya? Aku harap dia dapat mengerjakannya dengan baik, lulus dengan nilai yang sempurna sepertimu, dan segera menyusulmu ke UI. Uhn... Aku penasaran, apakah dia masih setia dengan cita-citanya menjadi seorang arsitek. :D

Terima kasih, Dewaaa... Aku merasa begitu diperhatikan. Ternyata, masih ada orang yang perhatian kepadaku, eoh? Aku sangat senang memiliki teman (?) sepertimu. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan kau lakukan padaku, jika ternyata apa yang kukatakan dalam suratku yang kemarin adalah bohong. Ahahaha. Aku bohong, Wa! Aku bohong, jika aku bilang bahwa aku tidak sakit. :') 

Baiklah, aku ulangi. Ini bukan hipokondria. Dokter Rizki tidak mungkin salah mendiagnosis karena dia sudah mengangani mungkin ratusan pasien dengan penyakit yang sama denganku. Dia bilang, penyakitku ini masih stadium awal. Artinya, ginjalku belum sepenuhnya gagal bekerja. Dokter Rizki juga memujiku, tepatnya kepekaanku, menyadari tanda-tanda ini dari jauh hari. Jika telat sedikit, ini akan menjadi semakin sulit untuk ditangani. 

Dia mengatakan banyak hal, tapi aku hanya mengingat beberapa. Setidaknya, menurutnya aku masih bisa diselamatkan. Aku masih bisa memperlambat perkembangan penyakitku, jika aku patuh dengan dietku. Dia memberiku beberapa obat dan aku harus meminumnya dengan teratur. Aku harus mengunjunginya setiap minggu untuk memastikan bahwa aku benar-benar menurutinya dan tidak berbuat macam-macam. Dia juga memberiku daftar menu makanan secara detail. Aku tidak boleh lagi makan makanan berlemak terlalu banyak. Artinya, aku tidak bisa makan Jumbo Steak bersamamu lagi, mungkin. Aku juga harus mengatur jam dan asupan giziku. Takaran karbohidratku harus sama di setiap porsi makanku. Buah-buahan pun, tidak semua buah boleh kumakan. Aku tidak boleh makan tomat dan sayur bayam, juga pisang yang sangat aku sukai. Dan masih banyak lagi. Uhn...intinya, kau tidak usah repot-repot mengirimkan list menu diet untukku, seperti katamu. Dokter Rizki dan petugas gizi di sini jauh lebih mengerti dari pada kau. Dan tentu saja aku akan patuh karena aku tidak ingin cepat mati. Aku ingin membuktikan padamu bahwa hidupku memang berharga. Oh, iya... tentang donor itu, aku hanya mencoba cari-cari. Hehe... Mungkin beberapa tahun lagi aku akan memerlukannya. Aku akan segera memberitahukan tentang penyakit ini kepada ayah dan ibu, ketika aku sudah sembuh, Wa. (Kapan, ya? Hahaha)

Aku sudah pindah rumah kontrakan. Aku sekarang kost, Wa. Tidak jauh dari kontrakan yang dulu alias masih dalam kota Bandung. Hanya berjarak sekilometer mungkin? Namun, aku yakin rumah kost-ku yang sekarang jauh lebih dekat dengan kontrakanmu di Depok sana, hahaha. Jadi bisa kau simpulkan kan, Dewa yang jenius, bahwa alasanku untuk pindah bukanlah karena aku ingin berdekatan denganmu, tidak seperti yang kau pikirkan. Jangan-jangan kau sendiri yang mengaharapkan aku mendekatimu? Mengaku sajalah... 

Oia, di rumah kost-ku yang baru ada seorang koki. Aku tidak memilih rumah kost ini sembarangan. Aku sudah berkeliling mencari rumah kost yang dekat dengan kampus dan memilki koki yang mau memasakkan menu dietku dengan tepat takaran dan kandungannya. Hanya kost inilah yang menyediakannya dan menyanggupinya. Aku bersyukur sekali untuk ini. Nama kokinya adalah Pak Rahman. Dia mantan koki di Rumah Sakit Sardjito. Dia memang sudah tidak muda. Usianya sekitar 60 tahunan, kuperkirankan. Namun, dia sangat berpengalaman dalam hal menyiapkan menu makanan penderita penyakit dalam. Masakannya juga sangat enak, meskipun menyesuaikan menu dietku.

Aku tidak ingin membicarakan tugas akhirku dan jangan pernah kau bertanya tentangnya kecuali aku yang menceritakannya sendiri kepadamu. Titik. 

Kyaaaa!!! Seperti yang kukira dari seorang Dewa. Kau sangat keren, Wa. Aku yakin, pembimbingmu akan lebih terkesan lagi jika kau betul-betul telah menyelesaikan prototype-mu. Jika boleh kutahu, apa yang kau ajukan untuk tesismu? Kau membuat apa? Apakah sesuatu yang bagus? Sebuah robot? Hwoaah... Aku tidak sabar untuk melihat karyamu. Aku sangat yakin juga kalau akan lebih hebat dari Pak Danu. Beliau pasti mulai melihat potensimu, makanya dia mengajakmu mengerjakan proyeknya, kan? Kau hebat, Wa. Sungguh! 

Wa, baterai laptopku sudah hampir habis.

Aku berharap kau betul-betul dapat meluangkan waktumu untuk mengunjungiku. Tentu saja ada bioskop di dekat kost-ku. Kau pasti ingin menonton film itu, kan? Sejak kapan kau menyukai film action seperti itu? Namun, baiklah! Ayo menontonnya! Meski aku yakin, kau tidak akan menyukainya dan justru mengritik habis-habisan setiap adegan di dalamnya, seperti biasanya. Oh, iya. Aku tidak menginginkan apa pun. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Ini sudah lebih dari cukup untuk mengobati rinduku dan mungkin memperlambat keparahan penyakitku, hahaha. (Bagaimana bisa?)

Tentu saja aku masih ingat padanya. Salammu untuknya...mungkin akan sulit kusampaikan. Sudah hampir lima bulan aku tidak bertemu dengannya. Tentang wisudaku, aku justru berharap kau tidak datang. Aku tidak ingin kau melihatku dengan togaku. Aku tidak ingin dilihat oleh orang lain...dan mungkin masih seperti rencanaku yang dulu, aku tidak ingin ikut merayakan wisuda. Aku benci melihat dan terlibat di antara kerumunan orang banyak. Mungkin, kita bisa menggantinya dengan menghadiri Pesta Kembang Api? Pleasssse, aku sangat ingin  menontonnya bersamamu sebagai ganti kegagalan tahun lalu. 

Hwoaaaah....
Sudah, ya...


Dariku, 

yang mulai jenuh mengerjakan tugas akhirku.

Wednesday, 16 April 2014

Surat Kejengkelan untuk "Yang Menjengkelkan"

HEH, kau!!!

BLOODY HELL!!! 
Kenapa kau baru memberitahuku sekarang? Bulan lalu katamu? Bulan lalu kau bertemu dokter Rizki? Itu artinya ketika kau menuliskan surat rindu itu, kau sudah menemuinya dan mengetahui penyakitmu, hah? Kenapa kau begitu santai? Kenapa kau malah menulis surat yang berputar-putar seperti itu???

Ke mana kau pindah? Kau datang ke kotaku? Apa kau gila? Sejauh itukah kau mencintaiku? Pikirkan dulu tugas akhirmu dan aku juga akan memikirkan tesisku! Perhatikan kesehatanmu! Jangan berbuat hal yang macam-macam. 

Kau membuatku sulit menuliskan ini. Harus kumulai dari mana ini? Apakah kau bilang kalau kau mulai mencari donor? Golongan darah B, ya. Tidak! Kenapa kau mencari donor? Stadium berapa? Katakan padaku! Aku masih tidak menyangka, ini benar-benar terjadi padamu. Aku masih menganggapmu hanya berhipokondria selama ini. Mungkin kau tersugesti dengan pikiran-pikiran itu hingga tubuhmu menuruti sugesti tersebut. Aku harap ini bukan yang kronis. Oh, Tuhan... Kenapa kau tidak memberitahu orang tuamu? Aku tidak yakin, aku dapat selalu membantumu karena kesibukanku saat ini. Bagaimana jika ada hal buruk yang terjadi padamu dan kau sendirian? Aku tidak bisa membayangkannya lagi. Ah! Golongan darah B, ya? Apakah kau membutuhkannya secepat ini? Bagaimana tentang biayanya? Kau harus memberitahuku jika tabunganmu sudah habis untuk berobat.

Oh iya, aku pernah mendengar kalau orang yang sakit ini harus melakukan diet makanan. Aku akan mencari infonya. Tetangga kontrakanku, anaknya...oh bukan, keponakannya...ah persetan siapanya, juga menderita sakit ini. Dia memiliki menu makan yang diatur dan harus mematuhinya. Aku...masih tidak percaya kau benar-benar... Baiklah!!! Kau tidak boleh naik stadium. Kau harus memperlambatnya! Berjanjilah padaku! Aku akan mengirimkan menu diet itu kepadamu dan kau harus mematuhinya. Aku akan mengirimkan setiap info tentang ini kepadamu dan kau harus mencoba menjalankannya. Satu lagi! Jangan minum obat penahan rasa sakit semacam asam mefenamat terlalu sering karena, menurut dugaanku, dia akan memperparah kondisimu, terutama lambungmu.

Apakah kali ini aku terlalu cerewet? 

Aku jengkel sekali kepadamu. Aku tidak mengerti kenapa kau menganggap hal besar seperti ini seolah-olah sesuatu yang sepele. Oke, selamat kau menang. Namun, apakah kepuasan akan kemenangan itu dapat menyembuhkan penyakitmu? Ingat! Kau ini sekarang adalah seorang perempuan berumur 22 tahun. Ingat, kan? 

Tunggu, 16 Maret lalu, sehari setelah ulang tahunmu, bukankah kita bertemu dan makan bersama? Ini kurang dari sebulan yang lalu, kan? Kau sudah tahu tentang penyakitmu, kan? Kenapa KAU TIDAK BILANG APAPUN padaku??? Hah!!! Kau tidak banyak bicara, selain bercerita tentang hal tidak penting. Apa, ya? Tentang perseteruanmu dengan teman sekampusmu? KAU ini, benar-benar... Kau tidak mau diurusi atau apa, hah?

Oke, jangan lupa kirimkan alamatmu. Weekend ini, sepertinya aku dapat sedikit meluangkan waktuku. Sepertinya aku dapat mengunjungimu. Kuharap di sana ada bioskop yang dekat karena ada satu film yang ingin kutonton. Kau ingin aku membawakanmu apa? 

Uhn... Ngomong-ngomong, selamat! Kau telah membuatku cemas sepanjang hari. Maaf, aku baru membalasnya sore. Baru saja aku kembali dari Semarang. Yeah, kemarin aku memang pergi ke sana dengan Pak Danu (bukan pembimbingku dan kami tidak pergi ke Timur). Dia sangat jenius, Ndah. Aku akan menjadi seperti dia. Semester depan, aku akan menyelesaikan tesisku. Pembimbingku sangat suka dengan judul tesis yang kuajukan. Aku sudah mulai menyusun desain prototype-nya. Hnnn... Aku juga masih menjadi asistennya. Tiga kali dalam seminggu, aku menemaninya mengajar di kelas. Lihat, betapa sibuknya aku yang keren ini, bukan? Jadi, berhentilah berpikir macam-macam tentangku. Aku tidak akan meninggalkan "ini" karena berkatnya lah aku menjadi seperti sekarang ini. Aku juga tidak berniat untuk mengabaikanmu, jika kau mulai berpikir demikian. 

Ndah, kau masih ingat dia, bukan? Bagaimana kabarnya? Apakah dia masih sibuk dengan praktik-praktik lapangannya? Bukankah tahun ini adalah tahun kelulusannya... bersama denganmu? Aku tidak tahu apakah aku dapat menghadiri pesta kelulusan itu. Aku ingin menitip salam untuknya, tapi sepertinya tidak mungkin. Oke, lupakan saja.

Kau mau cerita apa? Berceritalah sesukamu. Mungkin aku akan telat membalasnya, tapi aku pasti membaca semuanya tanpa terlambat. Ingat! Jaga kondisimu. Segera kabari aku, jika terjadi sesuatu.


Dewa.

Tuesday, 15 April 2014

Surat Ketidaksabaran untuk "Yang Tidak Bisa Dinanti dengan Kesabaran"

Heh! Apa kau tidak tahu kalau aku sangat menantikan balasan surat darimu? Kau ini jenius, bukan? Tidak mungkin kau tidak mengerti dengan isi suratku, bukan? Apa kau belum membacanya? Atau sengaja tidak ingin membalasnya? Ish! Kali ini aku tidak peduli, kau akan membalas surat-suratku atau tidak. Aku akan terus mengirimimu surat, meski kau tidak pernah menjawabku. Aku hanya memiliki waktu empat puluh menit lagi untuk menulis surat ini. Jadi, aku tidak akan berpanjang lebar seperti biasanya.

Oh, iya sebelum aku memulai bercerita, akun ingin meluruskan isi surat rinduku yang sebelumnya karena kau tak kunjung membalas surat bergambarku. Aku memang merindukanmu, aku sudah sangat jujur. Namun, aku pun sudah sangat jujur ketika bilang bahwa aku tidak menyukaimu dan kau belum masuk standar atau kriteriaku dan aku juga tidak ingin memantaskan diriku untuk memenuhi kriteriamu. Ingat ini baik-baik!

Oke, aku akan mulai bercerita. Aku harap kau tidak kaget ketika membacanya dan sepertinya memang tidak akan kaget. Ini tentang kecurigaanku terhadap tubuhku sendiri, yang pernah kuceritakan padamu, tahun lalu. Bulan lalu, akhirnya aku memberanikan diri menemui dokter Rizki, seperti saranmu...dan ternyata kecurigaanku benar. Aku tidak sedang berhipokondria, selama ini. Hahaha... Kau tidak kaget, bukan? 

Aku berbohong, jika aku berkata: aku tidak sedih. Namun, aku tidak bisa betul-betul bersedih. Kau tahu? Ini sakit, pasti. Namun, entah kenapa aku merasa puas karena dugaanku terbukti. Aku menang dan kau kalah. Aku merasa senang karena kau salah. Seorang jenius bisa salah juga. Hahaha.... Ha... Ha.. Ha... Aku masih belum memberitahukan ini kepada siapa pun, bahkan ke ayah dan ibu. Aku kira, aku masih bisa menahannya hingga hari kelulusan. Tentu saja aku tidak akan berdiam diri. Aku juga sedang mencari-cari orang baik bergolongan darah B yang mau berbagi denganku. Ternyata tidak mudah, hahaha. 

Aku belum tahu seberapa parah kondisiku. Namun, dokter Rizki bilang ini tidak sampai membuatku melakukan hemodialisis. Aku bersyukur untuk ini. 

Hmmm... aku sudah pindah rumah. Aku akan memberitahumu jika kau membalas surat ini. Tempat tinggalku yang sekarang lebih dekat dengan rumah kontrakanmu. 

Oh, iya. Aku juga ingin bercerita beberapa hal lain...tapi ini tergantung dengan balasan suratmu nanti. Aku mulai tidak sabar menanti jawabanmu. Aku mulai tidak sabar berbaik kata dalam surat-suratku kepadamu. Aku akan membuat kata-kata dalam suratku lebih sederhana agar kau tidak lelah membacanya. Aku akan terus bercerita.

Uhn... bagaimana proyekmu? Kudengar dari seseorang kau sedang sangat sibuk dengan proyek di wilayah timur? Di mana? Proyek apa? Waaah...aku senang pembimbingmu begitu baik dan mempercayaimu untuk membantunya dan melibatkanmu dalam proyek-proyeknya. Selamat dan semangat, ya. Aku akan sangat senang jika kau dapat lulus lebih cepat dari orang lain seperti yang kau inginkan. Beritahu aku lebih banyak kabar tentangmu, oke?



Dariku, 


yang tak sabar menanti balasan suratmu dan mengirimi lebih banyak surat lagi untukmu

Wednesday, 9 April 2014

Surat Bukti untuk "Kau yang Sulit Mengerti"


Aku hanya ingin memperlihatkannya sebagai bukti,
bahwa mentari senja yang perlahan tenggelam di sana juga indah,
bahwa semilir angin di sana juga memiliki kekhasan wangi,
bahwa ini adalah keindahan yang berkebalikan,
dengan yang ada dalam isi pesanmu tempo dulu,
bahwa apa yang kau katakan tidaklah selalu benar, 
bahwa logika dan pemikiranmu tidak semestinya dituruti selalu.

Apakah kau mengerti apa yang ingin kusampaikan?
Tidak mengerti, bukan?
Tidak ingat, bukan?

Baiklah, kali ini hanya ini yang dapat kukirimkan untukmu.
Bacalah gambar ini dengan sedikit menggunakan hati...


Dari yang sedang irit berkata-kata

Sunday, 6 April 2014

Surat Cinta dari Orang Alay untuk Orang yang Tidak Dikenal (superkocak)

Ohayou C***** alias Pak D**** ***** ******* J

Apa kabar? Semoga kerasan belajar **********-nya dan cepet jadi ****** yang disayang ******-nya. Aamiin…

To the point aja,
Aku ini bukan lagi sedang nembak karena aku juga tahu itu nggak mungkin sukses, ahaha. Semua tulisan ini hanya bentuk pemberitahuan perasaan soalnya udah dipendam lama (kayak di sinetron, ya? haha). Sebenarnya, Mama juga nggak memperbolehkan anak gadisnya berbuat hal nekad seperti ini… tapiiii….

Maaf, aku keras kepala karena aku menyukaimu sejak lama.

Surat Coklat dan Negeri Tadpolean (1)

Dear Chloe yang menjengkelkan,

Kau tahu, Chloe? Aku sedang sangat jengkel ketika menulis surat ini.

Hari Minggu itu, bahkan ketika matahari belum merangkul bumi, aku telah tengah menunggumu di depan stasiun kota. Pada surat yang terakhir, kau mengatakan bahwa kau tidak ingin aku telat menjemputmu, bukan? Aku menepatinya. Kota kecil ini masih berselimut dingin, ketika aku berangkat dari peternakan menaiki kereta kuda ayahku.

Kau tahu, kan? Hanya kereta itu dan Joice, kuda betina kesayangan ayah yang energetic, yang kupunya untuk berpindah dari rumah ke tempat lain. Sebenarnya, aku hampir meminjam mobil Ford merah milik Nyonya Roweena --tetanggaku yang sangat kaya dan baik-- hanya untuk menjemputmu. Aku tekankan sekali lagi, UNTUK MENJEMPUTMU! 

Surat Keheranan untuk "Yang Terlalu Sering Berpikir Kejauhan"

Hay...
Syukurlah jika kabarmu baik. Aku bingung dalam menanggapi keresahanmu dan kabar-kabarmu. Mungkin, jika aku harus mengabarkan kabarku aku akan berkata kalau aku baik-baik saja. Apakah ini menjawab seluruh isi suratmu? Aku tidak suka membaca tulisan dalam suratmu yang begitu panjang paadahal intinya sama. 

Tentang perjumpaan kita
Kukira beberapa minggu lalu kita berjumpa dan makan bersama. Definisi perjumpaan yang macam apa yang kau harapkan, sebenarnya? Pesta kembang api? Pesta pernikahan? Aku bahkan sudah lupa tentang itu. Tidak sekalian saja kau sebutkan tentang pesta teh botol, pesta rakyat, pesta panen dan yang lainnya? Kenapa kau kesal karena aku tak bersimpati? Lagipula kenapa aku harus bersimpati? Aku sungguh tidak dapat menangkap maksudmu. Apakah aku telah melakukan kesalahan? Perasaan, hanya begitu saja. Apakah kau hanya mampu mengingat setiap hal kecil yang tidak penting seperti itu? 

Sebenarnya, kita dapat berjumpa saat itu. Jika kau datang. Jika kau menurunkan sedikit saja kadar egomu. Aku cukup berharap dapat bertemu denganmu di saat itu. Namun, ke mana kau? Bersembunyi sembari menuliskan kalimat-kalimat yang mengisyarakatkan penderitaan? Jangan-jangan aku salah satu orang yang paling membuatmu menderita, hmm? Ah, kau menulariku cara berpikir yang seperti ini.

Tentang rindumu untukku
Terima kasih untuk rindu yang tersimpan untukku selama ini. Tentu saja, aku merasa cukup pantas dirindukan sesungguhnya. Pesonaku yang keren memang selalu membuat orang-orang mudah merindukanku. Namun, kau cukup berani menuliskan surat semacam itu untukku, di sini. Apa kau cukup punya stok keberanian untuk menahan malu yang akan kau tanggung jika banyak orang yang berpikir macam-macam untukmu? Mungkin, yeah...kau benar. Sulit bagiku untuk merindukan kau atau yang lain. Kenapa? Karena aku tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal seperti itu atau merasakan rasa-rasa yang tak penting semacam itu. 

Kau tahu sendiri, aku pandai bukan? Kau pikir, aku pandai tanpa usaha sama sekali? Sejenius apa pun aku ini, aku perlu memusatkan perhatian untuk studiku. Kau pikir aku sedang bermain dengan hal lain? Aku bukan sepertimu, yang kelebihan waktu luang, hingga kebingungan menghabiskannya. Tch! Apakah kau kelebihan waktu luang atau memang meluangkan waktu terlalu berlebihan? Sepertinya, kau yang bermasalah, bukan aku. Kau terlalu memikirkan urusan orang berlebihan, termasuk urusanku. Mungkin, kau perhatian, tapi mungkin lebih baik kau menyalurkan perhatian itu untuk hal-hal lain yang lebih krusial. Aku heran, sungguh heran dengan cara berpikirmu. 

Tentang kau yang tak menyukaiku dan aku yang tak memenuhi standarmu
Sepertinya kau memang menyukaiku. Kenapa kau masih berkilah? Kau bilang aku tak memenuhi standarmu. Namun, apa kau pernah berpikir tentang dirimu sendiri, apakah kau sudah cukup memenuhi standarku, bahkan untuk hanya sekadar menjadi perindu. Kau menyebutku orang yang tak pantas untuk dirindukan. Namun, apa kau sudah cukup pantas untuk merindukanku? 

Maaf, jika balasan surat yang kuberikan tidak sesuai dengan harapanmu, jika isi tulisan ini justru seperti semacam serangan balik untukmu. Aku hanya ingin kau berubah dari segala pikiran-pikiran itu, yang negatif, yang tidak penting sama sekali. Meski kuakui, aku hampir tak menyangka akan ada orang yang memperhatikanku dan merindukanku hingga sebegitu besarnya, di saat aku bahkan mungkin mengingat tentangmu pun tidak. Namun, yakinlah...bahwa kau jauh lebih baik dari sekadar melakukan hal-hal tidak jelas ini. Sadarlah... Jalani sisa studimu dengan benar. 

Dariku yang terlalu heran denganmu yang terlalu berpikir kejauhan,

PS: Lain kali, kirimkanlah pesan (hanya) yang bermanfaat. Aku tidak suka membaca tulisan panjang dan harus membalasnya dengan tulisan yang panjang juga. 

Saturday, 5 April 2014

Surat Rindu untuk Kau yang Tak Pantas Dirindu

Hey, apa kabar?
Aku ingin menyampaikan kabarku, bahwa aku baik-baik saja di sini. Aku mendapatkan asupan makanan yang cukup, hiburan dan rekreasi yang tidak kurang, porsi tidur yang justru berlebihan dan kebebasan yang cukup tak pernah membuatku ingin melarikan diri dari dalam kamar kost-an. Aku sungguh termanjakan dengan kehidupanku saat ini, meskipun kuakui...aku mulai was-was dengan nasib studiku.


Kapan terakhir kali kita berjumpa?
Apakah ketika pesta kembang api tahun lalu? Oh, tidak. Tidak mungkin, aku ingat betul kalau kita batal menontonnya bersama. Kau bilang kau ingin berlayar pulang dan aku tidak mungkin memintamu untuk tetap menemaniku. Padamu aku menyebut nama seseorang yang kita sama-sama kenal, "Aku akan pergi ke pesta kembang api itu bersamanya." Berbohong? Pada saat mengatakannya, aku belum yakin jika aku sedang berbohong karena memang pada awalnya dia akan menontonnya juga. Kukira, aku akan berjumpa dengannya di pesta itu. Namun, ternyata, kami tidak saling lihat batang hidung masing-masing. Alhasil, aku pun menonton sendirian. 

Mungkin, kau tidak tahu, aku beberapa kali bercerita pada teman kerjaku bahwa aku akan menontonnya bersamamu sehingga aku menolak untuk pergi bersamanya dan satu orang yang lain. Aku sedikit kesal sekaligus malu ketika kau bertanya, "Jadi datang? Dengan siapa? Kirimi aku fotonya." Jika aku menjawab jujur tentang aku yang datang sendirian, aku akan malu karena aku semacam telah berbohong dan terkesan ngotot keterlaluan untuk datang ke acara yang penuh orang itu, sendirian. Jika aku tidak menjawab jujur, aku tidak nyaman. Akhirnya, aku menjawab bahwa aku sendirian sembari menyisipkan pesan ajakan (tanpa harapan) agar kau datang turut menyaksikan karena pestanya baru akan dimulai dalam setengah jam. Sudah pasti kau menolak. Namun, yang membuatku kesal adalah kau sama sekali tidak bersimpati padaku yang betul-betul sendirian. Tahu begitu, aku mengajak orang yang lain juga, tak hanya kau.

Jadi, kapan terakhir kali kita berjumpa yang sebenarnya berjumpa? 
Sepertinya, perjumpaan terakhir kita justru setelah pesta kembang api itu, di sebuah pesta yang lain, di pesta hajatan seseorang, yang sama-sama tidak kita kenal. Saat itu, kau bilang bahwa kau baru saja mendaki bukit yang tak tinggi bersama beberapa orang temanmu. Kalian tak jalan kaki, tapi ini bukan tidak melelahkan juga, katamu. Aku sudah tahu tentang perjalananmu itu dari seorang temanmu, maka aku hanya menjawab, "Aku tahu kok!" dan berakhirlah semua percakapan kita. Hari itu, kita tidak hanya berdua dalam menyaksikan sebuah perayaan sakral, peresmian menyatunya dua insan yang penuh cinta itu. Di saat itulah aku mencurigai satu hal bahwa kau sedikit mampu membaca gerak-gerikku. Sejak itulah, aku ingin menjaga jarak agar kau tidak mampu membacaku, agar aku tidak dapat memunculkan tanda-tanda padamu. Namun, aku bukan penepat janji yang baik. Aku masih belum mampu menjaga tekadku ini dengan baik, sebaik kau, yang justru telah mampu menjauhkan dirimu dari "ini" dengan baik, untuk mendekatkan diri dengan hal lain yang lebih baik dan menarik dari "ini", katamu. 

Mengapa rindu?
Ini adalah pertanyaan yang akan sulit untuk kujawab. Aku tidak memiliki alasan yang pasti, yang mendasari segala perbuatan tidak sopanku, merindukanmu, selama ini. Satu hal yang jelas adalah karena aku "hanya" penasaran. Aku hanya ingin tahu apa yang sedang kau pikiran dan lakukan; hanya ingin memastikan kau sedang dalam kondisi superbaik dan tidak kesepian; hanya menginginkan kau tidak hilang dan membenci keadaan yang timbul akibat apa yang sudah terjadi dan kau jalani di masa-masa itu; hanya ingin tahu bagaimana kabarmu. Apakah ini pantas disebut sebagai sekadar "hanya"? Percayalah, aku hanya merindukan keceriaanmu. Kerendahan hatimu yang kau gunakan untuk membalut kepandaianmu dan menyajikannya dalam humor dan tawa adalah hal yang tak ingin kulewatkan ketika tengah berada di satu tempat yang sama denganmu. Kukira itu ada padamu yang dulu. Itulah yang kurindukan. Keceriaanmu yang kau tampakkan pada semua orang. 

Mengapa kau tak pantas dirindu?
Ini pertanyaan sangat mudah, tetapi aku sedikit tidak rela untuk menyuarakan atau menuliskannya. Aku tengah merindukan seseorang yang bahkan dia sendiri tengah merindukan orang lain dalam waktu cukup lama; yang bahkan dia sendiri tidak mengizinkan dirinya untuk dirindukan oleh orang lain; yang bahkan dia sendiri tak pernah merindukan orang-orang yang selalu berada di sampingnya. Bukankah ini sebuah rindu yang tak terbalas? Bukankah sebenarnya kau adalah sosok yang tak pantas untuk kurindukan?

Lalu mengapa tetap menulis surat rindu ini?
Jika kau menganggap surat ini adalah sebuah wahana mencari perhatian dari orang-orang, maka kau salah. Aku hanya ingin membahasakan rinduku dengan rapi. Jika aku tak diizinkan untuk bercerita tentangmu pada sesosok manusia, sebuah dosakah jika aku menceritakan kerinduanku di sini? Bukankah hanya aku sendiri yang akan bertanggung jawab dengan tulisanku sendiri? Lalu, mengapa ada saja orang-orang yang berisik membicarakan setiap hal yang kutuliskan? Aku sudah hampir tidak tahu bagaimana caranya bersuara dan bercerita karena kukira ini akan lebih baik untukku dan orang-orang yang pernah mendengarkanku. Akankah aku juga diharamkan untuk menulis di wilayahku sendiri, bahkan untuk sekadar menulis surat rindu untukmu? Terkadang, aku heran mengapa aturan manusia, terkait hal-hal yang sebenarnya tak perlu diatur, begitu banyak. Dan lagi, apakah aku masih salah menuliskan ini?

Hey, siapa kau sebenarnya?
Aku sungguh belum mengenalmu dan ketika aku mulai ingin mengenalmu, kesempatan itu telah hilang dan aku tidak tahu, akankah Dia hadirkan lagi atau tidak. Sejauh ini, aku hanya mengenal namamu, sedikit kepandaianmu, sedikit caramu memperlakukan orang-orang di sekitarmu, sedikit langkahmu dalam menyelesaikan permasalahan orang lain. Hanya itu dan aku ingin tahu lebih tentangmu.

Apakah aku menyukai atau bahkan mencintaimu?
Ayolah, apakah rindu selalu sama dengan cinta? Bisa jadi, dia adalah prasyarat cinta, tetapi sudah lama aku memantapkan keputusan bahwa rasa rindu dan penasaran ini tidaklah sama dengan cinta. Lagipula, kau akan terkejut jika kau tahu satu janji rahasiaku tentangku sendiri, tentang rahasia besarku tentang masa depan, ujung kisah cintaku. Saat ini kau bahkan tak masuk ke dalam jajaran kandidat yang kumau karena aku tahu, dengan perangai dan pemahamanmu saat ini, kau bukanlah orang yang cocok dan mau menerima janjiku. Jadi, berbahagialah kau bukanlah orang yang sedang kucintai, meski kau adalah salah satu orang yang kurindukan dan membuatku nyaman (dulu kala). 

Ah, sudah panjang surat ini dan terlanjur lemah baterai laptopku. Kuakhiri surat rindu ini. Akan kusambung dengan surat berisi rindu-rindu lain, nanti-nanti.

Selamat pagi, selamat menempuhi rute barumu.


Salam rindu dariku, hey!

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...