Showing posts with label Ulasan. Show all posts
Showing posts with label Ulasan. Show all posts

Wednesday, 9 April 2014

Sepatu

Sepatu yang saya maksud di sini adalah sepatu yang judul lagu, yang dinyanyikan oleh Tulus Band, Sepatu. Pertama kali saya mendengar lagu tersebut adalah pada saat Gladi Resik acara puncak UI GTK X, 2 Februari 2014 lalu. Yep, tepat sekali, saya jatuh cinta pada saat pertama kali mendengar lagu ini. Ndilalahnya, saya merekam mereka pada saat menyanyikan lagu ini. 

Oke, siapa mereka? 
Mereka adalah....siapa, ya?
Hadeuh! Geje, kan? 

Jadi, mereka ini adalah Grup Musik Perhimak UI tahun 2013-2014 yang saya sendiri juga tak tahu nama dagangnya (?), maksudnya nama panggungnya. Grup musik ini terdiri dari tujuh orang, yaitu:

Friday, 4 April 2014

Vio Lin


Gambar di samping adalah saya. Percaya atau tidak, ini selfie loh. Saya mengambil foto ini dengan kamera digital yang diatur timer-nya selama 10 detik, terus saya lari-lari ke depan lemari yang saya pilih jadi background, sambil meraih violin yang emang udah disiapkan ditaruh di depan lemari tersebut. Jadi, mungkin dapat kita lihat, citra bow (busur biola) yang saya pegang dengan tangan kanan tampak kabur, yang menandakan adanya kekurangsiapan dalam berfoto. Tepatkah disebut sebagai selfie? Wkwk. Ah iya, meski sedikit kabur begitu, tapi foto ini adalah salah satu foto yang paling sering saya gunakan sebagai profile picture, display picture atau avatar, hehe.

By the way, mulai hari ini saya akan menggunakan kata ganti pertama saya atau aku dalam menulis post-post di blog saya. Sepertinya, ini membuat tulisan-tulisan di sini menjadi tampak lebih rapi jika dibandingkan dengan ketika saya menggunakan kata ganti pertama: gue. Selamat tinggal gue! Selamat datang saya dan aku! :D

Dari gambar di atas, mungkin sudah dapat diterka, saya mau menulis tentang ada dalam post ini. Yep! Tepat sekali, tentang selfie! What!?? Bukan! Bukan! Maksud saya tentang bagaimana hubungan saya dengan violin (?). Violinnya Dzakia lebih tepatnya. Meski saya menulis tentang violin, bukan berarti saya dapat memainkannya. Violin memang merupakan salah satu dari tiga alat musik (dua yang lain adalah gitar dan piano) yang ingin saya pelajari dan kuasai dalam hidup saya. Oleh, karena itu saya menulis ini.

Violin, atau yang sering disebut juga dengan biola di Indonesia, merupakan alat musik gesek yang terdiri dari empat senar berbeda nada, yaitu G-D-A-E. Nada terendahnya adalah nada G sedangkan yang tertinggi adalah nada E. Di antara saudara-saudaranya, violin ini menghasilkan nada yang paling tinggi, tidak seperti viola (biola bass) dan cello yang nadanya cenderung rendah. Kunci dasar yang digunakan untuk violin adalah kunci G sehingga pada kertas musik, di bar pertama suatu partitur, hampir selalu menggunakan atau ditulis pada kunci G. (Wikipedia)

Begitu pula dengan violinnya Dzakia, yang saya gunakan sebagai teman berpose pada foto di atas, dia memiliki empat senar yang berbeda nada dan ketebalan. Namun, ada yang unik dari violinnya. Senar ke-1, yaitu senar E (nada tertinggi) begitu rentan putus. Pernah suatu kali, saya mengganti senarnya di Gramedia Margonda, sekalian menyetem senar-senar lainnya. Namun, belum ada satu minggu senar itu dipasang, sudah putus dia tanpa sebab yang jelas. Tidak ada satu orang pun yang menyaksikan putusnya senar tertipis itu. 

Saya adalah saksi yang pertama kali menemukannya sudah dalam kondisi terputus ketika saya membuka case-nya. Senar tersebut putus tepat di bagian tengah. Hal ini membuat saya terheran-heran dan tidak enak kepada Dzakia karena saya adalah orang yang paling sering meminjamnya dan memainkannya sesuka hati, tanpa teknik yang benar, tanpa menghasilkan suara yang indah didengarkan. 

Merk violin milik Dzakia ini adalah Paladin. Jika tidak salah ingat, dia membelinya ketika di tingkat dua kuliah. Saya tidak tahu menahu tentang spesifikasi-spesifikasi merk-merk biola Indonesia dan kelebihannya, sebetulnya. Sebagai seorang pemula, yang bahkan tak memiliki violin, apa pun merk violinnya bukan jadi masalah untuk berlatih menggesek dan bermain. 

Sebenarnya, bukan baru-baru ini saya tahu atau pegang violin (orang lain). Ketika masih maba dulu, pernah beberapa kali saya melihat violin milik Kyu, yang diberi nama Vi. Kyu membelinya ketika baru lulus SMA atau sebelum berangkat ke Depok (jika tidak salah). Dia membawanya ke Depok dan sering kali menggunakannya dalam persembahan di Perhimak UI. Terkadang dia mampir ke kamar saya sambil membawa Vi-nya atau saya yang ke kamarnya untuk sekadar melihat Vi itu atau jika sedang sangat ingin meminjamnya, saya akan meminjamnya. 

Kyu adalah orang pertama yang mengizinkan saya meminjam violin. Dari Kyu pula, saya belajar bagaimana cara membuatnya berbunyi, mengetahui nama bagian-bagian tubuhnya, bagaimana membiasakan meletakan jari-jari tangan kiri di tiap senarnya yang tak memiliki fret ini, dan lain-lain. Saya sangat berterima kasih padanya untuk kesabarannya memperkenalkan Vi-nya dan mengajari saya bermain. 

Bagian-bagian Violin
Sumber: Wikipedia
Oke, mari move on to topik yang lebih bermanfaat tentang violin. Gambar di samping adalah ilustrasi violin beserta bagian-bagiannya. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa susunan violin cukup rumit.

Seperti yang sudah saya bilang di atas, violin tidak memiliki fret. Leher biola dan papan jarinya mulus, tanpa memiliki batas-batas kunci (fret) seperti yang ada pada gitar. Oleh karena itu, kita harus mampu mengira letak nada pada senar-senar tersebut. Semakin sering memainkannya, semakin terbiasa jemari kiri kita untuk menemukan nada yang tepat secara otomatis. Selain membiasakan jari, kita juga harus terbiasa melatih pendengaran telinga (hearing) kita sehingga dapat mengenali nada-nada yang tepat atau sumbang. Saya juga belum bisa melakukannya, haha. 

Fret pada Violin (Penjarian)
Sumber: Wikipedia


Senar
Gambar di samping adalah gambar penampang senar violin, yang terdiri dari senar bernada G-D-A-E. Untuk menghasilkan bunyi bernada G, kita dapat menggesek senar ke-4 (senar paling kiri, senar G) tanpa menekan senarnya sama sekali. Begitu pula untuk menghasilkan nada D-A-E, kita dapat menggesek senar ke-2, 3 dan 4.

Selanjutnya, untuk menghasilkan nada A-B-C kita dapat menekan senar ke-4 (senar G) hingga menghasilkan nada A. Nada A adalah nada setelah G (ya iyalah) sehingga jaraknya paling dekat dengan batas bawah kepala biola, seperti gambar di samping. 

Ingat jarak antarnada, kan? 
c-d   :    1
d-e   :    1
e-f    : 1/2
f-g    :    1
g-A   :    1
A-B  :    1
B-C  : 1/2

Dalam penjarian ini, posisi meletakkan jari juga berdasarkan jarak antarnada tersebut. Jarak antara nada B-C dan E-F (mi ke fa dan si jalam ke do dalam kunci G=do) tidak sama dengan jarak A-B, C-D, D-E, dll, karena jarak B-C dan E-F hanya setengah. Oleh karena itu, jarak peletakkan jarinya pun setengah jarak. 


Bow (Busur Violin)
Bow inilah yang sering kita lihat untuk menggesek senar violin. Dia terbuat dari kayu dan sekumpulan rambut ekor kuda putih jantan, yang warnanya tampak putih keemasan. Bulu-bulu ini diikatkan pada bow di setiap ujungnya. Pada salah satu ujung, yaitu ujung yang dipegang, bow ini memiliki sekrup yang dapat digunakan untuk mengencangkan atau mengendurkan rambut tersebut. Bow dikencangkan ketika akan digunakan untuk bermain dan dikendurkan ketika akan disimpan. 

Bermain violin memang memang tidak mudah. Kita harus memiliki kemampuan hearing, mengenali nada, estimasi penjarian dan menggesek yang baik. Selain itu, suara yang dihasilkan pun belum tentu bagus dan lembut seperti yang sering kita dengarkan dari para pemusik violin selama ini. Perlu banyak latihan dan penguasaan teknik menggesek, vibrasi, dll. Namun, hal ini dapat dilatih sedari dini. Dininya kapan? Ya, mungkin dulu dan sekarang pun oke saja, jika memang memiliki minat sungguhan untuk mempelajarinya. Semangat belajar violin, Ani, untuk nanti diajarkan pada anak-anakmu. Hahaha....

Thursday, 3 April 2014

Ais

Ini adik pertama saya, namanya Achmad Fariz Faizin. Dari kecil hingga sekarang kami memanggil dia Ais (dari nama tengah Fariz). Dia lahir pada hari Jumat Kliwon, 14 Februari 1997 silam atau selisih 4 tahun 11 bulan persis dengan saya. 


Dia begitu berbeda dengan saya dan adik kedua saya. Jika saat kecil dulu saya adalah bocah yang paling tidak suka menangis di depan umum, maka Ais ini kebalikannya. Dia sangat suka menangis tak kenal waktu dan tempat dan melempar benda-benda di dekatnya ke segala arah. Dia mengalami masa-masa menjadi anak "ragil" yang cukup lama hingga adik kedua saya, Zahra Nurussyifa (Yaya), lahir pada hari Kamis Kliwon, 4 November 2004. Tujuh tahun dia menjadi anak ragil, tujuh tahun itu pula dia merasa dirinya paling kecil dan paling wajar untuk berbuat jail atau manja di rumah. Ais kecil adalah seorang anak mama dan sangat ciwek. Jika dia terjatuh, dia akan menangis sekeras mungkin dan tidak akan mau bangun dan berhenti menangis, kecuali mama datang dan membangunkannya. Kapan pun, di mana pun, mama harus siap sedia untuk bocah ini. 

Pernah suatu kali, Ais balita pergi main hingga ke RT sebelah dengan anak tetangga kami, Emon. Dia bermain lari-larian dan terjatuh di tepi jalan, dekat selokan. Sontak, dia menangis seketika, membuat teman-teman mainnya kebingungan dan ibu-ibu di RT sebelah berdatangan untuk membantu membangunkannya. Namun, Ais justru tidak mau bangun dan semakin memperkeras tangisnya. Ibu-ibu dan teman-temannya semakin bingung, "Apakah terjadi hal yang serius pada bocah ini?" Akhirnya, mereka menyuruh Emon memanggil mama. 

Mama datang dengan cepat dan membangunkan Ais yang guling-guling di jalan. Mama langsung mengecek kondisi badan Ais satu per satu: dahi, siku, lutut, telapak tangan dan hasilnya tidak ada luka parah yang berarti. Bocah ini hanya lecet di telapak tangan karena dia menyangga tubuhnya dengan tangan ketika jatuh. Mama pun menggendong Ais dengan paksa, sembari sedikit mencubiti pantatnya. Tak lupa mama meminta maaf kepada ibu-ibu tetangga karena membuat mereka resah. Kebiasaan cengeng dan manja di masa kecilnya inilah yang membuat saya sedikit malas mengajaknya bermain bersama dengan teman-teman saya. Kalau menangis, hanya mama yang mampu mendiamkannya. Masa iya, saya bawa mama juga? Hal ini membuat saya tidak terlalu dekat dengannya, dulu. 

Layaknya anak laki-laki sebanyanya yang lain, Ais sangat suka dolan atau main. Dia juga tidak suka tidur siang. Padahal, romo sangat kesal pada anak-anaknya yang tidak mau tidur siang. Beliau sering mencari-cari kami yang tidak pulang selepas adzan bedug (dhuhur). Jika beliau menemukan kami di tempat yang terlalu jauh dari rumah, beliau akan langsung menciduk kami, menaruh kami ke dalam gendongannya, boncengan sepeda atau motornya, sembari ngomel-ngomel. Sampai di rumah, romo melemparkan kami ke atas kasur. Kami pun dikeloninya sampai tertidur, meskipun faktanya akan sangat sulit tertidur jika ada beliau di samping kami. Ais ini yang paling sering kena omel. Namun, lama-lama omelan untuknya itu berkurang karena dia semakin lihai untuk kabur di jam tidur siang. Romo pun lama-lama tidak sempat mencari anak-anaknya satu per satu di jam tidur siang akibat kesibukannya bekerja. 

Ais juga bukan seorang perfeksionis di bidang pelajaran. Dia tidak pernah ambil pusing dengan nilai-nilainya yang mepet-mepet dengan nilai rata-rata. Dia tidak bingung jika dia tidak masuk SMP favorit. Dia tetap santai bermain PS, komputer atau game online-nya meski besoknya adalah ujian nasional. Seringkali mama kesal dengan tingkah lakunya itu. Ketika Ais masih SMP, hampir setiap hari mama mendatangi warung-warung game atau internet di desa kami untuk mencarinya. Dengan sepeda mininya, sembari memboncengkan Yaya, beliau masuki warung-warung berteknologi modern itu demi menjemput putra laki-lakinya yang tak pulang-pulang seharian. Yaya pun sampai hafal dengan letak tempat-tempat itu. Namun, lama-lama beliau lelah juga. Setelah masuk SMK, mama sudah tidak lagi serajin dulu dalam menjemput Ais. Kata beliau, biarkan saja Ais, sudah seharusnya Ais paham dengan kewajiban dan tanggung jawabnya sendiri. 

Meski Ais bandel, tapi sepertinya dia memiliki bakat di bidang multimedia. Yeah, dia sudah SMK. Dia mengambil jurusan multimedia, jurusan yang bisa jadi berhubungan dengan hobinya: nge-game, main komputer, dsb. Beberapa liburan ini, saya lihat dia sudah mulai melakukan tugas-tugas coding, walau masih menggunakan software sederhana, semacam dreamweaver. Dia juga sering membantu teman-temannya mengerjakan tugas IT lainnya, instal ulang komputer atau laptop, dsb. Tak jarang dia memperoleh tip dari apa yang dia lakukan. Namun, entah ke mana perginya rupiah-rupiah itu, hanya dia dan Tuhan yang mengetahuinya. Dia sama sekali tidak bisa menabung. Alhasil, sedikit-sedikit dia minta jatah ke mama, hanya ke mama. 

Ais sudah besar sekarang. Dia sedang duduk di kelas 2 SMK. Dia sudah lebih tinggi dari saya, mungkin sekitar 165-168 cm tingginya. Dia juga sudah lebih mampu mengontrol emosinya, tidak manja dan ciwek lagi. Namun, dia masih keras kepala seperti dulu dan saat dia marah kata-kata tidak sopan kadang kali muncul dari mulutnya. Ini yang paling tidak saya suka darinya. Baru-baru ini dia melakukannya pada saya dan mama. Namun, saya yakin...nanti, dia pasti berubah menjadi anak laki-laki yang lebih baik dan berbakti pada mama dan romo. Hnn... Jika dilihat kami bertiga memang sedikit terlambat dalam mengalami perkembangan psikologis. Jadi, bisa jadi tingkah lakunya yang mirip bocah ini akan segera berubah menjadi lebih rasional, stabil, dewasa dan taktis. Suatu saat nanti, Ais pasti akan mengerti bahwa ada yang lebih patut diperjuangkan dan diutamakan dari apa yang dilakukannya saat ini. 

Toh, sebenarnya dia anak lurus-lurus saja. Dia tidak pernah mencoba merokok. Tidak berpacaran. Tidak pernah minta dibelikan motor bagus. Tidak minta yang macam-macam, kecuali jatah uang jajan yang teradang membengkak dibandingkan yang dianggarkan mama...

Hnnn... Pray for Ais, semoga cepat dewasaaaa.... Wah, tidak terasa dia sudah 17 tahun. Dewasa muda yang masih bertingkah seperti remaja muda. Hmmm...

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...