Showing posts with label Heart. Show all posts
Showing posts with label Heart. Show all posts

Wednesday, 7 August 2024

Meramu Kelu

Selamat datang Agustus. 
Ternyata sudah seminggu kamu berlabuh. Aku, dia, dan mereka masih seperti kabut-kabut yang bergerak satu-satu. 

Udara yang layak hirup perlahan menipis karena dalam dingin kami berebut. Gemintang tampak bingung, kadang hilang, kadang timbul, tidak tahu momentum yang tepat untuk berpendar dengan senyum. 

Ada nyeri yang tak mampu dimaklumi manusia, ada keluh yang dimaknai ceracau dan tak pantas diterima, ada kebohongan yang ditafsirkan kebaikan bersama, ada sedih yang dikubur demi membahagiakan mereka yang tak boleh melihat kita tidak tertawa. 

Sayup-sayup terdengar pujian-pujian suci mengalun indah nan tegas, menepuk kewarasan, mengikat otak tetap di tempat, mengancamnya agar tak kabur dengan acak. 

Miliaran jiwa berlalu-lalang di setiap inchi belahan bumi, tak adakah satu saja yang sudi menepi barang satu atau dua detik? 

Di antara dua tiang gagah bermahkota biru, aku terduduk menunduk menekuk lutut, membatin dengan keras dengan tetap menanggalkan fungsi kedua inderaku, "Kapan aku tepat?"

Tuesday, 18 November 2014

RCG (4)

Setelah dua atau tiga hari lamanya miskin sinyal internet, akhirnya saya dapat kembali ke dunia maya. Hahahai, senangnya kembali meranodm. 

Uhn, pos ini dibuat dengan maksud menyelesaikan apa yang sudah saya mulai, melalui tiga pos bertopik sama, sebelumnya. Tidak harus diselesaikan, sebetulnya. Pos ini tidak berisi manfaat, mungkin malah justru sebaliknya. Anda yang tidak menyukai hal-hal tidak lazim, iidak dianjurkan untuk membacanya.

Tujuh
Pertama kali saya memiliki handphone yang dapat digunakan untuk mengakses internet dan men-download aplikasi adalah pada saat kelas X SMA. Romo membelikan saya Nokia 3110C, tepat ketika saya akan menghadapi ujian akhir semester 2, kelas X. Saya tidak akan membahas spesifikasi dari handphone ini karena saya memang bukan akan bercerita tentang handphone tersebut. Namun, berkat benda elektronik berbasis java inilah saya berkenalan dengan seseorang. Seseorang, yang merupakan salah satu orang yang (tanpa dia sadari) telah berpengaruh dan terselip dalam beberapa episode hidup saya. Ya, dia adalah seorang lelaki, satu sekolah dengan saya. Sebetulnya, lebih dari sekadar pernah, saya menyebutnya dalam pos-pos saya di blog ini, baik secara langsung, maupun secara implisit. Mungkin, jika ada pengunjung tetap yang membaca blog ini, dia akan tahu siapa orang tersebut, tanpa harus membaca pos ini.

Uhn, mulai dari mana, ya? 

Saya sudah hampir kehabisan kata dan rasa untuk menggambarkannya. Sepertinya, kemarin-kemarin saya terlalu sering membicarakan setiap hal tentangnya yang saya tahu, sampai-sampai saya tidak punya bahan lagi untuk dituliskan di sini sekarang. Jike begitu, mungkin saya akan memulai dengan menuliskan data dirinya, yang saya ingat dan tahu.

Dia seorang laki-laki. Apa lagi, ya?

Dia. Saya sering menggunakan kata ganti dia ketika menulis pos tentangnya di blog ini. Dia tinggal di kabupaten yang sama dengan saya, tetapi berbeda kecamatan. Rumah saya di pusat daerah sedangkan rumahnya di daerah Barat. Namun, ketika SMA, dia mengekos di sebuah gang yang cukup dekat dengan sekolah. Kami berasal dari sekolah yang sama, tetapi tidak pernah satu kelas. Kami sama-sama menekuni jurusan IPA ketika duduk di kelas XI dan XII. Kami berasal dari SMP yang berbeda. Saya bersekolah di SMP yang dekat dengan rumah saya, begitu pula dia. Saat ini, dia tengah menjalani studi akhirnya di sebuah universitas di Yogyakarta. Jurusannya? Hmm. Jika saya menyebutkannya, semua akan tahu siapa dia, dan selesai lah teka-teki tidak penting ini.

Kami lahir di tanggal dan bulan berbeda, bisa jadi tahunnya juga. Dia merupakan anak bungsu, tetapi memiliki seorang adik. Tidak seperti saya, dia menyukai kucing atau setidaknya pernah beberapa kali mengepos foto-foto kucing yang dimilikinya di salah satu akun media sosialnya. Sepertinya, itu saja yang saya tahu tentang dia. Saya tidak tahu apa saja hal yang disukainya, juga bagaimana prestasi atau keahliannya.

Dia adalah orang pertama yang saya kepo-i melalui jejaring sosial. Alasan saya melakukannya, sebetulnya saya tidak tahu. Mungkin penasaran karena sejak pertama berkenalan, saya tidak pernah bertemu atau bersapa dengannya. Proses perkenalan dengannya memang tidak terjadi di dunia nyata, melainkan dunia maya. Oleh karena itu, saya berterima kasih kepada Nokia 3110C yang telah hadir sebagai media perkenalan saya dengan dia. 

Saya pertama kali mengenalnya ketika duduk di kelas XI SMA melalui salah satu aplikasi online chatting via handphone yang cukup populer di daerah saya, pada zaman itu, sekitar 2009. Awalnya, saya tidak tertarik untuk melakukan percakapan di dunia maya dengannya karena dia adalah seorang laki-laki. Sebab berbagai alasan, saya memang tidak terbiasa --jika perlu menghindari-- berbincang tanpa tujuan jelas dengan kaum laki-laki. Begitu pula kepadanya. Apalagi, dia orang asing yang sama sekali belum pernah saya dengar namanya selama hampir dua tahun saya bersekolah di SMA tersebut. 

Sebagai orang yang pertama meng-inviteakhirnya dia pun menyapa saya dan memperkenalkan diri. Dia memiliki username yang sangat alay, dengan menggunakan karakter-karakter nonalfabet untuk membentuk nama panggilan aslinya, seperti tanda kurung buka, tanda seru, dan sebagainya. Saya pun membalas seperlunya, sebatas memperkenalkan biodata singkat. Ketika saya menyebutkan asal kelas saya, dengan cepat dia pun mengatakan "ledekan" yang oleh orang lain pun cukup sering dialamatkan kepada saya. Bukan ledekan buruk sebetulnya, hanya saja ini membuat saya merasa bosan dan tidak enak ketika menerimanya. 

"Cieee. Ada anak rajin dan pinter dari kelas IPA 1, loh," katanya, kurang lebih seperti itu.

Saya sebal seketika kepadanya. 'Ajeg. Kenapa harus ter-mindset seperti itu? Ini menyebalkan. Pasti dia sama seperti anak-anak itu: anak-anak laki-laki di SMP atau anak-anak kelas lain yang berpikiran bahwa kelas saya agak berbeda dengan kelas mereka. Padahal, saya sebelas dua belas dengan mereka. Saya sebelas, mereka dua belas' batin saya, kurang lebih, meskipun pada waktu itu belum ada istilah sebelas dua belas untuk mewakili perbandingan. 

Setelah sedikit sekali bercakap tentang "ini" dan "itu", kami pun mengakhiri obrolan. Dia offline terlebih dahulu, sedangkan saya masih asyik bermain dengan aplikasi yang terbilang masih baru bagi saya itu.

Di lain waktu, tak lama setelah malam berkenalan itu, kami mengobrol lagi. Tidak cukup jelas topik yang kami perbincangkan. Namun, saya mulai mengurangi judging negatif saya tentang dia. Dia tidak seburuk yang saya duga. Dia tidak lagi membawa nama-nama kelas. Lalu, selayaknya user lain, kami pun mulai bertukar informasi atau membahas topik yang sedang hangat di televisi. 

Suatu hari, dia salah menuliskan nama sapaan saya. Saya sebal karena typo tersebut cukup fatal, menurut saya saat itu. Ketika saya komplain ke dia, dia pun tidak merasa bersalah. Akhirnya, saya menyengajakan diri, memanggilnya dengan sebuah nama sapaan aneh, nama seekor binatang mungil sebetulnya. Dia terpancing, membalas menyebut saya dengan nama sapaan yang tulis dengan salah. Rasa sebal saya berangsur lenyap dan digantikan perasaan gemas dan geli, ketika kami mulai saling ejek dengan nama sapaan aneh. Mulai hari itu, di dunia maya, kami lebih sering saling sapa dengan nama jadi-jadian tersebut dibandingkan dengan nama diri kami masing-masing.

Obrolan kami tidak banyak dan tidak sering. Isinya tidak bermanfaat dan tidak untuk diingat-ingat. Kami tidak dekat, tidak saling kenal, tidak juga pernah punya urusan. Kami hanya teman mengobrol ketika kebetulan sama-sama sedang online. 

Namun, entah mengapa, lama-lama saya merasa senang mengobrol dengannya, meski hanya melalui kata, meski saya belum pernah berjumpa muka dengannya, meski seringkali berakhir dengan saling ejek atau hening tanpa kata, lalu pergi tanpa mengucapkan salam sama sekali. 

Saya bahagia ketika kami mengobrolkan film atau buku. Saya terkesan ketika dia mengucapkan opini spontannya tentang sesuatu. Saya tertawa ketika dia bercerita bahwa dia baru ditegur oleh seorang guru. Saya tersanjung ketika dia berkata bahwa saya dapat melakukan sesuatu dengan baik. Saya bersemangat ketika dia, mungkin tanpa dia sadari, telah memberi semangat atau inspirasi untuk saya yang gemar memurukkan diri. Saya berdebar ketika melihat namanya bertengger di notifikasi. Saya penasaran ketika berhari-hari dia tidak memunculkan diri di media itu atau ini. Saya lega ketika tahu dia dapat mempertahankan prestasi. Saya salah tingkah ketika melihat dia melewati kantin, perpustakaan, atau lapangan, yang tanpa dia sadari, ternyata teramati. Saya merasa dihujani bebungaan, ketika dia mengirimi saya ucapan semangat menghadapi ujian. Saya merasa bangga, ketika dia menceritakan sedikit sekali tentang rencananya di masa depan. Saya... Saya lama-lama mengerti apa dan bagaimana rasanya harap-harap cemas karena lama-kelamaan saya memaksakan diri untuk menanti. Saya, pada akhirnya, mengerti bahwa sepertinya saya telah kembali merasakan jatuh hati.

Mungkin, saya terlalu cepat menyimpulkan dan mengambil keputusan. Suatu ketika, saya ingin bertobat dan menobatkan rasa itu sebaai perasaan sesaat. Namun, nyatanya, hingga ratusan hari berlalu, saya belum juga mampu berhenti merasakan sensasi naik roller coaster yang saya alami setiap terlintas pikiran atau terbaca kabar tentangnya. Ini memang hanya rasa berlebihan yang saya rasakan oleh perlakuan biasa darinya. Perlakuan yang bahkan mungkin olehnya tidak terartikan sebagai sebuah perlakuan, alih-alih basa-basi kepada orang yang pernah dia kenal. 

Yeah, dia itu, mungkin tidak pernah tahu akan berbagai tindak investigasi tidak masuk akal terhadapnya yang pernah saya tahu. Orang itu mungkin tidak pernah menyangka, saya sedikit tahu riwayat percintaannya. Orang itu mungkin tidak akan pernah percaya, saya pernah diteror oleh salah satu orang yang "mengenalnya". Orang itu mungkin tidak ambil pusing, bagaimana perasaan saya ketika saya menyadari bahwa saya bukanlah orang-orang yang diperlakukan dengan baik olehnya. Orang itu mungkin tidak pernah ingat, topik apa yang pernah kita obrolkan, karena saya sendiri juga sekarang sudah tidak ingat. Orang itu, mungkin tidak berusaha mengingat informasi yang saya ceritakan, sekeras usaha saya mengingat apa pun yang dia tuliskan. Orang itu memang tidak tahu, tidak memiliki petunjuk, kecuali jika dia menemukan pos ini, dan saya yakin pasti tertawa membaca tulisan absurd ini. Namun, orang itu mungkin sebetulnya tahu, hanya saja pura-pura tidak tahu.

Dengan berbagai pertimbangan, khususnya tentang akan datangnya hal buruk yang lebih banyak daripada hal baik dari aksi ini, akhirnya dua tahun lalu saya memutus segala akses dengannya, demi mendukung misi: berhenti jatuh hati. Tindakan ini aneh memang. Sangat aneh. Namun, ternyata cara ini efektif. Jika saya tidak melakukan ini, mungkin saya masih melakukan hal-hal nista dan cari-curi perhatian terhadapnya. Sifat saya memang seburuk itu. Saya sendiri sebetulnya malu pada Tuhan.

Friday, 7 November 2014

Langit Cinta

Jangan tulis sebuah puisi cinta untukku, aku tak akan membacanya
Jangan ucap rayuan manis kepadaku, aku tak mau mendengarkannya
Jangan belai rambut bau dan kusutku, aku tak nyaman menerimanya
Jangan beri pelukan yang kau kira dapat menenangkanku, aku tak mampu merasakannya
Jangan berbaik atau berburuk laku dalam menghadapiku, aku tak yakin akan mengingatnya

Aku telah mengatakan segala larangan untukmu, akanku
sejak aku terbangun di sore berawan mendung kala itu
mendapati kepalamu tergeletak di tepi pembaringanku
Matamu setengah terpejam, napasmu laun berburu
Aku menarik selimut, menjauhkan diri darimu, aku tak mengenalmu
Kau terbangun, tergesa berlari meninggalkanku, meloloskan kelegaanku

Mataku menyapu ke seluruh ruangan, menggali petunjuk atau mungkin sebuah inspirasi
Aku mencoba berpikir, tetapi sesuatu dalam diriku menonjok akalku tanpa permisi
Bungkam dan berkedip, tak ada hal lain yang dapat kulakukan selain ini

Kau datang, membawa sosok asing berbeda, yang terlihat  rumit
Dia mendekatiku, menyentuh beberapa titik di tubuh kakuku
Aku tak siap, beringsut melipat badan, berteriak tanpa berbunyi
Dia menjauhiku, menepuk pundakmu dan membisikkan sesuatu
Kau menunduk, menggumamkan sesuatu, lalu menghampiri tempatku berbaring

Aku bergidik, menangkap kata-kata asing dalam bisikan hangatmu
Aku mendelik, diam dan menerka adanya kemaknaan dalam setiap ucapmu
Aku melirik, kepada orang asing yang pertama kulihat dalam hidupku, ke arahmu
Aku memekik, resah, membenarkan keyakinan, benar bahwa aku tak mengenalmu

Aku ingin melarikan diri, tapi kau menarik tubuhku ke dalam pelukanmu
Aku terkunci, dan kau kembali membisikkan kata-kata panjang ke telingaku
Aku menjauhkan diri, kulihat setitik air bening meluncur dari mata kirimu
Aku tak lagi menguasai diri, limbung, tenggelam kembali dalam gelap mimpiku

Bagiku, hari itu adalah hari aku dilahirkan
Hari pertama aku berjabat dengan dunia

Kau membawaku pergi dari tempatku terbangun, keesokan paginya
Menurunkanku di sebuah tempat baru, berbau basah dan bernuansa biru

"Laut," katamu

Kusimpan dia, laut
Kata pertama yang kuselipkan dalam kamusku
Lalu siapa aku?
Siapa orang di hadapanku?
Aku bertanya lewat tatapan
Gemas
Gamang

"Kau Rissa. Rissa namamu. Artinya laut, jika kau ingin tahu," tambahmu
Kata-kata terpanjangmu, yang akhirnya kuperhatikan dan kudengarkan

"R.. Ris...Rissa. Ma... Laut," ucapku
Kata-kata pertama yang keluar dari bibirku
Aku tak paham, sudah pasti
"Riss..sa. La...ut," ulangku lagi
Suaraku parau, sepertinya tak mampu kau kenali
Jemariku meremas pegangan kursi beroda yang kududuki

Kau membungkuk, menghadapku, menggenggam lembut jemari tangan kananku
Aku terlonjak, masih tak terbiasa, asing, tak tahu harus bersikap macam apa
"Rissa," kau menggerakkan genggaman tangan kita, menuntunnya ke arahku
Kau melepas genggaman itu, sedikit bergeser, setengah berjongkok, kita bersebelahan
"Laut," katamu, menunjuk permadani biru yang bergeliat dan bergulung di depanku

Aku pun mulai mengerti
Bagaimana cara bermain kata ini
Ini tentang membedakan benda ini dan itu
Ini tentang menamai mereka dengan sesuatu

Aku mengikuti apa yang kau lakukan, ajarkan
Menunjuk diriku, aku menggumam, "Rissa."
Menodongkan tangan kananku ke arah depan, aku setengah berteriak, "Laut."
"Rissa. Laut. Rissa. Laut. Rissa. Laut."
Ucapku berulang-ulang, sembari berolahraga tangan
Tak bosan

Kau tertawa pelan, matamu sayu, mengisyaratkan sesuatu
Aku berhenti mengulang dua kata itu
Diam, lalu aku melemparkan telunjukku ke arahmu
Aku ingin tahu, siapa kau, orang pertama yang menyaksikan kelahiranku

"Aku?" tanyamu, retoris
"Langit," mendaratkan telapak tanganmu ke dadamu
Lalu, kau tunjuk awang-awang di atas ubun-ubunmu
Menarik garis dari atas sana, hingga berhenti ke lini perbatasan
yang memagari dan memisahkan laut dan benda pucat lain di atasnya

Sepertinya aku mengerti maksudmu
Aku mengikuti gerakanmu
"Rissa," menunjuk diriku sendiri
"Laut," meraba dari jauh gemulung ombak yang menari
"Langit," meraih tangan kirimu yang terparkir di pegangan kursi

Kau terlonjak, berdiri, memandangku dengan tatapan yang tak mampu kubaca maknanya
Aku memejamkan mata terkaget, kulepas tanganmu, takut telah berbuat kesalahan

Lembut, sesuatu yang lembut mendarat di kepalaku
Aku membuka sebelah mata, tangan kirimu mengacak rambutku, lembut

"Kau pintar, Rissa. Seperti dulu. Ah, tidak. Selalu," pujimu
Hangat, tetiba angin menghangat menerpa setiap milimeter persegi permukaan kulitku
Ada perasaan asing, menjejal masuk ke dalam pembuluh dan sel di sekujur badanku,
mengalir bersama desiran darah, menghampir, keluar masuk dalam jantungku,
membuatnya berlompatan, lebih liar dari yang pernah aku rasa dan tahu

Berdebar
Kini, aku sudah tahu namanya
Rasa yang tak akan pernah aku lupa
Penanda kali "pertama" kita berkenalan
Rasa yang kekal, lekat selamanya, dalam ingatan

Aku tersenyum
Senyum pertamaku
Direnggut olehmu, karenamu
Dan memang, selamanya, hanya untukmu

"Rissa. Cintaku," ucapmu lembut
Tatapanmu lurus ke arah laut

Cinta?
Aku mengedarkan pandang
Menerka, memilah benda atau raga
Adakah benda yang tengah kau beri nama?
Ataukah kau tengah memperkenalkan sesosok raga?

Cinta?
Ini kata baru
Penglihatanku mulai campang-camping
Namun, tak kunjung kau memberiku petunjuk
Tak juga kau mulai melemparkan telunjuk

"Di sini," kau kembali menyentuh dada
Sepertinya kau sadar, aku bertanya-tanya
Itukah cinta?
Dan aku masih bertanya-tanya
Tak ada sesuatu di sana

"Kau tak akan melihatnya. Rasakanlah," jelasmu

Cinta?
Rasa?
Kepalaku berputar
Kau tertawa
Aku tersesat

"Nanti kau tahu," tambahmu

*****
Sewindu berlalu
Sejak aku terlahir kembali dan disambut olehmu
Sejak aku memberikan larangan untukmu
Sejak kau memperkenalkan laut, langit, dan cinta kepadaku
Sejak aku tersesat dalam pelajaran kata darimu, untukku

Langit,
Aku tengah berdiri
Di depan pusara berbatu

Setengah dasawarsa ini
Kau diam tertanam di dalamnya, kaku

Benar, aku di hadapanmu
Mengelus lembut kepala nisanmu,
sama seperti ketika kau mengelus kepalaku saat itu
Nyamankah?
Bahkan hingga kini,
masih dapat kurasakan sapuan jemarimu di rambutku

Langit,
Aku sudah banyak bicara
Aku lihai mengenali rasa
Aku pandai, seperti yang kau kata

Namun, kau meleset, Langit
Aku tak pandai dalam membacamu
Aku tak paham akan teka-tekimu
Aku tak peka membaca pias wajahmu

Apa kau ingat teka-tekimu?
Aku berhasil mengingatnya, jika kau ingin tahu
Kau mengucapkannya di hari aku terbangun di pembaringanku
Kau membisikkannya dengan lembut, tepat di telingaku
Andai aku dapat memecahkan teka-teki itu tepat waktu
Mungkin aku dapat mempersiapkan pergimu
Andai aku tak terlahir kembali
Mungkin kau tidak akan kelelahan
Andai aku tak pernah lupa
Mungkin kau tidak akan mati kesepian

Akukah pembunuhmu?

Kau pasti menggeleng, Langit
Karena kau terlalu bijaksana
Karena kau terlalu percaya cinta
Karena kau adalah lelaki istimewa
Karena kau adalah Langitku, Langit yang kucinta

Delapan Gambar Terakhir (Oktober-November Awal)

Di bulan Oktober ini, saya cukup sering menggambar. Mungkin, sebelumnya saya pernah menyebutkan alasan saya menggambar, melalui salah satu pos di blog ini, yaitu untuk memunculkan perasaan bahagia. Dengan kata lain, saya akan menggambar, ketika saya mulai merasakan kemunculan tanda-tanda tidak wajar, yang bisa jadi menimbulkan perasaan tidak bahagia bagi diri saya. Saya merasa, semakin lama saya tidak berarah, tidak memiliki tujuan dan keinginan. Dan ketika saya mulai berpikir demikian, saya akan berlari mencari hal-hal yang mungkin saya lakukan, yang dapat membuat saya lupa akan pikiran buruk itu, yang dapat membuat saya berpikir bahwa setidaknya saya sedikit produktif. Namun, lama-lama saya curiga, sepertinya kegiatan menggambar ini, saya lakukan hanya sebagai tindak pelarian dari tanggung jawab dan kewajiban saya akan hal lain. Kemudian, saya merasa ragu, malu, dan rugi.

Selain itu, tindakan pelarian, berupa menggambar, ini sepertinya telah membuat saya menjadi orang yang suka pamer dan berisik. Pasca menyelesaikan sebuah gambar hitam putih, saya selalu mengepos foto gambar tersebut ke beberapa media sosial: instagram, twitter, blog ini, facebook, bahkan linimasi LINE. Tak hanya itu, terkadang saya mengganti foto profil, avatar, display picture, atau cover di beberapa media sosial tersebut. Memang, figur atau objek dalam gambar-gambar saya tidak dipilih dengan asal-asalan. Artinya, ada hal menarik yang membuat saya sangat ingin menggambar objek tersebut. That's why, saya sempat merasa oke-oke saja, jika saya menggunakannnya sebagai foto profil atau sebagainya. 

Namun, akhir-akhir ini, saya mulai gusar. Apa gunanya ini: menggambar, meng-upload gambar tersebut, membagikannya ke orang-orang, dan pada akhirnya menarik perhatian atau justru kejengkelan mereka? Apa namanya semua tindakan itu, kalau bukan pamer atau mencari perhatian? Saya pun tersadar, kegiatan saya selama ini kemungkinan besar salah dan telah menyimpang dari jalur yang seharusnya saya tempuhi. Lagipula, sebenarnya saya tak cukup berminat apalagi berbakat di bidang gambar-menggambar ini. Lalu, saya memutuskan bahwa "tindakan pelarian dari kewajiban ini" tidak seharusnya disebar-sebarkan kepada orang lain. Cukuplah dinikmati sendiri, di galeri pribadi. Jika pun nanti ada yang tersesat melihatnya, berarti itu memang sudah nasibnya dan nasib gambar saya dikunjungi olehnya.

Saya pun menghapus foto gambaran-gambaran tangan saya dari galeri instagram dan LINE saya. Untuk selanjutnya, saya hanya akan mengepos gambar-gambar saya ke dalam blog ini atau di akun instagram baru saya, yang memang dikhususkan untuk menampung back up gambar-gambar nya. Sama saja, ya? Hahaha. Ya sudahlah. Pada akhirnya, saya memang tidak dapat berhenti menggambar. Saya akan tetap menggambar, meskipun (mungkin) akan lebih dikurangi.

Untuk beberapa orang, yang berteman dengan saya di berbagai media sosial, mohon maaf ya, jika selama ini saya sangat berisik dan menyampah di halaman depan kalian, dengan mengepos banyak gambar tidak jelas dan membosankan. Sebetulnya, saya juga tidak suka menampakkan keberadaan atau eksistensi saya kepada kalian. Terlebih, di saat seperti ini, di saat saya tengah merasa di titik terbawah di sepanjang perjalanan hidup saya, di saat saya tengah bersembunyi dari para peramai dan keramaian.

Well, saya sudahi ya, menye-menye-an dan curhat-an tentang gambar-gambarnya. :D


"Alat Gambar (seadanya) Saya"
Depok, 25 Oktober 2014
Sebelumnya, mohon maaf, posisi fotonya terbalik. Saya tidak tahu cara me-rotate position image yang sudah di-upload ke blog. Jadi, saya biarkan saja begitu, ya.
Well, itulah alat-alat yang saya punya. Namanya juga bukan seniman dan tidak berminat menjadi seniman, alhasil saya hanya memiliki beberapa alat yang kira-kira akan sering saya gunakan saja. 
Inilah daftar mereka:
  1. Sketch Book ukuran A3 (Memungut punya seorang teman yang sudah pindah kos)
  2. Sketch Book ukuran A5 (Kalau yang ini saya beli, tapi yang murahan lah, kan saya pelit)
  3. Drawing Pen ukuran 0,5mm (BESAR, KAN? Dulu salah bilang ukurannya ke mbak penjualnya. Niatnya mau beli yang 0,3mm)
  4. Pensil 2B, Colleen (Ini favorit saya! Hitam, tebal, empuk, murah lagi. Namun, yah...bikin kotor kertas gambar. Sayanya, di sini tidak ada yang jual dia. Saya cuma menemukannya di Kebumen)
  5. Pensil 2B, Faber Castell (Lumayan sering digunakan)
  6. Pensil 3B, Faber Castell (Jarang digunakan. Paling digunakan ketika sedang mengarsir mata)
  7. Pensil 4B, Faber Castell (Sangat jarang digunakan)
  8. Pensil mekanik, 0,5mm (Jarang digunakan. Biasanya untuk menebalkan outline)
  9. Penghapus, Faber Castell (Suka banget motif cowy-nya)
  10. Pensil warna, Faber Castell Grid Model 12 warna, ukuran besar (AMAT SANGAT JARANG DIGUNAKAN, karena saya belum bisa mewarnai. Semoga suatu saat punya yang lebih dari 12 warna)
  11. Pensil warna air, Faber Castell Grid Model 12 warna, ukuran kecil (AMAT SANGAT JARANG DIGUNAKAN juga. Saya hanya memakai yang warna hitam. Alhasil, pensil hitamnya sekarang pendek dan hampir habis. Semoga suatu saat punya yang lebih dari 12 warna dan ukuran besar)
  12. Rautan (Masih yang murahan)
  13. Cutter (Kalau yang satu ini masih sering pinjam punya orang lain, seringnya punya Nisa)
  14. Kuas (Sebetulnya ini milik Rheta. Namun, dia bilang dia sudah tidak menggunakannya, jadi saya boleh meminjamnya (sampai lama))
  15. Sarung tangan dan tissue (WAJIB. Tangan saya berkeringat)

"Teman"
Depok, 16 Oktober 2014
Media: Kertas gambar A5
Gambar ini dibuat dalam rangka berterima kasih kepada orang-orang di sekitar saya. Saya merasa bersalah karena sering melupakan orang-orang baik di sekitar saya dan mengharapkan kehadiran mereka yang tidak ada di samping saya. Untuk itu, saya berterima kasih kepada mereka yang bersedia mengingat saya. 


"Fanart: Houtarou Oreki"
Depok, 20 Oktober 2014
Media: Kertas Gambar A5
Ini adalah Houtarou Oreki, tokoh utama pria dari anime Hyouka (anggap saja mirip, ya). Sebetulnya, dia hanya seorang pelajar kelas 1 SMA biasa. Sangat biasa malah. Dia tidak suka lelah sehingga dia akan meminimalisasi bergerak atau berpikir untuk menyimpan energi. Mottonya adalah "Aku tidak akan melakukan hal-hal yang tidak harus kukerjakan dan jika aku harus mengerjakannya, maka aku akan menyelesaikannya dengan cepat". Menyelesaikan semua hal dengan cepat adalah bentuk upayanya untuk menyimpan energi. Itulah yang unik dari dia. Sifat pemalasnya itu membuat dia berpikir cepat, bahkan cerdas, juga kreatif. Inilah yang membuatnya dapat menyelesaikan beberapa kasus misteri kecil yang terjadi di sekitarnya, di kehhidupan  sekolahnya. Sungguh hanya kasus kecil yang tidak terpikirkan bahkan sengaja tidak dipikirkan oleh orang lain. Dia unik dan jenius, makanya saya suka. Hahaha...


"Fanart: Houtarou Oreki (Again)"
Depok, 21 Oktober 2014 
Media: Kertas Gambar A5


"Fanart: Kirito/Kirigaya Kazuto"
Depok, 26 Oktober 2014
Media: Kertas Gambar A3
Ini adalah Kirito, tokoh utama pria dari anime Sword Art Online/SAO (anggap saja mirip, ya). Sebetulnya, saya tidak suka tokoh anime ini. Namun, entah mengapa ketika saya melihat sketch book A3  miliki Tiara yang saya temukan dan tetiba  saya ingin menggambar di atasnya, tokoh anime yang pertama kali terlintas di pikiran saya adalah dia. Memang, saat itu saya baru tamat menonton SAO season I sehingga wajar saja jika saya teringat pada Kirito ini. Selain itu, gambarnya juga tidak rumit. Jadi, saya kira saya dapat menggunakannya sebagai contoh objek gambaran tangan pertama saya di atas kertas A3. Saat selesai menggambar ini, saya baru sadar, jika kertas A3 itu sangat besar. Otak saya lelah setelah menggambarnya. *maklum, amatir*


"Ucapan Milad untuk "SAHABAT""
Depok, 28 Oktober 2014
Media: Kertas Gambar A3
Yeah, saya merindukan teman di kampus, ketika beberapa semester lalu ini. Dia dipanggil Dila di kesehariannya. Saya pertama kali berkenalan dengannya di FB, ketika sama-sama baru diterima di FKM UI. Kami pun bertukaran nomor dan beberapa kali SMS. 

Ketika Welcoming Maba FKM UI jalur SIMAK, tanpa diduga-duga, ternyata kami betul-betul dipertemukan secara lahir, dalam FGD yang sama. Hanya saja, kami sama-sama belum menyadari. Saya memperkenalkan diri saya sebagai Ani sedangkan dia memperkenalkan dirinya sebagai Dila. Saya pun curiga, jika dia adalah Dila yang saya kenal lewat FB. Namun, kenapa dia tidak mengenali saya? Selain itu, di dunia nyata, dia tampak lebih datar, jika dibandingkan dengan saat di FB. Saya pun iseng, mencoba me-miscall nomornya. Jika dia bergerak-gerak merogoh HP ketika saya miscall, berarti dia adalah Dila yang sama dengan Dila di FB. Namun, dia diam. Setelah perkenalan, saya pun mencoba menyapanya secara personal untuk memastikan bahwa dia adalah Dila yang pernah bertukar nomor hp dengan saya. Dan ternyata benar. Dan dia tetap berwajah datar. Oh, doang. Padahal, ketika itu, saya mengharapkan respons yang lebih hangat dan bahagia darinya, karena bertemu dengan orang yang selama sebulan hanya bersapa lewat dunia maya. Awalnya, saya mengira saya akan dapat berteman dengan baik dengannya. Namun, melihat respons datarnya, saya urungkan perkiraan saya.

Saya bertemu lagi dengannya di kumpul angkatan FKM UI 2010 di dekat danau Balairung. Dia masih datar. Akan tetapi, ada yang berbeda, dia lebih banyak bicara dibandingkan dengan di saat pertemuan WM. Lambat laun, saya memahami sesuatu. Ternyata, wajah datarnya bisa jadi adalah output dari sifatnya yang sedikit pendiam dan tidak terlalu ingin terlibat dalam banyak hal yang menegangkan (apakah ini nyambung?). Sejak saat itu, saya memberanikan diri untuk mendekatkan diri dengannya dan sepertinya dia menyambut dengan cukup baik upaya pendekatan dari saya. 

Saya dan dia, sama-sama bukanlah orang yang ingin terlihat menonjol. Sama-sama, orang yang tidak datang ke suatu hal yang tidak perlu didatangi. Sama-sama, orang yang agak suka bersembunyi. Sama-sama, orang yang menyukai benda yang lebih mudah terbeli. Sama-sama, menyukai membaca cerita fiksi. Sama-sama, ah sama-sama lebih banyak mengamati daripada menyampaikan opini. Sama-sama, biasa saja. Kami pun terkadang berjalan-jalan bersama, untuk melakukan hal-hal biasa saja, bersama dengan beberapa orang teman tetap lain. 

Mungkin, ada banyak "sama-sama" yang sudah saya sebutkan. Namun, anggapan "sama-sama" dari saya tersebut, ternyata membuat saya egois dan lupa bahwa seberapa sama pun kami, tetaplah ada perbedaan yang menjurangi pribadi tiap manusia kebanyakan. Laun, saya pun dapat membaca perbedaan tersebut. Dia orang yang lurus, yang tak mudah berbelok dari tujuan utamanya, terutama dalam urusan menuntut ilmu. Saya sebaliknya. Dia orang yang pandai dan rajin, yang mempersiapkan dengan baik apa yang akan dipersembahkannya. Saya sebaliknya. Dia orang yang tidak akan bermain-main, di saat yang seharusnya kami mengencangkan ikat pinggang. Saya sebaliknya. Dia orang yang memiliki target dan tujuan. Saya sebaliknya. Dia orang yang akan terganggu, jika apa yang didapatkannya tidak sesuai dengan ekspektasi atau usaha kerasnya. Saya juga, tapi dengan cara penyampaian yang berbeda. Dia terlalu baik hati. Saya sebaliknya. Dia fokus. Saya sebaliknya. 

Awalnya, saya kira saya dapat bertahan mengikuti jalan lurusnya, dapat berguna sebagai teman baginya, dapat mengikuti sifat rajinnya, dapat mengerti dan menjadi teman yang baik baginya, atau dapat yang lain-lainnya. Namun, entah ini hanya pikiran tidak sehat saya atau bukan...saya merasa saya telah menjadi teman yang tidak baik dan tidak berguna baginya dan yang lain, hingga puncaknya di semester lima. Saya merasa saya adalah orang yang sangat kurang dan tidak pantas menjadi bagian dari mereka, orang-orang yang sangat pandai dan baik. Terlebih, saya selalu buruk dan tertinggal dalam hal akademis. Perbedaan besar saya, dia dan mereka, terutama dalam hal minat di bidang akademis ini, sepertinya telah menciutkan nyali saya untuk sering bersama mereka. Saya takut magabut dan merepotkan pada mereka.

Hingga suatu hari di semester lima itu, entah karena apa dan dengan cara apa, saya mendapati diri saya tidak mampu lagi mendekatinya dan teman-teman tetap saya yang lain. Saya pun menjadi jauh dari mereka. Semua. Saya menjadi seorang mahasiswa solo yang berkelana dan mencari informasi seorang diri. Hinggap di titik satu, lalu berpindah ke titik lain, untuk hanya sekadar hinggap. Meskipun menikmatinya, tetapi saya akui, ini terlalu sepi dan tidak asyik dilihat. Saya tidak menyangka, praduga dan pemikiran saya setidak sehat ini. Hingga kini, saya berakhir seperti ini: Bingung dan Sepi. Salah saya memang, tak sering menanyakan informasi atau kabar ke mereka. 

Ah! Bohong, jika saya tidak merindukan dia dan semua orang. Dusta, jika saya tidak ingin bertemu atau mengobrol dengan dia dan teman-teman lain. Namun, mengapa? Mengapa saya tidak dapat kembali menyapa dia dan orang-orang seperti dulu? Mengapa saya selalu merasa takut, saya akan menyakiti mereka dengan kekurangan saya? Mengapa saya merasa serendah diri ini, ketika berkomunikasi atau bersanding dengan mereka? Mengapa saya tidak berkutik ketika melihat mereka? Mengapa saya menjadi sebodoh ini? Berpikir liar, lalu terpuruk sendiri karena hal-hal, yang tidak tepat untuk dijadikan alasan sebuah keterpurukan. Mengapa saya takut pada orang-orang, yang bahkan mereka sendiri mungkin tidak pernah kepikiran memiliki masalah dengan saya. Jangankan memiliki masalah, memiliki ingatan berarti dengan dan/atau tentang saya juga sepertinya tidak ada. Hehehe. 

See? BETAPA TIDAK DEWASANYA SAYA. 
Saya mengotori ucapan ulang tahun untuk teman saya sendiri dengan bicara tentang hal-hal tidak penting seperti ini. Seharusnya, saya memberikan doa terbaik untuknya. 
Baiklah, Dila, sahabat lucu saya, teman (non-Kebumen) pertama saya di FKM, saya tidak pandai merangkai untaian doa. Saya sudah beberapa kali mencobanya, tapi tetap saja, hasilnya tidak indah. Hanya saja, saya hanya mampu berharap kau bahagia dan tetap tersenyum dalam menapaki perjalananmu. Saya dengar, kau sudah bekerja, walaupun saya tidak tahu pasti di mana tempatnya. Selamat ya, semoga kau betah dan menikmatinya. Saya yakin, kamu pasti mengerjakan semuanya dengan baik, di sana. Saya juga dengar, kau mendapatkan rekomendasi beasiswa Bidik Misi, yang, ah, saya tidak tahu apa namanya. Saya tidak heran, kau sangat layak mendapatkannya. Saya senang. Oh, iya, terkait studi dan kariermu, semoga sukses keduanya. Untuk hal lain-lain, saya hanya mampu mengamini segala harapan dan mimpimu. Kau pandai menjalani rencana dan menghadapi uji dan coba dari-Nya dalam mencapai tujuanmu, jadi saya yakin kau pasti akan lebih dari sekadar berbahagia di setiap akhir pencapaianmu. 

Sekali lagi, selamat ya, hei cantik yang akhirnya berumur dua puluh dua.
^-^



"Request dari Ipul"
Depok, 29 Oktober 2014
Media: Kertas Gambar A3
Sudah sejak bulan Juni, teman satu paguyuban pun satu angkatan saya, Saiful Amin, atau yang akrab disapa Ipul, meminta saya menggambarkan dia dan teman-temannya. Saya menolak pastinya, awalnya. Saya tahu kemampuan menggambar saya, yang hanya modal mencontek, bentuknya tidak konsisten, dan tidak memiliki ciri khas atau teknik menggambar yang baik. Namun, karena Ipul berkata, "Nggak papa, asalkan ada gambar kepalanya aja, nggak papa deh. Ini kenang-kenangan untuk teman-teman baikku," akhirnya saya pun meng-setengah-iyakannya. Saya hanya berjanji akan mencobanya, meskipun di dalam pikiran saya seperti tengah menambahkan list hutang saya. Akhirnya, alhamdulillah, hutang itu terbayar juga. Saya akui, gambar tersebut tidak bagus. Namun, saya sangat senang melihat persahabatan yang terjalin dari mereka. (hadududuh, nggak ada hubungannya sama gambarnya deh)




"Amarilis"
Depok, 2 November 2014
Media: Kertas Gambar A5
Media: Kertas Gambar A5 Jujur, saya mencontek objek berupa bunga amarilis dari internet, ketika menggambar ini. Namun sepertinya, hasilnya sangat buruk. Tidak terlihat seperti bunga, apalagi amarilis. Menurut Nisa dan Widya, penampakannya juga kaku. Sekilas, pertama kali melihat, dia terlihat sedikit bagus. Akan tetapi, jika diamati lebih lama, ada sesuatu yang aneh dari gambar ini. Dia tampak palsu. Tidak nyata dan kaku. Saya juga sependapat dengan mereka. Saya tidak terlalu ambil pusing atau memikirkan ketampakpalsuan dari bunga dalam gambar ini. Saya menggambar dengan tidak bagus dan memang tidak untuk menjadi bagus. Hingga saat ini, saya menggambar (masih) untuk melarikan diri.

"Latihan Menggambar Dua Kepala dalam Satu Scene"
Depok, 2 November 2014
Media: Kertas Gambar A5
Entahlah apa maksudnya. 

Friday, 24 October 2014

Jika Kau dapat Mengingat Namaku

Jika kau dapat mengingat namaku nanti,
ingatlah ketika pertama kali aku menjadi ma'mum-mu
ingatlah ketika rerenyahan gerimis dengan jail mengguyur saung
ingatlah ketika kau meniup peluit besi demi sebuah persembahan untuk kami, para pejuang baru nan lugu

Jika kau dapat mengingat namaku nanti,
ingatlah ketika perang di tanah Arab kembali bergejolak,
ingatlah ketika merpati putih pengapit jerami kedamaian berangsur terbang,
ingatlah ketika abu, air dan api di sana tak mampu dibedakan

Jika kau dapat mengingat namaku nanti,
ingatlah ketika dalam gejolak itu,
keluargamu menggelar pentas,
memutihkan nurani yang menggelap,
menyejukkan akal dan menggugah hati untuk membuka mata,
ingatlah ketika itu, aku bersenandung dalam kepungan ayam coklat matang
ingatlah pula, ketika itu kau menunjukkan ibu jemarimu untukku
atas aku, ketidaksengajaanku, mengumpulkan permata yang kau inginkan

Ya....

Jika kau dapat mengingat namaku nanti,
ingatlah bahwa kau begitu berarti,
bagi wanita biasa nan canggung ini,
bagi wanita yang baru mampu berterima kasih kepada Tuhannya sendiri,
bagi wanita yang bersedia berdiri, menanti
akan orang yang belum pernah mengingat namanya dengan pasti

Menanti, menanti sembari memantaskan diri

Jika kau dapat mengingat namaku nanti...

Depok, 11 Desember 2012

Monday, 20 October 2014

Festival

Semalam aku bermimpi. Di dalam mimpiku ada kau dan Setia. Kalian sedang bermain dengan kamera di tepi sungai besar, yang airnya setinggi lutut. Di mimpiku itu sedang musim kemarau dan diadakan festival sesuatu yang sangat meriah.

Aku pergi mengunjungi festival itu bersama beberapa orang, yang aku tak yakin siapa mereka. Namun, sebelum mencapai area festival, aku menghentikan langkah karena melihat kalian berdua. Aku ingin menghampiri kalian. Namun, ternyata kita berseberangan. Aku mencari-cari jembatan. Namun, sepertinya tidak ada jembatan di dekat tempat itu. Aku hanya memandang kalian dari kejauhan.

Aku berpikir, bagaimana mungkin di sekitar area festival seperti ini tidak ada jembatan atau apa pun yang menghubungkan daratan yang kupijak dengan daratan di seberang sungai ini, tempat festival berlangsung, juga tempat kalian tengah mengistirahatkan diri. Lalu aku tersadar, festivalnya dilaksanakan di seberang sungai ini. Apakah panitianya sengaja melewatkan soal jembatan ini? Apa mereka tak ingin orang-orang di seberang, seperti aku dan orang-orang yang datang bersamaku, mendatangi festival mereka? Atau mereka lupa? Lupa? Lupa akan hal sekrusial akses ini? Kemudian aku mulai sangsi untuk mendatangi festival tersebut.

Tunggu, orang-orang yang tadi datang bersamaku? Di mana mereka? Sepertinya, mereka pergi meninggalkanku yang tengah memperhatikan kalian berdua dan memikirkan festival serta jembatan. Apakah mereka tetap pergi ke festival? Atau mungkin sudah sampai di sana? Kemudian aku merasakan sesuatu menggoresku, tapi badanku tak terluka. Aku tertunduk. Aku kira aku memikirkan sesuatu, tapi aku tak yakin apakah aku benar-benar memikirkan sesuatu. Aku hanya merasakan nyeri akibat goresan yang tak tampak itu.

Ketika aku memutuskan untuk mengalihkan pikiran, mataku secara reflek membelokkan arah pandangan. Imaji segerombol bocah tertangkap oleh kedua mataku. Tidak! Mereka nyata. Mereka tengah bermain dengan sangat bergembira di hadapanmu, di sungai itu, sungai di antara kalian berdua dan aku. Namun, kalian sepertinya tak tertarik untuk menghiraukan kegiatan mereka. Kalian tetap berbincang akrab, sembari mengelap lensa kamera.

Aku, entah bagaimana, sudah tak lagi tertarik pada kalian. Aku memusatkan perhatian dan pengamatanku pada bocah-bocah yang berbasah-basah di dalam sungai. Tetiba mataku terpaku pada sesosok anak laki-laki yang tampak familiar. Dia tertawa bahagia setiap salah satu rekan bermainnya mengguyurnya dengan air sungai, yang tetap jernih, meskipun saat itu kemarau. Tak butuh waktu lama, aku pun berhasil mengenalinya. Dia adikku. Adik pertamaku.

Tanpa pikir panjang, aku memanggilnya. Aku tidak tahu tindakan reflek macam apa yang telah kulakukan. Panggilan pertamaku tak membuatnya menoleh. Dia belum dengar. Kupanggil lagi dia, lebih keras dan lebih sering. Dia berhenti tertawa dan lebih menegakkan berdirinya. Kini tampak jelas dia bertelanjang dada, tubuh atasnya tak berbaju. Kepalanya celingak-celinguk mencari-cari sumber suaraku. Rekan-rekannya pun bergeming, sesekali turut membantu mencari. Posisinya membelakangiku, pantas dia lama menyadari keberadaanku. Kupanggil dia sekali lagi dan kali ini dia berhasil mendeteksi arah suaraku.

"Hmm," gumamnya seraya mengangkat badannya sendiri dari sungai, menjauhkannya dari rekan-rekan bermainnya. Dia menemuiku, setelah mengambil kaos putih yang diparkirnya di tepi sungai, tepi sungai di mana aku tengah berdiri.

Dia? Dari mana dia memanjat? Cepat sekali? Apakah begitu cara menyeberangi sungai ini? Tak ada jembatan, apakah harus betul-betul ke bawah dan menyeberanginya langsung? Aku menelusuri bibir sungai yang cukup tinggi ini, mencari-cari jalan atau setidaknya tempat landai yang paling mungkin dapat dilalui untuk turun ke sungai. Sial sekali aku tak memperhatikan dengan baik bagaimana tata cara yang dilakukan adikku hingga dia sampai di sini, di hadapanku.

Dia sudah di hadapanku?

Lantas apa yang akan kulakukan padanya sekarang, setelah dia sudah ada di hadapanku? Bahkan aku tidak memiliki alasan untuk memanggilnya. Aku hanya ingin memanggilnya. 

Dia terdiam, sama sepertiku. Kami hanya saling pandang. Dia tak menanyakan apa pun dan aku bersyukur dia tak bertanya.

Kondisi saling diam itu berlangsung sangat lama. Biasanya aku akan sangat bosan ketika terlibat dalam kondisi seperti itu. Namun, kali ini aku menikmatinya. Aku tak bosan, walau hanya berdiri diam dan memandangnya. Aku sendiri tidak tahu bagaimana dengannya karena wajahnya sama sekali tak menyumbangkan ekspresi.

Aku tak ingin dia bosan dan meninggalkanku. Maka aku mengajaknya berkeliling. Aku sudah tak tertarik pada festival itu atau pada kalian yang bermain kamera tanpa peduli apa yang ada di sekitar kalian. Aku hanya ingin aku berada di dekat adikku. Aku ingin dia mengikutiku, menghiraukanku, meski dia tak bicara apa pun.

Kami melangkah pelan, menikmati setiap hal yang ada di sekitar sungai dan padang rumput hijau yang sedang kami injak-injak itu. Ini seperti senja, tapi aku bahkan tak yakin saat itu sudah mencapai pukul lima. Dia masih diam, aku pun demikian. Kami diam sepanjang perjalanan.

Cukup lama kami berjalan, tapi lelah sama sekali tak terasa menggoda kaki. Kami pun tiba di suatu tempat. Tempat yang saat ini adalah tempat sejarah bagiku.

"Gedung sekolah? Sekolahmu?" tanyanya.

Aku mengangguk. Rasa hangat menjalar di tubuhku. Sepertinya, aku bahagia karena akhirnya dia berbicara.

"Kenapa?" tanyanya lagi.

"Kenapa?" aku berbalik bertanya. Aku bukan bertanya padanya, melainkan pada diriku sendiri. Kenapa aku mengajaknya ke sini? Aku tak punya jawaban untuk ini. Aku tidak tahu. Aku diam tanpa menampakkan kepanikan atau kebingungan dalam mencari jawaban untuknya. Kenapa? Aku pun tidak tahu kenapa tiba-tiba kami bisa sampai di sini. Dan aku pun melarikan diri, menghindari tatapan penasarannya dengan membuang pandanganku ke arah tiang voli.

Dia tidak bertanya lagi. Dia hanya menungguku menjawabnya. Dia percaya aku akan menjawabnya. Ini terlihat dari matanya, yang kulirik lewat ekor mataku. Dia bersabar. Aku terkesan.

Kutepuk bahu kanannya seraya berkata, "Bersihkanlah dirimu dan pakaianmu. Kau tampak kacau setelah bermain di sungai." Hanya kata-kata itu yang meluncur dengan lancar dari mulutku. Entah kupungut dari mana mereka.

Dia mengangguk. Aku membawanya ke taman sekolah, menuju sebuah keran yang berada di tepi kolam ikan di wilayah taman tersebut. Dia mendekati keran itu, menyalakannya, membersihkan kaki, tangan, wajah, dan rambut di kepalanya. Apakah dia adikku yang biasanya? Dia menurutiku dengan mudah, tidak seperti biasanya. Dia tak membantah atau banyak bertanya. Namun, dia kehilangan tawa, seperti tawa yang dilakukannya di sungai. Apa aku tak memahami sesuatu? Apa aku melewatkan banyak hal? Apa aku memang tak mengenalnya?

"Sudah," katanya pasca berbasuh.

"Iya? Kau tampak lebih baik," pujiku jujur.

"Iya. Ini segar. Tapi kenapa?" dia kembali bertanya tentang itu lagi.

Aku tak menjawabnya. Aku masih tidak tahu. Lalu aku mengajaknya pulang.

"Kalau begitu, kita pulang?" tanyaku, retoris.

Dia mengangguk. Kami pun bertolak dari sekolah.

Di tengah perjalanan menuju rumah, tetiba aku teringat akanmu. Aku mulai bertanya-tanya. Apa kau masih di tepi sungai? Apa kau masih berfokus diri pada kamera? Apa kau masih bersama Setia? Atau sudah pulang dan merebahkan diri? Aku penasaran dan memutuskan untuk kembali ke tepi sungai, tempat kalian duduk bersantai.

"Aku masih punya urusan. Kau bisa pulang sendiri?" tanyaku kepada adikku.

"Ya. Aku akan pulang," jawabnya.

"Pastikan sampai rumah dan bertemu dengan mereka," pesanku.

"Ya," jawabnya singkat.

Kami berpisah. Aku berbalik arah, melangkah menuju tepian sungai. Aku sempat menengok ke belakang sesekali, melihat punggungnya menjauh, memastikan dia memilih belokan yang benar, hingga dia tak lagi terlihat.

Aku berjalan sedikit lebih cepat, bahkan semakin cepat, dan kudapati tetiba kakiku setengah berlari. Apa aku sepenasaran itu? Penasaran akan apa?

Entah berapa lama waktu yang kuhabiskan, tapi saat aku tiba di tempat parkir festival, napasku terengah-engah. Festival? Aku di area festival tanpa perlu menyeberangi sungai?

Aku melihat ke arah Barat, dua puluh meter dari tempatku berdiri. Sungai itu masih ada. Jadi, aku tidak berhalusinasi beberapa saat lalu, saat aku melihat kalian, saat aku tak menemukan jembatan, saat aku putus asa untuk mendatangi festival, saat aku menemukan adikku, dan saat aku berjalan di tepian sungai itu bersamanya. Lalu bagaimana caraku sampai ke festival ini tanpa menyeberangi sungai itu?

Persetan! Mungkin aku telah mengambil jalan memutar tanpa sadar, jalan alternatif yang tak pernah aku tahu keberadaannya selama ini, dan aku menemukannya secara tiba-tiba tanpa aku ingat, bahkan tanpa kau sadari. Apakah aku baru saja mengumpat dan menyumpal umpatan itu sendiri?

Saat aku berpikir tidak penting itu lah, aku melihatmu keluar dari tempat parkir. Kau memacu hati-hati sepeda motormu. Aku senang dapat menemukanmu tepat waktu. Tanpa pikir panjang, aku berlari ke arahmu, tepat menyongsong kau dan sepeda motormu.

Tak kusangka, kau terkaget lantas mengumpat dengan keras, "Sial! Apa kau cari mati, hah?"

Aku diam membatu.

"Awas! Menyingkirlah dari depanku, apa kau sengaja mengumpankan diri?" katamu lagi sembari berteriak.

Aku terperangah. Kau berbeda. 

Orang-orang telah mengalihkan perhatian mereka dari aktivitas mereka --menjelajahi kemegahan festival-- ke arahku yang tengah dimaki, membuatku mengerti apa yang namanya hampir mati. Sayup-sayup aku dapat mendengar mereka berbisik.

'Ada apa?'
'Ada seorang gadis yang hampir tertabrak motor.
'Wah! Pakaian wanita itu aneh sekali!
'Eh, dia tuli ya?'
'Tidak. Mungkin, hanya kaget.'
'Ibu, aku takut. Hiks hiks.'
'Kasihan, gadis itu.'
'Pemuda itu keterlaluan, berteriak seperti itu.'
'Tch! Gadis itu yang salah. Dia sengaja menabrakkan diri. Dasar bodoh.'
'.......'


Dan semakin banyak sekali orang yang sengaja datang untuk menontonku. Mereka membangun opini mereka sembari mengerubungiku. Apa aku tengah diperhatikan? Jadi, beginikah rasanya menjadi pusat perhatian? Jika iya, maka aku tidak suka menjadi pusat perhatian. Apakah mereka tak bisa meninggalkanku dan kembali ke festival? Aku bukanlah festival! Kecuali, mereka benar-benar menganggapku sedang berfestival kematian.

"KAU BEGO, HAH?" kali ini kau meneriakiku kelewatan hingga aku kehilangan kesabaran.

"Kau t...tak me..menge..mengenalku?" tanyaku. Apakah begini caraku mengekspresikan kehilangan kesabaran itu? Namun, benar, aku merasa kita seperti orang asing.

"Mengenal? Dasar aneh! Minggir!" bentakmu, sontak membuatku menepi tanpa melawan. Mendengar jawabanmu dan caramu berteriak padaku, sepertinya kau tak ingat padaku. Atau memang kita sama sekali tidak pernah berkenalan?

Kerumunan di sekelilingku menyepi, tetapi masih terdengar kasak-kusuk dari mereka yang sepertinya topiknya adalah aku. Aku tak peduli dengan mereka, yang aku pikirkan hanya kau yang tak mampu mengingatku. Apa kita benar-benar pernah berkenalan?

Dan begitulah festival mimpi ini berakhir. Aku mendapatkan adikku kembali, tetapi tak mampu dikenali oleh dirimu lagi.

Saturday, 11 October 2014

Terpaku

Aku belum mengizinkan diriku diterbangkan oleh angin,
sebab aku gembira menanamkan jiwaku di sini,
meski aku berdusta dan mengkhianati ragaku sendiri,
yang telah lebih dulu pergi,
dan kini ia terjebak setengah diri,
di perbatasan alam nyata dan mimpi

Dua kepala bocah telah kulompati,
detik dan jarak perjalananku tak lagi terasa berarti,
kulaju langkahku tanpa henti,
tetapi bayangku tak jua mengikuti
Haruskah aku berhenti,
dan mulai membangun tenda di sini?

Tatkala mentari mulai menenggelamkan diri,
kehampaan memenjarakanku dalam bui tanpa jeruji,
aku memakukan diri tanpa berniat untuk melarikan diri,
menguping gagak yang berkicau tanpa solmisasi,
memandang ilalang yang menari tanpa emosi,
hingga tetiba rembulan datang mencibir sembari menendang pergi sang mentari

Aku tak ingin meraih gemintang,
tak berhasrat menorehkan jejak di pasir pantai milik seseorang,
tak berniat menancapkan bendera di puncak gemunung untuk disaksikan banyak orang,
tak berdaya untuk melukiskan peta dan merancang menara pencakar angkasa,
dan karenanya aku menderita kelumpuhan tak kasat mata
Aku tak bergerak, kehilangan kendali, bahkan suara untuk memanjatkan pinta

Keterjebakanku, tanpa melaun-laun, telah mematikan sendi dan kesadaran
Aku tak tahu cara mempersatukan raga dan jiwaku yang telah berseberangan alam
Aku tak kuasa memaksa bayanganku menyamai langkah yang telah berlari meninggalkannya
Aku tak mampu memecahkan kehampaan yang memurukkanku dalam kegelapan
Apakah akan ada keajaiban atau setidaknya kesempatan

bagi seseorang yang telah kehilangan keinginan bahkan ingatan akan pencapaian? 

Thursday, 2 October 2014

Owl Brotherhood

Owl Brotherhood?
Apakah frasa itu terlihat sangat aneh? Jika iya, abaikan saja! Hehe. Dua kata itu sebetulnya kata-kata yang spontan terpikirkan untuk memberi nama sebuah grup percakapan Whatsapp yang berisi hanya tiga orang, yaitu saya dan dua orang adik angkatan saya, Rheta dan Roland. Awalnya, grup --yang saya buat secara spontan dan dengan memasukkan mereka berdua secara paksa-- ini, saya beri nama "Alarm" karena memang fungsinya adalah sebagai media untuk meminta bantuan mereka, membangunkan saya di jam-jam tertentu. Yeah, saya memang sangat sulit untuk dibangunkan bahkan oleh alarm sekali pun. Namun, anehnya, saya pasti akan bangun jika mendengar nada panggilan telepon saya berbunyi. Alhasil, saya pun nekad membuat grup tersebut. 

Di awal tindakan geje saya ini, saya merasa sangat tidak enak pastinya, memasukkan dua anak orang, yang ketika itu sudah pulang ke Kebumen, secara paksa ke dalam grup ini, hanya untuk saya repotkan atau membangunkan saya. Saya kira, mereka akan keberatan, apalagi si dedek Roland ini merupakan seorang dedek laki-laki yang agak sulit dimengerti baru saya kenal satu setengah tahun. Kalau Rheta, dia memang sudah sering saya tarik-tarik dalam dunia saya sehingga sepertinya sudah pasrah saja jika saya repotkan. Itulah mengapa saya nekad-nekad saja memasukkan dia, si Rheta. Lagipula dia seorang dedek perempuan yang baik, dan lebih mudah memahami saya yang juga sesama perempuan. *maaf  terkesan feminis, tapi saya memang seorang yang awkward dan bingung dalam berteman dengan lawan jenis*

Namun, ternyata, setelah beberapa hari, mereka berdua tidak mengeluarkan diri dari grup tersebut. Meskipun awalnya, dedek Oland (panggilan saya ke Roland, karena mengucapkan konsonan (R) setelah konsonan (K) terasa sangat aneh, akhirnya saya memutuskan untuk membuang huruf R-nya sesekali ketika memanggilnya) memang terlihat agak terganggu, tapi akhirnya dia tidak memutuskan untuk left dari grup. Bahkan, dia mengganti ikon grup tersebut dengan gambar di atas, yaitu gambar jam berbentuk sekeluarga burung hantu, yang terdiri induk burung hantu dan dua anaknya, yang SANGAAAAAT LUCUUUUU. Tindakannya itu mengilhami saya untuk mengganti nama grup Whatapp tersebut, dari "Alarm" ini menjadi "Owl Brotherhood". Jujur, saya sangat suka dengan gambar jam tersebut, selain memiliki relasi dengan tujuan pembentukkan grup ini, yaitu sebagai alarm, figurnya juga burung hantu, yang entah sejak kapan, sangat saya sukai. 


#Rheta
Nama lengkapnya Rheta Veda  Nugraha. Pertama kali melihat Rheta adalah pada saat SMP. Kami bertiga memang bersekolah di SMP dan SMA yang sama, yaitu SMP dan SMA Negeri 1 Kebumen. Saya langsung hafal dan mudah mengenalinya karena saya sering melihat dia dan Rhea berangkat sekolah bersama saat SMP dan saya kira mereka adalah anak kembar. Namun, ternyata mereka adik kakak yang rumahnya berada di desa yang sama dengan saya, tapi beda RW atau dukuh. Selain itu, dia juga salah satu dari beberapa siswi SMP N 1 Kebumen yang memakai jilbab saat itu. Oh iya, kata Mama saya, ketika kami sama-sama balita, kami pernah hidup bertetangga selama beberapa bulan dan saya pernah bermain bersama Rhea. 

Rheta dan bebungaan di dinding Gunung Prau
Meski saya sudah tahu Rheta sejak SMP, tetapi pertama kali berkenalan dengannya adalah empat tahun kemudian, tepatnya pada saat saya kuliah semester 2, di sini, di Depok, pada saat B3 2011 berlangsung. Sejak saat itulah kami saling bersapa, berbincang, bercanda, dan sebagainya hingga saat kini, karena ternyata lagi-lagi Rheta menjadi adik angkatan saya di UI, bahkan kembali berjodoh belajar di satu fakultas yang sama, yaitu di FKM. Kami pun semakin sering bertemu karena kami tergabung dalam Perhimak UI dan tinggal di asrama yang sama, yaitu asrama UI. 

Rheta bergolongan darah B, sama seperti saya. Sugesti akan kemungkinan kesamaan sifat dan pemikiran akibat kesamaan golongan darah inilah yang mungkin membuat saya sering mendekatinya, selain karena dia memang baik. Dia adalah pendengar yang sabar, pemberi respon yang baik dan tidak mempermasalahkan perbedaan atau pritilan-pritilan tidak penting dari saya yang terkadang membuat orang lain membangun pemikiran tertentu tentang saya. Dia menghargai perbedaan dan menyebutnya sebagai karakteristik dan hak dari setiap individu dalam berekspresi. Semakin lama mengenal Rheta, saya semakin merasa nyaman berteman dengannya, terutama sejak dia berpindah kos ke kosan saya saat ini, Wisma Yellow Orchid. 

Setelah kami satu kosan, saya semakin sering mengajaknya berbicara, makan bersama, jalan-jalan tidak jelas bersama, memaksanya keluar dari kamar untuk mendengarkan ocehan saya hingga shubuh datang, atau mengecenginya dengan seseorang. Meskipun umur kami terpaut satu tahun lebih, tetapi saya menganggapnya seperti teman sebaya, seperti Tiara, Leli, Widya, Ifa, dan Dzakia. Saya heran sebenarnya, mengapa dia dapat sesabar itu dalam menghadapi sifat labil dan kekanak-kanakan saya. Namun, saya sangat bersyukur karena dapat mengenalnya dan berteman dengannya. Darinya, saya belajar tentang kasih sayang dan ketulusan, tentang bagaimana menjadi wanita seharusnya, bagaimana menjadi pendengar yang baik, bagaimana memperlakukan orang lain dengan ikhlas, bagaimana berteman, bagaimana mengekspresikan kebebasan, bagaimana untuk yakin pada diri sendiri, dan bagaimana melakukan banyak hal lain. 


#Roland
Nama lengkapnya Roland Raymond Dino. Sepertinya saya pernah melihat Roland pada saat SMP di SMP N 1 Kebumen karena dulu dia memiliki rambut merah yang lebat, tapi tidak pernah melihatnya pada saat SMA, meskipun kami bersekolah di SMA yang sama. Selisih umur kami berdua adalah dua tahun, saya angkatan 2010 sedangkan dia angkatan 2012. Saya pertama kali berkenalan dengannya pada saat...tidak tahu. Pertama kali saya melihatnya secara sadar, yaitu saat kasti perdana Perhimak UI kepengurusan Jodi, tahun 2012 silam. Pada saat itu, di saat anak-anak angkatan 2012 lain berkenalan, bersapa, atau setidaknya tersenyum saat melihat saya, dia adalah satu-satunya orang yang tidak melakukannya dan lebih memilih tetap bermain kasti atau berbincang dengan orang lain yang sudah dikenalnya. Karena kejadian itulah, saya menganggap Roland sebagai seorang adik angkatan yang sangat sombong dan sebaiknya saya hindari demi kenyamanan hidup saya. Kemudian, berbulan-bulan pun berlalu di semester 5 saya itu dengan sedikit sekali melibatkan diri pada kegiatan-kegiatan Perhimak UI.

Roland di puncak Gunung Prau
Awal tahun 2013, semester 5 pun berlalu, dan entah bagaimana ceritanya saya sudah kembali ikut-ikutan kegiatan Perhimak UI, yang pada saat itu adalah Kebumen Campuss Fair (KCF) 2013. Di sanalah kali kedua saya bertemu dengan Roland secara sadar. Dia masih saja seperti pada saat kasti, berseliwar-seliwer ke sana-ke sini terlihat mengganggu mata *haduh maaf, menurut saya cowok cool nggak banyak gerak itu lebih keren daripada yang banyak gerak*. Dan KCF berlangsung meriah dan lancar seperti tahun sebelumnya. 

Menjelang siang, tiba-tiba Roland mendekati saya yang sedang lesehan seorang diri di samping stand Perhimak UI, dan bisa jadi inilah perkenalan pertama kami. Dia berkata (dengan bahasa jawa sebetulnya), "Mba Ani, kan? Maaf sebelumnya, soalnya kita belum pernah berkenalan sama sekali sebelumnya, terus tiba-tiba aku mau minta tolong. Aku Roland, 2012, PJ PDD (publikasi, dekorasi, dokumentasi) UI GTK 9. Jadi, kalau misalnya besok persiapan dekor UI GTK dilakukan di rumah mba Ani boleh nggak? Terus, mau minta tolong mba Ani juga buat ikut mbantuin PDD. Mba bisa nggak? Maaf banget agak nggak sopan ini, ya, dadakan banget bilangnya, di saat seperti ini lagi." Saya hanya menjawab, "Oke, boleh-boleh." Dan dia pun pergi setelah mengucapkan terima kasih singkat. Pada saat itu pun, saya masih merasa Roland adalah tipe-tipe cowok menyebalkan yang hanya datang pada saat membutuhkan bantuan saja.

Hingga kemudian, tiba juga waktunya kegiatan PDD dan latihan grup musik Perhimak UI berlangsung di rumah saya (yep, entah bagaimana caranya, tiba-tiba rumah saya seolah-olah jadi beskem perhimak ketiga setelah gazeb alun-alun dan rumah Umam). Pada saat itulah saya sedikit mengubah cara berpikir saya tentang Roland. Dia memang terlihat angkuh, tapi sebetulnya tidak juga. Dia memang berisik, tapi sebetulnya dia cukup inisiatif dan bertanggung jawab. Dia tampak ngeyel dan tidak mendengarkan apa kata orang lain, tapi sebenarnya dia dengar dan mungkin memikirkannya dan diam-diam mempertimbangkan saran dari orang lain. Mungkin, dia terlihat sangat eksis, mengeluyur di sini dan di sana, bicara begini-begitu, lalu tiba-tiba pergi dan kembali dengan membawa atau melakukan sesuatu, dan segelintir tindakan lainnya yang sebagian besar tidak dapat saya mengerti maksudnya, tetapi mungkin sebenarnya dia hanya tidak dapat berdiam diri tanpa melakukan atau mengatakan sesuatu. Uhn...bisa dibilang, hampir semua karakteristik manusia bergolongan darah O ada pada dirinya. 

Sejak saat itu, saya memutuskan bahwa sepertinya saya harus mengubah cara berpikir saya kepada orang-orang. Saya tidak boleh lagi ber-prejudice atau mudah sebal kepada orang lain hanya karena perlakuan tidak baik pada saat bertemu. Yeah, dari pengalaman saya dalam menilainya, saya memperoleh pelajaran untuk tidak menilai orang dari bungkus luarnya. Selain itu, setiap melihatnya, saya selalu teringat akan adik laki-laki saya, Ais (Fariz) yang memiliki sifat yang bertolak belakang dengannya. Mengapa ada anak muda yang begitu pendiam dan hanya suka berkawan dengan komputernya seperti adik saya di saat ada anak muda lain seperti Roland dan teman-temannya? Lalu, saya pun bertekad untuk lebih berusaha mengenali dan mendekati adik kandung saya, seperti halnya saya pernah berusaha mengenali dan mendekatkan diri dengannya atau adik angkatan yang lain. 


Mengapa mereka berdua?
Saya sebetulnya tidak tahu mengapa saya membuat grup Whatsapp itu dan memasukkan mereka berdua ke dalamnya. Hanya saja, semenjak berkenalan dengan mereka, saya merasa saya lebih dapat berekspresi dan menjadi jujur. Entahlah, bagaimana dan apa posisi dan pengaruh saya bagi mereka, menurut mereka berdua atau bahkan menurut orang lain yang pernah melihat kami atau membaca tulisan ini. Namun, bagi saya mereka seperti air sekaligus tempat sampah, yang entah bagaimana caranya mampu menyugesti saya. Dengan aliran airnya yang sengaja saya paksa mengaliri saya setiap kali saya mulai mengering, saya dapat sedikit demi sedikit kembali mengalir dalam sungai kehidupan saya sendiri. Dengan kelapangan hati dan kelogisan pemikiran mereka, saya sering memaksa memanfaatkannya untuk membuang sampah, keluh, kesah, dan pemikiran-pemikiran aneh saya ketika saya mulai bingung ke mana saya seharusnya menumpahkannya. Seringkali saya memperoleh inspirasi, tonjokan, dan kekuatan setelah bercerita dengan mereka. Namun, terkadang kehampaan dan kekesalan juga saya dapatkan tanpa terencana. Apakah hal seperti ini yeng disebut sebuah pertemanan? Atau setidaknya perasaan yang timbul dari menganggap seseorang sebagai teman? Apa pun itu, saya merasa senang mengenal mereka, terlepas dari bagaimana cara mereka manganggap saya. Sejauh ini, saya masih merasa hubungan kami bertiga aneh, di mana perasaan yang saya rasakan sepertinya masihlah berlangsung sepihak. Saya mungkin belum memberikan banyak hal atau bantuan untuk mereka, tetapi sebisa mungkin saya akan menjadi teman atau "apa pun namanya" yang baik ketika mereka butuhkan. Semoga saya dapat menjaga tekad saya ini. 

Saya, Rheta dan Roland
Tentang saya dan Rheta, sepertinya orang lain melihat saya dan dia seperti pertemanan anak perempuan pada umumnya. Namun, sebetulnya saya menganggapnya lebih dari itu. Meskipun, terkadang obrolan kami berakhir dengan tanpa kesimpulan dan penyelesaian, tetapi kenyamanan yang timbul ketika obrolan itu berlangsung merupakan hal berharga yang sangat sulit untuk ditemukan ketika mengobrol dengan orang lain. Meski demikian, lagi-lagi saya tidak tahu bagaimana perasaannya ketika mengobrol dengan saya karena sebenarnya, saya sering merampas waktunya hanya untuk menghabiskannya dengan hal-hal tidak berkualitas dengan saya. Dalam hal ini, saya seperti telah berbuat dzalim kepadanya. Pernah suatu ketika saya bertanya kepadanya apakah saya pernah tersebut dalam doanya dan dia menjawab "ya" dengan tanpa ragu. Saya sangat terharu saat mendengarnya. Tak hanya itu, ternyata dia juga mengingat setiap hal yang saya ceritakan kepadanya, yang menandakan bahwa dia mendengarkan bahkan menyimak dengan baik ketika saya berbicara. Lagi-lagi saya terharu dan merasa terhormat karenanya.

Tentang saya dan Roland, mungkin ada beberapa atau banyak orang, tak terkecuali kekasihnya, yang mengira jika saya memiliki perasaan tertentu, semacam suka atau modus kepadanya. Padahal dari obrolan dan interaksi kami berdua, sudah dapat dipastikan bahwa tidak ada hal yang mengindikasikan kebenaran adanya rasa-rasa semacam itu. Sikap saya terhadap Roland, sama halnya seperti sikap saya ke Ais, alias seperti seorang kakak ke adiknya atau sebaliknya. Mungkin, saya pernah menyebutkan di sini, bahwa saya sangat tidak nyaman ketika berbicara atau berada di samping anak laki-laki karena pada masa lalu kebanyakan pengalaman buruk dan bullying yang terjadi pada saya dilakukan oleh teman laki-laki. Namun, entah mengapa saya merasa tidak lagi se-awkward atau beranggapan seburuk itu setelah beberapa kali saya mengobrol dengan Roland. Mungkin, sifatnya yang seperti itu, cerewet dan supel, meskipun kadang arogan (?) dalam berteman mengubah beberapa cara berpikir saya tentang anak laki-laki. Hal ini membuat saya mengganggap Roland sebagai teman laki-laki pertama saya *padahal adik angkatan -,-*. Oh iya, saya pernah berkata kepadanya, "Maaf ya, dan ingatkan jika apa yang saya lakukan sudah berlebihan dan menimbulkan kesalahpahaman," dan dia hanya menjawab, "Ya. Lagian selama ini kan komunikasi yang terjadi sebagian besar hanya searah." Dan ini menjelaskan banyak hal bukan? :D

Sebenarnya, saya orang yang tidak enakkan atau rikuhan dalam meminta tolong atau menyuruh. Namun, entah mengapa kepada mereka berdua, terkadang saya tega dan nekad mengajak, meminta atau menyuruh mereka melakukan sesuatu, misalnya: ngajak mereka camping atau main ke pantai atau parahnya minta mereka membantu memasukkan output analisis data skripsi saya saat semester lalu. Lebih parahnya lagi, saya memutuskan untuk tidak merampungkan skripsi saya setelah semua hal yang mereka lakukan untuk membantu saya. Jika dipikir-pikir lagi, sepertinya tindakan saya kepada mereka sudah sangat keterlaluan. Saya jadi kasihan sama mereka yang sepertinya sering saya repotkan dan tarik-tarik ke dalam kehidupan saya. 

Ah, tidak tahu lagi... Saya hanya mampu berterima kasih pada Tuhan karena mengizinkan saya mengenal kalian. Terima kasih juga kalian, untuk kesempatan dan kebaikan yang kalian berikan untuk saya. Saya sayang kalian tanpa alasan...



Saya dan Rheta, selfie (dengan kamera saku) di Sarang Burung

Saya dan Rheta, (masih) selfie (dengan kamera saku) di Sarang Burung

Saya dan Roland (masih) di Sarang Burung, dipotret oleh Rheta

Saya dan Roland, selfie (pakai kamera saku Roland) di semak-semak (?)
Oh, sepertinya ini di Telaga Warna, Wonosobo

Rheta dan Roland, di Sarang Burung, dipotret oleh saya

Rheta dan Roland, di Pantai Menganti, dipotret oleh saya


Selfie 1 oleh Roland, dari luar pagar

Selfie 2 oleh saya, dari dalam pagar

Selfie 3 oleh Roland


Di dalam tenda 1 (tenda anak perempuan) saat camping di Sarang Burung

(Masih) Di dalam tenda 1 saat camping di Sarang Burung

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...