Wednesday, 24 September 2014

Mengapa Menggambar? (plus lampiran gambar-gambar di bulan September 2014)

Sebetulnya, alasan saya menggambar, yang sepertinya akhir-akhir ini menjadi lebih sering, bukanlah untuk kejar setoran menghasillkan banyak gambar, bukan juga untuk sepenuhnya pamer atau di-upload di instagram atau sebagainya, dan juga bukan untuk sekadar iseng doang. Ada perasaan bahagia dan puas setelah menggambar. Ada rasa penasaran yang terpenuhi setiap kali saya berhasil menyelesaikan sebuah gambar. Ada rasa syukur kepada-Nya, yang menjejal ingin dikeluarkan ketika memandang setiap hasil gambar yang saya hasilkan, baik yang berhasil dan dapat dikenali, maupun yang acak-acakan dan tidak asyik untuk sering-sering dilihat. Ada energi positif yang mendorong alam bawah sadar untuk menumbuhkan kembali rasa percaya kepada diri saya sendiri yang terkadang turun drastis secara tiba-tiba. Itulah beberapa alasan yang mendorong saya untuk menggambar sesekali.

Jujur, saya akui kualitas gambaran saya standar. Saya tidak memiliki ciri khas gambaran saya sendiri karena saya menggambar dengan cara mencontek objek atau gambar lain. Saya bukan seseorang yang memiliki imajinasi dan kepekaan tinggi terhadap seni karena saya memang bukanlah seorang seniman dan tidak pernah berani bercita-cita untuk menjadi seniman lukis. Ketidakberanian ini sebetulnya diakibatkan oleh kondisi tangan saya yang selalu basah atau berkeringat dan, bagi saya, cukup mengganggu ketika menulis dan menggambar. Bahkan, ketika TK hingga kelas 2 SD, saya sangat membenci pelajaran menggambar karena saya selalu menyobekkan kertas gambar yang saya gunakan. Pada akhirnya, saya tidak pernah menggambar hingga betul-betul jadi. Akibatnya, nilai pelajaran seni saya sangat payah. Namun, setelah catur wulan 2 di kelas 2 SD, tiba-tiba saya ingin sekali dapat menggambar dengan baik tanpa membuat kertas gambar saya rusak, bolong atau sobek. Hal ini dipicu oleh rasa iri saya terhadap beberapa teman sekelas saya yang dipilih untuk mengikuti lomba menggambar sedangkan saya tidak dipilih. Mereka sangat bergembira karena diberi uang saku sebesar 1000 rupiah dan diantarkan ke tempat lomba dengan becak sedangkan saya hanya mengamati mereka yang pergi menjauhi sekolah. Sejak saat itu, saya menjadi berhati-hati dan ngotot dalam menggambar. 

Mama lah orang yang paling berjasa dalam perkembangan minat menggambar saya. Meskipun sebetulnya sudah timbul niat untuk menggambar akibat iri yang sudah saya sebutkan di atas, tetapi saya masih belum bisa menggambar sama sekali. Hingga pada suatu Senin pagi di tingkat yang sama, ketika saya lupa mengerjakan PR Matematika, Mama memarahi saya karena saya menangis pada saat mengerjakannya. Mengapa saya menangis? Saya sebetulnya dapat mengerjakan soal deret sederhana yang ada dalam buku teks tersebut, tetapi masalahnya: penyajian soal dan penulisan angka-angka tersebut adalah dalam bentuk gambar ulat di mana di setiap segmen tubuh ulat yang berbentuk lingkaran-lingkaran tidak sempurna itu berisi soal yang harus dijawab. Jadi, mengapa saya menangis? Saya tidak takut gambar ulat. Hanya saja, saya mengira jika saya harus menggambar ulat itu juga jika saya ingin mengerjakan soal Matematika tersebut karena penyajian soal di buku adalah seperti itu. Senin pagi itu menjadi sangat ribut dan Mama pun akhirnya turun tangan. Beliau akhirnya menggambarkan dua ekor ulat beserta bulatan-bulatan badannya, tentu saja sambil mengomel begini-begitu. Kurang lebih inti omelannya adalah begini:
"Masa iya udah kelas 2 SD, PR-nya masih dibikinin. Nanti kalau keterusan sampai kelas tinggi gimana? Lagian ini PR Matematika bukan PR menggambar. Kok pakai digambar segala sih ulatnya? Kayaknya kalau nggak pakai ulatnya nggak apa-apa deh. Terus, nih ya, kalau kamu nggak pernah mau mencoba untuk menggambar, sampai kapan kamu bisa menggambar? Sampai nanti SMA pun pasti akan ada pelajaran menggambar, Yoh. Kalau alasannya karena tangan basah kan bisa dikasih alas pakai saputangan (yeah, ketika SD saya selalu bawa saputangan dan pakai jam tangan *loh kok jam tangan?*). Lagian, Yoh, keluarga kita kan sebenarnya banyak yang pinter menggambar. Mbah Kakung, Pakdhe Ipin, Pakdhe Sidik, Bapakmu juga...mereka jago loh. Pasti kamu juga bisa lah, kan faktor keturunan."

Saat selesai mengucapkannya, dua ekor ulat pun selesai digambar oleh beliau dan langsung saya isi dengan angka-angka jawaban saya. Saya berangkat telat Senin pagi itu. Namun, sejak saat itulah saya lebih berminat untuk menggambar. Memang tidak pernah mendapat nilai bagus, tetapi setidaknya saya tidak lagi mendapat nilai 5 atau 6 dalam pelajaran menggambar. Terima kasih Mamaaa *ngelap air mata*. Saat itu, saya betul-betul seperti terhipnotis oleh kata-kata beliau. Sejak saat itu, saya semakin percaya pada kekuatan mencoba dan bekerja keras. Jika saya tertarik pada suatu hal, rasa penasaran dan keinginan untuk meraihnya akan sangat besar. Yeah, saat SD itu memanglah saat-saat di mana kesombongan dan iri dengki berkibar-kibar. Meskipun cenderung menjadi follower, tetapi saya selalu berambisi dan antusias dalam diam saya. Saya merasa saya dapat melakukan segalanya yang saya inginkan, bahwa jika orang lain bisa melakukannya maka saya pun pasti bisa melakukannya juga, bahwa jika saya niat saya pasti dapat meraih segalanya. Saya yang dulu, tidak jauh berbeda dengan yang saya sekarang, hanya saja saya yang dulu memiliki...ambisi. Bedanya lagi, saya yang sekarang, meskipun tidak terlalu berambisi (kok sedih ya?), tetapi saya lebih berpersaan dan menilai setiap hal dengan perasaan. Sampai-sampai, otaknya jarang dipakai untuk berpikir, karena terlalu sering mengandalkan hati. Hahai...

Ah, malah melantur. Jadi, begitu ya latar belakang dan alasan saya agak sering menggambar, meskipun (saya ulang lagi) kualitas gambaran saya standar atau biasa-biasa saja, sama seperti gambaran orang lain pada umumnya. Hehe... 

Lampiran
"My Signature"
Depok, 4 September 2014

"Fanart: Kikyo"
Depok, 5 September 2014

"Fanart: Wedding Peach"
Depok, 7 September 2014

"Please, Give Me Peace!"
Depok, 8 September 2014



Twenty Facts About Me

Bagi beberapa orang, tantangan geje di instagram yang ber-hashtag #20factsaboutme ini, mungkin mengganggu, tidak penting, memaksa seseorang menceritakan privasinya, dan sebagainya. Setidaknya, saya mendengar secara langsung dari dua tiga orang yang menyatakan ketidaksetujuan untuk melakukan aktivitas aneh-aneh, dengan mengepos hal tidak berguna semacam tantangan tersebut. Saya sebetulnya sependapat dengan mereka, awalnya. Namun, entah mengapa setelah di-tag oleh dua orang adik kelas yang tidak disangka-sangka akan menge-tag saya, saya merasa terharu dengan begitu berlebihan. Saya merasa sangat terhormat karena telah diingat oleh mereka berdua hingga mereka repot-repot menge-tag saya di kiriman foto instagram. Sebagai bentuk terima kasih saya kepada mereka berdua yang telah mengingat saya, saya pun memutuskan untuk ikut menuliskan dua puluh fakta tentang diri saya. Sebetulnya saya agak bingung dalam memutuskan dua puluh fakta dari seluruh fakta diri saya. Fakta seperti apa yang layak untuk dipublikasikan? Poin-poin diri saya yang seperti apa yang cukup perlu untuk dibagikan ke orang lain? Namun, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan dua puluh hal di bawah ini. Sebetulnya, ini adalah versi caption asli yang awalnya akan saya sertakan pada foto tantangan #20factsaboutme ini. Namun, ternyata, caption tersebut terlalu panjang sehingga saya edit dan persingkat caption-nya. Oke, inilah caption asli dari tantangan #20factsaboutme-nya Ani...

Uhn, di-tag tantangan beginian sama dedek @sofiiwa dan @husnulkhotimah24. Okelah, meskipun sebetulnya masih bingung ini esensinya apaan, tapi ya sudahlah ikut-ikutan aja... #20factsaboutme
  1. Nama lahir Anifatun Mu'asyaroh. Awalnya hampir dinamai Chanifatul Maesaroh. Nama panggilan lazim: Ani, Anifatun, Ayoh, Mba Ani, Mba An. Nama panggilan plesetan: Mbayo, Anif, Anifa, Ani-chan, Mbah, Mbe, Manusia kulkas, Animonster, Ani-chun, Anipacul MasyaAllah. ID: aniamarilis, aurigaamarilis...
  2. Lahir 15 Maret 1992, tapi di akta kelahiran tertulis 13 Maret 1992. Alhasil, tidak jarang saya mendapat ucapan ultah dua kali dalam setahun.
  3. Golongan darah B+ dan cukup mempercayai teori golongan darah.
  4. Melankolis-sanguinis kalau kata @adeeiam. Namun, kayaknya lebih ke melankolis doang deh.
  5. Penyuka warna ungu (suka pake banget), coklat, biru gelap, tosca, putih, dan hitam.
  6. Memiliki telapak yang hampir selalu basah dan suhu tubuh yang adaptif terhadap suhu lingkungan. (Kalau suhu sekitar rendah kulit saya sedingin air kulkas, kalau suhunya tinggi, sehangat sauna. Apakah saya manusia berdarah dispenser?)...
  7. Anti makanan amis (ikan, telur tanpa campuran, dl), anti dingin, anti (hampir semua) binatang terutama bekicot dan keluarganya...
  8. Mahasiswa Biostatistika yang suka berkhayal, pilih-pilih matkul tertentu (yang diseriusin), dan belum siap untuk lulus.
  9. Penyayang bocah dan masih kepengen jadi guru TK atau penulis cerita anak-anak.
  10. Jujur, kekanak-kanakan tapi sensitif dan mudah curiga jika diberi pujian atau perhatian berlebihan.
  11. Lebih sering main di paguyuban daripada di kampus atau sama teman (?) kampus. Terus di paguyuban, kata orang saya terlihat lebih sering main sama adik angkatan, daripada sama anak seangkatan apalagi kakak angkatan. Mungkin ini yang bikin proses pendewasaan saya lambat. Hehe.
  12. Kurus parah, makanya sekarang sedang jaga pola makan dan diet TKTP buat menaikkan BB.
  13. Pelit, pikun dan lola.
  14. Mudah stres dengan tiba-tiba dan misteriusnya. Kalau stres bakal cari pelarian, semacam ngeblog geje, ngegambar geje, main musik geje, jalan-jalan geje atau ngapain aja asalkan sendirian dan bikin capek biar cepet tidur.
  15. Introvert, moody, pendiam, penyendiri, agoraphobia, dan tidak tahan terlalu lama dalam kebisingan.
  16. Sering mengeluarkan suara-suara aneh dan cempreng dengan spontan atau tanpa sadar, tapi katanya cocok jadi dubber kartun atau semacamnya.
  17. Suka fotografi (meski belum punya kamera layak), juga hiking, camping atau bedah alam asalkan ada yang mengajak atau tebengan.
  18. Memiliki rasa ingin tahu, penasaran, kepo dan semangat tinggi untuk hal-hal tertentu yang menarik.
  19. Sempat tomboy, makanya nggak jago masak. (Berhubungankah?)
  20. Satu-satunya olahraga yang bisa saya lakukan cuma badminton, meski nggak jago.
Wah, cuma 20 doang udah sepanjang ini??? Hehe. Uhn, saya bingung mau nge-tag siapa, tapi besar harapan saya, yang saya tag mau ikutan game (?) ini juga. Eohooo... :p

Yah, jadi seperti itulah. Mungkin saya terlalu jujur dalam menuliskan fakta tentang saya ini. Saya lebih banyak menuliskan tentang apa yang melekat pada saya, tentang kekurangan saya, tentang aktivitas saya, dan tentang sesuatu yang tidak jelas. Ini berbeda dengan beberapa orang lain, di mana mereka menuliskan tentang cita-cita, tokoh tertentu, orang paling berjasa, kecintaan kepada Tuhan, atau harapan akan masa depan mereka. Hehe. Mungkin saya memang tidak terlalu tahu tentang keinginan dan harapan saya di masa depan. Saya terlalu sering terpaku pada masa lalu dan menikmati arus yang sedang diarungi saat ini, tanpa terlalu ingin tahu tentang apa yang sedang menghadang di depan jalan. Ini kekurangan terbesar saya. 

Tuesday, 23 September 2014

Selamat, Bang Ko

Hallo, Bang Ko... 
Maaf karena saya tidak mengucapkan ini tepat waktu, tetapi... "SELAMAT ULANG TAHUN!"
Saya memang tidak dapat mengucapkannya secara langsung kepadamu karena saya tidak mengetahui letak pasti keberadaanmu. Oleh karena itu, saya mengucapkannya melalui tulisan ini. 
Ini adalah ulang tahun kedua yang kita lewati semenjak pertama kali berkenalan dan saya memutuskan untuk tetap menyapamu jika suatu saat bertemu. Meskipun saya tidak begitu mengenalmu dengan baik dan, dapat dipastikan, kau juga sangat tidak mengenal saya, saya memutuskan untuk rajin mengucapkan selamat di setiap ulang tahunmu seperti saya mengucapkannya kepada teman-teman baik saya. 
Saya tidak menyertakan hadiah apa pun untukmu karena Dia pasti akan memberikan hadiah terbaik untuk-Mu. Saya titip pada-Nya harapan terbaik untukmu, meski sebetulnya saya tidak memiliki banyak harapan. Saya juga tidak pandai menyusun kalimat doa berisi harapan dan kebaikan yang detail untukmu. Saya hanya dapat mengamini hal-hal baik terjadi padamu, cita-cita tertinggimu dapat tercapai sesegera mungkin sesuai targetmu, misi-misi perjalananmu dapat kau lalui dengan lancar, kendala yang menghadang langkahmu dapat teratasi tanpa harus terlalu banyak mengorbankan diri, keinginan baikmu dikabulkan-Nya, serta semoga kau senantiasa dilimpahi-Nya dengan kejutan indah yang bahkan tak kau duga-duga kedatangannya. Aamiin.
Di pertemuan terakhir denganmu di dunia pertama, yang entah kapan waktunya, saya melihat raut wajahmu lebih cerah dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya di mana kau tampak cemberut dan seolah-olah tak rela untuk bertemu. Apakah kau sedang berbahagia? Semoga kebahagiaan itu senantiasa mengiri setiap langkah perjalananmu. Kau juga tampak lebih merawat diri dan kesehatanmu, meski kau sempat berujar bahwa tenggorokanmu sedang serak entah karena hal apa. Namun, saya tetap bersyukur, kau terlihat sedikit lebih gemuk, Bang. Semoga di usia barumu, kesehatanmu lebih terjaga. Di pertemuan itu juga, kau tampak begitu akrab dengan lebih banyak orang, meskipun menurut seseorang kau tampak menyendiri seperti orang bingung yang tak punya teman. Semoga di usia barumu, kau memiliki lebih banyak teman di mana-mana, di atau ke mana pun kau berada, dan semakin disayangi oleh mereka dengan ketulusan bukan untuk pemanfaatan. Selain itu, kau terlihat sangat serius dengan masa depan yang akan segera kau pijaki, kau menanyakan banyak hal yang tidak saya mengerti kepada seorang yang berpengalaman itu. Apa pun itu, saya hanya mampu mendoakan kelancaran pencapainnya untukmu. Ah iya, semoga prestasimu senantiasa meningkat pula. Semoga kau semakin lembut kepada orang-orang di sekitarmu yang menyayangimu. Semoga kau sering tersenyum dan tak terlihat seperti penyendiri. Ah, saya mulai bosan menulis rincian doa dan harapan untukmu, toh ini hanyalah sebuah ucapan ulang tahun. Pokoknya, semoga kau di tahun-tahun yang akan datang lebih baik, bertabur keberkahan, dan mampu bermanfaat bagi orang lain. 
Saya ingin memberimu sesuatu, tetapi sepertinya ini tidak perlu, mengingat kau dan saya tidak bertalian apa pun dan bukan sepantasnya menghabiskan recehan saya untuk hal-hal seperti itu. Namun, jujur, tahun lalu saya hampir memberikanmu sebuah jam tangan murahan yang dapat saya jangkau dengan sisa uang jajan saya. Untung saya membatalkannya, karena ternyata kau sudah memilikinya entah kapan dan dari mana kau mendapatkannya. Kali ini saya memutuskan untuk tidak memberikanmu apa-apa...atau mungkin saya akan membuat sebuah lagu singkat untukmu? Ah, saya tidak tahu bagaimana cara membuat lagu. Atau mungkin memberimu sebuah gambar? Uhn, saya juga tidak tahu cara menggambar. Atau membuatkan sebuah puisi persahabatan? Oh tidak, kita tidak pernah betul-betul bersahabat saya kira. Saya perkirakan, kau akan menerima banyak hadiah dari orang lain yang lebih berharga dan indah dari rencana hadiah-hadiah yang akan saya berikan. Jadi, kau tidak akan kekurangan hadiah pastinya. Lagipula, jika saya memberikanmu sesuatu pun, sepertinya pemberianku tidak akan cukup untuk membuatmu gembira, alih-alih bingung dan menerka siapa pemberinya.
Mengapa ucapan ini menjadi sepanjang ini? Namun, awalnya, saya kira saya akan menuliskan lebih panjang dari ini. Ternyata, saya terlalu bingung mau menuliskan apa untukmu. Saya kira, sampai di sini ucapan selamat dari saya. Selamat, selamat, selamat, Bang Ko. Semoga Allah memberkahi sisa umurmu... :)

Monday, 22 September 2014

Pesan Terakhir di Ujung Masa Bhaktinya...

"We have ever thought about being family. We have ever thought about home. Sharing the same roof, stepping the same floor. I tried to understand you, your activities, your schedule. Last time I told you to come at 8, but you came at 11. Then I tried to reschedule our family meeting. I told you to come at 3. Yet you don't come.

Don't we need a head of our family? Don't we need someone, or two, to keep our home standing? Don't we need somewhere, a place we can call it 'home'?

Why do we force our little brothers and sisters to attend our family meeting while we sleep at our own dorm, when we play happily with our friends? Do you think our brothers and sisters not have the same right to see outer world? Why do we hope this home will never be broken when we can't even go back for a while?

Who do you think you are? The owner of our house? You can't even pay us whom you chose to keep and clean our home! All you need to do is just come and we will welcome you, with a big smile, happily.

Our meeting will start at 6.30 pm.

Please, come.

Please, don't show this shame to our little brothers and sisters.
Please, I'm begging you.

I believe today is not the last day of this home."

*******
Itu adalah pesan berantai yang dikirimkannya ke grup rumah kebersamaan kami. Ah, adik yang satu ini memang sesuatu sekali. Dia memang gadis kuat yang selalu memiliki keteguhan prinsip dan juga penuh kejutan. Tiga tahun lebih mengenalnya, baru beberapa bulan terakhir ini, terhitung sejak kepindahannya ke keluarga Yellow Orchid, saya betul-betul jatuh hati tanpa sungkan kepadanya. Meski demikian, saya sangat kaget ketika membaca pesan tersebut. Saya telat membacanya karena handphone saya mati ketika pesan itu terkirim ke grup. Ketika itu, saya sudah berada di TKP. Eri lah yang menyodorkan tabletnya, yang ternyata tersaji pesan tersebut, ke saya. Hwah...sontak saya kaget. Saya betul-betul tidak peka, tidak pandai membaca kondisi. Saya sama sekali tidak memahami bagaimana perasaan dia dan mereka yang telah mempersiapkan dan hadir dengan sangat awal. Ah, mungkin beberapa orang menilai tindakannya --menulis pesan tersebut-- berlebihan. Namun, bagi orang yang mungkin berperasaan terlampau sensitif atau mengetahui bagaimana perjuangannya setahun terakhir plus ekstra berpikir-banting tulang selama ini, mungkin akan tersentil tertunduk malu pun akan dapat memakluminya. Lagipula ini acara besar, penentuan pemimpin baru keluarga ini pun juga untuk memprediksi ke mana arah kepemimpinan keluarga ini setahun ke depan. 

Saya sendiri sangat malu, sebagai salah satu orang yang tergolong ke dalam rombongan senior, karena datang sangat telat. Jujur, saya memang hampir memutuskan untuk tidak datang, karena ketidaksukaan saya menghadiri acara beramai-ramai orang dan bertensi tinggi semacam itu. Namun, setelah melihat jawaban chat dari dedek R pada pukul 4 sore, bahwa acara belum dimulai karena menanti kehadiran anak angkatan saya, tetiba perasaan saya tidak enak dan...sedih. Akhirnya, saya nekad mengepos chat ke grup angkatan, berisi ajakan atau semacamnya. Yeah, saya sudah lupa kalau saya adalah saya, orang yang hampir selalu tak terespon ketika berbicara di grup tersebut. Masa bodoh, saya hanya ingin berusaha....berusaha saja. Awalnya hanya ada dua orang yang merespon. Namun pada akhirnya, setidaknya ada lima orang yang menjawab.Terharu sekali saya. Meskipun jawabannya sedikit tidak menggemberikan. Namun, inilah kenyataannya...bahwa kebanyakan dari kami memang sudah terbang ke luar Depok. Jadi, dipaksakan dengan bagaimana pun caranya, tidak akan mungkin ada banyak dari angkatan kami yang datang.

Jam 5 lebih, saya bertanya sekaligus memberi tahunya keadaan dan respon angkatan saya. Hening. Seperti dia sedang berhati-hati atau memilih kata yang tepat untuk menjawab. Saya semakin gelisah. Apakah di sana baik-baik saja? Apakah jika saya datang ke sana akan sedikit bermanfaat meskipun hanya menyetorkan muka atas nama angkatan? Apakah saya akan berani berbicara seperti mereka yang sudah berpengalaman? Apakah saya akan baik-baik saja dalam keramaian tersebut? Akhirnya, saya memutuskan untuk mematahkan keegoisan dan kecemasan saya untuk dia, adik-adik angkatan saya dan mungkin rumah keluarga ini. Lagi-lagi, saya kembali ke sana karena faktor perasaan yang tak beralasan kuat.

Betul saja, saat sampai di TKP, suasana sedikit sepi yang tertangkap mata. Beberapa anak tengah menjalankan ibadah salat magrib berjamaah. Sisanya mungkin berkeliaran sementara di luar TKP. Namun, syukurlah ternyata dari pihak yang diistilahkan "senior" sudah ada beberapa orang yang tampak dan kesemuanya adalah angkatan di atas saya. 'Di mana anak angkatan saya? Oh, iya mereka sibuk dan sedang di luar kota,' batin saya. Umam pun bertanya hal yang sama, yang hanya saya jawab dengan cengiran dan doa dalam batin. Tidak lama kemudian, banyak orang berdatangan. Adik angkatan semua awalnya. Lalu Aan dan disusul Jodi yang menyempatkan datang jauh-jauh dari Bandung dengan so sweet-nya. Setengah jam kemudian, Widya dan Ifah juga datang. Mereka bergabung dengan para alumni atau senior. Sejam kemudian Leli dan suaminya juga datang.

Ah, bahagianya...dan saya dapat melihatnya sesekali memandang ke arah kami, orang-orang tua yang hobi menelatkan diri. Menjelang berakhirnya acara, ternyata Hari dan Martyn juga datang. Mereka juga ikut berkontribusi dalam menilai...hingga akhir acara, hingga terpilihnya dedek Reza dan Roland menjadi pemimpin rumah kelurga ini yang baru. Selamat...

*******
Saat sampai kamar rumah kos, saya tetiba terpikirkan pesan panjang yang dibuat dan dikirim olehnya. Lantas, saya baru ingat bahwa saya sempat memintanya membuatkan jarkom yang agak ngena agar kami ter-jleb saat membacanya. Tidak jelas juga mengapa saya mengatakan tersebut. Yeah, saat itu saya memang sempat miris karena hampir tidak direspon oleh teman seangkatan saya. Oleh karena itu, saya memintanya membuat jarkom yang nantinya akan saya teruskan ke grup angkatan dan melabelinya dengan "pesan dari panitia". Namun, handphone saya mati dan saya tidak terlalu berminat lagi untuk memberisiki grup angkatan. Saya memutuskan berangkat ke TKP sendirian selepas magrib...hingga akhirnya saya membaca pesan tersebut lewat tablet milik Eri. Saya mengira-ngira dalam hati, "Jangan-jangan pesan ini adalah jarkom yang dibuat berdasarkan pesan-pesan saya ke dia sebelumnya?"

Dan ternyata benar... (sudah diiyakan olehnya)

Lalu saya merasa bersalah sekali.

Oke, ini sudah berakhir. Masanya telah selesai dengan mengesankan dan penuh kenangan yang menyenangkan dan juga tak terlupakan bagi anggota kepengurusannya. Dia begitu total dan berdedikasi demi keluarga ini. Dia tegar dan setia mendampingi pemimpinnya, tanpa berniat atau berkeinginan melangkah lebih dulu atau berhenti atau membelok arah dalam perjalanan sehingga dia tidak tertinggal atau meninggalkan apa yang seharusnya didampinginya. Hohooo... Banyak sekali hal yang ingin saya tuliskan tentang dia, tetapi saya sudahi saja lah, tulisan yang tidak bertujuan jelas ini, sampai di sini.
Semangat semester akhirnya... :)

Sunday, 21 September 2014

Aku Mencintainya

Aku mencintainya dengan tak sederhana...
Seperti api yang bercita-cita menjadikan batang pepohonan nan kuyup menjadi bongkahan arang yang tak pernah habis berpijar,
Seperti air yang mengalir melewati aneka sungai dan bebatuan, sebelum akhirnya bertemu di lautan,
Seperti angin yang tak berdaya untuk menampakkan badan dan hanya mampu sedikit bersiul untuk sekadar menunjukkan kehadiran,
Seperti putri malu merah jambu yang tampak tegar menantang awang-awang, tetapi lunglai seketika bahkan tanpa sempat tersentuh oleh jemari lentiknya...

Aku mencintainya dengan tak bijaksana...
Menyimpannya di dalam kotak perhiasan bekas yang terkunci terlampau rapat,
Menghidupinya dengan kata dan rasa tak biasa yang tak terucap oleh lisan,
Menyiraminya dengan aliran air rindu yang tak henti meski kemaraunya melanda dengan menyakitkan,
Menghiasinya dengan pita biru tua yang terkadang kuikat terlalu kencang,
Menjauhkannya dari orang kebanyakan sembari menjejalinya celotehanku yang menyebalkan...

Aku mencintainya dengan tanpa kejujuran...
Mengendap-endap diam-diam di antara ladang ilalang yang pucat kekurangan sinar,
Mengawasinya dengan tidak menjulingkan mata demi mendukung peranku yang penuh kepura-puraan,
Menyatu dengan api, air, dan angin bahkan deduri putri malu yang satu sama lainnya tak saling memiliki urusan,
Mengakui ketiadaan untuk sebuah keberadaan, juga
Memaksakan ketersediaan untuk sebuah kehampaan...

Aku mencintainya dengan segenap kegelapan, kesunyian, keabnormalan, kemantapan, dan keteguhan hati yang telah lama terpelihara tanpa alasan...

Tuesday, 9 September 2014

Apakah malam ini purnama?
Aku mendongakkan kepalaku keluar melalui pintu kamar, hingga tanpa sadar telah lolos seluruh badanku demi menyaksikan si badan bulat nyaris sempurna yang melayang Rembulan di ubun-ubun, tidak tersenyum, tidak 

Friday, 5 September 2014

Aku Takut

Aku takut aku tidak lagi mampu menyusun kata dengan baik.
Aku takut aku tidak lagi mampu mengucapkan kata-kata yang baik.
Aku takut aku tidak lagi mampu menyampaikan apa yang seharusnya mudah untuk disampaikan.
Aku takut aku tidak lagi memiliki keberanian bahkan untuk sekadar menyuarakan rasa ketakutan.
Aku takut aku lenyap tanpa jejak, tanpa sempat menyampaikan salam perpisahan, tanpa ingat kata kunci untuk dapat memasuki pintu yang dijaga makhluk Tuhan paling taat.

Friday, 29 August 2014

Senja Bersama, Merkurius dan Venus (1)

*Saya mengadaptasi judul cerita ini dari judul cerpen seorang adik angkatan, tentu saja dengan isi cerita yang berbeda.
*Alur cerita lambat dan mudah ditebak. Jika tidak suka, jangan coba-coba membacanya.
*Ber-genre drama keluarga. Bukan penyuka cerita drama tidak dianjurkan untuk membacanya.
*Ini bagian ke-1, yang masih berisi prolog dan pengenalan tokoh-tokoh utamanya.

Selamat membaca! :D
________________________________________________________________________________________________


Kepingan 1: Cokelat Kelinci

'Ibu, ayah sebentar lagi pulang. Sekarang sedang mampir di minimarket atas. Beli cokelat kelinci pesanan si Dede. Ibu, bisa tolong siapkan air hangat buat mandi?' katanya melalui pesan singkat yang baru saja menyeruak masuk ke dalam inbox telepon genggamku.

'Okeee, ayah,' balasku singkat. Ah, tentu saja aku telah menyiapkannya, sebelum ia meminta. Aku sudah hafal jam pulangnya hingga kebiasaannya mengirim pesan untuk mengabarkan bahwa ia hampir mencapai rumah atau sekadar menanyakan oleh-oleh kepada Keke dan Dede, buah hati kami yang sedang pandai-pandainya menghafal lagu anak-anak.

Aku sudah sedang mengecek suhu air dalam bak mandi, ketika nada dering penanda pesan singkat selulerku terdengar mencicit meminta perhatian. Sebuah pesan singkat tergelar melalui pop up di layarnya, 'Cokelat di tangan, Ayah siap meluncur pulang.' Aku tersenyum membaca pesan tersebut. Suamiku masih saja cerewet seperti dulu ternyata. Lagi-lagi, aku tersenyum nyaris terkikik, membayangkan ia di masa muda yang begitu ceria, bersemangat dan disukai banyak orang. Well, setidaknya ia berhasil membuat orang-orang berpikir demikian tentang dirinya.

Aku sengaja tidak membalas pesan terakhirnya dan mungkin aku akan beralasan: ini demi penghematan pulsa. Padahal, aku memang tidak ingin membalasnya saja. Aku ingin mengetes bagaimana reaksinya ketika pulang nanti, mengingat ia tidak suka jika ada pesan atau perkataannya yang diabaikan. Sebenarnya, sudah dapat kutebak, ia pasti hanya akan mencelotehkan protes mini selama beberapa detik, lantas lupa dan berlari menuju dua malaikat kecil kami, yang kini tengah menari bersama menggunakan kostum peri.

Ah, dua anak itu, tiba-tiba aku ingin melihat bagaimana progres tarian mereka. Aku mengintip ke sebuah ruangan bernuansa kuning pastel yang memang berada di dekatku. Kulihat pangeran kecilku sedang berdiri di atas kursi mungilnya sambil berkacak pinggang. Ia menggunakan kostum Oki, si peri cilik nan jail, yang berwarna hijau daun pisang tua. Di sisi lain kamar tersebut, tepatnya di depan cermin setinggi satu meter yang terparkir aman di salah satu sisi kamar berbentuk segi lima itu, putri manisku tengah memandangi pantulan dirinya yang tak kalah manis di dalam cermin. Kostum bersayap dari tokoh Nirmala, si peri penyihir cantik dalam dongeng bergambar "Cerita dari Negeri Dongeng", tampak luwes melekat di tubuh mungilnya. Mereka sangat lucu, menari sambil sesekali menggumamkan semacam dialog yang selalu saja berubah-ubah kalimatnya di setiap latihan, sangat menyimpang dari naskah yang diajarkan oleh guru mereka. Meski begitu, mereka telah membuatku tersihir dan hampir lupa jika ayah mereka sudah hampir pulang dari kerja. Kulirik jam dinding berbentuk burung hantu yang terpaku lucu di sudut kamar itu. Oh, tidak! Sebaiknya aku membiarkan mereka bermain dan bergegas menyelesaikan persiapan makan malam sebelum ia pulang.

"Ayah pulaaang!" kudengar suaranya dari luar rumah, mengeras memenuhi teras dalam, seiring rintihan pintu yang perlahan terbuka. Baguslah, aku telah selesai menata hidangan makan malam kami, ketika ia telah masuk ke dalam rumah seutuhnya. Namun, ada yang aneh. Keke dan Dede tidak menghambur ke luar kamar untuk menyambut kedatangannya. Apakah mereka tertidur dalam satu menit? Aku menyempatkan menemuinya yang tengah duduk melepas sepatu, untuk sekadar memberikan senyuman kecil, sebelum pergi mencari Keke dan Dede ke dalam kamar.

Aku sempat cemas selama beberapa detik karena tidak dapat menemukan mereka berdua. Namun, kecemasan itu bergenti kegemasan ketika mendapati mereka sedang sama-sama berjongkok bersembunyi di balik bak mandi. Kamar mandi berpintu dua itu memang diset berada di perbatasan kamar tidur kami dan mereka untuk mempermudah segala aktivitasku dalam mengurusi mereka. Aku pura-pura tidak melihat mereka yang sepertinya memang tidak menyadari kedatanganku. Kutinggalkan mereka, yang tengah terkikik sembari membungkam mulut mereka dengan tangan mungil mereka sendiri, lalu segera menemui suamiku tercinta. Ia sudah selesai melepaskan pantofel kirinya ketika aku tiba di depannya.

"Tak membalas sms-ku lagi, uhm?" tanyanya dengan wajah kesal yang dibuat-buat. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman yang juga kubuat-buat sedemikian rupa agar setidaknya tampak manis bak personel-personel girlband di televisi. Namun, ia belum mengubah ekspresi wajah kesal buatannya. Akhirnya, aku menambahkan jurus andalanku, yaitu mengedip-ngedipkan mata dengan jahil, yang tentunya sangat tidak pantas dilakukan oleh wanita berkepala tiga sepertiku. Sukses. Ia telah lupa akan akting kesalnya dan kini digantikan dengan tawa spontan yang sangat keras, cukup untuk membangunkan anjing tetangga. Aku memberinya lirikan tajam khasku dengan mengisyaratkan pesan ancaman, 'Reaksi berlebihan macam apa itu? Hentikan atau kau akan mendapat ganjarannya!'  

Sepertinya, ia dapat membaca pesanku dengan baik karena ia menghentikan tawanya pasca melihat lirikan dariku itu. 'Yes! Selalu berhasil setiap saat!' batinku sembari menyeringai puas merasakan kemenanganku darinya untuk yang kesekian kalinya. Aku tidak melakukan semua ini karena aku ingin menindas atau tak menghormatinya. Namun, beginilah cara kami berkomunikasi, bahkan sejak lama saat status kami belum seperti ini.

Aku mendekatinya, meraih tas kerja berselempang yang ia gantungkan di bahu kanannya. Ia memandangku, masih terlihat sedikit gugup dan salah tingkah. Aku dapat melihat lelah terpatri jelas di relief wajah jenius sekaligus jenakanya. Lalu tiba-tiba kami tersenyum tanpa alasan yang jelas. Aku pun mulai menyapanya, "Selamat datang, Ayah. Apa kau tidak merasa di sini sedikit lebih tidak berisik? Kau tidak ingin mencari di mana mereka? Mereka sudah lebih pandai dalam bersembunyi, jika kau tahu."

Ia lantas tersenyum, membelai rambutku dan mendaratkan kecupan lembut di keningku. Dengan suara yang tak kalah lembut pula ia berkata, "Aku pulang. Terima kasih telah menjaga anak-anak kita. Dan..." tiba-tiba ia menghentikan kata-katanya sebelum akhirnya menaikkan volume suaranya dengan sengaja untuk menghasilkan teriakan yang sekeras toa demi memperoleh respons dari kedua bocah yang tengah bersembunyi itu, "HALOOO??? KOK RUMAH SEPI SEKALI, YA??? AYAH PULANG NGGAK ADA YANG MENYAMBUT, NIH?"

Alih-alih respons, suara kikikan tertahan mereka lah yang terdengar menggema dari arah yang sangat kami kenali dan tentu saja ia sudah dapat mengetahui letak mereka bersembunyi. Namun, ia tidak menuju ke tempat tersebut. Ia lebih memilih duduk di kursi berlengan dan menyalakan televisi dengan suara keras. Sepertinya ia ingin menggoda mereka. Dan betul saja, baru lima detik ia merebahkan punggungnya di penyangga kursi, ia kembali berbicara setengah berteriak, "YAH, SAYANG SEKALI, TERNYATA KEKE DAN DEDE TIDAK ADA DI RUMAH. PADAHAL, AYAH PUNYA COKELAT KELINCI KESUKAAN DEDE, BU. KITA MAKAN SAJA YUK, BU! MUMPUNG CUMA ADA KITA BERDUA, KITA BISA MENGHABISKANNYA SAMPAI PUAS. OIA, HADIAHNYA NANTI BUAT IBU, DEH."

Oh, ternyata aku salah. Ia tidak setengah berteriak, tetapi betul-betul berteriak dengan kekuatan maksimal untuk memancing kedua bocah jail itu keluar dari persembunyiannya. Atas upaya berteriak-teriaknya itu, kini ia cukup gelagapan mengatur napas. Dasar sama-sama bocah!

Butuh belasan detik hingga akhirnya terdengar sepasang langkah kaki kecil yang bergerak semakin dekat. Tampaknya pertahanan salah satu dari mereka telah tumbang karena tak kuat menahan godaan cokelat kelinci yang aku tak tahu di mana letak enaknya. Tak hanya sepasang kaki, sepertinya sepasang kaki lain pun terdengar berlari kecil mengikuti pemilik kaki sebelumnya yang kini mulai berlari juga. Kami berdua hanya tertawa sembari menanti kedatangan dua bocah polos ini dari persembunyiannya, yang letaknya sekitar dua puluh lima meter dari tempat kami memarkirkan diri.

"Mau bermain tebak-tebakan, siapa dulu yang sampai sini?" tanyanya dengan ekspresi menantang.

"Boleh!" jawabku tegas. "Aku bertaruh Dede karena ia yang paling suka pada cokelat itu," tambahku cepat.

"Tidak. Kali ini pasti Keke!" timpalnya dengan penuh percaya diri.

Entah mengapa, dalam sekejap rutinitas biasa ini berubah menjadi menegangkan karena disambi dengan menanti pembuktian tebakan kami. Lima meter lagi, mereka akan tiba di ruang keluarga di mana kami berdua berada dan aku sudah tidak sabar lagi memastikan siapa yang datang lebih dulu. Aku menoleh ke koridor yang membatasi ruangan ini dan ruangan bermain di sampingnya. Ia datang! Dan dapat kulihat sepasang sayap merah muda mengepak-ngepak masuk menerobos tirai kerang. Si Keke tiba di hadapannya dengan napas tersengal disusul oleh Dede yang tangannya terangkat ke atas, jelas sekali tengah bersiap mendorong Keke menjauhi sang ayah, untuk mengamankan cokelat favoritnya.

'Apa? Kok bisa? Kenapa bisa begini? Keke kan tidak suka cokelat. Kenapa ia datang duluan?' batinku. Seketika, aku merasa bodoh karena memikirkan hal seperti ini.

"Kau ingin tahu, kenapa aku tahu?" tanyanya padaku seolah-olah dapat membaca pikiranku.

Namun, alih-alih ia menjelaskan alasannya, Keke lah yang angkat bicara, "Ayah! Ayah curang. Ayah kan udah janji nggak akan mancing-mancing Dede pakai cokelat lagi. Gara-gara Ayah, Dede nggak mau sembunyi karena pengen cepat-cepat makan cokelat. Jadi gagal total kan, Ayah! Ayah curang dan pemalas, nggak mau nyariin kita." Dahinya mengerut dan matanya berapi-api ketika ia mengatakannya. Keke tampak betul-betul kesal. Mungkin itu yang membuatnya berlari lebih cepat hingga dapat menyusul Dede dan sampai ke sini lebih dulu darinya. Si Ayah yang tengah diprotes oleh putrinya hanya meringis tanpa rasa bersalah sambil mengacak-acak rambut putra bungsu yang sekarang sudah duduk di pangkuannya.

"Ayah, Dede mau cokelatnya. Hehehe. Ayah beli dua, kan?" pinta Dede dengan polosnya, mengabaikan sang kakak yang masih cemberut dan sesekali meracau tidak jelas karena jengkel pada Dede, si tokoh utama yang telah menggagalkan operasi persembunyian mereka berdua. Mereka terlihat sangat lucu.

"See? Aku menang, kan? Jadi, apa imbalan atas kekalahanmu dalam taruhan ini?" tanyanya membabi buta. Dan...apa?

"Taruhan? Sejak kapan ini menjadi taruhan?" Keke dan Dede yang tak mengerti isi pembicaraan kami hanya mengerjap-ngerjapkan mata kebingungan. Kemudian mereka kembali berisik, berebut untuk bicara dengan ayahnya.

Ia hanya menoleh sekilas kepadaku, lalu kembali memandang serius kepada putra-putri kami seraya berkata, "Sudah pikun rupanya, Ibu kalian. Kalian harus sabar, ya." Dede dan Keke berpandangan satu sama lain, hening sejenak, kemudian sama-sama mengangguk pasti. Hey, sikap tidak sopan macam apa itu? Apa yang ia ajarkan kepada mereka berdua?

Ia meraih satu kotak cokelat kelinci, membukanya, kemudian memberikannya kepada Dede. Dede menyambar kotak tersebut dengan beringas, membuang cokelatnya dan merogoh-rogoh benda yang masih tersangkut di dasar kotaknya. Ah! Akhirnya, aku tahu mengapa Dede begitu tergila-gila pada cokelat kelinci ini. Maksudku, ia tidak pernah betul-betul menyukai cokelatnya. Ia hanya suka mengoleksi hadiah-hadiah mainan yang ada di dalamnya.

"Yeay! Mainan perahu dayung!" teriak Dede girang.

Greg! Ya ampun, benar juga. Sepertinya tadi aku keceplosan menyebutkan kata taruhan. Aku lupa betapa jeniusnya orang di hadapanku ini dan betapa lemahnya aku dalam hal seperti ini. Baru beberapa menit lalu aku menang darinya dengan jurus kedipan mata dan sekarang sudah dikalahkannya hanya dengan bermain tebakan? Seharusnya, aku lebih berhati-hati ketika menghadapinya karena ia masih saja lebih pintar dariku.

"Ah! Sudah! Sudah! Ayah! Lebih baik Ayah segera mandi atau air hangatnya akan mendingin. Kau tidak kasihan padaku, yang sudah capek-capek menyiapkannya, uhm?" ucapku mengalihkan topik pembicaraan.

"Tentang taruhannya bagaimana?" ia masih tak mau melepaskan topik ini ternyata. Dan akhirnya, aku terpaksa mengeluarkan jurus pengobrak-abrik sukma kepadanya sebelum ia kembali berbicara.

"Ayah?" ia menoleh kepadaku. "CEPAT MANDI ATAU JATAH MAKAN MALAM KALI INI IBU BERIKAN KE MEONG YANG BELUM MAKAN SEHARIAN!" teriakku sambil menyeringai penuh arti. Sontak, ketiga manusia di depanku terdiam seketika. Dede akhirnya menyadari bahwa ancaman tersebut bisa jadi berlaku juga bagi mereka, jika mereka tidak patuh. Dede turun dari pangkuannya dan mencolek-colek pipi Keke --yang membisu masih mencerna suasana-- mencoba mengajaknya menjauhiku, yang tengah berakting bak nenek sihir pemangsa bocah.

"Keke! KEKE!" panggil Dede. Namun, yang dipanggil masih tak menyaut. Akhirnya, Dede mengambil tindakan berupa mendaratkan jitakan kecil ke kepala Keke yang loading-nya terlampau lama.

"Auw! Sakit Dedeeee! APAAN SIH KAMU?" teriak Keke sambil mengelus bekas jitakan di kepalanya. Kini Keke sudah sadar sepenuhnya dan mampu mengenali kondisi yang tengah terjadi. Ia bergidik ngeri melihatku.

"Oh, dek Dede lapar, ya? Kak Keke juga. Ayo kita siap-siap makan," kata Keke sembari memutar badan dan menggandeng tangan adiknya menuju meja makan.

"Ayo, Kak! Hehehe," jawab Dede. Aku hanya tertawa tertahan melihat tingkah lucu mereka.

"Mereka lucu, ya? Hahaha," tetiba ia kembali bicara sambil merangkulkan lengannya ke bahuku. Aku menoleh kepadanya, masih dengan mempertahankan tatapan tajamku yang dapat menusuk-nusuk kebahagian. Perlu waktu cukup lama hingga ia sadar, jika aku tidak sedang bermain-main dengannya. Sret. Seketika ia menurunkan lengannya dan menyusul si kembar yang sudah hampir mencapai meja makan.

"Keke! Dede! Ayo makan ber...bersamaaa... Ha...ha... haaa...." katanya terbata-bata.

"AYAH MANDIIII!!!" teriakku mematahkan tawa terbata-batanya.

"I...IYAAA..." jawabnya sambil berlari ke kamar. Beberapa lama kemudian terdengar lagu She Loves You milik The Beatles dinyanyikannya dari dalam kamar mandi.

Aku tertawa kecil sambil mengambil nasi dan menyajikannya ke atas piring-piring mereka bertiga, para jantung hatiku. Keke dan Dede sudah terbiasa denganku yang pandai berubah-ubah ekspresi seperti ini. Mereka hanya berdecak sesekali ketika melihatku tersenyum-senyum tidak jelas, kemudian kembali asyik bermain berdua sambil menanti ayah mereka selesai mandi.

"AYAH!" panggilku dari ruang makan.

"Yes, honey?" jawabnya genit dan sangat tidak pantas didengar oleh anak-anak. Mungkin ia ingin diberi pelajaran tambahan? Baiklah, honey. Hahaha.

"Dua menit saja kau malama-lamakan diri di dalam kamar mandi, ayam bakar madu ekstra jumbo ini akan lenyap dari meja makan oleh si kembar. Wah, mereka sangat lahap memakannya. Oh, kau masih ingin berendam ya, SAYANG? Nikmati waktu mandimu kalau begitu, ya, Yah! Ohohoho," kataku dengan diakhiri senyuman licik. Dua bocah di hadapanku hanya tertunduk pasrah menerima fitnahan dariku.


"TIDAAAAAK!!!"

Dan kali ini, senja berlalu dengan menyenangkan seperti senja-senja sebelumnya.


*****

Kepingan 2: Takdir yang Tertukar

Thursday, 28 August 2014

Dia (2)

Bagian satunya dapat dibaca di sini.
******

Aku tak bisa tertidur Selasa malam kala itu. Aku

Tuesday, 26 August 2014

Beberapa Tanda yang Kemungkinan Dapat Berujung Pada Sakit "Gila"

  1. Anda lajang.  
  2. Anda memerhatikan apapun yang dia lakukan.
  3. Anda sering memuji setiap hal yang dilakukan, dimiliki atau ada padanya.
  4. Anda menelepon atau mengirimkan pesan berisi hal yang tidak penting kepadanya.
  5. Anda berbicara banyak hal yang Anda sukai kepadanya. Anda berbicara tentang festival atau pertunjukan yang ingin Anda hadiri, dan Anda menunggunya untuk mengatakan dia akan pergi bersama Anda.
  6. Anda merasa penasaran, bahkan sakit hati, ketika dia berbicara tentang kelebihan seseorang lain. Kemudian Anda membalasnya dengan membicarakan kelebihan orang lain selain dia dan menunjukkan kekaguman Anda terhadap orang lain tersebut untuk mengetahui reaksinya.
  7. Anda mengetahui dengan baik, di luar kepala, kapan ulang tahunnya dan di mana dia tinggal.
  8. Tanpa alasan yang jelas, Anda tidak peduli dan tidak akan "melihat" orang lain dia, meskipun dia sedang tidak ada di sekitar Anda.  
  9. Anda memahami perubahan suasana hatinya, dan Anda tidak ingin menekannya. 
  10. Anda mengingat nama teman-temannya dan mencoba untuk mengingat semua hal yang dia ceritakan pada Anda.
  11. Anda membelikan benda-benda untuknya, tanpa dia memintanya.
  12. Anda memberikan hadiah ulang tahun berupa benda yang dia suka.  
  13. Anda merasakan kehangatan ketika berbicara dengannya dan kenyamanan ketika di dekatnya.
  14. Anda membatalkan rencana Anda untuk dia. Padahal itu sudah direncanakan sebelumnya.
  15. Anda bersedia melakukan hal-hal yang awalnya tidak Anda sukai, tetapi dia menyukainya, ketika bersamanya.
  16. Anda berbicara tentang keluarga Anda kepadanya dan bertanya tentang keluarganya. 
  17. Anda membiarkannya meminjam barang-barang Anda tanpa keberatan.
  18. Anda melakukan hal-hal yang menjadi hobinya, dan lama-lama terbiasa hingga membuatnya menjadi hobi Anda.
  19. Anda berusaha untuk memperoleh perhatiannya dan membuatnya tersenyum bahkan tertawa.
  20. Anda memiliki cara berbicara yang lain ketika sedang berbicara dengannya, dibandingkan dengan ketika berbicara dengan orang lain.
  21. Anda menjadi semacam protektif terhadapnya.
  22. Anda membicarakannya sepanjang waktu kepada teman terdekat Anda.
  23. Anda sering mengingatkannya tentang hal-hal pentingnya yang Anda ketahui, memastikannya tidak lupa.
  24. Anda selalu memilih dia dibandingkan orang lain.
  25. Anda mengingat setiap hal kecil tentangnya, meskipun itu merupakan hal yang betul-betul tidak penting.
  26. Anda bercerita kepadanya tentang masalah pribadi Anda dan berharap dia memberi tanggapan, solusi, simpati atau empati untuk meringankan masalah Anda.
  27. Anda meminta bantuannya, bahkan hanya untuk hal kecil sekalipun.
  28. Anda merasa kesal dan marah, ketika dia mengabaikan Anda atau tidak membalas pesan Anda.
  29. Tanpa Anda sadari, Anda sering berjalan di tempat-tempat yang sering didatangi atau di titik yang sedang ditempatinya, untuk semacam membuatnya tersadar bahwa Anda sedang berada di dekatnya.
  30. Anda merasa sedih dan khawatir ketika dia tidak ada, menghilang tanpa pesan atau tidak dapat dihubungi.
Jika Anda memenuhi setidaknya 20 poin di atas, dengan variabel terikatnya adalah satu orang yang sama, bisa jadi Anda sudah bukan lagi sekedar kepo, melainkan terserang sakit "gila" cinta terhadap seseorang. Hati-hati! Sulit diatasi jika sudah benar-benar gila! Beristigfarlah!

Friday, 1 August 2014

Bang Ko

Halo, bloggie... Pertama, saya mau mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin atas segala salah yang pernah saya lakukan. Kedua, sekarang saya akan menuliskan tentang seseorang. Seseorang yang sebetulnya bersifat... antara fiksi dan realita karena dia ada, tapi tidak pernah betul-betul ada. Hal yang membuat saya tertarik untuk menuliskannya adalah beberapa kemunculannya yang terkadang melintas dalam satu atau dua kali aktivitas saya.

Oke, saya cukup sering menuliskan sebutannya di twitter saya. Saya menyebut dia Bang Ko karena saya tidak tahu betul apa nama sapaan aslinya. Selain itu, kami tidak pernah berkenalan dengan cara yang benar, tidak pernah menyebutkan nama kami masing-masing ketika "sedang berbincang". Mengapa saya menyebutnya Bang Ko? Saya sendiri kurang paham. Mungkin karena kami paling sering bertemu di jalanan. Ah! Betul sekali, bahkan pertama kali saya mengenalinya, dalam kondisi betul-betul sadar, adalah di jalanan, uhn...tepi jalan lebih tepatnya. Lantas apa hubungannya? Ah, tidak tahu lah.

Saya memang tidak pandai mendeskripsikan penampilan fisik seseorang, tapi saya akan mencoba mendeskripsikan si Bang Ko ini. Bang Ko kurus, tidak gemuk, tapi tetaplah saya lebih kurus darinya. Saya menduga, berat badannya tidak jauh-jauh dari angka 60 kg atau malah tidak mencapai itu. Dia seorang laki-laki, dengan tipe rambut seperti orang timur kebanyakan, rambut yang tidak memerlukan bantuan salon atau penata rambut karena campur tangan ahli-ahli rambut itu tidak akan mampu membuat rambutnya tampak rapi dan memesona. Rambutnya pendek dan saya tidak dapat membayangkan jika rambut itu lebih panjang dari panjangnya yang sekarang atau biasanya. Dia tidak memiliki tubuh yang pendek, untuk ukuran seorang laki-laki, tapi tidak dapat dikategorikan sebagai tinggi juga. Ideal? Tidak juga. Saya kira tingginya tidak mencapai 170 cm. Matanya normal dengan iris hitam khas pribumi dan dengan bentuk mata yang bolehlah dimasukkan dalam kategori mata sayu yang sedikit menyimpan misteri. Misteri? Yeah, mungkin karena saya belum atau tidak cukup mengenalnya. Dia memiliki bahu yang cukup lebar. Ini membuatnya terlihat seperti layang-layang berjalan. Dia memiliki jari-jari panjang yang lentik, tapi sayang, sepertinya tidak pernah digunakannya untuk bermain gitar. Warna kulitnya, uhn...warna kulitnya sawo matang kalau tidak salah, yeah meskipun saya merasa akhir-akhir ini menjadi lebih cerah dibandingkan dulu saat pertama kali melihatnya (well, sebenarnya saya sudah agak lupa bagaimana penampilannya pada saat pertama kali melihatnya). Alisnya? Entahlah, tapi sepertinya tidak setebal alisnya Indra, adik angkatan saya. Hidungnya? Saya tidak tahu apakah cukup layak disebut mancung atau tidak. Dia tidak mempunyai lesung pipit yang sama seperti saya, tapi sepertinya ada sedikit lipatan kecil di sekitar wajahnya ketika tersenyum. Namun, saya tak yakin di mana letaknya yang tepat. Telinganya? Ah, saya tak memperhatikannya. Hahaha. Saya yakin, saya menggambarkannya dengan sangat tidak jelas. 

Oh iya, dia memiliki cara berjalan yang aneh, seperti anak kecil manja yang tengah berjalan mengekori ibunya atau seperti anak laki-laki terakhir yang seluruh kakaknya adalah perempuan. Ah, seperti itu lah. Saya tak pandai menggambarkan cara berjalannya. Dia sering membuat setiap hal yang dilihatnya sebagai lelucon, lalu tertawa dengan gaya tertawa yang aneh. Dia juga murah tersenyum, meskipun senyum itu terkadang lebih sering terlihat seperti seringai, yang membuat orang yang melihatnya menerjemahkannya dengan banyak arti. Dia sepertinya tidak menyukai bermain olah raga, tetapi tidak membenci menyaksikan pertandingan olah raga. Dia juga terlihat serius, meskipun dia sering dan terlihat suka membuat lelucon. Saya tidak tahu berapa umur pastinya, tapi sudah dapat dipastikan kami tidak sebaya, tidak lahir di tahun yang sama. Dia adalah orang yang sangat tega, meskipun pada akhirnya dia membayar ganti rugi atas akibat dari ketegaan yang telah dia lakukan. Dia... Apa lagi, ya? Aha! Pokoknya, tidak ada kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkannya selain misterius. Bagaimana tidak? Tujuh puluh persen kemunculannya adalah ketidaknyataan. Sekali dia muncul dengan nyata, di dunia nyata manusia, di hadapan saya, saya tidak betul-betul dapat berkomunikasi dengannya, seolah-olah dia hantu atau alien yang dapat dilihat, tapi tidak untuk diajak berdiskusi. Lucu sekali bukan?

Oke, sekarang saya mau bercerita tentang beberapa kejadian yang saya alami, yang berkaitan dengan Bang Ko, baik yang nyata maupun tidak.

#1
Pada suatu malam, di dunia pertama, saya menerjemahkan pertanyaan dalam pesan, yang dikirimkan oleh Bang Ko, dengan makna yang salah sehingga saya berakhir salah paham dan terdampar di tempat dan waktu yang tidak tepat untuk didatangi seorang diri. Meski demikian, saya masih bersabar selama satu hingga lima jam. Hingga pada akhirnya, saya sadar dia tidak akan datang dan saya pun memberitahunya bahwa saya mendatangi tempat. Memang dasar, dia manusia (?) yang supertega, dia sama sekali tidak menanyakan keadaan saya. Alih-alih bertanya, dia malah meminta bukti yang menunjukkan bahwa saya memang benar-benar di tempat itu. Saya sebal sekali waktu itu. Namun, sudah saya katakan di atas bukan, dia akan membayar kesalahannya (oke, saya lah yang menganggap ketidakdatangannya adalah sebuah kesalahan)? 

Di malam lain, di dunia kedua, dia betul-betul membayar kesalahannya itu. Dia mengajak saya berjalan menjauhi tempat acara yang kami hadiri berlangsung, hingga tiba di sebuah ladang padi yang baru selesai panen. Dan bim salabim, dia membuat langit malam menjadi berwarna merah, hijau, kuning, biru, ungu, dan merah muda. Dia memang buka seorang penyihir, pastinya. Namun, dia pandai memberi kejutan ketika berada di dunia ini. Saya duduk di atas gundukan jerami yang terparkir berantakan di ladang padi, sambil menyaksikan percikan bunga api yang silih berganti terpercik indah di langit desa itu. Dia berdiri, memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana, sambil memandang langit yang telanjang tanpa gemintang, tanpa gumpalan awan malam. Ah, dia masih tidak banyak bicara. Untung saja dia masih menyimpan kebiasaan tersenyumnya itu. Setidaknya, senyumnya itu membuat saya merasa tidak sedang sendirian. Bunga-bunga api itu entah meluncur dari mana, saut-menyaut, susul-menyusul selama hampir sepuluh menit. 'Kaya sekali dia?' batin saya saat itu. Namun, sebetulnya saya tidak cukup yakin dialah dalang dibalik peluncuran bunga api itu, sebab sepertinya dia orang yang cukup perhitungan, betul-betul perhitungan. Lagipula, saya tidak ingin dia membuang-buang uangnya untuk hal tidak bermanfaat seperti ini pastinya, yeah meskipun saya menikmatinya. Ya! Tentu saja saya menikmatinya...langit malam itu menjadi sangat indah. Sebetulnya, kami sempat berbincang, hanya saja saya tidak cukup ingat apa yang dikatakannya. Namun, saya suka dengan caranya memberi kejutan. 

#2
Saya memutuskan untuk memilih cerita ini. Bang Ko adalah orang yang sepertinya berbeda ketika di dunia pertama dan ketiga. Saya hampir selalu salah mengartikan setiap perkataannya ketika di dunia ketiga dan inilah yang membuat saya membencinya ketika di dunia ketiga. Namun, entah mengapa saya akan kembali penasaran kepadanya ketika kami sama-sama berada pada dunia pertama. Mungkin kemunculannya di dunia pertama tampak lebih menyenangkan dan manusiawi, dibandingkan ketika dia sedang berada di dunia ketiga. Ketidakkonsistennya ini membuat saya bertanya-tanya, hingga bertanya betulan kepada Roland dan Rheta, "Kapankah seseorang betul-betul menjadi dirinya sendiri?" yang ternyata mereka jawab dengan jawaban berbeda (ya iyalah!). Lain lagi di dunia kedua, Bang Ko di dunia kedua adalah Bang Ko yang sangat baik dan murah hati. Saya lebih suka pada Bang Ko di dunia kedua. 

#3
Saya mulai bingung apa yang sedang saya lakukan. Sudahi sajalah ketidakjelasan ini, ahahahai. Sampai jumpa lagi dengan cerita Bang Ko yang lain.

Sunday, 20 July 2014

Tujuh Gambar Terakhir (Juni-Juli) 2014

"Owlet"
Depok, 21 Juni 2014
Latar belakang dibuatnya gambar ini adalah adanya rasa penasaran saya, apakah saya bisa menggambar sesuatu selain karakter anime? Ternyata, ya begitulah hasilnya. Memang tidak terlalu mirip sih, tapi saya cukup suka dan rasa penasaran saya terjawab: Bisa, walaupun seadanya. 
Selain itu saya juga cukup menyukai burung hantu. Mengapa saya menyukainya? 
Ini karena dia ada lagunya, karena dia lambang kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan, karena dia selalu terjaga di malam hari untuk menyelesaikan urusannya (seperti saya), karena dia tidak mudah ditaklukan, karena dia tokoh yang bijak nan jenius di kartun Minggu jam 7 pagi yang tayang di Indosiar pas aku masih SD, karena dia setia pada pasangannya, karena dia lucu tapi mudah stres (sepertiku?), karena aku sempat menghabiskan beberapa waktu dalam hidupku untuk takut dan membencinya sehingga sekarang tidak lagi tersisa rasa selain menyukainya. :D  (jawaban ask.fm)


"Fanart: Inuyasha Versi Cantik"
Depok, 26 Juni 2014
Terlihat aneh? Menurut saya iya. Mengapa? Karena rambutnya tidak mirip dengan Inuyasha versi aslinya. Yuhuuuu... Saya tambah-tambahan tuh poninya biar cantik dikit. Eh, hasilnya malah aneh gitu, wehehehe. Selain itu, pensil yang saya gunakan untuk menggambar ini juga supertumpul, sedangkan saya tidak punya rautan, heuheu. Ya sudahlah, seadanya, arsirannya acak adul. Akhirnya, saya gosok-gosok pakai kapas saja deh.


"Fanart: Itachi Uchiha Black and White Version"
Depok, 27 Juni 2014
Ini juga aneh, kan? Iyo. Itachinya lebih gemuk dari versi aslinya. Hahahai. Saya menggunakan pensil dan pensil warna. Terlihatkah?
Oh iya, ada cerita tersendiri untuk gambar ini. Gambar ini sebenarnya saya buat untuk saya berikan ke Annisa Haq (Nisa), adik angkatan (2011) yang juga teman satu kosan saya. Nah, pas mau menggambarnya, tetiba dapat kabar dari adik kelas lain, Rizqa Fadilla (Icha), kalau kakinya sakit dan tidak bisa berjalan. Akhirnya, saya dan Nisa pun menemani Icha yang sedang sakit di kontrakannya. Saya menggambar ini di kontrakan Icha, H-2 Ramadhan. Gambar ini selesai dibuat pada saat Icha lagi sakit-sakitnya dan akhirnya dibawa ke RS Grha Permata Ibu, untuk diperiksa. Alhamdulillah, beberapa hari kemudian Icha sembuh dari sakitnya.


"Random: Superquick Boy with Durian Hair"
Depok, 8 Juli 2014
Suatu malam yang biasa saja, saya menemukan kertas gambar bekas yang permukaan kertasnya sudah sangat buluk dan kotor oleh pensil. Sambil mengantuk, akhirnya saya memutuskan untuk menggambar seorang karakter boy imajiner secara random dengan kecepatan supercepat, 10 menit. Hasilnya, ya.... aneh gitu deh. Hehe.


"Honeymoon"
Depok, 9 Juli 2014
Sebenarnya, ini request dari seorang teman kampus asli Magelang, Nurlaely Presti (Lelly). Yeah, setahu saya, setahun belakangan ini dia memang semakin suka dengan hal-hal yang berbau naik gunung. Mungkin, ini yang membuat dia minta digambarin ini. Sebetulnya, pada contoh gambar yang dia kirimkan, si tokoh perempuan mengenakan celana. Namun, si Lelly menginginkan si tokoh perempuan ini mengenakan rok. Ya sudah, saya paksain deh...gambarnya jadi kayak gitu. Wehehe.
Mengapa saya beri judul  Honeymoon? Karena memang ini terlihat seperti bulan madu sepasang suami istri baru menikah, yang keduanya sama-sama menyukai menaiki gunung. Saya juga pengen, suatu saat saya dapat melakukannya bersama pasangan hidup saya, hahai. Aamiin.

"Fanart: Jack Frost (anime version)"
Kebumen, 18 Juli 2014
Yang pernah nonton film Rise of The Guardians pasti tahu karakter fiksi teman-temannya Santa Klaus, Kelinci Paskah, Peri Gigi dan Manusia Pasir ini. Yuppy! Dia adalah Jack Frost. No, no, no... Saya tidak percaya dengan mereka-mereka loh, ya. Saya hanya sangat menyukai ide ceritanya. Cukup menghibur deh pokoknya, di liburan lebaran tahun ini, yang benar-benar suram karena saya sedang dalam masa paling suram dalam hidup saya.
Semingguan ini saya jatuh cinta nih sama Jack Frost ini. Hahahai, saya memang baru menontonnya minggu ini. Padahal film-nya release tahun 2012. Kudet? Yeah, memang saya manusia yang kudet kok. 

"Fanart: Portgas D Ace and Luffy in Black"
Kebumen, 20 Juli 2014
Ini juga mau saya berikan ke Nisa. Saya tidak suka One Piece dan tokoh-tokohnya. 

Media   : Kertas gambar
Ukuran : A4 (all)
Alat      : Pensil 2B, pensil warna, pensil warna air, air, kuas, penghapus, kapas.

"Drawing is Delicious"

Saturday, 19 July 2014

Adik Baru

Yeah. Saya belum lulus loh. Uhn, barangkali dunia ingin tahu. Ternyata, menjadi antimainstream cukup waw juga! Waw!

Oke, itu ga penting.

Saya, punya adik angkatan lagi! Ya ampun, udah 4 angkatan loh. Udah tuanya minta ampun ya saya ini. Ckck.

Thursday, 5 June 2014

Salah Tingkah

Saya heran mengapa saya sangat mudah mengalami salah tingkah bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya sangat tidak perlu untuk disalahtingkahkan. 

Contoh salah tingkah yang tidak penting adalah ini.

Tadi, ba'da isya, sekitar pukul 8.20 PM, saya keluar dari kosan untuk mencari udara segar setelah seharian bergulingan di dalam kamar. Selain itu, saya juga memang sedang sangat menginginkan es krim tanpa alasan yang jelas sehingga saya harus pergi ke luar rumah untuk membelinya. Sebelum pergi, saya memang sempat menge-tweet ini: Okelah, mari jalan-jalan sebentar sambil ngintip-ngintip apa yang ada di jejalanan dan cari es krim pelangi... Syalalaaa...
Setelah sempat me-reply tweet Melinda dulu, saya pun segera mengambil sepeda motor saya, mengendarainya menuju rumah bimbel 2014. Di sana ada banyak panitia, tapi sayangnya panitia laki-laki semua. Hnn, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk hanya singgah sebentar saja di sana. Setelah menyapa beberapa peserta dan membaca daftar lokasi ujian SBMPTN dan SIMAK UI, saya pun melangkah ke depan, berniat untuk pulang. Namun ternyata, besoknya adik-adik peserta ini mau melaksanakan puasa sunah Senin-Kamis dan para peserta putri ini belum membeli lauk. Si Rina akhirnya meminta saya untuk mengantarkannya membeli sayur. Di depan gerbang rumbel, kami berdua bertemu dengan Jojo (peserta putra) yang baru pulang dari membeli sayur dengan dibonceng oleh Reza. Saya heran, kenapa tadi tak membelinya bersamaan saja? Oh, mungkin memang sistemnya seperti itu.  
Singkat cerita, kami berdua selesai membeli sayur. Saya pun melanjutkan perjalanan ke tempat persinggahan selanjutnya (?), tempat yang di sana menjual es krim. Akhirnya, saya memilih untuk mendatangi Indomaret yang paling dekat dari rumbel, yang terletak di pertigaan Masjid Al Barokah. Niat awal saya adalah hanya membeli es krim walls rainbow, yang rasanya beraneka macam dan harganya relatif murah. Namun, tetiba saya ingin membeli walls magnum pink karena membaca tweet Melinda. Akhirnya, saya memutuskan untuk menunda memilih. Saya berkeliling ke seantero minimarket itu. Saya pun mengambil beberapa mie instant, sebungkus makanan ringan berbentuk crepes, sebungkus lolipop milkita entah isi berapa, dan berputar-putar mencari snack lain. 
Di saat berputar-putar itu, tetiba saya terkagetkan oleh kehadiran sosok yang saya kenal. Dia adalah orang yang saya deskripsikan di post sebelumnya, yang berjudul "Seorang Adik Kelas (3)". Saya juga tidak mengerti mengapa saya bisa sekaget itu. Padahal, orang yang bersangkutan sama sekali tidak menampakkan wajah kaget sama sekali. Datar, tak berekspresi. Saya memang seorang yang mudah kaget dan ketika kaget saya tidak dapat melakukan hal dengan baik, hingga menimbulkan salah tingkah. Salah tingkah in juga yang terjadi pada saat bertemu si adik kelas ini.  
Mungkin, ada beberapa alasan selain kaget yang membuat saya salah tingkah ketika melihatnya. Pertama, karena ini baru pertama kali saya bertemu dengan seorang laki-laki yang saya kenal secara insidental, di tempat berbelanja. Saya memang agak tidak suka jika ada orang lain mengetahui barang belanjaan saya, kecuali jika kami berangkat bersama atau saya sengaja menunjukkan kepadanya. Kedua, karena saya berbelanja di tempat yang letaknya terbilang cukup jauh dari kosan saya. Saya juga malas jika nanti ditanya-tanya. Ketiga, karena ini letaknya dekat sekali dari rumbel dan pasti dia akan segera menyimpulkan bahwa saya baru saja dari rumbel. Padahal, tepat di hari sebelumnya, saya sudah bilang kepadanya dan satu orang lain bahwa saya tidak akan ke rumbel kecuali ada panggilan mengajar privat atau semacamnya, dan ternyata saya datang ke sana lagi tanpa dipanggil. Keempat, karena sebelumnya saya memang sedang memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika bertemu dengan anak-anak yang kos sekitar situ dan ternyata ini memang terjadi.
Saya masih terkaget melihatnya, ketika dia bertanya, "Jadi, beli es krim pelangi?" masih dengan muka datarnya yang khas dan entah kenapa terlihat agak menyebalkan. Saya hanya menjawab, "Iya, entar nungguin reply twitter dari Melinda."
Dan untuk mengatasi salah tingkah saya, saya pun mengambil sekotak susu Ultra Full Cream 1 liter dari rak paling atas, yang memang ingin saya beli. Saya tidak tahu barang apa yang dibelinya karena saya tidak tertarik untuk mengetahuinya. Saya melanjutkan perjalanan belanja (?) saya, menuju ke box es krim, memilah beberapa lama, lantas mengambil dua bungkus es krim pelangi dari dalamnya. Masih ada sisa-sisa salah tingkah, saya langsung menuju meja kasir, tanpa menyapa si adik kelas ini sama sekali, tanpa ingin mengintip apa barang belanjaannya.
Belanjaan saya selesai di-scan. Usai membayar, saya langsung mengebut keluar dari dalam minimarket itu, masih tanpa menyapanya. Haha... Emang rada-rada sepertinya saya ini. Di atas motor, saya sempat mengetik chat ke Nisa. Selesai memasukkan handphone ke dalam tas tangan bulu kucing saya, dia keluar dari dalam minimarket dan bertanya, "Dari rumbel, mbak?"
"Hah? Kapan? Sekarang?" jawab saya. Padahal saya jelas-jelas mendengar dengan baik apa katanya.
"Ya, tadi dari rumbel?" dia memperjelas pertanyaannya.
"Iya. Tilik doang kok, tilik doang," jawab saya sambil menyalakan mesin motor dan berbelok meninggalkannya. Dalam hati, "Ya ampun, ini anak bakal mikir saya ini apaan ya? Aneh? Nggak konsisten? Ah, ya sudahlah. Tapi, nggak nyangka juga tweet saya dibaca dan diingat orang, haha. Apalagi seorang yang seperti dia, yang kata beberapa orang, uhn... ya sudahlah."

.....................

Jadi, cerita di atas merupakan salah satu kisah salah tingkah berlebihan yang terjadi dalam hidup saya. Salah tingkah itu lebih dapat membuat saya deg-degan daripada salah tulis kata. Uhn, sepertinya saya memang perlu lebih sering bertemu dengan orang di dunia nyata agar saya tidak sering salah tingkah lagi. Saya begitu jarang berinteraksi dengan banyak orang, khususnya anak laki-laki. Hal ini membuat saya tidak nyaman ketika dikelilingi oleh banyak orang, apalagi laki-laki. Salah tingkah seperti ini, terkadang membuat orang salah paham. Di masa lalu, berbagai kesalahpahaman sering terjadi karena saya dikira salah tingkah ketika bertemu A, B, C, D bisa jadi sampai Z. Alhasil, saya pun terpandang sebagai gadis yang mudah jatuh cinta. Ciyeeee.... Padahal, ya enggak jugaaaa. 

Fyuh! Apa yang harus saya lakukan untuk meminimalisasi salah tingkah ini?


Tuesday, 3 June 2014

Seorang Adik Kelas (3)

Dia sedikit aneh karena memiliki cara bicara yang berbeda antara di medsos, chat pribadi dan di dunia nyata. Tak hanya itu, perasaan yang tersirat dalam bahasa tulisnya pun terkesan berubah-ubah. Dia...sulit diterka.

Wednesday, 28 May 2014

Ini tentang Betapa Buruknya Kemampuan Navigasi Kau dan Aku

"Hey! Ayo, cepat tebengers!" teriakmu. Orang yang kau panggil tebengers itu tak lain, tak bukan adalah aku yang tengah bercakap-cakap dengan beberapa orang yang akan pulang juga ke asrama mereka masing-masing. Ah, mungkin kau lupa. Bukan aku yang meminta tolong padamu untuk memboncengkan dan mengantarkanku sampai ke rumah, melainkan kau sendiri yang menawariku, "Mau membonceng?"

Jadi, saat itu aku merasa tidak sreg dan tidak pantas dipanggil "tebengers" karena aku tidak meminta dibonceng, kecuali ditawarimu. Lagi pula, aku sudah bertekad: tidak akan lagi meminta tolong padam untuk mengantarkanku kecuali kau yang menawarkan sendiri atau sedang dalam kondisi tertentu, sejak kau diam ketika aku memintamu lewat pesan tulisan saat itu.

Sebenarnya, aku memiliki dugaan mengenai alasanmu menawariku tumpangan. Ini karena aku cukup sedikit tahu cara berpikirmu. Bisa jadi, alasanmu menawariku tumpangan adalah untuk menghindari permintaan nebeng dari orang lain yang letak asramanya lebih jauh dibandingkan asramaku. Kau lebih memilih untuk mengantarkanku hingga asramaku yang arahnya berlawanan dengan arah asramamu karena, bagaimanapun juga, jaraknya lebih dekat dan cepat jika dibandingkan mengantarkan orang lain. Betul, kan? Alasanmu berkata "Hey! Ayo, cepat tebengers!" adalah untuk mempercepat percakapanku dengan mereka agar mereka tidak memintamu, kan?

Padahal, ketika kau mengeluarkan motor, mereka sangat gembira, dengan mata berbinar-binar, mengiramu akan mengantarkan salah satu dari mereka. Namun, kau menjawab kau akan mengantarkanku dan hal itu membuat mereka terlihat kecewa. Ah! Kau tidak tahu betapa aku merasa tidak enak pada mereka karena telah egois tak menolak tawaranmu. Akan tetapi, aku juga tidak enak padamu karena dengan mengantarkannya kau akan menunda lebih banyak waktu belajarmu untuk persiapan ujian keesokan harinya.

Ah! Sudahlah! Ini tidak penting!

Apa kau ingat? Ketika kita berdua berputar-putar di sekitar asrama lamaku, hanya untuk menemukan tempat makan yang sama seperti pada saat pertama kali kita makan di sekitar sana. Dua atau tiga kali, kita memutari tempat yang sama. Masuk gang ini keluarnya di gang itu. Memutar ke sana, memutar ke sini dan pada akhirnya kita berdua makan di tempat yang hanya berjarak 100 meter dari asramaku karena di sana ada dia yang juga ingin kau ajak bicara. Krik. Betapa ketersesatan tersebut tak berbuah apa pun karena pada akhirnya kita tidak mendatangi tempat yang ingin didatangi.

Mengapa kita sama-sama memiliki kemampuan navigasi yang buruk? Cukup tidak aman memang menjadi penumpangmu. Namun, entah kenapa ada kenyamanan tersendiri, meskipun pada akhirnya kita tersesat dan sibuk mencari-cari.

Thursday, 15 May 2014

Parfum Sekre

Sejujurnya, awalnya saya tidak tahu siapa yang bertanggung jawab atas aroma khas di dalam ruang kesekretariatan kepanitiaan rutin yang durasinya superpanjang itu. Aroma yang

Wednesday, 7 May 2014

Sore Hari di Margonda Raya

Aku memutuskan untuk melewati jalan yang berbeda pada perjalanan pulang ke kost kali ini. Rutinitas kampus yang selalu saja seperti itu, sejak dua tahun lalu, akhirnya berhasil membuatku jenuh. Terlebih lagi, hari ini banyak sekali kejadian tidak menyenangkan yang terjadi, baik yang berhubungan dengan kegiatan kampus, maupun yang tidak berhubungan dengan apa pun sama sekali. Sepertinya, hari ini aku sedang di puncak periode sensitifku. Setelah sudah berbulan-bulan lamanya aku dapat memanajemen tingkat stresku sendiri, akhirnya kesalku meledak juga karena merasa diperlakukan tidak adil oleh beberapa teman dan orang di kampus: ditinggalkan dan tidak diajak mengerjakan tugas akhir semester bersama oleh teman-teman yang lain.

Ini adalah siang menjelang sore yang begitu gerah. Entah memang karena cuaca hari ini atau karena sulutan suasana hatiku yang tengah berkecamuk oleh kekesalan, tapi aku tidak menyukai hari yang seperti hari ini. Sepanjang perjalanan, kuhabiskan langkahku untuk mengumpati sekian banyak nama orang yang kuanggap telah berkhianat dan terlanjur pelit untuk berbagi ilmu denganku. Kupandangi langit di sebelah Selatan. Perlahan tapi tampak pasti, gumpalan awan mendung terlihat mendekat, memperluas area abu-abunya, menelan awan putih cerah yang baru saja berbagi panas menggigit kepada bumi Kota Depok.

“Oh, jadi mau turun hujan? Mau hujan aja repot! Panas-panas, gerah-gerahan dulu!” gumamku pada diriku sendiri. Aku melihat ke sepanjang tepian jalan Margonda Raya, beberapa pedagang kaki lima, pedagang asongan, penjual koran dan pekerja serabutan lainnya, mulai mencemaskan dagangannya. Seorang pedagang es krim bantal keliling mengerutkan dahi, menengadah, menerawang ke arah langit yang menggelap, lalu mengalihkan pandangannya ke arah dagangannya, tampak menghitung sisa dagangan esnya. Aku menyeringaikan senyum sinis sembari membatin, ‘Aku tahu apa yang kau rasakan, Pak Tua, karena aku juga tengah merasakan kekesalan itu saat ini, terkhianati keadaan.’
Aku memilih untuk mengabaikan orang-orang itu dan kembali menekuni perjalananku yang terasa lebih panjang daripada bisanya. Ah iya! Aku sepertinya salah pilih rute karena sepertinya jarak yang kutempuh kali ini memang lebih jauh daripada jalan biasanya. Alhasil, di sepanjang jalan, aku kembali mengeluh dan melontarkan sesal karena aku memilih rute perjalanan: Gang Senggol – Depok Town Square - Fly Over dan berakhir di Jalan Margonda Raya, yang notabene justru memperjauh jarak pulang ke kost. 'Ah! Mengapa tadi tidak naik bis kuning dan turun di halte Pondok Cina saja? Capek! Bodoh sekali memang aku ini!' batinku

Aku berjalan di sebelah kanan jalan dan tidak peduli jika itu melawan arus, baik kendaraan maupun pejalan kaki lain. Aku hanya ingin cepat-cepat sampai kamar dan merebahkan tubuh lelahku. Di tengah langkah kakiku yang kian memalas, tiba-tiba, dari arah berlawanan aku melihat dua sosok yang sontak menyedot perhatian mataku. Mereka berjalan bergandengan: seorang bapak bertopi kusam dan seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar 6 tahun di gandengan lengan kirinya. Mereka tidak tampak seperti bapak-anak yang baru saja pulang berjalan-jalan dari mall dan akan segera menaiki mobil pribadi atau menghadang angkot.

Si anak kecil berbaju dekil, beralaskan sandal compang-camping yang tidak saling berpasangan karena berbeda warna dan bentuk, sandal kanan dan kiri itu. Dia merangkul erat lengan kiri orang di sisi kanannya, menuntun dengan sabar sosok yang terlihat memiliki kemiripan rupa dengannya, sang bapak yang ternyata telah kehilangan kaki kanannya.

“Hah?” teriakku pelan tanpa sadar. Benar sekali. Kaki kanan sang bapak tidak lagi sempurna. Aku menebak, kaki itu pernah diamputasi hingga hanya menyisakan bagian paha saja.

‘Masya Allah. Betapa si anak begitu menyayangi sang bapak yang terlihat tetap sangat bersemangat, meski tangannya harus bertumpu pada tongkat penyangga buatan tangan, yang terlihat tua dan merapuh, untuk menahan berat badan bagian kanannya,” batinku.

Mereka berjalan perlahan. Sesekali si anak tergoda oleh jajaran benda-benda yang terdapat di dalam pertokoan dan jajanan yang berjajar rapi di tepi jalanan. Namun, tak pernah sampai dia melepas pegangannya dari sang bapak. Ketika mulai mengendur pegangan tangannya, dengan cepat si anak akan kembali mempererat dan memperhatikan langkah sang bapak. Meski penampilan mereka terlihat memperihatinkan, aku tak berani menyimpulkan bahwa mereka tengah meminta-minta, seperti kebanyakan orang yang sering aku temui di tepi kali di samping universitas ungu, tetangga kampusku. Aku pun ragu untuk menyodorkan receh, yang sebenarnya telah cukup lama aku genggam di dalam saku jaket, kepada mereka.

Pada saat mereka berada dalam jarak sekitar sepuluh meter di depanku, tiba-tiba dari belakangku, muncul seorang bapak lain, dengan suara lonceng yang cukup nyaring dan berkelinting menyertainya. Beliau adalah sang bapak penjual es krim bantal yang kutemui sebelumnya. Dalam waktu sekejarp, dia telah mendahuluiku. Dengan gesitnya, beliau menarik gerobak mungil yang tampak seperti bekas troli beras yang digunakan di pasar-pasar tradisional ini. Tiba-tiba, tanpa sebab yang pasti, aku ingin mengejar si bapak es krim bantal. Aku hanya ingin tahu apa yang membuatnya melangkahkan kaki secepat itu. Namun, pada akhirnya, aku mengurungkan niat itu dan lantas kembali berjalan dengan kecepatan malas seperti semula. Aku putuskan untuk mengalihkan pandangan pada sebuah toko hijab di sebelah kananku.

Sesaat kemudian, tepat sekali ketika aku meluruskan kembali pandangan aku ke depan, aku tersentak dengan sebuah pemandangan yang sangat indah. Sang bapak penjual es krim tiba-tiba berhenti, setelah melewati si anak kecil bersandal compang-camping dan bapak bertopi kusam. Beliau menarik balik gerobak troli mininya ke arah mereka berdua dan memanggil si anak kecil dengan lambaian yang hangat.

Si anak kecil hanya menengok, tanpa menghentikan langakahnya. Tidak menyerah, si bapak penjual es krim bantal memanggilnya lagi. Kali kedua ini, si anak kecil merespon lantas berbalik menemui sang bapak penjual es krim, melepaskan pegangan tangannya dari bapaknya.

“Ada apa, Kek?” tanya si anak kecil.

“Kamu haus nggak, nak?” tanya balik si bapak penjual es krim bantal.

Anak kecil itu hanya terdiam. Wajahnya mengisyaratkan kebingungan dan prediksi akan kemungkinan-kemungkinan. Dia melihat si bapak penjual es krim bantal, dari ujung topi hingga ujung sandal jepitnya. Matanya berkeliling ke setiap inchi benda yang melekat pada tubuh si bapak, hingga akhirnya tatapannya berhenti ke arah sebuah box yang terpasang rapi di atas troli.

Akhirnya si anak kecil mengerti apa maksud pertanyaan si bapak penjual es krim. Dengan penuh semangat dia berteriak sambil lompat-lompat di tempat, “Iya! Haus! Haus! Haus!”

Si bapak penjual es krim tersenyum. Ditariknya troli mendekat kepadanya dan dari dalam box pendingin, yang tak kalah compang-camping dan dipenuhi bekas tempelan stiker nama dagangan esnya, dikeluarkannya dua bungkus es krim bantal. Beliau berikan es krim-es krim itu kepada si anak dan sang bapak bertopi. Si anak memilih es yang berwarna pink sedangkan sang bapak bertopi menerima es yang berwarna putih dari si bapak penjual es krim.

Lalu dengan sebuah isyarat kecil --mengayunkan tangannya yang memegang es krim ke arah bepak penjual es krim, mereka berdua pun berlalu, kembali menyusuri jejalanan Margonda Raya. Si bapak penjual es krim membalasnya dengan lambaian singkat dan senyuman serupa pisang, lantas kembali menarik gerobak trolinya.

Aku berhenti sekitar dua atau tiga detik untuk menyaksikan bagaimana interaksi dan sosialiasi antarmanusia ini terjadi. Mereka, dua pihak tidak saling mengenal satu sama lain, tetap mampu berbagi satu sama lain, bersemangat di tengah terikn panas dan mendungnya Depok Raya. Aku? Baru berjalan dari FKM UI ke tempat kost saja sudah mengeluh. Jangankan dengan sambil berbagi dan membantu orang lain, sempat terlintas pikiran untuk berbagi pun terkadang tidak.

Bapak-bapak dan anak ini jauh lebih mengerti cara memaknai hidup dibandingkan aku. Mereka yang kemungkinan sama-sama diliputi keterbatasan dan kekurangberadaan, mereka yang berjuang dari pagi hingga senja untuk mampu bertahan hidup, mereka yang masih tetap mau menyapa dan membantu orang lain meski sedang dalam ketergesaan mengejar pekerjaan, mereka yang benar-benar tahu arti hidup dan mensyukuri nikmat dari-Nya, Masya Allah.

*****
Pasca menyaksikan peristiwa indah itu, aku pun merenung, ‘Andai aku mampu untuk lebih menundukkan kepala dan hati sedikit saja, memahami keramaian di sekitar yang lebih problematik, aku pasti akan berpikir puluhan kali untuk berkeluh kesah, untuk mudah menyerah, untuk berkata bahwa aku tidak bisa, untuk menyalahkan orang lain alih-alih memperbaiki diri sendiri dan untuk lelah menyapa manusia. Aku manusia beruntung, memiliki apa yang aku miliki saat ini hingga mengenyam bangku kuliah pun bukan sebuah kemustahilan. Namun, aku masih kurang tahu diuntung, kurang menyadari dan mensyukuri apa yang telah kumiliki dan kudapati, bahkan terkadang tak puas hati lah yang aku curahkan untuk nikmat-nikmat yang telah hadir ini.’

Secara ajaib, hilanglah semua kekesalan yang kudapatkan dari kampus. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk menyelesaikan sendiri tugas akhir semesterku dengan meminimalisasi kebergantunganku pada teman-temanku yang lain. Berbagi dalam hal kebaikan, tidak sebaiknya melibatkan keterpaksaan dan kekesalan. 

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...