Monday, 8 December 2014

Hehe, kayaknya gara-gara aku, ada beberapa orang yang jadi memanggilmu dengan sebutan ****** juga, ya? Maaf yaaaa….
Namun, kayaknya lucu juga sih kedengarannya… :P
Ngakak saya waktu pertama kali lihat gambar di atas, :D
kepingankisahamarilis.blogspot.com
Kebumen-Depok
Entahlah 2009-Juli 2012

Satu
pada 28 Juni 2009 pukul 9:34
(Tahukah? Gara-gara pernah ngobrolin Tetralogi Laskar Pelangi di MXIT denganmu, aku jadi makin suka dan suka sama novelnya Andrea Hirata. Hehe, aku yakin kamu udah lupa kita pernah ngobrolinnya. Ini note pertama yang mana saat menulisnya, aku sedikit ingat padamu, J)

Daratan ini mencuat dari perut bumi laksana tanah yang dilantakkan tenaga dahsyat katalismik. Menggelegak sebab lahar meluap-luap di bawahnya. Lalu membumbung di atasnya, langit terbelah dua. Di satu bagian langit, matahari rendah memantulkan uap lengket yang terjebak ditudungi cendawan gelap gulita, menjera pesisir sejak pagi. Sedangkan di belahan yang lain, semburan ultraviolet menari-nari di atas permukaan laut yang biru bertapis minyak, jingga serupa kaca-kaca gereja, mengelilingi dermaga yang menjulur ke laut seperti reign of fire, lingkaran api. (Andrea Hirata: Sang Pemimpi, mozaik 1, "What a Wonderful World", hal. 1)

Jika kita ditimpa buah nangka, itu artinya memang nasib kita harus ditimpa buah nangka. Tak dapat, sedikit pun, dielakkan. Dulu, jauh sebelum kita lahir, Tuhan telah mencatat dalam buku-Nya bahwa kita memang akan ditimpa buah nangka. Perkara kita harus menghindari berada di bawah buah nangka matang sebab tangkainya sudah rapuh adalah perkara lain. Tak apa-apa kita duduk pantai di bawah buah nangka semacam itu karena umi Tuhan telah mencatat dalam buku-Nya apakah kita akan ditimpa buah nangka atau tidak. (Andrea Hirata: Sang Pemimpi, Mozaik 11, "Spiderman", hal. 127)
Orang yang disambar petir memiliki ekspresi dan sikap tubuh yang aneh seolah tubuhnya dimasuki makhluk asing dan makhluk asing itu mengambil alih jiwanya. Di atas fondasi kepercayaan seperti itulah orang-orang Melayu tempo dulu meletakkan cara yang spektakuler untuk menyelamatkan korban sambaran petir. Jika ada korban petir yang tak langsung tewas, dukun Melayu, dalam hal ini dukun langit, segera menyalakan api di bawah tungku yang panjang. Di tungku itu dijejer daun-daun kelapa yang masih hijau lengkap dengan pelepahnya. Dan di atas daun kelapa itulah sang korbang dipanggang, di-barbeque. Maksudnya, untuk mengusir dengu listrik dari dalam tubuhnya. Percaya atau tidak, cara ini sering sukses. Penjelasan logisnya barangkali ada pada seputar reaksi antara asap, panas api, listrik, sugesti, dan tipu muslihat dunia gelap perdukunan. Adapun yang tak sempat tertolong, seperti terakhir kulihat, seorang sembari nira disambar petir saat memanjat pohon aren. Ia wafat di tempat, lekat di pohon itu, kedua tangannya tak dapat diluruskan. Ia ****fani dan dikucurkan dengan sikap tangan seperti seorang dirigen orkestra sedang mengarahkan lagu "Aku Seorang Kapiten". (Andrea Hirata: Sang Pemimpi, mozaik 13, Pangeran Mustika Raja Bana, hal. 157-158.

Bakat tidak seperti alergi,dan ia tidak otomatis timbul seperti jerawat,tapi dalam banyak kejadian ia harus ditemukan
.

Yatta! Kamu ternyata mengomentarinya, hehe…
Rajine..wis ngrekam mbrang dicateti maning..jyan jyan









Dua
11 Juli 2009 pukul 20:44
(Ini note ke-2 tentang kamu. Sebenarnya, bukan menceritakan kamu. Aku ingat sekali, kamu sering menggunakan kata rewel. Bagiku kata rewel itu kata yang sangat jarang kudengar sehingga saat setiap aku membacanya dari komentarmu, kata rewel ini terlihat lucu sekali. Kawaii, seperti ucapan seorang kakak yang sedang memarahi adik kecilnya, tapi lembut. Rewel ini cikal bakal sebuah cerpen. Namun berhenti dan belum sempat nerusin lagi. Terima kasih untuk inspirasinya. J)

Rewel in the Palace

Burung gereja berdasi bercicit ceria di dahan kering pohok ek yang dulu sengaja ditanam dekat-dekat dengan kamar oleh Jase. Tujuannya adalah agar dia dapat menggunakannya untuk turun dari kamarnya di lantai 2 rumahnya. 

Hehe... inspired by nylelek pers0n!

Smangat!!!

Tiga
18 Juli 2009 pukul 23:12
(Maaf sekali. Aku juga nggak tahu kenapa aku menuliskan ini untukmu. Gomenasai untuk memikirkan dan menantikanmu mengajak ber-chatting via MXIT di malam hari.)

Di balik kilau pepohonan cemara angin yang bernyanyi tanpa solmisasi...
Di antara dedahanan jambu mawar yang bunganya tengah ramai berebut untuk mekar...
Dan di tiap sela dedaunan rambutan yang selalu sibuk mengumpulkan karbondioksida...
.......
Aku tertunduk, mengerutkan dahi, menyeleksi dan menyusun serpihan-serpihan puzzle istimewa untukmu...
Ku bisikkan 3 kata rahasia yang kuharapkan besedia terbang bersama semilir angin...menuju kotak pos hatimu, hanya untukmu, tuk pertama dan terakhir kali...
Pertengahan Juli yang kering dan dingin adalah pertanda awal musim bunga bersemi di kalender hatiku...
Tiga kali perjumpaan dalam lima menit perkiraan waktu, membuatku tiga kali jatuh ke dalam lubang nan usil memainkan ilusi, memaksaku memamerkan senyum simpul mahalku secara cuma-cuma kepada siapa saja... Tak tanggung-tanggung, satu lesung pipi selalu kulemparkan tuk menyambutmu...
Hanya untukmu, tiga kata rahasia... Tiga diksi termahal yang memang limited edition, kutitipkan pada angin... Semoga hinggap di mimpimu. . . .
Nite. . .












Empat
19 Juli 2009 pukul 10:05
(Ini adalah kelanjutan note sebelumnya. Di sini, aku mulai merasa ada yang salah dan benar-benar salah denganku. Aku yang terlalu memaksa dan berpura-pura tidak tahu bahwa kau adalah kekasih orang lain. Nakal dan keras kepala, ya? Oh iya, dalam beberapa bagian tulisanku, mungkin aku seperti menyalahkanmu. Namun, sebenarnya tidak. Terima kasih justru ingin kuucapkan selama ini padamu yang begitu baik dan mau mengobrol denganku, si kakak kelas tua renta. Memang selalu terlintas pikiran, “Jika aku bukan kakak kelas, pasti aku tidak akan bisa ngobrol denganmu seperti itu, hehe”. Aku sadar tapi tetap memaksa. Maaaaaaf… L)

I've never felt something like this before...
Mungkin suatu kontraposisi sehari-hari bagi khalayak umum, tapi bagiku ini adalah suatu invers yang jarang terjadi di 17 tahun keberadaanku di dunia...
Jika ditelaah lebih lanjut, menilik memoriam-memoriam terdahulu yang hampir terkubur oleh waktu, belum pernah kualami keberhasilan berarti dalam peristiwa ini.
Aku tergiur, terhipnotis oleh kilauan patah-patah katanya. Dia yang tak pernah kehilangan cerlang, dan tak kan pernah menghilangkannya demi satu tujuan menarik hati banyak orang...
Aku salah satu dari banyak orang itu, dan di sini aku sebagai korban dari nikmat sekejap yang membawa kesengsaraan panjang dan sulit dilupakan...
Sem0ga aku akan lebih jarang mengalami ini, dan kutemukan sekali lagi saja, untuk yang terakhir...
Tiga kata untuknya masih tersimpan, terjaga , hanya untuknya yang tak tahu siapa dan di mana, serta entah kapan kedatangannya. . .Top of Form










Lima:
31 Juli 2009 pukul 18:50
(Iya. Aku sering menyebutkan kawan bisu, ya? Itu adalah kamu. Maaf, aku agresif. Malu. Komentar monolog yang ditulis di komentar-komentar di bawah note ini adalah apa yang aku rasakan saat itu. Entahlah! Aku malu membacanya lagi.)

Setiap melihatnya, bahkan mendengar namanya saja, aku jadi...begitu merasa aneh...
Aneeh banget!!!
Kata "the virgin": Rasa ini sungguh tak wajar...hehe... Dan mungkin kurang lebih maksudku sama dengan itu...
Setelah berpapasan dengannya, sedikitnya dua inspirasi timbul begitu saja tanpa permisi. Wow! Aku heran...dan senang. Hehe...
Bahkan, aku begitu susah mendeskripsikan rasa tidak wajar itu. Begitu abstrak dan mendalam. Begitu terpendam dan penuh rahasia. Begitu membuatku penasaran! Hmm... Bukan cinta, hanya saja rindu menerus terhadap kata-kata bisunya yang begitu menyihir dan menginspirasiku. Sungguh! Belum pernah satu huruf pun, terucap dua arah. Hmm...
Namun, setiap berbincang bisu, semangatku tumbuh! Inspirasi mengalir! Dan senyumku tersungging, kecil.
Memang aku yang over. Hehe...
Coz...sekarang, aku pun tak pernah lagi terpaut sepatah kata pun dengannya. Gpp, asal masih sekedar papasan kecil, aku tetap senang. Kau inspirasiku! Salah satu pot0ngan puzzleku yang baru kutemukan di hamparan kebun inspirasi sempit dan berpepohonan rimbun!

WoW kau orang yang ku maksud, semoga kau membaca ini, lalu bangkitkan semangatku lagi dan lagi...

Ayo, kawan bincang bisuku....
Aku rindu kata-kata ikhlasmu!
Top of Form



Komentar:Top of Form

Kereeen...

Apa, b0ng??

Please, tell me what must I do? fiugh...
Semakin ditulis, semakin aku terobsesi. Namun, ini hanya obsesi kompulsif yang terus memuncak tak tahu kapan akan mencapai si sumber obsesi...
Gila!
Sehari saja tak menulis, meski satu hal kecil tentangnya, rasanya ga enak, n slalu pengen menceritakannya meski hanya pada hape soulmateku...

Kangen!
Hahae...

Kutulis di mana saja yang masih muat, dan mau menerima coretan tak pentingku ini.
Mana lagi ya?
Hmm...


Basa-basi!
Aku tak suka orang yang terlalu banyak basa-basi untuk menutupi kekurangannya!
Meski itu adalah kau!
Enam
2 Agustus 2009 pukul 17:21
(Ini adalah cerpen yang kubuat sebagai pemenuh tugas Bahasa Indonesia saat kelas 12. Percaya? Aku menulisnya beberapa saat setelah chat denganmu di MXIT. Aku buntu ide dan tidak tahu mau menulis apa lagi, maka aku memutuskan menuliskan kisah tragis seekor kecebong. Terima kasih lagi karena secara tidak langsung dan tanpa kamu sadari kamu telah menginspirasikan sebuah ide lagi.)

Di Ladang Tebu

Musim gugur hampir berlalu. Angin musim dingin mulai bertiup menggelitik bulu kuduk dan hamparan ilalang di ladang tebu. Dari kejauhan terdengar suara ratusan langkah kaki yang makin lama makin mendekat, menggemparkan kediaman para makhluk pelompat yang sedang nyaman mendengkur di bawah terpaan cahaya bulan malam ke-13 di sana.
Perlahan tapi pasti, satu per satu dari mereka terjaga lalu berteriak seenaknya, "Wibik...wibik..." Sekarang, suara langkah kaki telah digantikan oleh riuhnya konser yang dimeriahkan musisi-musisi amfibi, membawakan theme song andalan mereka, "Wibik...wibik..." Mereka berlompatan ke sana ke mari, padahal tak ada yang mendekati. Mungkin insting mereka jauh lebih peka dari perkiraan para manusia ladang.
Sementara itu, sekitar dua puluh meter dari ladang tebu tempat para katak itu bisaa beraktivitas dan istirahat, ratusan pasang mata manusia mengintai mereka. Beberapa menit lagi, perburuan hewan amfibi ini resmi dibuka. Pesertanya tak lain tak bukan adalah ratusan pengintai ladang tadi. Berbagai senjata seperti cangkul, pisau, sapu jerami, hingga samurai telah mereka genggami. Bumerang kecil pun tak luput dija****n benda pamungkas. Tatapan mereka --yang kebanyakan adalah petani-- tajam, teliti dan terpusat pada ladang tebu. 
Kini hanya tinggal menunggu tanda, dan mereka telah siap melakukan penyerangan dan mengayunkan benda-benda di genggamannya seasyik bermain yoyo. “Priiiit...” Lalu seluruh manusia bersenjata berhamburan ke ladang melancarkan aksi.

*****
Dahinya berkerut, sehingga dapat menahan sebulir keringat yang meluncur lincah dari kepala botaknya. Meski keringat bercucuran, tapi Profesor Keynes tetap kekeuh menempelkan matanya pada lensa okuler mikroskop elektron. Objek pengamatannya adalah gumpalan kecil berinti hitam dan diselimuti lendir bening yang telah ia ja****n preparat. Entah spesies apa yang sedang ia teliti. Namun, yang pasti ini adalah suatu proyek besar sebagai bentuk sumbangannya bagi khazanah ilmu pengetahuan.
Sementara sang profesor asyik bekerja, di ruangan yang sama, ada sesuatu yang mengawasi setiap inci gerakan profesor di setiap detiknya. Jika profesor mengerutkan dahi, ia pun akan semakin serius mengamati. Jika profesor tertawa, ia ikut menari berputar di dalam kotak akuariumnya. Ia adalah seekor kecebong berumur tiga hari.
Sepanjang 3 hari hidupnya ia tak pernah melihat danau, sawah, rawa, got atau tempat-tempat semacam itu yang bisaanya merupakan tempat lahir, tanah air para kaumnya. Kecebong ini lahir dan tumbuh di akuarium profesor Keynes bersama sekitar seratus ekor saudaranya. Bahkan, ia tak punya nama. Menamai mereka satu per satu bukanlah ide bagus. Apalagi profesor sendiri sedang sibuk meneliti seluk beluk leluhur kecebong itu. Alhasil, ia pun menamai dirinya sendiri "Nana", sebab ia suka bersenandung dalam air. Satu-satunya hobi Nana adalah memperhatikan profesor. Hobi yang oleh saudara-saudaranya dianggap aneh dan membuang-buang waktu.
Di film-film kartun, anak burung yang baru menetas akan menganggap sosok pertama yang dilihatnya sebagai induknya, meskipun sosok itu adalah seekor kucing. Tampaknya, hal ini pula yang terjadi di pada Nana. Ia begitu menyayangi profesor yang sering berada di dekatnya.
Suatu hari, bertepatan dengan lima hari umur Nana, seorang wanita asing datang ke laboratorium. Dia memakai baju safari coklat, bertopi lebar dan tampaknya datang dari tempat jauh. Kedatanganya adalah untuk mendiskusikan satu hal serius dengan profesor. Namanya Sandra.
"Bagaimana perkembangan penelitianmu, Prof?" tanya Sandra kepada profesor yang sedang menulis suatu kajian ilmiah. Profesor berhenti menulis. Dibetulkannya letak kacamata perseginya yang melorot. Lalu ia menghirup nafas panjang, menahannya beberapa detik sebelum kemudian ia hembuskan.
Hening sejenak dan akhirnya ia pun menjawab sambil membelai dagunya yang tak berjenggot, "Hmm... Sandra, setelah kuteliti lebih lanjut, kematian buaya-buaya di rawa itu disebabkan oleh Cane toad."
Sandra diam. Wajahnya tampak serius berpikir, "Begitu? Tapi, bagaimana mungkin? Mereka sangat membantu para petani. Sejak tahun 1935, mereka sengaja diimpor dari benua Amerika untuk membasmi hama kumbang yang menyerang tanaman tebu di Queensland. Kini mereka telah beranak pinak di seantero Australia. Bagaimana mungkin mereka bisa membunuh para buaya-buaya itu?"
Di dalam akuarium, Nana mendengarkan percakapan itu dengan seksama. ‘Apa itu Cane toad? Queensland? Amerika? Nama-nama apa itu?’ Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan di kepala Nana. Ia pun semakin antusias memperhatikan dua makhluk besar yang tidak hidup di air itu.
"Sandra. Katak-katak ini mempunyai sistem pertahanan diri yang kompleks. Satu bulan penelitianku terhadap Cane toad, ternyata membuahkan fakta baru. Mereka berbeda dengan katak-katak jenis lain, sebab ada semacam kantung beracun yang tersembunyi di balik kaki depannya. Zat-zat mematikan yang kutemukan dalam sampel buaya itu sama dengan racun yang ada di dalam kantung katak itu," jelas profesor panjang lebar.
Kenyataan itu membuat Sandra tercengang. Tampaknya ia tak menyangka bahwa katak-katak yang panjangnya bisa mencapai 20 cm itu adalah kunci penyebab ketidakstabilan ekosistem di sekitar hutan dan ladang tebu. Perlahan-lahan ia mulai bicara lagi, "Saya mengerti, Prof. Populasinya yang begitu pesat satu dekade terakhir, bahkan hingga ke daerah rawa di hutan, memang cukup membuat saya bertanya-tanya. Apakah tak ada predator yang mau menyantap katak-katak itu? Ternyata mereka mati sebelum berhasil memangsanya. Lalu, Prof, apa mereka berbahaya bagi manusia?"
Si kecebong masih serius memperhatikan mereka. Meskipun ia mendengarkan tiap kalimat percakapan itu, tapi tak sedikit pun ia memahami maknanya. Kapasitas memori pikirannya kecil, sekecil tubuhnya.

*****
Esoknya, Nana berharap agar Sandra datang lagi dan mengatakan hal-hal lain yang lebih mudah untuk dipahami olehnya. Ia menyukai Sandra sejak awal melihatnya. Sandra adalah orang pertama yang menyapanya --menyapa mereka tepatnya-- dengan mengobok-obok akuarium. Padahal, saat itu Sandra hanya berniat merendam kelingkingnya yang sedikit melepuh karena tercelup ke dalam secangkir kopi panas.
Ckrrk... Pintu terbuka, lalu melangkah seorang anak laki-laki kecil memakai seragam TK. Anak kecil itu mengendap-endap lirih di dalam laboratorium. Ia berhenti tiba-tiba di depan akuarium lalu berteriak, "Mak... Emak! Ada ikan kecil-kecil belenang, Mak! Banyak! Ada sejuta! Di sini mak!" Suaranya yang cempreng mengagetkan Nana dan membuat gaduh seisi rumah.
"Wah, suara itu menggetarkan dunia!" kata Nana kepada seekor ikan koi bersirip kuning yang berada di dekatnya. Akuarium adalah dunia baginya.
"Iya. Aku takut suaranya menimbulkan polusi di dunia kita," jawab ikan mas itu.
"Apa itu polusi?" tanya Nana dengan penuh penasaran.
Si ikan tampak bingung saat ditanya balik, lalu dia pun menjawab, "Hmm... Profesor berkata seperti itu 7 hari yang lalu saat memandang kotak kaca itu." Mata bulatnya melotot ke arah televisi.
"Aku hanya mengutip kata-katanya. Hehe..." imbuh si ikan.
"Tujuh hari lalu? Umurku saja baru enam hari. Kalau begitu kau lebih tua dariku. Berapa umurmu?"
Si ikan berenang berputar di tempat sebanyak tiga kali yang menandakan ia sedang berpikir. Lalu ia menjawab, "Aha... biar kutanyakan pada emakku."
"Emak? Apa itu emak? Manusia kecil itu juga menyebutkan emak tadi," tanya Nana membabi buta.
"Emak itu orang yang lebih tua darimu. Dia tahu segala hal yang tak kau ketahui," jawab si ikan.
"Kalau begitu kau emakku?"
"Aku? Entahlah. Sepertinya tampang kita berdua berbeda. Kau
begitu hitam legam dan mulus. Sedangkan aku, indah, berkilau tapi bersisik. Ah... sudahlah biar kutanya emakku yang ada di dunia seberang!" jawab ikan. 
Lalu ia meninggalkan Nana menuju sebuah akuarium lebih besar yang berada di samping akuarium mereka. Nana terus mengawasinya hingga si ikan sampai di perbatasan "dunia" dan bertatap muka dengan seekor ikan mas koi super besar. Si ikan menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi dengan ikan besar itu. Tak lama kemudian, si ikan koi kecil bersirip kuning pun berbalik dan menemui Nana.
"Sudah kudapatkan jawaban. Kata emakku, aku menetas saat bulan bulat sempurna dan nanti malam adalah bulan bulat sempurna keduaku. Jadi umurku adalah satu bulan. Hahaha!"
"Oh... Lalu kau siapa?" tanya Nana.
"Aku? Namaku Sybil kau Nana bukan? Dan satu lagi, aku bukanlah emakmu. Kata emakku, emakmu adalah orang yang melahirkanmu. Eit... Jangan bertanya soal emakmu lagi padaku!" kata ikan itu yang ternyata bernama Sybil seolah-olah bisa membaca pikiran Nana.
"Oh...Baiklah, Sybil. Lalu, mengapa emakmu ada di dunia yang lain?"
"Entahlah. Profesor memisahkan kami sesaat setelah aku menetas."
"Lalu..." kata-kata Nana terhenti setelah terdengar suara berisik menuju laboratorium. Pintu terbuka, lalu muncul profesor dan seorang manusia bertutup kepala panjang hingga terjuntai menutupi dada.
"Aduh... Elu ya, Dul! Udah emak bilangin ratusan kali tetep aje nakal! Jangan masuk ruangan Mister Propesor! Bagimane kalo ntu barang-barang pade pecah? Pan bisa berabe ntu urusanye! Maapin, anak aye yah, Mister!" kata manusia bertutup kepala itu sambil menaboki anaknya dengan lembut.
"Hahaha... Tidak apa-apa. Saya suka dengan anak kecil yang rasa ingin tahunya besar. Apalagi setiap melihat Abdul, saya jadi ingat anak saya" kata Profesor Keynes.
"Terime kasih, Mister. Mister kagak marah same ni Bedul yang bandel. Oh iye, aye do'ain semoge Mister bisa cepet ketemu anaknye di Australie. Amin... Ya udeh, kami ke dapur dulu, Mister, mau masak makan siang. Ayo, Dul!"
“Mpok, bagaimana kalau Abdul di sini saja dulu?" pinta profesor.
"Kagak ape-ape nih? Ntar kalo ganggu Mister bagimana?"
"Kagak ape-ape, Mpok! Haha..." jawab Profesor menirukan logat Mpok Ijah.
"Ah! Mister bise-bise aje! Ya udeh, aye turun. Permisi!"
Mpok Ijah keluar dari laboratorium. Pintu tertutup. Profesor mendekati Abdul, lalu berkata, "Dul, binatang ini namanya kecebong atau berudu, bukan ikan."
Abdul tampak mengerti, lalu ia bertanya, "Meleka saudalanya ikan, ya, Mistel?"
"Hahaha... No, son! Mereka adalah anak-anak katak. Kau tahu katak bukan?"
"Waaah... Kelen! Kok meleka tidak punya kaki?"
"Tentu saja mereka punya. Hanya saja belum tumbuh. Suatu saat nanti mereka akan bermetamorfosis menjadi katak dan hidup di darat. Kau mengerti, Nak?" tanya profesor.
Abdul mengangguk pelan. Tak jelas apakah ia mengerti atau tidak, tetapi yang pasti Nana lah yang sedang bergembira saat ini. Ia tahu siapa dirinya sekarang. Ia tahu leluhurnya. Ia adalah Putra sang Katak!
"Kau tahu Sybil? Aku adalah Putra Katak! Seperti apa katak itu, Sybil?" tanyanya. Belum sempat dijawab, dia sudah berkata lagi, "Eh... Katak? Hah?? Katak? Aku..." tiba-tiba ia berhenti bicara. 
Kegembiraannya meluntur seiring semakin pelan suaranya.
"Ada apa, Na?" tanya Sybil tampak heran.
"Aku anak seorang pembunuh!

*****
"Sudahlah. Tak usah kau pikirkan. Wajahmu sama sekali tak menakutkan. Bahkan, kau tak memiliki sirip duri seperti yang kumiliki," kata Sybil pada suatu hari. 
Nana sudah menceritakan tragedi kematian buaya di ladang tebu. Sejak ia tahu bahwa ia adalah anak seekor katak yang merupakan hewan pembunuh hewan lain, semangatnya mulai menurun. Profesor dan Sandra tak lagi penting baginya. Sybil yang telah mende****sikan dirinya sendiri sebagai sahabat Nana lah yang selalu menghiburnya. Hubungan antara keduanya memang semakin dekat akhir-akhir ini.
"Ah... Sudahlah Sybil. Kata-katamu tak akan pernah membantu. Lebih baik kau pergi sebelum terbunuh seperti buaya-buaya itu!" usir Nana.
Sybil hanya diam. Bukan karena tak dengar atau tak mengerti, tapi karena ia melihat sesuatu. Matanya memelototi satu bagian tubuh Nana. Mulutnya terbuka, sampai-sampai lupa menutup.
"Na!Kau punya kaki!" teriaknya tiba-tiba. Lalu ia mengitari Nana untuk memastikan. "Yeah! Sepasang kaki belakang! Pantas saja beberapa hari ini kau bersikap aneh. Ternyata memang karena hendak tumbuh kaki. Haha... Keren!" celetuk Sybil setengah berteriak, sehingga membuat penghuni laboratorium kaget.
Kali ini Nana tak bisa lagi menghindar. Ada satu dorongan dalam tubuhya yang memaksanya tersenyum. Lalu ia berkata, "Dasar kau ikan! Hahaha... Tapi, apa itu mungkin? Aku marah-marah gara-gara mau tumbuh kaki? Coba ada emakku di sini, pasti dia sudah memberitahuku segala hal tentang kaumku."
Sybill tersadar dari kesenangan sesaatnya --merayakan tumbuhnya kaki Nana--, lalu menghampiri sahabat terkasihnya. "Sudahlah, Kawan. Kau tak butuh emakmu lagi. Ada aku dan semua saudaramu di sini. Benar kan teman-teman?" hibur Sybil lalu melirik pada penghuni akuariam lain memastikan apakah warga lain dalam akuarium berpendapat sama dengannya. 
Namun, hanya beberapa ekor yang bilang "ya". Sedangkan yang lain menggumamkan kata-kata semacam: "Dasar sinting!"; "O, ya?"; "Aku tak ingat kalau aku bersaudara dengannya," atau "Siapa yang peduli? 'Cuz I don't care!"
"Oh! Jangan pedulikan mereka, Kawan. Kau pasti bisa hidup tanpa emakmu! Mereka hanya makhluk-makhluk berotak udang, bahkan lebih kecil dari otak udang. Hahaha...!" kata Sybil menanggapi keadaan. 
"Sybil! Kau pikir otakmu sebesar kelapa? Enak saja kau menghna kami seperti itu!" bentak seekor ikan di belakangnya. Ternyata, tanpa ia sadari, ratusan makhluk air di sekelilingnya sedang memandangnya dengan wajah geram. Dalam hitungan detik seluruh makhluk air telah merubungnya dan mengeropoknya.
Nana hanya diam pasrah menyaksikan. "Rasakan tuh, Bil! Hehe..." batin Nana. Ia sudah hendak membantu Sybil, ketika pintu terbuka yang diikuti masuknya Profesor dan Sandra. Sandra tampak berbeda kali ini. Ia tidak memakai baju safari, sepatu boot hitam juga topi lebar bersimbol pohon seperti bisaanya. Baunya pun harum, tidak lagi amis campuran bau ikan, asap, tanah liat dan keringat. Polisi hutan ini telah berubah menjadi bidadari cantik yang memesona. 
"Wah...wah... Penampilanmu tak seperti bisaanya, San? Mau ke mana kau?" tanya profesor kepada Sandra.
"Bisaa ke Bali, Prof. Aku sudah penat berada di hutan Australia sebulan ini. Apalagi dengan semakin banyaknya binatang yang mati. Mereka membuatku stres," jawab Sandra.
"Oh iya! Sekarang aku sudah yakin mengenai katak beracun Cane toad itu. Mereka sangat berbahaya bagi makhluk hidup, tak terkecuali manusia," kata profesor mulai serius.
Sandra kaget. Tas kecil yang ia selempangkan di bahunya melorot hingga ke siku. "Lalu, bagaimana cara kita membunuh mereka agar bukan malah kita yang terbunuh, Prof?" tanya Sandra. Suaranya meninggi. Wajahnya memerah. Suhu di laboratorium serasa naik drastis. Padahal langit Bogor sedang mendung saat itu. 
"Seharusnya hal ini sudah kita sadari sejak lama. Toh, katak-katak itu tak bisa melompat setinggi batang tebu untuk menangkap kumbang yang justru sering hinggap di ujung batang. Aku sungguh menyesalkan kelalaianku ini! BETAPA BODOHNYA AKU!" kata Sandra. Kali ini ia tak lupa menggebrak meja kerja profesor. Kertas-kertas berhamburan akibat ulah Sandra. Namun, profesor Keynes sama sekali tidak berusaha mengambilinya. Ia hanya diam tanpa ekspresi.
Sedangkan Nana, ia tak berkedip menyaksikan peristiwa itu. Sampai-sampai ia tak sadar bahwa Sybil sudah lolos dari lingkaran penghajaran dan sekarang berada di sampingnya dengan tubuh babak belur. Beberapa sisiknya terkelupas.
Tampaknya ia tak akan berani berbicara sembarangan lagi.
Sandra masih diliputi amarah. Namun, rona merah di wajahnya berangsur mulai memudar sekarang. Tangannya kembalai santai dan ia membetulkan tas tangannya yang melorot. “Maaf, Profesor!” katanya pelan.
Profesor tak lagi diam saja. Ia malah tersenyum, lalu perlahan tertawa kepada Sandra. Sandra justru bingung melihatnya. Ini bukanlah saat yang tepat untuk tertawa, pasti kurang lebih seperti maksudnya.
“Ternyata kau bisa marah juga, San? Hahahaha…” kata profesor.
“Apa maksudmu, Prfof??! Jangan bercanda!” katanya setengah berteriak. Namun, jelas terlukis sesimpul senyum kecil di sudut bibirnya. Ia malu pada profesor, sebab mukanya kembali memerah.
Profesor mengerem tawanya denan susah payah, lalu berkata, “Aku belum selesai bicara, San. Hahaha… katak itu hanya berbahaya bagi manusia jika terjadi kontak fisik saja. Tentu saja tak kan berakibat apa-apa jika kau membunuhnya dengan alat. Dasar, Sandra! Dari dulu kau memang tak berubah.”
Bagai turun hujan di tengah gurun Sahara. Itulah yang melanda Sandra kini. Kemarahan dan penyesalannya seperti terbawa arus sungai Nil dan tak menyisakannya sedikit pun. Ia merangkul profesor seperti merangkul ayahnya sendiri. Lalu ia pun berlari meninggalkan laboratorium dengan gembira tak lupa disertai lambaian tangan untuk profesor.
“Hahaha… dasar Kanguru mungil!” gumam profesor.
Baru beberapa detik, Sandra kembali lagi ke dalam laboratorium. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang tadi terlupa karena saking shocknya. 
“Prof, aku titip tas ini di sini. Satu minggu lagi aku akan mengambilnya sepulang dari Bali. Aku akan menghubungi pemerintah Australia mengenai penemuan itu. Oh iya, Prof, apa kau punya usul tentang cara membunuh katak-katak itu?”
Profesor mengacungkan jempol berdiri, Lalu Sandra pergi dengan senyuman.
Top of Form
*****
Mentari pagi mengintip melalui lubang-lubang ventilasi laboratorium dan membagikan sinarnya ke seluruh organisme di dalamnya. Tempat itu menghangat hampir satu jam setiap harinya. Di saat seperti inilah para keluarga kaktus, ercis, aster, kumbang kayu jati, ikan tak terkecuali kecebong dan makhluk hidup lainnya asyik menjemur diri di dalam tempat hidup masing-masing. Laboratorium itu sangat besar dan mungkin lebih terlihat seperti taman wisata modern mini di dalam gedung.
Di setiap jengkal hamparan lantainya pasti terdapat organisme hidup yang terawat dengan baik. Pada sudut kanan ruangan, terdapat sekumpulan akuarium berbagai ukuran untuk berbagai hewan air tawar. Di sanalah Nana dan Sybil berada.
“Kau tahu Sybil? Setelah aku mendengarkan percakapan demi percakapan antara nona Sandra dan profesor, aku semakin yakin bahwa tempat asalku adalah dari Aus… Ern... Australia yang berada entah di mana. Mereka telah menyebutkan tempat itu sebanyak…. banyak sekali,” kata Nana. Ia tidak bisa menghitung seperti halnya Sybil, kawannya.
“Apa kau yakin? Memang aku tak pernah melihat katak dan anaknya. Dan kata emakku, memang baru sekali ini profesor memelihara kecebong di laboratorium ini. Namun, bagaimana kalau ternyata pendapatmu salah?” jawab Sybil ada sedikit rasa cemas dalam nada suaranya. Sybil memang sudah sangat bosan menasehati Nana mengenai perkara ini.
“Kawan, do’akanlah aku. Aku akan ke Australia, bagaimanapun caranya,” katanya dengan wajah penuh semangat dan mata berapi-api.
“Ya…ya…ya… terserah kau saja lah, Na! Do’aku merestuimu!”
*****
“Halo! Sandra? Ini aku, Profesor Keynes. Aku sudah menemukan waktu pemberantasan Cane toad yang tepat. Sebentar lagi bulan mati, di malam-malam seperti inilah mereka membentuk semacam kumpulan katak jantan dan katak betina untuk kawin. Kurang lebih lima hari lagi. Maka, lusa pulanglah ke Bogor untuk mempersiakan segala hal! Oh iya, satu lagi,  dibutuhkan banyak orang untuk melakukannya. Jumlah mereka ribuan!” kata profesor kepada Sandra melalu sambungan telepon.
“Lusa? Sempurna! Lusa, aku sudah berubah menjadi seekor katak. Katak jantan yang gagah! Dan aku akan ke Australia menemui emakku. Meski dia pembunuh sekali pun!” kata Nana pada Sybil. Sybil hanya bisa menggelengkan kepala. Ia benar-benar sudah pasrah, meski sebenarnya dia ingin sekali mencegah Nana demi keselamatan diri Nana sendiri.
*****
Subuh hari, Nana sudah bersiap melakukan rencana ekspedisi pencarian emaknya. Ia benar-benar sudah berubah menjadi katak kecil --yang oleh Abdul dipanggil “Percil”—berwarna hijau lumut dengan garis hitam. Nana berpamitan kepada seluruh kawan sejawatnya selama hidup di laboratorium dan ia tak lagi bisa menahan air matanya saat harus berpisah dari Sybil. ‘Namun, mau tak mau ia telah memilih takdir hidupnya’\
 begitulah yang diucapkan emak Sybil kapada Sybil, sehingga membuat Sybil tegar melepas Nana.
Sandra sudah sampai di laboratorium. Lalu, dengan cekatan Nana melompat keluar dari akuarium. Setelah berhasil, ia langsung melompat menuju tas ransel Sandra yang dititipkannya kepada profesor semingu lalu sebelum berangkat ke Bali. Ia menyelinap ke dalam kantong paling luar yang biasanya digunakan sebagai tempat botol minum dan akan terus bersembunyi di sana hingga sampai di Australia.
“Hai, Prof! Di mana tas titipanku?” tanya Sandra.
“Oh iya, ambil saja di situ,” jawab profesor sambil menunjuk sebuah rak barang. Sandra segera mengambilnya lalu menggendongnya di punggung. ‘Wah! Hangat’ batin Nana. Saking hanngat dan nyamannya suhu dalam tas itu, Nana pun mengantuk lalu tertidur dalam hitungan menit.
“Prof, bagaimana rencananya?” tanya Sandra lagi.
“Jadi begini. Adakanlah sebuah festival perburuan katak beracun di ladang tebu. Aha! Namanya…. “Toad Day Out”. Cool bukan? Lalu, sediakan imbalan yang menggiurkan bagi mereka yang berhasil menangkap katak terbanyak dan terberat, baik hidup maupun mati. Sehingga akan banyak orang yang tertarik mengikuti perburuan ini. Jangan lupa ingatkan mereka agar tidak menyentuh bagian tubuh katak tersebut sedikit pun! Apa kau paham?” jelas profesor.
“Rencana brilian! Tentu aku paham, Prof! Kalau begitu aku pergi dulu. Dua malam lagi, ladang dan hutan akan bebas bencana. Thank’s God! Bye, Prof. Tunggulah kabar baik dari kami,” kata Sandra begitu ceria lalu ia pun bergegas pergi menuju bandara untuk segera terbang ke Queensland.
Tanpa ada yang sadar, di dalam air ada makhluk lain yang mengetahui rencana itu. Ia kini sedang manangis sendu, memikirkan nasib sahabatnya yang sedang mendatangi pertempuran mautnya. Ialah Sybil.
*****
“Oh aku sampai di ladang tebu Australia! Luas! Luas sekali! Tidak seperti duniaku di laboratorium. Sempit dan berair! Aku datang, Emak!” teriak Nana sesampainya di ladang.
Ia melompat ke sana ke mari berusaha mencari spesiesnya dengan hati bahagia. Baru satu menit ia mencari, ia sudah bertemu dengan seeokor katak berwarna coklat gelap dan bergaris merah. Ia begitu tampak lucu. Lalu Nana pun bertanya kepadanya, “Hai, kau pasti saudaraku! Apa kau Cane toad? Aku juga! Aku terpisah dari kalian saat aku masih telur.”
Katak itu tampak heran sekali, lalu berkata, “Apa kau bercanda, Nak? Kau hanya seekor katak sawah! Kau berbeda dengan kami! Pulang sana ke Ibumu!”
*****
Serbuan para manusia ladang itu benar-benar dahsyat. Satu per satu katak dilibas, dihantam dan ditebas dengan senjata mereka. Dalam waktu sebentar mereka sudah mengisi kantung-kantung dengan bangkai-bangakai katak beracun. Ladang tebu adalah saksi bisu pertempuran ratusan ribu katak melawan ratusan manusia pemburu.
Nana berada di waktu dan tempat yang benar-benar tidak tepat. Sebuah bumerang mendarat di kepalanya dan membuatnya tersungkur. Malam terang berhias bintang kerlap dan bulan malam ke-27 perlahan berputar, lalu makin gelap, sangat gelap dan “pett!!!”


Komentar:Top of Form

Mksdny??
Kq kecebong bnyiny wibik-wibik??
Pye to thok?Hehe..

Iku drg rampung mas, ceb0ng y adekmu,hehe...
Kn ceb0ngE drg gede, aq bkinE akhire sit...
(Aku salah nge-tag. Mau ngetag kamu, malah yang ke-tag masmu, Mas Ajun. Pas dia komentar, aku kaget banget. Maaf lagi, aku juga komentar aneh-aneh di bawah ini.)















Tujuh
8 Agustus 2009 pukul 23:29
(Maaf, tidak bermaksud berkata kasar padamu.)

Sepucuk surat tertulis untukmu...

Simpang getaran hati ini telah mencapai besar maksimal
Gelombang itu, gelombang yang tak mengalami polarisasi itu, mewarnai duyun-duyun semangatku...
Mendobrag adrenalin, memperberat kerja cerebrum dan membekukan papilia saat satu radius denganmu...
Harimau bukan lagi hewan bertaring mengerikan, melainkan ia adalah seekor kucing persia berbulu halus dan berwajah lucu
Bekicot bukan lagi sebagai gastropod yang menggelikan dan membuat mual...
Namun, ia laksana mutiara berjalan yang memesona dan menarik hati
Integral bukanlah dilema, tapi cerita cinta yang membahana merdu di telinga...

Ah kau betul-betul biang segala sakit gila!
Sebab kau, orang rela mati...
Sebab kau, orang mau melepas mimpi...
Sebab kau, orang ikhlas dicaci maki...
Sebab kau, orang senang dibodohi...
Dahsyat dan menghancurkan!
Hangat dan memilukan!
Kompleks dan menyingkat!

Andai kau baca sepucuk surat ini, kau akan tahu kehadiranmu tak selalu bersemi indah... Tapi juga membuat gersang dan menggugurkan harapan...





Nggilani lah koe!
Nek ngerti ng0m0ng ae!
Nek rikuh ya tak0n disit!
Aku pancen the real loser!

Delapan
13 Agustus 2009 pukul 21:08
(Terkadang aku heran. Kenapa kamu hampir selalu datang dan menanggalkan torehan komentar tepat di catatan yang memang benar-benar tertuju untuk kamu. Kamu tahukah dan hanya diam?)

Akhir-akhir ini catatan Ani ngga genah. Sebenernya dari dulu juga ga ada yang genah sih. Namun, sungguh 15 catatan terakhir tidak dari hati, tidak murni dan sarat pemaksaan kehendak. Ya, entah kehendak siapa, bisa Ani, bisa juga orang lain. Ani ga tahu ada ato tidakkah orang yang baca. Hehe... Tapi Ani berharap ga usah ada. 
Awalnya, Ani nulis karena Ani pengen. Pengen berlatih, pengen nuangin perasaan, pengen menyimpan segala peristiwa atau ide-ide ke dalam memori selain otak. Karena Ani pelupa. Hehe...
Namun, kemarin ini Ani menulis untuk menarik perhatian seseorang. Dan Ani tau, itu ga baik alias buruk dan rendah! Hal ini bisa menghancurkan image Ani sendiri yang sebelumnya tenang seperti ikan laut dalam yang tak pernah muncul di permukaan. Dan Ani ingin tetap seperti itu... Tenang, tenteram dan fokus.
Bebas dan jauh dari rasa cemas di tengah penantian...
Mulai saat ini, Ani akan lebih berhati-hati dan selektif di segala hal...
Sebenarnya ada satu dambaan akan perubahan... 
Di suatu lahan lapang, tanpa tirai ilalang yang menghalang...
Kemilaunya menghampar dan mencerahkan sudut impian...
Tak gersang, tak berfatamorgana dan tak bermajas... Kondusif, efektif dan imaginatif!
Satu perubahan kuharapkan lahir di sana...
Top of Form

Komentar:Top of Form

Apalah kwe??

Dng ana sg maca, y? Ya d0'aku tk trkabul. Melas je sg maca ddi bgg... He...






Sembilan:
17 Agustus 2009 pukul 6:05
(Di tulisan ini, aku sudah benar-benar sadar bahwa aku memang sudah keterlaluan dan tidak tahu diri. Aku terlalu memaksakan kehendak dan harapan untuk dapat ngobrol dan mengenalmu lebih dekat dengan segala keterbatasanku yang pecundang ini. Aku pernah bercerita dengan sahabat, dia bijak dan menyuruhku melupakan harapan impulsive itu. Namun, ternyata itu…sulit. L)

Sebuah nama, sebuah cerita
Sepatah panggilan, secuil kenangan...
Sudah timbul niat tuk menghilang,
Sudah muncul energi untuk melupakan
Namun, begitu susah mengaplikasikan rancangan rapuh yang telah direncanakan dari jauh-jauh hari itu...
Sehari tersakiti, tetapi lebih banyak hari dapati bahagia...
Seorang Kawan berkata, "Hapuslah satu titik kecil sebelum lubang besar tercipta karenanya!"
Mengerti...
Tetapi, tetap saja kebimbangan lebih mendominasi tiap milimeter persegi ruang akal dan hati...
Hmm...
Detik demi detik terisi kata-kata imajiner menilai gambaran abstrak tak bertema...
Terus begitu hingga datang pagi dan lepas malam...
Membayangkan yang tak penting, memicu otak untuk menyingkirkan prioritas...
Untunglah kenyataan lambat laun menghampiri, sehingga gerbang kesadaran terbuka mengganti mimpi fana tak ada guna...
Terjaga...
Di persimpangan kini aku berdiri, disuguhi dua pilihan tak terdefinisi...
Baru terbangun aku...
Belum sempat ku berprinsip, belum teguh keyakinanku dan belum tertata betul hidup nyataku...
Namun, aku sudah harus memilih...
Aku pilih tuk menghilangkan, tuk melupakan atau setidaknya menghapus terlebih dahulu sebagai permulaan...
Bismillahirrahmanirrahim...


Sepuluh
21 Agustus 2009 pukul 17:14
(Sebenarnya aku sadar bahwa kemampuan menulisku masih kurang dan terbatas pada fiksi dan tulisan nonilmiah. Namun, aku suka untuk menulis catatan tidak jelas karena pada beberapa catatan aku dapat memperoleh komentarmu dan itu artinya menyenangkan. Parahnya, lama-lama aku tidak puny aide untuk menulisa hal lain selain tentang rasa dan rasa. Tulisanku semakin akuan dan idealis, semakin bermuatan curhatan dan harapan memaksakan. Aku pun menulis ini berharap kamu datang.)

Ani kehabisan kata!
Sejak tidak lagi mengikuti kata hati dalam menuangkan imajinasi, ia seolah-olah menderita disleksia bertahap. Nggilani lah pkokmen! 
Ada yang jual isi ulang perbendaharaan kata? Atau rangkaian kata pembangkit semangat? Atau apa saja yang bisa bikin hidup imajinasi dan inspirasi??? Atau apa pun lah yang bisa bikin senyum?
Dibutuhkan cepat! Kirim ke wall, komen catatan, atau ke email anny_smarties@yahoo.com, dapatkan marchandise menarik berupa ucapan terima kasih.
Komentar:Top of Form
Top of Form

****** Hahahaha mba ayoh jyan...

Hahaha, dng mlh guyu? Endi kata"ne? Ora due mesti y?















Sebelas
25 Agustus 2009 pukul 18:25
(Aku mengaku bahwa aku sangat sering memperhatikanmu via facebook dan MXIT. Aku kepo, tak dapat kusangkal. Berkat kebiasaan itu, aku punya twitter dan flicker. Berkat itu pula aku rajin menulis di blog. Sebenarnya memalukan sekali menulis dan membagikan perasaan ini kepadamu. Mengakui bahwa aku terlalu tergantung dan ingin ngobrol denganmu. Maaf ya, aku agresif. Pasti kau terganggu. Aku takut tak ada kesmpatan lagi, maka aku nekat. Jika kau luang bukalah kepingankisahamarilis.blogspot.com. Di sana akan banyak namamu disebut sebagai tokoh dia. Hnn… Tulisan ini, cara nulisnya ikut-ikutan kamu, hehe)

Mst ef m n0tes r unimprtnt. I thnk thse r d wrds tht pple oftn thght aftr ræd m n0ts. Bt, fr m, thy'r vry imprtnt. Thy'r like b gtherd in a csste cnsst ef m mmries, m ideas, m wnts, m sspects, m imgntns, n evrytg in m head. Its a vry cmplx compiltn csste.

Komentar:Top of Form

****** waaw

Wt waaw?
D u lke m nts?
Hhe
Y, i d....

Wew, thx...
(cttn wgu dsnengi?)
Keren mbe....maen...

I cnt find d angle ef "keren" ef ths nts. GrmmrE b slh... Wkwk
eh,wilang kmenmu lwh kt 1,hhe








Dua Belas
28 Agustus 2009 pukul 18:09
(Mungkin note ini terlihat tidak ada hubungannya dan tidak ada muatannya tentang kamu. Namun, ketahuilah bahwa “tak tahan sedetik pun tanpa hp” itu berarti bahwa aku bahwa “tak tahan sedetik pun tanpa melihat komentarmu atau mengetahui kabarmu via tulisan internet”. Yeah… Menyedihkannya aku tak pernah bisa ngobrol denganmu tanpa on line. Hahai… Aku tidak tahu cara meminta nomor hp. Toh, aku tak punya urusan, maka aku tak punya alasan selain soal perasaan.)

Tak tahan sedetik pun tanpa hp,
Tak tahan satu jam pun tanpa membuka opera mini,
Tak tahan, meski hanya tilik pun, untuk tidak membuka mxit,
Tak tahan, alias penasaran, meski hanya seminggu sekali, tanpa membuka friendster...
I love my cellphone as deep as my love for my friends. 'Cuz it's bel0ng to them. My soulmate...
Mad!!!
Haha...
Kapan-kapan akan aku belikan rantai spesial untuk kau,
lengkap dengan gembok imajinernya yang barcode nya hanya aku yang tahu. Agar kau selalu di sampingku!
Waw, mad!!!
Stress yo koyo iki, haha…Top of Form



















Tiga Belas:
21 September 2009 pukul 14:38
(Maaf jika ini menyudutkanmu. Padahal kamu tidak tahu apa-apa. Padahal kita sama sekali tidak saling mengenal. Namun, aku bertindak seolah-olah aku sudah sangat mengenalmu dan dekat denganmu. Maaf yaa… Tulisan ini dibuat setelah kamu turut komentar di sebuah status, di mana dalam status itu, orang-orang yang berkomentar adalah teman-teman sebayaku.)

Hey kau!
Muncul...
Menyelinap...
Dari sudut tak mungkin, ke dunia lain tak bergenre sama denganmu...
Ikut serta kegiatan bisu, tanpa dalang pelaku, tanpa otak yang membantu...
Kau menari-nari dalam gemulai asap yang mengepung duniaku...
Kau berpidato kepada khalayak berbeda, seolah-olah ingin membuncahkan satu ide maksud tertentu tapi tak kunjung dimengerti. Abstrak sangat kata-katamu, tinggi nian dalil teorimu.
Namun, anehnya aku temukan satu sistem kesengajaan di dalamnya. Apa agar mereka tahu, jadi kau ulangi ide maksudmu itu di mana saja?
Kalau begitu faktanya, aku mafhum... Dan aku akan coba tuk mengerti... Tak usah kau gemborkan, sengajakan, karena nanti hal itu akan menusukku. Okeh?










Empat Belas
6 Oktober 2009 pukul 23:45
(Hehe. Catatan yang ini gokil. Jadi, pada suatu hari, kekasih kamu yang anak IPS SMANSA pernah nge-wall. Namun, kayak ada nada sindirian gitu. Sebenarnya, mungkin sama sekali tidak ada niat menyindir, tapi akunya saja yang sedang buruk emosinya. Akhirnya, aku bikin note ini karena dari kemarin-kemarin juga sedang banyak orang yang menyindir dengan tidak jelasnya. Nb: menyindir= meneror bagiku, hehe. Gomenasaiii… Jika aku pernah mengusik kamu hingga kekasih-kekasih kamu turut terganggu. Tiga orang berinisial I? Hehe…)
"Jangan dikira saya suka diteror! Baik secara halus, apalagi kasar. Tak segan-segan saya mengambil tindakan tegas khusus bagi Anda yang melakukan hal tersebut. Please dech jangan lebay... Saya sedang berusaha fokus dan tolong sekali jangan ganggu saya. Terima kasih..."Top of Form





Lima Belas
20 Oktober 2009 pukul 5:37
(Komentar di bawah tulisan ini betul-betul menggambarkan bagaimana perasaanku saat itu. Memalukan hanya mampu berkoar terlalu keras lewat tulisan tanpa mau mengungkapkan. Aku kira ini catatan terakhir tentang kamu, tapi ternyata…)

Limbung...
Diterpa beliung yang hanya lewat
Gontai...
Diimpit tekanan sepoi angin yang tak tahu apa-apa
Teriris galau, dicekam terka dan sesak oleh hipotesa tak berkesimpulan
***
Langkah itu...
Menepi di pelamunan, menggoreskan kecut senyuman di pasuryan
Memerah pipi basa
Menyublim angkuh raga
Tergoda kalimat "bijak bestari"
Jenaka membuana perempat bulan kemudian
Madu...
Madu mengisi kendi tiba-tiba
Manis memenuhi luasan gundu berbunga
Harum kesturi merebak paksa dari sela-sela bunga venus, kembang suring, dan mimosa pudica yang enggan tersenyum
Sempurna...
***
Sepenat penantian, segeram tarikan nafas beruang, selemah bunyi yang didengar kelelawar... Aku berteriak sejadi-jadinya di balik persembunyian

Komentar:
Top of Form
Waw! Ini tulisan terakhir tentang dia. Dra. Yes!
Huah, orang dalam tulisan ini betul-betul sudah tak kenal saya. Sekali lagi, saya mencintai orang asing.
Enam Belas
9 November 2009 pukul 17:12
(Aku sudah bilang, kan, kalau aku suka kepo dan lihatin FB kamu? Pernah suatu hari aku melihat profil facebookmu. Saat itu, ada komentar, wall atau semacamnya dari kekasihmu yang anak IPS SMANSA. Dia manggil kamu, mas, kan? Hehe… Terus, terus, terus… Ya gitu deh!)

Panggilan khusus itu membuat mata dan telinga panas...
Menghidupkan hipotesa minus dan mereaksikan praduga dengan ilusi menghasilkan fitnah sepihak. Parah!






Tujuh Belas
11 November 2009 pukul 11:25
(Ini adalah saat aku sudah sangat frustasi dan hampir menangis karena semakin jarang berkomunikasi denganmu, hehe. Childish? Yeah, that’s the real me!)

Manusia boleh merencanakan, tapi Tuhan lah yang menentukan.
Saya kira ini sudah sangat jelas.Top of Form







Delapan Belas
9 Januari 2010 pukul 18:11
(Sebab kau memanggilku mbee di MXIT, aku sebal di awal, tapi terbiasa sesudahnya. Tahukah? Temperamenku berkurang setelah mengenalmu, tapi prestasiku menurun drastis. Hehe. Aku tidak sedang menyalahkanmu. Meski aku menjadi siswi yang tidak terlalu pandai sejak kelas 12, tapi aku bahagia karena aku menjadi lebih banyak menulis. Meski memalukan untuk mengakuinya, aku akan berkata jujur bahwa aku banyak menulis setalah kamu sering mengomentari catatan fb-ku. Terima kasih.)

Sebuah peristiwa masa lampau mempertemukan seorang wanita muda biasa dengan sebuah nama biasa yang berangsur menjadi tak biasa baginya, bahkan luar biasa. Hal itu mengakibatkan hal-hal lain yang tidak biasa juga. Hingga lama-lama membuatnya menjadi orang tak biasa dan terlalu terobsesi pada hal wagu.


Ck..ck..ck.. Obsesi kompulsif yang keterlaluan!

Sembilan Belas
4 Februari 2010 pukul 18:48
(Aku tulis catatan ini beberapa hari setelah aku melihat kamu dan Firman lewat saat aku absen di fingerprint itu. Aku yakin kamu tak lihat karena hanya Firman yang senyum. Yah! Aku lupa, mungkin kamu tak mengenalku ding, ya? Hehehehe… Jadi malu. Asing banget ya ternyata? Hehe. Oh iya, jadi setelah aku melihat kalian berdua, aku membayangkan kamu dan Firman bercakap-cakap seperti di dalam catatan ini. Aku Inten, kamu si kacamata kuda, sedangkan Firman itu temenmu. Oh iya, selebihnya kisah nyata, hehe. Happy Reading! *kalau kamu memutuskan untuk membacanya hingga sejauh ini, :P*)

Di pojok ruangan yang sesak dan panas, Inten dihidangi salah satu menu ujian nasional beraroma agak hangus dan bikin mumet, bernama Fisika. Sementara satu jam yang lalu, ia baru saja menyelesaikan makanan pembuka, Biologi.
Acara makan-makan kali ini sungguh tak biasa. Tiga puluh sembilan teman sekelasnya tampak menikmati seluruh menu, tapi berbeda dengan Inten, ia hanya bingung dan terus melamun. Sampai-sampai Mister Sugeng Riyadi menegurnya karena ia belum meninggalkan sidik jari di finger print tadi pagi. Parahnya lagi, Inten tak mendengar namanya dipanggil-panggil: "Juminten! Juminten!". Alhasil kultum selama 17 menit pun ia terima dari Mister, karena berani melamun tanpa alasan (tau darimana si Mister kalo ia ga punya alasan?? Intinya di sini pak mister Sugeng Riyadi mandan sotoy gitu).
Bonar yang duduk tepat di depan Inten, tampak terkekeh-kekeh menyaksikan Inten diceramahi. Sedangkan, Harjo si mata bundar yang duduk di samping Bonar hanya sok-sokkan menyipit-nyipitkan matanya biar keliatan kayak orang Korea. Ulah Harjo membuat Inten makin mual bukannya malah ketawa (orang Harjo juga ngga ngelawak ding, lali aku). Kultum dari Mister Sugeng Riyadi diakhiri dengan bel panjang tanda istirahat kedua.
'Slamet! Slamet!' batin Inten.
Bagi Inten hari itu berlalu sangat lambat kayak siput keseleo. Namun, dia juga tetap saja bingung dan bingung. Dia sendiri bingung kenapa dia bingung. Apa yang sedang ia pikirkan, dia pun tak tahu. Istirahat kedua ini, dia memutuskan menuju ke pojokkan dekat ruang inap tamu sekolah (sekolah mahal bin modern, ada kamar khusus tamu penting) untuk absen. Dua orang adik kelas, yang satu berkacamata kuda dan yang satu berjaket belang-belang memandangi Inten dengan heran. 
Lalu si bocah kacamata kuda berkomentar, "Ihvi, ivikivi kavakavak kevelavas niviavat sevekovolavah ovorava yava? Avayavawevene nevembeve avabseven. Javan!"
Bocah berjakat belang ungu dan kuning menanggapi, "Oh mungkin mau esuk jarine ketinggalan mbok, nembe diterna bapake saiki, dadi nembe absen. Aja su'udhon dipit lah koe lah!"
Si kacamata kuda menjawab,"Ih koe bodo temen sih! Aku ngomonge anggo sandi koe njawabe serune ora pacul, nek wonge krungu prewe? Lagian sing su'udhon koe, masa ana driji ketinggalan! Dasar bocah pinter!"
"HAHAHA, maturnuwun, aku pancen pinter, kemarin juga rangking 0, lebih tinggi dari Supari yang rangking 1. Haha!" jawab si jaket belang-belang.
Inten yang memang bertampang datar-datar saja, ternyata ada di samping mereka berdua. Ikut nguping dan meng-iyakan kata-kata mereka. Setelah dua adik kelas Inten itu selesai berbincang, Inten pun tiba-tiba berkomentar yang mengagetkan kedua bocah itu, "Iya iki, adek-adek kelas. Absennya salah waktu. Biasanya sih ngga jam segini. Tapi gara-gara hari ini aku lagi bingung, jadi aku ya begini. Hmm... Biasanya aku sih check in nya dua detik sebelum check out. Ya pulang sekolahan lah. Tapi gara-gara Mister Sugeng Riyadi nyuruh aku check in sesegera mungkin, ya udah lah gasik. Pisan-pisan."
Di dalam hati si kacamata kuda berkata, "OH PANCEN BOCAH BINGUNG!". Sedangkan si jaket belang-belang berkata, "MBA, keren! Aku bahkan belum pernah absen telat, aku mau ikut-ikutan kamu ah!"
****
Inten masih bingung. Dia belum menemukan penyebab kebingungannya. Akhirnya, ia memutuskan kembali ke kelas dan meneruskan aktivitasnya yang masih bersambung, melamun.
Ia tak juga menemukan penyebabnya bingung. Akhirnya ia bertanya pada teman sebangkunya, "Stephanie, kenapa aku bingung ya?"
Stephanie menjawab, "Mbok kamu panceng bingungan, Inten?"
Jebred! Bumi gonjang-ganjing, badai datang tiba-tiba, langit menggelap dan hujan turun tiba-tiba (lebai!). Lalu tiga detik kemudian, bumi kembali normal bahkan jauh lebih normal: ozon kembali tak berlubang; polusi air, tanah, udara dan angin tersedot oleh sesuatu misterius; pepohonan tumbuh menghijaukan hutan; lautan membiru; langit cerah dan burung jalak berterbangan lincah di atap ruang guru (lebai banget! Ora nyambung maning!)
"Oh iya ya!" kata Inten begitu bersemangat dan tampaknya sudah hilang mutlak bencana kebingungannya dan semuanya membaik.











Dua Puluh
6 April 2010 pukul 19:42
(Sebelum mengenalmu, aku sama sekali tidak bisa menulis hal-hal berbau romance. Meski begitu…aku hanya mampu menjajarkanmu dengan Fisika saat itu. Menyiksa. *mulai ngga jelas*)

Haduh!
Rasa ini sungguh tak wajar, kambuh lagi!
Saat di mana pengennya buang muka melulu saat bertemu!
Saat waktu terasa menjadi begitu lama sembari menungguimu!
Saat otak seolah beku dan suara tertahan di ujung lidah apabila berhadapan langsung denganmu!
Sungguh mata tak bisa jauh dari sosokmu!
Benar adanya jika lutut kakiku tak bisa berhenti berguncang menantimu, was-was.
Tak bisa dipungkiri saat otot jantung bekerja lebih keras ketika menangkap sinyal kemunculanmu
Jangankan melihat rupamu, mendengar suaramu saja sudah berantakan akal sehatku...
Ya ampun, syndrome **** dan Fisika!












Dua Puluh Satu
19 April 2010 pukul 20:17
(Hnn… sudah jelas kah?)

Deg!
Diam!
Deg deg deg
Dag dig dug
Datar!
Durasi memanjang
Dedaun melambat jatuh

Datang langkah tak dinyana
Diri kaku
Dagu menjatuh
Do'a me-nyata
Duka pun sirna

Dag dag dug
Dua, tidak!
Dua lebih, iya!
Dua kali, berharap lebih...
Dua kali seunthel-unthel, mauuu...

Dug dig dag...
Dia menjauh...
Diri melega...



Dua Puluh Dua
30 April 2010 pukul 23:09
(Yang ini nggak terlalu penting. Hanya sebuah kesadaran yang muncul saat membaca ulang riwayat chat denganmu.)

Beberapa jam lalu, huruf "n" tampak di mataku sebagai huruf "h". Tentu saja kesalahan itu sangat mengubah makna kata, makna kalimat dan makna sakkabehane. Apalagi hal itu terjadi dalam sebuah per-chatting-an. Fatal banget lah akibatnya, terlebih karena aku baru sadar sekarang. Parah! Payah! Parah!
Percakapan itu sudah panjang dan aku baru nyadar kesalahanku itu setelah sangat lama *maaf diulangi lagi, biar lebai*
Hwah! Apa sih penyebab pikunku itu? Faktor lingkungan saat kejadian kah? Atau emang gawan bayi? Tapi, kata teman itu karena kebiasaan yang hampir ingin mendarah daging *maaf, sedikit lebai*
Contoh salah lihat yang mengubah makna:
tambani jadi tambahi, jauh banget kan maknanya? Fatal lah!
Tapi saat itu, menurutku ucapanku nyambung-nyambung aja karena memang keahlianku menyambung-nyambungkan sesuatu meski tampak muskil sekali pun (Dan hasilnya? Ya, tetap aja wagu di bagian sambungannya itu) *maaf membingungkan, saya juga bingung*. 
Balik lagi ke kalimat jawabanku yang salah sambung. Saat diingat, dibaca dan dipahami lagi ternyata aku baru sadar bahwa aku salah sambung pada satu kata yang berakibat sangat fatal. Apalagi ya... Sekali lagi... Apalagi ya... Orang yang diajak ngomong itu juga nyambung aja njawabnya alias ngga protes atau merasa bingung dengan jawabanku yang tidak nyambung tadi. Bukankah sambungan ini menjadi salah sambung yang wagu?
Hingga aku sadari baru-baru ini, salah sambung itu justru, ehm... hehehe. Keduanya memang ora nyambungan. Misinterpreted!
Akhirnya, saya hanya bisa berharap semoga dia, yang tadi diajak bicara, tidak menyadari kesalahsambungan yang seperti bolah mbrundhet ini. Amiin.
Hehe




Dua Puluh Tiga
18 Juli 2010 pukul 23:09
(Ini pas pertama kali ke Detos, tiba-tiba lihat tas mirip tas punggungmu. Hnn… Aku nggak sengaja hafal lho. Itu karena aku sering lihat tasnya saja pas lagi dipakai. Serius nggak sengaja, misal pas mau TUC, absen di lobi SMANSA, dll.)



Wajahnya terbayang sampai ITC. ITC coba! Dari Kebumen jauh-jauh ke Depok! Ngapain jal? *yambuhya deneng takon?*
Tas punggungnya pun, tergeletak di kursi panjang di sampingku... Apa maksudnya coba? Masa nyusul ke Depok? Setelah beberapa lama berpikir tanpa ujung, seorang senior mengambilnya dari sisiku. Owh tasnya senior... *kasian deh gue*
Lalu... Lalu... Kacamata itu? Apa maksudnya?? Kok bisa ada di meja makan??? Beberapa detik kemudian seorang pelayan warung makan mengambilnya dan memakainya... *apa jal maksude?*


Dua Puluh Empat
18 Oktober 2012 pukul 20.22

Memang kenapa? Jika aku mencintainya dengan hati, bukan mata?

Aku menemukannya dengan jerih payahku sendiri. Dia mengukir huruf kuno di atas pualam sambil berlindung di bawah rerindangan pohon kipas yang jenaka dan menari melambai indah, mengibaskan angin musim panas. Pohon kipas ini tidak segagah oak atau segarang pohon asam yang tinggi besar. Dia indah. Dia jenaka. Dia tidak menahan angin, tapi dia membuat angin menari menyejukkan. Itulah hebatnya pohon kipas yang dibuatnya untuk bernaung.

Orang itu, selalu membuatkan puisi indah untukku. Mungkin bagimu, puisi itu hanya seonggok kata-kata lawak. Bahkan, mungkin baginya, puisi itu adalah sebuah introduksi penghormatan padaku yang lebih dulu terhormat dibanding dirinya. Dan aku bisa saja menganggap puisi itu basa-basi tanpa makna. Namun, aku tidak berpikir seperti itu.

Kau tahu? Puisi yang ditulis dengan tinta penanya yang berwarna hijau mentimun itu lebih indah dari kitab-kitab berisi kisah pahlawan di pewayangan dunia. Puisi itu mampu membuatku lupa bahwa aku alergi pada antalgin. Dan puisi itu selalu mewarnai otakku dengan pelangi dua puluh tujuh warna yang didominasi warna ungu dan hijau. 

Dia adalah orang yang membuatku menjadi gila. Tergila-gila pada meronce huruf. Huruf-huruf itu tercipta bukan tanpa sebab. Mereka ada, terlebih agar mereka mampu menyebabkan dia memberiku lebih banyak puisi lagi. Lihat? Dia seperti opium yang menyeretku dalam ketergantungan. 

Aku menyalahkannya? Tidak! Justru aku mensyukurinya.Ini adalah anugrah dan anugrah adalah kenikmatan. Aku merasakan sebuah saat di mana jiwa terbakar godaan syaitan, pun aku merasakan beberapa kali saat bandang menghanyutkan sisa-sisa bahagia dan emosi. Aku pun tidak bilang tidak saat aku menjadi seorang egois yang hebat dan sekaligus penyihir yang penuh tipu muslihat. Aku mengalaminya di sebuah masa suram yang diliputi oleh puisi-puisi darinya. Masa suram itu sebenarnya aku buat sendiri. Namun, dia cenderung menjadi bumbu utama menunya yang tidak bisa dianggap tidak ada. Tanpanya tidak ada yang spesial di dlam sajian masa suram ini.

Aku tersadar, lantas aku menanamkan dalam-dalam sebuah harapan dalam do'aku agar aku bisa mencintainya dengan hati bukan mata. Dengan mata hati, bukan mata kaki atau mata-mata dadakan tak terlihat yang tiba-tiba diciptakan otak untuk mencari sisi puitisnya...

Aku ingin pergi dari masa suram itu... Ingin sekali, bantu saya Tuhan. 



Dua Puluh Lima
7 November 2010 pukul 21:40
(Baca paragraf pertama dan kedua aja! Selain itu Cuma pendeskripsian sebuah mimpi yang pernah aku alami. Oh iya, ini cerpen semi faktual.)

Aku melihat dia duduk di tepi tiang voli. Sesekali bertepuk tangan, tapi lebih jarang tidaknya. Mungkin dia menjagokan tim yang salah atau kalah atau belum waktunya menang atau sinonimnya. Seorang teman memberitahuku bahwa dia adalah dia. Aku kaget awalnya karena ternyata dia sangat berbeda dengan dia yang ada di imajinasiku. Kawanku berkata dia pendiam dan pelajar yang berbudi baik. Aku menganggapnya sebagai orang aneh yang tidak bisa mengatakan hal yang serius, tidak bisa diam dan penuh dengan pikiran lawak.
Aku mengamati wajahnya dari radius terlalu jauh yang tidak dapat ditolerir mata minusku. Aku hanya mampu menangkap sepasang benda hitam menghiasi daerah kapalanya. Aku bersyukur menonton pertandingan voli sore itu karena setidaknya aku berhasil menemukan dia, orang aneh yang selalu bersembunyi di balik kata-kata sihir. 
Sore itu, kemeriahan suporter dari kedua kubu tidak mampu menandingi kerasnya degup jantungku. Mustahil memang, tapi aku memang selalu mendengarkan kata hatiku atau pikiranku saja. Inilah modal utama keegoisanku.
****
Aku mulai membanting barang-barang di dekatku. Sebuah botol parfum dengan suksesnya menghantam sebuah foto yang terpajang miring dinding. Tatanannya yang memang kubuat miring, sekarang semakin miring karena hanya tinggal satu pengait saja yang masih bertahan. Aku mendekati bingkai foto yang tampak kasihan itu itu. Kacanya pecah dan aku yakin salah satu kepingan kecilnya telah menusuk daging di telapak kaki kananku. Aku tidak peduli dengan sakit itu, aku lebih tertarik memandang apa yang ada di dalam foto. Dia tersenyum manis dengan seorang bayi perempuan kecil yang manis dan sipit di gendongannya.
Ya Tuhan, dia sangat menyayangi Lintang.
****
Aku tahu dia adalah orang yang sangat tepat menjadi objek pelarianku. Terkadang aku jenuh menulis cerita anak-anak yang ceria dan menyenangkan. Meskipun itu profesiku, tapi aku tidak menyukainya. Aku tidak bisa terus berpura-pura ceria sambil terus menulis kalimat-kalimat yang menghibur anak-anak itu. Sandiwara bagiku. Saat aku mulai menjadi seorang anarkis dan menjejalkan muatan-muatan horor ke dalam cerita-ceritaku, aku akan menghubungi dia. Sekedar hubungan jarak jauh lewat telepon, chatting atau e-mail. Dia selalu membangkitkan jiwa kanak-kanakku. Dia memperlakukanku seperti seseorang yang sebaya. Padahal usiaku jauh di atasnya. Gurauan segar mengalir dengan spontan dan menyenangkan sekali berbicara dengannya.

Seminggu setelah aku melihatnya di tribun penenton saat pertandingan voli, aku mulai menyapanya dan menceritakan identitasku yang sebenarnya. Aku terus menceritakan diriku tanpa membiarkannya berbicara sepatah kata pun. Aku sangat suka menceritakan akui dan tidak akan berhenti sebelum aku kehabisan akal untuk mendeskripsikan siapa aku. Aku memang egois dan aku sudah mengatakan hal itu ratusan kali kepadanya. Namun, dia hanya tersenyum bijak. Kilatan pelangi di matanya sungguh menyejukkan. Benarkah dia lebih muda dariku? Dia seperti kakakku... Kakak yang tidak pernah kupunya karena aku memang anak perytama. 
Baru sekali ini aku kehabisan kata saat berbincang dengan seseorang. Orang lain akan pergi karena bosan mendengarkan ocehanku yang mempunyai panjang dan lebar yang tidak proposional. Namun, dia tidak. Dia tetap mendengarkan dan tersenyum. Aku tidak tahu apakah dia paham sepenuhnya omonganku atau tidak. Yang pasti aku mulai merasakan canggung yang tidak biasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ya Tuhan... 
Dia sangat berbeda dengan dia yang kukenal sebelum ini. Dia adalah sahabat penaku. Aku mendapatkan surat pertama darinya di kebun belakang sekolah saat aku sedang membolos mata pelajaran sejarah yang membosankan. Aku duduk di kelas 2 SMA saat itu. Akulah yang pertama meletakkan sepucuk kertas di pagar kebun belakang berisi umpatanku tentang seorang guru. Seminggu kemudian di tempat yang sama dengan aku meletakkan suratku, kutemukan balasan suratku. Penasaran, aku membacanya dan aku langsung menyukai caranya berbicara dan berpikir. Hal itu berlanjut hingga kami sering chatting lewat messenger.
Dia selalu punya penyelesaian untuk masalah-masalahku. Mottonya saja "menyelesaikan masalah tanpa masalah" dan aku curiga dia mendapatkan motto itu karena sering menggadaikan perhiasan ibunya mengingat tingkah lakunya yang bandel. Namun, Ya Tuhaan... aku jatuh cinta kepadanya...



Dua Puluh Enam
29 Desember 2010 pukul 16:38
(Aku pernah berharap kamu membaca ini dan komentar, hehe)

Adakah di sini yang masih suka mainan Mxit?
Wah, Mxit itu penuh kenangan sekali bagi saya!
Walaupun sudah ngga zaman, walaupun sudah banyak yang ngga minat, saya masih menyimpan aplikasi ini lho...haha
Fungsi Mxit: sebagai sarana chatting (otomatis), sebagai media berkenalan, sebagai media mengerjakan tugas, sebagai media diskusi, sebagai wadah cari sensasi, sebagai taman hiburan, sebagai media pengganti sms (secara kalau dulu, online lebih murah daripada sms, i*3 gitu!), sebagai media mencari inspirasi, sebagai sarana caci-mencaci dan gosip-menggosip, banyaaak...
Namun, waktu terus berputar...kata Ipang, "Roda-roda terus berputaaaar...", perlahan Mxit ditinggalkan dan orang-orang beralih ke ... jeng-jeng! yaaa yang salah satu fiturnya sedang saya gunakan ini. Facebook alias muka buku.
Jadi, siapa yang masih ingat akun Mxitnya, cung??? (aku! aku! aku! haha)













Dua Puluh Tujuh
10 Januari 2011 pukul 21:09


Hai... Aku menulis

Sebuah mimpi di atas pasir pantai Ambal yang sepi
Beberapa lukisan hati yang peyot tak jelas dimensinya
Kata-kata aneh yang hanya dimengerti oleh akal jongkokku
Helai-helai perkamen palsu yang dihiasi ngengat rekayasa

Hai... Kau tahu?

Baru saja aku meninju angin
Seekor lalat terbang mencibir
Andai kupingku cukup mentolerir infrasonik
Mungkin bisa kudengar dia kentut sambil tertawa jahil

Hai... Aku menjajakan emosi

Penting ya?
Siapa yang mau beli?
Ada...
Setan dan malaikat?
Bahkan mereka pun mulai penat

Hei!!! Tak bisa diam? Ini pukul dua malam!

Aku tahu!
Aku punya arloji!
Tak henti berlari menggelitik 
Paksa aku berhenti bergulat dengan mimpi


Dorr!!! Selesai!!!

Kesempatan pertama lenyap senyap
Gurat kelelahan bertambah sepasang
Bukan! Bukan!
Tujuh pasang!

Hei... Belum selesai!

Jemariku masih kaku menari
Otakku belum jongkok
Akalku hanya sedang bermain
Sedang sial saja dia

Ini belum selesai sayang!

Ombak masih menari saman
Matahari tertawa cerlang
Rembulan masih berlukiskan kakek yang duduk di antara dua sujud
Gemintang masih centil bermain mata
Dan aku masih menulis

Oh iya... Mimpi itu masih ada

Menyapu aspal jalan Mayjen Sutoyo dengan kedipan
Memayungi dusun antah berantah dengan gelembung kegembiraan
Memecahkan gerabah kegalauan dengan batu apung
Menerbangkan helai-helai kertas berbubuhkan tanda tangan Amarilis...

Yeah...

Apa-apaan ini?
Tahu begini aku menunggu pesawat ke Nepal
Atau berlayar ke Eropa
Bisa kupeluk miniatur Everest
Atau sekedar mencicipi tulip yang enak menusuk mata

Gubrag...

Tiba-tiba aku terbangun
Mendapati diri memegang erat ranting bunga kelapa
Beberapa lukisan hati mulai tersamarkan oleh angin senja pantai Ambal
Perkamen-perkamen itu perlahan menghilang
Kereta, pesawat, bau aspal jalan Mayjen Sutoyo dan kedipan gemintang samar-samar melambai

Aku masih suka bermimpi ternyata...
mbaeee maen mba tulisane..isa diwaca..
****, yeyy...asyik, akhirnya koe bisa maca tulisanku.. :D (kok bisa nge-tag koe ya? padahal niate dila, hhe)
7 Juli 2011 pukul 8:06 · Suka
hahaha..payah..

hahaha mungkin krena namaku slaluterngiang di pikiran anda.hehe
 hahaha... *duwe kresek ora?*
Dua Puluh Delapan
23 Januari 2011 pukul 23:39
(Gara-gara kamu nge-like catatan ini, aku sukses galau selama semingguan. Shock!!! Aku sudah merasa bebas karena kamu nggak pernah lagi komentar ke catatanku yang artinya kemungkinan besar sekali kamu sudah tidak pernah baca catatanku. Catatan ini secara gamblang bercerita tentangmu saat KCF 2011 dan aku…malu. Mulai saat ini, aku yakin bahwa kamu sangat mungkin sudah tahu bagaimana perasaanku dan kamu…diam. Aku sebal.)

Sekarang masih hari Minggu? Sepertinya bukan
Hari Senin?
Baru saja, kuinjak hari ini
Bluk! Kaki kiriku menginjak lantai dingin rumah gelapku
Awal yang buruk untuk awal minggu di akhir bulan paling awal

Kuhabiskan malam ini meneguk kopi pahit yang kubuat karena "kecelakaan"
Menilik balik pesona pelangi palingtidak indah yang terjadi setahun sekali
Warna-warna mati yang amat menarik bagi orang
Mengapa tidak bagiku?
Aku bukan orang?
Enak saja
Ibuku bilang aku orang, dan aku selalu percaya kata-kata ibuku

Hn... aku berada di tengah warna itu, 
melambai-lambaikan selendang yang menyilaukan mata
cerlang, seperti mentari yang membakar warna kulit Bunga kalau tidak pakai cream ber-SPF

di tengah keramaian,
di antara insiden jambak-menjambak
aku menerbangkan selendangku tanpa pikir dua kali, sekali pun tidak
aih... apa aku baru bilang kalau aku punya selendang juga meski tak suka?

yah, lalu menghamburkan diri di tengah orang haus dan lapar
bukan menjadi umpan
tapi menjilat
ada yang tahu aku ini penjilat?
ahaha... cukup aku saja yang tahu

oh iya, aku sempat menusuk beberapa mahkota bunga "setan"
dia tak bergeming
pasrah
hingga aku melihat kepala makhluk spesial itu, 
lalu aku menusuk lebih dalam mahkota bunga "setan" yang dulu sempat menggodaku dulu

pura-pura puas, 
aku bekunjung ke bunga bangkai
masih tanpa selendang dan aku merasa seperti keracunan kopi lusa kemarin
bunga bangkai ini aneh, dikelilingi kupu-kupu
aku takjub, si bunga bangkai tidak melahapnya
lalu aku tidak merasakan getaran yang kurasakan saat melihat makhluk spesial di samping bunga "setan"
maka aku berlari ke rumah gelapku

di sana...
secara ajaib, si makhluk spesial membulatkan tangan seperti bentuk hati
bukankah aku bergidik?
aku teringat si betina yang sedang menunggunya di sarang


dan aku tersadar dari harapan-harapan semu
menggantungkan cinta pada benda-benda abstrak di tepi pintu 
kini sudah tak mahu

kemarin malam, hari ini, dan malam ini 
kuambil resiko menyeruput kopi
kopi hitam pekat tanpa gula dan krim
lalu mulai keracunan seperti biasanya besok pagi...

aku mendapatkan kembali selendangku, entah bagaimana
lalu aku pulang dengan beban
lalu tidak bisa tidur tenang 
dengan secangkir kopi hitam pekat
siap di meja...

dan kumulai cerita seperti hari-hari sebelumnya....
pahit
Kenapa kamu nge-like ******????Bottom of Form





Dua Puluh Sembilan
24 Januari 2011 pukul 16:37
(Ini akibat dari catatan sebelumnya yang kamu like)

Tolong!
Aku sesak napas!
dan tidak bisa mencari kata lain selain hapus! hapus! dan hapus!
Selama ini terlalu eksplisit
Ternyata membunuh diriku sendiri
Sesak sesak sesak!Galau dahsyat

Aku kira belum tepat satu tahun
Saat aku melakukan kesalahan yang sama
FebruariIni Januari
Please, God!Ini lebih cepat enam belas hari
Haduh!Galau galau galau!!! 

Bagaimana? Terimalah pembalasanmu, Ani!


Tiga Puluh
15 April 2011

Aku tak mampu membagi diriku untukmu, untuknya dan untuk mereka
Aku tak mampu mencurahkan kasih sayangku hanya untukmu, untuknya atau untuk mereka
Kalian menyatu memiliki semua rasaku
Kalian memiliki cinta, kasih, sayang, dan pengorbananku...

Ini surat cintaku untuk kalian yang kusayang
Untuk semua hal berbagai rasa dan warna yang telah kalian sumbangkan
Untuk setiap detik yang tak pernah berlalu tanpa kemunculan kalian...
Ini surat cintaku untuk kalian 
karena aku tidak tahu cara membagi waktu untuk menyejahterakan kalian...

Sabar ya...
Bumi ini berputar
Tak hanya henti di satu titik
Bumi itu bak bola
Menggelinding menuju gawang yang benar jika kita, manusia, mampu mnggiringnya ke arah yang benar

Pokoknya harus semangat!















Tiga Puluh Satu
17 Mei 2011 pukul 12:17

Di saat-saat seperti ini, aku tiba-tiba selalu ingat kawan bincang bisuku. Hai kawan! Masih kawanmu kah aku? Hahai... Aku ingat warnamu, hijau menyala seperti kertas jadwal yang tertempel di tembok utara kamarku. Aku juga masih ingat guyonanmu yang entah kenapa selalu aku nantikan saat aku bosan, haha. Kau benar-benar jadi tempat pelarian. Saat bosan carilah kau sampai ketemu. Sudah berapa puluh kali aku menulis tentang kau di jejaring sosial ini? Dan mungkin kau sempat membacanya. Anehnya kau hanya diam.

Hai, kawan... Perkataanku terlalu abstrak kah, hingga kau tak pernah mengerti artinya? Aduh! Aku selalu punya masalah dengan kemampuan verbal. Pfiuh...fiuh... 

Oia, kawan... Kudengar kau akan segera menempuh hidup baru? Selamat ya? Melihatmu mengenakan kostum itu adalah salah satu hal yang menyenangkan dalam daftarku. Uhn... Itu, itu lho.. Sebenarnya, kamu itu siapa sih?
Aku udah ngomong panjang lebar tinggi, kok ternyata kita ngga saling kenal dan ngga pernah saling sapa? Aku ingin suatu saat nanti, entah kapan, entah saat aku sudah menua renta tak punya daya dan kau juga sama saja hanya saja masih berlari bermain voli, atau entah kapan yang lain, aku ingin kita saling bertegur sapa. Waduh! Aku lupa! Sepertinya itu susah. Sepertinya kita sudah mulai pikun tentang ini ya?

Namun... aku sangat berharap, suatu saat nanti kita mengobrol walaupun hanya untuk melemparkan julukan abnormal kita yang saling tertuju satu sama lain. Dan satu lagi harapanku, kau mau menulis. Aku ingin sekali membaca tulisanmu selain tulisan-tulisan konyol yang mampu membuatku tertawa terguling-guling, tapi tulisan lain, tulisan yang dengan aku membacanya, aku mampu menerka seperti apa kau sebenarnya. Menulislah, kawan! Please, menulislah... Dan undang aku turut serta ke dalamnya....




Tiga Puluh Dua
17 juni 2011

Sempat teringat tahun-tahun lalu
Saat semangatku menjadi orang pintar (tanpa dengan minum tolak angin) melonjak-lonjak
Saat rumus-rumus kimia dan matematika bukanlah bahan hafalan melainkan mainan
Atau saat aku sangat menyukai melukiskan bentuk atau kalimat
Dan saat aku memang sangat suka melihat pekerjaanku dikritik dan diberi imbuhan saran

Itu dulu!
Sebelum beberapa orang mempengaruhi
Sebelum seorang tak dikenal masuk menyusupi lubang otak dan hati
Mengubah pikiranku menjadi pemburu sesuatu yang abstrak dan susah dimengerti
Ahahai...

Seseorang yang sering membuatku tertawa geli, sendiri
Sendiri, hingga ibuku menyangkaku tengah berkicau sambil tidur
Hingga kawanku mulai tak mengerti dengan kegilaanku
Yang parahnya terjadi sejak dua tiga tahun lalu
Dan hal itu mengendap seperti foraminifera yang terperangkap lumpur lautan
Mengendap membentuk batuan yang mengerak di permukaan hati
Menginfeksi sel-sel otak ini hingga lupa cara menentukan kecepatan berlari siput telanjang

Aku...
Aku tak menyalahkanmu...
Kau membuatku tahu kegilaan apa yang dirasakan oleh mereka, pemabuk kepayang
Namun, sungguh aku mulai takut merasakannya lagi
Kenapa?
Perlahan tapi pasti, energimu merontokkan potensiku...
Kau tahu?
Aku terpuruk dalam senyuman
Dan kau tahu aku tak tahu harus kepada siapa aku minta pertanggungjawaban...
Ahahai...

SEMANGAT ANI!!!!

Hope, I'll never feel the same feeling again....








Tiga Puluh Tiga
Juni 2011 pukul 1:57

kau yang selalu memperhatikanku dengan caramu, terima kasih...

Hai!
Untuk ke-sekian kalinya aku menyapa tembok kosong sambil berharap ia tiba-tiba berubah menjadi kau. 
Aku tidak tahu mengapa aku selalu memperoleh jawaban tanpa jawaban. Apakah aku mesti menjejalkan perangko ke dalam surat ini? 
Saat seperti ini, aku betul-betul mau. Mau membaca banyolanmu. Aku rindu. Rindu kehijauanmu. 
Kau menjadi pertama. Pertama yang membuatku sukses begadang tempo malam. Kau yang tanpa kau rencanakan telah mencolek perhatianku lebih besar. 
Ah... Aku bosan membicarakanmu... Dan memang hanya kau yang mengalihkanku. 
Sebelum aku pergi lebih jauh, inginku bertemu dan berbincang. Sekali saja... Sekali saja... Meski aku tak berani berjanji. 
Tiga Puluh Empat
24 November 2011 pukul 15:06

Lama dan lama sekali jari ini tak bermain, bertemu bahkan bercolekan dengan kerumunan tombol nan lembut... 

Tiba-tiba, saat teringat sebuah pertanyaan tentang enam bintang, tiba-tiba pula memoriku terlempar kepada sesuatu atau mungkin seseorang. Seseorang yang tentu saja abstrak dan buras, senantiasa sama dengan kemunculan dan kepergiannya. 
Namun, hal yang aneh dan nyata terjadi adalah bahwa aku tak pernah menemukan sesuatu pun cara yang mampu menghilangkannya dari memoriku. Aku mempunyai daya ingat terlampau tinggi untuk hal-hal tertentu. Hal sesepele buah mangga muda jatuh menimpa seekor tupai pun dapat kuingat bahkan setelah bertahun-tahun aku tak mengunjungi tempat kejadian. 
Aku terlalu ingat terhadap hal unik yang dilakukan seseorang unik, pada saat yang unik, di suatu tempat yang unik atau dengan bantuan bumbu-bumbu unik lainnya. 
Hal yang mampu membuatku tertawa nyaris terbahak, membuatku tersenyum barangkali tersedu, menarik ulur tangisku dalam linangan keharuan, atau membangkitkan amarah di tengah kesunyian ekspresi. 
Kuakui beberapa ingatan itu tersketsa dengan indah, dengan menyeramkan, dengan menyenangkan, dengan penuh bunga-bunga bermekaran atau dengan biasa saja... 
Namun, aku ingat...











Tiga Puluh Lima
30 Desember 2011 pukul 13:33

Luapan emosi tak sempat mencapai ujung
Lava membanjir di lambung
Terkungkung
Bingung

Lambada lambaian bunga, sayup-sayup menderu haru
Bangkitkan regu-regu bayu, meniup tirta terbias biru
Gemertak gigi berlumut kambing laut
Memburu ombak berdebur
Degup degup rancu penghuni raksasa biru

Desiran kerikil palung tergelincir
Membentur, beradu, beriak, tajam bagai tombak
Bunga karang tercengang
Terumbu menari, rerumputan bergoyang sendiri

Ini puncak toleransi
Sang waktu lelah menanti

Bah berkunjung
Serentet gunung terhuyung
Limbung

Lava membeku
Membeku syahdu tanpa sempat membara

Padam
Selesai begitu saja



Tiga Puluh Enam
24 April 2012 pukul 4:22

Rerindangan pohon, dinginnya bangku semen dan kotak-kotak kayu pengap yang ragu bergeming... Di antara celah mereka, kulihat seorang anak berjalan, akan menghampiri. Hampir-hampir hilang nafasku, henti nadiku dan hangus akal sehatku dalam setengah detik kala itu. Bukan! Bukan karena serangan jantung atau stroke, melainkan karena terkaget pikiran warasku. 

Kuikuti sepasang kaki. Dari balikku, muncul langkah kaki, tapi lain. Dia karibnya. Kami berpapasan, aku berdebar, dia tak ubah raut muka. Kami bertiga saling diam. Kawannya melirik muka, aku terdiam sejenak. Berharap, milirik pula mata manusia di sampingnya. Namun tidak. Seekor kupu-kupu hampir mati di sudut lemari kayu.

Aku malu, lantas beringsut ke dalam gudang buku. Ibu garang memoles muka. Ibu sayu mengukur pengunjung. Jemariku mencari buku tentang penari, sedang mata melirik ke sana dan ke sini. Aman untuk menjadi diri sendiri kataku dalam hati.

Berhenti menoleh, kuperoleh sebuah manuskrip tua. Dia coklat, berbau khas dan tampak megah. Kubuka lembar pertama, dadaku tertinju kagum. Kubuka halaman terakhir, air mata tanpa permisi berlari mengalir. Aku dan perasaanku, dibolak-balikkan lembaran tua tak punya judul diri.

Aku jatuh hati untuk kesejuta kali. Kumantapkan hati menulis tentang ini. Secarik kartu terlampau buruk kutarik dari saku dada. Sehelai kertas nota bekas kugelar di atas meja kusam. Pensil menari, otak bersalto liar tanpa kendali. 'Guruku akan bahagia dengan ini!' teriakku tanpa berbunyi.

Aku selesai dan bersiap mengunjungi para ibu. Pintu tiba-tiba sesak dan sinar mentari terhalang benda berbayang tidak normal. Dia menyeruak. Kepala lebih dulu, lantas tangan menyusul melambai tanpa gaya. Karibnya muncul, meninggalkannya, tertawa tanpa bahasa. Aku kaku. Hatiku ingin meraih, tapi otak tak jua memberi izin. Jiwaku ingin menghambur, tapi raga tak mampu bergerak barang seinci.
Keheningan terpecah sebaris bibir seruapa bulan sabit. Tanganku tak tahu cara berdusta, lantas melambai segirang Amelia. Tersadar, terbaca rasa tak biasa, aku mencoba bertingkah luar biasa. Tak ada daya upaya, kakiku melangkah menyamping persis seekor kepiting dikejar burung ceking. Menuju tikus elektronik, menjaring informasi palsu tetang kupu-kupu hitam putih. Nafas berlari, tempat duduk pun seakan tak mau kompromi. Dia masih menatap, aku pura-pura tak lihat.

Dalam hati aku meminta bantuan. "Oh tolong, kau karibnya, cepatlah datang. Bawa dia pulang. Masukkan dia dalam lubang di mana kalian biasa berkubang, di mana di depannya aku terbiasa berpura-pura lalu lalang."

Aku heran kepada jaring yang berlubang besar. Kupu-kupu hitam putih lolos dari tangkapan. Aku kehabisan akal, lantas aku hilang tingkah. Dia masih di samping para ibu. Aku tak bernyali untuk mendekat. Gudang buku tiba-tiba berlalat. Oleh aku yang ternyata mulai membusuk, kehabisan waktu menghimpun nyali, kehabisan energi karena kaki tak henti bergetar penuh ekspresi.
Aku tak bisa pergi. Lantas pura-pura membuka diary. Ibu garang melempar perhatian. Ibu sayu masih sibuk mengukur. Dia hilang! Aku terlonjak senang. Berdiri tanpa hati-hati dan menyenggol tubuh lemari. Bruk! Suara lemari teraniaya manusia terlepas manisnya mara bahaya.  Ibu garang makin penasaran. Berhenti menebar bedak dan membulatkan mata di balik kacamata segiempat. Aku tersenyum tanpa makna.

Aku mendekat dan menyiapkan manuskrip tua. Secarik kartu tehidang di atasnya. Pulpen masuk saku, nota bekas terselip di pengaitnya. Aku harus bergegas sebelum dia muncul dan membuatku lupa bernafas. 

Perkiraanku tak sering salah, akan kucapai si ibu dalam lima langkah. Aku melayang, ringan nian dalam ketergesaan. Namun sial! Jidatku menghantam punggung yang lebar! Aku memeluk lantai dan dia memutar badan. Alangkah kesialan ini begitu penuh bintang-bintang, sang pemilik tubuh mengulurkan tangan. Mataku terbuka dan seketika inginku hilang ingatan. Dia! Dia lagi dengan wajah gelisah dan penuh rasa bersalah.

Aku berdiri tanpa menjbat tangan. Lantas tanpa sadar bertingkah tidak wajar. Si manuskrip tanpa alasan ingin kujejalkan dalam tas tangan. Si ibu tahu lantas menyetop laju tanganku. Aku malu dia melihatku. Aku bertingkah salah tingkah, si ibu mengira aku kleptomania. Sedangkan dia tertawa menahan tawa. Aku memerah dan dia menjadi salah tingkah.

Aku berbalik. Membuka lemari berjudul sastra dan melempar si manuskrip. Aku lupa si guru dan lupa tujuan kunjunganku. Dia bermuka heran, si ibu sayu berhenti mengukur. Karibnya datang dari pojok ruang. Dia meminta maaf, aku bersiap angkat bicara. 

Karibnya ingin berucap dan dia telah siap mendengar pernyataan. Aku tak rela, maku dengan kecepatan kereta kuda, aku mengambil alih percakapan, "Hai! Namaku Amarilis. Bukankah kau mengenalku sejak lama, Antaresta?"



Tiga Puluh Tujuh
3 Juni 2012 pukul 22:24
(Ini kutulis saat aku lihat status-statusmu setelah kuliah, kayaknya jadii gimanaaa dan kamu yang kelihatan kurusan, hehe)

Hai, Kawanku sesama Pemimpi
Rupamu semakin kisut
Masih mampukah diinjak coba dan ujian?
Masih mampukah ditebari debu rintangan?

Detik masih berlari,
misteri masih menyilang kaki,
haruskah kau tetap diam menyaksikan?

Kau bilang kau dokter segala penyakit hati manusia,
kau bilang kau detektif pemecah kasus ketidakwajaran tingkah laku,
dan kau pun bilang kau mampu menjadi hakim penegak keadilan tanpa  pandang jabatan

Lantas mengapa kau meringkuk bak ular lapar?
Mengapa kau menyerah di tengah takdir Tuhan sedang berjalan sebagian?
Bangkit, Kawan...




















PANJANG YAAAAAAAAAAAAAA…??? Hehe
NOTES FB

 (Gomenasai! Saya Lebay dan Sangat Sering Menganggumu. Gomen, gomen, gomen…)

Sunday, 7 December 2014

Pesta Tengah Siang (1)

Berkali-kali aku berjalan melewatimu tanpa ragu. Ini kulakukan agar kau tahu bahwa aku tidak sedang berpura-pura mencari perhatianmu.

Satu dua kali, kulihat kau menatap kilat ke arah tempatku berdiri. Kau mencuri pandang ke arah seekor burung asing berbulu merah jambu, berjambul putih susu.

Tanpa menanti detik itu berganti, aku memutuskan untuk tahu satu hal akanmu. Tanpa peduli dosa yang harus kutanggung akibat berprasangka akanmu, aku tetap bersikeras menganggapmu pantas masuk sangkar hukuman karena telah membunuh khayalan indahku.

Benar. Sebelumnya, aku mengkhayalkan sesuatu tentang kita, hanya tentang kau dan aku, tanpa dia dan mereka. Kita memakai gelang kaki yang sama, pertanda bahwa kita tidak lagi berselisih paham atau kata. Kau tersenyum terlampau tulus kepadaku. Aku menunduk memandangi kuku jariku, menyembunyikan wajah merahku yang terserang rasa malu. Kita berhadapan, tapi mata kita tak bertemu, pun telapak kita tak jua bertaut. Namun, entah mengapa, aku menikmatinya.

Aku tengah berdiri dengan satu kaki ketika kembali kupergoki kau melirik singkat kepada si burung merah jambu. Hilang keseimbangan, aku hampir terjengkang akibat terkejut dan terserang sakit, seperti dilempari petasan. Apakah aku juga harus membunuh khayalanku seperti yang sudah kau lakukan sebelumnya?

Aku tidak dapat berpikir dengan benar selama lama sekali. Gundah dan gulana berlarian, berkejaran, bolak-balik di jalanan transparan yang menghubungkan otak dan hati. Jika ada seseorang menuduhku tengah cemburu, aku tidak akan mengelak dari tuduhan itu. Namun, jika seseorang menanyakan apa alasanku berani bercemburu, hingga purnama habis pun aku tak memiliki jawaban untuk itu. Bukan aku ingin menimbun derma hingga tak mau membagikannya. Hanya saja aku sendiri tidak yakin aku tahu apa alasanku, mencemburuimu. Pagi menjelang siang ini, aku seperti tak mengenali diriku sendiri. Aku tidak berterima kasih kepadamu untuk ini.

Aku merasa matahari pagi ini menaik dengan tergesa-gesa. Tetiba dia sudah bertengger di atas kepala. Tetiba sang hulubalang menyuruh kita berpesta tengah siang. Dan tetiba pula kau melenyap tanpa meninggalkan tanda. Aku kocar-kacir, tanpa menyumbangkan ekspresi yang twrbaca. Namun, yang kuingat, aku semakin tidak dapat berpikir dengan benar sepanjang waktu pesta tengah siang yang tersisa.

Hiruk pikuk pesta ternyata justru memurukkanku dalam halusinasi gelap yang dengan mudah mengurung kesadaranku. Aku hampir lupa bernapas selama beberapa detik, membuatku terbatuk dengan tidak anggun. Detik selanjutnya, terbersit sebuah ide tak buruk dalam otakku. Patuh. Aku menuju ke tepi Sungai Biru yang airnya sejernih cermin yang tak pernah menipu. Kini aku tepat di tepi badan sungai, membungkuk seratus derajat untuk melihat pantulan diriku yang terhidang di permukaan Sungai Biru. Hitam. Dingin. Misterius. Aku bak obsidian yang tak pernah laku dijual di pasar perhiasan. Pantas, kau tak menyadari kehadiranku.

Ratusan detik kuhabiskan untuk bercermin di Sungai Biru, hingga tetiba aku menyadari bahwa gempitanya pesta telah terdiam. Buru-buru, aku kembali ke tengah hutan bambu menemui mereka yang telah puas mengisi lambung, telah kenyang mendiskusikan berita-berita di hutan beberapa hari belakangan. Namun, tak kudapati kau berada di tengah-tengah mereka. Apa kau telah betul-betul terbang tanpa berniat kembali? Apa kau betul-betul tak menyadari upayaku beberapa waktu lalu, berlalu lalang di hadapanmu untuk setidaknya kau sapa meski dengan sepatah kata tak merdu?

Dan berkat kepergianmu, hari ini terasa berakhir tanpa sempat tersentuh oleh gelapnya malam.

Friday, 28 November 2014

Mencabut

Puluhan tahun hidupku kuhabiskan dengan mendengarkan banyak suara serupa ocehan, membaca banyak opini yang belum tentu berteori, dan menyimak gerak-gerik para orang sunyi juga berisik. Apa yang kudapat dari ketiganya bukanlah hal yang kasat terlihat. Terkadang aku mendapat paket kejutan berupa ilusi dan mimpi, yang sudah pasti tidak dapat dilacak siapa pengirimnya. Terkadang, aku mendapatkan tiket gratis untuk mengunjungi taman imaji, yang sebetulnya tidak boleh dimasuki oleh orang sehat pada umumnya. Terkadang, aku mendapatkan kesempatan untuk meniti di atas titian bambu setebal kertas tisu, lalu aksiku disaksikan oleh punggung-punggung orang-orang, yang tak berwajah. Terkadang, aku mendapatkan surat kaleng yang sengaja dikirimkan ke alamat yang salah, agar sampai ke tanganku ratusan hari kemudian. Terkadang, aku mendapatkan pelajaran yang menurut orang lain tak cukup berharga untuk dinobatkan sebagai sebuah pelajaran. Terkadang, aku mendapatkan cinta dan kasih dari orang-orang yang tak diduga akan memberikannya kepadaku. Terkadang, aku mendapatkan serangan jatuh cinta lebih dari dua kali dalam sehari pada mereka yang sangat sunyi dalam beraksi. Terkadang, aku mendapatkan petunjuk agar aku berhenti melakukan ketiga aksi itu: dengar, baca, dan simak.
Barangkali aku terlalu asyik, hingga sepertinya melupakan sebuah kunci juga ciri-ciri diri, sebanyak berkali-kali, bahkan lebih sering dari terkadang itu sendiri. Barangkali, aku harus mulai percaya pada angin, bahwa ia tak pernah bermaksud membunuh sebatang pohon meski terus menerus menggugurkan dedaunannya. Barangkali, aku harus merelai kemestian mengusirku dari lingkaran usia, yang seharusnya telah kutinggalkan sedasawarsa lalu. Bagaimana pun, meneruskan ketiga aksi tersebut hanya akan menjagal langkah sendiri. Tak membuatku cepat mati memang, hanya saja kemungkinan membusuk pelan-pelan tak terelakkan. Oleh karena itu, aku berterima kasih kepada para pemberi petunjuk. Secara pahit, mereka membuatku ingin mencabut diri dan menanamnya ke lahan baru dengan lingkaran usia yang lebih padu. Satu harapku, semoga mereka juga bersedia menyirami dan memupukku suatu saat nanti. Ya, lebih dari sekadar menebarkan unjuk, tunjuk, dan petunjuk.

Thursday, 27 November 2014

Sayang Mereka

Yosh. Setelah di pos sebelumnya, "Sayang", saya menyampaikan perasaan saya secara diam-diam, maksud saya tanpa menyebutkan nama sasaran sayang tersebut, akhirnya saya dapat menyampaikannya juga di tempat dan ke orang-orang yang tepat.

"Great.
Kekanca, gimanapun aturan, pasal, atau definisine, sing penting aku sayang kaliaaaaan, nggak pake boong, nggak pake pura-pura. Mumumuuu...
Btw, mohon doanya, semoga ini jadi semester pungkasan bagi yang belum pungkas, ya.
Doa terbaik juga untuk kalian yang tengah atau dalam tahap menapaki dunia karier.
Plus semangat untuk yang sedang rajin-rajinnya kembali belajar di strata 2 atau mengejar mimpi dengan lompat ke jurusan lain.
Kyaaaa.... "

Yeah, tentu saja tak berbalas. Namun, saya sayaaaang mereka. Btw, sekarang saya sedang left hampir semua grup WA. Hanya grup kosan, grup angkatan kampus, dan grup mantan divisi LDF yang masih say ikuti. Tidak ada alasan khusus untuk melakukan ini, sih. Ahahai.

Sayang

Aku paham kita masih belum dekat. Bahkan, mungkin aku hanya sekadar angin lewat. Namun, sampai kapan pun, aku sayang. Setidaknya, hatiku berkata demikian, meskipun otakku berteriak tidak karuan. Aku paham jika tanyaku terjawab dengan bungkam dan senyumku terhadiahi sebuah lengosan. Karena, besar kemungkinan, auraku masih sewarna aura orang asing yang berantakan, aku mafhum jika kedatanganku terdefinisikan sebagai kelabu yang harus segera melenyap tanpa jejak. Tenanglah, aku sudah tak mampu bersedih semenjak festival kembang api awal tahun kala itu. Pun lama-lama ragu dan malu meletup hilang bersamaan dengan bungkamnya teriakan setiap percikan api. Aku tak memiliki ketiganya sekarang. Bukan main berbedanya hawa yang mengasapi ruang hatiku, beberapa waktu belakangan. Tetap saja, sayangku tak akan seluruhnya hilang. Bagaimana pun, sayangku ini bagaikan pokok yang terhunjam kokoh, meski topan mengembusnya dan mengobrak-abrik seluruh penghuni lainnya. Aku cukup keras kepala dalam hal ini, tak kubantah. Namun, aku juga cukup keras dalam menyampaikannya, tak dapat kutolong. Hanya sedikit yang berhasil paham, itu pun dengan sedikit paksaan. Namun, jika suatu saat aku menghambur dengan terlalu gampang, lalu sekejap pergi tanpa berbasa-basi atau meninggalkan pesan kepergian, ini karena aku sayang. Sayangku tak butuh bantuan verba apa pun untuk mengartikannya. Sayangku, sayang yang melayang tanpa batasan tempat dan waktu, selagi otakku masih mampu bekerja, selagi hatiku masih mau merasa.

Sunday, 23 November 2014

Hati, Patah

Sepertinya aku kembali patah hati
Karena terlalu memaksa menyimpan cinta
Untuk benda hidup yang tak ingin dicintai

Aku kira kami hampir mendekati dekat
Ternyata aku hanya orang lewat
Aku kira sayangku terkirim dengan tepat
Ternyata dia tersesat, pun salah alamat

Lagi-lagi aku salah paham
Aku kira kami cukup mungkin untuk bermain peran
Ternyata, sandiwara tak pernah menang dari hakikinya kenyataan
Formalitas tak 'kan pernah meleleh menjadi fleksibilitas
Kami tetap bagai dua kutub yang saling aku, tapi tak sudi duduk berdampingan

Aku tak menuntut koneksi
Aku tahu, ini arena sebelah sisi
Namun, tak kukira, adaku begitu asing
Di saat aku tengah girang, aku dapat berkisah dengan sering

Ini bukan tentang kisah cinta
Namun, ini patah hati dan aku memaksa
Rasanya sama seperti ketika dipatahkan oleh cinta
Rasa kosong yang mencabik, karena menjadi kepingan tak berhawa secara tiba-tiba

Dari awal aku salah
Mengira menaklukan macan yang belum pernah kukenal
Dan kini dinding kamar pun tak lagi mampu berpura-pura
Menertawai lambanku, menyadari kami, sesama sebatas pengguna jasa

Aku memang patah hati
Karena kukira satu-satunya yang tersisa
Telah menguap menjadi mendung yang tak akan menghujan turun
Namun, aku pemercaya lahirnya hal baik dari matinya hal, baik tak baik, yang lain

Hatiku masih luas
Patah satu teras, tak kan mati seluruh badan
Aku mengaku, lama-lama ia kebas
Mati rasa, tuna akan kepekaan
Namun, bagaimana pun, aku masih bersisa
Tak adil jika harus berhenti karena alasan sisa

Baik, mungkin harus lebih berhati-hati memberi hati

Saturday, 22 November 2014

Salah Satu Rindu

Tentu saja, ada orang-orang yang merindu, tapi tak mau mengaku. Bisa jadi, bukan karena mereka tak rela malu, melainkan karena mereka percaya bahwa rindu bukanlah paket yang wajib dikirim ke penerima rindu, tepat alamat dan tepat waktu. Perindu terkadang memilih jalanan sunyi, melangkah pelan melompati biang berisik, sembari menanti sebuah perjumpaan di perpotongan jalan yang pasti. 'Cukuplah Tuhan yang Tahu,' batin mereka meyakini kepastian-Nya. Hanya saja, terkadang luput menggantung di kelopak mata, memaksanya tertutup barang sekejap, membuat mereka tak melihat apa yang berhasil dilihat oleh para pencuri lihat benda-benda rahasia orang-orang lewat. Mereka tahu, tapi banyak yang memutuskan tak mau tahu. Mereka tahu, lalu beberapa di antaranya diam menunggu. Mereka tahu, dan seperempatnya berkasak-kusuk mengembuskan berita busuk. Beberapa perindu mengaku memiliki strategi untuk menghadapi para pencuri. Sedangkan sisanya menggumam, 'Mungkin ini saatnya membunuh diri,' dalam geming. Namun, bagaimana pun, sampai kapan pun, rindu tak pantas dikambinghitamkan sebagai penyebab mati. Dia rasa yang terkadang berkawan dengan imaji, bukan benda tajam atau alat mematikan diri. Dan pemiliknya pun bukan narapidana yang harus diinterogasi apalagi dihakimi. Sebab Tuhan pun tak pernah bilang bahwa rindu dan merindu adalah benda ilegal atau kejahatan yang merugikan. Kukira keduanya merupakan hadiah dari-Nya untuk para makhluk yang dicintai-Nya.

Friday, 21 November 2014

Wa Favorit

Barangkali, saya tidak akan pernah sampai di sini, di titik ini, jika saya memutuskan untuk tidak mau mengenalnya. Bagi saya, dia merupakan salah satu orang paling berpengaruh dalam perjalanan hidup saya. Dia bukan ayah saya, tetapi memori masa kecil saya dengan dan tentangnya jauh lebih banyak dan menyenangkan, jika dibandingkan dengan kerabat saya yang lain, bahkan mungkin dibandingkan dengan ketika dengan ayah saya sendiri. Saya memang tinggal bersama Romo, sapaan saya kepada ayah saya, tetapi ketika saya masih kecil, dia lah orang yang lebih sering menyengajakan diri untuk datang ke rumah kami dan bermain dengan saya. Romo memang lebih betah beraktivitas di luar rumah dibandingkan berdiam diri lama-lama di dalam rumah. Tidak hanya berkunjung, dia selalu membawakan saya hal baru yang membuat saya kegirangan. Tidak hanya berupa barang, tetapi juga pelajaran atau sekadar pengalaman. Dia adalah wa favorit saya. Wa nomor 1 di dunia.

Namanya Sidik. Saya memanggilnya Wa Sidik. Dalam bahasa jawa, wa merupakan sebutan untuk kakak dari ayah atau ibu. Semacam Pak Dhe atau Bu Dhe. Dia adalah anak ke-6 kakek dan nenek saya, dari pihak ibu. Dengan kata lain, dia adalah kakak termuda Mama, sapaan saya kepada ibu saya, karena dia lahir tepat sebelum Mama. Meskipun dia lebih tua dari Mama, tetapi dia tidak menikah lebih dulu dari Mama. Mama memang "melangkahi"-nya dalam urusan pernikahan, hanya dalam hal pernikahan. Menurut pengamatan saya, Wa Sidik merupakan kerabat yang paling dekat dengan Mama. Tidak hanya dalam hal jarak umur, tetapi juga dalam ikatan persaudaraan. Dia adalah orang pertama yang dicari oleh mama untuk dimintai tolong, orang yang sangat dapat kami, saya dan mama, andalkan dan percayai.

Dulu, ketika dia masih menjadi satu-satunya orang yang belum menikah di keluarga mama, dia merasa memiliki tanggung jawab paling besar terhadap kaki dan nini, kakek dan nenek saya. Meskipun dia sudah memiliki cukup uang untuk membeli atau membangun rumahnya sendiri, dia memutuskan untuk tetap tinggal bersama kaki dan nini, di rumah kelahirannya --juga saudaranya yang lain, di tengah desa Karangsari. Rumah itu juga merupakan kantor baginya. Di sana lah dia bekerja sepanjang hari, sepanjang waktu, dengan profesinya sebagai penjahit seragam sekolah.

Wa sebetulnya orang yang pandai. Dibandingkan dengan saudaranya yang lain, dia memiliki riwayat pendidikan paling baik. Dia merupakan lulusan STM Kebumen. Ya, lulus, di saat wa-wa yang lain hanya tertarik bersekolah hingga tingkat SD atau SMP. Mama sendiri hanya tamat MTS. Mama memutuskan untuk berhenti sekolah, ketika dia duduk di kelas 2 Madrasah Aliah. Kurang jelas apa alasan yang membuatnya berhenti. Namun dari apa yang saya tangkap dari ceritanya bertahun-tahun yang lalu, pada zamannya, banyak sekali anak perempuan yang lebih memilih untuk ngode (bekerja) atau menikah dini dibandingkan bersekolah hingga tingkat SMA. Berbeda dengan Mama, Wa merupakan orang yang konsisten dan sangat tertarik pada hal-hal yang sarat pengetahuan. Dia juga suka mempelajari hal baru. Dia terlihat sangat bahagia ketika menonton berita, untuk kemudian mendiskusikan isi berita tersebut dengan orang-orang yang menurutnya asyik diajak berdiskusi. Ketika saya belum kuliah dan masih tinggal di Kebumen, salah satu partner diskusinya adalah saya. Kami terkadang membangun dugaan-dugaan motif atau modus operandi dari sebuah kasus kriminal atau sekadar melontarkan opini ringan tentang kabar yang tak kalah ringan.

Wa cukup lama melajang. Entah karena tanggung jawabnya mengurusi kaki nini dan usaha keluarga (usaha jahit), entah susah menemukan wanita idaman, atau entah memang suka berlama-lama melajang. Dia menikah ketika saya duduk di kelas 3 SD, atau sekitar 11 - 12 tahun setelah Mama menikah. Saya sangat ingat hari itu, hari pernikahannya, di suatu Jumat yang cerah.


Hari Bersejarah Wa
Saya sedang belajar di dalam ruangan kelas 3 SDN 1 Karangsari, ketika tiba-tiba wali kelas saya memanggil saya. Beliau bilang saya harus pulang karena Mama menjemput saya. Saya deg-degan, penasaran, dan kegirangan. Itu adalah kali pertamanya saya dijemput dan diizinkan pulang di saat jam pelajaran tengah berlangsung. Saya tidak peduli apa alasan Mama menjemput saya lebih awal, yang penting akhirnya saya dapat mengalami dan merasakan bagaimana rasanya pulang cepat. Dari dulu, saya memang menantikan saat-saat seperti ini. Rasanya dijemput dan tidak mengikuti pelajaran seperti itu merupakan hal yang keren dan dapat membuat orang-orang penasaran, hingga membuat si anak yang pulang cepat menjadi pusat perhatian. Rasanya seperti menjadi orang penting yang dibutuhkan oleh dunia dan dinantikan kedatangannya di tempat lain selain sekolah. Setidaknya, itu yang saya pikirkan ketika saya melihat teman saya dijemput dan pulang di tengah pelajaran. Dengan cekatan, juga kepala yang memanas dan serasa menjadi lebih besar dari biasanya, saya segera mengemas buku-buku dan alat tulis saya, memasukkannya ke dalam tas yang besarnya melebihi besar tubuh bagian atas saya. Saya melenggang pergi, dengan dagu terangkat, meninggalkan teman-teman di kelas yang memandang saya penasaran hingga keluar kelas.Saya merasa menjadi orang spesial saat itu.

Di luar kelas, Mama sudah menunggu. Dia terlihat sedang terburu-buru, kemudian segera mencidukku, meletakkan saya di atas boncengan. Tidak ada banyak percakapan yang terjadi saat itu. Saya hanya diam dan manut (menurut), ke mana pun dia membawa saya pergi. Saya masih merasa keren karena dapat skip kelas. 

Akhirnya, saya tiba ke sebuah tempat yang saya kenal. Rumah Mba Sri. Di sana banyak sekali orang berkumpul. Mereka berbaju rapi. Beberapa wanita memakai make up tipis. Para orang laki-laki memakai baju batik dan kopiah atau peci. Saya masih tidak punya petunjuk tentang alasan di balik "penculikan" ini. 

Thursday, 20 November 2014

Sajak

Sajakku berisi sekawanan kisah tragis yang manis. Mereka tumbuh bergantian, sudi berkenalan, tapi tak bersedia bertalian. Bermuara di tepi pantai berpasir kelam, tetapi tak cukup kasihan untuk melulu dihujani asinnya tangisan. Alih-alih tangis, aku ingin menganugerahi mereka, senyuman yang sedikit nakal. Suatu ketika, aku hampir mati bosan, mereka datang tanpa membawa kebahagiaan. Inginku menjual bosan, barangkali laku dan menghasilkan banyak uang. Namun, sekejap aku berpikir, mereka hanya milikku, dinikmati hanya boleh olehku. Maka aku menyimpan mereka ke dalam guci sewarna emerald yang kedap waktu, mencegah mereka termakan detik yang berlari terburu-buru. Tentu saja, aku punya rencana untuk mereka. Bukan rencana besar tentang aksi penyelamatan semesta. Bukan pula rencana dahsyat untuk menghancurkannya. Aku berlepas dari hiruk pikuk urusan manusia, setidaknya dari mereka yang tak kukenal, atau kupilih untuk tidak kukenal. Hanya saja, rencana ini akan membuatku hidup lebih lama. Tidak abadi, karena hanya Tuhanlah yang memiliki hak milik atas keabadian itu sendiri. Lantas, apa yang kuinginkan jika aku beserta mereka berhasil hidup lebih lama? Hanya secuil sejarah, dengan aku, sebagai tokoh utama, dan monolog-monolog yang selurus horizon senja di dalamnya.

Tuesday, 18 November 2014

RCG (4)

Setelah dua atau tiga hari lamanya miskin sinyal internet, akhirnya saya dapat kembali ke dunia maya. Hahahai, senangnya kembali meranodm. 

Uhn, pos ini dibuat dengan maksud menyelesaikan apa yang sudah saya mulai, melalui tiga pos bertopik sama, sebelumnya. Tidak harus diselesaikan, sebetulnya. Pos ini tidak berisi manfaat, mungkin malah justru sebaliknya. Anda yang tidak menyukai hal-hal tidak lazim, iidak dianjurkan untuk membacanya.

Tujuh
Pertama kali saya memiliki handphone yang dapat digunakan untuk mengakses internet dan men-download aplikasi adalah pada saat kelas X SMA. Romo membelikan saya Nokia 3110C, tepat ketika saya akan menghadapi ujian akhir semester 2, kelas X. Saya tidak akan membahas spesifikasi dari handphone ini karena saya memang bukan akan bercerita tentang handphone tersebut. Namun, berkat benda elektronik berbasis java inilah saya berkenalan dengan seseorang. Seseorang, yang merupakan salah satu orang yang (tanpa dia sadari) telah berpengaruh dan terselip dalam beberapa episode hidup saya. Ya, dia adalah seorang lelaki, satu sekolah dengan saya. Sebetulnya, lebih dari sekadar pernah, saya menyebutnya dalam pos-pos saya di blog ini, baik secara langsung, maupun secara implisit. Mungkin, jika ada pengunjung tetap yang membaca blog ini, dia akan tahu siapa orang tersebut, tanpa harus membaca pos ini.

Uhn, mulai dari mana, ya? 

Saya sudah hampir kehabisan kata dan rasa untuk menggambarkannya. Sepertinya, kemarin-kemarin saya terlalu sering membicarakan setiap hal tentangnya yang saya tahu, sampai-sampai saya tidak punya bahan lagi untuk dituliskan di sini sekarang. Jike begitu, mungkin saya akan memulai dengan menuliskan data dirinya, yang saya ingat dan tahu.

Dia seorang laki-laki. Apa lagi, ya?

Dia. Saya sering menggunakan kata ganti dia ketika menulis pos tentangnya di blog ini. Dia tinggal di kabupaten yang sama dengan saya, tetapi berbeda kecamatan. Rumah saya di pusat daerah sedangkan rumahnya di daerah Barat. Namun, ketika SMA, dia mengekos di sebuah gang yang cukup dekat dengan sekolah. Kami berasal dari sekolah yang sama, tetapi tidak pernah satu kelas. Kami sama-sama menekuni jurusan IPA ketika duduk di kelas XI dan XII. Kami berasal dari SMP yang berbeda. Saya bersekolah di SMP yang dekat dengan rumah saya, begitu pula dia. Saat ini, dia tengah menjalani studi akhirnya di sebuah universitas di Yogyakarta. Jurusannya? Hmm. Jika saya menyebutkannya, semua akan tahu siapa dia, dan selesai lah teka-teki tidak penting ini.

Kami lahir di tanggal dan bulan berbeda, bisa jadi tahunnya juga. Dia merupakan anak bungsu, tetapi memiliki seorang adik. Tidak seperti saya, dia menyukai kucing atau setidaknya pernah beberapa kali mengepos foto-foto kucing yang dimilikinya di salah satu akun media sosialnya. Sepertinya, itu saja yang saya tahu tentang dia. Saya tidak tahu apa saja hal yang disukainya, juga bagaimana prestasi atau keahliannya.

Dia adalah orang pertama yang saya kepo-i melalui jejaring sosial. Alasan saya melakukannya, sebetulnya saya tidak tahu. Mungkin penasaran karena sejak pertama berkenalan, saya tidak pernah bertemu atau bersapa dengannya. Proses perkenalan dengannya memang tidak terjadi di dunia nyata, melainkan dunia maya. Oleh karena itu, saya berterima kasih kepada Nokia 3110C yang telah hadir sebagai media perkenalan saya dengan dia. 

Saya pertama kali mengenalnya ketika duduk di kelas XI SMA melalui salah satu aplikasi online chatting via handphone yang cukup populer di daerah saya, pada zaman itu, sekitar 2009. Awalnya, saya tidak tertarik untuk melakukan percakapan di dunia maya dengannya karena dia adalah seorang laki-laki. Sebab berbagai alasan, saya memang tidak terbiasa --jika perlu menghindari-- berbincang tanpa tujuan jelas dengan kaum laki-laki. Begitu pula kepadanya. Apalagi, dia orang asing yang sama sekali belum pernah saya dengar namanya selama hampir dua tahun saya bersekolah di SMA tersebut. 

Sebagai orang yang pertama meng-inviteakhirnya dia pun menyapa saya dan memperkenalkan diri. Dia memiliki username yang sangat alay, dengan menggunakan karakter-karakter nonalfabet untuk membentuk nama panggilan aslinya, seperti tanda kurung buka, tanda seru, dan sebagainya. Saya pun membalas seperlunya, sebatas memperkenalkan biodata singkat. Ketika saya menyebutkan asal kelas saya, dengan cepat dia pun mengatakan "ledekan" yang oleh orang lain pun cukup sering dialamatkan kepada saya. Bukan ledekan buruk sebetulnya, hanya saja ini membuat saya merasa bosan dan tidak enak ketika menerimanya. 

"Cieee. Ada anak rajin dan pinter dari kelas IPA 1, loh," katanya, kurang lebih seperti itu.

Saya sebal seketika kepadanya. 'Ajeg. Kenapa harus ter-mindset seperti itu? Ini menyebalkan. Pasti dia sama seperti anak-anak itu: anak-anak laki-laki di SMP atau anak-anak kelas lain yang berpikiran bahwa kelas saya agak berbeda dengan kelas mereka. Padahal, saya sebelas dua belas dengan mereka. Saya sebelas, mereka dua belas' batin saya, kurang lebih, meskipun pada waktu itu belum ada istilah sebelas dua belas untuk mewakili perbandingan. 

Setelah sedikit sekali bercakap tentang "ini" dan "itu", kami pun mengakhiri obrolan. Dia offline terlebih dahulu, sedangkan saya masih asyik bermain dengan aplikasi yang terbilang masih baru bagi saya itu.

Di lain waktu, tak lama setelah malam berkenalan itu, kami mengobrol lagi. Tidak cukup jelas topik yang kami perbincangkan. Namun, saya mulai mengurangi judging negatif saya tentang dia. Dia tidak seburuk yang saya duga. Dia tidak lagi membawa nama-nama kelas. Lalu, selayaknya user lain, kami pun mulai bertukar informasi atau membahas topik yang sedang hangat di televisi. 

Suatu hari, dia salah menuliskan nama sapaan saya. Saya sebal karena typo tersebut cukup fatal, menurut saya saat itu. Ketika saya komplain ke dia, dia pun tidak merasa bersalah. Akhirnya, saya menyengajakan diri, memanggilnya dengan sebuah nama sapaan aneh, nama seekor binatang mungil sebetulnya. Dia terpancing, membalas menyebut saya dengan nama sapaan yang tulis dengan salah. Rasa sebal saya berangsur lenyap dan digantikan perasaan gemas dan geli, ketika kami mulai saling ejek dengan nama sapaan aneh. Mulai hari itu, di dunia maya, kami lebih sering saling sapa dengan nama jadi-jadian tersebut dibandingkan dengan nama diri kami masing-masing.

Obrolan kami tidak banyak dan tidak sering. Isinya tidak bermanfaat dan tidak untuk diingat-ingat. Kami tidak dekat, tidak saling kenal, tidak juga pernah punya urusan. Kami hanya teman mengobrol ketika kebetulan sama-sama sedang online. 

Namun, entah mengapa, lama-lama saya merasa senang mengobrol dengannya, meski hanya melalui kata, meski saya belum pernah berjumpa muka dengannya, meski seringkali berakhir dengan saling ejek atau hening tanpa kata, lalu pergi tanpa mengucapkan salam sama sekali. 

Saya bahagia ketika kami mengobrolkan film atau buku. Saya terkesan ketika dia mengucapkan opini spontannya tentang sesuatu. Saya tertawa ketika dia bercerita bahwa dia baru ditegur oleh seorang guru. Saya tersanjung ketika dia berkata bahwa saya dapat melakukan sesuatu dengan baik. Saya bersemangat ketika dia, mungkin tanpa dia sadari, telah memberi semangat atau inspirasi untuk saya yang gemar memurukkan diri. Saya berdebar ketika melihat namanya bertengger di notifikasi. Saya penasaran ketika berhari-hari dia tidak memunculkan diri di media itu atau ini. Saya lega ketika tahu dia dapat mempertahankan prestasi. Saya salah tingkah ketika melihat dia melewati kantin, perpustakaan, atau lapangan, yang tanpa dia sadari, ternyata teramati. Saya merasa dihujani bebungaan, ketika dia mengirimi saya ucapan semangat menghadapi ujian. Saya merasa bangga, ketika dia menceritakan sedikit sekali tentang rencananya di masa depan. Saya... Saya lama-lama mengerti apa dan bagaimana rasanya harap-harap cemas karena lama-kelamaan saya memaksakan diri untuk menanti. Saya, pada akhirnya, mengerti bahwa sepertinya saya telah kembali merasakan jatuh hati.

Mungkin, saya terlalu cepat menyimpulkan dan mengambil keputusan. Suatu ketika, saya ingin bertobat dan menobatkan rasa itu sebaai perasaan sesaat. Namun, nyatanya, hingga ratusan hari berlalu, saya belum juga mampu berhenti merasakan sensasi naik roller coaster yang saya alami setiap terlintas pikiran atau terbaca kabar tentangnya. Ini memang hanya rasa berlebihan yang saya rasakan oleh perlakuan biasa darinya. Perlakuan yang bahkan mungkin olehnya tidak terartikan sebagai sebuah perlakuan, alih-alih basa-basi kepada orang yang pernah dia kenal. 

Yeah, dia itu, mungkin tidak pernah tahu akan berbagai tindak investigasi tidak masuk akal terhadapnya yang pernah saya tahu. Orang itu mungkin tidak pernah menyangka, saya sedikit tahu riwayat percintaannya. Orang itu mungkin tidak akan pernah percaya, saya pernah diteror oleh salah satu orang yang "mengenalnya". Orang itu mungkin tidak ambil pusing, bagaimana perasaan saya ketika saya menyadari bahwa saya bukanlah orang-orang yang diperlakukan dengan baik olehnya. Orang itu mungkin tidak pernah ingat, topik apa yang pernah kita obrolkan, karena saya sendiri juga sekarang sudah tidak ingat. Orang itu, mungkin tidak berusaha mengingat informasi yang saya ceritakan, sekeras usaha saya mengingat apa pun yang dia tuliskan. Orang itu memang tidak tahu, tidak memiliki petunjuk, kecuali jika dia menemukan pos ini, dan saya yakin pasti tertawa membaca tulisan absurd ini. Namun, orang itu mungkin sebetulnya tahu, hanya saja pura-pura tidak tahu.

Dengan berbagai pertimbangan, khususnya tentang akan datangnya hal buruk yang lebih banyak daripada hal baik dari aksi ini, akhirnya dua tahun lalu saya memutus segala akses dengannya, demi mendukung misi: berhenti jatuh hati. Tindakan ini aneh memang. Sangat aneh. Namun, ternyata cara ini efektif. Jika saya tidak melakukan ini, mungkin saya masih melakukan hal-hal nista dan cari-curi perhatian terhadapnya. Sifat saya memang seburuk itu. Saya sendiri sebetulnya malu pada Tuhan.

Note FB Tua: Refleksi di Tingkat Sebelas

Bukan apa-apa. Sungguh! Ini note isinya cuma tugas dulu jaman kelas XI.
Dianjurkan tidak usah dibaca karena tidak layak baca.
Tujuan di-upload-nya ehn....coretan ini adalah biar aku ngga suka mengeluh lagi seperti dulu (mungkin sampai sekarang) dan ngga terlalu membanggakan diri sendiri.
Sekali lagi dianjurkan tidak usah dibaca.

Refleksi dimulai
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Selesai.





1 Juni 2009
Bismillahirrahmanirrahiim....

Setahun Berlalu
“Pencarianku Belum Jua Berujung”
Anifatun Mu’asyaroh



Akhir tahun ajaran 2008. Cukup berat hatiku meninggalkan kelas pertamaku di SMA, Brownies X.1. Meninggalkan keceriannya, kegokilannya, kehangatannya dan teman-teman yang telah setahun lamanya berjuang bersama dalam mengusir remidi dan menciptakan kegaduhan. Apalagi, setelah tahu ada beberapa teman dekat yang tak kan mungkin bersama lagi dalam satu kelas. Seperti ada satu potongan puzzle yang hilang dalam hidup. ‘Ah…individualis sekali, masa mau sekelas terus, gimana bisa punya teman banyak kalau teman-teman kita itu-itu saja. Semangat!!!’, pikirku. 

Pagi hari di pertengahan Juli, hari pertamaku di kelas XI, masih terbayang nilai-nilaiku --yang terjun bebas di akhir semester 2-- ketika roda depan sepedaku melintasi gerbang depan sekolah. Tiba-tiba, seorang karib datang menyambutku dan menyetop laju sepedaku, lalu berkata sambil melonjak-lonjak, “An, kita di IPA 1. Aku duduk sama kamu lagi, ya!”

Tak percaya. Aku mengangguk dalam senyuman, meskipun sebenarnya aku dilanda kebingungan. Berkali-kali muncul kalimat tanya yang sama di kepalaku “kenapa aku masuk di kelas itu?”. Bahkan, sampai saat aku sudah memasuki ruang kelas sementara itu (saat itu ruang kelas XI IPA 1 yang sebenarnya dipakai untuk MOS), aku masih tak percaya. Aku takut terpuruk di kelas itu. Kusalami satu per satu orang-orang yang akan setahun bersamaku itu. Sejak kecil aku mempunyai kebiasaan memperhatikan tingkah laku orang, dan kebiasaan itu pula yang kuterapkan di hari itu. Kupandangi mereka (selain anak-anak X.1) dengan seksama, tentu tanpa sepengetahuan mereka. Mereka bergaul dengan anak-anak dari kelas asal yang sama. ‘Ah itu wajar,Ani! Ayo semangat!!! Dekati mereka dan jadikan teman!’, bisikku dalam hati yang mulai bosan melihat kekakuan itu. Jujur, aku tidak suka dengan orang-orang yang ngeblok. 

Seminggu pertama, baru kusadari ternyata tidak semua dari mereka seperti itu. Beberapa di antara mereka langsung akrab denganku dan bahagia aku. Alhasil untuk sementara waktu, hilanglah pandanganku tentang anak-anak IPA 1 yang pilih-pilih teman. Sementara!

Namun, aku masih tetap saja merasa tidak nyaman. Entah kenapa, aku merasa belum bisa mengikuti irama kelas yang masih sangat baru bagiku. Sebagian dari mereka begitu tergila-gila pada nilai. Setiap aku memasuki ruang kelas, suasana yang tampak adalah kawanan orang-orang yang tengah sibuk memelototi buku. Entah saat itu ada tugas atau tidak. Hal ini sungguh tidak biasa di awal-awal tahun pelajaran seperti ini. ‘Wah benar-benar manusia pilihan yang masuk kelas ini’.


Aku semakin berusaha untuk mengimbangi kehebatan mereka. Jika mood sedang baik aku akan lebih rajin mengerjakan berbagai soal-soal latihan, terutama matematika dan kimia. Namun, hal itu hanya bertahan di bab pertama matematika saja, “TRIGONOMETRI”. Aku tidak lulus pada bab tersebut, sehingga membuatku agak bosak pada mapel ini. Matematika yang sejak SMP sangat kugemari, berangsur-angsur hilang kharismanya di mataku, hingga membuatku mual dan mulai menyepelekan kehadirannya. Kini, aku menyejajarkannya dengan mapel fisika yang sangat tidak aku kuasai.  

Semakin bertambah hari aku semakin merasa aneh di kelas METANA ini. Suatu kelas yang amat sulit ku mengerti, terlalu dalam untuk diselami. Keadaan kelasnya tidak sesuai dengan kepanjangan namanya yang megah. Entah apa kepanjangannya. Namun, yang aku ingat di dalam patah-patah hurufnya terkandung arti yang kurang lebih “komunitas penghuni suatu kelas eksakta yang megah”. Nama itu sendiri ditentukan dengan terburu-buru dan semoga tidak  terkesan asal-asalan. 

Awalnya, kelas itu bakal dinamai “SEPATU” singkatan dari Sebelas IPA Satu. Namun, tidak direstui oleh wali kelas kami, Bu TL (nama panggilan para siswa kepada salah satu guru kimia kami, Ibu Tri Lestari) dengan alasan,”Sepatu itu,  letaknya di bawah, diinjak-injak. Memangnya kalian mau jadi kelas terbawah dan diinjak-injak?”. Lantas kami menetapkan nama baru yang lebih terkesan artistik, ”MAGENTA”. Hampir seluruh anak menyetujui nama tersebut, dan dimulailah penyusunan tema dan konsep kelas. Saat kami hampir memulai pembelian alat-alat dekorasi, terdengar kabar kalau kelas tetangga mempunyai konsep warna serupa, yaitu ungu. Akhirnya, kami pun mengalah dan mulai mencari nama lain bagi kelahiran kelas XI IPA 1 yang baru ini. Setelah beberapa petinggi kelas bermusyawarah dan berkonsultasi dengan Bu TL, terciptalah sebuah nama yang disadur dari salah satu senyawa kimia, Metana, hanya dalam hitungan menit. 

Aku begitu bersemangat pada saat pendekorasian –setiap awal tahun ajaran baru di SMANSA diadakan lomba menghias kelas dalam rangka merayakan HUT SMANSA yang jatuh pada tanggal 1 Agustus-- itu. Aku berpikir saat-saat seperti itu adalah saat yang tepat untuk beradaptasi, dan saling dekat satu sama lain. Meski hari Minggu pun, kami datang dan mulai mendekor. Namun, hal yang terjadi tidak seperti yang kupikirkan. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Sibuk dengan kerumunan masing-masing. Sehingga, mereka tidak akan mulai berbuat sebelum diuprak-uprak. Alhasil, bukan “mari bekerja sama dalam gembira” yang terjadi, tetapi “mari bekerja agar selesai”. Hasilnya, kelas yang rapuh lah yang terjadi. Para penghuninya kurang bersatu sama lain, seperti yang pernah dikatakan oleh Bu Tuti, tapi tepatnya seperti apa, aku tidak ingat.  Menurutku, mereka kurang mengamalkan ilmu pendidikan kewarganegaraan.


Di semester awal seperti saat itu, semangat belajar dan stok percaya diriku masih penuh. Aku berani berekspresi dan berpendapat dengan ribuan pikiran positif yang masih tergantung rapi di kail-kail pikiranku. Hingga sementara waktu, aku lupa dan tidak peduli dengan keadaan kelas yang seperti itu. Lalu aku nikmati satu penemuan baruku yang aku kira sudah sempurna kala itu, yaitu arti persahabatan. Aneh memang. Tadi kusebutkan bahwa orang-orang di Metana ini sulit ku mengerti, tetapi entah mengapa di sini aku malah menjadi paham kenikmatan bersahabat itu seperti apa. Berteman tidak harus sama dalam segala hal. Sahabat bukan orang yang selalu mengikuti dan selalu berada dekat serta nempel seperti perangko padaku. Perbedaan dalam suatu pertemanan bagaikan putih telur dalam martabak, yaitu sebagai perekat dan penghubung.

Tak terasa waktu telah mendekatkan seleksi LMP ke depan mata. Aku yang dari SMP sangat menyukai mapel biologi –di samping matematika—mencoba mencari mujur lewat seleksi itu. Siapa tahu aku lolos, hehehe… Aku tahu, sudah ada ahli biologi yang tidak lain tidak bukan juga sahabatku sendiri.  Tapi tak salah kan kalau aku mencoba mencari potensi diriku. Apalagi aku ingin menjadi seseorang yang jago dalam bidang farmasi, yaaa… paling tidak seorang apoteker lah... Dan di sinilah kumulai pencarianku……

Sabtu siang di bulan tak tahu, aku memasuki ruang kelas XII IPS 3 dan menerima 3 lembar soal seleksi LMP Kimia, melangkah ke  pojok kanan ruangan, lalu duduk di atas satu-satunya kursi yang tersisa. Ya… aku berubah pikiran tentang biologi. Kutinggalkan seleksi biologi yang juga berlangsung di hari itu. Entah kenapa aku terbujuk –padahal tidak ada yang membujuk-- untuk megikuti seleksi mapel kimia yang sebelumya tak terpikir sama sekali. Namun, kimia lah modal utamaku untuk menjadi seorang ahli farmasi, Akhirnya, kuputuskan untuk mengikutinya. Di luar dugaan, aku hampir tidak dapat mengerjakan soal-soal yang sebenarnya tidak terlalu susah itu. Di tengah kebingungan, kuterima sms dari sahabatku yang jago biologi yang isinya….. 

”An, bio yg ikt slksi cm 5 org.dah mst km msk lh. cptan k lab bio!dtggu!”

Maka dari itu aku nekat mengikuti seleksi itu. Apalagi yang ikut saat itu hanya 6 orang, termasuk aku. ‘Wah peluangku untuk masuk akan semakin besar,’ anganku. Lalu, kuselesaikan soal-soal kimia itu secepat mungkin agar dapat segera melanjutkan mengerjakan soal-soal biologi. Setelah sampai di lab, kuambil satu bendel soal yang ternyata, ‘Innalillahi… angel banget!’ Akhirnya, kukerjakan soal-sol itu semampuku, dengan harapan lolos limit mendekati nol. Waaaaaah… parah. Inilah akibat dari sifat plin-planku. ‘Huft….. Coba kumantapkan pilihan pada biologi saja atau kimia saja, dan kupelajari salah satunya dengan serius, pasti hasilnya tak kan seburuk ini,’ sesalku. Apalagi bagaimana tanggapan guru-guru yang mengoreksi jawaban-jawabanku, mungkin mereka akan melotot atau menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan kebodohanku ini.


Beberapa hari kemudian, aku sudah mulai melupakan tentang seleksi itu. Aku pun mulai melakukan pencarian selanjutnya….”mencari bakat-bakatku yang lain”. Ketika majalah Karisma sekolah menempelkan iklan tentang pencarian karya-karya dalam bentuk tulisan, hatiku merasa tercolek. Belum pernah semangat menulisku mengebu-gebu seperti saat itu. Aku kumpulkan informasi mengenai persyaratan-persyaratan untuk mengirimkan karya –meski di iklan sudah ada, tetapi aku begitu suka bertanya-- pada temanku, salah satu redaktur Karisma, sampa ke detail terkecil. Sebab begitu antusiasnya aku saat itu. Lalu, kutulis sebuah cerpen berjudul “My Real Superhero is…” dan sudah selesai kuketik.

Namun, tak dinyana-nyana tugas-tugas yang lain berdatangan mengharuskanku mengerjakannya. Sedangkan ulangan semester 1 semakin dekat. Hingga deadline pengumpulan tiba, cerpenku belum sempat menyentuh printer. Hyaaah…kali ini aku gagal lagi mengirimkan karyaku. Dulu aku tak jadi ikut seleksi anggota Karisma karena takut gagal. Namun, sekarang aku sudah gagal sebelum aku takut. ‘Semangat!!! Masih ada semester 2. Jangan takut pada kegagalan!’ hiburku. Sejak saat itu frekuensi menulisku kembali jarang. Entah kerena bosan, entah tidak sempat, atau entah lupa. Dan kulanjutkan kehidupan yang biasa-biasa lagi….


‘Aku semakin paham bahwa tidak semua orang tahu apa yang aku mau, so aku harus mengungkapkannya. Dan apa yang masing-masing orang bisa, aku tak harus terlalu berusaha untuk sama bisanya dengan mereka karena setiap orang mempunyai kelebihannya masing-masing. Yang aku harus lakukan adalah mengembangkan apa yang sudah aku bisa dan punyai, jangan mau yang muluk-muluk. Namun, toh tak salah jika aku terus mencari!’ Aku masih terus melakukan pencarianku. Pencarian akan teman, bakat, potensi, dan bagaimana rasanya menjadi orang penting. 

Kegiatan yang masih terus kulakukan dari awal semester 1 hingga kini adalah menggambar arsiran. Cukup banyak gambar yang telah kuhasilkan, meskipun dari hasil mencontoh gambar yang sudah jadi. Namun, tak apa hal itu baik untuk menyeimbangkan otak kanan dan otak kiriku. Semakin lama aku semakin berpikir, ‘Apakah ini bakatku yang sebenarnya? Menggambar atau melukis? Waaahh…alangkah indahnya kalau benar. Aku bisa sekolah seni kalau lulus besok,’ ujarku dalam hati. Sejenak, terlupa tujuan utamaku menjadi seorang apoteker yang hebat. 

Aku terlalu banyak berkeinginan, sehingga hal itu membuatku sering diliputi kebingungan sepanjang waktu. Aku terkadang diam menyendiri memikirkan sesuatu, mencari inspirasi, atau menyanyi dalam hati –tapi aku tak pernah ingin menjadi penyanyi--. Diamku yang tiba-tiba itu terkadang membuat kawan-kawan atau keluargaku memandang aneh diriku. ‘Ah… whatever!’ 

Setelah sembuh dari kediaman, seringkali aku lupa tentang apa yang aku renungkan baru saja. Mungkin hal itu dipengaruhi oleh penyakit pikunku yang sudah akut. Saking akutnya sampai-sampai sudah 8 kali hpku ketinggalan di wilayah sekolah. dan seanyak 8 kali itu pula aku menambah jarak perjalananku ke sekolah karena harus mengambil hp yang tertinggal itu. Pikunku semakin parah di semester 2 kelas XI ini. Resolusiku untuk tahun ajaran depan, ‘Aku berharap tidak pelupa lagi’. Amiin.


Semester 2 di kelas ini adalah semester terburuk sepanjang hidupku. Dalam hal sekolah, nilai-nilaiku bukan main hancurnya. Sekarang nilaiku bukan lagi terjun bebas seperti saat kelas X semester 2 dulu, melainkan sudah jatuh ke dalam sumur tak berdasar dan tak tahu kapan akan mencapai nol. Sungguh ironi. Cita-citaku menjadi seorang apoteker seakan kandas di tengah laut karena nilaiku hancur di mapel fisika dan pas-pasan di mapel kimia dan biologi. Nyaliku semakin ciut. Dan aku jadi lebih sering merenung….

Note FB Tua: DI BALIK KESUKSESAN SANG “PENYIHIR WANITA”

“Penyihir Wanita” modern mungkin adalah salah satu julukan yang tepat untuk disandang oleh wanita kelahiran  31 Juli 1965 ini. Joanne Kathleen Rowling atau lebih dikenal sebagai J.K. Rowling adalah seorang novelis yang terkenal dengan karya panjangnya, Harry Potter yang telah berhasil menyihir jutaan pasang mata para pembacanya melalui 7 buku sekuel Harry Potter itu. Dia dilahirkan di Chipping Sodburry, sebuah kota kecil di dekat Bristol, Inggris. Sebelumnya ia adalah seorang single parent (orang tua tunggal) yang tinggal di Edinburgh, Skotlandia, setelah bercerai dengan suaminya yang berprofesi sebagai wartawan.

Rowling menjadi sorotan kesusasteraan internasional pada tahun 1999 saat tiga seri pertama novel remaja Harry Potter mengambil alih tiga tempat teratas dalam daftar New York Times best-seller setelah memperoleh kemenangan yang sama di Britania Raya. Kekayaan Rowling semakin bertambah saat seri ke-4, Harry Potter dan Piala Api diterbitkan pada bulan Juli tahun 2000. Seri ini menjadi buku paling laris penjualannya dalam sejarah. 

Saat ini, terhitung sudah tujuh novel Harry Potter. Jo menjadi sangat beruntung, setelah keseluruhan edisi bukunya diproduksi dalam bentuk layar lebar. Dan keseluruhannya merengkuh kesuksesan yang luar biasa. Ia juga sudah menulis buku baru berjudul “The Tales of Beedle the Bard”.



Bagaimana Riwayat Hidup dan Periwtiwa yang dialami si Rowling?
“Jo”, begitulah nama panggilan akrabnya, adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ia mempunyai seorang adik perempuan bernama Di, yang lahir sekitar dua tahun setelah ia. Mereka berdua bagai sahabat karib dan selalu bermain bersama di sela-sela kesibukan orangtua mereka.

Kedua orangtua Jo adalah orang Inggris. Mereka gemar membaca buku dan rumah mereka di Cheptow selalu penuh buku. Tak khayal kalau Jo sangat suka membaca dan mengarang. Dia sangat ingin menjadi pengarang sejak dia mengetahui apa itu pengarang dan mengarang. 

Jo kecil sangat suka berkhayal dan bercerita. Di, adiknya, adalah pendengar setianya. Mereka sering bermain drama bersama dengan Jo sebagai pengatur jalan cerita. Jo selalu menceritakan apa pun cerita dalam imajinasinya, bahkan kadang-kadang dia sampai menduduki Di agar dia tidak pergi dan mau mendengarkan cerita-cerita khayalannya.

Kegemaran menulis Jo semakin menjadi, terutama saat ia berusia 6 tahun. Pada usia itu, dia telah berhasil menulis buku anak-anak berjudul “Rabbit” yang menceritakan tentang seekor kelinci kecil yang bernama Rabbit. Selain mengarang Jo juga memiliki kegemaran tanpa malu-malu menunjukan karyanya kepada teman-teman dan orangtuanya. Kebiasaan ini terus dipelihara hingga ia dewasa.

Jo ternyata cukup sering mengalami pindah rumah selama kecil. Pada usia 4 tahun, ia dan keluarganya pindah dari Bungalow ke Winterbourne yang terletak di luar Bristol dan tinggal di rumah berlantai lebih dari satu. Di sanalah ia bertemu dengan kakak adik dari keluarga Potter, tetangga barunya di sana. Jo sangat menyukai nama Potter itu, meski anak laki-laki yang mempunyai nama itu sangat nakal kepadanya. Itulah sebabnya dia menamai tokoh penyihir cilik dalam novelnya “Harry Potter”.

Ketika menginjak usia 9 tahun, lagi-lagi orangtuanya mengajaknya pindah rumah ke Tutshill, sebuah desa kecil di luar Cheptown.  Kepindahannya itu hanya beberapa lama sebelum kematian orang tua asuh—pengasuh—nya yang bernama Kathleen yang sangat membuatnya terpukul. Dulu saat ia membutuhkan nama ekstra untuk inisial nama penanya, ia mengambilnya dari nama pengasuhnya itu sebgai nama tengahnya. Pada saat itu, pengarang wanita kurang begitu diminati dibanding pengarang pria.

Saat SMP, ia bertemu dengan Sean Harris untuk pertama kali. Sean mempunyai sebuah mobil Anglia Ford yang selalu ia gunakan ke sekolah. Sejak pertemuannya dengan Sean lah, terlintas ide tentang cerita “Harry Potter and the Chamber of Secret”, sekuel kedua Harry Potter. Memori yang paling Jo ingat saat remaja adalah ketika dia bercerita kepada orang lain untuk pertama kali tentang keinginan besarnya menjadi sorang penulis. Orang itu  adalah Sean. 

Hal terburuk yang terjadi saat ia remaja adalah saat ia mendengar bahwa ibunya divonis penyakit pada pusat sistem syaraf yang tak tersembuhkan. Dia sangat terpukul meskipun saat itu ia belum tahu apa arti penyakit itu. Ibunya meninggal pada tanggal 30 Desember 1990.

Setelah lulus kuliah, dia memutuskan untuk pergi ke London dan bekerja di sana. Kontrak kerja terpanjangnya adalah dengan Amnesty International, yang memiliki semboyan “melawan segala jenis pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di seluruh dunia". Namun, di tahun 1990 dia memutuskan untuk pindah ke Manchaster, bersama kekasih barunya.

Di tahun yang sama, ketika ia naik kereta api dari Manchaster untuk pulang ke London, keretanya mogok selama 4 jam. Jo lalu memandangi sapi-sapi desa yang sedang merumput dari luar jendela yang memberinya inspirasi brilian. Sesampai di stasiun King’s Cross sosok penyihir cilik bertubuh kurus kering, berambut hitam dan berkacamata bundar tergambar jelas di benaknya dan dia mulai bermain-main imajinasi mengenai penyihir itu yang akhirnya diberi nama Harry Potter.

Meski ia sudah mulai menulis sejak umur 6 tahun, tapi dia tidak pernah merasa sesenang saat memperoleh ide tentang Harry Potter ini. Yang menjadi permasalahan, dia terllu miskin dan tak punya pulpen yang pas atau berfungsi baik. Nemun, dia terlalu malu untuk bilang ke orang lain mengenai ini. Hingga ia memutuskan untuk menyimpan ide-ide briliannya dalam otaknya saja. 

Sembilan bulan kemudian dia pindah ke Portugal dan memperoleh pekerjaan untuk mengajar bahasa Inggris di suatu Institut Bahasa. Jo juga tak lupa membawa serta manuskrip cerita yang ditulisnya sejak di Manchaster dan berharap dapat menyelesaikannya saat dia di sana. Jo mangajar siang dan malam, sehingga semakin jarang waktunya untuk meneruskan ceritanya. Di sana Jo bertemu dengan wartawan Portugis dan menikah. Namun, akhirnya bercerai karena suaminya tak pernah bekerja. Hal terindah yang ia dapat darinya adalah Jessica, anak perempun mereka yang lahir tahun 1993. Jo berpindah ke Edinburgh bersama-sama dengan anaknya tinggal berdekatan dengan rumah adiknya, Di, pada tahun 1995.

Akan tetapi, Jo seperti tak henti didera masalah. Keadaan yang miskin, yang bahkan membuat ia masuk dalam kategori pihak yang berhak memperoleh santunan orang miskin dari pemerintah Inggris, itu masih ia alami ketika Rowling menulis seri Harry Potter yang pertama. Kondisi yang serba sulit itu justru semakin memacu dirinya untuk segera menulis dan menuntaskan kisah penyihir cilik ini. Tahun 1995, dengan susah payah, karena tak memiliki uang untuk memfotocopy naskahnya, Rowling terpaksa menyalin naskahnya itu dengan mengetik ulang menggunakan sebuah mesin ketik manual.

Naskah yang akhirnya selesai dengan perjuangan susah payah itu tidak lantas langsung diterima dan meledak di pasaran. Berbagai penolakan dari pihak penerbit harus ia alami terlebih dahulu. Diantaranya, adalah karena semula ia mengirim naskah dengan memakai nama aslinya, Joanne Rowling. Pandangan meremehkan penulis wanita yang masih kuat membelenggu para penerbit dan kalangan perbukuan menyebabkan ia menyiasati dengan menyamarkan namanya menjadi JK Rowling. Memakai dua huruf konsonan dengan harapan ia akan sama sukses dengan penulis cerita anak favoritnya CS Lewis.

Akhirnya keberhasilan pun tiba. Harry Potter luar biasa meledak dipasaran. Semua itu tentu saja adalah hasil dari sikap pantang menyerah dan kerja keras yang luar biasa. tak ada kesuksesan yang dibayar dengan harga murah.



Di mana dan Bagaimana Jo Belajar Mengarang?

Jo menempuh jenjang pendidikan yang berwarna-warni. Hal itu dikarenakan keseringannya berpindah-pindah rumah semasa kecil. Di tingkat Sekolah Dasar saja, dia pernah menjajal 2 sekolah. Sekolah pertamanya di Witerbourne. Dia sangat senang sekolah di sana, dia belajar membuat puisi, menggambar dan yang paling disukainya adalah saat ada tugas mengarang cerita. Kesemuanya itulah yang semakin sempurna membutnya jatuh cinta dengan dunia kesusastraan.

Berpindah dari Winterbourne, dia melanjutkan sekolah di Tutshill. Di sana ia mempunyai kenangan tentang bangku tempat duduknya di san pertama kali. Bangku itu mempunyai lubang dari jangka yang sengaja dibuat oleh kakak kelasnya. Jo sangat suka meneruskan pekerjaan kakak kelasnya, yaitu dengan membuat lubang itu bertambah besar hingga sebesar jempol. Kenangannya saat kecil itulah yang ia tuangkan dalam buku-bukunya, seperti suasana sekolah Harry Potter di Hogwarts of Witchcraft and Wizardery.

Setelah lulus SMA pada tahun 1983, Jo melanjutkan Kuliah di Universitas Exeter yang terletak di pantai selatan Inggris. Dia mengambil jurusan Bahasa Perancis. Kemudian disadarinya sebagai suatu kesalahan besar dalam pemilihan jurusan. Sebab ia dan keluarganya adalah benar-benar pecinta Inggris. Namun, ada sisi positif untuk Jo. Berkat ia kuliah jurusan itu, ia jadi berkesempatan untuk tinggal di Paris, Perancis selama satu tahun untuk kursus bahasa perancis. Keuntungan lainnya adalah menambah pengetahuannya menganai Perancis yang kemudian sangat berharga dan tertulis menghiasi buku-bukunya.
 
Jo menulis sekitar 10 menit sampai 10 jam dalam sehari. Hal itu tergantung suasana hati dan situasi serta kondisinya saat menulis. Dia sangat suka menulis pada malam hari, di bawah terangnya lampu dan seorang diri dalam kamar pribadinya. Ia selalu suka menulis, menulis dan menulis, sejak sesaat setelah ia mengetahui apa arti dari penulis atau pengarang pada saat ia kecil dulu.



Apa Saja Karya-karyanya dan Penghargaan yang Diporelehnya?
Keberhasilan yang luar biasa diraihnya sejak novelnya laris manis bahkan sampai diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa di seluruh dunia. Harry Potter and the Sorcerer’s Stone (Harry Potter dan Batu Bertuah) adalah judul buku pertamanya yang diterbitkan oleh “Bloomsburry” pada tahun 1997 (di Indonesia diterbitkan oleh PT Gramedia Jakarta pada tahun 2000). Sedangkan novel-novel yang lain beserta penghargaanya, yaitu:
Rabbit Stories, yang ditulisnya saat berumur 6 tahun

  1. Sebuah novel tentang tujuh berlian kutukan dan para pemiliknya, yang belum sempat ia beri judul, ditulisnya saat berumur 11 tahun.
  2. Harry Potter and the Chamber of Secret (Harry Potter dan Kamar Rahasia). Penghargaan yang diperoleh:
    - Nestle Smarties Book Price Gold Medal 9-11 yrs
    - FCBG Children’s Book Award (overall winner)
    - Young Telegraph Paperback of the Year
    - British Book Award’s (Nibbles) Children’s Book of the Year
    - Sheffield Fiction Award (shortlisted), dan berbagai penghargaan lain.
  3. Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (Harry Potter dan Tawanan Azkaban), dengan penghargaan:
    - Guardian Fiction Prise (shortlisted)
    - Whitbread Children’s Book Award (shorlisted), dan berbagai penghargaan lain serupa dengan yang didapat buku sebelumnya.
    - Harry Potter and the Goblet of Fire (Harry Potter dan Piala Api)
    - Nestle Smarties Book Price Gold Medal 9-11 yrs
    - Whitbread Children’s Book Award (shorlisted), dan berbagai penghargaan lain serupa dengan yang didapat buku sebelumnya.
  4. Harry Potter and the Order of the Phoenix (Harry Potter dan Orde Phoenix). Buku ini hanya memperoleh satu penghargaan yaitu: WH Smith Children’s Book of the yuear winner.
  5. Harry Potter and the Half Blood Prince (Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran). Penghargaan yand didapat antara lain:
    - British Book Award’s (Nibbles) Children’s Book 2005
    - Carnegie Medal 2005 (longlisted)
    - Royal Mail Scottish Children’s Book Awards 8-12 category winner
  6. Harry Potter and the The Deathly Hallows (Harry Potter dan Relikuli Kamatian)
  7. The Tales of Beedle the Bard, buku terbarunya yang baru saja terbit 2008.


Bagaimana Kehidupan Rowling saat ini?
Pada penghujung Desember 2001, Rowling menikah dengan Dr. Neil Murray di rumah mereka di Skotlandia. Anak kedua dan anak lelaki pertama mereka, David Gordon Rowling Murray, dilahirkan pada 24 Maret 2003, di Royal Infirmary, Edinburgh. Untuk menjaga anaknya itu, Jo mengatakan dia akan jarang muncul di depan orang banyak dan menandatangani buku kelima yang pada saat itu baru dilancarkan. Tak berapa lama selepas mengumumkan yang buku keenam seri Harry Potter telah sempurna dikarang, Rowling melahirkan anak perempuan pada 23 Januari 2005 dan dinamai Mackenzie Jean Rowling Murray.

Setelah merauk pendapatan yang sangat tak terduga seperti saat ini, Jo mempunyai keinginan untuk mempunyai sebuah rumah yang damai di selatan Skotlandia yang dibeli dengan pendapatannya saat ini. Dia berharap rumah itu akan selalu tenteram dan penuh canda dari keluarga dan teman-temannya.

Alih-alih dari itu, Jo juga semakin getul untuk menulis dan berharap menerbitkan karya-karya lain dengan genre yang berbada dengan karya-karya sebelumnya. 



Alasan Aku Memilih J.K. Rowling sebagai Tokoh yang Kutulis Biografinya
Aku pertama kali membaca buku Harry Potter saat duduk di bangku SMP. Sejak saat itu aku semakin jatuh cinta pada kisah Harry Potter yang imajinatif. Gaya bahasa yang dikenakan dalam kalimat-kalimatnya sangat tinggi untuk seukurun anak SMP sepertiku saat itu. Namun, oh aku sangat suka mambacanya.

Ketertarikan berlebihan pada novel Harry Potter kala itu, membuatku penasaran dengan siapa ”penyihir” sebenarnya di balik pencipta tokoh penyihir cilik ini. Kemudian aku mulai berburu informasi tentang J.K Rowling. Aku sangat mengaguminya sejak aku mulai membaca Harry Potter dan semakin bertambah saat aku mengetahui bagaimana lika-liku kehidupannya sembari menulis karya spektakuler Harry Potter-nya ini.

Jo adalah penulis yang sangat memberi aku inspirasi. Aku mempunyai ambisi untuk menjadi seorang penulis atau pengarang sejak aku membaca karyanya. Hal itu mungkin membuat gaya bahasaku terkesan sedikit mirip dengannya, seperi yang telah diungkapakan teman-temanku saat membaca cerpenku. Namun, sebenarnya aku ingin menjadi diriku sendiri. 

Ketekunan dan sikap tak pernah putus asa Jo juga sangat membuatku  sangat terkesan kepadaya. Hidupnya yang kini mapan, berawal dari kerja keras gigihnya sejak kecil. Ia juga memiliki pengalaman yang tak boleh diremehkan. Pernah menetap  di berbagai negara seperti Inggris, Perancis dan Portugal membuatnya kaya pengetahuan yang belum tentu dimiliki setiap orang. Apalagi pengetahuan itu dia masukkan dalam buku-bukunya yang pastinya akan bermanfaat begi orang lain. Pengetahuanya yang sangat luas itu adalah salah satu penyebab tumbuhnya bibit ketertarikanku kepadanya.




DAFTAR PUSTAKA
  • Rowling, Joanne Kathleen. 2007. Harry Potter and the Deathly Hallows. Jakarta: Gramedia.
  • 2007. J.K. Rowling (Bagian 4), (online), (www.feminaonline.com, diakses Kamis, 29 Januari 2009, pukul 14.30 WIB).
  • 2007. J.K. Rowling, (online), (www.wikipedia.org.id, diakses Kamis, 29 Januari 2009, pukul 14.40 WIB).
  • 2008. ‘Penyihir Wanita’ dibalik suksesnya Harry Potter,(Online), (www.peperonity.blogspot.com, diakses Kamis, 29 Januari 2009, pukul 14.40 WIB).

Note FB Tua: Saya

  • Nama: Anifatun Mu'asyaroh
  • Nama panggilan: Ani
  • TTL: Kebumen, 15 Maret 1992
  • Status: Belum Kawin, Tidak (pernah) Pacaran
  • Minat: Tidur, Tidak pikun
  • Keahlian: Menulis tulisan ngga jelas, hanya bisa menulis paragraf deskripsi dan nyaris selalu tidak bisa menulis paragraf eksposisi, narasi, argumentasi apalagi persuasi.
  • Pen-name: Auriga Amarilis
  • Hobi: Tidur, Ngetik hal apapun yang tidak penting
  • Pekerjaan: Mahasiswa FKM UI 2010 semester 2, karena masih mahasiswa, maka saya tidak punya kerjaan selain tidur, kuliah, berpura-pura belajar di dalam kamar, lalu mencanangkan SKS saat akan ujian.
  • Cita-cita: Bisa merampungkan setidaknya satu saja cerpen! hahaha,,, parah
  • Makanan favorit: Mie Ayam, Ayam bakar, dan apa pun yang tidak terlalu amis
  • Minuman favorit: Apa pun yang bisa diminum, halal, dimasak
  • Warna favorit: ungu, hitam, putih, coklat, cream, ungu, biru, ungu
  • Kebiasaan favorit: Tidur
  • Pendidikan: RA Perwanida Karangsari, SD Negeri 1 Karangsari, SMP NEgeri 1 Kebumen, SMA Negeri 1 Kebumen, Universitas Indonesia lulus Agustus 2014 (amiin, kalau bisa sih Februari 2014, hehe)
  • Buku favorit: ngga ada
  • Film favorit: ngga ada
  • Penulis favorit: JK Rowling, Andrea Hirata, Fandita Tonyka Maharani dan Yuridista Putri Pratiwi, Pipiet Senja, Azzimatinur Siregar, Auriga Amarilis, hahaha...
  • Hal yang paling dibenci: dicuekin, melihat ketidakadilan, diaggap remeh, ditinggalkan, dikritik yanng tidak sesuai kenyataan
  • Hal yang paling disukai: tidak menjadi pusat perhatian, dikenal, tidur
  • Target Hidup (Jangka Pendek)
  • Lulus tepat waktu
  • Berani dan konsisten dalam menulis, setidaknya berani mengirimkan naskah ke penerbit di awal tahun depan
  • No pacaran sampai menikah
  • Khatam Qur'an minimal 2x tahun ini
  • Menulis setidaknya 1 cerpen seminggu
  • Mengurangi jam terbang program SKS
  • Tidur maksimal pukul 12
  • Bangun tidur paling telat pukul 5
  • Konsisten di MB, dan jadi pasukan yang tangguh dan indah pukulannya
  • Kerja di Dinkes Kabupaten Kebumen
  • Bisa membahagiakan orang tua dengan menaikkan haji (amin amin amin)
  • Hemat, nabung sebulan minimal *piiip*
  • Bisa menahan "rasa itu" walau susah
  • Punya publisher sendiri
  • Aaaaa... ini sangat susah untuk bisa konsisten dalam berbagai hal, terutama belajar dan menulis
  • Dateng ke akad nikah-nya teman-teman baik, agak baik, kurang baik dan kuanggap baik walaupun tidak baik padaku, kalau diundang
  • Menamatkan novel pesanannya Syifa tepat waktu!!! (tidak nyaris terlupa, maaf Syifa)
  • Banyak makan sayur
  • Senyum kepada setiap orang walaupun harus dikira orang gila
  • Jangan gampang terpancing emosi
  • Cum laude di semester 4 dan bertahan hingga tamat
  • Tidak caper
  • Lebih berani bicara
  • Tidak mudah down
  • Berani megambil keputusan
  • Semangaaaaaaaaaaaaaaat...
  • Tidak ngeksis, tapi kenal semua warga Perhimak
  • Dapat terbebas dari dengki
  • Puasa Senin-Kamis minimal 2 hari dalam sebulan untuk tahun ini, 3 untuk tahun depan, 5 untuk lusa tahun depan, dan terbiasa hingga selanjutnya... (oh, sepertinyaaa... ini...)
  • menyusul.....
 
Depok, 20 Februari 2011
 
 
saya

Saturday, 15 November 2014

Nama

Alinda, antar-lintas-daerah.

Aldilah, alhamdulillah dia lahir.

Badura, bahagia dunia akhirat.

Dude, dua Desember.

Muktia, Muktisari.

Rianti, ....ri dan ...ti.

Riansyah, ...ri dan ...sah.

Nama-nama di atas merupakan beberapa nama orang yang terbentuk dari hasil menyingkat frasa, doa, atau nama-nama kedua orang tuanya. Saya pikir, ini ide yang kreatif. Mungkin, jika suatu saat nanti saya memiliki seorang anak, saya akan mencarikan ia nama dengan metode ini.

Ngomong-ngomong soal nama, sebenarnya saya mempunyai beberapa nama, yang saya temukan dari hasil comot sana, comot sini. Mungkin, beberapa tahun lagi, saya akan menggunakannya untuk menamai beberapa bayi atau justru melupakannya karena mereka tidak memiliki prioritas tinggi untuk saya ingat.

Auri. Bukan Auriga, bukan. Meskipun saya akui, saya memang memungutnya dari kata itu. Auri berarti udara, juga merupakan bentuk jamak dari emas. Di bidang militer AURI sendiri merupakan kependekkan dari Angkatan Udara Republik Indonesia. Ini juga pemlesetan dari kata aurora. Nama aurora sepertinya terlalu bagus dan sulit diucapkan karena memiliki dua huruf R di dalamnya. Jadi, mungkin akan lebih ideal jika saya memendekkannya. Tidak jelas mau dan maksudnya, memang.

Aria/Ariana. Saya memang sangat suka nama yang berawalan huruf A. Orang tua saya menamai saya dengan huruf awal A dan ini membuat saya selalu memiliki nomor absen di awal-awal. Saya ingin anak saya juga merasakan apa yang rasakan, sebagai pemilik nomor absen awal. Kata Aria atau Ariana saya ambil dari Arya. Semoga orang yang menyandang nama ini memiliki tekad dan semangat tinggi, juga kreatif dan pandai mempelajari dan menemukan hal-hal baru.

Arif/Arifia. Di kampung halaman, saya memiliki seorang tetangga yang berumur lebih tua bernama Arif. Ia kawan main saya, ketika masih kecil. Ia memiliki tingkah yang lucu, sifat yang terpuji, dan track record pendidikan yang baik. Saya percaya bahwa sebuah nama dapat mempengaruhi watak pemilik namanya, setelah saya mengamati perilaku si mas Arif ini. Selain itu, saya masih suka huruf A.

Lily. Ini adalah nama bunga. Bunga Lily dapat mekar di musim apa pun, di tempat seperti apa pun. Meski demikian, mereka bukan bunga yang pasaran seperti pacar air. Mereka kokoh, tegar, dan besar. Ada keanggunan juga kecantikan yang melekat pada nama dan penampakannya. Lily merupakan saudara Amarilis, nama kesukaan saya. Karena Amarilis terlalu aneh jika digunakan sebagai nama orang, sepertinya Lily bukanlah alternatif buruk untuk menggantikannya. Yah, lain cerita jika anak saya kembar. Mungkin, saya akan menamai mereka Lily dan Amari, meskipun saya tidak tahu akan memanggil apa si anak yang bernasib mendapatkan nama Amari.

Paramitria. Ini diambil dari istilah dalam statistik, parametrik. Parametrik sendiri berasal dari kata parameter. Yah, semoga orang yang manyandang nama tersebut dapat menjadi parameter yang bagus bagi apa pun di sekitarnya atau yang membutuhkan. Iya, ini juga tidak jelas. Saya hanya suka dengan kata ini, terlihat lucu. Selera saya memag agak aneh.

Raditya. Semua orang (mungkin) tahu bahwa raditya artinya adalah matahari. Sejak SD saya sangat suka dengan nama ini, bahkan sering kali menuliskannya tanpa sadar di buku corat-coret sambil mendengarkan penjelasan guru atau dosen. Namun, saya tidak ingat asal muasal saya mengenal namanya dan apa alasan yang membuat saya menyukainya. Nama Raditya, menurut saya, terlihat sangat indah dan megah. Mungkin jika seseorang memiliki nama hanya Raditya saja, tanpa embel-embel lain, sepertinya ini sudah sangat cukup baginya. Semoga orang yang memiliki nama Raditya dapat menjadi sosok yang bermanfaat dan menjadi cahaya yang menginspirasi bagi makhluk hidup di sekelilingnya.

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...