Showing posts with label Teman. Show all posts
Showing posts with label Teman. Show all posts

Friday, 14 November 2014

THE WORLD OF MATRIX

Ini adalah cerita fiksi tentang teman-teman sekelas terakhir saya ketika SMA, kelas XII IPA 1. Saya meng-copy-paste-nya tanpa pengubahan dari dokumen aslinya. Cerita ini juga ditampilkan di dalam album kenangan kelas. Pemilihan tema didasarkan pada hal yang sedang panas-panasnya terjadi ketika kelas XII saat itu. 

Sebetulnya, cerita ini tidak sengaja dipilih. Sebagian besar teman saya tidak terlalu memikirkan perihal album kenangan ini. Mereka terlalu sibuk melakukan persiapan menghadapi Ujian Nasional (UN) dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan materi album kenangan. Ndilalah, beberapa saat sebelum UN, saya sempat menulis sebuah catatan FB, yang isinya adalah tentang lika-liku cinta fiksi dari seluruh anak sekelas saya. Karena sudah dikejar-kejar dateline pemotretan dan ancaman dari si fotografer, yaitu tidak akan melayani pemotretan jika tidak sesuai dateline tersebut, akhirnya, tanpa pikir panjang dipilihlah catatan FB tersebut sebagai materi cerita dan pedoman menentukan kostum serta lattar foto.

Berdasarkan cerita, yang ternyata ditulis dengan topik dan alur yang sangat tidak jelas, diputuskan sebuah tempat yang diyakini cocok untuk menjadi tempat pemotretan. Braja. Letaknya, jika tidak salah di Petanahan, tidak jauh dari rumah Hari, salah satu anak XII IPA 1 juga. Kostum yang dipilih adalah kebaya dan beberapa atribut yang disesuaikan dengan penokohan setiap tokoh. Karena saya yang membuat cerita itu, mereka mempercayai saya untuk mengatur urusan: kostum, pembagian peran, dan penentuan pose ketika pemotretan. Saya bak sutradara dadakan saat itu.

Awalnya, hampir seluruh anak keberatan dengan ide kostum kebaya yang saya sampaikan. Namun, akhirnya mereka menyetujuinya. Dalam satu hari, para anak perempuan telah berhasil memperoleh kostum sesuai dengan yang saya jelaskan kepada mereka, meskipun tidak semuanya. Saya, sebagai dalang dari plot tidak jelas ini, pun bertanggung jawab untuk menyediakan tiga setel kebaya bagi mereka yang belum memperoleh kostum. 

Kami menggunakan sebuah minibus atau colt untuk mencapai Braja, lokasi pemotretan. Kami berganti kostum di tempat. Ketika mereka berganti kostum, saya berputar-putar di lokasi, mencari spot yang tepat untuk dijadikan lokasi setiap scene sesuai cerita ini. 

Hingga sekarang, saya kurang tahu apa sebetulnya Braja ini. Sepertinya, Braja merupakan bekas kompleks gedung kelurahan kecil pada zaman dahulu. Ada sebuah rumah tua mirip joglo dengan teras yang luas di depannya. Sepertinya ini adalah bangunan utamanya. Di tengah teras, ada sebuah meja kuno panjang yang sepertinya melekat dengan lantai karena dulu saya tidak kuat untuk menggesarnya. Selain itu, di teras tersebut, ada sebuah kursi panjang berlengan yang mengahadap ke halaman pekarangan di depannya. Di halaman pekarangan, terdapat sebuah gardu terbuka yang di samping kanan kirinya ditumbuhi bunga-bungaan, jika tidak salah bunga sepatu. Di pekarangan samping kanan, berdiri reruntuhan bekas bangunan yang menyisakan sebuah dinding dengan dua lubang pintu yang berjeruji bambu. Di samping kiri bangunan utama, ada sebuah sumur tua lengkap dengan timba dan sebuah padasan (tempat wudhu) dan bak cuci kaki di sekitarnya. Sumur ini dibingkai oleh dinding lembap berlumut setinggi beberapa sentimeter di atas kepala saya, mungkin sekitar 160an sentimeter. Di beberapa titik lain, ada perkebunan bambu yang tidak terlalu rimbun, tapi terlihat rindang. Saya sangat menyukai lokasi tersebut, sangat cocok dengan cerita ini.

Sayangnya, pada saat pemotretan tiga teman kami tidak ikut. Mereka adalah Fazri, Syifa, dan Putri. Syifa dan Putri saat itu masih di Amerika, masih mengikuti program AFS. Kalau Fazri, sepertinya dia memang punya alasannya sendiri untu tidak ikut. 

Pemotretan pun berlangsung damai dan lancar, sesuai dengan alur cerita yang saya buat, seperti di bawah ini. 


Auriga Amarilis Ltd. dengan was-was dan harap-harap cemas, mempersembahkan:
THE WORLD OF MATRIX
Starring:
* Puput Y Giza*
* Barkah Y Titi*
*Mie Shil
Y Yanto*
*Miftah Hood YDakresnia*
*Aris-san Gozaimasu
Y Ria*
*Ari-Sonde
Y à (.....putri seberang)*
*Jendra Sujendra Y Widya Chichuouwouwo*
*ADeRa Y FajaridamY Defita*
*Sanda Y Asep Y Septi Y Alfi*
*Harry Muter YAdeel Khan *
*Mr. Ijod Y Vesta*
*Mr. Yugo Y Alinda*
*Defita Y Sukono-san*
*Timo-Cheon Y Rif Khan*
*Duo Spy (Spy Wien Y Spy LeLee)*
* DeokNOP Y Wah2*
* Ardian Y Annis*
* Peti Y Amelia *
*Ani Wagujayanti Y Tori Utami*

P.s. Nama-nama tokoh dalam cerita ini memang sengaja disamarkan dan dibuat alay untuk membuat pembaca dan tokoh-tokoh itu sendiri berpikir ketika membacanya. Terima kasih.

Prolog dulu, euy...... 
Suatu hari Ratu "Bunda" Sulastri, sang penguasa dunia Asal-ana, murka kepada dewi Peti dan dewia (iki makhluk ora jelas dewi apa dewa) AmeliaMereka berdua --yang sebenarnya terlibat cinta terlarang-- telah datang ke tempat terlarang --hutan terlarang-- dan melakukan perbuatan terlarang yang paling dilarang, yaitu me-larang-kan cinta di bumi. Mahalnya harga cinta, membuat bumi porak-poranda (pejabat padha kerah, rakyat cilik padha sulaya, bebek padha poligami, dene sinetron cinta-cintaan padha gulung klasa. Terektek..tek..tek). Parahnya, belum ada penangkal untuk kutukan ini, bahkan sang ratu pun angkat batu.

Atas saran Adeel Khan --calon penerus Bunda Ratu, karena telah ditunangkan dengan Pangeran Harry Muter-- Peti dan Amelia pun dihukum dan dicemplungna meng Lubang Semut.

 *****
Beralikkhhh ke bumi... (masuk dongeng!) 

Di sebuah negeri nan panas, berrakyat kompleks (dari yang datar hingga mlengkung-mlengkung ora pacul) dan beratmosfer geseng-geseng memabukkan (khas wong arep ujian), bernama MATHRIKHHS, hiduplah 39 juta (kali 10 pangkat min 6) rakyat yang hidup tenteram, cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Tersebutlah (siap-siap, hikayate labuh) Kaisar Benzena Alam Barkah berdamping Ratu MenCheng Larastiti (cuit cuit, ichi ichi, plok plok plok, cie cie cie, priiiiiiit!) yang mempunyai seorang anak bernama Pangeran Puput Prek-prekkan (bocahe ora iso meneng, asli!!!).




Suatu hari kekacauan terjadi saat pelajaran kimia kerajaan. Raja Barkah dan Ratu Titi yang duduk berdampingan di bangku nomor 3, tiba-tiba berpisah dan saling menjauh. Ratu mendekati dayang Defita Sejuta Cerita, sedangkan Raja memilih duduk dengan hulubalang Ari-Sonde yang tengah melamunkan kekasihnya di benua seberang yang penuh “Ice”. Hal itu membuat bingung perdana menteri single seumur hidup yang memang selalu bingung, Ani Wagujayanti.




Usut punyane usut, akhirnya Ani pun tahu bahwa dewi Peti dan Amelialah biang kerok-nya (pantes pijitanne mereka enak, euy) dan menyuruh Panglima Fajaridam, Jenderal Timo-Cheon dan Jenderal Jendra Sujendra untuk mencari penangkal kutukan.

Namun, kutukan itu sudah menyebar. Rakyat MATHRIKHHS, seperti duo dangkal (Yanto & Aris-san), duo peng-"rajin" (Sukono-san & Miftah Hood), trio perhatian (Tori Utami, Wah2 & deokNOP), dan duo vocal grup (Alfi & Srandal, eh Sanda) terlanjur malas mencari cinta yang mahal dan lebih menggilai kitab-kitab pusaka (menu UAN, gitu).



Seribu satu hari berlalu (meski soal 1001-ne durung kegarap kabeh), Peti dan Amelia lolos dari lubang semut jagaan Dakresnia yang sedang frustasi, karena tak juga menemukan cintanya, Miftah Hood, yang hilang tiba-tiba saat "berjalan di tepi pantai".  (belum tau aja dia kalo Miftah sebenernya lagi nyariin kekasih lamanya, Rif Khan).



Saat tahu bahwa duo dewi jahat sudah bebas, Widya si aktivis pembuat bom, nenek sihir Alinda, dan Ratu "lirikan ora nguati" Lie_Sol, sangat gembira lalu mengadakan upacara penyambutan bagi duo dewi itu. Mereka menunjuk Tori Utami sebagai pengisi pengajian serta Mr. Ijod dan Mr. Yugo sebagai pengawal pribadi Ratu Lie_Sol dan nenek sihir Alinda. Jodi dan Martyn malah diam-diam menaruh perhatian lebih pada majikan mereka. ( cuit, cuit, wek, wek, kukuruyuk).

Agen Spy LeLee dan Spy Wien, duo mata-mata cerdik nan kalemik lagi serasi yang mengetahui hal itu, langsung lapor ke jenderal hitam manis kecap asin, Asep, yang olehnya lalu dilanjutkan ke Raja. Karena Raja dan Ratu masih saling diam, Asep malah dikacangin. Akhirnya, dayang ADeRa dan dayang Rif Khan lah yang mewakilkan. Kedekatan mereka berdua dengan Jenderal Asep bikin cemburu Septi sehingga, frekuensi latahnya (Septi: EH MONYET, MONYET, MONYET!! EH MONYET!!!) tak terkendali.

-------oo0oo-------

Di sela kekacauan dunia tanpa cinta, Yanto si master pisika malah melihat ketulusan cinta seseorang yang justru tak pernah mengejar-ngejarnya (cara-carane Yanto akeh ingkang ngefans, terektek..tek..tek..). Dia lah Mie Shil yang anggun (padahal jane ya ora pacul kelakuane, haha). Karena Yanto sudah punya tambatan hati, para fans Yanto yang kebanyakan anak cewek pun kecewa. Rombongan yang dipelopori Alfi dan Sanda ini beralih mengejar-ngejar Aris-san, diikuti para fans lain yaitu Wah2, DeokNOP, dan Ria. Aris-san pun menggila, lalu menyuruh Baron Ardian mengusir mereka. Hal itu malah membuat Baron yang juga pinter pisika, ikut digilai mantan fans Yanto. Istri Baron, Annis gething jealous dan menghujaninya dengan cubitan superperih yang membuat Ria, adik tiri Annis, ngeri saat melihat KDRT tersebut.

Dengan mempelajari kasus jatuh cintanya Yanto Y Mie Shil, seorang filsuf wanita --yang juga mantan fans Yanto-- berkesimpulan bahwa kutukan ini dapat dipatahkan hanya oleh cinta yang tulus, lus, lus. (Tuluskah hatimu mencintai aku... tirukan gaya Ian Kasela). Filsuf berjasa itu adalah Giza yang tinggal di sebuah "gubug" di pertigaan kolopaking. Panglima Fajaridam, Jenderal Timo-Cheon, dan Jenderal Jendra Sujendra lah yang menemukannya yang langsung diusungnya ke istana.

-------oo0oo-------

Di Istana MATHRIKHHS.....


Wanita enerjik ini betul-betul bikin Pangeran Puput mabuk judi, eh mabuk kepayang and fall in love at the firstsight. Itu semua akibat jurus cinta tulus dari Giza. (Waw teori Giza terbukti, ichi ichi ichi, cuit cuit, cie cie, ngok ngok). Bahkan, Raja Barkah dan Ratu Titi rukun kembali.



Tiba-tiba, Ratu mendapat ide yang menurutnya dahsyat, bombastik, fantastik, dan wagutik untuk mempersatukan kembali ke-39 (kali 10 pangkat min 6) rakyatnya dalam damai dan cinta. Segera, ia panggil kawan lamanya saat di SMA, Dakresnia dan Mie Shil, dan mereka tergabung dalam “Trio Ora Pacul spesialis Kol Jurusan Ngetan” (author ngarang). Aksi ora pacul mereka adalah menjodohkan satu orang dengan orang lain semuanya tanpa kecuali, meski harus ada pilogami di antaranya (SADIS! Maklum, jumlah putranya kan minus). Usaha itu mandan berdampak baik, meski lebih menimbulkan banyak ke-amburadul-an. Istana pun jadi kacau.



Di antara mereka ada Sukono-san putra jepang (ding, putra Sruweng!) yang mukanya memerah setiap bertemu dayang Defita Seribu Cerita dan hal itu sukses membuat geram Panglima Fajaridam (secara tuh dayang kan kekasih gelapnya, hehe). Lain halnya dengan Jenderal Asep yang justru berhasil meyakinkan Septi bahwa ia tak pernah selingkuh dengan mantan istri-istrinya, Sanda, Alfi atau beruang (????). Sedangkan Aris-san dan Ria entah kenapa mereka jadi semakin dekat gitu (padahal dipaksa author). Ada juga, Rif Khan dan Timo-Cheon yang masih sama-sama malu-malu kucing (btw, tuh kucing meresahkan penghuni ruang MATRIX kapan mau minggatnya ya???). Di depan meja pengadilan (baca: meja guru), DeokNop dan Wah2 tak pernah lelah memperdebatkan soal pisika nomor 13 sejak jaman Jepang (Aneh!! mereka tak mempan dijodohkan). Baron dan Annis pun tak mau kalah, bahkan mereka dinobatkan sebagai pasangan paling harmonis abad ini (yang nobatin tuh kucing penunggu kelas yang tadi). Sedangkan Spy Lelee dan Spy Wien (yang kata author mandan mirip) akhirnya dapat pensiun dari pekerjaan memata-matai Widya, nenek Sihir Alinda dan Ratu Lie_Sol (btw, gimana nasib mereka betiga?) dan memulai hidup baru masing-masing.


Di balik kebahagiaan rakyat MATHRIKHHS, berdiri melongolah Widya, nenek Sihir Alinda dan Ratu Lie_Sol di depan gerbang istana MATHRIKHHS. Dasar sial! Cita-cita mereka  untuk menyerang kerajaan itu di saat lemah, kandas di tengah jalan. Apalagi si duo dewi (Peti dan Amelia) menolak membantu mereka karena ingin berbulan madu ke Karangpoh (?????). Meranalah itu tiga anak orang. Namun, mereka terhibur (kecuali Widya karena dia keburu bunuh diri dengan pdkt pada buku fisika, kimia, biologi dan matik. Insyaf maksude!!!) karena Mr. Ijod dan Mr. Yugo bersedia mendampingi mereka hingga akhir zaman (ceileeee.... si antagonis pun akhrnya  jatuh cinta).

Mengingat usia yang sudah uzur, Raja turun tahta dan digantikan oleh Pangeran Puput Prek-prekkan yang berpermaisurikan Giza. Raja dan Ratu hidup bahagia selamanya, ditemani dayang ADeRa yang lemah lembut, perdana menteri Ani Wagujayanti yang selalu bingung, dan Mamah Tori Utami yang alim-iah (penggantinya Mamah Dedeh, hehe). Pangeran Puput, eh maksudnya Raja baru Puput yang masih muda (dipanggilnya aja dede puput! Tapi boong!) dan katanya modern akhirnya mengubah nama kerajaan dari MATHRIKHHS menjadi MATRIX, biar lebih modern. Tak ketinggalan embel-embel on FIRE di belakangnya sebagai perlambang kerajaan yang beratmosfer panas dan geseng.

*Rampungi lah!!! Wis dawa!!!*

-------oo0oo-------

Di pesawat Garuda boeing 777....

“Syif! Syif! Bangun!! Eh, kamu udah merem selama 17 jam lho, tuh sampai kurusan badannya!(???) Lagian udah mau sampai Indonesia nih!” teriak Putri membangunkan seisi pesawat. Syifa pun bangun dan ngusap-ngusap pipi (kira-kira ada apanya ya, kok diusap-usap?)

“Syif, kok kamu senyam-senyum sih tidure, mimpi apa hayoo? Mimpiin aku ya? (masih aja ngga berubah sifat narsisnya, hehe),” tanya putri lagi.

“Aku mimpiin temen-temen kita di SMANSA. Gila! Kayaknya mereka tambah gendheng gitu gara-gara ditinggal kita. Masa mereka pada saling jodoh-jodohan kayak orang ngga jelas gitu!” jelas Syifa.

“Kok mimpi kita sama?????” teriak Putri lagi mengagetkan pilot dan membuat oleng pesawat selama beberapa saat. Sekarang seluruh penumpang (tidak termasuk pilot dan co-pilot), bersiap menimpuknya dengan bantal.

“JANGAN-JANGAN...............!!!” teriak Putri dan Syifa bersamaan, lalu bantal-bantal pun berterbangan kapada mereka. 


*****

Sesuai dugaan awal saya, sebagian besar teman saya tidak puas dengan hasil foto tersebut. Banyak yang bilang: hasilnya tidak bagus, suasanya terlalu gelap, pembagian orang tidak merata, kostumnya sama dengan kelas lain, editing yang dilakukan oleh pihak pembuat album kenangan tidak bagus, dll. Saya merasa tidak enak, sudah pasti, karena sayalah yang mengatur ini dari awal hingga akhir. Meskipun untuk urusan pemilihan angle dan perfotoan saya tidak bisa berbuat banyak, tapi untuk urusan persiapan dan pembuatan cerita, seharusnya saya dapat lebih maksimal. Saya pun hanya diam atau pura-pura hilang, ketika mereka berkomentar tentang foto-foto itu.

Sebenarnya, mereka tidak betul-betul setidak puas itu. Hanya saja, jika saja hasilnya lebih baik dari apa yang ada di hadapan kami saat itu, ini akan membuat foto kenangan terakhir ketika SMA kami lebih sempurna. Pada akhirnya, satu orang dari mereka menyampaikan ucapan terima kasih kepada saya. Ia sengaja menemui saya yang sedang menyembunyikan diri di depan kelas tetangga dan mengucapkan ini, "Udah, An, nggak usah terlalu dipikirin hasil fotonya. Udah syukur, ada yang mau ngurusin album kenangan ini. Ya kamu tahu lah, kita lagi sibuk sama UN, UM, dan lain-lain, nggak kepikiran malah sama album kenangan ini. Makasih banget loh ya, An. Udah jangan depresi gitu."

Saya sangat terharu. Itu adalah pertama dan terakhir kalinya saya dan ia berbicara hanya berdua. Ia merupakan salah satu orang populer di angkatan saya. Saya sangat senang dihibur olehnya saat itu. Air mata saya hampir tumpah dan tentu saya tahan mati-matian. Setelah mendengar perkataannya, saya pun lebih bersemangat dan tidak terlalu memikirkan kekuranganbagusan foto-foto album kenangan SMA ini.


Setidaknya, kami memiliki foto bersama yang indah... MATRIXERs. Yah, jujur saya merindukan mereka. Namun, saya tidak tahu harus berbuat apa jika bertemu dengan seluruh dari mereka. Hehe.


*****
MATRIX on FIRE

Setelah berpanjang lebar saya bercerita tentang prosesi pembuatan album kenangan, di bagian ini saya akan sedikit sekali bercerita tentang kelas saya beserta anggotanya, yaitu teman-teman sekelas saya. 

Matrix on Fire, itulah nama kelas kami. 

Kami tidak cukup pusing dalam mencari nama untuk kelas baru kami, pada saat baru naik ke kelas XII, kelas XII IPA 1 tepatnya. Sudah menjadi tradisi turun temurun, sejak lima tahun sebelumnya, nama Matrix akan disandangkan pada kelas XII IPA 1, meskipun tahun ajaran berganti, meskipun bentuk bangunan dan aturan sekolah kami, SMAN 1 Kebumen (SMANSA), juga ikut berganti. Matrix merupakan kependekan dari  "Main Alliance of Three Exact 1". Tahun-tahun sebelumnya, sebutan untuk kelas XII di SMANSA memang masih kelas 3. Baru pada sekitar tahun 2007, aturan baru sekolah mengubah nama sapaan kelas, dari 3 menjadi XII. 

Meskipun nama kelas sudah ada, tetapi kami masih membutuhkan embel-embel untuk mengekori nama Matrix tersebut. Setelah berhari-hari berkutat dengan beberapa nama, akhirnya pada saat mempersiapkan dekorasi ruangan untuk lomba kebersihan kelas, Dede, mantan ketua kelas sebelumnya (saat di kelas XI IPA 1) mengusulkan suatu frasa kata, On Fire. Alasan pertama: Dia menyukai Naruto. Alasan kedua: Di Naruto, Fire atau Api melambangkan semangat membara yang tak mudah padam, seperti Konoha (seingat saya, dia bilangnya seperti itu). Dia berharap, kami sekelas, yang tengah berada di tingkat akhir SMA dan akan segera menghadapi banyak sekali ujian, dapat bersemangat hingga mencapai tujuan kami masing-masing. Mulia sekali harapan Dede ini. Mulai detik itu juga, anak sekelas setuju untuk menambahkan embel-embel On Fire pada nama kelas kami.

Matrix on Fire merupakan Matrix generasi ke-6 di SMANSA. Kelas kami terdiri dari 39 orang: 15 orang putra dan 24 orang putri. Dari 39 orang tersebut, ada cukup banyak anak yang sudah cukup lama kenal dan berasal dari kelas yang sama. Bahkan, ada yang sudah sekelas sejak SMP. Sebagian besar anak XII IPA 1 berasal dari kelas XI IPA 1, dan sebagian besar anak dari XI IPA 1 berasal dari kelas XI. Artinya, ada beberapa anak XII IPA 1 yang sekelas selama 3 tahun berturut-turut. 

Iseng dan penasaran, saya jadi ingin mengingat-ingat riwayat kelas masing-masing anggotanya.

#Daftar nama anak Matrix yang sekelas selama 3 tahun 
(Brownies X 1, Metana XI IPA 1, Matrix XII IPA 1)
  1. Adinda Putri Larastiti (Dinda) - UNDIP
  2. Aditya Ferry Ardianto (Ferry) - ITB
  3. Alinda Tami Pritanti (Tami) - STAN
  4. Anifatun Mu'asyaroh (Ani) - UI
  5. Ardi Subarkah (Dede) - STAN
  6. Ari Gunawan (Ari) - ITB
  7. Aris Tristianto Wibowo (Aris) - ITB
  8. Defita (Defita) - ITB
  9. Fajir Adhi Hartanto (Fajar) - STAN
  10. Geniza Gilda (Gilda) - UNDIP
  11. Huge Djendra Yuningrat (Huge) - STAN
  12. Laeli Nur Maeni (Leli) - UI 
  13. Ratna Prabawati Nopiutami (Nopi) - UNS
  14. Solihatun (Solie) - ITB
  15. Timothy Ricardo (Rico) - UKDW
  16. Wahyu Wijayanti (Wahyu) - UI

#Daftar riwayat kelas anak Matrix yang tidak sekelas selam 3 tahun 
(kehidupan SMA lebih berwarna, heuheu)
  1. Adil Itsmi Isnaini (Alfi): X.4; XI IPA 2 - *UII*
  2. Akhmad Miftahuddin Fazri (Fazri): X.5; XI IPA 1 - UNS 
  3. Alfi Khoiriyah (Alfi): X.3; XI IPA 1 - Poltekes Semarang
  4. Annisa Dewi Ratnanigtyas (Dewi): X.2; XI IPA 4 - UNSOED
  5. Annissa Cahya Dewi Utami (Nisa): X.5; XI IPA 2 - UNPAD
  6. Ardian Dwi Prakoso (Ardian): X.5; XI IPA 1 - ITB
  7. Asep Budi Hermawan (Asep): X.5; XI IPA 1 - Work
  8. Dyah Ayu Kresnianingrum (Ayu): X.3; XI IPA 1 - UNDIP
  9. Hari Purwito (Hari): X.7*; XI IPA 3 - UI
  10. Jodi Setiyawan (Jodi): X.5; XI IPA 3 -UI
  11. Lia Rizqa Amelia Mahmud (Amel): X.2; XI IPA 1 - UI 
  12. Martyn Suprayugo (Martyn): X.2; XI IPA 1 - UI
  13. Pety Refiyanti (Pety): X.2; XI IPA 1 - UNS
  14. Reza Saputra (Reza): X.nggak tahu; XI IPA 4 - STAN
  15. Ria Resti Agustina (Ria): X.nggak tahu; XI IPA 2 - UI
  16. Rifngatul Khasanah (Rif): X.nggak tahu; XI IPA 2 - UNDIP
  17. Rizky Berliana Wijayanti (Rizky): X.3; XI IPA 2- UGM
  18. Sanda Puspa Rini (Sanda): X.3; XI IPA 1 - UNS
  19. Septi Setiarti (Septi): X.5; XI IPA 1 - STAN
  20. Sukono (Sukono): X.5; XI IPA 3 - ITB
  21. Tri Utami (Mbak Ii): X.4; XI IPA 1 - UNS
  22. Widya Ardiani (Widya): X.3; XI IPA 1 - UI
  23. Winantu Wahyu Pamuji (Wiwin): X.nggak tahu; XI IPA 4 - STAN

#Rekapitulasi PT Anak MATRIX on FIRE
  • UNDIP     : 4 orang
  • ITB          : 7 orang
  • STAN      : 7 orang
  • UI            : 9 orang
  • UNS        : 5 orang
  • UKDW    : 1 orang
  • UII           : 1 orang
  • Poltekes  : 1 orang
  • UNSOED: 1 orang
  • UNPAD   : 1 orang
  • UGM       : 1 orang
  • Work       : 1 orang

 #Chairmate Couple
  • Dinda - Defita
  • Ferry - Aris (3 tahun)
  • Tami - Solie
  • Ani - Laeli (3 tahun)
  • Dede - Ari (3 tahun)
  • Fajar - Rico (3 tahun)
  • Gilda - Mbak Ii
  • Huge - Ardian
  • Nopi - Wahyu
  • Adil - Rizky
  • Fazri - Asep (2 tahun)
  • Alfi - Sanda (2 tahun)
  • Dewi - Rif
  • Nisa - Ria 
  • Ayu - Widya (3 tahun)
  • Hari - Sukono
  • Jodi - Martyn
  • Ame - Pety
  • Reza - Wiwin
  • Septi 
*baru ngeh, duduknya bareng sama yang di kelas sebelumnya sekelas, ya iya sih*


Ketua kelas kami Reza Saputra. Ia dibantu oleh Pety sebagai bendahara. Sedangkan, untuk jabatan perangkat-perangkat kelas yang lain, saya sudah lupa. Wali kelas kami saat itu adalah Ibu Sulastri, guru Biologi kelas XII IPA. Beliau merupakan sosok guru yang penyayang dan selalu bersemangat. Meskipun beliau tidak hafal nami kami satu per satu, tetapi beliau tidak pernah memberikan perlakuan yang berbeda. Ketika pengambilan rapor, beliau juga banyak berbincang dengan para pengambil rapor, menyampaikan kondisi kami satu per satu. Bu Lastri, begitu kami memanggilnya, memiliki pronounciation yang unik dan khas, yang tidak akan pernah saya lupakan. Beliau memutuskan untuk tetap mengajar, meskipun seharusnya sekarang beliau sudah pensiun. Saya bersyukur, saya memiliki wali kelas seperti beliau. Sebetulnya, tidak hanya beliau, di dua kelas sebelumnya, saya juga memiliki wali kelas yang hebat dan penyayang.

Sekolah ini memang memiliki guru-guru yang baik dan unik, yang tidak mungkin saya lupakan. Tidak hanya gurunya, semua warga dan kebiasaannya pun menarik dan memorable. Masa SMA, sepertinya memang masa yang paling memungkinkan seseorang untuk mengukir banyak kenangan.

Jika ada seseorang yang bilang masa SMA memiliki warna merah muda, maka menurut saya masa SMA memiliki warna pelangi. Merah muda hanya untuk orang yang sedang jatuh cinta. Ketika SMA, saya tidak hanya merasakan jatuh cinta. Langit-langit bangunannya tidak melulu berwarna merah muda yang bersemu malu-malu. Terkadang lantai yang saya injak memerah darah, membuat saya ingin menginjaknya semakin keras dan sering. Jendelanya lebih sering berwarna hijau atau abu-abu, mempersilahkan rerimbunan daun atau mendung mengintip kami yang tengah berkutat dengan ilmu atau justru terkantuk. Saya terkadang melihat kilatan kuning atau jingga cerah yang berasal dari rona-rona bahagia penghuni kelas lain. Atau biru yang damai dan membuat semua orang bersemangat untuk berlarian di bawah atap langit yang telanjang. Hitam, ungu, tosca, magenta, nila...semua warna ada, ketika SMA.



KAMI


ADIL - DINDA - FERRY - ALFI

TAMI - ANI - DEWI - NISA

DEDE - ARDIAN - ARI - ARIS

ASEP - DEFITA - AYU - FAJAR

GILDA - HARI - HUGE - JODI

LAELI - AMEL - MARTYN - PETY

NOPI - REZA - RIA - RIF

RIZKY - SANDA - SEPTI - SOLIE

SUKONO - RICO - MBAK II - WAHYU



WIDYA - WIWIN




Monday, 20 October 2014

Festival

Semalam aku bermimpi. Di dalam mimpiku ada kau dan Setia. Kalian sedang bermain dengan kamera di tepi sungai besar, yang airnya setinggi lutut. Di mimpiku itu sedang musim kemarau dan diadakan festival sesuatu yang sangat meriah.

Aku pergi mengunjungi festival itu bersama beberapa orang, yang aku tak yakin siapa mereka. Namun, sebelum mencapai area festival, aku menghentikan langkah karena melihat kalian berdua. Aku ingin menghampiri kalian. Namun, ternyata kita berseberangan. Aku mencari-cari jembatan. Namun, sepertinya tidak ada jembatan di dekat tempat itu. Aku hanya memandang kalian dari kejauhan.

Aku berpikir, bagaimana mungkin di sekitar area festival seperti ini tidak ada jembatan atau apa pun yang menghubungkan daratan yang kupijak dengan daratan di seberang sungai ini, tempat festival berlangsung, juga tempat kalian tengah mengistirahatkan diri. Lalu aku tersadar, festivalnya dilaksanakan di seberang sungai ini. Apakah panitianya sengaja melewatkan soal jembatan ini? Apa mereka tak ingin orang-orang di seberang, seperti aku dan orang-orang yang datang bersamaku, mendatangi festival mereka? Atau mereka lupa? Lupa? Lupa akan hal sekrusial akses ini? Kemudian aku mulai sangsi untuk mendatangi festival tersebut.

Tunggu, orang-orang yang tadi datang bersamaku? Di mana mereka? Sepertinya, mereka pergi meninggalkanku yang tengah memperhatikan kalian berdua dan memikirkan festival serta jembatan. Apakah mereka tetap pergi ke festival? Atau mungkin sudah sampai di sana? Kemudian aku merasakan sesuatu menggoresku, tapi badanku tak terluka. Aku tertunduk. Aku kira aku memikirkan sesuatu, tapi aku tak yakin apakah aku benar-benar memikirkan sesuatu. Aku hanya merasakan nyeri akibat goresan yang tak tampak itu.

Ketika aku memutuskan untuk mengalihkan pikiran, mataku secara reflek membelokkan arah pandangan. Imaji segerombol bocah tertangkap oleh kedua mataku. Tidak! Mereka nyata. Mereka tengah bermain dengan sangat bergembira di hadapanmu, di sungai itu, sungai di antara kalian berdua dan aku. Namun, kalian sepertinya tak tertarik untuk menghiraukan kegiatan mereka. Kalian tetap berbincang akrab, sembari mengelap lensa kamera.

Aku, entah bagaimana, sudah tak lagi tertarik pada kalian. Aku memusatkan perhatian dan pengamatanku pada bocah-bocah yang berbasah-basah di dalam sungai. Tetiba mataku terpaku pada sesosok anak laki-laki yang tampak familiar. Dia tertawa bahagia setiap salah satu rekan bermainnya mengguyurnya dengan air sungai, yang tetap jernih, meskipun saat itu kemarau. Tak butuh waktu lama, aku pun berhasil mengenalinya. Dia adikku. Adik pertamaku.

Tanpa pikir panjang, aku memanggilnya. Aku tidak tahu tindakan reflek macam apa yang telah kulakukan. Panggilan pertamaku tak membuatnya menoleh. Dia belum dengar. Kupanggil lagi dia, lebih keras dan lebih sering. Dia berhenti tertawa dan lebih menegakkan berdirinya. Kini tampak jelas dia bertelanjang dada, tubuh atasnya tak berbaju. Kepalanya celingak-celinguk mencari-cari sumber suaraku. Rekan-rekannya pun bergeming, sesekali turut membantu mencari. Posisinya membelakangiku, pantas dia lama menyadari keberadaanku. Kupanggil dia sekali lagi dan kali ini dia berhasil mendeteksi arah suaraku.

"Hmm," gumamnya seraya mengangkat badannya sendiri dari sungai, menjauhkannya dari rekan-rekan bermainnya. Dia menemuiku, setelah mengambil kaos putih yang diparkirnya di tepi sungai, tepi sungai di mana aku tengah berdiri.

Dia? Dari mana dia memanjat? Cepat sekali? Apakah begitu cara menyeberangi sungai ini? Tak ada jembatan, apakah harus betul-betul ke bawah dan menyeberanginya langsung? Aku menelusuri bibir sungai yang cukup tinggi ini, mencari-cari jalan atau setidaknya tempat landai yang paling mungkin dapat dilalui untuk turun ke sungai. Sial sekali aku tak memperhatikan dengan baik bagaimana tata cara yang dilakukan adikku hingga dia sampai di sini, di hadapanku.

Dia sudah di hadapanku?

Lantas apa yang akan kulakukan padanya sekarang, setelah dia sudah ada di hadapanku? Bahkan aku tidak memiliki alasan untuk memanggilnya. Aku hanya ingin memanggilnya. 

Dia terdiam, sama sepertiku. Kami hanya saling pandang. Dia tak menanyakan apa pun dan aku bersyukur dia tak bertanya.

Kondisi saling diam itu berlangsung sangat lama. Biasanya aku akan sangat bosan ketika terlibat dalam kondisi seperti itu. Namun, kali ini aku menikmatinya. Aku tak bosan, walau hanya berdiri diam dan memandangnya. Aku sendiri tidak tahu bagaimana dengannya karena wajahnya sama sekali tak menyumbangkan ekspresi.

Aku tak ingin dia bosan dan meninggalkanku. Maka aku mengajaknya berkeliling. Aku sudah tak tertarik pada festival itu atau pada kalian yang bermain kamera tanpa peduli apa yang ada di sekitar kalian. Aku hanya ingin aku berada di dekat adikku. Aku ingin dia mengikutiku, menghiraukanku, meski dia tak bicara apa pun.

Kami melangkah pelan, menikmati setiap hal yang ada di sekitar sungai dan padang rumput hijau yang sedang kami injak-injak itu. Ini seperti senja, tapi aku bahkan tak yakin saat itu sudah mencapai pukul lima. Dia masih diam, aku pun demikian. Kami diam sepanjang perjalanan.

Cukup lama kami berjalan, tapi lelah sama sekali tak terasa menggoda kaki. Kami pun tiba di suatu tempat. Tempat yang saat ini adalah tempat sejarah bagiku.

"Gedung sekolah? Sekolahmu?" tanyanya.

Aku mengangguk. Rasa hangat menjalar di tubuhku. Sepertinya, aku bahagia karena akhirnya dia berbicara.

"Kenapa?" tanyanya lagi.

"Kenapa?" aku berbalik bertanya. Aku bukan bertanya padanya, melainkan pada diriku sendiri. Kenapa aku mengajaknya ke sini? Aku tak punya jawaban untuk ini. Aku tidak tahu. Aku diam tanpa menampakkan kepanikan atau kebingungan dalam mencari jawaban untuknya. Kenapa? Aku pun tidak tahu kenapa tiba-tiba kami bisa sampai di sini. Dan aku pun melarikan diri, menghindari tatapan penasarannya dengan membuang pandanganku ke arah tiang voli.

Dia tidak bertanya lagi. Dia hanya menungguku menjawabnya. Dia percaya aku akan menjawabnya. Ini terlihat dari matanya, yang kulirik lewat ekor mataku. Dia bersabar. Aku terkesan.

Kutepuk bahu kanannya seraya berkata, "Bersihkanlah dirimu dan pakaianmu. Kau tampak kacau setelah bermain di sungai." Hanya kata-kata itu yang meluncur dengan lancar dari mulutku. Entah kupungut dari mana mereka.

Dia mengangguk. Aku membawanya ke taman sekolah, menuju sebuah keran yang berada di tepi kolam ikan di wilayah taman tersebut. Dia mendekati keran itu, menyalakannya, membersihkan kaki, tangan, wajah, dan rambut di kepalanya. Apakah dia adikku yang biasanya? Dia menurutiku dengan mudah, tidak seperti biasanya. Dia tak membantah atau banyak bertanya. Namun, dia kehilangan tawa, seperti tawa yang dilakukannya di sungai. Apa aku tak memahami sesuatu? Apa aku melewatkan banyak hal? Apa aku memang tak mengenalnya?

"Sudah," katanya pasca berbasuh.

"Iya? Kau tampak lebih baik," pujiku jujur.

"Iya. Ini segar. Tapi kenapa?" dia kembali bertanya tentang itu lagi.

Aku tak menjawabnya. Aku masih tidak tahu. Lalu aku mengajaknya pulang.

"Kalau begitu, kita pulang?" tanyaku, retoris.

Dia mengangguk. Kami pun bertolak dari sekolah.

Di tengah perjalanan menuju rumah, tetiba aku teringat akanmu. Aku mulai bertanya-tanya. Apa kau masih di tepi sungai? Apa kau masih berfokus diri pada kamera? Apa kau masih bersama Setia? Atau sudah pulang dan merebahkan diri? Aku penasaran dan memutuskan untuk kembali ke tepi sungai, tempat kalian duduk bersantai.

"Aku masih punya urusan. Kau bisa pulang sendiri?" tanyaku kepada adikku.

"Ya. Aku akan pulang," jawabnya.

"Pastikan sampai rumah dan bertemu dengan mereka," pesanku.

"Ya," jawabnya singkat.

Kami berpisah. Aku berbalik arah, melangkah menuju tepian sungai. Aku sempat menengok ke belakang sesekali, melihat punggungnya menjauh, memastikan dia memilih belokan yang benar, hingga dia tak lagi terlihat.

Aku berjalan sedikit lebih cepat, bahkan semakin cepat, dan kudapati tetiba kakiku setengah berlari. Apa aku sepenasaran itu? Penasaran akan apa?

Entah berapa lama waktu yang kuhabiskan, tapi saat aku tiba di tempat parkir festival, napasku terengah-engah. Festival? Aku di area festival tanpa perlu menyeberangi sungai?

Aku melihat ke arah Barat, dua puluh meter dari tempatku berdiri. Sungai itu masih ada. Jadi, aku tidak berhalusinasi beberapa saat lalu, saat aku melihat kalian, saat aku tak menemukan jembatan, saat aku putus asa untuk mendatangi festival, saat aku menemukan adikku, dan saat aku berjalan di tepian sungai itu bersamanya. Lalu bagaimana caraku sampai ke festival ini tanpa menyeberangi sungai itu?

Persetan! Mungkin aku telah mengambil jalan memutar tanpa sadar, jalan alternatif yang tak pernah aku tahu keberadaannya selama ini, dan aku menemukannya secara tiba-tiba tanpa aku ingat, bahkan tanpa kau sadari. Apakah aku baru saja mengumpat dan menyumpal umpatan itu sendiri?

Saat aku berpikir tidak penting itu lah, aku melihatmu keluar dari tempat parkir. Kau memacu hati-hati sepeda motormu. Aku senang dapat menemukanmu tepat waktu. Tanpa pikir panjang, aku berlari ke arahmu, tepat menyongsong kau dan sepeda motormu.

Tak kusangka, kau terkaget lantas mengumpat dengan keras, "Sial! Apa kau cari mati, hah?"

Aku diam membatu.

"Awas! Menyingkirlah dari depanku, apa kau sengaja mengumpankan diri?" katamu lagi sembari berteriak.

Aku terperangah. Kau berbeda. 

Orang-orang telah mengalihkan perhatian mereka dari aktivitas mereka --menjelajahi kemegahan festival-- ke arahku yang tengah dimaki, membuatku mengerti apa yang namanya hampir mati. Sayup-sayup aku dapat mendengar mereka berbisik.

'Ada apa?'
'Ada seorang gadis yang hampir tertabrak motor.
'Wah! Pakaian wanita itu aneh sekali!
'Eh, dia tuli ya?'
'Tidak. Mungkin, hanya kaget.'
'Ibu, aku takut. Hiks hiks.'
'Kasihan, gadis itu.'
'Pemuda itu keterlaluan, berteriak seperti itu.'
'Tch! Gadis itu yang salah. Dia sengaja menabrakkan diri. Dasar bodoh.'
'.......'


Dan semakin banyak sekali orang yang sengaja datang untuk menontonku. Mereka membangun opini mereka sembari mengerubungiku. Apa aku tengah diperhatikan? Jadi, beginikah rasanya menjadi pusat perhatian? Jika iya, maka aku tidak suka menjadi pusat perhatian. Apakah mereka tak bisa meninggalkanku dan kembali ke festival? Aku bukanlah festival! Kecuali, mereka benar-benar menganggapku sedang berfestival kematian.

"KAU BEGO, HAH?" kali ini kau meneriakiku kelewatan hingga aku kehilangan kesabaran.

"Kau t...tak me..menge..mengenalku?" tanyaku. Apakah begini caraku mengekspresikan kehilangan kesabaran itu? Namun, benar, aku merasa kita seperti orang asing.

"Mengenal? Dasar aneh! Minggir!" bentakmu, sontak membuatku menepi tanpa melawan. Mendengar jawabanmu dan caramu berteriak padaku, sepertinya kau tak ingat padaku. Atau memang kita sama sekali tidak pernah berkenalan?

Kerumunan di sekelilingku menyepi, tetapi masih terdengar kasak-kusuk dari mereka yang sepertinya topiknya adalah aku. Aku tak peduli dengan mereka, yang aku pikirkan hanya kau yang tak mampu mengingatku. Apa kita benar-benar pernah berkenalan?

Dan begitulah festival mimpi ini berakhir. Aku mendapatkan adikku kembali, tetapi tak mampu dikenali oleh dirimu lagi.

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...