Saturday, 8 October 2011

Serial Aisyah adinda Edisi 4: Senja di Surau Al-Ikhlas

Serial Aisyah Adinda
Edisi 4: Senja di Surau Al-Ikhlas

“Awas, mbak! Ada kereta!” Glek. Dinda terkaget. Peringatan bapak penjual es doger itu berhasil mengalihkan perhatian Dinda dari sepatunya. ‘Eh? Sepertinya, bapak itu salah sangka,’ batin Dinda.
Siang itu, Dinda memang sedang capek. Masalah “ini”, “itu” dan ini-itu lain tengah berlalu lalang di otaknya membuatnya jenuh dan galau. “Aish! Mau ke tempat yang lebih damai aja, ah!” kata Dinda dengan volume normal.
Tiba-tiba, si bapak nyeletuk, “Mbak! Kalau tadi mbak berhasil pun mbak belum tentu masuk tempat sedamai surga!” Sontak kalimat tersebut membuat perhatian orang-orang teralih ke arah Dinda. Dinda hanya mampu ber-sweatdropped ria menerima tatapan prihatin orang-orang padanya
“Maaf, Pak! Saya nggak mau berbuat macam-macam, kok. Ini tadi saya nunduk-nunduk, memang karena lagi banyak pikiran aja. Na’udzubillah, deh, Pak! Insya Allah hal seperti itu nggak bakal terjadi,” papar Dinda kepada si Bapak. Tiba-tiba, si bapak melambai-lambaikan tangan sambil berkata ke orang-orang, “Aman! Mbaknya aman!” Dinda pun berpikir, ‘Bapak ini terlalu banyak menonton sinetron Cinta di Palang Kereta!’
Dinda memperhatikan si Bapak dengan seksama. Tiba-tiba Dinda ketularan berteriak, “Koh Joni yang jualan siomay super jumbo ya?” Si bapak pun gantian kaget hingga tak sengaja meminum es doger yang seharusnya diberikan kepada pembeli. “N.. Nn.. Neng Dinda?”
Ternyata, mereka sudah saling mengenal sejak Dinda tinggal di rumah lama, bersama orang tuanya saat belum meninggal. Cukup lama mereka mengobrol dan bernostalgia hingga diputuskanlah sebuah ide gila…
*****
Senja di hari yang sama, Dinda sudah berada di halaman sebuah mushola tua. Penampakannya terlihat tiga kali lebih parah dibandingkan terakhir kali ia lihat. Dinda merasakan ada energi penuh kedamaian yang perlahan merambat, menghangatkan jiwa dan pikirannya yang penat seharian ini. Di mushola yang lebih terbiasa Dinda sebut dengan surau inilah, ia pertama kali belajar mengaji bersama teman-teman masa kecilnya. Tiba-tiba, memori masa lalunya terputar kembali.
Suatu hari, mereka bermain kejar-kejaran di dalam surau sambil menunggu Wak Bahruddin datang untuk mengajar Iqro. Namun, ulah kami yang menimbulkan kegaduhan ternyata telah membuat beliau kesal. Jadilah kami trauma dan takut pergi ke surau. Tempat ini menjadi terlihat eksklusif. Bahkan, teman kecil Dinda yang bernama Dika, menganggap surau sebagai “tempat keramat” dengan penunggu Wak Bahruddin yang galak. ‘Sungguh sudah tersesat akal sehat temanku ini,’ batin Dinda sambil tersenyum kecil.
Dika adalah teman Dinda yang ngaco. Di suatu Ramadhan dia pernah membuat Wak Bahruddin menceramahinya selama setengah jam sehabis salat tarawih. Dalam hal ini, Koh Joni turut ambil andil. Alkisah, Dika usia TK kelaparan setelah salat tarawih. Ia pun berinisiatif memesan siomay Koh Joni dari dalam surau. Koh Joni yang selalu punya jargon “Tamu adalah Kaisar” pun mengerti dan mengantarkan pesanan Dika ke dalam surau. Dika membayarnya dengan sekeping uang 100 perak.
Nah, aksi itu tertangkap basah oleh Wak Bahruddin yang posisinya tepat berada di samping Dika di shaf laki-laki paling belakang. Terjadilah insiden penyanderaan sebungkus siomay dan sekeping uang logam oleh Wak Bahruddin, diikuti ceramah tentang hal-hal yang dilarang dilakukan di dalam masjid. ‘Lagian ini Dika. Padahal udah dikasih tahu kalo bertransaksi di dalam masjid kan nggak boleh, hihi,’ lagi-lagi Dinda terkikik mengingat masa itu.
Satu per satu ingatan tentang kejadian-kejadian di  surau muncul. Ada adegan di mana salah seorang “mantan calon lurah” di sana tiba-tiba datang ke surau setiap hari, beri’tikaf, menunaikan salat jamaah, hingga berujung mengkampanyekan dirinya sendiri seusai shalat di depan jemaah yang kebanyakan orang tua dan sedikit anak-anak yang lebih memilih berlepas dari urusan politik.
Tanpa sadar Dinda menggumam, “Uhm… Zaman Rasul dulu, selain untuk ibadah, masjid memang digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan, sosial bahkan militer, tapi ya nggak untuk kampanye juga kali. Orang tua dan anak-anak? Wah, kalau dipikir-pikir jama’ah masjid saat ini memang…”
“Dinda? Neng Dindakah itu?” kata suara dari dalam surau.
“Eh, iya. Wak Bahruddin masih ingat? Alhamdulillah…” jawab Dinda dengan wajah berseri-seri.
Wajah Wak Bahruddin pun tak kalah berseri-seri dibalik hiasan keriput. Beliau pun menyambung gumaman Dinda, “Iya seperti inilah, Din. Tempat ibadah yang seharusnya diramaikan oleh anak-anak untuk belajar mengaji malah makin sepi anak-anak. Orang-orang menganggap masjid cuma bisa dipakai untuk kegiatan keagamaan. Sedih saya, Din. Lama-lama masjid isinya orang-orang tua, orang yang rumahnya dekat masjid, orang yang lagi kena masalah atau orang yang sedang punya hajat dan tiba-tiba ingat Alloh…”
Dinda tercekat.
*****
“Sesuai fiman Alloh di dalam surat At-Taubah ayat 180 yang artinya ‘”Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Alloh ialah orang–orang yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, mendirikan sholat dan menunaikan zakat serta tidak takut kecuali kepada Alloh. Merekalah orang–orang yang diharapkan termasuk golongan orang–orang yang mendapat petunjuk,’” jadi masjid itu nggak hanya buat sholat ya, adik-adik, tetapi…” suara Dinda terdengar oleh Wak Bahruddin saat mengajar mengaji di Surau Al-Ikhlas selama liburan semester genap.

Friday, 7 October 2011

Jumat Berkabung (ini judul udah gue gunakan 3 kali ini)

Hari apa sih ini??
Yeah hari Jumat sih sebenarnya, cuma harinya itu nggak biasa. Gue baru aja berkabung. Namun, anehnya  gue nggak bisa sedih-sedih banget. Padahal kerugian yang gue derita nggak nanggung-nanggung. Yeah, berhubung di blog gue nggak pernah tahu bahwa ada aturan nggak boleh sebut nominal, so gue bakal membuka lebar berapa kerugian yang gue tanggung berkat kecerobohan dan keparahan gue....

Deg. Deg. Deg... Jumlahnya adalah 100ribu lebih banyak dari jumlah uang kuliah gue per semester.

Ataghfirullohal'adzim, gue cuma bisa beristighfar dalam hati. Mohon ampun kepada-Nya atas semua yang telah gue lakukan selama ini dan alhamdulillah, segala puji bagi-Nya untuk seluruh nikmat dan kasih sayang-Nya kepada gue.

Benar kata Mas Arul. Allah sangat sayang sama gue. Dia mengingatkan gue untuk selalu bersyukur, dalam hal ini rasa syukur gue adalah dengan bertindak hati-hati dan nggak ceroboh. Dengan selalu menjaga barang dan hal-hal yang udah Dia kasih ke gue dengan sebaik-baiknya.

Serius. Gue nggak nangis. Gue bahkan masih senyum-senyum gitu. Ya, walaupun temen-temen di sekitar gue udah ngerasa aneh sama gue yang tiba-tiba lebih kalem.

Kalau gue inget-inget, gue udah merasakan peasaan nggak enak sejak seminggu ini. Gue selalu merasa bakal kehilangan minimal sesuatu atau seseorang. Bahkan, gue sampai mengingatkan si Dila untuk berhati-hati, agar gue sendiri juga inget bahwa gue juga harus berhati-hati. Namun... Yeah, nasi sudah menjadi bubur, masa suruh balik lagi ke beras baru panen?

Gue bener-bener berkabung, sekaligus mengambil hikmah di sini.

Sampai saat ini, gue belum cerita ke orang tua gue. Gue nggak tega mengabari mereka. Apalagi mama gue. Gue takut beliau mikir dan semua penyakitnya kambuh.

Namun, cepat atau lambat, karena gue bukan tipe orang yang suka menyembunyikan kebeneran meski itu sepahit empedu ayam, gue pasti bakal cerita ke mereka.

Untuk sementara ini, gue baru mau akan mengurus kartu atm gue. Temen-temen sangat menyarankan untuk segera memblokir kartu atm gue, takut terjadi apa-apa. Akhirnya, gue pergi ke BNI sendirian. Takut ngerepotin orang. Gue ngantri untuk sejam di sana. Namun, cuma ada 3 pergerakan manusia dan nomor antrean. Nomor gue 055 sedangkan nomor yang dipanggil baru sampai nomor  036. Saat gue baru dateng nomor yang dipanggil adalah 033 dan gue itu udah duduk menunggu di situ selama 45 menit. Jadi, gue agak pesimis gue bakal terpanggil dalam waktu 1 jam. Akhirnya, gue kabur aja ke Labkom perpus pusat. Semoga langkah gue ini bener, tapi kalau saat gue balik ke bank dan nomor gue udah kelewatan, gue nggak jadi ke situ hari ini, tapi hari Senin aja. Ya Allaaah...  hamba bingung.


Gue juga udah berniat untuk mengikuti banyak lomba nulis, siapa tahu bisa menang. Yeah, gue berpikir realistis juga sih sebenernya. Kemungkinan karya gue bisa menang paling cuma mendekati 10% (ngga usah nanya dari mana gue bisa dapetin angka ini), tapi kalau terus diasah pasti akan bisa insya Allah. Ya Allah ridhoi kami ini.

Sejauh ini, gue udah ditinggal pergi HP kesayangan gue E63 yang baru gue punyain selama 3-4 bulan, beserta pulsa+paket internet yang masih ada 400MB-an. Gue juga kehilangan modem+isi+kuota yang masih 850MB-an. Flashdisk 8GB gue juga ikut melayang bareng mereka. Kabel data yang sekecil mungil itu pun nggak mau ditinggal. Yang paling fatal adalah salah satu hal yang paling krusial buat bertahan hidup: kartu ATM. Berhubung gue bikin rekeningnya di Kebumen, so kemungkinan gue nggak bisa bikin di Depok ini.

Ah dunia memang penuh tantangan. Gue harus bersabar dan bisa menghasilkan duit sendiri mulai saat ini. Gue harus bisa berjuang sendiri!!!! Sipp!!!

Di saat seperti ini, gue pengen kepala gue dielus sama Mama gue, pengen diajak chatting sama dia, pengen dihibur teman terdekat, tapi gue juga bingung... siapa???

Sesendirian itukah gue? Haha...

Gue udah bilang gue nggak nangis, so gue bakal nggak akan nangis. Semangat!!!!! :DDDD

Wednesday, 5 October 2011

Puskesmas

Jadi, ceritanya Jumat minggu lalu (30 September 2011), kita itu berkunjung ke Puskesmas buat memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Kita di sini ada Dila, Helmi dan Ningrum. Eh... Gue malah pengen ngupload foto narsisnya aja malah, hehe...

Dila yang tampak keren dan dewasa di foto ini, berkat campur tangan map gue, haha


Gue dan Helmi nggak sengaja memotret diri sendiri


Dila asyik memfoto, Helmi dan Ningrum asyik difoto, dan si anak kecil tiba-tiba lari bawa hp minta foto bareng (haha, bohong deng)


(tbc)

Tuesday, 4 October 2011

SENI-OR PERHIMAK UI 2011


Sebenarnya gue sedang ngerjain tugas K3 Dasar saat sedang bikin post ini. Namun, entah kenapa gue lebih tergerak untuk nge-post ini dibandingkan ngerjain K3 itu. Huhuhu... Parahnya nggak ilang-ilang nih! Ckck.

Jadi, ba'da maghrib tadi, gue nge-like dan ngomentari album fotonya Iam di FB: "Pertama dan Terakhir". Isinya itu foto-foto anak-anak bidang Litbang Perhimak UI saat mengikuti acara.......Acara apa ya? Pokoknya itu acara diadakan di YDBP, di hari Sabtu, pas lagi Try Out Bimbel, masih bulan-bulan Mei gitu. Gue kasih komentar: "Litbang will always ana, kok, Am :D" Dijawablah "iya, An"

Eh, beberapa menit kemudian malah muncul pemberitahuan bahwa Iam telah mengirimkan sesuatu di dinding gue. Penasaran, gue klik lah link itu dengan bermodal koneksi internet yang lola.

Ternyata sebuah foto...
Foto yang dulu sempat gue nanti-nanti, soalnya gue penasaran sama ekspresi "muka nggak siap difoto" gue waktu itu. 

Inilaaaaaaaaaah... Foto Bidang SENI-OR PERHIMAK UI...

Jeng-jeng-jeng! Kuning-kuning! Cling-cling!



Tomo - Mas Wahid - Mas Reda - Gue - Nurmala
(beserta Nurul, Kuni, Ubbad dan Ryan yang nggak hadir, :p)
*lihatlah betapa mesranya bapak biyung kami: Mas Wahid dan Mas Reda*
*lihatlah betapa machonya Nurmala dengan gaya khas dia yang nggak terungkapkan kata-kata*
*lihatlah betapa Tomo senyum-senyum soim kepada si fotografer biar bisa minta foto lagi*
*dan lihatlah pose tangan dan muka gue yang bener-bener nggak sinkron sama sekali -,- *


Astaghfirullohal'adziim... Awalnya gue shock melihat foto ini. Nggak enak banget posisi gue buat dilihat. Gue malu pada siapa pun. Bisa dibilang nyaris nggak pernah gue foto sampai nempel ikhwan gitu. Malu juga pada temen baik gue yang dulu sempat ada konflik. Huhu... maaf. Namun, karena ini satu-satunya foto bidang gue, so gue pampang lah ini foto di blog ini. Semoga orang-orang di atas nggak ada yang keberatan. Aamiin...

Foto ini diambil saat kami berlima baru saja selesai membakar ayam di acara Perhimak yang udah gue sebutkan di atas tadi. Lihatlah betapa merana ayam tersebut. Kalau nggak jelas, gue deskripsikan penampakan ayam itu: 
"Setengah gosong, tapi agak setengah matang. Dibumbui hanya dengan saus dan kecap hasil comot sana comot sini. Ditaburi daun-daunan hasil metik di pinggir pagar dan di atasnya diberi tancapan bunga Ixora paludosa merah yang melunglai karena efek panas dari ayam terbakar itu."

*Flashback on*
Kami begitu bersemangat melakukan prosesi pembakaran tersebut. Gue berdiri menyemangati. Nurmala menggendong sebotol kecap Kentjana kebanggaan masyarakat Kebumen. Mas Reda sibuk berkebun mencari "lalapan". Tomo dan Mas Wahid secara bergantian membumihanguskan si ayam dengan penuh perjuangan karena harus berebut panggangan dengan anak-anak bidang lain. 

Aaaaa...syik banget! Gila! Seumur-umur gue nggak pernah sebahagia itu di acara Perhimak bahkan di saat Makrab sekali pun yang notabene proker angkatan gue, 2010. 

Sehabis ayam terbakar itu layak tampil di atas piring, kami berlima pun mulai menghias piring saji. Atas kekreatifitasan Mas Reda, terciptalah garnish super miris di atas piring ceper nan comal-camel. Sehelai daun ketapang terbujur kaku di atas piring, lalu ditaruhlah si ayam terbakar di atasnya. Baru kemudian, ditaruhlah taburan bunga sokka dan daun-daun pagar yang tadi gue ceritain di atas.

Momen yang paling kami tunggu-tunggu pun tiba. Foto-foto dan makan-makan. Yey yey yey! Mas Dhani segera menggiring kami menuju tempat yang paling layak dibuat background foto. Dipilihlah ruang tengah dekat lemari furniture. Mas Dhani dengan gaya fotografernya berkata, "Top banget! Manis banget ayamnya! Nggak tahu tuh rasanya gimana! Haha. Oke silahkan menikmati!"

Glek. Oh iya! Gimana rasanya ya?

Namun, hasrat ingin makan telah mengalahkan seluruh pikiran mengkritisi gue. Akhirnya, kita coba cicipi lah si ayam terbakar lemas itu. Aaaa... kurang saus. Lari! Lari! Lari! Jambret botol saus yang lagi dipegang orang. Crot! Crot! Cicipi lagi. Kurang mataaangg... Lari! Lari! Lari! Ke halaman samping tempat panggangan tergeletak lemah. Hanya pepatah "Habis manis sepah dibuang" yang pantas menggambarkan keadaannya saat itu. Kita pun nggak peduli. Kita paksa dia bekerja lagi lebih giat. Panggangan serasa milik kita. Kita berjaya, menguasainya seorang diri sedangkan anak-anak bidang lain sedang asyik berfoto dengan ayam-ayam malang mereka masing-masing. 

Riweuuuh! Namun, asyik! Sungguh, gue nggak bakal bisa melupakan ini.

Kami pun menikmati ayam terbakar itu hingga daging dan tulang terakhir. Hal ini kami lakukan karena kami tak tega menyia-nyiakan pengorbanan ayam ini. Kami lahap habis berlima doang. Alhamdulillaaaaah.... Malam itu berakhir bahagia.

Kami pulang ke tempat tujuan masing-masing. 
Gue balik ke Rumah Bimbel bareng Mbak Fitri, Ipin, Mas Andi, Mas Ilham dan Amel kalau nggak salah...
Di saat inilah, mulai malam inilah gue mulai menemukan diri gue yang makin "begini". Mungkin ini titik kulminasi gue... Gue yang harus berjuang, terseok-seok karena pikiran-ego-emosi gue sendiri...

SENI-OR PERHIMAK UI... apa ya?? Haha...


Gue dan Bakpao

Wiew!!!
Gue ingat kejadian hampir setahun yang lalu, saat menyaksikan anak-anak SD berebut Momogi, saat gue memakai jakun dengan riang gembira di luar tuntutan mabim dan saat gue foto-foto bareng Dila sambil memamerkan pin Madah Bahana gue. Yeah! Saat itu, gue emang lagi bangga, bahagia, terharu, dan gitu deh pokoknya dengan apa yang telah gue raih dan capai di UKM itu. Gue senang sampai terharu dan nggak pernah melepaskan pin itu dari jakun gue yang makin kumal aja tiap hari. I love Madah Bahana ever after, even though I'd unjoin with it, hehehe. I love Marimba and friends. I hope I can play them again... I hope so. Aamiin...

Well, sebenarnya bukan ini juga yang pengen gue ceritakan...
Di awal gue udah bilang kalau gue inget kejadian hampir setahun yang lalu (sengaja diulang biar bosen, hehe), tepatnya yaitu di acara Bakpao 2010. Jadi, ini adalah sebuah kegiatan Bakti Sosial yang bersifat sangat wajib bagi seluruh mahasiswa baru di FKM UI tercinta. 

Nah, ceritanya gue juga seorang maba juga tuh waktu itu. So, gue juga berkesempatan mengikuti nih acara. (Semoga pada percaya kalau gue juga pernah jadi maba, hehe) Gue masuk bidang BB. BB di sini bukan bidang Blackberry lho! Gila aja kalau di sebuah Bakti Sosial ada acara bagi-bagi berunit-unit Blackberry gratis. Bisa masuk koran Malaysia lah kita, hehe. Btw, gue belum pernah mengoperasikan BB lhooo! Kampungan? Biarin. Gue suka gaya gue, haha. (Penting ya, jeng??) 
BB di sini juga bukan Bau Badan. Masya Allah, nggak mungkin tega lah kita berbagi aroma "sesemerbak" itu ke masyarakat desa yang polos dan rajin mandi. Jadi, BB adalaaaaaah... Jeng-jeng-jeng.... Bumi gonjang-ganjing, langit pecah-pecah, matahari tiba-tiba terbenam dan orang yang baca postingan ini pun mendadak nutub tab situs ini *plak!*.

Jadi BB adalah kependekan dari Buku Bermanfaat. Salah satu bidang yang mulia dan betul-betul bermanfaat di acara Bakpao ini (mentang-mentang bidang gue sendiri, hehe). Salah satu bidang muda yang baru lahir satu tahun yang lalu. Bagaimana serunya kisah gue sebagai laskar BB di Bakpao tahun lalu? Baca aja postnya di blog ini, dengan judul: "Bu Guru?"

Well (lagi?), bukan hal di atas juga yang pengen gue ceritakan di post ini. Hehehehe... (reader-nya beneran kabur ini, hehe, maaf yaa ^^).

Gue pengen cerita tentang (insya Allah) keterlibatan gue lagi di acara Bakpao ini. Yeah betul! Di Bakpao 2011. Di sini gue diamanahkan sebagai PJ BB. Jadi, BB itu adalah... (reader: STOP! STOP! STOP! Pengen gue lempar pake bantal kucing lo???; author: *speechless*). Alhamdulillah, gue cuma pengen kepercayaan ini nggak salah alamat datang ke gue. So, gue pengen berusaha semaksimal mungkin agar bidang gue (what? bidang lo??), maksud gue bidang BB di BAKPAO ini bisa berjalan baik, beriringan dengan bidang lain, saling membantu dan nggak menye-menye.

Nah, gue udah memilih sobat gue yang lemah lembut dan malu-malu, Dila, sebagai wapeje gue. Siang tadi, gue bareng dia, udah bikin beberapa konsep acara yang bakal kita adakan nanti di hari H, supaya BB nggak jobless-jobless dan krik-krik amat di hari H itu. Gue kira, tuh konsep udah harus dipresentasikan tadi sore. Eh ternyata kagak, hehehe. Maaf ya, Dil. Lo jadi pulang kesorean deh. Namun, nggak papa, kok. Insya Allah, segala hal yang udah kita kerjakan dan susun tadi itu progresif dan bermanfaat banget, hehe.

Di rapat BPH tadi dibahaslah tentang desa tujuan, danus, sponsorship, form pendaftaran dan konsep grandlaunching. Nah konsep GL ini nih yang bikin gue salah paham dan memaksa Dila bantuin gue nyusun konsep. Gue salah baca, jadi yang gue tangkap adalah grandlaunching konsep, hehe. Konyolnya, gue mengabaikan kecurigaan gue: masa iya konsep bidang perlu di-GL-in segala? Gue lebih percaya "apa kata mata gue" yang ternyata salah lihat. Parah, euy!

Desa tujuan Bakpao 2011 insya Allah sudah ditetapkan di Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat. Itu adalah sebuah desa dengan medan yang nggak begitu terjal (kayaknya, hehe), meskipun kak Dewo bilang perlu melewati tanjakan cukup curam untuk sampai ke sana. Oh iya nyaris lupa. Jadi, sebenernya inti dari post ini adalah DESA INI NGGAK PUNYA SEKOLAH!!!

What??? So??? Ini konsep bidang gue gimana ceritanya? Almarhum dong??? Ya sudahlah, gue udah siap dengan Plan B, huahahaha *gaya Pahlawan Bertopeng*

Terlepas dari konsep A yang udah almarhum, gue membayangkan Bakpao yang akan datang ini mirip adegan-adegan di sinetron atau film-film gitu. Tiba-tiba mendatangi sebuah desa terpencil dengan akses jalan yang nggak bisa ditempuh dengan sekali lompat, dengan rumah-rumahnya yang tak semua beratap genteng, dengan anak-anak yang masih belum pernah mencicipi lantai dan bangku sekolah, dan dengan hanya bergantung kepada seorang ibu Kader (ibu PKK) sebagai pengganti Bidan, tenaga Medis, dll. Dan gue pun tiba-tiba membayangkan kelanjutan adegan setelah adegan acara Bakpao ini. Gue bertemu seorang pemuda tampan di desa sana, lalu...blablablabla.... tiba-tiba Betty la Vea menjadi cantik hingga membuat Armando jatuh cinta dan hipertensi hingga stroke di tempat. Film pun diakhiri dengan adegan Betty yang menangis dan meraung-raung di makam Armando sambil menyeruput es teh manis. Karena abang es teh manisnya nggak tega, akhirnya dia melamar Betty dan menjadikannya teman hidupnya berjualan es di pagar TPU Jeruk Bali. Betty pun bahagia selamanya karena mampu berjualan es teh sambil berziarah ke makam Armando setiap hari. Fin. (lalu gue dihujani sandal-sandal swallow putus dari para pecinta telenovela)

Di salah satu foto yang gue lihat, ada seorang warga yang tengah menuju sepetak sawah sambil menenteng ember. Gue awalnya biasa aja. Nothing's special. Hingga tiba-tiba Rico bertanya, "Ini mau ngapain? BAB??" 
What??? Sontak gue kaget dan mengingat detail foto itu. Tampaknya, ingatan fotografis gue (yang kata Dila kuat) sedang amat buruk saat itu. Lalu, dengan sigap Dwi dan Kak Dewo menjawab, "Bukan! Itu mau nyuci baju kok!"

Namun, di awal pengenalan desa emang udah disebutkan sih kalau warga di sana yang berjumlah sekitar 500 orang, terlalu bergantung pada sungai di situ. MCK dilakukan di sana. Jika, musim kemarau dan sungai mengering, dibiarkanlah hasil MCK itu (maaf) mengendap dan menumpuk di sungai yang kering. Hadoooh.... Ternyata, yang demikian itu memang benar-benar ada ya??? Ini benar-benar akan menjadi BAKPAO yang penuh tantangan untuk seluruh bidang, mengingat desa tujuan kami tahun lalu tidaklah sememperihatinkan ini.

Hnn... Kalau diingat-ingat dari hasil melihat foto-foto desa, sebenarnya desa ini nggak terlalu terlihat memperihatinkan. Ada beberapa rumah yang sduah berpondasi beton dan beratap genteng, meskipun kebanyakan berdinding papan beratap genteng jaman dulu. Ada sawah yang hijau. Dan ada-ada aja... Namun, perilaku warganya sendiri mungkin ya yang masih kurang ngeh...terhadap kebersihan dan kesehatan. Yeeey... gue ngomongin ini seolah-olah perilaku gue udah bagus aja, hehe. Namun, yaa, setidaknya gue buang sampah dan MCK pada tempatnya lah.

Segini doang sih, post gue tengah malam ini. (doang?)
Gue berharap, BAKPAO kali ini sukses dan berjalan lancar serta mampu menebarkan kebermanfaatan buat semua, baik kami dari panitia maupun mereka warga desa di Leuwiliang... :D

Saturday, 1 October 2011

Fiuuuhhh...!


Telaah Hasil Perkulian
Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat (Sesi 2)
Senin, 26 September 2011

A.   Kondisi Kesehatan Masyarakat Indonesia
Pada era globalisasi sekarang ini, pengetahuan masyarakat Indonesia tentang kesehatan sudah semakin maju. Namun, kemajuan ini tak senantiasa merata dialami oleh seluruh masyarakat Indonesia. Sejauh pengamatan kami, masyarakat kota cenderung lebih mengerti tata cara hidup sehat dan lebih sadar diri untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang sudah tersedia, seperti puskesmas, posyandu, dll. Meskipun dari sisi kesadaran dan pengetahuan mengenai kesehatan sudah baik, tetapi adanya kondisi lingkungan perkotaan yang padat penduduk dan ramai polusi cenderung menghambat upaya peningkatan kesehatan masyarakat kota itu sendiri.
Kondisi di atas sangat kontras dengan apa yang terlihat di tengah masyarakat daerah. Bisa dibilang, mereka masih kurang peduli dengan kesehatannya sendiri. Masyarakat daerah pada umumnya kurang memanfaatkan pelayanan dan fasilitas kesehatan terdekat secara optimal. Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya kesadaran dan pengetahuan mereka akan pentingnya kesehatan dan dampak mengabaikannya. Selain itu, banyak di antara mereka yang beranggapan bahwa tenaga kesehatan yang berada di puskesmas kurang berkompeten dibandingkan yang ada di rumah sakit. Akibatnya, mereka enggan memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada di puskesmas, tetapi juga malas untuk ke rumah sakit pusat daerah dikarenakan jarak yang tidak mudah dijangkau.

B.   Perlunya Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat
Menurut C.E. Winslow (1920), kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup dan meningkatkan kesehatan melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat untuk: perbaikan sanitasi lingkungan, pemberantasan penyakit-penyakit menular, pendidikan untuk kebersihan perorangan, dan pengorganisasian pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan.
Dari pendapat Winslow di atas, dapat kita simpulkan bahwa inti dari kesehatan masyarakat adalah upaya preventif dan promotif dari dan bagi masyarakat untuk mencapai taraf sehat yang ditetapkan. Fungsi kesehatan masyarakat secara nyata adalah untuk memberitahu masyarakat tentang hidup sehat sehingga dengan kesadaran sendiri mereka akan berupaya memberdayakan dirinya untuk mencapai hidup sehat.
Jika melihat kondisi kesehatan di Indonesia yang sudah dijelaskan pada poin A di atas, pengorganisasian terhadap masyarakat di bidang kesehatan memang sangat diperlukan. Winslow dengan terang-terangan dan secara jelas menyebutkan bahwa diperlukan adanya pengorganisasian masyarakat yang dilakukan untuk mempermudah terwujudnya 5 upaya preventif dan promotif kesehatan tersebut. Hal ini dikarenakan kesehatan masyarakat tak dapat terwujud dan berdiri sendiri tanpa adanya campur tangan dan kerja sama setiap individu untuk terlibat di dalamnya. Peran sektor daerah hingga sektor pusat dan dari masyarakat sendiri merupakan hal yang mutlak harus ada dalam upaya mewujudkan kesehatan masyarakat.
Mengingat banyaknya pihak (sektor) yang terlibat, maka tak dapat dipungkiri bahwa pengorganisasian memang sangatlah penting, dalam hal ini untuk menciptakan keteraturan dalam masyarakat. Seperti yang telah disebutkan di atas, masyarakat sendiri diharapkan dapat memberdayakan dirinya sendiri dalam ilmu kesehatan masyarakat ini, maka pengembangan masyarakat pun mutlak dibutuhkan untuk mencapai kesehatan msyarakat yang lebih baik.
Pengorganisasian dan pengembangan masyarakat sangat penting peranannya dalam menata sistem kesehatan. Dengan adanya sistem kesehatan yang terorganisir, pelayanan di institusi kesehatan lebih teratur dan program-program kesehatan yang telah dibuat dapat terealisasikan dengan baik. Sedangkan dengan adanya pengembangan masyarakat, softskill masyarakat akan terbentuk sehingga masyarakat mampu mengidentisifikasi dan mengetahui cara-cara dan langkah yang tepat untuk melakukan pencegahan terhadap suatu penyakit.
Selain itu, telah disebutkan di dalam Undang-undang Kesehatan No 36 Tahun 2009 Pasal 174 ayat (1) dan (2) tentang Peran Serta Masyarakat bahwa masyarakat dianjurkan untuk ikut berperan serta bersama pemerintah dalam setiap penyelenggaraan upaya peningkatan dan pembangunan kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia secara aktif dan kreatif. Hal ini dimaksudkan agar tercipta keteraturan dan keseimbangan antara pemerintah dan masyarakat sehingga terwujudlah tujuan Negara Indonesia yang terdapat dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945, yaitu “memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa”.

C.   Hal yang Dilakukan untuk Mengorganisasi dan Mengembangkan Masyarakat
Di dalam Undang-undang Kesehatan No 36 Tahun 2009 Pasal 174 ayat (2) dengan jelas disebutkan bahwa masyarakat berhak berperan aktif dan secara kreatif menyelenggarakan hal-hal yang mendukung terwujudnya pembangunan kesehatan nasional. Oleh karena itu, diperlukan adanya pemberdayaan seluruh masyarakat tanpa terkecuali.
Intisari dari pemberdayaan masyarakat adalah kegiatan yang bersifat edukatif. Cara pemberian informasi kesehatan, baik mengenai pencegahan, ciri-ciri dan pengobatan penyakit; pengenalan cara menjaga lingkungan; pemilihan menu makanan sarat gizi, maupun mengenai aspek kesehatan dan keselamatan kerja, dapat dilakukan dengan memberikan edukasi terhadap masyarakat. Bentuknya dapat berupa penyuluhan yang dengan intensitas teratur, misalnya satu bulan sekali, sehingga masyarakat yang awalnya tidak tahu, berangsur-angsur tahu dan timbul kesadaran dengan sendirinya seiring semakin banyaknya pengetahuan yang mereka peroleh.
Salah satu bukti realistis keberhasilan pengorganisasian dan pengembangan masyarakat yang ada di negara kita adalah kegiatan PKK. PKK dengan sasaran ibu-ibu rumah tangga telah berhasil meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan keluarga. Hal ini dikarenakan kegiatan PKK itu diisi dengan informasi-informasi mengenai kesehatan, keluarga, menu makanan sehat, dll melalui kajian-kajian yang disampaikan oleh peserta PKK yang dianggap paling berkompeten di antara mereka. Para ibu yang notabene adalah tiang utama penopang dan kunci pengatur segala urusan keluarga dan rumah tangga, baik dengan disadari maupun tidak akan menerapkan informasi tersebut dalam kesehariannya terhadap anggota keluarga mereka. Akhirnya, seluruh anggota keluarga akan terorganisir dengan baik untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar, tidak hanya di bidang kesehatan, tetapi di bidang lainnya juga. Dengan demikian, akan terjadi perkembangan ke arah lebih baik di dalam masyarakat.

D.  Contoh Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat
Contoh selain PKK dari bentuk pengorganisasian adalah puskesmas. Puskesmas bertanggung jawab atas kesehatan masyarakat di satu wilayah. Rekap data kesehatan masyarakat per wilayah akan terorganisir di puskesmas. Selanjutnya data kesehatan masyarakat per wilayah tersebut akan disatukan (terorganisasi) hingga ke wilayah pusat yang akan menjadi cerminan kondisi kesehatan nasional. Dari sini kesehatan masyarakat dapat terus dikontrol dan senantiasa ditingkatkan menuju keadaan yang lebih baik.
Puskesmas juga berwenang melakukan konselling dan promosi kesehatan; menyelenggarakan kegiatan kesehatan, seperti posyandu bagi balita dan poswindu bagi lansia; serta melakukan pengecekan terhadap kondisi kesehatan lingkungan di wilayah tersebut. Hal-hal ini secara langsung melibatkan petugas tenaga kesehatan dan masyarakat dalam sebuah interaksi yang apabila dilakukan secara berkala, pada akhirnya akan menuntun masyarakat untuk terbiasa berperilaku sehat.

E.   Hasil yang Hendaknya Dicapai setelah Adanya Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat
Setelah terlaksananya pengorganisasian dan pengembangan masyarakat, diharapkan muncul kemandirian dari masyarakaat sehingga mereka tidak mutlak bergantung pada pemerintah dalam meningkatkan taraf dan derajat kesehatan mereka masing-maing. Masyarakat mampu menjaga dirinya, terutama dalam hal mencegah penyakit dan memelihara kebersihan lingkungan sehingga akan berimbas pada menurunnya tingkat kematian, tingkat kemiskinan, dan penyebaran wabah penyakit menular yang berada di tengah-tengah masyarakat.
Sudah banyak pelayanan kesehatan yang tersebar di Indonesia, yang senantiasa siap melakukan tindakan pencegahan, penanganan dan pemberian informasi tentang penyakit kepada masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan lebih mengetahui pentingnya pelayanan kesehatan tanpa ragu memanfaatkan pelayanan kesehatan sekecil puskesmas sekali pun. Selain itu, dengan adanya sharing info atau edukasi mengenai tanda dan gejala penyakit, masyarakat juga hendaknya lebih peka terhadap setiap perubahan kesehatan yang terjadi pada diri dan lingkungan mereka. Dengan demikian, penanganan dini dapat dilakukan untuk meminimalisasi dampak suatu penyakit dan peristiwa “berkunjung” ke rumah sakit saat penyakit memarah atau berdarah-darah dapat dikurangi.

Kelompok 9
1.      Anifatun Mu’asyaroh
2.      Diana Wijayaningrum
3.      Fauziah Nurmala Sari
4.      Helmi Wahyuningsih
5.      Iksanataun Fadila Oktabriani
6.      Laeli Nur Maeni
7.      Nurul Aini
8.      Ria Resti Agustina

Suatu Hari di tahun 2010

Aku sedikit tidak percaya dengan apa yang namanya kebetulan. Setahu aku, Tuhan menciptakan makhluknya lengkap dengan garis hidupnya sejak dan selama di dunia hingga meninggalkan dunia serta memulai alam baru, akhirat nanti. Bahkan, saat kau terjatuh di bawah pohon durian lalu sebuah durian tiba-tiba jatuh mengelus kepalamu dengan keras dan tanpa permisi, aku yakin Tuhan telah merencanakannya terjadi padamu.
Pada saat membuat souvenir untuk kakak-kakak wisudawan Perhimak, mbak Zizah berkata bahwa pada zaman kita masih orok dan di dalam rahim Ibu, kita telah berhasil melihat cuplikan takdir kita selama di dunia setelah kita lahir nanti. Namun, mungkin karena kita masih bayi, ingatan kita masih lemah kali ya jadi nggak ingat lah kita kepada kejadian itu. Lagipula tidak mungkin Allah mengabadikan ingatan tersebut di otak kita. Dipikirkan saja, silahkan...

Saat lahir ke dunia, kita betul-betul menjadi makhluk baru, polos tak tahu apa-apa, meskipun sebenarnya kita telah pernah menyaksikan video itu. Namun, ada suatu saat di mana seorang manusia masih mampu mengingat beberapa adegan tersebut. Adegan itu seperti cuplikan-cuplikan yang terputar tiba-tiba dalam benak orang itu, lalu beberapa waktu kemudian hal tersebut terjadi. Mungkin hal inilah yang sering disebut oleh orang-orang dengan feeling atau bahasa lebih kerennya lagi untuk tingkatan terkerennya adalah "indra ke enam" atau sixth sense. Hak kita untuk mempercayainya atau tidak, tapi menurutku teori ini lebih bisa diterima dibandingkan teori-teori lain yang umumnya akan berujung pada hal-hal spiritual bin aneh-aneh. Eits, meski demikian, aku nggak bilang bahwa aku menerima mentah-mentah teori ini lho.

Nah, kalau menurut orang-orang, indra ke enam itu hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu, seperti orang indigo, orang sakti, orang pinter, keturunan dewa tertentu, dan lain-lain yang makin kita telusuri akan makin aneh saja mitosnya. Namun, menurut teori tadi, sebenarnya seluruh manusia yang lahir di bumi pernah melihat masa depan dan peristiwa semasa hidupnya tanpa terkecuali. Mengenai adanya orang berindra keenam mungkin lebih diakibatkan kemampuan daya ingat atau daya rekam orang tersebut lebih kuat dibandingkan orang lain yang pastinya atas kehendak Allah.

Wah! Aku nggak bisa bilang percaya karena memang aku nggak sepenuhnya percaya. Maksud ditulisnya post ini adalah sekedar sebagai info dan lagi-lagi sebagai poin pengingat kejadian untuk diriku sendiri. 

Hancur! Hancur! Hancur!

Rabu, 1 Desember 2010

Aku mulai percaya pada sugesti. Pagi ini aku membaca banyak status di facebook yang intinya, "Selamat datang Desember! Desember Ceria!" dan sebagainya. Sedih sekali, karena awal dan akhir desember ini diwarnai dengan ujian kuliah yang keduanya sangat-sangat aku tidak cintai, Matematika dan Fisika.
Tadi, baru saja aku mengikuti UTS Matematika. Aku malu mengakui ini, tapi ada dorongan yang membuatku mengaku di blog ini yang pastinya nanti akan dibaca oleh banyak orang, bahwa "Aku tidak mampu mengerjakan soal-soal matematika yang dibuat oleh dosen ajaib itu". Dosen ajaib? Entah! Kali ini aku sedang ingin saja menyebut beliau dengan sebutan itu. Beliau masih agak muda, sekitar 30-45 tahunan kukira. Beliau adalah orang yang komit, berbakti pada orangtua dan zzzzzzzzz.
Namun, aku justru lebih suka diajar sang asdos yan menurutku mirip dengan Raditya Dika versi cakep karena habis operasi plastik tujuh kali di Singapore. Asdos ini, memakai kaca mata tebal yang lumayan mirip dengan milik Raditya Dika, potongan rambut cepak yang lagi-lagi mirip dengan rambut Raditya Dika dan selera humor yang setengah mirip dengan Raditya Dika. Entah bagaimana, kakak ini lebih mampu menuangkan ilmu-ilmu matematika dibandingkan sang dosen yang ajaib itu.

Saturday, 10 September 2011

Hari Terakhir di Kebumen

'Semoga esok hari, Sabtu, adalah hari terakhir di Kebumen yang menyenangkan dan bermanfaat! Aamiin,' begitulah yang harapan yang aku ucapkan saat aku akan memejamkan mata malam tadi. Namun, namanya juga harapan, apa yang terjadi benar-benar ngga sesuai dengannya.

Aku bangun sangat siang, makan pagi beberapa saat sebelum jam makan siang, tidur siang di jam tidur siang dan guling-guling di kasur seperti kucing cacingan. Huff! Kacau, hancur lebur agenda hari ini.

Entah! Sekali lagi, entah! Setiap aku pulang kampung pasti aku selalu ribut di detik-detik terakhir di kampung seperti ini. Hari ini aku kelabakan karena dalaman jilbabku tak mampu aku temukan di manapun. Dua! Dan keduanya itu pun hilang! Tak nampak batang hidungnya! (eh?? Sejak kapan mereka behidung?)

ish! Aku ingat sekali terakhir kali aku menaruhnya, yaitu di... Diii... Di mana ya? Namun, aku ingat sekali bahwa kemarin aku melihatnya di kamar. Entahlah untuk hari ini. Hadeeeh...

Selalu kacau saja di sehari sebelum berangkat ke depok. Dulu baju yang lupa dikecilin ke penjahit. Dulunya lagi tentang kupon acara skin yang kupa dijual yang membuat aku merepotkan ibuku untuk menemaniku berkeliling dan singgah ke rumah-rumah tetangga.

Dipikir-pikir, aku memang selalu merepotkannya. Sedikit hal yang kuperbuat untuk membantunya di setiap kepulanganku. Uhnn... Mama, maaf ya. Aku masih terlalu kekanak-kanakan dan malas. Aku masih saja ceroboh dan teledor seperti aku yang masih TK dulu. Malu sebenarnya, Ma...

Nasihatmu tiga jam lalu tak akan aku lupakan. Do'akan anakmu yang kurang pandai dan kurang pede ini agar bisa menaikkan kemampuan dan keimanannya di rantau orang ya, Ma...

Aku berangkat! Bye... Ma! :D

Friday, 9 September 2011

Belajar dari Kenalan (1)

Gue ingat pada seorang teman seangkatan gue.

Entahlah! Nggak seperti biasanya, gue terlalu biasa dan datar saat pertama kali bertemu dengan dia. Biasanya, gue akan selalu tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang orang yang baru gue temui. Namun, entah karena dia terlampau biasa atau dia memang terlalu luar biasa, gue nggak ngerti, gue sangat-sangat tidak tertarik utuk mengenal dia. Hal ini diakibatkan oleh banyaknya isu dan gosip yang mampir di telinga gue tentang dia.

Gue mendengar banyak sekali hal kurang positif mengenai dia. Dia yang gampang "lompat" dari batu loncatan yang satu hingga yang lainnya, tergantung pada secantik apa katak yang berada di atas batu tersebut. Dia yang katanya suka beropini tanpa aksi. Dia yang katanya terlalu mudah meringis dan mudah menekuk semangatnya saat dianugerahi tugas dan cobaan. Yeah! Kurang lebih seperti itulah tentang dia yang gue dengar dari teman-teman seangkatan gue yang lain.

Gue mulai penasaran terhadap dia sejak saat itu. Namun, terlalu malas untuk memulai perkenalan. Toh dia sendiri merupakan tipikal orang yang pemilih dalam mengajak berkenalan. Gue sadar diri, gue nggak mempunyai daya tarik fisik yang menarik perhatian orang-orang. Gue cuek dan nggak peduli.

Hingga suatu hari, keluhan tentang dia dari orang-orang pun berhasil membakar rasa penasaran gue. Suatu ketika, gue berhasil menyampaikan unek-unek orang mengenai dia, tepat di depan hidungnya, dengan blak-blakan, dengan berapi-api mungkin. Saat itu kami berempat, berdiskusi di meja persegi kantin. Mungkin seharusnya ada lima orang, tapi orang kelima itu sedang mencetak sebuah flyer acara besar kami. Teman cewek gue mengingatkan gue untuk tidak terlalu membeberkan keluhan orang tentang "dia" karena dikhawatirkan akan timbul perpecahan dan permasalahan baru, terlebih buat gue. Namun, gue tetap berceloteh. Gue berpikir kalau kejujuran adalah jalan keluar dari semua gosip, salah paham dan fitnah. Gue sangat nggak suka dengan yang namanya menggosip, mengobrol di belakang dan men-judge orang dengan seenak udel.

Gue berharap, dengan gue menyampaikan unek-unek orang tersebut, dia bakal mengerti dan mengintrospeksi dirinya sendiri. Gue nggak pernah bermaksud menjadi seorang pahlawan yang seolah-olah berhasil mengubah seorang anak nakal menjadi anak baik yang rajin menabung. Nggak! Gue cuma pengen tahu bagaimana sebenarnya dia menurut dia, dari sudut pandang dia. Bagaimana dia menyikapi apa yang dikatakan orang. Yeah! Mungkin gue yang terlalu memikirkan pendapat orang tentang gue ini bisa belajar dari metode menghadapi masalahnya. Namun, sepertinya dia OK OK saja, dia nggak terlalu berbuat banyak. Alhasil, dia tetap demikian hingga saat ini. Awalnya, dia sempat kaget sesaat setelah perkataanku, tapi ya tetap biasa saja. Dia lugu dan tulus, tapi memang ada satu sisi yang membuat kejengkelan gue mendarat di atas sisi itu. Dialah dia, memang itulah dia. Gue sama sekali nggak berhak memaksanya berubah menjadi orang dengan watak yang gue inginkan. Egois sekali! Gue tutup kuping tentang dia dan....

Malam itu, gue berhasil membuat dia mengingat nama gue: Anifatun. Dia nggak pernah memanggil gue dengan nama singkat gue: Ani. Ini progress yang cukup besar karena membuat seorang anak laki-laki mengingat nama gue adalah termasuk sebuah peristiwa besar bagi gue.

Suatu dini hari, dia mengajak gue chatting. Gue kaget, karena di mata gue dia itu mengidap penyakit "10% lelaki pemain". Gue udah curiga, kalau dia mempunyai maksud tertentu, astaghfirullohal'adziim... Meskipun gue udah bersusah payah untuk bepikir positif, gerak-gerik dan giringan arah percakapannya memang menjuruskan ke sebuah maksud. Dia memulai percakapan dengan banyaknya tugas UTS yang belum dia kerjakan karena terlalu sibuk memikirkan program dan penyusunan proposal kegiatan tertentu. Gue bilang bahwa kita nggak jauh beda, sebab gue juga belum seiap menghadapi UTS. Blablabla.... Tiba-tiba dia bertanya tentang sebuah nama anak cewek, seorang teman sengakatan kami juga. Cantik dan supel orangnya.

Gue bingung, meskipun hal ini udah gue tebak bakal terjadi sejak awal percakapan tadi. Gue pikir, dia berpikiran kalau gue tipe orang yang blak-blakan dan mudah dimintai keterangan atau info atau bocoran rahasia (mungkin?). Gue memang ingin selalu berkata mengenai kejujuran, kecuali mengenai diri gue sendiri, tapi gue bukanlah tipe orang yang suka membeberkan rahasia, informasi atau sejenisnya yang belum didahului penyelidikan, pernyataan atau kebenaran.

Dia bertanya kepada gue, "Apa yang gue tahu tentang C? Siapa cowok yang dia taksir? Dan kira-kira apa yang C pikirkan tentang dia?"

Gue dengan lantang menjawab, "Oh! Jadi tujuan lo ngajak gue chat? Gue nggak ngerti tentang C, gue bukan orang terdekatnya, dan yang gue tahu C adalah tipe orang yang fokus pada hal yang tidak macam-macam." Gue tidak menuliskan kalimat yang sama dalam chatting tersebut, tapi inti dari jawaban gue adalah seperti itu.

Lalu dia menjawab, "Ah! Sia-sia gue ngobrol panjang lebar!"

Pelajaran yang gue dapat dari mengenal orang ini adalah:
1. Jangan mudah menerima opini dan gosip yang beredar di khalayak umum, meskipun kabar tersebut seolah-olah sangat benar. Tidak ada sebuah kebenaran absolut selain atas kehendak-Nya dan Dialah yang Mahabenar. Gue harus observasi dan kritis menerima setiap informasi.
2. Jadilah seorang yang jujur, tetapi bukan blak-blakan. Kembali ke poin 1, berpikir dan bertindak kritis adalah kunci dari keberhasilan dan kebenaran. Tenang dan tidak gegabah dalam memcahkan sebuah permasalahan.
3. Jangan terlalu mudah menilai orang dari luarnya.
4. Jangan mudah terpancing perkataan orang. Harus fokus dan konsentrasi dalam melaksanakan setiap hal agar tidak terjebak dalam lubang di tengah jalan. Jika gue jatuh ke lubang itu, bisa saja nggak cuma gue yang rugi tapi orang lain, bahkan orang banyak.
5. Lebih berpikir humanis.
6. Jangan mudah emosi dan men-judge orang.
7. Belajarlah menerima orang apa adanya, bagaimana karakteristiknya. Ambil mana yang baik yang mampu diambil dan ingatkan dia manakala dia melakukan sesuatu yang sekiranya memang kurang pantas dihadirkan di depan umum.
8. Percaya pada diri gue, bahwa gue memang bisa dan punya kebisaan.
9. Sabar dan tabah meskipun gue nggak terlalu dikenal. Setelah tabah saatnya berpikir dan beraksi untuk meyakinkan orang lain bahwa gue ada dan gue punya kebisaan. Ini gue dengan bagaiamanya gue dan dengan apa yang gue punya.
10. Tetap semangat, Ani!!!!

Thursday, 8 September 2011

Nai (1)

Kisah ini tentang Nai. Nai bertemu Robert pada suatu senja larut. Dia memperhatikan Robert yang tampak cupu dengan rambut bergaya John Lennon dan kacamata minus berbingkai besi tak bercat. Kalau kau tahu kacamata milik Harry Potter, kacamata Robert sama sekali tidak mirip dengan kacamata Harry. Jika, kau mengenali dengan pasti kacamata Betty Lavea dan mengira kacamata Robert akan mirip dengan miliknya, maka kau juga salah besar. Pokoknya kacamata itu aneh, dan parahnya, kacamata itu yang membuat Nai tertarik mengamati Robert.

******

Nai sama sekali tidak mengenal Robert hingga suatu hari dia menginjak bulpoin bergambar Spongebob yang terjatuh di samping kaki Robert. Tindakan tidak sengaja Nai membuat bulpoin Spongebob itu tertawa keras khas Spongebob: “Aaahahaha’! Aaahahahha’!” Sontak seluruh mahasiswa di kelas itu pun tertawa terpingkal-pingkal, tak terkecuali Nai dan Pak Matthew, dosen yang sedang mengajar mata kuliah Anatomy saat itu.

Satu-satunya orang yang tidak tertawa hanyalah Robert. Jika kau mengira dia membisu dikarenakan malu, maka kau salah. Dia tidak pernah mengenal kata malu dalam kamus hidupnya. Lalu, jika kau mengira dia diam karena tertidur, maka kau juga sangat salah. Baginya, terlelap di tengah-tengah perkuliahan merupakan salah satu tindakan paling amoral di dunia. Lagipula, dia adalah pemenang lomba nonton tv paling lama tanpa tertidur selama 5 tahun berturut-turut di kotanya. Rekor terlamanya adalah 27 jam 23 menit 5 detik, jadi sangat tidak mudah baginya untuk tertidur di depan dosen saat jam perkuliahan. Lalu apa yang lakukan dalam diam itu? Oh tidak! Dia memang tidak melakukan apa-apa! Dia diam, menatap lurus ke layar dan sesekali mencatat istilah-istilah yang berada di slide.

Jlep! Perlahan gemuruh tawa mulai berhenti dengan sendirinya. Mereka salah tingkah karena melihat Robert yang tak bertingkah sedikit pun. Nai yang awalnya merasa bersalah dan mengira telah membuat malu Robert ke seantero kelas berubah ekspresi mukanya di depan Robert yang tanpa ekspresi. Diambilnya bulpoin Spongebob yang terjugkal parah di lantai dan diserahkannya kepada Robert yang bermuka datar sedatar tembok sambil berkata, “Maaf ya, kawan!”

Diam. Tidak ada respon dari Robert. Nai mulai bosan dengan orang itu. Situasi dan suasana ini semakin terlihat berlebihan saja. Bagaimana mungkin orang ini marah setengah mati hanya karena bulpoinnya terinjak? Akh!

“Maaf, tuan muda yang terhormat! Maaf karena aku telah menginjak bulpoinmu yang lucu ini,” kata Nai seraya menyerahkan bulpoin berwarna kuning cerah itu. Namun, Robert tetap tak menjawab. Dia menunduk tepekur dan khusyuk pada buku catatannya. Hal ini membuat Nai sangat kesal hingga membuatnya setengah berteriak, “Hei, tuan muda cupu berkacamata kuda! Aku sedang bicara padamu!”

‘Berhasil!’ pekik Nai dalam hati. Akhirnya, Robert mengalihkan pandangannya ke Nai. Kacamatanya tebal dan berbingkai besi tak berwarna, menyembunyikan sebuah kilatan mata tajam yang mampu membekukan nyali siapa pun yang menatapnya. Siapa pun atau hanya Nai?

“M... Mm-aaf!” hanya kata itu yang mampu Nai ucapkan.

“Sudah empat kali kau mengucapkan kata maaf. Apa kau hanya mengenal kata itu? Oh iya, sepertinya kau salah alamat,” jawab Robert tenang memandang lurus ke arah mata Nai. Penghuni kelas yang lain seolah-oleh terhipnotis oleh percakapan mereka, bahkan Pak Matthew berhenti memainkan mouse komputernya. Sebaris adegan telenovela seakan tengah berputar di layar yang tertancap tengah kelas. Nai salah tingkah untuk yang kesekian kalinya menerima terpaan aura teman-teman dan dosennya yang super berlebihan itu.

“Apa maksudmu dengan salah alamat, tuan?” tanya Nai seperempat emosi.
“Bolpoin itu bukan milikku, tapi milik gadis berbaju kuning di sebelahku yang saat ini sedang ke kamar mandi,” jawab Robert sambil menunjuk sebuah kursi kosong di sampingnya. Tiba-tiba terdengar suara kekehan tertahan dari seluruh penghuni kelas itu. Robert tak lagi memandang Nai. Perhatiannya telah beralih kepada sebuah buku tebal di hadapannya yang sedang ia bolak-balik. Deg! Angin topan superkencang seakan baru saja menerpa kepala Nai hingga membuatnya jatuh tertunduk keras dengan awan-awan hitam memayungi di atasnya.

“Siapa namamu?” tanya Nai dengan kepala yang masih tertunduk.

Krekk! Suara pintu kelas terbuka diikuti masuknya seorang gadis berambut coklat tua panjang dan berbaju kuning cerah. Dia menuju kursi di mana Robert dan Nai berada. Diliriknya sebuah benda kuning yang tergeletak di meja Robert dan tiba-tiba dia berteriak, “Aaaaa! Robert! Terima kasih telah mengambilkan bolpoin itu. Akhirnya kamu perhatian juga sama aku. Aaaa *^$#*^&$#!@%#$@&^%$#E#$………” kata gadis itu dengan cerewetnya kepada Robert.

“A… Arigatou, R..R-obert-san!” kata Nai membuat si gadis berbaju kuning berhenti mengoceh.
Robert terdiam dengan wajah yang masih menghadap ke buku. Tak ada yang tahu bahwa sebenarnya dia kaget karena Nai tiba-tiba berkata terima kasih. Dia menoleh kepada Nai, memandang matanya sejenak, lalu menyunggingkan kedua sudut bibirnya dengan sangat simetris. “Iie… Douitashimashitte, Nai-chan!”
“………”

(bersambung)

Depok, 30 Desember 2010

Thursday, 25 August 2011

Serial Aisyah Adinda edisi ke-3 (Malam Ramadhan)

SERIAL AISYAH ADINDA

Sayup-sayup, terdengar petikan lagu “Puisi Cahaya Bulan” dari handphone Dinda: Bagai letusan berapi bangunkanku dari mimpi...
“Din! Dinda! Bangun, Din! Itu alarm hp kamu udah meraung-raung dari tadi! Ishh… ini anak! Milih nada alarm kok yo kayak gini! Yo malah makin nyenyak to tidurnya! DINDA! BANGUN! SAHUR!!!” kata tante Odah setengah berteriak. Logat jawanya serta merta muncul bersamaan dengan nada suaranya yang meninggi.
Dinda tak bergeming. Nafasnya pelan beraturan khas orang tidur. Akhirnya, tante meluncurkan “jurus pemutus tidur” andalannya. Diraihnya telepon genggam dari saku baju gamis, lalu menekan-nekan tombol gulirnya. Tiba-tiba, terdengar bunyi sirine ala mobil pemadam kebakaran dengan suara supermaksimal di dalam kamar Dinda. Si Dinda yang kaget pun melonjak bangun dan berteriak, “BUKA! BUKA! Sudah waktunya BERBUKA! Nyam… sambal terong!”
Dinda berlarian tak tentu arah, meraih jilbab dan hendak keluar kamar ketika tante Odah sudah siap menghadang di depan pintu dengan mimik wajah serupa tokoh Mpok Odah di sitkom Office Boy. Hening. Lalu sebuah cubitan gemas dari tante Odah mendarat mulus di pipi Dinda. “Auuw! Sakit, Tante!” seru Dinda. Tante Odah  pun nyengir dan berkata, “Hanya ingin memastikan bahwa kamu sudah benar-benar bangun, Din. Ayo! Buruan rapikan jilbabnya! Yang lain udah nunggu buat sahur bukan buka! Haha.”
Dalam dua menit, mereka berdua sudah sampai di ruang makan. Om Radit dan si kembar Nizar-Nizam sudah berada di sana lebih dulu. Nizar, si kakak yang berumur 6 tahun, memulai percakapan di dini hari itu. “Hayoo! Kak Dinda, semalam salat tarawih ngga?”
Deg! Gelegar petir tiba-tiba terdengar keras di telinga Dinda. ‘Astaghfirullohal’adzim! Kelewatan! Abis shalat Isya’ aku langsung ngerjain aransemen musik pesanan Luna, terus ketiduran. Nanggung banget sih. Padahal tadi itu malam ke-21. Malam ganji!l Uh!’ batin Dinda, penuh penyesalan. Dengan sok tenang padahal salah tingkah, Dinda pun menjawab pertanyaan Nizar. “Uh! Anak kecil mau tau aja! Nizar sendiri gimana? Tarawihnya dapat berapa rakaat? Bolong-bolong ya?” ledek Dinda.
“Semalam, kami salatnya full tahu kak!” timpal Nizam, si adik yang lebih muda 3 menit dari Nizar. “Betul banget!” tambah Nizar.
“Oh ya? Pasti gara-gara semalam itu malam ganjil kan? Jadi, ibadahnya lebih semangat? Uh! Sayang banget ya, kakak malah ketiduran, soalnya siapa tahu semalam itu malam Lailatul Qadr,” jelas Dinda panjang lebar yang dibalas dengan pandangan tidak mengerti dari kedua sepupu kecilnya itu.
Seperti mampu membaca ekspresi bingung si kembar, Tante Odah pun angkat bicara. “Ehm-ehm! Begini ya, anak-anak! Semua hari di bulan Ramadhan itu sama spesialnya. Sepuluh hari pertama adalah hari yang penuh rahmat dan barokah, lalu 10 hari kedua disebut dengan maghfiroh atau pengampunan dan 10 hari terakhir disebut itsfunminannar yaitu malam pembebasan dari api neraka. Di 10 hari terakhir ini, di salah satu malam ganjilnya, ada malam di mana amalan yang kita lakukan di malam ini akan menjadi lebih baik dibandingkan amalan yang kita lakukan di setiap malam selama 1000 bulan. Namanya adalah Lailatul Qadr, malam yang lebih baik daripada malam 1000 bulan.”
Om Radit pun ikut bicara, “Nah! Fadlilah dari setiap hari itu akan kita peroleh jika seluruh ibadah kita dilakukan dengan maksimal, tanpa pandang malam ganjil atau genapkah saat ini. Iya kan, Din? Setiap malam memiliki kelebihan masing-masing, tentu saja jika kita melakukan ibadah termasuk salat tarawih dengan ikhlas lillah. Kelebihan tersebut adalah akan dibangunkannya istana dari cahaya yang berkilauan oleh Allah Swt., bagi orang-orang yang melaksanakan salat tarawih di malam ke-21. Untuk orang yang bersalat tarawih di malam ke-22 maka akan dijauhkanlah dia dari duka dan nestapa saat di hari kiamat. Lalu untuk yang salat di malam ke-23, Allah secara khusus akan membuatkan taman indah di syurga. Bahkan bagi orang yang shalat tarawih di malam ke-24, Allah akan mengabulkan 24 macam permintaannya. Subhanallah kan, Nak?”
Dinda, Nizar dan Nizam hanya terdiam dengan ekspresi berbeda. Nizar dan Nizam mendengarkan ayah dan bunda mereka dengan mata berbinar-binar. Begitu juga Dinda. Namun, Dinda menyembunyikannya binaran itu di balik air sehingga membuat matanya berkaca-kaca. Ia malu kepada Allah karena masih membedakan porsi ibadahnya pada malam ganjil dan genap di bulan Ramadhan.
“Kalau begitu, ayo kita mulai sahurnya!” kata tante Odah tiba-tiba diikuti gerakan siap siaga dengan sendok dan garpu di tangan kanan dan kiri.
Itadakimasu!” seru si kembar bersamaan, memraktekan hasil belajar pelajaran bahasa Jepang level 1 di sekolahnya. Kaget, tante Odah pun menegur mereka dan menyuruh mereka untuk melafadzkan do’a sebelum makan dengan benar. Dinda dan om Radit hanya tersenyum gemas. Ramadhan memang selalu spesial. Apa pun harinya, apa pun malamnya. 

Sunday, 21 August 2011

Ramadhan...

‘Allahu akbar… Allahu akbar…’ Sayup-sayup suara penyeru kebesaran Tuhan mulai terdengar, merdu bersautan, menuntun mataku melirik ke ufuk barat nan memerah merona. Beberapa orang membuat barikade teratur mengelilingi meja berukuran sedang yang tidak biasanya tampak manis menggiurkan dengan gelas-gelas berisi sejenis limun segar di atasnya. Tepat di samping meja, kudapati kolong “rumah kegiatan” kampusku yang tampak lebih putih dari biasanya. Subhanallah! Ternyata puluhan pejuang baru kampus ungu telah tiba. Kostum serba putih yang menyelimuti lantai 1 BKM seolah menandakan lembaran baru mereka yang siap mereka isi dan tulisi perjuangan yang melahirkan sejarah. Entahlah ikut menyambut atau apa, tanpa sadar selarik syair lagu Selamat Datang Pahlawan Muda meluncur ringan dari bibirku.
Hari itu bertepatan dengan pertengahan Ramadhan tahun ini, pun bertepatan dengan berakhirnya (untuk sementara waktu) salah satu kegiatan paling tak terlupakan oleh kebanyakan para mahasiswa FKM, OKK IM FKM UI. Dua kali tak kulewatkan kegiatan tersebut. Meski dengan status berbeda, umur berbeda, partner berbeda, tugas serta kewajiban berbeda tetapi tetap saja makhluk bernama OKK ini selalu menyisakan banyak kesan yang tak terlupakan. Kesan tak terlupakan, bukankah tidak selalu berbentuk sesuatu yang menyenangkan? Dan kurang lebih kesan yang kudapat bukanlah sesuatu yang menyenangkan apalagi menyakitkan. Alih-alih itu semua, kesan itu berupa pembelajaran yang mendewasakan dan mengingatkan kita untuk selalu ingat dan bersyukur kepada Allah.
Hampir seharian penuh selama dua hari tersebut, aku berkubang di ruangan ber-AC, meneliti coretan tangan dan kreasi pejuang termuda di kampus ungu saat ini. Lalu dalam hati aku berkata, “Alhamdulillah, terima kasih untuk udara dingin dan segar yang senantiasa bertiup mengusir kegerahan di Ramadhan siang ini. Alhamdulillah, terima kasih untuk kesempatan yang telah Engkau berikan sehingga saya dapat mengenal para pejuang ini melalui pola pikir mereka yang tertuang di atas helai-helai kertas ini. Alhamdulillah, terima kasih Yaa Rabb Yang Maha Bijaksana yang telah menempatkan saya di antara orang-orang hebat saat ini bahkan selama setahun ini di sini.”
Kupandangi sekeliling ruangan. Ruangan yang dulu pernah kuhuni selama 300 menit setiap minggunya untuk mengikuti perkuliahan MPKT. ‘Sedikit tampak lebih menyenangkan dibandingkan setengah tahun yang lalu,’ pikirku. Mungkin setengah tahun lalu pressure dan atmosfernya berbeda dengan saat ini sehingga ruangan ini terasa lebih nyaman. Beberapa orang mengantuk karena saking nyamannya. Salah! Mereka terlalu lelah setelah bekerja keras bersama dengan yang lain demi kesuksesan kegiatan ini dan terwujudnya tujuan kegiatan bagi para mahasiswa baru ini. Kalian benar-benar hebat! Dan aku yakin mereka yang tadi berbalut kostum putih itu juga mempunyai kehebatannya sendiri. Sungguh aku terkejut saat komitmen mereka benar-benar terpenuhi. Seratus persen datang lebih baik dari on time merupakan bukti yang tak terbantahkan: bahwa mereka punya keyakinan, bahwa mereka tak ragu berjuang, bahwa mereka datang ke kampus ini tak untuk main-main. Jujur, aku sempat merasa kalah dari mereka.
Saat Ramadhan, iman dan kesabaranmu benar-benar diuji, memanglah benar ungkapan itu. Aku bertemu seseorang, sesama pejuang 2010. Tak dekat, kurang kenal dan tanganku terbuka untuk menyambutnya. Menit berlalu, asyik. Beberapa menit kurang enak pun tiba-tiba hadir, saat si pejuang itu mengungkapkan kata IP. Dia sejajarkan diriku dengan orang-orang pintar yang mempunyai skala mendekati sempurna. Terusik, aku menyela, “Gara-gara IPU?” Yeah! Sudah kuduga, siapa yang tidak mengenalku gara-gara IPU? Pemilik NPM ditandai kuning karena nilai Kuis dan UTS-nya tak setimpal. Orang yang selalu memperoleh nilai sempurna di kuis hari Rabu. Siapa yang tak mengenalku? Siang ini semakin gerah. Kurasakan panas yang menjalar dari leher hingga pipi dan dahiku. Sontak emosiku menaik. Aku mulai menenggelamkan kepala ke dekapan tanganku sendiri. Aneh! Perilaku yang sangat aneh dipandang orang lain. Namun, aku tak peduli. Lebih baik aku mengingsut seperti itu, meracau tidak jelas dibandingkan berteriak atau berkata keras kepada orang lain. Seperti orang gila saja! Tanpa sadar aku mulai menggumamkan kata-kata dengan jelas, “Lupakan saya, ngga usah inget-inget saya. Saya ngga mau dikenal, ngga usah inget-inget Ani.”
Siapa wanita yang tidak salah tingkah saat orang di hadapannya tiba-tiba berperilaku aneh sepertiku? Seolah merasakan beban penderitaanku, si pejuang wanita 2010 yang tiba-tiba seperti telah kenal lama itu tiba-tiba berbicara, “Maaf ya, Ani, kalau perkataanku membuatmu sedih, membuatmu ingat hal tersebut.” Sebenarnya aku tidak terlalu mempermalahkan perkataannya yang sebelumnya. Aku hanya sedang sedikit mengutuki diriku sendiri saat itu. Aku yang selalu tidak mampu bertindak maksimal di saat yang seharusnya perlu tindakan supermaksimal. Pun aku yang selalu down dan memikirkan setiap hal dengan rumit seolah-olah dunia akan kiamat jika aku tidak memikirkannya dengan rumit dan teliti. Aku mulai menyadari bahwa diriku memang masih sangat belum bisa dikatakan dewasa saat itu. Seorang dewasa mungkin akan tenang menghadapi kondisi seperti itu, berpikir jernih dan menjawab segala halnya seperti seorang putri Indonesia. Ah… OKK memang mengesankan. Ramadhan ini memang penuh kejutan. FKM UI tampaknya masih asing bagiku. Ini memang aku yang terlalu suka mengasingkan diri pastinya. Namun, keikutsertaanku di perjuangan di tengah Ramadhan kali ini, toh membuatku semakin tidak asing dengannya dan dengan mereka.
Keberadaanku di kampus berakhir setelah shalat Maghrib berjama’ah. Asyik sekali shalat berjama’ah sebenarnya. Namun, kenapa aku lebih suka shalat sendiri? Aku merasa aku memang terlalu suka mengasingkan diri. Sungguh Yaa Rabb, saya tak ingin asing di hadapanmu, tak ingin mengasingkan diri darimu, atau membuat-Mu asing bagiku karena terlalu sibuk dengan urusan sendiri dan lupa bersyukur dan berkomunikasi dengan-Mu. Sungguh Yaa Rabb, saya hanya terlalu tidak menyukai di tengah banyak orang, meski saya tahu bertemu dan bersilaturahmi dengan banyak orang mempunyai banyak sekali manfaat yang salah satunya memperpanjang umur. Maaf Yaa Rabb, saya pun sedang berusaha mengatasi fobia orang ini. Saya suka bertemu orang, hanya saja saya takut tersakiti dan menyakiti orang lain.
Ramadhan tahun ini seharusnya sangat indah…
Dan memang sepertinya akan lebih indah jika aku lebih percaya pada diri, lebih menjauhi dendam, lebih melupakan dan meperbaiki keburukan serta lebih mendekat kepada Allah…




Wednesday, 3 August 2011

Banguuun...

Udah berapa abad ya, gue ngga corat-coret dengan tulisan sendiri dengan sepenuh hati di blog gue yang tergeje ini? Kangen juga... Kangen jadi orang geje! Wiuw, I love geje! #abaikan

Ini Ramadhan hari ke-3, ini Agustus tanggal 3, ini hari ke-3 di minggu pertama Agustus ini... Waaah... Agustus dan Ramadhan tahun ini sepertinya memang akan spesial karena mereka saling berimpit. Kalau menurut status teman SMA gue, tahun ini seolah mengulang moment kemerdekaan Indonesia 66 tahun silam. Kemerdekaan Indonesia yang berlangsung khidmat dan dengan persiapan kilat, 17 Agustus 1945 bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan 1368 H, juga di hari yang sama di mana malam sebelumnya Al-Qur'an diturunkan. Jadi, kenapa gue menuliskan ini, ya? Hadeeh... dengan ini maka dimulailah ketidakjelasan catatan gue kali ini. Oh iya... Gue berharap di tahun yang insya Allah spesial ini, tahun dengan impitan waktu yang cukup menakjubkan seperti duplikat peristiwa paling bersejarah bagi negeri ini, gue mampu menemukan keajaiban, kemerdekaan dan kebaikan bagi seluruh orang, juga gue.

Yeah...
Gue... Gue yang selalu berpikir nyaris selalu pesimis dan rumit ini, yang selalu berdalih berpikir realistis untuk menyamarkan kepesimisan gue ini, bertekad ingin menjadi manusia yang lebih mengenal diri dan bangga terhadap diri gue sendiri, tanpa harus menengadahkan kepala, tanpa meninggikan hati melampaui nyonya Eifel yang congkak (aamiin). Di samping itu, gue pengen bisa ngomong. Ya Tuhan... sembilan belas tahun lebih gue hidup, tapi cara ngomong, kualitas ngomong dan keberanian ngomong gue masih kayak anak SD aja. Gue malu pada semua orang dan diri gue sendiri setiap saat gue menjadi garing dan susah menggiring orang ke puncak, puncak omongan gue, intinya. Aiiishh... Gimana dong?

Ini liburan awal semester... Dan gue harap di ujung liburan ini, gue bakal menjadi Ani baru yang lebih bisa berpikir positif. Huff! Udah berapa karung yang udah gue pakai but menampung kata-kata ungkapan niat itu ya???? Mungkin lo juga bakal bosen kali ya saat baca niatan ajeg gue, yeah...meskipin itu kali pertama lo membacanya.

Liburan ini, gue stay di Depok. Kebumen, udah gue tinggalin sejak tanggal 22 Juli lalu. Gue ikut rangkaian OKK, kali ini bukan sebagai maba, tapi sebagai panitia. Sehari lalu, gue udah mulai putus asa dengan gue yang selalu ngga bisa berbuat maksimal. Gue hampir bisa dibilang bohong di siang bolong, di tengah puasa lagi. Gue ijin telat dateng Welcome Maba 2 dengan alasan mengerjakan tugas Danus dan Bakpao. Namun.....

tiba-tiba gue dikagetkan oleh kritikan superpedas dari Tehe tentang kinerja bidang Danus kepanitiaan Rajawali Perhimak UI. Gue panik dan langsung ingin bertindak, entah tindakan apa, yang penting gue pengen bertindak biar bisa dapet link, dapet dana, lalu mewujudkan itu acara. Yeah...gue sempat sedikit membicarakan ketidakseriusan PO dengan acara ini, tapi gue langsung menampar pikiran negatif itu. Gue itu tahu, kalau PO acara ini sangat serius untuk mewujudkan acara ini, acara yang merupakan impiannya dari zaman SMA dulu. Lalu gue mencoba tenang, gue tampar lagi iklan-iklan pikiran supernegatif yang siap menggoda gue untuk lebih bersu'udzan. Namun...


Semua itu udah agak terlambat. Gue udah izin ke Irma, PJ gue di OKK, bahwa gue ngga bisa dateng WM 2 karena harus ngurusin danus kegiatan Perhimak. Nah, gue itu emang selalu telat nyadar. Kesadaran yang begitu lola itu telah memibikin gue makan acak-acakan kemarin Selasa. Rencana ngurusin danus dan ngobrol masalah danus dengan Hari ngga lancar. Gagal. Udah gitu, saat gue berpikir mau dateng ke WM 2, rasa maulu, gengsi dan males gue bener-bener telah memukul mundur niat gue untuk dateng. Akhirnya gue cuma menggeliat-geliat kayak cacing kelaparan di kamar Iam... Gue... gue merasa sangat merugi dan berdosa kemarin. Parahnya, hal parah lain pun seperti mengikuti keparahan itu hingga malam datang. Gue ngga shalat tarawih berjamaah di masjid. Astaghfirulloh... Nakal sekali saya ini, yaa Rabb. Maaf... :(

Huah!!
Sekarang gue ngga mau melakukan hal-hal galau lagi!!! Gue harus meluruskan dan mewujudkan niat! Gue harus komit dan konsist pada tujuan gue untuk bisa membuat gue bener-bener seorang gue yang sukses.

Kemarin, gue cari info lomba menulis cerpen. Gue baca-baca beberapa lomba beserta ketentuan dan syaratnya. Lalu di salah satu lomba gue dapati temanya adalah kemerdekaan. "Kemerdekaan... Kemerdekaan."
Kata-kata itu seolah-olah bergaung-gaung di kepala gue. Gue juga pengen merdeka! Gue pengen bangun dari kemalasan gue!!! Gue pengen bisa mewujudkan keajaiban, kemerdekaan dan kebaikan, di tahun di mana Hari Kemerdekaan terulang kembali, tanggal 17 Agustus 2011.

Gue  bertekad untuk mengituti itu lomba, walaupun gue ngga yakin gue bakal bisa menyelesaikan cerpen itu, mengingat deadline penyerahan naskah cerpen adal 5 Agustus 2011. Gue ngga berharap gue menang atau sejenisnya. Gue hanya berharap gue bisa banngun lalu mengejar lagi cita-cita, ambisi atau yeah.... mimpi yang udah dari dulu gue susun saat gue belum "bangun betul" itu.

Bismillahirrahmanirrahiim... Ridhoi saya, yaa Allah... :D

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...