Showing posts with label Me. Show all posts
Showing posts with label Me. Show all posts

Thursday, 20 November 2014

Sajak

Sajakku berisi sekawanan kisah tragis yang manis. Mereka tumbuh bergantian, sudi berkenalan, tapi tak bersedia bertalian. Bermuara di tepi pantai berpasir kelam, tetapi tak cukup kasihan untuk melulu dihujani asinnya tangisan. Alih-alih tangis, aku ingin menganugerahi mereka, senyuman yang sedikit nakal. Suatu ketika, aku hampir mati bosan, mereka datang tanpa membawa kebahagiaan. Inginku menjual bosan, barangkali laku dan menghasilkan banyak uang. Namun, sekejap aku berpikir, mereka hanya milikku, dinikmati hanya boleh olehku. Maka aku menyimpan mereka ke dalam guci sewarna emerald yang kedap waktu, mencegah mereka termakan detik yang berlari terburu-buru. Tentu saja, aku punya rencana untuk mereka. Bukan rencana besar tentang aksi penyelamatan semesta. Bukan pula rencana dahsyat untuk menghancurkannya. Aku berlepas dari hiruk pikuk urusan manusia, setidaknya dari mereka yang tak kukenal, atau kupilih untuk tidak kukenal. Hanya saja, rencana ini akan membuatku hidup lebih lama. Tidak abadi, karena hanya Tuhanlah yang memiliki hak milik atas keabadian itu sendiri. Lantas, apa yang kuinginkan jika aku beserta mereka berhasil hidup lebih lama? Hanya secuil sejarah, dengan aku, sebagai tokoh utama, dan monolog-monolog yang selurus horizon senja di dalamnya.

Tuesday, 18 November 2014

RCG (4)

Setelah dua atau tiga hari lamanya miskin sinyal internet, akhirnya saya dapat kembali ke dunia maya. Hahahai, senangnya kembali meranodm. 

Uhn, pos ini dibuat dengan maksud menyelesaikan apa yang sudah saya mulai, melalui tiga pos bertopik sama, sebelumnya. Tidak harus diselesaikan, sebetulnya. Pos ini tidak berisi manfaat, mungkin malah justru sebaliknya. Anda yang tidak menyukai hal-hal tidak lazim, iidak dianjurkan untuk membacanya.

Tujuh
Pertama kali saya memiliki handphone yang dapat digunakan untuk mengakses internet dan men-download aplikasi adalah pada saat kelas X SMA. Romo membelikan saya Nokia 3110C, tepat ketika saya akan menghadapi ujian akhir semester 2, kelas X. Saya tidak akan membahas spesifikasi dari handphone ini karena saya memang bukan akan bercerita tentang handphone tersebut. Namun, berkat benda elektronik berbasis java inilah saya berkenalan dengan seseorang. Seseorang, yang merupakan salah satu orang yang (tanpa dia sadari) telah berpengaruh dan terselip dalam beberapa episode hidup saya. Ya, dia adalah seorang lelaki, satu sekolah dengan saya. Sebetulnya, lebih dari sekadar pernah, saya menyebutnya dalam pos-pos saya di blog ini, baik secara langsung, maupun secara implisit. Mungkin, jika ada pengunjung tetap yang membaca blog ini, dia akan tahu siapa orang tersebut, tanpa harus membaca pos ini.

Uhn, mulai dari mana, ya? 

Saya sudah hampir kehabisan kata dan rasa untuk menggambarkannya. Sepertinya, kemarin-kemarin saya terlalu sering membicarakan setiap hal tentangnya yang saya tahu, sampai-sampai saya tidak punya bahan lagi untuk dituliskan di sini sekarang. Jike begitu, mungkin saya akan memulai dengan menuliskan data dirinya, yang saya ingat dan tahu.

Dia seorang laki-laki. Apa lagi, ya?

Dia. Saya sering menggunakan kata ganti dia ketika menulis pos tentangnya di blog ini. Dia tinggal di kabupaten yang sama dengan saya, tetapi berbeda kecamatan. Rumah saya di pusat daerah sedangkan rumahnya di daerah Barat. Namun, ketika SMA, dia mengekos di sebuah gang yang cukup dekat dengan sekolah. Kami berasal dari sekolah yang sama, tetapi tidak pernah satu kelas. Kami sama-sama menekuni jurusan IPA ketika duduk di kelas XI dan XII. Kami berasal dari SMP yang berbeda. Saya bersekolah di SMP yang dekat dengan rumah saya, begitu pula dia. Saat ini, dia tengah menjalani studi akhirnya di sebuah universitas di Yogyakarta. Jurusannya? Hmm. Jika saya menyebutkannya, semua akan tahu siapa dia, dan selesai lah teka-teki tidak penting ini.

Kami lahir di tanggal dan bulan berbeda, bisa jadi tahunnya juga. Dia merupakan anak bungsu, tetapi memiliki seorang adik. Tidak seperti saya, dia menyukai kucing atau setidaknya pernah beberapa kali mengepos foto-foto kucing yang dimilikinya di salah satu akun media sosialnya. Sepertinya, itu saja yang saya tahu tentang dia. Saya tidak tahu apa saja hal yang disukainya, juga bagaimana prestasi atau keahliannya.

Dia adalah orang pertama yang saya kepo-i melalui jejaring sosial. Alasan saya melakukannya, sebetulnya saya tidak tahu. Mungkin penasaran karena sejak pertama berkenalan, saya tidak pernah bertemu atau bersapa dengannya. Proses perkenalan dengannya memang tidak terjadi di dunia nyata, melainkan dunia maya. Oleh karena itu, saya berterima kasih kepada Nokia 3110C yang telah hadir sebagai media perkenalan saya dengan dia. 

Saya pertama kali mengenalnya ketika duduk di kelas XI SMA melalui salah satu aplikasi online chatting via handphone yang cukup populer di daerah saya, pada zaman itu, sekitar 2009. Awalnya, saya tidak tertarik untuk melakukan percakapan di dunia maya dengannya karena dia adalah seorang laki-laki. Sebab berbagai alasan, saya memang tidak terbiasa --jika perlu menghindari-- berbincang tanpa tujuan jelas dengan kaum laki-laki. Begitu pula kepadanya. Apalagi, dia orang asing yang sama sekali belum pernah saya dengar namanya selama hampir dua tahun saya bersekolah di SMA tersebut. 

Sebagai orang yang pertama meng-inviteakhirnya dia pun menyapa saya dan memperkenalkan diri. Dia memiliki username yang sangat alay, dengan menggunakan karakter-karakter nonalfabet untuk membentuk nama panggilan aslinya, seperti tanda kurung buka, tanda seru, dan sebagainya. Saya pun membalas seperlunya, sebatas memperkenalkan biodata singkat. Ketika saya menyebutkan asal kelas saya, dengan cepat dia pun mengatakan "ledekan" yang oleh orang lain pun cukup sering dialamatkan kepada saya. Bukan ledekan buruk sebetulnya, hanya saja ini membuat saya merasa bosan dan tidak enak ketika menerimanya. 

"Cieee. Ada anak rajin dan pinter dari kelas IPA 1, loh," katanya, kurang lebih seperti itu.

Saya sebal seketika kepadanya. 'Ajeg. Kenapa harus ter-mindset seperti itu? Ini menyebalkan. Pasti dia sama seperti anak-anak itu: anak-anak laki-laki di SMP atau anak-anak kelas lain yang berpikiran bahwa kelas saya agak berbeda dengan kelas mereka. Padahal, saya sebelas dua belas dengan mereka. Saya sebelas, mereka dua belas' batin saya, kurang lebih, meskipun pada waktu itu belum ada istilah sebelas dua belas untuk mewakili perbandingan. 

Setelah sedikit sekali bercakap tentang "ini" dan "itu", kami pun mengakhiri obrolan. Dia offline terlebih dahulu, sedangkan saya masih asyik bermain dengan aplikasi yang terbilang masih baru bagi saya itu.

Di lain waktu, tak lama setelah malam berkenalan itu, kami mengobrol lagi. Tidak cukup jelas topik yang kami perbincangkan. Namun, saya mulai mengurangi judging negatif saya tentang dia. Dia tidak seburuk yang saya duga. Dia tidak lagi membawa nama-nama kelas. Lalu, selayaknya user lain, kami pun mulai bertukar informasi atau membahas topik yang sedang hangat di televisi. 

Suatu hari, dia salah menuliskan nama sapaan saya. Saya sebal karena typo tersebut cukup fatal, menurut saya saat itu. Ketika saya komplain ke dia, dia pun tidak merasa bersalah. Akhirnya, saya menyengajakan diri, memanggilnya dengan sebuah nama sapaan aneh, nama seekor binatang mungil sebetulnya. Dia terpancing, membalas menyebut saya dengan nama sapaan yang tulis dengan salah. Rasa sebal saya berangsur lenyap dan digantikan perasaan gemas dan geli, ketika kami mulai saling ejek dengan nama sapaan aneh. Mulai hari itu, di dunia maya, kami lebih sering saling sapa dengan nama jadi-jadian tersebut dibandingkan dengan nama diri kami masing-masing.

Obrolan kami tidak banyak dan tidak sering. Isinya tidak bermanfaat dan tidak untuk diingat-ingat. Kami tidak dekat, tidak saling kenal, tidak juga pernah punya urusan. Kami hanya teman mengobrol ketika kebetulan sama-sama sedang online. 

Namun, entah mengapa, lama-lama saya merasa senang mengobrol dengannya, meski hanya melalui kata, meski saya belum pernah berjumpa muka dengannya, meski seringkali berakhir dengan saling ejek atau hening tanpa kata, lalu pergi tanpa mengucapkan salam sama sekali. 

Saya bahagia ketika kami mengobrolkan film atau buku. Saya terkesan ketika dia mengucapkan opini spontannya tentang sesuatu. Saya tertawa ketika dia bercerita bahwa dia baru ditegur oleh seorang guru. Saya tersanjung ketika dia berkata bahwa saya dapat melakukan sesuatu dengan baik. Saya bersemangat ketika dia, mungkin tanpa dia sadari, telah memberi semangat atau inspirasi untuk saya yang gemar memurukkan diri. Saya berdebar ketika melihat namanya bertengger di notifikasi. Saya penasaran ketika berhari-hari dia tidak memunculkan diri di media itu atau ini. Saya lega ketika tahu dia dapat mempertahankan prestasi. Saya salah tingkah ketika melihat dia melewati kantin, perpustakaan, atau lapangan, yang tanpa dia sadari, ternyata teramati. Saya merasa dihujani bebungaan, ketika dia mengirimi saya ucapan semangat menghadapi ujian. Saya merasa bangga, ketika dia menceritakan sedikit sekali tentang rencananya di masa depan. Saya... Saya lama-lama mengerti apa dan bagaimana rasanya harap-harap cemas karena lama-kelamaan saya memaksakan diri untuk menanti. Saya, pada akhirnya, mengerti bahwa sepertinya saya telah kembali merasakan jatuh hati.

Mungkin, saya terlalu cepat menyimpulkan dan mengambil keputusan. Suatu ketika, saya ingin bertobat dan menobatkan rasa itu sebaai perasaan sesaat. Namun, nyatanya, hingga ratusan hari berlalu, saya belum juga mampu berhenti merasakan sensasi naik roller coaster yang saya alami setiap terlintas pikiran atau terbaca kabar tentangnya. Ini memang hanya rasa berlebihan yang saya rasakan oleh perlakuan biasa darinya. Perlakuan yang bahkan mungkin olehnya tidak terartikan sebagai sebuah perlakuan, alih-alih basa-basi kepada orang yang pernah dia kenal. 

Yeah, dia itu, mungkin tidak pernah tahu akan berbagai tindak investigasi tidak masuk akal terhadapnya yang pernah saya tahu. Orang itu mungkin tidak pernah menyangka, saya sedikit tahu riwayat percintaannya. Orang itu mungkin tidak akan pernah percaya, saya pernah diteror oleh salah satu orang yang "mengenalnya". Orang itu mungkin tidak ambil pusing, bagaimana perasaan saya ketika saya menyadari bahwa saya bukanlah orang-orang yang diperlakukan dengan baik olehnya. Orang itu mungkin tidak pernah ingat, topik apa yang pernah kita obrolkan, karena saya sendiri juga sekarang sudah tidak ingat. Orang itu, mungkin tidak berusaha mengingat informasi yang saya ceritakan, sekeras usaha saya mengingat apa pun yang dia tuliskan. Orang itu memang tidak tahu, tidak memiliki petunjuk, kecuali jika dia menemukan pos ini, dan saya yakin pasti tertawa membaca tulisan absurd ini. Namun, orang itu mungkin sebetulnya tahu, hanya saja pura-pura tidak tahu.

Dengan berbagai pertimbangan, khususnya tentang akan datangnya hal buruk yang lebih banyak daripada hal baik dari aksi ini, akhirnya dua tahun lalu saya memutus segala akses dengannya, demi mendukung misi: berhenti jatuh hati. Tindakan ini aneh memang. Sangat aneh. Namun, ternyata cara ini efektif. Jika saya tidak melakukan ini, mungkin saya masih melakukan hal-hal nista dan cari-curi perhatian terhadapnya. Sifat saya memang seburuk itu. Saya sendiri sebetulnya malu pada Tuhan.

Note FB Tua: Refleksi di Tingkat Sebelas

Bukan apa-apa. Sungguh! Ini note isinya cuma tugas dulu jaman kelas XI.
Dianjurkan tidak usah dibaca karena tidak layak baca.
Tujuan di-upload-nya ehn....coretan ini adalah biar aku ngga suka mengeluh lagi seperti dulu (mungkin sampai sekarang) dan ngga terlalu membanggakan diri sendiri.
Sekali lagi dianjurkan tidak usah dibaca.

Refleksi dimulai
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Selesai.





1 Juni 2009
Bismillahirrahmanirrahiim....

Setahun Berlalu
“Pencarianku Belum Jua Berujung”
Anifatun Mu’asyaroh



Akhir tahun ajaran 2008. Cukup berat hatiku meninggalkan kelas pertamaku di SMA, Brownies X.1. Meninggalkan keceriannya, kegokilannya, kehangatannya dan teman-teman yang telah setahun lamanya berjuang bersama dalam mengusir remidi dan menciptakan kegaduhan. Apalagi, setelah tahu ada beberapa teman dekat yang tak kan mungkin bersama lagi dalam satu kelas. Seperti ada satu potongan puzzle yang hilang dalam hidup. ‘Ah…individualis sekali, masa mau sekelas terus, gimana bisa punya teman banyak kalau teman-teman kita itu-itu saja. Semangat!!!’, pikirku. 

Pagi hari di pertengahan Juli, hari pertamaku di kelas XI, masih terbayang nilai-nilaiku --yang terjun bebas di akhir semester 2-- ketika roda depan sepedaku melintasi gerbang depan sekolah. Tiba-tiba, seorang karib datang menyambutku dan menyetop laju sepedaku, lalu berkata sambil melonjak-lonjak, “An, kita di IPA 1. Aku duduk sama kamu lagi, ya!”

Tak percaya. Aku mengangguk dalam senyuman, meskipun sebenarnya aku dilanda kebingungan. Berkali-kali muncul kalimat tanya yang sama di kepalaku “kenapa aku masuk di kelas itu?”. Bahkan, sampai saat aku sudah memasuki ruang kelas sementara itu (saat itu ruang kelas XI IPA 1 yang sebenarnya dipakai untuk MOS), aku masih tak percaya. Aku takut terpuruk di kelas itu. Kusalami satu per satu orang-orang yang akan setahun bersamaku itu. Sejak kecil aku mempunyai kebiasaan memperhatikan tingkah laku orang, dan kebiasaan itu pula yang kuterapkan di hari itu. Kupandangi mereka (selain anak-anak X.1) dengan seksama, tentu tanpa sepengetahuan mereka. Mereka bergaul dengan anak-anak dari kelas asal yang sama. ‘Ah itu wajar,Ani! Ayo semangat!!! Dekati mereka dan jadikan teman!’, bisikku dalam hati yang mulai bosan melihat kekakuan itu. Jujur, aku tidak suka dengan orang-orang yang ngeblok. 

Seminggu pertama, baru kusadari ternyata tidak semua dari mereka seperti itu. Beberapa di antara mereka langsung akrab denganku dan bahagia aku. Alhasil untuk sementara waktu, hilanglah pandanganku tentang anak-anak IPA 1 yang pilih-pilih teman. Sementara!

Namun, aku masih tetap saja merasa tidak nyaman. Entah kenapa, aku merasa belum bisa mengikuti irama kelas yang masih sangat baru bagiku. Sebagian dari mereka begitu tergila-gila pada nilai. Setiap aku memasuki ruang kelas, suasana yang tampak adalah kawanan orang-orang yang tengah sibuk memelototi buku. Entah saat itu ada tugas atau tidak. Hal ini sungguh tidak biasa di awal-awal tahun pelajaran seperti ini. ‘Wah benar-benar manusia pilihan yang masuk kelas ini’.


Aku semakin berusaha untuk mengimbangi kehebatan mereka. Jika mood sedang baik aku akan lebih rajin mengerjakan berbagai soal-soal latihan, terutama matematika dan kimia. Namun, hal itu hanya bertahan di bab pertama matematika saja, “TRIGONOMETRI”. Aku tidak lulus pada bab tersebut, sehingga membuatku agak bosak pada mapel ini. Matematika yang sejak SMP sangat kugemari, berangsur-angsur hilang kharismanya di mataku, hingga membuatku mual dan mulai menyepelekan kehadirannya. Kini, aku menyejajarkannya dengan mapel fisika yang sangat tidak aku kuasai.  

Semakin bertambah hari aku semakin merasa aneh di kelas METANA ini. Suatu kelas yang amat sulit ku mengerti, terlalu dalam untuk diselami. Keadaan kelasnya tidak sesuai dengan kepanjangan namanya yang megah. Entah apa kepanjangannya. Namun, yang aku ingat di dalam patah-patah hurufnya terkandung arti yang kurang lebih “komunitas penghuni suatu kelas eksakta yang megah”. Nama itu sendiri ditentukan dengan terburu-buru dan semoga tidak  terkesan asal-asalan. 

Awalnya, kelas itu bakal dinamai “SEPATU” singkatan dari Sebelas IPA Satu. Namun, tidak direstui oleh wali kelas kami, Bu TL (nama panggilan para siswa kepada salah satu guru kimia kami, Ibu Tri Lestari) dengan alasan,”Sepatu itu,  letaknya di bawah, diinjak-injak. Memangnya kalian mau jadi kelas terbawah dan diinjak-injak?”. Lantas kami menetapkan nama baru yang lebih terkesan artistik, ”MAGENTA”. Hampir seluruh anak menyetujui nama tersebut, dan dimulailah penyusunan tema dan konsep kelas. Saat kami hampir memulai pembelian alat-alat dekorasi, terdengar kabar kalau kelas tetangga mempunyai konsep warna serupa, yaitu ungu. Akhirnya, kami pun mengalah dan mulai mencari nama lain bagi kelahiran kelas XI IPA 1 yang baru ini. Setelah beberapa petinggi kelas bermusyawarah dan berkonsultasi dengan Bu TL, terciptalah sebuah nama yang disadur dari salah satu senyawa kimia, Metana, hanya dalam hitungan menit. 

Aku begitu bersemangat pada saat pendekorasian –setiap awal tahun ajaran baru di SMANSA diadakan lomba menghias kelas dalam rangka merayakan HUT SMANSA yang jatuh pada tanggal 1 Agustus-- itu. Aku berpikir saat-saat seperti itu adalah saat yang tepat untuk beradaptasi, dan saling dekat satu sama lain. Meski hari Minggu pun, kami datang dan mulai mendekor. Namun, hal yang terjadi tidak seperti yang kupikirkan. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Sibuk dengan kerumunan masing-masing. Sehingga, mereka tidak akan mulai berbuat sebelum diuprak-uprak. Alhasil, bukan “mari bekerja sama dalam gembira” yang terjadi, tetapi “mari bekerja agar selesai”. Hasilnya, kelas yang rapuh lah yang terjadi. Para penghuninya kurang bersatu sama lain, seperti yang pernah dikatakan oleh Bu Tuti, tapi tepatnya seperti apa, aku tidak ingat.  Menurutku, mereka kurang mengamalkan ilmu pendidikan kewarganegaraan.


Di semester awal seperti saat itu, semangat belajar dan stok percaya diriku masih penuh. Aku berani berekspresi dan berpendapat dengan ribuan pikiran positif yang masih tergantung rapi di kail-kail pikiranku. Hingga sementara waktu, aku lupa dan tidak peduli dengan keadaan kelas yang seperti itu. Lalu aku nikmati satu penemuan baruku yang aku kira sudah sempurna kala itu, yaitu arti persahabatan. Aneh memang. Tadi kusebutkan bahwa orang-orang di Metana ini sulit ku mengerti, tetapi entah mengapa di sini aku malah menjadi paham kenikmatan bersahabat itu seperti apa. Berteman tidak harus sama dalam segala hal. Sahabat bukan orang yang selalu mengikuti dan selalu berada dekat serta nempel seperti perangko padaku. Perbedaan dalam suatu pertemanan bagaikan putih telur dalam martabak, yaitu sebagai perekat dan penghubung.

Tak terasa waktu telah mendekatkan seleksi LMP ke depan mata. Aku yang dari SMP sangat menyukai mapel biologi –di samping matematika—mencoba mencari mujur lewat seleksi itu. Siapa tahu aku lolos, hehehe… Aku tahu, sudah ada ahli biologi yang tidak lain tidak bukan juga sahabatku sendiri.  Tapi tak salah kan kalau aku mencoba mencari potensi diriku. Apalagi aku ingin menjadi seseorang yang jago dalam bidang farmasi, yaaa… paling tidak seorang apoteker lah... Dan di sinilah kumulai pencarianku……

Sabtu siang di bulan tak tahu, aku memasuki ruang kelas XII IPS 3 dan menerima 3 lembar soal seleksi LMP Kimia, melangkah ke  pojok kanan ruangan, lalu duduk di atas satu-satunya kursi yang tersisa. Ya… aku berubah pikiran tentang biologi. Kutinggalkan seleksi biologi yang juga berlangsung di hari itu. Entah kenapa aku terbujuk –padahal tidak ada yang membujuk-- untuk megikuti seleksi mapel kimia yang sebelumya tak terpikir sama sekali. Namun, kimia lah modal utamaku untuk menjadi seorang ahli farmasi, Akhirnya, kuputuskan untuk mengikutinya. Di luar dugaan, aku hampir tidak dapat mengerjakan soal-soal yang sebenarnya tidak terlalu susah itu. Di tengah kebingungan, kuterima sms dari sahabatku yang jago biologi yang isinya….. 

”An, bio yg ikt slksi cm 5 org.dah mst km msk lh. cptan k lab bio!dtggu!”

Maka dari itu aku nekat mengikuti seleksi itu. Apalagi yang ikut saat itu hanya 6 orang, termasuk aku. ‘Wah peluangku untuk masuk akan semakin besar,’ anganku. Lalu, kuselesaikan soal-soal kimia itu secepat mungkin agar dapat segera melanjutkan mengerjakan soal-soal biologi. Setelah sampai di lab, kuambil satu bendel soal yang ternyata, ‘Innalillahi… angel banget!’ Akhirnya, kukerjakan soal-sol itu semampuku, dengan harapan lolos limit mendekati nol. Waaaaaah… parah. Inilah akibat dari sifat plin-planku. ‘Huft….. Coba kumantapkan pilihan pada biologi saja atau kimia saja, dan kupelajari salah satunya dengan serius, pasti hasilnya tak kan seburuk ini,’ sesalku. Apalagi bagaimana tanggapan guru-guru yang mengoreksi jawaban-jawabanku, mungkin mereka akan melotot atau menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan kebodohanku ini.


Beberapa hari kemudian, aku sudah mulai melupakan tentang seleksi itu. Aku pun mulai melakukan pencarian selanjutnya….”mencari bakat-bakatku yang lain”. Ketika majalah Karisma sekolah menempelkan iklan tentang pencarian karya-karya dalam bentuk tulisan, hatiku merasa tercolek. Belum pernah semangat menulisku mengebu-gebu seperti saat itu. Aku kumpulkan informasi mengenai persyaratan-persyaratan untuk mengirimkan karya –meski di iklan sudah ada, tetapi aku begitu suka bertanya-- pada temanku, salah satu redaktur Karisma, sampa ke detail terkecil. Sebab begitu antusiasnya aku saat itu. Lalu, kutulis sebuah cerpen berjudul “My Real Superhero is…” dan sudah selesai kuketik.

Namun, tak dinyana-nyana tugas-tugas yang lain berdatangan mengharuskanku mengerjakannya. Sedangkan ulangan semester 1 semakin dekat. Hingga deadline pengumpulan tiba, cerpenku belum sempat menyentuh printer. Hyaaah…kali ini aku gagal lagi mengirimkan karyaku. Dulu aku tak jadi ikut seleksi anggota Karisma karena takut gagal. Namun, sekarang aku sudah gagal sebelum aku takut. ‘Semangat!!! Masih ada semester 2. Jangan takut pada kegagalan!’ hiburku. Sejak saat itu frekuensi menulisku kembali jarang. Entah kerena bosan, entah tidak sempat, atau entah lupa. Dan kulanjutkan kehidupan yang biasa-biasa lagi….


‘Aku semakin paham bahwa tidak semua orang tahu apa yang aku mau, so aku harus mengungkapkannya. Dan apa yang masing-masing orang bisa, aku tak harus terlalu berusaha untuk sama bisanya dengan mereka karena setiap orang mempunyai kelebihannya masing-masing. Yang aku harus lakukan adalah mengembangkan apa yang sudah aku bisa dan punyai, jangan mau yang muluk-muluk. Namun, toh tak salah jika aku terus mencari!’ Aku masih terus melakukan pencarianku. Pencarian akan teman, bakat, potensi, dan bagaimana rasanya menjadi orang penting. 

Kegiatan yang masih terus kulakukan dari awal semester 1 hingga kini adalah menggambar arsiran. Cukup banyak gambar yang telah kuhasilkan, meskipun dari hasil mencontoh gambar yang sudah jadi. Namun, tak apa hal itu baik untuk menyeimbangkan otak kanan dan otak kiriku. Semakin lama aku semakin berpikir, ‘Apakah ini bakatku yang sebenarnya? Menggambar atau melukis? Waaahh…alangkah indahnya kalau benar. Aku bisa sekolah seni kalau lulus besok,’ ujarku dalam hati. Sejenak, terlupa tujuan utamaku menjadi seorang apoteker yang hebat. 

Aku terlalu banyak berkeinginan, sehingga hal itu membuatku sering diliputi kebingungan sepanjang waktu. Aku terkadang diam menyendiri memikirkan sesuatu, mencari inspirasi, atau menyanyi dalam hati –tapi aku tak pernah ingin menjadi penyanyi--. Diamku yang tiba-tiba itu terkadang membuat kawan-kawan atau keluargaku memandang aneh diriku. ‘Ah… whatever!’ 

Setelah sembuh dari kediaman, seringkali aku lupa tentang apa yang aku renungkan baru saja. Mungkin hal itu dipengaruhi oleh penyakit pikunku yang sudah akut. Saking akutnya sampai-sampai sudah 8 kali hpku ketinggalan di wilayah sekolah. dan seanyak 8 kali itu pula aku menambah jarak perjalananku ke sekolah karena harus mengambil hp yang tertinggal itu. Pikunku semakin parah di semester 2 kelas XI ini. Resolusiku untuk tahun ajaran depan, ‘Aku berharap tidak pelupa lagi’. Amiin.


Semester 2 di kelas ini adalah semester terburuk sepanjang hidupku. Dalam hal sekolah, nilai-nilaiku bukan main hancurnya. Sekarang nilaiku bukan lagi terjun bebas seperti saat kelas X semester 2 dulu, melainkan sudah jatuh ke dalam sumur tak berdasar dan tak tahu kapan akan mencapai nol. Sungguh ironi. Cita-citaku menjadi seorang apoteker seakan kandas di tengah laut karena nilaiku hancur di mapel fisika dan pas-pasan di mapel kimia dan biologi. Nyaliku semakin ciut. Dan aku jadi lebih sering merenung….

Note FB Tua: Saya

  • Nama: Anifatun Mu'asyaroh
  • Nama panggilan: Ani
  • TTL: Kebumen, 15 Maret 1992
  • Status: Belum Kawin, Tidak (pernah) Pacaran
  • Minat: Tidur, Tidak pikun
  • Keahlian: Menulis tulisan ngga jelas, hanya bisa menulis paragraf deskripsi dan nyaris selalu tidak bisa menulis paragraf eksposisi, narasi, argumentasi apalagi persuasi.
  • Pen-name: Auriga Amarilis
  • Hobi: Tidur, Ngetik hal apapun yang tidak penting
  • Pekerjaan: Mahasiswa FKM UI 2010 semester 2, karena masih mahasiswa, maka saya tidak punya kerjaan selain tidur, kuliah, berpura-pura belajar di dalam kamar, lalu mencanangkan SKS saat akan ujian.
  • Cita-cita: Bisa merampungkan setidaknya satu saja cerpen! hahaha,,, parah
  • Makanan favorit: Mie Ayam, Ayam bakar, dan apa pun yang tidak terlalu amis
  • Minuman favorit: Apa pun yang bisa diminum, halal, dimasak
  • Warna favorit: ungu, hitam, putih, coklat, cream, ungu, biru, ungu
  • Kebiasaan favorit: Tidur
  • Pendidikan: RA Perwanida Karangsari, SD Negeri 1 Karangsari, SMP NEgeri 1 Kebumen, SMA Negeri 1 Kebumen, Universitas Indonesia lulus Agustus 2014 (amiin, kalau bisa sih Februari 2014, hehe)
  • Buku favorit: ngga ada
  • Film favorit: ngga ada
  • Penulis favorit: JK Rowling, Andrea Hirata, Fandita Tonyka Maharani dan Yuridista Putri Pratiwi, Pipiet Senja, Azzimatinur Siregar, Auriga Amarilis, hahaha...
  • Hal yang paling dibenci: dicuekin, melihat ketidakadilan, diaggap remeh, ditinggalkan, dikritik yanng tidak sesuai kenyataan
  • Hal yang paling disukai: tidak menjadi pusat perhatian, dikenal, tidur
  • Target Hidup (Jangka Pendek)
  • Lulus tepat waktu
  • Berani dan konsisten dalam menulis, setidaknya berani mengirimkan naskah ke penerbit di awal tahun depan
  • No pacaran sampai menikah
  • Khatam Qur'an minimal 2x tahun ini
  • Menulis setidaknya 1 cerpen seminggu
  • Mengurangi jam terbang program SKS
  • Tidur maksimal pukul 12
  • Bangun tidur paling telat pukul 5
  • Konsisten di MB, dan jadi pasukan yang tangguh dan indah pukulannya
  • Kerja di Dinkes Kabupaten Kebumen
  • Bisa membahagiakan orang tua dengan menaikkan haji (amin amin amin)
  • Hemat, nabung sebulan minimal *piiip*
  • Bisa menahan "rasa itu" walau susah
  • Punya publisher sendiri
  • Aaaaa... ini sangat susah untuk bisa konsisten dalam berbagai hal, terutama belajar dan menulis
  • Dateng ke akad nikah-nya teman-teman baik, agak baik, kurang baik dan kuanggap baik walaupun tidak baik padaku, kalau diundang
  • Menamatkan novel pesanannya Syifa tepat waktu!!! (tidak nyaris terlupa, maaf Syifa)
  • Banyak makan sayur
  • Senyum kepada setiap orang walaupun harus dikira orang gila
  • Jangan gampang terpancing emosi
  • Cum laude di semester 4 dan bertahan hingga tamat
  • Tidak caper
  • Lebih berani bicara
  • Tidak mudah down
  • Berani megambil keputusan
  • Semangaaaaaaaaaaaaaaat...
  • Tidak ngeksis, tapi kenal semua warga Perhimak
  • Dapat terbebas dari dengki
  • Puasa Senin-Kamis minimal 2 hari dalam sebulan untuk tahun ini, 3 untuk tahun depan, 5 untuk lusa tahun depan, dan terbiasa hingga selanjutnya... (oh, sepertinyaaa... ini...)
  • menyusul.....
 
Depok, 20 Februari 2011
 
 
saya

Wednesday, 12 November 2014

(Bukan) Orang Biasa

Dari apa yang orang-orang kicaukan, saya dengar hanya kisah-kisah menarik yang dibumbui aksi kepahlawanan, sarat motivasi dan pelajaran, menghibur dan mengaduk-aduk emosi, dan minimal memiliki alur atau tujuanlah, yang akan dibaca, didengarkan, dan mungkin terus diingat oleh orang-orang. Apakah ini berarti bahwa orang-orang biasa tak layak berkisah? Apakah kisah terlalu biasa tersebut tak pantas diceritakan kepada orang-orang, tak cukup berbobot untuk diunduh pelajaran darinya, tak baik untuk dikonsumsi orang awam karena dikhawatirkan tidak akan membuat mereka lebih hebat dari sekadar orang biasa?

Senjang. Kesenjangan menimbulkan masalah. Masalah menghadirkan ancaman juga pahlawan. Ancaman menjanjikan kehancuran, sedang pahlawanlah yang digadang-gadang akan meminimalisasi atau mengatasi kehancuran tersebut. Pahlawan. Semua orang ingin menjadi pahlawan. Orang kuat, sudah pasti masuk kandidat, bekal kuasa. Orang pintar, sangat mungkin dinobatkan, bonus gelar. Orang licik, bisa juga jadi nominasi, menang taktik. Orang biasa, tak tinggal diam, angkat senjata, modal nekad. Orang biasa, juga pandai diam, menanti saat, lalu bersorak, "Kita menang!"

Saya tidak mengerti, mengapa ada banyak sekali orang tak ingin menjadi orang biasa. Padahal, orang biasa merupakan orang berjasa. Tanpa mereka, para calon pahlawan tidak akan benar-benar menjadi pahlawan. Orang biasa seharusnya berbangga. Berkat mereka, para pahlawan memiliki pekerjaan dan pengagum di mana-mana. Orang biasa seharusnya berbahagia. Mereka menjadi orang biasa bukan tanpa alasan dan peran, melainkan sebagai tokoh utama yang nantinya akan menjadi prioritas nomor satu mereka, para pahlawan, untuk diselamatkan. Meskipun mungkin kisah dan keberadaan mereka tidak untuk diselipkan dalam sejarah yang diturun-temurunkan, tetapi sebagai salah satu dari orang biasa tersebut, saya sangat bersyukur memiliki peran ini. Terlebih inilah hal yang memang sepertinya saya inginkan.

Perkenalkan, saya Ani. Orang biasa. Saya masih seorang mahasiswa. Masih, karena saya memutuskan untuk menjadi demikian, menjadi tertinggal dan menyandang predikat "yang tersisa" dari angkatan saya yang belum menamatkan studi, di saat lebih dari tiga perempat rekan satu angkatan di peminatan saya telah menapaki dunia kerja. 

Saya "berkuliah" di jurusan Kesehatan Masyarakat, peminatan Biostatistika, angkatan 2010. Dengan demikian, kini saya tengah menempuh semester 9. Saya tahu, saya tahu. Saya tidak seperti orang lain pada umumnya karena sengaja berlama-lama berkutat dengan "apa yang mereka sebut skripsi" sejak semester 7 silam. 

Mungkin, karena saya terlalu biasa, saya pikir saya tak mampu melakukan hal-hal luar biasa seperti mereka. Rendah diri saya tinggi, memang. Namun, jika tidak salah ingat, saya merupakan tipe orang yang mampu memperkirakan akurasi pencapaian saya sendiri. Dengan demikian, saya hanya akan melakukan hal-hal yang menurut saya dapat saya lakukan dan, menurut perkiraan saya, akan berhasil saya capai sesuai keinginan. Contohnya, perkiraan ketika mendaftar masuk universitas ini. Saya memiliki keyakinan besar saya akan berkesempatan memijakkan kaki di sini. Hanya saja, saya tidak yakin, saya sudah cukup tahu apa yang akan saya lakukan ketika kaki saya telah betul-betul berdiri di tanah penuh manusia cendekia ini.

Setidaknya, perkiraan keberhasilan tersebut terbukti. Pada Mei 2010, saya resmi diterima di jurusan yang sudah saya sebutkan di atas, jurusan pilihan kedua saya. Lantas, apa jurusan pilihan pertama saya? Ah, tidak perlu saya sebutkan. Saya tidak yakin, saya tidak sedang tidur ketika memilih pilihan jurusan pertama, pun dengan pilihan jurusan kedua tersebut. Meski prosesi yang saya lalui hingga sampai ke tempat belajar ini bertabur dengan ketidakyakinan, tetapi saya masih memiliki sisa keyakinan lain, bahwa saya dapat bertahan meski akan sempoyongan.

Satu tahun. Saya memutuskan untuk memilih peminatan Biostatistika. Satu-satunya mata kuliah yang nilainya tidak hancur pada saat semester 2 adalah mata kuliah yang belajar tentang dasar-dasar ilmu yang berkenaan dengan statistika ini. Maka saya setengah yakin, di kemudian hari, barangkali saya tidak akan hancur juga pada hal yang sama. Namun, jauh di dalam lubuk hati yang paling dalam, saya belum jatuh cinta pada apa pun yang ada di sini. Saya masih terombang-ambing di lautan ilmu yang saya renangi selama ratusan hari. Sayang, hanya sedikit "benda laut" di dalamnya yang menyerap dalam pori-pori memori saya. Atau mungkin saya yang tidak mengizinkan mereka memasuki akal saya? Saya masih belum bisa memastikannya hingga saat ini. Pun demikian, saya tetap berjalan sembari berhalusinasi. Barangkali, saya akan menemukan sesuatu yang menarik, yang betul-betul saya inginkan dan akan saya perjuangkan untuk saya genggam, ketika saya sudah semakin mencapai ujung dari perjalanan, yang kata orang-orang namanya menimba ilmu ini.

Tiga setengah tahun. Saya mulai kelabakan dalam diam yang menyeramkan. Saya sepertinya mengalami hal yang dikenal dengan sindrom tingkat akhir. Namun, apakah semua mahasiswa di tingkat akhir merasa seperti ini: TIDAK MEMILIKI KEINGINAN. Saya menceracau dan meragu. Apakah saya betul-betul orang biasa? Orang biasa bahkan memiliki mimpi dan tahu apa yang mereka sukai. Atau justru saya orang bodoh, pemalas, dan merugi? Saya pun memutuskan untuk berlari, melarikan diri dari semua yang hal yang berkaitan dengan pendidikan saya. Asing. Hawa, penampilan, aroma, dan irama mereka masih asing bagi saya. 

Perlahan, beberapa orang dapat membacanya, keganjilan perilaku. Beberapa opini dari mereka tentang saya yang seperti ini, baik secara langsung, maupun tidak langsung, sampai ke telinga atau mata saya. Banyak saran dan komentar, baik yang hanya sekadar saran lewat, maupun saran bermanfaat, yang saya terima. Tak sedikit tamparan pedas yang saya terima karena ulah saya semakin memurukkan diri. Namun, mengapa saya tetap bergeming?

Empat tahun. Saya masih bebal. Saya tidak tergoda iri pada mereka yang sudah menggenggam kunci. Saya tidak ingin mengejar mereka yang tengah berlari menjemput mimpi. Saya puas dengan hanya mengamati mereka berlelah, berbahagia, bercerita, berbagi, berpindah, berlari, berlain-lain. Saya pemalas dan mulai menjadi sampah. Apa yang terjadi pada saya? 

Apakah saya terlalu terbuai dalam hidup dan peran saya sebagai orang biasa? Apakah saya memang terlalu bodoh hingga tak mampu mengenali keinginan dan mimpi saya sendiri? Apakah saya cukup pantas disebut manusia, alih-alih mayat hidup, karena saya tidak memiliki keinginan dan mimpi?

Saya masih akan berusaha merampungkan apa yang seharusnya sudah saya rampungkan sejak berbulan-bulan lalu. Namun, saya tidak yakin, saya dapat melanjutkan langkah saya di jalur ini, jalur yang samar-samar saya lukis selama tiga empat tahun belakangan dengan kuas nomor satu dan cat tanpa warna. 

Perkiraan saya tentang pencapaian keinginan saya, berhenti di sini. Tidak perlu lagi ada akurasi karena tidak ada perkiraan yang terpampang. Kosong.

Mungkin, saya bukan lagi orang biasa. Saya orang bebal, yang mencampakan diri sendiri tanpa berpikir matang-matang. Saya orang gagal, yang bangga berkoar tentang kisah kehilangan arahnya kepada orang-orang. Saya orang tertinggal, yang tidak memiliki hasrat untuk mengejar mereka yang telah lebih dahulu berlari meraih tujuan. Saya orang menjengkelkan, yang kata beberapa orang sengaja jatuh untuk mencari belas kasihan. Saya orang tak punya mimpi, yang kata para pengarang cerita berpahlawan, adalah pesakitan yang tinggal menunggu mati. Saya orang pengecut, yang bersembunyi di balik ketiak malam dan pagi, katanya tak akan pernah berhasil melakukan debut. 

Tak perlu lagi bertanya. Terlalu banyak tanya yang patah tanpa sempat terjawab. Gamblang. Bosan. Murahan.

Banyak orang ingin orang seperti saya diam, meskipun mereka tidak menyampaikannya secara verbal. Terkadang, mulut mereka diam. Namun, mata dan langkah mereka berteriak lebih keras dari mulut bungkam tersebut. Saya tahu karena saya juga diberi tahu oleh mereka yang tanpa sadar memberi tahu.

Pada akhirnya, saya disuruh diam dan menyelesaikan masalah saya sendiri. Tak perlu saya kembali diperingatkan untuk menyimpan salah, masalah, dan kesalahan saya hanya untuk saya sendiri. Tentu saja. Saya sudah tahu diri. Saya tahu, memang hanya saya yang dapat melakukannya hingga selesai. Hanya saya yang dapat mengais dan menggali lubang hingga saya menemukan apa yang saya cari dan inginkan. 

Saya mengerti, tak baik menggantungkan apa pun pada siapa pun selain pada Tuhan. Ah, saya bersyukur saya memiliki-Nya, membuat saya mengingat hal-hal indah, membuat saya tidak ingin memperjuangkan mati, membuat saya masih bertahan sembari berpayah mencari hingga saat ini.

Tuhan, tolong jaga saya dalam perjalanan saya, tetap menjadi orang biasa, manusia biasa. Saya tidak berharap kisah keluh kesah seorang biasa seperti saya dipungut orang lewat. Namun, setidaknya jangan biarkan saya terinjak hingga mati, ketika saya tengah mengais untuk menemukan keinganan saya di jejalanan. Ah, Tuhan pasti melakukannya tanpa dipinta. Mengapa sedetik tadi saya meragukan-Nya beserta kejutan indah dari-Nya? Hmm.

Friday, 7 November 2014

Delapan Gambar Terakhir (Oktober-November Awal)

Di bulan Oktober ini, saya cukup sering menggambar. Mungkin, sebelumnya saya pernah menyebutkan alasan saya menggambar, melalui salah satu pos di blog ini, yaitu untuk memunculkan perasaan bahagia. Dengan kata lain, saya akan menggambar, ketika saya mulai merasakan kemunculan tanda-tanda tidak wajar, yang bisa jadi menimbulkan perasaan tidak bahagia bagi diri saya. Saya merasa, semakin lama saya tidak berarah, tidak memiliki tujuan dan keinginan. Dan ketika saya mulai berpikir demikian, saya akan berlari mencari hal-hal yang mungkin saya lakukan, yang dapat membuat saya lupa akan pikiran buruk itu, yang dapat membuat saya berpikir bahwa setidaknya saya sedikit produktif. Namun, lama-lama saya curiga, sepertinya kegiatan menggambar ini, saya lakukan hanya sebagai tindak pelarian dari tanggung jawab dan kewajiban saya akan hal lain. Kemudian, saya merasa ragu, malu, dan rugi.

Selain itu, tindakan pelarian, berupa menggambar, ini sepertinya telah membuat saya menjadi orang yang suka pamer dan berisik. Pasca menyelesaikan sebuah gambar hitam putih, saya selalu mengepos foto gambar tersebut ke beberapa media sosial: instagram, twitter, blog ini, facebook, bahkan linimasi LINE. Tak hanya itu, terkadang saya mengganti foto profil, avatar, display picture, atau cover di beberapa media sosial tersebut. Memang, figur atau objek dalam gambar-gambar saya tidak dipilih dengan asal-asalan. Artinya, ada hal menarik yang membuat saya sangat ingin menggambar objek tersebut. That's why, saya sempat merasa oke-oke saja, jika saya menggunakannnya sebagai foto profil atau sebagainya. 

Namun, akhir-akhir ini, saya mulai gusar. Apa gunanya ini: menggambar, meng-upload gambar tersebut, membagikannya ke orang-orang, dan pada akhirnya menarik perhatian atau justru kejengkelan mereka? Apa namanya semua tindakan itu, kalau bukan pamer atau mencari perhatian? Saya pun tersadar, kegiatan saya selama ini kemungkinan besar salah dan telah menyimpang dari jalur yang seharusnya saya tempuhi. Lagipula, sebenarnya saya tak cukup berminat apalagi berbakat di bidang gambar-menggambar ini. Lalu, saya memutuskan bahwa "tindakan pelarian dari kewajiban ini" tidak seharusnya disebar-sebarkan kepada orang lain. Cukuplah dinikmati sendiri, di galeri pribadi. Jika pun nanti ada yang tersesat melihatnya, berarti itu memang sudah nasibnya dan nasib gambar saya dikunjungi olehnya.

Saya pun menghapus foto gambaran-gambaran tangan saya dari galeri instagram dan LINE saya. Untuk selanjutnya, saya hanya akan mengepos gambar-gambar saya ke dalam blog ini atau di akun instagram baru saya, yang memang dikhususkan untuk menampung back up gambar-gambar nya. Sama saja, ya? Hahaha. Ya sudahlah. Pada akhirnya, saya memang tidak dapat berhenti menggambar. Saya akan tetap menggambar, meskipun (mungkin) akan lebih dikurangi.

Untuk beberapa orang, yang berteman dengan saya di berbagai media sosial, mohon maaf ya, jika selama ini saya sangat berisik dan menyampah di halaman depan kalian, dengan mengepos banyak gambar tidak jelas dan membosankan. Sebetulnya, saya juga tidak suka menampakkan keberadaan atau eksistensi saya kepada kalian. Terlebih, di saat seperti ini, di saat saya tengah merasa di titik terbawah di sepanjang perjalanan hidup saya, di saat saya tengah bersembunyi dari para peramai dan keramaian.

Well, saya sudahi ya, menye-menye-an dan curhat-an tentang gambar-gambarnya. :D


"Alat Gambar (seadanya) Saya"
Depok, 25 Oktober 2014
Sebelumnya, mohon maaf, posisi fotonya terbalik. Saya tidak tahu cara me-rotate position image yang sudah di-upload ke blog. Jadi, saya biarkan saja begitu, ya.
Well, itulah alat-alat yang saya punya. Namanya juga bukan seniman dan tidak berminat menjadi seniman, alhasil saya hanya memiliki beberapa alat yang kira-kira akan sering saya gunakan saja. 
Inilah daftar mereka:
  1. Sketch Book ukuran A3 (Memungut punya seorang teman yang sudah pindah kos)
  2. Sketch Book ukuran A5 (Kalau yang ini saya beli, tapi yang murahan lah, kan saya pelit)
  3. Drawing Pen ukuran 0,5mm (BESAR, KAN? Dulu salah bilang ukurannya ke mbak penjualnya. Niatnya mau beli yang 0,3mm)
  4. Pensil 2B, Colleen (Ini favorit saya! Hitam, tebal, empuk, murah lagi. Namun, yah...bikin kotor kertas gambar. Sayanya, di sini tidak ada yang jual dia. Saya cuma menemukannya di Kebumen)
  5. Pensil 2B, Faber Castell (Lumayan sering digunakan)
  6. Pensil 3B, Faber Castell (Jarang digunakan. Paling digunakan ketika sedang mengarsir mata)
  7. Pensil 4B, Faber Castell (Sangat jarang digunakan)
  8. Pensil mekanik, 0,5mm (Jarang digunakan. Biasanya untuk menebalkan outline)
  9. Penghapus, Faber Castell (Suka banget motif cowy-nya)
  10. Pensil warna, Faber Castell Grid Model 12 warna, ukuran besar (AMAT SANGAT JARANG DIGUNAKAN, karena saya belum bisa mewarnai. Semoga suatu saat punya yang lebih dari 12 warna)
  11. Pensil warna air, Faber Castell Grid Model 12 warna, ukuran kecil (AMAT SANGAT JARANG DIGUNAKAN juga. Saya hanya memakai yang warna hitam. Alhasil, pensil hitamnya sekarang pendek dan hampir habis. Semoga suatu saat punya yang lebih dari 12 warna dan ukuran besar)
  12. Rautan (Masih yang murahan)
  13. Cutter (Kalau yang satu ini masih sering pinjam punya orang lain, seringnya punya Nisa)
  14. Kuas (Sebetulnya ini milik Rheta. Namun, dia bilang dia sudah tidak menggunakannya, jadi saya boleh meminjamnya (sampai lama))
  15. Sarung tangan dan tissue (WAJIB. Tangan saya berkeringat)

"Teman"
Depok, 16 Oktober 2014
Media: Kertas gambar A5
Gambar ini dibuat dalam rangka berterima kasih kepada orang-orang di sekitar saya. Saya merasa bersalah karena sering melupakan orang-orang baik di sekitar saya dan mengharapkan kehadiran mereka yang tidak ada di samping saya. Untuk itu, saya berterima kasih kepada mereka yang bersedia mengingat saya. 


"Fanart: Houtarou Oreki"
Depok, 20 Oktober 2014
Media: Kertas Gambar A5
Ini adalah Houtarou Oreki, tokoh utama pria dari anime Hyouka (anggap saja mirip, ya). Sebetulnya, dia hanya seorang pelajar kelas 1 SMA biasa. Sangat biasa malah. Dia tidak suka lelah sehingga dia akan meminimalisasi bergerak atau berpikir untuk menyimpan energi. Mottonya adalah "Aku tidak akan melakukan hal-hal yang tidak harus kukerjakan dan jika aku harus mengerjakannya, maka aku akan menyelesaikannya dengan cepat". Menyelesaikan semua hal dengan cepat adalah bentuk upayanya untuk menyimpan energi. Itulah yang unik dari dia. Sifat pemalasnya itu membuat dia berpikir cepat, bahkan cerdas, juga kreatif. Inilah yang membuatnya dapat menyelesaikan beberapa kasus misteri kecil yang terjadi di sekitarnya, di kehhidupan  sekolahnya. Sungguh hanya kasus kecil yang tidak terpikirkan bahkan sengaja tidak dipikirkan oleh orang lain. Dia unik dan jenius, makanya saya suka. Hahaha...


"Fanart: Houtarou Oreki (Again)"
Depok, 21 Oktober 2014 
Media: Kertas Gambar A5


"Fanart: Kirito/Kirigaya Kazuto"
Depok, 26 Oktober 2014
Media: Kertas Gambar A3
Ini adalah Kirito, tokoh utama pria dari anime Sword Art Online/SAO (anggap saja mirip, ya). Sebetulnya, saya tidak suka tokoh anime ini. Namun, entah mengapa ketika saya melihat sketch book A3  miliki Tiara yang saya temukan dan tetiba  saya ingin menggambar di atasnya, tokoh anime yang pertama kali terlintas di pikiran saya adalah dia. Memang, saat itu saya baru tamat menonton SAO season I sehingga wajar saja jika saya teringat pada Kirito ini. Selain itu, gambarnya juga tidak rumit. Jadi, saya kira saya dapat menggunakannya sebagai contoh objek gambaran tangan pertama saya di atas kertas A3. Saat selesai menggambar ini, saya baru sadar, jika kertas A3 itu sangat besar. Otak saya lelah setelah menggambarnya. *maklum, amatir*


"Ucapan Milad untuk "SAHABAT""
Depok, 28 Oktober 2014
Media: Kertas Gambar A3
Yeah, saya merindukan teman di kampus, ketika beberapa semester lalu ini. Dia dipanggil Dila di kesehariannya. Saya pertama kali berkenalan dengannya di FB, ketika sama-sama baru diterima di FKM UI. Kami pun bertukaran nomor dan beberapa kali SMS. 

Ketika Welcoming Maba FKM UI jalur SIMAK, tanpa diduga-duga, ternyata kami betul-betul dipertemukan secara lahir, dalam FGD yang sama. Hanya saja, kami sama-sama belum menyadari. Saya memperkenalkan diri saya sebagai Ani sedangkan dia memperkenalkan dirinya sebagai Dila. Saya pun curiga, jika dia adalah Dila yang saya kenal lewat FB. Namun, kenapa dia tidak mengenali saya? Selain itu, di dunia nyata, dia tampak lebih datar, jika dibandingkan dengan saat di FB. Saya pun iseng, mencoba me-miscall nomornya. Jika dia bergerak-gerak merogoh HP ketika saya miscall, berarti dia adalah Dila yang sama dengan Dila di FB. Namun, dia diam. Setelah perkenalan, saya pun mencoba menyapanya secara personal untuk memastikan bahwa dia adalah Dila yang pernah bertukar nomor hp dengan saya. Dan ternyata benar. Dan dia tetap berwajah datar. Oh, doang. Padahal, ketika itu, saya mengharapkan respons yang lebih hangat dan bahagia darinya, karena bertemu dengan orang yang selama sebulan hanya bersapa lewat dunia maya. Awalnya, saya mengira saya akan dapat berteman dengan baik dengannya. Namun, melihat respons datarnya, saya urungkan perkiraan saya.

Saya bertemu lagi dengannya di kumpul angkatan FKM UI 2010 di dekat danau Balairung. Dia masih datar. Akan tetapi, ada yang berbeda, dia lebih banyak bicara dibandingkan dengan di saat pertemuan WM. Lambat laun, saya memahami sesuatu. Ternyata, wajah datarnya bisa jadi adalah output dari sifatnya yang sedikit pendiam dan tidak terlalu ingin terlibat dalam banyak hal yang menegangkan (apakah ini nyambung?). Sejak saat itu, saya memberanikan diri untuk mendekatkan diri dengannya dan sepertinya dia menyambut dengan cukup baik upaya pendekatan dari saya. 

Saya dan dia, sama-sama bukanlah orang yang ingin terlihat menonjol. Sama-sama, orang yang tidak datang ke suatu hal yang tidak perlu didatangi. Sama-sama, orang yang agak suka bersembunyi. Sama-sama, orang yang menyukai benda yang lebih mudah terbeli. Sama-sama, menyukai membaca cerita fiksi. Sama-sama, ah sama-sama lebih banyak mengamati daripada menyampaikan opini. Sama-sama, biasa saja. Kami pun terkadang berjalan-jalan bersama, untuk melakukan hal-hal biasa saja, bersama dengan beberapa orang teman tetap lain. 

Mungkin, ada banyak "sama-sama" yang sudah saya sebutkan. Namun, anggapan "sama-sama" dari saya tersebut, ternyata membuat saya egois dan lupa bahwa seberapa sama pun kami, tetaplah ada perbedaan yang menjurangi pribadi tiap manusia kebanyakan. Laun, saya pun dapat membaca perbedaan tersebut. Dia orang yang lurus, yang tak mudah berbelok dari tujuan utamanya, terutama dalam urusan menuntut ilmu. Saya sebaliknya. Dia orang yang pandai dan rajin, yang mempersiapkan dengan baik apa yang akan dipersembahkannya. Saya sebaliknya. Dia orang yang tidak akan bermain-main, di saat yang seharusnya kami mengencangkan ikat pinggang. Saya sebaliknya. Dia orang yang memiliki target dan tujuan. Saya sebaliknya. Dia orang yang akan terganggu, jika apa yang didapatkannya tidak sesuai dengan ekspektasi atau usaha kerasnya. Saya juga, tapi dengan cara penyampaian yang berbeda. Dia terlalu baik hati. Saya sebaliknya. Dia fokus. Saya sebaliknya. 

Awalnya, saya kira saya dapat bertahan mengikuti jalan lurusnya, dapat berguna sebagai teman baginya, dapat mengikuti sifat rajinnya, dapat mengerti dan menjadi teman yang baik baginya, atau dapat yang lain-lainnya. Namun, entah ini hanya pikiran tidak sehat saya atau bukan...saya merasa saya telah menjadi teman yang tidak baik dan tidak berguna baginya dan yang lain, hingga puncaknya di semester lima. Saya merasa saya adalah orang yang sangat kurang dan tidak pantas menjadi bagian dari mereka, orang-orang yang sangat pandai dan baik. Terlebih, saya selalu buruk dan tertinggal dalam hal akademis. Perbedaan besar saya, dia dan mereka, terutama dalam hal minat di bidang akademis ini, sepertinya telah menciutkan nyali saya untuk sering bersama mereka. Saya takut magabut dan merepotkan pada mereka.

Hingga suatu hari di semester lima itu, entah karena apa dan dengan cara apa, saya mendapati diri saya tidak mampu lagi mendekatinya dan teman-teman tetap saya yang lain. Saya pun menjadi jauh dari mereka. Semua. Saya menjadi seorang mahasiswa solo yang berkelana dan mencari informasi seorang diri. Hinggap di titik satu, lalu berpindah ke titik lain, untuk hanya sekadar hinggap. Meskipun menikmatinya, tetapi saya akui, ini terlalu sepi dan tidak asyik dilihat. Saya tidak menyangka, praduga dan pemikiran saya setidak sehat ini. Hingga kini, saya berakhir seperti ini: Bingung dan Sepi. Salah saya memang, tak sering menanyakan informasi atau kabar ke mereka. 

Ah! Bohong, jika saya tidak merindukan dia dan semua orang. Dusta, jika saya tidak ingin bertemu atau mengobrol dengan dia dan teman-teman lain. Namun, mengapa? Mengapa saya tidak dapat kembali menyapa dia dan orang-orang seperti dulu? Mengapa saya selalu merasa takut, saya akan menyakiti mereka dengan kekurangan saya? Mengapa saya merasa serendah diri ini, ketika berkomunikasi atau bersanding dengan mereka? Mengapa saya tidak berkutik ketika melihat mereka? Mengapa saya menjadi sebodoh ini? Berpikir liar, lalu terpuruk sendiri karena hal-hal, yang tidak tepat untuk dijadikan alasan sebuah keterpurukan. Mengapa saya takut pada orang-orang, yang bahkan mereka sendiri mungkin tidak pernah kepikiran memiliki masalah dengan saya. Jangankan memiliki masalah, memiliki ingatan berarti dengan dan/atau tentang saya juga sepertinya tidak ada. Hehehe. 

See? BETAPA TIDAK DEWASANYA SAYA. 
Saya mengotori ucapan ulang tahun untuk teman saya sendiri dengan bicara tentang hal-hal tidak penting seperti ini. Seharusnya, saya memberikan doa terbaik untuknya. 
Baiklah, Dila, sahabat lucu saya, teman (non-Kebumen) pertama saya di FKM, saya tidak pandai merangkai untaian doa. Saya sudah beberapa kali mencobanya, tapi tetap saja, hasilnya tidak indah. Hanya saja, saya hanya mampu berharap kau bahagia dan tetap tersenyum dalam menapaki perjalananmu. Saya dengar, kau sudah bekerja, walaupun saya tidak tahu pasti di mana tempatnya. Selamat ya, semoga kau betah dan menikmatinya. Saya yakin, kamu pasti mengerjakan semuanya dengan baik, di sana. Saya juga dengar, kau mendapatkan rekomendasi beasiswa Bidik Misi, yang, ah, saya tidak tahu apa namanya. Saya tidak heran, kau sangat layak mendapatkannya. Saya senang. Oh, iya, terkait studi dan kariermu, semoga sukses keduanya. Untuk hal lain-lain, saya hanya mampu mengamini segala harapan dan mimpimu. Kau pandai menjalani rencana dan menghadapi uji dan coba dari-Nya dalam mencapai tujuanmu, jadi saya yakin kau pasti akan lebih dari sekadar berbahagia di setiap akhir pencapaianmu. 

Sekali lagi, selamat ya, hei cantik yang akhirnya berumur dua puluh dua.
^-^



"Request dari Ipul"
Depok, 29 Oktober 2014
Media: Kertas Gambar A3
Sudah sejak bulan Juni, teman satu paguyuban pun satu angkatan saya, Saiful Amin, atau yang akrab disapa Ipul, meminta saya menggambarkan dia dan teman-temannya. Saya menolak pastinya, awalnya. Saya tahu kemampuan menggambar saya, yang hanya modal mencontek, bentuknya tidak konsisten, dan tidak memiliki ciri khas atau teknik menggambar yang baik. Namun, karena Ipul berkata, "Nggak papa, asalkan ada gambar kepalanya aja, nggak papa deh. Ini kenang-kenangan untuk teman-teman baikku," akhirnya saya pun meng-setengah-iyakannya. Saya hanya berjanji akan mencobanya, meskipun di dalam pikiran saya seperti tengah menambahkan list hutang saya. Akhirnya, alhamdulillah, hutang itu terbayar juga. Saya akui, gambar tersebut tidak bagus. Namun, saya sangat senang melihat persahabatan yang terjalin dari mereka. (hadududuh, nggak ada hubungannya sama gambarnya deh)




"Amarilis"
Depok, 2 November 2014
Media: Kertas Gambar A5
Media: Kertas Gambar A5 Jujur, saya mencontek objek berupa bunga amarilis dari internet, ketika menggambar ini. Namun sepertinya, hasilnya sangat buruk. Tidak terlihat seperti bunga, apalagi amarilis. Menurut Nisa dan Widya, penampakannya juga kaku. Sekilas, pertama kali melihat, dia terlihat sedikit bagus. Akan tetapi, jika diamati lebih lama, ada sesuatu yang aneh dari gambar ini. Dia tampak palsu. Tidak nyata dan kaku. Saya juga sependapat dengan mereka. Saya tidak terlalu ambil pusing atau memikirkan ketampakpalsuan dari bunga dalam gambar ini. Saya menggambar dengan tidak bagus dan memang tidak untuk menjadi bagus. Hingga saat ini, saya menggambar (masih) untuk melarikan diri.

"Latihan Menggambar Dua Kepala dalam Satu Scene"
Depok, 2 November 2014
Media: Kertas Gambar A5
Entahlah apa maksudnya. 

Friday, 24 October 2014

Jika Kau dapat Mengingat Namaku

Jika kau dapat mengingat namaku nanti,
ingatlah ketika pertama kali aku menjadi ma'mum-mu
ingatlah ketika rerenyahan gerimis dengan jail mengguyur saung
ingatlah ketika kau meniup peluit besi demi sebuah persembahan untuk kami, para pejuang baru nan lugu

Jika kau dapat mengingat namaku nanti,
ingatlah ketika perang di tanah Arab kembali bergejolak,
ingatlah ketika merpati putih pengapit jerami kedamaian berangsur terbang,
ingatlah ketika abu, air dan api di sana tak mampu dibedakan

Jika kau dapat mengingat namaku nanti,
ingatlah ketika dalam gejolak itu,
keluargamu menggelar pentas,
memutihkan nurani yang menggelap,
menyejukkan akal dan menggugah hati untuk membuka mata,
ingatlah ketika itu, aku bersenandung dalam kepungan ayam coklat matang
ingatlah pula, ketika itu kau menunjukkan ibu jemarimu untukku
atas aku, ketidaksengajaanku, mengumpulkan permata yang kau inginkan

Ya....

Jika kau dapat mengingat namaku nanti,
ingatlah bahwa kau begitu berarti,
bagi wanita biasa nan canggung ini,
bagi wanita yang baru mampu berterima kasih kepada Tuhannya sendiri,
bagi wanita yang bersedia berdiri, menanti
akan orang yang belum pernah mengingat namanya dengan pasti

Menanti, menanti sembari memantaskan diri

Jika kau dapat mengingat namaku nanti...

Depok, 11 Desember 2012

Monday, 20 October 2014

Festival

Semalam aku bermimpi. Di dalam mimpiku ada kau dan Setia. Kalian sedang bermain dengan kamera di tepi sungai besar, yang airnya setinggi lutut. Di mimpiku itu sedang musim kemarau dan diadakan festival sesuatu yang sangat meriah.

Aku pergi mengunjungi festival itu bersama beberapa orang, yang aku tak yakin siapa mereka. Namun, sebelum mencapai area festival, aku menghentikan langkah karena melihat kalian berdua. Aku ingin menghampiri kalian. Namun, ternyata kita berseberangan. Aku mencari-cari jembatan. Namun, sepertinya tidak ada jembatan di dekat tempat itu. Aku hanya memandang kalian dari kejauhan.

Aku berpikir, bagaimana mungkin di sekitar area festival seperti ini tidak ada jembatan atau apa pun yang menghubungkan daratan yang kupijak dengan daratan di seberang sungai ini, tempat festival berlangsung, juga tempat kalian tengah mengistirahatkan diri. Lalu aku tersadar, festivalnya dilaksanakan di seberang sungai ini. Apakah panitianya sengaja melewatkan soal jembatan ini? Apa mereka tak ingin orang-orang di seberang, seperti aku dan orang-orang yang datang bersamaku, mendatangi festival mereka? Atau mereka lupa? Lupa? Lupa akan hal sekrusial akses ini? Kemudian aku mulai sangsi untuk mendatangi festival tersebut.

Tunggu, orang-orang yang tadi datang bersamaku? Di mana mereka? Sepertinya, mereka pergi meninggalkanku yang tengah memperhatikan kalian berdua dan memikirkan festival serta jembatan. Apakah mereka tetap pergi ke festival? Atau mungkin sudah sampai di sana? Kemudian aku merasakan sesuatu menggoresku, tapi badanku tak terluka. Aku tertunduk. Aku kira aku memikirkan sesuatu, tapi aku tak yakin apakah aku benar-benar memikirkan sesuatu. Aku hanya merasakan nyeri akibat goresan yang tak tampak itu.

Ketika aku memutuskan untuk mengalihkan pikiran, mataku secara reflek membelokkan arah pandangan. Imaji segerombol bocah tertangkap oleh kedua mataku. Tidak! Mereka nyata. Mereka tengah bermain dengan sangat bergembira di hadapanmu, di sungai itu, sungai di antara kalian berdua dan aku. Namun, kalian sepertinya tak tertarik untuk menghiraukan kegiatan mereka. Kalian tetap berbincang akrab, sembari mengelap lensa kamera.

Aku, entah bagaimana, sudah tak lagi tertarik pada kalian. Aku memusatkan perhatian dan pengamatanku pada bocah-bocah yang berbasah-basah di dalam sungai. Tetiba mataku terpaku pada sesosok anak laki-laki yang tampak familiar. Dia tertawa bahagia setiap salah satu rekan bermainnya mengguyurnya dengan air sungai, yang tetap jernih, meskipun saat itu kemarau. Tak butuh waktu lama, aku pun berhasil mengenalinya. Dia adikku. Adik pertamaku.

Tanpa pikir panjang, aku memanggilnya. Aku tidak tahu tindakan reflek macam apa yang telah kulakukan. Panggilan pertamaku tak membuatnya menoleh. Dia belum dengar. Kupanggil lagi dia, lebih keras dan lebih sering. Dia berhenti tertawa dan lebih menegakkan berdirinya. Kini tampak jelas dia bertelanjang dada, tubuh atasnya tak berbaju. Kepalanya celingak-celinguk mencari-cari sumber suaraku. Rekan-rekannya pun bergeming, sesekali turut membantu mencari. Posisinya membelakangiku, pantas dia lama menyadari keberadaanku. Kupanggil dia sekali lagi dan kali ini dia berhasil mendeteksi arah suaraku.

"Hmm," gumamnya seraya mengangkat badannya sendiri dari sungai, menjauhkannya dari rekan-rekan bermainnya. Dia menemuiku, setelah mengambil kaos putih yang diparkirnya di tepi sungai, tepi sungai di mana aku tengah berdiri.

Dia? Dari mana dia memanjat? Cepat sekali? Apakah begitu cara menyeberangi sungai ini? Tak ada jembatan, apakah harus betul-betul ke bawah dan menyeberanginya langsung? Aku menelusuri bibir sungai yang cukup tinggi ini, mencari-cari jalan atau setidaknya tempat landai yang paling mungkin dapat dilalui untuk turun ke sungai. Sial sekali aku tak memperhatikan dengan baik bagaimana tata cara yang dilakukan adikku hingga dia sampai di sini, di hadapanku.

Dia sudah di hadapanku?

Lantas apa yang akan kulakukan padanya sekarang, setelah dia sudah ada di hadapanku? Bahkan aku tidak memiliki alasan untuk memanggilnya. Aku hanya ingin memanggilnya. 

Dia terdiam, sama sepertiku. Kami hanya saling pandang. Dia tak menanyakan apa pun dan aku bersyukur dia tak bertanya.

Kondisi saling diam itu berlangsung sangat lama. Biasanya aku akan sangat bosan ketika terlibat dalam kondisi seperti itu. Namun, kali ini aku menikmatinya. Aku tak bosan, walau hanya berdiri diam dan memandangnya. Aku sendiri tidak tahu bagaimana dengannya karena wajahnya sama sekali tak menyumbangkan ekspresi.

Aku tak ingin dia bosan dan meninggalkanku. Maka aku mengajaknya berkeliling. Aku sudah tak tertarik pada festival itu atau pada kalian yang bermain kamera tanpa peduli apa yang ada di sekitar kalian. Aku hanya ingin aku berada di dekat adikku. Aku ingin dia mengikutiku, menghiraukanku, meski dia tak bicara apa pun.

Kami melangkah pelan, menikmati setiap hal yang ada di sekitar sungai dan padang rumput hijau yang sedang kami injak-injak itu. Ini seperti senja, tapi aku bahkan tak yakin saat itu sudah mencapai pukul lima. Dia masih diam, aku pun demikian. Kami diam sepanjang perjalanan.

Cukup lama kami berjalan, tapi lelah sama sekali tak terasa menggoda kaki. Kami pun tiba di suatu tempat. Tempat yang saat ini adalah tempat sejarah bagiku.

"Gedung sekolah? Sekolahmu?" tanyanya.

Aku mengangguk. Rasa hangat menjalar di tubuhku. Sepertinya, aku bahagia karena akhirnya dia berbicara.

"Kenapa?" tanyanya lagi.

"Kenapa?" aku berbalik bertanya. Aku bukan bertanya padanya, melainkan pada diriku sendiri. Kenapa aku mengajaknya ke sini? Aku tak punya jawaban untuk ini. Aku tidak tahu. Aku diam tanpa menampakkan kepanikan atau kebingungan dalam mencari jawaban untuknya. Kenapa? Aku pun tidak tahu kenapa tiba-tiba kami bisa sampai di sini. Dan aku pun melarikan diri, menghindari tatapan penasarannya dengan membuang pandanganku ke arah tiang voli.

Dia tidak bertanya lagi. Dia hanya menungguku menjawabnya. Dia percaya aku akan menjawabnya. Ini terlihat dari matanya, yang kulirik lewat ekor mataku. Dia bersabar. Aku terkesan.

Kutepuk bahu kanannya seraya berkata, "Bersihkanlah dirimu dan pakaianmu. Kau tampak kacau setelah bermain di sungai." Hanya kata-kata itu yang meluncur dengan lancar dari mulutku. Entah kupungut dari mana mereka.

Dia mengangguk. Aku membawanya ke taman sekolah, menuju sebuah keran yang berada di tepi kolam ikan di wilayah taman tersebut. Dia mendekati keran itu, menyalakannya, membersihkan kaki, tangan, wajah, dan rambut di kepalanya. Apakah dia adikku yang biasanya? Dia menurutiku dengan mudah, tidak seperti biasanya. Dia tak membantah atau banyak bertanya. Namun, dia kehilangan tawa, seperti tawa yang dilakukannya di sungai. Apa aku tak memahami sesuatu? Apa aku melewatkan banyak hal? Apa aku memang tak mengenalnya?

"Sudah," katanya pasca berbasuh.

"Iya? Kau tampak lebih baik," pujiku jujur.

"Iya. Ini segar. Tapi kenapa?" dia kembali bertanya tentang itu lagi.

Aku tak menjawabnya. Aku masih tidak tahu. Lalu aku mengajaknya pulang.

"Kalau begitu, kita pulang?" tanyaku, retoris.

Dia mengangguk. Kami pun bertolak dari sekolah.

Di tengah perjalanan menuju rumah, tetiba aku teringat akanmu. Aku mulai bertanya-tanya. Apa kau masih di tepi sungai? Apa kau masih berfokus diri pada kamera? Apa kau masih bersama Setia? Atau sudah pulang dan merebahkan diri? Aku penasaran dan memutuskan untuk kembali ke tepi sungai, tempat kalian duduk bersantai.

"Aku masih punya urusan. Kau bisa pulang sendiri?" tanyaku kepada adikku.

"Ya. Aku akan pulang," jawabnya.

"Pastikan sampai rumah dan bertemu dengan mereka," pesanku.

"Ya," jawabnya singkat.

Kami berpisah. Aku berbalik arah, melangkah menuju tepian sungai. Aku sempat menengok ke belakang sesekali, melihat punggungnya menjauh, memastikan dia memilih belokan yang benar, hingga dia tak lagi terlihat.

Aku berjalan sedikit lebih cepat, bahkan semakin cepat, dan kudapati tetiba kakiku setengah berlari. Apa aku sepenasaran itu? Penasaran akan apa?

Entah berapa lama waktu yang kuhabiskan, tapi saat aku tiba di tempat parkir festival, napasku terengah-engah. Festival? Aku di area festival tanpa perlu menyeberangi sungai?

Aku melihat ke arah Barat, dua puluh meter dari tempatku berdiri. Sungai itu masih ada. Jadi, aku tidak berhalusinasi beberapa saat lalu, saat aku melihat kalian, saat aku tak menemukan jembatan, saat aku putus asa untuk mendatangi festival, saat aku menemukan adikku, dan saat aku berjalan di tepian sungai itu bersamanya. Lalu bagaimana caraku sampai ke festival ini tanpa menyeberangi sungai itu?

Persetan! Mungkin aku telah mengambil jalan memutar tanpa sadar, jalan alternatif yang tak pernah aku tahu keberadaannya selama ini, dan aku menemukannya secara tiba-tiba tanpa aku ingat, bahkan tanpa kau sadari. Apakah aku baru saja mengumpat dan menyumpal umpatan itu sendiri?

Saat aku berpikir tidak penting itu lah, aku melihatmu keluar dari tempat parkir. Kau memacu hati-hati sepeda motormu. Aku senang dapat menemukanmu tepat waktu. Tanpa pikir panjang, aku berlari ke arahmu, tepat menyongsong kau dan sepeda motormu.

Tak kusangka, kau terkaget lantas mengumpat dengan keras, "Sial! Apa kau cari mati, hah?"

Aku diam membatu.

"Awas! Menyingkirlah dari depanku, apa kau sengaja mengumpankan diri?" katamu lagi sembari berteriak.

Aku terperangah. Kau berbeda. 

Orang-orang telah mengalihkan perhatian mereka dari aktivitas mereka --menjelajahi kemegahan festival-- ke arahku yang tengah dimaki, membuatku mengerti apa yang namanya hampir mati. Sayup-sayup aku dapat mendengar mereka berbisik.

'Ada apa?'
'Ada seorang gadis yang hampir tertabrak motor.
'Wah! Pakaian wanita itu aneh sekali!
'Eh, dia tuli ya?'
'Tidak. Mungkin, hanya kaget.'
'Ibu, aku takut. Hiks hiks.'
'Kasihan, gadis itu.'
'Pemuda itu keterlaluan, berteriak seperti itu.'
'Tch! Gadis itu yang salah. Dia sengaja menabrakkan diri. Dasar bodoh.'
'.......'


Dan semakin banyak sekali orang yang sengaja datang untuk menontonku. Mereka membangun opini mereka sembari mengerubungiku. Apa aku tengah diperhatikan? Jadi, beginikah rasanya menjadi pusat perhatian? Jika iya, maka aku tidak suka menjadi pusat perhatian. Apakah mereka tak bisa meninggalkanku dan kembali ke festival? Aku bukanlah festival! Kecuali, mereka benar-benar menganggapku sedang berfestival kematian.

"KAU BEGO, HAH?" kali ini kau meneriakiku kelewatan hingga aku kehilangan kesabaran.

"Kau t...tak me..menge..mengenalku?" tanyaku. Apakah begini caraku mengekspresikan kehilangan kesabaran itu? Namun, benar, aku merasa kita seperti orang asing.

"Mengenal? Dasar aneh! Minggir!" bentakmu, sontak membuatku menepi tanpa melawan. Mendengar jawabanmu dan caramu berteriak padaku, sepertinya kau tak ingat padaku. Atau memang kita sama sekali tidak pernah berkenalan?

Kerumunan di sekelilingku menyepi, tetapi masih terdengar kasak-kusuk dari mereka yang sepertinya topiknya adalah aku. Aku tak peduli dengan mereka, yang aku pikirkan hanya kau yang tak mampu mengingatku. Apa kita benar-benar pernah berkenalan?

Dan begitulah festival mimpi ini berakhir. Aku mendapatkan adikku kembali, tetapi tak mampu dikenali oleh dirimu lagi.

Saturday, 11 October 2014

Terpaku

Aku belum mengizinkan diriku diterbangkan oleh angin,
sebab aku gembira menanamkan jiwaku di sini,
meski aku berdusta dan mengkhianati ragaku sendiri,
yang telah lebih dulu pergi,
dan kini ia terjebak setengah diri,
di perbatasan alam nyata dan mimpi

Dua kepala bocah telah kulompati,
detik dan jarak perjalananku tak lagi terasa berarti,
kulaju langkahku tanpa henti,
tetapi bayangku tak jua mengikuti
Haruskah aku berhenti,
dan mulai membangun tenda di sini?

Tatkala mentari mulai menenggelamkan diri,
kehampaan memenjarakanku dalam bui tanpa jeruji,
aku memakukan diri tanpa berniat untuk melarikan diri,
menguping gagak yang berkicau tanpa solmisasi,
memandang ilalang yang menari tanpa emosi,
hingga tetiba rembulan datang mencibir sembari menendang pergi sang mentari

Aku tak ingin meraih gemintang,
tak berhasrat menorehkan jejak di pasir pantai milik seseorang,
tak berniat menancapkan bendera di puncak gemunung untuk disaksikan banyak orang,
tak berdaya untuk melukiskan peta dan merancang menara pencakar angkasa,
dan karenanya aku menderita kelumpuhan tak kasat mata
Aku tak bergerak, kehilangan kendali, bahkan suara untuk memanjatkan pinta

Keterjebakanku, tanpa melaun-laun, telah mematikan sendi dan kesadaran
Aku tak tahu cara mempersatukan raga dan jiwaku yang telah berseberangan alam
Aku tak kuasa memaksa bayanganku menyamai langkah yang telah berlari meninggalkannya
Aku tak mampu memecahkan kehampaan yang memurukkanku dalam kegelapan
Apakah akan ada keajaiban atau setidaknya kesempatan

bagi seseorang yang telah kehilangan keinginan bahkan ingatan akan pencapaian? 

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...