Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts

Wednesday, 12 November 2014

(Bukan) Orang Biasa

Dari apa yang orang-orang kicaukan, saya dengar hanya kisah-kisah menarik yang dibumbui aksi kepahlawanan, sarat motivasi dan pelajaran, menghibur dan mengaduk-aduk emosi, dan minimal memiliki alur atau tujuanlah, yang akan dibaca, didengarkan, dan mungkin terus diingat oleh orang-orang. Apakah ini berarti bahwa orang-orang biasa tak layak berkisah? Apakah kisah terlalu biasa tersebut tak pantas diceritakan kepada orang-orang, tak cukup berbobot untuk diunduh pelajaran darinya, tak baik untuk dikonsumsi orang awam karena dikhawatirkan tidak akan membuat mereka lebih hebat dari sekadar orang biasa?

Senjang. Kesenjangan menimbulkan masalah. Masalah menghadirkan ancaman juga pahlawan. Ancaman menjanjikan kehancuran, sedang pahlawanlah yang digadang-gadang akan meminimalisasi atau mengatasi kehancuran tersebut. Pahlawan. Semua orang ingin menjadi pahlawan. Orang kuat, sudah pasti masuk kandidat, bekal kuasa. Orang pintar, sangat mungkin dinobatkan, bonus gelar. Orang licik, bisa juga jadi nominasi, menang taktik. Orang biasa, tak tinggal diam, angkat senjata, modal nekad. Orang biasa, juga pandai diam, menanti saat, lalu bersorak, "Kita menang!"

Saya tidak mengerti, mengapa ada banyak sekali orang tak ingin menjadi orang biasa. Padahal, orang biasa merupakan orang berjasa. Tanpa mereka, para calon pahlawan tidak akan benar-benar menjadi pahlawan. Orang biasa seharusnya berbangga. Berkat mereka, para pahlawan memiliki pekerjaan dan pengagum di mana-mana. Orang biasa seharusnya berbahagia. Mereka menjadi orang biasa bukan tanpa alasan dan peran, melainkan sebagai tokoh utama yang nantinya akan menjadi prioritas nomor satu mereka, para pahlawan, untuk diselamatkan. Meskipun mungkin kisah dan keberadaan mereka tidak untuk diselipkan dalam sejarah yang diturun-temurunkan, tetapi sebagai salah satu dari orang biasa tersebut, saya sangat bersyukur memiliki peran ini. Terlebih inilah hal yang memang sepertinya saya inginkan.

Perkenalkan, saya Ani. Orang biasa. Saya masih seorang mahasiswa. Masih, karena saya memutuskan untuk menjadi demikian, menjadi tertinggal dan menyandang predikat "yang tersisa" dari angkatan saya yang belum menamatkan studi, di saat lebih dari tiga perempat rekan satu angkatan di peminatan saya telah menapaki dunia kerja. 

Saya "berkuliah" di jurusan Kesehatan Masyarakat, peminatan Biostatistika, angkatan 2010. Dengan demikian, kini saya tengah menempuh semester 9. Saya tahu, saya tahu. Saya tidak seperti orang lain pada umumnya karena sengaja berlama-lama berkutat dengan "apa yang mereka sebut skripsi" sejak semester 7 silam. 

Mungkin, karena saya terlalu biasa, saya pikir saya tak mampu melakukan hal-hal luar biasa seperti mereka. Rendah diri saya tinggi, memang. Namun, jika tidak salah ingat, saya merupakan tipe orang yang mampu memperkirakan akurasi pencapaian saya sendiri. Dengan demikian, saya hanya akan melakukan hal-hal yang menurut saya dapat saya lakukan dan, menurut perkiraan saya, akan berhasil saya capai sesuai keinginan. Contohnya, perkiraan ketika mendaftar masuk universitas ini. Saya memiliki keyakinan besar saya akan berkesempatan memijakkan kaki di sini. Hanya saja, saya tidak yakin, saya sudah cukup tahu apa yang akan saya lakukan ketika kaki saya telah betul-betul berdiri di tanah penuh manusia cendekia ini.

Setidaknya, perkiraan keberhasilan tersebut terbukti. Pada Mei 2010, saya resmi diterima di jurusan yang sudah saya sebutkan di atas, jurusan pilihan kedua saya. Lantas, apa jurusan pilihan pertama saya? Ah, tidak perlu saya sebutkan. Saya tidak yakin, saya tidak sedang tidur ketika memilih pilihan jurusan pertama, pun dengan pilihan jurusan kedua tersebut. Meski prosesi yang saya lalui hingga sampai ke tempat belajar ini bertabur dengan ketidakyakinan, tetapi saya masih memiliki sisa keyakinan lain, bahwa saya dapat bertahan meski akan sempoyongan.

Satu tahun. Saya memutuskan untuk memilih peminatan Biostatistika. Satu-satunya mata kuliah yang nilainya tidak hancur pada saat semester 2 adalah mata kuliah yang belajar tentang dasar-dasar ilmu yang berkenaan dengan statistika ini. Maka saya setengah yakin, di kemudian hari, barangkali saya tidak akan hancur juga pada hal yang sama. Namun, jauh di dalam lubuk hati yang paling dalam, saya belum jatuh cinta pada apa pun yang ada di sini. Saya masih terombang-ambing di lautan ilmu yang saya renangi selama ratusan hari. Sayang, hanya sedikit "benda laut" di dalamnya yang menyerap dalam pori-pori memori saya. Atau mungkin saya yang tidak mengizinkan mereka memasuki akal saya? Saya masih belum bisa memastikannya hingga saat ini. Pun demikian, saya tetap berjalan sembari berhalusinasi. Barangkali, saya akan menemukan sesuatu yang menarik, yang betul-betul saya inginkan dan akan saya perjuangkan untuk saya genggam, ketika saya sudah semakin mencapai ujung dari perjalanan, yang kata orang-orang namanya menimba ilmu ini.

Tiga setengah tahun. Saya mulai kelabakan dalam diam yang menyeramkan. Saya sepertinya mengalami hal yang dikenal dengan sindrom tingkat akhir. Namun, apakah semua mahasiswa di tingkat akhir merasa seperti ini: TIDAK MEMILIKI KEINGINAN. Saya menceracau dan meragu. Apakah saya betul-betul orang biasa? Orang biasa bahkan memiliki mimpi dan tahu apa yang mereka sukai. Atau justru saya orang bodoh, pemalas, dan merugi? Saya pun memutuskan untuk berlari, melarikan diri dari semua yang hal yang berkaitan dengan pendidikan saya. Asing. Hawa, penampilan, aroma, dan irama mereka masih asing bagi saya. 

Perlahan, beberapa orang dapat membacanya, keganjilan perilaku. Beberapa opini dari mereka tentang saya yang seperti ini, baik secara langsung, maupun tidak langsung, sampai ke telinga atau mata saya. Banyak saran dan komentar, baik yang hanya sekadar saran lewat, maupun saran bermanfaat, yang saya terima. Tak sedikit tamparan pedas yang saya terima karena ulah saya semakin memurukkan diri. Namun, mengapa saya tetap bergeming?

Empat tahun. Saya masih bebal. Saya tidak tergoda iri pada mereka yang sudah menggenggam kunci. Saya tidak ingin mengejar mereka yang tengah berlari menjemput mimpi. Saya puas dengan hanya mengamati mereka berlelah, berbahagia, bercerita, berbagi, berpindah, berlari, berlain-lain. Saya pemalas dan mulai menjadi sampah. Apa yang terjadi pada saya? 

Apakah saya terlalu terbuai dalam hidup dan peran saya sebagai orang biasa? Apakah saya memang terlalu bodoh hingga tak mampu mengenali keinginan dan mimpi saya sendiri? Apakah saya cukup pantas disebut manusia, alih-alih mayat hidup, karena saya tidak memiliki keinginan dan mimpi?

Saya masih akan berusaha merampungkan apa yang seharusnya sudah saya rampungkan sejak berbulan-bulan lalu. Namun, saya tidak yakin, saya dapat melanjutkan langkah saya di jalur ini, jalur yang samar-samar saya lukis selama tiga empat tahun belakangan dengan kuas nomor satu dan cat tanpa warna. 

Perkiraan saya tentang pencapaian keinginan saya, berhenti di sini. Tidak perlu lagi ada akurasi karena tidak ada perkiraan yang terpampang. Kosong.

Mungkin, saya bukan lagi orang biasa. Saya orang bebal, yang mencampakan diri sendiri tanpa berpikir matang-matang. Saya orang gagal, yang bangga berkoar tentang kisah kehilangan arahnya kepada orang-orang. Saya orang tertinggal, yang tidak memiliki hasrat untuk mengejar mereka yang telah lebih dahulu berlari meraih tujuan. Saya orang menjengkelkan, yang kata beberapa orang sengaja jatuh untuk mencari belas kasihan. Saya orang tak punya mimpi, yang kata para pengarang cerita berpahlawan, adalah pesakitan yang tinggal menunggu mati. Saya orang pengecut, yang bersembunyi di balik ketiak malam dan pagi, katanya tak akan pernah berhasil melakukan debut. 

Tak perlu lagi bertanya. Terlalu banyak tanya yang patah tanpa sempat terjawab. Gamblang. Bosan. Murahan.

Banyak orang ingin orang seperti saya diam, meskipun mereka tidak menyampaikannya secara verbal. Terkadang, mulut mereka diam. Namun, mata dan langkah mereka berteriak lebih keras dari mulut bungkam tersebut. Saya tahu karena saya juga diberi tahu oleh mereka yang tanpa sadar memberi tahu.

Pada akhirnya, saya disuruh diam dan menyelesaikan masalah saya sendiri. Tak perlu saya kembali diperingatkan untuk menyimpan salah, masalah, dan kesalahan saya hanya untuk saya sendiri. Tentu saja. Saya sudah tahu diri. Saya tahu, memang hanya saya yang dapat melakukannya hingga selesai. Hanya saya yang dapat mengais dan menggali lubang hingga saya menemukan apa yang saya cari dan inginkan. 

Saya mengerti, tak baik menggantungkan apa pun pada siapa pun selain pada Tuhan. Ah, saya bersyukur saya memiliki-Nya, membuat saya mengingat hal-hal indah, membuat saya tidak ingin memperjuangkan mati, membuat saya masih bertahan sembari berpayah mencari hingga saat ini.

Tuhan, tolong jaga saya dalam perjalanan saya, tetap menjadi orang biasa, manusia biasa. Saya tidak berharap kisah keluh kesah seorang biasa seperti saya dipungut orang lewat. Namun, setidaknya jangan biarkan saya terinjak hingga mati, ketika saya tengah mengais untuk menemukan keinganan saya di jejalanan. Ah, Tuhan pasti melakukannya tanpa dipinta. Mengapa sedetik tadi saya meragukan-Nya beserta kejutan indah dari-Nya? Hmm.

Friday, 10 October 2014

Mengapa Amarilis?


Lagu di atas merupakan lagu Amaryllis karya komposer Henri Ghys. Saya memainkannya dengan aplikasi piano pada ponsel saya. Oh iya, mohon maaf jika banyak sekali nada yang meleset karena saya mengulik melodinya semampu saya, hanya dalam beberapa menit. Kemudian segera merekam dan meng-upload-nya ke soundcoud  karena sudah sangat tidak sabar untuk segera menuliskan pos tentang amarilis ini.


Ilustrasi Bunga Ama
Amarilis merupakan nama salah satu spesies bunga, dari suku bakung-bakungan atau dengan kata lain ia masih satu keluarga dengan bunga lili. Nama amarilis diadaptasi dari namanya dalam bahasa inggris, yaitu amaryllis, dan dalam bahasa latin, yaitu Amarillya beladona. Bunga ini memiliki petal berjumlah enam, tiga di bagian dalam dan tiga di bagian luar. Bunga ini dapat bertahan di segala musim dan memiliki warna mencolok yang khas, seperti merah, kuning, putih, dll. Sekilas dia memang sangat mirip dengan bunga lili. Habitat bunga ini adalah di seluruh dunia, terutama Afrika.

Selain itu, berdasarkan kisah mitologi Yunani yang pernah saya baca sekitar dua tahun lalu, Amaryllis merupakan nama seorang dewi atau peri pemalu yang jatuh hati pada seorang pemuda bernama Alteo, ketika pertama kali melihatnya. Namun, niat Amaryllis untuk menyatakan cintanya tak kunjung terwujud karena Alteo ternyata tidak mudah jatuh cinta pada seorang gadis karena dia sangat menyukai bunga melebihi apa pun. Bahkan, pernah suatu ketika Alteo berujar, "Aku hanya akan mencintai gadis yang memberiku sekuntum bunga yang belum pernah kulihat sebelumnya."

Hal ini membuat Amaryllis bimbang, hingga suatu ketika dia meminta nasihat kepada (semacam) dewi cinta. Dewi tersebut menyarankan Amaryllis untuk pergi mengunjungi kediaman Alteo setiap senja dan menampakkan dirinya. Dia juga menyuruh Amaryllis mengambil sebuah panah suci dan menggunakannya untuk memanah jantung dan hatinya sendiri, di setiap malam dalam setiap kunjungannya, dengan harapan Alteo akan memperhatikan kehadirannya. Amaryllis melakukan setiap nasihat tersebut. Pada malam pertama kunjungannya di rumah Alteo, dia berdiri menghadap ke rumah dan memanah dadanya menembus ke dalam jantung dan hatinya. Namun sayangnya, Alteo tidak melihat apa yang dilakukannya. Malam kedua, ketiga, dan seterusnya, Amaryllis selalu melakukan hal yang sama meskipun lambat laun tenaga dan darahnya habis terkuras dan Alteo tak kunjung menyadari tindakan menyedihkannya. 

Hingga malam ketiga puluh pun akhirnya tiba dan dia telah kehabisan segala daya yang ia punya. Tusukan panah di malam ketiga puluh itu membuatnya terluka hebat sehingga darah yang berasal dari tubuhnya menggenang dan merembas masuk ke dalam pintu rumah Alteo. Alteo pun menyadari kemunculan darah tersebut dan bergegas membuka pintu. Ketika pintu terbuka, Alteo mendapati sekuntum bunga asing berwarna merah segar tertanam di depan pintu rumahnya. Bersamaan dengan itu, dia juga melihat sesosok gadis terkulai dengan keadaan yang sangat lemah dan ternyata itu adalah Amaryllis. Hal itu membuat dia tersadar bahwa Amaryllis memperhatikan dan menantinya selama ini. Namun, dia sangat terlambat dalam menyadari semua hal tersebut. Sosok gadis itu mulai memudar dan ini artinya dia akan segera menghilang. Alteo pun mendekati gadis tersebut, memberinya sebuah ciuman yang lembut, ciuman pertama dan terakhir antara mereka berdua. Amaryllis pun tersenyum menyadari pengorbanannya akhirnya membuahkan hasil, meskipun ini sudah sangat terlambat. Dia akhirnya lenyap dan menyisakan bunga merah tadi, yang kini tampak mekar menumbuh lebih besar seiring dengan menghilangnya dirinya. Alteo belum pernah meliihat bunga merah ini sebelumnya, kemudian dia menamainya Amaryllis.

Ini kisah yang dramatis bukan? Saya baru mengetahui kisah ini, setelah bertahun-tahun saya menggunakan nama amarilis tersebut sebagai username saya. Sedikit kaget dan sedih ketika pertama kali membacanya. Namun, saya tidak ingin menghilangkan nama tersebut dari username saya, meskipun berdasarkan mitologi Yunani di atas, bunga bernama amarilis ini memiliki kisah hidup dan perjuangan meraih cinta yang tragis. Kekeraskepalaan saya dalam mempertahankan penggunaan nama amarilis ini sebenarnya disebabkan oleh saya yang sudah terlanjur cinta pada nama tersebut. 

Mungkin, hanya sedikit orang yang tahu apa itu amariils. Dan saya sudah terbiasa menghadapi wajah-wajah bertanya-tanya dari mereka yang baru sekali mendengar nama amarilis dari saya atau menjawab sekenanya pada mereka yang menyempatkan waktu untuk bertanya kepada saya tentang arti nama tersebut. Selama bertahun-tahun, seringkali saya ditanyai tentang amarilis ini. Ada yang bertanya dengan sangat mendalam, ada pula yang bertanya untuk sekadar basa-basi saja. Ada yang saking penasarannya hingga browsing gambar lewat internet, ada pula yang terpuaskan rasa penasarannya dengan hanya diberi jawaban, "Amarilis itu nama bunga," oleh saya. 




Saya pertama kali mengetahui nama amarilis ketika duduk di sekolah dasar, dari sebuah manga (komik) cantik karya Mariko Takeda berjudul AMARILIS. Mungkin Anda pernah membacanya? Saya masih kelas 3 atau 4 SD ketika membacanya, jadi ingatan dan nalar saya masih sangat buruk saat itu. Jika tidak salah ingat dan tidak salah paham, komik ini bercerita tentang seorang gadis bernama "sebut saja Mari-chan" (saya lupa siapa namanya).

Mari-chan merupakan anak bungsu dari lima bersaudara dan anak perempuan satu-satunya di antara mereka berlima. Dia memiliki kakak-kakak laki-laki yang unik-unik dan memiliki sifat yang berbeda satu sama lain. Kakak pertamanya (yang berambut biru panjang) menjadi seorang waria untuk mendalami pekerjaannya demi menghidupi keempat adiknya. Kakak keduanya, saya tidak ingat apa profesinya, tapi bisa jadi dia adalah seorang rocker. Kakak ketiganya adalah sosok berkaca mata dan lagi-lagi saya tidak tahu apa pekerjaannya. Yang terakhir, yaitu kakak keempatnya adalah seorang pelajar, sama seperti Mari-chan. Kakak keempatnya inilah yang paling dekat dengan Mari-chan, meskipun paling jaim dan paling jail terhadapnya. Meski demikian, si kakak keempat ini merupakan salah satu sosok yang paling tahu segala hal, khususnya tentang Mari-chan, dan juga paling sering muncul di dalam komik, setelah si Mari-chan itu sendiri. 

Awalnya, komik ini bercerita tentang kehidupan keluarga Mari-chan dan kakak-kakaknya. Namun, semakin ke tengah cerita saya kecil pun menyadari jika komik ini juga berkisah tentang musik. Mari-chan, sedari kecil dilarang oleh kakak pertamanya untuk bermain bahkan berkenalan dengan musik. Hal ini membuat Mari-chan bertanya-tanya, meskipun dia tetap mematuhi perintah kakaknya tersebut. Pada suatu hari, Mari-chan yang hampir tidak pernah melihat apalagi memainkan alat musik, tertarik untuk mendekati sebuah piano di sekolahnya. Penasaran, dia pun membuka penutupnya dan memencetnya di sembarang nada. Aneh, tetiba dia seperti mendengarkan alunan lagu tertentu dalam imajinasinya dan ia pun menjajal memainkannya dengan piano tersebut. Secara ajaib, dia memainkan sebuah lagu dengan nada yang sama seperti yang didengarnya di dalam imajinasinya. Dia merasa bingung, mengapa dia bisa bermain piano bahkan sebuah lagu, padahal dia tidak pernah menyentuh piano sama sekali. Tanpa dia sadari, aksinya itu teramati oleh teman sekelasnya "sebut saja dia Mayumi-chan". Mayumi-chan kaget karena Mari-chan dapat memainkan lagu itu pada percobaan pertama, padahal dia tahu bahwa Mari-chan tidak pernah mengenal musik sama sekali. Lagu itu berjudul Amarilis. Lagu yang baru berhasil oleh Mayumi-chan setelah berlatih selama satu atau dua bulan lamanya. 

Sejak kejadian itu, Mari-chan dan Mayumi-chan menjadi berteman cukup baik. Mayumi-chan berasal dari keluarga kaya raya yang memiliki rumah mewah dan selalu diantar atau dijemput oleh sopir pribadi. Berbeda dengan Mari-chan yang memang ditakdirkan menjadi anggota keluarganya saat ini, yang meskipun tidak kaya sama sekali, tetapi sangat hangat dan penuh kasih sayang. Hal yang sangat sulit dirasakan oleh Mayumi-chan. Semakin lama pertemanan Mari-chan dan Mayumi-chan semakin dekat dan Mari-chan pun menjadi sering bermain ke rumah Mayumi-chan sepulang sekolah. Mayumi-chan memiliki sebuah piano bersuara merdu di rumahnya dan ini adalah salah satu alasan yang membuat Mari-chan suka ketika berkunjung ke sana. Tidak hanya suka, ternyata Mari-chan memiliki bakat spesial yang misterius di bidang musik, terutama piano. Dia dapat memainkan berbagai lagu dari berbagai komposer dengan berlatih hanya beberapa kali. Hal ini membuat Mayumi-chan sedikit iri. Dia sedih karena dia merasa tidak memiliki bakat bermain piano seperti Mari-chan, padahal ibunya adalah seorang pianis terkenal. 

Suatu ketika, Ibu Mayumi-chan melihat Mari-chan memainkan Amarilis dan dia teringat akan masa lalunya, ketika dia memainkan lagu tersebut untuk calon anak yang sedang dikandungnya. Namun sayangnya, anak tersebut tidak pernah tumbuh besar dalam asuhannya karena menurut dokter dia terlalu lemah untuk bertahan ketika dilahirkan. Jika masih hidup, anak itu akan seumuran dengan Mayumi-chan dan Mari-chan. 

Di akhir cerita, akhirnya terkuak sebuah fakta yang mengejutkan tentang kehidupan Mari-chan berdasarkan keterkaitan petunjuk-petunjuk yang dimunculkan oleh komikusnya dalam komik ini. Mari-chan yang sepanjang hidupnya dilarang bermain musik oleh kakak pertamanya ternyata adalah anak seorang pianis terkenal Jepang, yang tidak lain tidak bukan adalah ibu Mayumi-chan. Kakak pertamanya itu tidak ingin Mari-chan tumbuh menjadi seorang pemusik seperti ibunya, seorang ibu yang menurutnya dulu telah tega menelantarkan anak yang baru saja dilahirkannya. Kakak keempat Mari juga ternyata mengetahui jika ibu Mayumi-chan adalah ibu kandung Mari-chan karena dia melihat saat-saat ketika bayi Mari-chan diberikan kepada kakak pertamanya, di samping sang ibu kandungnya, yang saat itu tengan mengalami tekanan mental. Mayumi-chan sendiri merupakan anak yang diadopsi oleh keluarga tersebut untuk menggantikan Mari-chan, karena pasca menyadari kehilangan bayinya, si ibu kembali mengalami depresi. Fakta ini pun menjelaskan teka-teki dari mana bakat musik Mari yang spesial berasal.

Setelah melalui berbagai kendala dan kejadian, akhirnya Mari pun diperbolehkan untuk bermain musik dan menemui ibu kandungnya oleh kakak pertamanya dan berhasil melakukan konser pianonya yang ditonton oleh semua kakak-kakaknya dan keluarga kandungnya. Ah! Ini adalah komik pertama yang saya baca ketika SD. Komik dengan cerita yang ringan, tetapi sangat berkesan dan tidak akan pernah hilang dari memori saya. Nama Amarilis terngiang-ngiang hingga saya besar dan mengenali berbagai hal. Ketika saya mulai tertarik untuk menulis dan kebingungan dalam memilih nama yang tepat untuk nama pena saya, saya pun memilih nama itu. Nama yang indah dan penuh kenangan masa kecil. Beberapa hari lalu, saya browsing tentang score dan berbagai hal yang berhubungan denganlagu Amarilis seperti yang ada dalam komik Amarilis. Ada berbagai hasil temuan yang diperoleh, tetapi akhirnya saya memutuskan untuk jatuh cinta pada Amaryllis karya Henri Ghys yang nadanya cukup sederhana, tetapi mudah nyantol di telinga. Iseng saya pun mencari atau ngulik melodinya dan merekamnya. 

Jadi, inilah asal muasal saya menggunakan amarilis sebagai username saya.

Thursday, 2 October 2014

Owl Brotherhood

Owl Brotherhood?
Apakah frasa itu terlihat sangat aneh? Jika iya, abaikan saja! Hehe. Dua kata itu sebetulnya kata-kata yang spontan terpikirkan untuk memberi nama sebuah grup percakapan Whatsapp yang berisi hanya tiga orang, yaitu saya dan dua orang adik angkatan saya, Rheta dan Roland. Awalnya, grup --yang saya buat secara spontan dan dengan memasukkan mereka berdua secara paksa-- ini, saya beri nama "Alarm" karena memang fungsinya adalah sebagai media untuk meminta bantuan mereka, membangunkan saya di jam-jam tertentu. Yeah, saya memang sangat sulit untuk dibangunkan bahkan oleh alarm sekali pun. Namun, anehnya, saya pasti akan bangun jika mendengar nada panggilan telepon saya berbunyi. Alhasil, saya pun nekad membuat grup tersebut. 

Di awal tindakan geje saya ini, saya merasa sangat tidak enak pastinya, memasukkan dua anak orang, yang ketika itu sudah pulang ke Kebumen, secara paksa ke dalam grup ini, hanya untuk saya repotkan atau membangunkan saya. Saya kira, mereka akan keberatan, apalagi si dedek Roland ini merupakan seorang dedek laki-laki yang agak sulit dimengerti baru saya kenal satu setengah tahun. Kalau Rheta, dia memang sudah sering saya tarik-tarik dalam dunia saya sehingga sepertinya sudah pasrah saja jika saya repotkan. Itulah mengapa saya nekad-nekad saja memasukkan dia, si Rheta. Lagipula dia seorang dedek perempuan yang baik, dan lebih mudah memahami saya yang juga sesama perempuan. *maaf  terkesan feminis, tapi saya memang seorang yang awkward dan bingung dalam berteman dengan lawan jenis*

Namun, ternyata, setelah beberapa hari, mereka berdua tidak mengeluarkan diri dari grup tersebut. Meskipun awalnya, dedek Oland (panggilan saya ke Roland, karena mengucapkan konsonan (R) setelah konsonan (K) terasa sangat aneh, akhirnya saya memutuskan untuk membuang huruf R-nya sesekali ketika memanggilnya) memang terlihat agak terganggu, tapi akhirnya dia tidak memutuskan untuk left dari grup. Bahkan, dia mengganti ikon grup tersebut dengan gambar di atas, yaitu gambar jam berbentuk sekeluarga burung hantu, yang terdiri induk burung hantu dan dua anaknya, yang SANGAAAAAT LUCUUUUU. Tindakannya itu mengilhami saya untuk mengganti nama grup Whatapp tersebut, dari "Alarm" ini menjadi "Owl Brotherhood". Jujur, saya sangat suka dengan gambar jam tersebut, selain memiliki relasi dengan tujuan pembentukkan grup ini, yaitu sebagai alarm, figurnya juga burung hantu, yang entah sejak kapan, sangat saya sukai. 


#Rheta
Nama lengkapnya Rheta Veda  Nugraha. Pertama kali melihat Rheta adalah pada saat SMP. Kami bertiga memang bersekolah di SMP dan SMA yang sama, yaitu SMP dan SMA Negeri 1 Kebumen. Saya langsung hafal dan mudah mengenalinya karena saya sering melihat dia dan Rhea berangkat sekolah bersama saat SMP dan saya kira mereka adalah anak kembar. Namun, ternyata mereka adik kakak yang rumahnya berada di desa yang sama dengan saya, tapi beda RW atau dukuh. Selain itu, dia juga salah satu dari beberapa siswi SMP N 1 Kebumen yang memakai jilbab saat itu. Oh iya, kata Mama saya, ketika kami sama-sama balita, kami pernah hidup bertetangga selama beberapa bulan dan saya pernah bermain bersama Rhea. 

Rheta dan bebungaan di dinding Gunung Prau
Meski saya sudah tahu Rheta sejak SMP, tetapi pertama kali berkenalan dengannya adalah empat tahun kemudian, tepatnya pada saat saya kuliah semester 2, di sini, di Depok, pada saat B3 2011 berlangsung. Sejak saat itulah kami saling bersapa, berbincang, bercanda, dan sebagainya hingga saat kini, karena ternyata lagi-lagi Rheta menjadi adik angkatan saya di UI, bahkan kembali berjodoh belajar di satu fakultas yang sama, yaitu di FKM. Kami pun semakin sering bertemu karena kami tergabung dalam Perhimak UI dan tinggal di asrama yang sama, yaitu asrama UI. 

Rheta bergolongan darah B, sama seperti saya. Sugesti akan kemungkinan kesamaan sifat dan pemikiran akibat kesamaan golongan darah inilah yang mungkin membuat saya sering mendekatinya, selain karena dia memang baik. Dia adalah pendengar yang sabar, pemberi respon yang baik dan tidak mempermasalahkan perbedaan atau pritilan-pritilan tidak penting dari saya yang terkadang membuat orang lain membangun pemikiran tertentu tentang saya. Dia menghargai perbedaan dan menyebutnya sebagai karakteristik dan hak dari setiap individu dalam berekspresi. Semakin lama mengenal Rheta, saya semakin merasa nyaman berteman dengannya, terutama sejak dia berpindah kos ke kosan saya saat ini, Wisma Yellow Orchid. 

Setelah kami satu kosan, saya semakin sering mengajaknya berbicara, makan bersama, jalan-jalan tidak jelas bersama, memaksanya keluar dari kamar untuk mendengarkan ocehan saya hingga shubuh datang, atau mengecenginya dengan seseorang. Meskipun umur kami terpaut satu tahun lebih, tetapi saya menganggapnya seperti teman sebaya, seperti Tiara, Leli, Widya, Ifa, dan Dzakia. Saya heran sebenarnya, mengapa dia dapat sesabar itu dalam menghadapi sifat labil dan kekanak-kanakan saya. Namun, saya sangat bersyukur karena dapat mengenalnya dan berteman dengannya. Darinya, saya belajar tentang kasih sayang dan ketulusan, tentang bagaimana menjadi wanita seharusnya, bagaimana menjadi pendengar yang baik, bagaimana memperlakukan orang lain dengan ikhlas, bagaimana berteman, bagaimana mengekspresikan kebebasan, bagaimana untuk yakin pada diri sendiri, dan bagaimana melakukan banyak hal lain. 


#Roland
Nama lengkapnya Roland Raymond Dino. Sepertinya saya pernah melihat Roland pada saat SMP di SMP N 1 Kebumen karena dulu dia memiliki rambut merah yang lebat, tapi tidak pernah melihatnya pada saat SMA, meskipun kami bersekolah di SMA yang sama. Selisih umur kami berdua adalah dua tahun, saya angkatan 2010 sedangkan dia angkatan 2012. Saya pertama kali berkenalan dengannya pada saat...tidak tahu. Pertama kali saya melihatnya secara sadar, yaitu saat kasti perdana Perhimak UI kepengurusan Jodi, tahun 2012 silam. Pada saat itu, di saat anak-anak angkatan 2012 lain berkenalan, bersapa, atau setidaknya tersenyum saat melihat saya, dia adalah satu-satunya orang yang tidak melakukannya dan lebih memilih tetap bermain kasti atau berbincang dengan orang lain yang sudah dikenalnya. Karena kejadian itulah, saya menganggap Roland sebagai seorang adik angkatan yang sangat sombong dan sebaiknya saya hindari demi kenyamanan hidup saya. Kemudian, berbulan-bulan pun berlalu di semester 5 saya itu dengan sedikit sekali melibatkan diri pada kegiatan-kegiatan Perhimak UI.

Roland di puncak Gunung Prau
Awal tahun 2013, semester 5 pun berlalu, dan entah bagaimana ceritanya saya sudah kembali ikut-ikutan kegiatan Perhimak UI, yang pada saat itu adalah Kebumen Campuss Fair (KCF) 2013. Di sanalah kali kedua saya bertemu dengan Roland secara sadar. Dia masih saja seperti pada saat kasti, berseliwar-seliwer ke sana-ke sini terlihat mengganggu mata *haduh maaf, menurut saya cowok cool nggak banyak gerak itu lebih keren daripada yang banyak gerak*. Dan KCF berlangsung meriah dan lancar seperti tahun sebelumnya. 

Menjelang siang, tiba-tiba Roland mendekati saya yang sedang lesehan seorang diri di samping stand Perhimak UI, dan bisa jadi inilah perkenalan pertama kami. Dia berkata (dengan bahasa jawa sebetulnya), "Mba Ani, kan? Maaf sebelumnya, soalnya kita belum pernah berkenalan sama sekali sebelumnya, terus tiba-tiba aku mau minta tolong. Aku Roland, 2012, PJ PDD (publikasi, dekorasi, dokumentasi) UI GTK 9. Jadi, kalau misalnya besok persiapan dekor UI GTK dilakukan di rumah mba Ani boleh nggak? Terus, mau minta tolong mba Ani juga buat ikut mbantuin PDD. Mba bisa nggak? Maaf banget agak nggak sopan ini, ya, dadakan banget bilangnya, di saat seperti ini lagi." Saya hanya menjawab, "Oke, boleh-boleh." Dan dia pun pergi setelah mengucapkan terima kasih singkat. Pada saat itu pun, saya masih merasa Roland adalah tipe-tipe cowok menyebalkan yang hanya datang pada saat membutuhkan bantuan saja.

Hingga kemudian, tiba juga waktunya kegiatan PDD dan latihan grup musik Perhimak UI berlangsung di rumah saya (yep, entah bagaimana caranya, tiba-tiba rumah saya seolah-olah jadi beskem perhimak ketiga setelah gazeb alun-alun dan rumah Umam). Pada saat itulah saya sedikit mengubah cara berpikir saya tentang Roland. Dia memang terlihat angkuh, tapi sebetulnya tidak juga. Dia memang berisik, tapi sebetulnya dia cukup inisiatif dan bertanggung jawab. Dia tampak ngeyel dan tidak mendengarkan apa kata orang lain, tapi sebenarnya dia dengar dan mungkin memikirkannya dan diam-diam mempertimbangkan saran dari orang lain. Mungkin, dia terlihat sangat eksis, mengeluyur di sini dan di sana, bicara begini-begitu, lalu tiba-tiba pergi dan kembali dengan membawa atau melakukan sesuatu, dan segelintir tindakan lainnya yang sebagian besar tidak dapat saya mengerti maksudnya, tetapi mungkin sebenarnya dia hanya tidak dapat berdiam diri tanpa melakukan atau mengatakan sesuatu. Uhn...bisa dibilang, hampir semua karakteristik manusia bergolongan darah O ada pada dirinya. 

Sejak saat itu, saya memutuskan bahwa sepertinya saya harus mengubah cara berpikir saya kepada orang-orang. Saya tidak boleh lagi ber-prejudice atau mudah sebal kepada orang lain hanya karena perlakuan tidak baik pada saat bertemu. Yeah, dari pengalaman saya dalam menilainya, saya memperoleh pelajaran untuk tidak menilai orang dari bungkus luarnya. Selain itu, setiap melihatnya, saya selalu teringat akan adik laki-laki saya, Ais (Fariz) yang memiliki sifat yang bertolak belakang dengannya. Mengapa ada anak muda yang begitu pendiam dan hanya suka berkawan dengan komputernya seperti adik saya di saat ada anak muda lain seperti Roland dan teman-temannya? Lalu, saya pun bertekad untuk lebih berusaha mengenali dan mendekati adik kandung saya, seperti halnya saya pernah berusaha mengenali dan mendekatkan diri dengannya atau adik angkatan yang lain. 


Mengapa mereka berdua?
Saya sebetulnya tidak tahu mengapa saya membuat grup Whatsapp itu dan memasukkan mereka berdua ke dalamnya. Hanya saja, semenjak berkenalan dengan mereka, saya merasa saya lebih dapat berekspresi dan menjadi jujur. Entahlah, bagaimana dan apa posisi dan pengaruh saya bagi mereka, menurut mereka berdua atau bahkan menurut orang lain yang pernah melihat kami atau membaca tulisan ini. Namun, bagi saya mereka seperti air sekaligus tempat sampah, yang entah bagaimana caranya mampu menyugesti saya. Dengan aliran airnya yang sengaja saya paksa mengaliri saya setiap kali saya mulai mengering, saya dapat sedikit demi sedikit kembali mengalir dalam sungai kehidupan saya sendiri. Dengan kelapangan hati dan kelogisan pemikiran mereka, saya sering memaksa memanfaatkannya untuk membuang sampah, keluh, kesah, dan pemikiran-pemikiran aneh saya ketika saya mulai bingung ke mana saya seharusnya menumpahkannya. Seringkali saya memperoleh inspirasi, tonjokan, dan kekuatan setelah bercerita dengan mereka. Namun, terkadang kehampaan dan kekesalan juga saya dapatkan tanpa terencana. Apakah hal seperti ini yeng disebut sebuah pertemanan? Atau setidaknya perasaan yang timbul dari menganggap seseorang sebagai teman? Apa pun itu, saya merasa senang mengenal mereka, terlepas dari bagaimana cara mereka manganggap saya. Sejauh ini, saya masih merasa hubungan kami bertiga aneh, di mana perasaan yang saya rasakan sepertinya masihlah berlangsung sepihak. Saya mungkin belum memberikan banyak hal atau bantuan untuk mereka, tetapi sebisa mungkin saya akan menjadi teman atau "apa pun namanya" yang baik ketika mereka butuhkan. Semoga saya dapat menjaga tekad saya ini. 

Saya, Rheta dan Roland
Tentang saya dan Rheta, sepertinya orang lain melihat saya dan dia seperti pertemanan anak perempuan pada umumnya. Namun, sebetulnya saya menganggapnya lebih dari itu. Meskipun, terkadang obrolan kami berakhir dengan tanpa kesimpulan dan penyelesaian, tetapi kenyamanan yang timbul ketika obrolan itu berlangsung merupakan hal berharga yang sangat sulit untuk ditemukan ketika mengobrol dengan orang lain. Meski demikian, lagi-lagi saya tidak tahu bagaimana perasaannya ketika mengobrol dengan saya karena sebenarnya, saya sering merampas waktunya hanya untuk menghabiskannya dengan hal-hal tidak berkualitas dengan saya. Dalam hal ini, saya seperti telah berbuat dzalim kepadanya. Pernah suatu ketika saya bertanya kepadanya apakah saya pernah tersebut dalam doanya dan dia menjawab "ya" dengan tanpa ragu. Saya sangat terharu saat mendengarnya. Tak hanya itu, ternyata dia juga mengingat setiap hal yang saya ceritakan kepadanya, yang menandakan bahwa dia mendengarkan bahkan menyimak dengan baik ketika saya berbicara. Lagi-lagi saya terharu dan merasa terhormat karenanya.

Tentang saya dan Roland, mungkin ada beberapa atau banyak orang, tak terkecuali kekasihnya, yang mengira jika saya memiliki perasaan tertentu, semacam suka atau modus kepadanya. Padahal dari obrolan dan interaksi kami berdua, sudah dapat dipastikan bahwa tidak ada hal yang mengindikasikan kebenaran adanya rasa-rasa semacam itu. Sikap saya terhadap Roland, sama halnya seperti sikap saya ke Ais, alias seperti seorang kakak ke adiknya atau sebaliknya. Mungkin, saya pernah menyebutkan di sini, bahwa saya sangat tidak nyaman ketika berbicara atau berada di samping anak laki-laki karena pada masa lalu kebanyakan pengalaman buruk dan bullying yang terjadi pada saya dilakukan oleh teman laki-laki. Namun, entah mengapa saya merasa tidak lagi se-awkward atau beranggapan seburuk itu setelah beberapa kali saya mengobrol dengan Roland. Mungkin, sifatnya yang seperti itu, cerewet dan supel, meskipun kadang arogan (?) dalam berteman mengubah beberapa cara berpikir saya tentang anak laki-laki. Hal ini membuat saya mengganggap Roland sebagai teman laki-laki pertama saya *padahal adik angkatan -,-*. Oh iya, saya pernah berkata kepadanya, "Maaf ya, dan ingatkan jika apa yang saya lakukan sudah berlebihan dan menimbulkan kesalahpahaman," dan dia hanya menjawab, "Ya. Lagian selama ini kan komunikasi yang terjadi sebagian besar hanya searah." Dan ini menjelaskan banyak hal bukan? :D

Sebenarnya, saya orang yang tidak enakkan atau rikuhan dalam meminta tolong atau menyuruh. Namun, entah mengapa kepada mereka berdua, terkadang saya tega dan nekad mengajak, meminta atau menyuruh mereka melakukan sesuatu, misalnya: ngajak mereka camping atau main ke pantai atau parahnya minta mereka membantu memasukkan output analisis data skripsi saya saat semester lalu. Lebih parahnya lagi, saya memutuskan untuk tidak merampungkan skripsi saya setelah semua hal yang mereka lakukan untuk membantu saya. Jika dipikir-pikir lagi, sepertinya tindakan saya kepada mereka sudah sangat keterlaluan. Saya jadi kasihan sama mereka yang sepertinya sering saya repotkan dan tarik-tarik ke dalam kehidupan saya. 

Ah, tidak tahu lagi... Saya hanya mampu berterima kasih pada Tuhan karena mengizinkan saya mengenal kalian. Terima kasih juga kalian, untuk kesempatan dan kebaikan yang kalian berikan untuk saya. Saya sayang kalian tanpa alasan...



Saya dan Rheta, selfie (dengan kamera saku) di Sarang Burung

Saya dan Rheta, (masih) selfie (dengan kamera saku) di Sarang Burung

Saya dan Roland (masih) di Sarang Burung, dipotret oleh Rheta

Saya dan Roland, selfie (pakai kamera saku Roland) di semak-semak (?)
Oh, sepertinya ini di Telaga Warna, Wonosobo

Rheta dan Roland, di Sarang Burung, dipotret oleh saya

Rheta dan Roland, di Pantai Menganti, dipotret oleh saya


Selfie 1 oleh Roland, dari luar pagar

Selfie 2 oleh saya, dari dalam pagar

Selfie 3 oleh Roland


Di dalam tenda 1 (tenda anak perempuan) saat camping di Sarang Burung

(Masih) Di dalam tenda 1 saat camping di Sarang Burung

Monday, 22 September 2014

Pesan Terakhir di Ujung Masa Bhaktinya...

"We have ever thought about being family. We have ever thought about home. Sharing the same roof, stepping the same floor. I tried to understand you, your activities, your schedule. Last time I told you to come at 8, but you came at 11. Then I tried to reschedule our family meeting. I told you to come at 3. Yet you don't come.

Don't we need a head of our family? Don't we need someone, or two, to keep our home standing? Don't we need somewhere, a place we can call it 'home'?

Why do we force our little brothers and sisters to attend our family meeting while we sleep at our own dorm, when we play happily with our friends? Do you think our brothers and sisters not have the same right to see outer world? Why do we hope this home will never be broken when we can't even go back for a while?

Who do you think you are? The owner of our house? You can't even pay us whom you chose to keep and clean our home! All you need to do is just come and we will welcome you, with a big smile, happily.

Our meeting will start at 6.30 pm.

Please, come.

Please, don't show this shame to our little brothers and sisters.
Please, I'm begging you.

I believe today is not the last day of this home."

*******
Itu adalah pesan berantai yang dikirimkannya ke grup rumah kebersamaan kami. Ah, adik yang satu ini memang sesuatu sekali. Dia memang gadis kuat yang selalu memiliki keteguhan prinsip dan juga penuh kejutan. Tiga tahun lebih mengenalnya, baru beberapa bulan terakhir ini, terhitung sejak kepindahannya ke keluarga Yellow Orchid, saya betul-betul jatuh hati tanpa sungkan kepadanya. Meski demikian, saya sangat kaget ketika membaca pesan tersebut. Saya telat membacanya karena handphone saya mati ketika pesan itu terkirim ke grup. Ketika itu, saya sudah berada di TKP. Eri lah yang menyodorkan tabletnya, yang ternyata tersaji pesan tersebut, ke saya. Hwah...sontak saya kaget. Saya betul-betul tidak peka, tidak pandai membaca kondisi. Saya sama sekali tidak memahami bagaimana perasaan dia dan mereka yang telah mempersiapkan dan hadir dengan sangat awal. Ah, mungkin beberapa orang menilai tindakannya --menulis pesan tersebut-- berlebihan. Namun, bagi orang yang mungkin berperasaan terlampau sensitif atau mengetahui bagaimana perjuangannya setahun terakhir plus ekstra berpikir-banting tulang selama ini, mungkin akan tersentil tertunduk malu pun akan dapat memakluminya. Lagipula ini acara besar, penentuan pemimpin baru keluarga ini pun juga untuk memprediksi ke mana arah kepemimpinan keluarga ini setahun ke depan. 

Saya sendiri sangat malu, sebagai salah satu orang yang tergolong ke dalam rombongan senior, karena datang sangat telat. Jujur, saya memang hampir memutuskan untuk tidak datang, karena ketidaksukaan saya menghadiri acara beramai-ramai orang dan bertensi tinggi semacam itu. Namun, setelah melihat jawaban chat dari dedek R pada pukul 4 sore, bahwa acara belum dimulai karena menanti kehadiran anak angkatan saya, tetiba perasaan saya tidak enak dan...sedih. Akhirnya, saya nekad mengepos chat ke grup angkatan, berisi ajakan atau semacamnya. Yeah, saya sudah lupa kalau saya adalah saya, orang yang hampir selalu tak terespon ketika berbicara di grup tersebut. Masa bodoh, saya hanya ingin berusaha....berusaha saja. Awalnya hanya ada dua orang yang merespon. Namun pada akhirnya, setidaknya ada lima orang yang menjawab.Terharu sekali saya. Meskipun jawabannya sedikit tidak menggemberikan. Namun, inilah kenyataannya...bahwa kebanyakan dari kami memang sudah terbang ke luar Depok. Jadi, dipaksakan dengan bagaimana pun caranya, tidak akan mungkin ada banyak dari angkatan kami yang datang.

Jam 5 lebih, saya bertanya sekaligus memberi tahunya keadaan dan respon angkatan saya. Hening. Seperti dia sedang berhati-hati atau memilih kata yang tepat untuk menjawab. Saya semakin gelisah. Apakah di sana baik-baik saja? Apakah jika saya datang ke sana akan sedikit bermanfaat meskipun hanya menyetorkan muka atas nama angkatan? Apakah saya akan berani berbicara seperti mereka yang sudah berpengalaman? Apakah saya akan baik-baik saja dalam keramaian tersebut? Akhirnya, saya memutuskan untuk mematahkan keegoisan dan kecemasan saya untuk dia, adik-adik angkatan saya dan mungkin rumah keluarga ini. Lagi-lagi, saya kembali ke sana karena faktor perasaan yang tak beralasan kuat.

Betul saja, saat sampai di TKP, suasana sedikit sepi yang tertangkap mata. Beberapa anak tengah menjalankan ibadah salat magrib berjamaah. Sisanya mungkin berkeliaran sementara di luar TKP. Namun, syukurlah ternyata dari pihak yang diistilahkan "senior" sudah ada beberapa orang yang tampak dan kesemuanya adalah angkatan di atas saya. 'Di mana anak angkatan saya? Oh, iya mereka sibuk dan sedang di luar kota,' batin saya. Umam pun bertanya hal yang sama, yang hanya saya jawab dengan cengiran dan doa dalam batin. Tidak lama kemudian, banyak orang berdatangan. Adik angkatan semua awalnya. Lalu Aan dan disusul Jodi yang menyempatkan datang jauh-jauh dari Bandung dengan so sweet-nya. Setengah jam kemudian, Widya dan Ifah juga datang. Mereka bergabung dengan para alumni atau senior. Sejam kemudian Leli dan suaminya juga datang.

Ah, bahagianya...dan saya dapat melihatnya sesekali memandang ke arah kami, orang-orang tua yang hobi menelatkan diri. Menjelang berakhirnya acara, ternyata Hari dan Martyn juga datang. Mereka juga ikut berkontribusi dalam menilai...hingga akhir acara, hingga terpilihnya dedek Reza dan Roland menjadi pemimpin rumah kelurga ini yang baru. Selamat...

*******
Saat sampai kamar rumah kos, saya tetiba terpikirkan pesan panjang yang dibuat dan dikirim olehnya. Lantas, saya baru ingat bahwa saya sempat memintanya membuatkan jarkom yang agak ngena agar kami ter-jleb saat membacanya. Tidak jelas juga mengapa saya mengatakan tersebut. Yeah, saat itu saya memang sempat miris karena hampir tidak direspon oleh teman seangkatan saya. Oleh karena itu, saya memintanya membuat jarkom yang nantinya akan saya teruskan ke grup angkatan dan melabelinya dengan "pesan dari panitia". Namun, handphone saya mati dan saya tidak terlalu berminat lagi untuk memberisiki grup angkatan. Saya memutuskan berangkat ke TKP sendirian selepas magrib...hingga akhirnya saya membaca pesan tersebut lewat tablet milik Eri. Saya mengira-ngira dalam hati, "Jangan-jangan pesan ini adalah jarkom yang dibuat berdasarkan pesan-pesan saya ke dia sebelumnya?"

Dan ternyata benar... (sudah diiyakan olehnya)

Lalu saya merasa bersalah sekali.

Oke, ini sudah berakhir. Masanya telah selesai dengan mengesankan dan penuh kenangan yang menyenangkan dan juga tak terlupakan bagi anggota kepengurusannya. Dia begitu total dan berdedikasi demi keluarga ini. Dia tegar dan setia mendampingi pemimpinnya, tanpa berniat atau berkeinginan melangkah lebih dulu atau berhenti atau membelok arah dalam perjalanan sehingga dia tidak tertinggal atau meninggalkan apa yang seharusnya didampinginya. Hohooo... Banyak sekali hal yang ingin saya tuliskan tentang dia, tetapi saya sudahi saja lah, tulisan yang tidak bertujuan jelas ini, sampai di sini.
Semangat semester akhirnya... :)

Thursday, 17 April 2014

Saya di Paguyuban (disunting dari pos saya sendiri di tumblr)

Ini tahun ke-4 saya di sini, di bumi perkuliahan Universitas Indonesia. Ini tahun ke-4 saya menjadi salah satu warga dari keluarga besar paguyuban Perhimak UI. Dan di tahun ke-4 ini, saya masih saja ingin tahu dan sedikit-sedikit ikut campur dalam salah satu agenda terbesarnya. Ckckck. Parah, ya?

Perhimak UI, siapa yang menyangka saya dapat menjadi bagiannya? Siapa pula yang menyangka jika, pada akhirnya, jalur perjalanan yang saya pilih justru didominasi oleh interaksi yang terjadi dengan warga dan kegiatan di Perhimak UI, dibandingkan dengan teman-teman atau kegiatan di kampus? 

Perhimak UI ini, bisa dibilang merupakan keluarga kedua saya. Segera setelah saya diterima di UI, saya pun menjadi anggota paguyuban, yang ternyata supersibuk dan superbanyak agendanya, ini. Sekarang, saya sudah angkatan senior, angkatan aktif tertua di tahun ini, tapi saya curiga ada yang salah dengan saya karena kesan dewasa sama sekali tidak tampak melekat pada diri saya. Dari segi umur, saya tidak lagi muda. Saya ingat, ketika saya masih mahasiswa baru (2010), saya memandang angkatan tertua saat itu (2007) sebagai angkatan senior yang harus dihormati karena lebih matang usianya, luas pengalamannya, keren pengabdiannya, tinggi ilmunya, dewasa pembawaannya, dan lain-lain. Sayang sekali, hingga saat saya menuliskan ini, saya merasa poin-poin yang saya sebutkan di atas, yang mengindikasikan bahwa saya angkatan senior yang mestinya dapat diteladani oleh adik-adik angkatannya, sama sekali tidak tampak pada saya saat ini. 

Satu-satunya pembawaan saya yang membuat saya tampak dewasa (mungkin?) menurut saya adalah sikap tenang (lebih ke kalem sebenarnya) yang cukup dapat saya kuasai akhir-akhir ini. Namun, pembawaan tenang ini bukanlah pertanda pendewasaan, melainkan karena saya yang semakin "krik" berinteraksi dengan orang lain. Pembawaan saya yang diam (saya memang pendiam) ini justru membuat beberapa adik kelas bingung. Ekspresi muka diam saya memang mengerikan, haha. Mungkin mereka kikuk melihatnya. 

Selisih usia antara saya dan adik-adik angkatan saat ini semakin lebar. Saya semakin merasa bahwa saya tidak memiliki topik atau urusan dengan mereka. Saya bertanya sesekali, menjawab jika dipersilahkan, bicara jika perlu dan sebagainya. Seharusnya, sudah saatnya saya tidak lagi terlalu ingin tahu dan mencampuri urusan mereka jika tidak diminta. Mereka pun pasti bingung, jika ditanyai, dikepoi terus menerus. Hnnn... Andai saya dapat menahan hasrat kepo ini sebaik dia. Toh, setelah saya bertanya dan mendapatkan informasi tentang kendala atau hal yang terjadi di dalamnya, saya hanya dapat menampungnya, memujinya jika memang itu adalah hal yang patut diapresiasi atau memberi dukungan semangat jika ada hal tersendat yang terjadi dalam pelaksanaan suatu kegiatan. 

Saya memang angkatan 2010. Namun, entah mengapa sejak 2011 hingga pertengahan 2013, sejak saya memiliki adik angkatan, saya justru merasa lebih mudah berkomunikasi dengan adik-adik itu. Selain karena sempat adanya kesalahpahaman saya terhadap 2010, saya juga lebih sering berinteraksi dengan para adik tingkat. Mungkin inilah yang membuat saya masih kekanak-kanakan. Sekarang, saya mulai terusik karena mereka, para adik angkatan pun, mulai menyinggung-nyinggung masalah kedewasaan saya yang patut dipertanyakan.

Satu hal yang masih menjadi tanda tanya besar bagi saya saat ini adalah: Meskipun saya sering kepo dengan kegiatan-kegiatannya, bahkan saat tahun ke-3 (tahun lalu) masih mengikuti kepanitiaannya sebagai salah satu PJ, saya masih tidak terlalu mengenal dan dekat dengan para warganya. Di sini saya tetaplah saya yang pendiam dan tidak cocok untuk terlibat dan dilibatkan dalam inti pusaran dan pergerakannya. Saya di Perhimak adalah seorang teknis 70%, tak pandai berbicara sistematis dan tak juga cukup pantas dimintai wejangan (meski sudah senior).

Selama tinggal di Depok ini, saya merasa, porsi yang saya sediakan untuk kuliah dan paguyuban ini hampir sama. Terkadang saya membelot ke paguyuban ketika bosan dengan hal-hal terkait perkuliahan, tetapi terkadang saya menjadikan urusan kuliah untuk kabur dari rapat-rapat paguyuban. Saya adalah orang yang mudah ter-distract oleh hal-hal baru yang menurut saya lebih menyenangkan untuk dijalankan. Inilah mengapa saya sering kali berakhir dengan mencari-cari sesuatu yang bisa dilakukan di paguyuban ini ketika saya sedang bosan dengan kuliah, hingga tanpa sadar saya keasyikan main di paguyuban nyaris lupa atau parahnya malas mengerjakan kewajiban kuliah. Haha... (jangan ditiru). 

Beberapa orang pernah bilang, jika motivasi saya untuk sebegitu sukanya muncul di paguyuban bisa jadi adalah suatu pencitraan diri saya sendiri, agar terlihat baik dan bagus di mata orang-orang Perhimak UI. Ah. Bisa jadi tuh. Mungkin saya terlalu terlihat ingin eksis kali, ya? Haha, sekarang saya tidak peduli apa kata mereka. Saya pernah menjadi angkatan muda di sini dan saya tahu bagaimana rasanya ketika dalam masa-masa sulit dan membutuhkan solusi atau bantuan dari orang lain. Oleh karena itu, saya sering kepo dan tetiba muncul di berbagai kegiatan. Monggo saja dibilang pengen eksis atau sebagainya. Saya hanya mampu beralasan bahwa saya hanya tidak betul-betul bisa untuk tidak mencari tahu berita tentang Perhimak UI. Selalu saja ada faktor penarik yang membuat saya datang lagi dan datang lagi ke event-event-nya, meskipun pada akhirnya hanya menonton mereka dengan krik. Bisa jadi, saya memang udah terlanjur pengen kepo keterlaluan pada Perhimak. Cinta? Tidak juga. Saya menyadarinya setelah teman sekampus saya mengatakannya. 

Jika ada anggota Perhimak lain yang membaca ini, bisa jadi mereka heran, “Kok bisa ini orang segitunya ke Perhimak UI? Hidup sejahterakah? Nemu cintakah? Dikasih makankah? Atau memang pengen ngeksiskah?”

Saya orangnya memang cukup keras kepala, suka penasaran dan mungkin setia. Meskipun lebih dari sekali dua kali saya merasa kecewa selama berada di Perhimak UI, tetapu selalu ada kenangan akan hal-hal yang menyenangkan yang mampu menghapus kekecewaan tersebut.

Saya sendiri bukan orang yang mudah move on atau jatuh hati. Jika saya suka menyapa atau mendatangi sesuatu, ini berarti bahwa saya memang masih cukup nyaman dengan hal itu. Dalam hal ini adalah Perhimak UI. Meskipun saya akui, hanya beberapa orang di sana yang nyaman dan menyamankan. Meskipun saya tidak yakin, apakah beberapa orang itu memiliki perasaan yang sama dengan saya. Meski pada akhirnya, saya sering mendapati diri saya yang sendirian saja persis orang tak punya visi, luntang-lantung tak punya lawan mengobrol di sana.

Pada akhirnya, kepada dan karena anak-anak Perhimak lah saya berkisah, tertawa, marah, sedih, berkarya, bertamasya, belajar hidup, bertanya dan mungkin bisa jadi jatuh cinta. Memang sih, tidak selalu hanya ada Perhimak UI di kehidupan merantau saya. Namun, tetap saja, Perhimak UI adalah salah satu hal paling berpengaruh dalam hidup saya. Di sini, saya memperoleh kesempatan memimpin dan memandu beberapa orang. Di sini, saya pernah dipercaya mengerjakan tugas besar. Di sini, saya merasa saya pernah dibutuhkan. Di sini pula, saya merasa bahwa saya cukup bermanfaat untuk beberapa orang. 
Terima kasih. :)

Wednesday, 9 April 2014

Bagaimana Ini: Saya Belum Bisa Move On!

Ini tentang cinta pertama saya, yang saya temukan pada saat kelas IX SMP.

Apa yang dapat saya ceritakan tentangnya? Dia masih muda dan selalu lebih muda dari saya hingga sekarang. Haha, ya iyalah. Parahnya, semakin hari jarak usia antara kita tampak semakin lebar karena dia tak juga tampak menua atau dewasa. Yeah, saya tidak tahu berapa usianya atau kapan dia lahir karena menurut saya itu tidak penting.

Pertama kali melihatnya, dia mengenakan baju oranye cerah. Tingkahnya begitu ceria, penuh semangat dan aura optimis yang tampak tak akan pernah habis. Dia memang cerewet, banyak bicara, mudah berteriak, beberapa hal yang tidak saya suka jika pemilik karakter tersebut adalah seorang laki-laki. Namun, di saat-saat tertentu, di mana sebagian besar orang akan terjatuh dan menyerah untuk menghadapi rintangan yang menghadangnya, dia justru akan berdiri dan melawannya, hingga ditemukan kedamaian.

Dia mudah tersulut amarah, juga melotot dengan ekspresi yang sangat lucu dan menggemaskan. Namun, di saat-saat genting di mana orang pada umumnya akan mudah saling mengatai dan baku hantam demi memperjuangkan kepentingan dan mempertahankan keamanan dirinya sendiri, dia justru akan menahan emosinya tanpa mau menyakiti orang-orang di sekelilingnya.

Dia memang sangat konyol dan tak mengenal rambu-rambu dalam berkata kepada siapa pun, berapa pun umurnya. Dia supel, tanpa merendahkan yang lebih muda, tanpa menjilat kepada yang lebih tua, tanpa menusuk dari belakang... kepada mereka, orang-orang yang telah mempercayainya.

Tingkah dan perilakunya seperti bocah yang terlalu aktif. Ini terbentuk bukan tanpa sebab. Dia yatim piatu sejak lahir, tak pernah disayangi dengan cukup, tak pernah dididik dengan penuh kasih sayang seperti orang lain pada umumnya. Setiap tindakan konyolnya adalah hasil belajar sosialnya, dalam menutupi kesepian hatinya, kerinduan tak tersampaikannya, keterasingan di saat kanak-kanak yang membuatnya bosan dan memicunya untuk menjadi orang yang dapat dilihat orang lain melalui kekuatan dan perbuatannya. Hmm...

Yep! Dia sangat berbakat, kuat dan jenius di saat-saat genting, sebetulnya. Namun, tidak semua orang menyadari kemampuannya. Tingkah kekanak-kanakannya menutupi kekuatan dan pemikirannya yang sangat keren. Meski, pada awalnya, banyak orang yang tidak menyukainya atau sering dibuat jengkel olehnya, tetapi sebenarnya mereka sangat menyukainya. Begitu pula saya...

Bagi saya, dia adalah seorang yang lucu, tak mudah menyerah, cerdas dan keren. Pandai? Tidak. Sabar? Tidak. Emosian? IYA! Namun, bagaimana pun juga dia tetaplah cinta pertama saya. Saya tidak tahu bagaimana kabarnya, sudah seberapa jauh perjalanannya, apakah sudah menemukan orang yang dicarinya selama ini, bagaimana peningkatan kemampuannya, cerita apa yang dimilikinya, dll...karena saya sama sekali tidak pernah mengikuti kabarnya lagi.

Satu yang saya tahu, saya masih mencintainya dan belum bisa bergeser ke yang lain, selain dia, Naruto. Betul sekali, dia adalah tokoh utama anime yang pertama kali saya sukai dalam hidup saya.

Thursday, 3 April 2014

Hanya Saja...

Entahlah... Hanya saja, aku tahu.
Aku tahu dan hanya bisa bertingkah gagu.
Ini betul, aku lebih nyaman menjawab setiap hal dengan membisu.
Aku semakin menyukai memendam suaraku yang tidak memiliki kekuatan, melainkan ragu.

Entahlah...
Hanya saja, diamlah yang dapat aku lakukan,
meski batin sempat terkoyak, meski sesekali lenyap ketenangan jiwa.
Aku menyimpan, memendam, tidak mendendam, tapi merasa bersalah berkepanjangan.
Hingga kucuran permintaan maaf dan berhati-hati setiap saat lah yang terlaksana berulang-ulang

Entahlah...
Hanya saja, aku mengerti.
Aku tidak bermasalah dengan semua kepasrahan ini,
karena aku bukan pelopor, pencetus ide-ide yang bijak bestari.
Aku bukan juga pemberi nasihat, yang dapat membantu mereka memecahkan rumitnya teka-teki.

Entahlah...
Hanya saja, aku ingin memberi kabar.
Aku tidak ingin dihujani belas kasihan atau bela sungkawa,
karena aku tidak sedang menderita atau berduka cita.
Aku hanya ingin dibiarkan sendiri, menumpas kebodohanku yang hanya dapat ditangani olehku saja.

Entahlah...
Hanya saja, aku merasa sedih ketika hilang kepercayaan.
Banyak yang berdalih, aku yang tak terbuka membuat mereka enggan percaya.
Namun, setiap kali aku berupaya ingin terbuka, sebanyak kali itu pula upayaku ternilai gagal.
Sampai-sampai aku tak mengerti keterbukaanku yang macam apa yang sebenarnya orang-orang inginkan?
Sepertinya memang aku yang tidak mengerti makna terbuka dan tidak tahu cara melakukannya.

Hanya saja, aku masih tidak tahu apa mauku...
Terlalu memikirkan mereka, terlalu tidak tertarik padaku sendiri, terlalu asyik berfantasi dalam imajinasi.
Mungkin ini yang membuatku bertampang bimbang, membuat orang-orang begitu mudah menekan dan mengancam...

Hei, tapi aku tidak merasa tertekan...
Hanya saja aku tidak suka diberi tuduhan dan pertanyaan, yang menyangkut urusanku seorang, 
tidak layak untuk mereka ketahui lebih dalam.

Oh, mungkin ini yang mereka bilang tertutup...
Namun, bukankah setiap orang memiliki batas privasinya sendiri?
Dan bukankah setiap orang berhak menentukan seberapa luas lahan privasi yang akan dihuninya sendiri?

Aku, mungkin salah satu orang yang terkadang lancang menginjak teras batas privasi orang lain...
Namun, aku bukan pemaksa yang akan mendobrak masuk pintu privasi seseorang yang telah menolak untuk menjawab ketukan dan salam yang dikirimkan.

Kau tahu bagaimana rasanya dituduh: ingin dianggap sebagai orang malang?
Aku tahu.
Kau tahu bagaimana rasanya disebut dengan umpatan "Anjing!"?
Aku tahu.
Kau tahu bagaimana rasanya diusir dan tak diizinkan untuk kembali?
Aku tahu.
Kau tahu bagaimana rasanya diancam akan dibunuh?
Aku tahu.

Aku tahu rasa-rasa dari penolakan, pelabelan, sedikit pengasingan dan mengalami pembedaan.
Mungkin ini yang membuatku berhati-hati, mungkin ini yang membuatku menjadi tertutup seperti apa kata mereka.

Wednesday, 2 April 2014

Ibuku, Perempuan Perkasa

Apa yang dapat kutuliskan tentang ibuku? Lebih dari banyak, seharusnya. 

Beliau yang selalu menemani, tak pergi, tak menghakimi, meski kami tengah dalam masa terpuruk dan sulit membangkitkan diri. 
Beliau, yang mendukung setiap langkah kami, dalam diam serta kekhusyukan doa dan sujudnya. 
Beliau, yang tak pernah letih memperhatikan dan memenuhi setiap detil kebutuhan dan keinginan anak-anaknya yang hampir tak pernah terpuaskan, meski telah habis receh dalam dompet bercap toko emasnya. 
Beliau, yang tak pernah mengambil seratus rupiah pun dari jatah yang dititipkan kepadanya untuk diberikan kepada anak-anaknya, meskipun telah begitu lama tak turun jatah bagi dirinya. 
Beliau, yang hanya mampu menanti sembari menyederhanakan pengeluaran hanya miliknya sendiri, jika satu-satunya pemasukan dari usaha kost-nya tersendat, akibat kelalaian para siswa SMK penyewa kamar di rumah... yang parahnya ini terjadi setiap bulan.
Beliau, yang dengan teguh dan sabar mengajari anak-anaknya dalam belajar ilmu dunia dan ilmu agama, semampunya, sebatas bekal sekolah setingkat SMP-nya yang dapat ia tular-ajar-kan kepada kami, anak-anaknya yang berbeda minat dan kecepatan dalam mencerna setiap input yang diberikannya.
Beliau, yang tidak akan terlelap tidur, jika ada satu saja anaknya: yang masih terjaga merampungkan tugas pribadinya, menikmati cobaan sakit yang terkadang dirintihkan terlalu berlebihan, belum pulang hingga larut malam atau tak juga terpejam karena diselimuti resah dan gulana.
Beliau, yang entah bagaimana pun caranya akan berusaha membuat anak-anaknya bahagia, meski itu artinya beliau akan menumpuk derita yang harus berangsur-angsur dikuranginya agar tidak menggunung dan merobohkan ketahanan hidupnya.
Beliau, yang tak pernah mengeluh dalam setiap putaran roda dan kayuhan pedal sepeda mini ukuran sedang, satu-satunya kendaraan butut dengan sadel yang hanya tinggal separuh bagian, yang beliau gunakan untuk pergi ke tempat manapun, jauh dekat, menurun menanjak, berjalan mulus atau terjal, entah ke perkampungan atau ke tengah perkotaan...dan hingga kini tak pernah menginginkan untuk diberi yang lebih baik.
Beliau, yang tak pernah meminta apa pun kepada suaminya, jika itu untuk kepentingan pribadinya sendiri hingga lama-lama tak mampu mengingat dan mengenali apa saja kepentingan pribadinya, apa saja yang diinginkannya. 
Beliau, yang selalu sabar meladeni kami yang berbeda tingkah dan sifat, berbeda mau dan taraf kepatuhan, berbeda di mana-mana dalam setiap hal dan beliau tetap ada tak kabur untuk memerdekakan diri.

Ah! 
Ibuku, ibu nomor satu sedunia. 
Ibu paling mandiri dan sabar yang tidak pernah betul-betul marah, meski anak-anaknya sering kali durhaka dan membantah petuah-petuahnya. 
Ibuku, ibu yang tak pernah lelah berjuang, sejak langit menerang hingga menggelap, sejak diucapkannya kata bersedia dan janji untuk setia mengabdi pada orang yang memintanya menjadi istri dan (aku yakin) hingga nanti orang tersebut tak lagi gagah dan terlalu lelah, bahkan untuk sekadar menghirup dan melepas nafas.
Ibuku, perempuan yang telah menjadi seorang ibu ketika usianya masih begitu muda, merelakan jatah mudanya untuk mengabdikan diri pada suaminya yang unik dan membesarkan buah hati-buah hatinya yang sedikit menarik. 
Ibuku, perempuan paling tangguh, yang tak pernah mengeluh dalam kucuran peluhnya yang mungkin hanya beberapa kali kami sadari dan hargai dengan tulus. 

Hnnn...
Aku tidak ingin lagi ibuku mengerjakan hal-hal seperti yang dikerjakan Cinderella untuk keluarga tirinya. 
Aku tidak ingin ibuku lama-lama menjadi Rapunzell yang terkurung dan hanya mengenali rumahnya sendiri tanpa pernah melihat dunia yang lebih luas dari apa yang ditinggalinya saat ini.
Aku tidak ingin ibuku terbiasa menanti, mandiri dalam kepasrahan, yang aku yakin ini dapat diperbaiki...

Aku tidak ingin ibuku dipandang sebagai ibu yang kasihan dan menderita karena dia adalah seorang ibu yang kuat, perempuan perkasa pertama yang kukenal, Perempuan Pilihan...
Satu-satunya orang yang mampu dan mau mendampingi kami setiap waktu di setiap kondisi yang terjadi.

Dan aku merasa bahagia dan terhormat, Tuhan menjodohkanku dengannya,
menjadi anak pertamanya yang menyaksikan perjuangannya lebih lama dari adik-adikku,
menjadi orang yang beruntung, yang seharusnya dapat memetik jauh lebih banyak pelajaran-pelajaran dari perjalanan dan perjuangan hidupnya  untuk disemaikan kepada adik-adikku juga anak-anakku nanti.

Ibuku, Perempuan Perkasa...
Ibu juara satu di dunia...

Monday, 31 March 2014

Saya Suka, tapi Tidak Suka

Saya menyukai banyak hal. Saya ingin dapat melakukan banyak hal. Saya ingin belajar dan berlatih untuk dapat melakukan banyak hal itu. Namun, saya tidak tahu...setiap saya mulai mencoba saya merasa tidak pantas dan tidak memiliki dorongan semangat untuk terus melakukannya.

Saya suka menari. Namun, setiap kali saya bercermin saya pasti akan tersadar bahwa saya tidak memiliki modal untuk menjadi seorang penari, bahwa kesukaan saya dalam menari tidak seharusnya untuk dipertontonkan kepada orang-orang, bahwa meski saya berusaha sekeras apa pun untuk menari di pentas, saya tidak akan mampu menari dengan bahagia... karena saya tidak membiarkan diri saya untuk dilihat oleh orang lain. Sudah banyak kali saya menari, terhitung sejak kelas 3 SD. Tari tradisional, tari India, tari kontemporer, dan tari-tari yang lainnya... Namun, untuk apa saya menari? Apakah untuk dilihat? Tidak. Saya hanya suka ketika melakukannya bersama dengan yang lain. Saya suka melakukan gerakan indah dengan baik dan tepat dan saya benci tingkah laku saya dilihat oleh orang. Pada akhirnya, sebagian besar alasan menari saya adalah untuk pemenuh kewajiban atau pelengkap suatu acara pentas karena tidak ada satu pun orang lain yang mau melakukannya. Mungkin terlihat pas, saya suka menari dan tidak ada yang mau menari. Saya dapat menari untuk mengisi kekosongan itu. Namun, saya tidak suka terlihat. Saya pun tidak mampu menari dengan bahagia. Setelah selesai menari pun, saya tidak pernah dihadiahi dengan senyuman. Tidak, tidak...tidak usah diberi pujian karena saya sangat tidak suka dipuji, apalagi yang berlebihan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Kasihan mereka berbohong untuk kesia-siaan. Bukan, bukan tidak ikhlas juga dalam melaksanakannya, hanya saja saya bingung mengapa saya betul-betul melakukannya?

Saya suka menulis. Namun, ya seperti inilah tulisan saya. Tidak bermutu, tidak berkualitas. Menulis pun kurang konsisten. Meski saya sudah tahu minat saya ke tulisan fiksi, tetapi topik, tema dan inti ceritanya tidak banyak yang berbeda. Hwoaaah. Beri saya waktu untuk mengembangkannya. Ah, saya tengah berkata kepada siapa sebenarnya? Awang-awang? Langit-langit kamar? Pembaca? Hmmm...siapa yang pernah membaca cerpen-cerpen saya? Hampir tidak ada. Iya, iyalah. Kapan saya menulis cerpen? Setahun sekali pun belum tentu. Masih pantaskah saya mengaku suka menulis? 

Saya suka membantu terlaksananya sebuah acara. Namun, saya tidak suka berada di dalam keramaian pelaksanaan acara-acara tersebut. Saya tidak suka terlihat dan dilihat dan saya tidak punya alasan yang tepat untuk menjelaskan ketidaksukaan saya yang satu ini. Inilah yang membuat saya suka berorganisasi atau mengikuti suatu kepanitiaan, tetapi saya tidak suka menghadiri pelaksanaan acara besarnya. Saya akan memilih menjadi pembantu di belakang layar. Saya sangat menyukai menjadi pemanjat tangga dibandingkan pengisi panggung. Saya sangat menyukai merencakan suatu pementasan daripada memberikan sambutan. Saya sangat menyukai berkeliling kota mencari kebutuhan acara dibandingkan harus menyapa satu per satu tamu yang datang. Saya tidak suka bertemu dan menyaksikan banyak manusia... Mereka membuat saya pusing dan mual.

Saya suka musik. Namun, saya akan berhenti memainkannya ketika ada orang yang mulai memuji. Bagi saya, pujian adalah sindiran secara halus. Oleh karena itu, saya lebih memilih bermain ketika sendirian, bermain ketika tidak ada orang yang memperhatikan dan bermain hanya untuk diriku sendiri. Saya memang suka bermain musik, tapi saya tidak pandai bermain musik. Inilah yang membuat saya sebal ketika ada orang yang bilang bahwa saya pandai bermain musik. Apa yang saya lakukan adalah hal-hal yang dapat dilakukan orang lain. Meski demikian, jika ada orang yang mau mendekat dan bernyanyi bersama, saya akan menyukainya. Asalkan dia diam dan tidak memuji dengan hal-hal yang benar. Saya bersedia membagikan apa yang saya tahu tentang musik, tapi saya akan berhenti berbagi dengannya ketika dia bilang saya jago atau sebagainya. Ada yang salah dengan saya? Biarkan saja. 

Saya suka menggambar. Namun, ini tidak konsisten. Saya hanya penjiplak. Saya menggambar dengan melihat contoh objek yang akan digambar. Imajinasi saya sebetulnya sangat buruk. Sama seperti yang lainnya, saya tidak suka diberi pujian untuk gambar-gambar saya, meskipun saya suka memperlihatkan gambar-gambar saya. Saya hanya suka meminta saran, bukan diberi pujian. Namun, uhn...entahlah.

Saya suka fotografi. Namun, saya sadar diri dengan apa yang saya miliki saat ini, saya belum dapat memenuhi keinginan berburu dan berbagi foto yang bagus. Meski demikian, saya cukup suka membagi satu, dua foto meski tak beresolusi baik, setidaknya tak banyak diedit. 

Saya suka desain dan film. Namun, ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kuliah yang saya geluti. Pantaskah saya tetap penasaran dengan desain dan perfilman?

Saya suka drama. Saya sangat suka menyaksikannya maupun melaksanakannya. Beberapa kali saya pernah menjadi sutradara atau penulisnya atau sebagainya. Namun, saya tidak memiliki cukup potensi menjadi pemimpin dan penyampai gagasan yang baik. Alhasil, saya menjadi sutradara yang buruk. Meski demikian, saya tetap suka menonton drama. Ini menyenangkan melihat orang bersandiwara di atas panggung secara langsung.

Saya suka melakukan banyak hal...tapi saya tidak memiliki cukup keberanian untuk menjaga kesukaan saya... Saya merasa tidak pantas melakukan semua hal karena terlalu sering dikomentari di belakang dan dipuji berlebihan di depan. Saya tidak suka. Saya tidak tahu, mana yang sebenarnya benar-benar pantas saya lakukan karena ini...

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...