Showing posts with label Nggak Penting. Show all posts
Showing posts with label Nggak Penting. Show all posts

Wednesday, 24 September 2014

Twenty Facts About Me

Bagi beberapa orang, tantangan geje di instagram yang ber-hashtag #20factsaboutme ini, mungkin mengganggu, tidak penting, memaksa seseorang menceritakan privasinya, dan sebagainya. Setidaknya, saya mendengar secara langsung dari dua tiga orang yang menyatakan ketidaksetujuan untuk melakukan aktivitas aneh-aneh, dengan mengepos hal tidak berguna semacam tantangan tersebut. Saya sebetulnya sependapat dengan mereka, awalnya. Namun, entah mengapa setelah di-tag oleh dua orang adik kelas yang tidak disangka-sangka akan menge-tag saya, saya merasa terharu dengan begitu berlebihan. Saya merasa sangat terhormat karena telah diingat oleh mereka berdua hingga mereka repot-repot menge-tag saya di kiriman foto instagram. Sebagai bentuk terima kasih saya kepada mereka berdua yang telah mengingat saya, saya pun memutuskan untuk ikut menuliskan dua puluh fakta tentang diri saya. Sebetulnya saya agak bingung dalam memutuskan dua puluh fakta dari seluruh fakta diri saya. Fakta seperti apa yang layak untuk dipublikasikan? Poin-poin diri saya yang seperti apa yang cukup perlu untuk dibagikan ke orang lain? Namun, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan dua puluh hal di bawah ini. Sebetulnya, ini adalah versi caption asli yang awalnya akan saya sertakan pada foto tantangan #20factsaboutme ini. Namun, ternyata, caption tersebut terlalu panjang sehingga saya edit dan persingkat caption-nya. Oke, inilah caption asli dari tantangan #20factsaboutme-nya Ani...

Uhn, di-tag tantangan beginian sama dedek @sofiiwa dan @husnulkhotimah24. Okelah, meskipun sebetulnya masih bingung ini esensinya apaan, tapi ya sudahlah ikut-ikutan aja... #20factsaboutme
  1. Nama lahir Anifatun Mu'asyaroh. Awalnya hampir dinamai Chanifatul Maesaroh. Nama panggilan lazim: Ani, Anifatun, Ayoh, Mba Ani, Mba An. Nama panggilan plesetan: Mbayo, Anif, Anifa, Ani-chan, Mbah, Mbe, Manusia kulkas, Animonster, Ani-chun, Anipacul MasyaAllah. ID: aniamarilis, aurigaamarilis...
  2. Lahir 15 Maret 1992, tapi di akta kelahiran tertulis 13 Maret 1992. Alhasil, tidak jarang saya mendapat ucapan ultah dua kali dalam setahun.
  3. Golongan darah B+ dan cukup mempercayai teori golongan darah.
  4. Melankolis-sanguinis kalau kata @adeeiam. Namun, kayaknya lebih ke melankolis doang deh.
  5. Penyuka warna ungu (suka pake banget), coklat, biru gelap, tosca, putih, dan hitam.
  6. Memiliki telapak yang hampir selalu basah dan suhu tubuh yang adaptif terhadap suhu lingkungan. (Kalau suhu sekitar rendah kulit saya sedingin air kulkas, kalau suhunya tinggi, sehangat sauna. Apakah saya manusia berdarah dispenser?)...
  7. Anti makanan amis (ikan, telur tanpa campuran, dl), anti dingin, anti (hampir semua) binatang terutama bekicot dan keluarganya...
  8. Mahasiswa Biostatistika yang suka berkhayal, pilih-pilih matkul tertentu (yang diseriusin), dan belum siap untuk lulus.
  9. Penyayang bocah dan masih kepengen jadi guru TK atau penulis cerita anak-anak.
  10. Jujur, kekanak-kanakan tapi sensitif dan mudah curiga jika diberi pujian atau perhatian berlebihan.
  11. Lebih sering main di paguyuban daripada di kampus atau sama teman (?) kampus. Terus di paguyuban, kata orang saya terlihat lebih sering main sama adik angkatan, daripada sama anak seangkatan apalagi kakak angkatan. Mungkin ini yang bikin proses pendewasaan saya lambat. Hehe.
  12. Kurus parah, makanya sekarang sedang jaga pola makan dan diet TKTP buat menaikkan BB.
  13. Pelit, pikun dan lola.
  14. Mudah stres dengan tiba-tiba dan misteriusnya. Kalau stres bakal cari pelarian, semacam ngeblog geje, ngegambar geje, main musik geje, jalan-jalan geje atau ngapain aja asalkan sendirian dan bikin capek biar cepet tidur.
  15. Introvert, moody, pendiam, penyendiri, agoraphobia, dan tidak tahan terlalu lama dalam kebisingan.
  16. Sering mengeluarkan suara-suara aneh dan cempreng dengan spontan atau tanpa sadar, tapi katanya cocok jadi dubber kartun atau semacamnya.
  17. Suka fotografi (meski belum punya kamera layak), juga hiking, camping atau bedah alam asalkan ada yang mengajak atau tebengan.
  18. Memiliki rasa ingin tahu, penasaran, kepo dan semangat tinggi untuk hal-hal tertentu yang menarik.
  19. Sempat tomboy, makanya nggak jago masak. (Berhubungankah?)
  20. Satu-satunya olahraga yang bisa saya lakukan cuma badminton, meski nggak jago.
Wah, cuma 20 doang udah sepanjang ini??? Hehe. Uhn, saya bingung mau nge-tag siapa, tapi besar harapan saya, yang saya tag mau ikutan game (?) ini juga. Eohooo... :p

Yah, jadi seperti itulah. Mungkin saya terlalu jujur dalam menuliskan fakta tentang saya ini. Saya lebih banyak menuliskan tentang apa yang melekat pada saya, tentang kekurangan saya, tentang aktivitas saya, dan tentang sesuatu yang tidak jelas. Ini berbeda dengan beberapa orang lain, di mana mereka menuliskan tentang cita-cita, tokoh tertentu, orang paling berjasa, kecintaan kepada Tuhan, atau harapan akan masa depan mereka. Hehe. Mungkin saya memang tidak terlalu tahu tentang keinginan dan harapan saya di masa depan. Saya terlalu sering terpaku pada masa lalu dan menikmati arus yang sedang diarungi saat ini, tanpa terlalu ingin tahu tentang apa yang sedang menghadang di depan jalan. Ini kekurangan terbesar saya. 

Tuesday, 23 September 2014

Selamat, Bang Ko

Hallo, Bang Ko... 
Maaf karena saya tidak mengucapkan ini tepat waktu, tetapi... "SELAMAT ULANG TAHUN!"
Saya memang tidak dapat mengucapkannya secara langsung kepadamu karena saya tidak mengetahui letak pasti keberadaanmu. Oleh karena itu, saya mengucapkannya melalui tulisan ini. 
Ini adalah ulang tahun kedua yang kita lewati semenjak pertama kali berkenalan dan saya memutuskan untuk tetap menyapamu jika suatu saat bertemu. Meskipun saya tidak begitu mengenalmu dengan baik dan, dapat dipastikan, kau juga sangat tidak mengenal saya, saya memutuskan untuk rajin mengucapkan selamat di setiap ulang tahunmu seperti saya mengucapkannya kepada teman-teman baik saya. 
Saya tidak menyertakan hadiah apa pun untukmu karena Dia pasti akan memberikan hadiah terbaik untuk-Mu. Saya titip pada-Nya harapan terbaik untukmu, meski sebetulnya saya tidak memiliki banyak harapan. Saya juga tidak pandai menyusun kalimat doa berisi harapan dan kebaikan yang detail untukmu. Saya hanya dapat mengamini hal-hal baik terjadi padamu, cita-cita tertinggimu dapat tercapai sesegera mungkin sesuai targetmu, misi-misi perjalananmu dapat kau lalui dengan lancar, kendala yang menghadang langkahmu dapat teratasi tanpa harus terlalu banyak mengorbankan diri, keinginan baikmu dikabulkan-Nya, serta semoga kau senantiasa dilimpahi-Nya dengan kejutan indah yang bahkan tak kau duga-duga kedatangannya. Aamiin.
Di pertemuan terakhir denganmu di dunia pertama, yang entah kapan waktunya, saya melihat raut wajahmu lebih cerah dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya di mana kau tampak cemberut dan seolah-olah tak rela untuk bertemu. Apakah kau sedang berbahagia? Semoga kebahagiaan itu senantiasa mengiri setiap langkah perjalananmu. Kau juga tampak lebih merawat diri dan kesehatanmu, meski kau sempat berujar bahwa tenggorokanmu sedang serak entah karena hal apa. Namun, saya tetap bersyukur, kau terlihat sedikit lebih gemuk, Bang. Semoga di usia barumu, kesehatanmu lebih terjaga. Di pertemuan itu juga, kau tampak begitu akrab dengan lebih banyak orang, meskipun menurut seseorang kau tampak menyendiri seperti orang bingung yang tak punya teman. Semoga di usia barumu, kau memiliki lebih banyak teman di mana-mana, di atau ke mana pun kau berada, dan semakin disayangi oleh mereka dengan ketulusan bukan untuk pemanfaatan. Selain itu, kau terlihat sangat serius dengan masa depan yang akan segera kau pijaki, kau menanyakan banyak hal yang tidak saya mengerti kepada seorang yang berpengalaman itu. Apa pun itu, saya hanya mampu mendoakan kelancaran pencapainnya untukmu. Ah iya, semoga prestasimu senantiasa meningkat pula. Semoga kau semakin lembut kepada orang-orang di sekitarmu yang menyayangimu. Semoga kau sering tersenyum dan tak terlihat seperti penyendiri. Ah, saya mulai bosan menulis rincian doa dan harapan untukmu, toh ini hanyalah sebuah ucapan ulang tahun. Pokoknya, semoga kau di tahun-tahun yang akan datang lebih baik, bertabur keberkahan, dan mampu bermanfaat bagi orang lain. 
Saya ingin memberimu sesuatu, tetapi sepertinya ini tidak perlu, mengingat kau dan saya tidak bertalian apa pun dan bukan sepantasnya menghabiskan recehan saya untuk hal-hal seperti itu. Namun, jujur, tahun lalu saya hampir memberikanmu sebuah jam tangan murahan yang dapat saya jangkau dengan sisa uang jajan saya. Untung saya membatalkannya, karena ternyata kau sudah memilikinya entah kapan dan dari mana kau mendapatkannya. Kali ini saya memutuskan untuk tidak memberikanmu apa-apa...atau mungkin saya akan membuat sebuah lagu singkat untukmu? Ah, saya tidak tahu bagaimana cara membuat lagu. Atau mungkin memberimu sebuah gambar? Uhn, saya juga tidak tahu cara menggambar. Atau membuatkan sebuah puisi persahabatan? Oh tidak, kita tidak pernah betul-betul bersahabat saya kira. Saya perkirakan, kau akan menerima banyak hadiah dari orang lain yang lebih berharga dan indah dari rencana hadiah-hadiah yang akan saya berikan. Jadi, kau tidak akan kekurangan hadiah pastinya. Lagipula, jika saya memberikanmu sesuatu pun, sepertinya pemberianku tidak akan cukup untuk membuatmu gembira, alih-alih bingung dan menerka siapa pemberinya.
Mengapa ucapan ini menjadi sepanjang ini? Namun, awalnya, saya kira saya akan menuliskan lebih panjang dari ini. Ternyata, saya terlalu bingung mau menuliskan apa untukmu. Saya kira, sampai di sini ucapan selamat dari saya. Selamat, selamat, selamat, Bang Ko. Semoga Allah memberkahi sisa umurmu... :)

Tuesday, 26 August 2014

Beberapa Tanda yang Kemungkinan Dapat Berujung Pada Sakit "Gila"

  1. Anda lajang.  
  2. Anda memerhatikan apapun yang dia lakukan.
  3. Anda sering memuji setiap hal yang dilakukan, dimiliki atau ada padanya.
  4. Anda menelepon atau mengirimkan pesan berisi hal yang tidak penting kepadanya.
  5. Anda berbicara banyak hal yang Anda sukai kepadanya. Anda berbicara tentang festival atau pertunjukan yang ingin Anda hadiri, dan Anda menunggunya untuk mengatakan dia akan pergi bersama Anda.
  6. Anda merasa penasaran, bahkan sakit hati, ketika dia berbicara tentang kelebihan seseorang lain. Kemudian Anda membalasnya dengan membicarakan kelebihan orang lain selain dia dan menunjukkan kekaguman Anda terhadap orang lain tersebut untuk mengetahui reaksinya.
  7. Anda mengetahui dengan baik, di luar kepala, kapan ulang tahunnya dan di mana dia tinggal.
  8. Tanpa alasan yang jelas, Anda tidak peduli dan tidak akan "melihat" orang lain dia, meskipun dia sedang tidak ada di sekitar Anda.  
  9. Anda memahami perubahan suasana hatinya, dan Anda tidak ingin menekannya. 
  10. Anda mengingat nama teman-temannya dan mencoba untuk mengingat semua hal yang dia ceritakan pada Anda.
  11. Anda membelikan benda-benda untuknya, tanpa dia memintanya.
  12. Anda memberikan hadiah ulang tahun berupa benda yang dia suka.  
  13. Anda merasakan kehangatan ketika berbicara dengannya dan kenyamanan ketika di dekatnya.
  14. Anda membatalkan rencana Anda untuk dia. Padahal itu sudah direncanakan sebelumnya.
  15. Anda bersedia melakukan hal-hal yang awalnya tidak Anda sukai, tetapi dia menyukainya, ketika bersamanya.
  16. Anda berbicara tentang keluarga Anda kepadanya dan bertanya tentang keluarganya. 
  17. Anda membiarkannya meminjam barang-barang Anda tanpa keberatan.
  18. Anda melakukan hal-hal yang menjadi hobinya, dan lama-lama terbiasa hingga membuatnya menjadi hobi Anda.
  19. Anda berusaha untuk memperoleh perhatiannya dan membuatnya tersenyum bahkan tertawa.
  20. Anda memiliki cara berbicara yang lain ketika sedang berbicara dengannya, dibandingkan dengan ketika berbicara dengan orang lain.
  21. Anda menjadi semacam protektif terhadapnya.
  22. Anda membicarakannya sepanjang waktu kepada teman terdekat Anda.
  23. Anda sering mengingatkannya tentang hal-hal pentingnya yang Anda ketahui, memastikannya tidak lupa.
  24. Anda selalu memilih dia dibandingkan orang lain.
  25. Anda mengingat setiap hal kecil tentangnya, meskipun itu merupakan hal yang betul-betul tidak penting.
  26. Anda bercerita kepadanya tentang masalah pribadi Anda dan berharap dia memberi tanggapan, solusi, simpati atau empati untuk meringankan masalah Anda.
  27. Anda meminta bantuannya, bahkan hanya untuk hal kecil sekalipun.
  28. Anda merasa kesal dan marah, ketika dia mengabaikan Anda atau tidak membalas pesan Anda.
  29. Tanpa Anda sadari, Anda sering berjalan di tempat-tempat yang sering didatangi atau di titik yang sedang ditempatinya, untuk semacam membuatnya tersadar bahwa Anda sedang berada di dekatnya.
  30. Anda merasa sedih dan khawatir ketika dia tidak ada, menghilang tanpa pesan atau tidak dapat dihubungi.
Jika Anda memenuhi setidaknya 20 poin di atas, dengan variabel terikatnya adalah satu orang yang sama, bisa jadi Anda sudah bukan lagi sekedar kepo, melainkan terserang sakit "gila" cinta terhadap seseorang. Hati-hati! Sulit diatasi jika sudah benar-benar gila! Beristigfarlah!

Friday, 1 August 2014

Bang Ko

Halo, bloggie... Pertama, saya mau mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin atas segala salah yang pernah saya lakukan. Kedua, sekarang saya akan menuliskan tentang seseorang. Seseorang yang sebetulnya bersifat... antara fiksi dan realita karena dia ada, tapi tidak pernah betul-betul ada. Hal yang membuat saya tertarik untuk menuliskannya adalah beberapa kemunculannya yang terkadang melintas dalam satu atau dua kali aktivitas saya.

Oke, saya cukup sering menuliskan sebutannya di twitter saya. Saya menyebut dia Bang Ko karena saya tidak tahu betul apa nama sapaan aslinya. Selain itu, kami tidak pernah berkenalan dengan cara yang benar, tidak pernah menyebutkan nama kami masing-masing ketika "sedang berbincang". Mengapa saya menyebutnya Bang Ko? Saya sendiri kurang paham. Mungkin karena kami paling sering bertemu di jalanan. Ah! Betul sekali, bahkan pertama kali saya mengenalinya, dalam kondisi betul-betul sadar, adalah di jalanan, uhn...tepi jalan lebih tepatnya. Lantas apa hubungannya? Ah, tidak tahu lah.

Saya memang tidak pandai mendeskripsikan penampilan fisik seseorang, tapi saya akan mencoba mendeskripsikan si Bang Ko ini. Bang Ko kurus, tidak gemuk, tapi tetaplah saya lebih kurus darinya. Saya menduga, berat badannya tidak jauh-jauh dari angka 60 kg atau malah tidak mencapai itu. Dia seorang laki-laki, dengan tipe rambut seperti orang timur kebanyakan, rambut yang tidak memerlukan bantuan salon atau penata rambut karena campur tangan ahli-ahli rambut itu tidak akan mampu membuat rambutnya tampak rapi dan memesona. Rambutnya pendek dan saya tidak dapat membayangkan jika rambut itu lebih panjang dari panjangnya yang sekarang atau biasanya. Dia tidak memiliki tubuh yang pendek, untuk ukuran seorang laki-laki, tapi tidak dapat dikategorikan sebagai tinggi juga. Ideal? Tidak juga. Saya kira tingginya tidak mencapai 170 cm. Matanya normal dengan iris hitam khas pribumi dan dengan bentuk mata yang bolehlah dimasukkan dalam kategori mata sayu yang sedikit menyimpan misteri. Misteri? Yeah, mungkin karena saya belum atau tidak cukup mengenalnya. Dia memiliki bahu yang cukup lebar. Ini membuatnya terlihat seperti layang-layang berjalan. Dia memiliki jari-jari panjang yang lentik, tapi sayang, sepertinya tidak pernah digunakannya untuk bermain gitar. Warna kulitnya, uhn...warna kulitnya sawo matang kalau tidak salah, yeah meskipun saya merasa akhir-akhir ini menjadi lebih cerah dibandingkan dulu saat pertama kali melihatnya (well, sebenarnya saya sudah agak lupa bagaimana penampilannya pada saat pertama kali melihatnya). Alisnya? Entahlah, tapi sepertinya tidak setebal alisnya Indra, adik angkatan saya. Hidungnya? Saya tidak tahu apakah cukup layak disebut mancung atau tidak. Dia tidak mempunyai lesung pipit yang sama seperti saya, tapi sepertinya ada sedikit lipatan kecil di sekitar wajahnya ketika tersenyum. Namun, saya tak yakin di mana letaknya yang tepat. Telinganya? Ah, saya tak memperhatikannya. Hahaha. Saya yakin, saya menggambarkannya dengan sangat tidak jelas. 

Oh iya, dia memiliki cara berjalan yang aneh, seperti anak kecil manja yang tengah berjalan mengekori ibunya atau seperti anak laki-laki terakhir yang seluruh kakaknya adalah perempuan. Ah, seperti itu lah. Saya tak pandai menggambarkan cara berjalannya. Dia sering membuat setiap hal yang dilihatnya sebagai lelucon, lalu tertawa dengan gaya tertawa yang aneh. Dia juga murah tersenyum, meskipun senyum itu terkadang lebih sering terlihat seperti seringai, yang membuat orang yang melihatnya menerjemahkannya dengan banyak arti. Dia sepertinya tidak menyukai bermain olah raga, tetapi tidak membenci menyaksikan pertandingan olah raga. Dia juga terlihat serius, meskipun dia sering dan terlihat suka membuat lelucon. Saya tidak tahu berapa umur pastinya, tapi sudah dapat dipastikan kami tidak sebaya, tidak lahir di tahun yang sama. Dia adalah orang yang sangat tega, meskipun pada akhirnya dia membayar ganti rugi atas akibat dari ketegaan yang telah dia lakukan. Dia... Apa lagi, ya? Aha! Pokoknya, tidak ada kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkannya selain misterius. Bagaimana tidak? Tujuh puluh persen kemunculannya adalah ketidaknyataan. Sekali dia muncul dengan nyata, di dunia nyata manusia, di hadapan saya, saya tidak betul-betul dapat berkomunikasi dengannya, seolah-olah dia hantu atau alien yang dapat dilihat, tapi tidak untuk diajak berdiskusi. Lucu sekali bukan?

Oke, sekarang saya mau bercerita tentang beberapa kejadian yang saya alami, yang berkaitan dengan Bang Ko, baik yang nyata maupun tidak.

#1
Pada suatu malam, di dunia pertama, saya menerjemahkan pertanyaan dalam pesan, yang dikirimkan oleh Bang Ko, dengan makna yang salah sehingga saya berakhir salah paham dan terdampar di tempat dan waktu yang tidak tepat untuk didatangi seorang diri. Meski demikian, saya masih bersabar selama satu hingga lima jam. Hingga pada akhirnya, saya sadar dia tidak akan datang dan saya pun memberitahunya bahwa saya mendatangi tempat. Memang dasar, dia manusia (?) yang supertega, dia sama sekali tidak menanyakan keadaan saya. Alih-alih bertanya, dia malah meminta bukti yang menunjukkan bahwa saya memang benar-benar di tempat itu. Saya sebal sekali waktu itu. Namun, sudah saya katakan di atas bukan, dia akan membayar kesalahannya (oke, saya lah yang menganggap ketidakdatangannya adalah sebuah kesalahan)? 

Di malam lain, di dunia kedua, dia betul-betul membayar kesalahannya itu. Dia mengajak saya berjalan menjauhi tempat acara yang kami hadiri berlangsung, hingga tiba di sebuah ladang padi yang baru selesai panen. Dan bim salabim, dia membuat langit malam menjadi berwarna merah, hijau, kuning, biru, ungu, dan merah muda. Dia memang buka seorang penyihir, pastinya. Namun, dia pandai memberi kejutan ketika berada di dunia ini. Saya duduk di atas gundukan jerami yang terparkir berantakan di ladang padi, sambil menyaksikan percikan bunga api yang silih berganti terpercik indah di langit desa itu. Dia berdiri, memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana, sambil memandang langit yang telanjang tanpa gemintang, tanpa gumpalan awan malam. Ah, dia masih tidak banyak bicara. Untung saja dia masih menyimpan kebiasaan tersenyumnya itu. Setidaknya, senyumnya itu membuat saya merasa tidak sedang sendirian. Bunga-bunga api itu entah meluncur dari mana, saut-menyaut, susul-menyusul selama hampir sepuluh menit. 'Kaya sekali dia?' batin saya saat itu. Namun, sebetulnya saya tidak cukup yakin dialah dalang dibalik peluncuran bunga api itu, sebab sepertinya dia orang yang cukup perhitungan, betul-betul perhitungan. Lagipula, saya tidak ingin dia membuang-buang uangnya untuk hal tidak bermanfaat seperti ini pastinya, yeah meskipun saya menikmatinya. Ya! Tentu saja saya menikmatinya...langit malam itu menjadi sangat indah. Sebetulnya, kami sempat berbincang, hanya saja saya tidak cukup ingat apa yang dikatakannya. Namun, saya suka dengan caranya memberi kejutan. 

#2
Saya memutuskan untuk memilih cerita ini. Bang Ko adalah orang yang sepertinya berbeda ketika di dunia pertama dan ketiga. Saya hampir selalu salah mengartikan setiap perkataannya ketika di dunia ketiga dan inilah yang membuat saya membencinya ketika di dunia ketiga. Namun, entah mengapa saya akan kembali penasaran kepadanya ketika kami sama-sama berada pada dunia pertama. Mungkin kemunculannya di dunia pertama tampak lebih menyenangkan dan manusiawi, dibandingkan ketika dia sedang berada di dunia ketiga. Ketidakkonsistennya ini membuat saya bertanya-tanya, hingga bertanya betulan kepada Roland dan Rheta, "Kapankah seseorang betul-betul menjadi dirinya sendiri?" yang ternyata mereka jawab dengan jawaban berbeda (ya iyalah!). Lain lagi di dunia kedua, Bang Ko di dunia kedua adalah Bang Ko yang sangat baik dan murah hati. Saya lebih suka pada Bang Ko di dunia kedua. 

#3
Saya mulai bingung apa yang sedang saya lakukan. Sudahi sajalah ketidakjelasan ini, ahahahai. Sampai jumpa lagi dengan cerita Bang Ko yang lain.

Wednesday, 16 April 2014

Surat Kejengkelan untuk "Yang Menjengkelkan"

HEH, kau!!!

BLOODY HELL!!! 
Kenapa kau baru memberitahuku sekarang? Bulan lalu katamu? Bulan lalu kau bertemu dokter Rizki? Itu artinya ketika kau menuliskan surat rindu itu, kau sudah menemuinya dan mengetahui penyakitmu, hah? Kenapa kau begitu santai? Kenapa kau malah menulis surat yang berputar-putar seperti itu???

Ke mana kau pindah? Kau datang ke kotaku? Apa kau gila? Sejauh itukah kau mencintaiku? Pikirkan dulu tugas akhirmu dan aku juga akan memikirkan tesisku! Perhatikan kesehatanmu! Jangan berbuat hal yang macam-macam. 

Kau membuatku sulit menuliskan ini. Harus kumulai dari mana ini? Apakah kau bilang kalau kau mulai mencari donor? Golongan darah B, ya. Tidak! Kenapa kau mencari donor? Stadium berapa? Katakan padaku! Aku masih tidak menyangka, ini benar-benar terjadi padamu. Aku masih menganggapmu hanya berhipokondria selama ini. Mungkin kau tersugesti dengan pikiran-pikiran itu hingga tubuhmu menuruti sugesti tersebut. Aku harap ini bukan yang kronis. Oh, Tuhan... Kenapa kau tidak memberitahu orang tuamu? Aku tidak yakin, aku dapat selalu membantumu karena kesibukanku saat ini. Bagaimana jika ada hal buruk yang terjadi padamu dan kau sendirian? Aku tidak bisa membayangkannya lagi. Ah! Golongan darah B, ya? Apakah kau membutuhkannya secepat ini? Bagaimana tentang biayanya? Kau harus memberitahuku jika tabunganmu sudah habis untuk berobat.

Oh iya, aku pernah mendengar kalau orang yang sakit ini harus melakukan diet makanan. Aku akan mencari infonya. Tetangga kontrakanku, anaknya...oh bukan, keponakannya...ah persetan siapanya, juga menderita sakit ini. Dia memiliki menu makan yang diatur dan harus mematuhinya. Aku...masih tidak percaya kau benar-benar... Baiklah!!! Kau tidak boleh naik stadium. Kau harus memperlambatnya! Berjanjilah padaku! Aku akan mengirimkan menu diet itu kepadamu dan kau harus mematuhinya. Aku akan mengirimkan setiap info tentang ini kepadamu dan kau harus mencoba menjalankannya. Satu lagi! Jangan minum obat penahan rasa sakit semacam asam mefenamat terlalu sering karena, menurut dugaanku, dia akan memperparah kondisimu, terutama lambungmu.

Apakah kali ini aku terlalu cerewet? 

Aku jengkel sekali kepadamu. Aku tidak mengerti kenapa kau menganggap hal besar seperti ini seolah-olah sesuatu yang sepele. Oke, selamat kau menang. Namun, apakah kepuasan akan kemenangan itu dapat menyembuhkan penyakitmu? Ingat! Kau ini sekarang adalah seorang perempuan berumur 22 tahun. Ingat, kan? 

Tunggu, 16 Maret lalu, sehari setelah ulang tahunmu, bukankah kita bertemu dan makan bersama? Ini kurang dari sebulan yang lalu, kan? Kau sudah tahu tentang penyakitmu, kan? Kenapa KAU TIDAK BILANG APAPUN padaku??? Hah!!! Kau tidak banyak bicara, selain bercerita tentang hal tidak penting. Apa, ya? Tentang perseteruanmu dengan teman sekampusmu? KAU ini, benar-benar... Kau tidak mau diurusi atau apa, hah?

Oke, jangan lupa kirimkan alamatmu. Weekend ini, sepertinya aku dapat sedikit meluangkan waktuku. Sepertinya aku dapat mengunjungimu. Kuharap di sana ada bioskop yang dekat karena ada satu film yang ingin kutonton. Kau ingin aku membawakanmu apa? 

Uhn... Ngomong-ngomong, selamat! Kau telah membuatku cemas sepanjang hari. Maaf, aku baru membalasnya sore. Baru saja aku kembali dari Semarang. Yeah, kemarin aku memang pergi ke sana dengan Pak Danu (bukan pembimbingku dan kami tidak pergi ke Timur). Dia sangat jenius, Ndah. Aku akan menjadi seperti dia. Semester depan, aku akan menyelesaikan tesisku. Pembimbingku sangat suka dengan judul tesis yang kuajukan. Aku sudah mulai menyusun desain prototype-nya. Hnnn... Aku juga masih menjadi asistennya. Tiga kali dalam seminggu, aku menemaninya mengajar di kelas. Lihat, betapa sibuknya aku yang keren ini, bukan? Jadi, berhentilah berpikir macam-macam tentangku. Aku tidak akan meninggalkan "ini" karena berkatnya lah aku menjadi seperti sekarang ini. Aku juga tidak berniat untuk mengabaikanmu, jika kau mulai berpikir demikian. 

Ndah, kau masih ingat dia, bukan? Bagaimana kabarnya? Apakah dia masih sibuk dengan praktik-praktik lapangannya? Bukankah tahun ini adalah tahun kelulusannya... bersama denganmu? Aku tidak tahu apakah aku dapat menghadiri pesta kelulusan itu. Aku ingin menitip salam untuknya, tapi sepertinya tidak mungkin. Oke, lupakan saja.

Kau mau cerita apa? Berceritalah sesukamu. Mungkin aku akan telat membalasnya, tapi aku pasti membaca semuanya tanpa terlambat. Ingat! Jaga kondisimu. Segera kabari aku, jika terjadi sesuatu.


Dewa.

Tuesday, 15 April 2014

Surat Ketidaksabaran untuk "Yang Tidak Bisa Dinanti dengan Kesabaran"

Heh! Apa kau tidak tahu kalau aku sangat menantikan balasan surat darimu? Kau ini jenius, bukan? Tidak mungkin kau tidak mengerti dengan isi suratku, bukan? Apa kau belum membacanya? Atau sengaja tidak ingin membalasnya? Ish! Kali ini aku tidak peduli, kau akan membalas surat-suratku atau tidak. Aku akan terus mengirimimu surat, meski kau tidak pernah menjawabku. Aku hanya memiliki waktu empat puluh menit lagi untuk menulis surat ini. Jadi, aku tidak akan berpanjang lebar seperti biasanya.

Oh, iya sebelum aku memulai bercerita, akun ingin meluruskan isi surat rinduku yang sebelumnya karena kau tak kunjung membalas surat bergambarku. Aku memang merindukanmu, aku sudah sangat jujur. Namun, aku pun sudah sangat jujur ketika bilang bahwa aku tidak menyukaimu dan kau belum masuk standar atau kriteriaku dan aku juga tidak ingin memantaskan diriku untuk memenuhi kriteriamu. Ingat ini baik-baik!

Oke, aku akan mulai bercerita. Aku harap kau tidak kaget ketika membacanya dan sepertinya memang tidak akan kaget. Ini tentang kecurigaanku terhadap tubuhku sendiri, yang pernah kuceritakan padamu, tahun lalu. Bulan lalu, akhirnya aku memberanikan diri menemui dokter Rizki, seperti saranmu...dan ternyata kecurigaanku benar. Aku tidak sedang berhipokondria, selama ini. Hahaha... Kau tidak kaget, bukan? 

Aku berbohong, jika aku berkata: aku tidak sedih. Namun, aku tidak bisa betul-betul bersedih. Kau tahu? Ini sakit, pasti. Namun, entah kenapa aku merasa puas karena dugaanku terbukti. Aku menang dan kau kalah. Aku merasa senang karena kau salah. Seorang jenius bisa salah juga. Hahaha.... Ha... Ha.. Ha... Aku masih belum memberitahukan ini kepada siapa pun, bahkan ke ayah dan ibu. Aku kira, aku masih bisa menahannya hingga hari kelulusan. Tentu saja aku tidak akan berdiam diri. Aku juga sedang mencari-cari orang baik bergolongan darah B yang mau berbagi denganku. Ternyata tidak mudah, hahaha. 

Aku belum tahu seberapa parah kondisiku. Namun, dokter Rizki bilang ini tidak sampai membuatku melakukan hemodialisis. Aku bersyukur untuk ini. 

Hmmm... aku sudah pindah rumah. Aku akan memberitahumu jika kau membalas surat ini. Tempat tinggalku yang sekarang lebih dekat dengan rumah kontrakanmu. 

Oh, iya. Aku juga ingin bercerita beberapa hal lain...tapi ini tergantung dengan balasan suratmu nanti. Aku mulai tidak sabar menanti jawabanmu. Aku mulai tidak sabar berbaik kata dalam surat-suratku kepadamu. Aku akan membuat kata-kata dalam suratku lebih sederhana agar kau tidak lelah membacanya. Aku akan terus bercerita.

Uhn... bagaimana proyekmu? Kudengar dari seseorang kau sedang sangat sibuk dengan proyek di wilayah timur? Di mana? Proyek apa? Waaah...aku senang pembimbingmu begitu baik dan mempercayaimu untuk membantunya dan melibatkanmu dalam proyek-proyeknya. Selamat dan semangat, ya. Aku akan sangat senang jika kau dapat lulus lebih cepat dari orang lain seperti yang kau inginkan. Beritahu aku lebih banyak kabar tentangmu, oke?



Dariku, 


yang tak sabar menanti balasan suratmu dan mengirimi lebih banyak surat lagi untukmu

Wednesday, 9 April 2014

Bagaimana Ini: Saya Belum Bisa Move On!

Ini tentang cinta pertama saya, yang saya temukan pada saat kelas IX SMP.

Apa yang dapat saya ceritakan tentangnya? Dia masih muda dan selalu lebih muda dari saya hingga sekarang. Haha, ya iyalah. Parahnya, semakin hari jarak usia antara kita tampak semakin lebar karena dia tak juga tampak menua atau dewasa. Yeah, saya tidak tahu berapa usianya atau kapan dia lahir karena menurut saya itu tidak penting.

Pertama kali melihatnya, dia mengenakan baju oranye cerah. Tingkahnya begitu ceria, penuh semangat dan aura optimis yang tampak tak akan pernah habis. Dia memang cerewet, banyak bicara, mudah berteriak, beberapa hal yang tidak saya suka jika pemilik karakter tersebut adalah seorang laki-laki. Namun, di saat-saat tertentu, di mana sebagian besar orang akan terjatuh dan menyerah untuk menghadapi rintangan yang menghadangnya, dia justru akan berdiri dan melawannya, hingga ditemukan kedamaian.

Dia mudah tersulut amarah, juga melotot dengan ekspresi yang sangat lucu dan menggemaskan. Namun, di saat-saat genting di mana orang pada umumnya akan mudah saling mengatai dan baku hantam demi memperjuangkan kepentingan dan mempertahankan keamanan dirinya sendiri, dia justru akan menahan emosinya tanpa mau menyakiti orang-orang di sekelilingnya.

Dia memang sangat konyol dan tak mengenal rambu-rambu dalam berkata kepada siapa pun, berapa pun umurnya. Dia supel, tanpa merendahkan yang lebih muda, tanpa menjilat kepada yang lebih tua, tanpa menusuk dari belakang... kepada mereka, orang-orang yang telah mempercayainya.

Tingkah dan perilakunya seperti bocah yang terlalu aktif. Ini terbentuk bukan tanpa sebab. Dia yatim piatu sejak lahir, tak pernah disayangi dengan cukup, tak pernah dididik dengan penuh kasih sayang seperti orang lain pada umumnya. Setiap tindakan konyolnya adalah hasil belajar sosialnya, dalam menutupi kesepian hatinya, kerinduan tak tersampaikannya, keterasingan di saat kanak-kanak yang membuatnya bosan dan memicunya untuk menjadi orang yang dapat dilihat orang lain melalui kekuatan dan perbuatannya. Hmm...

Yep! Dia sangat berbakat, kuat dan jenius di saat-saat genting, sebetulnya. Namun, tidak semua orang menyadari kemampuannya. Tingkah kekanak-kanakannya menutupi kekuatan dan pemikirannya yang sangat keren. Meski, pada awalnya, banyak orang yang tidak menyukainya atau sering dibuat jengkel olehnya, tetapi sebenarnya mereka sangat menyukainya. Begitu pula saya...

Bagi saya, dia adalah seorang yang lucu, tak mudah menyerah, cerdas dan keren. Pandai? Tidak. Sabar? Tidak. Emosian? IYA! Namun, bagaimana pun juga dia tetaplah cinta pertama saya. Saya tidak tahu bagaimana kabarnya, sudah seberapa jauh perjalanannya, apakah sudah menemukan orang yang dicarinya selama ini, bagaimana peningkatan kemampuannya, cerita apa yang dimilikinya, dll...karena saya sama sekali tidak pernah mengikuti kabarnya lagi.

Satu yang saya tahu, saya masih mencintainya dan belum bisa bergeser ke yang lain, selain dia, Naruto. Betul sekali, dia adalah tokoh utama anime yang pertama kali saya sukai dalam hidup saya.

Tuesday, 8 April 2014

Nasi(b)

Ini hampir seminggu sejak kembali ke Depok dan inilah hari-hari di mana saya sangat malas makan, terutama nasi. Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, dan Senin. Jika tak salah ingat, hanya pada hari Kamis dan Sabtu saya makan nasi. Sisanya, saya hanya makan sayur berkuah masakan sendiri: rebusan bayam atau caesim dan sayur campur-campur lainnya, tanpa nasi. Itu pun hanya sekali sehari, ketika menjelang sore. 

Malamnya? Paling hanya menggoreng 3 potong tempe daun khas kampung halaman yang dibekalkan oleh Mama atau omelet mi atau tidak sama sekali.

Ke mana perginya kau, wahai nafsu makan?

Sunday, 6 April 2014

Surat Cinta dari Orang Alay untuk Orang yang Tidak Dikenal (superkocak)

Ohayou C***** alias Pak D**** ***** ******* J

Apa kabar? Semoga kerasan belajar **********-nya dan cepet jadi ****** yang disayang ******-nya. Aamiin…

To the point aja,
Aku ini bukan lagi sedang nembak karena aku juga tahu itu nggak mungkin sukses, ahaha. Semua tulisan ini hanya bentuk pemberitahuan perasaan soalnya udah dipendam lama (kayak di sinetron, ya? haha). Sebenarnya, Mama juga nggak memperbolehkan anak gadisnya berbuat hal nekad seperti ini… tapiiii….

Maaf, aku keras kepala karena aku menyukaimu sejak lama.

Surat Keheranan untuk "Yang Terlalu Sering Berpikir Kejauhan"

Hay...
Syukurlah jika kabarmu baik. Aku bingung dalam menanggapi keresahanmu dan kabar-kabarmu. Mungkin, jika aku harus mengabarkan kabarku aku akan berkata kalau aku baik-baik saja. Apakah ini menjawab seluruh isi suratmu? Aku tidak suka membaca tulisan dalam suratmu yang begitu panjang paadahal intinya sama. 

Tentang perjumpaan kita
Kukira beberapa minggu lalu kita berjumpa dan makan bersama. Definisi perjumpaan yang macam apa yang kau harapkan, sebenarnya? Pesta kembang api? Pesta pernikahan? Aku bahkan sudah lupa tentang itu. Tidak sekalian saja kau sebutkan tentang pesta teh botol, pesta rakyat, pesta panen dan yang lainnya? Kenapa kau kesal karena aku tak bersimpati? Lagipula kenapa aku harus bersimpati? Aku sungguh tidak dapat menangkap maksudmu. Apakah aku telah melakukan kesalahan? Perasaan, hanya begitu saja. Apakah kau hanya mampu mengingat setiap hal kecil yang tidak penting seperti itu? 

Sebenarnya, kita dapat berjumpa saat itu. Jika kau datang. Jika kau menurunkan sedikit saja kadar egomu. Aku cukup berharap dapat bertemu denganmu di saat itu. Namun, ke mana kau? Bersembunyi sembari menuliskan kalimat-kalimat yang mengisyarakatkan penderitaan? Jangan-jangan aku salah satu orang yang paling membuatmu menderita, hmm? Ah, kau menulariku cara berpikir yang seperti ini.

Tentang rindumu untukku
Terima kasih untuk rindu yang tersimpan untukku selama ini. Tentu saja, aku merasa cukup pantas dirindukan sesungguhnya. Pesonaku yang keren memang selalu membuat orang-orang mudah merindukanku. Namun, kau cukup berani menuliskan surat semacam itu untukku, di sini. Apa kau cukup punya stok keberanian untuk menahan malu yang akan kau tanggung jika banyak orang yang berpikir macam-macam untukmu? Mungkin, yeah...kau benar. Sulit bagiku untuk merindukan kau atau yang lain. Kenapa? Karena aku tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal seperti itu atau merasakan rasa-rasa yang tak penting semacam itu. 

Kau tahu sendiri, aku pandai bukan? Kau pikir, aku pandai tanpa usaha sama sekali? Sejenius apa pun aku ini, aku perlu memusatkan perhatian untuk studiku. Kau pikir aku sedang bermain dengan hal lain? Aku bukan sepertimu, yang kelebihan waktu luang, hingga kebingungan menghabiskannya. Tch! Apakah kau kelebihan waktu luang atau memang meluangkan waktu terlalu berlebihan? Sepertinya, kau yang bermasalah, bukan aku. Kau terlalu memikirkan urusan orang berlebihan, termasuk urusanku. Mungkin, kau perhatian, tapi mungkin lebih baik kau menyalurkan perhatian itu untuk hal-hal lain yang lebih krusial. Aku heran, sungguh heran dengan cara berpikirmu. 

Tentang kau yang tak menyukaiku dan aku yang tak memenuhi standarmu
Sepertinya kau memang menyukaiku. Kenapa kau masih berkilah? Kau bilang aku tak memenuhi standarmu. Namun, apa kau pernah berpikir tentang dirimu sendiri, apakah kau sudah cukup memenuhi standarku, bahkan untuk hanya sekadar menjadi perindu. Kau menyebutku orang yang tak pantas untuk dirindukan. Namun, apa kau sudah cukup pantas untuk merindukanku? 

Maaf, jika balasan surat yang kuberikan tidak sesuai dengan harapanmu, jika isi tulisan ini justru seperti semacam serangan balik untukmu. Aku hanya ingin kau berubah dari segala pikiran-pikiran itu, yang negatif, yang tidak penting sama sekali. Meski kuakui, aku hampir tak menyangka akan ada orang yang memperhatikanku dan merindukanku hingga sebegitu besarnya, di saat aku bahkan mungkin mengingat tentangmu pun tidak. Namun, yakinlah...bahwa kau jauh lebih baik dari sekadar melakukan hal-hal tidak jelas ini. Sadarlah... Jalani sisa studimu dengan benar. 

Dariku yang terlalu heran denganmu yang terlalu berpikir kejauhan,

PS: Lain kali, kirimkanlah pesan (hanya) yang bermanfaat. Aku tidak suka membaca tulisan panjang dan harus membalasnya dengan tulisan yang panjang juga. 

Thursday, 3 April 2014

Hanya Saja...

Entahlah... Hanya saja, aku tahu.
Aku tahu dan hanya bisa bertingkah gagu.
Ini betul, aku lebih nyaman menjawab setiap hal dengan membisu.
Aku semakin menyukai memendam suaraku yang tidak memiliki kekuatan, melainkan ragu.

Entahlah...
Hanya saja, diamlah yang dapat aku lakukan,
meski batin sempat terkoyak, meski sesekali lenyap ketenangan jiwa.
Aku menyimpan, memendam, tidak mendendam, tapi merasa bersalah berkepanjangan.
Hingga kucuran permintaan maaf dan berhati-hati setiap saat lah yang terlaksana berulang-ulang

Entahlah...
Hanya saja, aku mengerti.
Aku tidak bermasalah dengan semua kepasrahan ini,
karena aku bukan pelopor, pencetus ide-ide yang bijak bestari.
Aku bukan juga pemberi nasihat, yang dapat membantu mereka memecahkan rumitnya teka-teki.

Entahlah...
Hanya saja, aku ingin memberi kabar.
Aku tidak ingin dihujani belas kasihan atau bela sungkawa,
karena aku tidak sedang menderita atau berduka cita.
Aku hanya ingin dibiarkan sendiri, menumpas kebodohanku yang hanya dapat ditangani olehku saja.

Entahlah...
Hanya saja, aku merasa sedih ketika hilang kepercayaan.
Banyak yang berdalih, aku yang tak terbuka membuat mereka enggan percaya.
Namun, setiap kali aku berupaya ingin terbuka, sebanyak kali itu pula upayaku ternilai gagal.
Sampai-sampai aku tak mengerti keterbukaanku yang macam apa yang sebenarnya orang-orang inginkan?
Sepertinya memang aku yang tidak mengerti makna terbuka dan tidak tahu cara melakukannya.

Hanya saja, aku masih tidak tahu apa mauku...
Terlalu memikirkan mereka, terlalu tidak tertarik padaku sendiri, terlalu asyik berfantasi dalam imajinasi.
Mungkin ini yang membuatku bertampang bimbang, membuat orang-orang begitu mudah menekan dan mengancam...

Hei, tapi aku tidak merasa tertekan...
Hanya saja aku tidak suka diberi tuduhan dan pertanyaan, yang menyangkut urusanku seorang, 
tidak layak untuk mereka ketahui lebih dalam.

Oh, mungkin ini yang mereka bilang tertutup...
Namun, bukankah setiap orang memiliki batas privasinya sendiri?
Dan bukankah setiap orang berhak menentukan seberapa luas lahan privasi yang akan dihuninya sendiri?

Aku, mungkin salah satu orang yang terkadang lancang menginjak teras batas privasi orang lain...
Namun, aku bukan pemaksa yang akan mendobrak masuk pintu privasi seseorang yang telah menolak untuk menjawab ketukan dan salam yang dikirimkan.

Kau tahu bagaimana rasanya dituduh: ingin dianggap sebagai orang malang?
Aku tahu.
Kau tahu bagaimana rasanya disebut dengan umpatan "Anjing!"?
Aku tahu.
Kau tahu bagaimana rasanya diusir dan tak diizinkan untuk kembali?
Aku tahu.
Kau tahu bagaimana rasanya diancam akan dibunuh?
Aku tahu.

Aku tahu rasa-rasa dari penolakan, pelabelan, sedikit pengasingan dan mengalami pembedaan.
Mungkin ini yang membuatku berhati-hati, mungkin ini yang membuatku menjadi tertutup seperti apa kata mereka.

Monday, 31 March 2014

Saya Suka, tapi Tidak Suka

Saya menyukai banyak hal. Saya ingin dapat melakukan banyak hal. Saya ingin belajar dan berlatih untuk dapat melakukan banyak hal itu. Namun, saya tidak tahu...setiap saya mulai mencoba saya merasa tidak pantas dan tidak memiliki dorongan semangat untuk terus melakukannya.

Saya suka menari. Namun, setiap kali saya bercermin saya pasti akan tersadar bahwa saya tidak memiliki modal untuk menjadi seorang penari, bahwa kesukaan saya dalam menari tidak seharusnya untuk dipertontonkan kepada orang-orang, bahwa meski saya berusaha sekeras apa pun untuk menari di pentas, saya tidak akan mampu menari dengan bahagia... karena saya tidak membiarkan diri saya untuk dilihat oleh orang lain. Sudah banyak kali saya menari, terhitung sejak kelas 3 SD. Tari tradisional, tari India, tari kontemporer, dan tari-tari yang lainnya... Namun, untuk apa saya menari? Apakah untuk dilihat? Tidak. Saya hanya suka ketika melakukannya bersama dengan yang lain. Saya suka melakukan gerakan indah dengan baik dan tepat dan saya benci tingkah laku saya dilihat oleh orang. Pada akhirnya, sebagian besar alasan menari saya adalah untuk pemenuh kewajiban atau pelengkap suatu acara pentas karena tidak ada satu pun orang lain yang mau melakukannya. Mungkin terlihat pas, saya suka menari dan tidak ada yang mau menari. Saya dapat menari untuk mengisi kekosongan itu. Namun, saya tidak suka terlihat. Saya pun tidak mampu menari dengan bahagia. Setelah selesai menari pun, saya tidak pernah dihadiahi dengan senyuman. Tidak, tidak...tidak usah diberi pujian karena saya sangat tidak suka dipuji, apalagi yang berlebihan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Kasihan mereka berbohong untuk kesia-siaan. Bukan, bukan tidak ikhlas juga dalam melaksanakannya, hanya saja saya bingung mengapa saya betul-betul melakukannya?

Saya suka menulis. Namun, ya seperti inilah tulisan saya. Tidak bermutu, tidak berkualitas. Menulis pun kurang konsisten. Meski saya sudah tahu minat saya ke tulisan fiksi, tetapi topik, tema dan inti ceritanya tidak banyak yang berbeda. Hwoaaah. Beri saya waktu untuk mengembangkannya. Ah, saya tengah berkata kepada siapa sebenarnya? Awang-awang? Langit-langit kamar? Pembaca? Hmmm...siapa yang pernah membaca cerpen-cerpen saya? Hampir tidak ada. Iya, iyalah. Kapan saya menulis cerpen? Setahun sekali pun belum tentu. Masih pantaskah saya mengaku suka menulis? 

Saya suka membantu terlaksananya sebuah acara. Namun, saya tidak suka berada di dalam keramaian pelaksanaan acara-acara tersebut. Saya tidak suka terlihat dan dilihat dan saya tidak punya alasan yang tepat untuk menjelaskan ketidaksukaan saya yang satu ini. Inilah yang membuat saya suka berorganisasi atau mengikuti suatu kepanitiaan, tetapi saya tidak suka menghadiri pelaksanaan acara besarnya. Saya akan memilih menjadi pembantu di belakang layar. Saya sangat menyukai menjadi pemanjat tangga dibandingkan pengisi panggung. Saya sangat menyukai merencakan suatu pementasan daripada memberikan sambutan. Saya sangat menyukai berkeliling kota mencari kebutuhan acara dibandingkan harus menyapa satu per satu tamu yang datang. Saya tidak suka bertemu dan menyaksikan banyak manusia... Mereka membuat saya pusing dan mual.

Saya suka musik. Namun, saya akan berhenti memainkannya ketika ada orang yang mulai memuji. Bagi saya, pujian adalah sindiran secara halus. Oleh karena itu, saya lebih memilih bermain ketika sendirian, bermain ketika tidak ada orang yang memperhatikan dan bermain hanya untuk diriku sendiri. Saya memang suka bermain musik, tapi saya tidak pandai bermain musik. Inilah yang membuat saya sebal ketika ada orang yang bilang bahwa saya pandai bermain musik. Apa yang saya lakukan adalah hal-hal yang dapat dilakukan orang lain. Meski demikian, jika ada orang yang mau mendekat dan bernyanyi bersama, saya akan menyukainya. Asalkan dia diam dan tidak memuji dengan hal-hal yang benar. Saya bersedia membagikan apa yang saya tahu tentang musik, tapi saya akan berhenti berbagi dengannya ketika dia bilang saya jago atau sebagainya. Ada yang salah dengan saya? Biarkan saja. 

Saya suka menggambar. Namun, ini tidak konsisten. Saya hanya penjiplak. Saya menggambar dengan melihat contoh objek yang akan digambar. Imajinasi saya sebetulnya sangat buruk. Sama seperti yang lainnya, saya tidak suka diberi pujian untuk gambar-gambar saya, meskipun saya suka memperlihatkan gambar-gambar saya. Saya hanya suka meminta saran, bukan diberi pujian. Namun, uhn...entahlah.

Saya suka fotografi. Namun, saya sadar diri dengan apa yang saya miliki saat ini, saya belum dapat memenuhi keinginan berburu dan berbagi foto yang bagus. Meski demikian, saya cukup suka membagi satu, dua foto meski tak beresolusi baik, setidaknya tak banyak diedit. 

Saya suka desain dan film. Namun, ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kuliah yang saya geluti. Pantaskah saya tetap penasaran dengan desain dan perfilman?

Saya suka drama. Saya sangat suka menyaksikannya maupun melaksanakannya. Beberapa kali saya pernah menjadi sutradara atau penulisnya atau sebagainya. Namun, saya tidak memiliki cukup potensi menjadi pemimpin dan penyampai gagasan yang baik. Alhasil, saya menjadi sutradara yang buruk. Meski demikian, saya tetap suka menonton drama. Ini menyenangkan melihat orang bersandiwara di atas panggung secara langsung.

Saya suka melakukan banyak hal...tapi saya tidak memiliki cukup keberanian untuk menjaga kesukaan saya... Saya merasa tidak pantas melakukan semua hal karena terlalu sering dikomentari di belakang dan dipuji berlebihan di depan. Saya tidak suka. Saya tidak tahu, mana yang sebenarnya benar-benar pantas saya lakukan karena ini...

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...