'Semoga esok hari, Sabtu, adalah hari terakhir di Kebumen yang menyenangkan dan bermanfaat! Aamiin,' begitulah yang harapan yang aku ucapkan saat aku akan memejamkan mata malam tadi. Namun, namanya juga harapan, apa yang terjadi benar-benar ngga sesuai dengannya.
Aku bangun sangat siang, makan pagi beberapa saat sebelum jam makan siang, tidur siang di jam tidur siang dan guling-guling di kasur seperti kucing cacingan. Huff! Kacau, hancur lebur agenda hari ini.
Entah! Sekali lagi, entah! Setiap aku pulang kampung pasti aku selalu ribut di detik-detik terakhir di kampung seperti ini. Hari ini aku kelabakan karena dalaman jilbabku tak mampu aku temukan di manapun. Dua! Dan keduanya itu pun hilang! Tak nampak batang hidungnya! (eh?? Sejak kapan mereka behidung?)
ish! Aku ingat sekali terakhir kali aku menaruhnya, yaitu di... Diii... Di mana ya? Namun, aku ingat sekali bahwa kemarin aku melihatnya di kamar. Entahlah untuk hari ini. Hadeeeh...
Selalu kacau saja di sehari sebelum berangkat ke depok. Dulu baju yang lupa dikecilin ke penjahit. Dulunya lagi tentang kupon acara skin yang kupa dijual yang membuat aku merepotkan ibuku untuk menemaniku berkeliling dan singgah ke rumah-rumah tetangga.
Dipikir-pikir, aku memang selalu merepotkannya. Sedikit hal yang kuperbuat untuk membantunya di setiap kepulanganku. Uhnn... Mama, maaf ya. Aku masih terlalu kekanak-kanakan dan malas. Aku masih saja ceroboh dan teledor seperti aku yang masih TK dulu. Malu sebenarnya, Ma...
Nasihatmu tiga jam lalu tak akan aku lupakan. Do'akan anakmu yang kurang pandai dan kurang pede ini agar bisa menaikkan kemampuan dan keimanannya di rantau orang ya, Ma...
Aku berangkat! Bye... Ma! :D
Ini tentang melukiskan dunia dalam kata; tentang aku dan jejalanan yang akan atau telah aku lewati; tentang Kawan yang lebih berwarna dibandingkan pelangi; tentang ramainya penjelajah ilmu yang selalu haus memecahkan teka-teki; tentang cinta yang tak kan pernah henti meski listrik mati; dan tentang aku yang masih mencari jati diri. Aku menulis... untuk mempertahankan memoriku hidup lama, jauh lebih lama dari aku menempuhi hidup ini.
Saturday, 10 September 2011
Friday, 9 September 2011
Belajar dari Kenalan (1)
Gue ingat pada seorang teman seangkatan gue.
Entahlah! Nggak seperti biasanya, gue terlalu biasa dan datar saat pertama kali bertemu dengan dia. Biasanya, gue akan selalu tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang orang yang baru gue temui. Namun, entah karena dia terlampau biasa atau dia memang terlalu luar biasa, gue nggak ngerti, gue sangat-sangat tidak tertarik utuk mengenal dia. Hal ini diakibatkan oleh banyaknya isu dan gosip yang mampir di telinga gue tentang dia.
Gue mendengar banyak sekali hal kurang positif mengenai dia. Dia yang gampang "lompat" dari batu loncatan yang satu hingga yang lainnya, tergantung pada secantik apa katak yang berada di atas batu tersebut. Dia yang katanya suka beropini tanpa aksi. Dia yang katanya terlalu mudah meringis dan mudah menekuk semangatnya saat dianugerahi tugas dan cobaan. Yeah! Kurang lebih seperti itulah tentang dia yang gue dengar dari teman-teman seangkatan gue yang lain.
Gue mulai penasaran terhadap dia sejak saat itu. Namun, terlalu malas untuk memulai perkenalan. Toh dia sendiri merupakan tipikal orang yang pemilih dalam mengajak berkenalan. Gue sadar diri, gue nggak mempunyai daya tarik fisik yang menarik perhatian orang-orang. Gue cuek dan nggak peduli.
Hingga suatu hari, keluhan tentang dia dari orang-orang pun berhasil membakar rasa penasaran gue. Suatu ketika, gue berhasil menyampaikan unek-unek orang mengenai dia, tepat di depan hidungnya, dengan blak-blakan, dengan berapi-api mungkin. Saat itu kami berempat, berdiskusi di meja persegi kantin. Mungkin seharusnya ada lima orang, tapi orang kelima itu sedang mencetak sebuah flyer acara besar kami. Teman cewek gue mengingatkan gue untuk tidak terlalu membeberkan keluhan orang tentang "dia" karena dikhawatirkan akan timbul perpecahan dan permasalahan baru, terlebih buat gue. Namun, gue tetap berceloteh. Gue berpikir kalau kejujuran adalah jalan keluar dari semua gosip, salah paham dan fitnah. Gue sangat nggak suka dengan yang namanya menggosip, mengobrol di belakang dan men-judge orang dengan seenak udel.
Gue berharap, dengan gue menyampaikan unek-unek orang tersebut, dia bakal mengerti dan mengintrospeksi dirinya sendiri. Gue nggak pernah bermaksud menjadi seorang pahlawan yang seolah-olah berhasil mengubah seorang anak nakal menjadi anak baik yang rajin menabung. Nggak! Gue cuma pengen tahu bagaimana sebenarnya dia menurut dia, dari sudut pandang dia. Bagaimana dia menyikapi apa yang dikatakan orang. Yeah! Mungkin gue yang terlalu memikirkan pendapat orang tentang gue ini bisa belajar dari metode menghadapi masalahnya. Namun, sepertinya dia OK OK saja, dia nggak terlalu berbuat banyak. Alhasil, dia tetap demikian hingga saat ini. Awalnya, dia sempat kaget sesaat setelah perkataanku, tapi ya tetap biasa saja. Dia lugu dan tulus, tapi memang ada satu sisi yang membuat kejengkelan gue mendarat di atas sisi itu. Dialah dia, memang itulah dia. Gue sama sekali nggak berhak memaksanya berubah menjadi orang dengan watak yang gue inginkan. Egois sekali! Gue tutup kuping tentang dia dan....
Malam itu, gue berhasil membuat dia mengingat nama gue: Anifatun. Dia nggak pernah memanggil gue dengan nama singkat gue: Ani. Ini progress yang cukup besar karena membuat seorang anak laki-laki mengingat nama gue adalah termasuk sebuah peristiwa besar bagi gue.
Suatu dini hari, dia mengajak gue chatting. Gue kaget, karena di mata gue dia itu mengidap penyakit "10% lelaki pemain". Gue udah curiga, kalau dia mempunyai maksud tertentu, astaghfirullohal'adziim... Meskipun gue udah bersusah payah untuk bepikir positif, gerak-gerik dan giringan arah percakapannya memang menjuruskan ke sebuah maksud. Dia memulai percakapan dengan banyaknya tugas UTS yang belum dia kerjakan karena terlalu sibuk memikirkan program dan penyusunan proposal kegiatan tertentu. Gue bilang bahwa kita nggak jauh beda, sebab gue juga belum seiap menghadapi UTS. Blablabla.... Tiba-tiba dia bertanya tentang sebuah nama anak cewek, seorang teman sengakatan kami juga. Cantik dan supel orangnya.
Gue bingung, meskipun hal ini udah gue tebak bakal terjadi sejak awal percakapan tadi. Gue pikir, dia berpikiran kalau gue tipe orang yang blak-blakan dan mudah dimintai keterangan atau info atau bocoran rahasia (mungkin?). Gue memang ingin selalu berkata mengenai kejujuran, kecuali mengenai diri gue sendiri, tapi gue bukanlah tipe orang yang suka membeberkan rahasia, informasi atau sejenisnya yang belum didahului penyelidikan, pernyataan atau kebenaran.
Dia bertanya kepada gue, "Apa yang gue tahu tentang C? Siapa cowok yang dia taksir? Dan kira-kira apa yang C pikirkan tentang dia?"
Gue dengan lantang menjawab, "Oh! Jadi tujuan lo ngajak gue chat? Gue nggak ngerti tentang C, gue bukan orang terdekatnya, dan yang gue tahu C adalah tipe orang yang fokus pada hal yang tidak macam-macam." Gue tidak menuliskan kalimat yang sama dalam chatting tersebut, tapi inti dari jawaban gue adalah seperti itu.
Lalu dia menjawab, "Ah! Sia-sia gue ngobrol panjang lebar!"
Pelajaran yang gue dapat dari mengenal orang ini adalah:
1. Jangan mudah menerima opini dan gosip yang beredar di khalayak umum, meskipun kabar tersebut seolah-olah sangat benar. Tidak ada sebuah kebenaran absolut selain atas kehendak-Nya dan Dialah yang Mahabenar. Gue harus observasi dan kritis menerima setiap informasi.
2. Jadilah seorang yang jujur, tetapi bukan blak-blakan. Kembali ke poin 1, berpikir dan bertindak kritis adalah kunci dari keberhasilan dan kebenaran. Tenang dan tidak gegabah dalam memcahkan sebuah permasalahan.
3. Jangan terlalu mudah menilai orang dari luarnya.
4. Jangan mudah terpancing perkataan orang. Harus fokus dan konsentrasi dalam melaksanakan setiap hal agar tidak terjebak dalam lubang di tengah jalan. Jika gue jatuh ke lubang itu, bisa saja nggak cuma gue yang rugi tapi orang lain, bahkan orang banyak.
5. Lebih berpikir humanis.
6. Jangan mudah emosi dan men-judge orang.
7. Belajarlah menerima orang apa adanya, bagaimana karakteristiknya. Ambil mana yang baik yang mampu diambil dan ingatkan dia manakala dia melakukan sesuatu yang sekiranya memang kurang pantas dihadirkan di depan umum.
8. Percaya pada diri gue, bahwa gue memang bisa dan punya kebisaan.
9. Sabar dan tabah meskipun gue nggak terlalu dikenal. Setelah tabah saatnya berpikir dan beraksi untuk meyakinkan orang lain bahwa gue ada dan gue punya kebisaan. Ini gue dengan bagaiamanya gue dan dengan apa yang gue punya.
10. Tetap semangat, Ani!!!!
Entahlah! Nggak seperti biasanya, gue terlalu biasa dan datar saat pertama kali bertemu dengan dia. Biasanya, gue akan selalu tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang orang yang baru gue temui. Namun, entah karena dia terlampau biasa atau dia memang terlalu luar biasa, gue nggak ngerti, gue sangat-sangat tidak tertarik utuk mengenal dia. Hal ini diakibatkan oleh banyaknya isu dan gosip yang mampir di telinga gue tentang dia.
Gue mendengar banyak sekali hal kurang positif mengenai dia. Dia yang gampang "lompat" dari batu loncatan yang satu hingga yang lainnya, tergantung pada secantik apa katak yang berada di atas batu tersebut. Dia yang katanya suka beropini tanpa aksi. Dia yang katanya terlalu mudah meringis dan mudah menekuk semangatnya saat dianugerahi tugas dan cobaan. Yeah! Kurang lebih seperti itulah tentang dia yang gue dengar dari teman-teman seangkatan gue yang lain.
Gue mulai penasaran terhadap dia sejak saat itu. Namun, terlalu malas untuk memulai perkenalan. Toh dia sendiri merupakan tipikal orang yang pemilih dalam mengajak berkenalan. Gue sadar diri, gue nggak mempunyai daya tarik fisik yang menarik perhatian orang-orang. Gue cuek dan nggak peduli.
Hingga suatu hari, keluhan tentang dia dari orang-orang pun berhasil membakar rasa penasaran gue. Suatu ketika, gue berhasil menyampaikan unek-unek orang mengenai dia, tepat di depan hidungnya, dengan blak-blakan, dengan berapi-api mungkin. Saat itu kami berempat, berdiskusi di meja persegi kantin. Mungkin seharusnya ada lima orang, tapi orang kelima itu sedang mencetak sebuah flyer acara besar kami. Teman cewek gue mengingatkan gue untuk tidak terlalu membeberkan keluhan orang tentang "dia" karena dikhawatirkan akan timbul perpecahan dan permasalahan baru, terlebih buat gue. Namun, gue tetap berceloteh. Gue berpikir kalau kejujuran adalah jalan keluar dari semua gosip, salah paham dan fitnah. Gue sangat nggak suka dengan yang namanya menggosip, mengobrol di belakang dan men-judge orang dengan seenak udel.
Gue berharap, dengan gue menyampaikan unek-unek orang tersebut, dia bakal mengerti dan mengintrospeksi dirinya sendiri. Gue nggak pernah bermaksud menjadi seorang pahlawan yang seolah-olah berhasil mengubah seorang anak nakal menjadi anak baik yang rajin menabung. Nggak! Gue cuma pengen tahu bagaimana sebenarnya dia menurut dia, dari sudut pandang dia. Bagaimana dia menyikapi apa yang dikatakan orang. Yeah! Mungkin gue yang terlalu memikirkan pendapat orang tentang gue ini bisa belajar dari metode menghadapi masalahnya. Namun, sepertinya dia OK OK saja, dia nggak terlalu berbuat banyak. Alhasil, dia tetap demikian hingga saat ini. Awalnya, dia sempat kaget sesaat setelah perkataanku, tapi ya tetap biasa saja. Dia lugu dan tulus, tapi memang ada satu sisi yang membuat kejengkelan gue mendarat di atas sisi itu. Dialah dia, memang itulah dia. Gue sama sekali nggak berhak memaksanya berubah menjadi orang dengan watak yang gue inginkan. Egois sekali! Gue tutup kuping tentang dia dan....
Malam itu, gue berhasil membuat dia mengingat nama gue: Anifatun. Dia nggak pernah memanggil gue dengan nama singkat gue: Ani. Ini progress yang cukup besar karena membuat seorang anak laki-laki mengingat nama gue adalah termasuk sebuah peristiwa besar bagi gue.
Suatu dini hari, dia mengajak gue chatting. Gue kaget, karena di mata gue dia itu mengidap penyakit "10% lelaki pemain". Gue udah curiga, kalau dia mempunyai maksud tertentu, astaghfirullohal'adziim... Meskipun gue udah bersusah payah untuk bepikir positif, gerak-gerik dan giringan arah percakapannya memang menjuruskan ke sebuah maksud. Dia memulai percakapan dengan banyaknya tugas UTS yang belum dia kerjakan karena terlalu sibuk memikirkan program dan penyusunan proposal kegiatan tertentu. Gue bilang bahwa kita nggak jauh beda, sebab gue juga belum seiap menghadapi UTS. Blablabla.... Tiba-tiba dia bertanya tentang sebuah nama anak cewek, seorang teman sengakatan kami juga. Cantik dan supel orangnya.
Gue bingung, meskipun hal ini udah gue tebak bakal terjadi sejak awal percakapan tadi. Gue pikir, dia berpikiran kalau gue tipe orang yang blak-blakan dan mudah dimintai keterangan atau info atau bocoran rahasia (mungkin?). Gue memang ingin selalu berkata mengenai kejujuran, kecuali mengenai diri gue sendiri, tapi gue bukanlah tipe orang yang suka membeberkan rahasia, informasi atau sejenisnya yang belum didahului penyelidikan, pernyataan atau kebenaran.
Dia bertanya kepada gue, "Apa yang gue tahu tentang C? Siapa cowok yang dia taksir? Dan kira-kira apa yang C pikirkan tentang dia?"
Gue dengan lantang menjawab, "Oh! Jadi tujuan lo ngajak gue chat? Gue nggak ngerti tentang C, gue bukan orang terdekatnya, dan yang gue tahu C adalah tipe orang yang fokus pada hal yang tidak macam-macam." Gue tidak menuliskan kalimat yang sama dalam chatting tersebut, tapi inti dari jawaban gue adalah seperti itu.
Lalu dia menjawab, "Ah! Sia-sia gue ngobrol panjang lebar!"
Pelajaran yang gue dapat dari mengenal orang ini adalah:
1. Jangan mudah menerima opini dan gosip yang beredar di khalayak umum, meskipun kabar tersebut seolah-olah sangat benar. Tidak ada sebuah kebenaran absolut selain atas kehendak-Nya dan Dialah yang Mahabenar. Gue harus observasi dan kritis menerima setiap informasi.
2. Jadilah seorang yang jujur, tetapi bukan blak-blakan. Kembali ke poin 1, berpikir dan bertindak kritis adalah kunci dari keberhasilan dan kebenaran. Tenang dan tidak gegabah dalam memcahkan sebuah permasalahan.
3. Jangan terlalu mudah menilai orang dari luarnya.
4. Jangan mudah terpancing perkataan orang. Harus fokus dan konsentrasi dalam melaksanakan setiap hal agar tidak terjebak dalam lubang di tengah jalan. Jika gue jatuh ke lubang itu, bisa saja nggak cuma gue yang rugi tapi orang lain, bahkan orang banyak.
5. Lebih berpikir humanis.
6. Jangan mudah emosi dan men-judge orang.
7. Belajarlah menerima orang apa adanya, bagaimana karakteristiknya. Ambil mana yang baik yang mampu diambil dan ingatkan dia manakala dia melakukan sesuatu yang sekiranya memang kurang pantas dihadirkan di depan umum.
8. Percaya pada diri gue, bahwa gue memang bisa dan punya kebisaan.
9. Sabar dan tabah meskipun gue nggak terlalu dikenal. Setelah tabah saatnya berpikir dan beraksi untuk meyakinkan orang lain bahwa gue ada dan gue punya kebisaan. Ini gue dengan bagaiamanya gue dan dengan apa yang gue punya.
10. Tetap semangat, Ani!!!!
Thursday, 8 September 2011
Nai (1)
Kisah ini tentang Nai. Nai bertemu Robert pada suatu senja larut. Dia memperhatikan Robert yang tampak cupu dengan rambut bergaya John Lennon dan kacamata minus berbingkai besi tak bercat. Kalau kau tahu kacamata milik Harry Potter, kacamata Robert sama sekali tidak mirip dengan kacamata Harry. Jika, kau mengenali dengan pasti kacamata Betty Lavea dan mengira kacamata Robert akan mirip dengan miliknya, maka kau juga salah besar. Pokoknya kacamata itu aneh, dan parahnya, kacamata itu yang membuat Nai tertarik mengamati Robert.
******
Nai sama sekali tidak mengenal Robert hingga suatu hari dia menginjak bulpoin bergambar Spongebob yang terjatuh di samping kaki Robert. Tindakan tidak sengaja Nai membuat bulpoin Spongebob itu tertawa keras khas Spongebob: “Aaahahaha’! Aaahahahha’!” Sontak seluruh mahasiswa di kelas itu pun tertawa terpingkal-pingkal, tak terkecuali Nai dan Pak Matthew, dosen yang sedang mengajar mata kuliah Anatomy saat itu.
Satu-satunya orang yang tidak tertawa hanyalah Robert. Jika kau mengira dia membisu dikarenakan malu, maka kau salah. Dia tidak pernah mengenal kata malu dalam kamus hidupnya. Lalu, jika kau mengira dia diam karena tertidur, maka kau juga sangat salah. Baginya, terlelap di tengah-tengah perkuliahan merupakan salah satu tindakan paling amoral di dunia. Lagipula, dia adalah pemenang lomba nonton tv paling lama tanpa tertidur selama 5 tahun berturut-turut di kotanya. Rekor terlamanya adalah 27 jam 23 menit 5 detik, jadi sangat tidak mudah baginya untuk tertidur di depan dosen saat jam perkuliahan. Lalu apa yang lakukan dalam diam itu? Oh tidak! Dia memang tidak melakukan apa-apa! Dia diam, menatap lurus ke layar dan sesekali mencatat istilah-istilah yang berada di slide.
Jlep! Perlahan gemuruh tawa mulai berhenti dengan sendirinya. Mereka salah tingkah karena melihat Robert yang tak bertingkah sedikit pun. Nai yang awalnya merasa bersalah dan mengira telah membuat malu Robert ke seantero kelas berubah ekspresi mukanya di depan Robert yang tanpa ekspresi. Diambilnya bulpoin Spongebob yang terjugkal parah di lantai dan diserahkannya kepada Robert yang bermuka datar sedatar tembok sambil berkata, “Maaf ya, kawan!”
Diam. Tidak ada respon dari Robert. Nai mulai bosan dengan orang itu. Situasi dan suasana ini semakin terlihat berlebihan saja. Bagaimana mungkin orang ini marah setengah mati hanya karena bulpoinnya terinjak? Akh!
“Maaf, tuan muda yang terhormat! Maaf karena aku telah menginjak bulpoinmu yang lucu ini,” kata Nai seraya menyerahkan bulpoin berwarna kuning cerah itu. Namun, Robert tetap tak menjawab. Dia menunduk tepekur dan khusyuk pada buku catatannya. Hal ini membuat Nai sangat kesal hingga membuatnya setengah berteriak, “Hei, tuan muda cupu berkacamata kuda! Aku sedang bicara padamu!”
‘Berhasil!’ pekik Nai dalam hati. Akhirnya, Robert mengalihkan pandangannya ke Nai. Kacamatanya tebal dan berbingkai besi tak berwarna, menyembunyikan sebuah kilatan mata tajam yang mampu membekukan nyali siapa pun yang menatapnya. Siapa pun atau hanya Nai?
“M... Mm-aaf!” hanya kata itu yang mampu Nai ucapkan.
“Sudah empat kali kau mengucapkan kata maaf. Apa kau hanya mengenal kata itu? Oh iya, sepertinya kau salah alamat,” jawab Robert tenang memandang lurus ke arah mata Nai. Penghuni kelas yang lain seolah-oleh terhipnotis oleh percakapan mereka, bahkan Pak Matthew berhenti memainkan mouse komputernya. Sebaris adegan telenovela seakan tengah berputar di layar yang tertancap tengah kelas. Nai salah tingkah untuk yang kesekian kalinya menerima terpaan aura teman-teman dan dosennya yang super berlebihan itu.
“Apa maksudmu dengan salah alamat, tuan?” tanya Nai seperempat emosi.
“Bolpoin itu bukan milikku, tapi milik gadis berbaju kuning di sebelahku yang saat ini sedang ke kamar mandi,” jawab Robert sambil menunjuk sebuah kursi kosong di sampingnya. Tiba-tiba terdengar suara kekehan tertahan dari seluruh penghuni kelas itu. Robert tak lagi memandang Nai. Perhatiannya telah beralih kepada sebuah buku tebal di hadapannya yang sedang ia bolak-balik. Deg! Angin topan superkencang seakan baru saja menerpa kepala Nai hingga membuatnya jatuh tertunduk keras dengan awan-awan hitam memayungi di atasnya.
“Siapa namamu?” tanya Nai dengan kepala yang masih tertunduk.
Krekk! Suara pintu kelas terbuka diikuti masuknya seorang gadis berambut coklat tua panjang dan berbaju kuning cerah. Dia menuju kursi di mana Robert dan Nai berada. Diliriknya sebuah benda kuning yang tergeletak di meja Robert dan tiba-tiba dia berteriak, “Aaaaa! Robert! Terima kasih telah mengambilkan bolpoin itu. Akhirnya kamu perhatian juga sama aku. Aaaa *^$#*^&$#!@%#$@&^%$#E#$………” kata gadis itu dengan cerewetnya kepada Robert.
“A… Arigatou, R..R-obert-san!” kata Nai membuat si gadis berbaju kuning berhenti mengoceh.
Robert terdiam dengan wajah yang masih menghadap ke buku. Tak ada yang tahu bahwa sebenarnya dia kaget karena Nai tiba-tiba berkata terima kasih. Dia menoleh kepada Nai, memandang matanya sejenak, lalu menyunggingkan kedua sudut bibirnya dengan sangat simetris. “Iie… Douitashimashitte, Nai-chan!”
“………”
(bersambung)
Depok, 30 Desember 2010
******
Nai sama sekali tidak mengenal Robert hingga suatu hari dia menginjak bulpoin bergambar Spongebob yang terjatuh di samping kaki Robert. Tindakan tidak sengaja Nai membuat bulpoin Spongebob itu tertawa keras khas Spongebob: “Aaahahaha’! Aaahahahha’!” Sontak seluruh mahasiswa di kelas itu pun tertawa terpingkal-pingkal, tak terkecuali Nai dan Pak Matthew, dosen yang sedang mengajar mata kuliah Anatomy saat itu.
Satu-satunya orang yang tidak tertawa hanyalah Robert. Jika kau mengira dia membisu dikarenakan malu, maka kau salah. Dia tidak pernah mengenal kata malu dalam kamus hidupnya. Lalu, jika kau mengira dia diam karena tertidur, maka kau juga sangat salah. Baginya, terlelap di tengah-tengah perkuliahan merupakan salah satu tindakan paling amoral di dunia. Lagipula, dia adalah pemenang lomba nonton tv paling lama tanpa tertidur selama 5 tahun berturut-turut di kotanya. Rekor terlamanya adalah 27 jam 23 menit 5 detik, jadi sangat tidak mudah baginya untuk tertidur di depan dosen saat jam perkuliahan. Lalu apa yang lakukan dalam diam itu? Oh tidak! Dia memang tidak melakukan apa-apa! Dia diam, menatap lurus ke layar dan sesekali mencatat istilah-istilah yang berada di slide.
Jlep! Perlahan gemuruh tawa mulai berhenti dengan sendirinya. Mereka salah tingkah karena melihat Robert yang tak bertingkah sedikit pun. Nai yang awalnya merasa bersalah dan mengira telah membuat malu Robert ke seantero kelas berubah ekspresi mukanya di depan Robert yang tanpa ekspresi. Diambilnya bulpoin Spongebob yang terjugkal parah di lantai dan diserahkannya kepada Robert yang bermuka datar sedatar tembok sambil berkata, “Maaf ya, kawan!”
Diam. Tidak ada respon dari Robert. Nai mulai bosan dengan orang itu. Situasi dan suasana ini semakin terlihat berlebihan saja. Bagaimana mungkin orang ini marah setengah mati hanya karena bulpoinnya terinjak? Akh!
“Maaf, tuan muda yang terhormat! Maaf karena aku telah menginjak bulpoinmu yang lucu ini,” kata Nai seraya menyerahkan bulpoin berwarna kuning cerah itu. Namun, Robert tetap tak menjawab. Dia menunduk tepekur dan khusyuk pada buku catatannya. Hal ini membuat Nai sangat kesal hingga membuatnya setengah berteriak, “Hei, tuan muda cupu berkacamata kuda! Aku sedang bicara padamu!”
‘Berhasil!’ pekik Nai dalam hati. Akhirnya, Robert mengalihkan pandangannya ke Nai. Kacamatanya tebal dan berbingkai besi tak berwarna, menyembunyikan sebuah kilatan mata tajam yang mampu membekukan nyali siapa pun yang menatapnya. Siapa pun atau hanya Nai?
“M... Mm-aaf!” hanya kata itu yang mampu Nai ucapkan.
“Sudah empat kali kau mengucapkan kata maaf. Apa kau hanya mengenal kata itu? Oh iya, sepertinya kau salah alamat,” jawab Robert tenang memandang lurus ke arah mata Nai. Penghuni kelas yang lain seolah-oleh terhipnotis oleh percakapan mereka, bahkan Pak Matthew berhenti memainkan mouse komputernya. Sebaris adegan telenovela seakan tengah berputar di layar yang tertancap tengah kelas. Nai salah tingkah untuk yang kesekian kalinya menerima terpaan aura teman-teman dan dosennya yang super berlebihan itu.
“Apa maksudmu dengan salah alamat, tuan?” tanya Nai seperempat emosi.
“Bolpoin itu bukan milikku, tapi milik gadis berbaju kuning di sebelahku yang saat ini sedang ke kamar mandi,” jawab Robert sambil menunjuk sebuah kursi kosong di sampingnya. Tiba-tiba terdengar suara kekehan tertahan dari seluruh penghuni kelas itu. Robert tak lagi memandang Nai. Perhatiannya telah beralih kepada sebuah buku tebal di hadapannya yang sedang ia bolak-balik. Deg! Angin topan superkencang seakan baru saja menerpa kepala Nai hingga membuatnya jatuh tertunduk keras dengan awan-awan hitam memayungi di atasnya.
“Siapa namamu?” tanya Nai dengan kepala yang masih tertunduk.
Krekk! Suara pintu kelas terbuka diikuti masuknya seorang gadis berambut coklat tua panjang dan berbaju kuning cerah. Dia menuju kursi di mana Robert dan Nai berada. Diliriknya sebuah benda kuning yang tergeletak di meja Robert dan tiba-tiba dia berteriak, “Aaaaa! Robert! Terima kasih telah mengambilkan bolpoin itu. Akhirnya kamu perhatian juga sama aku. Aaaa *^$#*^&$#!@%#$@&^%$#E#$………” kata gadis itu dengan cerewetnya kepada Robert.
“A… Arigatou, R..R-obert-san!” kata Nai membuat si gadis berbaju kuning berhenti mengoceh.
Robert terdiam dengan wajah yang masih menghadap ke buku. Tak ada yang tahu bahwa sebenarnya dia kaget karena Nai tiba-tiba berkata terima kasih. Dia menoleh kepada Nai, memandang matanya sejenak, lalu menyunggingkan kedua sudut bibirnya dengan sangat simetris. “Iie… Douitashimashitte, Nai-chan!”
“………”
(bersambung)
Depok, 30 Desember 2010
Thursday, 25 August 2011
Serial Aisyah Adinda edisi ke-3 (Malam Ramadhan)
SERIAL AISYAH ADINDA
Sayup-sayup, terdengar petikan lagu “Puisi Cahaya Bulan” dari handphone Dinda: Bagai letusan berapi bangunkanku dari mimpi...
“Din! Dinda! Bangun, Din! Itu alarm hp kamu udah meraung-raung dari tadi! Ishh… ini anak! Milih nada alarm kok yo kayak gini! Yo malah makin nyenyak to tidurnya! DINDA! BANGUN! SAHUR!!!” kata tante Odah setengah berteriak. Logat jawanya serta merta muncul bersamaan dengan nada suaranya yang meninggi.
Dinda tak bergeming. Nafasnya pelan beraturan khas orang tidur. Akhirnya, tante meluncurkan “jurus pemutus tidur” andalannya. Diraihnya telepon genggam dari saku baju gamis, lalu menekan-nekan tombol gulirnya. Tiba-tiba, terdengar bunyi sirine ala mobil pemadam kebakaran dengan suara supermaksimal di dalam kamar Dinda. Si Dinda yang kaget pun melonjak bangun dan berteriak, “BUKA! BUKA! Sudah waktunya BERBUKA! Nyam… sambal terong!”
Dinda berlarian tak tentu arah, meraih jilbab dan hendak keluar kamar ketika tante Odah sudah siap menghadang di depan pintu dengan mimik wajah serupa tokoh Mpok Odah di sitkom Office Boy. Hening. Lalu sebuah cubitan gemas dari tante Odah mendarat mulus di pipi Dinda. “Auuw! Sakit, Tante!” seru Dinda. Tante Odah pun nyengir dan berkata, “Hanya ingin memastikan bahwa kamu sudah benar-benar bangun, Din. Ayo! Buruan rapikan jilbabnya! Yang lain udah nunggu buat sahur bukan buka! Haha.”
Dalam dua menit, mereka berdua sudah sampai di ruang makan. Om Radit dan si kembar Nizar-Nizam sudah berada di sana lebih dulu. Nizar, si kakak yang berumur 6 tahun, memulai percakapan di dini hari itu. “Hayoo! Kak Dinda, semalam salat tarawih ngga?”
Deg! Gelegar petir tiba-tiba terdengar keras di telinga Dinda. ‘Astaghfirullohal’adzim! Kelewatan! Abis shalat Isya’ aku langsung ngerjain aransemen musik pesanan Luna, terus ketiduran. Nanggung banget sih. Padahal tadi itu malam ke-21. Malam ganji!l Uh!’ batin Dinda, penuh penyesalan. Dengan sok tenang padahal salah tingkah, Dinda pun menjawab pertanyaan Nizar. “Uh! Anak kecil mau tau aja! Nizar sendiri gimana? Tarawihnya dapat berapa rakaat? Bolong-bolong ya?” ledek Dinda.
“Semalam, kami salatnya full tahu kak!” timpal Nizam, si adik yang lebih muda 3 menit dari Nizar. “Betul banget!” tambah Nizar.
“Oh ya? Pasti gara-gara semalam itu malam ganjil kan? Jadi, ibadahnya lebih semangat? Uh! Sayang banget ya, kakak malah ketiduran, soalnya siapa tahu semalam itu malam Lailatul Qadr,” jelas Dinda panjang lebar yang dibalas dengan pandangan tidak mengerti dari kedua sepupu kecilnya itu.
Seperti mampu membaca ekspresi bingung si kembar, Tante Odah pun angkat bicara. “Ehm-ehm! Begini ya, anak-anak! Semua hari di bulan Ramadhan itu sama spesialnya. Sepuluh hari pertama adalah hari yang penuh rahmat dan barokah, lalu 10 hari kedua disebut dengan maghfiroh atau pengampunan dan 10 hari terakhir disebut itsfunminannar yaitu malam pembebasan dari api neraka. Di 10 hari terakhir ini, di salah satu malam ganjilnya, ada malam di mana amalan yang kita lakukan di malam ini akan menjadi lebih baik dibandingkan amalan yang kita lakukan di setiap malam selama 1000 bulan. Namanya adalah Lailatul Qadr, malam yang lebih baik daripada malam 1000 bulan.”
Om Radit pun ikut bicara, “Nah! Fadlilah dari setiap hari itu akan kita peroleh jika seluruh ibadah kita dilakukan dengan maksimal, tanpa pandang malam ganjil atau genapkah saat ini. Iya kan, Din? Setiap malam memiliki kelebihan masing-masing, tentu saja jika kita melakukan ibadah termasuk salat tarawih dengan ikhlas lillah. Kelebihan tersebut adalah akan dibangunkannya istana dari cahaya yang berkilauan oleh Allah Swt., bagi orang-orang yang melaksanakan salat tarawih di malam ke-21. Untuk orang yang bersalat tarawih di malam ke-22 maka akan dijauhkanlah dia dari duka dan nestapa saat di hari kiamat. Lalu untuk yang salat di malam ke-23, Allah secara khusus akan membuatkan taman indah di syurga. Bahkan bagi orang yang shalat tarawih di malam ke-24, Allah akan mengabulkan 24 macam permintaannya. Subhanallah kan, Nak?”
Dinda, Nizar dan Nizam hanya terdiam dengan ekspresi berbeda. Nizar dan Nizam mendengarkan ayah dan bunda mereka dengan mata berbinar-binar. Begitu juga Dinda. Namun, Dinda menyembunyikannya binaran itu di balik air sehingga membuat matanya berkaca-kaca. Ia malu kepada Allah karena masih membedakan porsi ibadahnya pada malam ganjil dan genap di bulan Ramadhan.
“Kalau begitu, ayo kita mulai sahurnya!” kata tante Odah tiba-tiba diikuti gerakan siap siaga dengan sendok dan garpu di tangan kanan dan kiri.
“Itadakimasu!” seru si kembar bersamaan, memraktekan hasil belajar pelajaran bahasa Jepang level 1 di sekolahnya. Kaget, tante Odah pun menegur mereka dan menyuruh mereka untuk melafadzkan do’a sebelum makan dengan benar. Dinda dan om Radit hanya tersenyum gemas. Ramadhan memang selalu spesial. Apa pun harinya, apa pun malamnya.
Sunday, 21 August 2011
Ramadhan...
‘Allahu akbar… Allahu akbar…’ Sayup-sayup suara penyeru kebesaran Tuhan mulai terdengar, merdu bersautan, menuntun mataku melirik ke ufuk barat nan memerah merona. Beberapa orang membuat barikade teratur mengelilingi meja berukuran sedang yang tidak biasanya tampak manis menggiurkan dengan gelas-gelas berisi sejenis limun segar di atasnya. Tepat di samping meja, kudapati kolong “rumah kegiatan” kampusku yang tampak lebih putih dari biasanya. Subhanallah! Ternyata puluhan pejuang baru kampus ungu telah tiba. Kostum serba putih yang menyelimuti lantai 1 BKM seolah menandakan lembaran baru mereka yang siap mereka isi dan tulisi perjuangan yang melahirkan sejarah. Entahlah ikut menyambut atau apa, tanpa sadar selarik syair lagu Selamat Datang Pahlawan Muda meluncur ringan dari bibirku.
Hari itu bertepatan dengan pertengahan Ramadhan tahun ini, pun bertepatan dengan berakhirnya (untuk sementara waktu) salah satu kegiatan paling tak terlupakan oleh kebanyakan para mahasiswa FKM, OKK IM FKM UI. Dua kali tak kulewatkan kegiatan tersebut. Meski dengan status berbeda, umur berbeda, partner berbeda, tugas serta kewajiban berbeda tetapi tetap saja makhluk bernama OKK ini selalu menyisakan banyak kesan yang tak terlupakan. Kesan tak terlupakan, bukankah tidak selalu berbentuk sesuatu yang menyenangkan? Dan kurang lebih kesan yang kudapat bukanlah sesuatu yang menyenangkan apalagi menyakitkan. Alih-alih itu semua, kesan itu berupa pembelajaran yang mendewasakan dan mengingatkan kita untuk selalu ingat dan bersyukur kepada Allah.
Hampir seharian penuh selama dua hari tersebut, aku berkubang di ruangan ber-AC, meneliti coretan tangan dan kreasi pejuang termuda di kampus ungu saat ini. Lalu dalam hati aku berkata, “Alhamdulillah, terima kasih untuk udara dingin dan segar yang senantiasa bertiup mengusir kegerahan di Ramadhan siang ini. Alhamdulillah, terima kasih untuk kesempatan yang telah Engkau berikan sehingga saya dapat mengenal para pejuang ini melalui pola pikir mereka yang tertuang di atas helai-helai kertas ini. Alhamdulillah, terima kasih Yaa Rabb Yang Maha Bijaksana yang telah menempatkan saya di antara orang-orang hebat saat ini bahkan selama setahun ini di sini.”
Kupandangi sekeliling ruangan. Ruangan yang dulu pernah kuhuni selama 300 menit setiap minggunya untuk mengikuti perkuliahan MPKT. ‘Sedikit tampak lebih menyenangkan dibandingkan setengah tahun yang lalu,’ pikirku. Mungkin setengah tahun lalu pressure dan atmosfernya berbeda dengan saat ini sehingga ruangan ini terasa lebih nyaman. Beberapa orang mengantuk karena saking nyamannya. Salah! Mereka terlalu lelah setelah bekerja keras bersama dengan yang lain demi kesuksesan kegiatan ini dan terwujudnya tujuan kegiatan bagi para mahasiswa baru ini. Kalian benar-benar hebat! Dan aku yakin mereka yang tadi berbalut kostum putih itu juga mempunyai kehebatannya sendiri. Sungguh aku terkejut saat komitmen mereka benar-benar terpenuhi. Seratus persen datang lebih baik dari on time merupakan bukti yang tak terbantahkan: bahwa mereka punya keyakinan, bahwa mereka tak ragu berjuang, bahwa mereka datang ke kampus ini tak untuk main-main. Jujur, aku sempat merasa kalah dari mereka.
Saat Ramadhan, iman dan kesabaranmu benar-benar diuji, memanglah benar ungkapan itu. Aku bertemu seseorang, sesama pejuang 2010. Tak dekat, kurang kenal dan tanganku terbuka untuk menyambutnya. Menit berlalu, asyik. Beberapa menit kurang enak pun tiba-tiba hadir, saat si pejuang itu mengungkapkan kata IP. Dia sejajarkan diriku dengan orang-orang pintar yang mempunyai skala mendekati sempurna. Terusik, aku menyela, “Gara-gara IPU?” Yeah! Sudah kuduga, siapa yang tidak mengenalku gara-gara IPU? Pemilik NPM ditandai kuning karena nilai Kuis dan UTS-nya tak setimpal. Orang yang selalu memperoleh nilai sempurna di kuis hari Rabu. Siapa yang tak mengenalku? Siang ini semakin gerah. Kurasakan panas yang menjalar dari leher hingga pipi dan dahiku. Sontak emosiku menaik. Aku mulai menenggelamkan kepala ke dekapan tanganku sendiri. Aneh! Perilaku yang sangat aneh dipandang orang lain. Namun, aku tak peduli. Lebih baik aku mengingsut seperti itu, meracau tidak jelas dibandingkan berteriak atau berkata keras kepada orang lain. Seperti orang gila saja! Tanpa sadar aku mulai menggumamkan kata-kata dengan jelas, “Lupakan saya, ngga usah inget-inget saya. Saya ngga mau dikenal, ngga usah inget-inget Ani.”
Siapa wanita yang tidak salah tingkah saat orang di hadapannya tiba-tiba berperilaku aneh sepertiku? Seolah merasakan beban penderitaanku, si pejuang wanita 2010 yang tiba-tiba seperti telah kenal lama itu tiba-tiba berbicara, “Maaf ya, Ani, kalau perkataanku membuatmu sedih, membuatmu ingat hal tersebut.” Sebenarnya aku tidak terlalu mempermalahkan perkataannya yang sebelumnya. Aku hanya sedang sedikit mengutuki diriku sendiri saat itu. Aku yang selalu tidak mampu bertindak maksimal di saat yang seharusnya perlu tindakan supermaksimal. Pun aku yang selalu down dan memikirkan setiap hal dengan rumit seolah-olah dunia akan kiamat jika aku tidak memikirkannya dengan rumit dan teliti. Aku mulai menyadari bahwa diriku memang masih sangat belum bisa dikatakan dewasa saat itu. Seorang dewasa mungkin akan tenang menghadapi kondisi seperti itu, berpikir jernih dan menjawab segala halnya seperti seorang putri Indonesia. Ah… OKK memang mengesankan. Ramadhan ini memang penuh kejutan. FKM UI tampaknya masih asing bagiku. Ini memang aku yang terlalu suka mengasingkan diri pastinya. Namun, keikutsertaanku di perjuangan di tengah Ramadhan kali ini, toh membuatku semakin tidak asing dengannya dan dengan mereka.
Keberadaanku di kampus berakhir setelah shalat Maghrib berjama’ah. Asyik sekali shalat berjama’ah sebenarnya. Namun, kenapa aku lebih suka shalat sendiri? Aku merasa aku memang terlalu suka mengasingkan diri. Sungguh Yaa Rabb, saya tak ingin asing di hadapanmu, tak ingin mengasingkan diri darimu, atau membuat-Mu asing bagiku karena terlalu sibuk dengan urusan sendiri dan lupa bersyukur dan berkomunikasi dengan-Mu. Sungguh Yaa Rabb, saya hanya terlalu tidak menyukai di tengah banyak orang, meski saya tahu bertemu dan bersilaturahmi dengan banyak orang mempunyai banyak sekali manfaat yang salah satunya memperpanjang umur. Maaf Yaa Rabb, saya pun sedang berusaha mengatasi fobia orang ini. Saya suka bertemu orang, hanya saja saya takut tersakiti dan menyakiti orang lain.
Ramadhan tahun ini seharusnya sangat indah…
Dan memang sepertinya akan lebih indah jika aku lebih percaya pada diri, lebih menjauhi dendam, lebih melupakan dan meperbaiki keburukan serta lebih mendekat kepada Allah…
Wednesday, 3 August 2011
Banguuun...
Udah berapa abad ya, gue ngga corat-coret dengan tulisan sendiri dengan sepenuh hati di blog gue yang tergeje ini? Kangen juga... Kangen jadi orang geje! Wiuw, I love geje! #abaikan
Ini Ramadhan hari ke-3, ini Agustus tanggal 3, ini hari ke-3 di minggu pertama Agustus ini... Waaah... Agustus dan Ramadhan tahun ini sepertinya memang akan spesial karena mereka saling berimpit. Kalau menurut status teman SMA gue, tahun ini seolah mengulang moment kemerdekaan Indonesia 66 tahun silam. Kemerdekaan Indonesia yang berlangsung khidmat dan dengan persiapan kilat, 17 Agustus 1945 bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan 1368 H, juga di hari yang sama di mana malam sebelumnya Al-Qur'an diturunkan. Jadi, kenapa gue menuliskan ini, ya? Hadeeh... dengan ini maka dimulailah ketidakjelasan catatan gue kali ini. Oh iya... Gue berharap di tahun yang insya Allah spesial ini, tahun dengan impitan waktu yang cukup menakjubkan seperti duplikat peristiwa paling bersejarah bagi negeri ini, gue mampu menemukan keajaiban, kemerdekaan dan kebaikan bagi seluruh orang, juga gue.
Yeah...
Gue... Gue yang selalu berpikir nyaris selalu pesimis dan rumit ini, yang selalu berdalih berpikir realistis untuk menyamarkan kepesimisan gue ini, bertekad ingin menjadi manusia yang lebih mengenal diri dan bangga terhadap diri gue sendiri, tanpa harus menengadahkan kepala, tanpa meninggikan hati melampaui nyonya Eifel yang congkak (aamiin). Di samping itu, gue pengen bisa ngomong. Ya Tuhan... sembilan belas tahun lebih gue hidup, tapi cara ngomong, kualitas ngomong dan keberanian ngomong gue masih kayak anak SD aja. Gue malu pada semua orang dan diri gue sendiri setiap saat gue menjadi garing dan susah menggiring orang ke puncak, puncak omongan gue, intinya. Aiiishh... Gimana dong?
Ini liburan awal semester... Dan gue harap di ujung liburan ini, gue bakal menjadi Ani baru yang lebih bisa berpikir positif. Huff! Udah berapa karung yang udah gue pakai but menampung kata-kata ungkapan niat itu ya???? Mungkin lo juga bakal bosen kali ya saat baca niatan ajeg gue, yeah...meskipin itu kali pertama lo membacanya.
Liburan ini, gue stay di Depok. Kebumen, udah gue tinggalin sejak tanggal 22 Juli lalu. Gue ikut rangkaian OKK, kali ini bukan sebagai maba, tapi sebagai panitia. Sehari lalu, gue udah mulai putus asa dengan gue yang selalu ngga bisa berbuat maksimal. Gue hampir bisa dibilang bohong di siang bolong, di tengah puasa lagi. Gue ijin telat dateng Welcome Maba 2 dengan alasan mengerjakan tugas Danus dan Bakpao. Namun.....
tiba-tiba gue dikagetkan oleh kritikan superpedas dari Tehe tentang kinerja bidang Danus kepanitiaan Rajawali Perhimak UI. Gue panik dan langsung ingin bertindak, entah tindakan apa, yang penting gue pengen bertindak biar bisa dapet link, dapet dana, lalu mewujudkan itu acara. Yeah...gue sempat sedikit membicarakan ketidakseriusan PO dengan acara ini, tapi gue langsung menampar pikiran negatif itu. Gue itu tahu, kalau PO acara ini sangat serius untuk mewujudkan acara ini, acara yang merupakan impiannya dari zaman SMA dulu. Lalu gue mencoba tenang, gue tampar lagi iklan-iklan pikiran supernegatif yang siap menggoda gue untuk lebih bersu'udzan. Namun...
Semua itu udah agak terlambat. Gue udah izin ke Irma, PJ gue di OKK, bahwa gue ngga bisa dateng WM 2 karena harus ngurusin danus kegiatan Perhimak. Nah, gue itu emang selalu telat nyadar. Kesadaran yang begitu lola itu telah memibikin gue makan acak-acakan kemarin Selasa. Rencana ngurusin danus dan ngobrol masalah danus dengan Hari ngga lancar. Gagal. Udah gitu, saat gue berpikir mau dateng ke WM 2, rasa maulu, gengsi dan males gue bener-bener telah memukul mundur niat gue untuk dateng. Akhirnya gue cuma menggeliat-geliat kayak cacing kelaparan di kamar Iam... Gue... gue merasa sangat merugi dan berdosa kemarin. Parahnya, hal parah lain pun seperti mengikuti keparahan itu hingga malam datang. Gue ngga shalat tarawih berjamaah di masjid. Astaghfirulloh... Nakal sekali saya ini, yaa Rabb. Maaf... :(
Huah!!
Sekarang gue ngga mau melakukan hal-hal galau lagi!!! Gue harus meluruskan dan mewujudkan niat! Gue harus komit dan konsist pada tujuan gue untuk bisa membuat gue bener-bener seorang gue yang sukses.
Kemarin, gue cari info lomba menulis cerpen. Gue baca-baca beberapa lomba beserta ketentuan dan syaratnya. Lalu di salah satu lomba gue dapati temanya adalah kemerdekaan. "Kemerdekaan... Kemerdekaan."
Kata-kata itu seolah-olah bergaung-gaung di kepala gue. Gue juga pengen merdeka! Gue pengen bangun dari kemalasan gue!!! Gue pengen bisa mewujudkan keajaiban, kemerdekaan dan kebaikan, di tahun di mana Hari Kemerdekaan terulang kembali, tanggal 17 Agustus 2011.
Gue bertekad untuk mengituti itu lomba, walaupun gue ngga yakin gue bakal bisa menyelesaikan cerpen itu, mengingat deadline penyerahan naskah cerpen adal 5 Agustus 2011. Gue ngga berharap gue menang atau sejenisnya. Gue hanya berharap gue bisa banngun lalu mengejar lagi cita-cita, ambisi atau yeah.... mimpi yang udah dari dulu gue susun saat gue belum "bangun betul" itu.
Bismillahirrahmanirrahiim... Ridhoi saya, yaa Allah... :D
Ini Ramadhan hari ke-3, ini Agustus tanggal 3, ini hari ke-3 di minggu pertama Agustus ini... Waaah... Agustus dan Ramadhan tahun ini sepertinya memang akan spesial karena mereka saling berimpit. Kalau menurut status teman SMA gue, tahun ini seolah mengulang moment kemerdekaan Indonesia 66 tahun silam. Kemerdekaan Indonesia yang berlangsung khidmat dan dengan persiapan kilat, 17 Agustus 1945 bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan 1368 H, juga di hari yang sama di mana malam sebelumnya Al-Qur'an diturunkan. Jadi, kenapa gue menuliskan ini, ya? Hadeeh... dengan ini maka dimulailah ketidakjelasan catatan gue kali ini. Oh iya... Gue berharap di tahun yang insya Allah spesial ini, tahun dengan impitan waktu yang cukup menakjubkan seperti duplikat peristiwa paling bersejarah bagi negeri ini, gue mampu menemukan keajaiban, kemerdekaan dan kebaikan bagi seluruh orang, juga gue.
Yeah...
Gue... Gue yang selalu berpikir nyaris selalu pesimis dan rumit ini, yang selalu berdalih berpikir realistis untuk menyamarkan kepesimisan gue ini, bertekad ingin menjadi manusia yang lebih mengenal diri dan bangga terhadap diri gue sendiri, tanpa harus menengadahkan kepala, tanpa meninggikan hati melampaui nyonya Eifel yang congkak (aamiin). Di samping itu, gue pengen bisa ngomong. Ya Tuhan... sembilan belas tahun lebih gue hidup, tapi cara ngomong, kualitas ngomong dan keberanian ngomong gue masih kayak anak SD aja. Gue malu pada semua orang dan diri gue sendiri setiap saat gue menjadi garing dan susah menggiring orang ke puncak, puncak omongan gue, intinya. Aiiishh... Gimana dong?
Ini liburan awal semester... Dan gue harap di ujung liburan ini, gue bakal menjadi Ani baru yang lebih bisa berpikir positif. Huff! Udah berapa karung yang udah gue pakai but menampung kata-kata ungkapan niat itu ya???? Mungkin lo juga bakal bosen kali ya saat baca niatan ajeg gue, yeah...meskipin itu kali pertama lo membacanya.
Liburan ini, gue stay di Depok. Kebumen, udah gue tinggalin sejak tanggal 22 Juli lalu. Gue ikut rangkaian OKK, kali ini bukan sebagai maba, tapi sebagai panitia. Sehari lalu, gue udah mulai putus asa dengan gue yang selalu ngga bisa berbuat maksimal. Gue hampir bisa dibilang bohong di siang bolong, di tengah puasa lagi. Gue ijin telat dateng Welcome Maba 2 dengan alasan mengerjakan tugas Danus dan Bakpao. Namun.....
tiba-tiba gue dikagetkan oleh kritikan superpedas dari Tehe tentang kinerja bidang Danus kepanitiaan Rajawali Perhimak UI. Gue panik dan langsung ingin bertindak, entah tindakan apa, yang penting gue pengen bertindak biar bisa dapet link, dapet dana, lalu mewujudkan itu acara. Yeah...gue sempat sedikit membicarakan ketidakseriusan PO dengan acara ini, tapi gue langsung menampar pikiran negatif itu. Gue itu tahu, kalau PO acara ini sangat serius untuk mewujudkan acara ini, acara yang merupakan impiannya dari zaman SMA dulu. Lalu gue mencoba tenang, gue tampar lagi iklan-iklan pikiran supernegatif yang siap menggoda gue untuk lebih bersu'udzan. Namun...
Semua itu udah agak terlambat. Gue udah izin ke Irma, PJ gue di OKK, bahwa gue ngga bisa dateng WM 2 karena harus ngurusin danus kegiatan Perhimak. Nah, gue itu emang selalu telat nyadar. Kesadaran yang begitu lola itu telah memibikin gue makan acak-acakan kemarin Selasa. Rencana ngurusin danus dan ngobrol masalah danus dengan Hari ngga lancar. Gagal. Udah gitu, saat gue berpikir mau dateng ke WM 2, rasa maulu, gengsi dan males gue bener-bener telah memukul mundur niat gue untuk dateng. Akhirnya gue cuma menggeliat-geliat kayak cacing kelaparan di kamar Iam... Gue... gue merasa sangat merugi dan berdosa kemarin. Parahnya, hal parah lain pun seperti mengikuti keparahan itu hingga malam datang. Gue ngga shalat tarawih berjamaah di masjid. Astaghfirulloh... Nakal sekali saya ini, yaa Rabb. Maaf... :(
Huah!!
Sekarang gue ngga mau melakukan hal-hal galau lagi!!! Gue harus meluruskan dan mewujudkan niat! Gue harus komit dan konsist pada tujuan gue untuk bisa membuat gue bener-bener seorang gue yang sukses.
Kemarin, gue cari info lomba menulis cerpen. Gue baca-baca beberapa lomba beserta ketentuan dan syaratnya. Lalu di salah satu lomba gue dapati temanya adalah kemerdekaan. "Kemerdekaan... Kemerdekaan."
Kata-kata itu seolah-olah bergaung-gaung di kepala gue. Gue juga pengen merdeka! Gue pengen bangun dari kemalasan gue!!! Gue pengen bisa mewujudkan keajaiban, kemerdekaan dan kebaikan, di tahun di mana Hari Kemerdekaan terulang kembali, tanggal 17 Agustus 2011.
Gue bertekad untuk mengituti itu lomba, walaupun gue ngga yakin gue bakal bisa menyelesaikan cerpen itu, mengingat deadline penyerahan naskah cerpen adal 5 Agustus 2011. Gue ngga berharap gue menang atau sejenisnya. Gue hanya berharap gue bisa banngun lalu mengejar lagi cita-cita, ambisi atau yeah.... mimpi yang udah dari dulu gue susun saat gue belum "bangun betul" itu.
Bismillahirrahmanirrahiim... Ridhoi saya, yaa Allah... :D
Monday, 25 July 2011
Untuk Dia, Siapa Lagi Kalau Bukan Dia??
Menulislah, kawan! Please, menulislah...
Di saat-saat seperti ini, aku tiba-tiba selalu ingat kawan bincang bisuku. Hai kawan! Masih kawanmu kah aku? Hahai... Aku ingat warnamu, hijau menyala seperti kertas jadwal yang tertempel di tembok utara kamarku. Aku juga masih ingat guyonanmu yang entah kenapa selalu aku nantikan saat aku bosan, haha. Kau benar-benar jadi tempat pelarian. Saat bosan carilah kau sampai ketemu. Sudah berapa puluh kali aku menulis tentang kau di jejaring sosial ini? Dan mungkin kau sempat membacanya. Anehnya kau hanya diam.
Download: www.ieType.com/f.php?F6RzTN
Hai, kawan... Perkataanku terlalu abstrak kah, hingga kau tak pernah mengerti artinya? Aduh! Aku selalu punya masalah dengan kemampuan verbal. Pfiuh...fiuh...
Oia, kawan... Kudengar kau akan segera menempuh hidup baru? Selamat ya? Melihatmu mengenakan kostum itu adalah salah satu hal yang menyenangkan dalam daftarku. Uhn... Itu, itu lho.. Sebenarnya, kamu itu siapa sih?
Aku udah ngomong panjang lebar tinggi, kok ternyata kita ngga saling kenal dan ngga pernah saling sapa? Aku ingin suatu saat nanti, entah kapan, entah saat aku sudah menua renta tak punya daya dan kau juga sama saja hanya saja masih berlari bermain voli, atau entah kapan yang lain, aku ingin kita saling bertegur sapa. Waduh! Aku lupa! Sepertinya itu susah. Sepertinya kita sudah mulai pikun tentang ini ya?
Namun... aku sangat berharap, suatu saat nanti kita mengobrol walaupun hanya untuk melemparkan julukan abnormal kita yang saling tertuju satu sama lain. Dan satu lagi harapanku, kau mau menulis. Aku ingin sekali membaca tulisanmu selain tulisan-tulisan konyol yang mampu membuatku tertawa terguling-guling, tapi tulisan lain, tulisan yang dengan aku membacanya, aku mampu menerka seperti apa kau sebenarnya. Menulislah, kawan! Please, menulislah... Dan undang aku turut serta ke dalamnya....
Wednesday, 22 June 2011
Rabu, 22 Juni 2011
hey! Saya ngga ngerasa begitu! Cuma saya emang ngga suka keramaian... Gimana caranya mengubah ekspresi muka menyeramkan itu?? :(
Subscribe to:
Comments (Atom)
Agustus Ke-80
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
Lagu di atas merupakan lagu Amaryllis karya komposer Henri Ghys. Saya memainkannya dengan aplikasi piano pada ponsel saya. Oh iya, mohon...
-
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
“Mau semangka?” “Aku puasa,” jawabnya sekenanya. “Oh, afwan. Nggak pulang, Di?” tanyaku. “Tidak,” jawabnya singkat. “Kenapa...