Ini tentang melukiskan dunia dalam kata; tentang aku dan jejalanan yang akan atau telah aku lewati; tentang Kawan yang lebih berwarna dibandingkan pelangi; tentang ramainya penjelajah ilmu yang selalu haus memecahkan teka-teki; tentang cinta yang tak kan pernah henti meski listrik mati; dan tentang aku yang masih mencari jati diri. Aku menulis... untuk mempertahankan memoriku hidup lama, jauh lebih lama dari aku menempuhi hidup ini.
Monday, 27 December 2010
Aku Tahu Caramu Menyayangiku
Oleh Anifatun Mu’asyaroh (1006668014)
Depok tidak panas hari ini. Langitnya menggelap dengan petir yang sesekali berteriak parau seperti anak kucing lapar. Sekawanan tikus got berlari santai menyeberangi gazebo asrama. Saking santainya atau tepatnya lalainya, hampir saja ada seekor tikus yang tertendang kaki mahasiswi bergaya tomboy ini. Dia berjalan gontai di tengah keramaian kantin. Bukan untuk mengisi perut tujuan kunjungannya, melainkan sekedar menumpang lewat sambil mencari kalau-kalau ada menemukan ceceran inspirasi.
Petir berteriak lagi, menyadarkan si mahasiswi bahwa keberadaanya di kantin hanya sia-sia. Dia memutar langkahnya ke arah kamarnya di gedung C. Tangga-tangga pendek itu terasa jauh lebih tinggi dari biasanya. Lambat. Dan dia merasakan kamarnya seakan sejauh kampung halamannya di Wonogiri. Dia sudah akan memutar pintu, tapi...
“Oh My! Aku benci hari ini! Arrrgh! UTS! Presentasi! Shit semua! Aku benci sastra!” teriaknya yang sukses membangunkan tidur siang beberapa tetangga kamarnya. Dibukanya daun pintu dengan kasar, lalu dia lemparkan pintu sekenanya hingga menimbulkan bunyi super gaduh. Kasur yang busanya sudah sedikit “sakit” menjadi korbannya yang selanjutnya. Dia berbaring, memejamkan mata tanpa berniat untuk tidur. Lalu tiba-tiba dia menangis. Tangisan pertamanya tahun ini. Diambilnya Lintang, lalu menarilah jemarinya di atas Lintang, si laptop jadul kesayangannya.
Senin, 8 November 2010
Tiba-tiba aku teringat lebaran tahun lalu, saat aku melukai hatinya. Kami bertikai, mempersoalkan hal yang sungguh sepele. Hingga ujungnya, aku mengunci diri di kamar paling timur dan tak mau mendengarkan sepatah kata pun dari mulutnya.
Aku sedang kesal padanya saat itu dan jujur aku memang tidak menyukai sifatnya yang keras dan benar-benar susah dibelokkan, benci bahkan. Namun, aku juga tidak pantas menyakiti hatinya, tidak sama sekali. Sebab aku sendiri pun seperti itu. Aku keras, baik kepala maupun hati. Emosiku labil dan jarang stabil... dan aku amat tahu, kesemuanya itu aku dapatkan dari dia. Tentu saja! Setiap inchi tubuhku adalah berasal darinya.
Hari ini, saat aku sendiri, saat aku tidak ada di sisinya, aku menyadari bahwa aku menyayanginya... Aku sadar betul, setiap hal yang kunikmati adalah karena dia, setiap tetes ilmu yang kudapat adalah berkat tetes keringatnya dan setiap keberhasilanku adalah karena ridho di setiap hembusan nafasnya. Lalu kenapa aku selalu berpura-pura tidak tahu dengan bertingkah sombong kepadanya? Perlahan, aku mengaku, “Aku malu!”
Pernahkah aku memujinya? Pernahkah aku memijiti bahunya sehabis kerja? Pernahkah aku mengucapkan selamat datang saat dia pulang? Tidak. Hingga tiba saatnya aku pergi untuk waktu lama, aku pun tidak menyentuh tangannya. Pernahkah aku bercerita tentang dia di depan teman-temanku? Tidak. Bukan malu, hanya bingung, apa yang ingin aku ceritakan tentang dia kepada mereka. Dia kaku sekaku karang yang congkak dihantam ombak.
Namun, hari ini aku menyadari bagaimana caranya menyayangiku. Dia tidak pernah mengucapakan sayang padaku, seperti yang aku harapkan dari dulu, seperti yang biasa terlihat di dalam televisi. Dia tidak pernah memujiku saat aku mendapatkan peringkat satu di kelas. Bahkan, dia bersikap tidak peduli saat aku diterima di perguruan tinggi impianku. Benarkah dia tidak tahu?
Memang, aku ingin sekali melihat dan merasakan kehangatan seperti yang dirasakan oleh teman-temanku yang lain. Dipeluk, dicium, dibelikan boneka atau diajak berlibur ke pulau Bali. Namun, sekarang aku sudah tahu, semua itu memang bukanlah caranya.
Suatu hari, di luar sana, dia tersenyum bahagia di antara kerumunannya. Aku iri karena orang lain begitu mudah mendapatkan senyumnya, sedangkan aku tidak. Aku melihat dia bercanda-canda, lalu menceritakan hal yang menarik membuat orang lain terkagum-kagum. Dia tampak bahagia. Aku tidak pernah melihat ekspresi seperti itu. Aku sadar, aku tidak bisa membuatnya tersenyum dan tertawa seperti itu. Aku iri lalu pergi...
Aku memendam iriku berhari-hari hingga tidak mampu dihitung dengan jari.
Hingga saat lebaran itu, aku sudah terlalu lama memendam kejengkelan. Aku muntab, lalu membanting pintu tepat di depan hidungnya. Aku menolak diajak ke tempat rekannya dan menolak apa pun yang dia perintahkan. Aku menulis catatan nista itu lalu disukai oleh beberapa teman di facebook. Aku malu sebenarnya, tapi itulah aku, seorang yang sok. Lalu sekarang, lagi-lagi aku malu...
Aku sudah bilang aku sudah tahu bagaimana caranya menyayangiku. Dia berkata sayang lewat diam. Belakangan aku tahu, dia menimbun harta untuk aku bisa sekolah. Aku pun tahu dia menceritakan aku yang mendapat juara satu, aku yang diterima di SMA favorit, aku yang mendaftar di jurusan farmasi dan arsitektur UGM dan aku yang mendapat beasiswa serta diterima di universitas impianku di jurusan Sastra Indonesia. Dia bercerita kepada teman-temannya, di kerumunnya, dengan bahagia. Dia bahagia bercerita tentang aku.
Dia tidak menampakkan kegembiraannya saat aku bercerita tentang prestasiku karena dia tidak ingin aku menjadi gadis sombong. Dia tidak pernah menanggapi soal gambar atau tulisanku karena dia tidak ingin aku cepat berpuas diri. Dia tidak selalu menuruti setiap hal yang aku mau karena dia ingin aku menjadi manusia mandiri yang tidak materialistik. Dia tidak menunjukkan lemah lembutanya karena dia tidak mau aku menjadi seorang yang tidak menghormatinya.
Astaghfirullohal’adzim... Maafkan aku, God! Maafkan aku, sayangku, yang selama ini buta oleh keinginan-keinginan yang berlebihan, yang terkadang imajiner, yang terlalu menuntut kepadanya tanpa pernah terlalu berusaha membuatmu bangga! Padahal kau tidak pernah menuntutku bisa ini dan bisa itu. Aku malu... Karena aku baru menyadari indahnya cintamu saat aku tidak di sampingmu, aku malu karena aku selalu merepotkan dan tidak pandai membuatmu senang, dan sekali lagi karena tahun ini aku belum bisa mempersembahkan yang terbaik bagimu. Maafkan aku! Maafkan Nabila, Dad...!
Dia sedang mengklik pilihan “TERBITKAN ENTRI” ketika handphone-nya tiba-tiba berbunyi. Dengan air mata yang masih mengalir dan suara yang sedikit bergetar dia berkata ke suara di seberang, “Dad, aku tahu caramu menyayangiku... Aishiteru!”\
Cerpen untuk tugas Penulisan Ilmiah
Friday, 24 December 2010
About Pisces (Cause I'm a Pisces Girl)
--> Bagi seorang Pisces, emosi adalah hal yang paling berharga bagi mereka, dan mereka akan melakukan hal apa pun yang mereka ambil untuk menghindari rasa sakit emosional. (yeah, I think it's the real me)
2. However do not be fooled by a #Pisces weaknesses for they are excessively intuitive and observant of what you do.
--> Namun, jangan terkecoh dengan kelemahan seorang Pisces karena mereka terlalu intuitif dan jeli terhadap apa yang kamu kerjakan. (Yeah, saya pengamat ulung, saya suka memperhatikan orang dalam diam saya...meski saya sedang terlihat bingung dan bodoh pun, saya sebenarnya sedang sedikit memperhatikan sesuatu)
3. #Pisces is worthy of getting to know; a tad bit insecure inside.They are the kind of boss who will never yell at you.
--> Pisces layak mengenal; sedikit seorang anak laki-laki dalam aman (aduh bahasanya ancur). Mereka adalah jenis atasan yang tidak pernah akan berteriak pada Anda. (Yeah, begitulah saya. Saya pandai menyimpan emosi saya, tapi kalau sudah meledak, wedhus gembel kalah sama kemarahan saya. Hnn, setiap memimpin memang saya cenderung sok tenang, dan ngga menyuruh-nyuruh. Sadar diri soalnya, seorang pemimpin juga bukan pemimpin tanpa anak buah mereka, jadi saya cenderung akan menghilangkan suasana pemimpin-dan yang dipimpin)
4.

#Pisces you get stuck in what you wish could happen and lose track of reality, and when you go back, everything is a mess.
--> Sebagai seorang Pisces, Anda sering terjebak dalam pikiran Anda sendiri, terhadap apa yang Anda inginkan dan seolah-olah bisa terjadi lalu kehilangan jejak dari realitas, dan ketika anda kembali, semuanya berantakan. (Yeah, sayangnya hal ini benar. Aku sangat suka mengkhayal dan mungkin ini semua terlihat dari seluruh tulisanku. Sekitar 60% tulisanku bersifat fiktif atau ada sedikit sapuan fiktif. Aku pernah berkhayal aku mendapat surat dari Hogwarts School of Witchcraft and Wizardy pada kelas 8 SMP, yang menyatakan bahwa aku diterima di sekolah tersebut. Haha, gila gila Ani)
Thursday, 23 December 2010
Wednesday, 22 December 2010
My New Friend

Jadi, kebiasaan kami adalah merencanakan duduk sampingan saat mau kuis Fisika, tapi faktanya pasti ngga sampingan. Aku selalu dipanggil lebih dulu (bukan dalam arti konotasi lho) oleh temanku untuk duduk di sampingnya. Alhasil, baru 3 aku dan Dila duduk bersama pas kuis, wkwkwk...
Aku dan dia bertemu pertama kali saat briefing welcome maba 1 di aula gedung G FKMUI. Kami pernah berkenalan sebelumnya lewat facebook. Kami sama-sama suka baca novel fiksi, dan dia tidak henti-hentinya membahsas betapa kerennya novel the Kite Runner. Yaaaaaah....selamat ya, kamu udah bikin aku melompong ngga nyambung karena aku ngga pernah baca tuh novel, ehehe.

Kami satu FGD, FGD 14, dengan slogan kami adalah "minimalis", ya karena begitulah kami, minimalis dan ngga mau yang perfeksionis perfeksionis, hehe. Entah kenapa aku suka bercerita kepadanya, soal apa pun, bahkan soal kakak mengagumkan yang katanya mirip Bambang Pamungkas itu, (haha, gokil dustanya!). Jadi, intinya dia itu pendengar yang baik gitu. Begitu pun aku, yang ingin mencoba menjadi pendengar yang baik baginya, haik haik!
Dia orang pertama yang aku kasih gambar Conan-ku. Gambar Conan pertama lagi, aku kasihin cuma-cuma, ehehe... Soalnya lagi bokek, ngga bisa beliin apa-apa. Namun, karena tindakan ini, aku jadi banyak utang nggambarin Conan untuk beberapa orang. Ngga tahu kenapa, aku senang berteman dengan orang bertangan imut yang unik ini, hahaha... (Dil, dijaga ya, gambarnya! wkwk). Aku janji deh, kalo kita masih dekat, tahun depan, tepat di ulang tahunnya, aku akan kasih sebuah gambar lagi ke dia... Woi Dilla! Jangan ke-GR-an...
with a cup of smile for Dilla...
Auriga Amarilis
:)
Tuesday, 21 December 2010
Namaku Ani...
Aku Ani.
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, angkatan 2010. Aku orang
Jawa asli, pandai berbahasa Jawa dengan logat Jawa ngapak.
Aku pendiam dan misterius. Aku suka menulis dibandingkan berbicara. Namun, banyak orang yang bilang bahwa aku cerewet. Hal ini membuatku terkesan seperti orang berkepribadian ganda. Kadang ceria, kadang pemurung, dan kadang gila, ahaha...
Sejujurnya aku gila. Orang yang baru lihat pasti bilang aku pendiam, sehingga ragu mendekat. Padahal, sekalinya ngomong aku sulit untuk berhenti. Aku suka musik, menulis, dan menggambar (ditambahin menari dan menyanyi aja dah, biar kayak hobinya anak TK, hehe). Jadi, aku adalah penyuka kedamaian dan pembenci kedustaan serta kesombongan (Btw, apa hubungannya kalimat penjelas ini dengan kalimat sebelumnya ya? Kalimat utamanya apa juga nggak jelas deng! Ahaha)
Aku adalah pengamat jitu! Hati-hati aja kalau ada di dekatku. Bisa aku terawang, baru tahu rasa, ahaha. Sixth sense-ku lumayan sih, keturunan dari sang Mama (Mama aku lho, bukan Mama Loreng, plak!). Aku suka berpikir dalam diam, sambil memandang hamparan langit atau taburan bintang manis di permukaan langit yang lezat dinikmati mata. Wiew!!
Banyak orang bilang bahwa aku lebay, bahwa aku adalah tipe orang sanguinis dan melankolis, dengan rasa toleransi, solidaritas, dan keramahan yang sangat tinggi (ini seriusan kata orang lho). Namun, aku nggak bisa dijadikan sebagai pemimpin atau diberikan tanggung jawab terlalu besar karena aku cenderung labil, masih belum bisa dipercaya untuk memimpin (ini kata orang dan juga kata Ani sendiri).
Oleh sebab itu, aku kaget setengah hidup saat aku ditunjuk menjadi seorang Section Leader di MBUI. Wakakakak, kocak sebenernya, seorang aku bisa jadi SL. Namun, bagaimana lagi, amanah ya amanah harus dipegang dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Meski sebenarnya, aku masih sangat banyak kekurangan sebagai seorang SL. Hahahihi...
Aku anak PIT MBUI... Bangga bisa menjadi anak MBUI, hahai...
I love MBUI, dengan segala kekocakkan, keseriusan dan apa pun yang ada di dalamnya, aku suka.. Aku bertemu banyak orang dari berbagai daerah berbagai jurusan berbagai jenis macam watak dan sifat yang mereka punya. Aku suka menjadi Cadets MBUI...
Aku SL Pitt cadets MBUI 2010 (ya ampun, baru sekali ini gue mengaku sebagai SL Pitt nih, bismillah) menyatakan bahwa aku telah jatuh kepada MBUI....
MBUI... BANGKIT!
Kenapa Selalu Ini?
Ini adalah kelanjutan dari catatan sebelumnya di mana saya menyebutkan bahwa saya sangat menyukai bikun (maaf, cuma ingin memperpanjang note, hehe).
Jadi, aku menjumpai banyak orang saat aku menaiki bikun. Berbagai macam orang dari berbagai kategori. Dari kategori ras, gaya pakaian, gaya bahasa, gaya duduk, gaya tidur, cara berbicara, gaya berdiri sampai gaya kupu-kupu (haik? Lo kata renang?).
Bikun adalah kendaraan beroda empat, berbentuk balok, berwarna kuning, bersopir satu orang, bertempat duduk seperti susunan tempat duduk angkot, berjalan, dan mampu menampung sekitar 50 atau 60 orang jika kamu naik dari stasiun UI.
Di dalam bikun, aku menemukan inspirasi berceceran, tidak lain tidak bukan akibat mengamati penumpang-penumpang bikun yang berceceran dan bergelantungan. Di dalam bikun, aku menyimpulkan bahwa orang-orang cenderung memilih berdesak-desakkan sambil menikmati bau ketiak orang di setiap ujung pintu, daripada berdiri di bagian tengah yang pastinya lebih nyaman dengan AC menghembuskan angin dingin yang membekukan.
Parah sekali.
Menyebalkan sekali pemandangan seperti itu. Bayangkan, jika bikun selalu diisi dengan pola seperti itu (penumpang mayoritas memilih berdiri di tiap kutub bikun) dan bagian tengah atau lambung bikun selalu kosong, lama-lama bikun bisa patah jadi dua, seperti tragedi titanic yang so sweet itu (film-nya sih yang sebenarnya so sweet). Hnn...tapi opini ini terlalu aneh deng! Haha...
Bikun ini, kapan diisi bahan bakar ya? Berapa kali sehari? Sebab, aku belum pernah memergoki bikun ini berjalan di luar jadwal tanpa membawa penumpang. Jadi, walaupun sering molor hingga sepuluh menit, bikun ini selalu berada di linkungan UI. Basecamp-nya kan di asrama, berangkat dari asrama pulang juga di asrama. Hal ini membuat asrama semakin lengkap (???).
Kembali lagi mengenai aku di dalam bikun (sejak kapan aku menjadi akuan begini? Pengen berubah deh. Haha). Setiap melihat penumpang bikun, yang hampir selalu berganti di tiap halte, aku selalu ingin membuat cerita. Lalu menerka-nerka watak mereka lewat ekspresi muka dan gerak-gerik mereka, bahkan lewat cara duduk mereka. Begitu asyik mengamati orang di dalam bikun. Lucu-lucu!
Pernah aku bermain tebak-tebakkan dengan diriku sendiri, mengenai "fakultas apakah dia?". Jadi, aku mengamati seorang penumpang bikun, lalu mulai menyusun hipotesis mengenai dari fakultas apa si penumpang bikun berasal? Haha. Autis! Main sendiri, senyam senyum sendiri. Inilah pekerjaan orang yang suka mengamati orang. Ckck, aneh ngga sih?
Saturday, 18 December 2010
Ini Soal Men-Tag
Jadi, aku adalah orang yang cukup rajin membuat catatan di facebook. Memang sedikit tidak jelas catatan-catatan aku itu, tapi aku selalu rajin-rajin saja menulis catatan karena aku suka berfantasi lalu melimpahkannya ke dalam tulisan yang aku sebut tulisan gaje. Ini salah satunya..
Kembali ke tag-men-tag. Jadi, menurut aku, entah mengapa, men-tag seseorang dalam suatu catatan seperti sebuah pemaksaan terhadap seseorang untuk membaca tulisan yang telah kita buat. Misalnya, aku telah menulis sebuah catatan berjudul "I Love Bikun". Dua hari berjalan, hanya empat orang yang membaca. Namun, setelah saya men-tag beberpa orang, mendadak catatan aku menjadi rame oleh komentar. Aku jadi ragu, apakah keramaian ini adalh sebuah paksaan akibat penge-tag-an ini?
Oleh karena itu, aku adalah tipe orang yang suka membiarkan saja apa yang sudah aku ciptakan. Tidak baik memang yang namanya malas mempublikasikan. Namun, ada satu perasaan yang berkata publikasi itu adalah wujud lain dari pamer. Iya memang pamer sih. Namun, kalau publikasi itu kan untuk sesuatu yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan karena memnag mungkin sudah terstruktur dan terkonsep dengan baik. Sedangkan catatan aku, menurutku belum layak publikasi.
Oh iya, maaf ngelantur mulu dari topik bahasan soal men-tag. Intinya, aku pribadi tidak terlalu suka men-tag, kecuali tag foto, atau tag informasi. Mengenai men-tag hasil karya, hasil pikiran, hasil seni dan sebagainya, ini mempunyai kesan yang berbeda. Aku lebih berharap orang lain mendatangi sendiri sebuah karya baru, lalu mengapresiasikan pemikiran mereka mengenai karya tersebut. Dengan begitu, sebuah karya akan terkomentari tanpa pemaksaan. Bayangkan jika kita men-tag seseorang, sedangkan orang itu bukan ahlinya, tidak menyukai hal-hal yang berhubungan dengan hal yang kita tag-an, atau parahnya lagi tidak tahu apa yang kita tag itu, pastinya komentar yang ada hanya berupa komentar sampah yang tidak ada intisarinya lagi bukan?
Hwah, super tidak jelas sekali catatan ini, ckckck.
Kesimpulannya, berpandai-pandailah dalam men-tag. Lebih selektif dalam mempublikasikan sesuatu yang bersifat hasil karya dan pintar-pintarlah men-tag nama orang dalam karya tersebut, apakah dia benar-benar orang yang tepat yang berhubungan dengan karya tersebut. Jika tidak, maka akan terjadi sebuah pemaksaan, hahaha
Aduh, Ani gajeeeeeeee.........
sddasggggg
Ini tentang anak-anak...dibilang anak jalanan bukan, dibilang anak putus sekolah sepertinya mereka memang berniat untuk tidak sekolah, dibilang-bilang yang lain takut salah bilang. Jadi saya anggap mereka sebagai anak malang saja ya, atau biar lebih mudah alang (hati hati bukan "anak layangan" lho, ntar jadi "alay"!). Jadi kalau anak malangnya jamak aku sebut mereka alang-alang.
Siang ini, dua alang-alang bermain kejar-kejaran keluar masuk bikun hari Sabtu. Hari Sabtu, bikun malas beroperasi. Banyak yang hanya berdiam diri di jejalanan depan asrama. Benda besar berjalan nan cemerlang dan menyilaukan ini tampak malas dan sok, karena berangkat hanya beberapa kali dalam satu jam dan itu pun cuma sampai pukul 14.00, di mana biasanya sampai pukul 21.00 si bikun dinahkodai pak sopir (mulailah ketidakjelasan saya) masih berkeliaran di jalurnya. Iya bikun ini tampak sombong dan sok hari ini, tapi tidak di mata alang-alang itu. Mereka berlarian dengan senangnya keluar masuk mulut bikun (baca: pintu).
SMS Online (dapet dari blognya Edja)
Friday, 10 December 2010
I Love Bikun
Pukul 8.33 WIB
I Love Bikun
oleh Anifatun Mu'asyaroh pada 10 Desember 2010 jam 9:25
Aku sangat suka naik bikun. Bikun merupakan singkatang dari bis kuning. Ini merupakan EYD yang salah. Seharusnya Bukun kan ya? Bus kuning. Namun, apa daya memang enakkan didenger bikun daripada Bukun yang terkesan kayak panggilan mak-mak. Hehe.
Aku pulang dari casting (ceilee, kayak punya modal, bakat, potensi dan thethek mbengek di dunia tarik suara aja. ehm maksud saya dunia akting aja..). Kamis kemarin, aku jujur, serius, tidak bohong apalagi mengada-ada, aku mengikuti casting di gymnasium untuk iklan motor ***d*. Parah sekali! Sebelum berangkat, aku sudah punya feeling, pasti something wrong bakal terjadi. Maklum feeling aku adalah feeling-nya bakul es, rada tajam, bisa memperkirakan cuaca hari ini, sehingga bisa menyiapkan persediaan dagangan agar bisa se-pas mungkin. Aku malas sekali untuk datang, meski Ayu sudah merayu-rayu, meski Juju sudah mengajak-ngajak, meski rumput berhenti bergoyang karena bosan ditanya terus olehku. Namun, rasa penasaranku, lumayan mampu membunuh kamalasanku (jarang-jarang ini). Akhirnya aku memutuskan datang. Aku tidur pukul 2 siang, berniat bangun pukul 3, lalu berangkat pukul 3.30. Manusia merencanakan, Tuhan menentukan. Semua plan, gagal total. Huaahaha...
Melek pukul 3.30, sampai halte pukul 3.47. Bikun datang dua menit kemudian. Bikun biru. Itu artinya muter dulu. Namun, karena aku suka naik bikun, aku naiki saja dia. Telat?? Jangan tanya.
Pukul 4.05. Tiba di depan gymnasium yang besar dan lebar berdinding hijau muda pudar. Aku tidak melihat anak-anak MB, selain Teguh, Juju dan Ayu. Hatiku bertanya-tanya. Mataku menjelajah lapangan. Dan kakiku menunaikan tugas yang lain, kaki kanan garuk-garuk kaki kiri. Sweatdropped!! Casting apaan ini? Yang datang cuma tiga orang? Mana lawannya??? ckckck, harap harap parah!
Aku datangi mereka dengan ekspresi muka yang (aku yakin) seperti ekspresi seorang raja maniak wanita yang dihadapkan pada dua pilihan, tahta atau wanita??? Bingung sebingung-bingungnya! Hahaha. Juju dan Ayu pun ternyata menampakkan muka bingung. Usut punya usut, Teguh lah biang keladi pembuat dua anak manusia itu bingung setengah hidup, dengan berkata, "jarkom casting itu cuma bohongan! Gue dateng ke sini bukan buat casting, tapi buat latihan tambhan! Haha," yang anehnya langsung dipercayai Juju dan Ayu. Kalau aku jadi mereka, Teguh akan aku interogasi habis-habisan sampai jungkir balik (cuma omdo sih sebenernya, haha). Hampir saja, Juju dan Ayu pulang, yang itu artinya hampir saja aku menjadi kandidat tunggal dari section pit di acara casting yang menggelikan itu, haha. Untung mereka ngga jadi pulang, fiuh!
Casting...berjalan lancar bagi Ayu, Juju, Elsa dan anak-anak cadets lain. Sedangkan aku??? Aku parah separah buah mangga masak dimakan kalong, abis itu ketiup angin topan, jatoh ke tanah dan beberapa detik kemudian tertinda truk tronton----> tinggal bijinya doang yang berbentuk, haha. Ayu, full ekspresi, senyum kanan senyum kiri, sadar kamera dengan rambut terurai bak di iklan shampoo kecantikan anti ketombe dan anti gundul, maksudnya anti rontok. Juju, lebih mantap, dengan gaya seperti model iklan marimas, berpose profesional layaknya model bintang empat setengah. Sedangkan Elsa, dia yang baru berusia 17 tahun, justru yang paling bergaya dewasa, so sweet Elsa! Ahaha... Kalu aku??? Aku bergaya seperti sebatang kayu yang berdiri memegang mallet sambil memukul-mukulkannya ke kawannya bilah-bilah bambu (baca: bells). Aku kaku sekaku-kakunya kayu baru ditebang dari pohonnya, haha.
Abis casting --di mana kita disuruh berkenalan, senyam-senyum sana-sini, pukul alat main alat, ekspresif dan ngepel lapangan gymnasium (lho??? dusta! dusta!)-- aku berniat pulang karena sudah sangat rindu pada bikun. Bikun oh bikun, aku ingin memilikimu selamanya...houwouwo (iringan lagu keroncong kemayoran). Namun, aku harus mennggu Juju beberapa menit, karena males pulang sendirian. Alhasil aku berhasil membuatnya berhenti memandang pasukan latihan dengan berkata, "Ntar maghrib, bikun ngga beroperasi lho..." Juju yang notabene mudah dibohongi, panik dengan sukses, dan memutuskan pulang. Banzai!!! hehe...
Di bikun, aku senang, di bikun aku bahagia, di bikun, dunia serasa milikku sendiri... (lebay, padahal ya desak-desakkan dengan orang banyak). Bikun oh bikun aku suka menaikimu....lallala (lama-lama bisa tercipta lagu hymne bikun ini, ckckck).
Di asrama, bingung mau apa. Akhirnya aku memutuskan untuk ke kantin, yang ternyata secara tiba-tiba disetujui oleh Iam, yang muncul dari balik bikun. Hahaha...Iam, makaaan yuuk! Aku memesan mie ayam bakso dengan satu bakso yang sukses menggelinding di meja, dan iam makan sayur+tempe. Kontras banget, ani yang sok hedon, dan iam yang selalu normal-normal aja. Abis makan, aku malas pergi ke kamar. Aku berniat mengulur waktu dengan menceritakan hal-hal tidak penting kepada Iam, seperti tentang orang yang kulihat di kantin asrama kemarin malam, atau orang yang di Kebumen yang kemarin malam kuajak chatting lewat fb. Huahaha... Aku sangat malas kembali ke kamar!
Aku mengulur waktu lagi dengan mengajak Iam memandang bintang. Ya ampun kayak sepasang kekasih yang diterpa cinta terlarang yang sedang kasmaran. Kami pun duduk-duduk di kursi panjang berlengan pendek (kayak baju kemeja aja, haha) yang diam saja sejak empat bulan lalu di depan TU. Aku kira dia permanen di sana. Iringan lagu-lagu gereja yang dinyanyikan jemaah Kristiani, membuat malam menjadi tak biasa. Aku baru sekali mendengarkan lagu-lagu itu di samping telingaku sendiri. Mereka di Gazebo, kami berdua memandang bintang yang tidak terlihat di depan kantor TU.
Bosan, aku mengajak Iam naik bikun lagi. Pukul 7.30 malam saat itu. Di luar dugaan Iam langsung melonjak-lonjak bahagia sepertia diajak nge-date ke Taman Safari di Afrika sama Donnie Sibarani (hahai, pengandaian yang terlalu tinggi). Akhirnya, kami naik bikun yang sepi dan sepi. Hanya aku, Iam dan Pak Sopir kelahiran Wates, Yogyakarta. Kok aku tahu asal muasal beliau? Ya karena kami bertiga berbincang seru seperti dengan Bapak di kampung malam itu. Asrama hingga Stasiun kalau tidak salah, kami bertigalah tiga-tiganya penumpang bikun, Asyik sekali... Naik bikun yang sepi yang sepi yang hanya milikku sendiri. Ingin akun berlari dari ujung kursi penumpang paling belakang hingga ke ujung paling depan di mana Pak Sopir sedang memijit-mijit setiran kesayangannya. Stelah itu guling-guling di lantai berlapis kertas lantai berwarna biru berbercak kuning dan biru muda. Berloncatan-loncatan di tiap kursi penumpang hingga keluar peer yang berada di dalam kursi tersebut. Ya ampunnnn, bikun I'm in love....
Setengah jam kamudian, aku mendapati diriku sudah berada di asrama lagi...dan berakhirlah petualangan bersama bikun hari itu. Tentang casting, aku kira, aku akan berpikir 273 kali sebelum memutuskan untuk ikut. Ahahha....
Catatan yang sangat-sangat panjaaaaaaaaaaaaaaaaang
Monday, 29 November 2010
NIlai UTS ke-2
Sepertinya, bulan ini adalah bulan berkabung yang sangat menyedihkan. Dua orang pahlawan dari SMANSA, Bapak Mujiman dan Bapak Wahyudi, telah dipanggil Allah. Mereka meninggal pada hari yang sama, Minggu 28 November 2010.
Ba'da maghrib, aku mendengar kabar dari Iam yang membacakan status group SMANSA Kebumen di facebook. Status itu kurang lebih seperti ini, "Innalillahi wainnailaihi roji'un, telah meninggal Bapak Wahyudi, M. Eng. hari ini saat menunaikan ibadah hhaji di Arab. Berita ini baru saja diperoleh dari istri almarhum yang menelepon ke SMANSA."
SHOCK!!!!
Bagaimana tidak! Sebab, paginya masih di hari yang sama, kabar lelayu juga datang dari SMANSA, tentang meninggalnya Bapak Mujiman, guru sosiologi paling hebat di SMANSA.
Dua orang itu, adalah guru yang hebat di SMANSA. Aku yakin semua orang, khususnya warga SMANSA dan keluarga para almarhum sangat sedih mendapat serangan duka yang bertubi-tubi seperti ini. Semoga mereka berdua diterima di sisi-Nya, sedangkan orang-orang yang ditinggalkan diberi ketabahan menghadapi semua ini.
Bapak Mujiman, anak-anaknya masih kecil. Pak Wahyudi, meninggal di Arab, sehingga kemungkinan besar jenazahnya dikebumikan di sana yang artinya keluarga tidak mampu melihat beliau untuk terakhir kali sebelum dikuburkan. Hnn... Sabar yaa...
Hnn... Kembali ke judul postingan ini, nilai uts ke-2... Jadi postingan ini menggambarkan betapa hancur, parah, koyak, sobek-sobek, guling-gulingnya nilai UTS mata kuliah penulisan ilmiah aku. Parah pokoknya! Di kelas aku paling tinggi 75, diraih Azelytta Adriani. Namanya paling pertama dipanggil. Dari namanya dipanggil, aku udah punya feeling, sepertinya hasil ujian dibagikan urut dari nilai tertinggi. Beberapa menit kemudian, feeling itu terbukti, dengan diterimanya hasil UTS aku yang "astaghfirullahal'adzim bikin pingsan orang yang ngeliatnya!"
Sebenernya, aku ngga shock-shock amat sih. Mukaku tetep adem ayem. Aku emang udah mengira nilaiku bakal hancur. Namun, aku ngga pernah mengira akan mendapat angka "go kyuu", hiks hiks...
SEMANGAT ANI!!!!
Tuesday, 23 November 2010
Ujian
Sebentar lagi Ujian Nasional SMA ya? Tahun depan sih sebenarnya, mungkin sekitar 2-3 bulan lagi. Ngomong-ngomong tentang ujian, aku ingat pas aku mau ujian banyak sekali orang yang menyuport aku. Ibu, teman-teman dekat, para guru (otomatis) dan beberapa orang adik kelas. Aku tidak ingat ada berapa dan siapa saja tepatnya.
Di antara orang-orang itu ada seseorang yang sudah cukup lama hilang kontak, tapi tiba-tiba muncul lagi. Dia mengirimkan wall ke facebook aku. Isinya tentang ucapan “SEMANGAT menghadapi Ujian Nasional”. Aku seperti sedang bermimpi saat itu karena kukira dia sudah lupa padaku bahkan mungkin masih sebal padaku. Wuiih! Terbang! Mungkin kalo aku sempat berkaca, aku mampu melihat wajahku yang bersemu merah hanya karena membaca tulisan itu. Yaa ampun, aku merindukan kata-katanya. Hahaha... Tak hanya ucapan semangat, dia juga menyelipkan ancaman, “Kudu apik lho bijine! Awas nek ora!” Huwaaaa...merasa diperhatikan. Sumpah! Gue Ge-er setengah hidup!!! Sampai-sampai takut terbangnya terlalu tinggi dan menjebolkan atap sekolah. Oh My... Parah ya? Ih! Kalau kau tahu ya, rasanya seperti dikasih es campur saat habis berpanas-panas ria... Serius!!! Dia hilang lama, muncul tiba-tiba dengan ucapan semangat seperti itu... Lebaaaaay!!!
Ern... Kenyataannya, meskipun dia telah menyemangatiku hingga menmbuatku nge-blush setiap mengingatnya, tapi ternyata aku tetap tidak mampu mengerjakan soal UAN itu. Parah! Hehehe (masih bisa ketawa tapi ya?? hahai)
Sekarang, giliran dia yang akan ujian. Aku tidak berani mengirimkan penyemangat-penyemangat semacam itu. Aku pengecut memang. Aku hanya mampu mendo’akanmu diam-diam.
“Semangat, Kawanku!!! Tahun depan, sebulan setelah ulang tahunmu, kamu ujian kan?? Lakukan yang terbaik ya! Kamu katanya kan pengen ke FK? FK mana? UGM? UI? Oh iya! Kamu ngga pengen ke UI deng. Rada kecewa sih aku, tapi mau bagaimana lagi. Aku tahu semua kakakmu yang kuliah kedokteran, tempat kuliahnya ngga jauh-jauh dan sepertinya Ibumu sangat menyayangimu dan tidak akan membiarkan anaknya yang manis (hoex) terlalu jauh merantau di negeri orang (lebay). Ganbatte ne!!! Jangan payah seperti aku! Aku yakin kamu bisa!!!”
Psst!!!
For you my “little” friend
With a bowlfull of friendship love
ARD
Monday, 22 November 2010
Bu Guru?
Di hari itu aku ada kegiatan BAKPAO (Bakti Sosial Pasca OKK) yang merupakan rangkaian OKK IM FKM UI. Aku tiba di FKM pukul 7 kurang dengan perjuangan cukup berat karena tak ada bikun. Aku juga sempat marah-marah ke Dini. Aku malu, kenapa aku suka sekali marah-marah dan berwajah garang. Aku yakin Dini akan takut dan rikuh padaku mulai saat itu.
Kaos Bakpao telat datang, akibatnya kami pun telat berangkat. Seharusnya pukul 07.00 kami sudah on the way to lacation, tapi faktanya pukul 08.15 kita baru naik truk tronton. Kursi truk tronton yang berlubang itu sangat hebat dalam menyerap air dan membagikannya pada kami sehingga celana kami basah-basahan selama duduk di dalam truk.
Perjalanan menuju desa Sukakarta tidak semulus yang aku bayangkan. Desa itu benar-benar desa. Aku anak desa dan aku bersyukur karena jejalanan di desaku masih lebih baik dibandingkan jalan di desa Sukakerta yang berlubang besar di sana-sini. Jalan ini belum beraspal sehingga becek di musim hujan. Truk tronton melaju dengan goyangan yang asoy akibat kondisi jalan yang oenuh lipatan ini. Serasa sedang bergoyang disco rombongan kami pun dengan seenaknya sendiri mengganti nama desa ini menjadi desa Sukagoyang.
Tiba di desa sekitar pukul 10.40-an. Aku tidak tahu pasti karena tidak sempat melihat jam. Kepala masih bergoyang, mungki efek dari jalan di desa Sukagoyang ini. Haha. Kami bergegas menuju lapangan Madrasah. Madrasah ini ternyata diperuntukkan kelas I hingga kelas IX, jadi SD SMP digabung. Madrasah At Taufiq namanya. Ketua yayasan menyambut kami dengan speech yang berapi-api. Aku tidak mendengarkannya, tapi aku tahu kalau Bapak Ketua Yayasan sedang menunjukkan keungggulan madrasahnya.
Madrasah ini kecil. Lantainya sudah berkeramik, tapi sayangnya kondisi kebersihannya masih sangat buruk. Ada sebuah kulkas tergeletak di dekat ruangan kelas VI. Sepertinya kulkas bekas dan aku bingung kenapa kulkas itu diletakkan di situ. Ruang kelasnya cukup memprihatinkan dengan jwndela yang tinggal lubang tak bertutup. Pintunya juga compang-camping bahkan ada yang tinggal setengah pintu saja. Di sudut lapangan, sebuah tempat sampah terlihat menderita karena tidak bisa memunguti sampah-sampah yang berserakan di sekitarnya. Tempat sampah ini terbuat dari sebuah drum minyak yang dipotong menjadi dua, lalu diletakkan di sudut-sudut lapangan yang berbatasan dengan teras kelas.
Aku termasuk panitia bidang BB (Buku Bermanfaat).Jadwal masuk kami --panitia BB-- adalah setelah giliran intervensi dengan alokasi waktu selama 10-15 menit. Aku bersama Lady dan Tia kebagian kelas IV SD. Kami masuk sekitar pukul 1 kurang. Anak-anak SD ini benar-benar atraktif, aktif, juga anarkis. Mereka sangat terobsesi mendapatkan hadiah. Sebelum kami masuk, anak-anak intervensi mengadakan kuis dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan seputar sarapan, cuci tangan dan lain-lain. Anak-anak SD itu sangat antusias menyambut kuis, terlebih hadiah yang akan didapat cukup menarik. Satu pertanyaan yang masih kuingat adalah "Apa fungsi dari sarapan pagi bagi tubuh?" Hampir semua anak mengancungkan jari. Aku takjub! Waw! Mereka sangat hebat! Pikirku. Terlepas dari keberanian dan antusiasme yang sangat besar dan menakjubkan, jawaban yang keluar dari mulut mereka pun tak kalah menakjubkan ngawurnya. Hahahaha. Masa mereka menjawab nasi, jeruk, pepaya dan makanan-makanan lain. Usut punya usut, anak-anak ini tidak tahu arti dari kata fungsi. Ibu guru mereka yang menyaksikan dari luar jendela berteriak-teriak, "Manpaat! Manpaat! Bukan nama makanannya! Aduh, payah banget sih..." sambil seyum-senyum malu. Ya ampun, ternyata seperti ini aku waktu SD dulu. Pantes guru-guru SD banyak yang mengaku stres menghadapi muridnya. Hahai. Kuis intervensi berjalan lancar, meskipun banyak hadiah yang diberikan dengan terpaksa kepada anak-anak itu. Ya iyalah terpaksa, adek-adek itu pada kagak ngarti maksud kuisnya. Mungkin bahasanya udah terlalu tinggimbuat mereka. Hoho.
Giliran BB yang masuk. Aku, Tia dan Lady yang sudah menunggu cukup lama (sampai aku bosan berfoto-foto dengan Dila) sudah sangat ingin segera menyelesaikan semua ini. Kami di sini hanya memberikan games kacil yang disebut pesan berantai. Tahu kan??? Yang bisik-bisik berantai itu lho... Mengingat anak-anak kelas IV ini masih sangaaat polos dan polos dan polos dan cukup anarkis, kami menyederhanakan kalimat yang memang seharusnya sangat rumit. Kalimat pertama adalah "Susi suka susu sapi segar setiap saat". Dan andai kau tahu, anak-anak ini sama sekali tidak deria layaknya sedang bermain games. Mungkin games yang diberikan terlalu menegangkan bagi mereka. Lama, lama dan lama, sepertinya mereka belum terlalu mengerti dengan mekanisme game. Mereka membisikkan kalimat tersebut atau tidak hanya mereka yang tahu. Karena apa? Karena saat sampai di ujung, si anak paling ujung tidak mampu menyampaikan informasi yang dia dapat. Hahahaha... Si anak hanya diam diam di tempat sambil senyam senyum bingung. Wakakakak, lucu sekali dia. Si anak yang senyam senyum itu dari kubu cewek. Dari kubu cowok, lebih mending karena dia mampu menyebutkan satu kata dengan tepat yaitu, "Susu". Yang lain, entah tercecer di mana. Ngahahahaha....
Kalimat kedua lebih dimudahkan yaitu "Uler bunder-bunder muter-muter di atas pager". Kali ini anak-anak itu lebih antusias dan bersemangat. Mereka pasti sudah memahami alur permainannya. Akhirnya, sampai lagi ke ujung. Para ujungers maju ke depan menghadap ke Tia dan menyampaikan informasi. Perwakilan kubu cowok menjawab dengan lantang dan wajah penuh keyakinan, "Uler muter-muter di atas pohon mangga". Sontak semua orang tertawa. Jauuuh. Mungkin ini anak lagi ngidam makan mangga kali ya? Haha. Sedangkan perwakilan kubu cewek menjawab dengan malu-malu, "Uler muter-muter di atas pager". Tidak ada yang menjawab dengan benar memang, tapi karena kami tidak menjual mangga maka kami memutuskan kubu cewek lah yang menang. Maka hadiah yang dihias sampul kado dan berisi sekotaK MOMOGI itu diberikan kepada kubu cewek. Sebenarnya semua kubu dapat, karena kami telah menyediakan dua hadiah. Jadi setiap orang pasti dapat. Yeeey!
Di luar dugaan! Sebuah aksi dorong dan cakar-cakaran terjadi di tengah masing-masing kubu. Anak-anak cewek langsung menyelinap menuju ke ruang kelas yang terletak di sebelah ruang mentoring intervensi dan games anak BB. Lalu mereka berebut mendapatkan momogi itu. Sepertinya mereka malu-malui berebut di depan umum. Sedangkan anak-anak cowok mereka secara terang-terangan berebut makanan di depan umum. Aksi cakar-cakaran tidak terelakkan lagi. Moment berharga dimanfaatkan dengan baik oleh para paparazzi BAKPAO (baca: seksi dokumentasi). Mereka dengan bahagianya menjepret sana jepret sini, sambil senyam senyum karena mendapat angle yang bagus. BANTUIN NGELERAI ngapa?! Huhuhu.
Tiba-tiba ada seorang adek cewek yang manis mendekati aku dan berkata, "Ibu Ibu! Itu ada yang ngambil dua momogi!" dengan muka bersungut-sungut minta ditegakkan sebuah keadilan. Selama sepersekian detik aku kaget dan mendadak melamun karena dipanggil Ibu... Huwaaa... setua itu kah muka saya?? Belum sembuh dari shock berat, tiba-tiba adek cewek lain melutikku sambil menodorkan sebungkus momoggi. Dia berkata, "Ibu! Ibu! Ini buat Ibu aja, soalnya kita udah dapat semua." Huwaaa.... Serangan kedua. Deg deg! Aku semakin merasa tua! Atau aku emmang terlihat dewasa? Huhu... Aku lalu menjawab dengan muka penuh sweatdrooped di mana-mana, "Oh buat adek saja, dimakan ya..." kuakhiri dengan senyum yang pastinya sangat ambigu.
Di sisi lain, Tia sedang sibuk membagikan momogi kepada adek-adek cowok. Mereka berbaris dengan tidak rapi dan hampir saja ada adek yang menangis karena mendapat urutan paling belakang. Pasti dia takut tidak kebagian momogi. Ckckckck...kasihan!
Tiba-tiba aku teringat pada si adek cewek yang tadi berniat memberikan sebungkus momogi untukku. Aku lalau menemuinya dan dengan muka dimanis-maniskan aku meminta momogi tersebut. "Adek. Tadi kamu kan ya, yang megang momogi dua? Yang satu buat kakak boleh ngga?" pintaku. Dengan senang hati dia memberikan momogi tersebut dan aku tersenyum takjub melihat keikhlasannya itu. Wiew!
Aku berikan momogi itu kepada si adek cowok paling kecil yang baris paling belakang yang kini sudah hampir menangis tersedu-sedu. Cep cep cep! "Ini buat kamu, Dek," kataku sambil menyodorkan momogi. Adek itu menerimanya dengan bingung. Kenapa semua anak di sini bingung? HUff! Aku hanya tersenyum.
TIbba-tiba ada seorang anak yang memanggilku dan betteriak,"Bu Guru! Bu Guru! Dia ambil momoginya dua! Curang dia, Bu!" HUwaaaa.... hampir aku jatuh terlalu kaget, karena dipanggil Bu guru. Untung kondisi lagi fit jadi ngga sampai pingsan, haha. Akhirnya aku mendekati si anak cewek yang imut-imut pengambil dua bungkus momogi. Dia ketakutan mungkin dikiranya aku mau menjitaknya. Lalu aku membujuknya untuk memberikan momogi tersebut kepadaku karena aku akan memberikannya kepada teman mereka yang belum dapat. Dia langsung menyodorkan momogi, tapi aku yakin dia masih ketakutan.
Akhirnya distribusi momogi hari itu berlangsung ricuh dan berakhir bahagia. Ckckckck.... dasar anak-anak! Hahahaha
Sunday, 21 November 2010
Kenangan Itu Terputar Kembali
Aku membuka blog aku yang dulu. Di sana terdapat sebuah posting-an yang membuatku tersenyum malau-malu tikus. Aku ingat dua tahun yang lalu, saat masih kelas XI SMA, aku suka sekali memelototi layar handphone. Tak rela jika lampu layarnya mati karena hal itu akan membuatku kesusahan melihat namanya. Aku rela menghabiskan belasan ribu untuk membeli pulsa agar aku bisa mengetahui perembangan dia. Aku seperti seorang mata-mata yang akan menyesal jika ada satu kegiatan tentang dia ynag terlewat sedikit saja.
Ini terlihat seperti sebuah perasaan cinta? Namun, aku sangat bisa menjawab "bukan" dengan cepat karena sebenarnya aku menganggap dia sebagai inspirator dan pelawak. Aku tidak bisa membiarkan mataku tidak membaca sedikit pun banyolannya setiap hari. Pernah aku ketiduran dengan koneksi yang masih tersambung ke internet. Hnn... aku sedang online, nama aplikasinya ^x^^. Populer sekali aplikasi ini saat itu. Aku juga kecanduan. Kecanduan ini gara-gara dia... haha. Jadi, di malam itu, dia mengirimkan beberapa message, memanggil-manggil aku dengan nama panggilan aneh yang seperti biasa dia lakukan. Namun, sudah aku bilang bahwa aku tertidur. Alhasil... Aku tidak membalsanya. Dan andai kau tahu, aku sangat sedih, kecewa dan uggh...tahu kan kalau seseorang yang tidak sengaja membuang emas yang tiba-tiba muncul di atas telapak tangannya??? HUaahhh....
Ehnn...parah ya??? Haha... Ani Ani! Labil! Namun, apa daya, dia berbeda denganku. Dia sekarang jauh sehingga aku canggug jika ingin meminta dia melawak untukku. Berbicara atau mengirimkan pesan-pesan nyleneh untukku. Aku rindu sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Komunikasi kami sudah sejauh kutub utara ke kutub selatan. Hahai!
Semoga kamu masih mengingatku...
With A Spoonfull of Love
for you DRA, Kawan Bincang Bisuku...
Inspiring Words (I love it)
Anonim
Buku yang paling bermanfaat adalah buku yang paling membuat kamu berpikir (Theodore Parker)
.
Orang yang bijaksana mempelajari banyak hal dari musuhnya (Aristophanes)
.
Orang yang di usia mudanya mengabaikan pelajaran berarti kehilangan masa lalunya dan mati untuk masa tuanya (Euripides)
.
Takut bertanya bearti malu belajar (peribahasa Denmark)
.
Guru yang biasa-biasa saja,mengajar dengan memberitahu. Guru yang baik,mengajar dengan menjelaskan. Guru yang unggul,mengajar dengan memberi contoh. Guru yang besar,mengajar dengan memberi inspirasi (William Arthur Ward)
.
Orang yang berani mengajar tidak boleh berhenti belajar (Richard Henry Dann)
Missing Him
19.20
Nanti-nanti. . .
Q menanti sese0rang yang tak mau dinanti,yang tak tau dia sedang dinanti,karena mungkin dia tak mungkin ternanti...
Nanti-nanti,kalo dia tau aq menantikannya,aq kan beri penghargaan atas kepekaannya yang terlalu lama mengerti penantianku. . .
Nanti-nanti,kalo terbukti dia pantas ternantikan,dia akan mengerti kalo dia punya orang lain yang terlalu lama menanti kesadarannya akan penantianku...
Now
wah ternyata saya juga pernah melewati masa alay. Tulisan ini dulu ditulis dengan handphone, jadi ya maklum kalo disingkat dan cenderung alay. HAHA
Otobiografi
Penulis Tanpa Tulisan
Entah konyol, entah lucu atau entah apa, julukan “Bocah wagu” sering dilayangkan kepada gadis kelahiran 15 Maret 1992, yang bernama lengkap Anifatun Mu’asyaroh ini. Nama pemberian kakeknya yang cukup susah diucapkan, terbukti dengan adanya beberapa guru yang kewalahan mengejanya dan bahkan sering diplesetkan oleh teman-temannya menjadi animonster atau animaltun. Lahir dan besar di Kebumen, membuat gadis kalem yang biasa dipanggil Ani ini tetap adem ayem tinggal di kota yang sebenarnya makin terpolusi itu. Anak tertua dari tiga bersaudara ini, masih tinggal bersama kedua orang tua dan kedua adiknya di Karangsari RT 03/RW 03 Kebumen hingga detik ini.
Impian terbesarnya adalah menjadi seorang apoteker hebat dii masa mendatang. Hal inilah yang membuatnya meneruskan studi di SMA Negeri 1 Kebumen (SMANSA) setelah merampungkan pendidikan menengah pertamanya di SMP 1 Kebumen. Sekarang, ia terdampar di kelas XI METANA, salah satu kelas jurusan ilmu alam di SMANSA. Selain menjadi apoteker ia juga mempunyai keinginan menjadi seorang penulis setenar idolanya, J.K. Rowling. Namun, jarang sekali dia menulis sesuatu karena padatnya kegiatan sekolah dan faktor kemalasan yang tinggi. Bahkan, dia jarang mencatat pelajaran sekolah. Waktu luangnya lebih sering diisi dengan bermain hp, chatting dan main dengan teman. Sehingga, tak khayal baru beberapa cerpen saja yang berhasil dirampungkannya.
Penyuka warna ungu ini, mempunyai kegemaran membaca, menulis, menggambar dan berwisata kuliner di sekitar Kebumen. Hobinya yang terakhir inilah yang membuatnya tergabung dalam grup kecil “PiyiQuerr’s” yang mempunyai agenda rutin hunting makanan di akhir pekan. Ia paling suka makan mie ayam dan minum es campur.
Ani dikenal sebagai anak yang kalem (menurut orang-orang sebelum mengenalnya), wagu, baik, ramah, murah senyum, serta cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Anak pelupa dan agak lola ini paling suka jam pelajaran kosong, TIK, Biologi, dan Olahraga. Dia lemah pada mata pelajaran Fisika dan Matematika SMA yang sebenarnya dikuasainya dulu saat masih di SMP. Akibatnya, frekuensi kelulusan pada mapel tersebut dapat dihitung dengan lima jari.
Si jail yang jarang memperhatikan pelajaran ini paling benci kalau dibohongi, dicueki, disudutkan dan tidak dihargai. Baginya orang-orang yang berbuat seperti itu kepadanya tidak ada bedanya dengan hewan gastropoda yang amat tidak disukainya. Ia juga orang yang gampang menangis dan marah, tapi gampang pula redanya. Gadis berjilbab ini paling suka kalau disapa, diberi senyuman, dan dihargai. Momen-momen ynag paling menyenangkan baginya adalah saat berkumpul dengan teman atau keluarga. “You’ll never walk alone” adalah salah satu motto hidupnya yang telah membuatnya tetap teguh dan sabar saat merasa dicueki.
Penyakit Hati
Aku terus mencoba agar aku tidak terlalu akuan dan egois. Bismillahirrahmanirrahiim...
Jika diingat tulisan-tulisanku memang selalu berubah, cenderung menyempit sudut pandangnya dari mengamati setiap hal menjadi akuan sekali. Mungkin ini yang menyebabkan Wita berkata, "Gue suka mengunjungi blog yang aneh-aneh, Ani! Blog lo ngga aneh, Ani! Jadi gue ngga suka."
Aku selalu teringat kalimat itu. Aku merasa gagal dalam hal menggiring pembaca untuk membaca tulisanku. Aku bingung. Aku mulai berpikir kalau aku memang sebenarnya tidak berbakat, tapi maksa. Memang banyak sekali orang yang berkata bahwa tulisan aku bagus. Namun, bagus dalam arti apa aku masih belum begitu mengerti. Aku sering menulis kata-kata tidak jelas yang entah bagaiman mereka bisa menyatu. Tak padu. Aku menyebutnya syair, tapi sebenarnya dia tidak bermajas. Jika aku mengkategorikan mereka sebagai puisi, maka lagu pelangi-pelangi pun dapat dibilang puisi. Lihat? Tulisan ini pun sudah mengarah ke hal-hal yang tidak jelas... Ayo Ani! Please! Mulailah berlatih menjadi orang waras dan jelas. Haha... Sebab, jika kamu waras kamu akan bisa membuat orang waras lain berkomentar waras.
Oh iya, aku sendiri sebenarnya tidak teralalu yakin. Mereka yang berkata bagus sebenarnya mengerti tulisanku atau tidak. Jika tidak, aku sudah gagal juga untuk mengajak mereka melayang dalam imajinasiku. RESAH AKU!
Jumat, 19 November 2010...
Gila!! Duit aku habis dengan tragisnya. Aku berpikir untuk memulai usaha baru. Namun, mengingat kondisi nilai-nilai kuliah aku yang remuk, hancur seperti ditimpa meteor, aku mengurungkan niat ini dan memilih memperbanyak tidur. Aneh kan? Bukannya belajar malah tidur. Parah memang, tapi serius di sini, sejak di sini aku semakin mudah terlelap. Bahkan, sambil mendengarkan dosen atau asdos berceloteh aku sempat tidur. Untung ngga ngiler sih, malu aja kalo ngiler ada relief yang membuktikan aksi tidur aku.
Di hari jumat yang kelabu ini...dan aku yakin ini memang kelabu karena di hari itu juga aku menerima kenyataan buruk bahwa UTS FISIKA resmi diulang satu atau dua pekan depan. Sedih! Namun, aku teringat kata Wita (lagi-lagi si Wita, eksis amat dia di blog gue?), "Hehh! Enak dong diulang. Malah bisa belajar lagi. Lo udah punya soal-soal kemaren, lo udah dikasih tambahan, dan lo tahu bagian mana yang susah buat lo dan lo bisa pelajari bagian itu. Ih! Masa ngga nyadar sih?" Dan untuk kali ini aku setuju tujuh puluh persen sama Wita. Aku rasa dia mempunyai pemikiran-pemikiran yang bagus mengenai beberapa hal, makanya aku menyukai gayanya. Hoi Wita! Untung lo ngga suka buka blog gue, bisa terbang ke pohon pisang lo, haha.
Oh iya jumat kelabu (de javu sama kata-kata ini), aku menerima kenyataan buruk sebenarnya bukan buruk, buruk ini hanya berlaku bagiku. Satu-satunya orang yang merasa gagal dan bersedih saat orang lain menerima kebaikan. Aku malu padanya karena aku tidak tahu bahwa selama ini dia latihan keras untuk tampil di acara Bedah kampus UI.Aku merasa kesal karena dia tidak perna bercerita kepadaku selama ini. Aku merasa iri karena hanya dia anak section aku yang diajak untuk tampil di acara itu. Aku mefrasa bahagia karena dia memang pantas memperoleh penawaran tampil itu karena dia memang yang paling jago. Namun, yang paling aku rasakan dan sangat menyesakkan adalah aku sungguh merasa gagal. Gagal meyakinkan kakak-kakak section-ku bahwa sebenarnya aku bisa hanya saja belum bisa mengatasi rasa canggungku. Gagal menjajal kemegahan Balairung di depan junior-junior SMA. Mungkin, aku sudah salah niat dari awal, jadinya yaa... aku memang sudah memperoleh apa yang seharusnya aku dapat kok. Thank You, Allah..
Jumat itu, aku benar-benar down. Aku berangkat ke Pusgiwa dengan semangat, berharap bisa berlatih dengan teman-teman baru dan merampungkan lagu 4x4 Little PF, tapi harapan ituhancur sketika saat melihat Merissa pergi berlalu latihan. Jujur, aku iriii.. Ani pengen bisa seperti dia. Semangat Ani! Kalau Ani rajin berlarih pasti bisa seperti Merissa. ^^
SEMANGAT!!! Ibu dan Yaya selalu menyuportmu!!!
Thursday, 18 November 2010
Kamis Datar Datar
Oh iya, tadi aku bertemu seorang penulis pemula. Wiew!!! Dia teman satu angktan, satu fakultas. Namanya, Manda. Amanda Cherkayani tepatnya. Dia mulai menulis sejak kelas 6 SD. Subhanallah... Aku satu cerpen pun langsung jadi belum ada. Subhanallah... Saat ini, dia sedang mencari penerbit yang mau menerbitkan karyanya. Oh iya, dia sudah merampungkan 3 novel!
Dia menceritakan salah satu novel fiksinya kepadaku. Ceitanya khayal tentang sebuah negeri hasil imajinasinya, dengan tiga klan yang ada di dalamnya. Klan tersebut adalah klan angion, klan petir dan klan cahaya. Sekilas mirip avatar atau naruto menurutku. Namun, jika dilanjutkan ceritanya ternyata berbeda. Dia juga sempat melihat gambarku yang tertempel di clipboard-ku. Lalu tiba-tiba berkata, "Ani, bakat nggambarnya dikembangin terus ya biar bisa gambar tanpa nyontek. Abis itu bikin desain deh!"
"Desain apa?" tanyaku.
"Desain buku saya," jawabnya penuh semangat.
Waw!!! Jadi malu, hahaha....
UTS Kimia... Aku kira tidak akan sesukses biologi. Aku merasa kesusahan di sana-sini karena kurang belajar. Parah! Padahal soalnya gampaaaaaaaang banget. Mungkin dari SMA aku terbiasa mengerjakan soal hitungan sehingga sekarang kesusahan dalam mengerjakan soal konsep. Aduh! Ya ampun! Aku cemas nilaiku parah.
Di depan Mushola akhwat seusai sholat dhuhur, aku bertemu dengan Wita dan Febi. Mereka berdua tampak kucel dan lapar. Lapar? Iya.. sebab mata Wita mendadak seperti mau loncat saat melihat apa yang ada di tangnku, satu box donat. Oh iya, aku bertugas men-danus lagi hari ini. Wita bertanya dengan gaya khasnya, tiba-tiba meledak, "An! Berapa an tuh donat?"
"Dua ribu! Dapat kupon lho..." setengah merayu.
Di luar dugaan --karena kukira dia mau membeli donat terakhirku--, dia malah mencibir, "Yaah! Mahal! Ngga jadi deh" Jiah dasar ini anak, batinku.
Tiba-tiba Wita berbicara, curcol gitu. Dia bercerita tentang nilai MPKT-nya, tentang dosennya yang super nyante tapi memberi nilainya super mini. Kasihaaan... Aku berusaha mengalihkan pembicaraan dengan memulai topik baru yaitu nonton Harry Potter. Alhasil kami berdua pun asyik sendiri berbincang seru tentang Harry Potter. Seru, keras dan sibuk sendiri karena Febi sepertinya tidak nyambung dengan topik kami yang seru ini. Haha... Sebenarnya aku juga reesah dengan nilai MPKT-ku sendiri. Nilai mata kuliah yang paling ajaib karena tercipta di bumi Universitas Indonesia ini. Huaaah... Hope the best aja deh. Allah pasti punya rencana yang sangaaat indah soal ini buat aku.
Hmm... Aku bingung mau nonton Harry Potter atau tidak. Mahal sih, 35 ribu. Entah film macam apa yang akan kita --anak-anak perkusi MBUI-- tonton besok, harganya sama dengan harga satu kaset, fuh fuh fuh!
SEMANGAT SELALU ANI!!! MAMA SELALU MENYAYANGI dan MENDO'AKANMU.... ^^
Monday, 15 November 2010
Renung, Berkabung
Terang gelap roda hidup
Seribu kendi abu terlentang menganga
Sejuta meter kubik air asin menenggelamkan jerit penerima guncang
Gejolak perut bumi
Gempuran penghuni tanah
Merebut paksa rona gembira
Menabuh gendang tangis yang sepi teredam angin bencana
Bangsa berduka...
Tasik, Padang, Banten menanggung derita ulah manusia
Lalai telah terjawab tiba-tiba
Congkak dan acuh terbalas seketika
Alam coba ingatkan bahwa Tuhan tahu, tapi menunggu...
Lantas apa yang manusia perbuat kemudian?
Mereka tutup kuping
Daun berlubang itu telah bebal oleh daki-daki duniawi
Habis menimpa nestapa
Barulah mereka berucap Tuhan
Kenalkah kalian kepada-Nya sebelum ini?
Friday, 12 November 2010
Surprising Day
Kaget! Karena aku tertidur di tengah prosesi "belajar" Fisika. Aku bangun dengan tergesa-gesa dan akhirnya aku terbingung-bingung sendiri, sambil membolak-balik kertas itu sekenanya. Aku yakin tidak ada satu huruf pun yang melesat masuk ke dalam otak, karena jam di handphone telah menunjukkan pukul 10 lebih. Mau jadi apa kuisku hari ini? Biologi pun belum tersentuh, sedangkan dari tadi aku sibuk menulis catatan facebook. Alih-alih membaca diktat Fisika, aku malah asyik menghitung jumlah kunang-kunang yang muncul hilang di kepala. Sepertinya aku pusing... pett. Tidur, bangun, tidur, bangun dan begitu terus hingga tiba-tiba pukul 11.02 datang dengan tidak sopan. Huwaah... Siap-siap, mandi, dkk.
Pukul 12.13, aku sudah meluncur ke halte. Aku lupa kalo hari ini adlah Jum'at. Hari di mana Bikun sangat malas beroperasi. Alhasil aku menunggu di sana selama hampir setengah jam. Sebenarnya, penantian itu tidak terlalu terasa lama. Ada sebuah hiburan yang mengagumkan dan ini adalah pangalaman pertamaku. Aku bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris dengan seorang Turis dari Nepal. Nepal itu yang di Asia Selatan yang ibukotanya di Kathmandu yang terkenal dengan mount Everestnya itu. Informasi ini aku dapat dari hasil menerjemahkan perkataan si Turis yang ternyata seorang Dosen dari Unversity of Nepal ini. Aku sebenarnya lebih banyak mendengarkan dibandingkan berbicara. Lalu siapa yang selalu menjawab si pak Turis Dosen Universitas Nepal itu? Seseorang bermarga Medan dengan bahasa Inggris yang terbata-bata dan wajah meyakinkan lah yang menjawabnya. Wiew! Keren! Aku lebih tertarik mendengarkan pembicaraan mereka dibandingkan membaca diktat Fisika buah karya Kak Arreta Rei yang ada di pangkuanku.
Turis itu bertanya soal UI, FK, balairung, Rektor, Rektorat, Bikun dan bla bla bla. Haha, first time deh pokoknya! WIEW! It's surprising!
Sampai di kampus, aku masih juga dikejutkan dengan hal-hal yang ada-ada saja. Nilai fisikaku mencapai angka 80. Nilai tertinggi sepanjang sejarah Fisika sepertinya. Tidak ada maksud pamer, lebay, atau semacamnya. Ini murni suatu kekagetan dan kebahagiaan. Syukur aku pada-Mu yaa Rabb. Aku tidak peduli, meskipun nilai teman-teman lain hingga mencapai angka sempurna alias 3 digit. Aku tetap sangat puas dengan nilai ini. Huhu. Semoga UTS itu juga, terpoles keberuntungan yang sama. AMIIIIN.
Mulai hari itu, yang aku lupa namanya, aku mulai dekat dengan Inta dan Owlie. Bahkan aku memanggil Owlie dengan sebutan Dadar. Ini salahnya sendiri yang telah menyebutku Manusia Kulkas. Haha... Fakta sih. Tanganku ini bisa sedingin es saat terpapar hasil keluaran benda elektronik canggih bernama AC. Aku benci AC makanya. Dia membuatku kedinginan setengah hidup.
Aku seperti biasa berjalan-jalan dengan penuh kebebasan ke mana pun aku suka. Makan mie ayam dan ditemani segelas milkshake coklat, rasanya maknyosss. Aku makan dengan lahap dan alangkah terkejutnya aku karena ternyata 3 ribu rupiahku hilang entah kemana. Huwaaaa.... Penyokong kehidupanku hilang.
Selesai makan, aku langsung melesat ke lobi G, tapi mampir dulu ke mushola. Di sana aku teringat Kak Lili dan mentoring Holaqoh. Aku tidak mendatangi undangan Kak Lili untuk datang ke MUI kemarin. Aku merasa bersalah dan tidak enak, apalagi tadi saat berpapasan dengannya di koridor tak berdinding di depan gedung F, wajahnya tidak tampak seperti biasanya. Senyumnya tak begitu terkembang. Aku salah tingkah. Maaf, Kak...
Rapat Pleno saat itu, aku tidak terlalu memperhatikannya. Aku disibukkan oleh kebingungan mau berangkat MB atau tidak. Apalagi Fajar sudah sms berkali-kali tentang kedatangannya dan berharap aku datang serta mengajarinya. Rapat pleno belum mulai saat itu dan anak-anak BB BAKPAO begitu asyik berdiskusi mengenai UTS Biologi yang boleh dibilang tidak biasa. Aisha, anak gizi yang sudah UTS dan dia membagikan pengalamannya, mulai dari durasi waktu yang diberikan, tingkat kesulitan, bobot, konten soal, tapi tidak memeberitahu kami bagaimana tepatnya soal-soal Biologi tersebut. Ya iya lah... ahaha. Di tengah obrolan kami, handphone-ku bergetar dan sebuah pesan memaksa dibuka. Isinya tidak jelas, aku diharuskan pergi ke taman Bougenvile terkait soal bdk. Apa itu bdk??? Aku mengajak Leli karena kukira itu akan bermanfaat baginya. Yeah! Aku mengira bdk adalah singkatan dari BIDIK atau BIDIK MISI. Namun, karena ngga tega, aku menyuruhnya berbalik ke lobi G.
Lalu, aku tetap pergi ke Bogen. Alangkah terkejutnya aku saat tiba di sana, sampai-sampai aku bingung harus mwngucap istighfar atau hamdalah. Yeah, jadi ceritanya aku lolos tahap I program UI SDP ILDP dan aku termasuk dari 150 orang yang lolos. Aku bingung harus senang atau sedih karena aku berharap tidak lolos. Aku berharap tidak masuk. Namun, ini barokah dari Allah harus disyukuri, maka aku mengucapkan "alhamdulillah..." dengan muka yang sangat ambigu. Tidak hanya aku, Leli ternyata lolos juga. Akhirnya, dugaanku terbukti juga. Namun, aku sama sekali tidak menyangka aku lolos dengan bermodal esai yang sangat jauh dari kata layak itu. (esai itu dapat dilihat di postingan terdahulu dengan judul peningkatan mutu pendidikan bangsa). Kejutan! Shock! Asli!
Saat pleno, aku masih terpikirkan soal Diksi itu. Dan Fajar, dia masih saja mengirim sms yang isinya memaksaku untuk datang ke Pusgiwa segera. Ya ampun. Bagaimana nasib UTS Biologiku? Aku belum belajar secuil pun dan kata Aisha si anak Gizi yang tadi bercerita itu, biologinya susaaaaaaaaaaah banget. Bagaimana? Dilema! Aku ingin berangkat MB untuk menghilangkan stres selama seminggu ini. Namun, aku khawatir kecapekan dan akhirnya ngga jadi belajar (terbukti). Di sisi lain, aku tidak tega pada Fajar yang di sana sendirian. Apalagi dia bilang kalo Ndun udah tanya-tanya mulu. Ya ampun, Ndun tanya-tanya siapa sebenernya? Ngga jelas sekali sms Fajar. Dengan niat yang baik, aku pun melaju ke FIK untuk menghadang bikun dan berangkat latihan MB seorang diri.
Huwaw! Ternyata aku tidak benar-benar sendiri di sana. Ada Merissa yang sudah sebulan lamanya tidak datang latihan, ada juga Elsa si anak baru di pit pindahan dari snare. Ada Fajar yang memukul-mukul pit dengan nafsunya dan aku merasa kasihan dengan mallet yang dipegangnya. Sabar ya mallet. It was surprising! Dan aku merasa tidak percuma datang ke latihan kali ini karena aku diajari kagu Genderang UI. Kak Nadia lah yang mengajari kami sore ini. Aku senang karena kami bertiga, Aku, Renny dan Merissa langsung bisa memainkannya. Lalu aku terpikirkan Ayu, Acho, Della, Rachel dan lain-lain yang pastinya nanti akan kewalahan mengejar target. Target-target kami ternyata banyak. Pokoknya kita harus sama! Ngga ada yang lebih pinter dan ngga ada yang paling pinter. Kita bisa sama-sama dan payah juga sama-sama. Jangan meninggalkan teman kita! Setidaknya itu yang aku tangkap dari kata-kata Kak Nadia saat evaluasi tadi.
Saat sampai asrama.... Huwaaaaaaaa aku lebih tertarik menulisi blog ini dibandingkan belajar Biologi. Yaa Allah... Berilah hamba kekuatan untuk lembur dan melahap menu-menu lezat biologi ini. Amiiiiin
Monday, 8 November 2010
Sebuah Nama
Sepertinya aku selalu berhubungan dengan nama itu. Entah itu untuk dia, dia yang lain atau dia dia yang lain. Nama itu menjadi menarik bagiku, terlebih karena dia mendatangiku dengan cara-cara ajaib dan tiba-tiba.
Parahnya lagi, mereka berkacamata.
Aku semakin suka pada kacamata.
Selain orang kembar, mungkin kacamata adalah objek yang akan aku sering munculkan dalam coretanku.
Uhnnn...
MPKT
Biasa saja sebetulnya.
Hanya saja aku lebih tertarik menulis di blog ini dibandingkan mengerjakan tugas-tugas dari mata kuliah ini. Nama tugasnya adalah LTM, kependekan dari Lembar Tugas Mandiri. MPKT itu sendiri aku tidak tahu kepanjangannya apa. Sebagai gambaran di MPKT ini kita disuruh untuk memahami nilai-nilai pancasila, paradigma ilmu pengetahuan, etika keilmuan dan profesi, norma, UUD 1945 dan kawan-kawannya... Yup. Betul sekali, ini serupa dengan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan selama di SMP atau SMA dulu.
Aku memang sangat tidak menyukai pelajaran yang seperti ini. Mungkin kalian akan mengecam aku sebagai warga negara yang tidak baik, tapi bukan begitu maksudnya. Sejak SMA kelas X semester 2, pelajaran pendidikan kewarganegaraan di mataku seperti sebuah formalitas semata. Bagus tidaknya nilaiku ditentukan oleh seberapa bagus aku membuat bingkai pada lembar jawab, atau sebanyak apa jawabanku menghiasi lembar jawab atau serapi apa tulisanku. Aku mulai kehilangan feel dari pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan sejak itu. Parah memang! (my favorat lang)
Hnn... dalam mata kuliah MPKT yang jumlah sks-nya 6 sks ini (gila, kebangetan banyaknya), aku dituntut aktif berpendapat, berpengetahuan luas, rajin beropini, punya pemikiran bagus dan tetek mbengek lainnya yang akan menuntun kita menjadi seorang manusia berjiwa kepemimpinan dan keren lah intinya. Setiap dua minggu sekali, salah satu anggota kelompok akan maju mempresentasikan hasil diskusi mkelompok mereka. Dan payahnya, semua hasil diskusi dari 6 kelompok yang ada nyaris sama. Aku jadi lumayan meragukan keberhasilan dari MPKT ini. Mengantukkan. Memang sih hanya aku yang mengantuk...
MPKT itu penting....
Kenapa? Karena jumlahnya ada 6 sks, kalo ngga dapet nilai A bakal sayang banget karena akan sangat berpengaruh pada IP kamu! Makanya perjuangkan MPKT di atas segala-gala mata kuliah lain! Bahkan, aku rela membolos kuliah Biologi demi MPKT yang 6 sks.
Begitulah kata orang-orang mengenai MPKT.
Sedangkan menurutku, gara-gara MPKT orang-orang jadi terobsesi padanya saja. Lihat kan? Dia meninggalkan mata kuliah biologi untuk MPKT. MPKT cendrung menyebabkan orang berpikir sempit dan menghalalkan segala cara agar nilai MPKT mereka tinggi, termasuk dengan cara membolos jam kuliah lain. Ahh... Pesonanya memang tidak ada sejak berkenalan dengannya di OBM dulu.
MPKT, sepertinya aku alergi padanya...
Saturday, 6 November 2010
Section Leader?? Oh NO!
Esai Zaman SMA
Sang bintang tengah beraksi di lapangan hijau dan disaksikan oleh ribuan penonton yang memenuhi tribun dan membuat panas stadion. Mereka menyoraki jagoannya, meneriakkan yel-yel dan/atau mengibarkan bendera dan spanduk yang berisi kata-kata penyemangat bagi sang bintang. Sang bintang pun terpacu adrenalinnya dan makin berhasrat tuk membuktikan yang terbaik. Sebuah gol tercipta lalu penonton bergoyang bahagia. Sang bintang dipuja, didewakan, dielu-elukan dan dirindukan meski hanya foto dan/atau tanda tangannya.
Cerita di atas adalah gambaran para atlet Indonesia di masa kejayaannya.
Lalu, tahukah Anda, di mana dan bagaimana kebanyakan dari mereka hidup dan tinggal setelah pensiun? Mari kita cek lebih jauh.
Prestasi para atlet Indonesia tak bisa dibilang buruk, tapi juga belum bisa dikatakan very fantastic. Meski begitu, mereka telah banyak berprestasi dan mengharumkan nama bangsa lewat kemenangan mereka di berbagai cabang olahraga yang digeluti masing-masing atlet, seperti: badminton, tinju, angkat besi, sepeda dan lain-lain. Sebut saja Taufik Hidayat, Chris John dan Bambang Pamungkas, siapa yang tak tahu mereka? Bahkan beberapa di antaranya sering muncul di iklan televisi. Merekalah bintang olahraga yang masih bersinar dan dikenal masyarakat.
Lalu, bagaimana dengan Rachman Kilikili, Rexy Maenaki, Ferry Moniaga atau Martha Kase? Tahukah Anda siapa mereka? Jika Anda belum pernah mendengar nama-nama beliau, bertanyalah pada orang tua, paman, kakek, tetangga Anda atau orang-orang yang lebih tua dari Anda, siapa mereka. Jujur, saya pun baru saja tahu nama-nama mereka dari internet sebab saya bukan pecinta olahraga selain badminton. Seluruh nama tadi adalah para mantan atlet Indonesia.
Rexy, dulunya adalah pemain badminton yang disegani. Namun, akibat susahnya berkarir di dalam negeri selepas ia pensiun, akhirnya ia hijrah ke Amerika dan menjadi pelatih badminton di sana. Lain halnya dengan mantan pelari asal Kupang, Martha Kase yang menjadi penjual minuman dan pedagang kaki lima di ibukota sejak ia berhenti jadi atlet pada tahun 2000, karena pemerintah mulai menelantarkannya.
Di antara beberapa atlet di atas, yang paling memperihatinkan adalah Rachman, mantan petinju nomor satu, kelas bulu, IBF. Masa Rachman berakhir tepat ketika Chris John muda mulai naik ring dan dikenal orang. Di masa keemasannya, Rachman banyak yang mengagumi dan tak sedikit tawaran pekerjaan yang datang padanya. Kesempatan memperoleh honor besar semudah melemparkan kepalan tinju ke udara bebas. Namun, perlu ditegaskan sekali lagi, itu dulu! Selepasnya menjadi atlet tinju, kehidupannya memburuk. Perusahaan-perusahaan atau semacamnya yang dulu merayu-rayu, kini bahkan tak meliriknya. Dia pun jatuh miskin dan hanya menumpang di rumah kontrakan adiknya. Kesulitan memperoleh kerja dan pendapatan, Rahman alami hingga ujung usianya di pertengahan Februari 2007, ketika ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Tragis memang.
Yeah, kira-kira mirip seperti itulah nasib kebanyakan atlet selepas kejayaannya. Pendapatan mereka tak lagi cukup tuk biayai hidup, hingga lama-lama jatuh miskin bahkan lebih miskin dari saat sebelum menjadi atlet. Hal tersebut dikarenakan mereka tak punya keterampilan lain selain keahlian di bidang olahraga tadi. Sementara itu, saat mereka tak lagi bisa menggantungkan nasib padanya --keahliannya--, mereka menjadi amat kesusahan mencari pekerjaan lain.
Kepedulian pemerintah yang kian luntur terhadap para atlet setelah mereka tak lagi ”berbuah” lebih sering dianggap sebagai penyebab adanya mantan-mantan atlet terlantar. Mereka seakan angkat tangan terhadap nasib mereka di kemudian hari dan tidak lagi memberi asupan dana, pekerjaan atau setidaknya modal usaha bagi mereka. Memang benar pemerintah memberikan semacam bonus bagi pensiunan atlet, tapi jumlahnya kecil dan tak mampu menutupi kebutuhan pokok sekali pun. Pemberian dari pemerintah ini tak sepadan dengan apa yang telah mereka korbankan. Mereka kurang menikmati masa muda, pendidikan, kebebasan dan moment-moment bersama keluarga sejak saat memutuskan menjadi atlet. Itulah sebabnya mereka hanya mempunyai sedikit keterampilan.
Tak hanya pemerintah, masyarakat pun perlahan-lahan mulai lupa kepada atlet yang dulu menjadi favoritnya dan beralih hati pada atlet lain yang lebih muda serta berprestasi. Hal itu sebenarnya wajar, sebab itu adalah sebuah siklus. Tak mungkin seseorang terus-menerus berada di atas, di puncak kejayaan. Namun, setidaknya masyarakat bisa lebih menghargai perjuangan mereka karena mereka juga adalah para pahlawan, pahlawan olahraga, pengangkat nama Indonesia di mata dunia.
Setahu saya, hanya beberapa pensiunan atlet yang masih cukup dikenal, khususnya pada cabang olahraga badminton, seperti Lim Swie King, Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma. Alasannya adalah mereka atlet badminton --yang merupakan olahraga nomor 1 yang membuat nama Indonesia lebih dikenal dunia-- dan sering memenangkan banyak kejuaraan. Namun, tak semua nasib para atlet badminton seberuntung mereka. Mereka yang menduduki ranking dunia tak terlalu tinggi, nasibnya juga tak jauh berbeda dengan Rexy yang akhirnya pindah ke negera lain yang memberi penghidupan lebih menjanjikan. Satu per satu kehilangan mereka tentu sangat merugikan bangsa bukan?
Saya bukanlah orang pertama yang menyampaikan opini semacam ini. Sudah banyak orang yang berbuat sama, tapi mereka tak lain halnya dengan pemerintah. Cuma omong doang dan tak ambil sikap. Lalu bagaimana nasib para atlet, pejuang olahraga, milik bangsa kita? Akankah mereka selalu dibuang setelah menjadi sepah dan tak manis lagi?
********
Thursday, 4 November 2010
Arsen: Rajanya Racun, Racunnya Para Raja
Arsen berasal dari kata arsenicum (bahasa Latin) dan kata arsenicon (bahasa Yunani) yang artinya: orpiment kuning; dan laki-laki karena pada masa itu logam dipercaya mempunyai jenis kelamin. Arsen juga diambil dari bahasa Arab yaitu Az-zernikh yang artinya: orpiment dari Persia (zerni-zar). Orpiment sendiri artinya adalah mineral berwarna kuning cerah dengan komposisi arsenik sulfida (As2S3). Arsen dilambangkan dengan As.
B. Sejarah Penemuan Arsen
Arsen dikenal sejak zaman prasejarah sehingga penemu arsen tidak diketahui secara pasti. Dalam perkembangan sejarah, arsen dikenal sebagai racun pembunuh paling populer. Arsen terkenal sebagai Raja Racun dan Racunnya Para Raja karena kebanyakan korban arsen adalah para penguasa, bangsawan atau tuan tanah.
Di masa pemerintahan Ratu Victoria Inggris kegunaan arsen mengalami pergeseran. Arsen dicampurkan dalam air cuka atau air kapur lalu diminum oleh para wanita karena dipercaya mampu mempercantik kulit.
Pada tahun 1250, Albertus Magnus dipercaya sebagai orang pertama yang menemukan bagaimana cara mengisolasi arsen, lalu pada tahun 1649 Johan Schroeder dikabarkan mampu membuat dan mempersiapkan unsur ini.
C. Kelimpahan di Alam Arsen
Arsen merupakan unsur yang melimpah secara alami di alam. Arsen jarang ditemukan dalam bentuk unsur karena arsen biasanya membentuk berbagai macam senyawa kompleks, bisa berupa trivalen (As+3) atau pentavalen (As+5). Pada umumnya, As+3 berupa As-anorganik, seperti senyawa As-pentoksida, asam arsenat, Pb-arsenat, dan Ca-arsenat. As organik bisa berupa As+3, maupun As+5 diantaranya asam arsanilat atau bentuk metilasi. Arsen juga terdapat di dalam tubuh mahluk hidup, baik hewan maupun tanaman dan bergabung dengan hidrogen atau karbon membentuk As-organik. Kerang dikenal sebagai hewan dengan kadar arsen organik tinggi.
Arsen biasa ditemukan di dalam kerak bumi yaitu pada batuan sedimen dan beku yang terdistribusi sebagai mineral. Kadar As tertinggi dalam bentuk arsenida dari timah hitam, perak dan bentuk sulfida dari emas. Mineral lain yang mengandung arsen adalah arsenopirit (FeAsS), realgar (As4S4), dan orpiment (As2S3). Kandungan arsen di bumi antara 1,5-2 mg/kg (NAS, 1977). Tanah yang tidak terkontaminasi arsen ditemukan mengandung kadar As antara 0,240 mg/kg, sedang yang terkontaminasi kadarnya lebih dari 550 mg/kg (Walsh & Keeney, 1975). Keberadaan arsen dalam tanah mampu menular pada tanaman. Ada tidaknya arsen dalam tanaman digunakan sebagai indikator kandungan arsen dalam tanah.
Arsen juga terdapat dalam air dan udara dalam bentuk organik dan anorganik. Crecelius (1974) menunjukkan bahwa 35% arsen anorganik terlarut dalam air hujan. Arsen mampu mencemari air permukaan dengan kandungan yang bervariasi di setiap daerah tercemar, yaitu berkisar 1 µg/l. Selain itu As juga terlarut dalam air sumur dalam. Kadar arsen tinggi juga ditemukan pada air di lokasi di mana terdapat aktivitas panas bumi (geothermal).
Arsen mempunyai nomor atom 33 dengan massa atom sebesar 74,9216 sma dan jari-jari atomnya 1,39Å. Volume atomnya adalah 13,10 cm3/mol. Strukutur atomnya berbentuk rombohedral. Arsen termasuk unsur golonngan metaloid, mempunyai titik didih dan titik lebur tinggi, yaitu 867 K dan 1090 K. Arsen mempunyai massa jenis 5,78 gram/cm3, kapasitas panas 0,33 j/gK, potensial ionisasi 9,81 volt, dan elektronegativitas sebesar 2,18. Harga entalpi pembentukan dan penguapannya adalah 27,7 kJ/mol dan 32,4 kJ/mol.
Keterdapatannya di alam ada dalam dua bentuk solid. Pertama bersifat rapuh, warna abu-abu logam, sedangkan bentuk lain berwarna kuning dan nonmetalik. Arsen dan senyawanya memiliki bau khas seperti bawang jika dihancurkan dengan benda keras.
D. Pembuatan Arsen
Seperti yang telah disebutkan, arsen dapat dibuat melalui isolasi. Namun, proses isolasi yang dilakukan di dalam laboratorium tidak terlalu diperlukan karena pada realitanya arsen terdapat di alam dalam jumlah melimpah.
Dalam proses isolasi, arsen dibuat pada skala industri dengan pemanasan mineral yang tepat dan sesuai, tanpa adanya udara dalam proses tersebut. Hasilnya, arsen akan dikeluarkan dalam kondisi kental terpisah dari senyawaan asalnya sebagai zat padat.
Berikut ini persamaan reaksi yang terjadi pada proses isolasi arsen yang dibuat dari senyawa FeAsS dan dipanaskan pada suhu 700°C:
FeAsS (s) → FeS (s) + As(g) → As(s)
E. Pemanfaatan Arsen
Pada zaman perunggu, arsen digunakan untuk melapisi logam dan senjata yang terbuat dari perunggu. Hal ini menyebabkan senjata tersebut mempunyai daya bunuh tinggi. Di Indonesia, arsen digunakan untuk mencuci keris oleh orang-orang zaman dulu.
Arsen dimanfaatkan di berbagai bidang. Senyawa arsen terutama digunakan di dalam pertanian dan kehutanan. Senyawa arsen organik digunakan sebagai pestisida. Namun, penggunaan Arsen sebagai bahan pembuatan pestisida untuk meracuni tikus telah dilarang dikarenakan munculnya gangguan kesehatan manusia akibat terpapar arsen dalam proses produksi. Arsen juga dapat digunakan sebagai herbisida yang berperan dalam membasmi gulma dan sebagai pelindung hutan.
Dalam bidang industri arsen berguna sebagai pewarna, pengawet kayu, bahan pembuatan bronzing dan senjata. Arsen juga digunakan sebagai bahan campuran pewarna cat rambut, mainan anak, pembungkus makanan, pewarna baju, serta berbagai jenis campuran logam (alloy). Dalam jumlah kecil, arsen digunakan sebagai campuran pembuatan bahan gelas, logam dan alat elektronik, dan sebagai bahan pembuatan transistor. Senyawa arsen yang penting adalah white arsenic, orpiment, realgar, paris green, calcium arsenat, dan lead hydrogen arsenate. Orpiment dan realgar berfungsi sebagai bahan pembuatan pigment cat. Namun, karena reaktivitas dan toksisitasnya tinggi, penggunaannya dilarang.
F. Efek Arsen terhadap Kesehatan
Arsen bersifat toksik. Efek yang ditimbulkan bervariasi dari pusing hingga kematian tergantung kadar arsen yang masuk dalam tubuh. Keberadaan arsen dalam jumlah banyak dalam tubuh dapat menimbulkan keracunan. Bentuknya yang berupa bubuk, tidak berasa dan tidak berbau membuat arsen tidak mudah dikenali saat dicampurkan ke dalam makanan. Orang yang keracunan arsen akan menderita mual dan muntah hebat, rasa nyeri pada organ dalam secara tiba-tiba, dehidrasi akut dan lemas. Saat masuk pencernaan, arsen terdeteksi sebagai benda asing berbahaya sehingga menyebabkan kerja organ dalam semakin berat. Akibatnya tubuh akan mengalami dehidrasi. Dehidrasi akut inilah yang kemudian mampu menimbulkan kematian.
Orang awam akan mengira orang yang keracunan arsen menderita muntaber biasa atau kolera karena gejala yang ditunjukkan sama. Namun, dalam hitungan jam efek yang ditimbulkan akan semakin parah berbahaya hingga terjadinya kematian.
Selain merugikan kesehatan, arsen juga berperan dalam pembuatan berbagai obat, seperti: arsphenamine sebagai obat penyakit sifilis; arsenat trioksida untuk terapi kanker; fowlers solution untuk pengobatan penyakit psoriasis. Arsen juga digunakan sebagai komponen pengobatan penyakit yang disebabkan oleh parasit dan pembuatan obat doping (doping agent).
Daftar Pustaka
Krull, I. S. (ed). (1991). Journal of Chromatography Library_volume 47 Trace Metal Analysis and Speciation. 655 Avenue of the Americas: Elsevier Science Publishing Company, inc.
Mc Graw-Hill. (1994). Concise Encyclopedia of Science & Technology, Third Edition. New York: Mc Graw Hill, inc.
Mohsin, Y. (2006). “Arsen”. http://chem-is-try.org/. (diakses pada Minggu, 10 Oktober 2010).
Sunardi. (2006). 116 UNSUR KIMIA Deskripsi dan Pemanfaatannya. Bandung: CV. Yrama Widya.
________. “Sumber dan Terjadinya Arsen di Lingkungan (SUKAR)” http://www.ekologi.litbang.depkes.go.id/data/vol%202/Sukar2_2.pdf (diakses pada Sabtu, 30 Oktober 2010).
________. “Arsenic: Isolation”. http://www.webelements.com/arsenic/ (diakses pada Minggu, 31 Oktober 2010).
Peningkatan Kualitas Pendidikan Bangsa
Tema: Peningkatan Kualitas Pendidikan
Usia bangsa Indonesia sudah lebih dari setengah abad. Bangsa ini boleh dibilang sudah tidak muda lagi. Di usianya yang sekarang, Indonesia memang telah mengalami perkembangan cukup pesat di beberapa sektor. Namun, ada satu sektor penting yang kondisinya masih sangat memperhatikan, yaitu sektor pendidikan.
Prestasi Indonesia di bidang pendidikan memang cukup dikenal di kancah internasional melalui keberhasilan kontingen Indonesia dalam menjuarai ajang Olimpiade Sains Internasional dan semacamnya. Meski demikian, tidak semua anak bangsa bernasib sama dengan para juara itu. Lebih dari lima juta anak Indonesia putus sekolah bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Parahnya lagi, sebagian di antara anak-anak (dan orang tuanya) beranggapan bahwa sekolah itu tidak penting. Hal ini dikarenakan biaya sekolah yang dirasa sangat tinggi dan kecemasan akan terganggunya jam kerja mereka (atau anak mereka) karena terpotong jam sekolah.
Pendidikan merupakan salah satu hal terpenting dalam proses pembangunan negeri. Jika dianalogikan, pendidikan seperti layaknya semen yang memperkokoh pondasi suatu bangunan yang tengah dibangun. Bangunan tersebut adalah negara ini yang sedang dan terus berkembang menuju kemajuan. Namun, kondisi pendidikan di Indonesia cenderung belum menampakkan kemajuan dibandingkan dengan negara lain. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti masih kurangnya kesadaran masyarakat, sedikitnya alokasi dana negara untuk pendidikan, belum matangnya lulusan jenjang pendidikan satu ke jenjang berikutnya dan lain sebagainya.
Saat ini, muncul berbagai keluhan dari perusahaan yang mengatakan bahwa kebanyakan para lulusan perguruan tinggi masih belum memiliki kesiapan kerja yang matang di lapangan. Begitu pula keluhan dari pihak SMA mengenai belum siapnya lulusan SMP untuk melanjutkan ke tingkat SMA. Hal tersebut juga dirasakan oleh sekolah-sekoah menengah pertama pada umumnya. Kondisi ini diakibatkan oleh kurangnya life skill atau keterampilan dan kecakapan hidup yang dimiliki oleh siswa atau mahasiswa.
Di negara ini, metode teoretis lebih dominan diterapkan dalam kegiatan belajar dan mengajar, baik di tingkat sekolah maupun di tingkat perguruan tinggi. Akibatnya, pengalaman praktik para lulusannya lebih rendah dibandingkan kemampuan kognitif. Seseorang mungkin memiliki nilai atau IP tinggi, tapi hal tersebut tidak menjamin kebisaan dan kemampuannya saat bekerja di lapangan dan secara langsung menyelesaikan suatu permasalahan nyata karena terbiasa menyelesaikan masalah yang “tercetak di kertas”. Hal ini tentunya akan mempersulit berkembangnya seseorang di era globalisasi yang sarat akan persaingan dan penemuan karya-karya baru ini.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan adanya pendidikan pembentukan life skill yang sangat dibutuhkan oleh peserta didik sebagai bekal kecakapan hidup, baik kecakapan untuk mengurus dan mengendalikan diri sendiri, maupun untuk berinteraksi di lingkungan sekolah dan masyarakat serta kecakapan untuk bekerja. Pendidikan ditargetkan life skillmampu menghasilkan tamatan yang memiliki kesiapan untuk dapat menghadapi persoalan hidup dan kehidupan. Kemudian secara kreatif dan arif mampu menyelesaikan persoalan serta siap berperan aktif dalam masyarakat.
Pemerintah telah berusaha keras untuk meningktakan mutu pendidikan di Indonesia melalui berbagai cara, antara lain dengan mengganti kurikulum pendidikan, menyediakan buku paket gratis, mengadakan program Bantuan Operasional Pendidikan (BOS) untuk siswa SD dan SMP dan masih banyak lagi. Namun, hal tersebut ternyata masih belum mampu meningkatkan kualitas pendidikan. Hal ini dikarenakan alokasi dana untuk pendidikan masih rendah dan belum memenuhi target 20% dari total APBN. Porsi ini terhitung kecil jika dibandingkan dengan negara-negara lain.
Selain itu, upaya peningkatan pendidikan dapat disiasati dengan upaya pemerataan guru-guru berkualitas. Upaya ini sangat diperlukan mengingat kondisi daerah di Indonesia berbeda-beda. Orang-orang yang hidup di kota kemungkinan memperoleh pendidikan layak dan berkualitas lebih besar dibandingkan orang-orang di daerah pelosok. Oleh sebab itu, tenaga-tenaga pengajar berkualitas perlu disaring lalu ditempatkan di daerah-daerah pelosok tersebut.
Terlepas dari upaya-upaya di atas, hal utama yang harus dilakukan kita sebagai warga Indonesia adalah meningkatkan kesadaran diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita akan pentingnya pendidikan bagi kesejahteraan umat hidup manusia dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pendidikan telah membawa kita terbang meningglkan zaman kebodohan yang primitif. Dengan melalaikan pendidikan, sudah siapkah kembali lagi ke zaman batu?
Sumber
http://kbi.gemari.or.id/beritadetail.php?id=244
http://pelangi.dit-plp.go.id/subditkesiswaan/
Di Balik Laptop
Aku mengamati tiap langkahnya dengan sembunyi-sembunyi lewat balik laptop 14 inchi itu. Aku tidak mau dia menyadari tatapanku yang berlebihan itu. Iya! Aku memang menyimpan perasaan lebih dan mendalam kepadanya sejak pertama kali aku mengenalnya, SMP kelas 8. Aku menyukai keunikannya dan kepandaiannya. Ketenangan sikap yang menyembunyikan kepanikan dan kesiapsiagaan. Rambutnya yang indah membuat angin diam sejenak untuk bertiup. Tatapan matanya yang tajam tapi memelas benar-benar membuat gemas siapa saja yanng melihatnya. Dia diam! Sungguh pendiam! Namun, di jam-jam berikutnya dia akan menjadi bom atom yang meledakkan suasana lewat candaan-candaan khasnya.
Dia kawanku yang baik. Aku menganggapnya sebagai kawan selama-lamanya waktu yang bisa aku kecapi. Bahkan, jika suatu saat nanti aku menderita alzheimer atau tiba-tiba disleksia dan lupa cara mengeja huruf-huruf namanya aku akan selalu setia menganggapnya sebagai kawan terbaikku.
Aku masih mengamatinya. Kepalaku timbul tenggelam di balik perlindungan laptop dan kulihat dia masih asyik memainkan handphone nokianya. Dia itu seorang yang sederhana, terlalu sederhana kalau boleh kubilang. Dia menolak dibelikan blackberry oleh kakak perempuannya. Alih-alih blackberry, dia menunjuk sebuah handphone zaman Jepang tanpa kamera 0,001 milipixel pun. Aku menyukai kesederhanaanya itu.
Aku yakin dia sudah melihatku. Aku yakin dia sempat melirik selimut kepalaku dan aku semakin yakin dia akan mendatangiku. Di balik laptop, aku mempersiapkan senyum terbaikku untuknya. Sepuluh meter lagi.... Aku sedang bersiap mengejutkannya dengan tampang paling menjijikan dan suara menggelegar. Tujuh meter... Check sound, semoga suaraku cukup mampu membuat lalat di atasku pingsan. Tiga meter lagi... Aku menundukkan kepalaku lebih dalam untuk mendukung sandiwaraku "berpura-pura tidak melihatnya". Dua detik lagi...aku yakin dia akan berada di depanku sambil tersenyum manis semanis permen starburst.
Waktu terus berjalan. Sepuluh detiik lebih aku menunggunya berdiri di depanku. Namun, hal tersebut tidak terjadi hingga mencapai detik ke sekian puluh sekian. Penasaran. Aku mendongakkan mata dan kulihat dia berbelok arah ke kananku, tanpa menyapaku, tanpa mengubah arah pandangannya dari layar handphone-nya tanpa bunyi satu huruf pun.
Kau tahu??? Bagaimana perasaannya saat kau diperlakukan seperti itu oleh orang yang kau anggap sahabat terbaikmu? Orang yang kamu sayangi dan dibela-bela, dipertahankan kegembiraannya, diusahakan agar tetap tersenyum kepadamu??? Rasanya seperti direbus, lalu disiram air es, dijemur dan digoreng dalam pasir.
Aku masih tidak tahu, mengapa dia melakukan hal itu. Aku tidak ingat sejak kapan dia berlaku seperti itu kepadaku, tapi yang pasti sejak lama. Kalau begitu aku yang terlalu mengharapkannya dan menganggap diriku sahabatnya? Jangan-jangan aku hanya orang biasa baginya? Aku mulai patah hati sejak aku menyadari bahwa dia tidak terlalu peka terhadapku. Sakit hati? Jelas? Parahnya, aku mulai memupuk sebuah kebencian abstrak terhadapnya. Cintaku yang tulus kepadanya perlahan sirna. Namun, jujur, aku masih menyayanginya. Sama sayangnya kepada laptop jadulku yang tidak akan pernah kugantikan sebelum dia wafat permanen.
Aku terpaku, memandang punggungnya yang kecil berlalu melewati koridor tak berdinding. Tidak terasa butir air mataku menetes satu kali lewat sudut mata sebelah kiri. Lalu aku memutuskan untuk menyimpan kembali kejutanku untuknya yang telah aku persiapkan sejak bertahun-tahun lalu. Lama memang. Namun, kejutan itu tak pernah kuberikan karena aku menunggu sampai aku dapat menemuinya dalam kehangatan persahabatan sejati, bukan pertemanan basa-basi.
Bougenvile, kampus FKM UI....
Agustus Ke-80
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
Lagu di atas merupakan lagu Amaryllis karya komposer Henri Ghys. Saya memainkannya dengan aplikasi piano pada ponsel saya. Oh iya, mohon...
-
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
“Mau semangka?” “Aku puasa,” jawabnya sekenanya. “Oh, afwan. Nggak pulang, Di?” tanyaku. “Tidak,” jawabnya singkat. “Kenapa...