Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts

Thursday, 13 November 2014

Senja Bersama, Merkurius dan Venus (2a)

*Saya mengadaptasi judul cerita ini dari judul cerpen seorang adik angkatan, tentu saja dengan isi cerita yang berbeda.*
*Alur cerita lambat dan mudah ditebak. Jika tidak suka, jangan coba-coba membacanya.*
*Ber-genre drama keluarga. Bukan penyuka cerita drama tidak dianjurkan untuk membacanya.*
*Ini bagian ke-2. Bagian ke-1 dapat dibaca di sini*

Selamat membaca! :D
________________________________________________________________________________________________

Kepingan 2a: Takdir yang Tertukar

Deng. Deng. Deng.

Itu suara jam kayu yang kesepian, berdiri seorang diri di ruang baca. Ia menabuh lonceng, yang menggantung malas di badannya, sebanyak tiga kali. Oh. Sudah pukul tiga sore rupanya. Artinya, sudah satu jam lamanya aku duduk bermalasan di atas kursi lesehan berlengan sambil menonton televisi. Satu menit lagi. Oh tidak. Tiga menit lagi. Aku yakin tiga menit lagi, FTV dengan cerita picisan tentang seorang casanova yang jatuh cinta pada asisten rumah tangganya ini akan segera berakhir. Merasa tertantang oleh diri sendiri, aku mencari-cari pengukur waktu untuk membuktikan dugaanku. Aku menemukan selulerku, kemudian menyalakan aplikasi stopwatch yang ada di dalamnya.

Klik. Menit kosong kosong. Sang casanova kini sedang mengendarai motor besar berwarna merah dengan kecepatan tinggi. Wajahnya hampir seluruhnya tertutup oleh helm full face yang dikenakanya. Hanya matanya yang tampak, menajamkan fokus, tetapi juga mengisyaratkan kegelisahan. Ia sedang terlibat dalam aksi pengejaran, mengejar si asisten rumah tangga yang sudah lebih dulu bertolak dari rumahnya, menuju terminal bus ibukota. Pria ini, dikisahkan baru saja lolos dari pergolakan batinnya sendiri. Akhirnya, ia sadar bahwa ia memang menyayangi si asisten, jatuh cinta tepatnya. Jatuh cinta pada kemampuannya dalam meracik jamu tradisional. Namun, ternyata ia terlambat. Sang asisten rumah tangga terlanjur mengundurkan diri karena berbagai uji, salah satunya patah hati karena sang majikan menuduhnya mencuri. Tertebak sekali.

Menit kosong tiga puluh tiga. Sang majikan casanova berlarian di terminal, mencari sosok asisten yang membuatnya gila hingga mengejarnya ke terminal yang tak ia kenal. Ia tampak berlari dari satu sudut ke sudut lain. Butir-butir keringat bermunculan di keningnya, mengalir hingga ke pipi menyerupai air mata yang memilukan. Ketika ia hampir menyerah dan memutuskan untuk menyeret badannya kembali menuju motor besar, yang entah mengapa diperbolehkan terparkir bebas bukan di tempar parkir seharusnya, si gadis asisten rumah tangga itu muncul dari balik dinding.

Menit satu kosong satu. Mereka bertatapan. Kamera di-setting berputar, mengitari mereka, persis seperti adegan di film india. Tampak, mereka yang tengah berdiri berhadapan terpisah jarak hanya sekitar dua setengah meter. Background  musik ala pop melayu mengalun meliuk, mengiringi prosesi saling pandang mereka yang memakan waktu lebih lama daripada lama pencarian terhadap si asisten rumah tangga tersebut.

Menit dua kosong tujuh. Cklik!

Aku bosan. Aku matikan televisi, yang tengah menampakkan dua orang tengah berdialog panjang, saling mengutarakan penjelasan dan mematahkannya sendiri, itu. Aku menghabiskan satu jam yang berharga untuk menonton kisah cinta klise para anak muda yang alur dan akhirnya sangat mudah ditebak. Aku sendiri pun bertanya-tanya, mengapa aku tetap bertahan mengikuti jalan ceritanya, padahal aku sudah tahu akhir dari kisah cinta pasaran mereka berdua. Mungkin, aku terlalu baik. Seharusnya stasiun televisi swasta itu membayarku atau memberiku bingkisan menarik atas jasaku, setia menonton hasil kerja mereka yang setengah payah, setiap hari.

Drrrrt. "Permisi! Paket! Paket!"

Eh? Apakah mereka betul-betul mengirimkan bingkisan menarik sebagai hadiah untuk para pemirsa baik hati sepertiku? Plak. Aku tampar mukaku dengan halus, berniat menyadarkanku dari kantuk yang mulai membuatku berhalusinasi, hingga tak mampu membedakan dunia drama dan nyata.

"Ya, Mas. Tunggu sebentar," teriakku dari dalam ruang keluarga, tempat yang sama dengan tempatku menonton televisi. Sayup kudengar jawaban "oke" dari teras depan.

Aku berjalan ke arah pintu dengan cepat. Kemudian bergegas membukanya dan tampaklah seorang kurir dengan seragam dan topi bercorak oranye cerah, membawa sebuah kardus kecil di tangannya. Mataku tertuju pada sebuah bentuk familiar yang ada di muka topinya. Eh? Bukankah itu logo sebuah toko online yang sangat rajin beriklan di televisi, youtube, bahkan halte bus sekolah Keke dan Dede? Heee? Siapa yang berbelanja online?

"Ibu, ini paketnya silahkan diterima," kata mas kurir sambil menyodorkan kardus berbentuk kubus, berukuran sekitar 15 cm.

Aku menerimanya dengan ragu. Namun, ini aneh karena si mas kurir tidak langsung pergi. Ia merogoh tas pinggangnya mencari-cari benda yang sepertinya penting. Bonkah? Aku curiga, jangan-jangan paket atau pesanan ini belum dibayar. Ah, orang itu memang keterlaluan. Mentang-mentang aku memotong uang jajan bulan ini, ia ingin membalasku dengan menyuruhku membayar barang belanjaannya yang tidak jelas ini. Betul juga. Ia tidak pernah bilang ia akan membeli suatu barang. Ya ampun. Awas saja, kalau nanti ia pulang.

"Mmm... Maaf, mas..." panggilku. Si mas kurir mendongak ke arahku, kebingungan, karena aku menyodorkan kembali paket, yang baru saja kuterima, kepadanya.

"Kenapa, Bu? Salah alamat, ya?" tanyanya tampak resah. Kepalanya celingak-celinguk untuk memastikan, sepertinya mencari plat alamat, RT/RW, atau nomor rumah, yang mungkin terpaku di salah satu dinding rumahku.

"Hmmm.... Jadi..." jawabku terpotong oleh ia yang tiba-tiba menyambar berbicara dengan cepat.

"Jadi, ini bukan rumah ibu Rindah K. Ihsani? Ini jalan Kenanga Nomor 9A, KAN? RT 2, KAN? RW 3, KAN?" tanyanya membabi buta dengan disertai penekanan pada setiap pengucapan kata 'kan'.

"Hoo... Betul, betul, BETUL," sanggahku tak ingin kalah dengan sedikit menaikkan volume suara. 'Cuma, saya nggak pesan apa-apa di toko online mas, loh. Suami saya juga nggak bilang lagi nunggu paket sesuatu. Jangan-jangan, masnya oknum, ya? Mau menipu dengan modus cash on delivery pesanan toko online? Saya bisa laporin mas ke polisi loh!' dalam hati aku ingin mengatakan hal itu.

Namun, entah mengapa kata-kata yang keluar hanya, "Pesanan ini udah dibayar, mas?" dan ditambah dengan bonus senyuman setengah paksa yang pasti sangat aneh dilihat.

Si mas kurir pun tertawa, lalu menjawab, "Yaelah, si Ibu. Cemas amat. Kirain aye salah alamat. Udah kok, udah dibayar. Toko kami sekarang tidak melayani pembayaran di tempat alias semua transaksi dilakukan melalui transfer. Tenang aja deh, Bu. Ini, ibu tinggal tanda tangan di sini dan aye akan segera pergi."

Melongo. Aku masih mencerna keadaan. Pelan-pelan kutorehkan tanda tangan di atas kertas kuning yang disodorkannya.  Lagi-lagi aku berpikir yang tidak baik, tentang si kurir, tentang si toko online, juga tentangnya, suamiku sendiri. Ya Tuhan. Aku hanya berharap Tuhan memaafkan segala pikiran burukku beberapa saat lalu. Inilah aku, ibu rumah tangga dengan pemikiran setara pemikiran bocah ABG labil. Parahnya lagi, si ABG labil ini terperangkap dalam tubuh dan wajah orang dewasa, berusia tiga puluh satu tahun, dengan dua anak.

Eh? Parah? Ralat. Bukan parah, ini anugerah.

Sebentar, aku potong dulu kisah tentangku. Aku ingin mengantarkan si mas kurir sampai pagar sebagai pengganti rasa bersalahku, menuduhnya melakukan hal yang tidak-tidak.

"Yap! Ini pulpennya, mas. Terima kasih, ya," ucapku sopan kepada si mas kurir.

"Oke, Bu. Lain kali, santai aje ye, Bu, kalau dapet kiriman paket, apalagi dari aye. Sayang loh, gara-gara kebanyakkan mikir, ibu nggak menyadari kegantengan muka aye." balasnya, panjang lebar, dengan logat betawi yang kental.

Aku kembali tersenyum setengah terpaksa. Si mas kurir melangkah pergi, keluar dari pagar. Sendirian, karena aku membatalkan niatku untuk mengantarnya hingga ke pagar, setelah mendengar guyonan tidak lucu darinya. Entah mengapa, timbul sedikit rasa sebal akibat perkataannya. Bukan karena ia mengucapkan kata-kata sedikit tidak sopan, melainkan karena ia menerkaku, menyebutku sebagai orang yang terlalu banyak berpikir.

Namun, jika dipikir-pikir, ia tidak salah. Ia mengatakan fakta. Aku memang memiliki kebiasaan berpikir kejauhan. Payahnya, wajahku tidak pandai berekspresi dan aku pun tidak mampu bersembunyi di balik ekspresi palsu ketika aku sedang berpikir. Akuarium. Teman-teman lamaku memanggilku akuarium karena kebiasaanku ini. Orang lewat pun dapat mengetahuiku sedang berpikir bahkan menebak isi pikiranku dengan hanya melihat ekspresi wajahku.

Setelah memastikan si mas kurir telah betul-betul pergi, aku menutup pintu depan dan melangkah ke dalam rumah, membawa serta paket tersebut. Aku memilih kembali mendudukan diri di ruang keluarga. Keke dan Dede tengar tidur siang dengan beralaskan kasur lantai, di sampingku.

Kulirik selulerku, ternyata baru jam tiga lewat tujuh. Mereka baru tidur selama lima puluh menit. Aku bisa membuat mereka terbangun, jika aku membuka paket ini di sini.

Akhirnya, aku meninggalkan mereka yang masih tidur dengan lelapnya, meski terkadang tanpa sadar aksi saling tendang terjadi di antara keduanya. Langkahku berhenti di sebuah ruangan berukuran 4x4 meter, berbingkai rak-rak buku di tiga sisi, yang baru setengahnya terisi. Di tengahnya, ada dua meja: satu meja besar yang lebar dan satu meja kecil nan pendek. Di kedua sisi masing-masing meja, tersembunyi sepasang dudukan kursi berlengan.

Ini adalah ruang baca kami. Tempat favoritku ketika sedang ingin berkarya, tempat belajar paling disukai anak-anak, juga tempat yang paling sering dikunjungi olehnya setiap harinya. Jika kata orang rumah adalah sebuah istana, maka ruangan ini adalah istana dalam istana itu sendiri, baginya.

Ruang baca. Ini tempat yang cocok dan nyaman untuk melakukan aksi penggeledahan terhadap paket ini. Namun, sepertinya aku tidak perlu menggeledahnya karena paket ini memang dialamatkan untukku. Ada nama lengkapku, bahkan nama belakang suamiku dalam catatan penerimanya.

Kutarik penyangga salah satu kursi besar dan segera kududuki tanpa pelan-pelan. Tiba-tiba aku menjadi tidak sabar, terlalu ingin tahu benda apa, yang kemungkinan besar pengirimnya adalah ia. Aku melepas bungkus paket itu dengan sangat hati-hati, tidak ingin membuatnya terkoyak dan tampak tidak rapi. Jika bungkus paket ini berantakan dan rusak, aku tidak dapat membungkusnya lagi. Hanya berjaga-jaga.

Jantungku tetiba berdebar, ketika aku mulai menarik selotip yang menyatukan kedua penutup mulut kardus. Apakah ini sesuatu yang sangat indah atau mahal? Mengapa kardusnya terlihat lucu? Apakah toko online itu juga menjual berlian? Apakah hari ini ulang tahunku? Ulang tahun pernikahan? Satu per satu pertanyaan kekanak-kanakan muncul dalam pikiranku.

Kejutan. Ini adalah kejutan. Sekarang aku yakin, paket ini pasti darinya. Ia tahu bahwa aku sangat menyukai kejutan dan apa ini? Sebuah benda berbentuk balok terhidang di dalam kardus. Aku memungutnya, memperhatikan detail di setiap sisinya, dan aku pun terlonjak.

Ini seperti pernah terjadi. Ia pernah memberiku benda ini, dulu. Dulu sekali. Tidak betul-betul memberikan benda itu untukku sebetulnya. Di lihat dari sisi mana pun, benda ini sangat mirip dengan yang dulu. Merk, desain, motif, bahkan warnanya.

Apa maksud ia memberiku ini?

Apakah ia ingin aku mengingat sesuatu? Ia betul-betul lucu. Aku tidak perlu mengingat apa pun karena aku tidak akan pernah melupakan apa pun. Tidak, kecuali aku mengalaminya tidak dengan bersamanya.

*****
Akhir Desember, 1998. 
Ini adalah malam Minggu yang paling membahagiakan bagiku karena lusa adalah tahun baru. Libur dua hari berturut-turut seperti ini adalah hal langka yang diidam-idamkan oleh banyak orang, tak terkecuali aku. Terlebih, karena aku tidak perlu berjumpa dengan Senin yang menjengkelkan di mana ada pelajaran olah raga di hari itu.

Aku sudah menyusun segunung rencana yang akan kulakukan untuk menghabiskan libur dua hari ini dan tentu saja tidak sabar menanti datangnya esok pagi. Mataku sampai-sampai tak mau terpejam. Keduanya menerawang ke langit-langit kamar, samar-samar membayangkan apa saja yang akan aku lakukan besok. Siluet abu-abu dan putih tergambar jelas dalam bayanganku, menari-nari di atas hamparan pasir yang tersapu ombak kemilau. Aku sangat merindukan pantai.

Aku sendirian di rumah. Dua hari ini ayah, bunda, Rindy, dan Namira akan menginap di rumah tante Sherry, yang baru saja melahirkan anak laki-laki keempatnya. Mereka tidak curiga kepadaku, ketika aku menolak untuk ikut dengan alasan lutut kiriku, yang dioperasi tahun lalu, terasa lebih lelah dari biasanya. Tentu saja aku mengarangnya karena sebetulnya, selepas operasi itu, kakiku sama sekali tidak pernah bermasalah. Aku terpaksa berbohong kepada mereka karena hanya itulah satu-satunya cara agar aku dapat bermain dengan tenang.

"Riiindaaah! Hey, apa kau di rumah?"

Siapa? Sepertinya aku tidak mengundang siapa pun untuk datang ke acara selamatan. Tunggu, sepertinya selamatan itu diadakan di rumah Tante Sherry, bukan di sini. Lagipula, mengapa ia berteriak-teriak memanggil namaku seperti itu? Aneh. Aku seperti mengenali suaranya, jika saja tanpa serak.

"Hey! Rindah! Aku tahu kau di rumah. Tadi sore aku melihat semua anggota keluargamu pergi dengan carry coklat ayahmu. Mereka pasti akan pergi ke rumah Tante Sherry, paling tidak untuk tiga hari. Dan aku yakin pasti kau telah berbohong kepada mereka dengan berkata lututmu bermasalah agar kau diperbolehkan untuk tidak ikut, bukan?" teriak suara yang berasal dari halaman samping itu.

'Sial! Itu pasti Dewa!' batinku. Bagaimana mungkin aku tidak mengenali suaranya. Ada apa dengan suaranya? Aku harus segera membungkamnya sebelum mbak Uci menyadari makna teriakannnya dan melaporkannya kepada ayah.

"Hey, Rindah!" teriaknya lagi. "Lama sekali, apa kau tak takut kalau mbak Uci..."

Ckrkk. Suara pintu samping yang kubuka berhasil membuatnya diam. Aku memberinya pandangan kesal, meskipun dalam hati aku sebetulnya tengah terheran-heran karena ia selalu dapat menebak apa kupikirkan.

"Apa kau tidak bisa sedetik saja membuat mulutmu diam, Wa? Sepertinya lain kali aku harus menyumpalmu dengan kaus kaki Namira. Dan kau tahu Dewa apa akibatnya, jika mbak Uci tahu dan melaporkannya kepada Ayah. Aku tidak main-main dengan perkataanku saat itu. Mengerti???" jawabku sewot. 

Aku sangat sebal dengan sifat kekanak-kanakannya. Tahun ini, ia berumur 14 tahun, tapi tingkahnya masih sama seperti 5 tahun yang lalu, ketika kami pertama berkenalan. Kuduga, tingkah kekanak-kanakkan inilah yang membuatnya tak pernah sekali pun disukai seorang gadis di sekolah, meskipun ia sangat pintar. Ini membuatnya tampak memperihatinkan. Ah, aku melantur.

Dewa tak begitu mendengarkan perkataanku. Sesekali ia menguap lebar dan menggaruk-garuk kaki kirinya, yang kutebak tidak gatal sama sekali, dengan kakinya yang lain. Ia memang selalu seperti itu, menyebalkan. "Ya, Nyonya? Sudah selesai pidatonya, ibu negara?" lagi-lagi ia mengucapkannya. Ia memang selalu menjawabku dengan kata-kata itu. Dan aku hanya menjawabnya dengan mengangkat bahu atau memutar bola mataku. 

Aku akhirnya mempersilahkan ia masuk. Lebih tepatnya, ia sendiri yang memperilahkan diri masuk, dengan mendorongku ke samping pintu sehingga ia dapat melompat masuk dengan gerakan yang tidak terlihat lucu sama sekali.

"Hey, dengar! Kau sudah besar, bocah! Perhatikan perubahan suaramu. Kau tidak pantas bersikap seperti bocah lagi. Mengerti?" Entah mengapa tiba-tiba aku mewujudkan kekesalanku menjadi kenyataan.

Dia terbelalak dan berhenti melompat-lompat. 

Satu, dua, tiga detik, dan ia pun tertawa terbahak-bahak, "Buahahaha... Tentu saja aku bukan bocah lagi. Menurutmu siapa yang lebih bocah di sini? Aku atau kau, bocah?" jawabnya sambil tertawa mengejek. Sombongnya kambuh, ia mulai membanggakan suaranya yang kini memang terdengar lebih berat dibandingkan dua bulan lalu.

Aku dapat merasakan panasnya amarah merayapi pipiku. Memang untuk beberapa hal, aku lebih kekanak-kanakkan daripada dia. Namun, ini bukan berarti bahwa ia lebih dewasa dariku. "Tentu saja kau yang lebih bocah karena aku satu tahun lebih tua darimu, bocah!'

"Sepuluh bulan, dua puluh lima hari tepatnya! Itu belum genap satu tahun, Ndah!" jawabnya meralat kalkulasiku.

"Ya! Tapi sudah beda tahun lahir. Itu sama saja," tentu saja aku tak mau mengalah.

"Jelas berbeda, Rindah. Lagipula, bukankah kita berada di tingkat yang sama? Wah! Apa ini artinya? Jika bukan karena aku yang terlalu pintar, pasti karena kau begitu bodoh. Apa kau pernah me-ngu-lang kelasmu selama satu tahun, Ndah? Hahahaha..."

"STOP, Dewa! Kau mulai mengusik topik ini lagi. Aku tidak suka, INGAT?!! Bertingkahlah sesuai umurmu, Dewa!" akhirnya emosiku meledak. Sekarang aku yakin, aku dapat membuatnya merasa bersalah karena sekarang ia terlihat menundukkan kepalanya. Mungkin saja sekarang matanya berkaca-kaca atau malah mungkin sudah mulai basah? Ia memang jail, tapi juga sangat sensitif dan sangat benci dibentak. 

Tiba-tiba, seperti muncul suatu energi dari dalam diriku yang menonjok perasaanku. Apa aku sudah keterlaluan padanya?

Aku mendekatinya, merendahkan tubuhku agar dapat sedikit mengintip wajahnya dan tiba-tiba, ia berteriak dengan sangat keras "BRAAH!!! Ya, nyonya? Ada yang bisa saya bantu?" 

Ia melompat ke depan, ke arahku yang tengah memperhatikannya dengan cemas, membuatku terkaget dan terjengkang ke belakang. Tentu saja ia hanya tertawa terguling-guling di sofa menyaksikan posisi dan ekspresi wajahku yang tengah memancarkan aura marah, cemas sekaligus terkejut. 'Aku menyesal mengkhawatirkanmu, Wa!'

"Ya! Ada! Tinggalkan aku sendiri, kecuali kau ada urusan penting denganku atau memberiku SESUATU MENARIK yang baru!" jawabku akhirnya, begitu acak. 

Namun, sepertinya, ini berhasil membungkamnya. Kulihat ekspresi wajahnya berubah. Ia sudah berhenti tertawa dan mengalihkan segala fokus perhatiannya pada tangannya yang tengah mengorek-orek satu per satu saku-saku celana longgarnya.

"Aha! Aku punya ini, Ndah!" sebuah benda tiga dimensi, berbentuk persegi panjang, tetiba muncul di depan mataku. Aku tak cepat mengenali benda itu. Terlebih karena benda ini terpoles warna silver jernih, memantulkan cahaya yang masuk melalui ventilasi pintu kamar Rindy yang setengah terbuka. Silau dan aku membutuhkan setidaknya lima detik untuk mengenalinya dengan baik.

"HARMONIKA!?" teriakku seketika. Kurebut benda itu. Kuputar-putar sembari mengamati setiap detailnya. Aku selalu tertarik dengan setiap alat musik yang dibawanya, begitu pula dengan harmonika ini. Ini pertama kalinya aku melihat dan menyentuh harmonika dengan indra perabaanku sendiri. Ia tampak begitu kaku, mengkilat dan misterius.

"Kau suka? Rindah?" tanya Dewa memotong aktivitasku yang tengah terbengong-bengong mengamati sebuah benda mungil di genggamanku.

"Lumayan," jawabku singkat dan datar. Tentu saja aku sangat menyukainya. Aku sangat menyukai setiap benda-benda yang bersuara, bahkan jika benda itu hanyalah atap teras belakang, yang bersuara ketika diterpa reruntuhan hujan. Atau sekadar suara teko teh Bunda, yang bersiul dengan nada tinggi di setiap pagi. Aku sangat menyukai mereka, meskipun Ayah sangat tidak suka ketika aku bilang aku menyukai musik.

Aku mengalihkan pandanganku dari harmonika itu kepada Dewa. Aku ingin sekali mengatakan terima kasih. Namun, aku tidak ingin membuatnya besar kepala dan mungkin... aku terlalu gengsi untuk mengapresiasi seseorang yang lebih muda dariku. Apalagi jika orang itu adalah Dewa.

"Sama-sama," kata Dewa tiba-tiba.

"Apa? Aku tidak mengatakan apa-apa," protesku.

"Yeah, tapi matamu mengatakan segalanya, Ndah!" jawabnya dengan cekikikan.

"Oke, baiklah. Terima kasih, Dewa!!!" ucapku datar, akhirnya, masih tanpa memandangnya. Seluruh perhatianku seolah hanya dapat tercurah untuk benda di tanganku ini.

"Oke, tak usah memaksakan. Ayo mulai rekaman!" katanya sambil mengeluarkan alat perekam.

"Ehh? Jadi, lagi-lagi ini bukan untukku?" jawabku, pura-pura kaget.

Entah mengapa, kali ini, justru Dewa yang sepertinya menampakkan keterkejutan. Alisnya mengendur, air mukanya menampakkan kesalahtingkahan. "Apa kau sangat mengingkannya, Ndah? Maaf. Aku tak bisa memberikanmu yang ini juga. Aku hanya, yeah... kau tahu, kan? Menerima apa yang diberikan oleh Papa... dan tentu saja meminta tolong padamu untuk memainkannya... dan aku akan merekamnya... dan menunjukkannya ke Papa ketika ia pulang... dan... "

"Hahaha, iya, boy! Aku hanya bercanda, tentu saja! Aku juga tidak mungkin menyimpannya untukku, di rumah ini. Jika Ayah menemukannya, ini bisa berbahaya. Kena kau, Dewa!" kataku. Geli sekali melihatnya bertingkah salah tingkah dan lucu seperti itu.

Semenjak kepindahan keluargaku ke kota belimbing ini, lima tahun lalu, aku telah berteman akrab dengan Dewa. Dari sinilah aku mengenal dan menyukai musik. Dewa sangat pandai dan tahu banyak tentang musik, tapi tidak untuk memainkannya. Ia pandai sekali mengulang apa yang diajarkan ayahnya, tapi tidak mampu mengaplikasikannya. 

"Terkadang aku penasaran, mengapa takdir kita seperti tertukar," katanya tiba-tiba.

Aku diam, tidak memiliki jawaban yang cukup baik untuk kuberikan padanya karena diam-diam aku pun sebetulnya sering menanyakan hal yang sama.

"Hey, ayolah! Kita sudah terlalu sering membicarakannya. Aku bosan. Sekarang, aku sudah tidak sabar untuk mencoba harmonika ini. Ini alat musik tiup pertama yang kau perlihatkan kepadaku, Dewa. Ayo kita ke tempat itu!" jawabku sembari menariknya ke sebuah tempat.

Ia hanya diam dan menurut. Aku tahu ia tengah memikirkan hal itu. Ia pasti akan bersedih setelah ini dan aku tidak suka melihatnya bersedih.

"Dewa. Kau mau ikut ke pantai denganku?" ajakku, spontan.

"Kapan?" tanyanya.

"Besok pagi. Kita langsung berangkat setelah subuh. Tidak boleh telat, karena ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang," jelasku.

"Oh begitu," jawabnya datar. Aku menoleh padanya, berharap memperoleh tambahan jawaban. "Baiklah, saya akan ikut, jika Nyonya memang memaksa," imbuhnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak ada yang memaksamu untuk ikut, bocah!" timpalku ketus. Namun, sebetulnya aku lega. Ternyata, ia baik-baik saja.


*****
Lima belas tahun yang lalu, di tanggal yang sama, ia, suamiku, Dewa, memperlihatkan harmonika yang sama rupa dengan harmonika di hadapanku saat ini. Ternyata, paket dari toko online itu berisi harmonika ini. Kejutan darinya ini membuatku teringat pada hari itu. Kata-katanya di hari itu, kembali terngiang.

"Terkadang aku penasaran, mengapa takdir kita seperti tertukar."

Jika diingat-ingat, waktu itu ia memang tengah mengalami masa yang berat. Masih 14 tahun umurnya saat itu, tetapi ayahnya mulai menggantungkan harapan padanya. Ia, memiliki seorang ayah yang berprofesi sebagai seorang konduktor dan pemain musik, dengan spesialisasi piano. Beliau juga mengajar musik di sebuah universitas swasta di Jawa Barat, kalau aku tidak salah ingat. Selain itu, beliau adalah pendiri Four Seasons Orchestra. Sebuah orkestra yang secara rutin mengadakan pertunjukan di setiap tengah musim, di empat negara berbeda. 

Ayahnya, menginginkan atau lebih tepatnya menganggapnya memiliki bakat yang sama dengannya. Namun, ternyata bakat itu tidak diwariskan secara genetik kepada Dewa kecil. Ia sama sekali tidak mampu memainkan alat musik apa pun, bahkan terbilang sangat payah untuk sekadar membunyikan solmisasi dengan benar. 

Inilah yang membuatnya memintaku untuk memainkan alat-alat musik, yang diberikan oleh ayahnya sejak ia berumur 11 tahun. Alhasil, ia terbiasa "menggunakanku" untuk memainkan alat-alat musiknya itu. Awalnya, ia mengajariku bagaimana cara memainkan alat-alat musik tersebut, menuntunku hingga mampu memainkannya dengan mahir. Selanjutnya, ia akan merekam permainanku dan memperdengarkan hasil rekaman itu kepada ayahnya. 

Kami berdua sama-sama pembohong cerdik yang menikmati setiap kebohongan yang kami lakukan. Kami tahu, ini adalah dosa. Namun, kami juga masih belum bisa menerima takdir kami. Aku dengan larangan ayahku dan ia dengan tuntutan dari ayahnya. Kebohongan besar ini, justru membuatku begitu bahagia menerima "permintaan bantuannya", pun dengannya yang juga begitu bahagia dapat "menggunakanku".

Lalu mengapa ia nekad memintaku? 

Aku bukan orang seperti tokoh fiksi August Rush, yang sangat jenius dalam bidang musik, hingga mampu mengarang dan mengaransemen lagu tanpa mengikuti sekolah musik. Aku juga bukan orang yang terlahir dengan bakat musik, yang dapat memainkan setiap alat musik meski baru pertama kali menjumpainya. Namun, menurutnya aku dapat menerka nada dengan baik, setidaknya jika dibandingkan dengannya. 

Setelah bertemu dengannya, aku menyadari bahwa aku memiliki ketertarikan diam-diam terhadap musik. Sayangnya, aku memiliki seorang ayah yang sangat tidak menyukai musik. Bahkan untuk sekadar mengucapkan do-re-mi dengan nada flat di depannya, aku tak berani. Hingga saat ini, aku tidak tahu pasti alasan ayah begitu membenci musik dan aku tidak berani menanyakannya. 

Saat aku dan Rindy seusia Keke dan Dede, kami tidak pernah bernyanyi bersama ayah. Ayah pasti pergi, melenyap tanpa jejak ketika salah satu dari kami mulai bernyanyi. Beruntung, kami sudah besar ketika Namira, adikku, lahir. Ia tidak perlu kesepian ketika bernyanyi, karena ada aku dan Rindy yang menemaninya.

"Ibuuu!!! Huweee. Ibu di mana?" terdengar sebuah suara cempreng disertai rengekan tangis yang dibuat-buat membuatku terkaget. Aku terbangun dari lamunan tentang kenangan masa kecil, lima belas tahun lalu. Itu suara Dede. Ia pasti bangun karena terkaget. 

"Ibuuu, Dede berisik! Aku udah bilang ibu ada di rumah, tapi ia tetap nangis!" kata Keke yang sudah menemukanku di ruang baca dan segera berlari ke pangkuanku. Tangannya mengucek matanya yang terlihat merah. Sepertinya ia masih mengantuk.

"Ya. Dede di mana sekarang?"

"Nggak tahu, deh. Keke ngantuk, mau tidur lagi," jawabnya sekenanya, tak memberiku petunjuk. Ia berjalan ke pojok kanan ruang baca, ke arah sebuah karpet berbulu, berukuran satu setengah meteran yang memang sengaja kutata dan kuletakkan di sana.

"Keke, kok nggak sopan begitu jawabnya. Kebiasaan, deh. Jangan tidur di... Eh? Sudah tidur lagi? Telat," kataku, ternyata pada diriku sendiri. Sepertinya Keke memang belum betul-betul bangun ketika ia mendatangiku. Ia tidur seketika, begitu badannya menempel di karpet. Dasar bocah ini, persis sekali ayahnya.

Aku menggendong Keke dan memindahkannya ke kamar berdinding kuning pastel milik si kembar ini. Ternyata, Dede juga ada di dalam kamar itu. Ia meringkuk di atas kasurnya sendiri yang berada di pojok dalam. Posisinya membelakangi arah pintu. Namun, aku dapat melihatnya tengah memeluk boneka Naruto, tokoh animasi kesukaannya. Aku tidak mendengar suaranya dan dapat kulihat punggungnya bergerak pelan. Sepertinya Dede juga sudah kembali tertidur.

Keke tak terusik sedikit pun, ketika aku merebahkannya di atas kasurnya yang bernuanasa ungu lavender. Kurapikan posisi kaki dan kepalanya agar tidak kaku ketika bangun nanti.

Setelah selesai dengan Keke, aku berjalan ke arah Dede yang memang betul-betul sudah tertidur dengan mulut terbuka. Lelap.

Jadi, apa itu barusan? Mereka betul-betul bangunkah atau hanya mimpi sambil jalan? Dasar bocah. Jam dinding burung hantu di kamar mereka menunjukkan pukul 3.20.

Baru beberapa menit aku melamun di ruang baca. Namun, rasanya seperti baru saja melakukan penjelajahan waktu hingga belasan tahun. Mungkin, ini yang menyenangkan dari sebuah kenangan. Ia dapat membayar kerinduan, juga menyajikan kembali rasa dan sensasi yang sama seperti saat ketika mengukirnya.

Drrrrt. Drrrrt.

"Ada pesan?"

Belum sampai tanganku meraih selulerku, jendela pop up terhidang di layarnya, menghidangkan sebuah pesan, 'Ibu, sepuluh menit lagi ayah sampai. Jangan terlalu merindukanku, ya!'

Ish. Pesan macan apaan ini. Eh? Sepuluh menit? Gawat. Aku lupa. Ia bilang bahwa hari ini ia akan pulang cepat. Kupandangi seisi rumah. Kuingat-ingat beberapa hal dalam daftar pekerjaan soreku. Aku belum menyiapkan air dan menu makan malam. Rumah masih berantakan. Aku bahkan belum jadi belanja ke minimarket. Keke dan Dede tidur, aku tidak bisa meninggalkan mereka. Belum lagi paket di ruang baca masih berserakan.

Aduh. Aku sedang tidak siap dikomentari. Apakah aku harus meminta bantuan si kembar lagi? Baiklah. Sepertinya, aku akan berpura-pura ikut tertidur ketika menidurkan si kembar.



*****


(bersambung)

Thursday, 2 October 2014

Owl Brotherhood

Owl Brotherhood?
Apakah frasa itu terlihat sangat aneh? Jika iya, abaikan saja! Hehe. Dua kata itu sebetulnya kata-kata yang spontan terpikirkan untuk memberi nama sebuah grup percakapan Whatsapp yang berisi hanya tiga orang, yaitu saya dan dua orang adik angkatan saya, Rheta dan Roland. Awalnya, grup --yang saya buat secara spontan dan dengan memasukkan mereka berdua secara paksa-- ini, saya beri nama "Alarm" karena memang fungsinya adalah sebagai media untuk meminta bantuan mereka, membangunkan saya di jam-jam tertentu. Yeah, saya memang sangat sulit untuk dibangunkan bahkan oleh alarm sekali pun. Namun, anehnya, saya pasti akan bangun jika mendengar nada panggilan telepon saya berbunyi. Alhasil, saya pun nekad membuat grup tersebut. 

Di awal tindakan geje saya ini, saya merasa sangat tidak enak pastinya, memasukkan dua anak orang, yang ketika itu sudah pulang ke Kebumen, secara paksa ke dalam grup ini, hanya untuk saya repotkan atau membangunkan saya. Saya kira, mereka akan keberatan, apalagi si dedek Roland ini merupakan seorang dedek laki-laki yang agak sulit dimengerti baru saya kenal satu setengah tahun. Kalau Rheta, dia memang sudah sering saya tarik-tarik dalam dunia saya sehingga sepertinya sudah pasrah saja jika saya repotkan. Itulah mengapa saya nekad-nekad saja memasukkan dia, si Rheta. Lagipula dia seorang dedek perempuan yang baik, dan lebih mudah memahami saya yang juga sesama perempuan. *maaf  terkesan feminis, tapi saya memang seorang yang awkward dan bingung dalam berteman dengan lawan jenis*

Namun, ternyata, setelah beberapa hari, mereka berdua tidak mengeluarkan diri dari grup tersebut. Meskipun awalnya, dedek Oland (panggilan saya ke Roland, karena mengucapkan konsonan (R) setelah konsonan (K) terasa sangat aneh, akhirnya saya memutuskan untuk membuang huruf R-nya sesekali ketika memanggilnya) memang terlihat agak terganggu, tapi akhirnya dia tidak memutuskan untuk left dari grup. Bahkan, dia mengganti ikon grup tersebut dengan gambar di atas, yaitu gambar jam berbentuk sekeluarga burung hantu, yang terdiri induk burung hantu dan dua anaknya, yang SANGAAAAAT LUCUUUUU. Tindakannya itu mengilhami saya untuk mengganti nama grup Whatapp tersebut, dari "Alarm" ini menjadi "Owl Brotherhood". Jujur, saya sangat suka dengan gambar jam tersebut, selain memiliki relasi dengan tujuan pembentukkan grup ini, yaitu sebagai alarm, figurnya juga burung hantu, yang entah sejak kapan, sangat saya sukai. 


#Rheta
Nama lengkapnya Rheta Veda  Nugraha. Pertama kali melihat Rheta adalah pada saat SMP. Kami bertiga memang bersekolah di SMP dan SMA yang sama, yaitu SMP dan SMA Negeri 1 Kebumen. Saya langsung hafal dan mudah mengenalinya karena saya sering melihat dia dan Rhea berangkat sekolah bersama saat SMP dan saya kira mereka adalah anak kembar. Namun, ternyata mereka adik kakak yang rumahnya berada di desa yang sama dengan saya, tapi beda RW atau dukuh. Selain itu, dia juga salah satu dari beberapa siswi SMP N 1 Kebumen yang memakai jilbab saat itu. Oh iya, kata Mama saya, ketika kami sama-sama balita, kami pernah hidup bertetangga selama beberapa bulan dan saya pernah bermain bersama Rhea. 

Rheta dan bebungaan di dinding Gunung Prau
Meski saya sudah tahu Rheta sejak SMP, tetapi pertama kali berkenalan dengannya adalah empat tahun kemudian, tepatnya pada saat saya kuliah semester 2, di sini, di Depok, pada saat B3 2011 berlangsung. Sejak saat itulah kami saling bersapa, berbincang, bercanda, dan sebagainya hingga saat kini, karena ternyata lagi-lagi Rheta menjadi adik angkatan saya di UI, bahkan kembali berjodoh belajar di satu fakultas yang sama, yaitu di FKM. Kami pun semakin sering bertemu karena kami tergabung dalam Perhimak UI dan tinggal di asrama yang sama, yaitu asrama UI. 

Rheta bergolongan darah B, sama seperti saya. Sugesti akan kemungkinan kesamaan sifat dan pemikiran akibat kesamaan golongan darah inilah yang mungkin membuat saya sering mendekatinya, selain karena dia memang baik. Dia adalah pendengar yang sabar, pemberi respon yang baik dan tidak mempermasalahkan perbedaan atau pritilan-pritilan tidak penting dari saya yang terkadang membuat orang lain membangun pemikiran tertentu tentang saya. Dia menghargai perbedaan dan menyebutnya sebagai karakteristik dan hak dari setiap individu dalam berekspresi. Semakin lama mengenal Rheta, saya semakin merasa nyaman berteman dengannya, terutama sejak dia berpindah kos ke kosan saya saat ini, Wisma Yellow Orchid. 

Setelah kami satu kosan, saya semakin sering mengajaknya berbicara, makan bersama, jalan-jalan tidak jelas bersama, memaksanya keluar dari kamar untuk mendengarkan ocehan saya hingga shubuh datang, atau mengecenginya dengan seseorang. Meskipun umur kami terpaut satu tahun lebih, tetapi saya menganggapnya seperti teman sebaya, seperti Tiara, Leli, Widya, Ifa, dan Dzakia. Saya heran sebenarnya, mengapa dia dapat sesabar itu dalam menghadapi sifat labil dan kekanak-kanakan saya. Namun, saya sangat bersyukur karena dapat mengenalnya dan berteman dengannya. Darinya, saya belajar tentang kasih sayang dan ketulusan, tentang bagaimana menjadi wanita seharusnya, bagaimana menjadi pendengar yang baik, bagaimana memperlakukan orang lain dengan ikhlas, bagaimana berteman, bagaimana mengekspresikan kebebasan, bagaimana untuk yakin pada diri sendiri, dan bagaimana melakukan banyak hal lain. 


#Roland
Nama lengkapnya Roland Raymond Dino. Sepertinya saya pernah melihat Roland pada saat SMP di SMP N 1 Kebumen karena dulu dia memiliki rambut merah yang lebat, tapi tidak pernah melihatnya pada saat SMA, meskipun kami bersekolah di SMA yang sama. Selisih umur kami berdua adalah dua tahun, saya angkatan 2010 sedangkan dia angkatan 2012. Saya pertama kali berkenalan dengannya pada saat...tidak tahu. Pertama kali saya melihatnya secara sadar, yaitu saat kasti perdana Perhimak UI kepengurusan Jodi, tahun 2012 silam. Pada saat itu, di saat anak-anak angkatan 2012 lain berkenalan, bersapa, atau setidaknya tersenyum saat melihat saya, dia adalah satu-satunya orang yang tidak melakukannya dan lebih memilih tetap bermain kasti atau berbincang dengan orang lain yang sudah dikenalnya. Karena kejadian itulah, saya menganggap Roland sebagai seorang adik angkatan yang sangat sombong dan sebaiknya saya hindari demi kenyamanan hidup saya. Kemudian, berbulan-bulan pun berlalu di semester 5 saya itu dengan sedikit sekali melibatkan diri pada kegiatan-kegiatan Perhimak UI.

Roland di puncak Gunung Prau
Awal tahun 2013, semester 5 pun berlalu, dan entah bagaimana ceritanya saya sudah kembali ikut-ikutan kegiatan Perhimak UI, yang pada saat itu adalah Kebumen Campuss Fair (KCF) 2013. Di sanalah kali kedua saya bertemu dengan Roland secara sadar. Dia masih saja seperti pada saat kasti, berseliwar-seliwer ke sana-ke sini terlihat mengganggu mata *haduh maaf, menurut saya cowok cool nggak banyak gerak itu lebih keren daripada yang banyak gerak*. Dan KCF berlangsung meriah dan lancar seperti tahun sebelumnya. 

Menjelang siang, tiba-tiba Roland mendekati saya yang sedang lesehan seorang diri di samping stand Perhimak UI, dan bisa jadi inilah perkenalan pertama kami. Dia berkata (dengan bahasa jawa sebetulnya), "Mba Ani, kan? Maaf sebelumnya, soalnya kita belum pernah berkenalan sama sekali sebelumnya, terus tiba-tiba aku mau minta tolong. Aku Roland, 2012, PJ PDD (publikasi, dekorasi, dokumentasi) UI GTK 9. Jadi, kalau misalnya besok persiapan dekor UI GTK dilakukan di rumah mba Ani boleh nggak? Terus, mau minta tolong mba Ani juga buat ikut mbantuin PDD. Mba bisa nggak? Maaf banget agak nggak sopan ini, ya, dadakan banget bilangnya, di saat seperti ini lagi." Saya hanya menjawab, "Oke, boleh-boleh." Dan dia pun pergi setelah mengucapkan terima kasih singkat. Pada saat itu pun, saya masih merasa Roland adalah tipe-tipe cowok menyebalkan yang hanya datang pada saat membutuhkan bantuan saja.

Hingga kemudian, tiba juga waktunya kegiatan PDD dan latihan grup musik Perhimak UI berlangsung di rumah saya (yep, entah bagaimana caranya, tiba-tiba rumah saya seolah-olah jadi beskem perhimak ketiga setelah gazeb alun-alun dan rumah Umam). Pada saat itulah saya sedikit mengubah cara berpikir saya tentang Roland. Dia memang terlihat angkuh, tapi sebetulnya tidak juga. Dia memang berisik, tapi sebetulnya dia cukup inisiatif dan bertanggung jawab. Dia tampak ngeyel dan tidak mendengarkan apa kata orang lain, tapi sebenarnya dia dengar dan mungkin memikirkannya dan diam-diam mempertimbangkan saran dari orang lain. Mungkin, dia terlihat sangat eksis, mengeluyur di sini dan di sana, bicara begini-begitu, lalu tiba-tiba pergi dan kembali dengan membawa atau melakukan sesuatu, dan segelintir tindakan lainnya yang sebagian besar tidak dapat saya mengerti maksudnya, tetapi mungkin sebenarnya dia hanya tidak dapat berdiam diri tanpa melakukan atau mengatakan sesuatu. Uhn...bisa dibilang, hampir semua karakteristik manusia bergolongan darah O ada pada dirinya. 

Sejak saat itu, saya memutuskan bahwa sepertinya saya harus mengubah cara berpikir saya kepada orang-orang. Saya tidak boleh lagi ber-prejudice atau mudah sebal kepada orang lain hanya karena perlakuan tidak baik pada saat bertemu. Yeah, dari pengalaman saya dalam menilainya, saya memperoleh pelajaran untuk tidak menilai orang dari bungkus luarnya. Selain itu, setiap melihatnya, saya selalu teringat akan adik laki-laki saya, Ais (Fariz) yang memiliki sifat yang bertolak belakang dengannya. Mengapa ada anak muda yang begitu pendiam dan hanya suka berkawan dengan komputernya seperti adik saya di saat ada anak muda lain seperti Roland dan teman-temannya? Lalu, saya pun bertekad untuk lebih berusaha mengenali dan mendekati adik kandung saya, seperti halnya saya pernah berusaha mengenali dan mendekatkan diri dengannya atau adik angkatan yang lain. 


Mengapa mereka berdua?
Saya sebetulnya tidak tahu mengapa saya membuat grup Whatsapp itu dan memasukkan mereka berdua ke dalamnya. Hanya saja, semenjak berkenalan dengan mereka, saya merasa saya lebih dapat berekspresi dan menjadi jujur. Entahlah, bagaimana dan apa posisi dan pengaruh saya bagi mereka, menurut mereka berdua atau bahkan menurut orang lain yang pernah melihat kami atau membaca tulisan ini. Namun, bagi saya mereka seperti air sekaligus tempat sampah, yang entah bagaimana caranya mampu menyugesti saya. Dengan aliran airnya yang sengaja saya paksa mengaliri saya setiap kali saya mulai mengering, saya dapat sedikit demi sedikit kembali mengalir dalam sungai kehidupan saya sendiri. Dengan kelapangan hati dan kelogisan pemikiran mereka, saya sering memaksa memanfaatkannya untuk membuang sampah, keluh, kesah, dan pemikiran-pemikiran aneh saya ketika saya mulai bingung ke mana saya seharusnya menumpahkannya. Seringkali saya memperoleh inspirasi, tonjokan, dan kekuatan setelah bercerita dengan mereka. Namun, terkadang kehampaan dan kekesalan juga saya dapatkan tanpa terencana. Apakah hal seperti ini yeng disebut sebuah pertemanan? Atau setidaknya perasaan yang timbul dari menganggap seseorang sebagai teman? Apa pun itu, saya merasa senang mengenal mereka, terlepas dari bagaimana cara mereka manganggap saya. Sejauh ini, saya masih merasa hubungan kami bertiga aneh, di mana perasaan yang saya rasakan sepertinya masihlah berlangsung sepihak. Saya mungkin belum memberikan banyak hal atau bantuan untuk mereka, tetapi sebisa mungkin saya akan menjadi teman atau "apa pun namanya" yang baik ketika mereka butuhkan. Semoga saya dapat menjaga tekad saya ini. 

Saya, Rheta dan Roland
Tentang saya dan Rheta, sepertinya orang lain melihat saya dan dia seperti pertemanan anak perempuan pada umumnya. Namun, sebetulnya saya menganggapnya lebih dari itu. Meskipun, terkadang obrolan kami berakhir dengan tanpa kesimpulan dan penyelesaian, tetapi kenyamanan yang timbul ketika obrolan itu berlangsung merupakan hal berharga yang sangat sulit untuk ditemukan ketika mengobrol dengan orang lain. Meski demikian, lagi-lagi saya tidak tahu bagaimana perasaannya ketika mengobrol dengan saya karena sebenarnya, saya sering merampas waktunya hanya untuk menghabiskannya dengan hal-hal tidak berkualitas dengan saya. Dalam hal ini, saya seperti telah berbuat dzalim kepadanya. Pernah suatu ketika saya bertanya kepadanya apakah saya pernah tersebut dalam doanya dan dia menjawab "ya" dengan tanpa ragu. Saya sangat terharu saat mendengarnya. Tak hanya itu, ternyata dia juga mengingat setiap hal yang saya ceritakan kepadanya, yang menandakan bahwa dia mendengarkan bahkan menyimak dengan baik ketika saya berbicara. Lagi-lagi saya terharu dan merasa terhormat karenanya.

Tentang saya dan Roland, mungkin ada beberapa atau banyak orang, tak terkecuali kekasihnya, yang mengira jika saya memiliki perasaan tertentu, semacam suka atau modus kepadanya. Padahal dari obrolan dan interaksi kami berdua, sudah dapat dipastikan bahwa tidak ada hal yang mengindikasikan kebenaran adanya rasa-rasa semacam itu. Sikap saya terhadap Roland, sama halnya seperti sikap saya ke Ais, alias seperti seorang kakak ke adiknya atau sebaliknya. Mungkin, saya pernah menyebutkan di sini, bahwa saya sangat tidak nyaman ketika berbicara atau berada di samping anak laki-laki karena pada masa lalu kebanyakan pengalaman buruk dan bullying yang terjadi pada saya dilakukan oleh teman laki-laki. Namun, entah mengapa saya merasa tidak lagi se-awkward atau beranggapan seburuk itu setelah beberapa kali saya mengobrol dengan Roland. Mungkin, sifatnya yang seperti itu, cerewet dan supel, meskipun kadang arogan (?) dalam berteman mengubah beberapa cara berpikir saya tentang anak laki-laki. Hal ini membuat saya mengganggap Roland sebagai teman laki-laki pertama saya *padahal adik angkatan -,-*. Oh iya, saya pernah berkata kepadanya, "Maaf ya, dan ingatkan jika apa yang saya lakukan sudah berlebihan dan menimbulkan kesalahpahaman," dan dia hanya menjawab, "Ya. Lagian selama ini kan komunikasi yang terjadi sebagian besar hanya searah." Dan ini menjelaskan banyak hal bukan? :D

Sebenarnya, saya orang yang tidak enakkan atau rikuhan dalam meminta tolong atau menyuruh. Namun, entah mengapa kepada mereka berdua, terkadang saya tega dan nekad mengajak, meminta atau menyuruh mereka melakukan sesuatu, misalnya: ngajak mereka camping atau main ke pantai atau parahnya minta mereka membantu memasukkan output analisis data skripsi saya saat semester lalu. Lebih parahnya lagi, saya memutuskan untuk tidak merampungkan skripsi saya setelah semua hal yang mereka lakukan untuk membantu saya. Jika dipikir-pikir lagi, sepertinya tindakan saya kepada mereka sudah sangat keterlaluan. Saya jadi kasihan sama mereka yang sepertinya sering saya repotkan dan tarik-tarik ke dalam kehidupan saya. 

Ah, tidak tahu lagi... Saya hanya mampu berterima kasih pada Tuhan karena mengizinkan saya mengenal kalian. Terima kasih juga kalian, untuk kesempatan dan kebaikan yang kalian berikan untuk saya. Saya sayang kalian tanpa alasan...



Saya dan Rheta, selfie (dengan kamera saku) di Sarang Burung

Saya dan Rheta, (masih) selfie (dengan kamera saku) di Sarang Burung

Saya dan Roland (masih) di Sarang Burung, dipotret oleh Rheta

Saya dan Roland, selfie (pakai kamera saku Roland) di semak-semak (?)
Oh, sepertinya ini di Telaga Warna, Wonosobo

Rheta dan Roland, di Sarang Burung, dipotret oleh saya

Rheta dan Roland, di Pantai Menganti, dipotret oleh saya


Selfie 1 oleh Roland, dari luar pagar

Selfie 2 oleh saya, dari dalam pagar

Selfie 3 oleh Roland


Di dalam tenda 1 (tenda anak perempuan) saat camping di Sarang Burung

(Masih) Di dalam tenda 1 saat camping di Sarang Burung

Wednesday, 24 September 2014

Persembahan dari Yellow Orchid untuk Para Wisudawan Perhimak UI 2010 dan 2011



Gitar: Widya 
Bass: Ani TW
Vokal: Nisa, Dzakia, Ifa, Ani, Rheta (dari tempat magang)
Lagu: Never Alone (dipopulerkan oleh Lady Antebelum) dan Harmoni (dipopulerkan oleh Padi)

Deskripsi:
Dua lagu ini dipersembahkan untuk teman-teman wisudawan dan wisudawati Perhimak UI S1 2010 dan D3 Vokasi 2011. Berawal dari hobi kami, memberisiki tetangga-tetangga kamar kos di Wisma Yellow Orchid dengan nyanyi-nyanyi geje dan main gitar setiap tengah malam, tetiba tercetus ide untuk mempersembahkan pesan dalam lagu untuk mereka yang telah lulus. 

Kami memilih lagu Never Alone karena menurut kami liriknya cocok untuk menggambarkan mereka yang sudah lepas dari kampus, memulai dunia pascakampus, berjuang sebagai diri mereka sendiri, tetapi sebetulnya mereka tidak akan pernah sendiri. Sebab, sebetulnya sebuah keluarga bukanlah sebuah titel yang hanya dilekatkan dan mudah dilepaskan. Yeah, mungkin terlalu berlebihan menganggap Perhimak UI sebagai sebuah keluarga yang seolah-olah tak akan terpisahkan atau tidak akan kami tinggalkan. Namun, setidaknya masih adalah sisa-sisa memori yang mungkin tidak akan terlupakan, meski terkadang hati berbohong atau mungkin khilaf dengan berujar, "Aku telah lupa pada mereka." Lagu keduanya adalah Harmoni. Ah...tidak perlu saya jelaskan lagi mengapa kami memilih lagu ini. Seluruh yang kami katakan sudah tersurat dalam lagu ini. 

Ini bukanlah rekaman suara para profesional, para seniman musik. Hanya sebuah rekaman amatir para amatir dan penyanyi kamar mandi yang ingin menyampaikan pesan dan harapan tulus bagi para wisudawan dan wisudawati. Selamat ya, kalian. 
Wherever you fly, this isn't goodbye. Our love will follow you, stay with you, you never alone....

Lampiran

Never Alone (Lady Antebelum)
May the angels protect you
Trouble neglect you
And heaven accept you when it's time to go home
May you always have plenty
Your glass never empty
And know in your belly
You're never alone

May your tears come from laughing
You find friends worth having
With every year passing
They mean more than gold
May you win but stay humble
Smile more than grumble
And know when you stumble
You're never alone

Never alone
Never alone
I'll be in every beat of your heart
When you face the unknown
Wherever you fly
This isn't good bye
My love will follow you stay with you
Baby, you're never alone

Well, I have to be honest
As much as I wanted
I'm not gonna promise the cold winds won't blow
So when hard times have found you
And your fear surround you
Wrap my love around you
You're never alone

Never alone
Never alone
I'll be in every beat of your heart
When you face the unknown
Wherever you fly
This isn't good bye
My love will follow you stay with you
Baby, you're never alone

May the angels protect you
Trouble neglect you
And heaven accept you when it's time to go home
And when hard times have found you
And your fear surround you
Wrap my love around you
You're never alone

Never alone
Never alone
I'll be in every beat of your heart
When you face the unknown
Wherever you fly
This isn't good bye
My love will follow you stay with you
Baby, you're never alone
My love will follow you stay with you
Baby, you're never alone



Harmoni (Padi)
Aku mengenal dikau
Tak cukup lama, separuh usiaku
Namun begitu banyak...pelajaran yang aku terima

Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai
dan terwujud harmoni

Segala kebaikan
Tak kan terhapus oleh kepahitan
Kulapangkan resah jiwa
Karena kupercaya kan berujung indah

Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai
dan terwujud harmoni



Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...