Ini adalah cerita fiksi tentang teman-teman sekelas terakhir saya ketika SMA, kelas XII IPA 1. Saya meng-copy-paste-nya tanpa pengubahan dari dokumen aslinya. Cerita ini juga ditampilkan di dalam album kenangan kelas. Pemilihan tema didasarkan pada hal yang sedang panas-panasnya terjadi ketika kelas XII saat itu.
Sebetulnya, cerita ini tidak sengaja dipilih. Sebagian besar teman saya tidak terlalu memikirkan perihal album kenangan ini. Mereka terlalu sibuk melakukan persiapan menghadapi Ujian Nasional (UN) dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan materi album kenangan. Ndilalah, beberapa saat sebelum UN, saya sempat menulis sebuah catatan FB, yang isinya adalah tentang lika-liku cinta fiksi dari seluruh anak sekelas saya. Karena sudah dikejar-kejar dateline pemotretan dan ancaman dari si fotografer, yaitu tidak akan melayani pemotretan jika tidak sesuai dateline tersebut, akhirnya, tanpa pikir panjang dipilihlah catatan FB tersebut sebagai materi cerita dan pedoman menentukan kostum serta lattar foto.
Berdasarkan cerita, yang ternyata ditulis dengan topik dan alur yang sangat tidak jelas, diputuskan sebuah tempat yang diyakini cocok untuk menjadi tempat pemotretan. Braja. Letaknya, jika tidak salah di Petanahan, tidak jauh dari rumah Hari, salah satu anak XII IPA 1 juga. Kostum yang dipilih adalah kebaya dan beberapa atribut yang disesuaikan dengan penokohan setiap tokoh. Karena saya yang membuat cerita itu, mereka mempercayai saya untuk mengatur urusan: kostum, pembagian peran, dan penentuan pose ketika pemotretan. Saya bak sutradara dadakan saat itu.
Awalnya, hampir seluruh anak keberatan dengan ide kostum kebaya yang saya sampaikan. Namun, akhirnya mereka menyetujuinya. Dalam satu hari, para anak perempuan telah berhasil memperoleh kostum sesuai dengan yang saya jelaskan kepada mereka, meskipun tidak semuanya. Saya, sebagai dalang dari plot tidak jelas ini, pun bertanggung jawab untuk menyediakan tiga setel kebaya bagi mereka yang belum memperoleh kostum.
Kami menggunakan sebuah minibus atau colt untuk mencapai Braja, lokasi pemotretan. Kami berganti kostum di tempat. Ketika mereka berganti kostum, saya berputar-putar di lokasi, mencari spot yang tepat untuk dijadikan lokasi setiap scene sesuai cerita ini.
Hingga sekarang, saya kurang tahu apa sebetulnya Braja ini. Sepertinya, Braja merupakan bekas kompleks gedung kelurahan kecil pada zaman dahulu. Ada sebuah rumah tua mirip joglo dengan teras yang luas di depannya. Sepertinya ini adalah bangunan utamanya. Di tengah teras, ada sebuah meja kuno panjang yang sepertinya melekat dengan lantai karena dulu saya tidak kuat untuk menggesarnya. Selain itu, di teras tersebut, ada sebuah kursi panjang berlengan yang mengahadap ke halaman pekarangan di depannya. Di halaman pekarangan, terdapat sebuah gardu terbuka yang di samping kanan kirinya ditumbuhi bunga-bungaan, jika tidak salah bunga sepatu. Di pekarangan samping kanan, berdiri reruntuhan bekas bangunan yang menyisakan sebuah dinding dengan dua lubang pintu yang berjeruji bambu. Di samping kiri bangunan utama, ada sebuah sumur tua lengkap dengan timba dan sebuah padasan (tempat wudhu) dan bak cuci kaki di sekitarnya. Sumur ini dibingkai oleh dinding lembap berlumut setinggi beberapa sentimeter di atas kepala saya, mungkin sekitar 160an sentimeter. Di beberapa titik lain, ada perkebunan bambu yang tidak terlalu rimbun, tapi terlihat rindang. Saya sangat menyukai lokasi tersebut, sangat cocok dengan cerita ini.
Sayangnya, pada saat pemotretan tiga teman kami tidak ikut. Mereka adalah Fazri, Syifa, dan Putri. Syifa dan Putri saat itu masih di Amerika, masih mengikuti program AFS. Kalau Fazri, sepertinya dia memang punya alasannya sendiri untu tidak ikut.
Pemotretan pun berlangsung damai dan lancar, sesuai dengan alur cerita yang saya buat, seperti di bawah ini.
Auriga
Amarilis Ltd. dengan was-was dan harap-harap cemas, mempersembahkan:
THE WORLD OF MATRIX
Starring:
* Puput Y Giza*
* Barkah Y Titi*
*Mie Shil Y Yanto*
*Miftah Hood YDakresnia*
*Aris-san Gozaimasu Y Ria*
*Ari-Sonde Y Ã (.....putri seberang)*
*Jendra Sujendra Y Widya Chichuouwouwo*
*ADeRa Y FajaridamY Defita*
*Sanda Y Asep Y Septi Y Alfi*
*Harry Muter YAdeel Khan *
*Mr. Ijod Y Vesta*
*Mr. Yugo Y Alinda*
*Defita Y Sukono-san*
*Timo-Cheon Y Rif Khan*
*Duo Spy (Spy Wien Y Spy LeLee)*
* DeokNOP Y Wah2*
* Ardian Y Annis*
*
Peti Y Amelia *
*Ani Wagujayanti Y Tori Utami*
P.s. Nama-nama tokoh dalam cerita ini memang sengaja disamarkan dan dibuat alay untuk membuat pembaca dan tokoh-tokoh itu sendiri berpikir ketika membacanya. Terima kasih.
Prolog dulu, euy......
Suatu hari Ratu "Bunda"
Sulastri, sang penguasa dunia Asal-ana, murka kepada dewi Peti dan dewia (iki makhluk ora jelas dewi apa dewa) Amelia. Mereka berdua --yang sebenarnya
terlibat cinta terlarang-- telah datang ke tempat terlarang --hutan terlarang--
dan melakukan perbuatan terlarang yang paling dilarang, yaitu me-larang-kan
cinta di bumi. Mahalnya harga cinta, membuat bumi porak-poranda (pejabat padha kerah, rakyat cilik padha
sulaya, bebek padha poligami, dene sinetron cinta-cintaan padha gulung klasa.
Terektek..tek..tek). Parahnya, belum ada penangkal untuk kutukan ini,
bahkan sang ratu pun angkat batu.
Atas saran Adeel Khan --calon penerus Bunda Ratu, karena telah ditunangkan
dengan Pangeran Harry Muter-- Peti
dan Amelia pun dihukum dan dicemplungna meng Lubang Semut.
*****
Beralikkhhh ke bumi... (masuk dongeng!)
Di
sebuah negeri nan panas, berrakyat kompleks (dari yang datar hingga mlengkung-mlengkung ora pacul) dan
beratmosfer geseng-geseng memabukkan (khas
wong arep ujian), bernama MATHRIKHHS,
hiduplah 39 juta (kali 10 pangkat min 6)
rakyat yang hidup tenteram, cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
Tersebutlah (siap-siap, hikayate labuh)
Kaisar Benzena Alam Barkah
berdamping Ratu MenCheng Larastiti (cuit cuit, ichi ichi, plok plok plok, cie
cie cie, priiiiiiit!) yang mempunyai seorang anak bernama Pangeran Puput Prek-prekkan (bocahe ora iso meneng, asli!!!).

Suatu
hari kekacauan terjadi saat pelajaran kimia kerajaan. Raja Barkah dan Ratu Titi
yang duduk berdampingan di bangku nomor 3, tiba-tiba berpisah dan saling
menjauh. Ratu mendekati dayang Defita
Sejuta Cerita, sedangkan Raja memilih duduk dengan hulubalang Ari-Sonde yang tengah melamunkan kekasihnya
di benua seberang yang penuh “Ice”. Hal itu membuat bingung perdana menteri
single seumur hidup yang memang selalu bingung, Ani Wagujayanti.
Usut punyane usut, akhirnya Ani pun tahu bahwa dewi Peti
dan Amelialah biang kerok-nya (pantes
pijitanne mereka enak, euy) dan menyuruh Panglima Fajaridam, Jenderal Timo-Cheon dan Jenderal Jendra Sujendra
untuk mencari penangkal kutukan.
Namun,
kutukan itu sudah menyebar. Rakyat MATHRIKHHS, seperti duo dangkal (Yanto & Aris-san), duo
peng-"rajin" (Sukono-san &
Miftah Hood), trio perhatian (Tori
Utami, Wah2 & deokNOP), dan duo vocal grup (Alfi & Srandal, eh Sanda) terlanjur malas mencari cinta
yang mahal dan lebih menggilai kitab-kitab pusaka (menu UAN, gitu).
Seribu
satu hari berlalu (meski soal 1001-ne
durung kegarap kabeh), Peti dan Amelia lolos dari lubang semut jagaan Dakresnia yang sedang frustasi, karena
tak juga menemukan cintanya, Miftah Hood,
yang hilang tiba-tiba saat "berjalan di tepi pantai". (belum
tau aja dia kalo Miftah sebenernya lagi nyariin kekasih lamanya, Rif Khan).
Saat
tahu bahwa duo dewi jahat sudah bebas, Widya
si aktivis pembuat bom, nenek sihir Alinda, dan Ratu "lirikan ora nguati" Lie_Sol, sangat gembira lalu
mengadakan upacara penyambutan bagi duo dewi itu. Mereka menunjuk Tori Utami sebagai pengisi pengajian
serta Mr. Ijod dan Mr. Yugo sebagai
pengawal pribadi Ratu Lie_Sol dan nenek sihir Alinda. Jodi dan Martyn malah diam-diam menaruh
perhatian lebih pada majikan mereka. ( cuit,
cuit, wek, wek, kukuruyuk).
Agen
Spy LeLee dan Spy Wien, duo mata-mata cerdik nan kalemik lagi serasi yang
mengetahui hal itu, langsung lapor ke jenderal
hitam manis kecap asin, Asep, yang olehnya lalu dilanjutkan ke Raja. Karena
Raja dan Ratu masih saling diam, Asep
malah dikacangin. Akhirnya, dayang ADeRa
dan dayang Rif Khan lah yang
mewakilkan. Kedekatan mereka berdua dengan Jenderal
Asep bikin cemburu Septi sehingga,
frekuensi latahnya (Septi: EH MONYET, MONYET, MONYET!! EH MONYET!!!) tak
terkendali.
-------oo0oo-------
Di
sela kekacauan dunia tanpa cinta, Yanto
si master pisika malah melihat ketulusan cinta seseorang yang justru tak pernah
mengejar-ngejarnya (cara-carane Yanto
akeh ingkang ngefans, terektek..tek..tek..). Dia lah Mie Shil yang anggun (padahal
jane ya ora pacul kelakuane, haha). Karena Yanto sudah punya tambatan hati, para fans Yanto yang kebanyakan anak cewek pun kecewa. Rombongan yang
dipelopori Alfi dan Sanda ini
beralih mengejar-ngejar Aris-san, diikuti
para fans lain yaitu Wah2,
DeokNOP, dan Ria. Aris-san pun
menggila, lalu menyuruh Baron Ardian
mengusir mereka. Hal itu malah membuat Baron
yang juga pinter pisika, ikut digilai mantan fans Yanto. Istri Baron, Annis
gething jealous dan menghujaninya
dengan cubitan superperih yang membuat Ria,
adik tiri Annis, ngeri saat melihat KDRT tersebut.

Dengan mempelajari kasus jatuh
cintanya Yanto Y Mie Shil, seorang filsuf wanita --yang juga mantan fans Yanto-- berkesimpulan bahwa kutukan ini
dapat dipatahkan hanya oleh cinta yang tulus, lus, lus. (Tuluskah hatimu mencintai aku... tirukan gaya Ian Kasela). Filsuf
berjasa itu adalah Giza yang tinggal
di sebuah "gubug" di pertigaan kolopaking. Panglima Fajaridam, Jenderal Timo-Cheon, dan Jenderal Jendra Sujendra lah yang menemukannya yang langsung
diusungnya ke istana.
-------oo0oo-------
Di Istana MATHRIKHHS.....
Wanita enerjik ini betul-betul
bikin Pangeran Puput mabuk judi, eh
mabuk kepayang and fall in love at the
firstsight. Itu semua akibat jurus cinta tulus dari Giza. (Waw teori Giza
terbukti, ichi ichi ichi, cuit cuit, cie cie, ngok ngok). Bahkan, Raja
Barkah dan Ratu Titi rukun kembali.
Tiba-tiba, Ratu mendapat ide
yang menurutnya dahsyat, bombastik, fantastik, dan wagutik untuk mempersatukan
kembali ke-39 (kali 10 pangkat min 6) rakyatnya dalam damai dan cinta. Segera,
ia panggil kawan lamanya saat di SMA, Dakresnia
dan Mie Shil, dan mereka tergabung
dalam “Trio Ora Pacul spesialis Kol Jurusan Ngetan” (author ngarang). Aksi ora pacul mereka adalah menjodohkan satu
orang dengan orang lain semuanya tanpa kecuali, meski harus ada pilogami di
antaranya (SADIS! Maklum, jumlah putranya
kan minus). Usaha itu mandan berdampak baik, meski lebih menimbulkan banyak
ke-amburadul-an. Istana pun jadi kacau.

Di antara mereka ada Sukono-san putra jepang (ding, putra Sruweng!) yang mukanya
memerah setiap bertemu dayang Defita
Seribu Cerita dan hal itu sukses membuat geram Panglima Fajaridam (secara tuh dayang kan kekasih gelapnya, hehe).
Lain halnya dengan Jenderal Asep
yang justru berhasil meyakinkan Septi
bahwa ia tak pernah selingkuh dengan mantan istri-istrinya, Sanda, Alfi atau beruang (????). Sedangkan
Aris-san dan Ria entah kenapa mereka jadi semakin dekat gitu (padahal dipaksa author). Ada juga, Rif Khan dan Timo-Cheon yang masih sama-sama malu-malu kucing (btw, tuh kucing meresahkan penghuni ruang
MATRIX kapan mau minggatnya ya???). Di depan meja pengadilan (baca: meja guru), DeokNop dan Wah2
tak pernah lelah memperdebatkan soal pisika nomor 13 sejak jaman Jepang (Aneh!! mereka tak mempan dijodohkan). Baron dan Annis pun tak mau kalah, bahkan mereka dinobatkan sebagai pasangan
paling harmonis abad ini (yang nobatin
tuh kucing penunggu kelas yang tadi). Sedangkan Spy Lelee dan Spy Wien (yang kata author mandan mirip) akhirnya
dapat pensiun dari pekerjaan memata-matai Widya,
nenek Sihir Alinda dan Ratu Lie_Sol (btw, gimana nasib mereka betiga?) dan memulai hidup baru
masing-masing.

Di balik kebahagiaan rakyat MATHRIKHHS, berdiri melongolah Widya, nenek Sihir Alinda dan Ratu Lie_Sol
di depan gerbang istana MATHRIKHHS. Dasar
sial! Cita-cita mereka untuk menyerang kerajaan
itu di saat lemah, kandas di tengah jalan. Apalagi si duo dewi (Peti dan
Amelia) menolak membantu mereka karena ingin berbulan madu ke Karangpoh
(?????). Meranalah itu tiga anak orang. Namun, mereka terhibur (kecuali Widya
karena dia keburu bunuh diri dengan pdkt pada buku fisika, kimia, biologi dan
matik. Insyaf maksude!!!) karena Mr.
Ijod dan Mr. Yugo bersedia
mendampingi mereka hingga akhir zaman (ceileeee....
si antagonis pun akhrnya jatuh cinta).
Mengingat usia yang sudah
uzur, Raja turun tahta dan digantikan oleh Pangeran
Puput Prek-prekkan yang berpermaisurikan Giza. Raja dan Ratu hidup bahagia selamanya, ditemani dayang ADeRa yang lemah lembut, perdana
menteri Ani Wagujayanti yang selalu
bingung, dan Mamah Tori Utami yang
alim-iah (penggantinya Mamah Dedeh, hehe).
Pangeran Puput, eh maksudnya Raja
baru Puput yang masih muda (dipanggilnya aja
dede puput! Tapi boong!) dan katanya modern akhirnya mengubah nama kerajaan
dari MATHRIKHHS menjadi MATRIX, biar lebih modern. Tak
ketinggalan embel-embel on FIRE di
belakangnya sebagai perlambang kerajaan yang beratmosfer panas dan geseng.
*Rampungi lah!!! Wis dawa!!!*
-------oo0oo-------
Di pesawat
Garuda boeing 777....
“Syif! Syif! Bangun!! Eh, kamu
udah merem selama 17 jam lho, tuh sampai kurusan badannya!(???) Lagian udah mau
sampai Indonesia nih!” teriak Putri membangunkan seisi pesawat. Syifa pun
bangun dan ngusap-ngusap pipi (kira-kira
ada apanya ya, kok diusap-usap?)
“Syif, kok kamu senyam-senyum
sih tidure, mimpi apa hayoo? Mimpiin aku ya? (masih aja ngga berubah sifat narsisnya, hehe),” tanya putri lagi.
“Aku mimpiin temen-temen kita
di SMANSA. Gila! Kayaknya mereka tambah gendheng gitu gara-gara ditinggal kita.
Masa mereka pada saling jodoh-jodohan kayak orang ngga jelas gitu!” jelas Syifa.
“Kok mimpi kita sama?????” teriak
Putri lagi mengagetkan pilot dan membuat oleng pesawat selama beberapa saat.
Sekarang seluruh penumpang (tidak
termasuk pilot dan co-pilot), bersiap menimpuknya dengan bantal.
“JANGAN-JANGAN...............!!!”
teriak Putri dan Syifa bersamaan, lalu bantal-bantal pun berterbangan kapada
mereka.
*****
Sesuai dugaan awal saya, sebagian besar teman saya tidak puas dengan hasil foto tersebut. Banyak yang bilang: hasilnya tidak bagus, suasanya terlalu gelap, pembagian orang tidak merata, kostumnya sama dengan kelas lain, editing yang dilakukan oleh pihak pembuat album kenangan tidak bagus, dll. Saya merasa tidak enak, sudah pasti, karena sayalah yang mengatur ini dari awal hingga akhir. Meskipun untuk urusan pemilihan angle dan perfotoan saya tidak bisa berbuat banyak, tapi untuk urusan persiapan dan pembuatan cerita, seharusnya saya dapat lebih maksimal. Saya pun hanya diam atau pura-pura hilang, ketika mereka berkomentar tentang foto-foto itu.
Sebenarnya, mereka tidak betul-betul setidak puas itu. Hanya saja, jika saja hasilnya lebih baik dari apa yang ada di hadapan kami saat itu, ini akan membuat foto kenangan terakhir ketika SMA kami lebih sempurna. Pada akhirnya, satu orang dari mereka menyampaikan ucapan terima kasih kepada saya. Ia sengaja menemui saya yang sedang menyembunyikan diri di depan kelas tetangga dan mengucapkan ini, "Udah, An, nggak usah terlalu dipikirin hasil fotonya. Udah syukur, ada yang mau ngurusin album kenangan ini. Ya kamu tahu lah, kita lagi sibuk sama UN, UM, dan lain-lain, nggak kepikiran malah sama album kenangan ini. Makasih banget loh ya, An. Udah jangan depresi gitu."
Saya sangat terharu. Itu adalah pertama dan terakhir kalinya saya dan ia berbicara hanya berdua. Ia merupakan salah satu orang populer di angkatan saya. Saya sangat senang dihibur olehnya saat itu. Air mata saya hampir tumpah dan tentu saya tahan mati-matian. Setelah mendengar perkataannya, saya pun lebih bersemangat dan tidak terlalu memikirkan kekuranganbagusan foto-foto album kenangan SMA ini.
Setidaknya, kami memiliki foto bersama yang indah... MATRIXERs. Yah, jujur saya merindukan mereka. Namun, saya tidak tahu harus berbuat apa jika bertemu dengan seluruh dari mereka. Hehe.
*****
MATRIX on FIRE
Setelah berpanjang lebar saya bercerita tentang prosesi pembuatan album kenangan, di bagian ini saya akan sedikit sekali bercerita tentang kelas saya beserta anggotanya, yaitu teman-teman sekelas saya.
Matrix on Fire, itulah nama kelas kami.
Kami tidak cukup pusing dalam mencari nama untuk kelas baru kami, pada saat baru naik ke kelas XII, kelas XII IPA 1 tepatnya. Sudah menjadi tradisi turun temurun, sejak lima tahun sebelumnya, nama Matrix akan disandangkan pada kelas XII IPA 1, meskipun tahun ajaran berganti, meskipun bentuk bangunan dan aturan sekolah kami, SMAN 1 Kebumen (SMANSA), juga ikut berganti. Matrix merupakan kependekan dari "Main Alliance of Three Exact 1". Tahun-tahun sebelumnya, sebutan untuk kelas XII di SMANSA memang masih kelas 3. Baru pada sekitar tahun 2007, aturan baru sekolah mengubah nama sapaan kelas, dari 3 menjadi XII.
Meskipun nama kelas sudah ada, tetapi kami masih membutuhkan embel-embel untuk mengekori nama Matrix tersebut. Setelah berhari-hari berkutat dengan beberapa nama, akhirnya pada saat mempersiapkan dekorasi ruangan untuk lomba kebersihan kelas, Dede, mantan ketua kelas sebelumnya (saat di kelas XI IPA 1) mengusulkan suatu frasa kata, On Fire. Alasan pertama: Dia menyukai Naruto. Alasan kedua: Di Naruto, Fire atau Api melambangkan semangat membara yang tak mudah padam, seperti Konoha (seingat saya, dia bilangnya seperti itu). Dia berharap, kami sekelas, yang tengah berada di tingkat akhir SMA dan akan segera menghadapi banyak sekali ujian, dapat bersemangat hingga mencapai tujuan kami masing-masing. Mulia sekali harapan Dede ini. Mulai detik itu juga, anak sekelas setuju untuk menambahkan embel-embel On Fire pada nama kelas kami.
Matrix on Fire merupakan Matrix generasi ke-6 di SMANSA. Kelas kami terdiri dari 39 orang: 15 orang putra dan 24 orang putri. Dari 39 orang tersebut, ada cukup banyak anak yang sudah cukup lama kenal dan berasal dari kelas yang sama. Bahkan, ada yang sudah sekelas sejak SMP. Sebagian besar anak XII IPA 1 berasal dari kelas XI IPA 1, dan sebagian besar anak dari XI IPA 1 berasal dari kelas XI. Artinya, ada beberapa anak XII IPA 1 yang sekelas selama 3 tahun berturut-turut.
Iseng dan penasaran, saya jadi ingin mengingat-ingat riwayat kelas masing-masing anggotanya.
#Daftar nama anak Matrix yang sekelas selama 3 tahun
(Brownies X 1, Metana XI IPA 1, Matrix XII IPA 1)
- Adinda Putri Larastiti (Dinda) - UNDIP
- Aditya Ferry Ardianto (Ferry) - ITB
- Alinda Tami Pritanti (Tami) - STAN
- Anifatun Mu'asyaroh (Ani) - UI
- Ardi Subarkah (Dede) - STAN
- Ari Gunawan (Ari) - ITB
- Aris Tristianto Wibowo (Aris) - ITB
- Defita (Defita) - ITB
- Fajir Adhi Hartanto (Fajar) - STAN
- Geniza Gilda (Gilda) - UNDIP
- Huge Djendra Yuningrat (Huge) - STAN
- Laeli Nur Maeni (Leli) - UI
- Ratna Prabawati Nopiutami (Nopi) - UNS
- Solihatun (Solie) - ITB
- Timothy Ricardo (Rico) - UKDW
- Wahyu Wijayanti (Wahyu) - UI
#Daftar riwayat kelas anak Matrix yang tidak sekelas selam 3 tahun
(kehidupan SMA lebih berwarna, heuheu)
- Adil Itsmi Isnaini (Alfi): X.4; XI IPA 2 - *UII*
- Akhmad Miftahuddin Fazri (Fazri): X.5; XI IPA 1 - UNS
- Alfi Khoiriyah (Alfi): X.3; XI IPA 1 - Poltekes Semarang
- Annisa Dewi Ratnanigtyas (Dewi): X.2; XI IPA 4 - UNSOED
- Annissa Cahya Dewi Utami (Nisa): X.5; XI IPA 2 - UNPAD
- Ardian Dwi Prakoso (Ardian): X.5; XI IPA 1 - ITB
- Asep Budi Hermawan (Asep): X.5; XI IPA 1 - Work
- Dyah Ayu Kresnianingrum (Ayu): X.3; XI IPA 1 - UNDIP
- Hari Purwito (Hari): X.7*; XI IPA 3 - UI
- Jodi Setiyawan (Jodi): X.5; XI IPA 3 -UI
- Lia Rizqa Amelia Mahmud (Amel): X.2; XI IPA 1 - UI
- Martyn Suprayugo (Martyn): X.2; XI IPA 1 - UI
- Pety Refiyanti (Pety): X.2; XI IPA 1 - UNS
- Reza Saputra (Reza): X.nggak tahu; XI IPA 4 - STAN
- Ria Resti Agustina (Ria): X.nggak tahu; XI IPA 2 - UI
- Rifngatul Khasanah (Rif): X.nggak tahu; XI IPA 2 - UNDIP
- Rizky Berliana Wijayanti (Rizky): X.3; XI IPA 2- UGM
- Sanda Puspa Rini (Sanda): X.3; XI IPA 1 - UNS
- Septi Setiarti (Septi): X.5; XI IPA 1 - STAN
- Sukono (Sukono): X.5; XI IPA 3 - ITB
- Tri Utami (Mbak Ii): X.4; XI IPA 1 - UNS
- Widya Ardiani (Widya): X.3; XI IPA 1 - UI
- Winantu Wahyu Pamuji (Wiwin): X.nggak tahu; XI IPA 4 - STAN
#Rekapitulasi PT Anak MATRIX on FIRE
- UNDIP : 4 orang
- ITB : 7 orang
- STAN : 7 orang
- UI : 9 orang
- UNS : 5 orang
- UKDW : 1 orang
- UII : 1 orang
- Poltekes : 1 orang
- UNSOED: 1 orang
- UNPAD : 1 orang
- UGM : 1 orang
- Work : 1 orang
#Chairmate Couple
- Dinda - Defita
- Ferry - Aris (3 tahun)
- Tami - Solie
- Ani - Laeli (3 tahun)
- Dede - Ari (3 tahun)
- Fajar - Rico (3 tahun)
- Gilda - Mbak Ii
- Huge - Ardian
- Nopi - Wahyu
- Adil - Rizky
- Fazri - Asep (2 tahun)
- Alfi - Sanda (2 tahun)
- Dewi - Rif
- Nisa - Ria
- Ayu - Widya (3 tahun)
- Hari - Sukono
- Jodi - Martyn
- Ame - Pety
- Reza - Wiwin
- Septi
*baru ngeh, duduknya bareng sama yang di kelas sebelumnya sekelas, ya iya sih*
Ketua kelas kami Reza Saputra. Ia dibantu oleh Pety sebagai bendahara. Sedangkan, untuk jabatan perangkat-perangkat kelas yang lain, saya sudah lupa. Wali kelas kami saat itu adalah Ibu Sulastri, guru Biologi kelas XII IPA. Beliau merupakan sosok guru yang penyayang dan selalu bersemangat. Meskipun beliau tidak hafal nami kami satu per satu, tetapi beliau tidak pernah memberikan perlakuan yang berbeda. Ketika pengambilan rapor, beliau juga banyak berbincang dengan para pengambil rapor, menyampaikan kondisi kami satu per satu. Bu Lastri, begitu kami memanggilnya, memiliki
pronounciation yang unik dan khas, yang tidak akan pernah saya lupakan. Beliau memutuskan untuk tetap mengajar, meskipun seharusnya sekarang beliau sudah pensiun. Saya bersyukur, saya memiliki wali kelas seperti beliau. Sebetulnya, tidak hanya beliau, di dua kelas sebelumnya, saya juga memiliki wali kelas yang hebat dan penyayang.
Sekolah ini memang memiliki guru-guru yang baik dan unik, yang tidak mungkin saya lupakan. Tidak hanya gurunya, semua warga dan kebiasaannya pun menarik dan
memorable. Masa SMA, sepertinya memang masa yang paling memungkinkan seseorang untuk mengukir banyak kenangan.
Jika ada seseorang yang bilang masa SMA memiliki warna merah muda, maka menurut saya masa SMA memiliki warna pelangi. Merah muda hanya untuk orang yang sedang jatuh cinta. Ketika SMA, saya tidak hanya merasakan jatuh cinta. Langit-langit bangunannya tidak melulu berwarna merah muda yang bersemu malu-malu. Terkadang lantai yang saya injak memerah darah, membuat saya ingin menginjaknya semakin keras dan sering. Jendelanya lebih sering berwarna hijau atau abu-abu, mempersilahkan rerimbunan daun atau mendung mengintip kami yang tengah berkutat dengan ilmu atau justru terkantuk. Saya terkadang melihat kilatan kuning atau jingga cerah yang berasal dari rona-rona bahagia penghuni kelas lain. Atau biru yang damai dan membuat semua orang bersemangat untuk berlarian di bawah atap langit yang telanjang. Hitam, ungu, tosca, magenta, nila...semua warna ada, ketika SMA.
KAMI
 |
| ADIL - DINDA - FERRY - ALFI |
 |
| TAMI - ANI - DEWI - NISA |
 |
| DEDE - ARDIAN - ARI - ARIS |
 |
| ASEP - DEFITA - AYU - FAJAR |
 |
| GILDA - HARI - HUGE - JODI |
 |
| LAELI - AMEL - MARTYN - PETY |
 |
| NOPI - REZA - RIA - RIF |
 |
| RIZKY - SANDA - SEPTI - SOLIE |
 |
| SUKONO - RICO - MBAK II - WAHYU |