Showing posts with label Love. Show all posts
Showing posts with label Love. Show all posts

Tuesday, 18 November 2014

RCG (4)

Setelah dua atau tiga hari lamanya miskin sinyal internet, akhirnya saya dapat kembali ke dunia maya. Hahahai, senangnya kembali meranodm. 

Uhn, pos ini dibuat dengan maksud menyelesaikan apa yang sudah saya mulai, melalui tiga pos bertopik sama, sebelumnya. Tidak harus diselesaikan, sebetulnya. Pos ini tidak berisi manfaat, mungkin malah justru sebaliknya. Anda yang tidak menyukai hal-hal tidak lazim, iidak dianjurkan untuk membacanya.

Tujuh
Pertama kali saya memiliki handphone yang dapat digunakan untuk mengakses internet dan men-download aplikasi adalah pada saat kelas X SMA. Romo membelikan saya Nokia 3110C, tepat ketika saya akan menghadapi ujian akhir semester 2, kelas X. Saya tidak akan membahas spesifikasi dari handphone ini karena saya memang bukan akan bercerita tentang handphone tersebut. Namun, berkat benda elektronik berbasis java inilah saya berkenalan dengan seseorang. Seseorang, yang merupakan salah satu orang yang (tanpa dia sadari) telah berpengaruh dan terselip dalam beberapa episode hidup saya. Ya, dia adalah seorang lelaki, satu sekolah dengan saya. Sebetulnya, lebih dari sekadar pernah, saya menyebutnya dalam pos-pos saya di blog ini, baik secara langsung, maupun secara implisit. Mungkin, jika ada pengunjung tetap yang membaca blog ini, dia akan tahu siapa orang tersebut, tanpa harus membaca pos ini.

Uhn, mulai dari mana, ya? 

Saya sudah hampir kehabisan kata dan rasa untuk menggambarkannya. Sepertinya, kemarin-kemarin saya terlalu sering membicarakan setiap hal tentangnya yang saya tahu, sampai-sampai saya tidak punya bahan lagi untuk dituliskan di sini sekarang. Jike begitu, mungkin saya akan memulai dengan menuliskan data dirinya, yang saya ingat dan tahu.

Dia seorang laki-laki. Apa lagi, ya?

Dia. Saya sering menggunakan kata ganti dia ketika menulis pos tentangnya di blog ini. Dia tinggal di kabupaten yang sama dengan saya, tetapi berbeda kecamatan. Rumah saya di pusat daerah sedangkan rumahnya di daerah Barat. Namun, ketika SMA, dia mengekos di sebuah gang yang cukup dekat dengan sekolah. Kami berasal dari sekolah yang sama, tetapi tidak pernah satu kelas. Kami sama-sama menekuni jurusan IPA ketika duduk di kelas XI dan XII. Kami berasal dari SMP yang berbeda. Saya bersekolah di SMP yang dekat dengan rumah saya, begitu pula dia. Saat ini, dia tengah menjalani studi akhirnya di sebuah universitas di Yogyakarta. Jurusannya? Hmm. Jika saya menyebutkannya, semua akan tahu siapa dia, dan selesai lah teka-teki tidak penting ini.

Kami lahir di tanggal dan bulan berbeda, bisa jadi tahunnya juga. Dia merupakan anak bungsu, tetapi memiliki seorang adik. Tidak seperti saya, dia menyukai kucing atau setidaknya pernah beberapa kali mengepos foto-foto kucing yang dimilikinya di salah satu akun media sosialnya. Sepertinya, itu saja yang saya tahu tentang dia. Saya tidak tahu apa saja hal yang disukainya, juga bagaimana prestasi atau keahliannya.

Dia adalah orang pertama yang saya kepo-i melalui jejaring sosial. Alasan saya melakukannya, sebetulnya saya tidak tahu. Mungkin penasaran karena sejak pertama berkenalan, saya tidak pernah bertemu atau bersapa dengannya. Proses perkenalan dengannya memang tidak terjadi di dunia nyata, melainkan dunia maya. Oleh karena itu, saya berterima kasih kepada Nokia 3110C yang telah hadir sebagai media perkenalan saya dengan dia. 

Saya pertama kali mengenalnya ketika duduk di kelas XI SMA melalui salah satu aplikasi online chatting via handphone yang cukup populer di daerah saya, pada zaman itu, sekitar 2009. Awalnya, saya tidak tertarik untuk melakukan percakapan di dunia maya dengannya karena dia adalah seorang laki-laki. Sebab berbagai alasan, saya memang tidak terbiasa --jika perlu menghindari-- berbincang tanpa tujuan jelas dengan kaum laki-laki. Begitu pula kepadanya. Apalagi, dia orang asing yang sama sekali belum pernah saya dengar namanya selama hampir dua tahun saya bersekolah di SMA tersebut. 

Sebagai orang yang pertama meng-inviteakhirnya dia pun menyapa saya dan memperkenalkan diri. Dia memiliki username yang sangat alay, dengan menggunakan karakter-karakter nonalfabet untuk membentuk nama panggilan aslinya, seperti tanda kurung buka, tanda seru, dan sebagainya. Saya pun membalas seperlunya, sebatas memperkenalkan biodata singkat. Ketika saya menyebutkan asal kelas saya, dengan cepat dia pun mengatakan "ledekan" yang oleh orang lain pun cukup sering dialamatkan kepada saya. Bukan ledekan buruk sebetulnya, hanya saja ini membuat saya merasa bosan dan tidak enak ketika menerimanya. 

"Cieee. Ada anak rajin dan pinter dari kelas IPA 1, loh," katanya, kurang lebih seperti itu.

Saya sebal seketika kepadanya. 'Ajeg. Kenapa harus ter-mindset seperti itu? Ini menyebalkan. Pasti dia sama seperti anak-anak itu: anak-anak laki-laki di SMP atau anak-anak kelas lain yang berpikiran bahwa kelas saya agak berbeda dengan kelas mereka. Padahal, saya sebelas dua belas dengan mereka. Saya sebelas, mereka dua belas' batin saya, kurang lebih, meskipun pada waktu itu belum ada istilah sebelas dua belas untuk mewakili perbandingan. 

Setelah sedikit sekali bercakap tentang "ini" dan "itu", kami pun mengakhiri obrolan. Dia offline terlebih dahulu, sedangkan saya masih asyik bermain dengan aplikasi yang terbilang masih baru bagi saya itu.

Di lain waktu, tak lama setelah malam berkenalan itu, kami mengobrol lagi. Tidak cukup jelas topik yang kami perbincangkan. Namun, saya mulai mengurangi judging negatif saya tentang dia. Dia tidak seburuk yang saya duga. Dia tidak lagi membawa nama-nama kelas. Lalu, selayaknya user lain, kami pun mulai bertukar informasi atau membahas topik yang sedang hangat di televisi. 

Suatu hari, dia salah menuliskan nama sapaan saya. Saya sebal karena typo tersebut cukup fatal, menurut saya saat itu. Ketika saya komplain ke dia, dia pun tidak merasa bersalah. Akhirnya, saya menyengajakan diri, memanggilnya dengan sebuah nama sapaan aneh, nama seekor binatang mungil sebetulnya. Dia terpancing, membalas menyebut saya dengan nama sapaan yang tulis dengan salah. Rasa sebal saya berangsur lenyap dan digantikan perasaan gemas dan geli, ketika kami mulai saling ejek dengan nama sapaan aneh. Mulai hari itu, di dunia maya, kami lebih sering saling sapa dengan nama jadi-jadian tersebut dibandingkan dengan nama diri kami masing-masing.

Obrolan kami tidak banyak dan tidak sering. Isinya tidak bermanfaat dan tidak untuk diingat-ingat. Kami tidak dekat, tidak saling kenal, tidak juga pernah punya urusan. Kami hanya teman mengobrol ketika kebetulan sama-sama sedang online. 

Namun, entah mengapa, lama-lama saya merasa senang mengobrol dengannya, meski hanya melalui kata, meski saya belum pernah berjumpa muka dengannya, meski seringkali berakhir dengan saling ejek atau hening tanpa kata, lalu pergi tanpa mengucapkan salam sama sekali. 

Saya bahagia ketika kami mengobrolkan film atau buku. Saya terkesan ketika dia mengucapkan opini spontannya tentang sesuatu. Saya tertawa ketika dia bercerita bahwa dia baru ditegur oleh seorang guru. Saya tersanjung ketika dia berkata bahwa saya dapat melakukan sesuatu dengan baik. Saya bersemangat ketika dia, mungkin tanpa dia sadari, telah memberi semangat atau inspirasi untuk saya yang gemar memurukkan diri. Saya berdebar ketika melihat namanya bertengger di notifikasi. Saya penasaran ketika berhari-hari dia tidak memunculkan diri di media itu atau ini. Saya lega ketika tahu dia dapat mempertahankan prestasi. Saya salah tingkah ketika melihat dia melewati kantin, perpustakaan, atau lapangan, yang tanpa dia sadari, ternyata teramati. Saya merasa dihujani bebungaan, ketika dia mengirimi saya ucapan semangat menghadapi ujian. Saya merasa bangga, ketika dia menceritakan sedikit sekali tentang rencananya di masa depan. Saya... Saya lama-lama mengerti apa dan bagaimana rasanya harap-harap cemas karena lama-kelamaan saya memaksakan diri untuk menanti. Saya, pada akhirnya, mengerti bahwa sepertinya saya telah kembali merasakan jatuh hati.

Mungkin, saya terlalu cepat menyimpulkan dan mengambil keputusan. Suatu ketika, saya ingin bertobat dan menobatkan rasa itu sebaai perasaan sesaat. Namun, nyatanya, hingga ratusan hari berlalu, saya belum juga mampu berhenti merasakan sensasi naik roller coaster yang saya alami setiap terlintas pikiran atau terbaca kabar tentangnya. Ini memang hanya rasa berlebihan yang saya rasakan oleh perlakuan biasa darinya. Perlakuan yang bahkan mungkin olehnya tidak terartikan sebagai sebuah perlakuan, alih-alih basa-basi kepada orang yang pernah dia kenal. 

Yeah, dia itu, mungkin tidak pernah tahu akan berbagai tindak investigasi tidak masuk akal terhadapnya yang pernah saya tahu. Orang itu mungkin tidak pernah menyangka, saya sedikit tahu riwayat percintaannya. Orang itu mungkin tidak akan pernah percaya, saya pernah diteror oleh salah satu orang yang "mengenalnya". Orang itu mungkin tidak ambil pusing, bagaimana perasaan saya ketika saya menyadari bahwa saya bukanlah orang-orang yang diperlakukan dengan baik olehnya. Orang itu mungkin tidak pernah ingat, topik apa yang pernah kita obrolkan, karena saya sendiri juga sekarang sudah tidak ingat. Orang itu, mungkin tidak berusaha mengingat informasi yang saya ceritakan, sekeras usaha saya mengingat apa pun yang dia tuliskan. Orang itu memang tidak tahu, tidak memiliki petunjuk, kecuali jika dia menemukan pos ini, dan saya yakin pasti tertawa membaca tulisan absurd ini. Namun, orang itu mungkin sebetulnya tahu, hanya saja pura-pura tidak tahu.

Dengan berbagai pertimbangan, khususnya tentang akan datangnya hal buruk yang lebih banyak daripada hal baik dari aksi ini, akhirnya dua tahun lalu saya memutus segala akses dengannya, demi mendukung misi: berhenti jatuh hati. Tindakan ini aneh memang. Sangat aneh. Namun, ternyata cara ini efektif. Jika saya tidak melakukan ini, mungkin saya masih melakukan hal-hal nista dan cari-curi perhatian terhadapnya. Sifat saya memang seburuk itu. Saya sendiri sebetulnya malu pada Tuhan.

Thursday, 13 November 2014

Senja Bersama, Merkurius dan Venus (2a)

*Saya mengadaptasi judul cerita ini dari judul cerpen seorang adik angkatan, tentu saja dengan isi cerita yang berbeda.*
*Alur cerita lambat dan mudah ditebak. Jika tidak suka, jangan coba-coba membacanya.*
*Ber-genre drama keluarga. Bukan penyuka cerita drama tidak dianjurkan untuk membacanya.*
*Ini bagian ke-2. Bagian ke-1 dapat dibaca di sini*

Selamat membaca! :D
________________________________________________________________________________________________

Kepingan 2a: Takdir yang Tertukar

Deng. Deng. Deng.

Itu suara jam kayu yang kesepian, berdiri seorang diri di ruang baca. Ia menabuh lonceng, yang menggantung malas di badannya, sebanyak tiga kali. Oh. Sudah pukul tiga sore rupanya. Artinya, sudah satu jam lamanya aku duduk bermalasan di atas kursi lesehan berlengan sambil menonton televisi. Satu menit lagi. Oh tidak. Tiga menit lagi. Aku yakin tiga menit lagi, FTV dengan cerita picisan tentang seorang casanova yang jatuh cinta pada asisten rumah tangganya ini akan segera berakhir. Merasa tertantang oleh diri sendiri, aku mencari-cari pengukur waktu untuk membuktikan dugaanku. Aku menemukan selulerku, kemudian menyalakan aplikasi stopwatch yang ada di dalamnya.

Klik. Menit kosong kosong. Sang casanova kini sedang mengendarai motor besar berwarna merah dengan kecepatan tinggi. Wajahnya hampir seluruhnya tertutup oleh helm full face yang dikenakanya. Hanya matanya yang tampak, menajamkan fokus, tetapi juga mengisyaratkan kegelisahan. Ia sedang terlibat dalam aksi pengejaran, mengejar si asisten rumah tangga yang sudah lebih dulu bertolak dari rumahnya, menuju terminal bus ibukota. Pria ini, dikisahkan baru saja lolos dari pergolakan batinnya sendiri. Akhirnya, ia sadar bahwa ia memang menyayangi si asisten, jatuh cinta tepatnya. Jatuh cinta pada kemampuannya dalam meracik jamu tradisional. Namun, ternyata ia terlambat. Sang asisten rumah tangga terlanjur mengundurkan diri karena berbagai uji, salah satunya patah hati karena sang majikan menuduhnya mencuri. Tertebak sekali.

Menit kosong tiga puluh tiga. Sang majikan casanova berlarian di terminal, mencari sosok asisten yang membuatnya gila hingga mengejarnya ke terminal yang tak ia kenal. Ia tampak berlari dari satu sudut ke sudut lain. Butir-butir keringat bermunculan di keningnya, mengalir hingga ke pipi menyerupai air mata yang memilukan. Ketika ia hampir menyerah dan memutuskan untuk menyeret badannya kembali menuju motor besar, yang entah mengapa diperbolehkan terparkir bebas bukan di tempar parkir seharusnya, si gadis asisten rumah tangga itu muncul dari balik dinding.

Menit satu kosong satu. Mereka bertatapan. Kamera di-setting berputar, mengitari mereka, persis seperti adegan di film india. Tampak, mereka yang tengah berdiri berhadapan terpisah jarak hanya sekitar dua setengah meter. Background  musik ala pop melayu mengalun meliuk, mengiringi prosesi saling pandang mereka yang memakan waktu lebih lama daripada lama pencarian terhadap si asisten rumah tangga tersebut.

Menit dua kosong tujuh. Cklik!

Aku bosan. Aku matikan televisi, yang tengah menampakkan dua orang tengah berdialog panjang, saling mengutarakan penjelasan dan mematahkannya sendiri, itu. Aku menghabiskan satu jam yang berharga untuk menonton kisah cinta klise para anak muda yang alur dan akhirnya sangat mudah ditebak. Aku sendiri pun bertanya-tanya, mengapa aku tetap bertahan mengikuti jalan ceritanya, padahal aku sudah tahu akhir dari kisah cinta pasaran mereka berdua. Mungkin, aku terlalu baik. Seharusnya stasiun televisi swasta itu membayarku atau memberiku bingkisan menarik atas jasaku, setia menonton hasil kerja mereka yang setengah payah, setiap hari.

Drrrrt. "Permisi! Paket! Paket!"

Eh? Apakah mereka betul-betul mengirimkan bingkisan menarik sebagai hadiah untuk para pemirsa baik hati sepertiku? Plak. Aku tampar mukaku dengan halus, berniat menyadarkanku dari kantuk yang mulai membuatku berhalusinasi, hingga tak mampu membedakan dunia drama dan nyata.

"Ya, Mas. Tunggu sebentar," teriakku dari dalam ruang keluarga, tempat yang sama dengan tempatku menonton televisi. Sayup kudengar jawaban "oke" dari teras depan.

Aku berjalan ke arah pintu dengan cepat. Kemudian bergegas membukanya dan tampaklah seorang kurir dengan seragam dan topi bercorak oranye cerah, membawa sebuah kardus kecil di tangannya. Mataku tertuju pada sebuah bentuk familiar yang ada di muka topinya. Eh? Bukankah itu logo sebuah toko online yang sangat rajin beriklan di televisi, youtube, bahkan halte bus sekolah Keke dan Dede? Heee? Siapa yang berbelanja online?

"Ibu, ini paketnya silahkan diterima," kata mas kurir sambil menyodorkan kardus berbentuk kubus, berukuran sekitar 15 cm.

Aku menerimanya dengan ragu. Namun, ini aneh karena si mas kurir tidak langsung pergi. Ia merogoh tas pinggangnya mencari-cari benda yang sepertinya penting. Bonkah? Aku curiga, jangan-jangan paket atau pesanan ini belum dibayar. Ah, orang itu memang keterlaluan. Mentang-mentang aku memotong uang jajan bulan ini, ia ingin membalasku dengan menyuruhku membayar barang belanjaannya yang tidak jelas ini. Betul juga. Ia tidak pernah bilang ia akan membeli suatu barang. Ya ampun. Awas saja, kalau nanti ia pulang.

"Mmm... Maaf, mas..." panggilku. Si mas kurir mendongak ke arahku, kebingungan, karena aku menyodorkan kembali paket, yang baru saja kuterima, kepadanya.

"Kenapa, Bu? Salah alamat, ya?" tanyanya tampak resah. Kepalanya celingak-celinguk untuk memastikan, sepertinya mencari plat alamat, RT/RW, atau nomor rumah, yang mungkin terpaku di salah satu dinding rumahku.

"Hmmm.... Jadi..." jawabku terpotong oleh ia yang tiba-tiba menyambar berbicara dengan cepat.

"Jadi, ini bukan rumah ibu Rindah K. Ihsani? Ini jalan Kenanga Nomor 9A, KAN? RT 2, KAN? RW 3, KAN?" tanyanya membabi buta dengan disertai penekanan pada setiap pengucapan kata 'kan'.

"Hoo... Betul, betul, BETUL," sanggahku tak ingin kalah dengan sedikit menaikkan volume suara. 'Cuma, saya nggak pesan apa-apa di toko online mas, loh. Suami saya juga nggak bilang lagi nunggu paket sesuatu. Jangan-jangan, masnya oknum, ya? Mau menipu dengan modus cash on delivery pesanan toko online? Saya bisa laporin mas ke polisi loh!' dalam hati aku ingin mengatakan hal itu.

Namun, entah mengapa kata-kata yang keluar hanya, "Pesanan ini udah dibayar, mas?" dan ditambah dengan bonus senyuman setengah paksa yang pasti sangat aneh dilihat.

Si mas kurir pun tertawa, lalu menjawab, "Yaelah, si Ibu. Cemas amat. Kirain aye salah alamat. Udah kok, udah dibayar. Toko kami sekarang tidak melayani pembayaran di tempat alias semua transaksi dilakukan melalui transfer. Tenang aja deh, Bu. Ini, ibu tinggal tanda tangan di sini dan aye akan segera pergi."

Melongo. Aku masih mencerna keadaan. Pelan-pelan kutorehkan tanda tangan di atas kertas kuning yang disodorkannya.  Lagi-lagi aku berpikir yang tidak baik, tentang si kurir, tentang si toko online, juga tentangnya, suamiku sendiri. Ya Tuhan. Aku hanya berharap Tuhan memaafkan segala pikiran burukku beberapa saat lalu. Inilah aku, ibu rumah tangga dengan pemikiran setara pemikiran bocah ABG labil. Parahnya lagi, si ABG labil ini terperangkap dalam tubuh dan wajah orang dewasa, berusia tiga puluh satu tahun, dengan dua anak.

Eh? Parah? Ralat. Bukan parah, ini anugerah.

Sebentar, aku potong dulu kisah tentangku. Aku ingin mengantarkan si mas kurir sampai pagar sebagai pengganti rasa bersalahku, menuduhnya melakukan hal yang tidak-tidak.

"Yap! Ini pulpennya, mas. Terima kasih, ya," ucapku sopan kepada si mas kurir.

"Oke, Bu. Lain kali, santai aje ye, Bu, kalau dapet kiriman paket, apalagi dari aye. Sayang loh, gara-gara kebanyakkan mikir, ibu nggak menyadari kegantengan muka aye." balasnya, panjang lebar, dengan logat betawi yang kental.

Aku kembali tersenyum setengah terpaksa. Si mas kurir melangkah pergi, keluar dari pagar. Sendirian, karena aku membatalkan niatku untuk mengantarnya hingga ke pagar, setelah mendengar guyonan tidak lucu darinya. Entah mengapa, timbul sedikit rasa sebal akibat perkataannya. Bukan karena ia mengucapkan kata-kata sedikit tidak sopan, melainkan karena ia menerkaku, menyebutku sebagai orang yang terlalu banyak berpikir.

Namun, jika dipikir-pikir, ia tidak salah. Ia mengatakan fakta. Aku memang memiliki kebiasaan berpikir kejauhan. Payahnya, wajahku tidak pandai berekspresi dan aku pun tidak mampu bersembunyi di balik ekspresi palsu ketika aku sedang berpikir. Akuarium. Teman-teman lamaku memanggilku akuarium karena kebiasaanku ini. Orang lewat pun dapat mengetahuiku sedang berpikir bahkan menebak isi pikiranku dengan hanya melihat ekspresi wajahku.

Setelah memastikan si mas kurir telah betul-betul pergi, aku menutup pintu depan dan melangkah ke dalam rumah, membawa serta paket tersebut. Aku memilih kembali mendudukan diri di ruang keluarga. Keke dan Dede tengar tidur siang dengan beralaskan kasur lantai, di sampingku.

Kulirik selulerku, ternyata baru jam tiga lewat tujuh. Mereka baru tidur selama lima puluh menit. Aku bisa membuat mereka terbangun, jika aku membuka paket ini di sini.

Akhirnya, aku meninggalkan mereka yang masih tidur dengan lelapnya, meski terkadang tanpa sadar aksi saling tendang terjadi di antara keduanya. Langkahku berhenti di sebuah ruangan berukuran 4x4 meter, berbingkai rak-rak buku di tiga sisi, yang baru setengahnya terisi. Di tengahnya, ada dua meja: satu meja besar yang lebar dan satu meja kecil nan pendek. Di kedua sisi masing-masing meja, tersembunyi sepasang dudukan kursi berlengan.

Ini adalah ruang baca kami. Tempat favoritku ketika sedang ingin berkarya, tempat belajar paling disukai anak-anak, juga tempat yang paling sering dikunjungi olehnya setiap harinya. Jika kata orang rumah adalah sebuah istana, maka ruangan ini adalah istana dalam istana itu sendiri, baginya.

Ruang baca. Ini tempat yang cocok dan nyaman untuk melakukan aksi penggeledahan terhadap paket ini. Namun, sepertinya aku tidak perlu menggeledahnya karena paket ini memang dialamatkan untukku. Ada nama lengkapku, bahkan nama belakang suamiku dalam catatan penerimanya.

Kutarik penyangga salah satu kursi besar dan segera kududuki tanpa pelan-pelan. Tiba-tiba aku menjadi tidak sabar, terlalu ingin tahu benda apa, yang kemungkinan besar pengirimnya adalah ia. Aku melepas bungkus paket itu dengan sangat hati-hati, tidak ingin membuatnya terkoyak dan tampak tidak rapi. Jika bungkus paket ini berantakan dan rusak, aku tidak dapat membungkusnya lagi. Hanya berjaga-jaga.

Jantungku tetiba berdebar, ketika aku mulai menarik selotip yang menyatukan kedua penutup mulut kardus. Apakah ini sesuatu yang sangat indah atau mahal? Mengapa kardusnya terlihat lucu? Apakah toko online itu juga menjual berlian? Apakah hari ini ulang tahunku? Ulang tahun pernikahan? Satu per satu pertanyaan kekanak-kanakan muncul dalam pikiranku.

Kejutan. Ini adalah kejutan. Sekarang aku yakin, paket ini pasti darinya. Ia tahu bahwa aku sangat menyukai kejutan dan apa ini? Sebuah benda berbentuk balok terhidang di dalam kardus. Aku memungutnya, memperhatikan detail di setiap sisinya, dan aku pun terlonjak.

Ini seperti pernah terjadi. Ia pernah memberiku benda ini, dulu. Dulu sekali. Tidak betul-betul memberikan benda itu untukku sebetulnya. Di lihat dari sisi mana pun, benda ini sangat mirip dengan yang dulu. Merk, desain, motif, bahkan warnanya.

Apa maksud ia memberiku ini?

Apakah ia ingin aku mengingat sesuatu? Ia betul-betul lucu. Aku tidak perlu mengingat apa pun karena aku tidak akan pernah melupakan apa pun. Tidak, kecuali aku mengalaminya tidak dengan bersamanya.

*****
Akhir Desember, 1998. 
Ini adalah malam Minggu yang paling membahagiakan bagiku karena lusa adalah tahun baru. Libur dua hari berturut-turut seperti ini adalah hal langka yang diidam-idamkan oleh banyak orang, tak terkecuali aku. Terlebih, karena aku tidak perlu berjumpa dengan Senin yang menjengkelkan di mana ada pelajaran olah raga di hari itu.

Aku sudah menyusun segunung rencana yang akan kulakukan untuk menghabiskan libur dua hari ini dan tentu saja tidak sabar menanti datangnya esok pagi. Mataku sampai-sampai tak mau terpejam. Keduanya menerawang ke langit-langit kamar, samar-samar membayangkan apa saja yang akan aku lakukan besok. Siluet abu-abu dan putih tergambar jelas dalam bayanganku, menari-nari di atas hamparan pasir yang tersapu ombak kemilau. Aku sangat merindukan pantai.

Aku sendirian di rumah. Dua hari ini ayah, bunda, Rindy, dan Namira akan menginap di rumah tante Sherry, yang baru saja melahirkan anak laki-laki keempatnya. Mereka tidak curiga kepadaku, ketika aku menolak untuk ikut dengan alasan lutut kiriku, yang dioperasi tahun lalu, terasa lebih lelah dari biasanya. Tentu saja aku mengarangnya karena sebetulnya, selepas operasi itu, kakiku sama sekali tidak pernah bermasalah. Aku terpaksa berbohong kepada mereka karena hanya itulah satu-satunya cara agar aku dapat bermain dengan tenang.

"Riiindaaah! Hey, apa kau di rumah?"

Siapa? Sepertinya aku tidak mengundang siapa pun untuk datang ke acara selamatan. Tunggu, sepertinya selamatan itu diadakan di rumah Tante Sherry, bukan di sini. Lagipula, mengapa ia berteriak-teriak memanggil namaku seperti itu? Aneh. Aku seperti mengenali suaranya, jika saja tanpa serak.

"Hey! Rindah! Aku tahu kau di rumah. Tadi sore aku melihat semua anggota keluargamu pergi dengan carry coklat ayahmu. Mereka pasti akan pergi ke rumah Tante Sherry, paling tidak untuk tiga hari. Dan aku yakin pasti kau telah berbohong kepada mereka dengan berkata lututmu bermasalah agar kau diperbolehkan untuk tidak ikut, bukan?" teriak suara yang berasal dari halaman samping itu.

'Sial! Itu pasti Dewa!' batinku. Bagaimana mungkin aku tidak mengenali suaranya. Ada apa dengan suaranya? Aku harus segera membungkamnya sebelum mbak Uci menyadari makna teriakannnya dan melaporkannya kepada ayah.

"Hey, Rindah!" teriaknya lagi. "Lama sekali, apa kau tak takut kalau mbak Uci..."

Ckrkk. Suara pintu samping yang kubuka berhasil membuatnya diam. Aku memberinya pandangan kesal, meskipun dalam hati aku sebetulnya tengah terheran-heran karena ia selalu dapat menebak apa kupikirkan.

"Apa kau tidak bisa sedetik saja membuat mulutmu diam, Wa? Sepertinya lain kali aku harus menyumpalmu dengan kaus kaki Namira. Dan kau tahu Dewa apa akibatnya, jika mbak Uci tahu dan melaporkannya kepada Ayah. Aku tidak main-main dengan perkataanku saat itu. Mengerti???" jawabku sewot. 

Aku sangat sebal dengan sifat kekanak-kanakannya. Tahun ini, ia berumur 14 tahun, tapi tingkahnya masih sama seperti 5 tahun yang lalu, ketika kami pertama berkenalan. Kuduga, tingkah kekanak-kanakkan inilah yang membuatnya tak pernah sekali pun disukai seorang gadis di sekolah, meskipun ia sangat pintar. Ini membuatnya tampak memperihatinkan. Ah, aku melantur.

Dewa tak begitu mendengarkan perkataanku. Sesekali ia menguap lebar dan menggaruk-garuk kaki kirinya, yang kutebak tidak gatal sama sekali, dengan kakinya yang lain. Ia memang selalu seperti itu, menyebalkan. "Ya, Nyonya? Sudah selesai pidatonya, ibu negara?" lagi-lagi ia mengucapkannya. Ia memang selalu menjawabku dengan kata-kata itu. Dan aku hanya menjawabnya dengan mengangkat bahu atau memutar bola mataku. 

Aku akhirnya mempersilahkan ia masuk. Lebih tepatnya, ia sendiri yang memperilahkan diri masuk, dengan mendorongku ke samping pintu sehingga ia dapat melompat masuk dengan gerakan yang tidak terlihat lucu sama sekali.

"Hey, dengar! Kau sudah besar, bocah! Perhatikan perubahan suaramu. Kau tidak pantas bersikap seperti bocah lagi. Mengerti?" Entah mengapa tiba-tiba aku mewujudkan kekesalanku menjadi kenyataan.

Dia terbelalak dan berhenti melompat-lompat. 

Satu, dua, tiga detik, dan ia pun tertawa terbahak-bahak, "Buahahaha... Tentu saja aku bukan bocah lagi. Menurutmu siapa yang lebih bocah di sini? Aku atau kau, bocah?" jawabnya sambil tertawa mengejek. Sombongnya kambuh, ia mulai membanggakan suaranya yang kini memang terdengar lebih berat dibandingkan dua bulan lalu.

Aku dapat merasakan panasnya amarah merayapi pipiku. Memang untuk beberapa hal, aku lebih kekanak-kanakkan daripada dia. Namun, ini bukan berarti bahwa ia lebih dewasa dariku. "Tentu saja kau yang lebih bocah karena aku satu tahun lebih tua darimu, bocah!'

"Sepuluh bulan, dua puluh lima hari tepatnya! Itu belum genap satu tahun, Ndah!" jawabnya meralat kalkulasiku.

"Ya! Tapi sudah beda tahun lahir. Itu sama saja," tentu saja aku tak mau mengalah.

"Jelas berbeda, Rindah. Lagipula, bukankah kita berada di tingkat yang sama? Wah! Apa ini artinya? Jika bukan karena aku yang terlalu pintar, pasti karena kau begitu bodoh. Apa kau pernah me-ngu-lang kelasmu selama satu tahun, Ndah? Hahahaha..."

"STOP, Dewa! Kau mulai mengusik topik ini lagi. Aku tidak suka, INGAT?!! Bertingkahlah sesuai umurmu, Dewa!" akhirnya emosiku meledak. Sekarang aku yakin, aku dapat membuatnya merasa bersalah karena sekarang ia terlihat menundukkan kepalanya. Mungkin saja sekarang matanya berkaca-kaca atau malah mungkin sudah mulai basah? Ia memang jail, tapi juga sangat sensitif dan sangat benci dibentak. 

Tiba-tiba, seperti muncul suatu energi dari dalam diriku yang menonjok perasaanku. Apa aku sudah keterlaluan padanya?

Aku mendekatinya, merendahkan tubuhku agar dapat sedikit mengintip wajahnya dan tiba-tiba, ia berteriak dengan sangat keras "BRAAH!!! Ya, nyonya? Ada yang bisa saya bantu?" 

Ia melompat ke depan, ke arahku yang tengah memperhatikannya dengan cemas, membuatku terkaget dan terjengkang ke belakang. Tentu saja ia hanya tertawa terguling-guling di sofa menyaksikan posisi dan ekspresi wajahku yang tengah memancarkan aura marah, cemas sekaligus terkejut. 'Aku menyesal mengkhawatirkanmu, Wa!'

"Ya! Ada! Tinggalkan aku sendiri, kecuali kau ada urusan penting denganku atau memberiku SESUATU MENARIK yang baru!" jawabku akhirnya, begitu acak. 

Namun, sepertinya, ini berhasil membungkamnya. Kulihat ekspresi wajahnya berubah. Ia sudah berhenti tertawa dan mengalihkan segala fokus perhatiannya pada tangannya yang tengah mengorek-orek satu per satu saku-saku celana longgarnya.

"Aha! Aku punya ini, Ndah!" sebuah benda tiga dimensi, berbentuk persegi panjang, tetiba muncul di depan mataku. Aku tak cepat mengenali benda itu. Terlebih karena benda ini terpoles warna silver jernih, memantulkan cahaya yang masuk melalui ventilasi pintu kamar Rindy yang setengah terbuka. Silau dan aku membutuhkan setidaknya lima detik untuk mengenalinya dengan baik.

"HARMONIKA!?" teriakku seketika. Kurebut benda itu. Kuputar-putar sembari mengamati setiap detailnya. Aku selalu tertarik dengan setiap alat musik yang dibawanya, begitu pula dengan harmonika ini. Ini pertama kalinya aku melihat dan menyentuh harmonika dengan indra perabaanku sendiri. Ia tampak begitu kaku, mengkilat dan misterius.

"Kau suka? Rindah?" tanya Dewa memotong aktivitasku yang tengah terbengong-bengong mengamati sebuah benda mungil di genggamanku.

"Lumayan," jawabku singkat dan datar. Tentu saja aku sangat menyukainya. Aku sangat menyukai setiap benda-benda yang bersuara, bahkan jika benda itu hanyalah atap teras belakang, yang bersuara ketika diterpa reruntuhan hujan. Atau sekadar suara teko teh Bunda, yang bersiul dengan nada tinggi di setiap pagi. Aku sangat menyukai mereka, meskipun Ayah sangat tidak suka ketika aku bilang aku menyukai musik.

Aku mengalihkan pandanganku dari harmonika itu kepada Dewa. Aku ingin sekali mengatakan terima kasih. Namun, aku tidak ingin membuatnya besar kepala dan mungkin... aku terlalu gengsi untuk mengapresiasi seseorang yang lebih muda dariku. Apalagi jika orang itu adalah Dewa.

"Sama-sama," kata Dewa tiba-tiba.

"Apa? Aku tidak mengatakan apa-apa," protesku.

"Yeah, tapi matamu mengatakan segalanya, Ndah!" jawabnya dengan cekikikan.

"Oke, baiklah. Terima kasih, Dewa!!!" ucapku datar, akhirnya, masih tanpa memandangnya. Seluruh perhatianku seolah hanya dapat tercurah untuk benda di tanganku ini.

"Oke, tak usah memaksakan. Ayo mulai rekaman!" katanya sambil mengeluarkan alat perekam.

"Ehh? Jadi, lagi-lagi ini bukan untukku?" jawabku, pura-pura kaget.

Entah mengapa, kali ini, justru Dewa yang sepertinya menampakkan keterkejutan. Alisnya mengendur, air mukanya menampakkan kesalahtingkahan. "Apa kau sangat mengingkannya, Ndah? Maaf. Aku tak bisa memberikanmu yang ini juga. Aku hanya, yeah... kau tahu, kan? Menerima apa yang diberikan oleh Papa... dan tentu saja meminta tolong padamu untuk memainkannya... dan aku akan merekamnya... dan menunjukkannya ke Papa ketika ia pulang... dan... "

"Hahaha, iya, boy! Aku hanya bercanda, tentu saja! Aku juga tidak mungkin menyimpannya untukku, di rumah ini. Jika Ayah menemukannya, ini bisa berbahaya. Kena kau, Dewa!" kataku. Geli sekali melihatnya bertingkah salah tingkah dan lucu seperti itu.

Semenjak kepindahan keluargaku ke kota belimbing ini, lima tahun lalu, aku telah berteman akrab dengan Dewa. Dari sinilah aku mengenal dan menyukai musik. Dewa sangat pandai dan tahu banyak tentang musik, tapi tidak untuk memainkannya. Ia pandai sekali mengulang apa yang diajarkan ayahnya, tapi tidak mampu mengaplikasikannya. 

"Terkadang aku penasaran, mengapa takdir kita seperti tertukar," katanya tiba-tiba.

Aku diam, tidak memiliki jawaban yang cukup baik untuk kuberikan padanya karena diam-diam aku pun sebetulnya sering menanyakan hal yang sama.

"Hey, ayolah! Kita sudah terlalu sering membicarakannya. Aku bosan. Sekarang, aku sudah tidak sabar untuk mencoba harmonika ini. Ini alat musik tiup pertama yang kau perlihatkan kepadaku, Dewa. Ayo kita ke tempat itu!" jawabku sembari menariknya ke sebuah tempat.

Ia hanya diam dan menurut. Aku tahu ia tengah memikirkan hal itu. Ia pasti akan bersedih setelah ini dan aku tidak suka melihatnya bersedih.

"Dewa. Kau mau ikut ke pantai denganku?" ajakku, spontan.

"Kapan?" tanyanya.

"Besok pagi. Kita langsung berangkat setelah subuh. Tidak boleh telat, karena ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang," jelasku.

"Oh begitu," jawabnya datar. Aku menoleh padanya, berharap memperoleh tambahan jawaban. "Baiklah, saya akan ikut, jika Nyonya memang memaksa," imbuhnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak ada yang memaksamu untuk ikut, bocah!" timpalku ketus. Namun, sebetulnya aku lega. Ternyata, ia baik-baik saja.


*****
Lima belas tahun yang lalu, di tanggal yang sama, ia, suamiku, Dewa, memperlihatkan harmonika yang sama rupa dengan harmonika di hadapanku saat ini. Ternyata, paket dari toko online itu berisi harmonika ini. Kejutan darinya ini membuatku teringat pada hari itu. Kata-katanya di hari itu, kembali terngiang.

"Terkadang aku penasaran, mengapa takdir kita seperti tertukar."

Jika diingat-ingat, waktu itu ia memang tengah mengalami masa yang berat. Masih 14 tahun umurnya saat itu, tetapi ayahnya mulai menggantungkan harapan padanya. Ia, memiliki seorang ayah yang berprofesi sebagai seorang konduktor dan pemain musik, dengan spesialisasi piano. Beliau juga mengajar musik di sebuah universitas swasta di Jawa Barat, kalau aku tidak salah ingat. Selain itu, beliau adalah pendiri Four Seasons Orchestra. Sebuah orkestra yang secara rutin mengadakan pertunjukan di setiap tengah musim, di empat negara berbeda. 

Ayahnya, menginginkan atau lebih tepatnya menganggapnya memiliki bakat yang sama dengannya. Namun, ternyata bakat itu tidak diwariskan secara genetik kepada Dewa kecil. Ia sama sekali tidak mampu memainkan alat musik apa pun, bahkan terbilang sangat payah untuk sekadar membunyikan solmisasi dengan benar. 

Inilah yang membuatnya memintaku untuk memainkan alat-alat musik, yang diberikan oleh ayahnya sejak ia berumur 11 tahun. Alhasil, ia terbiasa "menggunakanku" untuk memainkan alat-alat musiknya itu. Awalnya, ia mengajariku bagaimana cara memainkan alat-alat musik tersebut, menuntunku hingga mampu memainkannya dengan mahir. Selanjutnya, ia akan merekam permainanku dan memperdengarkan hasil rekaman itu kepada ayahnya. 

Kami berdua sama-sama pembohong cerdik yang menikmati setiap kebohongan yang kami lakukan. Kami tahu, ini adalah dosa. Namun, kami juga masih belum bisa menerima takdir kami. Aku dengan larangan ayahku dan ia dengan tuntutan dari ayahnya. Kebohongan besar ini, justru membuatku begitu bahagia menerima "permintaan bantuannya", pun dengannya yang juga begitu bahagia dapat "menggunakanku".

Lalu mengapa ia nekad memintaku? 

Aku bukan orang seperti tokoh fiksi August Rush, yang sangat jenius dalam bidang musik, hingga mampu mengarang dan mengaransemen lagu tanpa mengikuti sekolah musik. Aku juga bukan orang yang terlahir dengan bakat musik, yang dapat memainkan setiap alat musik meski baru pertama kali menjumpainya. Namun, menurutnya aku dapat menerka nada dengan baik, setidaknya jika dibandingkan dengannya. 

Setelah bertemu dengannya, aku menyadari bahwa aku memiliki ketertarikan diam-diam terhadap musik. Sayangnya, aku memiliki seorang ayah yang sangat tidak menyukai musik. Bahkan untuk sekadar mengucapkan do-re-mi dengan nada flat di depannya, aku tak berani. Hingga saat ini, aku tidak tahu pasti alasan ayah begitu membenci musik dan aku tidak berani menanyakannya. 

Saat aku dan Rindy seusia Keke dan Dede, kami tidak pernah bernyanyi bersama ayah. Ayah pasti pergi, melenyap tanpa jejak ketika salah satu dari kami mulai bernyanyi. Beruntung, kami sudah besar ketika Namira, adikku, lahir. Ia tidak perlu kesepian ketika bernyanyi, karena ada aku dan Rindy yang menemaninya.

"Ibuuu!!! Huweee. Ibu di mana?" terdengar sebuah suara cempreng disertai rengekan tangis yang dibuat-buat membuatku terkaget. Aku terbangun dari lamunan tentang kenangan masa kecil, lima belas tahun lalu. Itu suara Dede. Ia pasti bangun karena terkaget. 

"Ibuuu, Dede berisik! Aku udah bilang ibu ada di rumah, tapi ia tetap nangis!" kata Keke yang sudah menemukanku di ruang baca dan segera berlari ke pangkuanku. Tangannya mengucek matanya yang terlihat merah. Sepertinya ia masih mengantuk.

"Ya. Dede di mana sekarang?"

"Nggak tahu, deh. Keke ngantuk, mau tidur lagi," jawabnya sekenanya, tak memberiku petunjuk. Ia berjalan ke pojok kanan ruang baca, ke arah sebuah karpet berbulu, berukuran satu setengah meteran yang memang sengaja kutata dan kuletakkan di sana.

"Keke, kok nggak sopan begitu jawabnya. Kebiasaan, deh. Jangan tidur di... Eh? Sudah tidur lagi? Telat," kataku, ternyata pada diriku sendiri. Sepertinya Keke memang belum betul-betul bangun ketika ia mendatangiku. Ia tidur seketika, begitu badannya menempel di karpet. Dasar bocah ini, persis sekali ayahnya.

Aku menggendong Keke dan memindahkannya ke kamar berdinding kuning pastel milik si kembar ini. Ternyata, Dede juga ada di dalam kamar itu. Ia meringkuk di atas kasurnya sendiri yang berada di pojok dalam. Posisinya membelakangi arah pintu. Namun, aku dapat melihatnya tengah memeluk boneka Naruto, tokoh animasi kesukaannya. Aku tidak mendengar suaranya dan dapat kulihat punggungnya bergerak pelan. Sepertinya Dede juga sudah kembali tertidur.

Keke tak terusik sedikit pun, ketika aku merebahkannya di atas kasurnya yang bernuanasa ungu lavender. Kurapikan posisi kaki dan kepalanya agar tidak kaku ketika bangun nanti.

Setelah selesai dengan Keke, aku berjalan ke arah Dede yang memang betul-betul sudah tertidur dengan mulut terbuka. Lelap.

Jadi, apa itu barusan? Mereka betul-betul bangunkah atau hanya mimpi sambil jalan? Dasar bocah. Jam dinding burung hantu di kamar mereka menunjukkan pukul 3.20.

Baru beberapa menit aku melamun di ruang baca. Namun, rasanya seperti baru saja melakukan penjelajahan waktu hingga belasan tahun. Mungkin, ini yang menyenangkan dari sebuah kenangan. Ia dapat membayar kerinduan, juga menyajikan kembali rasa dan sensasi yang sama seperti saat ketika mengukirnya.

Drrrrt. Drrrrt.

"Ada pesan?"

Belum sampai tanganku meraih selulerku, jendela pop up terhidang di layarnya, menghidangkan sebuah pesan, 'Ibu, sepuluh menit lagi ayah sampai. Jangan terlalu merindukanku, ya!'

Ish. Pesan macan apaan ini. Eh? Sepuluh menit? Gawat. Aku lupa. Ia bilang bahwa hari ini ia akan pulang cepat. Kupandangi seisi rumah. Kuingat-ingat beberapa hal dalam daftar pekerjaan soreku. Aku belum menyiapkan air dan menu makan malam. Rumah masih berantakan. Aku bahkan belum jadi belanja ke minimarket. Keke dan Dede tidur, aku tidak bisa meninggalkan mereka. Belum lagi paket di ruang baca masih berserakan.

Aduh. Aku sedang tidak siap dikomentari. Apakah aku harus meminta bantuan si kembar lagi? Baiklah. Sepertinya, aku akan berpura-pura ikut tertidur ketika menidurkan si kembar.



*****


(bersambung)

Friday, 29 August 2014

Senja Bersama, Merkurius dan Venus (1)

*Saya mengadaptasi judul cerita ini dari judul cerpen seorang adik angkatan, tentu saja dengan isi cerita yang berbeda.
*Alur cerita lambat dan mudah ditebak. Jika tidak suka, jangan coba-coba membacanya.
*Ber-genre drama keluarga. Bukan penyuka cerita drama tidak dianjurkan untuk membacanya.
*Ini bagian ke-1, yang masih berisi prolog dan pengenalan tokoh-tokoh utamanya.

Selamat membaca! :D
________________________________________________________________________________________________


Kepingan 1: Cokelat Kelinci

'Ibu, ayah sebentar lagi pulang. Sekarang sedang mampir di minimarket atas. Beli cokelat kelinci pesanan si Dede. Ibu, bisa tolong siapkan air hangat buat mandi?' katanya melalui pesan singkat yang baru saja menyeruak masuk ke dalam inbox telepon genggamku.

'Okeee, ayah,' balasku singkat. Ah, tentu saja aku telah menyiapkannya, sebelum ia meminta. Aku sudah hafal jam pulangnya hingga kebiasaannya mengirim pesan untuk mengabarkan bahwa ia hampir mencapai rumah atau sekadar menanyakan oleh-oleh kepada Keke dan Dede, buah hati kami yang sedang pandai-pandainya menghafal lagu anak-anak.

Aku sudah sedang mengecek suhu air dalam bak mandi, ketika nada dering penanda pesan singkat selulerku terdengar mencicit meminta perhatian. Sebuah pesan singkat tergelar melalui pop up di layarnya, 'Cokelat di tangan, Ayah siap meluncur pulang.' Aku tersenyum membaca pesan tersebut. Suamiku masih saja cerewet seperti dulu ternyata. Lagi-lagi, aku tersenyum nyaris terkikik, membayangkan ia di masa muda yang begitu ceria, bersemangat dan disukai banyak orang. Well, setidaknya ia berhasil membuat orang-orang berpikir demikian tentang dirinya.

Aku sengaja tidak membalas pesan terakhirnya dan mungkin aku akan beralasan: ini demi penghematan pulsa. Padahal, aku memang tidak ingin membalasnya saja. Aku ingin mengetes bagaimana reaksinya ketika pulang nanti, mengingat ia tidak suka jika ada pesan atau perkataannya yang diabaikan. Sebenarnya, sudah dapat kutebak, ia pasti hanya akan mencelotehkan protes mini selama beberapa detik, lantas lupa dan berlari menuju dua malaikat kecil kami, yang kini tengah menari bersama menggunakan kostum peri.

Ah, dua anak itu, tiba-tiba aku ingin melihat bagaimana progres tarian mereka. Aku mengintip ke sebuah ruangan bernuansa kuning pastel yang memang berada di dekatku. Kulihat pangeran kecilku sedang berdiri di atas kursi mungilnya sambil berkacak pinggang. Ia menggunakan kostum Oki, si peri cilik nan jail, yang berwarna hijau daun pisang tua. Di sisi lain kamar tersebut, tepatnya di depan cermin setinggi satu meter yang terparkir aman di salah satu sisi kamar berbentuk segi lima itu, putri manisku tengah memandangi pantulan dirinya yang tak kalah manis di dalam cermin. Kostum bersayap dari tokoh Nirmala, si peri penyihir cantik dalam dongeng bergambar "Cerita dari Negeri Dongeng", tampak luwes melekat di tubuh mungilnya. Mereka sangat lucu, menari sambil sesekali menggumamkan semacam dialog yang selalu saja berubah-ubah kalimatnya di setiap latihan, sangat menyimpang dari naskah yang diajarkan oleh guru mereka. Meski begitu, mereka telah membuatku tersihir dan hampir lupa jika ayah mereka sudah hampir pulang dari kerja. Kulirik jam dinding berbentuk burung hantu yang terpaku lucu di sudut kamar itu. Oh, tidak! Sebaiknya aku membiarkan mereka bermain dan bergegas menyelesaikan persiapan makan malam sebelum ia pulang.

"Ayah pulaaang!" kudengar suaranya dari luar rumah, mengeras memenuhi teras dalam, seiring rintihan pintu yang perlahan terbuka. Baguslah, aku telah selesai menata hidangan makan malam kami, ketika ia telah masuk ke dalam rumah seutuhnya. Namun, ada yang aneh. Keke dan Dede tidak menghambur ke luar kamar untuk menyambut kedatangannya. Apakah mereka tertidur dalam satu menit? Aku menyempatkan menemuinya yang tengah duduk melepas sepatu, untuk sekadar memberikan senyuman kecil, sebelum pergi mencari Keke dan Dede ke dalam kamar.

Aku sempat cemas selama beberapa detik karena tidak dapat menemukan mereka berdua. Namun, kecemasan itu bergenti kegemasan ketika mendapati mereka sedang sama-sama berjongkok bersembunyi di balik bak mandi. Kamar mandi berpintu dua itu memang diset berada di perbatasan kamar tidur kami dan mereka untuk mempermudah segala aktivitasku dalam mengurusi mereka. Aku pura-pura tidak melihat mereka yang sepertinya memang tidak menyadari kedatanganku. Kutinggalkan mereka, yang tengah terkikik sembari membungkam mulut mereka dengan tangan mungil mereka sendiri, lalu segera menemui suamiku tercinta. Ia sudah selesai melepaskan pantofel kirinya ketika aku tiba di depannya.

"Tak membalas sms-ku lagi, uhm?" tanyanya dengan wajah kesal yang dibuat-buat. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman yang juga kubuat-buat sedemikian rupa agar setidaknya tampak manis bak personel-personel girlband di televisi. Namun, ia belum mengubah ekspresi wajah kesal buatannya. Akhirnya, aku menambahkan jurus andalanku, yaitu mengedip-ngedipkan mata dengan jahil, yang tentunya sangat tidak pantas dilakukan oleh wanita berkepala tiga sepertiku. Sukses. Ia telah lupa akan akting kesalnya dan kini digantikan dengan tawa spontan yang sangat keras, cukup untuk membangunkan anjing tetangga. Aku memberinya lirikan tajam khasku dengan mengisyaratkan pesan ancaman, 'Reaksi berlebihan macam apa itu? Hentikan atau kau akan mendapat ganjarannya!'  

Sepertinya, ia dapat membaca pesanku dengan baik karena ia menghentikan tawanya pasca melihat lirikan dariku itu. 'Yes! Selalu berhasil setiap saat!' batinku sembari menyeringai puas merasakan kemenanganku darinya untuk yang kesekian kalinya. Aku tidak melakukan semua ini karena aku ingin menindas atau tak menghormatinya. Namun, beginilah cara kami berkomunikasi, bahkan sejak lama saat status kami belum seperti ini.

Aku mendekatinya, meraih tas kerja berselempang yang ia gantungkan di bahu kanannya. Ia memandangku, masih terlihat sedikit gugup dan salah tingkah. Aku dapat melihat lelah terpatri jelas di relief wajah jenius sekaligus jenakanya. Lalu tiba-tiba kami tersenyum tanpa alasan yang jelas. Aku pun mulai menyapanya, "Selamat datang, Ayah. Apa kau tidak merasa di sini sedikit lebih tidak berisik? Kau tidak ingin mencari di mana mereka? Mereka sudah lebih pandai dalam bersembunyi, jika kau tahu."

Ia lantas tersenyum, membelai rambutku dan mendaratkan kecupan lembut di keningku. Dengan suara yang tak kalah lembut pula ia berkata, "Aku pulang. Terima kasih telah menjaga anak-anak kita. Dan..." tiba-tiba ia menghentikan kata-katanya sebelum akhirnya menaikkan volume suaranya dengan sengaja untuk menghasilkan teriakan yang sekeras toa demi memperoleh respons dari kedua bocah yang tengah bersembunyi itu, "HALOOO??? KOK RUMAH SEPI SEKALI, YA??? AYAH PULANG NGGAK ADA YANG MENYAMBUT, NIH?"

Alih-alih respons, suara kikikan tertahan mereka lah yang terdengar menggema dari arah yang sangat kami kenali dan tentu saja ia sudah dapat mengetahui letak mereka bersembunyi. Namun, ia tidak menuju ke tempat tersebut. Ia lebih memilih duduk di kursi berlengan dan menyalakan televisi dengan suara keras. Sepertinya ia ingin menggoda mereka. Dan betul saja, baru lima detik ia merebahkan punggungnya di penyangga kursi, ia kembali berbicara setengah berteriak, "YAH, SAYANG SEKALI, TERNYATA KEKE DAN DEDE TIDAK ADA DI RUMAH. PADAHAL, AYAH PUNYA COKELAT KELINCI KESUKAAN DEDE, BU. KITA MAKAN SAJA YUK, BU! MUMPUNG CUMA ADA KITA BERDUA, KITA BISA MENGHABISKANNYA SAMPAI PUAS. OIA, HADIAHNYA NANTI BUAT IBU, DEH."

Oh, ternyata aku salah. Ia tidak setengah berteriak, tetapi betul-betul berteriak dengan kekuatan maksimal untuk memancing kedua bocah jail itu keluar dari persembunyiannya. Atas upaya berteriak-teriaknya itu, kini ia cukup gelagapan mengatur napas. Dasar sama-sama bocah!

Butuh belasan detik hingga akhirnya terdengar sepasang langkah kaki kecil yang bergerak semakin dekat. Tampaknya pertahanan salah satu dari mereka telah tumbang karena tak kuat menahan godaan cokelat kelinci yang aku tak tahu di mana letak enaknya. Tak hanya sepasang kaki, sepertinya sepasang kaki lain pun terdengar berlari kecil mengikuti pemilik kaki sebelumnya yang kini mulai berlari juga. Kami berdua hanya tertawa sembari menanti kedatangan dua bocah polos ini dari persembunyiannya, yang letaknya sekitar dua puluh lima meter dari tempat kami memarkirkan diri.

"Mau bermain tebak-tebakan, siapa dulu yang sampai sini?" tanyanya dengan ekspresi menantang.

"Boleh!" jawabku tegas. "Aku bertaruh Dede karena ia yang paling suka pada cokelat itu," tambahku cepat.

"Tidak. Kali ini pasti Keke!" timpalnya dengan penuh percaya diri.

Entah mengapa, dalam sekejap rutinitas biasa ini berubah menjadi menegangkan karena disambi dengan menanti pembuktian tebakan kami. Lima meter lagi, mereka akan tiba di ruang keluarga di mana kami berdua berada dan aku sudah tidak sabar lagi memastikan siapa yang datang lebih dulu. Aku menoleh ke koridor yang membatasi ruangan ini dan ruangan bermain di sampingnya. Ia datang! Dan dapat kulihat sepasang sayap merah muda mengepak-ngepak masuk menerobos tirai kerang. Si Keke tiba di hadapannya dengan napas tersengal disusul oleh Dede yang tangannya terangkat ke atas, jelas sekali tengah bersiap mendorong Keke menjauhi sang ayah, untuk mengamankan cokelat favoritnya.

'Apa? Kok bisa? Kenapa bisa begini? Keke kan tidak suka cokelat. Kenapa ia datang duluan?' batinku. Seketika, aku merasa bodoh karena memikirkan hal seperti ini.

"Kau ingin tahu, kenapa aku tahu?" tanyanya padaku seolah-olah dapat membaca pikiranku.

Namun, alih-alih ia menjelaskan alasannya, Keke lah yang angkat bicara, "Ayah! Ayah curang. Ayah kan udah janji nggak akan mancing-mancing Dede pakai cokelat lagi. Gara-gara Ayah, Dede nggak mau sembunyi karena pengen cepat-cepat makan cokelat. Jadi gagal total kan, Ayah! Ayah curang dan pemalas, nggak mau nyariin kita." Dahinya mengerut dan matanya berapi-api ketika ia mengatakannya. Keke tampak betul-betul kesal. Mungkin itu yang membuatnya berlari lebih cepat hingga dapat menyusul Dede dan sampai ke sini lebih dulu darinya. Si Ayah yang tengah diprotes oleh putrinya hanya meringis tanpa rasa bersalah sambil mengacak-acak rambut putra bungsu yang sekarang sudah duduk di pangkuannya.

"Ayah, Dede mau cokelatnya. Hehehe. Ayah beli dua, kan?" pinta Dede dengan polosnya, mengabaikan sang kakak yang masih cemberut dan sesekali meracau tidak jelas karena jengkel pada Dede, si tokoh utama yang telah menggagalkan operasi persembunyian mereka berdua. Mereka terlihat sangat lucu.

"See? Aku menang, kan? Jadi, apa imbalan atas kekalahanmu dalam taruhan ini?" tanyanya membabi buta. Dan...apa?

"Taruhan? Sejak kapan ini menjadi taruhan?" Keke dan Dede yang tak mengerti isi pembicaraan kami hanya mengerjap-ngerjapkan mata kebingungan. Kemudian mereka kembali berisik, berebut untuk bicara dengan ayahnya.

Ia hanya menoleh sekilas kepadaku, lalu kembali memandang serius kepada putra-putri kami seraya berkata, "Sudah pikun rupanya, Ibu kalian. Kalian harus sabar, ya." Dede dan Keke berpandangan satu sama lain, hening sejenak, kemudian sama-sama mengangguk pasti. Hey, sikap tidak sopan macam apa itu? Apa yang ia ajarkan kepada mereka berdua?

Ia meraih satu kotak cokelat kelinci, membukanya, kemudian memberikannya kepada Dede. Dede menyambar kotak tersebut dengan beringas, membuang cokelatnya dan merogoh-rogoh benda yang masih tersangkut di dasar kotaknya. Ah! Akhirnya, aku tahu mengapa Dede begitu tergila-gila pada cokelat kelinci ini. Maksudku, ia tidak pernah betul-betul menyukai cokelatnya. Ia hanya suka mengoleksi hadiah-hadiah mainan yang ada di dalamnya.

"Yeay! Mainan perahu dayung!" teriak Dede girang.

Greg! Ya ampun, benar juga. Sepertinya tadi aku keceplosan menyebutkan kata taruhan. Aku lupa betapa jeniusnya orang di hadapanku ini dan betapa lemahnya aku dalam hal seperti ini. Baru beberapa menit lalu aku menang darinya dengan jurus kedipan mata dan sekarang sudah dikalahkannya hanya dengan bermain tebakan? Seharusnya, aku lebih berhati-hati ketika menghadapinya karena ia masih saja lebih pintar dariku.

"Ah! Sudah! Sudah! Ayah! Lebih baik Ayah segera mandi atau air hangatnya akan mendingin. Kau tidak kasihan padaku, yang sudah capek-capek menyiapkannya, uhm?" ucapku mengalihkan topik pembicaraan.

"Tentang taruhannya bagaimana?" ia masih tak mau melepaskan topik ini ternyata. Dan akhirnya, aku terpaksa mengeluarkan jurus pengobrak-abrik sukma kepadanya sebelum ia kembali berbicara.

"Ayah?" ia menoleh kepadaku. "CEPAT MANDI ATAU JATAH MAKAN MALAM KALI INI IBU BERIKAN KE MEONG YANG BELUM MAKAN SEHARIAN!" teriakku sambil menyeringai penuh arti. Sontak, ketiga manusia di depanku terdiam seketika. Dede akhirnya menyadari bahwa ancaman tersebut bisa jadi berlaku juga bagi mereka, jika mereka tidak patuh. Dede turun dari pangkuannya dan mencolek-colek pipi Keke --yang membisu masih mencerna suasana-- mencoba mengajaknya menjauhiku, yang tengah berakting bak nenek sihir pemangsa bocah.

"Keke! KEKE!" panggil Dede. Namun, yang dipanggil masih tak menyaut. Akhirnya, Dede mengambil tindakan berupa mendaratkan jitakan kecil ke kepala Keke yang loading-nya terlampau lama.

"Auw! Sakit Dedeeee! APAAN SIH KAMU?" teriak Keke sambil mengelus bekas jitakan di kepalanya. Kini Keke sudah sadar sepenuhnya dan mampu mengenali kondisi yang tengah terjadi. Ia bergidik ngeri melihatku.

"Oh, dek Dede lapar, ya? Kak Keke juga. Ayo kita siap-siap makan," kata Keke sembari memutar badan dan menggandeng tangan adiknya menuju meja makan.

"Ayo, Kak! Hehehe," jawab Dede. Aku hanya tertawa tertahan melihat tingkah lucu mereka.

"Mereka lucu, ya? Hahaha," tetiba ia kembali bicara sambil merangkulkan lengannya ke bahuku. Aku menoleh kepadanya, masih dengan mempertahankan tatapan tajamku yang dapat menusuk-nusuk kebahagian. Perlu waktu cukup lama hingga ia sadar, jika aku tidak sedang bermain-main dengannya. Sret. Seketika ia menurunkan lengannya dan menyusul si kembar yang sudah hampir mencapai meja makan.

"Keke! Dede! Ayo makan ber...bersamaaa... Ha...ha... haaa...." katanya terbata-bata.

"AYAH MANDIIII!!!" teriakku mematahkan tawa terbata-batanya.

"I...IYAAA..." jawabnya sambil berlari ke kamar. Beberapa lama kemudian terdengar lagu She Loves You milik The Beatles dinyanyikannya dari dalam kamar mandi.

Aku tertawa kecil sambil mengambil nasi dan menyajikannya ke atas piring-piring mereka bertiga, para jantung hatiku. Keke dan Dede sudah terbiasa denganku yang pandai berubah-ubah ekspresi seperti ini. Mereka hanya berdecak sesekali ketika melihatku tersenyum-senyum tidak jelas, kemudian kembali asyik bermain berdua sambil menanti ayah mereka selesai mandi.

"AYAH!" panggilku dari ruang makan.

"Yes, honey?" jawabnya genit dan sangat tidak pantas didengar oleh anak-anak. Mungkin ia ingin diberi pelajaran tambahan? Baiklah, honey. Hahaha.

"Dua menit saja kau malama-lamakan diri di dalam kamar mandi, ayam bakar madu ekstra jumbo ini akan lenyap dari meja makan oleh si kembar. Wah, mereka sangat lahap memakannya. Oh, kau masih ingin berendam ya, SAYANG? Nikmati waktu mandimu kalau begitu, ya, Yah! Ohohoho," kataku dengan diakhiri senyuman licik. Dua bocah di hadapanku hanya tertunduk pasrah menerima fitnahan dariku.


"TIDAAAAAK!!!"

Dan kali ini, senja berlalu dengan menyenangkan seperti senja-senja sebelumnya.


*****

Kepingan 2: Takdir yang Tertukar

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...