Showing posts with label Fiksi anak-anak. Show all posts
Showing posts with label Fiksi anak-anak. Show all posts

Tuesday, 23 September 2014

Selamat, Bang Ko

Hallo, Bang Ko... 
Maaf karena saya tidak mengucapkan ini tepat waktu, tetapi... "SELAMAT ULANG TAHUN!"
Saya memang tidak dapat mengucapkannya secara langsung kepadamu karena saya tidak mengetahui letak pasti keberadaanmu. Oleh karena itu, saya mengucapkannya melalui tulisan ini. 
Ini adalah ulang tahun kedua yang kita lewati semenjak pertama kali berkenalan dan saya memutuskan untuk tetap menyapamu jika suatu saat bertemu. Meskipun saya tidak begitu mengenalmu dengan baik dan, dapat dipastikan, kau juga sangat tidak mengenal saya, saya memutuskan untuk rajin mengucapkan selamat di setiap ulang tahunmu seperti saya mengucapkannya kepada teman-teman baik saya. 
Saya tidak menyertakan hadiah apa pun untukmu karena Dia pasti akan memberikan hadiah terbaik untuk-Mu. Saya titip pada-Nya harapan terbaik untukmu, meski sebetulnya saya tidak memiliki banyak harapan. Saya juga tidak pandai menyusun kalimat doa berisi harapan dan kebaikan yang detail untukmu. Saya hanya dapat mengamini hal-hal baik terjadi padamu, cita-cita tertinggimu dapat tercapai sesegera mungkin sesuai targetmu, misi-misi perjalananmu dapat kau lalui dengan lancar, kendala yang menghadang langkahmu dapat teratasi tanpa harus terlalu banyak mengorbankan diri, keinginan baikmu dikabulkan-Nya, serta semoga kau senantiasa dilimpahi-Nya dengan kejutan indah yang bahkan tak kau duga-duga kedatangannya. Aamiin.
Di pertemuan terakhir denganmu di dunia pertama, yang entah kapan waktunya, saya melihat raut wajahmu lebih cerah dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya di mana kau tampak cemberut dan seolah-olah tak rela untuk bertemu. Apakah kau sedang berbahagia? Semoga kebahagiaan itu senantiasa mengiri setiap langkah perjalananmu. Kau juga tampak lebih merawat diri dan kesehatanmu, meski kau sempat berujar bahwa tenggorokanmu sedang serak entah karena hal apa. Namun, saya tetap bersyukur, kau terlihat sedikit lebih gemuk, Bang. Semoga di usia barumu, kesehatanmu lebih terjaga. Di pertemuan itu juga, kau tampak begitu akrab dengan lebih banyak orang, meskipun menurut seseorang kau tampak menyendiri seperti orang bingung yang tak punya teman. Semoga di usia barumu, kau memiliki lebih banyak teman di mana-mana, di atau ke mana pun kau berada, dan semakin disayangi oleh mereka dengan ketulusan bukan untuk pemanfaatan. Selain itu, kau terlihat sangat serius dengan masa depan yang akan segera kau pijaki, kau menanyakan banyak hal yang tidak saya mengerti kepada seorang yang berpengalaman itu. Apa pun itu, saya hanya mampu mendoakan kelancaran pencapainnya untukmu. Ah iya, semoga prestasimu senantiasa meningkat pula. Semoga kau semakin lembut kepada orang-orang di sekitarmu yang menyayangimu. Semoga kau sering tersenyum dan tak terlihat seperti penyendiri. Ah, saya mulai bosan menulis rincian doa dan harapan untukmu, toh ini hanyalah sebuah ucapan ulang tahun. Pokoknya, semoga kau di tahun-tahun yang akan datang lebih baik, bertabur keberkahan, dan mampu bermanfaat bagi orang lain. 
Saya ingin memberimu sesuatu, tetapi sepertinya ini tidak perlu, mengingat kau dan saya tidak bertalian apa pun dan bukan sepantasnya menghabiskan recehan saya untuk hal-hal seperti itu. Namun, jujur, tahun lalu saya hampir memberikanmu sebuah jam tangan murahan yang dapat saya jangkau dengan sisa uang jajan saya. Untung saya membatalkannya, karena ternyata kau sudah memilikinya entah kapan dan dari mana kau mendapatkannya. Kali ini saya memutuskan untuk tidak memberikanmu apa-apa...atau mungkin saya akan membuat sebuah lagu singkat untukmu? Ah, saya tidak tahu bagaimana cara membuat lagu. Atau mungkin memberimu sebuah gambar? Uhn, saya juga tidak tahu cara menggambar. Atau membuatkan sebuah puisi persahabatan? Oh tidak, kita tidak pernah betul-betul bersahabat saya kira. Saya perkirakan, kau akan menerima banyak hadiah dari orang lain yang lebih berharga dan indah dari rencana hadiah-hadiah yang akan saya berikan. Jadi, kau tidak akan kekurangan hadiah pastinya. Lagipula, jika saya memberikanmu sesuatu pun, sepertinya pemberianku tidak akan cukup untuk membuatmu gembira, alih-alih bingung dan menerka siapa pemberinya.
Mengapa ucapan ini menjadi sepanjang ini? Namun, awalnya, saya kira saya akan menuliskan lebih panjang dari ini. Ternyata, saya terlalu bingung mau menuliskan apa untukmu. Saya kira, sampai di sini ucapan selamat dari saya. Selamat, selamat, selamat, Bang Ko. Semoga Allah memberkahi sisa umurmu... :)

Sunday, 4 March 2012

Rizki Harus Sarapan!

Pagi telah datang. Matahari tampak menebarkan senyum ceria yang membuat hari terlihat makin cerah. Hari ini hari Senin dan jam dinding di rumah Rizki baru menunjukkan pukul 06.25. Namun, Rizki sudah sangat siap untuk berangkat ke sekolah. Ia tengah memakai sepatu sebelah kirinya saat ibu tiba-tiba memanggilnya dari dapur, "Rizki! Di mana kamu, nak? Sarapan dulu sebelum berangkat sekolah!"

Rizki hanya diam. Sebenarnya ia mendengar panggilan ibu, tetapi ia tak suka sarapan pagi yang menurutnya hanya membuang-buang waktu pagi harinya. "Nanti saja di sekolah, Bu. Rizki buru-buru, takut ditinggal sama mas Nurman," teriak Rizki masih sambil meneruskan menalikan sepatunya.

Tanpa Rizki sadari, ibu sudah berada di belakangnya. Rizki pun sedikit terkaget saat menengok ke belakang dan melihat ibu yang sedang berdiri kerepotan dengan dompet dan sebuah kotak bekal besar berbentuk kodok di tangannya. "Kalau begitu, Rizki bawa bekal, ya, nak. Nanti setelah sampai sekolah baru dimakan. Pasti ada waktu kok. Bel tanda masuk kan jam 07.00 sedangkan sekarang masih sangat pagi. Oke, jagoan?" bujuk ibu dengan raut wajah yang tampak sedikit panik karena ini bukanlah pertama kalinya Rizki menolak untuk sarapan.

"Nggak mau, ah, Bu! Rizki kan udah kelas 2 SD. Rizki bukan anak TK yang selalu bawa kotak makan anak-anak ke sekolah. Nanti diketawain sama teman-teman Rizki deh, kan malu. Rizki minta uang saku aja deh!" jawab Rizki sedikit kasar kepada ibu. 

Wajah ibu terlihat semakin sedih, tetapi beliau tahu bahwa anaknya sedikit keras kepala dan bisa ngambek bahkan mogok sekolah jika keinginannya tidak dituruti. Oleh karena itu, ibu pun mengabulkan permintaan Rizki. Diserahkannya selembar uang pecahan lima ribuan kepada Rizki sambil berkata, "Nak, tahu nggak? Perut yang kosong bisa bikin kamu ngantuk, terus susah menerima pelajaran, terus jadi bodoh, nggak bisa ngerjain soal ujian, akhirnya tinggal kelas deh. Rizki mau cita-cita Rizki jadi pilot gagal karena hal sekecil itu?" Ibu betul-betul sudah kehabisan akal, maka beliau pun akhirnya mengeluarkan jurus andalan "menakut-nakuti Rizki dengan ancaman gagal jadi pilot."



Rizki terdiam. Pandangan matanya tertuju ke arah rumah mas Nurman, tetapi wajahnya tampak sedang memikirkan sesuatu dengan serius. Ibu sangat yakin kalau ia sedang memikirkan perkataan beliau dan berharap Rizki akan berubah pikiran. Tiba-tiba, Rizki pun berkata, "Itu mas Nurman! Rizki berangkat dulu, Bu. Assalamu'alaykum!" ucapnya sambil mencium punggung tangan ibu lalu berlari mengejar mas Nurman, tetangganya yang duduk di kelas 5.

Ibu pun berteriak, "Lho? Tentang tinggal kelasnya gimana?" Jelas sekali dari nada bicaranya bahwa ibu sudah sangat bingung dan pasrah.

Rizki pun berhenti berlari. Dari kejauhan dia menjawab pertanyaan ibu, "Rizki kan juara kelas terus, Bu. Nggak bakalan tinggal kelas, deh! Ibu tenang aja. Dadah ibu. Rizki berangkat dulu. Jangan lupa do'ain supaya ujian minggu ini, nilainya 100 semua, hahaha," jawab Rizki dengan nada sedikit sombong. Ibu pun hanya menggeleng-gelengkan kepala. Beliau sudah angkat tangan dalam urusan bujuk-membujuk Rizki untuk sarapan. Padahal sebenarnya, ibu sangat khawatir kalau Rizki jatuh sakit karena jarang sarapan. 

*****
Ujian mata pelajaran Bahasa Inggris kelas 2 sedang berlangsung. Semua siswa tampak berpikir dengan keras dalam mengerjakan setiap soal. Ada yang dahinya berkeringat, ada yang membacanya sambil mengeja, ada yang sesenggukan dan hampir menangis juga ada yang berkeringat dingin sampai mukanya sangat pucat. Siapakah siswa yang memucat itu? Ternyata dia adalah Rizki. 

Sebenarnya soal-soal Bahasa Inggris tersebut tidak terlalu susah bagi Rizki. Namun, entah kenapa ia baru mengerjakan sepertiga dari jumlah soal yang ada, saat bu Lili mengumumkan bahwa waktu yang tersisa tinggal 10 menit. Antara panik dan bingung, Rizki pun memberanikan diri untuk mengangkat tangan.

"Bu Guru," panggil Rizki.

"Iya, Rizki? Ada apa? Eh... Kamu tidak apa-apa? Wajah kamu tampak sangat pucat. Sakit ya?" tanya bu guru Lili sedikit panik. Disentuhnya dahi Rizki dan ternyata suhu badannya tidak normal. Bu Guru pun mengamati Rizki yang tampak menahan sakit dengan posisi tangan yang melingkar ke daerah perut. "Perutnya sakit?" tanya bu Guru yang disusul dengan anggukan lemah dari Rizki.

"Ayo, nak ikut ibu ke rumah sakit! Sepertinya penyakit kamu cukup serius," kata ibu guru. Hal ini membuat teman-teman sekelas Rizki ikut panik dan lupa bahwa mereka sedang mengerjakan ujian. Akhirnya, bu guru menyuruh anak-anak untuk meneruskan mengerjakan ujian dengan diawasi oleh guru piket sedangkan beliau sendiri membawa Rizki ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Rizki pun diperiksa. Dokter menyuruh Rizki berbaring dan memeriksa detak jantung, tekanan darah, warna lidah dan kelopak mata bagian dalamnya. Dokter juga menyuruh Rizki untuk buang air kecil dan memasukkan air seninya ke dalam sebuah botol kecil. Kata dokter, air seni itu akan dibawa di laboratorium untuk diteliti.

Tak lama kemudian, Ibu dan Ayah Rizki datang. Mereka berdua tampak sangat panik. Bu Guru Lili menjelaskan hal yang sedang terjadi kepada ibu dan itu membuat ibu sedih. Tiba-tiba dari dalam ruang pemeriksaan, terdengar teriakan Rizki yang sangat keras. Hal ini membuat ibu, ayah dan bu guru semakin panik dan berlari menghampirinya. 

Ternyata, dokter hendak mengambil contoh darah Rizki untuk diteliti dengan menggunakan jarum suntik. Rizki sangat tidak menyukai jarum apalagi disuntik. Akhirnya, dia pun menangis dan memeluk ibu. 

"Ibu... Ibu... Rizki sakit apa? Kenapa Pak Dokter mengambil darah Rizki? Kalau Rizki kehabisan darah nanti Rizki mati gimana? hiks.." rengek Rizki sambil menangis.

Ibu pun memeluk Rizki dengan lembut lalu berkata, "Rizki, Pak Dokter hanya ingin memeriksa darahnya Rizki biar tahu penyakitnya apa. Pak Dokter menduga kalau Rizki sakit tipus, makanya untuk memastikannya Rizki harus diambil darahnya begitu, nak." 

Rizki berhenti menangis sejenak. Ia pun teringat kejadian tadi pagi saat tak mau sarapan dan kejadian sesudah itu saat membeli makanan di luar kantin sekolah. "Ibu, Ibu... selama ini Rizki sering beli jajan di luar kantin, habis rasanya enak dan harganya murah. Jadi, Rizki kira, Rizki bisa hemat. Huuhu... Rizki nggak mau lagi makan makanan yang bukan masakan ibu. Rizki mau sarapan aja tiap hari. Rizki kapok." kata Rizki.

Ibu pun tersenyum, antara sedih, bahagia dan terharu karena putranya tercinta sudah tidak bandel lagi. Akhirnya, Rizki pun bersedia disuntik. Hasil pemeriksaan pun keluar dua jam kemudian dan menyatakan bahwa Rizki postif terkena tipus. Hal ini mengharuskan Rizki istirahat total selama satu minggu lebih. Akhibatnya, Rizki tidak mengikuti ujian kenaikan tahun ini. 

Namun, untungnya nilai-nilai harian Rizki tidak buruk sehingga Rizki tidak tinggal kelas. Rizki berhasil naik ke kelas 3 dengan nilai yang tidak memuaskan dan hanya menduduki peringkat ke-23. Rizki sangat kecewa dan sedih. 

Mulai saat itu dia bertekad bahwa dia tidak akan malas sarapan lagi dan tidak akan jajan makanan yang tidak sehat dan tidak jelas. Ia pun membuat poster ukuran besar bertuliskan: "Rizki Harus Sarapan!" yang ditempelkan di dalam kamarnya. Ia tidak ingin sakit lagi, tidak ketinggalan pelajaran lagi dan bisa mewuudkan cita-cita sebagai seorang pilot hebat. 

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...