Thursday, 13 November 2014

Senja Bersama, Merkurius dan Venus (2a)

*Saya mengadaptasi judul cerita ini dari judul cerpen seorang adik angkatan, tentu saja dengan isi cerita yang berbeda.*
*Alur cerita lambat dan mudah ditebak. Jika tidak suka, jangan coba-coba membacanya.*
*Ber-genre drama keluarga. Bukan penyuka cerita drama tidak dianjurkan untuk membacanya.*
*Ini bagian ke-2. Bagian ke-1 dapat dibaca di sini*

Selamat membaca! :D
________________________________________________________________________________________________

Kepingan 2a: Takdir yang Tertukar

Deng. Deng. Deng.

Itu suara jam kayu yang kesepian, berdiri seorang diri di ruang baca. Ia menabuh lonceng, yang menggantung malas di badannya, sebanyak tiga kali. Oh. Sudah pukul tiga sore rupanya. Artinya, sudah satu jam lamanya aku duduk bermalasan di atas kursi lesehan berlengan sambil menonton televisi. Satu menit lagi. Oh tidak. Tiga menit lagi. Aku yakin tiga menit lagi, FTV dengan cerita picisan tentang seorang casanova yang jatuh cinta pada asisten rumah tangganya ini akan segera berakhir. Merasa tertantang oleh diri sendiri, aku mencari-cari pengukur waktu untuk membuktikan dugaanku. Aku menemukan selulerku, kemudian menyalakan aplikasi stopwatch yang ada di dalamnya.

Klik. Menit kosong kosong. Sang casanova kini sedang mengendarai motor besar berwarna merah dengan kecepatan tinggi. Wajahnya hampir seluruhnya tertutup oleh helm full face yang dikenakanya. Hanya matanya yang tampak, menajamkan fokus, tetapi juga mengisyaratkan kegelisahan. Ia sedang terlibat dalam aksi pengejaran, mengejar si asisten rumah tangga yang sudah lebih dulu bertolak dari rumahnya, menuju terminal bus ibukota. Pria ini, dikisahkan baru saja lolos dari pergolakan batinnya sendiri. Akhirnya, ia sadar bahwa ia memang menyayangi si asisten, jatuh cinta tepatnya. Jatuh cinta pada kemampuannya dalam meracik jamu tradisional. Namun, ternyata ia terlambat. Sang asisten rumah tangga terlanjur mengundurkan diri karena berbagai uji, salah satunya patah hati karena sang majikan menuduhnya mencuri. Tertebak sekali.

Menit kosong tiga puluh tiga. Sang majikan casanova berlarian di terminal, mencari sosok asisten yang membuatnya gila hingga mengejarnya ke terminal yang tak ia kenal. Ia tampak berlari dari satu sudut ke sudut lain. Butir-butir keringat bermunculan di keningnya, mengalir hingga ke pipi menyerupai air mata yang memilukan. Ketika ia hampir menyerah dan memutuskan untuk menyeret badannya kembali menuju motor besar, yang entah mengapa diperbolehkan terparkir bebas bukan di tempar parkir seharusnya, si gadis asisten rumah tangga itu muncul dari balik dinding.

Menit satu kosong satu. Mereka bertatapan. Kamera di-setting berputar, mengitari mereka, persis seperti adegan di film india. Tampak, mereka yang tengah berdiri berhadapan terpisah jarak hanya sekitar dua setengah meter. Background  musik ala pop melayu mengalun meliuk, mengiringi prosesi saling pandang mereka yang memakan waktu lebih lama daripada lama pencarian terhadap si asisten rumah tangga tersebut.

Menit dua kosong tujuh. Cklik!

Aku bosan. Aku matikan televisi, yang tengah menampakkan dua orang tengah berdialog panjang, saling mengutarakan penjelasan dan mematahkannya sendiri, itu. Aku menghabiskan satu jam yang berharga untuk menonton kisah cinta klise para anak muda yang alur dan akhirnya sangat mudah ditebak. Aku sendiri pun bertanya-tanya, mengapa aku tetap bertahan mengikuti jalan ceritanya, padahal aku sudah tahu akhir dari kisah cinta pasaran mereka berdua. Mungkin, aku terlalu baik. Seharusnya stasiun televisi swasta itu membayarku atau memberiku bingkisan menarik atas jasaku, setia menonton hasil kerja mereka yang setengah payah, setiap hari.

Drrrrt. "Permisi! Paket! Paket!"

Eh? Apakah mereka betul-betul mengirimkan bingkisan menarik sebagai hadiah untuk para pemirsa baik hati sepertiku? Plak. Aku tampar mukaku dengan halus, berniat menyadarkanku dari kantuk yang mulai membuatku berhalusinasi, hingga tak mampu membedakan dunia drama dan nyata.

"Ya, Mas. Tunggu sebentar," teriakku dari dalam ruang keluarga, tempat yang sama dengan tempatku menonton televisi. Sayup kudengar jawaban "oke" dari teras depan.

Aku berjalan ke arah pintu dengan cepat. Kemudian bergegas membukanya dan tampaklah seorang kurir dengan seragam dan topi bercorak oranye cerah, membawa sebuah kardus kecil di tangannya. Mataku tertuju pada sebuah bentuk familiar yang ada di muka topinya. Eh? Bukankah itu logo sebuah toko online yang sangat rajin beriklan di televisi, youtube, bahkan halte bus sekolah Keke dan Dede? Heee? Siapa yang berbelanja online?

"Ibu, ini paketnya silahkan diterima," kata mas kurir sambil menyodorkan kardus berbentuk kubus, berukuran sekitar 15 cm.

Aku menerimanya dengan ragu. Namun, ini aneh karena si mas kurir tidak langsung pergi. Ia merogoh tas pinggangnya mencari-cari benda yang sepertinya penting. Bonkah? Aku curiga, jangan-jangan paket atau pesanan ini belum dibayar. Ah, orang itu memang keterlaluan. Mentang-mentang aku memotong uang jajan bulan ini, ia ingin membalasku dengan menyuruhku membayar barang belanjaannya yang tidak jelas ini. Betul juga. Ia tidak pernah bilang ia akan membeli suatu barang. Ya ampun. Awas saja, kalau nanti ia pulang.

"Mmm... Maaf, mas..." panggilku. Si mas kurir mendongak ke arahku, kebingungan, karena aku menyodorkan kembali paket, yang baru saja kuterima, kepadanya.

"Kenapa, Bu? Salah alamat, ya?" tanyanya tampak resah. Kepalanya celingak-celinguk untuk memastikan, sepertinya mencari plat alamat, RT/RW, atau nomor rumah, yang mungkin terpaku di salah satu dinding rumahku.

"Hmmm.... Jadi..." jawabku terpotong oleh ia yang tiba-tiba menyambar berbicara dengan cepat.

"Jadi, ini bukan rumah ibu Rindah K. Ihsani? Ini jalan Kenanga Nomor 9A, KAN? RT 2, KAN? RW 3, KAN?" tanyanya membabi buta dengan disertai penekanan pada setiap pengucapan kata 'kan'.

"Hoo... Betul, betul, BETUL," sanggahku tak ingin kalah dengan sedikit menaikkan volume suara. 'Cuma, saya nggak pesan apa-apa di toko online mas, loh. Suami saya juga nggak bilang lagi nunggu paket sesuatu. Jangan-jangan, masnya oknum, ya? Mau menipu dengan modus cash on delivery pesanan toko online? Saya bisa laporin mas ke polisi loh!' dalam hati aku ingin mengatakan hal itu.

Namun, entah mengapa kata-kata yang keluar hanya, "Pesanan ini udah dibayar, mas?" dan ditambah dengan bonus senyuman setengah paksa yang pasti sangat aneh dilihat.

Si mas kurir pun tertawa, lalu menjawab, "Yaelah, si Ibu. Cemas amat. Kirain aye salah alamat. Udah kok, udah dibayar. Toko kami sekarang tidak melayani pembayaran di tempat alias semua transaksi dilakukan melalui transfer. Tenang aja deh, Bu. Ini, ibu tinggal tanda tangan di sini dan aye akan segera pergi."

Melongo. Aku masih mencerna keadaan. Pelan-pelan kutorehkan tanda tangan di atas kertas kuning yang disodorkannya.  Lagi-lagi aku berpikir yang tidak baik, tentang si kurir, tentang si toko online, juga tentangnya, suamiku sendiri. Ya Tuhan. Aku hanya berharap Tuhan memaafkan segala pikiran burukku beberapa saat lalu. Inilah aku, ibu rumah tangga dengan pemikiran setara pemikiran bocah ABG labil. Parahnya lagi, si ABG labil ini terperangkap dalam tubuh dan wajah orang dewasa, berusia tiga puluh satu tahun, dengan dua anak.

Eh? Parah? Ralat. Bukan parah, ini anugerah.

Sebentar, aku potong dulu kisah tentangku. Aku ingin mengantarkan si mas kurir sampai pagar sebagai pengganti rasa bersalahku, menuduhnya melakukan hal yang tidak-tidak.

"Yap! Ini pulpennya, mas. Terima kasih, ya," ucapku sopan kepada si mas kurir.

"Oke, Bu. Lain kali, santai aje ye, Bu, kalau dapet kiriman paket, apalagi dari aye. Sayang loh, gara-gara kebanyakkan mikir, ibu nggak menyadari kegantengan muka aye." balasnya, panjang lebar, dengan logat betawi yang kental.

Aku kembali tersenyum setengah terpaksa. Si mas kurir melangkah pergi, keluar dari pagar. Sendirian, karena aku membatalkan niatku untuk mengantarnya hingga ke pagar, setelah mendengar guyonan tidak lucu darinya. Entah mengapa, timbul sedikit rasa sebal akibat perkataannya. Bukan karena ia mengucapkan kata-kata sedikit tidak sopan, melainkan karena ia menerkaku, menyebutku sebagai orang yang terlalu banyak berpikir.

Namun, jika dipikir-pikir, ia tidak salah. Ia mengatakan fakta. Aku memang memiliki kebiasaan berpikir kejauhan. Payahnya, wajahku tidak pandai berekspresi dan aku pun tidak mampu bersembunyi di balik ekspresi palsu ketika aku sedang berpikir. Akuarium. Teman-teman lamaku memanggilku akuarium karena kebiasaanku ini. Orang lewat pun dapat mengetahuiku sedang berpikir bahkan menebak isi pikiranku dengan hanya melihat ekspresi wajahku.

Setelah memastikan si mas kurir telah betul-betul pergi, aku menutup pintu depan dan melangkah ke dalam rumah, membawa serta paket tersebut. Aku memilih kembali mendudukan diri di ruang keluarga. Keke dan Dede tengar tidur siang dengan beralaskan kasur lantai, di sampingku.

Kulirik selulerku, ternyata baru jam tiga lewat tujuh. Mereka baru tidur selama lima puluh menit. Aku bisa membuat mereka terbangun, jika aku membuka paket ini di sini.

Akhirnya, aku meninggalkan mereka yang masih tidur dengan lelapnya, meski terkadang tanpa sadar aksi saling tendang terjadi di antara keduanya. Langkahku berhenti di sebuah ruangan berukuran 4x4 meter, berbingkai rak-rak buku di tiga sisi, yang baru setengahnya terisi. Di tengahnya, ada dua meja: satu meja besar yang lebar dan satu meja kecil nan pendek. Di kedua sisi masing-masing meja, tersembunyi sepasang dudukan kursi berlengan.

Ini adalah ruang baca kami. Tempat favoritku ketika sedang ingin berkarya, tempat belajar paling disukai anak-anak, juga tempat yang paling sering dikunjungi olehnya setiap harinya. Jika kata orang rumah adalah sebuah istana, maka ruangan ini adalah istana dalam istana itu sendiri, baginya.

Ruang baca. Ini tempat yang cocok dan nyaman untuk melakukan aksi penggeledahan terhadap paket ini. Namun, sepertinya aku tidak perlu menggeledahnya karena paket ini memang dialamatkan untukku. Ada nama lengkapku, bahkan nama belakang suamiku dalam catatan penerimanya.

Kutarik penyangga salah satu kursi besar dan segera kududuki tanpa pelan-pelan. Tiba-tiba aku menjadi tidak sabar, terlalu ingin tahu benda apa, yang kemungkinan besar pengirimnya adalah ia. Aku melepas bungkus paket itu dengan sangat hati-hati, tidak ingin membuatnya terkoyak dan tampak tidak rapi. Jika bungkus paket ini berantakan dan rusak, aku tidak dapat membungkusnya lagi. Hanya berjaga-jaga.

Jantungku tetiba berdebar, ketika aku mulai menarik selotip yang menyatukan kedua penutup mulut kardus. Apakah ini sesuatu yang sangat indah atau mahal? Mengapa kardusnya terlihat lucu? Apakah toko online itu juga menjual berlian? Apakah hari ini ulang tahunku? Ulang tahun pernikahan? Satu per satu pertanyaan kekanak-kanakan muncul dalam pikiranku.

Kejutan. Ini adalah kejutan. Sekarang aku yakin, paket ini pasti darinya. Ia tahu bahwa aku sangat menyukai kejutan dan apa ini? Sebuah benda berbentuk balok terhidang di dalam kardus. Aku memungutnya, memperhatikan detail di setiap sisinya, dan aku pun terlonjak.

Ini seperti pernah terjadi. Ia pernah memberiku benda ini, dulu. Dulu sekali. Tidak betul-betul memberikan benda itu untukku sebetulnya. Di lihat dari sisi mana pun, benda ini sangat mirip dengan yang dulu. Merk, desain, motif, bahkan warnanya.

Apa maksud ia memberiku ini?

Apakah ia ingin aku mengingat sesuatu? Ia betul-betul lucu. Aku tidak perlu mengingat apa pun karena aku tidak akan pernah melupakan apa pun. Tidak, kecuali aku mengalaminya tidak dengan bersamanya.

*****
Akhir Desember, 1998. 
Ini adalah malam Minggu yang paling membahagiakan bagiku karena lusa adalah tahun baru. Libur dua hari berturut-turut seperti ini adalah hal langka yang diidam-idamkan oleh banyak orang, tak terkecuali aku. Terlebih, karena aku tidak perlu berjumpa dengan Senin yang menjengkelkan di mana ada pelajaran olah raga di hari itu.

Aku sudah menyusun segunung rencana yang akan kulakukan untuk menghabiskan libur dua hari ini dan tentu saja tidak sabar menanti datangnya esok pagi. Mataku sampai-sampai tak mau terpejam. Keduanya menerawang ke langit-langit kamar, samar-samar membayangkan apa saja yang akan aku lakukan besok. Siluet abu-abu dan putih tergambar jelas dalam bayanganku, menari-nari di atas hamparan pasir yang tersapu ombak kemilau. Aku sangat merindukan pantai.

Aku sendirian di rumah. Dua hari ini ayah, bunda, Rindy, dan Namira akan menginap di rumah tante Sherry, yang baru saja melahirkan anak laki-laki keempatnya. Mereka tidak curiga kepadaku, ketika aku menolak untuk ikut dengan alasan lutut kiriku, yang dioperasi tahun lalu, terasa lebih lelah dari biasanya. Tentu saja aku mengarangnya karena sebetulnya, selepas operasi itu, kakiku sama sekali tidak pernah bermasalah. Aku terpaksa berbohong kepada mereka karena hanya itulah satu-satunya cara agar aku dapat bermain dengan tenang.

"Riiindaaah! Hey, apa kau di rumah?"

Siapa? Sepertinya aku tidak mengundang siapa pun untuk datang ke acara selamatan. Tunggu, sepertinya selamatan itu diadakan di rumah Tante Sherry, bukan di sini. Lagipula, mengapa ia berteriak-teriak memanggil namaku seperti itu? Aneh. Aku seperti mengenali suaranya, jika saja tanpa serak.

"Hey! Rindah! Aku tahu kau di rumah. Tadi sore aku melihat semua anggota keluargamu pergi dengan carry coklat ayahmu. Mereka pasti akan pergi ke rumah Tante Sherry, paling tidak untuk tiga hari. Dan aku yakin pasti kau telah berbohong kepada mereka dengan berkata lututmu bermasalah agar kau diperbolehkan untuk tidak ikut, bukan?" teriak suara yang berasal dari halaman samping itu.

'Sial! Itu pasti Dewa!' batinku. Bagaimana mungkin aku tidak mengenali suaranya. Ada apa dengan suaranya? Aku harus segera membungkamnya sebelum mbak Uci menyadari makna teriakannnya dan melaporkannya kepada ayah.

"Hey, Rindah!" teriaknya lagi. "Lama sekali, apa kau tak takut kalau mbak Uci..."

Ckrkk. Suara pintu samping yang kubuka berhasil membuatnya diam. Aku memberinya pandangan kesal, meskipun dalam hati aku sebetulnya tengah terheran-heran karena ia selalu dapat menebak apa kupikirkan.

"Apa kau tidak bisa sedetik saja membuat mulutmu diam, Wa? Sepertinya lain kali aku harus menyumpalmu dengan kaus kaki Namira. Dan kau tahu Dewa apa akibatnya, jika mbak Uci tahu dan melaporkannya kepada Ayah. Aku tidak main-main dengan perkataanku saat itu. Mengerti???" jawabku sewot. 

Aku sangat sebal dengan sifat kekanak-kanakannya. Tahun ini, ia berumur 14 tahun, tapi tingkahnya masih sama seperti 5 tahun yang lalu, ketika kami pertama berkenalan. Kuduga, tingkah kekanak-kanakkan inilah yang membuatnya tak pernah sekali pun disukai seorang gadis di sekolah, meskipun ia sangat pintar. Ini membuatnya tampak memperihatinkan. Ah, aku melantur.

Dewa tak begitu mendengarkan perkataanku. Sesekali ia menguap lebar dan menggaruk-garuk kaki kirinya, yang kutebak tidak gatal sama sekali, dengan kakinya yang lain. Ia memang selalu seperti itu, menyebalkan. "Ya, Nyonya? Sudah selesai pidatonya, ibu negara?" lagi-lagi ia mengucapkannya. Ia memang selalu menjawabku dengan kata-kata itu. Dan aku hanya menjawabnya dengan mengangkat bahu atau memutar bola mataku. 

Aku akhirnya mempersilahkan ia masuk. Lebih tepatnya, ia sendiri yang memperilahkan diri masuk, dengan mendorongku ke samping pintu sehingga ia dapat melompat masuk dengan gerakan yang tidak terlihat lucu sama sekali.

"Hey, dengar! Kau sudah besar, bocah! Perhatikan perubahan suaramu. Kau tidak pantas bersikap seperti bocah lagi. Mengerti?" Entah mengapa tiba-tiba aku mewujudkan kekesalanku menjadi kenyataan.

Dia terbelalak dan berhenti melompat-lompat. 

Satu, dua, tiga detik, dan ia pun tertawa terbahak-bahak, "Buahahaha... Tentu saja aku bukan bocah lagi. Menurutmu siapa yang lebih bocah di sini? Aku atau kau, bocah?" jawabnya sambil tertawa mengejek. Sombongnya kambuh, ia mulai membanggakan suaranya yang kini memang terdengar lebih berat dibandingkan dua bulan lalu.

Aku dapat merasakan panasnya amarah merayapi pipiku. Memang untuk beberapa hal, aku lebih kekanak-kanakkan daripada dia. Namun, ini bukan berarti bahwa ia lebih dewasa dariku. "Tentu saja kau yang lebih bocah karena aku satu tahun lebih tua darimu, bocah!'

"Sepuluh bulan, dua puluh lima hari tepatnya! Itu belum genap satu tahun, Ndah!" jawabnya meralat kalkulasiku.

"Ya! Tapi sudah beda tahun lahir. Itu sama saja," tentu saja aku tak mau mengalah.

"Jelas berbeda, Rindah. Lagipula, bukankah kita berada di tingkat yang sama? Wah! Apa ini artinya? Jika bukan karena aku yang terlalu pintar, pasti karena kau begitu bodoh. Apa kau pernah me-ngu-lang kelasmu selama satu tahun, Ndah? Hahahaha..."

"STOP, Dewa! Kau mulai mengusik topik ini lagi. Aku tidak suka, INGAT?!! Bertingkahlah sesuai umurmu, Dewa!" akhirnya emosiku meledak. Sekarang aku yakin, aku dapat membuatnya merasa bersalah karena sekarang ia terlihat menundukkan kepalanya. Mungkin saja sekarang matanya berkaca-kaca atau malah mungkin sudah mulai basah? Ia memang jail, tapi juga sangat sensitif dan sangat benci dibentak. 

Tiba-tiba, seperti muncul suatu energi dari dalam diriku yang menonjok perasaanku. Apa aku sudah keterlaluan padanya?

Aku mendekatinya, merendahkan tubuhku agar dapat sedikit mengintip wajahnya dan tiba-tiba, ia berteriak dengan sangat keras "BRAAH!!! Ya, nyonya? Ada yang bisa saya bantu?" 

Ia melompat ke depan, ke arahku yang tengah memperhatikannya dengan cemas, membuatku terkaget dan terjengkang ke belakang. Tentu saja ia hanya tertawa terguling-guling di sofa menyaksikan posisi dan ekspresi wajahku yang tengah memancarkan aura marah, cemas sekaligus terkejut. 'Aku menyesal mengkhawatirkanmu, Wa!'

"Ya! Ada! Tinggalkan aku sendiri, kecuali kau ada urusan penting denganku atau memberiku SESUATU MENARIK yang baru!" jawabku akhirnya, begitu acak. 

Namun, sepertinya, ini berhasil membungkamnya. Kulihat ekspresi wajahnya berubah. Ia sudah berhenti tertawa dan mengalihkan segala fokus perhatiannya pada tangannya yang tengah mengorek-orek satu per satu saku-saku celana longgarnya.

"Aha! Aku punya ini, Ndah!" sebuah benda tiga dimensi, berbentuk persegi panjang, tetiba muncul di depan mataku. Aku tak cepat mengenali benda itu. Terlebih karena benda ini terpoles warna silver jernih, memantulkan cahaya yang masuk melalui ventilasi pintu kamar Rindy yang setengah terbuka. Silau dan aku membutuhkan setidaknya lima detik untuk mengenalinya dengan baik.

"HARMONIKA!?" teriakku seketika. Kurebut benda itu. Kuputar-putar sembari mengamati setiap detailnya. Aku selalu tertarik dengan setiap alat musik yang dibawanya, begitu pula dengan harmonika ini. Ini pertama kalinya aku melihat dan menyentuh harmonika dengan indra perabaanku sendiri. Ia tampak begitu kaku, mengkilat dan misterius.

"Kau suka? Rindah?" tanya Dewa memotong aktivitasku yang tengah terbengong-bengong mengamati sebuah benda mungil di genggamanku.

"Lumayan," jawabku singkat dan datar. Tentu saja aku sangat menyukainya. Aku sangat menyukai setiap benda-benda yang bersuara, bahkan jika benda itu hanyalah atap teras belakang, yang bersuara ketika diterpa reruntuhan hujan. Atau sekadar suara teko teh Bunda, yang bersiul dengan nada tinggi di setiap pagi. Aku sangat menyukai mereka, meskipun Ayah sangat tidak suka ketika aku bilang aku menyukai musik.

Aku mengalihkan pandanganku dari harmonika itu kepada Dewa. Aku ingin sekali mengatakan terima kasih. Namun, aku tidak ingin membuatnya besar kepala dan mungkin... aku terlalu gengsi untuk mengapresiasi seseorang yang lebih muda dariku. Apalagi jika orang itu adalah Dewa.

"Sama-sama," kata Dewa tiba-tiba.

"Apa? Aku tidak mengatakan apa-apa," protesku.

"Yeah, tapi matamu mengatakan segalanya, Ndah!" jawabnya dengan cekikikan.

"Oke, baiklah. Terima kasih, Dewa!!!" ucapku datar, akhirnya, masih tanpa memandangnya. Seluruh perhatianku seolah hanya dapat tercurah untuk benda di tanganku ini.

"Oke, tak usah memaksakan. Ayo mulai rekaman!" katanya sambil mengeluarkan alat perekam.

"Ehh? Jadi, lagi-lagi ini bukan untukku?" jawabku, pura-pura kaget.

Entah mengapa, kali ini, justru Dewa yang sepertinya menampakkan keterkejutan. Alisnya mengendur, air mukanya menampakkan kesalahtingkahan. "Apa kau sangat mengingkannya, Ndah? Maaf. Aku tak bisa memberikanmu yang ini juga. Aku hanya, yeah... kau tahu, kan? Menerima apa yang diberikan oleh Papa... dan tentu saja meminta tolong padamu untuk memainkannya... dan aku akan merekamnya... dan menunjukkannya ke Papa ketika ia pulang... dan... "

"Hahaha, iya, boy! Aku hanya bercanda, tentu saja! Aku juga tidak mungkin menyimpannya untukku, di rumah ini. Jika Ayah menemukannya, ini bisa berbahaya. Kena kau, Dewa!" kataku. Geli sekali melihatnya bertingkah salah tingkah dan lucu seperti itu.

Semenjak kepindahan keluargaku ke kota belimbing ini, lima tahun lalu, aku telah berteman akrab dengan Dewa. Dari sinilah aku mengenal dan menyukai musik. Dewa sangat pandai dan tahu banyak tentang musik, tapi tidak untuk memainkannya. Ia pandai sekali mengulang apa yang diajarkan ayahnya, tapi tidak mampu mengaplikasikannya. 

"Terkadang aku penasaran, mengapa takdir kita seperti tertukar," katanya tiba-tiba.

Aku diam, tidak memiliki jawaban yang cukup baik untuk kuberikan padanya karena diam-diam aku pun sebetulnya sering menanyakan hal yang sama.

"Hey, ayolah! Kita sudah terlalu sering membicarakannya. Aku bosan. Sekarang, aku sudah tidak sabar untuk mencoba harmonika ini. Ini alat musik tiup pertama yang kau perlihatkan kepadaku, Dewa. Ayo kita ke tempat itu!" jawabku sembari menariknya ke sebuah tempat.

Ia hanya diam dan menurut. Aku tahu ia tengah memikirkan hal itu. Ia pasti akan bersedih setelah ini dan aku tidak suka melihatnya bersedih.

"Dewa. Kau mau ikut ke pantai denganku?" ajakku, spontan.

"Kapan?" tanyanya.

"Besok pagi. Kita langsung berangkat setelah subuh. Tidak boleh telat, karena ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang," jelasku.

"Oh begitu," jawabnya datar. Aku menoleh padanya, berharap memperoleh tambahan jawaban. "Baiklah, saya akan ikut, jika Nyonya memang memaksa," imbuhnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak ada yang memaksamu untuk ikut, bocah!" timpalku ketus. Namun, sebetulnya aku lega. Ternyata, ia baik-baik saja.


*****
Lima belas tahun yang lalu, di tanggal yang sama, ia, suamiku, Dewa, memperlihatkan harmonika yang sama rupa dengan harmonika di hadapanku saat ini. Ternyata, paket dari toko online itu berisi harmonika ini. Kejutan darinya ini membuatku teringat pada hari itu. Kata-katanya di hari itu, kembali terngiang.

"Terkadang aku penasaran, mengapa takdir kita seperti tertukar."

Jika diingat-ingat, waktu itu ia memang tengah mengalami masa yang berat. Masih 14 tahun umurnya saat itu, tetapi ayahnya mulai menggantungkan harapan padanya. Ia, memiliki seorang ayah yang berprofesi sebagai seorang konduktor dan pemain musik, dengan spesialisasi piano. Beliau juga mengajar musik di sebuah universitas swasta di Jawa Barat, kalau aku tidak salah ingat. Selain itu, beliau adalah pendiri Four Seasons Orchestra. Sebuah orkestra yang secara rutin mengadakan pertunjukan di setiap tengah musim, di empat negara berbeda. 

Ayahnya, menginginkan atau lebih tepatnya menganggapnya memiliki bakat yang sama dengannya. Namun, ternyata bakat itu tidak diwariskan secara genetik kepada Dewa kecil. Ia sama sekali tidak mampu memainkan alat musik apa pun, bahkan terbilang sangat payah untuk sekadar membunyikan solmisasi dengan benar. 

Inilah yang membuatnya memintaku untuk memainkan alat-alat musik, yang diberikan oleh ayahnya sejak ia berumur 11 tahun. Alhasil, ia terbiasa "menggunakanku" untuk memainkan alat-alat musiknya itu. Awalnya, ia mengajariku bagaimana cara memainkan alat-alat musik tersebut, menuntunku hingga mampu memainkannya dengan mahir. Selanjutnya, ia akan merekam permainanku dan memperdengarkan hasil rekaman itu kepada ayahnya. 

Kami berdua sama-sama pembohong cerdik yang menikmati setiap kebohongan yang kami lakukan. Kami tahu, ini adalah dosa. Namun, kami juga masih belum bisa menerima takdir kami. Aku dengan larangan ayahku dan ia dengan tuntutan dari ayahnya. Kebohongan besar ini, justru membuatku begitu bahagia menerima "permintaan bantuannya", pun dengannya yang juga begitu bahagia dapat "menggunakanku".

Lalu mengapa ia nekad memintaku? 

Aku bukan orang seperti tokoh fiksi August Rush, yang sangat jenius dalam bidang musik, hingga mampu mengarang dan mengaransemen lagu tanpa mengikuti sekolah musik. Aku juga bukan orang yang terlahir dengan bakat musik, yang dapat memainkan setiap alat musik meski baru pertama kali menjumpainya. Namun, menurutnya aku dapat menerka nada dengan baik, setidaknya jika dibandingkan dengannya. 

Setelah bertemu dengannya, aku menyadari bahwa aku memiliki ketertarikan diam-diam terhadap musik. Sayangnya, aku memiliki seorang ayah yang sangat tidak menyukai musik. Bahkan untuk sekadar mengucapkan do-re-mi dengan nada flat di depannya, aku tak berani. Hingga saat ini, aku tidak tahu pasti alasan ayah begitu membenci musik dan aku tidak berani menanyakannya. 

Saat aku dan Rindy seusia Keke dan Dede, kami tidak pernah bernyanyi bersama ayah. Ayah pasti pergi, melenyap tanpa jejak ketika salah satu dari kami mulai bernyanyi. Beruntung, kami sudah besar ketika Namira, adikku, lahir. Ia tidak perlu kesepian ketika bernyanyi, karena ada aku dan Rindy yang menemaninya.

"Ibuuu!!! Huweee. Ibu di mana?" terdengar sebuah suara cempreng disertai rengekan tangis yang dibuat-buat membuatku terkaget. Aku terbangun dari lamunan tentang kenangan masa kecil, lima belas tahun lalu. Itu suara Dede. Ia pasti bangun karena terkaget. 

"Ibuuu, Dede berisik! Aku udah bilang ibu ada di rumah, tapi ia tetap nangis!" kata Keke yang sudah menemukanku di ruang baca dan segera berlari ke pangkuanku. Tangannya mengucek matanya yang terlihat merah. Sepertinya ia masih mengantuk.

"Ya. Dede di mana sekarang?"

"Nggak tahu, deh. Keke ngantuk, mau tidur lagi," jawabnya sekenanya, tak memberiku petunjuk. Ia berjalan ke pojok kanan ruang baca, ke arah sebuah karpet berbulu, berukuran satu setengah meteran yang memang sengaja kutata dan kuletakkan di sana.

"Keke, kok nggak sopan begitu jawabnya. Kebiasaan, deh. Jangan tidur di... Eh? Sudah tidur lagi? Telat," kataku, ternyata pada diriku sendiri. Sepertinya Keke memang belum betul-betul bangun ketika ia mendatangiku. Ia tidur seketika, begitu badannya menempel di karpet. Dasar bocah ini, persis sekali ayahnya.

Aku menggendong Keke dan memindahkannya ke kamar berdinding kuning pastel milik si kembar ini. Ternyata, Dede juga ada di dalam kamar itu. Ia meringkuk di atas kasurnya sendiri yang berada di pojok dalam. Posisinya membelakangi arah pintu. Namun, aku dapat melihatnya tengah memeluk boneka Naruto, tokoh animasi kesukaannya. Aku tidak mendengar suaranya dan dapat kulihat punggungnya bergerak pelan. Sepertinya Dede juga sudah kembali tertidur.

Keke tak terusik sedikit pun, ketika aku merebahkannya di atas kasurnya yang bernuanasa ungu lavender. Kurapikan posisi kaki dan kepalanya agar tidak kaku ketika bangun nanti.

Setelah selesai dengan Keke, aku berjalan ke arah Dede yang memang betul-betul sudah tertidur dengan mulut terbuka. Lelap.

Jadi, apa itu barusan? Mereka betul-betul bangunkah atau hanya mimpi sambil jalan? Dasar bocah. Jam dinding burung hantu di kamar mereka menunjukkan pukul 3.20.

Baru beberapa menit aku melamun di ruang baca. Namun, rasanya seperti baru saja melakukan penjelajahan waktu hingga belasan tahun. Mungkin, ini yang menyenangkan dari sebuah kenangan. Ia dapat membayar kerinduan, juga menyajikan kembali rasa dan sensasi yang sama seperti saat ketika mengukirnya.

Drrrrt. Drrrrt.

"Ada pesan?"

Belum sampai tanganku meraih selulerku, jendela pop up terhidang di layarnya, menghidangkan sebuah pesan, 'Ibu, sepuluh menit lagi ayah sampai. Jangan terlalu merindukanku, ya!'

Ish. Pesan macan apaan ini. Eh? Sepuluh menit? Gawat. Aku lupa. Ia bilang bahwa hari ini ia akan pulang cepat. Kupandangi seisi rumah. Kuingat-ingat beberapa hal dalam daftar pekerjaan soreku. Aku belum menyiapkan air dan menu makan malam. Rumah masih berantakan. Aku bahkan belum jadi belanja ke minimarket. Keke dan Dede tidur, aku tidak bisa meninggalkan mereka. Belum lagi paket di ruang baca masih berserakan.

Aduh. Aku sedang tidak siap dikomentari. Apakah aku harus meminta bantuan si kembar lagi? Baiklah. Sepertinya, aku akan berpura-pura ikut tertidur ketika menidurkan si kembar.



*****


(bersambung)

Wednesday, 12 November 2014

(Bukan) Orang Biasa

Dari apa yang orang-orang kicaukan, saya dengar hanya kisah-kisah menarik yang dibumbui aksi kepahlawanan, sarat motivasi dan pelajaran, menghibur dan mengaduk-aduk emosi, dan minimal memiliki alur atau tujuanlah, yang akan dibaca, didengarkan, dan mungkin terus diingat oleh orang-orang. Apakah ini berarti bahwa orang-orang biasa tak layak berkisah? Apakah kisah terlalu biasa tersebut tak pantas diceritakan kepada orang-orang, tak cukup berbobot untuk diunduh pelajaran darinya, tak baik untuk dikonsumsi orang awam karena dikhawatirkan tidak akan membuat mereka lebih hebat dari sekadar orang biasa?

Senjang. Kesenjangan menimbulkan masalah. Masalah menghadirkan ancaman juga pahlawan. Ancaman menjanjikan kehancuran, sedang pahlawanlah yang digadang-gadang akan meminimalisasi atau mengatasi kehancuran tersebut. Pahlawan. Semua orang ingin menjadi pahlawan. Orang kuat, sudah pasti masuk kandidat, bekal kuasa. Orang pintar, sangat mungkin dinobatkan, bonus gelar. Orang licik, bisa juga jadi nominasi, menang taktik. Orang biasa, tak tinggal diam, angkat senjata, modal nekad. Orang biasa, juga pandai diam, menanti saat, lalu bersorak, "Kita menang!"

Saya tidak mengerti, mengapa ada banyak sekali orang tak ingin menjadi orang biasa. Padahal, orang biasa merupakan orang berjasa. Tanpa mereka, para calon pahlawan tidak akan benar-benar menjadi pahlawan. Orang biasa seharusnya berbangga. Berkat mereka, para pahlawan memiliki pekerjaan dan pengagum di mana-mana. Orang biasa seharusnya berbahagia. Mereka menjadi orang biasa bukan tanpa alasan dan peran, melainkan sebagai tokoh utama yang nantinya akan menjadi prioritas nomor satu mereka, para pahlawan, untuk diselamatkan. Meskipun mungkin kisah dan keberadaan mereka tidak untuk diselipkan dalam sejarah yang diturun-temurunkan, tetapi sebagai salah satu dari orang biasa tersebut, saya sangat bersyukur memiliki peran ini. Terlebih inilah hal yang memang sepertinya saya inginkan.

Perkenalkan, saya Ani. Orang biasa. Saya masih seorang mahasiswa. Masih, karena saya memutuskan untuk menjadi demikian, menjadi tertinggal dan menyandang predikat "yang tersisa" dari angkatan saya yang belum menamatkan studi, di saat lebih dari tiga perempat rekan satu angkatan di peminatan saya telah menapaki dunia kerja. 

Saya "berkuliah" di jurusan Kesehatan Masyarakat, peminatan Biostatistika, angkatan 2010. Dengan demikian, kini saya tengah menempuh semester 9. Saya tahu, saya tahu. Saya tidak seperti orang lain pada umumnya karena sengaja berlama-lama berkutat dengan "apa yang mereka sebut skripsi" sejak semester 7 silam. 

Mungkin, karena saya terlalu biasa, saya pikir saya tak mampu melakukan hal-hal luar biasa seperti mereka. Rendah diri saya tinggi, memang. Namun, jika tidak salah ingat, saya merupakan tipe orang yang mampu memperkirakan akurasi pencapaian saya sendiri. Dengan demikian, saya hanya akan melakukan hal-hal yang menurut saya dapat saya lakukan dan, menurut perkiraan saya, akan berhasil saya capai sesuai keinginan. Contohnya, perkiraan ketika mendaftar masuk universitas ini. Saya memiliki keyakinan besar saya akan berkesempatan memijakkan kaki di sini. Hanya saja, saya tidak yakin, saya sudah cukup tahu apa yang akan saya lakukan ketika kaki saya telah betul-betul berdiri di tanah penuh manusia cendekia ini.

Setidaknya, perkiraan keberhasilan tersebut terbukti. Pada Mei 2010, saya resmi diterima di jurusan yang sudah saya sebutkan di atas, jurusan pilihan kedua saya. Lantas, apa jurusan pilihan pertama saya? Ah, tidak perlu saya sebutkan. Saya tidak yakin, saya tidak sedang tidur ketika memilih pilihan jurusan pertama, pun dengan pilihan jurusan kedua tersebut. Meski prosesi yang saya lalui hingga sampai ke tempat belajar ini bertabur dengan ketidakyakinan, tetapi saya masih memiliki sisa keyakinan lain, bahwa saya dapat bertahan meski akan sempoyongan.

Satu tahun. Saya memutuskan untuk memilih peminatan Biostatistika. Satu-satunya mata kuliah yang nilainya tidak hancur pada saat semester 2 adalah mata kuliah yang belajar tentang dasar-dasar ilmu yang berkenaan dengan statistika ini. Maka saya setengah yakin, di kemudian hari, barangkali saya tidak akan hancur juga pada hal yang sama. Namun, jauh di dalam lubuk hati yang paling dalam, saya belum jatuh cinta pada apa pun yang ada di sini. Saya masih terombang-ambing di lautan ilmu yang saya renangi selama ratusan hari. Sayang, hanya sedikit "benda laut" di dalamnya yang menyerap dalam pori-pori memori saya. Atau mungkin saya yang tidak mengizinkan mereka memasuki akal saya? Saya masih belum bisa memastikannya hingga saat ini. Pun demikian, saya tetap berjalan sembari berhalusinasi. Barangkali, saya akan menemukan sesuatu yang menarik, yang betul-betul saya inginkan dan akan saya perjuangkan untuk saya genggam, ketika saya sudah semakin mencapai ujung dari perjalanan, yang kata orang-orang namanya menimba ilmu ini.

Tiga setengah tahun. Saya mulai kelabakan dalam diam yang menyeramkan. Saya sepertinya mengalami hal yang dikenal dengan sindrom tingkat akhir. Namun, apakah semua mahasiswa di tingkat akhir merasa seperti ini: TIDAK MEMILIKI KEINGINAN. Saya menceracau dan meragu. Apakah saya betul-betul orang biasa? Orang biasa bahkan memiliki mimpi dan tahu apa yang mereka sukai. Atau justru saya orang bodoh, pemalas, dan merugi? Saya pun memutuskan untuk berlari, melarikan diri dari semua yang hal yang berkaitan dengan pendidikan saya. Asing. Hawa, penampilan, aroma, dan irama mereka masih asing bagi saya. 

Perlahan, beberapa orang dapat membacanya, keganjilan perilaku. Beberapa opini dari mereka tentang saya yang seperti ini, baik secara langsung, maupun tidak langsung, sampai ke telinga atau mata saya. Banyak saran dan komentar, baik yang hanya sekadar saran lewat, maupun saran bermanfaat, yang saya terima. Tak sedikit tamparan pedas yang saya terima karena ulah saya semakin memurukkan diri. Namun, mengapa saya tetap bergeming?

Empat tahun. Saya masih bebal. Saya tidak tergoda iri pada mereka yang sudah menggenggam kunci. Saya tidak ingin mengejar mereka yang tengah berlari menjemput mimpi. Saya puas dengan hanya mengamati mereka berlelah, berbahagia, bercerita, berbagi, berpindah, berlari, berlain-lain. Saya pemalas dan mulai menjadi sampah. Apa yang terjadi pada saya? 

Apakah saya terlalu terbuai dalam hidup dan peran saya sebagai orang biasa? Apakah saya memang terlalu bodoh hingga tak mampu mengenali keinginan dan mimpi saya sendiri? Apakah saya cukup pantas disebut manusia, alih-alih mayat hidup, karena saya tidak memiliki keinginan dan mimpi?

Saya masih akan berusaha merampungkan apa yang seharusnya sudah saya rampungkan sejak berbulan-bulan lalu. Namun, saya tidak yakin, saya dapat melanjutkan langkah saya di jalur ini, jalur yang samar-samar saya lukis selama tiga empat tahun belakangan dengan kuas nomor satu dan cat tanpa warna. 

Perkiraan saya tentang pencapaian keinginan saya, berhenti di sini. Tidak perlu lagi ada akurasi karena tidak ada perkiraan yang terpampang. Kosong.

Mungkin, saya bukan lagi orang biasa. Saya orang bebal, yang mencampakan diri sendiri tanpa berpikir matang-matang. Saya orang gagal, yang bangga berkoar tentang kisah kehilangan arahnya kepada orang-orang. Saya orang tertinggal, yang tidak memiliki hasrat untuk mengejar mereka yang telah lebih dahulu berlari meraih tujuan. Saya orang menjengkelkan, yang kata beberapa orang sengaja jatuh untuk mencari belas kasihan. Saya orang tak punya mimpi, yang kata para pengarang cerita berpahlawan, adalah pesakitan yang tinggal menunggu mati. Saya orang pengecut, yang bersembunyi di balik ketiak malam dan pagi, katanya tak akan pernah berhasil melakukan debut. 

Tak perlu lagi bertanya. Terlalu banyak tanya yang patah tanpa sempat terjawab. Gamblang. Bosan. Murahan.

Banyak orang ingin orang seperti saya diam, meskipun mereka tidak menyampaikannya secara verbal. Terkadang, mulut mereka diam. Namun, mata dan langkah mereka berteriak lebih keras dari mulut bungkam tersebut. Saya tahu karena saya juga diberi tahu oleh mereka yang tanpa sadar memberi tahu.

Pada akhirnya, saya disuruh diam dan menyelesaikan masalah saya sendiri. Tak perlu saya kembali diperingatkan untuk menyimpan salah, masalah, dan kesalahan saya hanya untuk saya sendiri. Tentu saja. Saya sudah tahu diri. Saya tahu, memang hanya saya yang dapat melakukannya hingga selesai. Hanya saya yang dapat mengais dan menggali lubang hingga saya menemukan apa yang saya cari dan inginkan. 

Saya mengerti, tak baik menggantungkan apa pun pada siapa pun selain pada Tuhan. Ah, saya bersyukur saya memiliki-Nya, membuat saya mengingat hal-hal indah, membuat saya tidak ingin memperjuangkan mati, membuat saya masih bertahan sembari berpayah mencari hingga saat ini.

Tuhan, tolong jaga saya dalam perjalanan saya, tetap menjadi orang biasa, manusia biasa. Saya tidak berharap kisah keluh kesah seorang biasa seperti saya dipungut orang lewat. Namun, setidaknya jangan biarkan saya terinjak hingga mati, ketika saya tengah mengais untuk menemukan keinganan saya di jejalanan. Ah, Tuhan pasti melakukannya tanpa dipinta. Mengapa sedetik tadi saya meragukan-Nya beserta kejutan indah dari-Nya? Hmm.

Friday, 7 November 2014

Langit Cinta

Jangan tulis sebuah puisi cinta untukku, aku tak akan membacanya
Jangan ucap rayuan manis kepadaku, aku tak mau mendengarkannya
Jangan belai rambut bau dan kusutku, aku tak nyaman menerimanya
Jangan beri pelukan yang kau kira dapat menenangkanku, aku tak mampu merasakannya
Jangan berbaik atau berburuk laku dalam menghadapiku, aku tak yakin akan mengingatnya

Aku telah mengatakan segala larangan untukmu, akanku
sejak aku terbangun di sore berawan mendung kala itu
mendapati kepalamu tergeletak di tepi pembaringanku
Matamu setengah terpejam, napasmu laun berburu
Aku menarik selimut, menjauhkan diri darimu, aku tak mengenalmu
Kau terbangun, tergesa berlari meninggalkanku, meloloskan kelegaanku

Mataku menyapu ke seluruh ruangan, menggali petunjuk atau mungkin sebuah inspirasi
Aku mencoba berpikir, tetapi sesuatu dalam diriku menonjok akalku tanpa permisi
Bungkam dan berkedip, tak ada hal lain yang dapat kulakukan selain ini

Kau datang, membawa sosok asing berbeda, yang terlihat  rumit
Dia mendekatiku, menyentuh beberapa titik di tubuh kakuku
Aku tak siap, beringsut melipat badan, berteriak tanpa berbunyi
Dia menjauhiku, menepuk pundakmu dan membisikkan sesuatu
Kau menunduk, menggumamkan sesuatu, lalu menghampiri tempatku berbaring

Aku bergidik, menangkap kata-kata asing dalam bisikan hangatmu
Aku mendelik, diam dan menerka adanya kemaknaan dalam setiap ucapmu
Aku melirik, kepada orang asing yang pertama kulihat dalam hidupku, ke arahmu
Aku memekik, resah, membenarkan keyakinan, benar bahwa aku tak mengenalmu

Aku ingin melarikan diri, tapi kau menarik tubuhku ke dalam pelukanmu
Aku terkunci, dan kau kembali membisikkan kata-kata panjang ke telingaku
Aku menjauhkan diri, kulihat setitik air bening meluncur dari mata kirimu
Aku tak lagi menguasai diri, limbung, tenggelam kembali dalam gelap mimpiku

Bagiku, hari itu adalah hari aku dilahirkan
Hari pertama aku berjabat dengan dunia

Kau membawaku pergi dari tempatku terbangun, keesokan paginya
Menurunkanku di sebuah tempat baru, berbau basah dan bernuansa biru

"Laut," katamu

Kusimpan dia, laut
Kata pertama yang kuselipkan dalam kamusku
Lalu siapa aku?
Siapa orang di hadapanku?
Aku bertanya lewat tatapan
Gemas
Gamang

"Kau Rissa. Rissa namamu. Artinya laut, jika kau ingin tahu," tambahmu
Kata-kata terpanjangmu, yang akhirnya kuperhatikan dan kudengarkan

"R.. Ris...Rissa. Ma... Laut," ucapku
Kata-kata pertama yang keluar dari bibirku
Aku tak paham, sudah pasti
"Riss..sa. La...ut," ulangku lagi
Suaraku parau, sepertinya tak mampu kau kenali
Jemariku meremas pegangan kursi beroda yang kududuki

Kau membungkuk, menghadapku, menggenggam lembut jemari tangan kananku
Aku terlonjak, masih tak terbiasa, asing, tak tahu harus bersikap macam apa
"Rissa," kau menggerakkan genggaman tangan kita, menuntunnya ke arahku
Kau melepas genggaman itu, sedikit bergeser, setengah berjongkok, kita bersebelahan
"Laut," katamu, menunjuk permadani biru yang bergeliat dan bergulung di depanku

Aku pun mulai mengerti
Bagaimana cara bermain kata ini
Ini tentang membedakan benda ini dan itu
Ini tentang menamai mereka dengan sesuatu

Aku mengikuti apa yang kau lakukan, ajarkan
Menunjuk diriku, aku menggumam, "Rissa."
Menodongkan tangan kananku ke arah depan, aku setengah berteriak, "Laut."
"Rissa. Laut. Rissa. Laut. Rissa. Laut."
Ucapku berulang-ulang, sembari berolahraga tangan
Tak bosan

Kau tertawa pelan, matamu sayu, mengisyaratkan sesuatu
Aku berhenti mengulang dua kata itu
Diam, lalu aku melemparkan telunjukku ke arahmu
Aku ingin tahu, siapa kau, orang pertama yang menyaksikan kelahiranku

"Aku?" tanyamu, retoris
"Langit," mendaratkan telapak tanganmu ke dadamu
Lalu, kau tunjuk awang-awang di atas ubun-ubunmu
Menarik garis dari atas sana, hingga berhenti ke lini perbatasan
yang memagari dan memisahkan laut dan benda pucat lain di atasnya

Sepertinya aku mengerti maksudmu
Aku mengikuti gerakanmu
"Rissa," menunjuk diriku sendiri
"Laut," meraba dari jauh gemulung ombak yang menari
"Langit," meraih tangan kirimu yang terparkir di pegangan kursi

Kau terlonjak, berdiri, memandangku dengan tatapan yang tak mampu kubaca maknanya
Aku memejamkan mata terkaget, kulepas tanganmu, takut telah berbuat kesalahan

Lembut, sesuatu yang lembut mendarat di kepalaku
Aku membuka sebelah mata, tangan kirimu mengacak rambutku, lembut

"Kau pintar, Rissa. Seperti dulu. Ah, tidak. Selalu," pujimu
Hangat, tetiba angin menghangat menerpa setiap milimeter persegi permukaan kulitku
Ada perasaan asing, menjejal masuk ke dalam pembuluh dan sel di sekujur badanku,
mengalir bersama desiran darah, menghampir, keluar masuk dalam jantungku,
membuatnya berlompatan, lebih liar dari yang pernah aku rasa dan tahu

Berdebar
Kini, aku sudah tahu namanya
Rasa yang tak akan pernah aku lupa
Penanda kali "pertama" kita berkenalan
Rasa yang kekal, lekat selamanya, dalam ingatan

Aku tersenyum
Senyum pertamaku
Direnggut olehmu, karenamu
Dan memang, selamanya, hanya untukmu

"Rissa. Cintaku," ucapmu lembut
Tatapanmu lurus ke arah laut

Cinta?
Aku mengedarkan pandang
Menerka, memilah benda atau raga
Adakah benda yang tengah kau beri nama?
Ataukah kau tengah memperkenalkan sesosok raga?

Cinta?
Ini kata baru
Penglihatanku mulai campang-camping
Namun, tak kunjung kau memberiku petunjuk
Tak juga kau mulai melemparkan telunjuk

"Di sini," kau kembali menyentuh dada
Sepertinya kau sadar, aku bertanya-tanya
Itukah cinta?
Dan aku masih bertanya-tanya
Tak ada sesuatu di sana

"Kau tak akan melihatnya. Rasakanlah," jelasmu

Cinta?
Rasa?
Kepalaku berputar
Kau tertawa
Aku tersesat

"Nanti kau tahu," tambahmu

*****
Sewindu berlalu
Sejak aku terlahir kembali dan disambut olehmu
Sejak aku memberikan larangan untukmu
Sejak kau memperkenalkan laut, langit, dan cinta kepadaku
Sejak aku tersesat dalam pelajaran kata darimu, untukku

Langit,
Aku tengah berdiri
Di depan pusara berbatu

Setengah dasawarsa ini
Kau diam tertanam di dalamnya, kaku

Benar, aku di hadapanmu
Mengelus lembut kepala nisanmu,
sama seperti ketika kau mengelus kepalaku saat itu
Nyamankah?
Bahkan hingga kini,
masih dapat kurasakan sapuan jemarimu di rambutku

Langit,
Aku sudah banyak bicara
Aku lihai mengenali rasa
Aku pandai, seperti yang kau kata

Namun, kau meleset, Langit
Aku tak pandai dalam membacamu
Aku tak paham akan teka-tekimu
Aku tak peka membaca pias wajahmu

Apa kau ingat teka-tekimu?
Aku berhasil mengingatnya, jika kau ingin tahu
Kau mengucapkannya di hari aku terbangun di pembaringanku
Kau membisikkannya dengan lembut, tepat di telingaku
Andai aku dapat memecahkan teka-teki itu tepat waktu
Mungkin aku dapat mempersiapkan pergimu
Andai aku tak terlahir kembali
Mungkin kau tidak akan kelelahan
Andai aku tak pernah lupa
Mungkin kau tidak akan mati kesepian

Akukah pembunuhmu?

Kau pasti menggeleng, Langit
Karena kau terlalu bijaksana
Karena kau terlalu percaya cinta
Karena kau adalah lelaki istimewa
Karena kau adalah Langitku, Langit yang kucinta

Delapan Gambar Terakhir (Oktober-November Awal)

Di bulan Oktober ini, saya cukup sering menggambar. Mungkin, sebelumnya saya pernah menyebutkan alasan saya menggambar, melalui salah satu pos di blog ini, yaitu untuk memunculkan perasaan bahagia. Dengan kata lain, saya akan menggambar, ketika saya mulai merasakan kemunculan tanda-tanda tidak wajar, yang bisa jadi menimbulkan perasaan tidak bahagia bagi diri saya. Saya merasa, semakin lama saya tidak berarah, tidak memiliki tujuan dan keinginan. Dan ketika saya mulai berpikir demikian, saya akan berlari mencari hal-hal yang mungkin saya lakukan, yang dapat membuat saya lupa akan pikiran buruk itu, yang dapat membuat saya berpikir bahwa setidaknya saya sedikit produktif. Namun, lama-lama saya curiga, sepertinya kegiatan menggambar ini, saya lakukan hanya sebagai tindak pelarian dari tanggung jawab dan kewajiban saya akan hal lain. Kemudian, saya merasa ragu, malu, dan rugi.

Selain itu, tindakan pelarian, berupa menggambar, ini sepertinya telah membuat saya menjadi orang yang suka pamer dan berisik. Pasca menyelesaikan sebuah gambar hitam putih, saya selalu mengepos foto gambar tersebut ke beberapa media sosial: instagram, twitter, blog ini, facebook, bahkan linimasi LINE. Tak hanya itu, terkadang saya mengganti foto profil, avatar, display picture, atau cover di beberapa media sosial tersebut. Memang, figur atau objek dalam gambar-gambar saya tidak dipilih dengan asal-asalan. Artinya, ada hal menarik yang membuat saya sangat ingin menggambar objek tersebut. That's why, saya sempat merasa oke-oke saja, jika saya menggunakannnya sebagai foto profil atau sebagainya. 

Namun, akhir-akhir ini, saya mulai gusar. Apa gunanya ini: menggambar, meng-upload gambar tersebut, membagikannya ke orang-orang, dan pada akhirnya menarik perhatian atau justru kejengkelan mereka? Apa namanya semua tindakan itu, kalau bukan pamer atau mencari perhatian? Saya pun tersadar, kegiatan saya selama ini kemungkinan besar salah dan telah menyimpang dari jalur yang seharusnya saya tempuhi. Lagipula, sebenarnya saya tak cukup berminat apalagi berbakat di bidang gambar-menggambar ini. Lalu, saya memutuskan bahwa "tindakan pelarian dari kewajiban ini" tidak seharusnya disebar-sebarkan kepada orang lain. Cukuplah dinikmati sendiri, di galeri pribadi. Jika pun nanti ada yang tersesat melihatnya, berarti itu memang sudah nasibnya dan nasib gambar saya dikunjungi olehnya.

Saya pun menghapus foto gambaran-gambaran tangan saya dari galeri instagram dan LINE saya. Untuk selanjutnya, saya hanya akan mengepos gambar-gambar saya ke dalam blog ini atau di akun instagram baru saya, yang memang dikhususkan untuk menampung back up gambar-gambar nya. Sama saja, ya? Hahaha. Ya sudahlah. Pada akhirnya, saya memang tidak dapat berhenti menggambar. Saya akan tetap menggambar, meskipun (mungkin) akan lebih dikurangi.

Untuk beberapa orang, yang berteman dengan saya di berbagai media sosial, mohon maaf ya, jika selama ini saya sangat berisik dan menyampah di halaman depan kalian, dengan mengepos banyak gambar tidak jelas dan membosankan. Sebetulnya, saya juga tidak suka menampakkan keberadaan atau eksistensi saya kepada kalian. Terlebih, di saat seperti ini, di saat saya tengah merasa di titik terbawah di sepanjang perjalanan hidup saya, di saat saya tengah bersembunyi dari para peramai dan keramaian.

Well, saya sudahi ya, menye-menye-an dan curhat-an tentang gambar-gambarnya. :D


"Alat Gambar (seadanya) Saya"
Depok, 25 Oktober 2014
Sebelumnya, mohon maaf, posisi fotonya terbalik. Saya tidak tahu cara me-rotate position image yang sudah di-upload ke blog. Jadi, saya biarkan saja begitu, ya.
Well, itulah alat-alat yang saya punya. Namanya juga bukan seniman dan tidak berminat menjadi seniman, alhasil saya hanya memiliki beberapa alat yang kira-kira akan sering saya gunakan saja. 
Inilah daftar mereka:
  1. Sketch Book ukuran A3 (Memungut punya seorang teman yang sudah pindah kos)
  2. Sketch Book ukuran A5 (Kalau yang ini saya beli, tapi yang murahan lah, kan saya pelit)
  3. Drawing Pen ukuran 0,5mm (BESAR, KAN? Dulu salah bilang ukurannya ke mbak penjualnya. Niatnya mau beli yang 0,3mm)
  4. Pensil 2B, Colleen (Ini favorit saya! Hitam, tebal, empuk, murah lagi. Namun, yah...bikin kotor kertas gambar. Sayanya, di sini tidak ada yang jual dia. Saya cuma menemukannya di Kebumen)
  5. Pensil 2B, Faber Castell (Lumayan sering digunakan)
  6. Pensil 3B, Faber Castell (Jarang digunakan. Paling digunakan ketika sedang mengarsir mata)
  7. Pensil 4B, Faber Castell (Sangat jarang digunakan)
  8. Pensil mekanik, 0,5mm (Jarang digunakan. Biasanya untuk menebalkan outline)
  9. Penghapus, Faber Castell (Suka banget motif cowy-nya)
  10. Pensil warna, Faber Castell Grid Model 12 warna, ukuran besar (AMAT SANGAT JARANG DIGUNAKAN, karena saya belum bisa mewarnai. Semoga suatu saat punya yang lebih dari 12 warna)
  11. Pensil warna air, Faber Castell Grid Model 12 warna, ukuran kecil (AMAT SANGAT JARANG DIGUNAKAN juga. Saya hanya memakai yang warna hitam. Alhasil, pensil hitamnya sekarang pendek dan hampir habis. Semoga suatu saat punya yang lebih dari 12 warna dan ukuran besar)
  12. Rautan (Masih yang murahan)
  13. Cutter (Kalau yang satu ini masih sering pinjam punya orang lain, seringnya punya Nisa)
  14. Kuas (Sebetulnya ini milik Rheta. Namun, dia bilang dia sudah tidak menggunakannya, jadi saya boleh meminjamnya (sampai lama))
  15. Sarung tangan dan tissue (WAJIB. Tangan saya berkeringat)

"Teman"
Depok, 16 Oktober 2014
Media: Kertas gambar A5
Gambar ini dibuat dalam rangka berterima kasih kepada orang-orang di sekitar saya. Saya merasa bersalah karena sering melupakan orang-orang baik di sekitar saya dan mengharapkan kehadiran mereka yang tidak ada di samping saya. Untuk itu, saya berterima kasih kepada mereka yang bersedia mengingat saya. 


"Fanart: Houtarou Oreki"
Depok, 20 Oktober 2014
Media: Kertas Gambar A5
Ini adalah Houtarou Oreki, tokoh utama pria dari anime Hyouka (anggap saja mirip, ya). Sebetulnya, dia hanya seorang pelajar kelas 1 SMA biasa. Sangat biasa malah. Dia tidak suka lelah sehingga dia akan meminimalisasi bergerak atau berpikir untuk menyimpan energi. Mottonya adalah "Aku tidak akan melakukan hal-hal yang tidak harus kukerjakan dan jika aku harus mengerjakannya, maka aku akan menyelesaikannya dengan cepat". Menyelesaikan semua hal dengan cepat adalah bentuk upayanya untuk menyimpan energi. Itulah yang unik dari dia. Sifat pemalasnya itu membuat dia berpikir cepat, bahkan cerdas, juga kreatif. Inilah yang membuatnya dapat menyelesaikan beberapa kasus misteri kecil yang terjadi di sekitarnya, di kehhidupan  sekolahnya. Sungguh hanya kasus kecil yang tidak terpikirkan bahkan sengaja tidak dipikirkan oleh orang lain. Dia unik dan jenius, makanya saya suka. Hahaha...


"Fanart: Houtarou Oreki (Again)"
Depok, 21 Oktober 2014 
Media: Kertas Gambar A5


"Fanart: Kirito/Kirigaya Kazuto"
Depok, 26 Oktober 2014
Media: Kertas Gambar A3
Ini adalah Kirito, tokoh utama pria dari anime Sword Art Online/SAO (anggap saja mirip, ya). Sebetulnya, saya tidak suka tokoh anime ini. Namun, entah mengapa ketika saya melihat sketch book A3  miliki Tiara yang saya temukan dan tetiba  saya ingin menggambar di atasnya, tokoh anime yang pertama kali terlintas di pikiran saya adalah dia. Memang, saat itu saya baru tamat menonton SAO season I sehingga wajar saja jika saya teringat pada Kirito ini. Selain itu, gambarnya juga tidak rumit. Jadi, saya kira saya dapat menggunakannya sebagai contoh objek gambaran tangan pertama saya di atas kertas A3. Saat selesai menggambar ini, saya baru sadar, jika kertas A3 itu sangat besar. Otak saya lelah setelah menggambarnya. *maklum, amatir*


"Ucapan Milad untuk "SAHABAT""
Depok, 28 Oktober 2014
Media: Kertas Gambar A3
Yeah, saya merindukan teman di kampus, ketika beberapa semester lalu ini. Dia dipanggil Dila di kesehariannya. Saya pertama kali berkenalan dengannya di FB, ketika sama-sama baru diterima di FKM UI. Kami pun bertukaran nomor dan beberapa kali SMS. 

Ketika Welcoming Maba FKM UI jalur SIMAK, tanpa diduga-duga, ternyata kami betul-betul dipertemukan secara lahir, dalam FGD yang sama. Hanya saja, kami sama-sama belum menyadari. Saya memperkenalkan diri saya sebagai Ani sedangkan dia memperkenalkan dirinya sebagai Dila. Saya pun curiga, jika dia adalah Dila yang saya kenal lewat FB. Namun, kenapa dia tidak mengenali saya? Selain itu, di dunia nyata, dia tampak lebih datar, jika dibandingkan dengan saat di FB. Saya pun iseng, mencoba me-miscall nomornya. Jika dia bergerak-gerak merogoh HP ketika saya miscall, berarti dia adalah Dila yang sama dengan Dila di FB. Namun, dia diam. Setelah perkenalan, saya pun mencoba menyapanya secara personal untuk memastikan bahwa dia adalah Dila yang pernah bertukar nomor hp dengan saya. Dan ternyata benar. Dan dia tetap berwajah datar. Oh, doang. Padahal, ketika itu, saya mengharapkan respons yang lebih hangat dan bahagia darinya, karena bertemu dengan orang yang selama sebulan hanya bersapa lewat dunia maya. Awalnya, saya mengira saya akan dapat berteman dengan baik dengannya. Namun, melihat respons datarnya, saya urungkan perkiraan saya.

Saya bertemu lagi dengannya di kumpul angkatan FKM UI 2010 di dekat danau Balairung. Dia masih datar. Akan tetapi, ada yang berbeda, dia lebih banyak bicara dibandingkan dengan di saat pertemuan WM. Lambat laun, saya memahami sesuatu. Ternyata, wajah datarnya bisa jadi adalah output dari sifatnya yang sedikit pendiam dan tidak terlalu ingin terlibat dalam banyak hal yang menegangkan (apakah ini nyambung?). Sejak saat itu, saya memberanikan diri untuk mendekatkan diri dengannya dan sepertinya dia menyambut dengan cukup baik upaya pendekatan dari saya. 

Saya dan dia, sama-sama bukanlah orang yang ingin terlihat menonjol. Sama-sama, orang yang tidak datang ke suatu hal yang tidak perlu didatangi. Sama-sama, orang yang agak suka bersembunyi. Sama-sama, orang yang menyukai benda yang lebih mudah terbeli. Sama-sama, menyukai membaca cerita fiksi. Sama-sama, ah sama-sama lebih banyak mengamati daripada menyampaikan opini. Sama-sama, biasa saja. Kami pun terkadang berjalan-jalan bersama, untuk melakukan hal-hal biasa saja, bersama dengan beberapa orang teman tetap lain. 

Mungkin, ada banyak "sama-sama" yang sudah saya sebutkan. Namun, anggapan "sama-sama" dari saya tersebut, ternyata membuat saya egois dan lupa bahwa seberapa sama pun kami, tetaplah ada perbedaan yang menjurangi pribadi tiap manusia kebanyakan. Laun, saya pun dapat membaca perbedaan tersebut. Dia orang yang lurus, yang tak mudah berbelok dari tujuan utamanya, terutama dalam urusan menuntut ilmu. Saya sebaliknya. Dia orang yang pandai dan rajin, yang mempersiapkan dengan baik apa yang akan dipersembahkannya. Saya sebaliknya. Dia orang yang tidak akan bermain-main, di saat yang seharusnya kami mengencangkan ikat pinggang. Saya sebaliknya. Dia orang yang memiliki target dan tujuan. Saya sebaliknya. Dia orang yang akan terganggu, jika apa yang didapatkannya tidak sesuai dengan ekspektasi atau usaha kerasnya. Saya juga, tapi dengan cara penyampaian yang berbeda. Dia terlalu baik hati. Saya sebaliknya. Dia fokus. Saya sebaliknya. 

Awalnya, saya kira saya dapat bertahan mengikuti jalan lurusnya, dapat berguna sebagai teman baginya, dapat mengikuti sifat rajinnya, dapat mengerti dan menjadi teman yang baik baginya, atau dapat yang lain-lainnya. Namun, entah ini hanya pikiran tidak sehat saya atau bukan...saya merasa saya telah menjadi teman yang tidak baik dan tidak berguna baginya dan yang lain, hingga puncaknya di semester lima. Saya merasa saya adalah orang yang sangat kurang dan tidak pantas menjadi bagian dari mereka, orang-orang yang sangat pandai dan baik. Terlebih, saya selalu buruk dan tertinggal dalam hal akademis. Perbedaan besar saya, dia dan mereka, terutama dalam hal minat di bidang akademis ini, sepertinya telah menciutkan nyali saya untuk sering bersama mereka. Saya takut magabut dan merepotkan pada mereka.

Hingga suatu hari di semester lima itu, entah karena apa dan dengan cara apa, saya mendapati diri saya tidak mampu lagi mendekatinya dan teman-teman tetap saya yang lain. Saya pun menjadi jauh dari mereka. Semua. Saya menjadi seorang mahasiswa solo yang berkelana dan mencari informasi seorang diri. Hinggap di titik satu, lalu berpindah ke titik lain, untuk hanya sekadar hinggap. Meskipun menikmatinya, tetapi saya akui, ini terlalu sepi dan tidak asyik dilihat. Saya tidak menyangka, praduga dan pemikiran saya setidak sehat ini. Hingga kini, saya berakhir seperti ini: Bingung dan Sepi. Salah saya memang, tak sering menanyakan informasi atau kabar ke mereka. 

Ah! Bohong, jika saya tidak merindukan dia dan semua orang. Dusta, jika saya tidak ingin bertemu atau mengobrol dengan dia dan teman-teman lain. Namun, mengapa? Mengapa saya tidak dapat kembali menyapa dia dan orang-orang seperti dulu? Mengapa saya selalu merasa takut, saya akan menyakiti mereka dengan kekurangan saya? Mengapa saya merasa serendah diri ini, ketika berkomunikasi atau bersanding dengan mereka? Mengapa saya tidak berkutik ketika melihat mereka? Mengapa saya menjadi sebodoh ini? Berpikir liar, lalu terpuruk sendiri karena hal-hal, yang tidak tepat untuk dijadikan alasan sebuah keterpurukan. Mengapa saya takut pada orang-orang, yang bahkan mereka sendiri mungkin tidak pernah kepikiran memiliki masalah dengan saya. Jangankan memiliki masalah, memiliki ingatan berarti dengan dan/atau tentang saya juga sepertinya tidak ada. Hehehe. 

See? BETAPA TIDAK DEWASANYA SAYA. 
Saya mengotori ucapan ulang tahun untuk teman saya sendiri dengan bicara tentang hal-hal tidak penting seperti ini. Seharusnya, saya memberikan doa terbaik untuknya. 
Baiklah, Dila, sahabat lucu saya, teman (non-Kebumen) pertama saya di FKM, saya tidak pandai merangkai untaian doa. Saya sudah beberapa kali mencobanya, tapi tetap saja, hasilnya tidak indah. Hanya saja, saya hanya mampu berharap kau bahagia dan tetap tersenyum dalam menapaki perjalananmu. Saya dengar, kau sudah bekerja, walaupun saya tidak tahu pasti di mana tempatnya. Selamat ya, semoga kau betah dan menikmatinya. Saya yakin, kamu pasti mengerjakan semuanya dengan baik, di sana. Saya juga dengar, kau mendapatkan rekomendasi beasiswa Bidik Misi, yang, ah, saya tidak tahu apa namanya. Saya tidak heran, kau sangat layak mendapatkannya. Saya senang. Oh, iya, terkait studi dan kariermu, semoga sukses keduanya. Untuk hal lain-lain, saya hanya mampu mengamini segala harapan dan mimpimu. Kau pandai menjalani rencana dan menghadapi uji dan coba dari-Nya dalam mencapai tujuanmu, jadi saya yakin kau pasti akan lebih dari sekadar berbahagia di setiap akhir pencapaianmu. 

Sekali lagi, selamat ya, hei cantik yang akhirnya berumur dua puluh dua.
^-^



"Request dari Ipul"
Depok, 29 Oktober 2014
Media: Kertas Gambar A3
Sudah sejak bulan Juni, teman satu paguyuban pun satu angkatan saya, Saiful Amin, atau yang akrab disapa Ipul, meminta saya menggambarkan dia dan teman-temannya. Saya menolak pastinya, awalnya. Saya tahu kemampuan menggambar saya, yang hanya modal mencontek, bentuknya tidak konsisten, dan tidak memiliki ciri khas atau teknik menggambar yang baik. Namun, karena Ipul berkata, "Nggak papa, asalkan ada gambar kepalanya aja, nggak papa deh. Ini kenang-kenangan untuk teman-teman baikku," akhirnya saya pun meng-setengah-iyakannya. Saya hanya berjanji akan mencobanya, meskipun di dalam pikiran saya seperti tengah menambahkan list hutang saya. Akhirnya, alhamdulillah, hutang itu terbayar juga. Saya akui, gambar tersebut tidak bagus. Namun, saya sangat senang melihat persahabatan yang terjalin dari mereka. (hadududuh, nggak ada hubungannya sama gambarnya deh)




"Amarilis"
Depok, 2 November 2014
Media: Kertas Gambar A5
Media: Kertas Gambar A5 Jujur, saya mencontek objek berupa bunga amarilis dari internet, ketika menggambar ini. Namun sepertinya, hasilnya sangat buruk. Tidak terlihat seperti bunga, apalagi amarilis. Menurut Nisa dan Widya, penampakannya juga kaku. Sekilas, pertama kali melihat, dia terlihat sedikit bagus. Akan tetapi, jika diamati lebih lama, ada sesuatu yang aneh dari gambar ini. Dia tampak palsu. Tidak nyata dan kaku. Saya juga sependapat dengan mereka. Saya tidak terlalu ambil pusing atau memikirkan ketampakpalsuan dari bunga dalam gambar ini. Saya menggambar dengan tidak bagus dan memang tidak untuk menjadi bagus. Hingga saat ini, saya menggambar (masih) untuk melarikan diri.

"Latihan Menggambar Dua Kepala dalam Satu Scene"
Depok, 2 November 2014
Media: Kertas Gambar A5
Entahlah apa maksudnya. 

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...