Showing posts with label Paguyuban. Show all posts
Showing posts with label Paguyuban. Show all posts

Saturday, 27 September 2014

Jalan-jalan Geng Antiwacana: Dieng Plateau dan Gunung Prau (plus dokumentasi dan cerita geje yang sangat panjang)


Dari depan ke belakang: Andre, Eri, Nana, Isna, Shinta, Rheta, dan Roland.
Diambil oleh saya ketika turun gunung dengan Nikon Coolpix L26.
Dari mana sebaiknya saya memulai cerita ini? Gengnya? Destinasinya? Personelnya? Atau wacananya? Well, ngomong-ngomong tentang wacana, rencana jalan-jalan yang akan saya ceritakan dalam post ini hampir menjadi wacana belaka loh. Mengapa? Mungkin dari foto di atas dapat dilihat bahwa susunan personel jalan-jalan ini didominasi oleh para dara manis? Jadi, kebetulan saat itu, ketersediaan anak paguyuban yang masih tersisa di kampung halaman saya, Kebumen, sudah sangat terbatas, terutama anak laki-lakinya. Sementara para anak-anak gadis ini sangat ngidam untuk pergi ke Dieng sebelum kembali ke tanah rantau, sebelum hari kerja atau perkuliahan dimulai. Akibatnya, mereka, yang selama liburan semester genap kemarin kelamaan dipingit di rumah, pun berusaha untuk mewujudkan keinginan tersebut, meskipun stok tebengan sangat terbatas karena (pada akhirnya) para pria yang menyanggupi untuk ikut hanya 2 orang (atau 3 orang?) sedangkan jumlah wanita yang pengen banget ikut ada 6 orang. 

*Flashback perencanaan on*
Tanggal 5 Agustus 2014, Shinta, adik angkatan saya di Perhimak UI (paguyuban mahasiswa UI daerah saya, Kebumen) menghubungi saya, yang ternyata sebuah ajakan untuk jalan-jalan ke Dieng, Wonosobo. Saya, yang pada saat itu memang sedang hobi-hobinya jalan-jalan dan camping, tanpa berpikir panjang, tanpa sempat meminta izin ke mama dan romo saya, tentu mengiyakan ajakan tersebut. Namun, dengan pertimbangan: asalkan ada yang mau ditebengi oleh saya, hehe. Beberapa lama kemudian, dibuatlah grup percakapan beranggotakan calon-calon personel yang akan ikut dalam jalan-jalan, yang menurut saya masih "abu-abu" ini. Mereka semua merupakan anak-anak Perhimak UI, lintas angkatan. Dari belasan orang yang dikandidatkan akan ikut, ternyata satu per satu dari mereka tumbang karena berbagai alasan. Akhirnya, pada tanggal 7 Agustus, fixed tersisa 9 orang yang masih bertahan dan (lagi-lagi) pengen banget pergi ke Dieng. Sembilan itu terdiri dari 3 orang anak laki-laki: Roland, Rosyid, dan Andre, serta 6 anak perempuan: Nana, Rheta, Isna, Shinta, Eri, dan saya. Sembilan orang yang tersisa inilah yang saya sebut dengan Geng Antiwacana (dalam hal jalan-jalan) di pos ini.

Setelah anggota fixed, rundown, persiapan, dan perlengkapan yang dibutuhkan dalam jalan-jalan yang ternyata berformat camping ini segera di-list oleh Shinta, yang bertindak sebagai koordinator. Ternyata, jalan-jalan ini tidak hanya sekadar jalan-jalan dan menginap, tetapi juga mendaki dan camping mendirikan tenda di salah satu puncak gunung di pegunungan Dieng, yaitu Gunung Prau. Bagi sebagian besar dari kami, terutama si kaum hawa, ini adalah kali pertamanya menaiki gunung dan camping di atasnya. Terlebih lagi, (kalau tidak salah) hanya Roland, Andre, Rosyid, dan Rheta yang pernah ke Wonosobo sebelumnya, sisanya hanya dengar -dengar namanya saja. Karena masih minimalnya pengalaman dan informasi terkait pendakian, kami pun hanya menyiapkan perlengkapan pribadi seadanya, seperti jaket/baju hangat, mantel hujan, senter. Untuk perlengkapan berkemah, seperti tenda dan sleeping bag, kami memutuskan untuk menyewa di dekat lokasi. Terima kasih kepada Eri, yang sudah berinisiatif untuk mencari informasi dan kontak dari penyedia perlengkapan pendakian di sekitar Dieng. Rencana keberangkatan dari Kebumen adalah Jumat pagi, 8 Agustus, sedangkan pendakiannya dimulai sorenya, yaitu setelah salat Jumat.  

*Flashback perencanaan off*


Realisasi Perjalanan

Keberangkatan
Sebelum berangkat, sudah seperti tradisi, kami berkumpul di sekitar alun-alun Kebumen. Setelah ngaret sekitar setengah jam, akhirnya kami bertolak dari Kebumen menuju Wonosobo dengan naik motor, pada pukul 7.45 pagi. Karena ada 8 orang (Rosyid rencananya mau menyusul, setelah turun dari Gunung Sumbing *jika mampu* *dan ternyata dia tidak dapat menyusul tepat waktu, akhirnya gagal menyusul deh*), kami pun menggunakan 4 motor. Pasangan pertama: Roland dan Rheta, pasangan kedua: Andre dan saya, pasangan ketiga: Eri dan Shinta, dan pasangan keempat: Nana dan Isna. Roland, Andre, Eri dan Nana bertindak sebagai "sopir". Perjalanan dari Kebumen-Wonosobo ditempuh dalam waktu 3 - 4 jam dikarenakan kami memacu kendaraan dengan kecepatan sedang dan sempat berhenti beberapa menit untuk berganti shift antara pembonceng dan yang membonceng, pada pasangan ketiga dan keempat. 'Mereka betul-betul perempuan perkasa!' pikir saya.

Sekitar pukul 10.30, kami mulai memasuki wilayah Wonosobo. Kami berputar satu kali di alun-alun Wonosobo hingga akhirnya singgah di masjid agung Wonosobo yang terletak di kompleks alun-alun. Suhu di sana pun mulai terasa mendingin. Pemandangan dan atmosfer alun-alun Wonosobo terlihat sangat asri dan sejuk, baik dipandang mata maupun dirasa kulit. Untuk menghangatkan badan, kami mulai menggunakan masker dan sarung tangan. By the way, saya tidak membawa masker dan sarung tangan loh. Saya kira Wonosobo tidak akan sedingin itu. Ternyata, baru suhu di wilayah perkotaannya saja sudah sedingin itu, apalagi nanti di pegunungan Diengnya? Beruntung, saya mendapat pinjaman sarung tangan dari Roland, yang ternyata membawa dua pasang sarung tangan. Mengingat waktu menuju salat Jumat masih sekitar satu jam, kami pun memutuskan untuk meneruskan perjalanan hingga masuk ke wilayah Dieng. Para lelaki itu akan melaksankan ibadah salat Jumat di sekitar basecamp pendakian Gunung Prau. 
Pelajaran nomor satu: Jangan pergi ke daerah dataran tinggi tanpa membawa sarung tangan dan masker, terlebih karena saya selalu lebih mudah kedinginan dibandingkan orang lain kebanyakan. Pelajaran nomor dua: Karena masih pemula, jangan berani mendaki tanpa terlebih dahulu membaca informasi atau review lokasi pendakian. 

Registrasi
Halaman Pos (basecamp) Pendakian Gunung Prau,
jalur Patak Banteng. Diambil oleh saya ketika
baru tiba di lokasi dengan Myphone 403

Sebelum pukul 12.00, kami sudah mencapai desa Patak Banteng, yang terletak di sekitar jalan raya Dieng. Pada pendakian kali ini, kami memilih jalur pendakian Patak Banteng yang merupakan jalur tersingkat atau terpendek menuju puncak Gunung Prau. Karena jalur tersingkat, jalur ini memiliki medan yang lebih curam, sajian pemandangan alam yang lebih sedikit, tetapi dapat ditempuh dengan durasi pendakian yang lebih cepat, jika dibandingkan dengan jalur pendakian lain. 

Meskipun hari itu bukan weekend, ternyata ada cukup banyak kendaraan roda dua terpajang rapi di area parkir basecamp. Artinya, ada banyak pendaki lain juga selain kami. Benar saja, satu per satu orang dengan gumpalan besar tas carier di punggungnya berlalu lalang, keluar masuk melalui jalan setapak kecil di samping kanan area tersebut. Jalan itu adalah jalan menuju pintu masuk basecamp. Kami pun sontak memandangi diri kami masing-masing, membandingkan satu per satu benda yang melekat pada diri kami dengan apa yang yang mereka kenakan. Mereka memakai sepatu atau minimal sandal gunung, kami memakai sandal jepit tipis bahkan sandal cantik khas kondangan (ini si Nyonya Shinta). Mereka memakai kaos santai menyerap keringat, kami memakai baju atau kaos yang tidak beda jauh sih, cuma udah pakai jaket aja karena kedinginan. Mereka membawa (hanya) tas carier all in one yang superbesar, kami menjinjing tas gendong cantik berhias pita atau lukisan menara Eiffel yang kecil-kecil dan imut-imut. Pokoknya, kami dan mereka layaknya bumi langit. Perkiraan saya, Gunung Prau yang akan kami daki bukanlah gunung yang sebetul-betulnya gunung, melainkan sebuah bukit tidak terlalu tinggi yang puncaknya dapat ditaklukan kurang dari satu jam. Namun, setelah melihat mereka, para pendaki betulan, bukan pemula seperti kami yang amatiran, saya akhirnya tersadar jika Gunung Prau ini bukanlah sekadar bukit biasa. 

Gunung Prau ternyata merupakan salah satu puncak tertinggi dari gugus pegunungan di kompleks dataran tinggi Dieng yang banyak dikunjungi wisatawan ini. Ketinggiannya adalah 2565 mdpl. Mengingat letaknya di Wonosobo, yang merupakan dataran tinggi, Gunung Prau dengan ketinggian itu, memang memiliki jarak daki yang tidak terlalu panjang dan tinggi sehingga sangat cocok bagi pendaki pemula seperti kami. Jalur trekkingnya pun tidak terlalu ekstrem dan puncaknya dapat dicapai dalam waktu 2-3 jam pendakian. Meski demikian, sepertinya saya telah salah karena sebelumnya saya menganggap enteng gunung ini. Berdasarkan informasi yang dibaca oleh Eri, suhu di puncak gunung tersebut dapat mencapai minus atau kurang dari 0 derajat ketika menjelang subuh. Mulai saat itulah saya mulai bimbang dan sedikit cemas. 'Akankah saya masih hidup di sana tanpa menderita hypothermia? Bahkan berada pada ruangan ber-AC selama dua setengah jam saja, kulit saya sedingin es dan jari-jarinya menjadi kaku untuk menulis,' batin saya. Akhirnya, saya pun membulatkan niat, diiringi doa dan tekad membara untuk dapat menaklukan gunung pertama dalam catatan pendakian saya.

Usai salat jumat dan salat dzuhur, sebelum melakukan registrasi, kami pergi membeli perbekalan di minimarket yang terletak di pintu gerbang Dieng Plateau sekaligus mengambil perlengkapan berkemah yang sudah kami pesan di hari sebelumnya, yaitu dua unit tenda dan 5 buah sleeping bag. Memang dasar pemula, dalam memilih bekal makanan pun kami kebingungan. Akhirnya, kami membeli banyak sekali makanan dan minuman ringan dengan pertimbangan, "Sepertinya kita akan sangat kelaparan karena tidak akan memasak".

Ada yang unik dari berbungkus-bungkus makanan yang dijual di minimarket ini. Mereka tampak lebih besar daripada ukuran makanan ringan di tempat tinggal kami karena bungkusnya menggembung maksimal akibat tekanan tinggi di daerah sana. Saat keluar dari minimarket, kami baru sadar jika tas-tas yang kami bawa berukuran mungil-mungil. Akhirnya, kami paksa masuk saja bejibun makanan tersebut ke dalam tas-tas kami. Bungkus-bungkus makanan ringan tersebut kami lubangi, kami kosongkan udaranya, demi menghemat space tas. Kami mengumpulkan minuman-minuman ke dalam satu tas, yaitu tas Roland, karena ukuran tasnya paling besar. Pasca membagi-bagi bekal makanan ke dalam tas-tas kami, kami pergi makan di warteg (padahal di Wonosobo, sebutannya tetap aja warteg bukan warsob) yang ada di seberang minimarket. 
Pelajaran nomor tiga: persiapkan segala perlengkapan pendakian dengan baik sebelum berangkat, meski setidak ekstrem apapun medannya. Keselamatan, kenyamanan, dan keefektifan pendakian bergantung pada apa yang kita bawa. 

Peta jalur pendakian Gunung Prau via
Patak Banteng
Pukul 14.00 lebih, kami sudah kembali ke basecamp dan ikut mengantre untuk melakukan registrasi. Biaya registrasi untuk setiap pendaki adalah sebesar Rp5.000,00. Basecamp dipenuhi oleh para pendaki, baik yang siap berangkat maupun yang baru datang. Baik yang terlihat profesional, maupun yang terlihat sama abal-abalnya dengan kami.

Jadi, saya akan mendaki bersama mereka nanti? Wah, rasanya seperti mimpi yang terwujud setelah sekian lama terpendam hanya ada dalam angan-angan. Saat itu, saya sungguh berterima kasih kepada adik-adik angkatan ini yang entah bagaimana caranya kepikiran untuk mengajak saya. Saya memandang wajah mereka satu per satu, Rheta yang sudah sejak keberangkatan berbalut masker, Eri yang tampak sibuk merapalkan informasi-informasi terkait Gunung Prau yang telah dibacanya, Isna, Shinta dan Nana yang sesekali memperbicangkan sesuatu, serta Roland dan Andre yang ternyata sudah pernah naik gunung sebelumnya. 


Sebelum memulai perjalanan pendakian kami menyempatkan diri untuk berdoa bersama dan melakukan tos, berharap semangat dan kelancaran menyertai pendakian kami. Andre memimpin doa singkat kami. 
Momen tos sebelum memulai pendakian
*abaikan Rheta (paling kiri) yang gagal pose, :p*

Pendakian
Pendakian kami dimulai pukul 14.25. Perjalanan diawali dengan memasuki gang kecil yang sarat pemukiman para warga desa Patak Banteng. Jalan aspal, setapak dan tanjakan bertangga masih terbentang di beberapa ratus meter perjalanan awal pendakian menuju pos 1. Baru beberapa menit melangkah, kami sudah mulai bingung mencari rute jalan, yang menurut peta terletak di dekat TK dan Musala. Di antara kami hanya beberapa orang yang dapat membaca peta. Mengandalkan intuisi, akhirnya kami pun menemukan jalan yang (sepertinya) benar, walaupun pada akhirnya kami memutuskan untuk bertanya pada seorang ibu, warga setempat, yang tetiba lewat. Ibu itu berbaik hati menunjukkan dan mengantarkan kami hingga sampai ke jalan menanjak dan beranak tangga yang merupakan penanda batas antara desa hingga kaki gunung. 

Yuhuu, bawaan kami minimalis, kan? :D
Ujung dari tangga ini adalah jalan tanah yang membelah area lahan pertanian warga. Jalan tersebut, sengaja dibuat sebagai salah satu akses yang menghubungkan pemukiman warga dengan jalan menuju pos 1. Jalan menuju pos 1 terbentuk dari susunan bebatuan kali yang rapi, mulus, dan tidak terjal. Meski demikian, posisinya yang konstan menanjak cukup membuat kami kewalahan di awal pendakian ini. 

Kondisi jalan menuju Pos 1

Di tengah perjalanan yang baru beberapa menit ini, tetiba, rombongan kami terpisah-pisah sebagai akibat dari seleksi ketahanan. Eri dan Andre dengan kecepatan mendaki yang cukup konstan berhasil memimpin di depan meninggalkan rombongan. Saya berada di belakang mereka berdua, sesekali berjalan mundur sembari menikmati pemandangan di sisi kanan jalan yang bertabur panorama alam, berhiaskan relief pertanian daratan Wonosobo yang terpagari bukit dan pegunungan di sana-sini. Sesekali saya memotret rombongan tertinggal yang berada di belakang saya: Nana, Isna, Rheta, Shinta, dan Roland. Mereka agak memperlambat laju sembari menunggu Nana yang tetiba hipotensi dan pandangannya berkunang-kunang sejak mulai naik. 

Pemandangan di sisi kanan jalan

Di sisi kiri jalan, tebing-tebing cukup tinggi menampakkan hidangan bergerombol-gerombol bunga kerdil beraneka warna yang sangat indah, hingga dengan memandangnya saja akan membuatmu lupa akan kelelahanmu. 

Pemandangan di sisi kiri jalan
Akhirnya, setelah melewati jalan menanjak tanpa jeda, kami pun tiba di pos 1, yang bertitel Sikut Dewo (Siku Dewa). Alhamdulillah, kami berdelapan dapat mencapai pos 1 dengan selamat, walaupun Nana sepertinya Nana masih tampak puyeng-puyeng gimana. Tidak disangka, baru sampai pos 1 sudah cukup ngos-ngosan begitu. Oh iya, karung-karung yang menjadi background foto di bawah ini bukan berisi beras loh ya, melainkan pupuk. Terbayang bagaimana rasanya para petani itu membawa pupuk itu melewati jalan menanjak itu? Oh, tentu saja lelah. Untung pupuk, bukan beras. Namun, ternyata tidak semua petani di sana membawa karung-karung tersebut dengan memanggulnya. Ada yang membawanya dengan menggunakan motor karena ternyata jalan menuju pos 1, yang sudah bagus ini, memang dapat dilalui oleh motor. Tidak hanya dilalui oleh petani, jalanan pos 1 ini ternyata juga seolah menjadi tempat nongkrong para tukang ojek atau peternak burung dara. Tak khayal, banyak dari mereka yang sering berlalu lalang di jalan ini. PAra tukang ojek bahkan memiliki tempat mangkal di pos 1. Jika kau penasaran pada motor macam apa yang dapat melalui medan semacam ini, maka kau dapat membayangkan penampakan motor off road yang sering ditayangkan di berita olahraga di televisi.
Pos 1

Setelah beberapa menit beristirahat melepas lelah, kami melanjutkan pendakian menuju pos 1. Medan yang kami lewati dari pos 1 menuju pos 2 bukan lagi jalan berbatu yang agak mulus, melainkan jalan tanah yang melewati ladang pertanian palawija. Di kanan dan kiri satu-satunya jalan pada jalur Patak Banteng ini, dapat dilihat kekayaan hasil tanam andalan dari Wonosobo: semacam kacang-kacangan. Kami beruntung karena hari itu tidak hujan sehingga pendakian kami terbilang lancar.

Rombongan tertinggal
Di tengah perjalanan antara pos 1 dan pos 2, lagi-lagi Eri dan Andre melangkah lebih dulu meninggalkan rombongan tertinggal, yang mulai ngos-ngosan lagi. Mungkin terlihat dari ekspresi wajah mereka, hanya Shinta yang mampu mengangkat tangannya (?) mengisyaratkan pesan "Aku rapopo" dan Roland yang tersenyum sembari mendongakkan kepala, mungkin karena adanya pengaruh beban  tenda dan tasnya yang berisi air minum berliter-liter.
Rombongan yang meninggalkan

Pos 2 Canggal Walangan

Perjalanan menuju pos 2, meskipun tidak terlalu menanjak, tetapi ternyata cukup menantang. Kami mulai disuguhi dengan pohon-pohon tinggi yang berdiri tegak, ladang-ladang lambat laun mulai menjarang, dan ini adalah tanda bahwa kawasan hutan mulai menjabat. Jejalanan aspal dan rumah-rumah warga terlihat semakin kecil dan menyisakan garis kaku berliku. Di pos ini kami masih sempat berfoto, meskipun dingin mulai menusuk karena kabut sedikit demi sedikit mulai turun.

Masih bisa bergaya di pos 2

Medan pendakian yang sebetulnya
*motretnya sambil ngos-ngosan*
Selepas dari pos 2, medan yang kami daki semakin menjadi-jadi. Kami seolah-olah tengah mendaki melewati parit-parit air yang di kanan kirinya berdindingkan tanah dan saya tidak dapat membayangkan jika saat itu hujan turun. Mungkin kami sudah terguyur dan pendakian pun pasti akan lebih sulit. Sebagai pemula, beberapa dari kami cukup terkaget melihat medan yang tiba-tiba mengganas ini. Break pun semakin sering dilakukan demi mengatur nafas dan mengumpulkan energi. Mulai di sinilah, rombongan tertinggal hanya terdiri dari empat orang, yaitu Rheta, Nana, Isna, dan Roland. Shinta sudah terbebas dari rasa mualnya dan bergabung dengan rombongan meninggalkan yaitu Andre dan Eri. By the way, anak laki-laki yang tertangkap kamera membawa gitar biru di belakang Roland itu bukan anggota rombongan kami, ya. Dia anggota rombongan besar lain, yang mungkin nanti akan saya ceritakan pada bagian puncak.

Pos 3 Cacingan
Ini tidak ada yang ingin berfoto bareng palang ini, nih?
Saya dan Eri sampai ke pos 3 beberapa menit setelah Andre dan Shinta. Mereka berdua meninggalkan kami berdua, yang mulai kewalahan mengatur nafas, dan sampai ke pos 3 terlebih dahulu. Mungkin ini berlebihan, tetapi medan menuju pos 3 memang membuat kami cukup terseok-seok hingga memanjat-manjat jalan berbatu yang kami pijaki seperti spider-man yang kehilangan kekuatan supernya. *maklum masih pemula*

Usai melewati pos 3, kabut mulai menyergap turun dengan cepatnya, membuat kami berempat, Andre, Shinta, Eri, dan saya, semakin mempercepat langkah, tapi tetap berhati-hati. Selain itu, kondisi kemiringan tanahnya pun semakin curam, membuat kami berjalan melambat, setapak demi setapak. Satu rombongan pecinta alam berhasil mendahului kami dengan membuat rute baru, menerobos semak belukar. Saya hanya dapat terkagum melihat mereka yang terlihat sangat keren. Semakin dekat ke puncak, kerapatan pepohonan semakin jarang dan jumlahnya semakin berkurang. Mereka digantikan dengan bunga-bunga kecil yang tampak semakin banyak ketika semakin mendekati puncak. Kondisi tanah juga semakin tidak berbatu sehingga agak terasa lebih licin dibandingkan jalan-jalan di pos sebelumnya. 

Rombongan kami fixed terpecah menjadi dua, yaitu rombongan yang tertinggal dan yang meninggalkan. Saat kabut mulai semakin tebal, saya cemas pada rombongan tertinggal karena di salah satu belokan (?) ada rute ganda: rute utama (kiri) dan rute alternatif (kanan) buatan entah siapa yang begitu dekat dengan di bibir jurang (?). Saya takut mereka memilih rute ke kanan yang berbahaya. Akhirnya, saya pun memutuskan untuk mengecek kondisi mereka sesekali dengan berteriak memanggil nama mereka satu per satu, hingga ada sautan dari mereka. Kemudian saya meneriakkan rute yang benar kepada mereka, misalnya "Kiri! Belok kiri, jangan ke kanan!" Memalukan, memang. Namun, setidaknya ini membuat saya lebih tenang.


Puncak
Setelah mendaki selama kurang lebih 3 jam lamanya, akhirnya kami berempat, rombongan yang meninggalkan, sampai ke puncak. Saat itu sudah melewati pukul 17.30, tetapi langit senja itu belum juga menjingga. Namun, masya Allah, indah sekali bumi-Nya ini. Saya hanya mampu terpana dengan sedikit ternganga menyaksikan gumpalan awan putih yang melayang tanpa bergelantung pada langit biru, bergerak cepat tertiup angin yang dinginnya bisa jadi setara dengan dinginnya lemari pendingin. Bulan tak utuh juga tampak turut memamerkan diri. Indah sekali.

Kami termasuk rombongan yang datang paling awal dan baru terdapat satu atau dua tenda yang sudah berdiri. Rombongan dari anak yang tadi membawa gitar ternyata juga sudah sampai. Jumlah mereka cukup banyak, sekitar lima belas orang mungkin. Sebagian dari mereka mendirikan tenda dengan sangat gaduh dan sesekali berujar dengan bahasa jawa untuk sekadar mengaduh atau memaki sekalian, sedangkan sisanya berfoto ria atau bermain gitar sambil menyanyikan lagu "Bang Ocit, prepet prepet prepet", OST sebuah sinetron stripping yang tayang di S*TV. Selain mereka, ada satu rombongan lain yang memarkirkan tenda mereka jauh sekali di seberang bukit, jauh dari palang penanda area perkemahan. Mungkin mereka sekelompok manusia yang suka menantang angin. Sungguh, angin di sana bertiup dengan sangat kencang. Sayangnya, alih-alih angin sepoi, angin dingin yang membekukan yang meniup kami. 

Sebelum mendirikan tenda, kami juga sempat berfoto-foto dengan berlatarkan angkasa yang mulai terkepung kabut awan. Tak lupa, kami juga melapisi badan kami dengan beberapa lapis baju dan jaket lain demi meminimalisasi dingin yang mulai membuat jemari dan wajah kami lupa mengenali rasa. Untuk mengatasi rasa dingin tersebut, akhirnya kami terus bergerak ke sana dan kemari, berharap dapat sedikit hangat. 

Shinta setelah berubah

Objek utamanya gunungnya ya, bukan orangnya :p

Bagaimana tentang mendirikan tenda? Oh iya, sebenarnya, salah satu alasan kami menunda-nunda mendirikan tenda adalah sembari menanti Roland karena hanya dialah yang dapat mendirikannya. Kami berempat sama sekali belum pernah mendirikan tenda sendiri. Namun, dingin yang semakin menyayat-nyayat membuat saya ingin segera membuat tempat berlindung ke dalam tenda. Berbekal nekad, akhirnya kami pun mendirikannya sembari membayangkan kemungkinan bentuknya, menghitung jumlah rangkanya, memperkirakan letak perpotongan keduanya, mengikatnya tepat di tengah lalu menyelimutkan tenda itu dan mengatur bentuknya hingga sesuai rangkanya. Tadaaa!!! Tenda pun jadi seperti ini... *peyot*

Tenda dan senyum yang gagal  dari Eri... :')
Pukul 18.15, rombongan tertinggal pun akhirnya sampai ke area perkemahan atau sekitar 30 menit setelah kami berempat. Mereka bercerita jika mereka berkesempatan melihat sunset ketika dalam perjalanan dan mereka terlihat bahagia walaupun tampak sangat kelelahan. Roland si mantan anak pramuka secara taktis langsung meraih tenda yang dibawanya dan dalam sekejap tenda pun berdiri, tentu saja dengan sedikit bantuan dari Andre, Shinta, dan saya. Kami melaksanakan ibadah salat magrib dan isya di puncak! Ini pertama kalinya untuk saya.

Tenda menjadi ekuipmen yang sangat berguna dalam camping kali ini karena terbukti dia bagaikan rumah yang melindungi kami dari jailnya angin yang mulai mengobrak-abrik semakin menjadi-jadi setiap benda yang ada di puncak itu, seiring semakin jatuhnya malam. Gemintang pun masih menyembunyikan kerlipnya seakan sedang menjauhkannya dari mendung. Malam Sabtu itu terasa sangat panjang daripada malam-malam biasanya, satu detik berlalu bagaikan satu menit, satu menit bagaikan satu jam, meskipun kami telah bergabung di dalam satu tenda dan mengarang lelucon atau permainan kejujuran. 

Di dalam tenda
Wajah itu tidak bisa bersandiwara

Menginjak pukul 22.00, akhirnya kami menyerah pada kantuk dan lelah, lantas mulai menata posisi tidur terbaik. Kami para gadis menggelar lima sleeping bag yang kami sewa untuk dijadikan selimut dan alas tidur dan berenam tidur di dalam satu tenda yang seharusnya diperuntukkan hanya untuk empat orang. Kami tidur membujur dengan posisi yang tidak bisa dibilang nyaman. Saya tidur di space yang tersisa di mana kaki saya tertekuk, dapn pada saat terbangun keesokan paginya, kaki saya pegal gila dan saya hampir tidak bisa meluruskannya. Sebelum kami tidur, ada suara-suara nyanyian dari arah tenda rombongan anak yang membawa gitar, lagi-lagi menyanyikan Bang Ocit, entah untuk ke berapa kalinya di malam itu. Ada juga rombongan pendaki lain yang baru datang di saat kami baru akan mulai memajamkan mata. Mungkin karena faktor cahaya yang kurang dan lain-lain, entah karena apa, proses mereka mendirikan tenda berlangsung sangat lama, berisik, tapi kocak karena Shinta terus saja menirukan suara medhok dari salah satu personel rombongan mereka. Dan lama-lama kami pun tertidur dengan tidak tenang karena angin masih saja mengobrak-abrik tenda kami seolah-olah akan mencabut tenda kami dari akar pasaknya. 



Fajar
Menjelang shubuh, beberapa anak mulai membuat gerakan-gerakan. Rheta yang tidak tidur semalaman tiba-tiba gelagapan mencari alas kaos kakinya yang entah bagaimana caranya sudah terlepas dan membuat kakinya setengah dingin. Shinta yang tidur di paling pinggir dan dekat dengan ventilasi tenda terbangun dengan tubuh yang kedinginan. Isna dan Eri sepertinya tidak dapat tidur dengan tenang karena berisiknya kibaran tenda. Nana meskipun tampak tidur tenang, tetapi ternyata dia dapat merasakan gerakan goyangan tubuh saya yang menggigil kedinginan saat tertidur. Isna sempat keluar dini hari itu, untuk menilik langit, barangkali dapat menangkap potret gemintang. Namun, dia mengurungkan niatnya dan lebih memilih menggelungkan badan di dalam tenda yang lebih hangat.  Yep! Betul sekali, suhu pagi hari di sana tetiba sedingin es. Jauh lebih dingin daripada malamnya. 

Menjelang pukul 05.30, Isna mengintip keluar tenda dan dia setengah berteriak sambil menunjuk ke arah tenggara. Sederetan manusia sudah menancapkan diri di posisi terbaik pilihan mereka masing-masing, di tepian puncak Prau super dingin yang menurut Shinta jauh lebih dingin dibandingkan dengan suhu di Gunung Papandayan. Hwaaah! Mereka siap menyaksikan kemunculan sang surya. Perlahan, kabut-kabut bergerak menyingkirkan badan, membuka tirainya yang menutupi beberapa siluet benda besar yang menelungkup dengan gagah dan kalem, tampak melayang di atas awan. Ternyata sosok itu adalah puncak Sindoro dan Sumbing, dua dari tiga anggota triple S (Slamet, Sindoro dan Sumbing), salah satu menu pendakian favorit para manusia pecinta alam. 

Kami mempertebal lilitan baju kami, lalu melompat keluar dari tenda untuk bergabung dengan pendaki-pendaki lain. Syukurlah, kami tidak terlalu terlambat dan memperoleh spot yang tidak cukup buruk untuk berpose. Foto di bawah ini diambil pada saat baru keluar dari tenda. Tangan saya bergetar habit akibat kedinginan sehingga tidak dapat menjaga fokus kamera saku saya. Alhasil, fotonya kabur-kabur begini deh. 




Tak bosan kami mengabadikan setiap inchi penorama pagi yang sangat indah ini. Lelah hari sebelumnya terbayar lunas dengan hidangan-Nya yang membius mata dan alam bawah sadar ini. Pagi itu, tetiba saya jatuh cinta dengan puncak gunung dan segala proses pendakiannya. Saya tidak akan pernah bosan dengan menu hidangan mata yang satu ini. 
Menjelang matahari terbit, gunung Sindoro dan Sumbing semakin jelas terlihat

Yeay!!! Akhirnya, saya berfoto juga... ^^

Akhirnya, matahari pun melahirkan diri

Bagaskara ini meninggi, sinarnya menyilau, tetapi dinginnya belum juga berubah menjadi hangat

Perlahan, birunya angkasa turut menyambut pagi di arah Barat.

Awan mulai berarak, kabut melenyap dihempas angin pagi dan sinar mentari

Yeah! Akhirnya, tenda-tenda kami, para pendaki pun terlihat. Ini hanya sebagian dari sisi Timur.








Suka komposisi warna dalam foto ini
Ini dua dedek supersabar dalam mendamping mbak yu-mbak yu yang masih awam tentang daki-mendaki

Biru :)

Perjalanan Turun 
Mentari menaik dan panasnya mulai mengalir ke daratan tempat kami berada, meskipun angin dingin tak juga jemu membelai bulu kuduk. Kami telah puas menyaksikan sunrise di puncak Prau. Setelah sarapan dengan bekal makanan ringan yang sudah kami bawa hari kemarinnya, kami pun segera merobohkan tenda. Satu per satu pasak tercabut, rangka terlipat dan kain tenda terkulai lemah di tanah. Andre bertugas merapikan segala perlengkapan tenda sedangkan sisanya berinisiatif memunguti sampah-sampah sisa konsumsi kami. Jika cinta, kita harus menjaganya, kan? :D

Setelah semuanya rapi, kami menatap ke arah berbotol-botol air mineral kemasan 1,5 liter yang masih tersisa sangat banyak. Ini kami yang minumnya sedikit atau memang kebanyakan belinya? Demi mengurangi beban saat turun, kami pun menggunakan air tersebut untuk membasuh muka, sikat gigi mencuci tangan, dan sebagainya. Akhirnya, tersisa dua botol air mineral ukuran 1,5 liter untuk penawar dehidrasi ketika turun.  

Pukul 8.30, kami mulai melangkah menuruni puncak Prau. Di luar dugaan, ternyata kondisi medan tidak sama seperti saat mendaki. Mungkin embun dan  kabut meninggalkan jejaknya di setiap area yang baru dilaluinya membuat jalan berkomposisi tanah ini basah dan licin. Akibatnya, tidak jarang dari pendaki (amatir) yang terpeleset saat turun. Salah satunya Eri. Tidak hanya terpeleset, ternyata pergelangan kakinya terkilir dan memperlambat lajunya. 

Seperti yang sudah kita semua ketahui, turun gunung itu lebih cepat daripada naiknya. Namun, ternyata gaya yang dihasilkan lebih besar sehingga menuntut kaki kita bekerja lebih keras untuk menahan tekanannya. Ah, saya tidak paham Fisika sebenarnya. Kami turun dengan sangat berhati-hati dan lebih pelan dibandingkan pendaki lain sembari menemani Eri yang tidak mungkin dapat melangkah dengan cepat. Beberapa kali kami berhenti untuk break dan pastinya tersusul oleh pendaki lain di belakang kami. Ini bukan masalah, yang penting kami selalu bersama. Yeah!

Ketika Break
Jika orang lain lebih suka naik daripada turun gunung, saya justru sebaliknya. Entah mengapa, turun itu rasanya menyenangkan karena dapat dituruni sambil berlari. Selain itu, ada rasa tertentu ketika melihat perjalanan dan pergerakan orang lain dari posisi yang lebih tinggi. Wah, tetiba saya teringat quotes seorang adik kelas tentang menjadi pemimpin, berada di posisi teratas sembari mengamati dan  memimpin mereka yang ada di bawahnya, dan... Loh malah ngelantur.

Baiklah, pada prosesi turun gunung ini saya dapat kembali melihat pemandangan Wonosobo secara garis besar. Dieng Plateau terpampang jelas di depan mata walaupun sangat kecil pastinya. Salah satu titik terindah yang dapat kami ketika menuruni Gunung Prau adalah semacam genangan air berwarna biru kehijauan di sebelah...maaf, saya buta arah. Ternyata titik itu adalah Telaga Warna, salah satu tujuan wisata yang paling diminati wisatawan saat berkunjung ke Dieng Plateau. Yeah, Telaga Warna akan segera kami datangi setelah terlepas dari badan gunung ini.

Telaga Warna, tampak dari jalur pendakian Gunung Prau

Masih Telaga Warna
Setelah dua jam lebih perjalanan, akhirnya kami sampai juga ke pemukiman warga. Lagi-lagi kami tidak tiba bersamaan full team delapan orang. Rombongan yang sampai duluan kali ini adalah Andre, Shinta, Isna, dan Nana. Mereka sedang menepi dan menumpang membersihkan diri di salah satu warung singgah, ketika rombongan telat (Saya, Roland dan dua orang yang terkilir, Rheta dan Eri) tiba. Iya, Rheta juga ternyata terkilir ketika menuju Pos 1. Alhamdulillah, kami break lagi, Haha...

Di salah satu warung singgah di pemukiman warga

Telaga Warna
Setelah bersih-bersih badan dan mengisi perut dengan sedikit gorengan, kami segera bersiap untuk merealisasikan rencana menuju destinasi terakhir, yaitu Telaga Warna. Eri yang sudah terkilir sejak baru turun dari puncak memilih untuk tidak ikut pergi ke sana. Dia lebih memilih untuk mengistirahatkan diri sambil mengumpulkan energi kembali karena perjalanan pulang ke Kebumen juga cukup panjang.

Jarak dari Patak Banteng menuju lokasi Telaga Warna tidak terlalu jauh, yaitu dapat ditempuh hanya dalam waktu sekitar 10 - 15 menit. Sebelum ke Telaga Warna, kami mengembalikan tenda dan sleeping bag sewaan ke pihak yang memilikinya. By the way, belum lengkap katanya kalau ke Wonosobo tapi tidak mencicipi kuliner khas sana, Mi Ongklok. Kebetulan, di dekat lokasi pengembalian tenda, ada warung mi ongklok yang menurut mas penyewaan tenda memiliki rasa yang lumayan enak. Kami pun memutuskan untuk mampir ke warung mi ongklok tersebut. Ternyata lokasinya bersampingan dengan warteg yang kami kunjungi di hari sebelumnya, haha. Bahkan makan saja move on-nya tidak jauh-jauh, ya? *oke salah fokus lagi* Yang pasti mi ongklok itu nikmat sekali. Kuah berasa bawangnya yang kental merupakan ciri khas dari mi ongklok ini. 

Pasca menyantap mi ongklok, yang ternyata porsinya tidak cukup membuat kenyang itu (atau memang dasar kami yang kelaparan), kami segera meluncur ke Telaga Warna. Tiket masuk menuju tempat wisata ini seharga Rp5.000,00 per orang untuk wisatawan lokal. Namun, bagi para wisatawan asing, harga yang dipatok untuk mereka 20 kali lipat lebih mahal dibandingkan harga tiket wisatawan lokal. Ternyata, harga itu sudah termasuk fasilitas tour guide dan trasnlator. Wah, lumayan maju juga nih tempat wisata dan untung saja kami asli pribumi. By the way, di dalam area wisata ini memang terdapat cukup banyak turis asing sih, ada yang berasal dari Jepang, Cina, Eropa, dan lain-lain. Ini menandakan bahwa tempat wisata Indonesia memang cukup diminati di mancanegara. Semoga, semakin terkenalnya pariwisata Indonesia sebanding dengan semakin terpeliharanya kelestarian dan keindahan tempatnya. 
Ini dia tokoh utama taman wisata Telaga Warna
Hal pertama yang saya tangkap ketika memasuki area tempat wisata Telaga Warna adalah bau sulfur atau belerang yang sangat menyengat. Saya sempat menyangka jika bau itu berasal dari suatu pembuangan. Namun, akhirnya saya menyadari jika asal aroma menyengat itu adalah dari telaga itu sendiri. Yep, terlepas dari aromanya, danau ini memang sangat indah dan terawat. Di beberapa titik, terdapat spot-spot yang dapat digunakan untu berfoto. Bahkan, di tepi danau, ada beberapa batang pohon yang sepertinya sengaja diletakkan melintang di sana untuk digunakan berfoto oleh para wisatawan. Fotografer keliling pun bertebaran di spot berfoto itu dan tak jauh dari sana ada rekan kerja sang fotografer yang tengah sibuk mencetak hasil jepretan sang fotografer dengan printer, uhn...ya printer biasa. 


Cukup jernih air dari telaga warna ini

Di sini, kami juga bertemu dengan anak-anak Perhimak Malang, yang lebih dikenal dengan nama Himalaya. Saya sempat bertegur sapa dengan Sukur Riswanto dan Nelly Saputri, para peserta bimbel Perhimak UI tahun 2012 dan 2013. Wah, senang sekali bertemu mereka. Setelah beberapa menit bercakap-cakap dengan mereka, kami pun meneruskan berjalan-jalan di tepian telaga sambil berfoto-foto.


Sweet Nana

Cute Tata

Andre?


Senyum plong setelah turun dari gunung

Memang sengaja miring kok ngambilnya *ngeles*

Lelaaahnyaaa...

Wednesday, 23 April 2014

Ini Sudah Dimulai

Ini sudah benar-benar dimulai, uhn? Setahun sejak itu sudah berlalu, uhn? Masa-masa, di mana siang dan malam akan terbolak-balik. Di mana, bisa jadi, siklus kehidupan dan masa-masa produktif seseorang akan tertukar. Aku hanya dapat memandangi mereka yang tengah tidur berserakan dengan hanya beralaskan karpet berwarna krem tua. Satu, dua, tiga...ah ternyata tujuh orang berhijab yang tidur di hadapanku, ketika aku menuliskan ini. 

Oh iya, ada juga seorang pemuda, adik tingkat yang masih tergolong maba, yang tengah menghadap laptop sembari sesekali berpikir dan memijit-mijit keyboard laptop yang ternyata hasil pinjaman dari adik angkatan yang lain. Dia sedang mengerjakan tugas deadline, katanya. Dua orang pemuda lain, tampak tertidur pulas di teras sempit, di depan rumah perjuangan ini. Oke, mereka memang beralaskan kasur tua, yang mulai mengeras dan menusuk-nusuk punggung, tapi tak cukup terselimuti tubuh mereka, hingga terkadang mereka terlihat bergerak-gerak menggosok-gosok anggota badannya yang dibelai oleh dinginnya angin malam. Ada pula seorang perempuan, adik tingkat tertua, yang tertidur dengan sengaja di ruangan sebelah, katanya dia akan kuliah pukul delapan pagi.

Mereka semua, yang telah kusebutkan tadi, adalah para panitia dari bimbingan belajar yang diselenggarakan paguyuban ini. Yeah, pemandangan ini terakhir kulihat setahun lalu. Manusia-manusia super, yang bertebaran di seluruh sudut rumah perjuangan, yang lelah setelah di hari sebelumnya mereka menjalankan fungsi ganda sebagai seorang mahasiswa yang menuntut ilmu sesuai konsentrasinya masing-masing, juga sebagai agen penebar ilmu dan penyedia fasilitas belajar kepada para peserta bimbingan belajar di rumah perjuangan ini. Fenomena tahunan, uhn?

Hwoaaah... Adik-adik ini, semangat membimbing adik-adik peserta ya. Jikalau di tengah perjalanan kalian merasa lelah, tetiba merasa menepi tanpa disadari, juga mulai bertanya-tanya "Apa yang sebenarnya sedang aku lakukan di sini? Untuk apa sebenarnya aku melakukan ini hingga meninggalkan apa yang seharusnya kuperjuangkan lebih keras dari ini?"...maka ingatlah, nikmatnya buah keikhlasan juga bunga-bunga senyum yang bersemi di wajah-wajah mereka, adik-adik peserta. Ah, ini akan sangat indah dan hangat, jika kau merasakannya dengan hati, bukan hasrat untuk dipuji. Ini akan membekas membahagiakan, jika kau menjalankannya dengan senang hati, bukan sesak hati. Ini akan membuatmu mengenal dan memiliki, lebih banyak keluarga untukmu berbagi, berkisah dan kau ajak untuk berjalan-berlari. 

Waaaah... Selamat berkontribusi, selamat menjalin kebahagiaan yang ternilai oleh materi, selamat memupuk amal untuk bekal akhirta nanti. Selamaaaaat berjuang dan berbagi! :D

Thursday, 17 April 2014

Saya di Paguyuban (disunting dari pos saya sendiri di tumblr)

Ini tahun ke-4 saya di sini, di bumi perkuliahan Universitas Indonesia. Ini tahun ke-4 saya menjadi salah satu warga dari keluarga besar paguyuban Perhimak UI. Dan di tahun ke-4 ini, saya masih saja ingin tahu dan sedikit-sedikit ikut campur dalam salah satu agenda terbesarnya. Ckckck. Parah, ya?

Perhimak UI, siapa yang menyangka saya dapat menjadi bagiannya? Siapa pula yang menyangka jika, pada akhirnya, jalur perjalanan yang saya pilih justru didominasi oleh interaksi yang terjadi dengan warga dan kegiatan di Perhimak UI, dibandingkan dengan teman-teman atau kegiatan di kampus? 

Perhimak UI ini, bisa dibilang merupakan keluarga kedua saya. Segera setelah saya diterima di UI, saya pun menjadi anggota paguyuban, yang ternyata supersibuk dan superbanyak agendanya, ini. Sekarang, saya sudah angkatan senior, angkatan aktif tertua di tahun ini, tapi saya curiga ada yang salah dengan saya karena kesan dewasa sama sekali tidak tampak melekat pada diri saya. Dari segi umur, saya tidak lagi muda. Saya ingat, ketika saya masih mahasiswa baru (2010), saya memandang angkatan tertua saat itu (2007) sebagai angkatan senior yang harus dihormati karena lebih matang usianya, luas pengalamannya, keren pengabdiannya, tinggi ilmunya, dewasa pembawaannya, dan lain-lain. Sayang sekali, hingga saat saya menuliskan ini, saya merasa poin-poin yang saya sebutkan di atas, yang mengindikasikan bahwa saya angkatan senior yang mestinya dapat diteladani oleh adik-adik angkatannya, sama sekali tidak tampak pada saya saat ini. 

Satu-satunya pembawaan saya yang membuat saya tampak dewasa (mungkin?) menurut saya adalah sikap tenang (lebih ke kalem sebenarnya) yang cukup dapat saya kuasai akhir-akhir ini. Namun, pembawaan tenang ini bukanlah pertanda pendewasaan, melainkan karena saya yang semakin "krik" berinteraksi dengan orang lain. Pembawaan saya yang diam (saya memang pendiam) ini justru membuat beberapa adik kelas bingung. Ekspresi muka diam saya memang mengerikan, haha. Mungkin mereka kikuk melihatnya. 

Selisih usia antara saya dan adik-adik angkatan saat ini semakin lebar. Saya semakin merasa bahwa saya tidak memiliki topik atau urusan dengan mereka. Saya bertanya sesekali, menjawab jika dipersilahkan, bicara jika perlu dan sebagainya. Seharusnya, sudah saatnya saya tidak lagi terlalu ingin tahu dan mencampuri urusan mereka jika tidak diminta. Mereka pun pasti bingung, jika ditanyai, dikepoi terus menerus. Hnnn... Andai saya dapat menahan hasrat kepo ini sebaik dia. Toh, setelah saya bertanya dan mendapatkan informasi tentang kendala atau hal yang terjadi di dalamnya, saya hanya dapat menampungnya, memujinya jika memang itu adalah hal yang patut diapresiasi atau memberi dukungan semangat jika ada hal tersendat yang terjadi dalam pelaksanaan suatu kegiatan. 

Saya memang angkatan 2010. Namun, entah mengapa sejak 2011 hingga pertengahan 2013, sejak saya memiliki adik angkatan, saya justru merasa lebih mudah berkomunikasi dengan adik-adik itu. Selain karena sempat adanya kesalahpahaman saya terhadap 2010, saya juga lebih sering berinteraksi dengan para adik tingkat. Mungkin inilah yang membuat saya masih kekanak-kanakan. Sekarang, saya mulai terusik karena mereka, para adik angkatan pun, mulai menyinggung-nyinggung masalah kedewasaan saya yang patut dipertanyakan.

Satu hal yang masih menjadi tanda tanya besar bagi saya saat ini adalah: Meskipun saya sering kepo dengan kegiatan-kegiatannya, bahkan saat tahun ke-3 (tahun lalu) masih mengikuti kepanitiaannya sebagai salah satu PJ, saya masih tidak terlalu mengenal dan dekat dengan para warganya. Di sini saya tetaplah saya yang pendiam dan tidak cocok untuk terlibat dan dilibatkan dalam inti pusaran dan pergerakannya. Saya di Perhimak adalah seorang teknis 70%, tak pandai berbicara sistematis dan tak juga cukup pantas dimintai wejangan (meski sudah senior).

Selama tinggal di Depok ini, saya merasa, porsi yang saya sediakan untuk kuliah dan paguyuban ini hampir sama. Terkadang saya membelot ke paguyuban ketika bosan dengan hal-hal terkait perkuliahan, tetapi terkadang saya menjadikan urusan kuliah untuk kabur dari rapat-rapat paguyuban. Saya adalah orang yang mudah ter-distract oleh hal-hal baru yang menurut saya lebih menyenangkan untuk dijalankan. Inilah mengapa saya sering kali berakhir dengan mencari-cari sesuatu yang bisa dilakukan di paguyuban ini ketika saya sedang bosan dengan kuliah, hingga tanpa sadar saya keasyikan main di paguyuban nyaris lupa atau parahnya malas mengerjakan kewajiban kuliah. Haha... (jangan ditiru). 

Beberapa orang pernah bilang, jika motivasi saya untuk sebegitu sukanya muncul di paguyuban bisa jadi adalah suatu pencitraan diri saya sendiri, agar terlihat baik dan bagus di mata orang-orang Perhimak UI. Ah. Bisa jadi tuh. Mungkin saya terlalu terlihat ingin eksis kali, ya? Haha, sekarang saya tidak peduli apa kata mereka. Saya pernah menjadi angkatan muda di sini dan saya tahu bagaimana rasanya ketika dalam masa-masa sulit dan membutuhkan solusi atau bantuan dari orang lain. Oleh karena itu, saya sering kepo dan tetiba muncul di berbagai kegiatan. Monggo saja dibilang pengen eksis atau sebagainya. Saya hanya mampu beralasan bahwa saya hanya tidak betul-betul bisa untuk tidak mencari tahu berita tentang Perhimak UI. Selalu saja ada faktor penarik yang membuat saya datang lagi dan datang lagi ke event-event-nya, meskipun pada akhirnya hanya menonton mereka dengan krik. Bisa jadi, saya memang udah terlanjur pengen kepo keterlaluan pada Perhimak. Cinta? Tidak juga. Saya menyadarinya setelah teman sekampus saya mengatakannya. 

Jika ada anggota Perhimak lain yang membaca ini, bisa jadi mereka heran, “Kok bisa ini orang segitunya ke Perhimak UI? Hidup sejahterakah? Nemu cintakah? Dikasih makankah? Atau memang pengen ngeksiskah?”

Saya orangnya memang cukup keras kepala, suka penasaran dan mungkin setia. Meskipun lebih dari sekali dua kali saya merasa kecewa selama berada di Perhimak UI, tetapu selalu ada kenangan akan hal-hal yang menyenangkan yang mampu menghapus kekecewaan tersebut.

Saya sendiri bukan orang yang mudah move on atau jatuh hati. Jika saya suka menyapa atau mendatangi sesuatu, ini berarti bahwa saya memang masih cukup nyaman dengan hal itu. Dalam hal ini adalah Perhimak UI. Meskipun saya akui, hanya beberapa orang di sana yang nyaman dan menyamankan. Meskipun saya tidak yakin, apakah beberapa orang itu memiliki perasaan yang sama dengan saya. Meski pada akhirnya, saya sering mendapati diri saya yang sendirian saja persis orang tak punya visi, luntang-lantung tak punya lawan mengobrol di sana.

Pada akhirnya, kepada dan karena anak-anak Perhimak lah saya berkisah, tertawa, marah, sedih, berkarya, bertamasya, belajar hidup, bertanya dan mungkin bisa jadi jatuh cinta. Memang sih, tidak selalu hanya ada Perhimak UI di kehidupan merantau saya. Namun, tetap saja, Perhimak UI adalah salah satu hal paling berpengaruh dalam hidup saya. Di sini, saya memperoleh kesempatan memimpin dan memandu beberapa orang. Di sini, saya pernah dipercaya mengerjakan tugas besar. Di sini, saya merasa saya pernah dibutuhkan. Di sini pula, saya merasa bahwa saya cukup bermanfaat untuk beberapa orang. 
Terima kasih. :)

Wednesday, 9 April 2014

Sepatu

Sepatu yang saya maksud di sini adalah sepatu yang judul lagu, yang dinyanyikan oleh Tulus Band, Sepatu. Pertama kali saya mendengar lagu tersebut adalah pada saat Gladi Resik acara puncak UI GTK X, 2 Februari 2014 lalu. Yep, tepat sekali, saya jatuh cinta pada saat pertama kali mendengar lagu ini. Ndilalahnya, saya merekam mereka pada saat menyanyikan lagu ini. 

Oke, siapa mereka? 
Mereka adalah....siapa, ya?
Hadeuh! Geje, kan? 

Jadi, mereka ini adalah Grup Musik Perhimak UI tahun 2013-2014 yang saya sendiri juga tak tahu nama dagangnya (?), maksudnya nama panggungnya. Grup musik ini terdiri dari tujuh orang, yaitu:

Sunday, 6 April 2014

Pulanglah Sejenak

“Mau semangka?”

“Aku puasa,” jawabnya sekenanya.

“Oh, afwan. Nggak pulang, Di?” tanyaku.

“Tidak,” jawabnya singkat.

“Kenapa?” tanyaku lagi dengan penasaran. Ini aneh. Semua peserta bimbingan belajar yang ada di sini pulang ke kampung halaman untuk merayakan pesta pelepasan. Namun, dia masih di sini, duduk lesehan memangku dan menekuni buku berjudul Sejarah dan Perkembangan Islam di balkon Rumah Belajar.

“Aku lebih suka meng-khatam-kan buku yang kakak kasih ini daripada membuang enam belas jam waktuku untuk perjalanan pulang,” jawabnya datar tanpa menatap wajahku sedetik pun. Dia aneh, meskipun dia sangat jenius dan selalu menduduki peringkat lima besar dalam Try Out di bimbingan belajar ini. ‘Kamu unik, dik! Tidak udik seperti yang teman-temanmu bilang,’ batinku.

“Baiklah, teruskan belajarmu, Ardi,” jawabku tak kalah singkat.

*****

“Ardi! Selamat ya! Manajemen FE UI, heh? Itu keren sekali,”; “Masya Allah!”; “Hei udik, keren sekali kamu!”; “Ardi barokalloh, selamat ya!”

Berbagai ucapan selamat dari teman-temannya, sesama peserta bimbel, melayang untuk Ardi. Syukur alhamdulillah, perjuangannya dua bulan merantau jauh lintas pulau untuk fokus belajar di bimbingan belajar ini tidaklah percuma.

Sekilas aku teringat dua bulan lalu, saat ia mengayuh sebuah sepeda kumbang yang pedal pengayuhnya telah menggundul. Dua puluh kilometer, jarak dari kampungnya ke pelabuhan, dia tempuh tanpa duka di pagi buta untuk menemuiku. Dia membawa tas selempang kecil dengan muatan yang bentuknya lebih terbaca sebagai buku dibandingkan bekal dan pakaian. Di depan mataku, dia menemui seorang nahkoda kapal dan menukarkan sepeda itu dengan empat lembar uang kertas yang tidak dapat kuterka berapa nominalnya. Dia meloloskan selembar uang biru dari kumpulan uang kertas itu dan menyerahkannya kepada petugas kapal feri. Masya Allah, sebesar itu tekadnya kah untuk mampu menembus UI, Rabb? Jika iya, maka teguhkan dan ridhoilah dia. Aamiin.

“Kak, izinkan aku ikut denganmu ke tanah perjuangan, Depok! Aku hanya punya segini untuk membayar bimbelmu,” Ia mengakhiri kata-katanya seraya menyodorkan tiga lembar uang seratus ribuan. Hatiku tertampar. Pedih. Segera kudorong tangannya dan kuucapkan, “Simpanlah untuk bekalmu nanti di sana. Ibukota tidaklah seramah kampung Minang.”

Diturunkanlah kedua tangannya lalu ia berkata, “Baiklah, kak. Namun, aku bukan seorang free rider, kak. Terimalah selembar dan sisanya akan kulunasi setelah aku berhasil menembus gerbatama UI.”

Hatiku bergetar. Kuanggukkan kepalaku dan kuucapkan, “Aku jamin aku akan menerimanya dengan tangan terbuka menengadah ke langit-Nya.” Begitulah ia merelakan satu-satunya miliknya yang berharga untuk menyambung mimpi. Kapal feri pun memecah ombak dan buih.

Kini, Allah memberinya hadiah yang ia minta dan memang ia butuhkan untuk menggapai cita-citanya.
“Selamat, Ardi. Jagalah amanah dan pemberian-Nya dengan tetap struggle seperti tempo hari saat sudah di bangku perkuliahan nanti!” ucapku padanya dengan penuh rasa bahagia.

*****

“Sudah setahun ya, Ardi? Alhamdulillah, bukan maba lagi, ya?” sapaku saat bertemu dirinya di Rumah
Belajar tahun ini. Sudah setahun sejak dia tiba di sini sebagai peserta bimbel, tanpa pernah pulang sekali pun ke Minang hingga kini dia menjadi mahasiswa UI.

“Oh, halo, kak Jun. Kau benar. Sudah selama itu, ya?” balasnya, retoris.

“Begitulah. Tidak ingin pulang menjenguk ibu dan kedua adikmu?” tanyaku, menajamkah arah pembicaraan.

“Belum.”

“Kenapa? Tidak merindukan mereka? Tidak ingin memberi tahu ibumu hasil belajarmu setahun di sini yang berbuah cum laude?” tambahku yang diikuti dengan ekspresi wajah menyuram darinya.

“Iya. Aku berhasil dan juga gagal,” jawabnya di luar dugaan dan tanpa ada benang merah dengan percakapan sebelumnya. Mengerti kebingunganku, ia pun menambahkan, “Aku abang yang gagal bagi kedua adikku, kak.”

“Ceritakanlah!” perintahku tanpa merubah nada.

“Riana, adik pertamaku, dikeluarkan dari sekolah karena… terpergok mencuri oleh gurunya. Sedangkan Dzikra adik keduaku, dia tidak berhasil naik ke kelas 3 SD karena masih tak bisa membaca hingga akhir kelas 2. Aku benar-benar bersalah kepada mereka. Aku abang yang benar-benar gagal dan tak pandai mengajari saudara,” ungkapnya datar. Namun, dapat kulihat matanya berkaca-kaca.

“Oh iya, kak. Haha, aku pun belum bisa membayar janji dan hutangku tahun lalu padamu. Tunggulah sebulan lagi. Aku akan segera menerima upahku sebagai pengajar privat dan pekerja kontruksi selama liburan ini. Afwan jiddan, kak,” tambahnya lagi dengan diakhiri tundukkan kepala.

Entah bagaimana aku tak mampu menyela kalimatnya. Ardi ini telah melampaui ketegaran dan perjuangan seorang anak sekaligus ayah sejak kematian ayahnya di umurnya yang belum genap sembilan tahun. Mana mungkin aku membenarkan kegagalan dirinya? Seorang Ardi yang datar dan diam, tak kusangka dia memendam sekian besar beban pikiran.

“Hei, Ardi. Kau percaya takdir dan rencana Allah bukan? Setiap orang pastilah punya keistimewaan masing-masing. Bukankah kau bercerita bahwa Riana sangat pandai merangkai kata dan bait? Bukankah kau berkata bahwa Dzikra sangat lihai melukis awan dan bukit? Bukanlah salahmu jika Riana menderita kleptomania dan Dzikra disleksia. Allah telah mengatur kompensasi dan komposisi hidup mereka, kau dan aku. Pulanglah. Mereka juga butuh raga dan jiwamu untuk mengarahkan mereka. Bukan hanya kiriman surat, wesel dan uang-uang yang telah kau peroleh dari hasil membanting tulang. Bagilah cerita perjalanan dan perjuanganmu di sini, biarkan berpikir dan memecahkan sendiri apa yang disebut dengan perjuangan dalam segala keterbatasan. Kau belum gagal, kawan!” aku tak pernah berbicara sepanjang ini karena aku belum pernah benar-benar berjuang. Kutarik secarik kertas bergambar dan berlabel penerbangan dari kantong kemejaku. Kusodorkan ke arahnya. Sedetik kemudian Ardi pun melinangkan air mata pertama dalam hidupnya.

(terinspirasi dari kisah seorang kawan dengan banyak pengubahan)

_________________________________________________________________________________
Depok, 15 Juli 2012

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...