Sunday, 6 April 2014

Amaryllis

Amaryllis

Bahkan, ketika aku melamun tentang sebuah bintang yang tak kukenal pun, aku sempat teringat akan kau. Aku tidak sedang bicara tentang cinta karena setiap perjumpaan kita bukanlah untuk berkencan mesra. Terakhir kali aku melihatmu, kau tengah menghembuskan napas ke lensa kacamata persegimu, membuatnya berembun, lalu mengelapnya dengan ujung bawah kemejamu yang memang tak pernah kau masukkan dengan rapi. Kau tahu? Karena kau melakukannya aku menjadi seperti ini. Aku membencimu dan ini justru membuatku tidak bisa melupakanmu. Aku muak mengingatmu dan memutuskan untuk tak akan bisa berhenti membencimu sejak saat itu, saat di mana kau membuatku tak mampu bermain piano lagi.
"Dira? Kau di kamar, sayang?" tiba-tiba terdengar suara lembut dari luar pintu kamar pribadiku. Itu suara ibu. Ibuku yang wajahnya selalu berhiaskan senyuman meski aku tak pernah produktif memberinya hal yang membanggakan. Wajah itu, wajah yang sama, yang sudah sejak lama sekali tak berani kutatap lama-lama karena hanya melirik sekilas saja sudah dapat membuatku menangis seharian. Dan aku tidak boleh menangis, terutama di depannya. Aku tidak ingin melihatnya menangis diam-iam, tangis tanpa suara yang mengiris dan berdurasi jauh lebih lama daripada tangisanku sendiri, serta dapat membunuhku pelan-pelan.
"Dira... Nadira anak ibu yang cantik. Bubur kacangnya sudah siap. Bagaimana kalau kita makan bersama di balkon kamarmu? Sepertinya pemandangan sore ini sangat asyik untuk dilihat," katanya lembut, tetapi tampak sangat membosankan bagiku. Aku bosan dengan kebaikannya, aku bosan dilayani oleh orang yang seharusnya kini aku layani dan patuhi.
Ia membuka gorden kamarku, lalu menggeser pintu kaca, mempersilahkan angin-angin senja nan sejuk meniup seantero kamarku yang nyaris tidak lagi tampak hidup sejak dua bulan yang lalu. Samar-samar mentari senja menebarkan sinar jingganya, yang membuat mataku memincing dan menyipit sesekali karena belum siap merespon efek silau yang ditebarkannya. Ibu sudah hampir menuntun kursi rodaku ke luar balkon, saat tiba-tiba aku melihat sosok Nyonya Lily melewati jalan blok, di mana dari sana balkon rumahku dapat terlihat dengan jelas.
"Ibu! Aku tidak bilang aku ingin makan di sana. Kalau ibu mau mengapa bukan ibu sendiri saja yang makan di sana? Lagipula, aku sangat benci dengan balkon itu. Mereka selalu saja menoleh ke sini setiap melewati jalan itu," ucapku sedikit keras hingga membuat bergetar gelas yang ibu parkir di atas piano putih di kamarku. 
"Baiklah, nak, jika maumu begitu. Kita makan di sini saja ya," kata ibu lembut dan iakhiri dengan senyuman indah menenangakan yang sampai kapan pun mungkin tak akan pernah bisa kutirukan. Aku malu. Perlahan dapat kurasakan panas mengaliri wajahku. Sepertinya, lagi-lagi aku telah memuntahkan amarah berlebihan untuk hal, yang mungkin menurut orang-orang sangat sepele. Sepele? Ini adalah aib bagiku!
Aku tak suka mereka memandangku dengan aneh. Aku tak suka mereka membicarakan keadaanku dan membandingkanku dengan aku yang dulu. Aku benci orang-orang yang selalu saja melihatku dengan kasihan, tapi sedetik kemuian membicarakan hal-hal bodoh tentangku yang sudah pasti dikarang bebas karena mereka tidak tahu apa pun tentang apa yang terjadi padaku, tentang penderitaan yang kurasakan dua bulan terakhir ini. Dasar pengecut sakit jiwa! Mereka mengeroyokku dalam diam. Bahkan, Cinderella pun hanya disiksa oleh tiga orang!
"Dira? Makan dulu, nak? Hari ini Ibu akan menyuapimu, ya. Aaa..."
Mulutku tak bergeming.
"Mengapa, Dira?"
Aku diam. Aku tak tahu mengapa egoku sebesar Gunung Fuji.
"Dira? Kamu marah pada ibu?" tanyanya. Suaranya melemah. Aku tak berani memandanganya karena aku tahu sekarang matanya sedang berkaca-kaca. Ibu, beri aku waktu.
"Dira?"
"Tinggalkan aku, Ibu! Aku bisa makan sendiri! Aku bukan bayi! Dan aku masih punya kaki!" teriakku. Kali ini aku dapat melihat dari sudut mata kananku, air dalam gelas itu bergoyang akibat ulahku, menaikkan suaraku. Begitu pula dengan ibu, bibir dan tangannya gemetaran, meskipun ia menyembunyikannya dengan senyuman dan remasan tangan. 'Ibu maafkan aku, aku tak pernah bermaksud untuk membentakmu. Namun, tolong percayalah bahwa aku bukan orang cacat yang menyedihkan. Aku bisa seperti yang lain!'
"Baiklah, sayang. Ibu ke dapur dulu, ya." 
Kau percaya? Hei, kau dasar kacamata kuda! Bahkan ia tersenyum saat aku sudah membentak dan bicara degnan sangat kasar padanya. Ini semua gara-gara kau. Kalau kau tak mematahkan jari-jari tanganku, mungkin ibuku tak akan menderita setiap hari olehku dan oleh tetangga-tetangga menyebalkan itu! Tunggu pembalasanku, kau bocah tengik!
Aku mengalihkan pandanganku dari pintu kamarku, sembari memastikan ibu betul-betul telah meninggalkan kamarku, menuju sebongkah piano yang terparkir di dekat pintu balkon. Tubuh piano itu tidak lagi tampak putih karena terselimuti oleh debu. Kau memang telah mematahkan jariku, tapi kau tidak bisa mematahkan ambisiku untuk "menang" darimu karena aku memang lebih baik darimu dan satu-satunya yang terbaik di sekolah. Aku tidak akan mati jika aku bermain piano dengan jari-jari kakiku yang cukup panjang ini. Aku akan membuktikan bahwa aku akan selalu lebih baik darimu, Tuan Muda Hide yang memuakkan!

*****

Sial! Aku sudah berkali-kali berlatih, tapi aku masih saja belum terbiasa. Aku akan berusaha untuk menekan tuts ini lebih keras, meskipun kelingking kaki kiriku masih terlalu lemah. Jika seperti ini terus aku tidak akan bisa memainkan tempo dengan baik. Tampaknya, aku tidak akan dapat memainkan lagu Chopin dalam sekejap seperti dulu lagi. Ah! Hide! Kau benar-benar harus membayarnya!
Pergerakanku masih sangat kaku. Aku tidak mungkin mengikuti kontes piano dengan hanya memainkan lagu Twinkle Twinkle. ‘Oke Dira! Kau pasti bisa! Selagi ibu pergi, manfaatkan waktumu dengan sebaik-baiknya untuk berlatih.’ Mungkin aku harus benar-benar memulai dari pemanasan lagi. Jari-jari dan pundakku mulai pegal. Wah! Tak kusangka tangan doraemon ini berguna juga untuk memijit bahu? Tuhan, Kau memang selalu menawan dengan segala kejutan indah-Mu. 
Tok...tok...tok. Suara pintu? Ibu? Ini gawat, kalau sapai dia tahu apa yang sedang aku lakukan. Di mana? Di mana novel milik bocah sialan itu? Mengapa kamar ini jadi begitu berantakkan? Payah ini! Ibu masih belum boleh tahu tentang ini, sekarang. Di mana novel sialan itu? Nah ketemu kau! Bantu aku mengelabui ibuku. Baca, baca, baca!
"Dira, ibu masuk."

*****

"Kontes piano? Hah! Ibu ingin mereka menertawakanku? Lagipula aku sudah lupa bagaiamana cara bermain piano!" Demi Menara Tokyo! Aku kaget sekali dengan ajakan ibu untuk mengikuti kontes piano. Bagaiamana ibu tahu kalau aku mulai berlatih piano lagi? 
"Dira..." Ya, ampun! Benarkah ibu sedang menangis? Tuhan, tolong hukum aku. Apakah aku sudah sangat menyakiti hatinya? Maafkan aku Tuhan, aku tak bermaksud melakukan hal buruk kepadanya.
"Dira. Ibu tidak pernah tahu kalau kau masih sangat menyukai piano. Hiks. Maafkan ibu untuk ketidakpekaan ibu. Hingga kemarin ibu tak sengaja mendengarkan permainan pianomu, sangat cantik. Ibu di belakangmu dan akan selalu mendukungmu. Kau tak perlu mencemaskan apalagi mempedulikan apa kata tetangga, paman, bibi dan kakek. Kejarlah mimpimu, nak," kata ibu masih sambil menangis sesenggukan.
Apa yang harus kulakukan, Tuhan? Ia pasti sedih kalau tahu tujuanku bermain piano lagi adalah untuk mengalahkan Hide.

*****
Bagus! Gerakanku sudah lebih baik! Aku harus menentukan lagu yang tepat dengan kondisiku saat ini. Lagu apa yang tepat untukku dan tidak akan bisa dimainkan oleh Hide? Hide itu... Ia tidak pernah mau memainkan lagu bertempo lambat bukan? Shymphoni 7 Beethoven? Atau Schubert? Mozart? Ia pasti memilih lagu Chopin favoritku! Demi bunga sakura aku belum pernah sebingung ini dalam memilih lagu.
Halo, Tuhan! Aku mulai terbiasa dengan tangan doraemon dan jari kaki menariku. Biarkan mereka bermain harmonis hingga tiba hari kontes nanti, Tuhan. Hei, bunga amarilis! Kau cerah sekali hari ini. Apakah kau ingin membalas dendam kepada bunga lili di sampingmu karena ia mekar lebih dulu darimu dan sekarang malah mulai keriput dan layu, meninggalkanmu mekar sendirian? Ahaha. Kau terlalu cantik untuk mambalas dendam, amarilis sayang. 
Amarilis? Amaryllis? Mengapa tak pernah terpikirkan sebelumnya??? Bingo!!! Amaryliis! Hide sangat membenci lagu itu!

*****

"Ibu yakin, ibu mendaftarkanku di kontes yang sama dengan kontes yang Hide ikuti?" Ibu mengangguk, matanya memandang ke arah sejumput ilalang kering yang tumbuh di taman yang sedang kami lewati ini. Aneh, ia tidak memandangku saat mengiyakanku. Ah biarlah, aku harus berkonsentrasi pada kontesku.
Langit hari ini begitu cerah. Biru muda tergelar di mana-mana. Hitam putih tuts piano itu bahkan turut berubah warna menjadi biru dan putih. Sungguh damaianya hati ini. Aku sebenarnya tak ingin menang dari Hide, aku hanya ingin membuatnya merasa bersalah, menangis, meminta maaf dan mengakui kemampuanku di depan banyak orang dan penikmat musik. Aku tahu jika sebenarnya... ia baik. 
Benar. Ia baik. Namun, mengapa ia tak segera menemuiku setelah kejadian itu? Mengapa ia tidak menolongku saat aku terjatuh dan kedua tanganku terlindas mobil ayahnya? Apakah kita benar-benar tidak pernah berteman? Apakah selama ini ia hanya menganggapku sebagai seorang saingan? Tuan Muda Hide, si Beethoven Jepang? Kalau ia Beethoven maka aku Chopin! Bagaimana mungkin si pemain piano ceroboh yang tidak peka saat dipanggil seperti ia bisa dijuluki Beethoven? Nama julukan itu terlalu baik untuknya.
Benar juga! Jika kuingat-ingat, ia sangat menyebalkan ketika berhadapan dengan piano. Ia tidak akan menengok ke mana pun, tidak akan tersenyum, tidak merespon ketika kupanggil sekali pun. Apa karena dia sombong? Atau memang benar karena pengaruh scence musik dan konsentrasinya yang sangat baik saat menikmati permainnya sendiri sehingga ia sangat susah untuk berpaling dari piano di hadapannya. Ya, ampun aku harus fokus pada permainanku nanti. Sekarang saatnya senam jari! Pemanasan.
Ruangan backstage sudah sangat ramai oleh peserta. Aku kembali hidup! Namun, tunggu! Mengapa orang-orang seperti mereka ada di sini? Mereka aneh. Gadis ini, ia hanya memiliki empat jari tangan. Kakak laki-laki itu, ia tak punya kaki? Tempat apa ini? Ibu? Ibuku? Ia tega membuangku ke kontes murahan seperti ini?
"Ibu, maksud Ibu apa membawaku ke tempat seperti ini? Aku tidak seperti mereka ibu. Aku jenius musik. Aku tidak cacat! Aku hanya tak punya jari gara-gara Hide! Ibu, aku kece..."
"Hai, Nadira. Ohisashibure desu ne?" suara ini tak asing dan sepertinya asalnya dari belakangku.
Laki-laki berkacamata hitam? Cuih! Ia datang juga, Hide? Berubah dan semakin bergaya ia sekarang? Kacamata hitam? Digandeng gadis cantik dan sangat muda? Tak kusangka ia berubah sedrastis itu hanya dalam waktu setahun. Ia bahkan tak berhenti tersenyum, seperti ibu. Senyum yang memuakkan. Ya, kalian sama-sama sangat memuakkan.
"Baik atau buruk kabarku, bukan urusanmu! Kau yang menyuruh ibuku membujukku untuk mengikuti kontes memalukan ini? Cuih! Tak cukup kau menghancurkan mimpiku?" Napasku tersengal. Aku tak mampu menatap wajah ibuku. Entahlah apa yang kulakukan, aku tak tahu apakah aku sedang menuduh, memfitnah atau memotong hati seseorang. Aku benci dibohongi, apalagi oleh ibuku sendiri.
Sial! Mengapa orang ini tidak meresponku? Setidak penting itu kah pertanyaanku? Apakah ia tak punya hati, sampai-sampai tak tahu caranya meminta maaf padaku? Oke, kalau ini maumu, melihatku disaksikan orang-orang dalam kontes piano untuk penyandang cacat. Oke! Kau tahu, Hide? Hatimu juga cacat! Lalu, mengapa kau tidak mengikuti kontes ini juga?
"Kontestan selanjutnya, Hide Ninomiya..." suara tepukan tangan dari arah bangku penonton terdengar keras siap menyambut kontestan selanjutnya, yang ternyata adalah Hide.
"Kakak, sekarang giliranmu tampil," kata gadis cantik yang menggandeng Hide. Ia pun mengantarkan Hide hingga ke atas panggung. Mereka berdua tampak sangat serasi. Apakah mereka akan berduet? Pamer sekali. Namun, gadis itu memanggil Kakak? Ia adik perempuan Hide yang selama ini ia ceritakan? Cantik sekali.
Nadira! Fokus! Musuh besarmu sedang menebar pesona di atas panggung sebagai kon... kontestan? Ia kontestan? Sandiwara macam apa ini? Sungguh aku tak mengerti lagi mengapa Hide yang sekarang semakin pandai berakting. Ia bukan lagi Hide si kacamata kuda, tapi Hide si tidak tahu malu!
Gadis itu masih melingkarkan gandengan tangannya di lengan atas Hide. Mereka membungkuk bersama ke  penonton lalu berjalan ke arah tempat duduk. Hide duduk di kursi piano yang telah disediakan oleh panitia, lalu gadis itu meninggalkannya sendiri. Gadis itu...maksudku adiknya itu... tidak bermain dengannya? Mereka tidak berduet? 
Perlahan, Hide mulai memainkan jarinya, memainkan tuts-tuts piano di hadapannya dan menghasilkan rangkaian nada sangat kukenal. Apa ini? Amaryllis? Hide memainkan Amaryllis? Mengapa? Mengapa ia memainkan lagu yang dibencinya? Mengapa ia tidak lagi membenci lagu yang kusukai? Mengapa ia memainkan lagu yang terakhir kali ibunya mainkan sebagai pengantar tidur untuknya, sebelum mencampakan ia dan adiknya di keesokan paginya? 
"Hallo, Kak,” sapa gadis yang selalu menggandeng Hide sedari aku bertemu dengannya. “Kau Kak Nadira? Kau teman kakakku, kan?" gadis cantik itu kembali menyapaku. Amaryllis mengalun dengan pasti. Temponya dimainkan dengan lambat, jauh lebih lambat dari tempo asli hasil komposisi Henri Ghys. Setiap nada yang dimainkannya seolah diisi oleh napas pemainnya. Hide memainkan perasaannya. Ia menambahkan banyak sekali bumbu dan hiasan dalam sajian Amaryllis. Sampai-sampai tidak ada sedikit pun celah kekosongan dalam permainannya yang tidak isi dengan perasaannya. Aku terbawa ke dalam permainannya, ke dalam dunia imajinasi yang berhias bunga-bunga dan mentari musim semi, membuatku hampir lupa akan kehadiran gadis cantik yang menyapaku.
"Iya. Aku Nadira. Kau adiknya?" Aku bertanya balik kepada gadis itu.
"Iya. Perkenalkan namaku Nagisha. Yoroshiku onegaishimasu," jawabnya dengan sangat manis. Amaryllis masi berbunyi, nada-nadanya seolah berkilau dan menari di batang-batang hitam putih yang tampak ikut meleleh. Hide...
"Nadira-san... Setahun lalu..." dan kata-katanya itu seketika membuat pandanganku memburam.
*****
Dunia menggelap dan kenangan masa lalu terputar kembali. Aku dan Hide baru saja pulang dari sekolah musik. Kami berdua sama-sama dari kelas piano. Sore itu, kami berdua akan menonton konser Ryusuke Honda. Kami hampir terlambat dan aku tidak mau melewatkan satu nada pun dari permainan sang maestro pujaan. Aku berlari di sepanjang jalan menuju tempat konser. Di belakangku, Hide mengejarku dengan kewalahan.
Aku sudah mencapai tepi jalan raya dan mengantre bersama pejalan kaki yang akan menyeberang lainnya. Hide masih sempoyongan berlari. Tiba-tiba, ia berhenti, lima meter sebelum tempat penyeberangan. Ia melepas kacamatanya, meniupnya lalu ia mengelapnya.
Aku sangat marah saat itu dan bersiap untuk menarik kerahnya untuk segera bergegas. Namun, tiba-tiba lampu lalu lintas menyala merah. Orang-orang pun berbondong-bondong menyeberang. Aku tidak siap dan tiba-tiba ada seorang bapak berbadan besar yang menabrakku hingga aku jatuh tertelungkup ke arah jalan. Hide masih sibuk mengelap kacamatanya tanpa sadar bahwa aku terjatuh.
Saat aku akan bangkit, tiba-tiba sebuah sepeda motor menyerempet dan sekali lagi membuatku terjatuh. Naasnya, saat itu ada sebuah mobil yang mulai melaju kembali karena lampu sudah menyala hijau lagi. Aku tak mampu menghindar. Mobil itu menggilas pergelangan tangan kananku dan lengan bawah tangan kiriku. Ban depan dan belakang tanpa kecuali. Lalu semuanya gelap dan aku tidak pernah melihat Hide lagi saat itu.
Ibu memberitahuku bahwa ayah Hide adalah pengemudi mobil yang menabrakku itu. Beliau merasa sangat bersalah dan selalu rajin menjengukku, meski aku tidak pernah mau menemuainya. Namun tidak dengan Hide. Ia menghilang. Aku sedih kehilangannya dan lama-lama benci, hingga menjadi seperi ini.

*****
"Nadira-san. Kamu tidak apa-apa?" suara Nagisha menyadarkanku.
"Iya. Tidak apa-apa," jawabku singkat.
"Kakakku... Ia menyusulmu ke rumah sakit, setahun lalu. Ia sangat merasa bersalah dan menyesal. Ia sangat menyayangimu dan menganggapmu sebagai sahabat, Nadira-san," napasku tecekat.
"Namun, Tuhan berkehendak lain. Sepertinya Ia sedang menguji kekuatan kakak. Motor yang kakak naiki bertabrakan dengan motor lain di tikungan menuju rumah sakit tempatmu dirawat. Ia terseret bersama motornya. Kakak tak menggunakan helm saat itu dan kacamata kakak pecah. Mata kakak... matanya..." Nagisha diam sejenak aku panik, aku menyesal.

"Mata kanannya tidak terselamatkan sedangkan mata kirinya... ada serpihan kaca spion berukuran sangat kecil yang masuk ke mata kirinya. Akibatnya, ia tidak dapat melihat dengan baik dan ia selalu melihat tujuh bayangan benda dengan mata kirinya. Kata dokter, itu adalah refleksi bayangan yang diakibatkan oleh kaca itu. Kakak tak berani menemuimu. Akhirnya, kakak menyuruh sopir kami untuk berpura-pura menjadi ayah kami dan menjengukmu setiap hari. Sopir itu berpura-pura menjadi orang yang menabrakmu. Ia memberitahukan kabarmu setiap hari ke kakak. Kakak sangat sedih karena Nadira-san... seperti ini. Pendengarannya pun semakin terganggu dan bertambah parah dibandingkan dulu saat sebelum kec..." aku tak bisa membendung air mataku. Ini seperti adegan film. Aku tak bisa lagi diam mendengarkannya.
"Na... Nagisha-chan, ia sekarang tak bisa mendengar dan sangat menderita dalam melihat? Selama ini, ia mendapat julukan Beethoven Jepang itu, gara-gara pendengarannya yang kurang itu?" Nagisha mengangguk. Aku pun melemas dan terjatuh. Ibu memelukku. Ia menangis, tapi dari ekspresinya, sepertinya ia sudah mengetahui semua ini. Tuhan, aku begitu... berhati jahat. Tuhan... bahagiakan Hide, aku mohon.
"Hnn... Nagisha-chan, tolong bantu aku!" panggil seorang laki-laki bersuara baritone dari arah panggung. Ternyata Amaryllis telah selesai dimainkan. Hide pun sudah membungkuk ke arah penonton yang dibalas dengan tepukan tangan dan teriakan "Bravo" oleh sebagian dari mereka.
Aku tak tahan lagi, kutarik diriku dari kejatuhan. Aku berlari menghambur ke arah Hide dan meraih tangannya. Menuntun jemarinya ke arah tuts piano. Kunaikkan kakiku dan bersiap memijit tuts-tuts piano. Kumainkan tiga bar awal Amaryllis. Kuajak ia berduet bersama. Ia menyentuh jemari kakiku dan sudah tentu ia mampu menebak nada-nada yang tengah kumainkan, meskipun ia tidak dapat mendengarkan permainanku.
"Amaryllis... Nadira, kaukah itu? Kau suka dengan permainanku tadi? Amaryllis untukmu, Nadira. Kau Amaryllisku, Dira. Kau menggantikan ibuku, Amaryllisku yang hilang. Maukah kau memafkanku dan tak menghilang lagi?"
“Aku yang seharusnya menanyakan itu, Hide. Maukah kau tak bersembunyi dariku lagi? Kau temanku bukan?” tanyaku.
Dia mengangguk. Kami pun tersenyum bersama diiringi riuh rendah penonton yang turut berkaca-kaca dalam suka. Ini bagaikan mimpi atau adegan dalam film lebih tepatnya... dapat berduet lagi dengannya, sahabatku. Aku tak akan lagi menghilangkan diriku darimu, Hide. Tak akan pernah, selamanya. Aku berjanji, Hide. Maafkan aku membuatmu seperti ini.


Suatu Hari di Gudang Buku

Rerindangan pohon, dinginnya bangku semen dan kotak-kotak kayu pengap yang ragu bergeming... Di antara celah mereka, kulihat seorang anak berjalan, akan menghampiri. Hampir-hampir hilang nafasku, henti nadiku dan hangus akal sehatku dalam setengah detik kala itu. Bukan! Bukan karena serangan jantung atau stroke, melainkan karena terkaget pikiran warasku. 

Kuikuti sepasang kaki. Dari balikku, muncul langkah kaki, tapi lain. Dia karibnya. Kami berpapasan, aku berdebar, dia tak ubah raut muka. Kami bertiga saling diam. Kawannya melirik muka, aku terdiam sejenak. Berharap, milirik pula mata manusia di sampingnya. Namun tidak. Seekor kupu-kupu hampir mati di sudut lemari kayu.

Aku malu, lantas beringsut ke dalam gudang buku. Ibu garang memoles muka. Ibu sayu mengukur pengunjung. Jemariku mencari buku tentang penari, sedang mata melirik ke sana dan ke sini. Aman untuk menjadi diri sendiri kataku dalam hati.

Berhenti menoleh, kuperoleh sebuah manuskrip tua. Dia coklat, berbau khas dan tampak megah. Kubuka lembar pertama, dadaku tertinju kagum. Kubuka halaman terakhir, air mata tanpa permisi berlari mengalir. Aku dan perasaanku, dibolak-balikkan lembaran tua tak punya judul diri.

Aku jatuh hati untuk kesejuta kali. Kumantapkan hati menulis tentang ini. Secarik kartu terlampau buruk kutarik dari saku dada. Sehelai kertas nota bekas kugelar di atas meja kusam. Pensil menari, otak bersalto liar tanpa kendali. 'Guruku akan bahagia dengan ini!' teriakku tanpa berbunyi.

Aku selesai dan bersiap mengunjungi para ibu. Pintu tiba-tiba sesak dan sinar mentari terhalang benda berbayang tidak normal. Dia menyeruak. Kepala lebih dulu, lantas tangan menyusul melambai tanpa gaya. Karibnya muncul, meninggalkannya, tertawa tanpa bahasa. Aku kaku. Hatiku ingin meraih, tapi otak tak jua memberi izin. Jiwaku ingin menghambur, tapi raga tak mampu bergerak barang seinci.

Keheningan terpecah sebaris bibir seruapa bulan sabit. Tanganku tak tahu cara berdusta, lantas melambai segirang Amelia. Tersadar, terbaca rasa tak biasa, aku mencoba bertingkah luar biasa. Tak ada daya upaya, kakiku melangkah menyamping persis seekor kepiting dikejar burung ceking. Menuju tikus elektronik, menjaring informasi palsu tetang kupu-kupu hitam putih. Nafas berlari, tempat duduk pun seakan tak mau kompromi. Dia masih menatap, aku pura-pura tak lihat.

Dalam hati aku meminta bantuan. "Oh tolong, kau karibnya, cepatlah datang. Bawa dia pulang. Masukkan dia dalam lubang di mana kalian biasa berkubang, di mana di depannya aku terbiasa berpura-pura lalu lalang."

Aku heran kepada jaring yang berlubang besar. Kupu-kupu hitam putih lolos dari tangkapan. Aku kehabisan akal, lantas aku hilang tingkah. Dia masih di samping para ibu. Aku tak bernyali untuk mendekat. Gudang buku tiba-tiba berlalat. Oleh aku yang ternyata mulai membusuk, kehabisan waktu menghimpun nyali, kehabisan energi karena kaki tak henti bergetar penuh ekspresi.

Aku tak bisa pergi. Lantas pura-pura membuka diary. Ibu garang melempar perhatian. Ibu sayu masih sibuk mengukur. Dia hilang! Aku terlonjak senang. Berdiri tanpa hati-hati dan menyenggol tubuh lemari. Bruk! Suara lemari teraniaya manusia terlepas manisnya mara bahaya.  Ibu garang makin penasaran. Berhenti menebar bedak dan membulatkan mata di balik kacamata segiempat. Aku tersenyum tanpa makna.

Aku mendekat dan menyiapkan manuskrip tua. Secarik kartu tehidang di atasnya. Pulpen masuk saku, nota bekas terselip di pengaitnya. Aku harus bergegas sebelum dia muncul dan membuatku lupa bernafas. 

Perkiraanku tak sering salah, akan kucapai si ibu dalam lima langkah. Aku melayang, ringan nian dalam ketergesaan. Namun sial! Jidatku menghantam punggung yang lebar! Aku memeluk lantai dan dia memutar badan. Alangkah kesialan ini begitu penuh bintang-bintang, sang pemilik tubuh mengulurkan tangan. Mataku terbuka dan seketika inginku hilang ingatan. Dia! Dia lagi dengan wajah gelisah dan penuh rasa bersalah.

Aku berdiri tanpa menjbat tangan. Lantas tanpa sadar bertingkah tidak wajar. Si manuskrip tanpa alasan ingin kujejalkan dalam tas tangan. Si ibu tahu lantas menyetop laju tanganku. Aku malu dia melihatku. Aku bertingkah salah tingkah, si ibu mengira aku kleptomania. Sedangkan dia tertawa menahan tawa. Aku memerah dan dia menjadi salah tingkah.

Aku berbalik. Membuka lemari berjudul sastra dan melempar si manuskrip. Aku lupa si guru dan lupa tujuan kunjunganku. Dia bermuka heran, si ibu sayu berhenti mengukur. Karibnya datang dari pojok ruang. Dia meminta maaf, aku bersiap angkat bicara. 

Karibnya ingin berucap dan dia telah siap mendengar pernyataan. Aku tak rela, maku dengan kecepatan kereta kuda, aku mengambil alih percakapan, "Hai! Namaku Amarilis. Bukankah kau mengenalku sejak lama, Antaresta?"

_________________________________________________________________________________
Depok, 24 April 2012

Dia (1)

Aku melihat dia duduk di tepi tiang voli. Sesekali bertepuk tangan, tapi lebih jarang tidaknya. Mungkin dia menjagokan tim yang salah atau kalah atau belum waktunya menang atau sinonimnya. Seorang teman memberitahuku bahwa dia adalah dia. Aku kaget awalnya karena ternyata dia sangat berbeda dengan dia yang ada di imajinasiku. Kawanku berkata dia pendiam dan pelajar yang berbudi baik. Aku menganggapnya sebagai orang aneh yang tidak bisa mengatakan hal yang serius, tidak bisa diam dan penuh dengan pikiran lawak.

Aku mengamati wajahnya dari radius terlalu jauh yang tidak dapat ditolerir mata minusku. Aku hanya mampu menangkap sepasang benda hitam menghiasi daerah kapalanya. Aku bersyukur menonton pertandingan voli sore itu karena setidaknya aku berhasil menemukan dia, orang aneh yang selalu bersembunyi di balik kata-kata sihir. 

Sore itu, kemeriahan suporter dari kedua kubu tidak mampu menandingi kerasnya degup jantungku. Mustahil memang, tapi aku memang selalu mendengarkan kata hatiku atau pikiranku saja. Inilah modal utama keegoisanku.

****

Aku mulai membanting barang-barang di dekatku. Sebuah botol parfum dengan suksesnya menghantam sebuah foto yang terpajang miring dinding. Tatanannya yang memang kubuat miring, sekarang semakin miring karena hanya tinggal satu pengait saja yang masih bertahan. Aku mendekati bingkai foto yang tampak kasihan itu itu. Kacanya pecah dan aku yakin salah satu kepingan kecilnya telah menusuk daging di telapak kaki kananku. Aku tidak peduli dengan sakit itu, aku lebih tertarik memandang apa yang ada di dalam foto. Dia tersenyum manis dengan seorang bayi perempuan kecil yang manis dan sipit di gendongannya.

Ya Tuhan, dia sangat menyayangi Lintang.

****

Aku tahu dia adalah orang yang sangat tepat menjadi objek pelarianku. Terkadang aku jenuh menulis cerita anak-anak yang ceria dan menyenangkan. Meskipun itu profesiku, tapi aku tidak menyukainya. Aku tidak bisa terus berpura-pura ceria sambil terus menulis kalimat-kalimat yang menghibur anak-anak itu. Sandiwara bagiku. Saat aku mulai menjadi seorang anarkis dan menjejalkan muatan-muatan horor ke dalam cerita-ceritaku, aku akan menghubungi dia. Sekedar hubungan jarak jauh lewat telepon, chatting atau e-mail. Dia selalu membangkitkan jiwa kanak-kanakku. Dia memperlakukanku seperti seseorang yang sebaya. Padahal usiaku jauh di atasnya. Gurauan segar mengalir dengan spontan dan menyenangkan sekali berbicara dengannya.

Seminggu setelah aku melihatnya di tribun penenton saat pertandingan voli, aku mulai menyapanya dan menceritakan identitasku yang sebenarnya. Aku terus menceritakan diriku tanpa membiarkannya berbicara sepatah kata pun. Aku sangat suka menceritakan akui dan tidak akan berhenti sebelum aku kehabisan akal untuk mendeskripsikan siapa aku. Aku memang egois dan aku sudah mengatakan hal itu ratusan kali kepadanya. Namun, dia hanya tersenyum bijak. Kilatan pelangi di matanya sungguh menyejukkan. Benarkah dia lebih muda dariku? Dia seperti kakakku... Kakak yang tidak pernah kupunya karena aku memang anak perytama. 

Baru sekali ini aku kehabisan kata saat berbincang dengan seseorang. Orang lain akan pergi karena bosan mendengarkan ocehanku yang mempunyai panjang dan lebar yang tidak proposional. Namun, dia tidak. Dia tetap mendengarkan dan tersenyum. Aku tidak tahu apakah dia paham sepenuhnya omonganku atau tidak. Yang pasti aku mulai merasakan canggung yang tidak biasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ya Tuhan... 

Dia sangat berbeda dengan dia yang kukenal sebelum ini. Dia adalah sahabat penaku. Aku mendapatkan surat pertama darinya di kebun belakang sekolah saat aku sedang membolos mata pelajaran sejarah yang membosankan. Aku duduk di kelas 2 SMA saat itu. Akulah yang pertama meletakkan sepucuk kertas di pagar kebun belakang berisi umpatanku tentang seorang guru. Seminggu kemudian di tempat yang sama dengan aku meletakkan suratku, kutemukan balasan suratku. Penasaran, aku membacanya dan aku langsung menyukai caranya berbicara dan berpikir. Hal itu berlanjut hingga kami sering chatting lewat messenger.

Dia selalu punya penyelesaian untuk masalah-masalahku. Mottonya saja "menyelesaikan masalah tanpa masalah" dan aku curiga dia mendapatkan motto itu karena sering menggadaikan perhiasan ibunya mengingat tingkah lakunya yang bandel. Namun, Ya Tuhaan... aku jatuh cinta kepadanya...

(bersambung)

_____________________________________________________________________________________________
Depok, 7 November 2010

Mimpi

Saat itu, hujan berderai di sekitar stasiun. Aku tidak tahu apakah hal yang sama terjadi di tempatmu, kawan. Kuhitung beberapa tetesannya, hingga lama-lama aku tertidur memangku koran.

Aku bermimpi bertemu dengan seorang bapak tua dengan semangat yang tak kalah dari semangat pemuda 17 tahun. Entah kenapa aku menyimpulkannya sebagai seorang tua, padahal rambutnya jauh dari kata ubanan, senyumannya tak diikuti keriput dan lekuk-lekuk aliran keringat. Yeah... hanya saja terlihat jauh lebih tua dariku. Tua pengalamannya. Aku yang loper koran adalah seorang yang dangkal pengalaman dan rendah pengetahuan.

Si bapak terlihat kalem. Kalem di awal ternyata pecicilan di tengah perkenalan. Si bapak menggandeng seorang wanita sebaya dengannya. Wanita yang tak kalah semangat dengannya, tak kalah mempesonanya dengan si bapak. Lalu aku mulai memanggilnya dengan sebutan si ibu. Si bapak dan ibu ini menyapaku terlebih dulu. Dua batang lollypop susu disodorkan padaku. Aku sempat curiga jangan-jangan lollypop itu sudah diberi racun atau setidaknya obat tidur. Terbayang adegan di mana aku sedang mengemut-emut lollypop dengan beringas, lalu aku tiba-tiba pingsan dan si bapak ibu itu menjarah barang-barangku serta kabur meninggalkanku, membiarkanku jadi gelandangan. Namun, setelah kupikir-pikir, barang apa yang bisa mereka rampas dariku? Koran-koran pagi yang hingga semalaman ini belum laku terjual? 

Aku terima lollypop susu yang terlihat mahal itu. Aku cicipi dan aku biarkan rasanya meleleh di permukaan lidahku. Manis dan legit. Manis sekali, meskipun itu ada di dalam mimpi. Aku tahu ini mimpi dan aku masih tak ingin terbangun karena aku pikir ini akan menjadi mimpi yang sangat indah, karena aku mengharapkan hal-hal lain yang lebih menakjubkan terjadi setelah aku menghisap lollypop ini, karena aku merindukan sosok bapak dan ibu yang belum pernah kuraba jemari tangannya.

Aku menatap wajah bapak dan ibu itu. Mereka tersenyum haru. Seolah-olah adegan seorang loper koran mengemut lollypop adalah adegan paling mengharukan yang pernah mereka temui sepanjang hidup mereka. Si ibu mendekat, seolah akan mengatakan sesuatu. Dia semakin mendekat dan mendekat hingga wajah kami hanya berjarak lima senti. Tiba-tiba bibirnya mendekat ke telinga kananku dan berbisik, "Dek, mau ngga ngamen bareng kami? Kami kekurangan personil nih. Kami pernah dengar suara adek, ngga parah-parah amat nyanyinya."

Belum sempat aku terkaget, si Bapak suadah mengimbuhi, "Iya, dek. Kami butuh vokalis. Aku main perkusi dan harmonika, sedangkan istriku terbiasa main gitar sambil menyanyi, tapi sayang sekali suaranya sangat tidak enak didengar!" kata si Bapak sambil melirik ke arah si ibu yang sekarang sedang melemparkan deathglare kepadanya. Si Bapak lantas mengangguk-angguk minta maaf kepada si ibu yang tersenyam-senyum palsu. Aku bisa menebak si ibu pasti sedang menunda emosinya meletus.

Aku harus mencerna tawaran mereka setidaknya selama semenit. Hingga mereka mengira aku pingsan sambil melotot, aku masih enggan menanggapi tawaran mereka. Aku memikirkan kawanku yang saat ini belum datang ke stasiun. Jika aku pergi dengan mereka, yang aku takutkan aku tidak akan bertemu lagi dengan kawan tercintaku itu. Aku tak bisa mendengarkan senandung lembutnya lagi, aku akan kehilangan senyum dan tawanya untuk lama waktu hingga kami berpapasan di suatu tempat saat aku nampil dan dia sedang melambai-lambaikan koran kepada calon pembeli. 

Namun, toh aku kembali berpikir, ini adalah mimpi, semuanya akan berakhir saat aku terbangun dan aku masih tidak ingin kehilangan momment ini. Yeah... meskipun pada awalnya kukira bapak ibu ini adalah sepasang suami istri kaya raya yang sedang mencari anak adopsi lalu berniat mengadopsiku setelah melihatku, tapi aku tetap senang jika aku berada di dekat orang-orang yang menginginkanku. Aku senand di dekat mereka, meskipun mereka hanya pengamen yang mengadakan penampilan di pinggir jalan. Kawanku, maaf aku meninggalkanmu, sekali ini saja, di mimpi ini saja.

Kudekati gitar itu. Gitar si ibu yang tersandar pada salah satu tiang peron. Kupetik satu per satu dawainya. Merdu. Dari dawai pertama hingga keenam, dari yang paling nyaring hingga paling dalam. Aku menyukai suaranya, lalu aku mengangguk pada si ibu. 

*****
Aku terbangun di pagi harinya. Koran-koranku masih tak laku. Aku benar-benar tidur semalaman dan menikmati mimpi tak jelas yang cukup menyenangkan. Bernyanyi dengan dua orang yang baru kukenal di dekat bangunan di Kota Tua, dilingkari penonton yang takjub dengan tabuhan perkusi bapak dan permainan petikan gitar ibu serta sedikit mendengarkan cicit nyanyian suara cempreng seorang anak usia 12 tahun milikku. Yeah... mereka berdua membiarkanku memanggil mereka bapak dan ibu, dan aku pun membiarkan mereka memanggilku Nada. Aku entah bagaimana caranya bisa bernyanyi sekali di mimpi malam itu. Aku mampu mendengarkan setiap beat yang diciptakan secara mantap oleh bapak dan permainan gitar ibu yang begitu harmonis.  Aku lupa bahwa aku bisu di luar mimpiku.Kini, aku kembali ke rutinitas. Kuikhlaskan koran yang tak terbeli, teronggok begitu saja di bawah bangku stasiun. Kudengar peluit kereta dari arah Jakarta Kota semakin jelas dan aku tertarik dengan nyanyian indah seseorang yang sangat kukenal di sampingku. Kawanku, kau sudah kembali? Kataku dalam hati.

Aku memang bisu, tapi aku tak tuli. Aku mampu menciptakan sebuah lagu dengan memanfaatkan tetesan air hujan yang menimpa seng-seng penutup rumah Ipan jika aku mau. Aku mampu memainkan konser ria perkusi dari sendok dan pecahan gelas piring jika aku mau. Dan mungkin aku mampu bernyanyi jika ada yang memintaku. Sayangnya, belum ada orang yang memintaku. 

Aku bisu bukan karena aku benar-benar bisu. Aku bisu karena bapak ibuku meninggalkanku hingga aku lupa caranya bersuara. Trauma. Dan kawanku adalah satu-satunya orang yang mampu membuatku terus bernyanyi dalam diam. Dia loper koran dengan masa depan cerah jika boleh kukatakan. Suaranya adalah masa depannya. Hanya saja orang-orang terlalu malas mendengarkan suara orang seperti kami. Hanya saja kami membutuhkan penampilan agar orang-orang melirik kami. Hanya saja, aku bisa melakukan hal yang sama dengan yang terjadi di dalam mimpiku... Yeah! Aku bisa membuatnya terjadi. Aku mampu membuat kawanku mengadakan penampilan jalanan bersama pengamen jalanan. Apa yang kualami di mimpiku, bisa kawanku alami di alam nyata ini. Ini tekadku.

Pintu gerbong kereta arah Jakarta Kota tepat berhenti lima meter di depan lututku. Satu per satu penumpang turun dengan berdesakkan. Aku tak terlalu tertarik mengamati mereka kepala demi kepala. Aku mengalaihkan pandanganku mencari keberadaan kawanku. Dia tertidur nyenyak di lantai batu stasiun, memeluk koran yang masih baru dan bau percetakan. Sekilas, aku teringat mimpiku semalam saat aku mulai tertidur dan menyongsong mimpi indah itu.

Tiba-tiba dari arah gerbong kereta muncul suara-suara yang kukenal. Kukenal belum lama. Suara baritone seorang laki-laki yang masih hangat terekam di otak, disusul suara halus seorang wanita yang sangat menenteramkan. Kulemparkan pandanganku dari tempat kawanku menuju asal suara itu. Dan terlihatlah jari-jari lentik si pemetik gitar yang kulihat semalam lengkap dengan gitar coklat kayunya di pegangan tangan kanan. Dua buah perkusi tertenteng merana di tangan orang di dekatnya, dia si bapak yang semalam mengatakan suara istrinya tidak enak didengar. 

Dan aku tahu, mimpiku akan terulang lagi untuk kawanku hari ini.

_________________________________________________________________________________
Depok, 17 Mei 2011

Surat Keheranan untuk "Yang Terlalu Sering Berpikir Kejauhan"

Hay...
Syukurlah jika kabarmu baik. Aku bingung dalam menanggapi keresahanmu dan kabar-kabarmu. Mungkin, jika aku harus mengabarkan kabarku aku akan berkata kalau aku baik-baik saja. Apakah ini menjawab seluruh isi suratmu? Aku tidak suka membaca tulisan dalam suratmu yang begitu panjang paadahal intinya sama. 

Tentang perjumpaan kita
Kukira beberapa minggu lalu kita berjumpa dan makan bersama. Definisi perjumpaan yang macam apa yang kau harapkan, sebenarnya? Pesta kembang api? Pesta pernikahan? Aku bahkan sudah lupa tentang itu. Tidak sekalian saja kau sebutkan tentang pesta teh botol, pesta rakyat, pesta panen dan yang lainnya? Kenapa kau kesal karena aku tak bersimpati? Lagipula kenapa aku harus bersimpati? Aku sungguh tidak dapat menangkap maksudmu. Apakah aku telah melakukan kesalahan? Perasaan, hanya begitu saja. Apakah kau hanya mampu mengingat setiap hal kecil yang tidak penting seperti itu? 

Sebenarnya, kita dapat berjumpa saat itu. Jika kau datang. Jika kau menurunkan sedikit saja kadar egomu. Aku cukup berharap dapat bertemu denganmu di saat itu. Namun, ke mana kau? Bersembunyi sembari menuliskan kalimat-kalimat yang mengisyarakatkan penderitaan? Jangan-jangan aku salah satu orang yang paling membuatmu menderita, hmm? Ah, kau menulariku cara berpikir yang seperti ini.

Tentang rindumu untukku
Terima kasih untuk rindu yang tersimpan untukku selama ini. Tentu saja, aku merasa cukup pantas dirindukan sesungguhnya. Pesonaku yang keren memang selalu membuat orang-orang mudah merindukanku. Namun, kau cukup berani menuliskan surat semacam itu untukku, di sini. Apa kau cukup punya stok keberanian untuk menahan malu yang akan kau tanggung jika banyak orang yang berpikir macam-macam untukmu? Mungkin, yeah...kau benar. Sulit bagiku untuk merindukan kau atau yang lain. Kenapa? Karena aku tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal seperti itu atau merasakan rasa-rasa yang tak penting semacam itu. 

Kau tahu sendiri, aku pandai bukan? Kau pikir, aku pandai tanpa usaha sama sekali? Sejenius apa pun aku ini, aku perlu memusatkan perhatian untuk studiku. Kau pikir aku sedang bermain dengan hal lain? Aku bukan sepertimu, yang kelebihan waktu luang, hingga kebingungan menghabiskannya. Tch! Apakah kau kelebihan waktu luang atau memang meluangkan waktu terlalu berlebihan? Sepertinya, kau yang bermasalah, bukan aku. Kau terlalu memikirkan urusan orang berlebihan, termasuk urusanku. Mungkin, kau perhatian, tapi mungkin lebih baik kau menyalurkan perhatian itu untuk hal-hal lain yang lebih krusial. Aku heran, sungguh heran dengan cara berpikirmu. 

Tentang kau yang tak menyukaiku dan aku yang tak memenuhi standarmu
Sepertinya kau memang menyukaiku. Kenapa kau masih berkilah? Kau bilang aku tak memenuhi standarmu. Namun, apa kau pernah berpikir tentang dirimu sendiri, apakah kau sudah cukup memenuhi standarku, bahkan untuk hanya sekadar menjadi perindu. Kau menyebutku orang yang tak pantas untuk dirindukan. Namun, apa kau sudah cukup pantas untuk merindukanku? 

Maaf, jika balasan surat yang kuberikan tidak sesuai dengan harapanmu, jika isi tulisan ini justru seperti semacam serangan balik untukmu. Aku hanya ingin kau berubah dari segala pikiran-pikiran itu, yang negatif, yang tidak penting sama sekali. Meski kuakui, aku hampir tak menyangka akan ada orang yang memperhatikanku dan merindukanku hingga sebegitu besarnya, di saat aku bahkan mungkin mengingat tentangmu pun tidak. Namun, yakinlah...bahwa kau jauh lebih baik dari sekadar melakukan hal-hal tidak jelas ini. Sadarlah... Jalani sisa studimu dengan benar. 

Dariku yang terlalu heran denganmu yang terlalu berpikir kejauhan,

PS: Lain kali, kirimkanlah pesan (hanya) yang bermanfaat. Aku tidak suka membaca tulisan panjang dan harus membalasnya dengan tulisan yang panjang juga. 

Saturday, 5 April 2014

Surat Rindu untuk Kau yang Tak Pantas Dirindu

Hey, apa kabar?
Aku ingin menyampaikan kabarku, bahwa aku baik-baik saja di sini. Aku mendapatkan asupan makanan yang cukup, hiburan dan rekreasi yang tidak kurang, porsi tidur yang justru berlebihan dan kebebasan yang cukup tak pernah membuatku ingin melarikan diri dari dalam kamar kost-an. Aku sungguh termanjakan dengan kehidupanku saat ini, meskipun kuakui...aku mulai was-was dengan nasib studiku.


Kapan terakhir kali kita berjumpa?
Apakah ketika pesta kembang api tahun lalu? Oh, tidak. Tidak mungkin, aku ingat betul kalau kita batal menontonnya bersama. Kau bilang kau ingin berlayar pulang dan aku tidak mungkin memintamu untuk tetap menemaniku. Padamu aku menyebut nama seseorang yang kita sama-sama kenal, "Aku akan pergi ke pesta kembang api itu bersamanya." Berbohong? Pada saat mengatakannya, aku belum yakin jika aku sedang berbohong karena memang pada awalnya dia akan menontonnya juga. Kukira, aku akan berjumpa dengannya di pesta itu. Namun, ternyata, kami tidak saling lihat batang hidung masing-masing. Alhasil, aku pun menonton sendirian. 

Mungkin, kau tidak tahu, aku beberapa kali bercerita pada teman kerjaku bahwa aku akan menontonnya bersamamu sehingga aku menolak untuk pergi bersamanya dan satu orang yang lain. Aku sedikit kesal sekaligus malu ketika kau bertanya, "Jadi datang? Dengan siapa? Kirimi aku fotonya." Jika aku menjawab jujur tentang aku yang datang sendirian, aku akan malu karena aku semacam telah berbohong dan terkesan ngotot keterlaluan untuk datang ke acara yang penuh orang itu, sendirian. Jika aku tidak menjawab jujur, aku tidak nyaman. Akhirnya, aku menjawab bahwa aku sendirian sembari menyisipkan pesan ajakan (tanpa harapan) agar kau datang turut menyaksikan karena pestanya baru akan dimulai dalam setengah jam. Sudah pasti kau menolak. Namun, yang membuatku kesal adalah kau sama sekali tidak bersimpati padaku yang betul-betul sendirian. Tahu begitu, aku mengajak orang yang lain juga, tak hanya kau.

Jadi, kapan terakhir kali kita berjumpa yang sebenarnya berjumpa? 
Sepertinya, perjumpaan terakhir kita justru setelah pesta kembang api itu, di sebuah pesta yang lain, di pesta hajatan seseorang, yang sama-sama tidak kita kenal. Saat itu, kau bilang bahwa kau baru saja mendaki bukit yang tak tinggi bersama beberapa orang temanmu. Kalian tak jalan kaki, tapi ini bukan tidak melelahkan juga, katamu. Aku sudah tahu tentang perjalananmu itu dari seorang temanmu, maka aku hanya menjawab, "Aku tahu kok!" dan berakhirlah semua percakapan kita. Hari itu, kita tidak hanya berdua dalam menyaksikan sebuah perayaan sakral, peresmian menyatunya dua insan yang penuh cinta itu. Di saat itulah aku mencurigai satu hal bahwa kau sedikit mampu membaca gerak-gerikku. Sejak itulah, aku ingin menjaga jarak agar kau tidak mampu membacaku, agar aku tidak dapat memunculkan tanda-tanda padamu. Namun, aku bukan penepat janji yang baik. Aku masih belum mampu menjaga tekadku ini dengan baik, sebaik kau, yang justru telah mampu menjauhkan dirimu dari "ini" dengan baik, untuk mendekatkan diri dengan hal lain yang lebih baik dan menarik dari "ini", katamu. 

Mengapa rindu?
Ini adalah pertanyaan yang akan sulit untuk kujawab. Aku tidak memiliki alasan yang pasti, yang mendasari segala perbuatan tidak sopanku, merindukanmu, selama ini. Satu hal yang jelas adalah karena aku "hanya" penasaran. Aku hanya ingin tahu apa yang sedang kau pikiran dan lakukan; hanya ingin memastikan kau sedang dalam kondisi superbaik dan tidak kesepian; hanya menginginkan kau tidak hilang dan membenci keadaan yang timbul akibat apa yang sudah terjadi dan kau jalani di masa-masa itu; hanya ingin tahu bagaimana kabarmu. Apakah ini pantas disebut sebagai sekadar "hanya"? Percayalah, aku hanya merindukan keceriaanmu. Kerendahan hatimu yang kau gunakan untuk membalut kepandaianmu dan menyajikannya dalam humor dan tawa adalah hal yang tak ingin kulewatkan ketika tengah berada di satu tempat yang sama denganmu. Kukira itu ada padamu yang dulu. Itulah yang kurindukan. Keceriaanmu yang kau tampakkan pada semua orang. 

Mengapa kau tak pantas dirindu?
Ini pertanyaan sangat mudah, tetapi aku sedikit tidak rela untuk menyuarakan atau menuliskannya. Aku tengah merindukan seseorang yang bahkan dia sendiri tengah merindukan orang lain dalam waktu cukup lama; yang bahkan dia sendiri tidak mengizinkan dirinya untuk dirindukan oleh orang lain; yang bahkan dia sendiri tak pernah merindukan orang-orang yang selalu berada di sampingnya. Bukankah ini sebuah rindu yang tak terbalas? Bukankah sebenarnya kau adalah sosok yang tak pantas untuk kurindukan?

Lalu mengapa tetap menulis surat rindu ini?
Jika kau menganggap surat ini adalah sebuah wahana mencari perhatian dari orang-orang, maka kau salah. Aku hanya ingin membahasakan rinduku dengan rapi. Jika aku tak diizinkan untuk bercerita tentangmu pada sesosok manusia, sebuah dosakah jika aku menceritakan kerinduanku di sini? Bukankah hanya aku sendiri yang akan bertanggung jawab dengan tulisanku sendiri? Lalu, mengapa ada saja orang-orang yang berisik membicarakan setiap hal yang kutuliskan? Aku sudah hampir tidak tahu bagaimana caranya bersuara dan bercerita karena kukira ini akan lebih baik untukku dan orang-orang yang pernah mendengarkanku. Akankah aku juga diharamkan untuk menulis di wilayahku sendiri, bahkan untuk sekadar menulis surat rindu untukmu? Terkadang, aku heran mengapa aturan manusia, terkait hal-hal yang sebenarnya tak perlu diatur, begitu banyak. Dan lagi, apakah aku masih salah menuliskan ini?

Hey, siapa kau sebenarnya?
Aku sungguh belum mengenalmu dan ketika aku mulai ingin mengenalmu, kesempatan itu telah hilang dan aku tidak tahu, akankah Dia hadirkan lagi atau tidak. Sejauh ini, aku hanya mengenal namamu, sedikit kepandaianmu, sedikit caramu memperlakukan orang-orang di sekitarmu, sedikit langkahmu dalam menyelesaikan permasalahan orang lain. Hanya itu dan aku ingin tahu lebih tentangmu.

Apakah aku menyukai atau bahkan mencintaimu?
Ayolah, apakah rindu selalu sama dengan cinta? Bisa jadi, dia adalah prasyarat cinta, tetapi sudah lama aku memantapkan keputusan bahwa rasa rindu dan penasaran ini tidaklah sama dengan cinta. Lagipula, kau akan terkejut jika kau tahu satu janji rahasiaku tentangku sendiri, tentang rahasia besarku tentang masa depan, ujung kisah cintaku. Saat ini kau bahkan tak masuk ke dalam jajaran kandidat yang kumau karena aku tahu, dengan perangai dan pemahamanmu saat ini, kau bukanlah orang yang cocok dan mau menerima janjiku. Jadi, berbahagialah kau bukanlah orang yang sedang kucintai, meski kau adalah salah satu orang yang kurindukan dan membuatku nyaman (dulu kala). 

Ah, sudah panjang surat ini dan terlanjur lemah baterai laptopku. Kuakhiri surat rindu ini. Akan kusambung dengan surat berisi rindu-rindu lain, nanti-nanti.

Selamat pagi, selamat menempuhi rute barumu.


Salam rindu dariku, hey!

Friday, 4 April 2014

Vio Lin


Gambar di samping adalah saya. Percaya atau tidak, ini selfie loh. Saya mengambil foto ini dengan kamera digital yang diatur timer-nya selama 10 detik, terus saya lari-lari ke depan lemari yang saya pilih jadi background, sambil meraih violin yang emang udah disiapkan ditaruh di depan lemari tersebut. Jadi, mungkin dapat kita lihat, citra bow (busur biola) yang saya pegang dengan tangan kanan tampak kabur, yang menandakan adanya kekurangsiapan dalam berfoto. Tepatkah disebut sebagai selfie? Wkwk. Ah iya, meski sedikit kabur begitu, tapi foto ini adalah salah satu foto yang paling sering saya gunakan sebagai profile picture, display picture atau avatar, hehe.

By the way, mulai hari ini saya akan menggunakan kata ganti pertama saya atau aku dalam menulis post-post di blog saya. Sepertinya, ini membuat tulisan-tulisan di sini menjadi tampak lebih rapi jika dibandingkan dengan ketika saya menggunakan kata ganti pertama: gue. Selamat tinggal gue! Selamat datang saya dan aku! :D

Dari gambar di atas, mungkin sudah dapat diterka, saya mau menulis tentang ada dalam post ini. Yep! Tepat sekali, tentang selfie! What!?? Bukan! Bukan! Maksud saya tentang bagaimana hubungan saya dengan violin (?). Violinnya Dzakia lebih tepatnya. Meski saya menulis tentang violin, bukan berarti saya dapat memainkannya. Violin memang merupakan salah satu dari tiga alat musik (dua yang lain adalah gitar dan piano) yang ingin saya pelajari dan kuasai dalam hidup saya. Oleh, karena itu saya menulis ini.

Violin, atau yang sering disebut juga dengan biola di Indonesia, merupakan alat musik gesek yang terdiri dari empat senar berbeda nada, yaitu G-D-A-E. Nada terendahnya adalah nada G sedangkan yang tertinggi adalah nada E. Di antara saudara-saudaranya, violin ini menghasilkan nada yang paling tinggi, tidak seperti viola (biola bass) dan cello yang nadanya cenderung rendah. Kunci dasar yang digunakan untuk violin adalah kunci G sehingga pada kertas musik, di bar pertama suatu partitur, hampir selalu menggunakan atau ditulis pada kunci G. (Wikipedia)

Begitu pula dengan violinnya Dzakia, yang saya gunakan sebagai teman berpose pada foto di atas, dia memiliki empat senar yang berbeda nada dan ketebalan. Namun, ada yang unik dari violinnya. Senar ke-1, yaitu senar E (nada tertinggi) begitu rentan putus. Pernah suatu kali, saya mengganti senarnya di Gramedia Margonda, sekalian menyetem senar-senar lainnya. Namun, belum ada satu minggu senar itu dipasang, sudah putus dia tanpa sebab yang jelas. Tidak ada satu orang pun yang menyaksikan putusnya senar tertipis itu. 

Saya adalah saksi yang pertama kali menemukannya sudah dalam kondisi terputus ketika saya membuka case-nya. Senar tersebut putus tepat di bagian tengah. Hal ini membuat saya terheran-heran dan tidak enak kepada Dzakia karena saya adalah orang yang paling sering meminjamnya dan memainkannya sesuka hati, tanpa teknik yang benar, tanpa menghasilkan suara yang indah didengarkan. 

Merk violin milik Dzakia ini adalah Paladin. Jika tidak salah ingat, dia membelinya ketika di tingkat dua kuliah. Saya tidak tahu menahu tentang spesifikasi-spesifikasi merk-merk biola Indonesia dan kelebihannya, sebetulnya. Sebagai seorang pemula, yang bahkan tak memiliki violin, apa pun merk violinnya bukan jadi masalah untuk berlatih menggesek dan bermain. 

Sebenarnya, bukan baru-baru ini saya tahu atau pegang violin (orang lain). Ketika masih maba dulu, pernah beberapa kali saya melihat violin milik Kyu, yang diberi nama Vi. Kyu membelinya ketika baru lulus SMA atau sebelum berangkat ke Depok (jika tidak salah). Dia membawanya ke Depok dan sering kali menggunakannya dalam persembahan di Perhimak UI. Terkadang dia mampir ke kamar saya sambil membawa Vi-nya atau saya yang ke kamarnya untuk sekadar melihat Vi itu atau jika sedang sangat ingin meminjamnya, saya akan meminjamnya. 

Kyu adalah orang pertama yang mengizinkan saya meminjam violin. Dari Kyu pula, saya belajar bagaimana cara membuatnya berbunyi, mengetahui nama bagian-bagian tubuhnya, bagaimana membiasakan meletakan jari-jari tangan kiri di tiap senarnya yang tak memiliki fret ini, dan lain-lain. Saya sangat berterima kasih padanya untuk kesabarannya memperkenalkan Vi-nya dan mengajari saya bermain. 

Bagian-bagian Violin
Sumber: Wikipedia
Oke, mari move on to topik yang lebih bermanfaat tentang violin. Gambar di samping adalah ilustrasi violin beserta bagian-bagiannya. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa susunan violin cukup rumit.

Seperti yang sudah saya bilang di atas, violin tidak memiliki fret. Leher biola dan papan jarinya mulus, tanpa memiliki batas-batas kunci (fret) seperti yang ada pada gitar. Oleh karena itu, kita harus mampu mengira letak nada pada senar-senar tersebut. Semakin sering memainkannya, semakin terbiasa jemari kiri kita untuk menemukan nada yang tepat secara otomatis. Selain membiasakan jari, kita juga harus terbiasa melatih pendengaran telinga (hearing) kita sehingga dapat mengenali nada-nada yang tepat atau sumbang. Saya juga belum bisa melakukannya, haha. 

Fret pada Violin (Penjarian)
Sumber: Wikipedia


Senar
Gambar di samping adalah gambar penampang senar violin, yang terdiri dari senar bernada G-D-A-E. Untuk menghasilkan bunyi bernada G, kita dapat menggesek senar ke-4 (senar paling kiri, senar G) tanpa menekan senarnya sama sekali. Begitu pula untuk menghasilkan nada D-A-E, kita dapat menggesek senar ke-2, 3 dan 4.

Selanjutnya, untuk menghasilkan nada A-B-C kita dapat menekan senar ke-4 (senar G) hingga menghasilkan nada A. Nada A adalah nada setelah G (ya iyalah) sehingga jaraknya paling dekat dengan batas bawah kepala biola, seperti gambar di samping. 

Ingat jarak antarnada, kan? 
c-d   :    1
d-e   :    1
e-f    : 1/2
f-g    :    1
g-A   :    1
A-B  :    1
B-C  : 1/2

Dalam penjarian ini, posisi meletakkan jari juga berdasarkan jarak antarnada tersebut. Jarak antara nada B-C dan E-F (mi ke fa dan si jalam ke do dalam kunci G=do) tidak sama dengan jarak A-B, C-D, D-E, dll, karena jarak B-C dan E-F hanya setengah. Oleh karena itu, jarak peletakkan jarinya pun setengah jarak. 


Bow (Busur Violin)
Bow inilah yang sering kita lihat untuk menggesek senar violin. Dia terbuat dari kayu dan sekumpulan rambut ekor kuda putih jantan, yang warnanya tampak putih keemasan. Bulu-bulu ini diikatkan pada bow di setiap ujungnya. Pada salah satu ujung, yaitu ujung yang dipegang, bow ini memiliki sekrup yang dapat digunakan untuk mengencangkan atau mengendurkan rambut tersebut. Bow dikencangkan ketika akan digunakan untuk bermain dan dikendurkan ketika akan disimpan. 

Bermain violin memang memang tidak mudah. Kita harus memiliki kemampuan hearing, mengenali nada, estimasi penjarian dan menggesek yang baik. Selain itu, suara yang dihasilkan pun belum tentu bagus dan lembut seperti yang sering kita dengarkan dari para pemusik violin selama ini. Perlu banyak latihan dan penguasaan teknik menggesek, vibrasi, dll. Namun, hal ini dapat dilatih sedari dini. Dininya kapan? Ya, mungkin dulu dan sekarang pun oke saja, jika memang memiliki minat sungguhan untuk mempelajarinya. Semangat belajar violin, Ani, untuk nanti diajarkan pada anak-anakmu. Hahaha....

Thursday, 3 April 2014

Kita di Pantai (2012)





 











Ais

Ini adik pertama saya, namanya Achmad Fariz Faizin. Dari kecil hingga sekarang kami memanggil dia Ais (dari nama tengah Fariz). Dia lahir pada hari Jumat Kliwon, 14 Februari 1997 silam atau selisih 4 tahun 11 bulan persis dengan saya. 


Dia begitu berbeda dengan saya dan adik kedua saya. Jika saat kecil dulu saya adalah bocah yang paling tidak suka menangis di depan umum, maka Ais ini kebalikannya. Dia sangat suka menangis tak kenal waktu dan tempat dan melempar benda-benda di dekatnya ke segala arah. Dia mengalami masa-masa menjadi anak "ragil" yang cukup lama hingga adik kedua saya, Zahra Nurussyifa (Yaya), lahir pada hari Kamis Kliwon, 4 November 2004. Tujuh tahun dia menjadi anak ragil, tujuh tahun itu pula dia merasa dirinya paling kecil dan paling wajar untuk berbuat jail atau manja di rumah. Ais kecil adalah seorang anak mama dan sangat ciwek. Jika dia terjatuh, dia akan menangis sekeras mungkin dan tidak akan mau bangun dan berhenti menangis, kecuali mama datang dan membangunkannya. Kapan pun, di mana pun, mama harus siap sedia untuk bocah ini. 

Pernah suatu kali, Ais balita pergi main hingga ke RT sebelah dengan anak tetangga kami, Emon. Dia bermain lari-larian dan terjatuh di tepi jalan, dekat selokan. Sontak, dia menangis seketika, membuat teman-teman mainnya kebingungan dan ibu-ibu di RT sebelah berdatangan untuk membantu membangunkannya. Namun, Ais justru tidak mau bangun dan semakin memperkeras tangisnya. Ibu-ibu dan teman-temannya semakin bingung, "Apakah terjadi hal yang serius pada bocah ini?" Akhirnya, mereka menyuruh Emon memanggil mama. 

Mama datang dengan cepat dan membangunkan Ais yang guling-guling di jalan. Mama langsung mengecek kondisi badan Ais satu per satu: dahi, siku, lutut, telapak tangan dan hasilnya tidak ada luka parah yang berarti. Bocah ini hanya lecet di telapak tangan karena dia menyangga tubuhnya dengan tangan ketika jatuh. Mama pun menggendong Ais dengan paksa, sembari sedikit mencubiti pantatnya. Tak lupa mama meminta maaf kepada ibu-ibu tetangga karena membuat mereka resah. Kebiasaan cengeng dan manja di masa kecilnya inilah yang membuat saya sedikit malas mengajaknya bermain bersama dengan teman-teman saya. Kalau menangis, hanya mama yang mampu mendiamkannya. Masa iya, saya bawa mama juga? Hal ini membuat saya tidak terlalu dekat dengannya, dulu. 

Layaknya anak laki-laki sebanyanya yang lain, Ais sangat suka dolan atau main. Dia juga tidak suka tidur siang. Padahal, romo sangat kesal pada anak-anaknya yang tidak mau tidur siang. Beliau sering mencari-cari kami yang tidak pulang selepas adzan bedug (dhuhur). Jika beliau menemukan kami di tempat yang terlalu jauh dari rumah, beliau akan langsung menciduk kami, menaruh kami ke dalam gendongannya, boncengan sepeda atau motornya, sembari ngomel-ngomel. Sampai di rumah, romo melemparkan kami ke atas kasur. Kami pun dikeloninya sampai tertidur, meskipun faktanya akan sangat sulit tertidur jika ada beliau di samping kami. Ais ini yang paling sering kena omel. Namun, lama-lama omelan untuknya itu berkurang karena dia semakin lihai untuk kabur di jam tidur siang. Romo pun lama-lama tidak sempat mencari anak-anaknya satu per satu di jam tidur siang akibat kesibukannya bekerja. 

Ais juga bukan seorang perfeksionis di bidang pelajaran. Dia tidak pernah ambil pusing dengan nilai-nilainya yang mepet-mepet dengan nilai rata-rata. Dia tidak bingung jika dia tidak masuk SMP favorit. Dia tetap santai bermain PS, komputer atau game online-nya meski besoknya adalah ujian nasional. Seringkali mama kesal dengan tingkah lakunya itu. Ketika Ais masih SMP, hampir setiap hari mama mendatangi warung-warung game atau internet di desa kami untuk mencarinya. Dengan sepeda mininya, sembari memboncengkan Yaya, beliau masuki warung-warung berteknologi modern itu demi menjemput putra laki-lakinya yang tak pulang-pulang seharian. Yaya pun sampai hafal dengan letak tempat-tempat itu. Namun, lama-lama beliau lelah juga. Setelah masuk SMK, mama sudah tidak lagi serajin dulu dalam menjemput Ais. Kata beliau, biarkan saja Ais, sudah seharusnya Ais paham dengan kewajiban dan tanggung jawabnya sendiri. 

Meski Ais bandel, tapi sepertinya dia memiliki bakat di bidang multimedia. Yeah, dia sudah SMK. Dia mengambil jurusan multimedia, jurusan yang bisa jadi berhubungan dengan hobinya: nge-game, main komputer, dsb. Beberapa liburan ini, saya lihat dia sudah mulai melakukan tugas-tugas coding, walau masih menggunakan software sederhana, semacam dreamweaver. Dia juga sering membantu teman-temannya mengerjakan tugas IT lainnya, instal ulang komputer atau laptop, dsb. Tak jarang dia memperoleh tip dari apa yang dia lakukan. Namun, entah ke mana perginya rupiah-rupiah itu, hanya dia dan Tuhan yang mengetahuinya. Dia sama sekali tidak bisa menabung. Alhasil, sedikit-sedikit dia minta jatah ke mama, hanya ke mama. 

Ais sudah besar sekarang. Dia sedang duduk di kelas 2 SMK. Dia sudah lebih tinggi dari saya, mungkin sekitar 165-168 cm tingginya. Dia juga sudah lebih mampu mengontrol emosinya, tidak manja dan ciwek lagi. Namun, dia masih keras kepala seperti dulu dan saat dia marah kata-kata tidak sopan kadang kali muncul dari mulutnya. Ini yang paling tidak saya suka darinya. Baru-baru ini dia melakukannya pada saya dan mama. Namun, saya yakin...nanti, dia pasti berubah menjadi anak laki-laki yang lebih baik dan berbakti pada mama dan romo. Hnn... Jika dilihat kami bertiga memang sedikit terlambat dalam mengalami perkembangan psikologis. Jadi, bisa jadi tingkah lakunya yang mirip bocah ini akan segera berubah menjadi lebih rasional, stabil, dewasa dan taktis. Suatu saat nanti, Ais pasti akan mengerti bahwa ada yang lebih patut diperjuangkan dan diutamakan dari apa yang dilakukannya saat ini. 

Toh, sebenarnya dia anak lurus-lurus saja. Dia tidak pernah mencoba merokok. Tidak berpacaran. Tidak pernah minta dibelikan motor bagus. Tidak minta yang macam-macam, kecuali jatah uang jajan yang teradang membengkak dibandingkan yang dianggarkan mama...

Hnnn... Pray for Ais, semoga cepat dewasaaaa.... Wah, tidak terasa dia sudah 17 tahun. Dewasa muda yang masih bertingkah seperti remaja muda. Hmmm...

Hanya Saja...

Entahlah... Hanya saja, aku tahu.
Aku tahu dan hanya bisa bertingkah gagu.
Ini betul, aku lebih nyaman menjawab setiap hal dengan membisu.
Aku semakin menyukai memendam suaraku yang tidak memiliki kekuatan, melainkan ragu.

Entahlah...
Hanya saja, diamlah yang dapat aku lakukan,
meski batin sempat terkoyak, meski sesekali lenyap ketenangan jiwa.
Aku menyimpan, memendam, tidak mendendam, tapi merasa bersalah berkepanjangan.
Hingga kucuran permintaan maaf dan berhati-hati setiap saat lah yang terlaksana berulang-ulang

Entahlah...
Hanya saja, aku mengerti.
Aku tidak bermasalah dengan semua kepasrahan ini,
karena aku bukan pelopor, pencetus ide-ide yang bijak bestari.
Aku bukan juga pemberi nasihat, yang dapat membantu mereka memecahkan rumitnya teka-teki.

Entahlah...
Hanya saja, aku ingin memberi kabar.
Aku tidak ingin dihujani belas kasihan atau bela sungkawa,
karena aku tidak sedang menderita atau berduka cita.
Aku hanya ingin dibiarkan sendiri, menumpas kebodohanku yang hanya dapat ditangani olehku saja.

Entahlah...
Hanya saja, aku merasa sedih ketika hilang kepercayaan.
Banyak yang berdalih, aku yang tak terbuka membuat mereka enggan percaya.
Namun, setiap kali aku berupaya ingin terbuka, sebanyak kali itu pula upayaku ternilai gagal.
Sampai-sampai aku tak mengerti keterbukaanku yang macam apa yang sebenarnya orang-orang inginkan?
Sepertinya memang aku yang tidak mengerti makna terbuka dan tidak tahu cara melakukannya.

Hanya saja, aku masih tidak tahu apa mauku...
Terlalu memikirkan mereka, terlalu tidak tertarik padaku sendiri, terlalu asyik berfantasi dalam imajinasi.
Mungkin ini yang membuatku bertampang bimbang, membuat orang-orang begitu mudah menekan dan mengancam...

Hei, tapi aku tidak merasa tertekan...
Hanya saja aku tidak suka diberi tuduhan dan pertanyaan, yang menyangkut urusanku seorang, 
tidak layak untuk mereka ketahui lebih dalam.

Oh, mungkin ini yang mereka bilang tertutup...
Namun, bukankah setiap orang memiliki batas privasinya sendiri?
Dan bukankah setiap orang berhak menentukan seberapa luas lahan privasi yang akan dihuninya sendiri?

Aku, mungkin salah satu orang yang terkadang lancang menginjak teras batas privasi orang lain...
Namun, aku bukan pemaksa yang akan mendobrak masuk pintu privasi seseorang yang telah menolak untuk menjawab ketukan dan salam yang dikirimkan.

Kau tahu bagaimana rasanya dituduh: ingin dianggap sebagai orang malang?
Aku tahu.
Kau tahu bagaimana rasanya disebut dengan umpatan "Anjing!"?
Aku tahu.
Kau tahu bagaimana rasanya diusir dan tak diizinkan untuk kembali?
Aku tahu.
Kau tahu bagaimana rasanya diancam akan dibunuh?
Aku tahu.

Aku tahu rasa-rasa dari penolakan, pelabelan, sedikit pengasingan dan mengalami pembedaan.
Mungkin ini yang membuatku berhati-hati, mungkin ini yang membuatku menjadi tertutup seperti apa kata mereka.

Wednesday, 2 April 2014

Ibuku, Perempuan Perkasa

Apa yang dapat kutuliskan tentang ibuku? Lebih dari banyak, seharusnya. 

Beliau yang selalu menemani, tak pergi, tak menghakimi, meski kami tengah dalam masa terpuruk dan sulit membangkitkan diri. 
Beliau, yang mendukung setiap langkah kami, dalam diam serta kekhusyukan doa dan sujudnya. 
Beliau, yang tak pernah letih memperhatikan dan memenuhi setiap detil kebutuhan dan keinginan anak-anaknya yang hampir tak pernah terpuaskan, meski telah habis receh dalam dompet bercap toko emasnya. 
Beliau, yang tak pernah mengambil seratus rupiah pun dari jatah yang dititipkan kepadanya untuk diberikan kepada anak-anaknya, meskipun telah begitu lama tak turun jatah bagi dirinya. 
Beliau, yang hanya mampu menanti sembari menyederhanakan pengeluaran hanya miliknya sendiri, jika satu-satunya pemasukan dari usaha kost-nya tersendat, akibat kelalaian para siswa SMK penyewa kamar di rumah... yang parahnya ini terjadi setiap bulan.
Beliau, yang dengan teguh dan sabar mengajari anak-anaknya dalam belajar ilmu dunia dan ilmu agama, semampunya, sebatas bekal sekolah setingkat SMP-nya yang dapat ia tular-ajar-kan kepada kami, anak-anaknya yang berbeda minat dan kecepatan dalam mencerna setiap input yang diberikannya.
Beliau, yang tidak akan terlelap tidur, jika ada satu saja anaknya: yang masih terjaga merampungkan tugas pribadinya, menikmati cobaan sakit yang terkadang dirintihkan terlalu berlebihan, belum pulang hingga larut malam atau tak juga terpejam karena diselimuti resah dan gulana.
Beliau, yang entah bagaimana pun caranya akan berusaha membuat anak-anaknya bahagia, meski itu artinya beliau akan menumpuk derita yang harus berangsur-angsur dikuranginya agar tidak menggunung dan merobohkan ketahanan hidupnya.
Beliau, yang tak pernah mengeluh dalam setiap putaran roda dan kayuhan pedal sepeda mini ukuran sedang, satu-satunya kendaraan butut dengan sadel yang hanya tinggal separuh bagian, yang beliau gunakan untuk pergi ke tempat manapun, jauh dekat, menurun menanjak, berjalan mulus atau terjal, entah ke perkampungan atau ke tengah perkotaan...dan hingga kini tak pernah menginginkan untuk diberi yang lebih baik.
Beliau, yang tak pernah meminta apa pun kepada suaminya, jika itu untuk kepentingan pribadinya sendiri hingga lama-lama tak mampu mengingat dan mengenali apa saja kepentingan pribadinya, apa saja yang diinginkannya. 
Beliau, yang selalu sabar meladeni kami yang berbeda tingkah dan sifat, berbeda mau dan taraf kepatuhan, berbeda di mana-mana dalam setiap hal dan beliau tetap ada tak kabur untuk memerdekakan diri.

Ah! 
Ibuku, ibu nomor satu sedunia. 
Ibu paling mandiri dan sabar yang tidak pernah betul-betul marah, meski anak-anaknya sering kali durhaka dan membantah petuah-petuahnya. 
Ibuku, ibu yang tak pernah lelah berjuang, sejak langit menerang hingga menggelap, sejak diucapkannya kata bersedia dan janji untuk setia mengabdi pada orang yang memintanya menjadi istri dan (aku yakin) hingga nanti orang tersebut tak lagi gagah dan terlalu lelah, bahkan untuk sekadar menghirup dan melepas nafas.
Ibuku, perempuan yang telah menjadi seorang ibu ketika usianya masih begitu muda, merelakan jatah mudanya untuk mengabdikan diri pada suaminya yang unik dan membesarkan buah hati-buah hatinya yang sedikit menarik. 
Ibuku, perempuan paling tangguh, yang tak pernah mengeluh dalam kucuran peluhnya yang mungkin hanya beberapa kali kami sadari dan hargai dengan tulus. 

Hnnn...
Aku tidak ingin lagi ibuku mengerjakan hal-hal seperti yang dikerjakan Cinderella untuk keluarga tirinya. 
Aku tidak ingin ibuku lama-lama menjadi Rapunzell yang terkurung dan hanya mengenali rumahnya sendiri tanpa pernah melihat dunia yang lebih luas dari apa yang ditinggalinya saat ini.
Aku tidak ingin ibuku terbiasa menanti, mandiri dalam kepasrahan, yang aku yakin ini dapat diperbaiki...

Aku tidak ingin ibuku dipandang sebagai ibu yang kasihan dan menderita karena dia adalah seorang ibu yang kuat, perempuan perkasa pertama yang kukenal, Perempuan Pilihan...
Satu-satunya orang yang mampu dan mau mendampingi kami setiap waktu di setiap kondisi yang terjadi.

Dan aku merasa bahagia dan terhormat, Tuhan menjodohkanku dengannya,
menjadi anak pertamanya yang menyaksikan perjuangannya lebih lama dari adik-adikku,
menjadi orang yang beruntung, yang seharusnya dapat memetik jauh lebih banyak pelajaran-pelajaran dari perjalanan dan perjuangan hidupnya  untuk disemaikan kepada adik-adikku juga anak-anakku nanti.

Ibuku, Perempuan Perkasa...
Ibu juara satu di dunia...

Monday, 31 March 2014

Saya Suka, tapi Tidak Suka

Saya menyukai banyak hal. Saya ingin dapat melakukan banyak hal. Saya ingin belajar dan berlatih untuk dapat melakukan banyak hal itu. Namun, saya tidak tahu...setiap saya mulai mencoba saya merasa tidak pantas dan tidak memiliki dorongan semangat untuk terus melakukannya.

Saya suka menari. Namun, setiap kali saya bercermin saya pasti akan tersadar bahwa saya tidak memiliki modal untuk menjadi seorang penari, bahwa kesukaan saya dalam menari tidak seharusnya untuk dipertontonkan kepada orang-orang, bahwa meski saya berusaha sekeras apa pun untuk menari di pentas, saya tidak akan mampu menari dengan bahagia... karena saya tidak membiarkan diri saya untuk dilihat oleh orang lain. Sudah banyak kali saya menari, terhitung sejak kelas 3 SD. Tari tradisional, tari India, tari kontemporer, dan tari-tari yang lainnya... Namun, untuk apa saya menari? Apakah untuk dilihat? Tidak. Saya hanya suka ketika melakukannya bersama dengan yang lain. Saya suka melakukan gerakan indah dengan baik dan tepat dan saya benci tingkah laku saya dilihat oleh orang. Pada akhirnya, sebagian besar alasan menari saya adalah untuk pemenuh kewajiban atau pelengkap suatu acara pentas karena tidak ada satu pun orang lain yang mau melakukannya. Mungkin terlihat pas, saya suka menari dan tidak ada yang mau menari. Saya dapat menari untuk mengisi kekosongan itu. Namun, saya tidak suka terlihat. Saya pun tidak mampu menari dengan bahagia. Setelah selesai menari pun, saya tidak pernah dihadiahi dengan senyuman. Tidak, tidak...tidak usah diberi pujian karena saya sangat tidak suka dipuji, apalagi yang berlebihan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Kasihan mereka berbohong untuk kesia-siaan. Bukan, bukan tidak ikhlas juga dalam melaksanakannya, hanya saja saya bingung mengapa saya betul-betul melakukannya?

Saya suka menulis. Namun, ya seperti inilah tulisan saya. Tidak bermutu, tidak berkualitas. Menulis pun kurang konsisten. Meski saya sudah tahu minat saya ke tulisan fiksi, tetapi topik, tema dan inti ceritanya tidak banyak yang berbeda. Hwoaaah. Beri saya waktu untuk mengembangkannya. Ah, saya tengah berkata kepada siapa sebenarnya? Awang-awang? Langit-langit kamar? Pembaca? Hmmm...siapa yang pernah membaca cerpen-cerpen saya? Hampir tidak ada. Iya, iyalah. Kapan saya menulis cerpen? Setahun sekali pun belum tentu. Masih pantaskah saya mengaku suka menulis? 

Saya suka membantu terlaksananya sebuah acara. Namun, saya tidak suka berada di dalam keramaian pelaksanaan acara-acara tersebut. Saya tidak suka terlihat dan dilihat dan saya tidak punya alasan yang tepat untuk menjelaskan ketidaksukaan saya yang satu ini. Inilah yang membuat saya suka berorganisasi atau mengikuti suatu kepanitiaan, tetapi saya tidak suka menghadiri pelaksanaan acara besarnya. Saya akan memilih menjadi pembantu di belakang layar. Saya sangat menyukai menjadi pemanjat tangga dibandingkan pengisi panggung. Saya sangat menyukai merencakan suatu pementasan daripada memberikan sambutan. Saya sangat menyukai berkeliling kota mencari kebutuhan acara dibandingkan harus menyapa satu per satu tamu yang datang. Saya tidak suka bertemu dan menyaksikan banyak manusia... Mereka membuat saya pusing dan mual.

Saya suka musik. Namun, saya akan berhenti memainkannya ketika ada orang yang mulai memuji. Bagi saya, pujian adalah sindiran secara halus. Oleh karena itu, saya lebih memilih bermain ketika sendirian, bermain ketika tidak ada orang yang memperhatikan dan bermain hanya untuk diriku sendiri. Saya memang suka bermain musik, tapi saya tidak pandai bermain musik. Inilah yang membuat saya sebal ketika ada orang yang bilang bahwa saya pandai bermain musik. Apa yang saya lakukan adalah hal-hal yang dapat dilakukan orang lain. Meski demikian, jika ada orang yang mau mendekat dan bernyanyi bersama, saya akan menyukainya. Asalkan dia diam dan tidak memuji dengan hal-hal yang benar. Saya bersedia membagikan apa yang saya tahu tentang musik, tapi saya akan berhenti berbagi dengannya ketika dia bilang saya jago atau sebagainya. Ada yang salah dengan saya? Biarkan saja. 

Saya suka menggambar. Namun, ini tidak konsisten. Saya hanya penjiplak. Saya menggambar dengan melihat contoh objek yang akan digambar. Imajinasi saya sebetulnya sangat buruk. Sama seperti yang lainnya, saya tidak suka diberi pujian untuk gambar-gambar saya, meskipun saya suka memperlihatkan gambar-gambar saya. Saya hanya suka meminta saran, bukan diberi pujian. Namun, uhn...entahlah.

Saya suka fotografi. Namun, saya sadar diri dengan apa yang saya miliki saat ini, saya belum dapat memenuhi keinginan berburu dan berbagi foto yang bagus. Meski demikian, saya cukup suka membagi satu, dua foto meski tak beresolusi baik, setidaknya tak banyak diedit. 

Saya suka desain dan film. Namun, ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kuliah yang saya geluti. Pantaskah saya tetap penasaran dengan desain dan perfilman?

Saya suka drama. Saya sangat suka menyaksikannya maupun melaksanakannya. Beberapa kali saya pernah menjadi sutradara atau penulisnya atau sebagainya. Namun, saya tidak memiliki cukup potensi menjadi pemimpin dan penyampai gagasan yang baik. Alhasil, saya menjadi sutradara yang buruk. Meski demikian, saya tetap suka menonton drama. Ini menyenangkan melihat orang bersandiwara di atas panggung secara langsung.

Saya suka melakukan banyak hal...tapi saya tidak memiliki cukup keberanian untuk menjaga kesukaan saya... Saya merasa tidak pantas melakukan semua hal karena terlalu sering dikomentari di belakang dan dipuji berlebihan di depan. Saya tidak suka. Saya tidak tahu, mana yang sebenarnya benar-benar pantas saya lakukan karena ini...

Friday, 28 March 2014

Dreams

Sebuah cerita pendek yang ditulis pada tahun 2006, tepatnya ketika gue duduk di kelas IX SMP. 

*****

Hujan rintik bergemericik, diselingi gemuruh petir yang tak begitu keras, membangunkan tidur seorang gadis remaja yang tidak pulas. Gadis ini bernama Widia. Kali ini, ia bermimpi sangat buruk. Ia bermimpi tentang kecelakaan mobil yang akan menimpa ibunya dan menyebabkannya meninggal. Mama, begitu dia memanggil ibu tercintanya, adalah satu-satunya orang tua yang masih dimilikinya. Papanya telah pergi entah ke mana 



Tuesday, 25 March 2014

Saya Senang

Saya senang karena... karena ada banyak hal yang membuat saya senang, yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Saya memang sedang senang, meskipun saya tampak diam dan mungkin uhn... yeah...karena begitulah saya, si Ratu awkward dan krik yang tidak tahu cara berkomunikasi dengan wajar di dunia nyata. Apakah saya cukup dapat membuat orang lain senang, seperti senang yang saya rasakan setiap kali mereka mengingat dan memanggil saya yang pendiam? Uhn, saya hanya berharap dapat tetap bermanfaat tanpa membuat orang-orang di sekitar saya kecewa.

Namun, entah mengapa, saya merasa saya aneh, meskipun saya mudah merasa senang. Dapat kau tangkap keanehan saya? Saking anehnya, sampai-sampai saya tidak tahu bagaimana cara menjelaskan keanehan saya...

Saya menyukai kesendirian, tapi tak ingin ketinggalan informasi dari orang-orang yang saya kenal. Saya tak ingin ditanyai tentang saya, tapi saya suka sekali bertanya tentang aktivitas dan rencana orang lain. Ini hanya sedikit contoh. Saya aneh, kan? Namun, saya menikmati ini, menjadi misterius seperti yang dikatakan oleh Fajar Adhi Hartanto ketika saya kelas X dulu. Oleh karena itu, meski saya aneh, jangan anggap saya seperti orang menderita yang butuh pertolongan atau penanganan atau petuah atau apapun. Karena saya menikmatinya dan saya senang. :)

Abaikan saya, beserta keanehan saya. Jangan menanyakan hal-hal tentang saya, yang hanya menyangkut saya. Saya suka menjawab, jika itu tentang kepentingan umum atau informasi tentang hal lain yang saya tahu dan dapat dipertanggungjawabkan, yang bukan tentang saya.

Saya sedang ingin menutup rapat semua pintu, jendela dan ventilasi pikiran dan hati saya untuk dimasuki atau hanya sekadar diketuk, kecuali jika saya rasa kau cukup dapat saya percayai untuk menjaga apa yang ada di dalamnya: menutupnya ketika badai menerpa, membukanya ketika mentari bersinar hangat.

Hoah. Entah kapan kau yang demikian datang, yang tak berteriak tiba-tiba, tak mengoleskan balsem pada luka bakar,yang tak berbicara banyak ketika saya memintamu diam, yang mau menjawab ketika saya menanyakanmu pertanyaan khas saya yang aneh dan kadang sulit diterima akal.

:)

Thursday, 13 March 2014

Kebetulan?

Kebetulan adalah ketika baru nge-post tentang PKM, terus tetiba malamnya salah satu anggota tim PKM tersebut menyebut-nyebut sebuah ide untuk PKM. 

Kebetulan juga adalah ketika secara random pernah menuliskan tentang batuk dua minggu yang pernah diderita seseorang, lalu ketika bertemu orang tersebut, dia bercerita bahwa saat itu dia juga sedang batuk dan lamanya sudah dua minggu. 

Kebetulan lainnya adalah ketika memimpikan orang, kemudian ketika terbangun ada WA dari orang yang dimimpikan. Ini sudah sangat sering terjadi.

Kebetulan yang lainnya lagi adalah ketika bermimpi tentang seseorang, kemudian keesokan malamnya bertemu dengan orang tersebut dan ini sudah beberapa kali terjadi. 

Lalu, apakah kebetulan itu memang benar-benar ada? 

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...