Showing posts with label Daily. Show all posts
Showing posts with label Daily. Show all posts

Thursday, 15 June 2017

Lebarannya Owlet

Assalamu'alaykum, bloggie...

Awawawawaw!!! Ohisashiburiii!!! Ahahaha...

Well, hari ini, Rabu 14 Juni 2017, si Owlet yang sedang dipakai untuk mengetik ini akhirnya di-install ulang. Jeng! Jeng! Jeng. Kemarin Selasa (13 Juni 2017), dia diperiksa oleh dokter Ais dan dia divonis bahwa jeroannya sudah tidak sehat. Kondisi kesehatan Hard Disk dia sudah betul-betul 0%! Ya, saudara-saudara NOL! Dia menggunakan software entah apaan yang memang bisa digunakan untuk mendeteksi kondisi komputer. Baru tahu juga saya, ada hal macam itu di dunia ini *plak! gaptek!*

Awalnya, saya hanya ingin install ulang biasa saja agar kinerjanya tidak terlalu berat, plus saya memang ingin meng-install aplikasi skype untuk suatu hal *haha*. Namun, malah jadi ketahuan ini itunya gegara pasca dilakukan install ulang oleh Ais, laptopnya lemotnya minta dilempar. Kata dia, HD-nya sudah tua dan parah. Kalau tidak segera diganti bisa-bisa malah jadi mati total dan data-datanya tidak tertolong. Entah mengapa, saya tidak terlalu terkejut mendengarnya. Mungkin, memang sebenarnya otak saya sudah sejak lama menanti datangnya hari ini *plak!*. 

Sedih jelas, sebab mau tidak mau saya harus mengalokasikan dana yang pastinya tidak sedikit (ganti HD internal wooooi!) untuk mengurusi segala ini itu. Namun, di satu sisi saya bersyukur, saya mendapatkan kabar ini sejak dini dan saat sedang berasa di kampung sendiri. Uwahahaha... Setidaknya biaya service beginian di sini lebih terjangkau dibandingkan di Depok (baca: harga tetangga).

Rabu pagi tadi, akhirnya saya mengkontak Mas S, si tetangga yang biasa dimintain tolong untuk membetulkan ini-itu yang berhubungan dengan gadget dan elektronik. Orangnya termasuk golongan hi-tech  gitu kalau di kampung saya (WOI! FOKUS CERITANYA WOI!). Singkat cerita, Mas S datang ke rumah dan mendengarkan curhatan saya: "Mas, dia lemot. HD-nya kata Ais harus diganti. Terus, ini engselnya mangap-mangap, kayaknya sekrupnya copot atau gimana. Terus, nanti minta dibersihin biar kipasnya berfungsi dan nggak panas lagi. Oh iya, minta tolong beliin case juga buat HD internal yang udah tua, biar cantik."

Kurang dari 5 menit durasi curhat saya dan beliau pun langsung mengerti. Sepertinya, beliau memang sudah paham dengan perilaku saya yang semena-mena terhadap laptop sendiri. Setiap pulkam, pasti adaaaa aja yang harus di-service laptopnya. Ahaha (padahal, memang sengaja menunggu saat pulkam untuk ngebetulin segala kerusakan si Owlet, hehe). Setelahnya, si Owlet pun segera dibungkus masuk karung ransel beliau dan dibawa ke kantor (?) beliau untuk segera digarap sesuai curhatan saya. Seharian ini, saya bermeong-meong tanpa Owlet.

Malam, setelah jam tarawih. Si Mas S mengirimi saya SMS yang isinya mengatakan bahwa Owlet sudah sembuh, Alhamdulillahi robbil'alamiin... Dia berhasil menjalani operasi cangkok HD dengan sukses (merk WD, 500 Gb. Sebenarnya, pengennya diganti jadi yang size-nya 1 Tb, tapi kata Mas S susah dapatnya dalam waktu dekat, heuheu). HD yang tua pun diberi baju. Engsel Owlet pun dibetulin sehingga body-nya tidak mangap-mangap lagi ketika monitornya digerakkan. Jeroannya pun tak luput dalam memperoleh treatment dan si kipas sudah nyala kembali. Sebagian besar driver sudah di-install-kan sehingga saya tak perlu repot-repot lagi, Yuhuuu...

Yang paling membuat saya senang adalaaaaah...
"OWLET DAPAT TERKONEKSI KE WI-FI LAGI. TIDAK HANYA TETHERING HANDPHONE, TAPI KE SEGALA WI-FI. KE WI-FI RUMAH JUGA BISA. BAHKAN TAK PERLU DUDUK DI DEKAT MODEM-NYA, DARI KAMAR PUN BISA CONNECTED. BETUL-BETUL BAHAGIA SAYAAA... :D"
Akhirnya, hari ini berakhir happily: data saya terselamatkan, si Owlet sudah lebih sehat kembali (seperti 80% baru, ahaha), dan yeaaay... SAYA BISA NGENET PAKAI LAPTOP LAGI. Kalau di Depok bisa tembus 1 juta rupiah kali. Install ulang doang aja bisa ditarik minimal 50 ribu rupiah. Ini di kampung, saya habis 800 ribu rupiah untuk keseluruhan biaya barang dan jasa. Over all, saya rela dan ikhlas tak beli baju lebaran, asalkan si Owlet jadi sebegini fungsionalnya. Tak cuma manusia yang bisa lebaran, yang bisa kembali ke fitri, si Owlet pun berhak merasakannya. I love you Owlet! Semoga kamu sehat-sehat terus ke depannya. Yuk, kita berjuang bersama lagi! :) 

Monday, 31 March 2014

Saya Suka, tapi Tidak Suka

Saya menyukai banyak hal. Saya ingin dapat melakukan banyak hal. Saya ingin belajar dan berlatih untuk dapat melakukan banyak hal itu. Namun, saya tidak tahu...setiap saya mulai mencoba saya merasa tidak pantas dan tidak memiliki dorongan semangat untuk terus melakukannya.

Saya suka menari. Namun, setiap kali saya bercermin saya pasti akan tersadar bahwa saya tidak memiliki modal untuk menjadi seorang penari, bahwa kesukaan saya dalam menari tidak seharusnya untuk dipertontonkan kepada orang-orang, bahwa meski saya berusaha sekeras apa pun untuk menari di pentas, saya tidak akan mampu menari dengan bahagia... karena saya tidak membiarkan diri saya untuk dilihat oleh orang lain. Sudah banyak kali saya menari, terhitung sejak kelas 3 SD. Tari tradisional, tari India, tari kontemporer, dan tari-tari yang lainnya... Namun, untuk apa saya menari? Apakah untuk dilihat? Tidak. Saya hanya suka ketika melakukannya bersama dengan yang lain. Saya suka melakukan gerakan indah dengan baik dan tepat dan saya benci tingkah laku saya dilihat oleh orang. Pada akhirnya, sebagian besar alasan menari saya adalah untuk pemenuh kewajiban atau pelengkap suatu acara pentas karena tidak ada satu pun orang lain yang mau melakukannya. Mungkin terlihat pas, saya suka menari dan tidak ada yang mau menari. Saya dapat menari untuk mengisi kekosongan itu. Namun, saya tidak suka terlihat. Saya pun tidak mampu menari dengan bahagia. Setelah selesai menari pun, saya tidak pernah dihadiahi dengan senyuman. Tidak, tidak...tidak usah diberi pujian karena saya sangat tidak suka dipuji, apalagi yang berlebihan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Kasihan mereka berbohong untuk kesia-siaan. Bukan, bukan tidak ikhlas juga dalam melaksanakannya, hanya saja saya bingung mengapa saya betul-betul melakukannya?

Saya suka menulis. Namun, ya seperti inilah tulisan saya. Tidak bermutu, tidak berkualitas. Menulis pun kurang konsisten. Meski saya sudah tahu minat saya ke tulisan fiksi, tetapi topik, tema dan inti ceritanya tidak banyak yang berbeda. Hwoaaah. Beri saya waktu untuk mengembangkannya. Ah, saya tengah berkata kepada siapa sebenarnya? Awang-awang? Langit-langit kamar? Pembaca? Hmmm...siapa yang pernah membaca cerpen-cerpen saya? Hampir tidak ada. Iya, iyalah. Kapan saya menulis cerpen? Setahun sekali pun belum tentu. Masih pantaskah saya mengaku suka menulis? 

Saya suka membantu terlaksananya sebuah acara. Namun, saya tidak suka berada di dalam keramaian pelaksanaan acara-acara tersebut. Saya tidak suka terlihat dan dilihat dan saya tidak punya alasan yang tepat untuk menjelaskan ketidaksukaan saya yang satu ini. Inilah yang membuat saya suka berorganisasi atau mengikuti suatu kepanitiaan, tetapi saya tidak suka menghadiri pelaksanaan acara besarnya. Saya akan memilih menjadi pembantu di belakang layar. Saya sangat menyukai menjadi pemanjat tangga dibandingkan pengisi panggung. Saya sangat menyukai merencakan suatu pementasan daripada memberikan sambutan. Saya sangat menyukai berkeliling kota mencari kebutuhan acara dibandingkan harus menyapa satu per satu tamu yang datang. Saya tidak suka bertemu dan menyaksikan banyak manusia... Mereka membuat saya pusing dan mual.

Saya suka musik. Namun, saya akan berhenti memainkannya ketika ada orang yang mulai memuji. Bagi saya, pujian adalah sindiran secara halus. Oleh karena itu, saya lebih memilih bermain ketika sendirian, bermain ketika tidak ada orang yang memperhatikan dan bermain hanya untuk diriku sendiri. Saya memang suka bermain musik, tapi saya tidak pandai bermain musik. Inilah yang membuat saya sebal ketika ada orang yang bilang bahwa saya pandai bermain musik. Apa yang saya lakukan adalah hal-hal yang dapat dilakukan orang lain. Meski demikian, jika ada orang yang mau mendekat dan bernyanyi bersama, saya akan menyukainya. Asalkan dia diam dan tidak memuji dengan hal-hal yang benar. Saya bersedia membagikan apa yang saya tahu tentang musik, tapi saya akan berhenti berbagi dengannya ketika dia bilang saya jago atau sebagainya. Ada yang salah dengan saya? Biarkan saja. 

Saya suka menggambar. Namun, ini tidak konsisten. Saya hanya penjiplak. Saya menggambar dengan melihat contoh objek yang akan digambar. Imajinasi saya sebetulnya sangat buruk. Sama seperti yang lainnya, saya tidak suka diberi pujian untuk gambar-gambar saya, meskipun saya suka memperlihatkan gambar-gambar saya. Saya hanya suka meminta saran, bukan diberi pujian. Namun, uhn...entahlah.

Saya suka fotografi. Namun, saya sadar diri dengan apa yang saya miliki saat ini, saya belum dapat memenuhi keinginan berburu dan berbagi foto yang bagus. Meski demikian, saya cukup suka membagi satu, dua foto meski tak beresolusi baik, setidaknya tak banyak diedit. 

Saya suka desain dan film. Namun, ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kuliah yang saya geluti. Pantaskah saya tetap penasaran dengan desain dan perfilman?

Saya suka drama. Saya sangat suka menyaksikannya maupun melaksanakannya. Beberapa kali saya pernah menjadi sutradara atau penulisnya atau sebagainya. Namun, saya tidak memiliki cukup potensi menjadi pemimpin dan penyampai gagasan yang baik. Alhasil, saya menjadi sutradara yang buruk. Meski demikian, saya tetap suka menonton drama. Ini menyenangkan melihat orang bersandiwara di atas panggung secara langsung.

Saya suka melakukan banyak hal...tapi saya tidak memiliki cukup keberanian untuk menjaga kesukaan saya... Saya merasa tidak pantas melakukan semua hal karena terlalu sering dikomentari di belakang dan dipuji berlebihan di depan. Saya tidak suka. Saya tidak tahu, mana yang sebenarnya benar-benar pantas saya lakukan karena ini...

Tuesday, 1 March 2011

Awal Maret

Subhanallah... Ini awal Maret??? Wah! Pokoknya saya bertekad akan menuliskan apa yang terjadi lima belas terakhir ini.... Why? Buat hadiah ulang tahun saya di tanggal 15 nanti.... Yeeeey! Seumur-umur belum pernah kasih hadiah spesial buat diri sendiri pas ulang tahun... hohoho...

Awal Maret ini saya awali dengan bangun karena kaget, yeah... *piiiip* adalah alasan pertama, sedangkan alasan lain yang tak kalah penting adalaaaaaah... jeng-jeng! Quiz IPU! Yaaa gitu deh, malamnya saya tidur sangat awal, alhasil IPU pun terlewatkan. Udah biasa sih sebenernya...

Hnn... Maret ini saya awali dengan kesibukan. Haha... jarang-jarang nih seorang Ani jadi orang sibuk. Kuliah jam 8, nyampe FKM jam 08.02, PKIP. Datar. Belajar IPU pun ngga masuk. Akhirnya, duduk-duduk aja di bangku paling belakang. Kaki pegal-pegal, tangan pun tak mau kalah pegalnya. Tangan kanan saya bahkan saya pukul-pukul dengan tangan yang lain, bermaksud mengurangi rasa sakit. Namun, yang terjadi malah tambah linu aja kayaknya, ckckck... PKIP terburuk, tanpa meninggalkan satu goresan pun di note kuliah saya. (sedikit bocoran, semester 2 ini, saya lebih rajin menulis, hoho).

Lanjut... MPK Bahasa Inggris. Sayaaa... masuk kelas tentunya. Dosen dateng telat seperti biasanya, dan saya duga akan selesai cepat seperti biasanya juga. Entah kenapa saya menyukai dosen ini. Yeah, kami dituntut aktif ngomong tentunya. Namun, asyik aja sepertinya. Everything's changed to be a game! Contohnya: Kata Berkait... Oh iya ini adalah salah satu contoh kalimat yang terbentuk dari hasil olah kata mahasiswa FKM UI 2010 kelas D.206 hari Selasa jam 10.00-12.30 (tidak termasuk telat masuk, dan keluar cepet): "My university is great in Indonesia since last year among the globe, Thank You!" Apaan coba maksudnya??? Ahahahaha... Padahal pas pertemuan ini, kita itu lagi mbahas tentang preposisi dan sang dosen menyuruh kami menggunakan kata-kata preposisi.... dan hasilnya? Thank You!!! Ahaha... Zaky Amiyoso! Saya tidak akan melupakan Anda, kecuali saya amnesia tentunya.
Oh iya, tadi saya ngomong kalau dosennya telat ya? Iya... gara-gara nunggu kelamaan saya jadi bosan. Akhirnya, saya memutuskan untuk menaikkan layar. Eh, setelah ditarik-tarik, ternyata layarnya nyangkut. Ah, saya kecewa! Layarnya cuma nurut sama Pak Dosennya.... Akhirnya lagi, saya duduk termenung menikmati kaki-kaki pegal saya.

Kantin... Akhirnya, Dila mengutarakan pikirannya... bahwa saya aneh hari ini! Saya jadi ngga begitu cerewet dan nyolot aja... Yeah! Andai kau merasakan kepegalan yang bikin mules mata dan bikin nangis ini. Huks! Jadi merasa bersalah sama Indah yang sedari tadi saya marah-marahi... Aduh! Payah deh emosi saya! Labil!

Yeah! Kepegalan ini masih berlanjut...hingga tiba saatnya GL Nurani! Grand opening Nurani X+1, Teman Sejatimu, Allohu akbar! (sekalian jargonnya, hehe). So... yaaa, biasa aja sih menurut saya. Saya ngga terlalu menikmati, mungkin karena masih kepikiran nasib Quiz IPU mau gimana kali ya??

14.48, Nurul mengajak keluar aula gedung G...untuk menuju aula A yang letaknya di ujung nun jauh dari gedung G. Iya sih, bener! IPU dimulai jam 15.00. Check out!! (lho?). Quiz!!!!! Jeng-jeng! Akhirnya...sampailah kita ke saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan Ani ke depan pintu aula A yang susah dibuka. Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa dan dengan didorong oleh keinginan mencontek, akhirnya saya sedikit bertanya untuk memastikan jawaban saya kepada Dila. zzzzzz..... ah, kapan mau jujur??? Besok deh pas Ujian Semester dan Tengah Semester aja, seperti biasanya... he, Quiz mah, namanya juga Quiz, ya have fun dan dapat hadiah dong seharusnya...

Persis saat saya sedang menulis paragraf ini, saya ingat kata Anti. Kata Anti saya terlalu suka curhat dan bercerita di tulisan, sekali-kali cerita sama orang dong. Ntar stres. Nah, saya bingung kalau mau cerita...kemampuan verbal saya, saya akui sangat jelek. Kalau cerita pun garing dan tidak menarik. Hal ini membuat beberapa teman paguyuban 2010 tampak rada males ngomong sama saya. Yeah... ini karma juga kali ya? Saya selalu menuliskan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi mereka mungkin. Alhasil, saya pun dianggap aneh. Namun, maksud saya menuliskan komentar-komentar dan post-post itu adalah... buat introspeksi, eh malah kayaknya seperti benalu, parasit, sampah atau temannya lalat kali. Dianggurin gitu. Yeah... mungkin cuma Iam dan Kyu yang selalu ngerespon. Widya juga, ya walaupun saya selalu merasa agak sedikit ngga cocok sedikit banget sama Widya.
Ernnn..... hal ini juga yang mendorong saya untuk ngga terlalu mendukung dia. Tadi saya bertemu dia di kantin asrama dan dia mulai membicarakan tentang urusannya, tentang dia yang belum punya massa.... Yah! Tolong deh, biar punya massa Anda seharusnya mendekati mereka, meyakinkan mereka bahwa Anda memang bisa dan berkompeten. Alih-alih pdkt, Anda ini...muncul aja di kumpul-kumpul terakhir aja. Udah gitu ngga mau ngomong sama orang-orang semacam saya lagi. Ya sudahlah... memang begitu adanya.... Yeah, cuma menambah dosa saya. Astaghfirulloh...

PKD, di MUI... Saya suka menonton film yang diputarkan oleh kak Agung....

Besok Quiz Anfis... dan saya sudah sangat capek hari ini... Saya ngga mau badan saya rusak esok hari, jadi saya lebih memilih tidur daripada belajar malam ini. Semoga saya bisa bangun lebih pagi dari pagi ini dan memulai ringkasan Anfis dengan penuh suka cita dan keikhlasan...


Wednesday, 5 January 2011

My Lovely Sister


Yeah... Ini adek gue! Namanya Zahra Nurussyifa. Ini nama yang bikin gue lho, bagus kan? Ahaha... Zahra means flower, while nur means light, and syifa means obat. So, kalo diartiin kurang lebih adaladh: Bunga Cahaya Pengobat (Nah lho? Kebayang ngga, kayak apa tuh obat?? eh bunga? haha)

Semua orang panggil Yaya (sebenernya sih gue yang meksa semua orang suruh manggil dia Yaya, biar lucu sih, lagian dia dulu cadel sih waktu umur satu tahun, ya iyalah!!! haha)

Yaya selalu bisa jadi obat buat gue. Yeah, just like her name. Kenapa? Setiap gue lagi kesel, jengkel, marah dan pengen mbanting bantal ke muka ayam-ayam peliharaan Mama gue (sejak kapan emak gue pelihara ayam? adanya juga bebek), gue pasti ngga jadi kesel, jengkel, marah dan pengen mabanting bantal ke muka ayam (mumpung di blog bukan LTM, mau alay ah! haha) setiap lihat muka dia. Innocent banget!!! Dia begitu tampak dewasa, lebih dewasa dari gue. Dan kalian tahu berapa umurnya?? Baru 6 tahun... Gue mah waktu segitu masih suka nangis guling-guling kalo ngga dibeliin es krim.
Dulu, waktu dia masih bayi, the real bayi lah, gue sama Ais, adek pertama gue, berduel dengan asyiknya, hingga membuat gaduh seisi rumah. Entah kenapa si Yaya tiba-tiba mukanya jadi manyun-manyun mau nangis, dan beberapa detik kemudian dia nangis tanpa suara. Kasihan deh...akhirnya gue sama Ais berhenti bertengkar lalu menonton si Yaya yang nangis tanpa suara...oops, maksudnya berhenti bertengkar karena kasihan dan malu pada si Yaya. Ngga cuma saat itu aja, setiap gue sama Ais, atau sama Bapak atau Mama mulai berselisih paham, si Yaya langsung nangis-nangis gitu... Bener-bener deh, nih anak udah jadi cahaya di keluarga kami... Love you so much, Dek!!



Layaknya anak kecil biasa, si Yaya doyan main. Sejak bayi, dia jarang banget nangis. Bahkan saat gue ngga sengaja ngelukain jidat dia sampai berdarah-darah kayak drakula (??), dia cuma nangis beberapa detik, lalu tidur lagi. Gue ngga inget jelas berapa umur dia, tapi kayaknya belom ada dua bulan sih. Dia juga penurut, kalo lagi mood. Terus gampang banget kenal sama orang. Supel dah. Hingga suatu hari, seorang ibu-ibu gila lewat di depan rumah. Yaya lagi mainan pasar-pasaran di halaman. Si ibu baik hati dan ramah yang sayangnya gila itu mendekati Yaya, dan mau menggendongnya. Yaya yang notabene anak baik dan penurut serta ngga mudah curigaan (ini penurut apa rada bego sih Yaya? *dilempar drum minyak sama Mama*), sontak mengulurkan tangan-tangan mungilnya ke si Ibu baik hati dan murah senyum tapi gila dan berniat menculik. Untung Mama segera dateng dan dengan kekuatan bulan segera menghukum si Ibu murah senyum tapi gila yang gagal menculik anak. Ngga menghukum kok, cuma melotot dan komat-kamit ngga jelas. Si Ibu yang notabene tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar, mana yang ancaman mana yang hiburan, malah tepuk tangan kegirangan sambil nyanyi lagu pelangi-palangi. Yaaa...sudahlah, hari itu Yaya kecil yang baru bisa jalan terselamatkan.

Sejak saat itu, Mama gue jadi over protective dan lebih sering mengajak Yaya main di dalam rumah. Toh teman sebaya Yaya di lingkungan kami sedikit. Jadilah Yaya si anak pingitan (hah???)


Seperti namanya, Zahra, yang berarti bunga, Yaya sangat menyukai tanaman, bertanam lalu merusak sendiri hasil tanamannya. Pernah suatu ketika Mama membiarkan si Yaya yang mulai mengenal nama-nama tumbuhan untuk bermain di taman dalam di dekat kolam. Mama sangat senang, putri bungsunya ini menuruni hobinya, menanam dan mengelus-elus bunga. Mama lalu pergi ke dalam rumah mengerjakan tugasnya sebagai Ibu Rumah Tangga yang baik (I love you Mom!). Beberapa menit kemudian, saat Mama menengok Yaya yang dikira sedang bercocok tanam, terlihatlah pemandangan mengerikan di mana salah satu tanaman kesukaan Mama gundul dengan naasnya dipangkas seluruh daunnya oleh Yaya. Lemes deh Mama. Parahnya lagi, tuh daun pohon dibikin main masak-masakkan dan hampir nyuruh Mama nyicipin hasil masakannya itu. Dasar bocah!

Belakangan Mama berpikir kalo Yaya tidak berpotensi sebagai pembudidaya tanaman, melainkan pembawa berita karena dia kalo cerita bener-bener jujur, aktual tajam dan terpercaya mirip Rosiana Silalahi. Sedangkan Yaya sendiri mengaku dirinya adalah seorang guru TK, bukan presenter berita.

Terserah deeeh... Pokoknya besok aku mau pulang dan ketemu Yayaaaa.... yeeey!!! Haha...

Saturday, 1 January 2011

Abstrak, Ngga Ngerti Jelas...

Ini tahun baru
Ada dua angka kembar di tahun ini
Aku menemukan tantangan berganda menghadang di depan mata
Tentang mencangkul ilmu
Tentang bermain bunyi-bunyian
Tentang sekelompok pasukan
Tentang paguyuban
Tentang komitmen
Dan tentang-tentang lain yang tak bisa kuhitung dengan gabungan jari tangan dan kakiku sekali pun

Yeah... Ini tahun baru
Aku bertekad membabat habis disiplin ilmu tertentu
Semangatku berapi-api untuk menjadi seorang jenius
Jenius memainkan isi kepalaku juga pukulan tanganku
Oh My... Sungguh aku ingin menjadi seperti kakak ituuu...
Dua di kanan, dua di kiri
Lalu menari tanpa beban berarti...
Ingiiiiiiin...

Waw! Ini tahun baru???
Aku ingin segera mencari tahu kebenaran sastra
Keistimewaan sastra
Kelurusan serta kemiringan sastra
Aku ingin mengeksekusi beberapa milikku
Lalu mempertemukan mereka dengan ujung-ujung yang menyimpul
Wieew! Ingin sekali melihat mereka terpampang..

Iya! Ini tahun baru...
Akhir Desember
Aku akhiri dengan menyaksikan kemegahan kemenangan salah satu milikku
Melihat mereka mengangkat piala
Menciumi benda berlapis sedikit emas
Dikalungi benda bulat yang memancarkan aura kemenangan
Yah, mereka memang menang
Hadiah tahun baru terbaik untukku,
dengan melihat senyum dan air mata memolesi warna-warni wajah mereka

Benar-benar tahun baru ya?
Iya aku yakin sekarang
Hampir dua belas jam aku terbaring
Sesekali bangun melihat sekeliling
Ragu-ragu bermimpi
Lalu terlelap lagi tanpa pikir-pikir


Capek berlari dalam dunia tak terpijaki
Aku terjaga
Lantas meraih ember mandi
Kurasakan dinginnya air tahun baru
Iya ini bukan mimpi
Make A Wish!!!
selamat tahun baru
aku memulai catatan ini....

Hoaaam...
Oyasuminasai...

Friday, 24 December 2010

About Pisces (Cause I'm a Pisces Girl)

1. #Pisces emotions are the most valuable to them and they will do what ever it takes to avoid emotional pain.
--> Bagi seorang Pisces, emosi adalah hal yang paling berharga bagi mereka, dan mereka akan melakukan hal apa pun yang mereka ambil untuk menghindari rasa sakit emosional. (yeah, I think it's the real me)

2. However do not be fooled by a #Pisces weaknesses for they are excessively intuitive and observant of what you do.

--> Namun, jangan terkecoh dengan kelemahan seorang Pisces karena mereka terlalu intuitif dan jeli terhadap apa yang kamu kerjakan. (Yeah, saya pengamat ulung, saya suka memperhatikan orang dalam diam saya...meski saya sedang terlihat bingung dan bodoh pun, saya sebenarnya sedang sedikit memperhatikan sesuatu)

3. #Pisces is worthy of getting to know; a tad bit insecure inside.They are the kind of boss who will never yell at you.
--> Pisces layak mengenal; sedikit seorang anak laki-laki dalam aman (aduh bahasanya ancur). Mereka adalah jenis atasan yang tidak pernah akan berteriak pada Anda. (Yeah, begitulah saya. Saya pandai menyimpan emosi saya, tapi kalau sudah meledak, wedhus gembel kalah sama kemarahan saya. Hnn, setiap memimpin memang saya cenderung sok tenang, dan ngga menyuruh-nyuruh. Sadar diri soalnya, seorang pemimpin juga bukan pemimpin tanpa anak buah mereka, jadi saya cenderung akan menghilangkan suasana pemimpin-dan yang dipimpin)

4.
#Pisces you get stuck in what you wish could happen and lose track of reality, and when you go back, everything is a mess.
--> Sebagai seorang Pisces, Anda sering terjebak dalam pikiran Anda sendiri, terhadap apa yang Anda inginkan dan seolah-olah bisa terjadi lalu kehilangan jejak dari realitas, dan ketika anda kembali, semuanya berantakan. (Yeah, sayangnya hal ini benar. Aku sangat suka mengkhayal dan mungkin ini semua terlihat dari seluruh tulisanku. Sekitar 60% tulisanku bersifat fiktif atau ada sedikit sapuan fiktif. Aku pernah berkhayal aku mendapat surat dari Hogwarts School of Witchcraft and Wizardy pada kelas 8 SMP, yang menyatakan bahwa aku diterima di sekolah tersebut. Haha, gila gila Ani)

Wednesday, 22 December 2010

My New Friend

Teman pertama aku di FKM adalah si Diaaaa... Senang bisa bertemu dengan orang ini. Hehe...



Jadi, kebiasaan kami adalah merencanakan duduk sampingan saat mau kuis Fisika, tapi faktanya pasti ngga sampingan. Aku selalu dipanggil lebih dulu (bukan dalam arti konotasi lho) oleh temanku untuk duduk di sampingnya. Alhasil, baru 3 aku dan Dila duduk bersama pas kuis, wkwkwk...

Aku dan dia bertemu pertama kali saat briefing welcome maba 1 di aula gedung G FKMUI. Kami pernah berkenalan sebelumnya lewat facebook. Kami sama-sama suka baca novel fiksi, dan dia tidak henti-hentinya membahsas betapa kerennya novel the Kite Runner. Yaaaaaah....selamat ya, kamu udah bikin aku melompong ngga nyambung karena aku ngga pernah baca tuh novel, ehehe.



Kami satu FGD, FGD 14, dengan slogan kami adalah "minimalis", ya karena begitulah kami, minimalis dan ngga mau yang perfeksionis perfeksionis, hehe. Entah kenapa aku suka bercerita kepadanya, soal apa pun, bahkan soal kakak mengagumkan yang katanya mirip Bambang Pamungkas itu, (haha, gokil dustanya!). Jadi, intinya dia itu pendengar yang baik gitu. Begitu pun aku, yang ingin mencoba menjadi pendengar yang baik baginya, haik haik!

Dia orang pertama yang aku kasih gambar Conan-ku. Gambar Conan pertama lagi, aku kasihin cuma-cuma, ehehe... Soalnya lagi bokek, ngga bisa beliin apa-apa. Namun, karena tindakan ini, aku jadi banyak utang nggambarin Conan untuk beberapa orang. Ngga tahu kenapa, aku senang berteman dengan orang bertangan imut yang unik ini, hahaha... (Dil, dijaga ya, gambarnya! wkwk). Aku janji deh, kalo kita masih dekat, tahun depan, tepat di ulang tahunnya, aku akan kasih sebuah gambar lagi ke dia... Woi Dilla! Jangan ke-GR-an...

with a cup of smile for Dilla...
Auriga Amarilis
:)

Saturday, 18 December 2010

Ini Soal Men-Tag

Banyak orang yang men-tag foto, catatan, tautan atau semacamnya di jejaring sosial seperti facebook dan lain-lain. Setahu aku, men-tag itu dimaksudkan sebagai penanda siapa saja yang memang dilibatkan dalam hal yang di-tag itu.

Jadi, aku adalah orang yang cukup rajin membuat catatan di facebook. Memang sedikit tidak jelas catatan-catatan aku itu, tapi aku selalu rajin-rajin saja menulis catatan karena aku suka berfantasi lalu melimpahkannya ke dalam tulisan yang aku sebut tulisan gaje. Ini salah satunya..

Kembali ke tag-men-tag. Jadi, menurut aku, entah mengapa, men-tag seseorang dalam suatu catatan seperti sebuah pemaksaan terhadap seseorang untuk membaca tulisan yang telah kita buat. Misalnya, aku telah menulis sebuah catatan berjudul "I Love Bikun". Dua hari berjalan, hanya empat orang yang membaca. Namun, setelah saya men-tag beberpa orang, mendadak catatan aku menjadi rame oleh komentar. Aku jadi ragu, apakah keramaian ini adalh sebuah paksaan akibat penge-tag-an ini?

Oleh karena itu, aku adalah tipe orang yang suka membiarkan saja apa yang sudah aku ciptakan. Tidak baik memang yang namanya malas mempublikasikan. Namun, ada satu perasaan yang berkata publikasi itu adalah wujud lain dari pamer. Iya memang pamer sih. Namun, kalau publikasi itu kan untuk sesuatu yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan karena memnag mungkin sudah terstruktur dan terkonsep dengan baik. Sedangkan catatan aku, menurutku belum layak publikasi.

Oh iya, maaf ngelantur mulu dari topik bahasan soal men-tag. Intinya, aku pribadi tidak terlalu suka men-tag, kecuali tag foto, atau tag informasi. Mengenai men-tag hasil karya, hasil pikiran, hasil seni dan sebagainya, ini mempunyai kesan yang berbeda. Aku lebih berharap orang lain mendatangi sendiri sebuah karya baru, lalu mengapresiasikan pemikiran mereka mengenai karya tersebut. Dengan begitu, sebuah karya akan terkomentari tanpa pemaksaan. Bayangkan jika kita men-tag seseorang, sedangkan orang itu bukan ahlinya, tidak menyukai hal-hal yang berhubungan dengan hal yang kita tag-an, atau parahnya lagi tidak tahu apa yang kita tag itu, pastinya komentar yang ada hanya berupa komentar sampah yang tidak ada intisarinya lagi bukan?

Hwah, super tidak jelas sekali catatan ini, ckckck.

Kesimpulannya, berpandai-pandailah dalam men-tag. Lebih selektif dalam mempublikasikan sesuatu yang bersifat hasil karya dan pintar-pintarlah men-tag nama orang dalam karya tersebut, apakah dia benar-benar orang yang tepat yang berhubungan dengan karya tersebut. Jika tidak, maka akan terjadi sebuah pemaksaan, hahaha

Aduh, Ani gajeeeeeeee.........

Sunday, 21 November 2010

Penyakit Hati

Pukul 00.31 waktu aku menulis postingan ini...

Aku terus mencoba agar aku tidak terlalu akuan dan egois. Bismillahirrahmanirrahiim...
Jika diingat tulisan-tulisanku memang selalu berubah, cenderung menyempit sudut pandangnya dari mengamati setiap hal menjadi akuan sekali. Mungkin ini yang menyebabkan Wita berkata, "Gue suka mengunjungi blog yang aneh-aneh, Ani! Blog lo ngga aneh, Ani! Jadi gue ngga suka."
Aku selalu teringat kalimat itu. Aku merasa gagal dalam hal menggiring pembaca untuk membaca tulisanku. Aku bingung. Aku mulai berpikir kalau aku memang sebenarnya tidak berbakat, tapi maksa. Memang banyak sekali orang yang berkata bahwa tulisan aku bagus. Namun, bagus dalam arti apa aku masih belum begitu mengerti. Aku sering menulis kata-kata tidak jelas yang entah bagaiman mereka bisa menyatu. Tak padu. Aku menyebutnya syair, tapi sebenarnya dia tidak bermajas. Jika aku mengkategorikan mereka sebagai puisi, maka lagu pelangi-pelangi pun dapat dibilang puisi. Lihat? Tulisan ini pun sudah mengarah ke hal-hal yang tidak jelas... Ayo Ani! Please! Mulailah berlatih menjadi orang waras dan jelas. Haha... Sebab, jika kamu waras kamu akan bisa membuat orang waras lain berkomentar waras.
Oh iya, aku sendiri sebenarnya tidak teralalu yakin. Mereka yang berkata bagus sebenarnya mengerti tulisanku atau tidak. Jika tidak, aku sudah gagal juga untuk mengajak mereka melayang dalam imajinasiku. RESAH AKU!


Jumat, 19 November 2010...
Gila!! Duit aku habis dengan tragisnya. Aku berpikir untuk memulai usaha baru. Namun, mengingat kondisi nilai-nilai kuliah aku yang remuk, hancur seperti ditimpa meteor, aku mengurungkan niat ini dan memilih memperbanyak tidur. Aneh kan? Bukannya belajar malah tidur. Parah memang, tapi serius di sini, sejak di sini aku semakin mudah terlelap. Bahkan, sambil mendengarkan dosen atau asdos berceloteh aku sempat tidur. Untung ngga ngiler sih, malu aja kalo ngiler ada relief yang membuktikan aksi tidur aku.
Di hari jumat yang kelabu ini...dan aku yakin ini memang kelabu karena di hari itu juga aku menerima kenyataan buruk bahwa UTS FISIKA resmi diulang satu atau dua pekan depan. Sedih! Namun, aku teringat kata Wita (lagi-lagi si Wita, eksis amat dia di blog gue?), "Hehh! Enak dong diulang. Malah bisa belajar lagi. Lo udah punya soal-soal kemaren, lo udah dikasih tambahan, dan lo tahu bagian mana yang susah buat lo dan lo bisa pelajari bagian itu. Ih! Masa ngga nyadar sih?" Dan untuk kali ini aku setuju tujuh puluh persen sama Wita. Aku rasa dia mempunyai pemikiran-pemikiran yang bagus mengenai beberapa hal, makanya aku menyukai gayanya. Hoi Wita! Untung lo ngga suka buka blog gue, bisa terbang ke pohon pisang lo, haha.

Oh iya jumat kelabu (de javu sama kata-kata ini), aku menerima kenyataan buruk sebenarnya bukan buruk, buruk ini hanya berlaku bagiku. Satu-satunya orang yang merasa gagal dan bersedih saat orang lain menerima kebaikan. Aku malu padanya karena aku tidak tahu bahwa selama ini dia latihan keras untuk tampil di acara Bedah kampus UI.Aku merasa kesal karena dia tidak perna bercerita kepadaku selama ini. Aku merasa iri karena hanya dia anak section aku yang diajak untuk tampil di acara itu. Aku mefrasa bahagia karena dia memang pantas memperoleh penawaran tampil itu karena dia memang yang paling jago. Namun, yang paling aku rasakan dan sangat menyesakkan adalah aku sungguh merasa gagal. Gagal meyakinkan kakak-kakak section-ku bahwa sebenarnya aku bisa hanya saja belum bisa mengatasi rasa canggungku. Gagal menjajal kemegahan Balairung di depan junior-junior SMA. Mungkin, aku sudah salah niat dari awal, jadinya yaa... aku memang sudah memperoleh apa yang seharusnya aku dapat kok. Thank You, Allah..

Jumat itu, aku benar-benar down. Aku berangkat ke Pusgiwa dengan semangat, berharap bisa berlatih dengan teman-teman baru dan merampungkan lagu 4x4 Little PF, tapi harapan ituhancur sketika saat melihat Merissa pergi berlalu latihan. Jujur, aku iriii.. Ani pengen bisa seperti dia. Semangat Ani! Kalau Ani rajin berlarih pasti bisa seperti Merissa. ^^

SEMANGAT!!! Ibu dan Yaya selalu menyuportmu!!!

Friday, 12 November 2010

Surprising Day

Dimulai dari telat bangun pagi. Waw! It's surprising! Hari ini kuis dan aku belum menyentuh buku Fisika sama sekali. Entah setan jenis apa yang memasuki pikiranku, aku pun tergoda untuk membolos mata kuliah antropologi dan memilih berdiam di kamar seperti seekor ular di musim dingin. Aku menghubungi teman-temanku yang sekiranya mau menyumbangkan tanda tangannya di kotak absen namaku. Tidak gampang lho!

Kaget! Karena aku tertidur di tengah prosesi "belajar" Fisika. Aku bangun dengan tergesa-gesa dan akhirnya aku terbingung-bingung sendiri, sambil membolak-balik kertas itu sekenanya. Aku yakin tidak ada satu huruf pun yang melesat masuk ke dalam otak, karena jam di handphone telah menunjukkan pukul 10 lebih. Mau jadi apa kuisku hari ini? Biologi pun belum tersentuh, sedangkan dari tadi aku sibuk menulis catatan facebook. Alih-alih membaca diktat Fisika, aku malah asyik menghitung jumlah kunang-kunang yang muncul hilang di kepala. Sepertinya aku pusing... pett. Tidur, bangun, tidur, bangun dan begitu terus hingga tiba-tiba pukul 11.02 datang dengan tidak sopan. Huwaah... Siap-siap, mandi, dkk.

Pukul 12.13, aku sudah meluncur ke halte. Aku lupa kalo hari ini adlah Jum'at. Hari di mana Bikun sangat malas beroperasi. Alhasil aku menunggu di sana selama hampir setengah jam. Sebenarnya, penantian itu tidak terlalu terasa lama. Ada sebuah hiburan yang mengagumkan dan ini adalah pangalaman pertamaku. Aku bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris dengan seorang Turis dari Nepal. Nepal itu yang di Asia Selatan yang ibukotanya di Kathmandu yang terkenal dengan mount Everestnya itu. Informasi ini aku dapat dari hasil menerjemahkan perkataan si Turis yang ternyata seorang Dosen dari Unversity of Nepal ini. Aku sebenarnya lebih banyak mendengarkan dibandingkan berbicara. Lalu siapa yang selalu menjawab si pak Turis Dosen Universitas Nepal itu? Seseorang bermarga Medan dengan bahasa Inggris yang terbata-bata dan wajah meyakinkan lah yang menjawabnya. Wiew! Keren! Aku lebih tertarik mendengarkan pembicaraan mereka dibandingkan membaca diktat Fisika buah karya Kak Arreta Rei yang ada di pangkuanku.
Turis itu bertanya soal UI, FK, balairung, Rektor, Rektorat, Bikun dan bla bla bla. Haha, first time deh pokoknya! WIEW! It's surprising!

Sampai di kampus, aku masih juga dikejutkan dengan hal-hal yang ada-ada saja. Nilai fisikaku mencapai angka 80. Nilai tertinggi sepanjang sejarah Fisika sepertinya. Tidak ada maksud pamer, lebay, atau semacamnya. Ini murni suatu kekagetan dan kebahagiaan. Syukur aku pada-Mu yaa Rabb. Aku tidak peduli, meskipun nilai teman-teman lain hingga mencapai angka sempurna alias 3 digit. Aku tetap sangat puas dengan nilai ini. Huhu. Semoga UTS itu juga, terpoles keberuntungan yang sama. AMIIIIN.
Mulai hari itu, yang aku lupa namanya, aku mulai dekat dengan Inta dan Owlie. Bahkan aku memanggil Owlie dengan sebutan Dadar. Ini salahnya sendiri yang telah menyebutku Manusia Kulkas. Haha... Fakta sih. Tanganku ini bisa sedingin es saat terpapar hasil keluaran benda elektronik canggih bernama AC. Aku benci AC makanya. Dia membuatku kedinginan setengah hidup.

Aku seperti biasa berjalan-jalan dengan penuh kebebasan ke mana pun aku suka. Makan mie ayam dan ditemani segelas milkshake coklat, rasanya maknyosss. Aku makan dengan lahap dan alangkah terkejutnya aku karena ternyata 3 ribu rupiahku hilang entah kemana. Huwaaaa.... Penyokong kehidupanku hilang.

Selesai makan, aku langsung melesat ke lobi G, tapi mampir dulu ke mushola. Di sana aku teringat Kak Lili dan mentoring Holaqoh. Aku tidak mendatangi undangan Kak Lili untuk datang ke MUI kemarin. Aku merasa bersalah dan tidak enak, apalagi tadi saat berpapasan dengannya di koridor tak berdinding di depan gedung F, wajahnya tidak tampak seperti biasanya. Senyumnya tak begitu terkembang. Aku salah tingkah. Maaf, Kak...

Rapat Pleno saat itu, aku tidak terlalu memperhatikannya. Aku disibukkan oleh kebingungan mau berangkat MB atau tidak. Apalagi Fajar sudah sms berkali-kali tentang kedatangannya dan berharap aku datang serta mengajarinya. Rapat pleno belum mulai saat itu dan anak-anak BB BAKPAO begitu asyik berdiskusi mengenai UTS Biologi yang boleh dibilang tidak biasa. Aisha, anak gizi yang sudah UTS dan dia membagikan pengalamannya, mulai dari durasi waktu yang diberikan, tingkat kesulitan, bobot, konten soal, tapi tidak memeberitahu kami bagaimana tepatnya soal-soal Biologi tersebut. Ya iya lah... ahaha. Di tengah obrolan kami, handphone-ku bergetar dan sebuah pesan memaksa dibuka. Isinya tidak jelas, aku diharuskan pergi ke taman Bougenvile terkait soal bdk. Apa itu bdk??? Aku mengajak Leli karena kukira itu akan bermanfaat baginya. Yeah! Aku mengira bdk adalah singkatan dari BIDIK atau BIDIK MISI. Namun, karena ngga tega, aku menyuruhnya berbalik ke lobi G.

Lalu, aku tetap pergi ke Bogen. Alangkah terkejutnya aku saat tiba di sana, sampai-sampai aku bingung harus mwngucap istighfar atau hamdalah. Yeah, jadi ceritanya aku lolos tahap I program UI SDP ILDP dan aku termasuk dari 150 orang yang lolos. Aku bingung harus senang atau sedih karena aku berharap tidak lolos. Aku berharap tidak masuk. Namun, ini barokah dari Allah harus disyukuri, maka aku mengucapkan "alhamdulillah..." dengan muka yang sangat ambigu. Tidak hanya aku, Leli ternyata lolos juga. Akhirnya, dugaanku terbukti juga. Namun, aku sama sekali tidak menyangka aku lolos dengan bermodal esai yang sangat jauh dari kata layak itu. (esai itu dapat dilihat di postingan terdahulu dengan judul peningkatan mutu pendidikan bangsa). Kejutan! Shock! Asli!

Saat pleno, aku masih terpikirkan soal Diksi itu. Dan Fajar, dia masih saja mengirim sms yang isinya memaksaku untuk datang ke Pusgiwa segera. Ya ampun. Bagaimana nasib UTS Biologiku? Aku belum belajar secuil pun dan kata Aisha si anak Gizi yang tadi bercerita itu, biologinya susaaaaaaaaaaah banget. Bagaimana? Dilema! Aku ingin berangkat MB untuk menghilangkan stres selama seminggu ini. Namun, aku khawatir kecapekan dan akhirnya ngga jadi belajar (terbukti). Di sisi lain, aku tidak tega pada Fajar yang di sana sendirian. Apalagi dia bilang kalo Ndun udah tanya-tanya mulu. Ya ampun, Ndun tanya-tanya siapa sebenernya? Ngga jelas sekali sms Fajar. Dengan niat yang baik, aku pun melaju ke FIK untuk menghadang bikun dan berangkat latihan MB seorang diri.

Huwaw! Ternyata aku tidak benar-benar sendiri di sana. Ada Merissa yang sudah sebulan lamanya tidak datang latihan, ada juga Elsa si anak baru di pit pindahan dari snare. Ada Fajar yang memukul-mukul pit dengan nafsunya dan aku merasa kasihan dengan mallet yang dipegangnya. Sabar ya mallet. It was surprising! Dan aku merasa tidak percuma datang ke latihan kali ini karena aku diajari kagu Genderang UI. Kak Nadia lah yang mengajari kami sore ini. Aku senang karena kami bertiga, Aku, Renny dan Merissa langsung bisa memainkannya. Lalu aku terpikirkan Ayu, Acho, Della, Rachel dan lain-lain yang pastinya nanti akan kewalahan mengejar target. Target-target kami ternyata banyak. Pokoknya kita harus sama! Ngga ada yang lebih pinter dan ngga ada yang paling pinter. Kita bisa sama-sama dan payah juga sama-sama. Jangan meninggalkan teman kita! Setidaknya itu yang aku tangkap dari kata-kata Kak Nadia saat evaluasi tadi.

Saat sampai asrama.... Huwaaaaaaaa aku lebih tertarik menulisi blog ini dibandingkan belajar Biologi. Yaa Allah... Berilah hamba kekuatan untuk lembur dan melahap menu-menu lezat biologi ini. Amiiiiin

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...