Saturday, 27 September 2014

Jalan-jalan Geng Antiwacana: Dieng Plateau dan Gunung Prau (plus dokumentasi dan cerita geje yang sangat panjang)


Dari depan ke belakang: Andre, Eri, Nana, Isna, Shinta, Rheta, dan Roland.
Diambil oleh saya ketika turun gunung dengan Nikon Coolpix L26.
Dari mana sebaiknya saya memulai cerita ini? Gengnya? Destinasinya? Personelnya? Atau wacananya? Well, ngomong-ngomong tentang wacana, rencana jalan-jalan yang akan saya ceritakan dalam post ini hampir menjadi wacana belaka loh. Mengapa? Mungkin dari foto di atas dapat dilihat bahwa susunan personel jalan-jalan ini didominasi oleh para dara manis? Jadi, kebetulan saat itu, ketersediaan anak paguyuban yang masih tersisa di kampung halaman saya, Kebumen, sudah sangat terbatas, terutama anak laki-lakinya. Sementara para anak-anak gadis ini sangat ngidam untuk pergi ke Dieng sebelum kembali ke tanah rantau, sebelum hari kerja atau perkuliahan dimulai. Akibatnya, mereka, yang selama liburan semester genap kemarin kelamaan dipingit di rumah, pun berusaha untuk mewujudkan keinginan tersebut, meskipun stok tebengan sangat terbatas karena (pada akhirnya) para pria yang menyanggupi untuk ikut hanya 2 orang (atau 3 orang?) sedangkan jumlah wanita yang pengen banget ikut ada 6 orang. 

*Flashback perencanaan on*
Tanggal 5 Agustus 2014, Shinta, adik angkatan saya di Perhimak UI (paguyuban mahasiswa UI daerah saya, Kebumen) menghubungi saya, yang ternyata sebuah ajakan untuk jalan-jalan ke Dieng, Wonosobo. Saya, yang pada saat itu memang sedang hobi-hobinya jalan-jalan dan camping, tanpa berpikir panjang, tanpa sempat meminta izin ke mama dan romo saya, tentu mengiyakan ajakan tersebut. Namun, dengan pertimbangan: asalkan ada yang mau ditebengi oleh saya, hehe. Beberapa lama kemudian, dibuatlah grup percakapan beranggotakan calon-calon personel yang akan ikut dalam jalan-jalan, yang menurut saya masih "abu-abu" ini. Mereka semua merupakan anak-anak Perhimak UI, lintas angkatan. Dari belasan orang yang dikandidatkan akan ikut, ternyata satu per satu dari mereka tumbang karena berbagai alasan. Akhirnya, pada tanggal 7 Agustus, fixed tersisa 9 orang yang masih bertahan dan (lagi-lagi) pengen banget pergi ke Dieng. Sembilan itu terdiri dari 3 orang anak laki-laki: Roland, Rosyid, dan Andre, serta 6 anak perempuan: Nana, Rheta, Isna, Shinta, Eri, dan saya. Sembilan orang yang tersisa inilah yang saya sebut dengan Geng Antiwacana (dalam hal jalan-jalan) di pos ini.

Setelah anggota fixed, rundown, persiapan, dan perlengkapan yang dibutuhkan dalam jalan-jalan yang ternyata berformat camping ini segera di-list oleh Shinta, yang bertindak sebagai koordinator. Ternyata, jalan-jalan ini tidak hanya sekadar jalan-jalan dan menginap, tetapi juga mendaki dan camping mendirikan tenda di salah satu puncak gunung di pegunungan Dieng, yaitu Gunung Prau. Bagi sebagian besar dari kami, terutama si kaum hawa, ini adalah kali pertamanya menaiki gunung dan camping di atasnya. Terlebih lagi, (kalau tidak salah) hanya Roland, Andre, Rosyid, dan Rheta yang pernah ke Wonosobo sebelumnya, sisanya hanya dengar -dengar namanya saja. Karena masih minimalnya pengalaman dan informasi terkait pendakian, kami pun hanya menyiapkan perlengkapan pribadi seadanya, seperti jaket/baju hangat, mantel hujan, senter. Untuk perlengkapan berkemah, seperti tenda dan sleeping bag, kami memutuskan untuk menyewa di dekat lokasi. Terima kasih kepada Eri, yang sudah berinisiatif untuk mencari informasi dan kontak dari penyedia perlengkapan pendakian di sekitar Dieng. Rencana keberangkatan dari Kebumen adalah Jumat pagi, 8 Agustus, sedangkan pendakiannya dimulai sorenya, yaitu setelah salat Jumat.  

*Flashback perencanaan off*


Realisasi Perjalanan

Keberangkatan
Sebelum berangkat, sudah seperti tradisi, kami berkumpul di sekitar alun-alun Kebumen. Setelah ngaret sekitar setengah jam, akhirnya kami bertolak dari Kebumen menuju Wonosobo dengan naik motor, pada pukul 7.45 pagi. Karena ada 8 orang (Rosyid rencananya mau menyusul, setelah turun dari Gunung Sumbing *jika mampu* *dan ternyata dia tidak dapat menyusul tepat waktu, akhirnya gagal menyusul deh*), kami pun menggunakan 4 motor. Pasangan pertama: Roland dan Rheta, pasangan kedua: Andre dan saya, pasangan ketiga: Eri dan Shinta, dan pasangan keempat: Nana dan Isna. Roland, Andre, Eri dan Nana bertindak sebagai "sopir". Perjalanan dari Kebumen-Wonosobo ditempuh dalam waktu 3 - 4 jam dikarenakan kami memacu kendaraan dengan kecepatan sedang dan sempat berhenti beberapa menit untuk berganti shift antara pembonceng dan yang membonceng, pada pasangan ketiga dan keempat. 'Mereka betul-betul perempuan perkasa!' pikir saya.

Sekitar pukul 10.30, kami mulai memasuki wilayah Wonosobo. Kami berputar satu kali di alun-alun Wonosobo hingga akhirnya singgah di masjid agung Wonosobo yang terletak di kompleks alun-alun. Suhu di sana pun mulai terasa mendingin. Pemandangan dan atmosfer alun-alun Wonosobo terlihat sangat asri dan sejuk, baik dipandang mata maupun dirasa kulit. Untuk menghangatkan badan, kami mulai menggunakan masker dan sarung tangan. By the way, saya tidak membawa masker dan sarung tangan loh. Saya kira Wonosobo tidak akan sedingin itu. Ternyata, baru suhu di wilayah perkotaannya saja sudah sedingin itu, apalagi nanti di pegunungan Diengnya? Beruntung, saya mendapat pinjaman sarung tangan dari Roland, yang ternyata membawa dua pasang sarung tangan. Mengingat waktu menuju salat Jumat masih sekitar satu jam, kami pun memutuskan untuk meneruskan perjalanan hingga masuk ke wilayah Dieng. Para lelaki itu akan melaksankan ibadah salat Jumat di sekitar basecamp pendakian Gunung Prau. 
Pelajaran nomor satu: Jangan pergi ke daerah dataran tinggi tanpa membawa sarung tangan dan masker, terlebih karena saya selalu lebih mudah kedinginan dibandingkan orang lain kebanyakan. Pelajaran nomor dua: Karena masih pemula, jangan berani mendaki tanpa terlebih dahulu membaca informasi atau review lokasi pendakian. 

Registrasi
Halaman Pos (basecamp) Pendakian Gunung Prau,
jalur Patak Banteng. Diambil oleh saya ketika
baru tiba di lokasi dengan Myphone 403

Sebelum pukul 12.00, kami sudah mencapai desa Patak Banteng, yang terletak di sekitar jalan raya Dieng. Pada pendakian kali ini, kami memilih jalur pendakian Patak Banteng yang merupakan jalur tersingkat atau terpendek menuju puncak Gunung Prau. Karena jalur tersingkat, jalur ini memiliki medan yang lebih curam, sajian pemandangan alam yang lebih sedikit, tetapi dapat ditempuh dengan durasi pendakian yang lebih cepat, jika dibandingkan dengan jalur pendakian lain. 

Meskipun hari itu bukan weekend, ternyata ada cukup banyak kendaraan roda dua terpajang rapi di area parkir basecamp. Artinya, ada banyak pendaki lain juga selain kami. Benar saja, satu per satu orang dengan gumpalan besar tas carier di punggungnya berlalu lalang, keluar masuk melalui jalan setapak kecil di samping kanan area tersebut. Jalan itu adalah jalan menuju pintu masuk basecamp. Kami pun sontak memandangi diri kami masing-masing, membandingkan satu per satu benda yang melekat pada diri kami dengan apa yang yang mereka kenakan. Mereka memakai sepatu atau minimal sandal gunung, kami memakai sandal jepit tipis bahkan sandal cantik khas kondangan (ini si Nyonya Shinta). Mereka memakai kaos santai menyerap keringat, kami memakai baju atau kaos yang tidak beda jauh sih, cuma udah pakai jaket aja karena kedinginan. Mereka membawa (hanya) tas carier all in one yang superbesar, kami menjinjing tas gendong cantik berhias pita atau lukisan menara Eiffel yang kecil-kecil dan imut-imut. Pokoknya, kami dan mereka layaknya bumi langit. Perkiraan saya, Gunung Prau yang akan kami daki bukanlah gunung yang sebetul-betulnya gunung, melainkan sebuah bukit tidak terlalu tinggi yang puncaknya dapat ditaklukan kurang dari satu jam. Namun, setelah melihat mereka, para pendaki betulan, bukan pemula seperti kami yang amatiran, saya akhirnya tersadar jika Gunung Prau ini bukanlah sekadar bukit biasa. 

Gunung Prau ternyata merupakan salah satu puncak tertinggi dari gugus pegunungan di kompleks dataran tinggi Dieng yang banyak dikunjungi wisatawan ini. Ketinggiannya adalah 2565 mdpl. Mengingat letaknya di Wonosobo, yang merupakan dataran tinggi, Gunung Prau dengan ketinggian itu, memang memiliki jarak daki yang tidak terlalu panjang dan tinggi sehingga sangat cocok bagi pendaki pemula seperti kami. Jalur trekkingnya pun tidak terlalu ekstrem dan puncaknya dapat dicapai dalam waktu 2-3 jam pendakian. Meski demikian, sepertinya saya telah salah karena sebelumnya saya menganggap enteng gunung ini. Berdasarkan informasi yang dibaca oleh Eri, suhu di puncak gunung tersebut dapat mencapai minus atau kurang dari 0 derajat ketika menjelang subuh. Mulai saat itulah saya mulai bimbang dan sedikit cemas. 'Akankah saya masih hidup di sana tanpa menderita hypothermia? Bahkan berada pada ruangan ber-AC selama dua setengah jam saja, kulit saya sedingin es dan jari-jarinya menjadi kaku untuk menulis,' batin saya. Akhirnya, saya pun membulatkan niat, diiringi doa dan tekad membara untuk dapat menaklukan gunung pertama dalam catatan pendakian saya.

Usai salat jumat dan salat dzuhur, sebelum melakukan registrasi, kami pergi membeli perbekalan di minimarket yang terletak di pintu gerbang Dieng Plateau sekaligus mengambil perlengkapan berkemah yang sudah kami pesan di hari sebelumnya, yaitu dua unit tenda dan 5 buah sleeping bag. Memang dasar pemula, dalam memilih bekal makanan pun kami kebingungan. Akhirnya, kami membeli banyak sekali makanan dan minuman ringan dengan pertimbangan, "Sepertinya kita akan sangat kelaparan karena tidak akan memasak".

Ada yang unik dari berbungkus-bungkus makanan yang dijual di minimarket ini. Mereka tampak lebih besar daripada ukuran makanan ringan di tempat tinggal kami karena bungkusnya menggembung maksimal akibat tekanan tinggi di daerah sana. Saat keluar dari minimarket, kami baru sadar jika tas-tas yang kami bawa berukuran mungil-mungil. Akhirnya, kami paksa masuk saja bejibun makanan tersebut ke dalam tas-tas kami. Bungkus-bungkus makanan ringan tersebut kami lubangi, kami kosongkan udaranya, demi menghemat space tas. Kami mengumpulkan minuman-minuman ke dalam satu tas, yaitu tas Roland, karena ukuran tasnya paling besar. Pasca membagi-bagi bekal makanan ke dalam tas-tas kami, kami pergi makan di warteg (padahal di Wonosobo, sebutannya tetap aja warteg bukan warsob) yang ada di seberang minimarket. 
Pelajaran nomor tiga: persiapkan segala perlengkapan pendakian dengan baik sebelum berangkat, meski setidak ekstrem apapun medannya. Keselamatan, kenyamanan, dan keefektifan pendakian bergantung pada apa yang kita bawa. 

Peta jalur pendakian Gunung Prau via
Patak Banteng
Pukul 14.00 lebih, kami sudah kembali ke basecamp dan ikut mengantre untuk melakukan registrasi. Biaya registrasi untuk setiap pendaki adalah sebesar Rp5.000,00. Basecamp dipenuhi oleh para pendaki, baik yang siap berangkat maupun yang baru datang. Baik yang terlihat profesional, maupun yang terlihat sama abal-abalnya dengan kami.

Jadi, saya akan mendaki bersama mereka nanti? Wah, rasanya seperti mimpi yang terwujud setelah sekian lama terpendam hanya ada dalam angan-angan. Saat itu, saya sungguh berterima kasih kepada adik-adik angkatan ini yang entah bagaimana caranya kepikiran untuk mengajak saya. Saya memandang wajah mereka satu per satu, Rheta yang sudah sejak keberangkatan berbalut masker, Eri yang tampak sibuk merapalkan informasi-informasi terkait Gunung Prau yang telah dibacanya, Isna, Shinta dan Nana yang sesekali memperbicangkan sesuatu, serta Roland dan Andre yang ternyata sudah pernah naik gunung sebelumnya. 


Sebelum memulai perjalanan pendakian kami menyempatkan diri untuk berdoa bersama dan melakukan tos, berharap semangat dan kelancaran menyertai pendakian kami. Andre memimpin doa singkat kami. 
Momen tos sebelum memulai pendakian
*abaikan Rheta (paling kiri) yang gagal pose, :p*

Pendakian
Pendakian kami dimulai pukul 14.25. Perjalanan diawali dengan memasuki gang kecil yang sarat pemukiman para warga desa Patak Banteng. Jalan aspal, setapak dan tanjakan bertangga masih terbentang di beberapa ratus meter perjalanan awal pendakian menuju pos 1. Baru beberapa menit melangkah, kami sudah mulai bingung mencari rute jalan, yang menurut peta terletak di dekat TK dan Musala. Di antara kami hanya beberapa orang yang dapat membaca peta. Mengandalkan intuisi, akhirnya kami pun menemukan jalan yang (sepertinya) benar, walaupun pada akhirnya kami memutuskan untuk bertanya pada seorang ibu, warga setempat, yang tetiba lewat. Ibu itu berbaik hati menunjukkan dan mengantarkan kami hingga sampai ke jalan menanjak dan beranak tangga yang merupakan penanda batas antara desa hingga kaki gunung. 

Yuhuu, bawaan kami minimalis, kan? :D
Ujung dari tangga ini adalah jalan tanah yang membelah area lahan pertanian warga. Jalan tersebut, sengaja dibuat sebagai salah satu akses yang menghubungkan pemukiman warga dengan jalan menuju pos 1. Jalan menuju pos 1 terbentuk dari susunan bebatuan kali yang rapi, mulus, dan tidak terjal. Meski demikian, posisinya yang konstan menanjak cukup membuat kami kewalahan di awal pendakian ini. 

Kondisi jalan menuju Pos 1

Di tengah perjalanan yang baru beberapa menit ini, tetiba, rombongan kami terpisah-pisah sebagai akibat dari seleksi ketahanan. Eri dan Andre dengan kecepatan mendaki yang cukup konstan berhasil memimpin di depan meninggalkan rombongan. Saya berada di belakang mereka berdua, sesekali berjalan mundur sembari menikmati pemandangan di sisi kanan jalan yang bertabur panorama alam, berhiaskan relief pertanian daratan Wonosobo yang terpagari bukit dan pegunungan di sana-sini. Sesekali saya memotret rombongan tertinggal yang berada di belakang saya: Nana, Isna, Rheta, Shinta, dan Roland. Mereka agak memperlambat laju sembari menunggu Nana yang tetiba hipotensi dan pandangannya berkunang-kunang sejak mulai naik. 

Pemandangan di sisi kanan jalan

Di sisi kiri jalan, tebing-tebing cukup tinggi menampakkan hidangan bergerombol-gerombol bunga kerdil beraneka warna yang sangat indah, hingga dengan memandangnya saja akan membuatmu lupa akan kelelahanmu. 

Pemandangan di sisi kiri jalan
Akhirnya, setelah melewati jalan menanjak tanpa jeda, kami pun tiba di pos 1, yang bertitel Sikut Dewo (Siku Dewa). Alhamdulillah, kami berdelapan dapat mencapai pos 1 dengan selamat, walaupun Nana sepertinya Nana masih tampak puyeng-puyeng gimana. Tidak disangka, baru sampai pos 1 sudah cukup ngos-ngosan begitu. Oh iya, karung-karung yang menjadi background foto di bawah ini bukan berisi beras loh ya, melainkan pupuk. Terbayang bagaimana rasanya para petani itu membawa pupuk itu melewati jalan menanjak itu? Oh, tentu saja lelah. Untung pupuk, bukan beras. Namun, ternyata tidak semua petani di sana membawa karung-karung tersebut dengan memanggulnya. Ada yang membawanya dengan menggunakan motor karena ternyata jalan menuju pos 1, yang sudah bagus ini, memang dapat dilalui oleh motor. Tidak hanya dilalui oleh petani, jalanan pos 1 ini ternyata juga seolah menjadi tempat nongkrong para tukang ojek atau peternak burung dara. Tak khayal, banyak dari mereka yang sering berlalu lalang di jalan ini. PAra tukang ojek bahkan memiliki tempat mangkal di pos 1. Jika kau penasaran pada motor macam apa yang dapat melalui medan semacam ini, maka kau dapat membayangkan penampakan motor off road yang sering ditayangkan di berita olahraga di televisi.
Pos 1

Setelah beberapa menit beristirahat melepas lelah, kami melanjutkan pendakian menuju pos 1. Medan yang kami lewati dari pos 1 menuju pos 2 bukan lagi jalan berbatu yang agak mulus, melainkan jalan tanah yang melewati ladang pertanian palawija. Di kanan dan kiri satu-satunya jalan pada jalur Patak Banteng ini, dapat dilihat kekayaan hasil tanam andalan dari Wonosobo: semacam kacang-kacangan. Kami beruntung karena hari itu tidak hujan sehingga pendakian kami terbilang lancar.

Rombongan tertinggal
Di tengah perjalanan antara pos 1 dan pos 2, lagi-lagi Eri dan Andre melangkah lebih dulu meninggalkan rombongan tertinggal, yang mulai ngos-ngosan lagi. Mungkin terlihat dari ekspresi wajah mereka, hanya Shinta yang mampu mengangkat tangannya (?) mengisyaratkan pesan "Aku rapopo" dan Roland yang tersenyum sembari mendongakkan kepala, mungkin karena adanya pengaruh beban  tenda dan tasnya yang berisi air minum berliter-liter.
Rombongan yang meninggalkan

Pos 2 Canggal Walangan

Perjalanan menuju pos 2, meskipun tidak terlalu menanjak, tetapi ternyata cukup menantang. Kami mulai disuguhi dengan pohon-pohon tinggi yang berdiri tegak, ladang-ladang lambat laun mulai menjarang, dan ini adalah tanda bahwa kawasan hutan mulai menjabat. Jejalanan aspal dan rumah-rumah warga terlihat semakin kecil dan menyisakan garis kaku berliku. Di pos ini kami masih sempat berfoto, meskipun dingin mulai menusuk karena kabut sedikit demi sedikit mulai turun.

Masih bisa bergaya di pos 2

Medan pendakian yang sebetulnya
*motretnya sambil ngos-ngosan*
Selepas dari pos 2, medan yang kami daki semakin menjadi-jadi. Kami seolah-olah tengah mendaki melewati parit-parit air yang di kanan kirinya berdindingkan tanah dan saya tidak dapat membayangkan jika saat itu hujan turun. Mungkin kami sudah terguyur dan pendakian pun pasti akan lebih sulit. Sebagai pemula, beberapa dari kami cukup terkaget melihat medan yang tiba-tiba mengganas ini. Break pun semakin sering dilakukan demi mengatur nafas dan mengumpulkan energi. Mulai di sinilah, rombongan tertinggal hanya terdiri dari empat orang, yaitu Rheta, Nana, Isna, dan Roland. Shinta sudah terbebas dari rasa mualnya dan bergabung dengan rombongan meninggalkan yaitu Andre dan Eri. By the way, anak laki-laki yang tertangkap kamera membawa gitar biru di belakang Roland itu bukan anggota rombongan kami, ya. Dia anggota rombongan besar lain, yang mungkin nanti akan saya ceritakan pada bagian puncak.

Pos 3 Cacingan
Ini tidak ada yang ingin berfoto bareng palang ini, nih?
Saya dan Eri sampai ke pos 3 beberapa menit setelah Andre dan Shinta. Mereka berdua meninggalkan kami berdua, yang mulai kewalahan mengatur nafas, dan sampai ke pos 3 terlebih dahulu. Mungkin ini berlebihan, tetapi medan menuju pos 3 memang membuat kami cukup terseok-seok hingga memanjat-manjat jalan berbatu yang kami pijaki seperti spider-man yang kehilangan kekuatan supernya. *maklum masih pemula*

Usai melewati pos 3, kabut mulai menyergap turun dengan cepatnya, membuat kami berempat, Andre, Shinta, Eri, dan saya, semakin mempercepat langkah, tapi tetap berhati-hati. Selain itu, kondisi kemiringan tanahnya pun semakin curam, membuat kami berjalan melambat, setapak demi setapak. Satu rombongan pecinta alam berhasil mendahului kami dengan membuat rute baru, menerobos semak belukar. Saya hanya dapat terkagum melihat mereka yang terlihat sangat keren. Semakin dekat ke puncak, kerapatan pepohonan semakin jarang dan jumlahnya semakin berkurang. Mereka digantikan dengan bunga-bunga kecil yang tampak semakin banyak ketika semakin mendekati puncak. Kondisi tanah juga semakin tidak berbatu sehingga agak terasa lebih licin dibandingkan jalan-jalan di pos sebelumnya. 

Rombongan kami fixed terpecah menjadi dua, yaitu rombongan yang tertinggal dan yang meninggalkan. Saat kabut mulai semakin tebal, saya cemas pada rombongan tertinggal karena di salah satu belokan (?) ada rute ganda: rute utama (kiri) dan rute alternatif (kanan) buatan entah siapa yang begitu dekat dengan di bibir jurang (?). Saya takut mereka memilih rute ke kanan yang berbahaya. Akhirnya, saya pun memutuskan untuk mengecek kondisi mereka sesekali dengan berteriak memanggil nama mereka satu per satu, hingga ada sautan dari mereka. Kemudian saya meneriakkan rute yang benar kepada mereka, misalnya "Kiri! Belok kiri, jangan ke kanan!" Memalukan, memang. Namun, setidaknya ini membuat saya lebih tenang.


Puncak
Setelah mendaki selama kurang lebih 3 jam lamanya, akhirnya kami berempat, rombongan yang meninggalkan, sampai ke puncak. Saat itu sudah melewati pukul 17.30, tetapi langit senja itu belum juga menjingga. Namun, masya Allah, indah sekali bumi-Nya ini. Saya hanya mampu terpana dengan sedikit ternganga menyaksikan gumpalan awan putih yang melayang tanpa bergelantung pada langit biru, bergerak cepat tertiup angin yang dinginnya bisa jadi setara dengan dinginnya lemari pendingin. Bulan tak utuh juga tampak turut memamerkan diri. Indah sekali.

Kami termasuk rombongan yang datang paling awal dan baru terdapat satu atau dua tenda yang sudah berdiri. Rombongan dari anak yang tadi membawa gitar ternyata juga sudah sampai. Jumlah mereka cukup banyak, sekitar lima belas orang mungkin. Sebagian dari mereka mendirikan tenda dengan sangat gaduh dan sesekali berujar dengan bahasa jawa untuk sekadar mengaduh atau memaki sekalian, sedangkan sisanya berfoto ria atau bermain gitar sambil menyanyikan lagu "Bang Ocit, prepet prepet prepet", OST sebuah sinetron stripping yang tayang di S*TV. Selain mereka, ada satu rombongan lain yang memarkirkan tenda mereka jauh sekali di seberang bukit, jauh dari palang penanda area perkemahan. Mungkin mereka sekelompok manusia yang suka menantang angin. Sungguh, angin di sana bertiup dengan sangat kencang. Sayangnya, alih-alih angin sepoi, angin dingin yang membekukan yang meniup kami. 

Sebelum mendirikan tenda, kami juga sempat berfoto-foto dengan berlatarkan angkasa yang mulai terkepung kabut awan. Tak lupa, kami juga melapisi badan kami dengan beberapa lapis baju dan jaket lain demi meminimalisasi dingin yang mulai membuat jemari dan wajah kami lupa mengenali rasa. Untuk mengatasi rasa dingin tersebut, akhirnya kami terus bergerak ke sana dan kemari, berharap dapat sedikit hangat. 

Shinta setelah berubah

Objek utamanya gunungnya ya, bukan orangnya :p

Bagaimana tentang mendirikan tenda? Oh iya, sebenarnya, salah satu alasan kami menunda-nunda mendirikan tenda adalah sembari menanti Roland karena hanya dialah yang dapat mendirikannya. Kami berempat sama sekali belum pernah mendirikan tenda sendiri. Namun, dingin yang semakin menyayat-nyayat membuat saya ingin segera membuat tempat berlindung ke dalam tenda. Berbekal nekad, akhirnya kami pun mendirikannya sembari membayangkan kemungkinan bentuknya, menghitung jumlah rangkanya, memperkirakan letak perpotongan keduanya, mengikatnya tepat di tengah lalu menyelimutkan tenda itu dan mengatur bentuknya hingga sesuai rangkanya. Tadaaa!!! Tenda pun jadi seperti ini... *peyot*

Tenda dan senyum yang gagal  dari Eri... :')
Pukul 18.15, rombongan tertinggal pun akhirnya sampai ke area perkemahan atau sekitar 30 menit setelah kami berempat. Mereka bercerita jika mereka berkesempatan melihat sunset ketika dalam perjalanan dan mereka terlihat bahagia walaupun tampak sangat kelelahan. Roland si mantan anak pramuka secara taktis langsung meraih tenda yang dibawanya dan dalam sekejap tenda pun berdiri, tentu saja dengan sedikit bantuan dari Andre, Shinta, dan saya. Kami melaksanakan ibadah salat magrib dan isya di puncak! Ini pertama kalinya untuk saya.

Tenda menjadi ekuipmen yang sangat berguna dalam camping kali ini karena terbukti dia bagaikan rumah yang melindungi kami dari jailnya angin yang mulai mengobrak-abrik semakin menjadi-jadi setiap benda yang ada di puncak itu, seiring semakin jatuhnya malam. Gemintang pun masih menyembunyikan kerlipnya seakan sedang menjauhkannya dari mendung. Malam Sabtu itu terasa sangat panjang daripada malam-malam biasanya, satu detik berlalu bagaikan satu menit, satu menit bagaikan satu jam, meskipun kami telah bergabung di dalam satu tenda dan mengarang lelucon atau permainan kejujuran. 

Di dalam tenda
Wajah itu tidak bisa bersandiwara

Menginjak pukul 22.00, akhirnya kami menyerah pada kantuk dan lelah, lantas mulai menata posisi tidur terbaik. Kami para gadis menggelar lima sleeping bag yang kami sewa untuk dijadikan selimut dan alas tidur dan berenam tidur di dalam satu tenda yang seharusnya diperuntukkan hanya untuk empat orang. Kami tidur membujur dengan posisi yang tidak bisa dibilang nyaman. Saya tidur di space yang tersisa di mana kaki saya tertekuk, dapn pada saat terbangun keesokan paginya, kaki saya pegal gila dan saya hampir tidak bisa meluruskannya. Sebelum kami tidur, ada suara-suara nyanyian dari arah tenda rombongan anak yang membawa gitar, lagi-lagi menyanyikan Bang Ocit, entah untuk ke berapa kalinya di malam itu. Ada juga rombongan pendaki lain yang baru datang di saat kami baru akan mulai memajamkan mata. Mungkin karena faktor cahaya yang kurang dan lain-lain, entah karena apa, proses mereka mendirikan tenda berlangsung sangat lama, berisik, tapi kocak karena Shinta terus saja menirukan suara medhok dari salah satu personel rombongan mereka. Dan lama-lama kami pun tertidur dengan tidak tenang karena angin masih saja mengobrak-abrik tenda kami seolah-olah akan mencabut tenda kami dari akar pasaknya. 



Fajar
Menjelang shubuh, beberapa anak mulai membuat gerakan-gerakan. Rheta yang tidak tidur semalaman tiba-tiba gelagapan mencari alas kaos kakinya yang entah bagaimana caranya sudah terlepas dan membuat kakinya setengah dingin. Shinta yang tidur di paling pinggir dan dekat dengan ventilasi tenda terbangun dengan tubuh yang kedinginan. Isna dan Eri sepertinya tidak dapat tidur dengan tenang karena berisiknya kibaran tenda. Nana meskipun tampak tidur tenang, tetapi ternyata dia dapat merasakan gerakan goyangan tubuh saya yang menggigil kedinginan saat tertidur. Isna sempat keluar dini hari itu, untuk menilik langit, barangkali dapat menangkap potret gemintang. Namun, dia mengurungkan niatnya dan lebih memilih menggelungkan badan di dalam tenda yang lebih hangat.  Yep! Betul sekali, suhu pagi hari di sana tetiba sedingin es. Jauh lebih dingin daripada malamnya. 

Menjelang pukul 05.30, Isna mengintip keluar tenda dan dia setengah berteriak sambil menunjuk ke arah tenggara. Sederetan manusia sudah menancapkan diri di posisi terbaik pilihan mereka masing-masing, di tepian puncak Prau super dingin yang menurut Shinta jauh lebih dingin dibandingkan dengan suhu di Gunung Papandayan. Hwaaah! Mereka siap menyaksikan kemunculan sang surya. Perlahan, kabut-kabut bergerak menyingkirkan badan, membuka tirainya yang menutupi beberapa siluet benda besar yang menelungkup dengan gagah dan kalem, tampak melayang di atas awan. Ternyata sosok itu adalah puncak Sindoro dan Sumbing, dua dari tiga anggota triple S (Slamet, Sindoro dan Sumbing), salah satu menu pendakian favorit para manusia pecinta alam. 

Kami mempertebal lilitan baju kami, lalu melompat keluar dari tenda untuk bergabung dengan pendaki-pendaki lain. Syukurlah, kami tidak terlalu terlambat dan memperoleh spot yang tidak cukup buruk untuk berpose. Foto di bawah ini diambil pada saat baru keluar dari tenda. Tangan saya bergetar habit akibat kedinginan sehingga tidak dapat menjaga fokus kamera saku saya. Alhasil, fotonya kabur-kabur begini deh. 




Tak bosan kami mengabadikan setiap inchi penorama pagi yang sangat indah ini. Lelah hari sebelumnya terbayar lunas dengan hidangan-Nya yang membius mata dan alam bawah sadar ini. Pagi itu, tetiba saya jatuh cinta dengan puncak gunung dan segala proses pendakiannya. Saya tidak akan pernah bosan dengan menu hidangan mata yang satu ini. 
Menjelang matahari terbit, gunung Sindoro dan Sumbing semakin jelas terlihat

Yeay!!! Akhirnya, saya berfoto juga... ^^

Akhirnya, matahari pun melahirkan diri

Bagaskara ini meninggi, sinarnya menyilau, tetapi dinginnya belum juga berubah menjadi hangat

Perlahan, birunya angkasa turut menyambut pagi di arah Barat.

Awan mulai berarak, kabut melenyap dihempas angin pagi dan sinar mentari

Yeah! Akhirnya, tenda-tenda kami, para pendaki pun terlihat. Ini hanya sebagian dari sisi Timur.








Suka komposisi warna dalam foto ini
Ini dua dedek supersabar dalam mendamping mbak yu-mbak yu yang masih awam tentang daki-mendaki

Biru :)

Perjalanan Turun 
Mentari menaik dan panasnya mulai mengalir ke daratan tempat kami berada, meskipun angin dingin tak juga jemu membelai bulu kuduk. Kami telah puas menyaksikan sunrise di puncak Prau. Setelah sarapan dengan bekal makanan ringan yang sudah kami bawa hari kemarinnya, kami pun segera merobohkan tenda. Satu per satu pasak tercabut, rangka terlipat dan kain tenda terkulai lemah di tanah. Andre bertugas merapikan segala perlengkapan tenda sedangkan sisanya berinisiatif memunguti sampah-sampah sisa konsumsi kami. Jika cinta, kita harus menjaganya, kan? :D

Setelah semuanya rapi, kami menatap ke arah berbotol-botol air mineral kemasan 1,5 liter yang masih tersisa sangat banyak. Ini kami yang minumnya sedikit atau memang kebanyakan belinya? Demi mengurangi beban saat turun, kami pun menggunakan air tersebut untuk membasuh muka, sikat gigi mencuci tangan, dan sebagainya. Akhirnya, tersisa dua botol air mineral ukuran 1,5 liter untuk penawar dehidrasi ketika turun.  

Pukul 8.30, kami mulai melangkah menuruni puncak Prau. Di luar dugaan, ternyata kondisi medan tidak sama seperti saat mendaki. Mungkin embun dan  kabut meninggalkan jejaknya di setiap area yang baru dilaluinya membuat jalan berkomposisi tanah ini basah dan licin. Akibatnya, tidak jarang dari pendaki (amatir) yang terpeleset saat turun. Salah satunya Eri. Tidak hanya terpeleset, ternyata pergelangan kakinya terkilir dan memperlambat lajunya. 

Seperti yang sudah kita semua ketahui, turun gunung itu lebih cepat daripada naiknya. Namun, ternyata gaya yang dihasilkan lebih besar sehingga menuntut kaki kita bekerja lebih keras untuk menahan tekanannya. Ah, saya tidak paham Fisika sebenarnya. Kami turun dengan sangat berhati-hati dan lebih pelan dibandingkan pendaki lain sembari menemani Eri yang tidak mungkin dapat melangkah dengan cepat. Beberapa kali kami berhenti untuk break dan pastinya tersusul oleh pendaki lain di belakang kami. Ini bukan masalah, yang penting kami selalu bersama. Yeah!

Ketika Break
Jika orang lain lebih suka naik daripada turun gunung, saya justru sebaliknya. Entah mengapa, turun itu rasanya menyenangkan karena dapat dituruni sambil berlari. Selain itu, ada rasa tertentu ketika melihat perjalanan dan pergerakan orang lain dari posisi yang lebih tinggi. Wah, tetiba saya teringat quotes seorang adik kelas tentang menjadi pemimpin, berada di posisi teratas sembari mengamati dan  memimpin mereka yang ada di bawahnya, dan... Loh malah ngelantur.

Baiklah, pada prosesi turun gunung ini saya dapat kembali melihat pemandangan Wonosobo secara garis besar. Dieng Plateau terpampang jelas di depan mata walaupun sangat kecil pastinya. Salah satu titik terindah yang dapat kami ketika menuruni Gunung Prau adalah semacam genangan air berwarna biru kehijauan di sebelah...maaf, saya buta arah. Ternyata titik itu adalah Telaga Warna, salah satu tujuan wisata yang paling diminati wisatawan saat berkunjung ke Dieng Plateau. Yeah, Telaga Warna akan segera kami datangi setelah terlepas dari badan gunung ini.

Telaga Warna, tampak dari jalur pendakian Gunung Prau

Masih Telaga Warna
Setelah dua jam lebih perjalanan, akhirnya kami sampai juga ke pemukiman warga. Lagi-lagi kami tidak tiba bersamaan full team delapan orang. Rombongan yang sampai duluan kali ini adalah Andre, Shinta, Isna, dan Nana. Mereka sedang menepi dan menumpang membersihkan diri di salah satu warung singgah, ketika rombongan telat (Saya, Roland dan dua orang yang terkilir, Rheta dan Eri) tiba. Iya, Rheta juga ternyata terkilir ketika menuju Pos 1. Alhamdulillah, kami break lagi, Haha...

Di salah satu warung singgah di pemukiman warga

Telaga Warna
Setelah bersih-bersih badan dan mengisi perut dengan sedikit gorengan, kami segera bersiap untuk merealisasikan rencana menuju destinasi terakhir, yaitu Telaga Warna. Eri yang sudah terkilir sejak baru turun dari puncak memilih untuk tidak ikut pergi ke sana. Dia lebih memilih untuk mengistirahatkan diri sambil mengumpulkan energi kembali karena perjalanan pulang ke Kebumen juga cukup panjang.

Jarak dari Patak Banteng menuju lokasi Telaga Warna tidak terlalu jauh, yaitu dapat ditempuh hanya dalam waktu sekitar 10 - 15 menit. Sebelum ke Telaga Warna, kami mengembalikan tenda dan sleeping bag sewaan ke pihak yang memilikinya. By the way, belum lengkap katanya kalau ke Wonosobo tapi tidak mencicipi kuliner khas sana, Mi Ongklok. Kebetulan, di dekat lokasi pengembalian tenda, ada warung mi ongklok yang menurut mas penyewaan tenda memiliki rasa yang lumayan enak. Kami pun memutuskan untuk mampir ke warung mi ongklok tersebut. Ternyata lokasinya bersampingan dengan warteg yang kami kunjungi di hari sebelumnya, haha. Bahkan makan saja move on-nya tidak jauh-jauh, ya? *oke salah fokus lagi* Yang pasti mi ongklok itu nikmat sekali. Kuah berasa bawangnya yang kental merupakan ciri khas dari mi ongklok ini. 

Pasca menyantap mi ongklok, yang ternyata porsinya tidak cukup membuat kenyang itu (atau memang dasar kami yang kelaparan), kami segera meluncur ke Telaga Warna. Tiket masuk menuju tempat wisata ini seharga Rp5.000,00 per orang untuk wisatawan lokal. Namun, bagi para wisatawan asing, harga yang dipatok untuk mereka 20 kali lipat lebih mahal dibandingkan harga tiket wisatawan lokal. Ternyata, harga itu sudah termasuk fasilitas tour guide dan trasnlator. Wah, lumayan maju juga nih tempat wisata dan untung saja kami asli pribumi. By the way, di dalam area wisata ini memang terdapat cukup banyak turis asing sih, ada yang berasal dari Jepang, Cina, Eropa, dan lain-lain. Ini menandakan bahwa tempat wisata Indonesia memang cukup diminati di mancanegara. Semoga, semakin terkenalnya pariwisata Indonesia sebanding dengan semakin terpeliharanya kelestarian dan keindahan tempatnya. 
Ini dia tokoh utama taman wisata Telaga Warna
Hal pertama yang saya tangkap ketika memasuki area tempat wisata Telaga Warna adalah bau sulfur atau belerang yang sangat menyengat. Saya sempat menyangka jika bau itu berasal dari suatu pembuangan. Namun, akhirnya saya menyadari jika asal aroma menyengat itu adalah dari telaga itu sendiri. Yep, terlepas dari aromanya, danau ini memang sangat indah dan terawat. Di beberapa titik, terdapat spot-spot yang dapat digunakan untu berfoto. Bahkan, di tepi danau, ada beberapa batang pohon yang sepertinya sengaja diletakkan melintang di sana untuk digunakan berfoto oleh para wisatawan. Fotografer keliling pun bertebaran di spot berfoto itu dan tak jauh dari sana ada rekan kerja sang fotografer yang tengah sibuk mencetak hasil jepretan sang fotografer dengan printer, uhn...ya printer biasa. 


Cukup jernih air dari telaga warna ini

Di sini, kami juga bertemu dengan anak-anak Perhimak Malang, yang lebih dikenal dengan nama Himalaya. Saya sempat bertegur sapa dengan Sukur Riswanto dan Nelly Saputri, para peserta bimbel Perhimak UI tahun 2012 dan 2013. Wah, senang sekali bertemu mereka. Setelah beberapa menit bercakap-cakap dengan mereka, kami pun meneruskan berjalan-jalan di tepian telaga sambil berfoto-foto.


Sweet Nana

Cute Tata

Andre?


Senyum plong setelah turun dari gunung

Memang sengaja miring kok ngambilnya *ngeles*

Lelaaahnyaaa...

Wednesday, 24 September 2014

Persembahan dari Yellow Orchid untuk Para Wisudawan Perhimak UI 2010 dan 2011



Gitar: Widya 
Bass: Ani TW
Vokal: Nisa, Dzakia, Ifa, Ani, Rheta (dari tempat magang)
Lagu: Never Alone (dipopulerkan oleh Lady Antebelum) dan Harmoni (dipopulerkan oleh Padi)

Deskripsi:
Dua lagu ini dipersembahkan untuk teman-teman wisudawan dan wisudawati Perhimak UI S1 2010 dan D3 Vokasi 2011. Berawal dari hobi kami, memberisiki tetangga-tetangga kamar kos di Wisma Yellow Orchid dengan nyanyi-nyanyi geje dan main gitar setiap tengah malam, tetiba tercetus ide untuk mempersembahkan pesan dalam lagu untuk mereka yang telah lulus. 

Kami memilih lagu Never Alone karena menurut kami liriknya cocok untuk menggambarkan mereka yang sudah lepas dari kampus, memulai dunia pascakampus, berjuang sebagai diri mereka sendiri, tetapi sebetulnya mereka tidak akan pernah sendiri. Sebab, sebetulnya sebuah keluarga bukanlah sebuah titel yang hanya dilekatkan dan mudah dilepaskan. Yeah, mungkin terlalu berlebihan menganggap Perhimak UI sebagai sebuah keluarga yang seolah-olah tak akan terpisahkan atau tidak akan kami tinggalkan. Namun, setidaknya masih adalah sisa-sisa memori yang mungkin tidak akan terlupakan, meski terkadang hati berbohong atau mungkin khilaf dengan berujar, "Aku telah lupa pada mereka." Lagu keduanya adalah Harmoni. Ah...tidak perlu saya jelaskan lagi mengapa kami memilih lagu ini. Seluruh yang kami katakan sudah tersurat dalam lagu ini. 

Ini bukanlah rekaman suara para profesional, para seniman musik. Hanya sebuah rekaman amatir para amatir dan penyanyi kamar mandi yang ingin menyampaikan pesan dan harapan tulus bagi para wisudawan dan wisudawati. Selamat ya, kalian. 
Wherever you fly, this isn't goodbye. Our love will follow you, stay with you, you never alone....

Lampiran

Never Alone (Lady Antebelum)
May the angels protect you
Trouble neglect you
And heaven accept you when it's time to go home
May you always have plenty
Your glass never empty
And know in your belly
You're never alone

May your tears come from laughing
You find friends worth having
With every year passing
They mean more than gold
May you win but stay humble
Smile more than grumble
And know when you stumble
You're never alone

Never alone
Never alone
I'll be in every beat of your heart
When you face the unknown
Wherever you fly
This isn't good bye
My love will follow you stay with you
Baby, you're never alone

Well, I have to be honest
As much as I wanted
I'm not gonna promise the cold winds won't blow
So when hard times have found you
And your fear surround you
Wrap my love around you
You're never alone

Never alone
Never alone
I'll be in every beat of your heart
When you face the unknown
Wherever you fly
This isn't good bye
My love will follow you stay with you
Baby, you're never alone

May the angels protect you
Trouble neglect you
And heaven accept you when it's time to go home
And when hard times have found you
And your fear surround you
Wrap my love around you
You're never alone

Never alone
Never alone
I'll be in every beat of your heart
When you face the unknown
Wherever you fly
This isn't good bye
My love will follow you stay with you
Baby, you're never alone
My love will follow you stay with you
Baby, you're never alone



Harmoni (Padi)
Aku mengenal dikau
Tak cukup lama, separuh usiaku
Namun begitu banyak...pelajaran yang aku terima

Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai
dan terwujud harmoni

Segala kebaikan
Tak kan terhapus oleh kepahitan
Kulapangkan resah jiwa
Karena kupercaya kan berujung indah

Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai
dan terwujud harmoni



Mengapa Menggambar? (plus lampiran gambar-gambar di bulan September 2014)

Sebetulnya, alasan saya menggambar, yang sepertinya akhir-akhir ini menjadi lebih sering, bukanlah untuk kejar setoran menghasillkan banyak gambar, bukan juga untuk sepenuhnya pamer atau di-upload di instagram atau sebagainya, dan juga bukan untuk sekadar iseng doang. Ada perasaan bahagia dan puas setelah menggambar. Ada rasa penasaran yang terpenuhi setiap kali saya berhasil menyelesaikan sebuah gambar. Ada rasa syukur kepada-Nya, yang menjejal ingin dikeluarkan ketika memandang setiap hasil gambar yang saya hasilkan, baik yang berhasil dan dapat dikenali, maupun yang acak-acakan dan tidak asyik untuk sering-sering dilihat. Ada energi positif yang mendorong alam bawah sadar untuk menumbuhkan kembali rasa percaya kepada diri saya sendiri yang terkadang turun drastis secara tiba-tiba. Itulah beberapa alasan yang mendorong saya untuk menggambar sesekali.

Jujur, saya akui kualitas gambaran saya standar. Saya tidak memiliki ciri khas gambaran saya sendiri karena saya menggambar dengan cara mencontek objek atau gambar lain. Saya bukan seseorang yang memiliki imajinasi dan kepekaan tinggi terhadap seni karena saya memang bukanlah seorang seniman dan tidak pernah berani bercita-cita untuk menjadi seniman lukis. Ketidakberanian ini sebetulnya diakibatkan oleh kondisi tangan saya yang selalu basah atau berkeringat dan, bagi saya, cukup mengganggu ketika menulis dan menggambar. Bahkan, ketika TK hingga kelas 2 SD, saya sangat membenci pelajaran menggambar karena saya selalu menyobekkan kertas gambar yang saya gunakan. Pada akhirnya, saya tidak pernah menggambar hingga betul-betul jadi. Akibatnya, nilai pelajaran seni saya sangat payah. Namun, setelah catur wulan 2 di kelas 2 SD, tiba-tiba saya ingin sekali dapat menggambar dengan baik tanpa membuat kertas gambar saya rusak, bolong atau sobek. Hal ini dipicu oleh rasa iri saya terhadap beberapa teman sekelas saya yang dipilih untuk mengikuti lomba menggambar sedangkan saya tidak dipilih. Mereka sangat bergembira karena diberi uang saku sebesar 1000 rupiah dan diantarkan ke tempat lomba dengan becak sedangkan saya hanya mengamati mereka yang pergi menjauhi sekolah. Sejak saat itu, saya menjadi berhati-hati dan ngotot dalam menggambar. 

Mama lah orang yang paling berjasa dalam perkembangan minat menggambar saya. Meskipun sebetulnya sudah timbul niat untuk menggambar akibat iri yang sudah saya sebutkan di atas, tetapi saya masih belum bisa menggambar sama sekali. Hingga pada suatu Senin pagi di tingkat yang sama, ketika saya lupa mengerjakan PR Matematika, Mama memarahi saya karena saya menangis pada saat mengerjakannya. Mengapa saya menangis? Saya sebetulnya dapat mengerjakan soal deret sederhana yang ada dalam buku teks tersebut, tetapi masalahnya: penyajian soal dan penulisan angka-angka tersebut adalah dalam bentuk gambar ulat di mana di setiap segmen tubuh ulat yang berbentuk lingkaran-lingkaran tidak sempurna itu berisi soal yang harus dijawab. Jadi, mengapa saya menangis? Saya tidak takut gambar ulat. Hanya saja, saya mengira jika saya harus menggambar ulat itu juga jika saya ingin mengerjakan soal Matematika tersebut karena penyajian soal di buku adalah seperti itu. Senin pagi itu menjadi sangat ribut dan Mama pun akhirnya turun tangan. Beliau akhirnya menggambarkan dua ekor ulat beserta bulatan-bulatan badannya, tentu saja sambil mengomel begini-begitu. Kurang lebih inti omelannya adalah begini:
"Masa iya udah kelas 2 SD, PR-nya masih dibikinin. Nanti kalau keterusan sampai kelas tinggi gimana? Lagian ini PR Matematika bukan PR menggambar. Kok pakai digambar segala sih ulatnya? Kayaknya kalau nggak pakai ulatnya nggak apa-apa deh. Terus, nih ya, kalau kamu nggak pernah mau mencoba untuk menggambar, sampai kapan kamu bisa menggambar? Sampai nanti SMA pun pasti akan ada pelajaran menggambar, Yoh. Kalau alasannya karena tangan basah kan bisa dikasih alas pakai saputangan (yeah, ketika SD saya selalu bawa saputangan dan pakai jam tangan *loh kok jam tangan?*). Lagian, Yoh, keluarga kita kan sebenarnya banyak yang pinter menggambar. Mbah Kakung, Pakdhe Ipin, Pakdhe Sidik, Bapakmu juga...mereka jago loh. Pasti kamu juga bisa lah, kan faktor keturunan."

Saat selesai mengucapkannya, dua ekor ulat pun selesai digambar oleh beliau dan langsung saya isi dengan angka-angka jawaban saya. Saya berangkat telat Senin pagi itu. Namun, sejak saat itulah saya lebih berminat untuk menggambar. Memang tidak pernah mendapat nilai bagus, tetapi setidaknya saya tidak lagi mendapat nilai 5 atau 6 dalam pelajaran menggambar. Terima kasih Mamaaa *ngelap air mata*. Saat itu, saya betul-betul seperti terhipnotis oleh kata-kata beliau. Sejak saat itu, saya semakin percaya pada kekuatan mencoba dan bekerja keras. Jika saya tertarik pada suatu hal, rasa penasaran dan keinginan untuk meraihnya akan sangat besar. Yeah, saat SD itu memanglah saat-saat di mana kesombongan dan iri dengki berkibar-kibar. Meskipun cenderung menjadi follower, tetapi saya selalu berambisi dan antusias dalam diam saya. Saya merasa saya dapat melakukan segalanya yang saya inginkan, bahwa jika orang lain bisa melakukannya maka saya pun pasti bisa melakukannya juga, bahwa jika saya niat saya pasti dapat meraih segalanya. Saya yang dulu, tidak jauh berbeda dengan yang saya sekarang, hanya saja saya yang dulu memiliki...ambisi. Bedanya lagi, saya yang sekarang, meskipun tidak terlalu berambisi (kok sedih ya?), tetapi saya lebih berpersaan dan menilai setiap hal dengan perasaan. Sampai-sampai, otaknya jarang dipakai untuk berpikir, karena terlalu sering mengandalkan hati. Hahai...

Ah, malah melantur. Jadi, begitu ya latar belakang dan alasan saya agak sering menggambar, meskipun (saya ulang lagi) kualitas gambaran saya standar atau biasa-biasa saja, sama seperti gambaran orang lain pada umumnya. Hehe... 

Lampiran
"My Signature"
Depok, 4 September 2014

"Fanart: Kikyo"
Depok, 5 September 2014

"Fanart: Wedding Peach"
Depok, 7 September 2014

"Please, Give Me Peace!"
Depok, 8 September 2014



Twenty Facts About Me

Bagi beberapa orang, tantangan geje di instagram yang ber-hashtag #20factsaboutme ini, mungkin mengganggu, tidak penting, memaksa seseorang menceritakan privasinya, dan sebagainya. Setidaknya, saya mendengar secara langsung dari dua tiga orang yang menyatakan ketidaksetujuan untuk melakukan aktivitas aneh-aneh, dengan mengepos hal tidak berguna semacam tantangan tersebut. Saya sebetulnya sependapat dengan mereka, awalnya. Namun, entah mengapa setelah di-tag oleh dua orang adik kelas yang tidak disangka-sangka akan menge-tag saya, saya merasa terharu dengan begitu berlebihan. Saya merasa sangat terhormat karena telah diingat oleh mereka berdua hingga mereka repot-repot menge-tag saya di kiriman foto instagram. Sebagai bentuk terima kasih saya kepada mereka berdua yang telah mengingat saya, saya pun memutuskan untuk ikut menuliskan dua puluh fakta tentang diri saya. Sebetulnya saya agak bingung dalam memutuskan dua puluh fakta dari seluruh fakta diri saya. Fakta seperti apa yang layak untuk dipublikasikan? Poin-poin diri saya yang seperti apa yang cukup perlu untuk dibagikan ke orang lain? Namun, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan dua puluh hal di bawah ini. Sebetulnya, ini adalah versi caption asli yang awalnya akan saya sertakan pada foto tantangan #20factsaboutme ini. Namun, ternyata, caption tersebut terlalu panjang sehingga saya edit dan persingkat caption-nya. Oke, inilah caption asli dari tantangan #20factsaboutme-nya Ani...

Uhn, di-tag tantangan beginian sama dedek @sofiiwa dan @husnulkhotimah24. Okelah, meskipun sebetulnya masih bingung ini esensinya apaan, tapi ya sudahlah ikut-ikutan aja... #20factsaboutme
  1. Nama lahir Anifatun Mu'asyaroh. Awalnya hampir dinamai Chanifatul Maesaroh. Nama panggilan lazim: Ani, Anifatun, Ayoh, Mba Ani, Mba An. Nama panggilan plesetan: Mbayo, Anif, Anifa, Ani-chan, Mbah, Mbe, Manusia kulkas, Animonster, Ani-chun, Anipacul MasyaAllah. ID: aniamarilis, aurigaamarilis...
  2. Lahir 15 Maret 1992, tapi di akta kelahiran tertulis 13 Maret 1992. Alhasil, tidak jarang saya mendapat ucapan ultah dua kali dalam setahun.
  3. Golongan darah B+ dan cukup mempercayai teori golongan darah.
  4. Melankolis-sanguinis kalau kata @adeeiam. Namun, kayaknya lebih ke melankolis doang deh.
  5. Penyuka warna ungu (suka pake banget), coklat, biru gelap, tosca, putih, dan hitam.
  6. Memiliki telapak yang hampir selalu basah dan suhu tubuh yang adaptif terhadap suhu lingkungan. (Kalau suhu sekitar rendah kulit saya sedingin air kulkas, kalau suhunya tinggi, sehangat sauna. Apakah saya manusia berdarah dispenser?)...
  7. Anti makanan amis (ikan, telur tanpa campuran, dl), anti dingin, anti (hampir semua) binatang terutama bekicot dan keluarganya...
  8. Mahasiswa Biostatistika yang suka berkhayal, pilih-pilih matkul tertentu (yang diseriusin), dan belum siap untuk lulus.
  9. Penyayang bocah dan masih kepengen jadi guru TK atau penulis cerita anak-anak.
  10. Jujur, kekanak-kanakan tapi sensitif dan mudah curiga jika diberi pujian atau perhatian berlebihan.
  11. Lebih sering main di paguyuban daripada di kampus atau sama teman (?) kampus. Terus di paguyuban, kata orang saya terlihat lebih sering main sama adik angkatan, daripada sama anak seangkatan apalagi kakak angkatan. Mungkin ini yang bikin proses pendewasaan saya lambat. Hehe.
  12. Kurus parah, makanya sekarang sedang jaga pola makan dan diet TKTP buat menaikkan BB.
  13. Pelit, pikun dan lola.
  14. Mudah stres dengan tiba-tiba dan misteriusnya. Kalau stres bakal cari pelarian, semacam ngeblog geje, ngegambar geje, main musik geje, jalan-jalan geje atau ngapain aja asalkan sendirian dan bikin capek biar cepet tidur.
  15. Introvert, moody, pendiam, penyendiri, agoraphobia, dan tidak tahan terlalu lama dalam kebisingan.
  16. Sering mengeluarkan suara-suara aneh dan cempreng dengan spontan atau tanpa sadar, tapi katanya cocok jadi dubber kartun atau semacamnya.
  17. Suka fotografi (meski belum punya kamera layak), juga hiking, camping atau bedah alam asalkan ada yang mengajak atau tebengan.
  18. Memiliki rasa ingin tahu, penasaran, kepo dan semangat tinggi untuk hal-hal tertentu yang menarik.
  19. Sempat tomboy, makanya nggak jago masak. (Berhubungankah?)
  20. Satu-satunya olahraga yang bisa saya lakukan cuma badminton, meski nggak jago.
Wah, cuma 20 doang udah sepanjang ini??? Hehe. Uhn, saya bingung mau nge-tag siapa, tapi besar harapan saya, yang saya tag mau ikutan game (?) ini juga. Eohooo... :p

Yah, jadi seperti itulah. Mungkin saya terlalu jujur dalam menuliskan fakta tentang saya ini. Saya lebih banyak menuliskan tentang apa yang melekat pada saya, tentang kekurangan saya, tentang aktivitas saya, dan tentang sesuatu yang tidak jelas. Ini berbeda dengan beberapa orang lain, di mana mereka menuliskan tentang cita-cita, tokoh tertentu, orang paling berjasa, kecintaan kepada Tuhan, atau harapan akan masa depan mereka. Hehe. Mungkin saya memang tidak terlalu tahu tentang keinginan dan harapan saya di masa depan. Saya terlalu sering terpaku pada masa lalu dan menikmati arus yang sedang diarungi saat ini, tanpa terlalu ingin tahu tentang apa yang sedang menghadang di depan jalan. Ini kekurangan terbesar saya. 

Tuesday, 23 September 2014

Selamat, Bang Ko

Hallo, Bang Ko... 
Maaf karena saya tidak mengucapkan ini tepat waktu, tetapi... "SELAMAT ULANG TAHUN!"
Saya memang tidak dapat mengucapkannya secara langsung kepadamu karena saya tidak mengetahui letak pasti keberadaanmu. Oleh karena itu, saya mengucapkannya melalui tulisan ini. 
Ini adalah ulang tahun kedua yang kita lewati semenjak pertama kali berkenalan dan saya memutuskan untuk tetap menyapamu jika suatu saat bertemu. Meskipun saya tidak begitu mengenalmu dengan baik dan, dapat dipastikan, kau juga sangat tidak mengenal saya, saya memutuskan untuk rajin mengucapkan selamat di setiap ulang tahunmu seperti saya mengucapkannya kepada teman-teman baik saya. 
Saya tidak menyertakan hadiah apa pun untukmu karena Dia pasti akan memberikan hadiah terbaik untuk-Mu. Saya titip pada-Nya harapan terbaik untukmu, meski sebetulnya saya tidak memiliki banyak harapan. Saya juga tidak pandai menyusun kalimat doa berisi harapan dan kebaikan yang detail untukmu. Saya hanya dapat mengamini hal-hal baik terjadi padamu, cita-cita tertinggimu dapat tercapai sesegera mungkin sesuai targetmu, misi-misi perjalananmu dapat kau lalui dengan lancar, kendala yang menghadang langkahmu dapat teratasi tanpa harus terlalu banyak mengorbankan diri, keinginan baikmu dikabulkan-Nya, serta semoga kau senantiasa dilimpahi-Nya dengan kejutan indah yang bahkan tak kau duga-duga kedatangannya. Aamiin.
Di pertemuan terakhir denganmu di dunia pertama, yang entah kapan waktunya, saya melihat raut wajahmu lebih cerah dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya di mana kau tampak cemberut dan seolah-olah tak rela untuk bertemu. Apakah kau sedang berbahagia? Semoga kebahagiaan itu senantiasa mengiri setiap langkah perjalananmu. Kau juga tampak lebih merawat diri dan kesehatanmu, meski kau sempat berujar bahwa tenggorokanmu sedang serak entah karena hal apa. Namun, saya tetap bersyukur, kau terlihat sedikit lebih gemuk, Bang. Semoga di usia barumu, kesehatanmu lebih terjaga. Di pertemuan itu juga, kau tampak begitu akrab dengan lebih banyak orang, meskipun menurut seseorang kau tampak menyendiri seperti orang bingung yang tak punya teman. Semoga di usia barumu, kau memiliki lebih banyak teman di mana-mana, di atau ke mana pun kau berada, dan semakin disayangi oleh mereka dengan ketulusan bukan untuk pemanfaatan. Selain itu, kau terlihat sangat serius dengan masa depan yang akan segera kau pijaki, kau menanyakan banyak hal yang tidak saya mengerti kepada seorang yang berpengalaman itu. Apa pun itu, saya hanya mampu mendoakan kelancaran pencapainnya untukmu. Ah iya, semoga prestasimu senantiasa meningkat pula. Semoga kau semakin lembut kepada orang-orang di sekitarmu yang menyayangimu. Semoga kau sering tersenyum dan tak terlihat seperti penyendiri. Ah, saya mulai bosan menulis rincian doa dan harapan untukmu, toh ini hanyalah sebuah ucapan ulang tahun. Pokoknya, semoga kau di tahun-tahun yang akan datang lebih baik, bertabur keberkahan, dan mampu bermanfaat bagi orang lain. 
Saya ingin memberimu sesuatu, tetapi sepertinya ini tidak perlu, mengingat kau dan saya tidak bertalian apa pun dan bukan sepantasnya menghabiskan recehan saya untuk hal-hal seperti itu. Namun, jujur, tahun lalu saya hampir memberikanmu sebuah jam tangan murahan yang dapat saya jangkau dengan sisa uang jajan saya. Untung saya membatalkannya, karena ternyata kau sudah memilikinya entah kapan dan dari mana kau mendapatkannya. Kali ini saya memutuskan untuk tidak memberikanmu apa-apa...atau mungkin saya akan membuat sebuah lagu singkat untukmu? Ah, saya tidak tahu bagaimana cara membuat lagu. Atau mungkin memberimu sebuah gambar? Uhn, saya juga tidak tahu cara menggambar. Atau membuatkan sebuah puisi persahabatan? Oh tidak, kita tidak pernah betul-betul bersahabat saya kira. Saya perkirakan, kau akan menerima banyak hadiah dari orang lain yang lebih berharga dan indah dari rencana hadiah-hadiah yang akan saya berikan. Jadi, kau tidak akan kekurangan hadiah pastinya. Lagipula, jika saya memberikanmu sesuatu pun, sepertinya pemberianku tidak akan cukup untuk membuatmu gembira, alih-alih bingung dan menerka siapa pemberinya.
Mengapa ucapan ini menjadi sepanjang ini? Namun, awalnya, saya kira saya akan menuliskan lebih panjang dari ini. Ternyata, saya terlalu bingung mau menuliskan apa untukmu. Saya kira, sampai di sini ucapan selamat dari saya. Selamat, selamat, selamat, Bang Ko. Semoga Allah memberkahi sisa umurmu... :)

Monday, 22 September 2014

Pesan Terakhir di Ujung Masa Bhaktinya...

"We have ever thought about being family. We have ever thought about home. Sharing the same roof, stepping the same floor. I tried to understand you, your activities, your schedule. Last time I told you to come at 8, but you came at 11. Then I tried to reschedule our family meeting. I told you to come at 3. Yet you don't come.

Don't we need a head of our family? Don't we need someone, or two, to keep our home standing? Don't we need somewhere, a place we can call it 'home'?

Why do we force our little brothers and sisters to attend our family meeting while we sleep at our own dorm, when we play happily with our friends? Do you think our brothers and sisters not have the same right to see outer world? Why do we hope this home will never be broken when we can't even go back for a while?

Who do you think you are? The owner of our house? You can't even pay us whom you chose to keep and clean our home! All you need to do is just come and we will welcome you, with a big smile, happily.

Our meeting will start at 6.30 pm.

Please, come.

Please, don't show this shame to our little brothers and sisters.
Please, I'm begging you.

I believe today is not the last day of this home."

*******
Itu adalah pesan berantai yang dikirimkannya ke grup rumah kebersamaan kami. Ah, adik yang satu ini memang sesuatu sekali. Dia memang gadis kuat yang selalu memiliki keteguhan prinsip dan juga penuh kejutan. Tiga tahun lebih mengenalnya, baru beberapa bulan terakhir ini, terhitung sejak kepindahannya ke keluarga Yellow Orchid, saya betul-betul jatuh hati tanpa sungkan kepadanya. Meski demikian, saya sangat kaget ketika membaca pesan tersebut. Saya telat membacanya karena handphone saya mati ketika pesan itu terkirim ke grup. Ketika itu, saya sudah berada di TKP. Eri lah yang menyodorkan tabletnya, yang ternyata tersaji pesan tersebut, ke saya. Hwah...sontak saya kaget. Saya betul-betul tidak peka, tidak pandai membaca kondisi. Saya sama sekali tidak memahami bagaimana perasaan dia dan mereka yang telah mempersiapkan dan hadir dengan sangat awal. Ah, mungkin beberapa orang menilai tindakannya --menulis pesan tersebut-- berlebihan. Namun, bagi orang yang mungkin berperasaan terlampau sensitif atau mengetahui bagaimana perjuangannya setahun terakhir plus ekstra berpikir-banting tulang selama ini, mungkin akan tersentil tertunduk malu pun akan dapat memakluminya. Lagipula ini acara besar, penentuan pemimpin baru keluarga ini pun juga untuk memprediksi ke mana arah kepemimpinan keluarga ini setahun ke depan. 

Saya sendiri sangat malu, sebagai salah satu orang yang tergolong ke dalam rombongan senior, karena datang sangat telat. Jujur, saya memang hampir memutuskan untuk tidak datang, karena ketidaksukaan saya menghadiri acara beramai-ramai orang dan bertensi tinggi semacam itu. Namun, setelah melihat jawaban chat dari dedek R pada pukul 4 sore, bahwa acara belum dimulai karena menanti kehadiran anak angkatan saya, tetiba perasaan saya tidak enak dan...sedih. Akhirnya, saya nekad mengepos chat ke grup angkatan, berisi ajakan atau semacamnya. Yeah, saya sudah lupa kalau saya adalah saya, orang yang hampir selalu tak terespon ketika berbicara di grup tersebut. Masa bodoh, saya hanya ingin berusaha....berusaha saja. Awalnya hanya ada dua orang yang merespon. Namun pada akhirnya, setidaknya ada lima orang yang menjawab.Terharu sekali saya. Meskipun jawabannya sedikit tidak menggemberikan. Namun, inilah kenyataannya...bahwa kebanyakan dari kami memang sudah terbang ke luar Depok. Jadi, dipaksakan dengan bagaimana pun caranya, tidak akan mungkin ada banyak dari angkatan kami yang datang.

Jam 5 lebih, saya bertanya sekaligus memberi tahunya keadaan dan respon angkatan saya. Hening. Seperti dia sedang berhati-hati atau memilih kata yang tepat untuk menjawab. Saya semakin gelisah. Apakah di sana baik-baik saja? Apakah jika saya datang ke sana akan sedikit bermanfaat meskipun hanya menyetorkan muka atas nama angkatan? Apakah saya akan berani berbicara seperti mereka yang sudah berpengalaman? Apakah saya akan baik-baik saja dalam keramaian tersebut? Akhirnya, saya memutuskan untuk mematahkan keegoisan dan kecemasan saya untuk dia, adik-adik angkatan saya dan mungkin rumah keluarga ini. Lagi-lagi, saya kembali ke sana karena faktor perasaan yang tak beralasan kuat.

Betul saja, saat sampai di TKP, suasana sedikit sepi yang tertangkap mata. Beberapa anak tengah menjalankan ibadah salat magrib berjamaah. Sisanya mungkin berkeliaran sementara di luar TKP. Namun, syukurlah ternyata dari pihak yang diistilahkan "senior" sudah ada beberapa orang yang tampak dan kesemuanya adalah angkatan di atas saya. 'Di mana anak angkatan saya? Oh, iya mereka sibuk dan sedang di luar kota,' batin saya. Umam pun bertanya hal yang sama, yang hanya saya jawab dengan cengiran dan doa dalam batin. Tidak lama kemudian, banyak orang berdatangan. Adik angkatan semua awalnya. Lalu Aan dan disusul Jodi yang menyempatkan datang jauh-jauh dari Bandung dengan so sweet-nya. Setengah jam kemudian, Widya dan Ifah juga datang. Mereka bergabung dengan para alumni atau senior. Sejam kemudian Leli dan suaminya juga datang.

Ah, bahagianya...dan saya dapat melihatnya sesekali memandang ke arah kami, orang-orang tua yang hobi menelatkan diri. Menjelang berakhirnya acara, ternyata Hari dan Martyn juga datang. Mereka juga ikut berkontribusi dalam menilai...hingga akhir acara, hingga terpilihnya dedek Reza dan Roland menjadi pemimpin rumah kelurga ini yang baru. Selamat...

*******
Saat sampai kamar rumah kos, saya tetiba terpikirkan pesan panjang yang dibuat dan dikirim olehnya. Lantas, saya baru ingat bahwa saya sempat memintanya membuatkan jarkom yang agak ngena agar kami ter-jleb saat membacanya. Tidak jelas juga mengapa saya mengatakan tersebut. Yeah, saat itu saya memang sempat miris karena hampir tidak direspon oleh teman seangkatan saya. Oleh karena itu, saya memintanya membuat jarkom yang nantinya akan saya teruskan ke grup angkatan dan melabelinya dengan "pesan dari panitia". Namun, handphone saya mati dan saya tidak terlalu berminat lagi untuk memberisiki grup angkatan. Saya memutuskan berangkat ke TKP sendirian selepas magrib...hingga akhirnya saya membaca pesan tersebut lewat tablet milik Eri. Saya mengira-ngira dalam hati, "Jangan-jangan pesan ini adalah jarkom yang dibuat berdasarkan pesan-pesan saya ke dia sebelumnya?"

Dan ternyata benar... (sudah diiyakan olehnya)

Lalu saya merasa bersalah sekali.

Oke, ini sudah berakhir. Masanya telah selesai dengan mengesankan dan penuh kenangan yang menyenangkan dan juga tak terlupakan bagi anggota kepengurusannya. Dia begitu total dan berdedikasi demi keluarga ini. Dia tegar dan setia mendampingi pemimpinnya, tanpa berniat atau berkeinginan melangkah lebih dulu atau berhenti atau membelok arah dalam perjalanan sehingga dia tidak tertinggal atau meninggalkan apa yang seharusnya didampinginya. Hohooo... Banyak sekali hal yang ingin saya tuliskan tentang dia, tetapi saya sudahi saja lah, tulisan yang tidak bertujuan jelas ini, sampai di sini.
Semangat semester akhirnya... :)

Sunday, 21 September 2014

Aku Mencintainya

Aku mencintainya dengan tak sederhana...
Seperti api yang bercita-cita menjadikan batang pepohonan nan kuyup menjadi bongkahan arang yang tak pernah habis berpijar,
Seperti air yang mengalir melewati aneka sungai dan bebatuan, sebelum akhirnya bertemu di lautan,
Seperti angin yang tak berdaya untuk menampakkan badan dan hanya mampu sedikit bersiul untuk sekadar menunjukkan kehadiran,
Seperti putri malu merah jambu yang tampak tegar menantang awang-awang, tetapi lunglai seketika bahkan tanpa sempat tersentuh oleh jemari lentiknya...

Aku mencintainya dengan tak bijaksana...
Menyimpannya di dalam kotak perhiasan bekas yang terkunci terlampau rapat,
Menghidupinya dengan kata dan rasa tak biasa yang tak terucap oleh lisan,
Menyiraminya dengan aliran air rindu yang tak henti meski kemaraunya melanda dengan menyakitkan,
Menghiasinya dengan pita biru tua yang terkadang kuikat terlalu kencang,
Menjauhkannya dari orang kebanyakan sembari menjejalinya celotehanku yang menyebalkan...

Aku mencintainya dengan tanpa kejujuran...
Mengendap-endap diam-diam di antara ladang ilalang yang pucat kekurangan sinar,
Mengawasinya dengan tidak menjulingkan mata demi mendukung peranku yang penuh kepura-puraan,
Menyatu dengan api, air, dan angin bahkan deduri putri malu yang satu sama lainnya tak saling memiliki urusan,
Mengakui ketiadaan untuk sebuah keberadaan, juga
Memaksakan ketersediaan untuk sebuah kehampaan...

Aku mencintainya dengan segenap kegelapan, kesunyian, keabnormalan, kemantapan, dan keteguhan hati yang telah lama terpelihara tanpa alasan...

Tuesday, 9 September 2014

Apakah malam ini purnama?
Aku mendongakkan kepalaku keluar melalui pintu kamar, hingga tanpa sadar telah lolos seluruh badanku demi menyaksikan si badan bulat nyaris sempurna yang melayang Rembulan di ubun-ubun, tidak tersenyum, tidak 

Friday, 5 September 2014

Aku Takut

Aku takut aku tidak lagi mampu menyusun kata dengan baik.
Aku takut aku tidak lagi mampu mengucapkan kata-kata yang baik.
Aku takut aku tidak lagi mampu menyampaikan apa yang seharusnya mudah untuk disampaikan.
Aku takut aku tidak lagi memiliki keberanian bahkan untuk sekadar menyuarakan rasa ketakutan.
Aku takut aku lenyap tanpa jejak, tanpa sempat menyampaikan salam perpisahan, tanpa ingat kata kunci untuk dapat memasuki pintu yang dijaga makhluk Tuhan paling taat.

Friday, 29 August 2014

Senja Bersama, Merkurius dan Venus (1)

*Saya mengadaptasi judul cerita ini dari judul cerpen seorang adik angkatan, tentu saja dengan isi cerita yang berbeda.
*Alur cerita lambat dan mudah ditebak. Jika tidak suka, jangan coba-coba membacanya.
*Ber-genre drama keluarga. Bukan penyuka cerita drama tidak dianjurkan untuk membacanya.
*Ini bagian ke-1, yang masih berisi prolog dan pengenalan tokoh-tokoh utamanya.

Selamat membaca! :D
________________________________________________________________________________________________


Kepingan 1: Cokelat Kelinci

'Ibu, ayah sebentar lagi pulang. Sekarang sedang mampir di minimarket atas. Beli cokelat kelinci pesanan si Dede. Ibu, bisa tolong siapkan air hangat buat mandi?' katanya melalui pesan singkat yang baru saja menyeruak masuk ke dalam inbox telepon genggamku.

'Okeee, ayah,' balasku singkat. Ah, tentu saja aku telah menyiapkannya, sebelum ia meminta. Aku sudah hafal jam pulangnya hingga kebiasaannya mengirim pesan untuk mengabarkan bahwa ia hampir mencapai rumah atau sekadar menanyakan oleh-oleh kepada Keke dan Dede, buah hati kami yang sedang pandai-pandainya menghafal lagu anak-anak.

Aku sudah sedang mengecek suhu air dalam bak mandi, ketika nada dering penanda pesan singkat selulerku terdengar mencicit meminta perhatian. Sebuah pesan singkat tergelar melalui pop up di layarnya, 'Cokelat di tangan, Ayah siap meluncur pulang.' Aku tersenyum membaca pesan tersebut. Suamiku masih saja cerewet seperti dulu ternyata. Lagi-lagi, aku tersenyum nyaris terkikik, membayangkan ia di masa muda yang begitu ceria, bersemangat dan disukai banyak orang. Well, setidaknya ia berhasil membuat orang-orang berpikir demikian tentang dirinya.

Aku sengaja tidak membalas pesan terakhirnya dan mungkin aku akan beralasan: ini demi penghematan pulsa. Padahal, aku memang tidak ingin membalasnya saja. Aku ingin mengetes bagaimana reaksinya ketika pulang nanti, mengingat ia tidak suka jika ada pesan atau perkataannya yang diabaikan. Sebenarnya, sudah dapat kutebak, ia pasti hanya akan mencelotehkan protes mini selama beberapa detik, lantas lupa dan berlari menuju dua malaikat kecil kami, yang kini tengah menari bersama menggunakan kostum peri.

Ah, dua anak itu, tiba-tiba aku ingin melihat bagaimana progres tarian mereka. Aku mengintip ke sebuah ruangan bernuansa kuning pastel yang memang berada di dekatku. Kulihat pangeran kecilku sedang berdiri di atas kursi mungilnya sambil berkacak pinggang. Ia menggunakan kostum Oki, si peri cilik nan jail, yang berwarna hijau daun pisang tua. Di sisi lain kamar tersebut, tepatnya di depan cermin setinggi satu meter yang terparkir aman di salah satu sisi kamar berbentuk segi lima itu, putri manisku tengah memandangi pantulan dirinya yang tak kalah manis di dalam cermin. Kostum bersayap dari tokoh Nirmala, si peri penyihir cantik dalam dongeng bergambar "Cerita dari Negeri Dongeng", tampak luwes melekat di tubuh mungilnya. Mereka sangat lucu, menari sambil sesekali menggumamkan semacam dialog yang selalu saja berubah-ubah kalimatnya di setiap latihan, sangat menyimpang dari naskah yang diajarkan oleh guru mereka. Meski begitu, mereka telah membuatku tersihir dan hampir lupa jika ayah mereka sudah hampir pulang dari kerja. Kulirik jam dinding berbentuk burung hantu yang terpaku lucu di sudut kamar itu. Oh, tidak! Sebaiknya aku membiarkan mereka bermain dan bergegas menyelesaikan persiapan makan malam sebelum ia pulang.

"Ayah pulaaang!" kudengar suaranya dari luar rumah, mengeras memenuhi teras dalam, seiring rintihan pintu yang perlahan terbuka. Baguslah, aku telah selesai menata hidangan makan malam kami, ketika ia telah masuk ke dalam rumah seutuhnya. Namun, ada yang aneh. Keke dan Dede tidak menghambur ke luar kamar untuk menyambut kedatangannya. Apakah mereka tertidur dalam satu menit? Aku menyempatkan menemuinya yang tengah duduk melepas sepatu, untuk sekadar memberikan senyuman kecil, sebelum pergi mencari Keke dan Dede ke dalam kamar.

Aku sempat cemas selama beberapa detik karena tidak dapat menemukan mereka berdua. Namun, kecemasan itu bergenti kegemasan ketika mendapati mereka sedang sama-sama berjongkok bersembunyi di balik bak mandi. Kamar mandi berpintu dua itu memang diset berada di perbatasan kamar tidur kami dan mereka untuk mempermudah segala aktivitasku dalam mengurusi mereka. Aku pura-pura tidak melihat mereka yang sepertinya memang tidak menyadari kedatanganku. Kutinggalkan mereka, yang tengah terkikik sembari membungkam mulut mereka dengan tangan mungil mereka sendiri, lalu segera menemui suamiku tercinta. Ia sudah selesai melepaskan pantofel kirinya ketika aku tiba di depannya.

"Tak membalas sms-ku lagi, uhm?" tanyanya dengan wajah kesal yang dibuat-buat. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman yang juga kubuat-buat sedemikian rupa agar setidaknya tampak manis bak personel-personel girlband di televisi. Namun, ia belum mengubah ekspresi wajah kesal buatannya. Akhirnya, aku menambahkan jurus andalanku, yaitu mengedip-ngedipkan mata dengan jahil, yang tentunya sangat tidak pantas dilakukan oleh wanita berkepala tiga sepertiku. Sukses. Ia telah lupa akan akting kesalnya dan kini digantikan dengan tawa spontan yang sangat keras, cukup untuk membangunkan anjing tetangga. Aku memberinya lirikan tajam khasku dengan mengisyaratkan pesan ancaman, 'Reaksi berlebihan macam apa itu? Hentikan atau kau akan mendapat ganjarannya!'  

Sepertinya, ia dapat membaca pesanku dengan baik karena ia menghentikan tawanya pasca melihat lirikan dariku itu. 'Yes! Selalu berhasil setiap saat!' batinku sembari menyeringai puas merasakan kemenanganku darinya untuk yang kesekian kalinya. Aku tidak melakukan semua ini karena aku ingin menindas atau tak menghormatinya. Namun, beginilah cara kami berkomunikasi, bahkan sejak lama saat status kami belum seperti ini.

Aku mendekatinya, meraih tas kerja berselempang yang ia gantungkan di bahu kanannya. Ia memandangku, masih terlihat sedikit gugup dan salah tingkah. Aku dapat melihat lelah terpatri jelas di relief wajah jenius sekaligus jenakanya. Lalu tiba-tiba kami tersenyum tanpa alasan yang jelas. Aku pun mulai menyapanya, "Selamat datang, Ayah. Apa kau tidak merasa di sini sedikit lebih tidak berisik? Kau tidak ingin mencari di mana mereka? Mereka sudah lebih pandai dalam bersembunyi, jika kau tahu."

Ia lantas tersenyum, membelai rambutku dan mendaratkan kecupan lembut di keningku. Dengan suara yang tak kalah lembut pula ia berkata, "Aku pulang. Terima kasih telah menjaga anak-anak kita. Dan..." tiba-tiba ia menghentikan kata-katanya sebelum akhirnya menaikkan volume suaranya dengan sengaja untuk menghasilkan teriakan yang sekeras toa demi memperoleh respons dari kedua bocah yang tengah bersembunyi itu, "HALOOO??? KOK RUMAH SEPI SEKALI, YA??? AYAH PULANG NGGAK ADA YANG MENYAMBUT, NIH?"

Alih-alih respons, suara kikikan tertahan mereka lah yang terdengar menggema dari arah yang sangat kami kenali dan tentu saja ia sudah dapat mengetahui letak mereka bersembunyi. Namun, ia tidak menuju ke tempat tersebut. Ia lebih memilih duduk di kursi berlengan dan menyalakan televisi dengan suara keras. Sepertinya ia ingin menggoda mereka. Dan betul saja, baru lima detik ia merebahkan punggungnya di penyangga kursi, ia kembali berbicara setengah berteriak, "YAH, SAYANG SEKALI, TERNYATA KEKE DAN DEDE TIDAK ADA DI RUMAH. PADAHAL, AYAH PUNYA COKELAT KELINCI KESUKAAN DEDE, BU. KITA MAKAN SAJA YUK, BU! MUMPUNG CUMA ADA KITA BERDUA, KITA BISA MENGHABISKANNYA SAMPAI PUAS. OIA, HADIAHNYA NANTI BUAT IBU, DEH."

Oh, ternyata aku salah. Ia tidak setengah berteriak, tetapi betul-betul berteriak dengan kekuatan maksimal untuk memancing kedua bocah jail itu keluar dari persembunyiannya. Atas upaya berteriak-teriaknya itu, kini ia cukup gelagapan mengatur napas. Dasar sama-sama bocah!

Butuh belasan detik hingga akhirnya terdengar sepasang langkah kaki kecil yang bergerak semakin dekat. Tampaknya pertahanan salah satu dari mereka telah tumbang karena tak kuat menahan godaan cokelat kelinci yang aku tak tahu di mana letak enaknya. Tak hanya sepasang kaki, sepertinya sepasang kaki lain pun terdengar berlari kecil mengikuti pemilik kaki sebelumnya yang kini mulai berlari juga. Kami berdua hanya tertawa sembari menanti kedatangan dua bocah polos ini dari persembunyiannya, yang letaknya sekitar dua puluh lima meter dari tempat kami memarkirkan diri.

"Mau bermain tebak-tebakan, siapa dulu yang sampai sini?" tanyanya dengan ekspresi menantang.

"Boleh!" jawabku tegas. "Aku bertaruh Dede karena ia yang paling suka pada cokelat itu," tambahku cepat.

"Tidak. Kali ini pasti Keke!" timpalnya dengan penuh percaya diri.

Entah mengapa, dalam sekejap rutinitas biasa ini berubah menjadi menegangkan karena disambi dengan menanti pembuktian tebakan kami. Lima meter lagi, mereka akan tiba di ruang keluarga di mana kami berdua berada dan aku sudah tidak sabar lagi memastikan siapa yang datang lebih dulu. Aku menoleh ke koridor yang membatasi ruangan ini dan ruangan bermain di sampingnya. Ia datang! Dan dapat kulihat sepasang sayap merah muda mengepak-ngepak masuk menerobos tirai kerang. Si Keke tiba di hadapannya dengan napas tersengal disusul oleh Dede yang tangannya terangkat ke atas, jelas sekali tengah bersiap mendorong Keke menjauhi sang ayah, untuk mengamankan cokelat favoritnya.

'Apa? Kok bisa? Kenapa bisa begini? Keke kan tidak suka cokelat. Kenapa ia datang duluan?' batinku. Seketika, aku merasa bodoh karena memikirkan hal seperti ini.

"Kau ingin tahu, kenapa aku tahu?" tanyanya padaku seolah-olah dapat membaca pikiranku.

Namun, alih-alih ia menjelaskan alasannya, Keke lah yang angkat bicara, "Ayah! Ayah curang. Ayah kan udah janji nggak akan mancing-mancing Dede pakai cokelat lagi. Gara-gara Ayah, Dede nggak mau sembunyi karena pengen cepat-cepat makan cokelat. Jadi gagal total kan, Ayah! Ayah curang dan pemalas, nggak mau nyariin kita." Dahinya mengerut dan matanya berapi-api ketika ia mengatakannya. Keke tampak betul-betul kesal. Mungkin itu yang membuatnya berlari lebih cepat hingga dapat menyusul Dede dan sampai ke sini lebih dulu darinya. Si Ayah yang tengah diprotes oleh putrinya hanya meringis tanpa rasa bersalah sambil mengacak-acak rambut putra bungsu yang sekarang sudah duduk di pangkuannya.

"Ayah, Dede mau cokelatnya. Hehehe. Ayah beli dua, kan?" pinta Dede dengan polosnya, mengabaikan sang kakak yang masih cemberut dan sesekali meracau tidak jelas karena jengkel pada Dede, si tokoh utama yang telah menggagalkan operasi persembunyian mereka berdua. Mereka terlihat sangat lucu.

"See? Aku menang, kan? Jadi, apa imbalan atas kekalahanmu dalam taruhan ini?" tanyanya membabi buta. Dan...apa?

"Taruhan? Sejak kapan ini menjadi taruhan?" Keke dan Dede yang tak mengerti isi pembicaraan kami hanya mengerjap-ngerjapkan mata kebingungan. Kemudian mereka kembali berisik, berebut untuk bicara dengan ayahnya.

Ia hanya menoleh sekilas kepadaku, lalu kembali memandang serius kepada putra-putri kami seraya berkata, "Sudah pikun rupanya, Ibu kalian. Kalian harus sabar, ya." Dede dan Keke berpandangan satu sama lain, hening sejenak, kemudian sama-sama mengangguk pasti. Hey, sikap tidak sopan macam apa itu? Apa yang ia ajarkan kepada mereka berdua?

Ia meraih satu kotak cokelat kelinci, membukanya, kemudian memberikannya kepada Dede. Dede menyambar kotak tersebut dengan beringas, membuang cokelatnya dan merogoh-rogoh benda yang masih tersangkut di dasar kotaknya. Ah! Akhirnya, aku tahu mengapa Dede begitu tergila-gila pada cokelat kelinci ini. Maksudku, ia tidak pernah betul-betul menyukai cokelatnya. Ia hanya suka mengoleksi hadiah-hadiah mainan yang ada di dalamnya.

"Yeay! Mainan perahu dayung!" teriak Dede girang.

Greg! Ya ampun, benar juga. Sepertinya tadi aku keceplosan menyebutkan kata taruhan. Aku lupa betapa jeniusnya orang di hadapanku ini dan betapa lemahnya aku dalam hal seperti ini. Baru beberapa menit lalu aku menang darinya dengan jurus kedipan mata dan sekarang sudah dikalahkannya hanya dengan bermain tebakan? Seharusnya, aku lebih berhati-hati ketika menghadapinya karena ia masih saja lebih pintar dariku.

"Ah! Sudah! Sudah! Ayah! Lebih baik Ayah segera mandi atau air hangatnya akan mendingin. Kau tidak kasihan padaku, yang sudah capek-capek menyiapkannya, uhm?" ucapku mengalihkan topik pembicaraan.

"Tentang taruhannya bagaimana?" ia masih tak mau melepaskan topik ini ternyata. Dan akhirnya, aku terpaksa mengeluarkan jurus pengobrak-abrik sukma kepadanya sebelum ia kembali berbicara.

"Ayah?" ia menoleh kepadaku. "CEPAT MANDI ATAU JATAH MAKAN MALAM KALI INI IBU BERIKAN KE MEONG YANG BELUM MAKAN SEHARIAN!" teriakku sambil menyeringai penuh arti. Sontak, ketiga manusia di depanku terdiam seketika. Dede akhirnya menyadari bahwa ancaman tersebut bisa jadi berlaku juga bagi mereka, jika mereka tidak patuh. Dede turun dari pangkuannya dan mencolek-colek pipi Keke --yang membisu masih mencerna suasana-- mencoba mengajaknya menjauhiku, yang tengah berakting bak nenek sihir pemangsa bocah.

"Keke! KEKE!" panggil Dede. Namun, yang dipanggil masih tak menyaut. Akhirnya, Dede mengambil tindakan berupa mendaratkan jitakan kecil ke kepala Keke yang loading-nya terlampau lama.

"Auw! Sakit Dedeeee! APAAN SIH KAMU?" teriak Keke sambil mengelus bekas jitakan di kepalanya. Kini Keke sudah sadar sepenuhnya dan mampu mengenali kondisi yang tengah terjadi. Ia bergidik ngeri melihatku.

"Oh, dek Dede lapar, ya? Kak Keke juga. Ayo kita siap-siap makan," kata Keke sembari memutar badan dan menggandeng tangan adiknya menuju meja makan.

"Ayo, Kak! Hehehe," jawab Dede. Aku hanya tertawa tertahan melihat tingkah lucu mereka.

"Mereka lucu, ya? Hahaha," tetiba ia kembali bicara sambil merangkulkan lengannya ke bahuku. Aku menoleh kepadanya, masih dengan mempertahankan tatapan tajamku yang dapat menusuk-nusuk kebahagian. Perlu waktu cukup lama hingga ia sadar, jika aku tidak sedang bermain-main dengannya. Sret. Seketika ia menurunkan lengannya dan menyusul si kembar yang sudah hampir mencapai meja makan.

"Keke! Dede! Ayo makan ber...bersamaaa... Ha...ha... haaa...." katanya terbata-bata.

"AYAH MANDIIII!!!" teriakku mematahkan tawa terbata-batanya.

"I...IYAAA..." jawabnya sambil berlari ke kamar. Beberapa lama kemudian terdengar lagu She Loves You milik The Beatles dinyanyikannya dari dalam kamar mandi.

Aku tertawa kecil sambil mengambil nasi dan menyajikannya ke atas piring-piring mereka bertiga, para jantung hatiku. Keke dan Dede sudah terbiasa denganku yang pandai berubah-ubah ekspresi seperti ini. Mereka hanya berdecak sesekali ketika melihatku tersenyum-senyum tidak jelas, kemudian kembali asyik bermain berdua sambil menanti ayah mereka selesai mandi.

"AYAH!" panggilku dari ruang makan.

"Yes, honey?" jawabnya genit dan sangat tidak pantas didengar oleh anak-anak. Mungkin ia ingin diberi pelajaran tambahan? Baiklah, honey. Hahaha.

"Dua menit saja kau malama-lamakan diri di dalam kamar mandi, ayam bakar madu ekstra jumbo ini akan lenyap dari meja makan oleh si kembar. Wah, mereka sangat lahap memakannya. Oh, kau masih ingin berendam ya, SAYANG? Nikmati waktu mandimu kalau begitu, ya, Yah! Ohohoho," kataku dengan diakhiri senyuman licik. Dua bocah di hadapanku hanya tertunduk pasrah menerima fitnahan dariku.


"TIDAAAAAK!!!"

Dan kali ini, senja berlalu dengan menyenangkan seperti senja-senja sebelumnya.


*****

Kepingan 2: Takdir yang Tertukar

Thursday, 28 August 2014

Dia (2)

Bagian satunya dapat dibaca di sini.
******

Aku tak bisa tertidur Selasa malam kala itu. Aku

Tuesday, 26 August 2014

Beberapa Tanda yang Kemungkinan Dapat Berujung Pada Sakit "Gila"

  1. Anda lajang.  
  2. Anda memerhatikan apapun yang dia lakukan.
  3. Anda sering memuji setiap hal yang dilakukan, dimiliki atau ada padanya.
  4. Anda menelepon atau mengirimkan pesan berisi hal yang tidak penting kepadanya.
  5. Anda berbicara banyak hal yang Anda sukai kepadanya. Anda berbicara tentang festival atau pertunjukan yang ingin Anda hadiri, dan Anda menunggunya untuk mengatakan dia akan pergi bersama Anda.
  6. Anda merasa penasaran, bahkan sakit hati, ketika dia berbicara tentang kelebihan seseorang lain. Kemudian Anda membalasnya dengan membicarakan kelebihan orang lain selain dia dan menunjukkan kekaguman Anda terhadap orang lain tersebut untuk mengetahui reaksinya.
  7. Anda mengetahui dengan baik, di luar kepala, kapan ulang tahunnya dan di mana dia tinggal.
  8. Tanpa alasan yang jelas, Anda tidak peduli dan tidak akan "melihat" orang lain dia, meskipun dia sedang tidak ada di sekitar Anda.  
  9. Anda memahami perubahan suasana hatinya, dan Anda tidak ingin menekannya. 
  10. Anda mengingat nama teman-temannya dan mencoba untuk mengingat semua hal yang dia ceritakan pada Anda.
  11. Anda membelikan benda-benda untuknya, tanpa dia memintanya.
  12. Anda memberikan hadiah ulang tahun berupa benda yang dia suka.  
  13. Anda merasakan kehangatan ketika berbicara dengannya dan kenyamanan ketika di dekatnya.
  14. Anda membatalkan rencana Anda untuk dia. Padahal itu sudah direncanakan sebelumnya.
  15. Anda bersedia melakukan hal-hal yang awalnya tidak Anda sukai, tetapi dia menyukainya, ketika bersamanya.
  16. Anda berbicara tentang keluarga Anda kepadanya dan bertanya tentang keluarganya. 
  17. Anda membiarkannya meminjam barang-barang Anda tanpa keberatan.
  18. Anda melakukan hal-hal yang menjadi hobinya, dan lama-lama terbiasa hingga membuatnya menjadi hobi Anda.
  19. Anda berusaha untuk memperoleh perhatiannya dan membuatnya tersenyum bahkan tertawa.
  20. Anda memiliki cara berbicara yang lain ketika sedang berbicara dengannya, dibandingkan dengan ketika berbicara dengan orang lain.
  21. Anda menjadi semacam protektif terhadapnya.
  22. Anda membicarakannya sepanjang waktu kepada teman terdekat Anda.
  23. Anda sering mengingatkannya tentang hal-hal pentingnya yang Anda ketahui, memastikannya tidak lupa.
  24. Anda selalu memilih dia dibandingkan orang lain.
  25. Anda mengingat setiap hal kecil tentangnya, meskipun itu merupakan hal yang betul-betul tidak penting.
  26. Anda bercerita kepadanya tentang masalah pribadi Anda dan berharap dia memberi tanggapan, solusi, simpati atau empati untuk meringankan masalah Anda.
  27. Anda meminta bantuannya, bahkan hanya untuk hal kecil sekalipun.
  28. Anda merasa kesal dan marah, ketika dia mengabaikan Anda atau tidak membalas pesan Anda.
  29. Tanpa Anda sadari, Anda sering berjalan di tempat-tempat yang sering didatangi atau di titik yang sedang ditempatinya, untuk semacam membuatnya tersadar bahwa Anda sedang berada di dekatnya.
  30. Anda merasa sedih dan khawatir ketika dia tidak ada, menghilang tanpa pesan atau tidak dapat dihubungi.
Jika Anda memenuhi setidaknya 20 poin di atas, dengan variabel terikatnya adalah satu orang yang sama, bisa jadi Anda sudah bukan lagi sekedar kepo, melainkan terserang sakit "gila" cinta terhadap seseorang. Hati-hati! Sulit diatasi jika sudah benar-benar gila! Beristigfarlah!

Friday, 1 August 2014

Bang Ko

Halo, bloggie... Pertama, saya mau mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin atas segala salah yang pernah saya lakukan. Kedua, sekarang saya akan menuliskan tentang seseorang. Seseorang yang sebetulnya bersifat... antara fiksi dan realita karena dia ada, tapi tidak pernah betul-betul ada. Hal yang membuat saya tertarik untuk menuliskannya adalah beberapa kemunculannya yang terkadang melintas dalam satu atau dua kali aktivitas saya.

Oke, saya cukup sering menuliskan sebutannya di twitter saya. Saya menyebut dia Bang Ko karena saya tidak tahu betul apa nama sapaan aslinya. Selain itu, kami tidak pernah berkenalan dengan cara yang benar, tidak pernah menyebutkan nama kami masing-masing ketika "sedang berbincang". Mengapa saya menyebutnya Bang Ko? Saya sendiri kurang paham. Mungkin karena kami paling sering bertemu di jalanan. Ah! Betul sekali, bahkan pertama kali saya mengenalinya, dalam kondisi betul-betul sadar, adalah di jalanan, uhn...tepi jalan lebih tepatnya. Lantas apa hubungannya? Ah, tidak tahu lah.

Saya memang tidak pandai mendeskripsikan penampilan fisik seseorang, tapi saya akan mencoba mendeskripsikan si Bang Ko ini. Bang Ko kurus, tidak gemuk, tapi tetaplah saya lebih kurus darinya. Saya menduga, berat badannya tidak jauh-jauh dari angka 60 kg atau malah tidak mencapai itu. Dia seorang laki-laki, dengan tipe rambut seperti orang timur kebanyakan, rambut yang tidak memerlukan bantuan salon atau penata rambut karena campur tangan ahli-ahli rambut itu tidak akan mampu membuat rambutnya tampak rapi dan memesona. Rambutnya pendek dan saya tidak dapat membayangkan jika rambut itu lebih panjang dari panjangnya yang sekarang atau biasanya. Dia tidak memiliki tubuh yang pendek, untuk ukuran seorang laki-laki, tapi tidak dapat dikategorikan sebagai tinggi juga. Ideal? Tidak juga. Saya kira tingginya tidak mencapai 170 cm. Matanya normal dengan iris hitam khas pribumi dan dengan bentuk mata yang bolehlah dimasukkan dalam kategori mata sayu yang sedikit menyimpan misteri. Misteri? Yeah, mungkin karena saya belum atau tidak cukup mengenalnya. Dia memiliki bahu yang cukup lebar. Ini membuatnya terlihat seperti layang-layang berjalan. Dia memiliki jari-jari panjang yang lentik, tapi sayang, sepertinya tidak pernah digunakannya untuk bermain gitar. Warna kulitnya, uhn...warna kulitnya sawo matang kalau tidak salah, yeah meskipun saya merasa akhir-akhir ini menjadi lebih cerah dibandingkan dulu saat pertama kali melihatnya (well, sebenarnya saya sudah agak lupa bagaimana penampilannya pada saat pertama kali melihatnya). Alisnya? Entahlah, tapi sepertinya tidak setebal alisnya Indra, adik angkatan saya. Hidungnya? Saya tidak tahu apakah cukup layak disebut mancung atau tidak. Dia tidak mempunyai lesung pipit yang sama seperti saya, tapi sepertinya ada sedikit lipatan kecil di sekitar wajahnya ketika tersenyum. Namun, saya tak yakin di mana letaknya yang tepat. Telinganya? Ah, saya tak memperhatikannya. Hahaha. Saya yakin, saya menggambarkannya dengan sangat tidak jelas. 

Oh iya, dia memiliki cara berjalan yang aneh, seperti anak kecil manja yang tengah berjalan mengekori ibunya atau seperti anak laki-laki terakhir yang seluruh kakaknya adalah perempuan. Ah, seperti itu lah. Saya tak pandai menggambarkan cara berjalannya. Dia sering membuat setiap hal yang dilihatnya sebagai lelucon, lalu tertawa dengan gaya tertawa yang aneh. Dia juga murah tersenyum, meskipun senyum itu terkadang lebih sering terlihat seperti seringai, yang membuat orang yang melihatnya menerjemahkannya dengan banyak arti. Dia sepertinya tidak menyukai bermain olah raga, tetapi tidak membenci menyaksikan pertandingan olah raga. Dia juga terlihat serius, meskipun dia sering dan terlihat suka membuat lelucon. Saya tidak tahu berapa umur pastinya, tapi sudah dapat dipastikan kami tidak sebaya, tidak lahir di tahun yang sama. Dia adalah orang yang sangat tega, meskipun pada akhirnya dia membayar ganti rugi atas akibat dari ketegaan yang telah dia lakukan. Dia... Apa lagi, ya? Aha! Pokoknya, tidak ada kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkannya selain misterius. Bagaimana tidak? Tujuh puluh persen kemunculannya adalah ketidaknyataan. Sekali dia muncul dengan nyata, di dunia nyata manusia, di hadapan saya, saya tidak betul-betul dapat berkomunikasi dengannya, seolah-olah dia hantu atau alien yang dapat dilihat, tapi tidak untuk diajak berdiskusi. Lucu sekali bukan?

Oke, sekarang saya mau bercerita tentang beberapa kejadian yang saya alami, yang berkaitan dengan Bang Ko, baik yang nyata maupun tidak.

#1
Pada suatu malam, di dunia pertama, saya menerjemahkan pertanyaan dalam pesan, yang dikirimkan oleh Bang Ko, dengan makna yang salah sehingga saya berakhir salah paham dan terdampar di tempat dan waktu yang tidak tepat untuk didatangi seorang diri. Meski demikian, saya masih bersabar selama satu hingga lima jam. Hingga pada akhirnya, saya sadar dia tidak akan datang dan saya pun memberitahunya bahwa saya mendatangi tempat. Memang dasar, dia manusia (?) yang supertega, dia sama sekali tidak menanyakan keadaan saya. Alih-alih bertanya, dia malah meminta bukti yang menunjukkan bahwa saya memang benar-benar di tempat itu. Saya sebal sekali waktu itu. Namun, sudah saya katakan di atas bukan, dia akan membayar kesalahannya (oke, saya lah yang menganggap ketidakdatangannya adalah sebuah kesalahan)? 

Di malam lain, di dunia kedua, dia betul-betul membayar kesalahannya itu. Dia mengajak saya berjalan menjauhi tempat acara yang kami hadiri berlangsung, hingga tiba di sebuah ladang padi yang baru selesai panen. Dan bim salabim, dia membuat langit malam menjadi berwarna merah, hijau, kuning, biru, ungu, dan merah muda. Dia memang buka seorang penyihir, pastinya. Namun, dia pandai memberi kejutan ketika berada di dunia ini. Saya duduk di atas gundukan jerami yang terparkir berantakan di ladang padi, sambil menyaksikan percikan bunga api yang silih berganti terpercik indah di langit desa itu. Dia berdiri, memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana, sambil memandang langit yang telanjang tanpa gemintang, tanpa gumpalan awan malam. Ah, dia masih tidak banyak bicara. Untung saja dia masih menyimpan kebiasaan tersenyumnya itu. Setidaknya, senyumnya itu membuat saya merasa tidak sedang sendirian. Bunga-bunga api itu entah meluncur dari mana, saut-menyaut, susul-menyusul selama hampir sepuluh menit. 'Kaya sekali dia?' batin saya saat itu. Namun, sebetulnya saya tidak cukup yakin dialah dalang dibalik peluncuran bunga api itu, sebab sepertinya dia orang yang cukup perhitungan, betul-betul perhitungan. Lagipula, saya tidak ingin dia membuang-buang uangnya untuk hal tidak bermanfaat seperti ini pastinya, yeah meskipun saya menikmatinya. Ya! Tentu saja saya menikmatinya...langit malam itu menjadi sangat indah. Sebetulnya, kami sempat berbincang, hanya saja saya tidak cukup ingat apa yang dikatakannya. Namun, saya suka dengan caranya memberi kejutan. 

#2
Saya memutuskan untuk memilih cerita ini. Bang Ko adalah orang yang sepertinya berbeda ketika di dunia pertama dan ketiga. Saya hampir selalu salah mengartikan setiap perkataannya ketika di dunia ketiga dan inilah yang membuat saya membencinya ketika di dunia ketiga. Namun, entah mengapa saya akan kembali penasaran kepadanya ketika kami sama-sama berada pada dunia pertama. Mungkin kemunculannya di dunia pertama tampak lebih menyenangkan dan manusiawi, dibandingkan ketika dia sedang berada di dunia ketiga. Ketidakkonsistennya ini membuat saya bertanya-tanya, hingga bertanya betulan kepada Roland dan Rheta, "Kapankah seseorang betul-betul menjadi dirinya sendiri?" yang ternyata mereka jawab dengan jawaban berbeda (ya iyalah!). Lain lagi di dunia kedua, Bang Ko di dunia kedua adalah Bang Ko yang sangat baik dan murah hati. Saya lebih suka pada Bang Ko di dunia kedua. 

#3
Saya mulai bingung apa yang sedang saya lakukan. Sudahi sajalah ketidakjelasan ini, ahahahai. Sampai jumpa lagi dengan cerita Bang Ko yang lain.

Sunday, 20 July 2014

Tujuh Gambar Terakhir (Juni-Juli) 2014

"Owlet"
Depok, 21 Juni 2014
Latar belakang dibuatnya gambar ini adalah adanya rasa penasaran saya, apakah saya bisa menggambar sesuatu selain karakter anime? Ternyata, ya begitulah hasilnya. Memang tidak terlalu mirip sih, tapi saya cukup suka dan rasa penasaran saya terjawab: Bisa, walaupun seadanya. 
Selain itu saya juga cukup menyukai burung hantu. Mengapa saya menyukainya? 
Ini karena dia ada lagunya, karena dia lambang kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan, karena dia selalu terjaga di malam hari untuk menyelesaikan urusannya (seperti saya), karena dia tidak mudah ditaklukan, karena dia tokoh yang bijak nan jenius di kartun Minggu jam 7 pagi yang tayang di Indosiar pas aku masih SD, karena dia setia pada pasangannya, karena dia lucu tapi mudah stres (sepertiku?), karena aku sempat menghabiskan beberapa waktu dalam hidupku untuk takut dan membencinya sehingga sekarang tidak lagi tersisa rasa selain menyukainya. :D  (jawaban ask.fm)


"Fanart: Inuyasha Versi Cantik"
Depok, 26 Juni 2014
Terlihat aneh? Menurut saya iya. Mengapa? Karena rambutnya tidak mirip dengan Inuyasha versi aslinya. Yuhuuuu... Saya tambah-tambahan tuh poninya biar cantik dikit. Eh, hasilnya malah aneh gitu, wehehehe. Selain itu, pensil yang saya gunakan untuk menggambar ini juga supertumpul, sedangkan saya tidak punya rautan, heuheu. Ya sudahlah, seadanya, arsirannya acak adul. Akhirnya, saya gosok-gosok pakai kapas saja deh.


"Fanart: Itachi Uchiha Black and White Version"
Depok, 27 Juni 2014
Ini juga aneh, kan? Iyo. Itachinya lebih gemuk dari versi aslinya. Hahahai. Saya menggunakan pensil dan pensil warna. Terlihatkah?
Oh iya, ada cerita tersendiri untuk gambar ini. Gambar ini sebenarnya saya buat untuk saya berikan ke Annisa Haq (Nisa), adik angkatan (2011) yang juga teman satu kosan saya. Nah, pas mau menggambarnya, tetiba dapat kabar dari adik kelas lain, Rizqa Fadilla (Icha), kalau kakinya sakit dan tidak bisa berjalan. Akhirnya, saya dan Nisa pun menemani Icha yang sedang sakit di kontrakannya. Saya menggambar ini di kontrakan Icha, H-2 Ramadhan. Gambar ini selesai dibuat pada saat Icha lagi sakit-sakitnya dan akhirnya dibawa ke RS Grha Permata Ibu, untuk diperiksa. Alhamdulillah, beberapa hari kemudian Icha sembuh dari sakitnya.


"Random: Superquick Boy with Durian Hair"
Depok, 8 Juli 2014
Suatu malam yang biasa saja, saya menemukan kertas gambar bekas yang permukaan kertasnya sudah sangat buluk dan kotor oleh pensil. Sambil mengantuk, akhirnya saya memutuskan untuk menggambar seorang karakter boy imajiner secara random dengan kecepatan supercepat, 10 menit. Hasilnya, ya.... aneh gitu deh. Hehe.


"Honeymoon"
Depok, 9 Juli 2014
Sebenarnya, ini request dari seorang teman kampus asli Magelang, Nurlaely Presti (Lelly). Yeah, setahu saya, setahun belakangan ini dia memang semakin suka dengan hal-hal yang berbau naik gunung. Mungkin, ini yang membuat dia minta digambarin ini. Sebetulnya, pada contoh gambar yang dia kirimkan, si tokoh perempuan mengenakan celana. Namun, si Lelly menginginkan si tokoh perempuan ini mengenakan rok. Ya sudah, saya paksain deh...gambarnya jadi kayak gitu. Wehehe.
Mengapa saya beri judul  Honeymoon? Karena memang ini terlihat seperti bulan madu sepasang suami istri baru menikah, yang keduanya sama-sama menyukai menaiki gunung. Saya juga pengen, suatu saat saya dapat melakukannya bersama pasangan hidup saya, hahai. Aamiin.

"Fanart: Jack Frost (anime version)"
Kebumen, 18 Juli 2014
Yang pernah nonton film Rise of The Guardians pasti tahu karakter fiksi teman-temannya Santa Klaus, Kelinci Paskah, Peri Gigi dan Manusia Pasir ini. Yuppy! Dia adalah Jack Frost. No, no, no... Saya tidak percaya dengan mereka-mereka loh, ya. Saya hanya sangat menyukai ide ceritanya. Cukup menghibur deh pokoknya, di liburan lebaran tahun ini, yang benar-benar suram karena saya sedang dalam masa paling suram dalam hidup saya.
Semingguan ini saya jatuh cinta nih sama Jack Frost ini. Hahahai, saya memang baru menontonnya minggu ini. Padahal film-nya release tahun 2012. Kudet? Yeah, memang saya manusia yang kudet kok. 

"Fanart: Portgas D Ace and Luffy in Black"
Kebumen, 20 Juli 2014
Ini juga mau saya berikan ke Nisa. Saya tidak suka One Piece dan tokoh-tokohnya. 

Media   : Kertas gambar
Ukuran : A4 (all)
Alat      : Pensil 2B, pensil warna, pensil warna air, air, kuas, penghapus, kapas.

"Drawing is Delicious"

Saturday, 19 July 2014

Adik Baru

Yeah. Saya belum lulus loh. Uhn, barangkali dunia ingin tahu. Ternyata, menjadi antimainstream cukup waw juga! Waw!

Oke, itu ga penting.

Saya, punya adik angkatan lagi! Ya ampun, udah 4 angkatan loh. Udah tuanya minta ampun ya saya ini. Ckck.

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...