Showing posts with label Syair. Show all posts
Showing posts with label Syair. Show all posts

Wednesday, 7 August 2024

Meramu Kelu

Selamat datang Agustus. 
Ternyata sudah seminggu kamu berlabuh. Aku, dia, dan mereka masih seperti kabut-kabut yang bergerak satu-satu. 

Udara yang layak hirup perlahan menipis karena dalam dingin kami berebut. Gemintang tampak bingung, kadang hilang, kadang timbul, tidak tahu momentum yang tepat untuk berpendar dengan senyum. 

Ada nyeri yang tak mampu dimaklumi manusia, ada keluh yang dimaknai ceracau dan tak pantas diterima, ada kebohongan yang ditafsirkan kebaikan bersama, ada sedih yang dikubur demi membahagiakan mereka yang tak boleh melihat kita tidak tertawa. 

Sayup-sayup terdengar pujian-pujian suci mengalun indah nan tegas, menepuk kewarasan, mengikat otak tetap di tempat, mengancamnya agar tak kabur dengan acak. 

Miliaran jiwa berlalu-lalang di setiap inchi belahan bumi, tak adakah satu saja yang sudi menepi barang satu atau dua detik? 

Di antara dua tiang gagah bermahkota biru, aku terduduk menunduk menekuk lutut, membatin dengan keras dengan tetap menanggalkan fungsi kedua inderaku, "Kapan aku tepat?"

Friday, 18 March 2016

Puisi tentang Waktu untuk Event #99Penyair (dibikin kilat, sejam doang)

Waktu Itu…

Tik tok tak terhitung jari
Nada dan tempo konsistennya manampar kesadaran
Pencemburu, mengatainya pendukung kecurangan
Pemburu, memusuhinya karena keluangan
Perutuk, menyalahkannya, meski ada atau tiada
Tak hirau puji, tak acuh kutuk yang menuntut
Sejatinya penurut Tuhan, ia bergerak konstan, diam
Nyata, tak kasat indera
Kukuh, tanpa lelah dan keluh
Salah satu kesempurnaan ukuran yang tak tertawar
Bukankah ia membuat kita percaya tanpa membantah?
Terkadang ia bersemburat bersama kehadiran senja
Terkadang ia menangis bersama mendung membasah
Sering kali ia memanas bersitegang dengan mentari
Dan ketika tiba giliran dewa-dewi cinta bersemi,
ia memerah muda merayu bunga-bunga
Bukankah ia ada bukan hanya sebagai pengingat,
melainkan juga untuk turut memperingati?
Waktu itu…

****************************************************************


Perindu Malam

Tidak ada fajar, siang, dan senja dalam buku harian kita
Hanya malam dan malam yang pekat tapi hangat
terselimuti lelah, tawa, dan sedikit sekali kata sapa
Kita terbangun sebelum fajar sempat mengintip berbenah rumah bahkan saat ayam masih tertidur asyik

Malam demi malam berlari dengan kecepatan misterius
Kau dan mereka tergerus, baik raga, pun mungkin batin
Namun, malam tak selalu galak mengusir gemintang
Bumi tak pernah sudi berdiam diri, dan lagi mentari
selalu muncul tanpa kenal kebosanan, di kemudian hari
Kabar baik untuk mereka penjelajah dua waktu
Kabar duka untuk para penikmat rutinitas burung hantu

Waktu terlalu pandai mengabur-geserkan hati dan otak
menghasut dengan gelap, menjadikanku perindu malam
mengisi tiap detik gelapku dengan cintamu dan mereka
mengulang ini itu hingga subuh menyapa tanpa aba-aba
menorehkan rasa dan peristiwa dalam buku harian kita
hingga tiba, kita hilang bak embun yang diuapkan siang

****************************************************************

Tantangan (?)

Kita sepakat, sebab akibat adalah karya hebat waktu
Ketika si cikal menghilangkan diri atas sebuah kejadian
Inikah yang kau sebut tantangan berbalap dengannya?
Sebelum ia menghilangkan si cikal selamanya?

Gegabah, menuduhnya tersangka tak kenal kompromi
Bagaimanapun, ia satu-satunya temali yang sempurna
Penyedia bukti, meski kadang memanipulasi memori
Peramu ahli, tentang keberlepasan dan keterikatan

Maka kita hanya perlu merayunya untuk meramu ulang
Memberi bumbu-bumbu untuknya memasak kejadian
Bekerja sama menemukan kembali si cikal misterius
Lantas, berdamai dan berhenti berlomba dengan serius

Aku tak yakin, kita cepat bersahabat
Namun, aku lebih tidak ingin kita terus berbalap
Karenanya mengapa tak kita ubah tantangannya
menjadi kesempatan untuk bersahabat dengannya?

Thursday, 20 November 2014

Sajak

Sajakku berisi sekawanan kisah tragis yang manis. Mereka tumbuh bergantian, sudi berkenalan, tapi tak bersedia bertalian. Bermuara di tepi pantai berpasir kelam, tetapi tak cukup kasihan untuk melulu dihujani asinnya tangisan. Alih-alih tangis, aku ingin menganugerahi mereka, senyuman yang sedikit nakal. Suatu ketika, aku hampir mati bosan, mereka datang tanpa membawa kebahagiaan. Inginku menjual bosan, barangkali laku dan menghasilkan banyak uang. Namun, sekejap aku berpikir, mereka hanya milikku, dinikmati hanya boleh olehku. Maka aku menyimpan mereka ke dalam guci sewarna emerald yang kedap waktu, mencegah mereka termakan detik yang berlari terburu-buru. Tentu saja, aku punya rencana untuk mereka. Bukan rencana besar tentang aksi penyelamatan semesta. Bukan pula rencana dahsyat untuk menghancurkannya. Aku berlepas dari hiruk pikuk urusan manusia, setidaknya dari mereka yang tak kukenal, atau kupilih untuk tidak kukenal. Hanya saja, rencana ini akan membuatku hidup lebih lama. Tidak abadi, karena hanya Tuhanlah yang memiliki hak milik atas keabadian itu sendiri. Lantas, apa yang kuinginkan jika aku beserta mereka berhasil hidup lebih lama? Hanya secuil sejarah, dengan aku, sebagai tokoh utama, dan monolog-monolog yang selurus horizon senja di dalamnya.

Friday, 7 November 2014

Langit Cinta

Jangan tulis sebuah puisi cinta untukku, aku tak akan membacanya
Jangan ucap rayuan manis kepadaku, aku tak mau mendengarkannya
Jangan belai rambut bau dan kusutku, aku tak nyaman menerimanya
Jangan beri pelukan yang kau kira dapat menenangkanku, aku tak mampu merasakannya
Jangan berbaik atau berburuk laku dalam menghadapiku, aku tak yakin akan mengingatnya

Aku telah mengatakan segala larangan untukmu, akanku
sejak aku terbangun di sore berawan mendung kala itu
mendapati kepalamu tergeletak di tepi pembaringanku
Matamu setengah terpejam, napasmu laun berburu
Aku menarik selimut, menjauhkan diri darimu, aku tak mengenalmu
Kau terbangun, tergesa berlari meninggalkanku, meloloskan kelegaanku

Mataku menyapu ke seluruh ruangan, menggali petunjuk atau mungkin sebuah inspirasi
Aku mencoba berpikir, tetapi sesuatu dalam diriku menonjok akalku tanpa permisi
Bungkam dan berkedip, tak ada hal lain yang dapat kulakukan selain ini

Kau datang, membawa sosok asing berbeda, yang terlihat  rumit
Dia mendekatiku, menyentuh beberapa titik di tubuh kakuku
Aku tak siap, beringsut melipat badan, berteriak tanpa berbunyi
Dia menjauhiku, menepuk pundakmu dan membisikkan sesuatu
Kau menunduk, menggumamkan sesuatu, lalu menghampiri tempatku berbaring

Aku bergidik, menangkap kata-kata asing dalam bisikan hangatmu
Aku mendelik, diam dan menerka adanya kemaknaan dalam setiap ucapmu
Aku melirik, kepada orang asing yang pertama kulihat dalam hidupku, ke arahmu
Aku memekik, resah, membenarkan keyakinan, benar bahwa aku tak mengenalmu

Aku ingin melarikan diri, tapi kau menarik tubuhku ke dalam pelukanmu
Aku terkunci, dan kau kembali membisikkan kata-kata panjang ke telingaku
Aku menjauhkan diri, kulihat setitik air bening meluncur dari mata kirimu
Aku tak lagi menguasai diri, limbung, tenggelam kembali dalam gelap mimpiku

Bagiku, hari itu adalah hari aku dilahirkan
Hari pertama aku berjabat dengan dunia

Kau membawaku pergi dari tempatku terbangun, keesokan paginya
Menurunkanku di sebuah tempat baru, berbau basah dan bernuansa biru

"Laut," katamu

Kusimpan dia, laut
Kata pertama yang kuselipkan dalam kamusku
Lalu siapa aku?
Siapa orang di hadapanku?
Aku bertanya lewat tatapan
Gemas
Gamang

"Kau Rissa. Rissa namamu. Artinya laut, jika kau ingin tahu," tambahmu
Kata-kata terpanjangmu, yang akhirnya kuperhatikan dan kudengarkan

"R.. Ris...Rissa. Ma... Laut," ucapku
Kata-kata pertama yang keluar dari bibirku
Aku tak paham, sudah pasti
"Riss..sa. La...ut," ulangku lagi
Suaraku parau, sepertinya tak mampu kau kenali
Jemariku meremas pegangan kursi beroda yang kududuki

Kau membungkuk, menghadapku, menggenggam lembut jemari tangan kananku
Aku terlonjak, masih tak terbiasa, asing, tak tahu harus bersikap macam apa
"Rissa," kau menggerakkan genggaman tangan kita, menuntunnya ke arahku
Kau melepas genggaman itu, sedikit bergeser, setengah berjongkok, kita bersebelahan
"Laut," katamu, menunjuk permadani biru yang bergeliat dan bergulung di depanku

Aku pun mulai mengerti
Bagaimana cara bermain kata ini
Ini tentang membedakan benda ini dan itu
Ini tentang menamai mereka dengan sesuatu

Aku mengikuti apa yang kau lakukan, ajarkan
Menunjuk diriku, aku menggumam, "Rissa."
Menodongkan tangan kananku ke arah depan, aku setengah berteriak, "Laut."
"Rissa. Laut. Rissa. Laut. Rissa. Laut."
Ucapku berulang-ulang, sembari berolahraga tangan
Tak bosan

Kau tertawa pelan, matamu sayu, mengisyaratkan sesuatu
Aku berhenti mengulang dua kata itu
Diam, lalu aku melemparkan telunjukku ke arahmu
Aku ingin tahu, siapa kau, orang pertama yang menyaksikan kelahiranku

"Aku?" tanyamu, retoris
"Langit," mendaratkan telapak tanganmu ke dadamu
Lalu, kau tunjuk awang-awang di atas ubun-ubunmu
Menarik garis dari atas sana, hingga berhenti ke lini perbatasan
yang memagari dan memisahkan laut dan benda pucat lain di atasnya

Sepertinya aku mengerti maksudmu
Aku mengikuti gerakanmu
"Rissa," menunjuk diriku sendiri
"Laut," meraba dari jauh gemulung ombak yang menari
"Langit," meraih tangan kirimu yang terparkir di pegangan kursi

Kau terlonjak, berdiri, memandangku dengan tatapan yang tak mampu kubaca maknanya
Aku memejamkan mata terkaget, kulepas tanganmu, takut telah berbuat kesalahan

Lembut, sesuatu yang lembut mendarat di kepalaku
Aku membuka sebelah mata, tangan kirimu mengacak rambutku, lembut

"Kau pintar, Rissa. Seperti dulu. Ah, tidak. Selalu," pujimu
Hangat, tetiba angin menghangat menerpa setiap milimeter persegi permukaan kulitku
Ada perasaan asing, menjejal masuk ke dalam pembuluh dan sel di sekujur badanku,
mengalir bersama desiran darah, menghampir, keluar masuk dalam jantungku,
membuatnya berlompatan, lebih liar dari yang pernah aku rasa dan tahu

Berdebar
Kini, aku sudah tahu namanya
Rasa yang tak akan pernah aku lupa
Penanda kali "pertama" kita berkenalan
Rasa yang kekal, lekat selamanya, dalam ingatan

Aku tersenyum
Senyum pertamaku
Direnggut olehmu, karenamu
Dan memang, selamanya, hanya untukmu

"Rissa. Cintaku," ucapmu lembut
Tatapanmu lurus ke arah laut

Cinta?
Aku mengedarkan pandang
Menerka, memilah benda atau raga
Adakah benda yang tengah kau beri nama?
Ataukah kau tengah memperkenalkan sesosok raga?

Cinta?
Ini kata baru
Penglihatanku mulai campang-camping
Namun, tak kunjung kau memberiku petunjuk
Tak juga kau mulai melemparkan telunjuk

"Di sini," kau kembali menyentuh dada
Sepertinya kau sadar, aku bertanya-tanya
Itukah cinta?
Dan aku masih bertanya-tanya
Tak ada sesuatu di sana

"Kau tak akan melihatnya. Rasakanlah," jelasmu

Cinta?
Rasa?
Kepalaku berputar
Kau tertawa
Aku tersesat

"Nanti kau tahu," tambahmu

*****
Sewindu berlalu
Sejak aku terlahir kembali dan disambut olehmu
Sejak aku memberikan larangan untukmu
Sejak kau memperkenalkan laut, langit, dan cinta kepadaku
Sejak aku tersesat dalam pelajaran kata darimu, untukku

Langit,
Aku tengah berdiri
Di depan pusara berbatu

Setengah dasawarsa ini
Kau diam tertanam di dalamnya, kaku

Benar, aku di hadapanmu
Mengelus lembut kepala nisanmu,
sama seperti ketika kau mengelus kepalaku saat itu
Nyamankah?
Bahkan hingga kini,
masih dapat kurasakan sapuan jemarimu di rambutku

Langit,
Aku sudah banyak bicara
Aku lihai mengenali rasa
Aku pandai, seperti yang kau kata

Namun, kau meleset, Langit
Aku tak pandai dalam membacamu
Aku tak paham akan teka-tekimu
Aku tak peka membaca pias wajahmu

Apa kau ingat teka-tekimu?
Aku berhasil mengingatnya, jika kau ingin tahu
Kau mengucapkannya di hari aku terbangun di pembaringanku
Kau membisikkannya dengan lembut, tepat di telingaku
Andai aku dapat memecahkan teka-teki itu tepat waktu
Mungkin aku dapat mempersiapkan pergimu
Andai aku tak terlahir kembali
Mungkin kau tidak akan kelelahan
Andai aku tak pernah lupa
Mungkin kau tidak akan mati kesepian

Akukah pembunuhmu?

Kau pasti menggeleng, Langit
Karena kau terlalu bijaksana
Karena kau terlalu percaya cinta
Karena kau adalah lelaki istimewa
Karena kau adalah Langitku, Langit yang kucinta

Friday, 24 October 2014

Jika Kau dapat Mengingat Namaku

Jika kau dapat mengingat namaku nanti,
ingatlah ketika pertama kali aku menjadi ma'mum-mu
ingatlah ketika rerenyahan gerimis dengan jail mengguyur saung
ingatlah ketika kau meniup peluit besi demi sebuah persembahan untuk kami, para pejuang baru nan lugu

Jika kau dapat mengingat namaku nanti,
ingatlah ketika perang di tanah Arab kembali bergejolak,
ingatlah ketika merpati putih pengapit jerami kedamaian berangsur terbang,
ingatlah ketika abu, air dan api di sana tak mampu dibedakan

Jika kau dapat mengingat namaku nanti,
ingatlah ketika dalam gejolak itu,
keluargamu menggelar pentas,
memutihkan nurani yang menggelap,
menyejukkan akal dan menggugah hati untuk membuka mata,
ingatlah ketika itu, aku bersenandung dalam kepungan ayam coklat matang
ingatlah pula, ketika itu kau menunjukkan ibu jemarimu untukku
atas aku, ketidaksengajaanku, mengumpulkan permata yang kau inginkan

Ya....

Jika kau dapat mengingat namaku nanti,
ingatlah bahwa kau begitu berarti,
bagi wanita biasa nan canggung ini,
bagi wanita yang baru mampu berterima kasih kepada Tuhannya sendiri,
bagi wanita yang bersedia berdiri, menanti
akan orang yang belum pernah mengingat namanya dengan pasti

Menanti, menanti sembari memantaskan diri

Jika kau dapat mengingat namaku nanti...

Depok, 11 Desember 2012

Saturday, 11 October 2014

Terpaku

Aku belum mengizinkan diriku diterbangkan oleh angin,
sebab aku gembira menanamkan jiwaku di sini,
meski aku berdusta dan mengkhianati ragaku sendiri,
yang telah lebih dulu pergi,
dan kini ia terjebak setengah diri,
di perbatasan alam nyata dan mimpi

Dua kepala bocah telah kulompati,
detik dan jarak perjalananku tak lagi terasa berarti,
kulaju langkahku tanpa henti,
tetapi bayangku tak jua mengikuti
Haruskah aku berhenti,
dan mulai membangun tenda di sini?

Tatkala mentari mulai menenggelamkan diri,
kehampaan memenjarakanku dalam bui tanpa jeruji,
aku memakukan diri tanpa berniat untuk melarikan diri,
menguping gagak yang berkicau tanpa solmisasi,
memandang ilalang yang menari tanpa emosi,
hingga tetiba rembulan datang mencibir sembari menendang pergi sang mentari

Aku tak ingin meraih gemintang,
tak berhasrat menorehkan jejak di pasir pantai milik seseorang,
tak berniat menancapkan bendera di puncak gemunung untuk disaksikan banyak orang,
tak berdaya untuk melukiskan peta dan merancang menara pencakar angkasa,
dan karenanya aku menderita kelumpuhan tak kasat mata
Aku tak bergerak, kehilangan kendali, bahkan suara untuk memanjatkan pinta

Keterjebakanku, tanpa melaun-laun, telah mematikan sendi dan kesadaran
Aku tak tahu cara mempersatukan raga dan jiwaku yang telah berseberangan alam
Aku tak kuasa memaksa bayanganku menyamai langkah yang telah berlari meninggalkannya
Aku tak mampu memecahkan kehampaan yang memurukkanku dalam kegelapan
Apakah akan ada keajaiban atau setidaknya kesempatan

bagi seseorang yang telah kehilangan keinginan bahkan ingatan akan pencapaian? 

Sunday, 21 September 2014

Aku Mencintainya

Aku mencintainya dengan tak sederhana...
Seperti api yang bercita-cita menjadikan batang pepohonan nan kuyup menjadi bongkahan arang yang tak pernah habis berpijar,
Seperti air yang mengalir melewati aneka sungai dan bebatuan, sebelum akhirnya bertemu di lautan,
Seperti angin yang tak berdaya untuk menampakkan badan dan hanya mampu sedikit bersiul untuk sekadar menunjukkan kehadiran,
Seperti putri malu merah jambu yang tampak tegar menantang awang-awang, tetapi lunglai seketika bahkan tanpa sempat tersentuh oleh jemari lentiknya...

Aku mencintainya dengan tak bijaksana...
Menyimpannya di dalam kotak perhiasan bekas yang terkunci terlampau rapat,
Menghidupinya dengan kata dan rasa tak biasa yang tak terucap oleh lisan,
Menyiraminya dengan aliran air rindu yang tak henti meski kemaraunya melanda dengan menyakitkan,
Menghiasinya dengan pita biru tua yang terkadang kuikat terlalu kencang,
Menjauhkannya dari orang kebanyakan sembari menjejalinya celotehanku yang menyebalkan...

Aku mencintainya dengan tanpa kejujuran...
Mengendap-endap diam-diam di antara ladang ilalang yang pucat kekurangan sinar,
Mengawasinya dengan tidak menjulingkan mata demi mendukung peranku yang penuh kepura-puraan,
Menyatu dengan api, air, dan angin bahkan deduri putri malu yang satu sama lainnya tak saling memiliki urusan,
Mengakui ketiadaan untuk sebuah keberadaan, juga
Memaksakan ketersediaan untuk sebuah kehampaan...

Aku mencintainya dengan segenap kegelapan, kesunyian, keabnormalan, kemantapan, dan keteguhan hati yang telah lama terpelihara tanpa alasan...

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...