Rizki Berliana Wijayanti (Teknik Kimia UGM, 2010, teman sekelas Matrix 12 IPA 1 SMANSA Kebumen), said that Ani is.....
Ratu penguasa beranda lor dan beranda kidul ini orangnya aneh. Sering ngomong yang gak jelas gitu, terus kalo ditanya ” Hah? Ngomong apa kowe An?” dia cuma jawab ” Oh ora, ora, ora, ora papa,he” sambil clingak-clinguk. Tapi walaupun aneh, dia pinter banget bikin kata-kata yanggg aduhaiii, jago bikin cerpen juga. Tegok sono facebooknya, notesnya ada 170an. Mantep gak tuhhh... Dia tie orang yan susah mengungkapkan isi hatinya secara langsung, jadi dia lebih suka bikin notes gaje. Dia juga jago nggambar, terus juga punya sense of music gitu. Multitalent yaa...hahaha. Dia ngefans sama Vita Marissa, kita sering gila-gilaan bareng, aku jadi Butetnya (hoek!hoek!kasian amat kak Butet) dia jadi Vita. Dia paling asik buat diajak sms-an, gak kelar-kelar deh...ada aja yang di bahas. Semoga karya-karyanya akan semakin bagus kedepannya, amiinnn.....
Ini tentang melukiskan dunia dalam kata; tentang aku dan jejalanan yang akan atau telah aku lewati; tentang Kawan yang lebih berwarna dibandingkan pelangi; tentang ramainya penjelajah ilmu yang selalu haus memecahkan teka-teki; tentang cinta yang tak kan pernah henti meski listrik mati; dan tentang aku yang masih mencari jati diri. Aku menulis... untuk mempertahankan memoriku hidup lama, jauh lebih lama dari aku menempuhi hidup ini.
Friday, 23 December 2011
Thursday, 15 December 2011
Contoh Komentar Pedas Saya
Assalamu'alaykum...
yeah, seperti biasanya saya tidak berharap posting-an ini direspon, tapi sepertinya betul kata Widya, mungkin sebaiknya kita mulai ketemuan membicarakan dan latihan persembahan. Jangan dilihat dari besar kecilnya tugas ini, dari penting tidak pentingnya persembahan ini, sebab saya kira persembahan ini sengaja diadakan pasti dengan tujuan: mempersatukan tiap anggota kek, apa kek... Bisa saja ini dianggap sebagai jembatan pembentuk kesatuan tiap angkatan, ketemu bareng, latian bareng, interaksi, ada feed-ada feedback. Membiasakan kita bekerja sama terutama demi menyongsong tugas lain yang lebih berat dan mulia (preeeet), semisal: KCE, bimbel, dll. Kalau kita membiasakan merespon cepat terhadap hal sekecil apa pun, maka itu pun akan terjadi terhadap hal besar sekali pun. Ya wis sih, kasihan yang bikin naskah, dikomentari kek, direspon, ditanggapi, sesibuk apa pun kita, kayaknya lebih sibuk presiden. Hnn, tidak bermaksud membandingkan, tapi angkatan atas merespon persembahan ini dengan antusias, bukan ingin menang, bukan ingin ngeksis ria, tapi memang ini adalah sarana berkumpul, jarang-jarang kumpul bareng kan. Kita yang mayoritas masih di asrama kayaknya harus memanfaatkan moment kerja sama dan pdkt ini dengan sebaik-baiknya. Kalau ngga bersedia ya ngomong dari awal. Simpel aja sebenernya ya, cuma saya seperti biasanya, suka membesar-besarkan masalah dengan mem-posting posting-an lebay. Saya akui saya sangat omdo dan sangat cerewet, berisik, antagonis, amit-amit, bukan siapa-siapa dan kawanannya, so untuk semua kata-kata yang sangat salah di postingan ini, saya mohon maaf yang sebesar gunung. Yang tidak suka, silahkan timpuk saya pake bantal sampai tidur. Saya sudah terbiasa. Terima kasih bagi yang sudah membaca.
nb: saya trauma dengan kata "persembahan" sejak bulan Januari, ada yang bisa membantu menyembuhkan ngga ya? Oh ngga ya, ya sudah
wassalamu'alaykum...
Sunday, 11 December 2011
Petang Kreatif 2011 (part 1)
Hari ini Minggu, besk hari Senin dan kemarin adalah hari Sabtu. Hari Minggu tidur sepanjang hari, hari Senin ada prsentasi. Saat bangun hujan lebat mendera bumi dan bahan presentasi belum mulai dipelajari. Bingung. Lantas membuka laptop, koneksikan ke internet dan membuka situs blogger.com.
Sekarang gue pengen bercerita tentang Petang Kreatif (PK) kemarin Sabtu, 10 Desember 2011 yang dilaksanakan di Auditorium Gedung IX FIB UI. Wah! Mantap kali ini acara! Theater Battle antara 15 prodi di FIB. Gue melewatkan 3 pementasan, dari Arab, Korea dan Perancis. Padahal gue pengen banget lihat punya Irvan, teman satu paguyuban gue. Namun, karena gue lupa dia nampil jam berapa dan apalagi pasa saat itu gue masih guling-guling di kasur, akhirnya gue nggak nonton punya dia. Gue cuma tahu judulnya, Pertem(p)u(r)an Setan. Dari judulnya aja udah menarik. Ah sayang banget!
Belanda
Pas gue dateng yang lagi nampil tuh prodi Belanda. Nggak begitu ngerti ceritanya, tapi kalau nggak salah cceritanya tentang revolusi bunga, tentang pembabatan hutan, yah mungkin bisa kau kira sendiri ceritanya seperti apa. Tokoh utamanya wanita, nggak tahu dia memerankan sebagai apa. Namun, sepertinya dia adalah sebuah bumi, bisa dilihat dari warna kostumnya (kalau bisa dibilang kosrtum, soalnya ketat abis) yang berwarna perpaduan hijau dan biru.
Jerman
Penampilan selanjutnya adalah dari prodi Jerman. Nah ini nih, karena gue nontonnya dari luar lewat LCD doang, gue nggak begitu ngerti jalan ceritanya. Cuma bisa lihat ekspresi dan penjiwaan pemainnya. Ceritanya nggak tahu tentang apa. Namun, satu per satu pemainnya mati. Ceritanya ada pemuda (yang memerankan cewek, dengan polesan kumis, tapi kelihatan banget kalau dia cewek) yang bertemu dengan seseorang yang dia panggil-panggil guru. Entah guru apaan, nggak ngerti. Abis itu flashback. Dia bertemu ibunya, bersama 2 orang temannya. Entah kenapa di adegan selanjutnya, temannya yang buta bunuh diri dengan menyilet nadi di tangan kirinya. Kemudian scene selanjtnya di pemakaman di mana si pemain utama dan temannya yang masih hidup berakting sesuatu yang gue nggak ngerti dialognya. Setelah itu, di adegan selanjutnya, si teman pemuda itu juga bunuh diri. Sebelum bunuh diri, teman pemuda itu sempat bercakap-cakap dengan si pemuda yang gue kira berlangsung dengan tegang. Akhirnya si teman pemuda itu pun mati. Akhirnya, kembali lagi ke adegan awal di mana pemuda bertemu dengan guru dan gue ngantuk... Tiba-tiba selesai begitu saja. Komentar gue sih yang pertama tentang lighting-nya kurang bagus, terus suaranya juga agak kurang pol, terus agak datar gitu. Mungkin hal ini akan berbeda kalau gue nontonnya di dalem gedung, huhu... nggak lewat LCD.
Cina
Setelah prodi Jerman, Cina lah yang beraksi. Gue udah lumayan menunggu-nunggu nih penampilan karena gue udah sedikit dapet bocoran ceritanya dari si Tiwi yang biasanya latihan bersisihan dengan anak Cina. Cerita diawali dengan adegan beberapa orang PSK berpakaian superseksi (ini serius, nggak bohonh, mereka betul-betul mengenakannya) yang keluar dari sebuah gubuk bertuliskan "Hati-hati Jebol". Nggak jelas ini yang dimaksud jebol apaan. Lalu keluar pemuda figuran dari dalam gubuk dan memberi tip kepada salah satu PSK sedangkan PSK yang lain hanya sebagai figuran. Selanjutnya, PSK tadi dimintai sedikit tip-nya oleh si Mami yang udah duduk di belakangnya dari tadi memperhatikannya yang mendapat uang dari si laki-laki figuran.
Beberapa lama kemudian, datanglah seorang lelaki setangah baya yang membutuhkan uang dan pertolongan. Setelah berbincang cukup lama dengan si Mami, akhirnya tercapai sebuah keputusan. Mami memberikannya uang 5 juta (sebetulnya melemparkan uangnya ke udara yang kemudian dipunguti oleh si lelaki setengah baya itu) dan si lelaki menikahkan anak perempuannya dengan seorang lelaki kaya, mungkin teman si Mami.
Adegan selanjutnya di rumah lelaki setengah baya itu, di mana sang anak yang ternyata bernama Amoy sudah berdandan lengkap dengan baju pernikahan Cina yang berwarna merah cerah dan perlengkapan upacara adat khas Cina yang lain. Amoy tidak pernah menyetujui perjodohan itu dan hal itu membuat si ayah marah, lalu memukulinya. Beberapa saat kemudian, datanglah si Mami dengan calon suami Amoy dan seorang penghulu ala Cina (nggak tahu namanya apaan). Singkat cerita, menikahlah mereka dengan adat Cina.
Amoy dibawa suaminya ke negeri nun jauh dari negeri asalnya. Dan Amoy pun disiksa, baik secara fisik maupun jiwa. Dia menerima kekerasan berbentuk pukulan dan kekerasan seksual dari suaminya itu saat dia sedang kalap (nggak usah dibayangin seperti apa adegannya, ngeri!).
Amoy pun menulis surat untuk ibunya.
Suatu hari, Amoy tertangkap basah mengambil beberapa helai uang dari kotak uang suaminya dan hal itu membuat suaminya marah seketika. Akhirnya, Amoy pun dipukuli dengan kejam dan brutalnya hingga dia meninggal di tempat. Si suami pun berteriak karena telah membunuh Amoy di tengah kekhilafannya.
Saat Ayah Amoy membaca koran, terdapat berita kematian Amoy. Dia shocked berat. Lantas mengambil pedang entah dari mana dan membunuh dirinya sendiri. Beberapa lama kemudian, datanglah ibu Amoy. Dia membaca surat Amoy. Saat dia mencari suaminya untuk memberitahuakan nasib Amoy dia menemukan secarik koran di lantai. Dia pun menyusul kekagetan sang suami. Keterkejutannya bertambah saat dia menemukan suaminya, satu-satunya orang tercintanya yang tersisa di dunia, mati bunuh diri. Selesai. (lupa bagaimana nasib ibu Amoy).
Komentar gue, ini drama vulgar banget dalam menampilkan kekerasan dan adegan-adegan dewasa. Agak gimana gitu nontonnya, brr... Namun, cerita yang diangkat nggak terlalu berat, sederhana tapi ngena, kalau gue bilang. Penjiwaan dari masing-masing tokoh juga dapet banget, karena alur cerita nggak menuntut penjiwaan yang terlalu dalem. Lighting cukup. Properti mendukung dan nggak ribet. Aura drama juga dapet, meskipun agak condong ke sinetron. Sound effect yang berbau-bau chinnese mungkin agak kurang.
(bersambung)
Sekarang gue pengen bercerita tentang Petang Kreatif (PK) kemarin Sabtu, 10 Desember 2011 yang dilaksanakan di Auditorium Gedung IX FIB UI. Wah! Mantap kali ini acara! Theater Battle antara 15 prodi di FIB. Gue melewatkan 3 pementasan, dari Arab, Korea dan Perancis. Padahal gue pengen banget lihat punya Irvan, teman satu paguyuban gue. Namun, karena gue lupa dia nampil jam berapa dan apalagi pasa saat itu gue masih guling-guling di kasur, akhirnya gue nggak nonton punya dia. Gue cuma tahu judulnya, Pertem(p)u(r)an Setan. Dari judulnya aja udah menarik. Ah sayang banget!
Belanda
Pas gue dateng yang lagi nampil tuh prodi Belanda. Nggak begitu ngerti ceritanya, tapi kalau nggak salah cceritanya tentang revolusi bunga, tentang pembabatan hutan, yah mungkin bisa kau kira sendiri ceritanya seperti apa. Tokoh utamanya wanita, nggak tahu dia memerankan sebagai apa. Namun, sepertinya dia adalah sebuah bumi, bisa dilihat dari warna kostumnya (kalau bisa dibilang kosrtum, soalnya ketat abis) yang berwarna perpaduan hijau dan biru.
Jerman
Penampilan selanjutnya adalah dari prodi Jerman. Nah ini nih, karena gue nontonnya dari luar lewat LCD doang, gue nggak begitu ngerti jalan ceritanya. Cuma bisa lihat ekspresi dan penjiwaan pemainnya. Ceritanya nggak tahu tentang apa. Namun, satu per satu pemainnya mati. Ceritanya ada pemuda (yang memerankan cewek, dengan polesan kumis, tapi kelihatan banget kalau dia cewek) yang bertemu dengan seseorang yang dia panggil-panggil guru. Entah guru apaan, nggak ngerti. Abis itu flashback. Dia bertemu ibunya, bersama 2 orang temannya. Entah kenapa di adegan selanjutnya, temannya yang buta bunuh diri dengan menyilet nadi di tangan kirinya. Kemudian scene selanjtnya di pemakaman di mana si pemain utama dan temannya yang masih hidup berakting sesuatu yang gue nggak ngerti dialognya. Setelah itu, di adegan selanjutnya, si teman pemuda itu juga bunuh diri. Sebelum bunuh diri, teman pemuda itu sempat bercakap-cakap dengan si pemuda yang gue kira berlangsung dengan tegang. Akhirnya si teman pemuda itu pun mati. Akhirnya, kembali lagi ke adegan awal di mana pemuda bertemu dengan guru dan gue ngantuk... Tiba-tiba selesai begitu saja. Komentar gue sih yang pertama tentang lighting-nya kurang bagus, terus suaranya juga agak kurang pol, terus agak datar gitu. Mungkin hal ini akan berbeda kalau gue nontonnya di dalem gedung, huhu... nggak lewat LCD.
Cina
Setelah prodi Jerman, Cina lah yang beraksi. Gue udah lumayan menunggu-nunggu nih penampilan karena gue udah sedikit dapet bocoran ceritanya dari si Tiwi yang biasanya latihan bersisihan dengan anak Cina. Cerita diawali dengan adegan beberapa orang PSK berpakaian superseksi (ini serius, nggak bohonh, mereka betul-betul mengenakannya) yang keluar dari sebuah gubuk bertuliskan "Hati-hati Jebol". Nggak jelas ini yang dimaksud jebol apaan. Lalu keluar pemuda figuran dari dalam gubuk dan memberi tip kepada salah satu PSK sedangkan PSK yang lain hanya sebagai figuran. Selanjutnya, PSK tadi dimintai sedikit tip-nya oleh si Mami yang udah duduk di belakangnya dari tadi memperhatikannya yang mendapat uang dari si laki-laki figuran.
Beberapa lama kemudian, datanglah seorang lelaki setangah baya yang membutuhkan uang dan pertolongan. Setelah berbincang cukup lama dengan si Mami, akhirnya tercapai sebuah keputusan. Mami memberikannya uang 5 juta (sebetulnya melemparkan uangnya ke udara yang kemudian dipunguti oleh si lelaki setengah baya itu) dan si lelaki menikahkan anak perempuannya dengan seorang lelaki kaya, mungkin teman si Mami.
Adegan selanjutnya di rumah lelaki setengah baya itu, di mana sang anak yang ternyata bernama Amoy sudah berdandan lengkap dengan baju pernikahan Cina yang berwarna merah cerah dan perlengkapan upacara adat khas Cina yang lain. Amoy tidak pernah menyetujui perjodohan itu dan hal itu membuat si ayah marah, lalu memukulinya. Beberapa saat kemudian, datanglah si Mami dengan calon suami Amoy dan seorang penghulu ala Cina (nggak tahu namanya apaan). Singkat cerita, menikahlah mereka dengan adat Cina.
Amoy dibawa suaminya ke negeri nun jauh dari negeri asalnya. Dan Amoy pun disiksa, baik secara fisik maupun jiwa. Dia menerima kekerasan berbentuk pukulan dan kekerasan seksual dari suaminya itu saat dia sedang kalap (nggak usah dibayangin seperti apa adegannya, ngeri!).
Amoy pun menulis surat untuk ibunya.
Suatu hari, Amoy tertangkap basah mengambil beberapa helai uang dari kotak uang suaminya dan hal itu membuat suaminya marah seketika. Akhirnya, Amoy pun dipukuli dengan kejam dan brutalnya hingga dia meninggal di tempat. Si suami pun berteriak karena telah membunuh Amoy di tengah kekhilafannya.
Saat Ayah Amoy membaca koran, terdapat berita kematian Amoy. Dia shocked berat. Lantas mengambil pedang entah dari mana dan membunuh dirinya sendiri. Beberapa lama kemudian, datanglah ibu Amoy. Dia membaca surat Amoy. Saat dia mencari suaminya untuk memberitahuakan nasib Amoy dia menemukan secarik koran di lantai. Dia pun menyusul kekagetan sang suami. Keterkejutannya bertambah saat dia menemukan suaminya, satu-satunya orang tercintanya yang tersisa di dunia, mati bunuh diri. Selesai. (lupa bagaimana nasib ibu Amoy).
Komentar gue, ini drama vulgar banget dalam menampilkan kekerasan dan adegan-adegan dewasa. Agak gimana gitu nontonnya, brr... Namun, cerita yang diangkat nggak terlalu berat, sederhana tapi ngena, kalau gue bilang. Penjiwaan dari masing-masing tokoh juga dapet banget, karena alur cerita nggak menuntut penjiwaan yang terlalu dalem. Lighting cukup. Properti mendukung dan nggak ribet. Aura drama juga dapet, meskipun agak condong ke sinetron. Sound effect yang berbau-bau chinnese mungkin agak kurang.
(bersambung)
Saturday, 10 December 2011
"L"
Beberapa hari terakhir ini, gue lagi tertarik-tarik magnet Death Note, khususnya yang Live Action. Ini semua gara-gara gue numpang tidur di kamar adek kelas gue, Isna. Awalnya gue agak ogah-ogahan gitu pas ditawarin nonton. Yeah! Dinding kamar gue juga tahu kalau gue nggak suka film-film horor yang nggak masuk akal. Yup! Awalnya gue emang menyangka bahwa film ini adalah film horor di mana bakal ada adegan pembunuhan dan campur tangan iblis tertentu. Parahnya lagi, gue kira nih film itu film Barat gitu. Eh, ya ampun sampai dikatawaan sama Handy, gara-gara gue baru tahu menahu Death Note ini. Padahal film-nya (Life Action) aja udah tamat dari zaman gue masih kelas 2 SMA. Ahaha. Betul-betul cupu!
Jadi, Death Note ini diangkat dari sebuah manga berjudul Death Note. Death Note menceritakan seorang pemuda jenius bernama Light Yagami (Raito Yagami) yang tanpa sengaja menemukan sebuah buku catatan bersampul hitam di suatu malam. Dia memungutnya dan membawanya pulang. Saat buku itu dibuka, di halaman depan buku itu, terdapat penjelasan dan tata cara penggunaan Death Note. Di penjelasan itu diterangkan bahwa orang yang namanya dituliskan di Death Note, maka ia akan mati. Dan apabila penyebab kematian dari orang tersebut tidak dituliskan dengan jelas, maka orang tersebut akan mati oleh serangan jantung 40 detik setelah namanya ditulis di Death Note.
Uhh!!! Light awalnya nggak percaya ini, tapi tiba-tiba muncul shinigami bernama Ryuk yang membenarkan penjelasan buku itu. Setelah menyaksikan kematian penjahat yang dia temui setelah ia menuliskan namanya ke dalam Death Note, barulah Light percaya akan kekuatan buku itu. Mulai saat itulah dia merencanakan rencana besar tentang pembersihan dunia dari orang-orang jahat karena pada dasarnya Light adalah orang yang mencintai kedamaian dan membenci ketidakadilan. Sifat ini terbentuk mungkin atas pengaruh dan didikan keluarganya. Ayah Light adalah seorang Kepala Kepolisian di sana dan beliau selalu menginspirasi Light mengenai kedamaian dunia. Namun, agaknya Light ini mempunyai cara yang lebih brutal dalam menciptakan kedamaian itu dan membinasakan kejahatan. Dengan bermodal kejeniusannya, dia bobol data kepolisian dan me-list nama-nama penjahat ke dalam Death Note. Alhasil, muncul banyak berita dan laporan kematian penjahat besar-besaran di seluruh dunia oleh seseorang tak dikenal, bernama Kira (dari kata Killer) yang tak lain adalah Light sendiri.
Ulah Light membuat gempar dunia, terutama kepolisian dunia. Mereka dibuat kalang kabut, karena kematian penjahat semakin meningkat tiap harinya. Di tengah kegalauan dunia kepolisian itu, muncullah si L, detektif muda superjenius yang terkenal dan tidak pernah menunjukan identitasnya. Namun, kasus Kira ini telah membuat dia menampakkan wajahnya (yang khas, unik, antik, unyu, lucu, aaaaaa...mirip banget sama manga-nya) kepada beberapa polisi Jepang. Pada setiap proses investigasi L dibantu oleh Watari, pemilik Wamy's House, yayasan yang membesarkan L hingga sesukses dan sekaya ini.
L mendapatkan tantangan yang berat dalam menyelesaikan kasus Kira ini. Dia harus mampu mengalahkan kejeniusan Kira alias Light dan menebak langkah-langkah apa yang akan dilakukan oleh Light. Light sendiri tidak lagi membunuh dengan orientasi menciptakan kedamaian dunia. Namun, dia tak lagi segan-segan untuk membunuh setiap orang yang menghalanginya dan rencananya. Dia tak lagi mempunyai rasa kasihan terhadap orang lain, bahkan dia mengorbankan hisup Shiori teman perempuannya yang mungkin dia sayangi demi ambisinya yang sudah keterlaluan itu.
Di akhir film Death Note: the Last Name, L berhasil memecahkan kasus dan membuka rahasia dan kedok Kira melalui cara yang brilian, menjebak dan mengelabui Kira di rumahnya. Akhirnya, pertarungan dua orang jenius ini dimenangkan oleh L dan Kira alias Light pun meninggal oleh serangan jantung setelah Ryuk, shinigami, yang selama ini menemaninya beraksi merasa muak dan menuliskan nama Raito Yagami di Death Note. L sendiri hanya memiliki waktu 20 hari sebelum dia mati. Yup! L ternyata menuliskan nama aslinya 3 hari sebelumunya di Death Note: L. Lawliet, meninggal dengan damai karena serangan jantung 23 hari lagi. Hiks, sedih. L melakukannya agar Light tidak mendahuluinya menuliskan nama L di Death Note. Salah satu penjelasan Death Note adalah apabila nama orang tersebut dituliskan di Death Note lebih dari satu kali, maka dia akan mati oleh penyebab pertama, perintah setelah penulisan pertama tidak akan berlaku. Oleh karena itu, L lebih memilih mengorbankan hidupnya dibandingkan mengambil risiko kemungkinan namanya ditulis di Death Note oleh Light sebelum dia memecahkan kasus dan menangkap Light si Kira.
L mempunyai kebiasaan dan tingkah laku unik bin aneh, dan itulah yang membuat gue suka karena gue adalah orang yang selalu suka hal-hal aneh dan unik. Gue langsung suka dan jatuh cinta dengan tokoh L ini yang suka sekali sama makanan-makanan manis ini. Cara duduknya juga aneh. Dia selalu duduk dengan berjongkok atau duduk sambil menekuk kaki, meskipun dia sedang berada di atas sofa atau kursi. Ini membuatnya seolah-olah tak ingin menjauhkan hidung dengan lututnya. Selain itu, dia juga suka banget gigit jari, sebenernya sekedar menempelkan jempol atau jari telunjuk ke mulutnya sih. Namun, tak jarang dia menggigiti kukunya jika kasus yang dia tangani memanas. L itu selalu bernampilan lusuh, low profile, cuek, aneh, lucu, imut, parah, bertelanjang kaki, dengan rambut belah pinggir di mana alur rambutnya dominan ke kiri dan selalu mengenakan celana jeans biru dan kaos putih lengan panjang yang tampak kedodoran tapi pas buat dia. I really like his style! Kalau boleh gue bilang, baru sekali ini gue nemu tokoh Life Action yang penampakannya mirip banget sama di manga atau animenya, malah lebih baik. Costume player terbaik yang pernah ditonton deh, tokoh L ini. Jatuh cinta dah sama L!
Btw, gue itu suka sama tokoh L atau yang memerankan tokoh L sih? Jawabannya adalah dua-duanyaaaa....
Hehe, makanya paragraf di atas dibikin begitu ambigunya seperti itu. Jadi, L. Lawliet yang keren ini diperankan oleh Matuyama Kenichi (Matsuken) yang ternyata adalah dia juga pemeran tokoh Yuji Kawamoto (kakak senior Aya, pemain Basket) di dorama 1 Liter of Tears. Huwaaa... Shocked! pas baru tahu dia adalah pemeran Kawamoto. Soalnya, dulu gue nggak suka banget sama tokoh Yuji ini. Dia jahat dan tega banget sama Aya. Udah gitu gaya rambutnya yang cepak parah itu juga mendukung ketidaksukaan gue. Emang sih, gue nggak suka cowok dengan rambut gondrong, tapi cowok dengan rambut super cepak juga agak nggak gue suka, hehe. Jadi, dapat disimpulkan entah dari mana, bahwa gue suka banget sama Matsuken waktu dia memerankan tokoh L yang keren ini. Suka banget sama gaya rambutnya, suka banget sama ekspresi wajah mikirnya yang cool, suka banget sama cara dia memegang setiap benda dengan hanya memaksimalkan pada tiga jari (jempol, telunjuk, jari tengah). Namun, gue nggak suka cara dia mengetik di laptop yang hanya menggunakan 1 jari. Jadi aneh gitu, kayak pakai mesin ketik zaman dulu aja dan agak kurang pas aja. Lucu sih, tapi aneh karena nggak pas sama tokohnya dan agak over gitu ngetiknya (ngangkat tangannya tinggi banget sebelum akhirnya menekan tombol-tombol keyboard-nya, hoho).
Walaupun muka L terlihat serem dan misterius gitu (yang entah kenapa masuk kategori karakter favorit gue), tapi kalao L lagi senyum dia maniiiiiiis banget. Di manga-nya, L mungkin terlihat tak seganteng Light (Raito). Namun, di Live Action L. Change the World, dia itu bisa senyum dengan imuuut lhoo... Aaaaaa...
![]() |
| Ini pas L baru mengantarkan Boy (Near) ke Wamy's House dan mungkin di detik-detik terakhir sebelum kematiaannya dengan damai. |
Akhirnya, Death Note pun selesai setelah diluncurkannya Death Note 3.5 di mana L berhasil menyelamatkan dunia dari ancaman penyebaran virus super mematikan dengan penyebaran supercepat (perpaduan virus Influenza dan Ebola) yang akan digunakan oleh geng K (Kimiko Kujo) sebagai senjata biologis untuk menghancurkan populasi manusia. Sebenarnya, tujuan K untuk menyelamatkan dan membuat damai bumi itu betul, hanya saja caranya supersalah dan super tidak berperikemanusiaan dengan membunuh miliyaran penduduk bumi yang tidak bersalah. Bravo, L! And good bye! T,T
Dilihat dari ceritanya, Death Note ini memang keren banget! Apalagi ide ceritany tentang penyelidikan, investigasi dan orang-orang jenius begini. Namun, jika dikaitkan dengan kepercayaan dan agama, agak kurang baik juga. Masa iya, kematian manusia ada di tangan manusia. Oke lah, mungkin ini dikaitkan dengan kepercayaan dan budaya Jepang yang beraneka ragam dan kaya banget. Dewa Kematian atau Shinigami ini dipercaya ada di sana, makanya adanya kemunculan manga-anime-film Death Note yang berkisah tentang buku catatan kematian milik Shinigami ini dapat diterima di negara asalnya dan negara lain. Namun, takutnya, ada orang-orang yang terlanjur percaya atau gimana terus jadi syirik, terus stress kan agak nggak baik juga.
Gue sendiri orang yang sangat suka cerita fantasi hingga terkadang fantasi-fantasi itu memperngaruhi daya imajinasi gue di kehidupan nyata. Dengan adanya Death Note, gue nggak terlalu menangkap banyak pesan moral ya, selain pesan untuk selalu mengingat kematian dan Allah, berhati-hati dalam melakukan segala hal, dan berpikir kritis, realistis, logis dan cerdas biar bisa jenius dan keren seperti Light dan L.
Aduh, si L ini... awawawaw, pengen punya anak yang sejenius dan seimut dia tapi nggak bertingkah laku aneh kayak dia, hihihi.
Friday, 9 December 2011
Catatan Lama
9 Desember 2012
Entah kenapa, saya lebih lancar berbicara tentang manusia dibandingkan berbicara tentang kesehatan masyarakat. Namun, hal ini bukan sebuah penanda bahwa saya tidak menyukai kesehatan masyarakat dan lebih cinta mati pada sosiologi atau antropologi. Hanya saja, terkadang terasa mengasyikan saat mengamati orang, menerka tabiatnya, cara berpikirnya, atau sekedar mengetahui tipe-tipe orang yang nyaman baginya.
Entah kenapa, saya lebih lancar berbicara tentang manusia dibandingkan berbicara tentang kesehatan masyarakat. Namun, hal ini bukan sebuah penanda bahwa saya tidak menyukai kesehatan masyarakat dan lebih cinta mati pada sosiologi atau antropologi. Hanya saja, terkadang terasa mengasyikan saat mengamati orang, menerka tabiatnya, cara berpikirnya, atau sekedar mengetahui tipe-tipe orang yang nyaman baginya.
Meski demikian, saya tidak pernah mengaku bahwa saya memiliki kemampuan menganalisa manusia seperti di atas dengan tingkat keakuratan hingga lebih dari 50%. Allah lah Yang Maha Mengetahui...
Manusia memang makhluk yang sangat untik, unik dan antik. Siapa yang mampu menebak pikiran mereka?
Thursday, 8 December 2011
Semalam berbincang dengan seorang adik tingkat. Menjadi orang yang lebih tua, terkadang meyenangkan, terkadang juga penuh tantangan. Bagaimana mempertahankan reputasi sebagai ornag yang lebih tua agar tidak jatuh image-nya di depan orang yang lebih muda. Bagaimana kita seolah-olah bertindak sebagai orang dewasa yang mampu membantu menyelesaikan masalah, padahal kita sendiri terkadang juga menangis hingga mengguling-gulingkan kepala di atas meja saat dihadapkan pada masalah yang menggalaukan.
Lewat perbincangan itu, lewat tetesan air mata yang jatuh dengan renyahnya dari sudut matanya itu, lewat tatapan mata sendu dan penuh rasa cemas itu, rasa cemas untuk memperoleh dekapan dan rangkulan hangat orang di dekatnya, rasa ingin dihargai dan disayangi... aku mengerti bahwa setiap manusia memiliki titik yang begitu fluktuatif di dalam hidupnya.
Terkadang... Sekeren apa pun manusia itu, sekokoh baja pun pendirian dan ketahanannya dalam menghadapi setiap tantangan hidupnya, pasti ada saat di mana orang itu memerlukan orang lain untuk dijadikan objek pelarian. Ada saat di mana orang individualis menjadi orang yang begitu humanis. Lalu, aku mulai berpikir bahwa orang individualis bukan merupakan hasil dan konsekuensi atas pilihan yang dia jalani. Terkadang menjadi individualis adalah akibat dari keterbatasan kesempatan untuk mampu berbagi dan berinteraksi dengan orang lain. Mungkin, tak sempat memperoleh kesempatan. Atau mungkin memang dia memilih untuk demikian.
Lewat perbincangan itu, lewat tetesan air mata yang jatuh dengan renyahnya dari sudut matanya itu, lewat tatapan mata sendu dan penuh rasa cemas itu, rasa cemas untuk memperoleh dekapan dan rangkulan hangat orang di dekatnya, rasa ingin dihargai dan disayangi... aku mengerti bahwa setiap manusia memiliki titik yang begitu fluktuatif di dalam hidupnya.
Terkadang... Sekeren apa pun manusia itu, sekokoh baja pun pendirian dan ketahanannya dalam menghadapi setiap tantangan hidupnya, pasti ada saat di mana orang itu memerlukan orang lain untuk dijadikan objek pelarian. Ada saat di mana orang individualis menjadi orang yang begitu humanis. Lalu, aku mulai berpikir bahwa orang individualis bukan merupakan hasil dan konsekuensi atas pilihan yang dia jalani. Terkadang menjadi individualis adalah akibat dari keterbatasan kesempatan untuk mampu berbagi dan berinteraksi dengan orang lain. Mungkin, tak sempat memperoleh kesempatan. Atau mungkin memang dia memilih untuk demikian.
Wednesday, 7 December 2011
Resolusi
Resolusi akhir tahun saya saat ini adalah "Berhenti Menjadi Makhluk Nggak Jelas"!!!
Setelah sekian lama berkecimpung di dunia blog ini, akhirnya saya mencapai titik jenuh dan malu. Hal ini terjadi saat beberapa orang dapat dibilang telah tersesat masuk ke blog ini. Mungkin mereka berniat memperoleh informasi, tetapi setalh masuk dan membaca blog ini, yang mereka dapati adalah tulisan-tulisan super tidak jelas melampaui kemampuan dewa paling tidak jelas (memang ada?).
Oke. Sekian. Semoga tulisan-tulisan ke depannya dapat menjadi lebih jelas dari tulisan-tulisan sebelumnya, lebih bermanfaat dan tidak merugikan orang banyak. Aamiin.
Setelah sekian lama berkecimpung di dunia blog ini, akhirnya saya mencapai titik jenuh dan malu. Hal ini terjadi saat beberapa orang dapat dibilang telah tersesat masuk ke blog ini. Mungkin mereka berniat memperoleh informasi, tetapi setalh masuk dan membaca blog ini, yang mereka dapati adalah tulisan-tulisan super tidak jelas melampaui kemampuan dewa paling tidak jelas (memang ada?).
Oke. Sekian. Semoga tulisan-tulisan ke depannya dapat menjadi lebih jelas dari tulisan-tulisan sebelumnya, lebih bermanfaat dan tidak merugikan orang banyak. Aamiin.
Monday, 31 October 2011
Tak Akan Pernah Berjudul
Selalu ada saat di mana gue mempertanyakan apa itu artinya pertemanan? Pertanyaan inilah yang selalu membuat gue merasa nggak pernah punya teman dekat, teman sejati. Kata orang-orang teman sejati itu tulus, tak mengharap pamrih, rela berkorban dan memenuhi kriteria perilaku terpuji lain yang ada di dalam pelajaran PPKN Sekolah Dasar.
Entah kenapa, setiap kali gue tidak sengaja mendapati diri gue tiba-tiba sendiri, pikiran-pikiran supernegatif selalu muncul dengan sembarangan dengan tanpa permisi dengan (maaf) kurang ajarnya sehingga gue sendiri juga dibikin pusing olehnya. Entah kenapa, setiap orang-orang dengan diam-diam menjauh, dengan diam-diam juga gue akan mendapati gue sendiri yang menyebalkan dan menyeramkan.
Kenapa gue sensitif? Terkadang gue merasa kasihan terhadap orang-orang di sekitar gue. Terkadang mereka menjadi korban ketidakjelasan gue. Terkadang gue ingin membenturkan kepala gue sendiri ke tembok di saat gue baru saja menyakiti orang lain. Gue kasihan dan malu kepada mereka. Tiba-tiba gue takut meminta tolong, gue takut ngobrol dengan manusia, gue lebih suka ngobrol dengan komputer, gue jadi anti sosial.
Sakit. Terkadang sakit kepala ini benar-benar mengambil kesadaran gue. Terkadang, dengan tiba-tiba gue berpikir kenapa gue hidup, kenapa gue mengetik, kenapa gue tahu cara mengetik, kenapa gue bisa mengerti bahasa dan perkataan orang padahal gue tadi bilang gue sedang nggak terlalu sadar dengan apa yang gue lakukan. Pokoknya sakit ini benar-benar meninju kepala gue dari dalam, seolah-olah ada makhluk seperti gurita raksasa dengan kepala superraksasa dan tentakel supermenggeliat yang ingin keluar dari dalam tempurung kepala gue.
Terkadang gue pengen cerita kepada orang lain. Namun, gue capek cerita ke manusia. Gue takut merepotkan orang lain dengan cerita basi dan supergaring gue. Biarlah orang-orang mengecam kebiasaan dan hobi aneh gue yang suka menceritakan pikiran dan perasaan gue ke dalam blog. Biarlah orang muntah karena bosan membaca deretan kalimat nggak berbobot yang gue simpan nggak rapi di blog ini. Gue semakin nggak peduli dengan orang. Inikah gue yang sebenarnya? Egois dan nggak punya keberanian?
Gue nggak pernah membandingkan apa yang gue lakukan untuk orang lain dengan apa yang orang lakukan untuk gue. Namun, di saat gue sendiri, tanpa gue panggil...pikiran seperti itu pasti datang tiba-tiba. Lalu gue pun murung, bertanya dalam keterpurukan yang berlebihan kenapa-kenapa-kenapa, lalu gue pun nggak jelas sendiri.
Namun, sebenernya gue amat sangat bersyukur dengan apa yang udah gue dapet. Gue punya teman-teman di fakultas, beberapa teman yang mengerti, walaupun kadang gue nangis sendiri karena takut merepotkannya dan membuat gue menderita sendiri karena mengedepankan kepentingan mereka dibandingkan gue sendiri. Sungguh, gue itu orangnya nggak bisa menolak apa pun yang diperintahkan ke gue. Meski gue tampak ogah, batin gue ikut mendukung kinerja otak gue buat mikir. Mungkin ini yang membuat kepala gue makin sakin tiap harinya dan serasa mau jebol gini.
Gue juga bersyukur karena Allah telah memberikan orang tua-orang tua superdahsyat yang telah mengerti gue luar dan sedikit dalam. Gue memang terlampau introvert terhadap semua orang, bahkan orang tua gue. Gue berani menjamin dengan sandal jepit gue yang paling gue cintai, nggak ada orang yang bener-bener mengerti gue dengan baik karena memang gue nggak terlalu mengizinkan mereka. Gue takut. Gue terlalu takut melangkah dan membuka diri. Itu kejujuran gue yang paing jujur sepanjang tahun ini.
Gue nggak tahu, hanya gue kah satu-satunya makhluk yang seperti ini atau gue punya kawan sejenis Gue masih mampu hidup dengan keginian gue, gue bersyukur alhamdulillah. Namun, jujur gue masih berharap gue mampu mengubah ini semuanya. Gue berharap-harap gue mampu membuat orang bahagia dengan melihat gue. Gue berharap gue bisa menimbulkan kesan istimewa bagi orang-orang di saat mereka melihat jasad gue untuk terkahir kalinya, suatu saat nanti.
Gue manusia sangat superbiasa, dengan kesalahan superbanyak, super tak terhitung bagai debu. Gue ingin sekali meminta maaf kepada orang-orang atas kesalahan gue, atas kekurangmampuan gue menjadi teman mereka, atas keburukan sifat dan watak gue, atas segala hal.. Maaf karena menyia-nyiakan apa yang ada di samping gue. Maaf karena kurang menghargai apa yang sudah mereka lakukan untuk gue. Maaf karena gue selalu begini-begini dan nggak terlalu membantu orang-orang di sekitar gue...
Gue ingin dikenal sebagai orang baik saat gue udah mati nanti, bukan sebagai pemurung yang misterius dan kesepian. Namun, gue takut...gue takut hal kedua yang terjadi...
Entah kenapa, setiap kali gue tidak sengaja mendapati diri gue tiba-tiba sendiri, pikiran-pikiran supernegatif selalu muncul dengan sembarangan dengan tanpa permisi dengan (maaf) kurang ajarnya sehingga gue sendiri juga dibikin pusing olehnya. Entah kenapa, setiap orang-orang dengan diam-diam menjauh, dengan diam-diam juga gue akan mendapati gue sendiri yang menyebalkan dan menyeramkan.
Kenapa gue sensitif? Terkadang gue merasa kasihan terhadap orang-orang di sekitar gue. Terkadang mereka menjadi korban ketidakjelasan gue. Terkadang gue ingin membenturkan kepala gue sendiri ke tembok di saat gue baru saja menyakiti orang lain. Gue kasihan dan malu kepada mereka. Tiba-tiba gue takut meminta tolong, gue takut ngobrol dengan manusia, gue lebih suka ngobrol dengan komputer, gue jadi anti sosial.
Sakit. Terkadang sakit kepala ini benar-benar mengambil kesadaran gue. Terkadang, dengan tiba-tiba gue berpikir kenapa gue hidup, kenapa gue mengetik, kenapa gue tahu cara mengetik, kenapa gue bisa mengerti bahasa dan perkataan orang padahal gue tadi bilang gue sedang nggak terlalu sadar dengan apa yang gue lakukan. Pokoknya sakit ini benar-benar meninju kepala gue dari dalam, seolah-olah ada makhluk seperti gurita raksasa dengan kepala superraksasa dan tentakel supermenggeliat yang ingin keluar dari dalam tempurung kepala gue.
Terkadang gue pengen cerita kepada orang lain. Namun, gue capek cerita ke manusia. Gue takut merepotkan orang lain dengan cerita basi dan supergaring gue. Biarlah orang-orang mengecam kebiasaan dan hobi aneh gue yang suka menceritakan pikiran dan perasaan gue ke dalam blog. Biarlah orang muntah karena bosan membaca deretan kalimat nggak berbobot yang gue simpan nggak rapi di blog ini. Gue semakin nggak peduli dengan orang. Inikah gue yang sebenarnya? Egois dan nggak punya keberanian?
Gue nggak pernah membandingkan apa yang gue lakukan untuk orang lain dengan apa yang orang lakukan untuk gue. Namun, di saat gue sendiri, tanpa gue panggil...pikiran seperti itu pasti datang tiba-tiba. Lalu gue pun murung, bertanya dalam keterpurukan yang berlebihan kenapa-kenapa-kenapa, lalu gue pun nggak jelas sendiri.
Namun, sebenernya gue amat sangat bersyukur dengan apa yang udah gue dapet. Gue punya teman-teman di fakultas, beberapa teman yang mengerti, walaupun kadang gue nangis sendiri karena takut merepotkannya dan membuat gue menderita sendiri karena mengedepankan kepentingan mereka dibandingkan gue sendiri. Sungguh, gue itu orangnya nggak bisa menolak apa pun yang diperintahkan ke gue. Meski gue tampak ogah, batin gue ikut mendukung kinerja otak gue buat mikir. Mungkin ini yang membuat kepala gue makin sakin tiap harinya dan serasa mau jebol gini.
Gue juga bersyukur karena Allah telah memberikan orang tua-orang tua superdahsyat yang telah mengerti gue luar dan sedikit dalam. Gue memang terlampau introvert terhadap semua orang, bahkan orang tua gue. Gue berani menjamin dengan sandal jepit gue yang paling gue cintai, nggak ada orang yang bener-bener mengerti gue dengan baik karena memang gue nggak terlalu mengizinkan mereka. Gue takut. Gue terlalu takut melangkah dan membuka diri. Itu kejujuran gue yang paing jujur sepanjang tahun ini.
Gue nggak tahu, hanya gue kah satu-satunya makhluk yang seperti ini atau gue punya kawan sejenis Gue masih mampu hidup dengan keginian gue, gue bersyukur alhamdulillah. Namun, jujur gue masih berharap gue mampu mengubah ini semuanya. Gue berharap-harap gue mampu membuat orang bahagia dengan melihat gue. Gue berharap gue bisa menimbulkan kesan istimewa bagi orang-orang di saat mereka melihat jasad gue untuk terkahir kalinya, suatu saat nanti.
Gue manusia sangat superbiasa, dengan kesalahan superbanyak, super tak terhitung bagai debu. Gue ingin sekali meminta maaf kepada orang-orang atas kesalahan gue, atas kekurangmampuan gue menjadi teman mereka, atas keburukan sifat dan watak gue, atas segala hal.. Maaf karena menyia-nyiakan apa yang ada di samping gue. Maaf karena kurang menghargai apa yang sudah mereka lakukan untuk gue. Maaf karena gue selalu begini-begini dan nggak terlalu membantu orang-orang di sekitar gue...
Gue ingin dikenal sebagai orang baik saat gue udah mati nanti, bukan sebagai pemurung yang misterius dan kesepian. Namun, gue takut...gue takut hal kedua yang terjadi...
Monday, 17 October 2011
Acak Adul
![]() |
| Lukisan "digital" pertama pakai paint, pas baru beli Lintang (laptop gue) Nggak kalah sama gambaran anak TK kan??? Hehe |
![]() |
| Gue dan Yaya (adek gue) |
Uhm... Gue selalu nggak pandai berkata-kata. Ern... mungkin tepatnya berkata-kata di dunia nyata sih. Soalnya, kalau ngemeng-ngemeng nggak jelas di blog, sepertinya emang jago. Jago banget bikin pusing orang soalnya. By the way, gimana gambar di atas?? Kalau menurut gue lumayan sih. Lumayan bisa buat pamer-pameran dan bikin iri adek gue yang baru lulus TK. Haha... Terbukti, setelah gue kasih lihat gambar-gambar pakai paint yang lain ke dia, dia jadi lebih bersemangat untuk menggambar. Good luck, sist! Find out your potency!!! :D
Jadi gini... sebenenarnya gue pengen bilang kalau Allah sangaaaat sayang ke gue. Allah sangat mengerti apa yang gue inginkan dan apa yang gue butuhkan. Semua orang pasti tahu lah, Allah tidak hanya memberikan apa yang kita inginkan, tetapi juga apa yang kita butuhkan. Allah yang Mahatahu, Mahahebat dan Mahakuasa mampu mendatangkan hal yang sejuta kali lebih baik dibandingkan apa yang kita mau. Dia Maha Mengetahui mana yang bermanfaat besar bagi kita dan mana yang membahagiakan sesaat. Oleh karena itu, sudah sepantasnya lah kita bersyukur, berteri kasih atas apa yang Dia berikan untuk kita, meskipun itu bukanlah yang kita inginkan. Yeah... cuma ingin mengingatkan diri sendiri untuk jangan lupa bersyukur sehingga terjauh dari kufur.
![]() |
| Allah Mahakuasa, pemegang kendali alam semesta, mengawasi kita, manusia, dalam menahkodai hidup kita. |
Namun, Allah tidak hanya memberikan apa yang terbaik yang kita butuhkan saja. Dia yang Maha Pemberi seringkali memberikan baik yang kita inginkan maupun yang terbaik bagi kita. Hanya saja sebagai makhluk biasa, terkadang kita terlalu berbahagia mendapatkan nikmat tersebut hingga tidak terlalu memperhatikannya. Ingat kepada-Nya sih ingat, mengucap alhamdulillah di lisannya, tapi terkadang lupa untuk bersyukur selalu di dalam hati dan tindak tanduknya. Astaghfirullohal'adziim, maafkan saya Yaa.. Robbi...
Jadi gini... (lagi), gue ingin cerita sesuatu. Masih ada kaitannya dengan kehilangan akibat kecerobohan kemarin sih. Saat kehilangan itu, gue emang shocked awalnya. Namun, gue juga berpikir mungkin Allah sedang mencoba gue, mencoba kesabaran, mengingatkan gue yang terkadang kurang bersyukur dan semena-mena. Udah punya modem, kadang mengeluh "ih koneksinya lola deh". Udah dikasih handphone yang bagus, kadang masih lirik-lirik punya teman yang kameranya berbelas pixel. Udah dikasih FD, kurang dirawat. Udah dikasih kabel data, suka asal cabut sembarangan banget.
![]() |
| Salah satu hal yang gue lakuin saat sendirian (narsis-narsisan tanpa pandang tempat) |
Benar-benar, kejadian itu merupakan teguran super buat gue. Gue jadi inget, gue masih jarang berbagi sama orang lain, baik teman maupun dhuafa. Gue menikmati berkah Allah sendirian, nyungsep di kamar jarang menyapa orang, aduuuuh... humanphobia ini pasti gue sendiri yang menyebabkan. Gue makin ansos tiap waktu, pasti gue juga yang bikin. Gue harus terbuka dan sering main sama orang beneran, nggak hanya sama orang di dunia maya. Biar gue bener-bener hidup dan mengerti cara bergaul dengan orang hidup. Jadi, gue lebih bisa menikmati hidup, berbagi kenikmatan yang udah Allah berikan dengan orang lain dan hidup gue nggak datar-datar begini-begini aja. Kudet, kukom, kumal deh!
Ya udah lah... Ini memang harus diubah secara bertahap, biar orang-orang nggak semakin menganggap gue sebagai orang yang misterius. Udah misterius, sakit-sakitan pula. Ckck... Migrain, maag, pegal linu, meskipun udah kayak punya agenda tetap, tapi mereka sebenarnya bisa dicegah. Ya ampun, Ani! Buat apa lo kuliah jauh-jauh sampai FKM kalau bertindak sebagai pelaku penegak kesehatan buat diri sendiri aja susah? Gimana jadinya kalau lo dihadapkan dengan orang sekampung??? Semangat Ani!
![]() |
| Sebongkah batu di Waduk Pejengkolan, lucu, bentuknya hati. |
By the way, ngomong-ngomong (apa bedanya ama btw ya?) tentang teman di dunia maya, gue bener-bener percaya bahwa Allah memang selalu sangat menyayangi makhluk-Nya. Saat gue yang sedang terbaring lemah di kasur karena migrain (Rabu/12 Oktober), tiba-tiba orang yang sangat pengen gue ajak ngobrol (sejak hp, dkk ilang), ngajak chatting gue. Sebetulnya, gue duluan sih yang memulai dengan memanggilnya lewat message fb. Gue pun berhasil menyampaikan apa yang udah terjadi, bahwa beberapa barang berharga gue ilang berkat kepikunan gue, bahwa mereka betul-betul ilang di sepanjang jalan, bahwa gue memang pikun. Gue seneng banget dengan obrolan itu. Tak apalah, jika gue dianggap lebay, alay, dsb dengan menceritakan ini. Biarlah dia tahu. Gue adalah tipe orang yang jarang bisa chat dengan orang. Dia adalah salah satu orang yang nyaman diajak chat. Walaupun cuma satu obrolan yang dikirim, walaupun cuma satu panggilan yaitu nama gue yang dia kirim, tapi gue udah seneng. Energi dan pikiran positif pun mulai mengalir. Gue jadi lebih semangat dan hal yang sama pun terjadi di saat itu juga. Gue agak sembuh dan bisa main-main ke kamar teman. Yeah... walaupun esok paginya gue bolos kuliah 3 makul, bolos kumpul BPH Bakpao, dan bolos syuro, karena sakitnya kambuh lagi membuat gue guling-guling di kamar.
Allah memang sangat sayang gue. Dia mengabulkan apa yang gue harapkan dan mungkin memang itu sudah cukup saya butuhkan. Gue terhibur dan agak sembuh. Gue jadi merasa gue nggak hanya punya teman yang ada di sekitar gue, tapi di tempat nan jauh di sana pun masih ada orang yang mau menyapa gue dengan baik. Padahal mungkin dia melakukannya karena gue adalah kakak kelas satu-satunya yang dia kenal. Gue seneng-seneng aja.
Di akhir posting ini, gue sedang dihinggapi penasaran akan hal apa yang terjadi pada dia sampai-sampai dua orang gadis, terdakwa yang gue anggap sangat deket dengan dia (mantan dan calonnya) nge-wall hal seperti itu ke fb-nya. Mungkin dia baru kehilangan sesuatu? Kunci motor? Helm motor? Kucing? Kaos kaki? Cobaan apa yang menimpanya? Kita tunggu kelanjutannya di episode 1001...
Selamat tengah malam... :D
Saturday, 8 October 2011
Serial Aisyah adinda Edisi 4: Senja di Surau Al-Ikhlas
Serial Aisyah Adinda
Edisi 4: Senja di
Surau Al-Ikhlas
“Awas,
mbak! Ada kereta!” Glek. Dinda terkaget. Peringatan bapak penjual es doger itu
berhasil mengalihkan perhatian Dinda dari sepatunya. ‘Eh? Sepertinya, bapak itu
salah sangka,’ batin Dinda.
Siang
itu, Dinda memang sedang capek. Masalah “ini”, “itu” dan ini-itu lain tengah berlalu
lalang di otaknya membuatnya jenuh dan galau. “Aish! Mau ke tempat yang lebih
damai aja, ah!” kata Dinda dengan volume normal.
Tiba-tiba,
si bapak nyeletuk, “Mbak! Kalau tadi mbak berhasil pun mbak belum tentu masuk
tempat sedamai surga!” Sontak kalimat tersebut membuat perhatian orang-orang teralih
ke arah Dinda. Dinda hanya mampu ber-sweatdropped
ria menerima tatapan prihatin orang-orang padanya
“Maaf,
Pak! Saya nggak mau berbuat
macam-macam, kok. Ini tadi saya nunduk-nunduk,
memang karena lagi banyak pikiran aja. Na’udzubillah,
deh, Pak! Insya Allah hal seperti itu nggak
bakal terjadi,” papar Dinda kepada si Bapak. Tiba-tiba, si bapak
melambai-lambaikan tangan sambil berkata ke orang-orang, “Aman! Mbaknya aman!”
Dinda pun berpikir, ‘Bapak ini terlalu banyak menonton sinetron Cinta di Palang Kereta!’
Dinda
memperhatikan si Bapak dengan seksama. Tiba-tiba Dinda ketularan berteriak, “Koh
Joni yang jualan siomay super jumbo ya?” Si bapak pun gantian kaget hingga tak
sengaja meminum es doger yang seharusnya diberikan kepada pembeli. “N.. Nn..
Neng Dinda?”
Ternyata,
mereka sudah saling mengenal sejak Dinda tinggal di rumah lama, bersama orang
tuanya saat belum meninggal. Cukup lama mereka mengobrol dan bernostalgia
hingga diputuskanlah sebuah ide gila…
*****
Senja
di hari yang sama, Dinda sudah berada di halaman sebuah mushola tua. Penampakannya
terlihat tiga kali lebih parah dibandingkan terakhir kali ia lihat. Dinda merasakan
ada energi penuh kedamaian yang perlahan merambat, menghangatkan jiwa dan
pikirannya yang penat seharian ini. Di mushola yang lebih terbiasa Dinda sebut
dengan surau inilah, ia pertama kali belajar mengaji bersama teman-teman masa
kecilnya. Tiba-tiba, memori masa lalunya terputar kembali.
Suatu
hari, mereka bermain kejar-kejaran di dalam surau sambil menunggu Wak Bahruddin
datang untuk mengajar Iqro. Namun, ulah kami yang menimbulkan kegaduhan
ternyata telah membuat beliau kesal. Jadilah kami trauma dan takut pergi ke
surau. Tempat ini menjadi terlihat eksklusif. Bahkan, teman kecil Dinda yang
bernama Dika, menganggap surau sebagai “tempat keramat” dengan penunggu Wak
Bahruddin yang galak. ‘Sungguh sudah tersesat akal sehat temanku ini,’ batin
Dinda sambil tersenyum kecil.
Dika
adalah teman Dinda yang ngaco. Di suatu Ramadhan dia pernah membuat Wak
Bahruddin menceramahinya selama setengah jam sehabis salat tarawih. Dalam hal
ini, Koh Joni turut ambil andil. Alkisah, Dika usia TK kelaparan setelah salat
tarawih. Ia pun berinisiatif memesan siomay Koh Joni dari dalam surau. Koh Joni
yang selalu punya jargon “Tamu adalah Kaisar” pun mengerti dan mengantarkan
pesanan Dika ke dalam surau. Dika membayarnya dengan sekeping uang 100 perak.
Nah,
aksi itu tertangkap basah oleh Wak Bahruddin yang posisinya tepat berada di
samping Dika di shaf laki-laki paling
belakang. Terjadilah insiden penyanderaan sebungkus siomay dan sekeping uang
logam oleh Wak Bahruddin, diikuti ceramah tentang hal-hal yang dilarang dilakukan
di dalam masjid. ‘Lagian ini Dika. Padahal udah dikasih tahu kalo bertransaksi
di dalam masjid kan nggak boleh, hihi,’ lagi-lagi Dinda terkikik mengingat masa
itu.
Satu
per satu ingatan tentang kejadian-kejadian di
surau muncul. Ada adegan di mana salah seorang “mantan calon lurah” di
sana tiba-tiba datang ke surau setiap hari, beri’tikaf, menunaikan salat
jamaah, hingga berujung mengkampanyekan dirinya sendiri seusai shalat di depan
jemaah yang kebanyakan orang tua dan sedikit anak-anak yang lebih memilih
berlepas dari urusan politik.
Tanpa
sadar Dinda menggumam, “Uhm… Zaman Rasul dulu, selain untuk ibadah, masjid
memang digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan, sosial bahkan militer,
tapi ya nggak untuk kampanye juga kali.
Orang tua dan anak-anak? Wah, kalau dipikir-pikir jama’ah masjid saat ini
memang…”
“Dinda?
Neng Dindakah itu?” kata suara dari dalam surau.
“Eh,
iya. Wak Bahruddin masih ingat? Alhamdulillah…” jawab Dinda dengan wajah
berseri-seri.
Wajah
Wak Bahruddin pun tak kalah berseri-seri dibalik hiasan keriput. Beliau pun
menyambung gumaman Dinda, “Iya seperti inilah, Din. Tempat ibadah yang
seharusnya diramaikan oleh anak-anak untuk belajar mengaji malah makin sepi
anak-anak. Orang-orang menganggap masjid cuma bisa dipakai untuk kegiatan
keagamaan. Sedih saya, Din. Lama-lama masjid isinya orang-orang tua, orang yang
rumahnya dekat masjid, orang yang lagi kena masalah atau orang yang sedang
punya hajat dan tiba-tiba ingat Alloh…”
Dinda
tercekat.
*****
“Sesuai fiman Alloh di
dalam surat At-Taubah ayat 180 yang artinya ‘”Sesungguhnya yang memakmurkan
masjid Alloh ialah orang–orang yang beriman kepada Alloh dan hari akhir,
mendirikan sholat dan menunaikan zakat serta tidak takut kecuali kepada Alloh.
Merekalah orang–orang yang diharapkan termasuk golongan orang–orang yang
mendapat petunjuk,’” jadi masjid itu nggak
hanya buat sholat ya, adik-adik, tetapi…” suara Dinda terdengar oleh Wak
Bahruddin saat mengajar mengaji di Surau Al-Ikhlas selama liburan semester
genap.
Friday, 7 October 2011
Jumat Berkabung (ini judul udah gue gunakan 3 kali ini)
Hari apa sih ini??
Yeah hari Jumat sih sebenarnya, cuma harinya itu nggak biasa. Gue baru aja berkabung. Namun, anehnya gue nggak bisa sedih-sedih banget. Padahal kerugian yang gue derita nggak nanggung-nanggung. Yeah, berhubung di blog gue nggak pernah tahu bahwa ada aturan nggak boleh sebut nominal, so gue bakal membuka lebar berapa kerugian yang gue tanggung berkat kecerobohan dan keparahan gue....
Deg. Deg. Deg... Jumlahnya adalah 100ribu lebih banyak dari jumlah uang kuliah gue per semester.
Ataghfirullohal'adzim, gue cuma bisa beristighfar dalam hati. Mohon ampun kepada-Nya atas semua yang telah gue lakukan selama ini dan alhamdulillah, segala puji bagi-Nya untuk seluruh nikmat dan kasih sayang-Nya kepada gue.
Benar kata Mas Arul. Allah sangat sayang sama gue. Dia mengingatkan gue untuk selalu bersyukur, dalam hal ini rasa syukur gue adalah dengan bertindak hati-hati dan nggak ceroboh. Dengan selalu menjaga barang dan hal-hal yang udah Dia kasih ke gue dengan sebaik-baiknya.
Serius. Gue nggak nangis. Gue bahkan masih senyum-senyum gitu. Ya, walaupun temen-temen di sekitar gue udah ngerasa aneh sama gue yang tiba-tiba lebih kalem.
Kalau gue inget-inget, gue udah merasakan peasaan nggak enak sejak seminggu ini. Gue selalu merasa bakal kehilangan minimal sesuatu atau seseorang. Bahkan, gue sampai mengingatkan si Dila untuk berhati-hati, agar gue sendiri juga inget bahwa gue juga harus berhati-hati. Namun... Yeah, nasi sudah menjadi bubur, masa suruh balik lagi ke beras baru panen?
Gue bener-bener berkabung, sekaligus mengambil hikmah di sini.
Sampai saat ini, gue belum cerita ke orang tua gue. Gue nggak tega mengabari mereka. Apalagi mama gue. Gue takut beliau mikir dan semua penyakitnya kambuh.
Namun, cepat atau lambat, karena gue bukan tipe orang yang suka menyembunyikan kebeneran meski itu sepahit empedu ayam, gue pasti bakal cerita ke mereka.
Untuk sementara ini, gue baru mau akan mengurus kartu atm gue. Temen-temen sangat menyarankan untuk segera memblokir kartu atm gue, takut terjadi apa-apa. Akhirnya, gue pergi ke BNI sendirian. Takut ngerepotin orang. Gue ngantri untuk sejam di sana. Namun, cuma ada 3 pergerakan manusia dan nomor antrean. Nomor gue 055 sedangkan nomor yang dipanggil baru sampai nomor 036. Saat gue baru dateng nomor yang dipanggil adalah 033 dan gue itu udah duduk menunggu di situ selama 45 menit. Jadi, gue agak pesimis gue bakal terpanggil dalam waktu 1 jam. Akhirnya, gue kabur aja ke Labkom perpus pusat. Semoga langkah gue ini bener, tapi kalau saat gue balik ke bank dan nomor gue udah kelewatan, gue nggak jadi ke situ hari ini, tapi hari Senin aja. Ya Allaaah... hamba bingung.
Gue juga udah berniat untuk mengikuti banyak lomba nulis, siapa tahu bisa menang. Yeah, gue berpikir realistis juga sih sebenernya. Kemungkinan karya gue bisa menang paling cuma mendekati 10% (ngga usah nanya dari mana gue bisa dapetin angka ini), tapi kalau terus diasah pasti akan bisa insya Allah. Ya Allah ridhoi kami ini.
Sejauh ini, gue udah ditinggal pergi HP kesayangan gue E63 yang baru gue punyain selama 3-4 bulan, beserta pulsa+paket internet yang masih ada 400MB-an. Gue juga kehilangan modem+isi+kuota yang masih 850MB-an. Flashdisk 8GB gue juga ikut melayang bareng mereka. Kabel data yang sekecil mungil itu pun nggak mau ditinggal. Yang paling fatal adalah salah satu hal yang paling krusial buat bertahan hidup: kartu ATM. Berhubung gue bikin rekeningnya di Kebumen, so kemungkinan gue nggak bisa bikin di Depok ini.
Ah dunia memang penuh tantangan. Gue harus bersabar dan bisa menghasilkan duit sendiri mulai saat ini. Gue harus bisa berjuang sendiri!!!! Sipp!!!
Di saat seperti ini, gue pengen kepala gue dielus sama Mama gue, pengen diajak chatting sama dia, pengen dihibur teman terdekat, tapi gue juga bingung... siapa???
Sesendirian itukah gue? Haha...
Gue udah bilang gue nggak nangis, so gue bakal nggak akan nangis. Semangat!!!!! :DDDD
Yeah hari Jumat sih sebenarnya, cuma harinya itu nggak biasa. Gue baru aja berkabung. Namun, anehnya gue nggak bisa sedih-sedih banget. Padahal kerugian yang gue derita nggak nanggung-nanggung. Yeah, berhubung di blog gue nggak pernah tahu bahwa ada aturan nggak boleh sebut nominal, so gue bakal membuka lebar berapa kerugian yang gue tanggung berkat kecerobohan dan keparahan gue....
Deg. Deg. Deg... Jumlahnya adalah 100ribu lebih banyak dari jumlah uang kuliah gue per semester.
Ataghfirullohal'adzim, gue cuma bisa beristighfar dalam hati. Mohon ampun kepada-Nya atas semua yang telah gue lakukan selama ini dan alhamdulillah, segala puji bagi-Nya untuk seluruh nikmat dan kasih sayang-Nya kepada gue.
Benar kata Mas Arul. Allah sangat sayang sama gue. Dia mengingatkan gue untuk selalu bersyukur, dalam hal ini rasa syukur gue adalah dengan bertindak hati-hati dan nggak ceroboh. Dengan selalu menjaga barang dan hal-hal yang udah Dia kasih ke gue dengan sebaik-baiknya.
Serius. Gue nggak nangis. Gue bahkan masih senyum-senyum gitu. Ya, walaupun temen-temen di sekitar gue udah ngerasa aneh sama gue yang tiba-tiba lebih kalem.
Kalau gue inget-inget, gue udah merasakan peasaan nggak enak sejak seminggu ini. Gue selalu merasa bakal kehilangan minimal sesuatu atau seseorang. Bahkan, gue sampai mengingatkan si Dila untuk berhati-hati, agar gue sendiri juga inget bahwa gue juga harus berhati-hati. Namun... Yeah, nasi sudah menjadi bubur, masa suruh balik lagi ke beras baru panen?
Gue bener-bener berkabung, sekaligus mengambil hikmah di sini.
Sampai saat ini, gue belum cerita ke orang tua gue. Gue nggak tega mengabari mereka. Apalagi mama gue. Gue takut beliau mikir dan semua penyakitnya kambuh.
Namun, cepat atau lambat, karena gue bukan tipe orang yang suka menyembunyikan kebeneran meski itu sepahit empedu ayam, gue pasti bakal cerita ke mereka.
Untuk sementara ini, gue baru mau akan mengurus kartu atm gue. Temen-temen sangat menyarankan untuk segera memblokir kartu atm gue, takut terjadi apa-apa. Akhirnya, gue pergi ke BNI sendirian. Takut ngerepotin orang. Gue ngantri untuk sejam di sana. Namun, cuma ada 3 pergerakan manusia dan nomor antrean. Nomor gue 055 sedangkan nomor yang dipanggil baru sampai nomor 036. Saat gue baru dateng nomor yang dipanggil adalah 033 dan gue itu udah duduk menunggu di situ selama 45 menit. Jadi, gue agak pesimis gue bakal terpanggil dalam waktu 1 jam. Akhirnya, gue kabur aja ke Labkom perpus pusat. Semoga langkah gue ini bener, tapi kalau saat gue balik ke bank dan nomor gue udah kelewatan, gue nggak jadi ke situ hari ini, tapi hari Senin aja. Ya Allaaah... hamba bingung.
Gue juga udah berniat untuk mengikuti banyak lomba nulis, siapa tahu bisa menang. Yeah, gue berpikir realistis juga sih sebenernya. Kemungkinan karya gue bisa menang paling cuma mendekati 10% (ngga usah nanya dari mana gue bisa dapetin angka ini), tapi kalau terus diasah pasti akan bisa insya Allah. Ya Allah ridhoi kami ini.
Sejauh ini, gue udah ditinggal pergi HP kesayangan gue E63 yang baru gue punyain selama 3-4 bulan, beserta pulsa+paket internet yang masih ada 400MB-an. Gue juga kehilangan modem+isi+kuota yang masih 850MB-an. Flashdisk 8GB gue juga ikut melayang bareng mereka. Kabel data yang sekecil mungil itu pun nggak mau ditinggal. Yang paling fatal adalah salah satu hal yang paling krusial buat bertahan hidup: kartu ATM. Berhubung gue bikin rekeningnya di Kebumen, so kemungkinan gue nggak bisa bikin di Depok ini.
Ah dunia memang penuh tantangan. Gue harus bersabar dan bisa menghasilkan duit sendiri mulai saat ini. Gue harus bisa berjuang sendiri!!!! Sipp!!!
Di saat seperti ini, gue pengen kepala gue dielus sama Mama gue, pengen diajak chatting sama dia, pengen dihibur teman terdekat, tapi gue juga bingung... siapa???
Sesendirian itukah gue? Haha...
Gue udah bilang gue nggak nangis, so gue bakal nggak akan nangis. Semangat!!!!! :DDDD
Wednesday, 5 October 2011
Puskesmas
Jadi, ceritanya Jumat minggu lalu (30 September 2011), kita itu berkunjung ke Puskesmas buat memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Kita di sini ada Dila, Helmi dan Ningrum. Eh... Gue malah pengen ngupload foto narsisnya aja malah, hehe...
![]() |
| Dila yang tampak keren dan dewasa di foto ini, berkat campur tangan map gue, haha |
![]() |
| Gue dan Helmi nggak sengaja memotret diri sendiri |
![]() |
| Dila asyik memfoto, Helmi dan Ningrum asyik difoto, dan si anak kecil tiba-tiba lari bawa hp minta foto bareng (haha, bohong deng) (tbc) |
Tuesday, 4 October 2011
SENI-OR PERHIMAK UI 2011
Sebenarnya gue sedang ngerjain tugas K3 Dasar saat sedang bikin post ini. Namun, entah kenapa gue lebih tergerak untuk nge-post ini dibandingkan ngerjain K3 itu. Huhuhu... Parahnya nggak ilang-ilang nih! Ckck.
Jadi, ba'da maghrib tadi, gue nge-like dan ngomentari album fotonya Iam di FB: "Pertama dan Terakhir". Isinya itu foto-foto anak-anak bidang Litbang Perhimak UI saat mengikuti acara.......Acara apa ya? Pokoknya itu acara diadakan di YDBP, di hari Sabtu, pas lagi Try Out Bimbel, masih bulan-bulan Mei gitu. Gue kasih komentar: "Litbang will always ana, kok, Am :D" Dijawablah "iya, An"
Eh, beberapa menit kemudian malah muncul pemberitahuan bahwa Iam telah mengirimkan sesuatu di dinding gue. Penasaran, gue klik lah link itu dengan bermodal koneksi internet yang lola.
Ternyata sebuah foto...
Foto yang dulu sempat gue nanti-nanti, soalnya gue penasaran sama ekspresi "muka nggak siap difoto" gue waktu itu.
Inilaaaaaaaaaah... Foto Bidang SENI-OR PERHIMAK UI...
Jeng-jeng-jeng! Kuning-kuning! Cling-cling!
Astaghfirullohal'adziim... Awalnya gue shock melihat foto ini. Nggak enak banget posisi gue buat dilihat. Gue malu pada siapa pun. Bisa dibilang nyaris nggak pernah gue foto sampai nempel ikhwan gitu. Malu juga pada temen baik gue yang dulu sempat ada konflik. Huhu... maaf. Namun, karena ini satu-satunya foto bidang gue, so gue pampang lah ini foto di blog ini. Semoga orang-orang di atas nggak ada yang keberatan. Aamiin...
Foto ini diambil saat kami berlima baru saja selesai membakar ayam di acara Perhimak yang udah gue sebutkan di atas tadi. Lihatlah betapa merana ayam tersebut. Kalau nggak jelas, gue deskripsikan penampakan ayam itu:
"Setengah gosong, tapi agak setengah matang. Dibumbui hanya dengan saus dan kecap hasil comot sana comot sini. Ditaburi daun-daunan hasil metik di pinggir pagar dan di atasnya diberi tancapan bunga Ixora paludosa merah yang melunglai karena efek panas dari ayam terbakar itu."
*Flashback on*
Kami begitu bersemangat melakukan prosesi pembakaran tersebut. Gue berdiri menyemangati. Nurmala menggendong sebotol kecap Kentjana kebanggaan masyarakat Kebumen. Mas Reda sibuk berkebun mencari "lalapan". Tomo dan Mas Wahid secara bergantian membumihanguskan si ayam dengan penuh perjuangan karena harus berebut panggangan dengan anak-anak bidang lain.
Aaaaa...syik banget! Gila! Seumur-umur gue nggak pernah sebahagia itu di acara Perhimak bahkan di saat Makrab sekali pun yang notabene proker angkatan gue, 2010.
Sehabis ayam terbakar itu layak tampil di atas piring, kami berlima pun mulai menghias piring saji. Atas kekreatifitasan Mas Reda, terciptalah garnish super miris di atas piring ceper nan comal-camel. Sehelai daun ketapang terbujur kaku di atas piring, lalu ditaruhlah si ayam terbakar di atasnya. Baru kemudian, ditaruhlah taburan bunga sokka dan daun-daun pagar yang tadi gue ceritain di atas.
Momen yang paling kami tunggu-tunggu pun tiba. Foto-foto dan makan-makan. Yey yey yey! Mas Dhani segera menggiring kami menuju tempat yang paling layak dibuat background foto. Dipilihlah ruang tengah dekat lemari furniture. Mas Dhani dengan gaya fotografernya berkata, "Top banget! Manis banget ayamnya! Nggak tahu tuh rasanya gimana! Haha. Oke silahkan menikmati!"
Glek. Oh iya! Gimana rasanya ya?
Namun, hasrat ingin makan telah mengalahkan seluruh pikiran mengkritisi gue. Akhirnya, kita coba cicipi lah si ayam terbakar lemas itu. Aaaa... kurang saus. Lari! Lari! Lari! Jambret botol saus yang lagi dipegang orang. Crot! Crot! Cicipi lagi. Kurang mataaangg... Lari! Lari! Lari! Ke halaman samping tempat panggangan tergeletak lemah. Hanya pepatah "Habis manis sepah dibuang" yang pantas menggambarkan keadaannya saat itu. Kita pun nggak peduli. Kita paksa dia bekerja lagi lebih giat. Panggangan serasa milik kita. Kita berjaya, menguasainya seorang diri sedangkan anak-anak bidang lain sedang asyik berfoto dengan ayam-ayam malang mereka masing-masing.
Riweuuuh! Namun, asyik! Sungguh, gue nggak bakal bisa melupakan ini.
Kami pun menikmati ayam terbakar itu hingga daging dan tulang terakhir. Hal ini kami lakukan karena kami tak tega menyia-nyiakan pengorbanan ayam ini. Kami lahap habis berlima doang. Alhamdulillaaaaah.... Malam itu berakhir bahagia.
Kami pulang ke tempat tujuan masing-masing.
Gue balik ke Rumah Bimbel bareng Mbak Fitri, Ipin, Mas Andi, Mas Ilham dan Amel kalau nggak salah...
Di saat inilah, mulai malam inilah gue mulai menemukan diri gue yang makin "begini". Mungkin ini titik kulminasi gue... Gue yang harus berjuang, terseok-seok karena pikiran-ego-emosi gue sendiri...
SENI-OR PERHIMAK UI... apa ya?? Haha...
Gue dan Bakpao
Wiew!!!
Gue ingat kejadian hampir setahun yang lalu, saat menyaksikan anak-anak SD berebut Momogi, saat gue memakai jakun dengan riang gembira di luar tuntutan mabim dan saat gue foto-foto bareng Dila sambil memamerkan pin Madah Bahana gue. Yeah! Saat itu, gue emang lagi bangga, bahagia, terharu, dan gitu deh pokoknya dengan apa yang telah gue raih dan capai di UKM itu. Gue senang sampai terharu dan nggak pernah melepaskan pin itu dari jakun gue yang makin kumal aja tiap hari. I love Madah Bahana ever after, even though I'd unjoin with it, hehehe. I love Marimba and friends. I hope I can play them again... I hope so. Aamiin...
Well, sebenarnya bukan ini juga yang pengen gue ceritakan...
Di awal gue udah bilang kalau gue inget kejadian hampir setahun yang lalu (sengaja diulang biar bosen, hehe), tepatnya yaitu di acara Bakpao 2010. Jadi, ini adalah sebuah kegiatan Bakti Sosial yang bersifat sangat wajib bagi seluruh mahasiswa baru di FKM UI tercinta.
Nah, ceritanya gue juga seorang maba juga tuh waktu itu. So, gue juga berkesempatan mengikuti nih acara. (Semoga pada percaya kalau gue juga pernah jadi maba, hehe) Gue masuk bidang BB. BB di sini bukan bidang Blackberry lho! Gila aja kalau di sebuah Bakti Sosial ada acara bagi-bagi berunit-unit Blackberry gratis. Bisa masuk koran Malaysia lah kita, hehe. Btw, gue belum pernah mengoperasikan BB lhooo! Kampungan? Biarin. Gue suka gaya gue, haha. (Penting ya, jeng??)
BB di sini juga bukan Bau Badan. Masya Allah, nggak mungkin tega lah kita berbagi aroma "sesemerbak" itu ke masyarakat desa yang polos dan rajin mandi. Jadi, BB adalaaaaaah... Jeng-jeng-jeng.... Bumi gonjang-ganjing, langit pecah-pecah, matahari tiba-tiba terbenam dan orang yang baca postingan ini pun mendadak nutub tab situs ini *plak!*.
Jadi BB adalah kependekan dari Buku Bermanfaat. Salah satu bidang yang mulia dan betul-betul bermanfaat di acara Bakpao ini (mentang-mentang bidang gue sendiri, hehe). Salah satu bidang muda yang baru lahir satu tahun yang lalu. Bagaimana serunya kisah gue sebagai laskar BB di Bakpao tahun lalu? Baca aja postnya di blog ini, dengan judul: "Bu Guru?"
Well (lagi?), bukan hal di atas juga yang pengen gue ceritakan di post ini. Hehehehe... (reader-nya beneran kabur ini, hehe, maaf yaa ^^).
Gue pengen cerita tentang (insya Allah) keterlibatan gue lagi di acara Bakpao ini. Yeah betul! Di Bakpao 2011. Di sini gue diamanahkan sebagai PJ BB. Jadi, BB itu adalah... (reader: STOP! STOP! STOP! Pengen gue lempar pake bantal kucing lo???; author: *speechless*). Alhamdulillah, gue cuma pengen kepercayaan ini nggak salah alamat datang ke gue. So, gue pengen berusaha semaksimal mungkin agar bidang gue (what? bidang lo??), maksud gue bidang BB di BAKPAO ini bisa berjalan baik, beriringan dengan bidang lain, saling membantu dan nggak menye-menye.
Nah, gue udah memilih sobat gue yang lemah lembut dan malu-malu, Dila, sebagai wapeje gue. Siang tadi, gue bareng dia, udah bikin beberapa konsep acara yang bakal kita adakan nanti di hari H, supaya BB nggak jobless-jobless dan krik-krik amat di hari H itu. Gue kira, tuh konsep udah harus dipresentasikan tadi sore. Eh ternyata kagak, hehehe. Maaf ya, Dil. Lo jadi pulang kesorean deh. Namun, nggak papa, kok. Insya Allah, segala hal yang udah kita kerjakan dan susun tadi itu progresif dan bermanfaat banget, hehe.
Di rapat BPH tadi dibahaslah tentang desa tujuan, danus, sponsorship, form pendaftaran dan konsep grandlaunching. Nah konsep GL ini nih yang bikin gue salah paham dan memaksa Dila bantuin gue nyusun konsep. Gue salah baca, jadi yang gue tangkap adalah grandlaunching konsep, hehe. Konyolnya, gue mengabaikan kecurigaan gue: masa iya konsep bidang perlu di-GL-in segala? Gue lebih percaya "apa kata mata gue" yang ternyata salah lihat. Parah, euy!
Desa tujuan Bakpao 2011 insya Allah sudah ditetapkan di Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat. Itu adalah sebuah desa dengan medan yang nggak begitu terjal (kayaknya, hehe), meskipun kak Dewo bilang perlu melewati tanjakan cukup curam untuk sampai ke sana. Oh iya nyaris lupa. Jadi, sebenernya inti dari post ini adalah DESA INI NGGAK PUNYA SEKOLAH!!!
What??? So??? Ini konsep bidang gue gimana ceritanya? Almarhum dong??? Ya sudahlah, gue udah siap dengan Plan B, huahahaha *gaya Pahlawan Bertopeng*
Terlepas dari konsep A yang udah almarhum, gue membayangkan Bakpao yang akan datang ini mirip adegan-adegan di sinetron atau film-film gitu. Tiba-tiba mendatangi sebuah desa terpencil dengan akses jalan yang nggak bisa ditempuh dengan sekali lompat, dengan rumah-rumahnya yang tak semua beratap genteng, dengan anak-anak yang masih belum pernah mencicipi lantai dan bangku sekolah, dan dengan hanya bergantung kepada seorang ibu Kader (ibu PKK) sebagai pengganti Bidan, tenaga Medis, dll. Dan gue pun tiba-tiba membayangkan kelanjutan adegan setelah adegan acara Bakpao ini. Gue bertemu seorang pemuda tampan di desa sana, lalu...blablablabla.... tiba-tiba Betty la Vea menjadi cantik hingga membuat Armando jatuh cinta dan hipertensi hingga stroke di tempat. Film pun diakhiri dengan adegan Betty yang menangis dan meraung-raung di makam Armando sambil menyeruput es teh manis. Karena abang es teh manisnya nggak tega, akhirnya dia melamar Betty dan menjadikannya teman hidupnya berjualan es di pagar TPU Jeruk Bali. Betty pun bahagia selamanya karena mampu berjualan es teh sambil berziarah ke makam Armando setiap hari. Fin. (lalu gue dihujani sandal-sandal swallow putus dari para pecinta telenovela)
Di salah satu foto yang gue lihat, ada seorang warga yang tengah menuju sepetak sawah sambil menenteng ember. Gue awalnya biasa aja. Nothing's special. Hingga tiba-tiba Rico bertanya, "Ini mau ngapain? BAB??"
Di salah satu foto yang gue lihat, ada seorang warga yang tengah menuju sepetak sawah sambil menenteng ember. Gue awalnya biasa aja. Nothing's special. Hingga tiba-tiba Rico bertanya, "Ini mau ngapain? BAB??"
What??? Sontak gue kaget dan mengingat detail foto itu. Tampaknya, ingatan fotografis gue (yang kata Dila kuat) sedang amat buruk saat itu. Lalu, dengan sigap Dwi dan Kak Dewo menjawab, "Bukan! Itu mau nyuci baju kok!"
Namun, di awal pengenalan desa emang udah disebutkan sih kalau warga di sana yang berjumlah sekitar 500 orang, terlalu bergantung pada sungai di situ. MCK dilakukan di sana. Jika, musim kemarau dan sungai mengering, dibiarkanlah hasil MCK itu (maaf) mengendap dan menumpuk di sungai yang kering. Hadoooh.... Ternyata, yang demikian itu memang benar-benar ada ya??? Ini benar-benar akan menjadi BAKPAO yang penuh tantangan untuk seluruh bidang, mengingat desa tujuan kami tahun lalu tidaklah sememperihatinkan ini.
Hnn... Kalau diingat-ingat dari hasil melihat foto-foto desa, sebenarnya desa ini nggak terlalu terlihat memperihatinkan. Ada beberapa rumah yang sduah berpondasi beton dan beratap genteng, meskipun kebanyakan berdinding papan beratap genteng jaman dulu. Ada sawah yang hijau. Dan ada-ada aja... Namun, perilaku warganya sendiri mungkin ya yang masih kurang ngeh...terhadap kebersihan dan kesehatan. Yeeey... gue ngomongin ini seolah-olah perilaku gue udah bagus aja, hehe. Namun, yaa, setidaknya gue buang sampah dan MCK pada tempatnya lah.
Segini doang sih, post gue tengah malam ini. (doang?)
Gue berharap, BAKPAO kali ini sukses dan berjalan lancar serta mampu menebarkan kebermanfaatan buat semua, baik kami dari panitia maupun mereka warga desa di Leuwiliang... :D
Saturday, 1 October 2011
Fiuuuhhh...!
Telaah Hasil Perkulian
Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat (Sesi 2)
Senin, 26 September 2011
A.
Kondisi Kesehatan Masyarakat Indonesia
Pada era globalisasi
sekarang ini, pengetahuan masyarakat Indonesia tentang kesehatan sudah semakin
maju. Namun, kemajuan ini tak senantiasa merata dialami oleh seluruh masyarakat
Indonesia. Sejauh pengamatan kami, masyarakat kota cenderung lebih mengerti
tata cara hidup sehat dan lebih sadar diri untuk memanfaatkan fasilitas
kesehatan yang sudah tersedia, seperti puskesmas, posyandu, dll. Meskipun dari
sisi kesadaran dan pengetahuan mengenai kesehatan sudah baik, tetapi adanya kondisi
lingkungan perkotaan yang padat penduduk dan ramai polusi cenderung menghambat
upaya peningkatan kesehatan masyarakat kota itu sendiri.
Kondisi di atas sangat
kontras dengan apa yang terlihat di tengah masyarakat daerah. Bisa dibilang,
mereka masih kurang peduli dengan kesehatannya sendiri. Masyarakat daerah pada
umumnya kurang memanfaatkan pelayanan dan fasilitas kesehatan terdekat secara
optimal. Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya kesadaran dan pengetahuan
mereka akan pentingnya kesehatan dan dampak mengabaikannya. Selain itu, banyak di
antara mereka yang beranggapan bahwa tenaga kesehatan yang berada di puskesmas
kurang berkompeten dibandingkan yang ada di rumah sakit. Akibatnya, mereka
enggan memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada di puskesmas, tetapi juga
malas untuk ke rumah sakit pusat daerah dikarenakan jarak yang tidak mudah
dijangkau.
B.
Perlunya Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat
Menurut C.E. Winslow (1920),
kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang
hidup dan meningkatkan kesehatan melalui usaha-usaha pengorganisasian
masyarakat untuk: perbaikan sanitasi lingkungan, pemberantasan
penyakit-penyakit menular, pendidikan untuk kebersihan perorangan, dan
pengorganisasian pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan
pengobatan.
Dari pendapat Winslow di
atas, dapat kita simpulkan bahwa inti dari kesehatan masyarakat adalah upaya
preventif dan promotif dari dan bagi masyarakat untuk mencapai taraf sehat yang
ditetapkan. Fungsi kesehatan masyarakat secara nyata adalah untuk memberitahu
masyarakat tentang hidup sehat sehingga dengan kesadaran sendiri mereka akan
berupaya memberdayakan dirinya untuk mencapai hidup sehat.
Jika melihat kondisi
kesehatan di Indonesia yang sudah dijelaskan pada poin A di atas,
pengorganisasian terhadap masyarakat di bidang kesehatan memang sangat
diperlukan. Winslow dengan terang-terangan dan secara jelas menyebutkan bahwa
diperlukan adanya pengorganisasian masyarakat yang dilakukan untuk mempermudah terwujudnya
5 upaya preventif dan promotif kesehatan tersebut. Hal ini dikarenakan kesehatan masyarakat
tak dapat terwujud dan berdiri sendiri tanpa adanya campur tangan dan kerja
sama setiap individu untuk terlibat di dalamnya. Peran sektor daerah hingga sektor
pusat dan dari masyarakat sendiri merupakan hal yang mutlak harus ada dalam
upaya mewujudkan kesehatan masyarakat.
Mengingat banyaknya pihak (sektor) yang terlibat, maka tak dapat dipungkiri
bahwa pengorganisasian memang sangatlah penting, dalam hal ini untuk
menciptakan keteraturan dalam masyarakat. Seperti yang telah disebutkan di atas,
masyarakat sendiri diharapkan dapat memberdayakan dirinya sendiri dalam ilmu kesehatan
masyarakat ini, maka pengembangan masyarakat pun mutlak dibutuhkan untuk
mencapai kesehatan msyarakat yang lebih baik.
Pengorganisasian dan
pengembangan masyarakat sangat penting peranannya dalam menata sistem
kesehatan. Dengan adanya sistem kesehatan yang terorganisir, pelayanan di
institusi kesehatan lebih teratur dan program-program kesehatan yang telah
dibuat dapat terealisasikan dengan baik. Sedangkan dengan adanya pengembangan
masyarakat, softskill masyarakat akan
terbentuk sehingga masyarakat mampu mengidentisifikasi dan mengetahui cara-cara
dan langkah yang tepat untuk melakukan pencegahan terhadap suatu penyakit.
Selain itu, telah disebutkan di dalam Undang-undang Kesehatan No
36 Tahun 2009 Pasal 174 ayat (1) dan (2) tentang Peran Serta Masyarakat bahwa
masyarakat dianjurkan untuk ikut berperan serta bersama pemerintah dalam setiap
penyelenggaraan upaya peningkatan dan pembangunan kesehatan masyarakat yang ada
di Indonesia secara aktif dan kreatif. Hal ini dimaksudkan agar tercipta
keteraturan dan keseimbangan antara pemerintah dan masyarakat sehingga terwujudlah tujuan Negara Indonesia yang terdapat
dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945, yaitu “memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa”.
C.
Hal yang Dilakukan untuk Mengorganisasi dan Mengembangkan
Masyarakat
Di dalam Undang-undang Kesehatan No 36 Tahun 2009 Pasal 174
ayat (2) dengan jelas disebutkan bahwa masyarakat berhak berperan aktif dan
secara kreatif menyelenggarakan hal-hal yang mendukung terwujudnya pembangunan
kesehatan nasional. Oleh karena itu, diperlukan adanya pemberdayaan seluruh
masyarakat tanpa terkecuali.
Intisari dari pemberdayaan masyarakat adalah kegiatan yang bersifat
edukatif. Cara pemberian informasi kesehatan, baik mengenai pencegahan, ciri-ciri
dan pengobatan penyakit; pengenalan cara menjaga lingkungan; pemilihan menu makanan
sarat gizi, maupun mengenai aspek kesehatan dan keselamatan kerja, dapat
dilakukan dengan memberikan edukasi terhadap masyarakat. Bentuknya dapat berupa
penyuluhan yang dengan intensitas teratur, misalnya satu bulan sekali, sehingga
masyarakat yang awalnya tidak tahu, berangsur-angsur tahu dan timbul kesadaran
dengan sendirinya seiring semakin banyaknya pengetahuan yang mereka peroleh.
Salah satu bukti realistis keberhasilan pengorganisasian dan
pengembangan masyarakat yang ada di negara kita adalah kegiatan PKK. PKK dengan
sasaran ibu-ibu rumah tangga telah berhasil meningkatkan kesejahteraan dan
kesehatan keluarga. Hal ini dikarenakan kegiatan PKK itu diisi dengan
informasi-informasi mengenai kesehatan, keluarga, menu makanan sehat, dll
melalui kajian-kajian yang disampaikan oleh peserta PKK yang dianggap paling
berkompeten di antara mereka. Para ibu yang notabene
adalah tiang utama penopang dan kunci pengatur segala urusan keluarga dan rumah
tangga, baik dengan disadari maupun tidak akan menerapkan informasi tersebut
dalam kesehariannya terhadap anggota keluarga mereka. Akhirnya, seluruh anggota
keluarga akan terorganisir dengan baik untuk melakukan hal-hal yang baik dan
benar, tidak hanya di bidang kesehatan, tetapi di bidang lainnya juga. Dengan
demikian, akan terjadi perkembangan ke arah lebih baik di dalam masyarakat.
D. Contoh
Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat
Contoh selain
PKK dari bentuk pengorganisasian adalah puskesmas. Puskesmas bertanggung jawab atas
kesehatan masyarakat di satu wilayah. Rekap data kesehatan masyarakat per wilayah
akan terorganisir di puskesmas. Selanjutnya data kesehatan masyarakat per wilayah
tersebut akan disatukan (terorganisasi) hingga ke wilayah pusat yang akan
menjadi cerminan kondisi kesehatan nasional. Dari sini kesehatan masyarakat dapat
terus dikontrol dan senantiasa ditingkatkan menuju keadaan yang lebih baik.
Puskesmas juga
berwenang melakukan konselling dan promosi kesehatan; menyelenggarakan kegiatan
kesehatan, seperti posyandu bagi balita dan poswindu bagi lansia; serta
melakukan pengecekan terhadap kondisi kesehatan lingkungan di wilayah tersebut.
Hal-hal ini secara langsung melibatkan petugas tenaga kesehatan dan masyarakat
dalam sebuah interaksi yang apabila dilakukan secara berkala, pada akhirnya akan
menuntun masyarakat untuk terbiasa berperilaku sehat.
E.
Hasil yang Hendaknya Dicapai setelah Adanya Pengorganisasian
dan Pengembangan Masyarakat
Setelah terlaksananya pengorganisasian dan pengembangan
masyarakat, diharapkan muncul kemandirian
dari masyarakaat sehingga mereka tidak mutlak bergantung pada pemerintah dalam
meningkatkan taraf dan derajat kesehatan mereka masing-maing. Masyarakat
mampu menjaga dirinya, terutama dalam hal mencegah penyakit dan memelihara
kebersihan lingkungan sehingga akan berimbas pada menurunnya tingkat kematian,
tingkat kemiskinan, dan penyebaran wabah penyakit menular yang berada
di tengah-tengah masyarakat.
Sudah banyak pelayanan kesehatan yang tersebar di Indonesia,
yang senantiasa siap melakukan tindakan pencegahan, penanganan dan pemberian informasi
tentang penyakit kepada masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan lebih
mengetahui pentingnya pelayanan kesehatan tanpa ragu memanfaatkan pelayanan
kesehatan sekecil puskesmas sekali pun. Selain itu, dengan adanya sharing info atau edukasi mengenai tanda
dan gejala penyakit, masyarakat juga hendaknya lebih peka terhadap setiap
perubahan kesehatan yang terjadi pada diri dan lingkungan mereka. Dengan
demikian, penanganan dini dapat dilakukan untuk meminimalisasi dampak suatu
penyakit dan peristiwa “berkunjung” ke rumah sakit saat penyakit memarah atau
berdarah-darah dapat dikurangi.
Kelompok 9
1. Anifatun Mu’asyaroh
2.
Diana
Wijayaningrum
3.
Fauziah
Nurmala Sari
4.
Helmi
Wahyuningsih
5.
Iksanataun
Fadila Oktabriani
6.
Laeli
Nur Maeni
7.
Nurul
Aini
8. Ria Resti Agustina
Subscribe to:
Comments (Atom)
Agustus Ke-80
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
Lagu di atas merupakan lagu Amaryllis karya komposer Henri Ghys. Saya memainkannya dengan aplikasi piano pada ponsel saya. Oh iya, mohon...
-
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
“Mau semangka?” “Aku puasa,” jawabnya sekenanya. “Oh, afwan. Nggak pulang, Di?” tanyaku. “Tidak,” jawabnya singkat. “Kenapa...











