Showing posts with label Rindah. Show all posts
Showing posts with label Rindah. Show all posts

Thursday, 13 November 2014

Senja Bersama, Merkurius dan Venus (2a)

*Saya mengadaptasi judul cerita ini dari judul cerpen seorang adik angkatan, tentu saja dengan isi cerita yang berbeda.*
*Alur cerita lambat dan mudah ditebak. Jika tidak suka, jangan coba-coba membacanya.*
*Ber-genre drama keluarga. Bukan penyuka cerita drama tidak dianjurkan untuk membacanya.*
*Ini bagian ke-2. Bagian ke-1 dapat dibaca di sini*

Selamat membaca! :D
________________________________________________________________________________________________

Kepingan 2a: Takdir yang Tertukar

Deng. Deng. Deng.

Itu suara jam kayu yang kesepian, berdiri seorang diri di ruang baca. Ia menabuh lonceng, yang menggantung malas di badannya, sebanyak tiga kali. Oh. Sudah pukul tiga sore rupanya. Artinya, sudah satu jam lamanya aku duduk bermalasan di atas kursi lesehan berlengan sambil menonton televisi. Satu menit lagi. Oh tidak. Tiga menit lagi. Aku yakin tiga menit lagi, FTV dengan cerita picisan tentang seorang casanova yang jatuh cinta pada asisten rumah tangganya ini akan segera berakhir. Merasa tertantang oleh diri sendiri, aku mencari-cari pengukur waktu untuk membuktikan dugaanku. Aku menemukan selulerku, kemudian menyalakan aplikasi stopwatch yang ada di dalamnya.

Klik. Menit kosong kosong. Sang casanova kini sedang mengendarai motor besar berwarna merah dengan kecepatan tinggi. Wajahnya hampir seluruhnya tertutup oleh helm full face yang dikenakanya. Hanya matanya yang tampak, menajamkan fokus, tetapi juga mengisyaratkan kegelisahan. Ia sedang terlibat dalam aksi pengejaran, mengejar si asisten rumah tangga yang sudah lebih dulu bertolak dari rumahnya, menuju terminal bus ibukota. Pria ini, dikisahkan baru saja lolos dari pergolakan batinnya sendiri. Akhirnya, ia sadar bahwa ia memang menyayangi si asisten, jatuh cinta tepatnya. Jatuh cinta pada kemampuannya dalam meracik jamu tradisional. Namun, ternyata ia terlambat. Sang asisten rumah tangga terlanjur mengundurkan diri karena berbagai uji, salah satunya patah hati karena sang majikan menuduhnya mencuri. Tertebak sekali.

Menit kosong tiga puluh tiga. Sang majikan casanova berlarian di terminal, mencari sosok asisten yang membuatnya gila hingga mengejarnya ke terminal yang tak ia kenal. Ia tampak berlari dari satu sudut ke sudut lain. Butir-butir keringat bermunculan di keningnya, mengalir hingga ke pipi menyerupai air mata yang memilukan. Ketika ia hampir menyerah dan memutuskan untuk menyeret badannya kembali menuju motor besar, yang entah mengapa diperbolehkan terparkir bebas bukan di tempar parkir seharusnya, si gadis asisten rumah tangga itu muncul dari balik dinding.

Menit satu kosong satu. Mereka bertatapan. Kamera di-setting berputar, mengitari mereka, persis seperti adegan di film india. Tampak, mereka yang tengah berdiri berhadapan terpisah jarak hanya sekitar dua setengah meter. Background  musik ala pop melayu mengalun meliuk, mengiringi prosesi saling pandang mereka yang memakan waktu lebih lama daripada lama pencarian terhadap si asisten rumah tangga tersebut.

Menit dua kosong tujuh. Cklik!

Aku bosan. Aku matikan televisi, yang tengah menampakkan dua orang tengah berdialog panjang, saling mengutarakan penjelasan dan mematahkannya sendiri, itu. Aku menghabiskan satu jam yang berharga untuk menonton kisah cinta klise para anak muda yang alur dan akhirnya sangat mudah ditebak. Aku sendiri pun bertanya-tanya, mengapa aku tetap bertahan mengikuti jalan ceritanya, padahal aku sudah tahu akhir dari kisah cinta pasaran mereka berdua. Mungkin, aku terlalu baik. Seharusnya stasiun televisi swasta itu membayarku atau memberiku bingkisan menarik atas jasaku, setia menonton hasil kerja mereka yang setengah payah, setiap hari.

Drrrrt. "Permisi! Paket! Paket!"

Eh? Apakah mereka betul-betul mengirimkan bingkisan menarik sebagai hadiah untuk para pemirsa baik hati sepertiku? Plak. Aku tampar mukaku dengan halus, berniat menyadarkanku dari kantuk yang mulai membuatku berhalusinasi, hingga tak mampu membedakan dunia drama dan nyata.

"Ya, Mas. Tunggu sebentar," teriakku dari dalam ruang keluarga, tempat yang sama dengan tempatku menonton televisi. Sayup kudengar jawaban "oke" dari teras depan.

Aku berjalan ke arah pintu dengan cepat. Kemudian bergegas membukanya dan tampaklah seorang kurir dengan seragam dan topi bercorak oranye cerah, membawa sebuah kardus kecil di tangannya. Mataku tertuju pada sebuah bentuk familiar yang ada di muka topinya. Eh? Bukankah itu logo sebuah toko online yang sangat rajin beriklan di televisi, youtube, bahkan halte bus sekolah Keke dan Dede? Heee? Siapa yang berbelanja online?

"Ibu, ini paketnya silahkan diterima," kata mas kurir sambil menyodorkan kardus berbentuk kubus, berukuran sekitar 15 cm.

Aku menerimanya dengan ragu. Namun, ini aneh karena si mas kurir tidak langsung pergi. Ia merogoh tas pinggangnya mencari-cari benda yang sepertinya penting. Bonkah? Aku curiga, jangan-jangan paket atau pesanan ini belum dibayar. Ah, orang itu memang keterlaluan. Mentang-mentang aku memotong uang jajan bulan ini, ia ingin membalasku dengan menyuruhku membayar barang belanjaannya yang tidak jelas ini. Betul juga. Ia tidak pernah bilang ia akan membeli suatu barang. Ya ampun. Awas saja, kalau nanti ia pulang.

"Mmm... Maaf, mas..." panggilku. Si mas kurir mendongak ke arahku, kebingungan, karena aku menyodorkan kembali paket, yang baru saja kuterima, kepadanya.

"Kenapa, Bu? Salah alamat, ya?" tanyanya tampak resah. Kepalanya celingak-celinguk untuk memastikan, sepertinya mencari plat alamat, RT/RW, atau nomor rumah, yang mungkin terpaku di salah satu dinding rumahku.

"Hmmm.... Jadi..." jawabku terpotong oleh ia yang tiba-tiba menyambar berbicara dengan cepat.

"Jadi, ini bukan rumah ibu Rindah K. Ihsani? Ini jalan Kenanga Nomor 9A, KAN? RT 2, KAN? RW 3, KAN?" tanyanya membabi buta dengan disertai penekanan pada setiap pengucapan kata 'kan'.

"Hoo... Betul, betul, BETUL," sanggahku tak ingin kalah dengan sedikit menaikkan volume suara. 'Cuma, saya nggak pesan apa-apa di toko online mas, loh. Suami saya juga nggak bilang lagi nunggu paket sesuatu. Jangan-jangan, masnya oknum, ya? Mau menipu dengan modus cash on delivery pesanan toko online? Saya bisa laporin mas ke polisi loh!' dalam hati aku ingin mengatakan hal itu.

Namun, entah mengapa kata-kata yang keluar hanya, "Pesanan ini udah dibayar, mas?" dan ditambah dengan bonus senyuman setengah paksa yang pasti sangat aneh dilihat.

Si mas kurir pun tertawa, lalu menjawab, "Yaelah, si Ibu. Cemas amat. Kirain aye salah alamat. Udah kok, udah dibayar. Toko kami sekarang tidak melayani pembayaran di tempat alias semua transaksi dilakukan melalui transfer. Tenang aja deh, Bu. Ini, ibu tinggal tanda tangan di sini dan aye akan segera pergi."

Melongo. Aku masih mencerna keadaan. Pelan-pelan kutorehkan tanda tangan di atas kertas kuning yang disodorkannya.  Lagi-lagi aku berpikir yang tidak baik, tentang si kurir, tentang si toko online, juga tentangnya, suamiku sendiri. Ya Tuhan. Aku hanya berharap Tuhan memaafkan segala pikiran burukku beberapa saat lalu. Inilah aku, ibu rumah tangga dengan pemikiran setara pemikiran bocah ABG labil. Parahnya lagi, si ABG labil ini terperangkap dalam tubuh dan wajah orang dewasa, berusia tiga puluh satu tahun, dengan dua anak.

Eh? Parah? Ralat. Bukan parah, ini anugerah.

Sebentar, aku potong dulu kisah tentangku. Aku ingin mengantarkan si mas kurir sampai pagar sebagai pengganti rasa bersalahku, menuduhnya melakukan hal yang tidak-tidak.

"Yap! Ini pulpennya, mas. Terima kasih, ya," ucapku sopan kepada si mas kurir.

"Oke, Bu. Lain kali, santai aje ye, Bu, kalau dapet kiriman paket, apalagi dari aye. Sayang loh, gara-gara kebanyakkan mikir, ibu nggak menyadari kegantengan muka aye." balasnya, panjang lebar, dengan logat betawi yang kental.

Aku kembali tersenyum setengah terpaksa. Si mas kurir melangkah pergi, keluar dari pagar. Sendirian, karena aku membatalkan niatku untuk mengantarnya hingga ke pagar, setelah mendengar guyonan tidak lucu darinya. Entah mengapa, timbul sedikit rasa sebal akibat perkataannya. Bukan karena ia mengucapkan kata-kata sedikit tidak sopan, melainkan karena ia menerkaku, menyebutku sebagai orang yang terlalu banyak berpikir.

Namun, jika dipikir-pikir, ia tidak salah. Ia mengatakan fakta. Aku memang memiliki kebiasaan berpikir kejauhan. Payahnya, wajahku tidak pandai berekspresi dan aku pun tidak mampu bersembunyi di balik ekspresi palsu ketika aku sedang berpikir. Akuarium. Teman-teman lamaku memanggilku akuarium karena kebiasaanku ini. Orang lewat pun dapat mengetahuiku sedang berpikir bahkan menebak isi pikiranku dengan hanya melihat ekspresi wajahku.

Setelah memastikan si mas kurir telah betul-betul pergi, aku menutup pintu depan dan melangkah ke dalam rumah, membawa serta paket tersebut. Aku memilih kembali mendudukan diri di ruang keluarga. Keke dan Dede tengar tidur siang dengan beralaskan kasur lantai, di sampingku.

Kulirik selulerku, ternyata baru jam tiga lewat tujuh. Mereka baru tidur selama lima puluh menit. Aku bisa membuat mereka terbangun, jika aku membuka paket ini di sini.

Akhirnya, aku meninggalkan mereka yang masih tidur dengan lelapnya, meski terkadang tanpa sadar aksi saling tendang terjadi di antara keduanya. Langkahku berhenti di sebuah ruangan berukuran 4x4 meter, berbingkai rak-rak buku di tiga sisi, yang baru setengahnya terisi. Di tengahnya, ada dua meja: satu meja besar yang lebar dan satu meja kecil nan pendek. Di kedua sisi masing-masing meja, tersembunyi sepasang dudukan kursi berlengan.

Ini adalah ruang baca kami. Tempat favoritku ketika sedang ingin berkarya, tempat belajar paling disukai anak-anak, juga tempat yang paling sering dikunjungi olehnya setiap harinya. Jika kata orang rumah adalah sebuah istana, maka ruangan ini adalah istana dalam istana itu sendiri, baginya.

Ruang baca. Ini tempat yang cocok dan nyaman untuk melakukan aksi penggeledahan terhadap paket ini. Namun, sepertinya aku tidak perlu menggeledahnya karena paket ini memang dialamatkan untukku. Ada nama lengkapku, bahkan nama belakang suamiku dalam catatan penerimanya.

Kutarik penyangga salah satu kursi besar dan segera kududuki tanpa pelan-pelan. Tiba-tiba aku menjadi tidak sabar, terlalu ingin tahu benda apa, yang kemungkinan besar pengirimnya adalah ia. Aku melepas bungkus paket itu dengan sangat hati-hati, tidak ingin membuatnya terkoyak dan tampak tidak rapi. Jika bungkus paket ini berantakan dan rusak, aku tidak dapat membungkusnya lagi. Hanya berjaga-jaga.

Jantungku tetiba berdebar, ketika aku mulai menarik selotip yang menyatukan kedua penutup mulut kardus. Apakah ini sesuatu yang sangat indah atau mahal? Mengapa kardusnya terlihat lucu? Apakah toko online itu juga menjual berlian? Apakah hari ini ulang tahunku? Ulang tahun pernikahan? Satu per satu pertanyaan kekanak-kanakan muncul dalam pikiranku.

Kejutan. Ini adalah kejutan. Sekarang aku yakin, paket ini pasti darinya. Ia tahu bahwa aku sangat menyukai kejutan dan apa ini? Sebuah benda berbentuk balok terhidang di dalam kardus. Aku memungutnya, memperhatikan detail di setiap sisinya, dan aku pun terlonjak.

Ini seperti pernah terjadi. Ia pernah memberiku benda ini, dulu. Dulu sekali. Tidak betul-betul memberikan benda itu untukku sebetulnya. Di lihat dari sisi mana pun, benda ini sangat mirip dengan yang dulu. Merk, desain, motif, bahkan warnanya.

Apa maksud ia memberiku ini?

Apakah ia ingin aku mengingat sesuatu? Ia betul-betul lucu. Aku tidak perlu mengingat apa pun karena aku tidak akan pernah melupakan apa pun. Tidak, kecuali aku mengalaminya tidak dengan bersamanya.

*****
Akhir Desember, 1998. 
Ini adalah malam Minggu yang paling membahagiakan bagiku karena lusa adalah tahun baru. Libur dua hari berturut-turut seperti ini adalah hal langka yang diidam-idamkan oleh banyak orang, tak terkecuali aku. Terlebih, karena aku tidak perlu berjumpa dengan Senin yang menjengkelkan di mana ada pelajaran olah raga di hari itu.

Aku sudah menyusun segunung rencana yang akan kulakukan untuk menghabiskan libur dua hari ini dan tentu saja tidak sabar menanti datangnya esok pagi. Mataku sampai-sampai tak mau terpejam. Keduanya menerawang ke langit-langit kamar, samar-samar membayangkan apa saja yang akan aku lakukan besok. Siluet abu-abu dan putih tergambar jelas dalam bayanganku, menari-nari di atas hamparan pasir yang tersapu ombak kemilau. Aku sangat merindukan pantai.

Aku sendirian di rumah. Dua hari ini ayah, bunda, Rindy, dan Namira akan menginap di rumah tante Sherry, yang baru saja melahirkan anak laki-laki keempatnya. Mereka tidak curiga kepadaku, ketika aku menolak untuk ikut dengan alasan lutut kiriku, yang dioperasi tahun lalu, terasa lebih lelah dari biasanya. Tentu saja aku mengarangnya karena sebetulnya, selepas operasi itu, kakiku sama sekali tidak pernah bermasalah. Aku terpaksa berbohong kepada mereka karena hanya itulah satu-satunya cara agar aku dapat bermain dengan tenang.

"Riiindaaah! Hey, apa kau di rumah?"

Siapa? Sepertinya aku tidak mengundang siapa pun untuk datang ke acara selamatan. Tunggu, sepertinya selamatan itu diadakan di rumah Tante Sherry, bukan di sini. Lagipula, mengapa ia berteriak-teriak memanggil namaku seperti itu? Aneh. Aku seperti mengenali suaranya, jika saja tanpa serak.

"Hey! Rindah! Aku tahu kau di rumah. Tadi sore aku melihat semua anggota keluargamu pergi dengan carry coklat ayahmu. Mereka pasti akan pergi ke rumah Tante Sherry, paling tidak untuk tiga hari. Dan aku yakin pasti kau telah berbohong kepada mereka dengan berkata lututmu bermasalah agar kau diperbolehkan untuk tidak ikut, bukan?" teriak suara yang berasal dari halaman samping itu.

'Sial! Itu pasti Dewa!' batinku. Bagaimana mungkin aku tidak mengenali suaranya. Ada apa dengan suaranya? Aku harus segera membungkamnya sebelum mbak Uci menyadari makna teriakannnya dan melaporkannya kepada ayah.

"Hey, Rindah!" teriaknya lagi. "Lama sekali, apa kau tak takut kalau mbak Uci..."

Ckrkk. Suara pintu samping yang kubuka berhasil membuatnya diam. Aku memberinya pandangan kesal, meskipun dalam hati aku sebetulnya tengah terheran-heran karena ia selalu dapat menebak apa kupikirkan.

"Apa kau tidak bisa sedetik saja membuat mulutmu diam, Wa? Sepertinya lain kali aku harus menyumpalmu dengan kaus kaki Namira. Dan kau tahu Dewa apa akibatnya, jika mbak Uci tahu dan melaporkannya kepada Ayah. Aku tidak main-main dengan perkataanku saat itu. Mengerti???" jawabku sewot. 

Aku sangat sebal dengan sifat kekanak-kanakannya. Tahun ini, ia berumur 14 tahun, tapi tingkahnya masih sama seperti 5 tahun yang lalu, ketika kami pertama berkenalan. Kuduga, tingkah kekanak-kanakkan inilah yang membuatnya tak pernah sekali pun disukai seorang gadis di sekolah, meskipun ia sangat pintar. Ini membuatnya tampak memperihatinkan. Ah, aku melantur.

Dewa tak begitu mendengarkan perkataanku. Sesekali ia menguap lebar dan menggaruk-garuk kaki kirinya, yang kutebak tidak gatal sama sekali, dengan kakinya yang lain. Ia memang selalu seperti itu, menyebalkan. "Ya, Nyonya? Sudah selesai pidatonya, ibu negara?" lagi-lagi ia mengucapkannya. Ia memang selalu menjawabku dengan kata-kata itu. Dan aku hanya menjawabnya dengan mengangkat bahu atau memutar bola mataku. 

Aku akhirnya mempersilahkan ia masuk. Lebih tepatnya, ia sendiri yang memperilahkan diri masuk, dengan mendorongku ke samping pintu sehingga ia dapat melompat masuk dengan gerakan yang tidak terlihat lucu sama sekali.

"Hey, dengar! Kau sudah besar, bocah! Perhatikan perubahan suaramu. Kau tidak pantas bersikap seperti bocah lagi. Mengerti?" Entah mengapa tiba-tiba aku mewujudkan kekesalanku menjadi kenyataan.

Dia terbelalak dan berhenti melompat-lompat. 

Satu, dua, tiga detik, dan ia pun tertawa terbahak-bahak, "Buahahaha... Tentu saja aku bukan bocah lagi. Menurutmu siapa yang lebih bocah di sini? Aku atau kau, bocah?" jawabnya sambil tertawa mengejek. Sombongnya kambuh, ia mulai membanggakan suaranya yang kini memang terdengar lebih berat dibandingkan dua bulan lalu.

Aku dapat merasakan panasnya amarah merayapi pipiku. Memang untuk beberapa hal, aku lebih kekanak-kanakkan daripada dia. Namun, ini bukan berarti bahwa ia lebih dewasa dariku. "Tentu saja kau yang lebih bocah karena aku satu tahun lebih tua darimu, bocah!'

"Sepuluh bulan, dua puluh lima hari tepatnya! Itu belum genap satu tahun, Ndah!" jawabnya meralat kalkulasiku.

"Ya! Tapi sudah beda tahun lahir. Itu sama saja," tentu saja aku tak mau mengalah.

"Jelas berbeda, Rindah. Lagipula, bukankah kita berada di tingkat yang sama? Wah! Apa ini artinya? Jika bukan karena aku yang terlalu pintar, pasti karena kau begitu bodoh. Apa kau pernah me-ngu-lang kelasmu selama satu tahun, Ndah? Hahahaha..."

"STOP, Dewa! Kau mulai mengusik topik ini lagi. Aku tidak suka, INGAT?!! Bertingkahlah sesuai umurmu, Dewa!" akhirnya emosiku meledak. Sekarang aku yakin, aku dapat membuatnya merasa bersalah karena sekarang ia terlihat menundukkan kepalanya. Mungkin saja sekarang matanya berkaca-kaca atau malah mungkin sudah mulai basah? Ia memang jail, tapi juga sangat sensitif dan sangat benci dibentak. 

Tiba-tiba, seperti muncul suatu energi dari dalam diriku yang menonjok perasaanku. Apa aku sudah keterlaluan padanya?

Aku mendekatinya, merendahkan tubuhku agar dapat sedikit mengintip wajahnya dan tiba-tiba, ia berteriak dengan sangat keras "BRAAH!!! Ya, nyonya? Ada yang bisa saya bantu?" 

Ia melompat ke depan, ke arahku yang tengah memperhatikannya dengan cemas, membuatku terkaget dan terjengkang ke belakang. Tentu saja ia hanya tertawa terguling-guling di sofa menyaksikan posisi dan ekspresi wajahku yang tengah memancarkan aura marah, cemas sekaligus terkejut. 'Aku menyesal mengkhawatirkanmu, Wa!'

"Ya! Ada! Tinggalkan aku sendiri, kecuali kau ada urusan penting denganku atau memberiku SESUATU MENARIK yang baru!" jawabku akhirnya, begitu acak. 

Namun, sepertinya, ini berhasil membungkamnya. Kulihat ekspresi wajahnya berubah. Ia sudah berhenti tertawa dan mengalihkan segala fokus perhatiannya pada tangannya yang tengah mengorek-orek satu per satu saku-saku celana longgarnya.

"Aha! Aku punya ini, Ndah!" sebuah benda tiga dimensi, berbentuk persegi panjang, tetiba muncul di depan mataku. Aku tak cepat mengenali benda itu. Terlebih karena benda ini terpoles warna silver jernih, memantulkan cahaya yang masuk melalui ventilasi pintu kamar Rindy yang setengah terbuka. Silau dan aku membutuhkan setidaknya lima detik untuk mengenalinya dengan baik.

"HARMONIKA!?" teriakku seketika. Kurebut benda itu. Kuputar-putar sembari mengamati setiap detailnya. Aku selalu tertarik dengan setiap alat musik yang dibawanya, begitu pula dengan harmonika ini. Ini pertama kalinya aku melihat dan menyentuh harmonika dengan indra perabaanku sendiri. Ia tampak begitu kaku, mengkilat dan misterius.

"Kau suka? Rindah?" tanya Dewa memotong aktivitasku yang tengah terbengong-bengong mengamati sebuah benda mungil di genggamanku.

"Lumayan," jawabku singkat dan datar. Tentu saja aku sangat menyukainya. Aku sangat menyukai setiap benda-benda yang bersuara, bahkan jika benda itu hanyalah atap teras belakang, yang bersuara ketika diterpa reruntuhan hujan. Atau sekadar suara teko teh Bunda, yang bersiul dengan nada tinggi di setiap pagi. Aku sangat menyukai mereka, meskipun Ayah sangat tidak suka ketika aku bilang aku menyukai musik.

Aku mengalihkan pandanganku dari harmonika itu kepada Dewa. Aku ingin sekali mengatakan terima kasih. Namun, aku tidak ingin membuatnya besar kepala dan mungkin... aku terlalu gengsi untuk mengapresiasi seseorang yang lebih muda dariku. Apalagi jika orang itu adalah Dewa.

"Sama-sama," kata Dewa tiba-tiba.

"Apa? Aku tidak mengatakan apa-apa," protesku.

"Yeah, tapi matamu mengatakan segalanya, Ndah!" jawabnya dengan cekikikan.

"Oke, baiklah. Terima kasih, Dewa!!!" ucapku datar, akhirnya, masih tanpa memandangnya. Seluruh perhatianku seolah hanya dapat tercurah untuk benda di tanganku ini.

"Oke, tak usah memaksakan. Ayo mulai rekaman!" katanya sambil mengeluarkan alat perekam.

"Ehh? Jadi, lagi-lagi ini bukan untukku?" jawabku, pura-pura kaget.

Entah mengapa, kali ini, justru Dewa yang sepertinya menampakkan keterkejutan. Alisnya mengendur, air mukanya menampakkan kesalahtingkahan. "Apa kau sangat mengingkannya, Ndah? Maaf. Aku tak bisa memberikanmu yang ini juga. Aku hanya, yeah... kau tahu, kan? Menerima apa yang diberikan oleh Papa... dan tentu saja meminta tolong padamu untuk memainkannya... dan aku akan merekamnya... dan menunjukkannya ke Papa ketika ia pulang... dan... "

"Hahaha, iya, boy! Aku hanya bercanda, tentu saja! Aku juga tidak mungkin menyimpannya untukku, di rumah ini. Jika Ayah menemukannya, ini bisa berbahaya. Kena kau, Dewa!" kataku. Geli sekali melihatnya bertingkah salah tingkah dan lucu seperti itu.

Semenjak kepindahan keluargaku ke kota belimbing ini, lima tahun lalu, aku telah berteman akrab dengan Dewa. Dari sinilah aku mengenal dan menyukai musik. Dewa sangat pandai dan tahu banyak tentang musik, tapi tidak untuk memainkannya. Ia pandai sekali mengulang apa yang diajarkan ayahnya, tapi tidak mampu mengaplikasikannya. 

"Terkadang aku penasaran, mengapa takdir kita seperti tertukar," katanya tiba-tiba.

Aku diam, tidak memiliki jawaban yang cukup baik untuk kuberikan padanya karena diam-diam aku pun sebetulnya sering menanyakan hal yang sama.

"Hey, ayolah! Kita sudah terlalu sering membicarakannya. Aku bosan. Sekarang, aku sudah tidak sabar untuk mencoba harmonika ini. Ini alat musik tiup pertama yang kau perlihatkan kepadaku, Dewa. Ayo kita ke tempat itu!" jawabku sembari menariknya ke sebuah tempat.

Ia hanya diam dan menurut. Aku tahu ia tengah memikirkan hal itu. Ia pasti akan bersedih setelah ini dan aku tidak suka melihatnya bersedih.

"Dewa. Kau mau ikut ke pantai denganku?" ajakku, spontan.

"Kapan?" tanyanya.

"Besok pagi. Kita langsung berangkat setelah subuh. Tidak boleh telat, karena ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang," jelasku.

"Oh begitu," jawabnya datar. Aku menoleh padanya, berharap memperoleh tambahan jawaban. "Baiklah, saya akan ikut, jika Nyonya memang memaksa," imbuhnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak ada yang memaksamu untuk ikut, bocah!" timpalku ketus. Namun, sebetulnya aku lega. Ternyata, ia baik-baik saja.


*****
Lima belas tahun yang lalu, di tanggal yang sama, ia, suamiku, Dewa, memperlihatkan harmonika yang sama rupa dengan harmonika di hadapanku saat ini. Ternyata, paket dari toko online itu berisi harmonika ini. Kejutan darinya ini membuatku teringat pada hari itu. Kata-katanya di hari itu, kembali terngiang.

"Terkadang aku penasaran, mengapa takdir kita seperti tertukar."

Jika diingat-ingat, waktu itu ia memang tengah mengalami masa yang berat. Masih 14 tahun umurnya saat itu, tetapi ayahnya mulai menggantungkan harapan padanya. Ia, memiliki seorang ayah yang berprofesi sebagai seorang konduktor dan pemain musik, dengan spesialisasi piano. Beliau juga mengajar musik di sebuah universitas swasta di Jawa Barat, kalau aku tidak salah ingat. Selain itu, beliau adalah pendiri Four Seasons Orchestra. Sebuah orkestra yang secara rutin mengadakan pertunjukan di setiap tengah musim, di empat negara berbeda. 

Ayahnya, menginginkan atau lebih tepatnya menganggapnya memiliki bakat yang sama dengannya. Namun, ternyata bakat itu tidak diwariskan secara genetik kepada Dewa kecil. Ia sama sekali tidak mampu memainkan alat musik apa pun, bahkan terbilang sangat payah untuk sekadar membunyikan solmisasi dengan benar. 

Inilah yang membuatnya memintaku untuk memainkan alat-alat musik, yang diberikan oleh ayahnya sejak ia berumur 11 tahun. Alhasil, ia terbiasa "menggunakanku" untuk memainkan alat-alat musiknya itu. Awalnya, ia mengajariku bagaimana cara memainkan alat-alat musik tersebut, menuntunku hingga mampu memainkannya dengan mahir. Selanjutnya, ia akan merekam permainanku dan memperdengarkan hasil rekaman itu kepada ayahnya. 

Kami berdua sama-sama pembohong cerdik yang menikmati setiap kebohongan yang kami lakukan. Kami tahu, ini adalah dosa. Namun, kami juga masih belum bisa menerima takdir kami. Aku dengan larangan ayahku dan ia dengan tuntutan dari ayahnya. Kebohongan besar ini, justru membuatku begitu bahagia menerima "permintaan bantuannya", pun dengannya yang juga begitu bahagia dapat "menggunakanku".

Lalu mengapa ia nekad memintaku? 

Aku bukan orang seperti tokoh fiksi August Rush, yang sangat jenius dalam bidang musik, hingga mampu mengarang dan mengaransemen lagu tanpa mengikuti sekolah musik. Aku juga bukan orang yang terlahir dengan bakat musik, yang dapat memainkan setiap alat musik meski baru pertama kali menjumpainya. Namun, menurutnya aku dapat menerka nada dengan baik, setidaknya jika dibandingkan dengannya. 

Setelah bertemu dengannya, aku menyadari bahwa aku memiliki ketertarikan diam-diam terhadap musik. Sayangnya, aku memiliki seorang ayah yang sangat tidak menyukai musik. Bahkan untuk sekadar mengucapkan do-re-mi dengan nada flat di depannya, aku tak berani. Hingga saat ini, aku tidak tahu pasti alasan ayah begitu membenci musik dan aku tidak berani menanyakannya. 

Saat aku dan Rindy seusia Keke dan Dede, kami tidak pernah bernyanyi bersama ayah. Ayah pasti pergi, melenyap tanpa jejak ketika salah satu dari kami mulai bernyanyi. Beruntung, kami sudah besar ketika Namira, adikku, lahir. Ia tidak perlu kesepian ketika bernyanyi, karena ada aku dan Rindy yang menemaninya.

"Ibuuu!!! Huweee. Ibu di mana?" terdengar sebuah suara cempreng disertai rengekan tangis yang dibuat-buat membuatku terkaget. Aku terbangun dari lamunan tentang kenangan masa kecil, lima belas tahun lalu. Itu suara Dede. Ia pasti bangun karena terkaget. 

"Ibuuu, Dede berisik! Aku udah bilang ibu ada di rumah, tapi ia tetap nangis!" kata Keke yang sudah menemukanku di ruang baca dan segera berlari ke pangkuanku. Tangannya mengucek matanya yang terlihat merah. Sepertinya ia masih mengantuk.

"Ya. Dede di mana sekarang?"

"Nggak tahu, deh. Keke ngantuk, mau tidur lagi," jawabnya sekenanya, tak memberiku petunjuk. Ia berjalan ke pojok kanan ruang baca, ke arah sebuah karpet berbulu, berukuran satu setengah meteran yang memang sengaja kutata dan kuletakkan di sana.

"Keke, kok nggak sopan begitu jawabnya. Kebiasaan, deh. Jangan tidur di... Eh? Sudah tidur lagi? Telat," kataku, ternyata pada diriku sendiri. Sepertinya Keke memang belum betul-betul bangun ketika ia mendatangiku. Ia tidur seketika, begitu badannya menempel di karpet. Dasar bocah ini, persis sekali ayahnya.

Aku menggendong Keke dan memindahkannya ke kamar berdinding kuning pastel milik si kembar ini. Ternyata, Dede juga ada di dalam kamar itu. Ia meringkuk di atas kasurnya sendiri yang berada di pojok dalam. Posisinya membelakangi arah pintu. Namun, aku dapat melihatnya tengah memeluk boneka Naruto, tokoh animasi kesukaannya. Aku tidak mendengar suaranya dan dapat kulihat punggungnya bergerak pelan. Sepertinya Dede juga sudah kembali tertidur.

Keke tak terusik sedikit pun, ketika aku merebahkannya di atas kasurnya yang bernuanasa ungu lavender. Kurapikan posisi kaki dan kepalanya agar tidak kaku ketika bangun nanti.

Setelah selesai dengan Keke, aku berjalan ke arah Dede yang memang betul-betul sudah tertidur dengan mulut terbuka. Lelap.

Jadi, apa itu barusan? Mereka betul-betul bangunkah atau hanya mimpi sambil jalan? Dasar bocah. Jam dinding burung hantu di kamar mereka menunjukkan pukul 3.20.

Baru beberapa menit aku melamun di ruang baca. Namun, rasanya seperti baru saja melakukan penjelajahan waktu hingga belasan tahun. Mungkin, ini yang menyenangkan dari sebuah kenangan. Ia dapat membayar kerinduan, juga menyajikan kembali rasa dan sensasi yang sama seperti saat ketika mengukirnya.

Drrrrt. Drrrrt.

"Ada pesan?"

Belum sampai tanganku meraih selulerku, jendela pop up terhidang di layarnya, menghidangkan sebuah pesan, 'Ibu, sepuluh menit lagi ayah sampai. Jangan terlalu merindukanku, ya!'

Ish. Pesan macan apaan ini. Eh? Sepuluh menit? Gawat. Aku lupa. Ia bilang bahwa hari ini ia akan pulang cepat. Kupandangi seisi rumah. Kuingat-ingat beberapa hal dalam daftar pekerjaan soreku. Aku belum menyiapkan air dan menu makan malam. Rumah masih berantakan. Aku bahkan belum jadi belanja ke minimarket. Keke dan Dede tidur, aku tidak bisa meninggalkan mereka. Belum lagi paket di ruang baca masih berserakan.

Aduh. Aku sedang tidak siap dikomentari. Apakah aku harus meminta bantuan si kembar lagi? Baiklah. Sepertinya, aku akan berpura-pura ikut tertidur ketika menidurkan si kembar.



*****


(bersambung)

Thursday, 24 April 2014

Buku Harian Rindah (1)

Awal Minggu Ke-4 April 2014

Sudah? Kau hanya mengatakan itu saja, lantas pergi?

Kau tahu, aku sangat senang dapat melihatmu. Kau datang sesuai janjimu. Kau membawakanku satu buket bunga, berisi amarilis dan berjumlah tujuh tangkai. Ketujuhnya berwarna putih. Dari kejauhan, kukira kau membawa bunga lili putih. Aku sangat senang melihatnya. Namun, ternyata kau membawakanku amarilis putih bersih yang sangat kusuka dan ini membuatku lebih dari sekadar sangat senang.  Siapa yang menyangka bahwa kau masih mengingat bunga kesukaanku? Selalu ada hal yang menarik dari seorang jenius memang. Aku akan menyimpan bunga-bunga itu dengan baik. Semoga dia dapat bertahan lama, lebih lama dari sekadar "selamanya".

Dewa, apakah aku pernah bercerita padamu bahwa setiap bunga di dunia ini memiliki arti? Atau malah, aku pernah menceritakan padamu bagaimana awal mula kelahiran bunga amarilis berdasarkan mitologi Yunani? Aku penasaran, apakah hal-hal semacam ini cukup penting untuk kau ketahui. Namun, mungkinkah kau tahu mengapa aku menyukai bunga ini? Ini karena aku merasa aku terlalu mirip dengan si dewi dalam mitologi tersebut, yang menjelma menjadi bunga ini, meskipun aku tidak ingin memiliki akhir hidup yang sama dengannya. Aku tidak ingin menusuk jantung hatiku sendiri untuk membuat satu-satunya orang, yang mengisinya, mengisi hati ini, menyadari betapa besarnya kasih dan cinta untuknya, yang telah dia jaga dengan susah payah dalam diamnya suara, dalam dalamnya tatapan, dalam dinginnya perhatian.

Meski kau telah menepati janjimu untuk datang, tapi aku tidak merasakan kehadiranmu sepenuhnya ada bersamaku, wahai Dewa. Aku dapat membaca senyummu, senyum yang kau berikan merupakan senyuman yang berhiaskan isyarat kasihan. Aku dapat membaca kerutan dahimu, kerutan yang hanya akan muncul ketika kau menyembunyikan sesuatu. Aku dapat menghirup aroma jaketmu, aroma tidak harum hasil perpaduan antara material-material praktikum dan parfum yang sama, yang kau pakai sejak tujuh tahun lalu, tetapi tidak cukup mampu untuk menutupi aroma kerja kerasmu kali itu. Aku mendengar pembicaraanmu dengan pembimbingmu dalam telepon itu, meskipun kau telah berusaha menyembunyikannya dengan beralasan akan membeli es serut tropicana fruit di kedai Abah Ali. Aku dapat menerjemahkan isyarat matamu, yang hanya memandangku sesekali dalam sepuluh menit, yang terlalu sering menjadikan layar bioskop sebagai lawan bicaramu. Aku dapat membacamu... Aku dapat melakukannya, karena kita sudah saling mengenal selama sepuluh tahun. 

Apakah dia, Dewa ini, semakin bodoh dalam menyembunyikan kegelisahan dan isi pikirannya? Satu-satu kebodohannya adalah dia tidak tahu kalau aku dapat membaca setiap detil tingkahnya.

Aku, merasa sangat berdosa karena membuatmu yang tengah sangat sibuk datang menemuiku. Aku merasa telah menunda kesuksesanmu karena telah meminta satu harimu untuk dihabiskan dengan melakukan hal-hal kekanak-kanakan yang kuminta. Dewa, apakah aku orang yang sangat tidak baik... untukmu? Dewa, maafkan aku.

_________
Rian, apakah aku harus menceritakan setiap hal kepada mereka berdua? Aku masih tidak tahu bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan mereka. Aku tidak yakin mereka akan mengerti. Rian, aku sedang tidak ingin membahas tentang mereka.

Kuha, sepertinya aku memang terlalu bergantung pada Dewa. Suasana hatiku bergantung pada suasana hatinya. Semangatku bergantung pada semangat dan dorongan darinya. Segala hal yang kupilih untuk kujalankan bergantung pada segala hal yang terjadi dan telah dijalankan olehnya. Padahal, aku tidak merasa dia terpengaruh olehku atau dengan kata lain tidak sering terpikirkan aku dalam setiap langkahnya. Aku iri dengannya yang dapat mengendalikan hidupnya sesuai keinginan dan pilihannya. Kukira aku mulai percaya dengan apa katanya, bahwa sukses adalah pilihan. Apakah kebergantungan ini terjadi mungkin karena aku lebih memilih Dewa dibandingkan sukses itu sendiri sehingga aku seperti ini? Kuha, apakah aku memang menyukainya... Uhn, oke... ini baru satu setengah bulan sejak aku memutuskan untuk mengambil keputusan untuk tidak menyukainya, lebih dari suka terhadap kawan?

___________

Hari kunjungan Dewa saat itu, diakhiri dengan tolehan sembilan puluh derajat darinya. Di atas motor besarnya, sebelum dia pulang, sembari memutar arah motornya menuju jalan setapak sempit itu, dia menoleh padaku. Aku menghadiahinya dengan lambaian sampai jumpa. Namun, dia hanya tersenyum dingin dan berkata, "Sudah?!" Kata pertama dan terakhir yang kudengar selama tujuh jam kebersamaan kami berdua di weekend itu. Kemudian, dia mengegas sepeda motornya menjauhiku yang berdiri mematung di tempat sembari mengawasi kepergiannya. 

'Bukankah ini adalah weekend yang sangat dingin?' batinku.

Tiba-tiba, sepeda motornya menghilang dari pandangan dalam tiga detik dan semuanya menjadi gelap.

Aku terbangun di sini, di ruang perawatan rumah sakit di tempat yang tidak tahu ada di mana karena kami berpisah di suatu tempat yang tak kukenali dengan baik karena menurunnya kesadaranku. Ternyata, kesadaranku yang tiba-tiba menghilang, bukan sepeda motor Dewa. Aku mengetik ini segera setelah terbangun. Kata suster, tekanan darahku sangat rendah dan maag kronisku semakin buruk....dan aku tidak bertanya lebih lanjut tentang yang lain, haha. Sekarang dia sedang menyiapkan makanan "spesial" untukku. Aku hanya mampu menulis sampai sini karena aku takut dia segera datang dan memarahiku karena tidak menuruti perkataannya. Uhn...aku yakin sebentar lagi Rindy akan datang karena suster bilang bahwa pihak rumah sakit telah menghubungi pihak keluargaku dan pasti itulah Rindy, karena aku masih belum menyimpan nomor ayah dan ibu. 

Oke, sudah dulu Rian dan Kuha... 
Aku menyayangi kalian! :)

Thursday, 17 April 2014

Surat Panjang untuk "Kau yang Berjanji Akan Datang"

Hahahahaha... Apa kau begitu mencemaskanku? Baru sekali ini, kau tidak tampak cool sama sekali. Suratmu terlihat begitu kacau dan cerewet! Kau mengingatkanku pada adikmu, Ambalika. Ngomong-ngomong apa kabarnya? Bagaimana ujian akhirnya? Aku harap dia dapat mengerjakannya dengan baik, lulus dengan nilai yang sempurna sepertimu, dan segera menyusulmu ke UI. Uhn... Aku penasaran, apakah dia masih setia dengan cita-citanya menjadi seorang arsitek. :D

Terima kasih, Dewaaa... Aku merasa begitu diperhatikan. Ternyata, masih ada orang yang perhatian kepadaku, eoh? Aku sangat senang memiliki teman (?) sepertimu. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan kau lakukan padaku, jika ternyata apa yang kukatakan dalam suratku yang kemarin adalah bohong. Ahahaha. Aku bohong, Wa! Aku bohong, jika aku bilang bahwa aku tidak sakit. :') 

Baiklah, aku ulangi. Ini bukan hipokondria. Dokter Rizki tidak mungkin salah mendiagnosis karena dia sudah mengangani mungkin ratusan pasien dengan penyakit yang sama denganku. Dia bilang, penyakitku ini masih stadium awal. Artinya, ginjalku belum sepenuhnya gagal bekerja. Dokter Rizki juga memujiku, tepatnya kepekaanku, menyadari tanda-tanda ini dari jauh hari. Jika telat sedikit, ini akan menjadi semakin sulit untuk ditangani. 

Dia mengatakan banyak hal, tapi aku hanya mengingat beberapa. Setidaknya, menurutnya aku masih bisa diselamatkan. Aku masih bisa memperlambat perkembangan penyakitku, jika aku patuh dengan dietku. Dia memberiku beberapa obat dan aku harus meminumnya dengan teratur. Aku harus mengunjunginya setiap minggu untuk memastikan bahwa aku benar-benar menurutinya dan tidak berbuat macam-macam. Dia juga memberiku daftar menu makanan secara detail. Aku tidak boleh lagi makan makanan berlemak terlalu banyak. Artinya, aku tidak bisa makan Jumbo Steak bersamamu lagi, mungkin. Aku juga harus mengatur jam dan asupan giziku. Takaran karbohidratku harus sama di setiap porsi makanku. Buah-buahan pun, tidak semua buah boleh kumakan. Aku tidak boleh makan tomat dan sayur bayam, juga pisang yang sangat aku sukai. Dan masih banyak lagi. Uhn...intinya, kau tidak usah repot-repot mengirimkan list menu diet untukku, seperti katamu. Dokter Rizki dan petugas gizi di sini jauh lebih mengerti dari pada kau. Dan tentu saja aku akan patuh karena aku tidak ingin cepat mati. Aku ingin membuktikan padamu bahwa hidupku memang berharga. Oh, iya... tentang donor itu, aku hanya mencoba cari-cari. Hehe... Mungkin beberapa tahun lagi aku akan memerlukannya. Aku akan segera memberitahukan tentang penyakit ini kepada ayah dan ibu, ketika aku sudah sembuh, Wa. (Kapan, ya? Hahaha)

Aku sudah pindah rumah kontrakan. Aku sekarang kost, Wa. Tidak jauh dari kontrakan yang dulu alias masih dalam kota Bandung. Hanya berjarak sekilometer mungkin? Namun, aku yakin rumah kost-ku yang sekarang jauh lebih dekat dengan kontrakanmu di Depok sana, hahaha. Jadi bisa kau simpulkan kan, Dewa yang jenius, bahwa alasanku untuk pindah bukanlah karena aku ingin berdekatan denganmu, tidak seperti yang kau pikirkan. Jangan-jangan kau sendiri yang mengaharapkan aku mendekatimu? Mengaku sajalah... 

Oia, di rumah kost-ku yang baru ada seorang koki. Aku tidak memilih rumah kost ini sembarangan. Aku sudah berkeliling mencari rumah kost yang dekat dengan kampus dan memilki koki yang mau memasakkan menu dietku dengan tepat takaran dan kandungannya. Hanya kost inilah yang menyediakannya dan menyanggupinya. Aku bersyukur sekali untuk ini. Nama kokinya adalah Pak Rahman. Dia mantan koki di Rumah Sakit Sardjito. Dia memang sudah tidak muda. Usianya sekitar 60 tahunan, kuperkirankan. Namun, dia sangat berpengalaman dalam hal menyiapkan menu makanan penderita penyakit dalam. Masakannya juga sangat enak, meskipun menyesuaikan menu dietku.

Aku tidak ingin membicarakan tugas akhirku dan jangan pernah kau bertanya tentangnya kecuali aku yang menceritakannya sendiri kepadamu. Titik. 

Kyaaaa!!! Seperti yang kukira dari seorang Dewa. Kau sangat keren, Wa. Aku yakin, pembimbingmu akan lebih terkesan lagi jika kau betul-betul telah menyelesaikan prototype-mu. Jika boleh kutahu, apa yang kau ajukan untuk tesismu? Kau membuat apa? Apakah sesuatu yang bagus? Sebuah robot? Hwoaah... Aku tidak sabar untuk melihat karyamu. Aku sangat yakin juga kalau akan lebih hebat dari Pak Danu. Beliau pasti mulai melihat potensimu, makanya dia mengajakmu mengerjakan proyeknya, kan? Kau hebat, Wa. Sungguh! 

Wa, baterai laptopku sudah hampir habis.

Aku berharap kau betul-betul dapat meluangkan waktumu untuk mengunjungiku. Tentu saja ada bioskop di dekat kost-ku. Kau pasti ingin menonton film itu, kan? Sejak kapan kau menyukai film action seperti itu? Namun, baiklah! Ayo menontonnya! Meski aku yakin, kau tidak akan menyukainya dan justru mengritik habis-habisan setiap adegan di dalamnya, seperti biasanya. Oh, iya. Aku tidak menginginkan apa pun. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Ini sudah lebih dari cukup untuk mengobati rinduku dan mungkin memperlambat keparahan penyakitku, hahaha. (Bagaimana bisa?)

Tentu saja aku masih ingat padanya. Salammu untuknya...mungkin akan sulit kusampaikan. Sudah hampir lima bulan aku tidak bertemu dengannya. Tentang wisudaku, aku justru berharap kau tidak datang. Aku tidak ingin kau melihatku dengan togaku. Aku tidak ingin dilihat oleh orang lain...dan mungkin masih seperti rencanaku yang dulu, aku tidak ingin ikut merayakan wisuda. Aku benci melihat dan terlibat di antara kerumunan orang banyak. Mungkin, kita bisa menggantinya dengan menghadiri Pesta Kembang Api? Pleasssse, aku sangat ingin  menontonnya bersamamu sebagai ganti kegagalan tahun lalu. 

Hwoaaaah....
Sudah, ya...


Dariku, 

yang mulai jenuh mengerjakan tugas akhirku.

Tuesday, 15 April 2014

Surat Ketidaksabaran untuk "Yang Tidak Bisa Dinanti dengan Kesabaran"

Heh! Apa kau tidak tahu kalau aku sangat menantikan balasan surat darimu? Kau ini jenius, bukan? Tidak mungkin kau tidak mengerti dengan isi suratku, bukan? Apa kau belum membacanya? Atau sengaja tidak ingin membalasnya? Ish! Kali ini aku tidak peduli, kau akan membalas surat-suratku atau tidak. Aku akan terus mengirimimu surat, meski kau tidak pernah menjawabku. Aku hanya memiliki waktu empat puluh menit lagi untuk menulis surat ini. Jadi, aku tidak akan berpanjang lebar seperti biasanya.

Oh, iya sebelum aku memulai bercerita, akun ingin meluruskan isi surat rinduku yang sebelumnya karena kau tak kunjung membalas surat bergambarku. Aku memang merindukanmu, aku sudah sangat jujur. Namun, aku pun sudah sangat jujur ketika bilang bahwa aku tidak menyukaimu dan kau belum masuk standar atau kriteriaku dan aku juga tidak ingin memantaskan diriku untuk memenuhi kriteriamu. Ingat ini baik-baik!

Oke, aku akan mulai bercerita. Aku harap kau tidak kaget ketika membacanya dan sepertinya memang tidak akan kaget. Ini tentang kecurigaanku terhadap tubuhku sendiri, yang pernah kuceritakan padamu, tahun lalu. Bulan lalu, akhirnya aku memberanikan diri menemui dokter Rizki, seperti saranmu...dan ternyata kecurigaanku benar. Aku tidak sedang berhipokondria, selama ini. Hahaha... Kau tidak kaget, bukan? 

Aku berbohong, jika aku berkata: aku tidak sedih. Namun, aku tidak bisa betul-betul bersedih. Kau tahu? Ini sakit, pasti. Namun, entah kenapa aku merasa puas karena dugaanku terbukti. Aku menang dan kau kalah. Aku merasa senang karena kau salah. Seorang jenius bisa salah juga. Hahaha.... Ha... Ha.. Ha... Aku masih belum memberitahukan ini kepada siapa pun, bahkan ke ayah dan ibu. Aku kira, aku masih bisa menahannya hingga hari kelulusan. Tentu saja aku tidak akan berdiam diri. Aku juga sedang mencari-cari orang baik bergolongan darah B yang mau berbagi denganku. Ternyata tidak mudah, hahaha. 

Aku belum tahu seberapa parah kondisiku. Namun, dokter Rizki bilang ini tidak sampai membuatku melakukan hemodialisis. Aku bersyukur untuk ini. 

Hmmm... aku sudah pindah rumah. Aku akan memberitahumu jika kau membalas surat ini. Tempat tinggalku yang sekarang lebih dekat dengan rumah kontrakanmu. 

Oh, iya. Aku juga ingin bercerita beberapa hal lain...tapi ini tergantung dengan balasan suratmu nanti. Aku mulai tidak sabar menanti jawabanmu. Aku mulai tidak sabar berbaik kata dalam surat-suratku kepadamu. Aku akan membuat kata-kata dalam suratku lebih sederhana agar kau tidak lelah membacanya. Aku akan terus bercerita.

Uhn... bagaimana proyekmu? Kudengar dari seseorang kau sedang sangat sibuk dengan proyek di wilayah timur? Di mana? Proyek apa? Waaah...aku senang pembimbingmu begitu baik dan mempercayaimu untuk membantunya dan melibatkanmu dalam proyek-proyeknya. Selamat dan semangat, ya. Aku akan sangat senang jika kau dapat lulus lebih cepat dari orang lain seperti yang kau inginkan. Beritahu aku lebih banyak kabar tentangmu, oke?



Dariku, 


yang tak sabar menanti balasan suratmu dan mengirimi lebih banyak surat lagi untukmu

Wednesday, 9 April 2014

Surat Bukti untuk "Kau yang Sulit Mengerti"


Aku hanya ingin memperlihatkannya sebagai bukti,
bahwa mentari senja yang perlahan tenggelam di sana juga indah,
bahwa semilir angin di sana juga memiliki kekhasan wangi,
bahwa ini adalah keindahan yang berkebalikan,
dengan yang ada dalam isi pesanmu tempo dulu,
bahwa apa yang kau katakan tidaklah selalu benar, 
bahwa logika dan pemikiranmu tidak semestinya dituruti selalu.

Apakah kau mengerti apa yang ingin kusampaikan?
Tidak mengerti, bukan?
Tidak ingat, bukan?

Baiklah, kali ini hanya ini yang dapat kukirimkan untukmu.
Bacalah gambar ini dengan sedikit menggunakan hati...


Dari yang sedang irit berkata-kata

Saturday, 5 April 2014

Surat Rindu untuk Kau yang Tak Pantas Dirindu

Hey, apa kabar?
Aku ingin menyampaikan kabarku, bahwa aku baik-baik saja di sini. Aku mendapatkan asupan makanan yang cukup, hiburan dan rekreasi yang tidak kurang, porsi tidur yang justru berlebihan dan kebebasan yang cukup tak pernah membuatku ingin melarikan diri dari dalam kamar kost-an. Aku sungguh termanjakan dengan kehidupanku saat ini, meskipun kuakui...aku mulai was-was dengan nasib studiku.


Kapan terakhir kali kita berjumpa?
Apakah ketika pesta kembang api tahun lalu? Oh, tidak. Tidak mungkin, aku ingat betul kalau kita batal menontonnya bersama. Kau bilang kau ingin berlayar pulang dan aku tidak mungkin memintamu untuk tetap menemaniku. Padamu aku menyebut nama seseorang yang kita sama-sama kenal, "Aku akan pergi ke pesta kembang api itu bersamanya." Berbohong? Pada saat mengatakannya, aku belum yakin jika aku sedang berbohong karena memang pada awalnya dia akan menontonnya juga. Kukira, aku akan berjumpa dengannya di pesta itu. Namun, ternyata, kami tidak saling lihat batang hidung masing-masing. Alhasil, aku pun menonton sendirian. 

Mungkin, kau tidak tahu, aku beberapa kali bercerita pada teman kerjaku bahwa aku akan menontonnya bersamamu sehingga aku menolak untuk pergi bersamanya dan satu orang yang lain. Aku sedikit kesal sekaligus malu ketika kau bertanya, "Jadi datang? Dengan siapa? Kirimi aku fotonya." Jika aku menjawab jujur tentang aku yang datang sendirian, aku akan malu karena aku semacam telah berbohong dan terkesan ngotot keterlaluan untuk datang ke acara yang penuh orang itu, sendirian. Jika aku tidak menjawab jujur, aku tidak nyaman. Akhirnya, aku menjawab bahwa aku sendirian sembari menyisipkan pesan ajakan (tanpa harapan) agar kau datang turut menyaksikan karena pestanya baru akan dimulai dalam setengah jam. Sudah pasti kau menolak. Namun, yang membuatku kesal adalah kau sama sekali tidak bersimpati padaku yang betul-betul sendirian. Tahu begitu, aku mengajak orang yang lain juga, tak hanya kau.

Jadi, kapan terakhir kali kita berjumpa yang sebenarnya berjumpa? 
Sepertinya, perjumpaan terakhir kita justru setelah pesta kembang api itu, di sebuah pesta yang lain, di pesta hajatan seseorang, yang sama-sama tidak kita kenal. Saat itu, kau bilang bahwa kau baru saja mendaki bukit yang tak tinggi bersama beberapa orang temanmu. Kalian tak jalan kaki, tapi ini bukan tidak melelahkan juga, katamu. Aku sudah tahu tentang perjalananmu itu dari seorang temanmu, maka aku hanya menjawab, "Aku tahu kok!" dan berakhirlah semua percakapan kita. Hari itu, kita tidak hanya berdua dalam menyaksikan sebuah perayaan sakral, peresmian menyatunya dua insan yang penuh cinta itu. Di saat itulah aku mencurigai satu hal bahwa kau sedikit mampu membaca gerak-gerikku. Sejak itulah, aku ingin menjaga jarak agar kau tidak mampu membacaku, agar aku tidak dapat memunculkan tanda-tanda padamu. Namun, aku bukan penepat janji yang baik. Aku masih belum mampu menjaga tekadku ini dengan baik, sebaik kau, yang justru telah mampu menjauhkan dirimu dari "ini" dengan baik, untuk mendekatkan diri dengan hal lain yang lebih baik dan menarik dari "ini", katamu. 

Mengapa rindu?
Ini adalah pertanyaan yang akan sulit untuk kujawab. Aku tidak memiliki alasan yang pasti, yang mendasari segala perbuatan tidak sopanku, merindukanmu, selama ini. Satu hal yang jelas adalah karena aku "hanya" penasaran. Aku hanya ingin tahu apa yang sedang kau pikiran dan lakukan; hanya ingin memastikan kau sedang dalam kondisi superbaik dan tidak kesepian; hanya menginginkan kau tidak hilang dan membenci keadaan yang timbul akibat apa yang sudah terjadi dan kau jalani di masa-masa itu; hanya ingin tahu bagaimana kabarmu. Apakah ini pantas disebut sebagai sekadar "hanya"? Percayalah, aku hanya merindukan keceriaanmu. Kerendahan hatimu yang kau gunakan untuk membalut kepandaianmu dan menyajikannya dalam humor dan tawa adalah hal yang tak ingin kulewatkan ketika tengah berada di satu tempat yang sama denganmu. Kukira itu ada padamu yang dulu. Itulah yang kurindukan. Keceriaanmu yang kau tampakkan pada semua orang. 

Mengapa kau tak pantas dirindu?
Ini pertanyaan sangat mudah, tetapi aku sedikit tidak rela untuk menyuarakan atau menuliskannya. Aku tengah merindukan seseorang yang bahkan dia sendiri tengah merindukan orang lain dalam waktu cukup lama; yang bahkan dia sendiri tidak mengizinkan dirinya untuk dirindukan oleh orang lain; yang bahkan dia sendiri tak pernah merindukan orang-orang yang selalu berada di sampingnya. Bukankah ini sebuah rindu yang tak terbalas? Bukankah sebenarnya kau adalah sosok yang tak pantas untuk kurindukan?

Lalu mengapa tetap menulis surat rindu ini?
Jika kau menganggap surat ini adalah sebuah wahana mencari perhatian dari orang-orang, maka kau salah. Aku hanya ingin membahasakan rinduku dengan rapi. Jika aku tak diizinkan untuk bercerita tentangmu pada sesosok manusia, sebuah dosakah jika aku menceritakan kerinduanku di sini? Bukankah hanya aku sendiri yang akan bertanggung jawab dengan tulisanku sendiri? Lalu, mengapa ada saja orang-orang yang berisik membicarakan setiap hal yang kutuliskan? Aku sudah hampir tidak tahu bagaimana caranya bersuara dan bercerita karena kukira ini akan lebih baik untukku dan orang-orang yang pernah mendengarkanku. Akankah aku juga diharamkan untuk menulis di wilayahku sendiri, bahkan untuk sekadar menulis surat rindu untukmu? Terkadang, aku heran mengapa aturan manusia, terkait hal-hal yang sebenarnya tak perlu diatur, begitu banyak. Dan lagi, apakah aku masih salah menuliskan ini?

Hey, siapa kau sebenarnya?
Aku sungguh belum mengenalmu dan ketika aku mulai ingin mengenalmu, kesempatan itu telah hilang dan aku tidak tahu, akankah Dia hadirkan lagi atau tidak. Sejauh ini, aku hanya mengenal namamu, sedikit kepandaianmu, sedikit caramu memperlakukan orang-orang di sekitarmu, sedikit langkahmu dalam menyelesaikan permasalahan orang lain. Hanya itu dan aku ingin tahu lebih tentangmu.

Apakah aku menyukai atau bahkan mencintaimu?
Ayolah, apakah rindu selalu sama dengan cinta? Bisa jadi, dia adalah prasyarat cinta, tetapi sudah lama aku memantapkan keputusan bahwa rasa rindu dan penasaran ini tidaklah sama dengan cinta. Lagipula, kau akan terkejut jika kau tahu satu janji rahasiaku tentangku sendiri, tentang rahasia besarku tentang masa depan, ujung kisah cintaku. Saat ini kau bahkan tak masuk ke dalam jajaran kandidat yang kumau karena aku tahu, dengan perangai dan pemahamanmu saat ini, kau bukanlah orang yang cocok dan mau menerima janjiku. Jadi, berbahagialah kau bukanlah orang yang sedang kucintai, meski kau adalah salah satu orang yang kurindukan dan membuatku nyaman (dulu kala). 

Ah, sudah panjang surat ini dan terlanjur lemah baterai laptopku. Kuakhiri surat rindu ini. Akan kusambung dengan surat berisi rindu-rindu lain, nanti-nanti.

Selamat pagi, selamat menempuhi rute barumu.


Salam rindu dariku, hey!

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...