Ini tentang melukiskan dunia dalam kata; tentang aku dan jejalanan yang akan atau telah aku lewati; tentang Kawan yang lebih berwarna dibandingkan pelangi; tentang ramainya penjelajah ilmu yang selalu haus memecahkan teka-teki; tentang cinta yang tak kan pernah henti meski listrik mati; dan tentang aku yang masih mencari jati diri. Aku menulis... untuk mempertahankan memoriku hidup lama, jauh lebih lama dari aku menempuhi hidup ini.
Tuesday, 8 April 2014
Nasi(b)
Sunday, 6 April 2014
Surat Cinta dari Orang Alay untuk Orang yang Tidak Dikenal (superkocak)
Monday, 31 March 2014
Saya Suka, tapi Tidak Suka
Saturday, 23 November 2013
Disactive
Gue hobi banget dengan yang namanya disactive akun jejaring sosial. Hal ini tidak gue lakukan baru-baru ini saja, tapi memang dari dulu SMA sudah terbiasa melakukan ini. Ini gue lakukan setiap kali gue malas melihat perasaan orang lain yang mereka luapkan di medsos itu atau memang sedang menghindar dari orang-orang untuk beberapa lama. Alasan gue disactive akhir-akhir ini lebih karena gue bosan. Gue hampir selalu berkomunikasi lewat medsos alias dunia maya dibandingkan berjumpa langsung. Gue pengen menguranginya. Di sisi lain fungsi medsos untuk gue, akhir-akhir ini, tidak lebih hanya sebuah bejana penampung pemikiran, prejudis, opini, hasil observasi dan sebagainya. Gue tetap saja jarang berinteraksi dengan orang betulan. Oleh karena itu, gue pun mulai bosan bermain medsos.
Rabu, Minggu lalu, gue berbincang dengan dua teman gue: Widya dan Laeli. Dari situ gue mulai menyadari bahwa gue harus sangat mengurangi kebiasaan gue, terlalu asyik dalsm dunia gue sendiri, dalam hal ini adalah media sosial. Itulah kunci utama untuk dapat berubah, menjadi lebih hidup. Berkomunikasi menggunakan mulut bukan jari, berdiskusi dengan manusia tanpa perantara dan memecahkannya dengan cara rasional bukan hanya sekedar berandai-andai dengan banyak ide tapi sulit dijalankan. Gue memang sangat merindukan obrolan semacam itu, ketika dengan mereka berdua. Terima kasih, gue pindah ke sini, gue dikelilingi manusia yang dapat berbunyi bukan lagi tembok-tembok dan satu jendela berteralis besi yang kaku dan dingin.
Uhn... Sebelum gue merasa bosan hingga berakhir pada disactive ini, gue sebenarnya cukup banyak mengobrol selama setidaknya satu bulan. Gue merasa bahwa gue cukup punya teman yang merespon gue dengan baik di dunia maya. Namun, yeah ternyata itu hanyalah obrolan musiman di mana setelah hilang "aroma"-nya maka hilang juga kenikmatannya. Dengan nyata, gue mulai tak nyambung dan tak lagi terpanggil dalam obrolan komunitas orang-orang itu. Satu bulan itu menjadi waktu yang cukup menyenangkan, meski setelahnya gue kembali ke dalam aktivitas seperti ini, terjun ke dalam lembah yang suram dan membosankan.
Tunggu! Itu dulu sebelum gue pindah ke sini, ke Yellow Orchid, sebelum gue memiliki teman sekamar, Dzakia. Alhamdulillah... Gue tidak lagi merasa kesepian, meski jujur gue belum bisa mengusir kemalasan dan memulai apa yang seharusnya diselesaikan atau setidaknya selesai setengah.
My bloggie, gue bakal segera mengisi lo dengan berita bahagia alih-alih perasaan kecewa atau sebagainya. Support me!!!
Tuesday, 4 September 2012
Riwayat Cinta Gue (1)
Gue bukanlah tipe orang yang susah jatuh cinta, tapi bukan juga orang yang hobi jatuh cinta. Yeah, mungkin benar gue ge-er-an, tapi bukan playgirl. Mau ngemainin siapa coba? Orang deket-deket sama anak cowok aja nggak betah. Yuppie, singkat cerita gue agak man phobia gitu. Percaya atau nggak, kawan...
SATU
Cinta monyet gue yang pertama adalah saat kelas 2 SD. Saat itu gue suka seorang bocah sekelas, hanya karena dia berani minjem PR Matematika gue ke rumah gue. Saat itu gue mikir, "Ini PR kan gampang banget! Ngapain dia pake minjem punya gue segala? Jangan-jangan...." Sejak saat itu, gue jadi senyam-senyum sendiri kalo ketemu dia dan dia pun demikian. Aneh ya? Namun, tragisnya kisah ini berakhir singkat. Empat bulan kemudian, dia pindah ke suatu tempat yang jauh dan entah di mana bersama keluarganya. Gue shocked, sedih dan bener-bener merasa kehilangan dia. Secara, sejak dia meminjam PR Matematika gue saat itu, kita berdua jadi akrab dan rajin belajar bareng di kelas. Gue dan dia pun menduduki peringkat 1 dan 2 di kelas akibat kebiasaan itu. Gue nggak terlalu yakin ini cinta pertama. Namun, gue akan bakal selalu mengingat cerita zaman bocah gue ini sampai kapanpun. Wkwkwkwk. Gue pengen tahu, apakah dia udah nikah sekarang mengingat temen-temen SD gue yang lain udah banyak yang menikah, hoho. Hey, si rambut landak! Ingat gue nggak, lo? :D
DUA
Setelah itu, gue nggak pernah coba-coba sama yang namanya suka-sukaan lagi. Gue sadar gue bocah dan gue lebih suka baca buku IPA saat itu daripada sibuk menyukai orang. Kejadian kelas 2 SD itu membuat gue sedikit brhati-hati untuk deket dan ngobrol sama anak cowok temen SD gue. Takut keterusan terus berakhir menyedihkan atau bermusuhan kayak di sinetron-sinetron. Namun, yang namanya bocah, tetaplah bocah. Saat gue kelas 4 SD, gue pun deket sama seorang temen cowok, sebut aja ATS. Kita duduk berdekatan, tapi berbeda lajur. Gue di baris ke 4 lajur 2, dia baris ke 3 lajur 3. Alhasil, dia pun jadi sering noleh ke belakang buat ngobrol bareng gue.
Gue nggak pernah curiga sedikit pun saat dia tiba-tiba jadi sering nyocokin jawaban bareng saat ulangan. Bukan contekan sih! Cuma nyocokin aja. Dia nggak pernah minta kasih tahu jawaban yang bener kalau misalkan jawaban dia gue nyatakan salah. Namun, jika hal sebaliknya terjadi, gue bakal maksa dia buat ngasih tahu jawabannya dan ketika dia udah ngasih tahu jawabannya, gue pasti bakal bilang, "Iya, tadi gue juga mau jawab itu, tapi ragu. Aku ikutan yak!" Gue selalu jawab demikian, meskipun sebenarnya terkadang gue nggak kepikiran untuk menjawab dengan jawaban itu, ahahah. Licik emang, ya? Nggak, ah! Bocah! Hehehe.
Lama-lama, semakin banyak obrolan yang kita buat. Entah itu tentang masa kecilnya, teman sekampungnya atau bapaknya yang pemarah. Yah! Gue memang nggak terlalu suka berkisah tentang diri gue (seperti di blog ini) waktu gue kecil. Hingga pada suatu Jumat, saat Pramuka, ada seorang temen cewek yang nyeletuk, "Eh, si ATS kan suka lo, An!" Deg, gue pun jadi kepikiran. Gue jadi kepo dan sering merhatiin dia sejak saat itu.
Setahun kemudian, tepatnya pas kelas 5 SD, perkataan temen cewek gue itu terbukti! OMG! Dengan telinga gue sendiri, gue mendengar dia mengaku bahwa dia suka sama gue sejak kelas 1 SD kepada temen-temen gue yang lain. Gila! Pengen guling-guling gue rasanya saat itu. Bukan karena gembira atau gila seketika. Namun, karena gue nggak habis pikir kok bisa sih anak SD ngomong begituan kayak di sinetron-sinetron di TV!!! (padahal gue lebih parah, suka bocah saat kelas 2 SD, haha).
Jadi, ceritanya begini. Gue dan temen-temen sekelompok gue sedang megerjakan tugas Keterampilan di rumah KD. Namun, tiba-tiba salah satu bahan yang harus digunakan untuk membuat sebuah karya itu, habis. Gue pun ke warung karena anak lain nggak ada yang mau dan malah saling tunjuk buat beli. Gue pergi lewat jalan depan.
Sepuluh menit kemudian, gue balik lewat jalan samping rumah KD di mana di sana juga ada pintu. Nah, pas gue mau masuk, gue merasa ada yang nggak beres nih atmosfernya. Gue ngelihat ATS dikepung oleh seluruh anggota kelompok kami. Jidatnya keringatan kebangetan. Dia duduk di bangku semen memandangi wajah orang-orang yang mengelilinya satu per satu. Dari pemandangan itu, gue menyimpulkan bahwa si ATS ini bakal mau disidang di tempat. Gue udah mau hampir membantu ATS buat keluar dari dalam kepungan ketika tiba-tiba seorang temen berinisial D menginterogasinya, "Lo suka Ani, ya?"
DEG! Gue langsung ngumpet ke balik pintu. Kaget setengah mati. Gue pun galau antara menghentikan aksi tersebut atau membiarkan si ATS menjawab. Secara, udah sejak lama gue pengen tahu kebenaran dari gosip-gosip yang beredar tentang hal itu. Gue pun memutuskan untuk tetap mengintai dari balik pintu. Hening cukup lama. Gue kira si ATS nggak bakal berani memberikan jawaban, maka gue pun sedikit lega, tapi juga masih penasaran. Akhirnya, setelah semenit mungkin, si ATS pun menjawab lantang, "YA!"
Temen-temen gue yang mengepungnya melonjak kegirangan. Beberapa bersuit-suit, menyenggol bahu ATS dan meneriakkan ciye-ciye. Gue udah hampir nggak tahan dalam persembunyian. Namun, gue juga terlalu malu untuk menghadapi mereka. Maka dengan ditopang oleh kaki gemetar, gue pun memutuskan untuk tetap bersembunyi.
Si D bertanya lagi, "Ciyeee... Sejak kapan???"
"Sejak kelas 1!" jawabnya dengan muka semerah tomat matang.
Gila mamen, gue udah nggak tahan. Gue teguhkan hati dan gue langkahkan kaki melewati lubang pintu. Dengan tanpa mengubah ekspresi muka, gue pun berkata, "Ini bahannya! Yuk kita lanjutin, temen-temen!" Grek! Kemunculan gue tiba-tiba ternyata membuat mereka semua terkaget dahsyat. Dalam sekejap kerumunan bubar dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa gue mendengarkan percakapan nggak penting mereka. Kami melanjutkan pekerjaan kami yang sempat tertunda kurang lebih lima belas menit lamanya. Sedangkan apa yang terjadi pada ATS? Dia menyingkir seketika dan mengambil jarak sejauh mungkin dari gue. Mukanya masih merah. Tampak sekali dia salah tingkah dan sesekali memanjat tiang pagar untuk menghilangkan rasa nervous-nya itu.
Peristiwa itu membuat gue dan dia nggak sesering dulu saat mengobrol. Dia malu-malu, sedangkan gue tak mampu menghadapi wajahnya karena gue bakal langsung teringat kejadian di rumah KD itu. Namun, satu yang gue tahu, gue makin bingung saat berhadapan dengan cowok sejak saat itu.
ATS sekarang sudah bekerja di Kalimantan. Dia udah memiliki kekasih dan mungkin sebentar lagi menikah. Congratulation, bocah korban sinetron! Haha.
TIGA
Kelas 6 SD, hal serupa kasus ATS tadi pun terjadi. Masihlah ada cowok temen SD gue yang dengan lucunya bilang ke temen sebangkunya bahwa dia suka gue. Dia temen sekelompok belajar gue, Mungkin karena gue sering minta boncengin sepeda oleh dia saat kumpul kelompok, dia mengira bahwa gue suka si dia. Panggil saja dia MT. MT yang gue tahu adalah seorang pendiam. Dieeeeem banget orangnya dan penurut. Kadang terpancar sedikir aura ke-cool-an darinya. Namun, tetep aja gue udah bertekad bahwa gue nggak bakal jatuh cinta lagi, maka gue pun nggak pernah ambil pusing tentang aura cool sesaat itu.
Nah, MT ini, di balik pendiamnya itu ternyata dia itu pekerja keras dan seorang perencana yang baik. Namun, kelebihan itulah yang justru membuat gue sebel dan kecewa sama dia saat kelas 6 dulu itu. Gue bingung nih mau nyeritain tentang dia. Singkat cerita, dia itu ngecuri 1 foto gue dari temen dan menghilangkan film foto gue yang paling gue suka pas SD. Gue nggak ngerti kenapa dia melakukan itu, hingga suatu hari ada seorang temen yang bilang kalau MT itu suka sama gue dan udah ngaku sama temen sebangkunya. Ya kali! Apa-apaan sih? Semenjak tragedi cinta monyet dan ATS, gue jadi sebel saat di-cengin sama temen dan diciyein, eh...ini malah malah sampai ngambil foto gue. Gue takut disantet serius waktu itu. Amit-amit jabang bayiiiii... Gue nggak ngerespon apa pun mengenai kejadian hilangnya foto itu. Gue tahu dia nyesel dan merasa bersalah, tapi gue juga sebel saat itu. Dia childish dan korban sinetron yang lebih parah dibandingkan ATS.
Belum selesai di situ, tiba-tiba suatu hari ada dua orang anak cewek seumuran gue dari beda sekolah yang bahkan gue belum pernah melihatnya, datang ke rumah gue. Mereka bilang bahwa ada seorang anak cowok berinisial TM yang suka sama gue selama ini. TM ini, gue udah langsung dapat menebak siapa orangnya meskipun mereka terus saja mengarang cerita mengenai biodata palsu si TM. Ya ampun, sinetron-sinetron! Cuma sinetron ini yang bisa gue cela-cela daripada gue ngemarahin si TM yang tidak lain tidak bukan adalah TM ini karena merencanakan tindakan bodoh yang melibatkan orang lain untuk berbohong itu. Gue nggak bergeming. Dua cewek itu, pulang dengan tangan hampa dan mulut kecapekan ngarang.
Masih belum selesai! Si MT ini kayaknya udah bilang yang nggak-nggak gitu ke nyokapnya. Pernah pada suatu hari sang nyokap itu berkunjung ke rumah gue. Yep, rumah kami berdua memang nggak terlalu jauh, nggak ada 1km lah jaraknya. Nah! Beliau itu ke rumah gue ngapain coba? Nyariin nyokap gue masa! Beliau ngobrol sama nyokap gue seolah-olah lagi ngajak ngomongin masa depan anak-anak mereka (gue dan ...). Nyokap gue sweatdropped di tempat. Nyokap si MT ini udah kayak lagi ngobrol sama calon besannya masa dan akhirnya nanya ke gue yang nggak sengaja lewat di depan mereka, "Jadi, mbak Ayoh... Gimana hubunganmu sama MT?" Sontak gue pura-pura nggak denger dan ngeloyor pergi dengan nggak sopannya.
Aiiiiiiih... Kayaknya ini nggak si MT aja yang korban sinetron, tapi satu keluarga tanpa satu orang pun tertinggal kayaknya. Gue penasaran sinetron macam apa sih yang mereka tonton??? Zzzz....
Dan gue pun akhirnya lulus SD dengan tenang dan hasil memuaskan tanpa sempat berpikir tentang MT sedikit pun. I'm sorry good bye, boy...
(bersambung)
Sunday, 19 February 2012
Nai (2)
Namun, pertemuannya dengan Robert untuk pertama kali di hari pertama kuliahnya, sepertinya telah menumbuhkan rasa sesal telah memilih jurusan itu.
"Robert! Bisakah kau menghilang dari pikiranku barang sehari saja? Kacamata cupumu itu benar-benar mengganggu otakku! Tunggu! Seperinya, aku pernah melihat mata coklat itu. Mata dibalik kacamata cupu itu. Di mana??? Di mana??? Adududuh!" racau Nai di suatu malam. Perlahan dia memejamkan mata, mencoba mengingat suatu hal.
Senja di gymnasium. Bunyi bells, berdenting nyaring terbawa angin. Suara berat tiupan baritone yang melambai-lambaikan warna suara bass. Bendera aneka warna berputar elok susul menyusul dengan tongkat berhias yang melambung sesekali ke udara bebas. Lalu tiba-tiba terlintas sosok seorang bocah tengah asyik menabuh snare drum dengan ringannya. Seolah beban alat musik itu tak pernah mencapai 5 kg. Lalu Nai dan bocah laki-laki itu pun tertawa bersama.
"Karnaval sekolah! Itu adalah saat karnaval sekolah di Osaka delapan tahun yang lalu!" teriak Nai tiba-tiba. Tubuhnya melonjak hebat hingga menyenggol seorang pelayan yang sedang membawa senampan piring kotor. Untung sang pelayan dapat dengan sigap menangkapi piring-piring yang sudah melambung dan nyaris bertemu lantai itu bak seorang ninja lulusan Konoha Gakuen. Aksi sang pelayan mendapatkan tepuk tangan meriah dari pengunjung restoran yang lain sedangkan Nai hanya terbengong memandangi adegan tersebut hingga lupa meminta maaf kepada pelayan tersebut.
"Sumima... I mean, I'm so sorry for troubling you," ucap Nai tiba-tiba saat si pelayan sudah hampir mencapai dapur. Si pelayan hanya tersenyum ramah dan kembali melanjutkan perjalanannya ke dapur. 'Oh Nai! Adakah hal lain yang bisa kau lakukan selain membuat kacau dan mempermalukan diri sendiri?' batin Nai sambil sekali melirik orang-orang di sekitarnya yang sesekali memandang ke arahnya.
'Oh! Abaikan mereka, Nai! Jadi, sepertinya Robert itu adalah bocah laki-laki itu? Kawan lamaku di Jepang? Pantas saja dia bisa membalas perkataanku dengan bahasa Jepang. Masa iya? Wajahnya tak terlihat seperti bocah itu. Robert terlihat seperti orang Inggris lain pada umumnya, orang barat. Sedangkan bocah itu, jelas sekali penampakannya seperti orang Jepang, rambut hitam dan iris coklat dan... namanya bukan Robert, tapi Eiji. Tunggu! Eiji dulu pindah ke mana ya?' kali ini dia sukses membuat pengunjung restoran lain semakin menatapnya aneh karena Nai membatin sambil mempraktekan gerakan tangan dan ekspresi wajah yang berlebihan. Sadar dengan pandangan orang-orang kepadanya, Nai pun berhenti membatin. Diminumnya jus apel yang tak lagi dingin di hadapannya dengan buru-buru hingga membuatnya tersedak dengan sukses, 'Uhuk!' Dipukul-pukulnya dadanya dengan pelan untuk melegakan sedak itu sambil melangkah pergi dari restoran.
"Hari apa ini? Hari sialku kah?"
Friday, 9 September 2011
Belajar dari Kenalan (1)
Entahlah! Nggak seperti biasanya, gue terlalu biasa dan datar saat pertama kali bertemu dengan dia. Biasanya, gue akan selalu tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang orang yang baru gue temui. Namun, entah karena dia terlampau biasa atau dia memang terlalu luar biasa, gue nggak ngerti, gue sangat-sangat tidak tertarik utuk mengenal dia. Hal ini diakibatkan oleh banyaknya isu dan gosip yang mampir di telinga gue tentang dia.
Gue mendengar banyak sekali hal kurang positif mengenai dia. Dia yang gampang "lompat" dari batu loncatan yang satu hingga yang lainnya, tergantung pada secantik apa katak yang berada di atas batu tersebut. Dia yang katanya suka beropini tanpa aksi. Dia yang katanya terlalu mudah meringis dan mudah menekuk semangatnya saat dianugerahi tugas dan cobaan. Yeah! Kurang lebih seperti itulah tentang dia yang gue dengar dari teman-teman seangkatan gue yang lain.
Gue mulai penasaran terhadap dia sejak saat itu. Namun, terlalu malas untuk memulai perkenalan. Toh dia sendiri merupakan tipikal orang yang pemilih dalam mengajak berkenalan. Gue sadar diri, gue nggak mempunyai daya tarik fisik yang menarik perhatian orang-orang. Gue cuek dan nggak peduli.
Hingga suatu hari, keluhan tentang dia dari orang-orang pun berhasil membakar rasa penasaran gue. Suatu ketika, gue berhasil menyampaikan unek-unek orang mengenai dia, tepat di depan hidungnya, dengan blak-blakan, dengan berapi-api mungkin. Saat itu kami berempat, berdiskusi di meja persegi kantin. Mungkin seharusnya ada lima orang, tapi orang kelima itu sedang mencetak sebuah flyer acara besar kami. Teman cewek gue mengingatkan gue untuk tidak terlalu membeberkan keluhan orang tentang "dia" karena dikhawatirkan akan timbul perpecahan dan permasalahan baru, terlebih buat gue. Namun, gue tetap berceloteh. Gue berpikir kalau kejujuran adalah jalan keluar dari semua gosip, salah paham dan fitnah. Gue sangat nggak suka dengan yang namanya menggosip, mengobrol di belakang dan men-judge orang dengan seenak udel.
Gue berharap, dengan gue menyampaikan unek-unek orang tersebut, dia bakal mengerti dan mengintrospeksi dirinya sendiri. Gue nggak pernah bermaksud menjadi seorang pahlawan yang seolah-olah berhasil mengubah seorang anak nakal menjadi anak baik yang rajin menabung. Nggak! Gue cuma pengen tahu bagaimana sebenarnya dia menurut dia, dari sudut pandang dia. Bagaimana dia menyikapi apa yang dikatakan orang. Yeah! Mungkin gue yang terlalu memikirkan pendapat orang tentang gue ini bisa belajar dari metode menghadapi masalahnya. Namun, sepertinya dia OK OK saja, dia nggak terlalu berbuat banyak. Alhasil, dia tetap demikian hingga saat ini. Awalnya, dia sempat kaget sesaat setelah perkataanku, tapi ya tetap biasa saja. Dia lugu dan tulus, tapi memang ada satu sisi yang membuat kejengkelan gue mendarat di atas sisi itu. Dialah dia, memang itulah dia. Gue sama sekali nggak berhak memaksanya berubah menjadi orang dengan watak yang gue inginkan. Egois sekali! Gue tutup kuping tentang dia dan....
Malam itu, gue berhasil membuat dia mengingat nama gue: Anifatun. Dia nggak pernah memanggil gue dengan nama singkat gue: Ani. Ini progress yang cukup besar karena membuat seorang anak laki-laki mengingat nama gue adalah termasuk sebuah peristiwa besar bagi gue.
Suatu dini hari, dia mengajak gue chatting. Gue kaget, karena di mata gue dia itu mengidap penyakit "10% lelaki pemain". Gue udah curiga, kalau dia mempunyai maksud tertentu, astaghfirullohal'adziim... Meskipun gue udah bersusah payah untuk bepikir positif, gerak-gerik dan giringan arah percakapannya memang menjuruskan ke sebuah maksud. Dia memulai percakapan dengan banyaknya tugas UTS yang belum dia kerjakan karena terlalu sibuk memikirkan program dan penyusunan proposal kegiatan tertentu. Gue bilang bahwa kita nggak jauh beda, sebab gue juga belum seiap menghadapi UTS. Blablabla.... Tiba-tiba dia bertanya tentang sebuah nama anak cewek, seorang teman sengakatan kami juga. Cantik dan supel orangnya.
Gue bingung, meskipun hal ini udah gue tebak bakal terjadi sejak awal percakapan tadi. Gue pikir, dia berpikiran kalau gue tipe orang yang blak-blakan dan mudah dimintai keterangan atau info atau bocoran rahasia (mungkin?). Gue memang ingin selalu berkata mengenai kejujuran, kecuali mengenai diri gue sendiri, tapi gue bukanlah tipe orang yang suka membeberkan rahasia, informasi atau sejenisnya yang belum didahului penyelidikan, pernyataan atau kebenaran.
Dia bertanya kepada gue, "Apa yang gue tahu tentang C? Siapa cowok yang dia taksir? Dan kira-kira apa yang C pikirkan tentang dia?"
Gue dengan lantang menjawab, "Oh! Jadi tujuan lo ngajak gue chat? Gue nggak ngerti tentang C, gue bukan orang terdekatnya, dan yang gue tahu C adalah tipe orang yang fokus pada hal yang tidak macam-macam." Gue tidak menuliskan kalimat yang sama dalam chatting tersebut, tapi inti dari jawaban gue adalah seperti itu.
Lalu dia menjawab, "Ah! Sia-sia gue ngobrol panjang lebar!"
Pelajaran yang gue dapat dari mengenal orang ini adalah:
1. Jangan mudah menerima opini dan gosip yang beredar di khalayak umum, meskipun kabar tersebut seolah-olah sangat benar. Tidak ada sebuah kebenaran absolut selain atas kehendak-Nya dan Dialah yang Mahabenar. Gue harus observasi dan kritis menerima setiap informasi.
2. Jadilah seorang yang jujur, tetapi bukan blak-blakan. Kembali ke poin 1, berpikir dan bertindak kritis adalah kunci dari keberhasilan dan kebenaran. Tenang dan tidak gegabah dalam memcahkan sebuah permasalahan.
3. Jangan terlalu mudah menilai orang dari luarnya.
4. Jangan mudah terpancing perkataan orang. Harus fokus dan konsentrasi dalam melaksanakan setiap hal agar tidak terjebak dalam lubang di tengah jalan. Jika gue jatuh ke lubang itu, bisa saja nggak cuma gue yang rugi tapi orang lain, bahkan orang banyak.
5. Lebih berpikir humanis.
6. Jangan mudah emosi dan men-judge orang.
7. Belajarlah menerima orang apa adanya, bagaimana karakteristiknya. Ambil mana yang baik yang mampu diambil dan ingatkan dia manakala dia melakukan sesuatu yang sekiranya memang kurang pantas dihadirkan di depan umum.
8. Percaya pada diri gue, bahwa gue memang bisa dan punya kebisaan.
9. Sabar dan tabah meskipun gue nggak terlalu dikenal. Setelah tabah saatnya berpikir dan beraksi untuk meyakinkan orang lain bahwa gue ada dan gue punya kebisaan. Ini gue dengan bagaiamanya gue dan dengan apa yang gue punya.
10. Tetap semangat, Ani!!!!
Friday, 24 December 2010
About Pisces (Cause I'm a Pisces Girl)
--> Bagi seorang Pisces, emosi adalah hal yang paling berharga bagi mereka, dan mereka akan melakukan hal apa pun yang mereka ambil untuk menghindari rasa sakit emosional. (yeah, I think it's the real me)
2. However do not be fooled by a #Pisces weaknesses for they are excessively intuitive and observant of what you do.
--> Namun, jangan terkecoh dengan kelemahan seorang Pisces karena mereka terlalu intuitif dan jeli terhadap apa yang kamu kerjakan. (Yeah, saya pengamat ulung, saya suka memperhatikan orang dalam diam saya...meski saya sedang terlihat bingung dan bodoh pun, saya sebenarnya sedang sedikit memperhatikan sesuatu)
3. #Pisces is worthy of getting to know; a tad bit insecure inside.They are the kind of boss who will never yell at you.
--> Pisces layak mengenal; sedikit seorang anak laki-laki dalam aman (aduh bahasanya ancur). Mereka adalah jenis atasan yang tidak pernah akan berteriak pada Anda. (Yeah, begitulah saya. Saya pandai menyimpan emosi saya, tapi kalau sudah meledak, wedhus gembel kalah sama kemarahan saya. Hnn, setiap memimpin memang saya cenderung sok tenang, dan ngga menyuruh-nyuruh. Sadar diri soalnya, seorang pemimpin juga bukan pemimpin tanpa anak buah mereka, jadi saya cenderung akan menghilangkan suasana pemimpin-dan yang dipimpin)
4.

#Pisces you get stuck in what you wish could happen and lose track of reality, and when you go back, everything is a mess.
--> Sebagai seorang Pisces, Anda sering terjebak dalam pikiran Anda sendiri, terhadap apa yang Anda inginkan dan seolah-olah bisa terjadi lalu kehilangan jejak dari realitas, dan ketika anda kembali, semuanya berantakan. (Yeah, sayangnya hal ini benar. Aku sangat suka mengkhayal dan mungkin ini semua terlihat dari seluruh tulisanku. Sekitar 60% tulisanku bersifat fiktif atau ada sedikit sapuan fiktif. Aku pernah berkhayal aku mendapat surat dari Hogwarts School of Witchcraft and Wizardy pada kelas 8 SMP, yang menyatakan bahwa aku diterima di sekolah tersebut. Haha, gila gila Ani)
Wednesday, 22 December 2010
My New Friend

Jadi, kebiasaan kami adalah merencanakan duduk sampingan saat mau kuis Fisika, tapi faktanya pasti ngga sampingan. Aku selalu dipanggil lebih dulu (bukan dalam arti konotasi lho) oleh temanku untuk duduk di sampingnya. Alhasil, baru 3 aku dan Dila duduk bersama pas kuis, wkwkwk...
Aku dan dia bertemu pertama kali saat briefing welcome maba 1 di aula gedung G FKMUI. Kami pernah berkenalan sebelumnya lewat facebook. Kami sama-sama suka baca novel fiksi, dan dia tidak henti-hentinya membahsas betapa kerennya novel the Kite Runner. Yaaaaaah....selamat ya, kamu udah bikin aku melompong ngga nyambung karena aku ngga pernah baca tuh novel, ehehe.

Kami satu FGD, FGD 14, dengan slogan kami adalah "minimalis", ya karena begitulah kami, minimalis dan ngga mau yang perfeksionis perfeksionis, hehe. Entah kenapa aku suka bercerita kepadanya, soal apa pun, bahkan soal kakak mengagumkan yang katanya mirip Bambang Pamungkas itu, (haha, gokil dustanya!). Jadi, intinya dia itu pendengar yang baik gitu. Begitu pun aku, yang ingin mencoba menjadi pendengar yang baik baginya, haik haik!
Dia orang pertama yang aku kasih gambar Conan-ku. Gambar Conan pertama lagi, aku kasihin cuma-cuma, ehehe... Soalnya lagi bokek, ngga bisa beliin apa-apa. Namun, karena tindakan ini, aku jadi banyak utang nggambarin Conan untuk beberapa orang. Ngga tahu kenapa, aku senang berteman dengan orang bertangan imut yang unik ini, hahaha... (Dil, dijaga ya, gambarnya! wkwk). Aku janji deh, kalo kita masih dekat, tahun depan, tepat di ulang tahunnya, aku akan kasih sebuah gambar lagi ke dia... Woi Dilla! Jangan ke-GR-an...
with a cup of smile for Dilla...
Auriga Amarilis
:)
Tuesday, 21 December 2010
Namaku Ani...
Aku Ani.
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, angkatan 2010. Aku orang
Jawa asli, pandai berbahasa Jawa dengan logat Jawa ngapak.
Aku pendiam dan misterius. Aku suka menulis dibandingkan berbicara. Namun, banyak orang yang bilang bahwa aku cerewet. Hal ini membuatku terkesan seperti orang berkepribadian ganda. Kadang ceria, kadang pemurung, dan kadang gila, ahaha...
Sejujurnya aku gila. Orang yang baru lihat pasti bilang aku pendiam, sehingga ragu mendekat. Padahal, sekalinya ngomong aku sulit untuk berhenti. Aku suka musik, menulis, dan menggambar (ditambahin menari dan menyanyi aja dah, biar kayak hobinya anak TK, hehe). Jadi, aku adalah penyuka kedamaian dan pembenci kedustaan serta kesombongan (Btw, apa hubungannya kalimat penjelas ini dengan kalimat sebelumnya ya? Kalimat utamanya apa juga nggak jelas deng! Ahaha)
Aku adalah pengamat jitu! Hati-hati aja kalau ada di dekatku. Bisa aku terawang, baru tahu rasa, ahaha. Sixth sense-ku lumayan sih, keturunan dari sang Mama (Mama aku lho, bukan Mama Loreng, plak!). Aku suka berpikir dalam diam, sambil memandang hamparan langit atau taburan bintang manis di permukaan langit yang lezat dinikmati mata. Wiew!!
Banyak orang bilang bahwa aku lebay, bahwa aku adalah tipe orang sanguinis dan melankolis, dengan rasa toleransi, solidaritas, dan keramahan yang sangat tinggi (ini seriusan kata orang lho). Namun, aku nggak bisa dijadikan sebagai pemimpin atau diberikan tanggung jawab terlalu besar karena aku cenderung labil, masih belum bisa dipercaya untuk memimpin (ini kata orang dan juga kata Ani sendiri).
Oleh sebab itu, aku kaget setengah hidup saat aku ditunjuk menjadi seorang Section Leader di MBUI. Wakakakak, kocak sebenernya, seorang aku bisa jadi SL. Namun, bagaimana lagi, amanah ya amanah harus dipegang dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Meski sebenarnya, aku masih sangat banyak kekurangan sebagai seorang SL. Hahahihi...
Aku anak PIT MBUI... Bangga bisa menjadi anak MBUI, hahai...
I love MBUI, dengan segala kekocakkan, keseriusan dan apa pun yang ada di dalamnya, aku suka.. Aku bertemu banyak orang dari berbagai daerah berbagai jurusan berbagai jenis macam watak dan sifat yang mereka punya. Aku suka menjadi Cadets MBUI...
Aku SL Pitt cadets MBUI 2010 (ya ampun, baru sekali ini gue mengaku sebagai SL Pitt nih, bismillah) menyatakan bahwa aku telah jatuh kepada MBUI....
MBUI... BANGKIT!
Saturday, 18 December 2010
Ini Soal Men-Tag
Jadi, aku adalah orang yang cukup rajin membuat catatan di facebook. Memang sedikit tidak jelas catatan-catatan aku itu, tapi aku selalu rajin-rajin saja menulis catatan karena aku suka berfantasi lalu melimpahkannya ke dalam tulisan yang aku sebut tulisan gaje. Ini salah satunya..
Kembali ke tag-men-tag. Jadi, menurut aku, entah mengapa, men-tag seseorang dalam suatu catatan seperti sebuah pemaksaan terhadap seseorang untuk membaca tulisan yang telah kita buat. Misalnya, aku telah menulis sebuah catatan berjudul "I Love Bikun". Dua hari berjalan, hanya empat orang yang membaca. Namun, setelah saya men-tag beberpa orang, mendadak catatan aku menjadi rame oleh komentar. Aku jadi ragu, apakah keramaian ini adalh sebuah paksaan akibat penge-tag-an ini?
Oleh karena itu, aku adalah tipe orang yang suka membiarkan saja apa yang sudah aku ciptakan. Tidak baik memang yang namanya malas mempublikasikan. Namun, ada satu perasaan yang berkata publikasi itu adalah wujud lain dari pamer. Iya memang pamer sih. Namun, kalau publikasi itu kan untuk sesuatu yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan karena memnag mungkin sudah terstruktur dan terkonsep dengan baik. Sedangkan catatan aku, menurutku belum layak publikasi.
Oh iya, maaf ngelantur mulu dari topik bahasan soal men-tag. Intinya, aku pribadi tidak terlalu suka men-tag, kecuali tag foto, atau tag informasi. Mengenai men-tag hasil karya, hasil pikiran, hasil seni dan sebagainya, ini mempunyai kesan yang berbeda. Aku lebih berharap orang lain mendatangi sendiri sebuah karya baru, lalu mengapresiasikan pemikiran mereka mengenai karya tersebut. Dengan begitu, sebuah karya akan terkomentari tanpa pemaksaan. Bayangkan jika kita men-tag seseorang, sedangkan orang itu bukan ahlinya, tidak menyukai hal-hal yang berhubungan dengan hal yang kita tag-an, atau parahnya lagi tidak tahu apa yang kita tag itu, pastinya komentar yang ada hanya berupa komentar sampah yang tidak ada intisarinya lagi bukan?
Hwah, super tidak jelas sekali catatan ini, ckckck.
Kesimpulannya, berpandai-pandailah dalam men-tag. Lebih selektif dalam mempublikasikan sesuatu yang bersifat hasil karya dan pintar-pintarlah men-tag nama orang dalam karya tersebut, apakah dia benar-benar orang yang tepat yang berhubungan dengan karya tersebut. Jika tidak, maka akan terjadi sebuah pemaksaan, hahaha
Aduh, Ani gajeeeeeeee.........
Sunday, 21 November 2010
Missing Him
19.20
Nanti-nanti. . .
Q menanti sese0rang yang tak mau dinanti,yang tak tau dia sedang dinanti,karena mungkin dia tak mungkin ternanti...
Nanti-nanti,kalo dia tau aq menantikannya,aq kan beri penghargaan atas kepekaannya yang terlalu lama mengerti penantianku. . .
Nanti-nanti,kalo terbukti dia pantas ternantikan,dia akan mengerti kalo dia punya orang lain yang terlalu lama menanti kesadarannya akan penantianku...
Now
wah ternyata saya juga pernah melewati masa alay. Tulisan ini dulu ditulis dengan handphone, jadi ya maklum kalo disingkat dan cenderung alay. HAHA
Thursday, 18 November 2010
Kamis Datar Datar
Oh iya, tadi aku bertemu seorang penulis pemula. Wiew!!! Dia teman satu angktan, satu fakultas. Namanya, Manda. Amanda Cherkayani tepatnya. Dia mulai menulis sejak kelas 6 SD. Subhanallah... Aku satu cerpen pun langsung jadi belum ada. Subhanallah... Saat ini, dia sedang mencari penerbit yang mau menerbitkan karyanya. Oh iya, dia sudah merampungkan 3 novel!
Dia menceritakan salah satu novel fiksinya kepadaku. Ceitanya khayal tentang sebuah negeri hasil imajinasinya, dengan tiga klan yang ada di dalamnya. Klan tersebut adalah klan angion, klan petir dan klan cahaya. Sekilas mirip avatar atau naruto menurutku. Namun, jika dilanjutkan ceritanya ternyata berbeda. Dia juga sempat melihat gambarku yang tertempel di clipboard-ku. Lalu tiba-tiba berkata, "Ani, bakat nggambarnya dikembangin terus ya biar bisa gambar tanpa nyontek. Abis itu bikin desain deh!"
"Desain apa?" tanyaku.
"Desain buku saya," jawabnya penuh semangat.
Waw!!! Jadi malu, hahaha....
UTS Kimia... Aku kira tidak akan sesukses biologi. Aku merasa kesusahan di sana-sini karena kurang belajar. Parah! Padahal soalnya gampaaaaaaaang banget. Mungkin dari SMA aku terbiasa mengerjakan soal hitungan sehingga sekarang kesusahan dalam mengerjakan soal konsep. Aduh! Ya ampun! Aku cemas nilaiku parah.
Di depan Mushola akhwat seusai sholat dhuhur, aku bertemu dengan Wita dan Febi. Mereka berdua tampak kucel dan lapar. Lapar? Iya.. sebab mata Wita mendadak seperti mau loncat saat melihat apa yang ada di tangnku, satu box donat. Oh iya, aku bertugas men-danus lagi hari ini. Wita bertanya dengan gaya khasnya, tiba-tiba meledak, "An! Berapa an tuh donat?"
"Dua ribu! Dapat kupon lho..." setengah merayu.
Di luar dugaan --karena kukira dia mau membeli donat terakhirku--, dia malah mencibir, "Yaah! Mahal! Ngga jadi deh" Jiah dasar ini anak, batinku.
Tiba-tiba Wita berbicara, curcol gitu. Dia bercerita tentang nilai MPKT-nya, tentang dosennya yang super nyante tapi memberi nilainya super mini. Kasihaaan... Aku berusaha mengalihkan pembicaraan dengan memulai topik baru yaitu nonton Harry Potter. Alhasil kami berdua pun asyik sendiri berbincang seru tentang Harry Potter. Seru, keras dan sibuk sendiri karena Febi sepertinya tidak nyambung dengan topik kami yang seru ini. Haha... Sebenarnya aku juga reesah dengan nilai MPKT-ku sendiri. Nilai mata kuliah yang paling ajaib karena tercipta di bumi Universitas Indonesia ini. Huaaah... Hope the best aja deh. Allah pasti punya rencana yang sangaaat indah soal ini buat aku.
Hmm... Aku bingung mau nonton Harry Potter atau tidak. Mahal sih, 35 ribu. Entah film macam apa yang akan kita --anak-anak perkusi MBUI-- tonton besok, harganya sama dengan harga satu kaset, fuh fuh fuh!
SEMANGAT SELALU ANI!!! MAMA SELALU MENYAYANGI dan MENDO'AKANMU.... ^^
Agustus Ke-80
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
Lagu di atas merupakan lagu Amaryllis karya komposer Henri Ghys. Saya memainkannya dengan aplikasi piano pada ponsel saya. Oh iya, mohon...
-
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
“Mau semangka?” “Aku puasa,” jawabnya sekenanya. “Oh, afwan. Nggak pulang, Di?” tanyaku. “Tidak,” jawabnya singkat. “Kenapa...