Showing posts with label Gila. Show all posts
Showing posts with label Gila. Show all posts

Thursday, 15 June 2017

Lebarannya Owlet

Assalamu'alaykum, bloggie...

Awawawawaw!!! Ohisashiburiii!!! Ahahaha...

Well, hari ini, Rabu 14 Juni 2017, si Owlet yang sedang dipakai untuk mengetik ini akhirnya di-install ulang. Jeng! Jeng! Jeng. Kemarin Selasa (13 Juni 2017), dia diperiksa oleh dokter Ais dan dia divonis bahwa jeroannya sudah tidak sehat. Kondisi kesehatan Hard Disk dia sudah betul-betul 0%! Ya, saudara-saudara NOL! Dia menggunakan software entah apaan yang memang bisa digunakan untuk mendeteksi kondisi komputer. Baru tahu juga saya, ada hal macam itu di dunia ini *plak! gaptek!*

Awalnya, saya hanya ingin install ulang biasa saja agar kinerjanya tidak terlalu berat, plus saya memang ingin meng-install aplikasi skype untuk suatu hal *haha*. Namun, malah jadi ketahuan ini itunya gegara pasca dilakukan install ulang oleh Ais, laptopnya lemotnya minta dilempar. Kata dia, HD-nya sudah tua dan parah. Kalau tidak segera diganti bisa-bisa malah jadi mati total dan data-datanya tidak tertolong. Entah mengapa, saya tidak terlalu terkejut mendengarnya. Mungkin, memang sebenarnya otak saya sudah sejak lama menanti datangnya hari ini *plak!*. 

Sedih jelas, sebab mau tidak mau saya harus mengalokasikan dana yang pastinya tidak sedikit (ganti HD internal wooooi!) untuk mengurusi segala ini itu. Namun, di satu sisi saya bersyukur, saya mendapatkan kabar ini sejak dini dan saat sedang berasa di kampung sendiri. Uwahahaha... Setidaknya biaya service beginian di sini lebih terjangkau dibandingkan di Depok (baca: harga tetangga).

Rabu pagi tadi, akhirnya saya mengkontak Mas S, si tetangga yang biasa dimintain tolong untuk membetulkan ini-itu yang berhubungan dengan gadget dan elektronik. Orangnya termasuk golongan hi-tech  gitu kalau di kampung saya (WOI! FOKUS CERITANYA WOI!). Singkat cerita, Mas S datang ke rumah dan mendengarkan curhatan saya: "Mas, dia lemot. HD-nya kata Ais harus diganti. Terus, ini engselnya mangap-mangap, kayaknya sekrupnya copot atau gimana. Terus, nanti minta dibersihin biar kipasnya berfungsi dan nggak panas lagi. Oh iya, minta tolong beliin case juga buat HD internal yang udah tua, biar cantik."

Kurang dari 5 menit durasi curhat saya dan beliau pun langsung mengerti. Sepertinya, beliau memang sudah paham dengan perilaku saya yang semena-mena terhadap laptop sendiri. Setiap pulkam, pasti adaaaa aja yang harus di-service laptopnya. Ahaha (padahal, memang sengaja menunggu saat pulkam untuk ngebetulin segala kerusakan si Owlet, hehe). Setelahnya, si Owlet pun segera dibungkus masuk karung ransel beliau dan dibawa ke kantor (?) beliau untuk segera digarap sesuai curhatan saya. Seharian ini, saya bermeong-meong tanpa Owlet.

Malam, setelah jam tarawih. Si Mas S mengirimi saya SMS yang isinya mengatakan bahwa Owlet sudah sembuh, Alhamdulillahi robbil'alamiin... Dia berhasil menjalani operasi cangkok HD dengan sukses (merk WD, 500 Gb. Sebenarnya, pengennya diganti jadi yang size-nya 1 Tb, tapi kata Mas S susah dapatnya dalam waktu dekat, heuheu). HD yang tua pun diberi baju. Engsel Owlet pun dibetulin sehingga body-nya tidak mangap-mangap lagi ketika monitornya digerakkan. Jeroannya pun tak luput dalam memperoleh treatment dan si kipas sudah nyala kembali. Sebagian besar driver sudah di-install-kan sehingga saya tak perlu repot-repot lagi, Yuhuuu...

Yang paling membuat saya senang adalaaaaah...
"OWLET DAPAT TERKONEKSI KE WI-FI LAGI. TIDAK HANYA TETHERING HANDPHONE, TAPI KE SEGALA WI-FI. KE WI-FI RUMAH JUGA BISA. BAHKAN TAK PERLU DUDUK DI DEKAT MODEM-NYA, DARI KAMAR PUN BISA CONNECTED. BETUL-BETUL BAHAGIA SAYAAA... :D"
Akhirnya, hari ini berakhir happily: data saya terselamatkan, si Owlet sudah lebih sehat kembali (seperti 80% baru, ahaha), dan yeaaay... SAYA BISA NGENET PAKAI LAPTOP LAGI. Kalau di Depok bisa tembus 1 juta rupiah kali. Install ulang doang aja bisa ditarik minimal 50 ribu rupiah. Ini di kampung, saya habis 800 ribu rupiah untuk keseluruhan biaya barang dan jasa. Over all, saya rela dan ikhlas tak beli baju lebaran, asalkan si Owlet jadi sebegini fungsionalnya. Tak cuma manusia yang bisa lebaran, yang bisa kembali ke fitri, si Owlet pun berhak merasakannya. I love you Owlet! Semoga kamu sehat-sehat terus ke depannya. Yuk, kita berjuang bersama lagi! :) 

Wednesday, 9 April 2014

Bagaimana Ini: Saya Belum Bisa Move On!

Ini tentang cinta pertama saya, yang saya temukan pada saat kelas IX SMP.

Apa yang dapat saya ceritakan tentangnya? Dia masih muda dan selalu lebih muda dari saya hingga sekarang. Haha, ya iyalah. Parahnya, semakin hari jarak usia antara kita tampak semakin lebar karena dia tak juga tampak menua atau dewasa. Yeah, saya tidak tahu berapa usianya atau kapan dia lahir karena menurut saya itu tidak penting.

Pertama kali melihatnya, dia mengenakan baju oranye cerah. Tingkahnya begitu ceria, penuh semangat dan aura optimis yang tampak tak akan pernah habis. Dia memang cerewet, banyak bicara, mudah berteriak, beberapa hal yang tidak saya suka jika pemilik karakter tersebut adalah seorang laki-laki. Namun, di saat-saat tertentu, di mana sebagian besar orang akan terjatuh dan menyerah untuk menghadapi rintangan yang menghadangnya, dia justru akan berdiri dan melawannya, hingga ditemukan kedamaian.

Dia mudah tersulut amarah, juga melotot dengan ekspresi yang sangat lucu dan menggemaskan. Namun, di saat-saat genting di mana orang pada umumnya akan mudah saling mengatai dan baku hantam demi memperjuangkan kepentingan dan mempertahankan keamanan dirinya sendiri, dia justru akan menahan emosinya tanpa mau menyakiti orang-orang di sekelilingnya.

Dia memang sangat konyol dan tak mengenal rambu-rambu dalam berkata kepada siapa pun, berapa pun umurnya. Dia supel, tanpa merendahkan yang lebih muda, tanpa menjilat kepada yang lebih tua, tanpa menusuk dari belakang... kepada mereka, orang-orang yang telah mempercayainya.

Tingkah dan perilakunya seperti bocah yang terlalu aktif. Ini terbentuk bukan tanpa sebab. Dia yatim piatu sejak lahir, tak pernah disayangi dengan cukup, tak pernah dididik dengan penuh kasih sayang seperti orang lain pada umumnya. Setiap tindakan konyolnya adalah hasil belajar sosialnya, dalam menutupi kesepian hatinya, kerinduan tak tersampaikannya, keterasingan di saat kanak-kanak yang membuatnya bosan dan memicunya untuk menjadi orang yang dapat dilihat orang lain melalui kekuatan dan perbuatannya. Hmm...

Yep! Dia sangat berbakat, kuat dan jenius di saat-saat genting, sebetulnya. Namun, tidak semua orang menyadari kemampuannya. Tingkah kekanak-kanakannya menutupi kekuatan dan pemikirannya yang sangat keren. Meski, pada awalnya, banyak orang yang tidak menyukainya atau sering dibuat jengkel olehnya, tetapi sebenarnya mereka sangat menyukainya. Begitu pula saya...

Bagi saya, dia adalah seorang yang lucu, tak mudah menyerah, cerdas dan keren. Pandai? Tidak. Sabar? Tidak. Emosian? IYA! Namun, bagaimana pun juga dia tetaplah cinta pertama saya. Saya tidak tahu bagaimana kabarnya, sudah seberapa jauh perjalanannya, apakah sudah menemukan orang yang dicarinya selama ini, bagaimana peningkatan kemampuannya, cerita apa yang dimilikinya, dll...karena saya sama sekali tidak pernah mengikuti kabarnya lagi.

Satu yang saya tahu, saya masih mencintainya dan belum bisa bergeser ke yang lain, selain dia, Naruto. Betul sekali, dia adalah tokoh utama anime yang pertama kali saya sukai dalam hidup saya.

Sepatu

Sepatu yang saya maksud di sini adalah sepatu yang judul lagu, yang dinyanyikan oleh Tulus Band, Sepatu. Pertama kali saya mendengar lagu tersebut adalah pada saat Gladi Resik acara puncak UI GTK X, 2 Februari 2014 lalu. Yep, tepat sekali, saya jatuh cinta pada saat pertama kali mendengar lagu ini. Ndilalahnya, saya merekam mereka pada saat menyanyikan lagu ini. 

Oke, siapa mereka? 
Mereka adalah....siapa, ya?
Hadeuh! Geje, kan? 

Jadi, mereka ini adalah Grup Musik Perhimak UI tahun 2013-2014 yang saya sendiri juga tak tahu nama dagangnya (?), maksudnya nama panggungnya. Grup musik ini terdiri dari tujuh orang, yaitu:

Tuesday, 8 April 2014

Nasi(b)

Ini hampir seminggu sejak kembali ke Depok dan inilah hari-hari di mana saya sangat malas makan, terutama nasi. Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, dan Senin. Jika tak salah ingat, hanya pada hari Kamis dan Sabtu saya makan nasi. Sisanya, saya hanya makan sayur berkuah masakan sendiri: rebusan bayam atau caesim dan sayur campur-campur lainnya, tanpa nasi. Itu pun hanya sekali sehari, ketika menjelang sore. 

Malamnya? Paling hanya menggoreng 3 potong tempe daun khas kampung halaman yang dibekalkan oleh Mama atau omelet mi atau tidak sama sekali.

Ke mana perginya kau, wahai nafsu makan?

Sunday, 6 April 2014

Surat Cinta dari Orang Alay untuk Orang yang Tidak Dikenal (superkocak)

Ohayou C***** alias Pak D**** ***** ******* J

Apa kabar? Semoga kerasan belajar **********-nya dan cepet jadi ****** yang disayang ******-nya. Aamiin…

To the point aja,
Aku ini bukan lagi sedang nembak karena aku juga tahu itu nggak mungkin sukses, ahaha. Semua tulisan ini hanya bentuk pemberitahuan perasaan soalnya udah dipendam lama (kayak di sinetron, ya? haha). Sebenarnya, Mama juga nggak memperbolehkan anak gadisnya berbuat hal nekad seperti ini… tapiiii….

Maaf, aku keras kepala karena aku menyukaimu sejak lama.

Monday, 31 March 2014

Saya Suka, tapi Tidak Suka

Saya menyukai banyak hal. Saya ingin dapat melakukan banyak hal. Saya ingin belajar dan berlatih untuk dapat melakukan banyak hal itu. Namun, saya tidak tahu...setiap saya mulai mencoba saya merasa tidak pantas dan tidak memiliki dorongan semangat untuk terus melakukannya.

Saya suka menari. Namun, setiap kali saya bercermin saya pasti akan tersadar bahwa saya tidak memiliki modal untuk menjadi seorang penari, bahwa kesukaan saya dalam menari tidak seharusnya untuk dipertontonkan kepada orang-orang, bahwa meski saya berusaha sekeras apa pun untuk menari di pentas, saya tidak akan mampu menari dengan bahagia... karena saya tidak membiarkan diri saya untuk dilihat oleh orang lain. Sudah banyak kali saya menari, terhitung sejak kelas 3 SD. Tari tradisional, tari India, tari kontemporer, dan tari-tari yang lainnya... Namun, untuk apa saya menari? Apakah untuk dilihat? Tidak. Saya hanya suka ketika melakukannya bersama dengan yang lain. Saya suka melakukan gerakan indah dengan baik dan tepat dan saya benci tingkah laku saya dilihat oleh orang. Pada akhirnya, sebagian besar alasan menari saya adalah untuk pemenuh kewajiban atau pelengkap suatu acara pentas karena tidak ada satu pun orang lain yang mau melakukannya. Mungkin terlihat pas, saya suka menari dan tidak ada yang mau menari. Saya dapat menari untuk mengisi kekosongan itu. Namun, saya tidak suka terlihat. Saya pun tidak mampu menari dengan bahagia. Setelah selesai menari pun, saya tidak pernah dihadiahi dengan senyuman. Tidak, tidak...tidak usah diberi pujian karena saya sangat tidak suka dipuji, apalagi yang berlebihan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Kasihan mereka berbohong untuk kesia-siaan. Bukan, bukan tidak ikhlas juga dalam melaksanakannya, hanya saja saya bingung mengapa saya betul-betul melakukannya?

Saya suka menulis. Namun, ya seperti inilah tulisan saya. Tidak bermutu, tidak berkualitas. Menulis pun kurang konsisten. Meski saya sudah tahu minat saya ke tulisan fiksi, tetapi topik, tema dan inti ceritanya tidak banyak yang berbeda. Hwoaaah. Beri saya waktu untuk mengembangkannya. Ah, saya tengah berkata kepada siapa sebenarnya? Awang-awang? Langit-langit kamar? Pembaca? Hmmm...siapa yang pernah membaca cerpen-cerpen saya? Hampir tidak ada. Iya, iyalah. Kapan saya menulis cerpen? Setahun sekali pun belum tentu. Masih pantaskah saya mengaku suka menulis? 

Saya suka membantu terlaksananya sebuah acara. Namun, saya tidak suka berada di dalam keramaian pelaksanaan acara-acara tersebut. Saya tidak suka terlihat dan dilihat dan saya tidak punya alasan yang tepat untuk menjelaskan ketidaksukaan saya yang satu ini. Inilah yang membuat saya suka berorganisasi atau mengikuti suatu kepanitiaan, tetapi saya tidak suka menghadiri pelaksanaan acara besarnya. Saya akan memilih menjadi pembantu di belakang layar. Saya sangat menyukai menjadi pemanjat tangga dibandingkan pengisi panggung. Saya sangat menyukai merencakan suatu pementasan daripada memberikan sambutan. Saya sangat menyukai berkeliling kota mencari kebutuhan acara dibandingkan harus menyapa satu per satu tamu yang datang. Saya tidak suka bertemu dan menyaksikan banyak manusia... Mereka membuat saya pusing dan mual.

Saya suka musik. Namun, saya akan berhenti memainkannya ketika ada orang yang mulai memuji. Bagi saya, pujian adalah sindiran secara halus. Oleh karena itu, saya lebih memilih bermain ketika sendirian, bermain ketika tidak ada orang yang memperhatikan dan bermain hanya untuk diriku sendiri. Saya memang suka bermain musik, tapi saya tidak pandai bermain musik. Inilah yang membuat saya sebal ketika ada orang yang bilang bahwa saya pandai bermain musik. Apa yang saya lakukan adalah hal-hal yang dapat dilakukan orang lain. Meski demikian, jika ada orang yang mau mendekat dan bernyanyi bersama, saya akan menyukainya. Asalkan dia diam dan tidak memuji dengan hal-hal yang benar. Saya bersedia membagikan apa yang saya tahu tentang musik, tapi saya akan berhenti berbagi dengannya ketika dia bilang saya jago atau sebagainya. Ada yang salah dengan saya? Biarkan saja. 

Saya suka menggambar. Namun, ini tidak konsisten. Saya hanya penjiplak. Saya menggambar dengan melihat contoh objek yang akan digambar. Imajinasi saya sebetulnya sangat buruk. Sama seperti yang lainnya, saya tidak suka diberi pujian untuk gambar-gambar saya, meskipun saya suka memperlihatkan gambar-gambar saya. Saya hanya suka meminta saran, bukan diberi pujian. Namun, uhn...entahlah.

Saya suka fotografi. Namun, saya sadar diri dengan apa yang saya miliki saat ini, saya belum dapat memenuhi keinginan berburu dan berbagi foto yang bagus. Meski demikian, saya cukup suka membagi satu, dua foto meski tak beresolusi baik, setidaknya tak banyak diedit. 

Saya suka desain dan film. Namun, ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kuliah yang saya geluti. Pantaskah saya tetap penasaran dengan desain dan perfilman?

Saya suka drama. Saya sangat suka menyaksikannya maupun melaksanakannya. Beberapa kali saya pernah menjadi sutradara atau penulisnya atau sebagainya. Namun, saya tidak memiliki cukup potensi menjadi pemimpin dan penyampai gagasan yang baik. Alhasil, saya menjadi sutradara yang buruk. Meski demikian, saya tetap suka menonton drama. Ini menyenangkan melihat orang bersandiwara di atas panggung secara langsung.

Saya suka melakukan banyak hal...tapi saya tidak memiliki cukup keberanian untuk menjaga kesukaan saya... Saya merasa tidak pantas melakukan semua hal karena terlalu sering dikomentari di belakang dan dipuji berlebihan di depan. Saya tidak suka. Saya tidak tahu, mana yang sebenarnya benar-benar pantas saya lakukan karena ini...

Tuesday, 4 September 2012

Riwayat Cinta Gue (1)

Hingga gue berumur dua puluh tahun sekarang, gue belum pernah berpacaran. Namun, hal itu nggak berarti bahwa gue belum pernah merasakan jatuh cinta. Hahaha. Obrolan yang kayak beginian nih yang paling riskan buat diumbar-umbar di sini, my bloggie... But, gue nggak tahu kenapa, sekarang gue pengen cerita ke lo tentang ini. Semoga nggak menyakiti satu orang pub dari pihak mana pun.

Gue bukanlah tipe orang yang susah jatuh cinta, tapi bukan juga orang yang hobi jatuh cinta. Yeah, mungkin benar gue ge-er-an, tapi bukan playgirl. Mau ngemainin siapa coba? Orang deket-deket sama anak cowok aja nggak betah. Yuppie, singkat cerita gue agak man phobia gitu. Percaya atau nggak, kawan...


SATU
Cinta monyet gue yang pertama adalah saat kelas 2 SD. Saat itu gue suka seorang bocah sekelas, hanya karena dia berani minjem PR Matematika gue ke rumah gue. Saat itu gue mikir, "Ini PR kan gampang banget! Ngapain dia pake minjem punya gue segala? Jangan-jangan...." Sejak saat itu, gue jadi senyam-senyum sendiri kalo ketemu dia dan dia pun demikian. Aneh ya? Namun, tragisnya kisah ini berakhir singkat. Empat bulan kemudian, dia pindah ke suatu tempat yang jauh dan entah di mana bersama keluarganya. Gue shocked, sedih dan bener-bener merasa kehilangan dia. Secara, sejak dia meminjam PR Matematika gue saat itu, kita berdua jadi akrab dan rajin belajar bareng di kelas. Gue dan dia pun menduduki peringkat 1 dan 2 di kelas akibat kebiasaan itu. Gue nggak terlalu yakin ini cinta pertama. Namun, gue akan bakal selalu mengingat cerita zaman bocah gue ini sampai kapanpun. Wkwkwkwk. Gue pengen tahu, apakah dia udah nikah sekarang mengingat temen-temen SD gue yang lain udah banyak yang menikah, hoho. Hey, si rambut landak! Ingat gue nggak, lo? :D

DUA
Setelah itu, gue nggak pernah coba-coba sama yang namanya suka-sukaan lagi. Gue sadar gue bocah dan gue lebih suka baca buku IPA saat itu daripada sibuk menyukai orang. Kejadian kelas 2 SD itu membuat gue sedikit brhati-hati untuk deket dan ngobrol sama anak cowok temen SD gue. Takut keterusan terus berakhir menyedihkan atau bermusuhan kayak di sinetron-sinetron. Namun, yang namanya bocah, tetaplah bocah. Saat gue kelas 4 SD, gue pun deket sama seorang temen cowok, sebut aja ATS. Kita duduk berdekatan, tapi berbeda lajur. Gue di baris ke 4 lajur 2, dia baris ke 3 lajur 3. Alhasil, dia pun jadi sering noleh ke belakang buat ngobrol bareng gue.

Gue nggak pernah curiga sedikit pun saat dia tiba-tiba jadi sering nyocokin jawaban bareng saat ulangan. Bukan contekan sih! Cuma nyocokin aja. Dia nggak pernah minta kasih tahu jawaban yang bener kalau misalkan jawaban dia gue nyatakan salah. Namun, jika hal sebaliknya terjadi, gue bakal maksa dia buat ngasih tahu jawabannya dan ketika dia udah ngasih tahu jawabannya, gue pasti bakal bilang, "Iya, tadi gue juga mau jawab itu, tapi ragu. Aku ikutan yak!" Gue selalu jawab demikian, meskipun sebenarnya terkadang gue nggak kepikiran untuk menjawab dengan jawaban itu, ahahah. Licik emang, ya? Nggak, ah! Bocah! Hehehe.

Lama-lama, semakin banyak obrolan yang kita buat. Entah itu tentang masa kecilnya, teman sekampungnya atau bapaknya yang pemarah. Yah! Gue memang nggak terlalu suka berkisah tentang diri gue (seperti di blog ini) waktu gue kecil. Hingga pada suatu Jumat, saat Pramuka, ada seorang temen cewek yang nyeletuk, "Eh, si ATS kan suka lo, An!" Deg, gue pun jadi kepikiran. Gue jadi kepo dan sering merhatiin dia sejak saat itu.

Setahun kemudian, tepatnya pas kelas 5 SD, perkataan temen cewek gue itu terbukti! OMG! Dengan telinga gue sendiri, gue mendengar dia mengaku bahwa dia suka sama gue sejak kelas 1 SD kepada temen-temen gue yang lain. Gila! Pengen guling-guling gue rasanya saat itu. Bukan karena gembira atau gila seketika. Namun, karena gue nggak habis pikir kok bisa sih anak SD ngomong begituan kayak di sinetron-sinetron di TV!!! (padahal gue lebih parah, suka bocah saat kelas 2 SD, haha).

Jadi, ceritanya begini. Gue dan temen-temen sekelompok gue sedang megerjakan tugas Keterampilan di rumah KD. Namun, tiba-tiba salah satu bahan yang harus digunakan untuk membuat sebuah karya itu, habis. Gue pun ke warung karena anak lain nggak ada yang mau dan malah saling tunjuk buat beli. Gue pergi lewat jalan depan.

Sepuluh menit kemudian, gue balik lewat jalan samping rumah KD di mana di sana juga ada pintu. Nah, pas gue mau masuk, gue merasa ada yang nggak beres nih atmosfernya. Gue ngelihat ATS dikepung oleh seluruh anggota kelompok kami. Jidatnya keringatan kebangetan. Dia duduk di bangku semen memandangi wajah orang-orang yang mengelilinya satu per satu. Dari pemandangan itu, gue menyimpulkan bahwa si ATS ini bakal mau disidang di tempat. Gue udah mau hampir membantu ATS buat keluar dari dalam kepungan ketika tiba-tiba seorang temen berinisial D menginterogasinya, "Lo suka Ani, ya?"

DEG! Gue langsung ngumpet ke balik pintu. Kaget setengah mati. Gue pun galau antara menghentikan aksi tersebut atau membiarkan si ATS menjawab. Secara, udah sejak lama gue pengen tahu kebenaran dari gosip-gosip yang beredar tentang hal itu. Gue pun memutuskan untuk tetap mengintai dari balik pintu. Hening cukup lama. Gue kira si ATS nggak bakal berani memberikan jawaban, maka gue pun sedikit lega, tapi juga masih penasaran. Akhirnya, setelah semenit mungkin, si ATS pun menjawab lantang, "YA!"

Temen-temen gue yang mengepungnya melonjak kegirangan. Beberapa bersuit-suit, menyenggol bahu ATS dan meneriakkan ciye-ciye. Gue udah hampir nggak tahan dalam persembunyian. Namun, gue juga terlalu malu untuk menghadapi mereka. Maka dengan ditopang oleh kaki gemetar, gue pun memutuskan untuk tetap bersembunyi.

Si D bertanya lagi, "Ciyeee... Sejak kapan???"

"Sejak kelas 1!" jawabnya dengan muka semerah tomat matang.

Gila mamen, gue udah nggak tahan. Gue teguhkan hati dan gue langkahkan kaki melewati lubang pintu. Dengan tanpa mengubah ekspresi muka, gue pun berkata, "Ini bahannya! Yuk kita lanjutin, temen-temen!" Grek! Kemunculan gue tiba-tiba ternyata membuat mereka semua terkaget dahsyat. Dalam sekejap kerumunan bubar dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa gue mendengarkan percakapan nggak penting mereka. Kami melanjutkan pekerjaan kami yang sempat tertunda kurang lebih lima belas menit lamanya. Sedangkan apa yang terjadi pada ATS? Dia menyingkir seketika dan mengambil jarak sejauh mungkin dari gue. Mukanya masih merah. Tampak sekali dia salah tingkah dan sesekali memanjat tiang pagar untuk menghilangkan rasa nervous-nya itu.

Peristiwa itu membuat gue dan dia nggak sesering dulu saat mengobrol. Dia malu-malu, sedangkan gue tak mampu menghadapi wajahnya karena gue bakal langsung teringat kejadian di rumah KD itu. Namun, satu yang gue tahu, gue makin bingung saat berhadapan dengan cowok sejak saat itu.

ATS sekarang sudah bekerja di Kalimantan. Dia udah memiliki kekasih dan mungkin sebentar lagi menikah. Congratulation, bocah korban sinetron! Haha.

TIGA
Kelas 6 SD, hal serupa kasus ATS tadi pun terjadi. Masihlah ada cowok temen SD gue yang dengan lucunya bilang ke temen sebangkunya bahwa dia suka gue. Dia temen sekelompok belajar gue, Mungkin karena gue sering minta boncengin sepeda oleh dia saat kumpul kelompok, dia mengira bahwa gue suka si dia. Panggil saja dia MT. MT yang gue tahu adalah seorang pendiam. Dieeeeem banget orangnya dan penurut. Kadang terpancar sedikir aura ke-cool-an darinya. Namun, tetep aja gue udah bertekad bahwa gue nggak bakal jatuh cinta lagi, maka gue pun nggak pernah ambil pusing tentang aura cool sesaat itu.

Nah, MT ini, di balik pendiamnya itu ternyata dia itu pekerja keras dan seorang perencana yang baik. Namun, kelebihan itulah yang justru membuat gue sebel dan kecewa sama dia saat kelas 6 dulu itu. Gue bingung nih mau nyeritain tentang dia. Singkat cerita, dia itu ngecuri 1 foto gue dari temen dan menghilangkan film foto gue yang paling gue suka pas SD. Gue nggak ngerti kenapa dia melakukan itu, hingga suatu hari ada seorang temen yang bilang kalau MT itu suka sama gue dan udah ngaku sama temen sebangkunya. Ya kali! Apa-apaan sih? Semenjak tragedi cinta monyet dan ATS, gue jadi sebel saat di-cengin sama temen dan diciyein, eh...ini malah malah sampai ngambil foto gue. Gue takut disantet serius waktu itu. Amit-amit jabang bayiiiii... Gue nggak ngerespon apa pun mengenai kejadian hilangnya foto itu. Gue tahu dia nyesel dan merasa bersalah, tapi gue juga sebel saat itu. Dia childish dan korban sinetron yang lebih parah dibandingkan ATS.

Belum selesai di situ, tiba-tiba suatu hari ada dua orang anak cewek seumuran gue dari beda sekolah yang bahkan gue belum pernah melihatnya, datang ke rumah gue. Mereka bilang bahwa ada seorang anak cowok berinisial TM yang suka sama gue selama ini. TM ini, gue udah langsung dapat menebak siapa orangnya meskipun mereka terus saja mengarang cerita mengenai biodata palsu si TM. Ya ampun, sinetron-sinetron! Cuma sinetron ini yang bisa gue cela-cela daripada gue ngemarahin si TM yang tidak lain tidak bukan adalah TM ini karena merencanakan tindakan bodoh yang melibatkan orang lain untuk berbohong itu. Gue nggak bergeming. Dua cewek itu, pulang dengan tangan hampa dan mulut kecapekan ngarang.

Masih belum selesai! Si MT ini kayaknya udah bilang yang nggak-nggak gitu ke nyokapnya. Pernah pada suatu hari sang nyokap itu berkunjung ke rumah gue. Yep, rumah kami berdua memang nggak terlalu jauh, nggak ada 1km lah jaraknya. Nah! Beliau itu ke rumah gue ngapain coba? Nyariin nyokap gue masa! Beliau ngobrol sama nyokap gue seolah-olah lagi ngajak ngomongin masa depan anak-anak mereka (gue dan ...). Nyokap gue sweatdropped di tempat. Nyokap si MT ini udah kayak lagi ngobrol sama calon besannya masa dan akhirnya nanya ke gue yang nggak sengaja lewat di depan mereka, "Jadi, mbak Ayoh... Gimana hubunganmu sama MT?" Sontak gue pura-pura nggak denger dan ngeloyor pergi dengan nggak sopannya.

Aiiiiiiih... Kayaknya ini nggak si MT aja yang korban sinetron, tapi satu keluarga tanpa satu orang pun tertinggal kayaknya. Gue penasaran sinetron macam apa sih yang mereka tonton??? Zzzz....

Dan gue pun akhirnya lulus SD dengan tenang dan hasil memuaskan tanpa sempat berpikir tentang MT sedikit pun. I'm sorry good bye, boy...

(bersambung)

Tuesday, 21 December 2010

Namaku Ani...

Aku Ani. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, angkatan 2010. Aku orang Jawa asli, pandai berbahasa Jawa dengan logat Jawa ngapak.

Aku pendiam dan misterius. Aku suka menulis dibandingkan berbicara. Namun, banyak orang yang bilang bahwa aku cerewet. Hal ini membuatku terkesan seperti orang berkepribadian ganda. Kadang ceria, kadang pemurung, dan kadang gila, ahaha...

Sejujurnya aku gila. Orang yang baru lihat pasti bilang aku pendiam, sehingga ragu mendekat. Padahal, sekalinya ngomong aku sulit untuk berhenti. Aku suka musik, menulis, dan menggambar (ditambahin menari dan menyanyi aja dah, biar kayak hobinya anak TK, hehe). Jadi, aku adalah penyuka kedamaian dan pembenci kedustaan serta kesombongan (Btw, apa hubungannya kalimat penjelas ini dengan kalimat sebelumnya ya? Kalimat utamanya apa juga nggak jelas deng! Ahaha)

Aku adalah pengamat jitu! Hati-hati aja kalau ada di dekatku. Bisa aku terawang, baru tahu rasa, ahaha. Sixth sense-ku lumayan sih, keturunan dari sang Mama (Mama aku lho, bukan Mama Loreng, plak!). Aku suka berpikir dalam diam, sambil memandang hamparan langit atau taburan bintang manis di permukaan langit yang lezat dinikmati mata. Wiew!!

Banyak orang bilang bahwa aku lebay, bahwa aku adalah tipe orang sanguinis dan melankolis, dengan rasa toleransi, solidaritas, dan keramahan yang sangat tinggi (ini seriusan kata orang lho). Namun, aku nggak bisa dijadikan sebagai pemimpin atau diberikan tanggung jawab terlalu besar karena aku cenderung labil, masih belum bisa dipercaya untuk memimpin (ini kata orang dan juga kata Ani sendiri).

Oleh sebab itu, aku kaget setengah hidup saat aku ditunjuk menjadi seorang Section Leader di MBUI. Wakakakak, kocak sebenernya, seorang aku bisa jadi SL. Namun, bagaimana lagi, amanah ya amanah harus dipegang dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Meski sebenarnya, aku masih sangat banyak kekurangan sebagai seorang SL. Hahahihi...

Aku anak PIT MBUI... Bangga bisa menjadi anak MBUI, hahai...

I love MBUI, dengan segala kekocakkan, keseriusan dan apa pun yang ada di dalamnya, aku suka.. Aku bertemu banyak orang dari berbagai daerah berbagai jurusan berbagai jenis macam watak dan sifat yang mereka punya. Aku suka menjadi Cadets MBUI...

Aku SL Pitt cadets MBUI 2010 (ya ampun, baru sekali ini gue mengaku sebagai SL Pitt nih, bismillah) menyatakan bahwa aku telah jatuh kepada MBUI....

MBUI... BANGKIT!

Monday, 22 November 2010

Bu Guru?

Sabtu, 20 November 2010...

Di hari itu aku ada kegiatan BAKPAO (Bakti Sosial Pasca OKK) yang merupakan rangkaian OKK IM FKM UI. Aku tiba di FKM pukul 7 kurang dengan perjuangan cukup berat karena tak ada bikun. Aku juga sempat marah-marah ke Dini. Aku malu, kenapa aku suka sekali marah-marah dan berwajah garang. Aku yakin Dini akan takut dan rikuh padaku mulai saat itu.
Kaos Bakpao telat datang, akibatnya kami pun telat berangkat. Seharusnya pukul 07.00 kami sudah on the way to lacation, tapi faktanya pukul 08.15 kita baru naik truk tronton. Kursi truk tronton yang berlubang itu sangat hebat dalam menyerap air dan membagikannya pada kami sehingga celana kami basah-basahan selama duduk di dalam truk.

Perjalanan menuju desa Sukakarta tidak semulus yang aku bayangkan. Desa itu benar-benar desa. Aku anak desa dan aku bersyukur karena jejalanan di desaku masih lebih baik dibandingkan jalan di desa Sukakerta yang berlubang besar di sana-sini. Jalan ini belum beraspal sehingga becek di musim hujan. Truk tronton melaju dengan goyangan yang asoy akibat kondisi jalan yang oenuh lipatan ini. Serasa sedang bergoyang disco rombongan kami pun dengan seenaknya sendiri mengganti nama desa ini menjadi desa Sukagoyang.

Tiba di desa sekitar pukul 10.40-an. Aku tidak tahu pasti karena tidak sempat melihat jam. Kepala masih bergoyang, mungki efek dari jalan di desa Sukagoyang ini. Haha. Kami bergegas menuju lapangan Madrasah. Madrasah ini ternyata diperuntukkan kelas I hingga kelas IX, jadi SD SMP digabung. Madrasah At Taufiq namanya. Ketua yayasan menyambut kami dengan speech yang berapi-api. Aku tidak mendengarkannya, tapi aku tahu kalau Bapak Ketua Yayasan sedang menunjukkan keungggulan madrasahnya.
Madrasah ini kecil. Lantainya sudah berkeramik, tapi sayangnya kondisi kebersihannya masih sangat buruk. Ada sebuah kulkas tergeletak di dekat ruangan kelas VI. Sepertinya kulkas bekas dan aku bingung kenapa kulkas itu diletakkan di situ. Ruang kelasnya cukup memprihatinkan dengan jwndela yang tinggal lubang tak bertutup. Pintunya juga compang-camping bahkan ada yang tinggal setengah pintu saja. Di sudut lapangan, sebuah tempat sampah terlihat menderita karena tidak bisa memunguti sampah-sampah yang berserakan di sekitarnya. Tempat sampah ini terbuat dari sebuah drum minyak yang dipotong menjadi dua, lalu diletakkan di sudut-sudut lapangan yang berbatasan dengan teras kelas.

Aku termasuk panitia bidang BB (Buku Bermanfaat).Jadwal masuk kami --panitia BB-- adalah setelah giliran intervensi dengan alokasi waktu selama 10-15 menit. Aku bersama Lady dan Tia kebagian kelas IV SD. Kami masuk sekitar pukul 1 kurang. Anak-anak SD ini benar-benar atraktif, aktif, juga anarkis. Mereka sangat terobsesi mendapatkan hadiah. Sebelum kami masuk, anak-anak intervensi mengadakan kuis dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan seputar sarapan, cuci tangan dan lain-lain. Anak-anak SD itu sangat antusias menyambut kuis, terlebih hadiah yang akan didapat cukup menarik. Satu pertanyaan yang masih kuingat adalah "Apa fungsi dari sarapan pagi bagi tubuh?" Hampir semua anak mengancungkan jari. Aku takjub! Waw! Mereka sangat hebat! Pikirku. Terlepas dari keberanian dan antusiasme yang sangat besar dan menakjubkan, jawaban yang keluar dari mulut mereka pun tak kalah menakjubkan ngawurnya. Hahahaha. Masa mereka menjawab nasi, jeruk, pepaya dan makanan-makanan lain. Usut punya usut, anak-anak ini tidak tahu arti dari kata fungsi. Ibu guru mereka yang menyaksikan dari luar jendela berteriak-teriak, "Manpaat! Manpaat! Bukan nama makanannya! Aduh, payah banget sih..." sambil seyum-senyum malu. Ya ampun, ternyata seperti ini aku waktu SD dulu. Pantes guru-guru SD banyak yang mengaku stres menghadapi muridnya. Hahai. Kuis intervensi berjalan lancar, meskipun banyak hadiah yang diberikan dengan terpaksa kepada anak-anak itu. Ya iyalah terpaksa, adek-adek itu pada kagak ngarti maksud kuisnya. Mungkin bahasanya udah terlalu tinggimbuat mereka. Hoho.

Giliran BB yang masuk. Aku, Tia dan Lady yang sudah menunggu cukup lama (sampai aku bosan berfoto-foto dengan Dila) sudah sangat ingin segera menyelesaikan semua ini. Kami di sini hanya memberikan games kacil yang disebut pesan berantai. Tahu kan??? Yang bisik-bisik berantai itu lho... Mengingat anak-anak kelas IV ini masih sangaaat polos dan polos dan polos dan cukup anarkis, kami menyederhanakan kalimat yang memang seharusnya sangat rumit. Kalimat pertama adalah "Susi suka susu sapi segar setiap saat". Dan andai kau tahu, anak-anak ini sama sekali tidak deria layaknya sedang bermain games. Mungkin games yang diberikan terlalu menegangkan bagi mereka. Lama, lama dan lama, sepertinya mereka belum terlalu mengerti dengan mekanisme game. Mereka membisikkan kalimat tersebut atau tidak hanya mereka yang tahu. Karena apa? Karena saat sampai di ujung, si anak paling ujung tidak mampu menyampaikan informasi yang dia dapat. Hahahaha... Si anak hanya diam diam di tempat sambil senyam senyum bingung. Wakakakak, lucu sekali dia. Si anak yang senyam senyum itu dari kubu cewek. Dari kubu cowok, lebih mending karena dia mampu menyebutkan satu kata dengan tepat yaitu, "Susu". Yang lain, entah tercecer di mana. Ngahahahaha....

Kalimat kedua lebih dimudahkan yaitu "Uler bunder-bunder muter-muter di atas pager". Kali ini anak-anak itu lebih antusias dan bersemangat. Mereka pasti sudah memahami alur permainannya. Akhirnya, sampai lagi ke ujung. Para ujungers maju ke depan menghadap ke Tia dan menyampaikan informasi. Perwakilan kubu cowok menjawab dengan lantang dan wajah penuh keyakinan, "Uler muter-muter di atas pohon mangga". Sontak semua orang tertawa. Jauuuh. Mungkin ini anak lagi ngidam makan mangga kali ya? Haha. Sedangkan perwakilan kubu cewek menjawab dengan malu-malu, "Uler muter-muter di atas pager". Tidak ada yang menjawab dengan benar memang, tapi karena kami tidak menjual mangga maka kami memutuskan kubu cewek lah yang menang. Maka hadiah yang dihias sampul kado dan berisi sekotaK MOMOGI itu diberikan kepada kubu cewek. Sebenarnya semua kubu dapat, karena kami telah menyediakan dua hadiah. Jadi setiap orang pasti dapat. Yeeey!

Di luar dugaan! Sebuah aksi dorong dan cakar-cakaran terjadi di tengah masing-masing kubu. Anak-anak cewek langsung menyelinap menuju ke ruang kelas yang terletak di sebelah ruang mentoring intervensi dan games anak BB. Lalu mereka berebut mendapatkan momogi itu. Sepertinya mereka malu-malui berebut di depan umum. Sedangkan anak-anak cowok mereka secara terang-terangan berebut makanan di depan umum. Aksi cakar-cakaran tidak terelakkan lagi. Moment berharga dimanfaatkan dengan baik oleh para paparazzi BAKPAO (baca: seksi dokumentasi). Mereka dengan bahagianya menjepret sana jepret sini, sambil senyam senyum karena mendapat angle yang bagus. BANTUIN NGELERAI ngapa?! Huhuhu.

Tiba-tiba ada seorang adek cewek yang manis mendekati aku dan berkata, "Ibu Ibu! Itu ada yang ngambil dua momogi!" dengan muka bersungut-sungut minta ditegakkan sebuah keadilan. Selama sepersekian detik aku kaget dan mendadak melamun karena dipanggil Ibu... Huwaaa... setua itu kah muka saya?? Belum sembuh dari shock berat, tiba-tiba adek cewek lain melutikku sambil menodorkan sebungkus momoggi. Dia berkata, "Ibu! Ibu! Ini buat Ibu aja, soalnya kita udah dapat semua." Huwaaa.... Serangan kedua. Deg deg! Aku semakin merasa tua! Atau aku emmang terlihat dewasa? Huhu... Aku lalu menjawab dengan muka penuh sweatdrooped di mana-mana, "Oh buat adek saja, dimakan ya..." kuakhiri dengan senyum yang pastinya sangat ambigu.
Di sisi lain, Tia sedang sibuk membagikan momogi kepada adek-adek cowok. Mereka berbaris dengan tidak rapi dan hampir saja ada adek yang menangis karena mendapat urutan paling belakang. Pasti dia takut tidak kebagian momogi. Ckckckck...kasihan!
Tiba-tiba aku teringat pada si adek cewek yang tadi berniat memberikan sebungkus momogi untukku. Aku lalau menemuinya dan dengan muka dimanis-maniskan aku meminta momogi tersebut. "Adek. Tadi kamu kan ya, yang megang momogi dua? Yang satu buat kakak boleh ngga?" pintaku. Dengan senang hati dia memberikan momogi tersebut dan aku tersenyum takjub melihat keikhlasannya itu. Wiew!
Aku berikan momogi itu kepada si adek cowok paling kecil yang baris paling belakang yang kini sudah hampir menangis tersedu-sedu. Cep cep cep! "Ini buat kamu, Dek," kataku sambil menyodorkan momogi. Adek itu menerimanya dengan bingung. Kenapa semua anak di sini bingung? HUff! Aku hanya tersenyum.

TIbba-tiba ada seorang anak yang memanggilku dan betteriak,"Bu Guru! Bu Guru! Dia ambil momoginya dua! Curang dia, Bu!" HUwaaaa.... hampir aku jatuh terlalu kaget, karena dipanggil Bu guru. Untung kondisi lagi fit jadi ngga sampai pingsan, haha. Akhirnya aku mendekati si anak cewek yang imut-imut pengambil dua bungkus momogi. Dia ketakutan mungkin dikiranya aku mau menjitaknya. Lalu aku membujuknya untuk memberikan momogi tersebut kepadaku karena aku akan memberikannya kepada teman mereka yang belum dapat. Dia langsung menyodorkan momogi, tapi aku yakin dia masih ketakutan.

Akhirnya distribusi momogi hari itu berlangsung ricuh dan berakhir bahagia. Ckckckck.... dasar anak-anak! Hahahaha

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...