|
Indikator
|
Data MDGs
(*)
|
Status
|
|
|
6.6
|
Angka insiden dan kematian akibat malaria (per 1000
penduduk)
|
|
|
|
6.6a
|
Angka insiden malaria (per 1000 penduduk)
|
1,85 (MOH
2009);
2,4%
(Riskesdas, 2010)
|
On track
|
|
-
Insiden malaria di Jawa dan Bali
|
0,16 (API,
MOH 2008)
|
On track
|
|
|
-
Insiden malaria di luar Jawa dan Bali
|
17,77
(API, MOH 2008)
|
On track
|
|
|
6.7
|
Proporsi
balita yang tidur dengan kelambu berinsektisida
|
3,3% (BPS, 2007)
Pedesaan: 4,5% (BPS, 2007)
Perkotaan: 1,6% (BPS, 2007); 7,7% (Riskesdas, 2007);
16,0% (Riskesdas, 2010)
|
Need Special Attention
|
|
6.8
|
Proporsi balita demam yang diberi obat antimalaria
yang tepat
|
21.9%
(Riskesdas, 2010)
|
|
Ini tentang melukiskan dunia dalam kata; tentang aku dan jejalanan yang akan atau telah aku lewati; tentang Kawan yang lebih berwarna dibandingkan pelangi; tentang ramainya penjelajah ilmu yang selalu haus memecahkan teka-teki; tentang cinta yang tak kan pernah henti meski listrik mati; dan tentang aku yang masih mencari jati diri. Aku menulis... untuk mempertahankan memoriku hidup lama, jauh lebih lama dari aku menempuhi hidup ini.
Friday, 7 March 2014
Malaria “Si Penyakit yang Setia Menghantui Masyarakat”, Mengapa Sulit Diberantas?
Aplikasi Pertama yang Dibuat dalam Mata Kuliah Pemrograman Komputer
Option Explicit
Dim BB As Single
Dim TB As Single
Dim IMT As Single
Private Sub Check4_Click()
outputNama.FontUnderline = Check4.Value
End Sub
Private Sub Check6_Click()
outputNama.FontSize = 16
End Sub
Private Sub cmdBersihkan_Click()
TanggalCetak.Caption = ""
JamCetak.Caption = ""
Diet.Caption = ""
Penyakit.Caption = ""
kategoriUmur.Caption = ""
outputNama.Caption = ""
outputNomor.Caption = ""
comboDiet.Text = ""
comboUmur.Text = ""
Nama.Text = ""
Nomor.Text = ""
txtBB.Text = ""
txtTB.Text = ""
txtIMT.Text = ""
outputIMT.Caption = ""
List1.Clear
comboDiet.SetFocus
End Sub
Private Sub cmdCetak_Click()
TanggalCetak = Now
JamCetak = Now
JamCetak.Caption = Format(JamCetak, "hh:mm:ss")
TanggalCetak.Caption = Format(TanggalCetak, "dddd, dd mmmm yyyy")
outputIMT.Caption = txtIMT.Text
Diet.Caption = comboDiet.Text
End Sub
Private Sub cmdHitung_Click()
Dim IMT As Single
'Baca isi dari Textbox
BB = Val(txtBB.Text)
TB = Val(txtTB.Text)
IMT = BB / ((TB * TB) / 10000)
txtIMT.Text = Format(IMT, "##.##")
outputIMT.Caption = txtIMT.Text
outputIMT.FontBold = True
outputIMT.FontSize = 14
Select Case IMT
Case 1 To 16.99
Label17 = "Sangat Kurus"
Case 17# To 18.5
Label17 = "Kurus"
Case 18.51 To 25#
Label17 = "Normal"
Case 25.01 To 27#
Label17 = "Overweight"
Case Else
Label17 = "Obesitas"
End Select
End Sub
Private Sub cmdSelesai_Click()
End
End Sub
Private Sub cmdTambah_Click()
outputNama.Caption = Nama.Text
outputNama.FontSize = 14
outputNomor.Caption = Nomor.Text
kategoriUmur.Caption = comboUmur.Text
End Sub
Private Sub Command1_Click()
List1.AddItem comboDiet.Text
comboDiet.SetFocus
End Sub
Private Sub Check2_Click()
outputNama.FontItalic = Check2.Value
End Sub
Private Sub Check5_Click()
outputNama.ForeColor = vbWhite
End Sub
Private Sub Command2_Click()
List1.RemoveItem List1.ListIndex
End Sub
Private Sub Form_Load()
'Isi comboUmur dengan kategori umur
comboUmur.AddItem "<2 aduta="" br="" tahun=""> comboUmur.AddItem "2-19 tahun (Belum Dewasa)"
comboUmur.AddItem ">=20 tahun (Dewasa)"
'isi comboDiet dengan jenis diet
comboDiet.AddItem "-"
comboDiet.AddItem "Diet TKTP"
comboDiet.AddItem "Diet Ginjal/Rendah Protein"
comboDiet.AddItem "Diet Rendah Gula"
comboDiet.AddItem "Diet Rendah Lemak"
comboDiet.AddItem "Diet Luka Bakar"
comboDiet.AddItem "Diet Rendah Garam"
comboDiet.ListIndex = 0
End Sub
Private Sub Check3_Click()
outputNama.FontStrikethru = Check3.Value
End Sub
Private Sub Check1_Click()
outputNama.FontBold = Check1.Value
End Sub
Private Sub opIdeal_Click()
outputIMT.ForeColor = vbBlack
outputIMT.BackColor = &H80C0FF
End Sub
Private Sub opInap_Click()
outputNomor.ForeColor = vbWhite
outputNomor.FontBold = True
outputNomor.FontSize = 14
End Sub
Private Sub opJalan_Click()
outputNomor.ForeColor = vbBlack
outputNomor.FontBold = True
outputNomor.FontSize = 14
End Sub
Private Sub opL_Click()
outputNama.BackColor = &HFFFF00
End Sub
Private Sub opP_Click()
outputNama.BackColor = &HFF00FF
End Sub
Private Sub optionBedah_Click()
Label6.Caption = "(*)Pasca-Bedah"
End Sub
Private Sub optionTidakBedah_Click()
Label6.Caption = ""
End Sub
Private Sub timDisplay_Timer()
Dim HariIni As Variant
HariIni = Now
lblHari.Caption = Format(HariIni, "dddd")
lblTanggal.Caption = Format(HariIni, "dd")
lblBulan.Caption = Format(HariIni, "mmmm")
lblTahun.Caption = Format(HariIni, "yyyy")
lblJam.Caption = Format(HariIni, "hh:mm:ss")
End Sub2>
Wednesday, 5 March 2014
Di Siang Bolong
By the way, tadi aku memimpikan kamu, itu, dia, dan beberapa orang asing. Tokoh utamanya kamu dan itu. Itu melakukan hal yang tidak-tidak kepadamu dan aku saksinya. Lalu kamu marah.
Aku pergi dan menumpang sholat berjamaah di mushola antah berantah sama orang asing berbahasa Melayu. Pas selesai sholat ada surat permintaan maaf dari itu untuk kamu, yang disusun oleh dia dengan bahasa khasnya dia.
Isinya tentang pengakuan dan alasan itu, kenapa selama ini, itu bertindak begini dan begitu. Selain itu, jda namaku dan anak *piiip* lain juga disebut di dalamnya. Di sini, dia menjadi penengah dan berperan dalam menyelesaikan masalah. Surat dari itu benar-benar sangat panjang, sekitar 8-10 halaman. Akhirnya, kamu yang marah, pun, tetiba menghilang.
***
Oh iya, jadi kronologinya seperti ini.
Awalnya aku sedang ngobrol sama kamu sambil jalan-jalan. Di jalan, aku melihat itu lagi lesehan di depan teras. Teus aku mengajak kamu menemui itu. Aku mau bilang ke itu kalau aku galau mau milih yang mana. Aku berkata seperti ini ke itu, "Hmmm, aku galau antara SC, jadi staf perlapmu (entah acara apa, namanya aja mimpi) atau nggak menerima keduanya, fokus skripsi aja." Kamu ikut ngobrol juga denganku dan itu. Namun, aku yang lebih banyak bicara. Tidak. Kamu yang lebih banyak bicara.
Lalu, di suatu topik, tetiba itu marah, meninggikan suara ke kamu dan juga ke aku. Itu mendekat kepadamu dan terlihat seperti akan melakukan sesuatu hal kepadamu. Hal yang selama ini hanya aku saksikan dari drama dua dimensi, tak pernah di depan mata. Aku kaget pastinya, tapi tidak mampu berekspresi.
Aku terlalu tak mau melihat dan langsung pergi. Aku singgah ke mushola, yang telah aku datangi terlebih dahulu, sebelum kamu dan aku menemui itu. Di sana, aku bertemu dengan orang-orang asing berpakaian dan berbahasa tidak familiar, yang bingung dalam menentukan siapa yang akan menjadi imam sholat mereka. Sejak aku pertama ke mushola itu, jam 12.00, hingga hampir jam 14.00, mereka tidak juga menemukan imam yang cocok menurut mereka. Lelah menanti, entah bagaimana, akhirnya sholat pun dimulai. Di tengah sholat, tetiba lantai mushola menjadi miring ke depan. Hal ini membuatku sedikit tergelincir ketika ruku' dan beberapa kali nyaris terjongkong ke depan. Namun, ketika sholat selesai, lantai kembali mendatar tanpa miring sedikit pun. Aneh? Memang. Ini mimpi.
Setelah sholat, aku menemuimu. Kamu menunjukkan sesuatu. Ternyata, itu adalah surat tebal yang itu tinggalkan di depan kasir kantin. Aku terheran, mengapa itu bisa menulis surat sepanjang itu, dengan waktu secepat dan tulisan serapi itu? Aku memutuskan untuk membukanya. Kamu sudah menghilang lagi, entah ke mana.
Oh iya! Sebelum kamu pergi dan menghilang, kamu bilang begini ke aku, "Mba, kamu nggak marah ke aku, kan? Aku nggak tahu maksud dia apaan dengan bertindak kayak begitu. Aku sebel banget sama dia. Mba An cemburu, ya? Serius mba aku nggak ada apa-apa dan nggak tahu apa-apa. Dia jahat banget sumpah!" Dan, kamu pergi, tanpa membaca surat itu. Aku terbengong dan membatin, "Ini semua maksudnya apa???"
Aku membaca dengan teliti, surat permintaan maaf yang panjang itu. Tetiba, aku juga ikutan marah. Sebenarnya, itu menuliskan banyak hal, tentang bagaimana itu menyebali orang-orang yang berisik di dunia maya, tentang rumah keduanya yang tidak lagi menyenangkan, tentang orang-orang di sini yang menurutnya aneh, tentang setiap alasan yang membuatnya berubah menjadi seaneh dan semisterius ini. Namun, hal yang membuatku marah hanya satu: Itu salah dalam menuliskan nama lengkapku. Entah kenapa, hal itu membuatku sangat marah. Namun, aku menyimpulkan banyak hal dari ini.
Di antara pengakuan-pengakuan yang ditulis tangan itu, itu menyelipkan ucapan maaf. Itu tidak melakukan itu benar-benar untuk membungkam kamu yang terlalu berisik, tetapi untuk mengusir aku yang terlalu terlihat menyedihkan. Itu meminta maaf sekali. Selain itu, ada juga tulisan tangan dia, si tritagonis yang bermaksud mendamaikan kalian berdua. Tulisannya pun rapi, agak besar-miring ke kanan, dan terlihat begitu sopan-tertata, sangat mencerminkan isinya.
Kamu tahu? Entah mengapa, aku merasa lega, meski sempat marah karena itu salah mengeja namaku. Aku tidak tahu apa maksud dari isi surat ini, tentang penjelasan alasan itu melakukan hal itu kepada kamu, dan semuanya. Namun, entah mengapa rasa lega itu menjalar menenteramkan keingintahuanku.
Aku sebenarnya tidak tahu apa yan terjadi antara kamu dan itu. Apa yang itu lakukan kepadamu setelah tiba-tiba mendekatkan diri kepadamu, menciptakan angle yang tidak baik untuk dilihat? Apakah hal yang seperti dalam drama betul-betul terjadi? Dan apa yang sebenarnya terjadi setelah aku pergi? Aku tidak terlalu peduli. Namun, surat darinya ini...begitu membuatku ingin berhenti.
***
TERNYATA INI SEMUA HANYA MIMPI DI SIANG BOLONG!
Jangan-jangan, aku mimpiin ini karena kamu suka cerita tentang tweet dan keanehan dia. Terus alam bawah sadarku membuat cerita fiksi tentang kalian, hmmm. Lucunya, pas bangun, aku lihat ada WA darimu. Hwahaha. Langsung ketawa guling-guling di kasur, tanpa mikir!
Sering begitu memang, memimpikan orang, abis itu orangnya nge-WA.
Dan ketika aku menceritakan ini kepadamu, kamu pun terpingkal-pingkal menanggapi lewat tulisan, "Ini hari paling super mba nugas ditemani cerita darimu
Ceritane rampung, tugase rampung."
What a ridiculous dream!!! --"
Cast:
Aku sebagai aku
N sebagai kamu
NN sebagai itu
W sebagai dia
Tuesday, 25 February 2014
Di Kelas Biostat Dasar, A201
Setiap angkatan, memang beda-beda kebiasaannya. Haha. Ini anak-anak FKM 2013 yang lagi mengerjakan tugas praktikum kelas Biostatistika Dasar. Mereka lebih suka mengerjakan tugas sambil lesehan. Yep! Selain faktor ruangan yang memang sempit, bisa jadi faktor kenyamanan juga membuat mereka lebih suka ngeleseh. Ini sedang mitinggal dosennya. Namun, meski dosen sedang di dalam kelas pun mereka tetap ngeleseh, haha.
Serba-serbi di tingkat akhir, sembari ngasdos, sembari refreshing dan mengenang masa maba. Haha.
Saturday, 15 February 2014
Yeay!!!
Dia,
Memperoleh peran sebagai pengamat, penurut dan pelaksana, bukan pengomentar dan pemberi keputusan.
Yeay!!!
Dia,
Menuliskan pun sebaiknya hanya tentang kesediaan dan ketepatan, bukan tentang keinginan atau kebebasan.
Yeay!!!
Mereka,
Dijatuhi peran sebagai penyuara dan pencipta suasana, bukan pemalu dan peragu: akankah melangkah maju atau mundur sekalian.
Yeay!!!
Mereka,
Dibiasakan oleh masa untuk menuliskan kabar bahagia dan (katanya) bermakna kepada dunia, tentang rencana yang niscaya diekori kebahagiaan semua kepala.
Mengapa dia tergambarkan semacam penguin bisu tak bisa terbang yang kesepian dan terikat tali kekang, sedangkan mereka bak buruk merak jantan berekor pelangi pagi hari yang siap terbang dan menyapa para pemberi pujian?
Yeay!!!
Haruslah diingat dengan baik
Perjalanan ini,
Terporsi dengan baik dan pasti segera datang masa-masa di mana yang diam akan segera bersuara,
pun pasti akan segera hadir detik-detik di mana yang berisik akan bungkam (karena lelah bicara)
Yeay!!!
Perjuangan ini,
Terbayar dengan setimpal, oleh kejayaan atau peringatan, yang sama bagi keduanya, entah berkoar, entah berdiam.
Tergaransi-terasuransi tak habis, tak terbatas, hingga tercapai benar ci(n)ta di genggaman tangan keduanya, sama rela-sama percaya.
Lantas mengapa masih menggelungkan diri dalam kepulan kata-kata pembeda, peninggi satu sisi, perendah satu sisi lain yang seolah-olah korban kelaliman?
Iri dan dengki,
betapa terkadang dua api dingin ini membutakan pandangan, membebalkan otak dan pikiran, menyelewengkan pilihan kata pengucapan menjadi tak mengenal nilai kemanusiaan.
Tuesday, 11 February 2014
Terima Kasih Mas Indra
Pada suatu malam di semester 3 gue, Mas Indrawan Puspa Negara bilang, "Jenengmu Anifatun? Koe? Anifatun? Deneng maen temen jenengmu? Ujarku Anifatun udu kayak koe wonge. Jebule koe sing jenenge Anifatun? Kemaenen jenenge."
Terima kasih mas Indra. Berkat Anda, gue jadi lebih menyukai nama gue sendiri. Kali ini, gue tidak akan menyertakan "meski" karena nanti dikira berpikir negatif. Namun, sungguh, gue jadi lebih bangga dengan nama gue ini. Memang, sebelumnya, gue rada kurang pede dengan nama gue. Hal ini dikarenakan kebanyakan orang merasakan kesulitan ketika menuliskan atau mengucapkan nama gue. Alhasil, nama gue sering diselewengkan menjadi nama lain. Beberapa nama selewengan yang gue ingat adalah "Animaltun oleh Fajar Adhi Hartanto", "Animonster oleh Ratna Prabawati Nopiutami", "Anikita Willy oleh Huge Djendra Yuningrat", "Anipacul MasyaAllah oleh Danang Swastiko", dan "Afinatun Maesaroh oleh (Alm) Bu Reni".
Dulu, gue menganggap sapaan mereka sebagai nama ejekan atau bully-an, kecuali R.P. Nopiutami yang memanggil Animonster karena gue dulu suka anime dan adanya majalah Animonster, juga (alm) Bu Reni yang memanggil gue Afinatun karena murni faktor kesulitan pengejaan. Namun, setelah malam itu, setelah mas Indra bilang itu, gue tidak lagi merasa "gimana gitu" dengan segala nama julukan yang diberikan ke gue. Gue malah merasa, gue dianggap dekat dan spesial oleh mereka yang memanggil gue dengan "nama spesial". Misalnya "Ani-chan oleh Fauziah Nurmala Sari", "Aniooo oleh Ayu Sya'bani Wulandari MD", "Anyeong Haseo oleh Imam Ahmadi", atau "Anichun oleh Hari Purwito".
Terima kasih, untuk membuat saya tersadarkan tentang keindahan nama saya, mas Indra.
Semoga kehidupan Anda senantiasa selalu menyenangkan dan membuat orang lain seneng.
Friday, 7 February 2014
Tentang Bersyukur
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Berpuluh tahun kehidupan ini selayaknya diisi dengan berterima kasih dan berbagi kebaikan, alih-alih berolah kata dan meronce alasan. Perjalanan Tafakur Alam di hari Senin (3 Februari 2014) lalu dan post Indra Darmawan di blognya yang berjudul (Syukur vs Kufur), pun dari cerita Maghfi di acara tersebut betul-betul menyentil batin.
Wednesday, 5 February 2014
KLB
Tuesday, 4 February 2014
Update dan Cari Perhatian
Kata Umam, orang yang sering meng-update setiap hal yang dialaminya ke dalam jejaring sosial mungkin karena mereka ingin memperoleh perhatian. Pernyataan tersebut membuat gue bertanya-tanya, "Jangan-jangan gue termasuk ke dalam orang-orang yang (terkesan) suka mencari perhatian?"
Pernyataan itu muncul pada saat Amel bertanya, "Apa yang harus aku lakukan ketika menghadapi orang yang begitu suka mengeluh?"
Apakah saat ini, sering update status identik dengan suka mengeluh? Pasalnya, gue memang sering sekali update dan men-tweet. Setelah dipikir-pikir, muatannya memang terkadang berupa kritikan atau rangkuman kejadian selama sehari. Samakah dengan mengeluh?
Tidak hanya status dan tweet, blog pun disebut-sebut sebagai wahana lain untuk curhat atau mengeluh oleh seorang adik kelas, Juned. Dia mengatakannya lewat twitter. Nah! Bukankah hobinya juga mengritik di jejaring sosial?
Selain itu, di dunia nyata, ketika gue bercerita, muatan cerita gue dibilang terlalu pesimis. Gue melakukannya tanpa sadar sebenarnya. Kata mereka, gue terlalu terbiasa memprediksi hal terburuk dari suatu rencana di samping memikirkan hal baik yang akan dicapai. Pemikiran realistis gue menurut mereka bergeser ke arah pemikiran negatif yang diwarnai pesimis dan rasa sensitif berlebih sehingga berakibat buruk pada suasana obrolan atau parahnya pada suasana hati dan semangat orang lain.
Gue memang sangat terlalu mendengarkan dan mempertimbangkan apa kata orang lain. Oleh karena itu, gue parno jangan-jangan apa yang gue lakukan selama ini begitu mengganggu mereka sampai-sampai banyak yang kurang suka dengan sifat gue?
Roland pernah bilang, jangan terlalu mendengarkan apa kata orang. Kalau Tiara lebih menekankan untuk menjadi diri gue sendiri, temukan hidup gue dan jangan cari perhatian. Hal ini membuktikan bahwa gue terlalu menuruti dan ingin menjadi apa yang seharusnya, seperti yang orang lain katakan.
Bukankah ini yang sebaiknya dilakukan? Atau selama ini gue salah mengartikan? Haha! Lihat? Gue masih sangat seperti bocah.
Setelah gue menyelami diri gue selama beberapa saat, memang inilah gue. Gue yang terbiasa karena dibiasakan untuk mengabulkan permintaan orang lain. Gue yang sejak mampu membaca dan menulis lebih terbiasa dan berani meminta, berbicara, memecahkan masalah, meminta maaf dan berterima kasih melalui kata-kata tertulis, entah SMS, surat kecil, gambar dan alur, chatting hingga status dan tweet.
Gue memang sulit menyuarakan pikiran. Pilihan kata gue di dunia pelafalan lebih sedikit dibandingkan di dunia penulisan. Ini yang membuat gue lebih sering menyampah di jejaring sosial, yang justru terbaca sebagai keluhan, kritikan, opini salah paham atau perlawanan yang tidak tersampaikan lewat ucapan.
Sebenarnya, jujur gue tidak terlalu suka eksis dan pamer atau semacam mencari perhatian. Hanya saja memang metode "berpikir dan menuliskannya yang terlalu sering seperti itu" lebih terkesan bersifat atau bertujuan demikian. Sebab ia tercetak, lebih mendetail, tidak mungkin salah dengar kata, dan tidak memiliki intonasi pengucapan. Artinya, setiap pembacanya bebas memaknai dan menciptakan intonasinya sendiri. Namun, sekali lagi saya katakan, sebagai salah satu orang yang sering update status, gue menulis sering kali dengan tanpa ada niat untuk melulu mengeluh, eksis dan mencari perhatian, melainkan begitulah cara ternyaman gue dalam berpendapat.
Jadi malu deh -,-
Sudah tua, tapi cara berpikir gue dan topik pikiran gue masih berkutat pada ini-ini saja.
Sunday, 26 January 2014
Oleh-oleh dari Brownies dan Metana (1)
Terlalu sayang untuk dibuang dua helai kertas ini. Takut hilang, sehingga saya menuliskannya kembali...
Mungkin ini terlihat bodoh karena membuka kartu sendiri. Dan bagi beberapa atau mungkin kebanyakan temanku, isi dari kertas-kertas ini bersifat pribadi dan rahasia. Kenapa aku tidak? Tidak tahu lah.
Saya tegaskan tidak ada maksud pamer, caper atau apaaa dengan menulis catatan ini... Hehe *perasaan pendahuluanne wis mlewer-mlewer temen ya? Serius! Ini serius, hehehe*
Refleksi Kelas X
diperoleh saat sekitar 3-4 minggu setelah masuk SMA
Ani itu...
-Ngga' pelit (my best chairmate)
-Pendiam (personil duo dangkal)
-Pendiam (personil duo dangkal)
-Pinter (corong, ;p)
-Mandan cerewet! (Hidane tehe)
-Suka ngobrol (sobatku yang nomor absennya selalu di atasku)
-Pinter (cewe yang sekarang juga praja IPDN)
-Lumayan bersahabat (penghuni pojok paling sering)
-Asyik (fans berat Cakka Icil)
-Aneh orangnya (master komputer brownies)
-Pinter (Betasonde)
-Biasa aja (tukang tidur)
-Biasa sasaja (pacul!!)
-Ceriwis (teajus, teh botol sosro)
-Nyelelek tapi baik (icha icha di dinding)
-Biasa aja (TePe)
-Diam/kalem (benzena, :p)
-Bersahabat (istri hitler yang berdarah-darah, hehe)
-Pendiam (miss Ikoto Pikorino)
-Calm (caesar brownies)
-Aja cengeng ya, ning pinter bgt (opang, my motivator, :D)
-Baik, mau b'bagi, pinter (my best friend, si genter)
-Pinter, rajin, mau b'bagi (ucup)
-Pinter, mau nyontoni (haha, Abi, reader sejati!)
-Cerewet, baik, pinter (novelis kita, :D)
-Diem" pinter! Cerewet+baik+rajin (daeva, paling teraniaya Fajar)
-Pendiem (timo yang rajin kasih coklat tiap tahun, :9)
-Pendiam misterius (mr. Lebay ever after, hoho)
-Serius, baek. (mba pu3 yang so sweet)
-Pinter, kerajinan (pinky girl, kacamata hitam bening yang antik, he)
-Kalem (uje)
-Baik (sastrawan berbakat, :))
-Baik, care, ya... baik!! (my sharebox)
-Kurang sosialisasi (mahasiswi FITB)
-PD, nies! (mba syif)
-Yakinlah pd dirimu! Ciee... (ratu mencheng)
-Rajin (wahyu)
-Pinter, suka ngelucu juga, baik!! (Lutfi yang so sweet)
Depok, 12 September 2010
Kata Mereka (Ketika Masih Maba)
Keegoisan
Menyelami danaunya sendiri
Menyampahinya dengan tinggi hati
Cerca tak menyadarkannya
Bahkan tangis hanya sebuah fatamorgana
Bukan!
Bukan fatamorgana tapi sandiwara
Aktor tunggal
Sandiwara bercabang yang dibuat-buat
Bagus sekali aku menyebut diri?
Haha
Kata Mama saya manja dan bebehan.
Kata Romo saya sangat bebehan dan boros.
Kata Leli saya pelit.
Kata Tiara saya lemot.
Kata Widya saya ya saya.
Kata Astin saya teman yang langka (kapan gole ngomong ya? Pokoknya itu kesimpulanku, he).
Kata Ayu saya ciwek dan basah.
Kata Rizky saya baik dan welcome terhadap wajah baru.
Kata Dinda, "Yakinlah!"
Kata mba Nia saya konyol.
Kata Jodi saya aneh.
Kata Solie saya wagu.
Kata Gilda saya bingungan.
Kata Wari saya mutungan.
Kata Aris saya cepat marah, ;p.
Kata Wahyu saya keras.
Kata Iam saya gabungan antara humoris dan melankolis.
Kata Alfi saya ceria dan plin plan.
Kata Dede saya pasrah.
Kata Timo saya harus lebih menghargai orang.
Kata Ririn saya cocok jadi author fic gaje.
Kata mba Iie saya pengertian.
Kata "dia" saya saya apa ya? Blablabla Writer?
Kata temennya dia blog saya isinya cerpen.
Kata Ivah saya ceria dan misterius.
Kata Tami saya...saya...?
Kata Anti, "maaf ya, An, aku ngga tahu"
Kata Kuni (idem sama Anti)
Kata mba Hani, "maba maba!"
Kata mba Ria, "Semangat!"
Kata Dewi saya adalah Bu Sutradara.
Kata Martyn, "Aku ngertine nomormu thok!"
Kata Nopi saya cengeng dan selalu berubah-ubah.
Kata Hari saya tidak cocok dipanggil mba.
Kata Amel saya wagu dan melankolis.
Kata ex-- saya seperti mbah-mbah.
Kata beberapa adek kelas saya unik.
Kata beberapa kakak senior, "Youth! Maba!"
Kata Fajar saya misterius dan selalu update status dan nulis di catatan.
Kata Erni saya memang teman basah yang unik.
Kata Kyu kata sya,ani itu org yg..mm,,
emosional,
mdah tBwa emosi,
panikan,
mgkn kdg ska menyalahkan dri sndiri,
kdg ga 'on',
sptY tdk bsa mBgi konsentrasi,
bhasaY tLalu tinggi,
mmg basah sii,hahay..
sptY jg gmpg kBwa pKtaan orla,
ksimpulanY,sptY bgtu (apaY?)..hahay,,
n yg tPntg kata saya adl,"an,sya laper.."
Kata Dila ani itu cocok banget jadi penulis.... *serius g boong
Kata Delisa "kamu orang nya baaaiiiiikkk sekali, jago gambar dan sabar"
Kata Rizky Berli, " Ani memg welcome kok,bnran dah. Anda trmasuk org2 yang pertama welcome mg aku. Kan maune ak r due kanca *emge ski due kanca y?haha*, ak kan tkg curhat ttg th*ee mg kw, kw mnanggapi keluhnku dg sbar bak cust.serv..."
Kata Jeaneria, "Aku setuju sama dhilla"
Kata Iam lagi, "sanguinis ani..."
Kata Erni lagi, " Selalu bkim senyum nek baca ctetanmu an.."
Kata siapa lagi ya???
Hn, kata saya, saya belum menemukan saya itu sosok yang bagaimana. Yang jelas saya moody dan memaksa.
Katamu?
Depok, 17 September 2010
*tapi itu dulu, sekarang apa kata mereka sudah banyak yang berubah*
Rencana Imajinatif (1)
Sepertinya ini adalah catatan ke-2 atau ke-3 milikku yang berjudul "Rencana". Aku memang orang yang sangat susah mengambil keputusan tak terkecuali memutuskan setiap judul catatanku. Alhasil, aku tak pernah ingat judul dari catatan-catatanku yang pernah published. *ngga penting banget sepertinya? (memang!)*
Begini...
Aku menargetkan telah membeli benda itu
Jauh hari sebelum menuju kampung
Sebuah marchandise bertali
Sehingga kau bisa mengikatkannya pada leher jika mau
Aku bersungguh-sungguh ingin membawakan segumpal tanah merah
Supaya kau tahu bahwa aku menginjaknya tiap minggu
Mengenai benda itu, aku ingin menggantungkannya di pohon yang bersandar kokoh di ruang kerjamu
Di mana kacamata pun ikut bergelantungan di dahannya
Aku sangat yakin kau akan mengingatku melalui benda itu
Namun, aku masih tidak tahu benda apa itu
Bahkan memori kita tak mengenal cendera mata
Hanya kontak dan komunikasi yang menjadi syarat sebuah interaksi
Aku meracau setiap bertemu kawan
Meracau tentang kau
Aku tidak tahu apakah kau ingat betul pernah menggila bersamaku
Namun, aku ingin kau tahu aku gila karena kau
Lihat?
Betapa kalimatku kini hancur
Mungkin kau punya andil atas gejala disleksia kalimat ini
Muskil!
Kau selalu menyingkir
Aku punya target
Memberimu sebuah benda tentang kota baruku, saat libur musim dingin berakhir
Awal tahun yang aku kira akan menyenangkan, semoga benar-benar menyenangkan
Kau harus ingat yang mana dahanmu
Aku akan menggantungkan benda itu di dahan yang sama dengan saat dulu kau meletakkan sarang burung woodpecker
Jangan pecahkan rencanaku
Aku punya sesuatu
Kau harus ingat dahan itu
Kau harus ingat tanda dariku
Awas!
"Rof" the Dumb Friend Valentine "sumin" Five
Depok, 17 November 2010
Curhatan Ketika Maba
Aku ingin bercerita. Waktu di sini begitu suka berlari. Atau aku yang terlalu lambat hingga terseok-seok seperti seorang suster ngesot. Tunggu! Suster ngesot bukan orang ya? Berarti apa? Sehantu suster ngesot? Ngomong-ngomong kalau menyebut hantu yang berjumlah satu apa yah? Sebuah, bukan benda. Sekuntum, tambah ngawur. Sehantu? Ah persetan dengan jabatan para hantu-hantu abstrak yang tidak jelas kebenaran dan keberadaannya itu.
Jadi kembali lagi ke topik bahasan awal, waktu. Aku pernah menulis soal ini. Dan ingin lagi. Empat bulan di sini, di Depok, di tanah yang tanahnya berwarna merah seperti tanah kuburan, aku sudah merasa seperti di rumah. Meskipun kadang sebal dan kaget sampai guling-guling (hiperbola) saat mendengar petir-petirnya yang kerasnya tiga kali petir Kebumen (pengukuran dilakukan dengan alat ukur perasaan dan pendengaran), aku sudah kerasan. Namun, satu hal yang masih membuatku bisa menangis tersedu-sedu hingga nyakar-nyakar tembok: "Aku belum mampu menaklukan waktu".
Aku sudah bilang, waktu di mataku, sangat suka berlari. Pernah suatu hari aku tertidur, perasaan baru setengah jam. Tahu-tahu, alarm jam 8 pagi udah berbunyi aja. Padahal waktu itu, rencananya aku mau berangkat latihan MB di gymnasium pukul 8. Oke, kalo soal ini mungkin memang murni kecerobohan, kemalasan, kepikunan, dan kekeboan diriku. Aku ngaku.
Entah aku yang bodoh dalam menghitung menit, atau aku memang kurang menghargai waktu, aku merasa porsi jam pelajaran biologi di SMA yang durasinya 2x45 menit jauh lebih lama dibandingkan porsi jam mata kuliah biologi yang dipatok 2x50 menit per minggu. Sepertinya, semua ini bersumber dari satu sebab, aku belum terlalu mengenal hidupku saat ini dan mampu beradaptasi. Parah? Memang!
Setiap hari Jumat dan Minggu, aku berlatih MB (marching band) di gymnasium atau pusgiwa. Aku datang pukul 4 sore, apel dan pemanasan 10 menit, lalu mulai latihan dengan alat masing-masing. Skip! Skip! Skip! Perasaan baru setengah jam latihan, tapi ternyata, waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, waktunya istirahat shalat maghrib. Jika dihitung-hitung, aku latihan selama 110 menit. Bagaimana mungkin, 110 menit bisa terpotong menjadi 30 menit? Aneh lah aku!
Manajemen waktu yang masih sangat amat sangat sangat buruk sekali, untuk seseorang yang sudah bisa dibilang sebagai mahasiswa. Lalu, bagaimana cara menanggulangi hal ini? Aku membuat semacam jadwal imajiner. Aku mematok waktu untuk setiap kegiatanku. Jika dilanggar, baik oleh aku maupun orang lain, maka aku atau orang lain itu akan mendapat hukuman. Sadis. Hukumannya bermacam-macam, tapi kebanyakan lebih ke sanksi sosial (wahahaha, kesannya kok menakutkan ya??). Biasanya, aku akan marah-marah sendiri, jika jadwal-jadwal imajinerku terlanggar, atau cemberut yang menimbulkan sebuah ekspresi bingung tiada terkira dim mata orang.
Sudahkah berhasil? Lumayan, sedikit sedikit berfungsi. Namun, tiba-tiba ada satu hal yang memporak porandakan jadwal itu. Apa? Sesuatu yang abstrak, sangat abstrak karena tidak terlihat, tidak terdengar tapi terasa. Mungkin aku butuh metode lain, agar aku lebih mampu berpacu dengan waktu sehingga hidupku bisa harmonis. Disiplin!!! Dan dewasalah membagi waktu. Perbaharui skala prioritas dan jangan memikirkan "hal yang tidak-tidak", setidaknyan itulah pesan Mama sejak aku SD yang selalu aku ingat sampai sekarang. Haik! Haik! Haik! Semangat!
With a spoonfull of Love for everyone on the earth, Amarilis said, "Ganbatte ne, mina san!"
Depok, 4 Desember 2010
Tentang Bullying di Zaman SMA
Bisa bertahankah kau di sana, bisa bertahankah, sayang...
Coba bertahanlah,bertahanlah kau di sana...
Coba bertahanlah,sayang...
Semangat mencercaku,sedang berkobar!
Bagi yang mau baca,disarankan jangan! Anda akan bingung!
Wassalam
Terlahir di dunia disambut gelap gulita subuh hari, rasanya cukup bangga rasanya pada diriku sendiri. Orang-orang dulu bilang, "seorang bayi yang lahir di kala langit gelap menjelang subuh, di saat kabut malam menyelimuti bumi, pasti dia adalah orang yang besar, karena mempunyai keberanian tinggi... Baik dalam hal dunia maupun dunia lain."
Memang terlalu umum, dan terlalu luas makna kata-kata tersebut. Tidak khusus lah!!
Toh, aku bangga! Aku tumbuh besar di kalangan orang-orang pedesaan. Orang-orang yang solid,tapi kurang mempunyai keberanian untuk membuat terobosan. Namun, aku terlampau percaya pada mitos orang-orang dulu itu yang diceritakan oleh kakek dan nenekku. Kuanggap diriku sendiri seorang yang pemberani. Kuanggap diriku tak takut pada apa pun, kecuali bapak n ibuQ. Intinya sok-sokan lah...
Aku pun mulai membuat terobosan. Kuikuti jejak sepupuku yang meneruskan pendidikan di smp 1,lalu k sma 1. Kata orang itu sekolah bergengsi.
Masih dengan segunung keberanian, kudatangi 2 sekolah itu (dulu) hampir seorang diri (sebab,keberadaan teman tak terlalu membantuku,aku hampir ditinggalkan sendiri,dan sendiri kusiapkan diriku menggapai mimpiku...). Dengan banyak harapan tergantung...aku menjajal mencicipi aroma kedua sekolah itu.
Selepas smp keberanianku menyusut jadi sebukit, dan di sma ini dia bertanformasi mengubah dirinya menjadi sebesar kerikil foraminifera.
Ironi!!!
Seiring waktu dia terus mengecil, hingga aku takut jangan-jangan dia akan jadi sebesar sel amoeba.
Aku terus coba kembangkan sayap, berharap kerikil itu dapat mengembang pula setidaknya jadi pualam kelam yang lebih kokoh...
Sedikit demi sedikit, kembalilah dia, sekarang dia sebesar batu apung lalu di bulan ke6, sebesar karang coral...
Aku sudah optimis, keberanianku akan menggunung lagi!!
Tapi, kenyataannya bulan ke6 itu bagaikan klimaks dari metamorfose-nya. Dan bulan ke 7 hingga 12 adalah anti klimaksnya.
Sekarang bulan ke12,aku merasa keberanianku hanya sebesar sebutir padi...
Dia dan mereka telah mengikis, memarut-marutnya hingga sebesar itu. Hebat! Sungguh hebat!! Salut aku!
.
Aku mengutuki orang-orang yang memanggilku anikita willy!!!
Kebumen, 22 Juni 2009
Sepi
Tetes-tetes air mataku jatuh untuk kalian...
Di tengah kesepian yang menikam akal sehatku...
Aku teringat kalian...
Teringat dosaku pada kalian...
Teringat tabiat burukku yang tak termaafkan...
Teringat getir senyumku yang penuh paksa untuk kalian...
Tapi tak sedikit pun aku teringat keceriaan bersama kalian...
Hal ini membuatku semakin sepi...
Mungkin sejuta kunang-kunang pun tak mampu menerangi...
Sound system dan alat-alat musik orkestra sepenuh gedung opera australia pun tak mampu meramaikan...
Aku sepi...
Sungguh sepi... Dan lebay...
Ani, sendiri menanti...
Kebumen, 28 Juni 2009
YA AMPUN!!!
Dari dulu emang cengeng gitu ya gue????
Percakapan Lama :)
Status Anifatun Mu'asyaroh:
terlalu lelah selalu kalah. Aku harus bangkit!!!
Semangat,An! Ganbatte ne!
4 Juni 2009
· Batal Suka · 7 Komentar · Bagikan · Hapus
Si Kawan Bisu
Apa mau kalah terus??gak kan??smagat mba ani!!
hehehe
Suka · Hapus · 4 Juni 2009
Anifatun Mu'asyaroh
Hwaha,
terharu aq...
AkhrN kau bsa ngmg dgn bnr jg,b0ng...
Suka · Sunting · 4 Juni 2009
Si Kawan Bisu
Kwe ngmge wis bner esh bang bong bae..genahe ya mbe.....curang
Suka · Hapus · 4 Juni 2009
Anifatun Mu'asyaroh
Haha,ok lah ***...
ADIK kelas yang nylelek...suksess ya!!
Lh dng status ddi wall c lah...
Suka · Hapus · 4 Juni 2009
(Ini pas zaman masih alay)
Saturday, 25 January 2014
Edensor dan Si Kawan Bisu
Friday, 24 January 2014
Dedeknya (1)
Ini adalah dedek Ardi. Dia anak kedua mba Saroh, penjaga kos Wisma Yellow Orchid, tempat gue kos sekarang. Bocah ini lucuuu banget. Umurnya baru 2 tahun 6 bulan, tapi aktifnya minta ampun. Lebih cocok disebut hyperactive sih karena sama sekali tidak bisa diam...
(bersambung)
Monday, 20 January 2014
Betapaaa...
Betapa gue merindukan mereka.
Betapa gue ingin mendengar suaranya.
Betapa gue ingin cinta ini tersampaikan setiap saat.
Bersama mereka kurasakan manis, masam, hambar dan pahitnya cinta, cita dan cerita.
Betapa aku menggantungkan cinta pada mereka dan dirinya.
Betapa aku ingin mewujudkan cita demi mereka dan dengan dirinya.
Betapa aku melewati banyak cerita dalam perjalananku bersama mereka dan semoga untuk selanjutnya bersama dirinya.
Agustus Ke-80
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
Lagu di atas merupakan lagu Amaryllis karya komposer Henri Ghys. Saya memainkannya dengan aplikasi piano pada ponsel saya. Oh iya, mohon...
-
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
“Mau semangka?” “Aku puasa,” jawabnya sekenanya. “Oh, afwan. Nggak pulang, Di?” tanyaku. “Tidak,” jawabnya singkat. “Kenapa...

