Tuhan, tolong jaga saya dalam perjalanan saya, tetap menjadi orang biasa, manusia biasa. Saya tidak berharap kisah keluh kesah seorang biasa seperti saya dipungut orang lewat. Namun, setidaknya jangan biarkan saya terinjak hingga mati, ketika saya tengah mengais untuk menemukan keinganan saya di jejalanan. Ah, Tuhan pasti melakukannya tanpa dipinta. Mengapa sedetik tadi saya meragukan-Nya beserta kejutan indah dari-Nya? Hmm.
Ini tentang melukiskan dunia dalam kata; tentang aku dan jejalanan yang akan atau telah aku lewati; tentang Kawan yang lebih berwarna dibandingkan pelangi; tentang ramainya penjelajah ilmu yang selalu haus memecahkan teka-teki; tentang cinta yang tak kan pernah henti meski listrik mati; dan tentang aku yang masih mencari jati diri. Aku menulis... untuk mempertahankan memoriku hidup lama, jauh lebih lama dari aku menempuhi hidup ini.
Wednesday, 12 November 2014
(Bukan) Orang Biasa
Tuhan, tolong jaga saya dalam perjalanan saya, tetap menjadi orang biasa, manusia biasa. Saya tidak berharap kisah keluh kesah seorang biasa seperti saya dipungut orang lewat. Namun, setidaknya jangan biarkan saya terinjak hingga mati, ketika saya tengah mengais untuk menemukan keinganan saya di jejalanan. Ah, Tuhan pasti melakukannya tanpa dipinta. Mengapa sedetik tadi saya meragukan-Nya beserta kejutan indah dari-Nya? Hmm.
Friday, 7 November 2014
Langit Cinta
Jangan ucap rayuan manis kepadaku, aku tak mau mendengarkannya
Jangan belai rambut bau dan kusutku, aku tak nyaman menerimanya
Jangan beri pelukan yang kau kira dapat menenangkanku, aku tak mampu merasakannya
Jangan berbaik atau berburuk laku dalam menghadapiku, aku tak yakin akan mengingatnya
sejak aku terbangun di sore berawan mendung kala itu
mendapati kepalamu tergeletak di tepi pembaringanku
Matamu setengah terpejam, napasmu laun berburu
Kau menunduk, menggumamkan sesuatu, lalu menghampiri tempatku berbaring
Aku bergidik, menangkap kata-kata asing dalam bisikan hangatmu
Aku mendelik, diam dan menerka adanya kemaknaan dalam setiap ucapmu
Aku melirik, kepada orang asing yang pertama kulihat dalam hidupku, ke arahmu
Aku memekik, resah, membenarkan keyakinan, benar bahwa aku tak mengenalmu
Aku ingin melarikan diri, tapi kau menarik tubuhku ke dalam pelukanmu
Aku terkunci, dan kau kembali membisikkan kata-kata panjang ke telingaku
Aku menjauhkan diri, kulihat setitik air bening meluncur dari mata kirimu
Aku tak lagi menguasai diri, limbung, tenggelam kembali dalam gelap mimpiku
Bagiku, hari itu adalah hari aku dilahirkan
Hari pertama aku berjabat dengan dunia
Kau membawaku pergi dari tempatku terbangun, keesokan paginya
Menurunkanku di sebuah tempat baru, berbau basah dan bernuansa biru
"Laut," katamu
Kusimpan dia, laut
Kata pertama yang kuselipkan dalam kamusku
Lalu siapa aku?
Siapa orang di hadapanku?
Aku bertanya lewat tatapan
Gemas
Gamang
"Kau Rissa. Rissa namamu. Artinya laut, jika kau ingin tahu," tambahmu
Kata-kata terpanjangmu, yang akhirnya kuperhatikan dan kudengarkan
"R.. Ris...Rissa. Ma... Laut," ucapku
Kata-kata pertama yang keluar dari bibirku
Aku tak paham, sudah pasti
"Riss..sa. La...ut," ulangku lagi
Suaraku parau, sepertinya tak mampu kau kenali
Jemariku meremas pegangan kursi beroda yang kududuki
Kau membungkuk, menghadapku, menggenggam lembut jemari tangan kananku
Aku terlonjak, masih tak terbiasa, asing, tak tahu harus bersikap macam apa
"Rissa," kau menggerakkan genggaman tangan kita, menuntunnya ke arahku
Kau melepas genggaman itu, sedikit bergeser, setengah berjongkok, kita bersebelahan
"Laut," katamu, menunjuk permadani biru yang bergeliat dan bergulung di depanku
Aku pun mulai mengerti
Bagaimana cara bermain kata ini
Ini tentang membedakan benda ini dan itu
Ini tentang menamai mereka dengan sesuatu
Aku mengikuti apa yang kau lakukan, ajarkan
Menunjuk diriku, aku menggumam, "Rissa."
Menodongkan tangan kananku ke arah depan, aku setengah berteriak, "Laut."
"Rissa. Laut. Rissa. Laut. Rissa. Laut."
Ucapku berulang-ulang, sembari berolahraga tangan
Tak bosan
Kau tertawa pelan, matamu sayu, mengisyaratkan sesuatu
Aku berhenti mengulang dua kata itu
Diam, lalu aku melemparkan telunjukku ke arahmu
Aku ingin tahu, siapa kau, orang pertama yang menyaksikan kelahiranku
"Aku?" tanyamu, retoris
"Langit," mendaratkan telapak tanganmu ke dadamu
Lalu, kau tunjuk awang-awang di atas ubun-ubunmu
Menarik garis dari atas sana, hingga berhenti ke lini perbatasan
yang memagari dan memisahkan laut dan benda pucat lain di atasnya
Sepertinya aku mengerti maksudmu
Aku mengikuti gerakanmu
"Rissa," menunjuk diriku sendiri
"Laut," meraba dari jauh gemulung ombak yang menari
"Langit," meraih tangan kirimu yang terparkir di pegangan kursi
Kau terlonjak, berdiri, memandangku dengan tatapan yang tak mampu kubaca maknanya
Aku memejamkan mata terkaget, kulepas tanganmu, takut telah berbuat kesalahan
Lembut, sesuatu yang lembut mendarat di kepalaku
Aku membuka sebelah mata, tangan kirimu mengacak rambutku, lembut
"Kau pintar, Rissa. Seperti dulu. Ah, tidak. Selalu," pujimu
Hangat, tetiba angin menghangat menerpa setiap milimeter persegi permukaan kulitku
Ada perasaan asing, menjejal masuk ke dalam pembuluh dan sel di sekujur badanku,
mengalir bersama desiran darah, menghampir, keluar masuk dalam jantungku,
membuatnya berlompatan, lebih liar dari yang pernah aku rasa dan tahu
Berdebar
Kini, aku sudah tahu namanya
Rasa yang tak akan pernah aku lupa
Penanda kali "pertama" kita berkenalan
Rasa yang kekal, lekat selamanya, dalam ingatan
Aku tersenyum
Senyum pertamaku
Direnggut olehmu, karenamu
Dan memang, selamanya, hanya untukmu
"Rissa. Cintaku," ucapmu lembut
Tatapanmu lurus ke arah laut
Cinta?
Aku mengedarkan pandang
Menerka, memilah benda atau raga
Adakah benda yang tengah kau beri nama?
Ataukah kau tengah memperkenalkan sesosok raga?
Cinta?
Ini kata baru
Penglihatanku mulai campang-camping
Namun, tak kunjung kau memberiku petunjuk
Tak juga kau mulai melemparkan telunjuk
"Di sini," kau kembali menyentuh dada
Sepertinya kau sadar, aku bertanya-tanya
Itukah cinta?
Dan aku masih bertanya-tanya
Tak ada sesuatu di sana
"Kau tak akan melihatnya. Rasakanlah," jelasmu
Cinta?
Rasa?
Kepalaku berputar
Kau tertawa
Aku tersesat
"Nanti kau tahu," tambahmu
*****
Sewindu berlalu
Sejak aku terlahir kembali dan disambut olehmu
Sejak aku memberikan larangan untukmu
Sejak kau memperkenalkan laut, langit, dan cinta kepadaku
Sejak aku tersesat dalam pelajaran kata darimu, untukku
Langit,
Aku tengah berdiri
Di depan pusara berbatu
Setengah dasawarsa ini
Kau diam tertanam di dalamnya, kaku
Benar, aku di hadapanmu
Mengelus lembut kepala nisanmu,
sama seperti ketika kau mengelus kepalaku saat itu
Nyamankah?
Bahkan hingga kini,
masih dapat kurasakan sapuan jemarimu di rambutku
Langit,
Aku sudah banyak bicara
Aku lihai mengenali rasa
Aku pandai, seperti yang kau kata
Namun, kau meleset, Langit
Aku tak pandai dalam membacamu
Aku tak paham akan teka-tekimu
Aku tak peka membaca pias wajahmu
Apa kau ingat teka-tekimu?
Aku berhasil mengingatnya, jika kau ingin tahu
Kau mengucapkannya di hari aku terbangun di pembaringanku
Kau membisikkannya dengan lembut, tepat di telingaku
Andai aku dapat memecahkan teka-teki itu tepat waktu
Mungkin aku dapat mempersiapkan pergimu
Andai aku tak terlahir kembali
Mungkin kau tidak akan kelelahan
Andai aku tak pernah lupa
Mungkin kau tidak akan mati kesepian
Akukah pembunuhmu?
Kau pasti menggeleng, Langit
Karena kau terlalu bijaksana
Karena kau terlalu percaya cinta
Karena kau adalah lelaki istimewa
Karena kau adalah Langitku, Langit yang kucinta
Delapan Gambar Terakhir (Oktober-November Awal)
![]() |
"Alat Gambar (seadanya) Saya"
Depok, 25 Oktober 2014
Sebelumnya, mohon maaf, posisi fotonya terbalik. Saya tidak tahu cara me-rotate position image yang sudah di-upload ke blog. Jadi, saya biarkan saja begitu, ya.Well, itulah alat-alat yang saya punya. Namanya juga bukan seniman dan tidak berminat menjadi seniman, alhasil saya hanya memiliki beberapa alat yang kira-kira akan sering saya gunakan saja. Inilah daftar mereka:
|
![]() |
"Fanart: Houtarou Oreki (Again)"
Depok, 21 Oktober 2014
Media: Kertas Gambar A5
|
![]() |
"Latihan Menggambar Dua Kepala dalam Satu Scene"
Depok, 2 November 2014
Media: Kertas Gambar A5
Entahlah apa maksudnya.
|
Tuesday, 4 November 2014
Setan-setan Bersayap
Friday, 31 October 2014
Wanita Biasa
Aku wanita biasa
Penikmat hangatnya senyuman
Pembenci dinginnya pengabaian
Terlalu tidak bisa untuk menjadi luar biasa
Terlalu tersiksa untuk berubah dari hal yang sudah terbiasa
Bolehkah aku menyayangimu dengan cara biasa?
Mengumpati para perayu dan pujangga
Menghindari tawaran dan bahagia yang berlebihan
Dan tetap saja aku terjatuh pada lubang-lubang yang sama
Bolehkah aku memperhatikanmu dari dalam lubang tempatku bersemayam?
Menekankan pisau lipat pada urat takdirku yang biasa
Meneriakkan makian dan tuntutan akan kehidupan yang luar biasa
Dan di sini aku ditampar ironi, mendorongku menjual diri tanpa label harga
Bolehkah aku tetap mengingatmu dengan peranku sebagai wanita biasa?
Penipu, perekayasa romansa
Pendusta, pembolak-balik kata
Pengkhianat, pelanggar janji dan ikrar
Lebih rendah dari rendahan
Lebih murah dari murahan
Lebih kecut dari pengecut
rasanya begitu berat untuk tersematkan
Sepertinya aku telah menjanda
Bahkan sejak sebelum aku sadar
Bahwa aku adalah seorang wanita
Mungkin
Mungkin kau akan bosan
Pada igauku
Pada sunyiku
Pada gemingku
Mungkin kau akan kabur
Karena dengkurku
Karena posesifku
Karena siksaku
Mungkin kau justru bertahan
Sebab kasihan
Sebab kemanusiaan
Sebab keterpaksaan
Atau mungkin kau mulai menerima
Menggenggam jemariku
Membelai lembut surai hitamku
Mendekapku erat setiap mimpi gelap itu, memotong pelan urat keberaniaku
Namun ternyata
Aku tak punya banyak waktu
Untuk menunggu
Untuk menyambut
Apalagi untuk ber-ba-bi-bu
Aku pun tak berakal
Tak dapat menggapai perumpaan
Tak mampu mengenali perlakuan
Tak biasa membaca bahasa isyarat
Aku tak siap menanggung akibat
Aku tak tahan berkutat dengan kemungkinan
Aku lelah menjadi pengamat di luar pagar
Aku muak melahap angin lewat
Aku akan pergi
Membanting haluanku ke arah yang belum kutahu
Aku akan bersembunyi
Menenggelamkan sunyiku, tawaku, inginku
Aku akan berpura-pura mati
Hingga saat yang tak terukur satuan waktu
Mungkin, hidupku hanya untukku sendiri
Friday, 24 October 2014
Jika Kau dapat Mengingat Namaku
Jika kau dapat mengingat namaku nanti,
ingatlah ketika pertama kali aku menjadi ma'mum-mu
ingatlah ketika rerenyahan gerimis dengan jail mengguyur saung
ingatlah ketika kau meniup peluit besi demi sebuah persembahan untuk kami, para pejuang baru nan lugu
Jika kau dapat mengingat namaku nanti,
ingatlah ketika perang di tanah Arab kembali bergejolak,
ingatlah ketika merpati putih pengapit jerami kedamaian berangsur terbang,
ingatlah ketika abu, air dan api di sana tak mampu dibedakan
Jika kau dapat mengingat namaku nanti,
ingatlah ketika dalam gejolak itu,
keluargamu menggelar pentas,
memutihkan nurani yang menggelap,
menyejukkan akal dan menggugah hati untuk membuka mata,
ingatlah ketika itu, aku bersenandung dalam kepungan ayam coklat matang
ingatlah pula, ketika itu kau menunjukkan ibu jemarimu untukku
atas aku, ketidaksengajaanku, mengumpulkan permata yang kau inginkan
Ya....
Jika kau dapat mengingat namaku nanti,
ingatlah bahwa kau begitu berarti,
bagi wanita biasa nan canggung ini,
bagi wanita yang baru mampu berterima kasih kepada Tuhannya sendiri,
bagi wanita yang bersedia berdiri, menanti
akan orang yang belum pernah mengingat namanya dengan pasti
Menanti, menanti sembari memantaskan diri
Jika kau dapat mengingat namaku nanti...
Depok, 11 Desember 2012
Monday, 20 October 2014
Festival
Saturday, 11 October 2014
Terpaku
Friday, 10 October 2014
Mengapa Amarilis?
![]() |
| Ilustrasi Bunga Ama |
Awalnya, komik ini bercerita tentang kehidupan keluarga Mari-chan dan kakak-kakaknya. Namun, semakin ke tengah cerita saya kecil pun menyadari jika komik ini juga berkisah tentang musik. Mari-chan, sedari kecil dilarang oleh kakak pertamanya untuk bermain bahkan berkenalan dengan musik. Hal ini membuat Mari-chan bertanya-tanya, meskipun dia tetap mematuhi perintah kakaknya tersebut. Pada suatu hari, Mari-chan yang hampir tidak pernah melihat apalagi memainkan alat musik, tertarik untuk mendekati sebuah piano di sekolahnya. Penasaran, dia pun membuka penutupnya dan memencetnya di sembarang nada. Aneh, tetiba dia seperti mendengarkan alunan lagu tertentu dalam imajinasinya dan ia pun menjajal memainkannya dengan piano tersebut. Secara ajaib, dia memainkan sebuah lagu dengan nada yang sama seperti yang didengarnya di dalam imajinasinya. Dia merasa bingung, mengapa dia bisa bermain piano bahkan sebuah lagu, padahal dia tidak pernah menyentuh piano sama sekali. Tanpa dia sadari, aksinya itu teramati oleh teman sekelasnya "sebut saja dia Mayumi-chan". Mayumi-chan kaget karena Mari-chan dapat memainkan lagu itu pada percobaan pertama, padahal dia tahu bahwa Mari-chan tidak pernah mengenal musik sama sekali. Lagu itu berjudul Amarilis. Lagu yang baru berhasil oleh Mayumi-chan setelah berlatih selama satu atau dua bulan lamanya.
Sejak kejadian itu, Mari-chan dan Mayumi-chan menjadi berteman cukup baik. Mayumi-chan berasal dari keluarga kaya raya yang memiliki rumah mewah dan selalu diantar atau dijemput oleh sopir pribadi. Berbeda dengan Mari-chan yang memang ditakdirkan menjadi anggota keluarganya saat ini, yang meskipun tidak kaya sama sekali, tetapi sangat hangat dan penuh kasih sayang. Hal yang sangat sulit dirasakan oleh Mayumi-chan. Semakin lama pertemanan Mari-chan dan Mayumi-chan semakin dekat dan Mari-chan pun menjadi sering bermain ke rumah Mayumi-chan sepulang sekolah. Mayumi-chan memiliki sebuah piano bersuara merdu di rumahnya dan ini adalah salah satu alasan yang membuat Mari-chan suka ketika berkunjung ke sana. Tidak hanya suka, ternyata Mari-chan memiliki bakat spesial yang misterius di bidang musik, terutama piano. Dia dapat memainkan berbagai lagu dari berbagai komposer dengan berlatih hanya beberapa kali. Hal ini membuat Mayumi-chan sedikit iri. Dia sedih karena dia merasa tidak memiliki bakat bermain piano seperti Mari-chan, padahal ibunya adalah seorang pianis terkenal.
Suatu ketika, Ibu Mayumi-chan melihat Mari-chan memainkan Amarilis dan dia teringat akan masa lalunya, ketika dia memainkan lagu tersebut untuk calon anak yang sedang dikandungnya. Namun sayangnya, anak tersebut tidak pernah tumbuh besar dalam asuhannya karena menurut dokter dia terlalu lemah untuk bertahan ketika dilahirkan. Jika masih hidup, anak itu akan seumuran dengan Mayumi-chan dan Mari-chan.
Di akhir cerita, akhirnya terkuak sebuah fakta yang mengejutkan tentang kehidupan Mari-chan berdasarkan keterkaitan petunjuk-petunjuk yang dimunculkan oleh komikusnya dalam komik ini. Mari-chan yang sepanjang hidupnya dilarang bermain musik oleh kakak pertamanya ternyata adalah anak seorang pianis terkenal Jepang, yang tidak lain tidak bukan adalah ibu Mayumi-chan. Kakak pertamanya itu tidak ingin Mari-chan tumbuh menjadi seorang pemusik seperti ibunya, seorang ibu yang menurutnya dulu telah tega menelantarkan anak yang baru saja dilahirkannya. Kakak keempat Mari juga ternyata mengetahui jika ibu Mayumi-chan adalah ibu kandung Mari-chan karena dia melihat saat-saat ketika bayi Mari-chan diberikan kepada kakak pertamanya, di samping sang ibu kandungnya, yang saat itu tengan mengalami tekanan mental. Mayumi-chan sendiri merupakan anak yang diadopsi oleh keluarga tersebut untuk menggantikan Mari-chan, karena pasca menyadari kehilangan bayinya, si ibu kembali mengalami depresi. Fakta ini pun menjelaskan teka-teki dari mana bakat musik Mari yang spesial berasal.
Setelah melalui berbagai kendala dan kejadian, akhirnya Mari pun diperbolehkan untuk bermain musik dan menemui ibu kandungnya oleh kakak pertamanya dan berhasil melakukan konser pianonya yang ditonton oleh semua kakak-kakaknya dan keluarga kandungnya. Ah! Ini adalah komik pertama yang saya baca ketika SD. Komik dengan cerita yang ringan, tetapi sangat berkesan dan tidak akan pernah hilang dari memori saya. Nama Amarilis terngiang-ngiang hingga saya besar dan mengenali berbagai hal. Ketika saya mulai tertarik untuk menulis dan kebingungan dalam memilih nama yang tepat untuk nama pena saya, saya pun memilih nama itu. Nama yang indah dan penuh kenangan masa kecil. Beberapa hari lalu, saya browsing tentang score dan berbagai hal yang berhubungan denganlagu Amarilis seperti yang ada dalam komik Amarilis. Ada berbagai hasil temuan yang diperoleh, tetapi akhirnya saya memutuskan untuk jatuh cinta pada Amaryllis karya Henri Ghys yang nadanya cukup sederhana, tetapi mudah nyantol di telinga. Iseng saya pun mencari atau ngulik melodinya dan merekamnya.
Jadi, inilah asal muasal saya menggunakan amarilis sebagai username saya.
Monday, 6 October 2014
Agustus Ke-80
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
Lagu di atas merupakan lagu Amaryllis karya komposer Henri Ghys. Saya memainkannya dengan aplikasi piano pada ponsel saya. Oh iya, mohon...
-
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
“Mau semangka?” “Aku puasa,” jawabnya sekenanya. “Oh, afwan. Nggak pulang, Di?” tanyaku. “Tidak,” jawabnya singkat. “Kenapa...










