Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

Thursday, 13 November 2014

Senja Bersama, Merkurius dan Venus (2a)

*Saya mengadaptasi judul cerita ini dari judul cerpen seorang adik angkatan, tentu saja dengan isi cerita yang berbeda.*
*Alur cerita lambat dan mudah ditebak. Jika tidak suka, jangan coba-coba membacanya.*
*Ber-genre drama keluarga. Bukan penyuka cerita drama tidak dianjurkan untuk membacanya.*
*Ini bagian ke-2. Bagian ke-1 dapat dibaca di sini*

Selamat membaca! :D
________________________________________________________________________________________________

Kepingan 2a: Takdir yang Tertukar

Deng. Deng. Deng.

Itu suara jam kayu yang kesepian, berdiri seorang diri di ruang baca. Ia menabuh lonceng, yang menggantung malas di badannya, sebanyak tiga kali. Oh. Sudah pukul tiga sore rupanya. Artinya, sudah satu jam lamanya aku duduk bermalasan di atas kursi lesehan berlengan sambil menonton televisi. Satu menit lagi. Oh tidak. Tiga menit lagi. Aku yakin tiga menit lagi, FTV dengan cerita picisan tentang seorang casanova yang jatuh cinta pada asisten rumah tangganya ini akan segera berakhir. Merasa tertantang oleh diri sendiri, aku mencari-cari pengukur waktu untuk membuktikan dugaanku. Aku menemukan selulerku, kemudian menyalakan aplikasi stopwatch yang ada di dalamnya.

Klik. Menit kosong kosong. Sang casanova kini sedang mengendarai motor besar berwarna merah dengan kecepatan tinggi. Wajahnya hampir seluruhnya tertutup oleh helm full face yang dikenakanya. Hanya matanya yang tampak, menajamkan fokus, tetapi juga mengisyaratkan kegelisahan. Ia sedang terlibat dalam aksi pengejaran, mengejar si asisten rumah tangga yang sudah lebih dulu bertolak dari rumahnya, menuju terminal bus ibukota. Pria ini, dikisahkan baru saja lolos dari pergolakan batinnya sendiri. Akhirnya, ia sadar bahwa ia memang menyayangi si asisten, jatuh cinta tepatnya. Jatuh cinta pada kemampuannya dalam meracik jamu tradisional. Namun, ternyata ia terlambat. Sang asisten rumah tangga terlanjur mengundurkan diri karena berbagai uji, salah satunya patah hati karena sang majikan menuduhnya mencuri. Tertebak sekali.

Menit kosong tiga puluh tiga. Sang majikan casanova berlarian di terminal, mencari sosok asisten yang membuatnya gila hingga mengejarnya ke terminal yang tak ia kenal. Ia tampak berlari dari satu sudut ke sudut lain. Butir-butir keringat bermunculan di keningnya, mengalir hingga ke pipi menyerupai air mata yang memilukan. Ketika ia hampir menyerah dan memutuskan untuk menyeret badannya kembali menuju motor besar, yang entah mengapa diperbolehkan terparkir bebas bukan di tempar parkir seharusnya, si gadis asisten rumah tangga itu muncul dari balik dinding.

Menit satu kosong satu. Mereka bertatapan. Kamera di-setting berputar, mengitari mereka, persis seperti adegan di film india. Tampak, mereka yang tengah berdiri berhadapan terpisah jarak hanya sekitar dua setengah meter. Background  musik ala pop melayu mengalun meliuk, mengiringi prosesi saling pandang mereka yang memakan waktu lebih lama daripada lama pencarian terhadap si asisten rumah tangga tersebut.

Menit dua kosong tujuh. Cklik!

Aku bosan. Aku matikan televisi, yang tengah menampakkan dua orang tengah berdialog panjang, saling mengutarakan penjelasan dan mematahkannya sendiri, itu. Aku menghabiskan satu jam yang berharga untuk menonton kisah cinta klise para anak muda yang alur dan akhirnya sangat mudah ditebak. Aku sendiri pun bertanya-tanya, mengapa aku tetap bertahan mengikuti jalan ceritanya, padahal aku sudah tahu akhir dari kisah cinta pasaran mereka berdua. Mungkin, aku terlalu baik. Seharusnya stasiun televisi swasta itu membayarku atau memberiku bingkisan menarik atas jasaku, setia menonton hasil kerja mereka yang setengah payah, setiap hari.

Drrrrt. "Permisi! Paket! Paket!"

Eh? Apakah mereka betul-betul mengirimkan bingkisan menarik sebagai hadiah untuk para pemirsa baik hati sepertiku? Plak. Aku tampar mukaku dengan halus, berniat menyadarkanku dari kantuk yang mulai membuatku berhalusinasi, hingga tak mampu membedakan dunia drama dan nyata.

"Ya, Mas. Tunggu sebentar," teriakku dari dalam ruang keluarga, tempat yang sama dengan tempatku menonton televisi. Sayup kudengar jawaban "oke" dari teras depan.

Aku berjalan ke arah pintu dengan cepat. Kemudian bergegas membukanya dan tampaklah seorang kurir dengan seragam dan topi bercorak oranye cerah, membawa sebuah kardus kecil di tangannya. Mataku tertuju pada sebuah bentuk familiar yang ada di muka topinya. Eh? Bukankah itu logo sebuah toko online yang sangat rajin beriklan di televisi, youtube, bahkan halte bus sekolah Keke dan Dede? Heee? Siapa yang berbelanja online?

"Ibu, ini paketnya silahkan diterima," kata mas kurir sambil menyodorkan kardus berbentuk kubus, berukuran sekitar 15 cm.

Aku menerimanya dengan ragu. Namun, ini aneh karena si mas kurir tidak langsung pergi. Ia merogoh tas pinggangnya mencari-cari benda yang sepertinya penting. Bonkah? Aku curiga, jangan-jangan paket atau pesanan ini belum dibayar. Ah, orang itu memang keterlaluan. Mentang-mentang aku memotong uang jajan bulan ini, ia ingin membalasku dengan menyuruhku membayar barang belanjaannya yang tidak jelas ini. Betul juga. Ia tidak pernah bilang ia akan membeli suatu barang. Ya ampun. Awas saja, kalau nanti ia pulang.

"Mmm... Maaf, mas..." panggilku. Si mas kurir mendongak ke arahku, kebingungan, karena aku menyodorkan kembali paket, yang baru saja kuterima, kepadanya.

"Kenapa, Bu? Salah alamat, ya?" tanyanya tampak resah. Kepalanya celingak-celinguk untuk memastikan, sepertinya mencari plat alamat, RT/RW, atau nomor rumah, yang mungkin terpaku di salah satu dinding rumahku.

"Hmmm.... Jadi..." jawabku terpotong oleh ia yang tiba-tiba menyambar berbicara dengan cepat.

"Jadi, ini bukan rumah ibu Rindah K. Ihsani? Ini jalan Kenanga Nomor 9A, KAN? RT 2, KAN? RW 3, KAN?" tanyanya membabi buta dengan disertai penekanan pada setiap pengucapan kata 'kan'.

"Hoo... Betul, betul, BETUL," sanggahku tak ingin kalah dengan sedikit menaikkan volume suara. 'Cuma, saya nggak pesan apa-apa di toko online mas, loh. Suami saya juga nggak bilang lagi nunggu paket sesuatu. Jangan-jangan, masnya oknum, ya? Mau menipu dengan modus cash on delivery pesanan toko online? Saya bisa laporin mas ke polisi loh!' dalam hati aku ingin mengatakan hal itu.

Namun, entah mengapa kata-kata yang keluar hanya, "Pesanan ini udah dibayar, mas?" dan ditambah dengan bonus senyuman setengah paksa yang pasti sangat aneh dilihat.

Si mas kurir pun tertawa, lalu menjawab, "Yaelah, si Ibu. Cemas amat. Kirain aye salah alamat. Udah kok, udah dibayar. Toko kami sekarang tidak melayani pembayaran di tempat alias semua transaksi dilakukan melalui transfer. Tenang aja deh, Bu. Ini, ibu tinggal tanda tangan di sini dan aye akan segera pergi."

Melongo. Aku masih mencerna keadaan. Pelan-pelan kutorehkan tanda tangan di atas kertas kuning yang disodorkannya.  Lagi-lagi aku berpikir yang tidak baik, tentang si kurir, tentang si toko online, juga tentangnya, suamiku sendiri. Ya Tuhan. Aku hanya berharap Tuhan memaafkan segala pikiran burukku beberapa saat lalu. Inilah aku, ibu rumah tangga dengan pemikiran setara pemikiran bocah ABG labil. Parahnya lagi, si ABG labil ini terperangkap dalam tubuh dan wajah orang dewasa, berusia tiga puluh satu tahun, dengan dua anak.

Eh? Parah? Ralat. Bukan parah, ini anugerah.

Sebentar, aku potong dulu kisah tentangku. Aku ingin mengantarkan si mas kurir sampai pagar sebagai pengganti rasa bersalahku, menuduhnya melakukan hal yang tidak-tidak.

"Yap! Ini pulpennya, mas. Terima kasih, ya," ucapku sopan kepada si mas kurir.

"Oke, Bu. Lain kali, santai aje ye, Bu, kalau dapet kiriman paket, apalagi dari aye. Sayang loh, gara-gara kebanyakkan mikir, ibu nggak menyadari kegantengan muka aye." balasnya, panjang lebar, dengan logat betawi yang kental.

Aku kembali tersenyum setengah terpaksa. Si mas kurir melangkah pergi, keluar dari pagar. Sendirian, karena aku membatalkan niatku untuk mengantarnya hingga ke pagar, setelah mendengar guyonan tidak lucu darinya. Entah mengapa, timbul sedikit rasa sebal akibat perkataannya. Bukan karena ia mengucapkan kata-kata sedikit tidak sopan, melainkan karena ia menerkaku, menyebutku sebagai orang yang terlalu banyak berpikir.

Namun, jika dipikir-pikir, ia tidak salah. Ia mengatakan fakta. Aku memang memiliki kebiasaan berpikir kejauhan. Payahnya, wajahku tidak pandai berekspresi dan aku pun tidak mampu bersembunyi di balik ekspresi palsu ketika aku sedang berpikir. Akuarium. Teman-teman lamaku memanggilku akuarium karena kebiasaanku ini. Orang lewat pun dapat mengetahuiku sedang berpikir bahkan menebak isi pikiranku dengan hanya melihat ekspresi wajahku.

Setelah memastikan si mas kurir telah betul-betul pergi, aku menutup pintu depan dan melangkah ke dalam rumah, membawa serta paket tersebut. Aku memilih kembali mendudukan diri di ruang keluarga. Keke dan Dede tengar tidur siang dengan beralaskan kasur lantai, di sampingku.

Kulirik selulerku, ternyata baru jam tiga lewat tujuh. Mereka baru tidur selama lima puluh menit. Aku bisa membuat mereka terbangun, jika aku membuka paket ini di sini.

Akhirnya, aku meninggalkan mereka yang masih tidur dengan lelapnya, meski terkadang tanpa sadar aksi saling tendang terjadi di antara keduanya. Langkahku berhenti di sebuah ruangan berukuran 4x4 meter, berbingkai rak-rak buku di tiga sisi, yang baru setengahnya terisi. Di tengahnya, ada dua meja: satu meja besar yang lebar dan satu meja kecil nan pendek. Di kedua sisi masing-masing meja, tersembunyi sepasang dudukan kursi berlengan.

Ini adalah ruang baca kami. Tempat favoritku ketika sedang ingin berkarya, tempat belajar paling disukai anak-anak, juga tempat yang paling sering dikunjungi olehnya setiap harinya. Jika kata orang rumah adalah sebuah istana, maka ruangan ini adalah istana dalam istana itu sendiri, baginya.

Ruang baca. Ini tempat yang cocok dan nyaman untuk melakukan aksi penggeledahan terhadap paket ini. Namun, sepertinya aku tidak perlu menggeledahnya karena paket ini memang dialamatkan untukku. Ada nama lengkapku, bahkan nama belakang suamiku dalam catatan penerimanya.

Kutarik penyangga salah satu kursi besar dan segera kududuki tanpa pelan-pelan. Tiba-tiba aku menjadi tidak sabar, terlalu ingin tahu benda apa, yang kemungkinan besar pengirimnya adalah ia. Aku melepas bungkus paket itu dengan sangat hati-hati, tidak ingin membuatnya terkoyak dan tampak tidak rapi. Jika bungkus paket ini berantakan dan rusak, aku tidak dapat membungkusnya lagi. Hanya berjaga-jaga.

Jantungku tetiba berdebar, ketika aku mulai menarik selotip yang menyatukan kedua penutup mulut kardus. Apakah ini sesuatu yang sangat indah atau mahal? Mengapa kardusnya terlihat lucu? Apakah toko online itu juga menjual berlian? Apakah hari ini ulang tahunku? Ulang tahun pernikahan? Satu per satu pertanyaan kekanak-kanakan muncul dalam pikiranku.

Kejutan. Ini adalah kejutan. Sekarang aku yakin, paket ini pasti darinya. Ia tahu bahwa aku sangat menyukai kejutan dan apa ini? Sebuah benda berbentuk balok terhidang di dalam kardus. Aku memungutnya, memperhatikan detail di setiap sisinya, dan aku pun terlonjak.

Ini seperti pernah terjadi. Ia pernah memberiku benda ini, dulu. Dulu sekali. Tidak betul-betul memberikan benda itu untukku sebetulnya. Di lihat dari sisi mana pun, benda ini sangat mirip dengan yang dulu. Merk, desain, motif, bahkan warnanya.

Apa maksud ia memberiku ini?

Apakah ia ingin aku mengingat sesuatu? Ia betul-betul lucu. Aku tidak perlu mengingat apa pun karena aku tidak akan pernah melupakan apa pun. Tidak, kecuali aku mengalaminya tidak dengan bersamanya.

*****
Akhir Desember, 1998. 
Ini adalah malam Minggu yang paling membahagiakan bagiku karena lusa adalah tahun baru. Libur dua hari berturut-turut seperti ini adalah hal langka yang diidam-idamkan oleh banyak orang, tak terkecuali aku. Terlebih, karena aku tidak perlu berjumpa dengan Senin yang menjengkelkan di mana ada pelajaran olah raga di hari itu.

Aku sudah menyusun segunung rencana yang akan kulakukan untuk menghabiskan libur dua hari ini dan tentu saja tidak sabar menanti datangnya esok pagi. Mataku sampai-sampai tak mau terpejam. Keduanya menerawang ke langit-langit kamar, samar-samar membayangkan apa saja yang akan aku lakukan besok. Siluet abu-abu dan putih tergambar jelas dalam bayanganku, menari-nari di atas hamparan pasir yang tersapu ombak kemilau. Aku sangat merindukan pantai.

Aku sendirian di rumah. Dua hari ini ayah, bunda, Rindy, dan Namira akan menginap di rumah tante Sherry, yang baru saja melahirkan anak laki-laki keempatnya. Mereka tidak curiga kepadaku, ketika aku menolak untuk ikut dengan alasan lutut kiriku, yang dioperasi tahun lalu, terasa lebih lelah dari biasanya. Tentu saja aku mengarangnya karena sebetulnya, selepas operasi itu, kakiku sama sekali tidak pernah bermasalah. Aku terpaksa berbohong kepada mereka karena hanya itulah satu-satunya cara agar aku dapat bermain dengan tenang.

"Riiindaaah! Hey, apa kau di rumah?"

Siapa? Sepertinya aku tidak mengundang siapa pun untuk datang ke acara selamatan. Tunggu, sepertinya selamatan itu diadakan di rumah Tante Sherry, bukan di sini. Lagipula, mengapa ia berteriak-teriak memanggil namaku seperti itu? Aneh. Aku seperti mengenali suaranya, jika saja tanpa serak.

"Hey! Rindah! Aku tahu kau di rumah. Tadi sore aku melihat semua anggota keluargamu pergi dengan carry coklat ayahmu. Mereka pasti akan pergi ke rumah Tante Sherry, paling tidak untuk tiga hari. Dan aku yakin pasti kau telah berbohong kepada mereka dengan berkata lututmu bermasalah agar kau diperbolehkan untuk tidak ikut, bukan?" teriak suara yang berasal dari halaman samping itu.

'Sial! Itu pasti Dewa!' batinku. Bagaimana mungkin aku tidak mengenali suaranya. Ada apa dengan suaranya? Aku harus segera membungkamnya sebelum mbak Uci menyadari makna teriakannnya dan melaporkannya kepada ayah.

"Hey, Rindah!" teriaknya lagi. "Lama sekali, apa kau tak takut kalau mbak Uci..."

Ckrkk. Suara pintu samping yang kubuka berhasil membuatnya diam. Aku memberinya pandangan kesal, meskipun dalam hati aku sebetulnya tengah terheran-heran karena ia selalu dapat menebak apa kupikirkan.

"Apa kau tidak bisa sedetik saja membuat mulutmu diam, Wa? Sepertinya lain kali aku harus menyumpalmu dengan kaus kaki Namira. Dan kau tahu Dewa apa akibatnya, jika mbak Uci tahu dan melaporkannya kepada Ayah. Aku tidak main-main dengan perkataanku saat itu. Mengerti???" jawabku sewot. 

Aku sangat sebal dengan sifat kekanak-kanakannya. Tahun ini, ia berumur 14 tahun, tapi tingkahnya masih sama seperti 5 tahun yang lalu, ketika kami pertama berkenalan. Kuduga, tingkah kekanak-kanakkan inilah yang membuatnya tak pernah sekali pun disukai seorang gadis di sekolah, meskipun ia sangat pintar. Ini membuatnya tampak memperihatinkan. Ah, aku melantur.

Dewa tak begitu mendengarkan perkataanku. Sesekali ia menguap lebar dan menggaruk-garuk kaki kirinya, yang kutebak tidak gatal sama sekali, dengan kakinya yang lain. Ia memang selalu seperti itu, menyebalkan. "Ya, Nyonya? Sudah selesai pidatonya, ibu negara?" lagi-lagi ia mengucapkannya. Ia memang selalu menjawabku dengan kata-kata itu. Dan aku hanya menjawabnya dengan mengangkat bahu atau memutar bola mataku. 

Aku akhirnya mempersilahkan ia masuk. Lebih tepatnya, ia sendiri yang memperilahkan diri masuk, dengan mendorongku ke samping pintu sehingga ia dapat melompat masuk dengan gerakan yang tidak terlihat lucu sama sekali.

"Hey, dengar! Kau sudah besar, bocah! Perhatikan perubahan suaramu. Kau tidak pantas bersikap seperti bocah lagi. Mengerti?" Entah mengapa tiba-tiba aku mewujudkan kekesalanku menjadi kenyataan.

Dia terbelalak dan berhenti melompat-lompat. 

Satu, dua, tiga detik, dan ia pun tertawa terbahak-bahak, "Buahahaha... Tentu saja aku bukan bocah lagi. Menurutmu siapa yang lebih bocah di sini? Aku atau kau, bocah?" jawabnya sambil tertawa mengejek. Sombongnya kambuh, ia mulai membanggakan suaranya yang kini memang terdengar lebih berat dibandingkan dua bulan lalu.

Aku dapat merasakan panasnya amarah merayapi pipiku. Memang untuk beberapa hal, aku lebih kekanak-kanakkan daripada dia. Namun, ini bukan berarti bahwa ia lebih dewasa dariku. "Tentu saja kau yang lebih bocah karena aku satu tahun lebih tua darimu, bocah!'

"Sepuluh bulan, dua puluh lima hari tepatnya! Itu belum genap satu tahun, Ndah!" jawabnya meralat kalkulasiku.

"Ya! Tapi sudah beda tahun lahir. Itu sama saja," tentu saja aku tak mau mengalah.

"Jelas berbeda, Rindah. Lagipula, bukankah kita berada di tingkat yang sama? Wah! Apa ini artinya? Jika bukan karena aku yang terlalu pintar, pasti karena kau begitu bodoh. Apa kau pernah me-ngu-lang kelasmu selama satu tahun, Ndah? Hahahaha..."

"STOP, Dewa! Kau mulai mengusik topik ini lagi. Aku tidak suka, INGAT?!! Bertingkahlah sesuai umurmu, Dewa!" akhirnya emosiku meledak. Sekarang aku yakin, aku dapat membuatnya merasa bersalah karena sekarang ia terlihat menundukkan kepalanya. Mungkin saja sekarang matanya berkaca-kaca atau malah mungkin sudah mulai basah? Ia memang jail, tapi juga sangat sensitif dan sangat benci dibentak. 

Tiba-tiba, seperti muncul suatu energi dari dalam diriku yang menonjok perasaanku. Apa aku sudah keterlaluan padanya?

Aku mendekatinya, merendahkan tubuhku agar dapat sedikit mengintip wajahnya dan tiba-tiba, ia berteriak dengan sangat keras "BRAAH!!! Ya, nyonya? Ada yang bisa saya bantu?" 

Ia melompat ke depan, ke arahku yang tengah memperhatikannya dengan cemas, membuatku terkaget dan terjengkang ke belakang. Tentu saja ia hanya tertawa terguling-guling di sofa menyaksikan posisi dan ekspresi wajahku yang tengah memancarkan aura marah, cemas sekaligus terkejut. 'Aku menyesal mengkhawatirkanmu, Wa!'

"Ya! Ada! Tinggalkan aku sendiri, kecuali kau ada urusan penting denganku atau memberiku SESUATU MENARIK yang baru!" jawabku akhirnya, begitu acak. 

Namun, sepertinya, ini berhasil membungkamnya. Kulihat ekspresi wajahnya berubah. Ia sudah berhenti tertawa dan mengalihkan segala fokus perhatiannya pada tangannya yang tengah mengorek-orek satu per satu saku-saku celana longgarnya.

"Aha! Aku punya ini, Ndah!" sebuah benda tiga dimensi, berbentuk persegi panjang, tetiba muncul di depan mataku. Aku tak cepat mengenali benda itu. Terlebih karena benda ini terpoles warna silver jernih, memantulkan cahaya yang masuk melalui ventilasi pintu kamar Rindy yang setengah terbuka. Silau dan aku membutuhkan setidaknya lima detik untuk mengenalinya dengan baik.

"HARMONIKA!?" teriakku seketika. Kurebut benda itu. Kuputar-putar sembari mengamati setiap detailnya. Aku selalu tertarik dengan setiap alat musik yang dibawanya, begitu pula dengan harmonika ini. Ini pertama kalinya aku melihat dan menyentuh harmonika dengan indra perabaanku sendiri. Ia tampak begitu kaku, mengkilat dan misterius.

"Kau suka? Rindah?" tanya Dewa memotong aktivitasku yang tengah terbengong-bengong mengamati sebuah benda mungil di genggamanku.

"Lumayan," jawabku singkat dan datar. Tentu saja aku sangat menyukainya. Aku sangat menyukai setiap benda-benda yang bersuara, bahkan jika benda itu hanyalah atap teras belakang, yang bersuara ketika diterpa reruntuhan hujan. Atau sekadar suara teko teh Bunda, yang bersiul dengan nada tinggi di setiap pagi. Aku sangat menyukai mereka, meskipun Ayah sangat tidak suka ketika aku bilang aku menyukai musik.

Aku mengalihkan pandanganku dari harmonika itu kepada Dewa. Aku ingin sekali mengatakan terima kasih. Namun, aku tidak ingin membuatnya besar kepala dan mungkin... aku terlalu gengsi untuk mengapresiasi seseorang yang lebih muda dariku. Apalagi jika orang itu adalah Dewa.

"Sama-sama," kata Dewa tiba-tiba.

"Apa? Aku tidak mengatakan apa-apa," protesku.

"Yeah, tapi matamu mengatakan segalanya, Ndah!" jawabnya dengan cekikikan.

"Oke, baiklah. Terima kasih, Dewa!!!" ucapku datar, akhirnya, masih tanpa memandangnya. Seluruh perhatianku seolah hanya dapat tercurah untuk benda di tanganku ini.

"Oke, tak usah memaksakan. Ayo mulai rekaman!" katanya sambil mengeluarkan alat perekam.

"Ehh? Jadi, lagi-lagi ini bukan untukku?" jawabku, pura-pura kaget.

Entah mengapa, kali ini, justru Dewa yang sepertinya menampakkan keterkejutan. Alisnya mengendur, air mukanya menampakkan kesalahtingkahan. "Apa kau sangat mengingkannya, Ndah? Maaf. Aku tak bisa memberikanmu yang ini juga. Aku hanya, yeah... kau tahu, kan? Menerima apa yang diberikan oleh Papa... dan tentu saja meminta tolong padamu untuk memainkannya... dan aku akan merekamnya... dan menunjukkannya ke Papa ketika ia pulang... dan... "

"Hahaha, iya, boy! Aku hanya bercanda, tentu saja! Aku juga tidak mungkin menyimpannya untukku, di rumah ini. Jika Ayah menemukannya, ini bisa berbahaya. Kena kau, Dewa!" kataku. Geli sekali melihatnya bertingkah salah tingkah dan lucu seperti itu.

Semenjak kepindahan keluargaku ke kota belimbing ini, lima tahun lalu, aku telah berteman akrab dengan Dewa. Dari sinilah aku mengenal dan menyukai musik. Dewa sangat pandai dan tahu banyak tentang musik, tapi tidak untuk memainkannya. Ia pandai sekali mengulang apa yang diajarkan ayahnya, tapi tidak mampu mengaplikasikannya. 

"Terkadang aku penasaran, mengapa takdir kita seperti tertukar," katanya tiba-tiba.

Aku diam, tidak memiliki jawaban yang cukup baik untuk kuberikan padanya karena diam-diam aku pun sebetulnya sering menanyakan hal yang sama.

"Hey, ayolah! Kita sudah terlalu sering membicarakannya. Aku bosan. Sekarang, aku sudah tidak sabar untuk mencoba harmonika ini. Ini alat musik tiup pertama yang kau perlihatkan kepadaku, Dewa. Ayo kita ke tempat itu!" jawabku sembari menariknya ke sebuah tempat.

Ia hanya diam dan menurut. Aku tahu ia tengah memikirkan hal itu. Ia pasti akan bersedih setelah ini dan aku tidak suka melihatnya bersedih.

"Dewa. Kau mau ikut ke pantai denganku?" ajakku, spontan.

"Kapan?" tanyanya.

"Besok pagi. Kita langsung berangkat setelah subuh. Tidak boleh telat, karena ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang," jelasku.

"Oh begitu," jawabnya datar. Aku menoleh padanya, berharap memperoleh tambahan jawaban. "Baiklah, saya akan ikut, jika Nyonya memang memaksa," imbuhnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak ada yang memaksamu untuk ikut, bocah!" timpalku ketus. Namun, sebetulnya aku lega. Ternyata, ia baik-baik saja.


*****
Lima belas tahun yang lalu, di tanggal yang sama, ia, suamiku, Dewa, memperlihatkan harmonika yang sama rupa dengan harmonika di hadapanku saat ini. Ternyata, paket dari toko online itu berisi harmonika ini. Kejutan darinya ini membuatku teringat pada hari itu. Kata-katanya di hari itu, kembali terngiang.

"Terkadang aku penasaran, mengapa takdir kita seperti tertukar."

Jika diingat-ingat, waktu itu ia memang tengah mengalami masa yang berat. Masih 14 tahun umurnya saat itu, tetapi ayahnya mulai menggantungkan harapan padanya. Ia, memiliki seorang ayah yang berprofesi sebagai seorang konduktor dan pemain musik, dengan spesialisasi piano. Beliau juga mengajar musik di sebuah universitas swasta di Jawa Barat, kalau aku tidak salah ingat. Selain itu, beliau adalah pendiri Four Seasons Orchestra. Sebuah orkestra yang secara rutin mengadakan pertunjukan di setiap tengah musim, di empat negara berbeda. 

Ayahnya, menginginkan atau lebih tepatnya menganggapnya memiliki bakat yang sama dengannya. Namun, ternyata bakat itu tidak diwariskan secara genetik kepada Dewa kecil. Ia sama sekali tidak mampu memainkan alat musik apa pun, bahkan terbilang sangat payah untuk sekadar membunyikan solmisasi dengan benar. 

Inilah yang membuatnya memintaku untuk memainkan alat-alat musik, yang diberikan oleh ayahnya sejak ia berumur 11 tahun. Alhasil, ia terbiasa "menggunakanku" untuk memainkan alat-alat musiknya itu. Awalnya, ia mengajariku bagaimana cara memainkan alat-alat musik tersebut, menuntunku hingga mampu memainkannya dengan mahir. Selanjutnya, ia akan merekam permainanku dan memperdengarkan hasil rekaman itu kepada ayahnya. 

Kami berdua sama-sama pembohong cerdik yang menikmati setiap kebohongan yang kami lakukan. Kami tahu, ini adalah dosa. Namun, kami juga masih belum bisa menerima takdir kami. Aku dengan larangan ayahku dan ia dengan tuntutan dari ayahnya. Kebohongan besar ini, justru membuatku begitu bahagia menerima "permintaan bantuannya", pun dengannya yang juga begitu bahagia dapat "menggunakanku".

Lalu mengapa ia nekad memintaku? 

Aku bukan orang seperti tokoh fiksi August Rush, yang sangat jenius dalam bidang musik, hingga mampu mengarang dan mengaransemen lagu tanpa mengikuti sekolah musik. Aku juga bukan orang yang terlahir dengan bakat musik, yang dapat memainkan setiap alat musik meski baru pertama kali menjumpainya. Namun, menurutnya aku dapat menerka nada dengan baik, setidaknya jika dibandingkan dengannya. 

Setelah bertemu dengannya, aku menyadari bahwa aku memiliki ketertarikan diam-diam terhadap musik. Sayangnya, aku memiliki seorang ayah yang sangat tidak menyukai musik. Bahkan untuk sekadar mengucapkan do-re-mi dengan nada flat di depannya, aku tak berani. Hingga saat ini, aku tidak tahu pasti alasan ayah begitu membenci musik dan aku tidak berani menanyakannya. 

Saat aku dan Rindy seusia Keke dan Dede, kami tidak pernah bernyanyi bersama ayah. Ayah pasti pergi, melenyap tanpa jejak ketika salah satu dari kami mulai bernyanyi. Beruntung, kami sudah besar ketika Namira, adikku, lahir. Ia tidak perlu kesepian ketika bernyanyi, karena ada aku dan Rindy yang menemaninya.

"Ibuuu!!! Huweee. Ibu di mana?" terdengar sebuah suara cempreng disertai rengekan tangis yang dibuat-buat membuatku terkaget. Aku terbangun dari lamunan tentang kenangan masa kecil, lima belas tahun lalu. Itu suara Dede. Ia pasti bangun karena terkaget. 

"Ibuuu, Dede berisik! Aku udah bilang ibu ada di rumah, tapi ia tetap nangis!" kata Keke yang sudah menemukanku di ruang baca dan segera berlari ke pangkuanku. Tangannya mengucek matanya yang terlihat merah. Sepertinya ia masih mengantuk.

"Ya. Dede di mana sekarang?"

"Nggak tahu, deh. Keke ngantuk, mau tidur lagi," jawabnya sekenanya, tak memberiku petunjuk. Ia berjalan ke pojok kanan ruang baca, ke arah sebuah karpet berbulu, berukuran satu setengah meteran yang memang sengaja kutata dan kuletakkan di sana.

"Keke, kok nggak sopan begitu jawabnya. Kebiasaan, deh. Jangan tidur di... Eh? Sudah tidur lagi? Telat," kataku, ternyata pada diriku sendiri. Sepertinya Keke memang belum betul-betul bangun ketika ia mendatangiku. Ia tidur seketika, begitu badannya menempel di karpet. Dasar bocah ini, persis sekali ayahnya.

Aku menggendong Keke dan memindahkannya ke kamar berdinding kuning pastel milik si kembar ini. Ternyata, Dede juga ada di dalam kamar itu. Ia meringkuk di atas kasurnya sendiri yang berada di pojok dalam. Posisinya membelakangi arah pintu. Namun, aku dapat melihatnya tengah memeluk boneka Naruto, tokoh animasi kesukaannya. Aku tidak mendengar suaranya dan dapat kulihat punggungnya bergerak pelan. Sepertinya Dede juga sudah kembali tertidur.

Keke tak terusik sedikit pun, ketika aku merebahkannya di atas kasurnya yang bernuanasa ungu lavender. Kurapikan posisi kaki dan kepalanya agar tidak kaku ketika bangun nanti.

Setelah selesai dengan Keke, aku berjalan ke arah Dede yang memang betul-betul sudah tertidur dengan mulut terbuka. Lelap.

Jadi, apa itu barusan? Mereka betul-betul bangunkah atau hanya mimpi sambil jalan? Dasar bocah. Jam dinding burung hantu di kamar mereka menunjukkan pukul 3.20.

Baru beberapa menit aku melamun di ruang baca. Namun, rasanya seperti baru saja melakukan penjelajahan waktu hingga belasan tahun. Mungkin, ini yang menyenangkan dari sebuah kenangan. Ia dapat membayar kerinduan, juga menyajikan kembali rasa dan sensasi yang sama seperti saat ketika mengukirnya.

Drrrrt. Drrrrt.

"Ada pesan?"

Belum sampai tanganku meraih selulerku, jendela pop up terhidang di layarnya, menghidangkan sebuah pesan, 'Ibu, sepuluh menit lagi ayah sampai. Jangan terlalu merindukanku, ya!'

Ish. Pesan macan apaan ini. Eh? Sepuluh menit? Gawat. Aku lupa. Ia bilang bahwa hari ini ia akan pulang cepat. Kupandangi seisi rumah. Kuingat-ingat beberapa hal dalam daftar pekerjaan soreku. Aku belum menyiapkan air dan menu makan malam. Rumah masih berantakan. Aku bahkan belum jadi belanja ke minimarket. Keke dan Dede tidur, aku tidak bisa meninggalkan mereka. Belum lagi paket di ruang baca masih berserakan.

Aduh. Aku sedang tidak siap dikomentari. Apakah aku harus meminta bantuan si kembar lagi? Baiklah. Sepertinya, aku akan berpura-pura ikut tertidur ketika menidurkan si kembar.



*****


(bersambung)

Friday, 10 October 2014

Mengapa Amarilis?


Lagu di atas merupakan lagu Amaryllis karya komposer Henri Ghys. Saya memainkannya dengan aplikasi piano pada ponsel saya. Oh iya, mohon maaf jika banyak sekali nada yang meleset karena saya mengulik melodinya semampu saya, hanya dalam beberapa menit. Kemudian segera merekam dan meng-upload-nya ke soundcoud  karena sudah sangat tidak sabar untuk segera menuliskan pos tentang amarilis ini.


Ilustrasi Bunga Ama
Amarilis merupakan nama salah satu spesies bunga, dari suku bakung-bakungan atau dengan kata lain ia masih satu keluarga dengan bunga lili. Nama amarilis diadaptasi dari namanya dalam bahasa inggris, yaitu amaryllis, dan dalam bahasa latin, yaitu Amarillya beladona. Bunga ini memiliki petal berjumlah enam, tiga di bagian dalam dan tiga di bagian luar. Bunga ini dapat bertahan di segala musim dan memiliki warna mencolok yang khas, seperti merah, kuning, putih, dll. Sekilas dia memang sangat mirip dengan bunga lili. Habitat bunga ini adalah di seluruh dunia, terutama Afrika.

Selain itu, berdasarkan kisah mitologi Yunani yang pernah saya baca sekitar dua tahun lalu, Amaryllis merupakan nama seorang dewi atau peri pemalu yang jatuh hati pada seorang pemuda bernama Alteo, ketika pertama kali melihatnya. Namun, niat Amaryllis untuk menyatakan cintanya tak kunjung terwujud karena Alteo ternyata tidak mudah jatuh cinta pada seorang gadis karena dia sangat menyukai bunga melebihi apa pun. Bahkan, pernah suatu ketika Alteo berujar, "Aku hanya akan mencintai gadis yang memberiku sekuntum bunga yang belum pernah kulihat sebelumnya."

Hal ini membuat Amaryllis bimbang, hingga suatu ketika dia meminta nasihat kepada (semacam) dewi cinta. Dewi tersebut menyarankan Amaryllis untuk pergi mengunjungi kediaman Alteo setiap senja dan menampakkan dirinya. Dia juga menyuruh Amaryllis mengambil sebuah panah suci dan menggunakannya untuk memanah jantung dan hatinya sendiri, di setiap malam dalam setiap kunjungannya, dengan harapan Alteo akan memperhatikan kehadirannya. Amaryllis melakukan setiap nasihat tersebut. Pada malam pertama kunjungannya di rumah Alteo, dia berdiri menghadap ke rumah dan memanah dadanya menembus ke dalam jantung dan hatinya. Namun sayangnya, Alteo tidak melihat apa yang dilakukannya. Malam kedua, ketiga, dan seterusnya, Amaryllis selalu melakukan hal yang sama meskipun lambat laun tenaga dan darahnya habis terkuras dan Alteo tak kunjung menyadari tindakan menyedihkannya. 

Hingga malam ketiga puluh pun akhirnya tiba dan dia telah kehabisan segala daya yang ia punya. Tusukan panah di malam ketiga puluh itu membuatnya terluka hebat sehingga darah yang berasal dari tubuhnya menggenang dan merembas masuk ke dalam pintu rumah Alteo. Alteo pun menyadari kemunculan darah tersebut dan bergegas membuka pintu. Ketika pintu terbuka, Alteo mendapati sekuntum bunga asing berwarna merah segar tertanam di depan pintu rumahnya. Bersamaan dengan itu, dia juga melihat sesosok gadis terkulai dengan keadaan yang sangat lemah dan ternyata itu adalah Amaryllis. Hal itu membuat dia tersadar bahwa Amaryllis memperhatikan dan menantinya selama ini. Namun, dia sangat terlambat dalam menyadari semua hal tersebut. Sosok gadis itu mulai memudar dan ini artinya dia akan segera menghilang. Alteo pun mendekati gadis tersebut, memberinya sebuah ciuman yang lembut, ciuman pertama dan terakhir antara mereka berdua. Amaryllis pun tersenyum menyadari pengorbanannya akhirnya membuahkan hasil, meskipun ini sudah sangat terlambat. Dia akhirnya lenyap dan menyisakan bunga merah tadi, yang kini tampak mekar menumbuh lebih besar seiring dengan menghilangnya dirinya. Alteo belum pernah meliihat bunga merah ini sebelumnya, kemudian dia menamainya Amaryllis.

Ini kisah yang dramatis bukan? Saya baru mengetahui kisah ini, setelah bertahun-tahun saya menggunakan nama amarilis tersebut sebagai username saya. Sedikit kaget dan sedih ketika pertama kali membacanya. Namun, saya tidak ingin menghilangkan nama tersebut dari username saya, meskipun berdasarkan mitologi Yunani di atas, bunga bernama amarilis ini memiliki kisah hidup dan perjuangan meraih cinta yang tragis. Kekeraskepalaan saya dalam mempertahankan penggunaan nama amarilis ini sebenarnya disebabkan oleh saya yang sudah terlanjur cinta pada nama tersebut. 

Mungkin, hanya sedikit orang yang tahu apa itu amariils. Dan saya sudah terbiasa menghadapi wajah-wajah bertanya-tanya dari mereka yang baru sekali mendengar nama amarilis dari saya atau menjawab sekenanya pada mereka yang menyempatkan waktu untuk bertanya kepada saya tentang arti nama tersebut. Selama bertahun-tahun, seringkali saya ditanyai tentang amarilis ini. Ada yang bertanya dengan sangat mendalam, ada pula yang bertanya untuk sekadar basa-basi saja. Ada yang saking penasarannya hingga browsing gambar lewat internet, ada pula yang terpuaskan rasa penasarannya dengan hanya diberi jawaban, "Amarilis itu nama bunga," oleh saya. 




Saya pertama kali mengetahui nama amarilis ketika duduk di sekolah dasar, dari sebuah manga (komik) cantik karya Mariko Takeda berjudul AMARILIS. Mungkin Anda pernah membacanya? Saya masih kelas 3 atau 4 SD ketika membacanya, jadi ingatan dan nalar saya masih sangat buruk saat itu. Jika tidak salah ingat dan tidak salah paham, komik ini bercerita tentang seorang gadis bernama "sebut saja Mari-chan" (saya lupa siapa namanya).

Mari-chan merupakan anak bungsu dari lima bersaudara dan anak perempuan satu-satunya di antara mereka berlima. Dia memiliki kakak-kakak laki-laki yang unik-unik dan memiliki sifat yang berbeda satu sama lain. Kakak pertamanya (yang berambut biru panjang) menjadi seorang waria untuk mendalami pekerjaannya demi menghidupi keempat adiknya. Kakak keduanya, saya tidak ingat apa profesinya, tapi bisa jadi dia adalah seorang rocker. Kakak ketiganya adalah sosok berkaca mata dan lagi-lagi saya tidak tahu apa pekerjaannya. Yang terakhir, yaitu kakak keempatnya adalah seorang pelajar, sama seperti Mari-chan. Kakak keempatnya inilah yang paling dekat dengan Mari-chan, meskipun paling jaim dan paling jail terhadapnya. Meski demikian, si kakak keempat ini merupakan salah satu sosok yang paling tahu segala hal, khususnya tentang Mari-chan, dan juga paling sering muncul di dalam komik, setelah si Mari-chan itu sendiri. 

Awalnya, komik ini bercerita tentang kehidupan keluarga Mari-chan dan kakak-kakaknya. Namun, semakin ke tengah cerita saya kecil pun menyadari jika komik ini juga berkisah tentang musik. Mari-chan, sedari kecil dilarang oleh kakak pertamanya untuk bermain bahkan berkenalan dengan musik. Hal ini membuat Mari-chan bertanya-tanya, meskipun dia tetap mematuhi perintah kakaknya tersebut. Pada suatu hari, Mari-chan yang hampir tidak pernah melihat apalagi memainkan alat musik, tertarik untuk mendekati sebuah piano di sekolahnya. Penasaran, dia pun membuka penutupnya dan memencetnya di sembarang nada. Aneh, tetiba dia seperti mendengarkan alunan lagu tertentu dalam imajinasinya dan ia pun menjajal memainkannya dengan piano tersebut. Secara ajaib, dia memainkan sebuah lagu dengan nada yang sama seperti yang didengarnya di dalam imajinasinya. Dia merasa bingung, mengapa dia bisa bermain piano bahkan sebuah lagu, padahal dia tidak pernah menyentuh piano sama sekali. Tanpa dia sadari, aksinya itu teramati oleh teman sekelasnya "sebut saja dia Mayumi-chan". Mayumi-chan kaget karena Mari-chan dapat memainkan lagu itu pada percobaan pertama, padahal dia tahu bahwa Mari-chan tidak pernah mengenal musik sama sekali. Lagu itu berjudul Amarilis. Lagu yang baru berhasil oleh Mayumi-chan setelah berlatih selama satu atau dua bulan lamanya. 

Sejak kejadian itu, Mari-chan dan Mayumi-chan menjadi berteman cukup baik. Mayumi-chan berasal dari keluarga kaya raya yang memiliki rumah mewah dan selalu diantar atau dijemput oleh sopir pribadi. Berbeda dengan Mari-chan yang memang ditakdirkan menjadi anggota keluarganya saat ini, yang meskipun tidak kaya sama sekali, tetapi sangat hangat dan penuh kasih sayang. Hal yang sangat sulit dirasakan oleh Mayumi-chan. Semakin lama pertemanan Mari-chan dan Mayumi-chan semakin dekat dan Mari-chan pun menjadi sering bermain ke rumah Mayumi-chan sepulang sekolah. Mayumi-chan memiliki sebuah piano bersuara merdu di rumahnya dan ini adalah salah satu alasan yang membuat Mari-chan suka ketika berkunjung ke sana. Tidak hanya suka, ternyata Mari-chan memiliki bakat spesial yang misterius di bidang musik, terutama piano. Dia dapat memainkan berbagai lagu dari berbagai komposer dengan berlatih hanya beberapa kali. Hal ini membuat Mayumi-chan sedikit iri. Dia sedih karena dia merasa tidak memiliki bakat bermain piano seperti Mari-chan, padahal ibunya adalah seorang pianis terkenal. 

Suatu ketika, Ibu Mayumi-chan melihat Mari-chan memainkan Amarilis dan dia teringat akan masa lalunya, ketika dia memainkan lagu tersebut untuk calon anak yang sedang dikandungnya. Namun sayangnya, anak tersebut tidak pernah tumbuh besar dalam asuhannya karena menurut dokter dia terlalu lemah untuk bertahan ketika dilahirkan. Jika masih hidup, anak itu akan seumuran dengan Mayumi-chan dan Mari-chan. 

Di akhir cerita, akhirnya terkuak sebuah fakta yang mengejutkan tentang kehidupan Mari-chan berdasarkan keterkaitan petunjuk-petunjuk yang dimunculkan oleh komikusnya dalam komik ini. Mari-chan yang sepanjang hidupnya dilarang bermain musik oleh kakak pertamanya ternyata adalah anak seorang pianis terkenal Jepang, yang tidak lain tidak bukan adalah ibu Mayumi-chan. Kakak pertamanya itu tidak ingin Mari-chan tumbuh menjadi seorang pemusik seperti ibunya, seorang ibu yang menurutnya dulu telah tega menelantarkan anak yang baru saja dilahirkannya. Kakak keempat Mari juga ternyata mengetahui jika ibu Mayumi-chan adalah ibu kandung Mari-chan karena dia melihat saat-saat ketika bayi Mari-chan diberikan kepada kakak pertamanya, di samping sang ibu kandungnya, yang saat itu tengan mengalami tekanan mental. Mayumi-chan sendiri merupakan anak yang diadopsi oleh keluarga tersebut untuk menggantikan Mari-chan, karena pasca menyadari kehilangan bayinya, si ibu kembali mengalami depresi. Fakta ini pun menjelaskan teka-teki dari mana bakat musik Mari yang spesial berasal.

Setelah melalui berbagai kendala dan kejadian, akhirnya Mari pun diperbolehkan untuk bermain musik dan menemui ibu kandungnya oleh kakak pertamanya dan berhasil melakukan konser pianonya yang ditonton oleh semua kakak-kakaknya dan keluarga kandungnya. Ah! Ini adalah komik pertama yang saya baca ketika SD. Komik dengan cerita yang ringan, tetapi sangat berkesan dan tidak akan pernah hilang dari memori saya. Nama Amarilis terngiang-ngiang hingga saya besar dan mengenali berbagai hal. Ketika saya mulai tertarik untuk menulis dan kebingungan dalam memilih nama yang tepat untuk nama pena saya, saya pun memilih nama itu. Nama yang indah dan penuh kenangan masa kecil. Beberapa hari lalu, saya browsing tentang score dan berbagai hal yang berhubungan denganlagu Amarilis seperti yang ada dalam komik Amarilis. Ada berbagai hasil temuan yang diperoleh, tetapi akhirnya saya memutuskan untuk jatuh cinta pada Amaryllis karya Henri Ghys yang nadanya cukup sederhana, tetapi mudah nyantol di telinga. Iseng saya pun mencari atau ngulik melodinya dan merekamnya. 

Jadi, inilah asal muasal saya menggunakan amarilis sebagai username saya.

Saturday, 27 September 2014

Jalan-jalan Geng Antiwacana: Dieng Plateau dan Gunung Prau (plus dokumentasi dan cerita geje yang sangat panjang)


Dari depan ke belakang: Andre, Eri, Nana, Isna, Shinta, Rheta, dan Roland.
Diambil oleh saya ketika turun gunung dengan Nikon Coolpix L26.
Dari mana sebaiknya saya memulai cerita ini? Gengnya? Destinasinya? Personelnya? Atau wacananya? Well, ngomong-ngomong tentang wacana, rencana jalan-jalan yang akan saya ceritakan dalam post ini hampir menjadi wacana belaka loh. Mengapa? Mungkin dari foto di atas dapat dilihat bahwa susunan personel jalan-jalan ini didominasi oleh para dara manis? Jadi, kebetulan saat itu, ketersediaan anak paguyuban yang masih tersisa di kampung halaman saya, Kebumen, sudah sangat terbatas, terutama anak laki-lakinya. Sementara para anak-anak gadis ini sangat ngidam untuk pergi ke Dieng sebelum kembali ke tanah rantau, sebelum hari kerja atau perkuliahan dimulai. Akibatnya, mereka, yang selama liburan semester genap kemarin kelamaan dipingit di rumah, pun berusaha untuk mewujudkan keinginan tersebut, meskipun stok tebengan sangat terbatas karena (pada akhirnya) para pria yang menyanggupi untuk ikut hanya 2 orang (atau 3 orang?) sedangkan jumlah wanita yang pengen banget ikut ada 6 orang. 

*Flashback perencanaan on*
Tanggal 5 Agustus 2014, Shinta, adik angkatan saya di Perhimak UI (paguyuban mahasiswa UI daerah saya, Kebumen) menghubungi saya, yang ternyata sebuah ajakan untuk jalan-jalan ke Dieng, Wonosobo. Saya, yang pada saat itu memang sedang hobi-hobinya jalan-jalan dan camping, tanpa berpikir panjang, tanpa sempat meminta izin ke mama dan romo saya, tentu mengiyakan ajakan tersebut. Namun, dengan pertimbangan: asalkan ada yang mau ditebengi oleh saya, hehe. Beberapa lama kemudian, dibuatlah grup percakapan beranggotakan calon-calon personel yang akan ikut dalam jalan-jalan, yang menurut saya masih "abu-abu" ini. Mereka semua merupakan anak-anak Perhimak UI, lintas angkatan. Dari belasan orang yang dikandidatkan akan ikut, ternyata satu per satu dari mereka tumbang karena berbagai alasan. Akhirnya, pada tanggal 7 Agustus, fixed tersisa 9 orang yang masih bertahan dan (lagi-lagi) pengen banget pergi ke Dieng. Sembilan itu terdiri dari 3 orang anak laki-laki: Roland, Rosyid, dan Andre, serta 6 anak perempuan: Nana, Rheta, Isna, Shinta, Eri, dan saya. Sembilan orang yang tersisa inilah yang saya sebut dengan Geng Antiwacana (dalam hal jalan-jalan) di pos ini.

Setelah anggota fixed, rundown, persiapan, dan perlengkapan yang dibutuhkan dalam jalan-jalan yang ternyata berformat camping ini segera di-list oleh Shinta, yang bertindak sebagai koordinator. Ternyata, jalan-jalan ini tidak hanya sekadar jalan-jalan dan menginap, tetapi juga mendaki dan camping mendirikan tenda di salah satu puncak gunung di pegunungan Dieng, yaitu Gunung Prau. Bagi sebagian besar dari kami, terutama si kaum hawa, ini adalah kali pertamanya menaiki gunung dan camping di atasnya. Terlebih lagi, (kalau tidak salah) hanya Roland, Andre, Rosyid, dan Rheta yang pernah ke Wonosobo sebelumnya, sisanya hanya dengar -dengar namanya saja. Karena masih minimalnya pengalaman dan informasi terkait pendakian, kami pun hanya menyiapkan perlengkapan pribadi seadanya, seperti jaket/baju hangat, mantel hujan, senter. Untuk perlengkapan berkemah, seperti tenda dan sleeping bag, kami memutuskan untuk menyewa di dekat lokasi. Terima kasih kepada Eri, yang sudah berinisiatif untuk mencari informasi dan kontak dari penyedia perlengkapan pendakian di sekitar Dieng. Rencana keberangkatan dari Kebumen adalah Jumat pagi, 8 Agustus, sedangkan pendakiannya dimulai sorenya, yaitu setelah salat Jumat.  

*Flashback perencanaan off*


Realisasi Perjalanan

Keberangkatan
Sebelum berangkat, sudah seperti tradisi, kami berkumpul di sekitar alun-alun Kebumen. Setelah ngaret sekitar setengah jam, akhirnya kami bertolak dari Kebumen menuju Wonosobo dengan naik motor, pada pukul 7.45 pagi. Karena ada 8 orang (Rosyid rencananya mau menyusul, setelah turun dari Gunung Sumbing *jika mampu* *dan ternyata dia tidak dapat menyusul tepat waktu, akhirnya gagal menyusul deh*), kami pun menggunakan 4 motor. Pasangan pertama: Roland dan Rheta, pasangan kedua: Andre dan saya, pasangan ketiga: Eri dan Shinta, dan pasangan keempat: Nana dan Isna. Roland, Andre, Eri dan Nana bertindak sebagai "sopir". Perjalanan dari Kebumen-Wonosobo ditempuh dalam waktu 3 - 4 jam dikarenakan kami memacu kendaraan dengan kecepatan sedang dan sempat berhenti beberapa menit untuk berganti shift antara pembonceng dan yang membonceng, pada pasangan ketiga dan keempat. 'Mereka betul-betul perempuan perkasa!' pikir saya.

Sekitar pukul 10.30, kami mulai memasuki wilayah Wonosobo. Kami berputar satu kali di alun-alun Wonosobo hingga akhirnya singgah di masjid agung Wonosobo yang terletak di kompleks alun-alun. Suhu di sana pun mulai terasa mendingin. Pemandangan dan atmosfer alun-alun Wonosobo terlihat sangat asri dan sejuk, baik dipandang mata maupun dirasa kulit. Untuk menghangatkan badan, kami mulai menggunakan masker dan sarung tangan. By the way, saya tidak membawa masker dan sarung tangan loh. Saya kira Wonosobo tidak akan sedingin itu. Ternyata, baru suhu di wilayah perkotaannya saja sudah sedingin itu, apalagi nanti di pegunungan Diengnya? Beruntung, saya mendapat pinjaman sarung tangan dari Roland, yang ternyata membawa dua pasang sarung tangan. Mengingat waktu menuju salat Jumat masih sekitar satu jam, kami pun memutuskan untuk meneruskan perjalanan hingga masuk ke wilayah Dieng. Para lelaki itu akan melaksankan ibadah salat Jumat di sekitar basecamp pendakian Gunung Prau. 
Pelajaran nomor satu: Jangan pergi ke daerah dataran tinggi tanpa membawa sarung tangan dan masker, terlebih karena saya selalu lebih mudah kedinginan dibandingkan orang lain kebanyakan. Pelajaran nomor dua: Karena masih pemula, jangan berani mendaki tanpa terlebih dahulu membaca informasi atau review lokasi pendakian. 

Registrasi
Halaman Pos (basecamp) Pendakian Gunung Prau,
jalur Patak Banteng. Diambil oleh saya ketika
baru tiba di lokasi dengan Myphone 403

Sebelum pukul 12.00, kami sudah mencapai desa Patak Banteng, yang terletak di sekitar jalan raya Dieng. Pada pendakian kali ini, kami memilih jalur pendakian Patak Banteng yang merupakan jalur tersingkat atau terpendek menuju puncak Gunung Prau. Karena jalur tersingkat, jalur ini memiliki medan yang lebih curam, sajian pemandangan alam yang lebih sedikit, tetapi dapat ditempuh dengan durasi pendakian yang lebih cepat, jika dibandingkan dengan jalur pendakian lain. 

Meskipun hari itu bukan weekend, ternyata ada cukup banyak kendaraan roda dua terpajang rapi di area parkir basecamp. Artinya, ada banyak pendaki lain juga selain kami. Benar saja, satu per satu orang dengan gumpalan besar tas carier di punggungnya berlalu lalang, keluar masuk melalui jalan setapak kecil di samping kanan area tersebut. Jalan itu adalah jalan menuju pintu masuk basecamp. Kami pun sontak memandangi diri kami masing-masing, membandingkan satu per satu benda yang melekat pada diri kami dengan apa yang yang mereka kenakan. Mereka memakai sepatu atau minimal sandal gunung, kami memakai sandal jepit tipis bahkan sandal cantik khas kondangan (ini si Nyonya Shinta). Mereka memakai kaos santai menyerap keringat, kami memakai baju atau kaos yang tidak beda jauh sih, cuma udah pakai jaket aja karena kedinginan. Mereka membawa (hanya) tas carier all in one yang superbesar, kami menjinjing tas gendong cantik berhias pita atau lukisan menara Eiffel yang kecil-kecil dan imut-imut. Pokoknya, kami dan mereka layaknya bumi langit. Perkiraan saya, Gunung Prau yang akan kami daki bukanlah gunung yang sebetul-betulnya gunung, melainkan sebuah bukit tidak terlalu tinggi yang puncaknya dapat ditaklukan kurang dari satu jam. Namun, setelah melihat mereka, para pendaki betulan, bukan pemula seperti kami yang amatiran, saya akhirnya tersadar jika Gunung Prau ini bukanlah sekadar bukit biasa. 

Gunung Prau ternyata merupakan salah satu puncak tertinggi dari gugus pegunungan di kompleks dataran tinggi Dieng yang banyak dikunjungi wisatawan ini. Ketinggiannya adalah 2565 mdpl. Mengingat letaknya di Wonosobo, yang merupakan dataran tinggi, Gunung Prau dengan ketinggian itu, memang memiliki jarak daki yang tidak terlalu panjang dan tinggi sehingga sangat cocok bagi pendaki pemula seperti kami. Jalur trekkingnya pun tidak terlalu ekstrem dan puncaknya dapat dicapai dalam waktu 2-3 jam pendakian. Meski demikian, sepertinya saya telah salah karena sebelumnya saya menganggap enteng gunung ini. Berdasarkan informasi yang dibaca oleh Eri, suhu di puncak gunung tersebut dapat mencapai minus atau kurang dari 0 derajat ketika menjelang subuh. Mulai saat itulah saya mulai bimbang dan sedikit cemas. 'Akankah saya masih hidup di sana tanpa menderita hypothermia? Bahkan berada pada ruangan ber-AC selama dua setengah jam saja, kulit saya sedingin es dan jari-jarinya menjadi kaku untuk menulis,' batin saya. Akhirnya, saya pun membulatkan niat, diiringi doa dan tekad membara untuk dapat menaklukan gunung pertama dalam catatan pendakian saya.

Usai salat jumat dan salat dzuhur, sebelum melakukan registrasi, kami pergi membeli perbekalan di minimarket yang terletak di pintu gerbang Dieng Plateau sekaligus mengambil perlengkapan berkemah yang sudah kami pesan di hari sebelumnya, yaitu dua unit tenda dan 5 buah sleeping bag. Memang dasar pemula, dalam memilih bekal makanan pun kami kebingungan. Akhirnya, kami membeli banyak sekali makanan dan minuman ringan dengan pertimbangan, "Sepertinya kita akan sangat kelaparan karena tidak akan memasak".

Ada yang unik dari berbungkus-bungkus makanan yang dijual di minimarket ini. Mereka tampak lebih besar daripada ukuran makanan ringan di tempat tinggal kami karena bungkusnya menggembung maksimal akibat tekanan tinggi di daerah sana. Saat keluar dari minimarket, kami baru sadar jika tas-tas yang kami bawa berukuran mungil-mungil. Akhirnya, kami paksa masuk saja bejibun makanan tersebut ke dalam tas-tas kami. Bungkus-bungkus makanan ringan tersebut kami lubangi, kami kosongkan udaranya, demi menghemat space tas. Kami mengumpulkan minuman-minuman ke dalam satu tas, yaitu tas Roland, karena ukuran tasnya paling besar. Pasca membagi-bagi bekal makanan ke dalam tas-tas kami, kami pergi makan di warteg (padahal di Wonosobo, sebutannya tetap aja warteg bukan warsob) yang ada di seberang minimarket. 
Pelajaran nomor tiga: persiapkan segala perlengkapan pendakian dengan baik sebelum berangkat, meski setidak ekstrem apapun medannya. Keselamatan, kenyamanan, dan keefektifan pendakian bergantung pada apa yang kita bawa. 

Peta jalur pendakian Gunung Prau via
Patak Banteng
Pukul 14.00 lebih, kami sudah kembali ke basecamp dan ikut mengantre untuk melakukan registrasi. Biaya registrasi untuk setiap pendaki adalah sebesar Rp5.000,00. Basecamp dipenuhi oleh para pendaki, baik yang siap berangkat maupun yang baru datang. Baik yang terlihat profesional, maupun yang terlihat sama abal-abalnya dengan kami.

Jadi, saya akan mendaki bersama mereka nanti? Wah, rasanya seperti mimpi yang terwujud setelah sekian lama terpendam hanya ada dalam angan-angan. Saat itu, saya sungguh berterima kasih kepada adik-adik angkatan ini yang entah bagaimana caranya kepikiran untuk mengajak saya. Saya memandang wajah mereka satu per satu, Rheta yang sudah sejak keberangkatan berbalut masker, Eri yang tampak sibuk merapalkan informasi-informasi terkait Gunung Prau yang telah dibacanya, Isna, Shinta dan Nana yang sesekali memperbicangkan sesuatu, serta Roland dan Andre yang ternyata sudah pernah naik gunung sebelumnya. 


Sebelum memulai perjalanan pendakian kami menyempatkan diri untuk berdoa bersama dan melakukan tos, berharap semangat dan kelancaran menyertai pendakian kami. Andre memimpin doa singkat kami. 
Momen tos sebelum memulai pendakian
*abaikan Rheta (paling kiri) yang gagal pose, :p*

Pendakian
Pendakian kami dimulai pukul 14.25. Perjalanan diawali dengan memasuki gang kecil yang sarat pemukiman para warga desa Patak Banteng. Jalan aspal, setapak dan tanjakan bertangga masih terbentang di beberapa ratus meter perjalanan awal pendakian menuju pos 1. Baru beberapa menit melangkah, kami sudah mulai bingung mencari rute jalan, yang menurut peta terletak di dekat TK dan Musala. Di antara kami hanya beberapa orang yang dapat membaca peta. Mengandalkan intuisi, akhirnya kami pun menemukan jalan yang (sepertinya) benar, walaupun pada akhirnya kami memutuskan untuk bertanya pada seorang ibu, warga setempat, yang tetiba lewat. Ibu itu berbaik hati menunjukkan dan mengantarkan kami hingga sampai ke jalan menanjak dan beranak tangga yang merupakan penanda batas antara desa hingga kaki gunung. 

Yuhuu, bawaan kami minimalis, kan? :D
Ujung dari tangga ini adalah jalan tanah yang membelah area lahan pertanian warga. Jalan tersebut, sengaja dibuat sebagai salah satu akses yang menghubungkan pemukiman warga dengan jalan menuju pos 1. Jalan menuju pos 1 terbentuk dari susunan bebatuan kali yang rapi, mulus, dan tidak terjal. Meski demikian, posisinya yang konstan menanjak cukup membuat kami kewalahan di awal pendakian ini. 

Kondisi jalan menuju Pos 1

Di tengah perjalanan yang baru beberapa menit ini, tetiba, rombongan kami terpisah-pisah sebagai akibat dari seleksi ketahanan. Eri dan Andre dengan kecepatan mendaki yang cukup konstan berhasil memimpin di depan meninggalkan rombongan. Saya berada di belakang mereka berdua, sesekali berjalan mundur sembari menikmati pemandangan di sisi kanan jalan yang bertabur panorama alam, berhiaskan relief pertanian daratan Wonosobo yang terpagari bukit dan pegunungan di sana-sini. Sesekali saya memotret rombongan tertinggal yang berada di belakang saya: Nana, Isna, Rheta, Shinta, dan Roland. Mereka agak memperlambat laju sembari menunggu Nana yang tetiba hipotensi dan pandangannya berkunang-kunang sejak mulai naik. 

Pemandangan di sisi kanan jalan

Di sisi kiri jalan, tebing-tebing cukup tinggi menampakkan hidangan bergerombol-gerombol bunga kerdil beraneka warna yang sangat indah, hingga dengan memandangnya saja akan membuatmu lupa akan kelelahanmu. 

Pemandangan di sisi kiri jalan
Akhirnya, setelah melewati jalan menanjak tanpa jeda, kami pun tiba di pos 1, yang bertitel Sikut Dewo (Siku Dewa). Alhamdulillah, kami berdelapan dapat mencapai pos 1 dengan selamat, walaupun Nana sepertinya Nana masih tampak puyeng-puyeng gimana. Tidak disangka, baru sampai pos 1 sudah cukup ngos-ngosan begitu. Oh iya, karung-karung yang menjadi background foto di bawah ini bukan berisi beras loh ya, melainkan pupuk. Terbayang bagaimana rasanya para petani itu membawa pupuk itu melewati jalan menanjak itu? Oh, tentu saja lelah. Untung pupuk, bukan beras. Namun, ternyata tidak semua petani di sana membawa karung-karung tersebut dengan memanggulnya. Ada yang membawanya dengan menggunakan motor karena ternyata jalan menuju pos 1, yang sudah bagus ini, memang dapat dilalui oleh motor. Tidak hanya dilalui oleh petani, jalanan pos 1 ini ternyata juga seolah menjadi tempat nongkrong para tukang ojek atau peternak burung dara. Tak khayal, banyak dari mereka yang sering berlalu lalang di jalan ini. PAra tukang ojek bahkan memiliki tempat mangkal di pos 1. Jika kau penasaran pada motor macam apa yang dapat melalui medan semacam ini, maka kau dapat membayangkan penampakan motor off road yang sering ditayangkan di berita olahraga di televisi.
Pos 1

Setelah beberapa menit beristirahat melepas lelah, kami melanjutkan pendakian menuju pos 1. Medan yang kami lewati dari pos 1 menuju pos 2 bukan lagi jalan berbatu yang agak mulus, melainkan jalan tanah yang melewati ladang pertanian palawija. Di kanan dan kiri satu-satunya jalan pada jalur Patak Banteng ini, dapat dilihat kekayaan hasil tanam andalan dari Wonosobo: semacam kacang-kacangan. Kami beruntung karena hari itu tidak hujan sehingga pendakian kami terbilang lancar.

Rombongan tertinggal
Di tengah perjalanan antara pos 1 dan pos 2, lagi-lagi Eri dan Andre melangkah lebih dulu meninggalkan rombongan tertinggal, yang mulai ngos-ngosan lagi. Mungkin terlihat dari ekspresi wajah mereka, hanya Shinta yang mampu mengangkat tangannya (?) mengisyaratkan pesan "Aku rapopo" dan Roland yang tersenyum sembari mendongakkan kepala, mungkin karena adanya pengaruh beban  tenda dan tasnya yang berisi air minum berliter-liter.
Rombongan yang meninggalkan

Pos 2 Canggal Walangan

Perjalanan menuju pos 2, meskipun tidak terlalu menanjak, tetapi ternyata cukup menantang. Kami mulai disuguhi dengan pohon-pohon tinggi yang berdiri tegak, ladang-ladang lambat laun mulai menjarang, dan ini adalah tanda bahwa kawasan hutan mulai menjabat. Jejalanan aspal dan rumah-rumah warga terlihat semakin kecil dan menyisakan garis kaku berliku. Di pos ini kami masih sempat berfoto, meskipun dingin mulai menusuk karena kabut sedikit demi sedikit mulai turun.

Masih bisa bergaya di pos 2

Medan pendakian yang sebetulnya
*motretnya sambil ngos-ngosan*
Selepas dari pos 2, medan yang kami daki semakin menjadi-jadi. Kami seolah-olah tengah mendaki melewati parit-parit air yang di kanan kirinya berdindingkan tanah dan saya tidak dapat membayangkan jika saat itu hujan turun. Mungkin kami sudah terguyur dan pendakian pun pasti akan lebih sulit. Sebagai pemula, beberapa dari kami cukup terkaget melihat medan yang tiba-tiba mengganas ini. Break pun semakin sering dilakukan demi mengatur nafas dan mengumpulkan energi. Mulai di sinilah, rombongan tertinggal hanya terdiri dari empat orang, yaitu Rheta, Nana, Isna, dan Roland. Shinta sudah terbebas dari rasa mualnya dan bergabung dengan rombongan meninggalkan yaitu Andre dan Eri. By the way, anak laki-laki yang tertangkap kamera membawa gitar biru di belakang Roland itu bukan anggota rombongan kami, ya. Dia anggota rombongan besar lain, yang mungkin nanti akan saya ceritakan pada bagian puncak.

Pos 3 Cacingan
Ini tidak ada yang ingin berfoto bareng palang ini, nih?
Saya dan Eri sampai ke pos 3 beberapa menit setelah Andre dan Shinta. Mereka berdua meninggalkan kami berdua, yang mulai kewalahan mengatur nafas, dan sampai ke pos 3 terlebih dahulu. Mungkin ini berlebihan, tetapi medan menuju pos 3 memang membuat kami cukup terseok-seok hingga memanjat-manjat jalan berbatu yang kami pijaki seperti spider-man yang kehilangan kekuatan supernya. *maklum masih pemula*

Usai melewati pos 3, kabut mulai menyergap turun dengan cepatnya, membuat kami berempat, Andre, Shinta, Eri, dan saya, semakin mempercepat langkah, tapi tetap berhati-hati. Selain itu, kondisi kemiringan tanahnya pun semakin curam, membuat kami berjalan melambat, setapak demi setapak. Satu rombongan pecinta alam berhasil mendahului kami dengan membuat rute baru, menerobos semak belukar. Saya hanya dapat terkagum melihat mereka yang terlihat sangat keren. Semakin dekat ke puncak, kerapatan pepohonan semakin jarang dan jumlahnya semakin berkurang. Mereka digantikan dengan bunga-bunga kecil yang tampak semakin banyak ketika semakin mendekati puncak. Kondisi tanah juga semakin tidak berbatu sehingga agak terasa lebih licin dibandingkan jalan-jalan di pos sebelumnya. 

Rombongan kami fixed terpecah menjadi dua, yaitu rombongan yang tertinggal dan yang meninggalkan. Saat kabut mulai semakin tebal, saya cemas pada rombongan tertinggal karena di salah satu belokan (?) ada rute ganda: rute utama (kiri) dan rute alternatif (kanan) buatan entah siapa yang begitu dekat dengan di bibir jurang (?). Saya takut mereka memilih rute ke kanan yang berbahaya. Akhirnya, saya pun memutuskan untuk mengecek kondisi mereka sesekali dengan berteriak memanggil nama mereka satu per satu, hingga ada sautan dari mereka. Kemudian saya meneriakkan rute yang benar kepada mereka, misalnya "Kiri! Belok kiri, jangan ke kanan!" Memalukan, memang. Namun, setidaknya ini membuat saya lebih tenang.


Puncak
Setelah mendaki selama kurang lebih 3 jam lamanya, akhirnya kami berempat, rombongan yang meninggalkan, sampai ke puncak. Saat itu sudah melewati pukul 17.30, tetapi langit senja itu belum juga menjingga. Namun, masya Allah, indah sekali bumi-Nya ini. Saya hanya mampu terpana dengan sedikit ternganga menyaksikan gumpalan awan putih yang melayang tanpa bergelantung pada langit biru, bergerak cepat tertiup angin yang dinginnya bisa jadi setara dengan dinginnya lemari pendingin. Bulan tak utuh juga tampak turut memamerkan diri. Indah sekali.

Kami termasuk rombongan yang datang paling awal dan baru terdapat satu atau dua tenda yang sudah berdiri. Rombongan dari anak yang tadi membawa gitar ternyata juga sudah sampai. Jumlah mereka cukup banyak, sekitar lima belas orang mungkin. Sebagian dari mereka mendirikan tenda dengan sangat gaduh dan sesekali berujar dengan bahasa jawa untuk sekadar mengaduh atau memaki sekalian, sedangkan sisanya berfoto ria atau bermain gitar sambil menyanyikan lagu "Bang Ocit, prepet prepet prepet", OST sebuah sinetron stripping yang tayang di S*TV. Selain mereka, ada satu rombongan lain yang memarkirkan tenda mereka jauh sekali di seberang bukit, jauh dari palang penanda area perkemahan. Mungkin mereka sekelompok manusia yang suka menantang angin. Sungguh, angin di sana bertiup dengan sangat kencang. Sayangnya, alih-alih angin sepoi, angin dingin yang membekukan yang meniup kami. 

Sebelum mendirikan tenda, kami juga sempat berfoto-foto dengan berlatarkan angkasa yang mulai terkepung kabut awan. Tak lupa, kami juga melapisi badan kami dengan beberapa lapis baju dan jaket lain demi meminimalisasi dingin yang mulai membuat jemari dan wajah kami lupa mengenali rasa. Untuk mengatasi rasa dingin tersebut, akhirnya kami terus bergerak ke sana dan kemari, berharap dapat sedikit hangat. 

Shinta setelah berubah

Objek utamanya gunungnya ya, bukan orangnya :p

Bagaimana tentang mendirikan tenda? Oh iya, sebenarnya, salah satu alasan kami menunda-nunda mendirikan tenda adalah sembari menanti Roland karena hanya dialah yang dapat mendirikannya. Kami berempat sama sekali belum pernah mendirikan tenda sendiri. Namun, dingin yang semakin menyayat-nyayat membuat saya ingin segera membuat tempat berlindung ke dalam tenda. Berbekal nekad, akhirnya kami pun mendirikannya sembari membayangkan kemungkinan bentuknya, menghitung jumlah rangkanya, memperkirakan letak perpotongan keduanya, mengikatnya tepat di tengah lalu menyelimutkan tenda itu dan mengatur bentuknya hingga sesuai rangkanya. Tadaaa!!! Tenda pun jadi seperti ini... *peyot*

Tenda dan senyum yang gagal  dari Eri... :')
Pukul 18.15, rombongan tertinggal pun akhirnya sampai ke area perkemahan atau sekitar 30 menit setelah kami berempat. Mereka bercerita jika mereka berkesempatan melihat sunset ketika dalam perjalanan dan mereka terlihat bahagia walaupun tampak sangat kelelahan. Roland si mantan anak pramuka secara taktis langsung meraih tenda yang dibawanya dan dalam sekejap tenda pun berdiri, tentu saja dengan sedikit bantuan dari Andre, Shinta, dan saya. Kami melaksanakan ibadah salat magrib dan isya di puncak! Ini pertama kalinya untuk saya.

Tenda menjadi ekuipmen yang sangat berguna dalam camping kali ini karena terbukti dia bagaikan rumah yang melindungi kami dari jailnya angin yang mulai mengobrak-abrik semakin menjadi-jadi setiap benda yang ada di puncak itu, seiring semakin jatuhnya malam. Gemintang pun masih menyembunyikan kerlipnya seakan sedang menjauhkannya dari mendung. Malam Sabtu itu terasa sangat panjang daripada malam-malam biasanya, satu detik berlalu bagaikan satu menit, satu menit bagaikan satu jam, meskipun kami telah bergabung di dalam satu tenda dan mengarang lelucon atau permainan kejujuran. 

Di dalam tenda
Wajah itu tidak bisa bersandiwara

Menginjak pukul 22.00, akhirnya kami menyerah pada kantuk dan lelah, lantas mulai menata posisi tidur terbaik. Kami para gadis menggelar lima sleeping bag yang kami sewa untuk dijadikan selimut dan alas tidur dan berenam tidur di dalam satu tenda yang seharusnya diperuntukkan hanya untuk empat orang. Kami tidur membujur dengan posisi yang tidak bisa dibilang nyaman. Saya tidur di space yang tersisa di mana kaki saya tertekuk, dapn pada saat terbangun keesokan paginya, kaki saya pegal gila dan saya hampir tidak bisa meluruskannya. Sebelum kami tidur, ada suara-suara nyanyian dari arah tenda rombongan anak yang membawa gitar, lagi-lagi menyanyikan Bang Ocit, entah untuk ke berapa kalinya di malam itu. Ada juga rombongan pendaki lain yang baru datang di saat kami baru akan mulai memajamkan mata. Mungkin karena faktor cahaya yang kurang dan lain-lain, entah karena apa, proses mereka mendirikan tenda berlangsung sangat lama, berisik, tapi kocak karena Shinta terus saja menirukan suara medhok dari salah satu personel rombongan mereka. Dan lama-lama kami pun tertidur dengan tidak tenang karena angin masih saja mengobrak-abrik tenda kami seolah-olah akan mencabut tenda kami dari akar pasaknya. 



Fajar
Menjelang shubuh, beberapa anak mulai membuat gerakan-gerakan. Rheta yang tidak tidur semalaman tiba-tiba gelagapan mencari alas kaos kakinya yang entah bagaimana caranya sudah terlepas dan membuat kakinya setengah dingin. Shinta yang tidur di paling pinggir dan dekat dengan ventilasi tenda terbangun dengan tubuh yang kedinginan. Isna dan Eri sepertinya tidak dapat tidur dengan tenang karena berisiknya kibaran tenda. Nana meskipun tampak tidur tenang, tetapi ternyata dia dapat merasakan gerakan goyangan tubuh saya yang menggigil kedinginan saat tertidur. Isna sempat keluar dini hari itu, untuk menilik langit, barangkali dapat menangkap potret gemintang. Namun, dia mengurungkan niatnya dan lebih memilih menggelungkan badan di dalam tenda yang lebih hangat.  Yep! Betul sekali, suhu pagi hari di sana tetiba sedingin es. Jauh lebih dingin daripada malamnya. 

Menjelang pukul 05.30, Isna mengintip keluar tenda dan dia setengah berteriak sambil menunjuk ke arah tenggara. Sederetan manusia sudah menancapkan diri di posisi terbaik pilihan mereka masing-masing, di tepian puncak Prau super dingin yang menurut Shinta jauh lebih dingin dibandingkan dengan suhu di Gunung Papandayan. Hwaaah! Mereka siap menyaksikan kemunculan sang surya. Perlahan, kabut-kabut bergerak menyingkirkan badan, membuka tirainya yang menutupi beberapa siluet benda besar yang menelungkup dengan gagah dan kalem, tampak melayang di atas awan. Ternyata sosok itu adalah puncak Sindoro dan Sumbing, dua dari tiga anggota triple S (Slamet, Sindoro dan Sumbing), salah satu menu pendakian favorit para manusia pecinta alam. 

Kami mempertebal lilitan baju kami, lalu melompat keluar dari tenda untuk bergabung dengan pendaki-pendaki lain. Syukurlah, kami tidak terlalu terlambat dan memperoleh spot yang tidak cukup buruk untuk berpose. Foto di bawah ini diambil pada saat baru keluar dari tenda. Tangan saya bergetar habit akibat kedinginan sehingga tidak dapat menjaga fokus kamera saku saya. Alhasil, fotonya kabur-kabur begini deh. 




Tak bosan kami mengabadikan setiap inchi penorama pagi yang sangat indah ini. Lelah hari sebelumnya terbayar lunas dengan hidangan-Nya yang membius mata dan alam bawah sadar ini. Pagi itu, tetiba saya jatuh cinta dengan puncak gunung dan segala proses pendakiannya. Saya tidak akan pernah bosan dengan menu hidangan mata yang satu ini. 
Menjelang matahari terbit, gunung Sindoro dan Sumbing semakin jelas terlihat

Yeay!!! Akhirnya, saya berfoto juga... ^^

Akhirnya, matahari pun melahirkan diri

Bagaskara ini meninggi, sinarnya menyilau, tetapi dinginnya belum juga berubah menjadi hangat

Perlahan, birunya angkasa turut menyambut pagi di arah Barat.

Awan mulai berarak, kabut melenyap dihempas angin pagi dan sinar mentari

Yeah! Akhirnya, tenda-tenda kami, para pendaki pun terlihat. Ini hanya sebagian dari sisi Timur.








Suka komposisi warna dalam foto ini
Ini dua dedek supersabar dalam mendamping mbak yu-mbak yu yang masih awam tentang daki-mendaki

Biru :)

Perjalanan Turun 
Mentari menaik dan panasnya mulai mengalir ke daratan tempat kami berada, meskipun angin dingin tak juga jemu membelai bulu kuduk. Kami telah puas menyaksikan sunrise di puncak Prau. Setelah sarapan dengan bekal makanan ringan yang sudah kami bawa hari kemarinnya, kami pun segera merobohkan tenda. Satu per satu pasak tercabut, rangka terlipat dan kain tenda terkulai lemah di tanah. Andre bertugas merapikan segala perlengkapan tenda sedangkan sisanya berinisiatif memunguti sampah-sampah sisa konsumsi kami. Jika cinta, kita harus menjaganya, kan? :D

Setelah semuanya rapi, kami menatap ke arah berbotol-botol air mineral kemasan 1,5 liter yang masih tersisa sangat banyak. Ini kami yang minumnya sedikit atau memang kebanyakan belinya? Demi mengurangi beban saat turun, kami pun menggunakan air tersebut untuk membasuh muka, sikat gigi mencuci tangan, dan sebagainya. Akhirnya, tersisa dua botol air mineral ukuran 1,5 liter untuk penawar dehidrasi ketika turun.  

Pukul 8.30, kami mulai melangkah menuruni puncak Prau. Di luar dugaan, ternyata kondisi medan tidak sama seperti saat mendaki. Mungkin embun dan  kabut meninggalkan jejaknya di setiap area yang baru dilaluinya membuat jalan berkomposisi tanah ini basah dan licin. Akibatnya, tidak jarang dari pendaki (amatir) yang terpeleset saat turun. Salah satunya Eri. Tidak hanya terpeleset, ternyata pergelangan kakinya terkilir dan memperlambat lajunya. 

Seperti yang sudah kita semua ketahui, turun gunung itu lebih cepat daripada naiknya. Namun, ternyata gaya yang dihasilkan lebih besar sehingga menuntut kaki kita bekerja lebih keras untuk menahan tekanannya. Ah, saya tidak paham Fisika sebenarnya. Kami turun dengan sangat berhati-hati dan lebih pelan dibandingkan pendaki lain sembari menemani Eri yang tidak mungkin dapat melangkah dengan cepat. Beberapa kali kami berhenti untuk break dan pastinya tersusul oleh pendaki lain di belakang kami. Ini bukan masalah, yang penting kami selalu bersama. Yeah!

Ketika Break
Jika orang lain lebih suka naik daripada turun gunung, saya justru sebaliknya. Entah mengapa, turun itu rasanya menyenangkan karena dapat dituruni sambil berlari. Selain itu, ada rasa tertentu ketika melihat perjalanan dan pergerakan orang lain dari posisi yang lebih tinggi. Wah, tetiba saya teringat quotes seorang adik kelas tentang menjadi pemimpin, berada di posisi teratas sembari mengamati dan  memimpin mereka yang ada di bawahnya, dan... Loh malah ngelantur.

Baiklah, pada prosesi turun gunung ini saya dapat kembali melihat pemandangan Wonosobo secara garis besar. Dieng Plateau terpampang jelas di depan mata walaupun sangat kecil pastinya. Salah satu titik terindah yang dapat kami ketika menuruni Gunung Prau adalah semacam genangan air berwarna biru kehijauan di sebelah...maaf, saya buta arah. Ternyata titik itu adalah Telaga Warna, salah satu tujuan wisata yang paling diminati wisatawan saat berkunjung ke Dieng Plateau. Yeah, Telaga Warna akan segera kami datangi setelah terlepas dari badan gunung ini.

Telaga Warna, tampak dari jalur pendakian Gunung Prau

Masih Telaga Warna
Setelah dua jam lebih perjalanan, akhirnya kami sampai juga ke pemukiman warga. Lagi-lagi kami tidak tiba bersamaan full team delapan orang. Rombongan yang sampai duluan kali ini adalah Andre, Shinta, Isna, dan Nana. Mereka sedang menepi dan menumpang membersihkan diri di salah satu warung singgah, ketika rombongan telat (Saya, Roland dan dua orang yang terkilir, Rheta dan Eri) tiba. Iya, Rheta juga ternyata terkilir ketika menuju Pos 1. Alhamdulillah, kami break lagi, Haha...

Di salah satu warung singgah di pemukiman warga

Telaga Warna
Setelah bersih-bersih badan dan mengisi perut dengan sedikit gorengan, kami segera bersiap untuk merealisasikan rencana menuju destinasi terakhir, yaitu Telaga Warna. Eri yang sudah terkilir sejak baru turun dari puncak memilih untuk tidak ikut pergi ke sana. Dia lebih memilih untuk mengistirahatkan diri sambil mengumpulkan energi kembali karena perjalanan pulang ke Kebumen juga cukup panjang.

Jarak dari Patak Banteng menuju lokasi Telaga Warna tidak terlalu jauh, yaitu dapat ditempuh hanya dalam waktu sekitar 10 - 15 menit. Sebelum ke Telaga Warna, kami mengembalikan tenda dan sleeping bag sewaan ke pihak yang memilikinya. By the way, belum lengkap katanya kalau ke Wonosobo tapi tidak mencicipi kuliner khas sana, Mi Ongklok. Kebetulan, di dekat lokasi pengembalian tenda, ada warung mi ongklok yang menurut mas penyewaan tenda memiliki rasa yang lumayan enak. Kami pun memutuskan untuk mampir ke warung mi ongklok tersebut. Ternyata lokasinya bersampingan dengan warteg yang kami kunjungi di hari sebelumnya, haha. Bahkan makan saja move on-nya tidak jauh-jauh, ya? *oke salah fokus lagi* Yang pasti mi ongklok itu nikmat sekali. Kuah berasa bawangnya yang kental merupakan ciri khas dari mi ongklok ini. 

Pasca menyantap mi ongklok, yang ternyata porsinya tidak cukup membuat kenyang itu (atau memang dasar kami yang kelaparan), kami segera meluncur ke Telaga Warna. Tiket masuk menuju tempat wisata ini seharga Rp5.000,00 per orang untuk wisatawan lokal. Namun, bagi para wisatawan asing, harga yang dipatok untuk mereka 20 kali lipat lebih mahal dibandingkan harga tiket wisatawan lokal. Ternyata, harga itu sudah termasuk fasilitas tour guide dan trasnlator. Wah, lumayan maju juga nih tempat wisata dan untung saja kami asli pribumi. By the way, di dalam area wisata ini memang terdapat cukup banyak turis asing sih, ada yang berasal dari Jepang, Cina, Eropa, dan lain-lain. Ini menandakan bahwa tempat wisata Indonesia memang cukup diminati di mancanegara. Semoga, semakin terkenalnya pariwisata Indonesia sebanding dengan semakin terpeliharanya kelestarian dan keindahan tempatnya. 
Ini dia tokoh utama taman wisata Telaga Warna
Hal pertama yang saya tangkap ketika memasuki area tempat wisata Telaga Warna adalah bau sulfur atau belerang yang sangat menyengat. Saya sempat menyangka jika bau itu berasal dari suatu pembuangan. Namun, akhirnya saya menyadari jika asal aroma menyengat itu adalah dari telaga itu sendiri. Yep, terlepas dari aromanya, danau ini memang sangat indah dan terawat. Di beberapa titik, terdapat spot-spot yang dapat digunakan untu berfoto. Bahkan, di tepi danau, ada beberapa batang pohon yang sepertinya sengaja diletakkan melintang di sana untuk digunakan berfoto oleh para wisatawan. Fotografer keliling pun bertebaran di spot berfoto itu dan tak jauh dari sana ada rekan kerja sang fotografer yang tengah sibuk mencetak hasil jepretan sang fotografer dengan printer, uhn...ya printer biasa. 


Cukup jernih air dari telaga warna ini

Di sini, kami juga bertemu dengan anak-anak Perhimak Malang, yang lebih dikenal dengan nama Himalaya. Saya sempat bertegur sapa dengan Sukur Riswanto dan Nelly Saputri, para peserta bimbel Perhimak UI tahun 2012 dan 2013. Wah, senang sekali bertemu mereka. Setelah beberapa menit bercakap-cakap dengan mereka, kami pun meneruskan berjalan-jalan di tepian telaga sambil berfoto-foto.


Sweet Nana

Cute Tata

Andre?


Senyum plong setelah turun dari gunung

Memang sengaja miring kok ngambilnya *ngeles*

Lelaaahnyaaa...

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...