Wednesday, 20 October 2010

Pujian Itu Lagi

Rabu ini, saya memposting tiga buah catatan dalam satu jam. Catatan itu sudah berumur sih. Sudah ada sejak zaman SMA yang polos, sama polosnya seperti sekarang.
Ehnn... Beberapa teman di fb bilang kalau catatan saya bagus, saya cocok jadi penulis, saya ini, saya itu, pokoknya yang baik-baik mulu. Padahal aku betul-betul membutuhkan saran dan kritik yang bisa membangun dan memperbaiki tulisanku yang masih tidak informatif itu.
Namun, hanya beberapa orang saja dari sejumlah orang yang saya tag, yang memberikan komentar mengarah kritik. Saran-saran yang ada sejauh ini adalah agar melanjutkan menulis dan mengirimkan beberapa tulisan untuk menghasilkan uang. Ini mungkin tidak sih??? Sepertinya ide-ide yang masuk sangat mustahil. Secara saya masih awam, bahasa saya masih dangkal, tidak informatif dan masih sangat jauh dari kesan komersial. Saya sungguh kecewa karena belum ada seseorang pun yang benar-benar tertarik me-review catatan-catatan gaje saya. Sungguh! Saya semakin tidak yakin dengan kemampuan saya. Saya semakin susah percaya pada perkataan orang lain karena berbagai hal. Saya takut mereka berbohong tentang kualitas tulisan saya yang pernah mereka baca. Saya resah sendiri karena memikirkan hal-hal tidak penting begini. Entah mengapa ini penting bagiku. Saya memang keras kepala, dan kerasnya sudah sekarang batu marmer dilapid baja tujuh lapis.
Saya itu semakin terbebani dengan adanya pujian yang berlebihan seperti itu. Saya orangnya cepat GR tapi juga suka memperkirakan hal-hal atau kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan mendatangi saya. Sayaaaa sungguh merasakan sakit kepala yang sangat karena tidak adanya tanggapan yang bisa diolah lagi untuk saya...
Please... SAYA BUTUH SARAN dan KRITIK, huhu

Friday, 8 October 2010

Refleksi Jumat Kelabu

Aku adalah seseorang yang susah untuk berpendapat. Aku pikir semua teman dekatku tahu, orang macam apa aku ini. Suka mengeluh, gampang panik, emosional, suka jalan-jalan sendiri, egois, parah, sok tahu dan pesimis, serta banyak sekali kekurangan lainnya.
Suatu saat nanti, aku ingin menjadi seseorang yang bisa berbicara, mudah mengutarakan maksud dan pikiran, dapat menanggapi masalah dengan tenang, cerdas, dan solutif. Namun, aku yang ada saat ini adalah aku yang sangat sangat menjengkelkan. Aku pesimis bisa mencapai keinginanku itu. Susah!
Entah hal apa yang bisa aku lakukan agar aku dapat menjadi seorang cendekia. Entah! Aku sendiri suka bingung mengenai apa yang ada di pikiranku. Aku tidak mudah menangkap materi, susah mencerna perkataan orang, dan malas mendalami hal=hal yang sudah tidaak aku sukai sedari awal.
Hal inilah yang sedang terjadi saat ini. Aku sangat tidak menyukai mata kuliah ****. Ketidaksukaanku ini berimbas pada mata kuliah lain. Sebenarnya kau ingin sekali menyukai pelajaran lain karena aku sudah berniat sejak akhir Ujian Nasional bahwa aku akan menjadi orang hebat, orang yang pintar dalam perkuliahan nanti. Aku akan berusaha menyukai Fisika yang dari dulu menjadi momok bagiku. Aku akan mencintai lagi Biologi yang sudah lama kau tinggalkan dan campakan.

Namun, semuaaaaaaaaaaaaaa itu susah sekali. Aku bingung mau memulai perwujudan niat itu dari mana. Puncaknya, aku betul-betul down karena aku harus presentasi topik tertentu untuk mata kuliah **** yang sangat tidak aku sukai itu. Bawaannya tegaaang terus di jam kuliah ini. Sampai-sampai aku lupa untuk mengumpulkan LTM nya. Entahlah, apa aku masih boleh mengumpulkannya nanti-nanti.

Yaa Allah, aku berserah kepada-Mu akan apa yang terjadi padaku nanti, esok, minggu depan dan masa-masa yang akan datang nanti. Aku yakin Kau lah Pembuat Skenario Kehidupan Paling Indah, Paling Keren dan Palingtepat bagi kami. Aku siap menuruti garis-Mu. Yaa Allah, cuma satu yang aku ingankan untuk bekalku dalam hidup ini, terangkan jalan pikiranku demi mencapai ridho-Mu. Yaa Rabb Yaa Tuhan kami...

Thursday, 7 October 2010

Mendung!

Depok sering hujan sebulan ini. Lewat pukul empat, serbuan air langit pasti datang ke tanah rakyat. Tanah rakyat Depok yang dihibahkan demi berdirinya sebuah universitas yang menyandang nama bangsa, Universitas Indonesia.
Tulisan ini jauh dari puitis, tak ada hubungannya dengan mengkritisi, mendeskripsikan sesuatu atau hal-hal keren lain. Ini murni sebuah tulisan ecek-ecek yang tidak bermakna dan pula tidak meninggalkan pesan moril. Maaf! Saya sedang down!
Inilah puncaknya! Perasaan benar-benar seorang diri, benar-benar jauh dari orang tersayang.
Saat aku ditinggalkan oleh teman FGD.
Saat aku menjauhi mereka karena takut mengganggu mereka dengan keanehanku.
Saat aku merasa orang yang kuanggap sebagi sahabat terbaikku tak pernah melirikku, bahkan saat berdua saja.
Saat aku hanya berteman laptop dan handphone di dalam kamar asrama yang sempit dan jorok.
Saat aku duduk di keramaian taman bougenville kampus fkm sambil menulis posting-postingan di blog ini.
Saat aku hanya menangis sendiri... dan memang aku selaqlu sendiri.

Aku memang seorang yang sagat mudah mengeluh. Dan aku bersyukur, karena blog ini jarang dikunjungi. So, akan hanya sedikit orang yang tahu sifat goblokku ini.

Mungkin tidak pantas menuliskan hal-hal bodoh dan tidak sopan seperti ini di sini.
PARAH MEMANG!!!

Mendung banget!!

Saturday, 2 October 2010

When I Came Join "Them"!!!

Minggu ini adalah minggu paling menggalaukan.
Galau?
Ya. Itu predikat baru yang kusandang, pemberian cuma-cuma dari sahabatku Tiara.
Minggu lalu, dari tanggal 16-26 September, aku merasakan hal yang enak dan menyenangkan bagiku. Berkutat dalam dunia yang kusuka. Musik. Aku tak pandai di bidang ini, tapi aku tetap suka. Feel-nya berbeda dengan saat aku harus berpandai-pandai berpikir memakai logika untuk memecahakan soal-soal Fisika dan Matematika.
Madah Bahana adalah UKM yang aku ikuti. UKM? Apa itu UKM? Aku juga ngga tahu, haha *ditimpuk pake sandal bakiak*. UKM itu sama halnya seperti ekstrakurikuler kalau di SMP dan SMA.
Lalu apa itu Madah Bahana? Kalau yang satu ini, aku tahu! Haha *takut ditimpuk sama komandan latihannya sih, he*. Madah bahana itu marching band. tahu kan?? Kalau ngga tahu, saya sudah siap pegang durian untuk menimpuk kalian, hehe... Awalnya, beberapa teman dari Kebumen merasa aneh dengan pilihanku. Seperti yang kalian tahu, latihan MB pasti capek, sampai malam dan memakan banyak waktu. Aku pun paham, sadar, tahu, mengerti dan sebagainya. Namun, bagaimana lagi? Aku pengen dan aku penasaran, so ya sudahlah... Dicoba saja dulu! *sambil senyum-senyum, gaje*
Aku datang dari Kebumen lebih cepat yaitu tanggal 15 September. Padahal mulai kuliah tanggal 20 September. Untuk apa? Untuk Madah Bahana, yeey! Itu pun aku sudah membolos hari pertama. Di hari kedua itu, aku kebingungan saat pertama datang. Masing-masing orang sudah tahu alat musik apa yang harus mereka pegang. Sedangkan aku? Karena telat, aku cuma mlompong.
Beberapa menit kemudian, upacara apel dimulai! Aku pun bingung. Cara berbaris dan gerakannya sangat jauh berbeda dengan PBB biasa. Jika biasanya kita telat, kita akan menempati barisan terkahir, tapi kalau di sini justru sebaliknya. Akhirnya aku menempati barisan pertama, pikirku saat itu. Namun, aku merasa ada hal yana aneh. Bukannya apel itu orangnya mengumpul dengan satu komandan berada di pusat? Kok ini peserta apelnya malah saling berpunggungan. Aku tidak berani clingak-clinguk. Malu, kelihatan oon-nya. Haha.
Tidak lama kemudian, terdengar komando berbunyi "bla..bla..bla" *maaf kuping saya error saat itu*. Sontak, seluruh peserta melakukan gerakan balik kanan dengan gerakan yang aneh. Sedangkan aku? Aku yang bingung masih menghadap arah yang sama (belum berbalik) sehingga punggungku dapat melihat punggung orang yang di belakangku. Seseorang yang baik di sampingku, mencolek bahuku membuatku tersadar, bahwa aku salah arah. Hwahahahaha.... Maluuuuu...
Satu-satunya kebenaran yang kulakukan adalah aku berda di tengah barisan yang benar. Itu pun bukan suatu kebenaran sempurna. Andai kau tahu, hampir saja aku berbaris dengan anak-anak section Colour Guard kalau tidak ada seorang kakak yang menarikku ke barisan Perkusi. hehehe...
Ehmm... Mungkin kalian ingin tahu, perkusi itu dibagi lagi menjadi 2 section. Betrie dan Pit. Lalu Betrie dibagi lagi menjadi 4, yaitu Quintom, Bass Drum, Snare dan Cymbal. Ada yang tahu semua alat itu?? Mau tahu?? Ohh...tidak. Ceritanya panjang! Tidak usah ya!! hehe
Seperti yang sudah saya katakan tadi, saya belum tahu alat apa yang akan menjadi alat pegangan saya. Oleh karena itu saya bertanya pada sang kakak, "Kak, saya pegang alat apa?"
Sang Kakak menjawab, "Kok nanya? Emang kemaren waktu tes disuruhnya pegang alat apa?"
Aku hanya ber-sweatdrop ria karena si Kakak malah balas bertanya. Menyadari kebingunganku, sang Kakak pun sepertinya mengerti. Lalu ia membawaku ke Kak Dea, sang Mantek. Usut punya usut, perkusi itu memang harus menajalani serangkaian tes lagi. huahahhaha... payah lah!
Akhirnya aku diputar-putar ke sana ke mari, coba alat itu coba alat ini, pukul sana pukul sini. Capek sekali....
Sudah capek begitu bingung lagi karena tidak tahu aturan PBB di Marching Band ini.
Sedang asyik dengan kebingunganku itu, tiba-tiba terdengar tepukkan tangan bak seorang ibu-ibu memanggil tukang sayur... "Prok prok prok!!! dst"
Aku (lagi-lagii) karena tidak tahu, akhirnya meresponnya dengan hanya berdiri. Padahal yang lain sedang bersiap-siap entah mau apa. POkoknya parah sekali deh aku.
Nah, ada seorang Kakak yang berbisik-bisik, "Dek, siap, Dek. Kita mau apel!"
Akhirnya kita pun apel penutupan latihan hari itu. Aku? Tentu saja ikut, dengan modal PBB biasa, aku nyante-nyante saja dan pede pede saja. Hehehe.
Oh iya, aku kan pengen sekali dapat alat musik Pit. Pit itu bentuknya seperti Bellyra atau Bells. Pokoknya bernada deh bunyinya. Kan aku suka, hehehe. Alhasil, setelah pulang latihan siang itu, aku berdo'a sepanjang hari sepanjang malam kepada Allah Yang Mahakuasa agar bisa berkesempatan mempelajari alat itu....

Dan keesokan harinya!
BINGO!!!!!!!!!!!!!!!! Alhamdulillah.... Dapat, euy! senang sekali.....

Monday, 30 August 2010

Experience is Gold (part 5): "Mr. Wilson"

Namun, aku tak pernah menyangka bahwa kami betul-betul tidak disambut seperti ini. Mungkin benar apa yang dikatakan Sandra, penginapan ini kosong.
Karena tidak juga ada suara, aku pun menjadi penasaran. Dengan hati-hati aku melangkah memasuki penginapan diikuti keempat temanku. Tangan kananku masih memegangi pintu, mencoba memperkecil gerakan pintu yang dapat membunyikan bell nyaring itu lagi. Kami menemukan sebuah ruangan --mungkin dapat disebut lobi penginapan-- berpenerangan neon redup dan berlantai hitam kelam dari batu pualam. Dindingnya berlapis kertas dinding berwarna coklat kusam yang aku yakin dulunya pasti berwarna krem dengan corak keemasan. Keemasan? Lagi-lagi keemasan? Hn! Sebuah meja tinggi panjang terletak di tepi pintu masuk yang tampaknya berfungsi sebagai meja resepsionis. Hn, ini penginapan tua yang besar, terawat dan mahal kalau dijual. Ada yang merawatnya? Itu berarti penginapan ini kemungkinan memang masih disewakan. Dan aku sedang mulai berpikir untuk memanggil si empunya penginapan ketika Karen "kring...kring...kring..." lagi-lagi berulah --memencet-mencet bell resepsionis dengan antusias. Dia betul-betul bertingkah seperti anak kecil diberi sekarung permen sekarang, senang tak alang kepalang. Sammy dan Sandra pun hampir tak mampu memisahkannya dari bell berlukisan angsa kembar itu. Hn, bahkan bell pun ada lukisannya? Detail sekali segala hal di tempat ini? Menarik.
Ulah Karen pun membuahkan hasil. Tiga orang laki-laki berbeda usia tiba-tiba berlari dari arah tak terduga ke arah kami. Satu orang di antaranya tampak berumur sekitar 60 tahunan, sedangkan yang lain tak tertebak. Postur tubuh keduanya yang mungil sempat membuatku berpikir apakah aku baru saja memasuki kerajaan liliput?
Si orang tua pun mulai bicara diiringi nafasnya yang berkejaran, "Se..selamat datang di penginapan ini. Saya Mr. Wilson pemilik penginap..pan ini. Ad.. Ada yang bisa kami bantu?" Di akhir ucapannya pun dia masih terlihat ngos-ngossan. Kasihan.
"Iya. Terima kasih kami dari Hogsmitry sedang mencari Horsehouse. Tapi karena kemalaman, akhirnya kami memutuskan untuk mencari penginapan dan kami menemukan tempat ini. Jadi kami pesan lima kamar untuk kami. Terima kasih," ucap Sammy dengan lancar, sopan dan intonasi pidato yang tepat diakhiri senyum lebar yang memukau. Sungguh jika aku seorang gadis aku akan terpesona padanya. Tapi karena aku bukan perempuan, aku hanya beriya-iya sambil mengangguk-angguk seperti demonstran yang tak tahu apa-apa mengiyakan ucapan pemimpin demonya.
Lama sekali kami menunggu reaksi dari Mr. Wilson. Dia tak juga menanggapi kami dan terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Apa orang ini sedang bertelepati? Ah aku meracau lagi. Namun, aku pikir ekspresi wajahnya memang terlalu cepat berubah setelah mendengar ucapan Sammy. Ada yang aneh kah dengan kami?
"kriiiing..." Terdengar suara bell yang lagi-lagi dipencet oleh Karen. Kali ini sudah keterlaluan karena dia berhasil membuat Mr. Wilson melonjak kaget sambil memegang dada kirinya. Hampir saja dia menimpa dua orang mungil yang ada di sampingnya.
"Maaf! Maaf ta...tadi saya sedang melamun. Oh iya, kalau boleh saya tahu ada urusan apa kalian ke Kastil Lu... Maaf maksud saya Horsehouse. Padahal jarak Hogsmitry sangat jauh dari sini," kata Mr. Wilson setelah beberapa detik. Nada bicaranya berubah drastis dari ramah menjadi panik. Dan kenapa dia tiba-tiba hampir menyebutkan nama kastil itu, tapi tak jadi? Tatapan matanya pun penuh selidik. Ada apa sebenarnya? Aku lihat Sammy pun sama curiganya denganku. Sepertinya kami berdua berpikiran sama tentang orang ini. Dia aneh! Seperti hari ini!
"Tidak ada apa-apa. Kami hanya ingin berlibur. Anda tahu kan? Berkuda, itu sangat menyenangkan. Yeah! Cowboy Amerika! Huhuhu..." jawabku asal-asalan. Aku sendiri bingung kenapa aku mengatakan itu. Sungguh aku geli sendiri melihat tingkahku menari-nari dan berteriak ala Indian, padahal tadi aku menyebut cowboy. Kurasakan panas di wajahku. Pasti mukaku merah sekali sekarang. Alih-alih itu aku melempar pandangan pada Sean dan Sandra yang sedang membekap mulut Karen sambil menahan tawa. Syukurlah mereka berdua bertindak cepat. Jika tidak, mungkin Karen sudah mengatakan yang sebenarnya tanpa bisa direm.
"Boleh kami minta kunci kamarnya?" kataku setelah aku dapat mengatasi rasa maluku.
"Tentu! Ini dia!" kata Mr. Wilson disertai senyum yang dipaksakan. Sepertinya dia menyadari kecurigaanku sehingga dengan cepat dia mengubah air mukanya. Lalu dia menyuruh dua orang pegawainya tadi yang ternyata bernama Chuck dan Jones untuk mengantarkan kami ke kamar.
Kami pun meninggalkan lobi dengan cepat karena ingin segera memeluk selimut dan bantal. Saat aku menengok ke belakang kulihat Sammy yang juga sedang berlaku sama denganku. Aku mendekatinya dan bertanya, "Ada apa, Sammy?"
"Mr. Wilson terus mengawasi kita hingga kita berbelok ke koridor ini dan hilang dari pandangannya. Memangnya kita terlihat seperti penjahat?" jawab Sammy....

Experience is Gold (part 4): "Penginapan Calmbell"

"APA? Jadi kamu baru dapat SIM kemarin sore? Gila!! Tidak meyakinkan sekali! Aku mana mungkin bisa menyetir, Sean, umurku baru 16 tahun! Ah kau ini!" kataku pada Sean setengah kesal membuat dia terbingung-bingung.
Aku sendiri juga bingung kenapa aku tiba-tiba marah begitu. Mungkin itu disebabkan oleh kondisi badan dan pikiran yang sudah sama-sama lelah. Kulihat keempat temanku juga sama bingungnya denganku sehingga aku memutuskan angkat bicara.
"Ya sudah lah! Maaf tadi emosi sesaat. Hehe. Lebih baik sekarang kita lanjutkan mencari penginapan. Okay?" kataku berharap dapat mencairkan suasana.
Kulihat bibir Sean komat-kamit menggumamkan beberapa umpatan ringan yang pastinya untukku. Darimana aku tahu dia mengumpat? Ah, itu memang sudah kebiasaannya. Aku sudah hafal. Dia memang berbeda dengan Sammy yang tenang atau boleh dibilang sok cool. Hehe.
Mobil melaju pelan di tepian malam dan jalanan yang basah. Binatang malam mulai menyanyikan intro dari theme song malam hari. Kedengarannya katak-katak lah yang mendominasi orkes malam yang basah ini. Gerimis pun belum mereda, sedangkan mobil yang kami naiki sudah hampir dehidrasi.
"Penginapan Calmbell 100 meter lagi," ucap Sandra.
"Apa? Mana di mana? Oh yeah, kau benar Sandra! Aku bisa melihat papan itu. Oke tinggal masuk gang dan kita akan segera sampai. Akhirnya, aku bisa melepaskan jari-jari kerenku dari setir mobil yang membosankan ini. Kenapa di mana-mana setir mobil bentuknya seperti ini? Aku besok mau bikin yang bentuk... " cerocos Sean sangat panjang dan lumayan lebar.
"Cerewet sekali kamu! Dasar kodok! Makan saja sekalian itu setir biar mulutmu bisa diem. Rewel!" kata Karen memotong ucapan Sean dengan tajam setajam samurai. Menurutku, Karen tak akan pernah akur dengan Sean sebelum perang dunia ketiga pecah.
Sepanjang seratus meter jalan aspal menuju penginapan itu, penerangan semakin buruk. Pepohonan berjajar semakin rapat seolah-olah ingin bergandengan. Gelap dan lagi-lagi mencekam. Aku lihat Sandra kembali membuat jok bergetar. Mungkin dia bakal berpikir tujuh kali untuk menginap di penginapan itu melihat lingkungan di sekitarnya seperti ini. Ah lagi-lagi aku mengkhayal. Lama-lama aku tertular penyakit Sammy nih, berkhayal tanpa batas.
Sebenarnya aku merasa aneh. Di tempat seperti ini, begitu mudahnya ditemukan penginapan. Apa mungkin laku? Apa di sini banyak pengunjung dan turis? Hn! Aneh!
"Kita sampai! Horrree!" teriak Sammy dan Sean bersamaan seperti anak ayam tersesat bertemu induknya . Kali ini sepertinya Sammy lupa kalau dia sedang berlaga cool. 'Thank's God!' batinku.
Benar dugaanku! Sandra mulai menampakkan tampang tampang panik dan ketidaksetujuannya. Dia pun mulai bicara dengan suara sedikit bergetar, "Apa kalian tidak merasa penginapan ini aneh? Apalagi pohon ek yang itu. Bukanlah dia terlalu menyeramkan? Apa kita serius mau menginap di sini? Mungkin saja ini penginapan kosong dan sudah ditutup. Le.. lebih baik kita c..cari yang lain ss..saja.... Atau...." Sungguh Sandra semakin gawat karena mulai terbata-bata seperti itu.
Karen pun mulai bertindak. Ia mengitari pohon. Menelitinya dengan seksama bak seorang ilmuwan memainkan mikroskop. Setelah memutari pohon itu setidaknya enam kali, tiba-tiba ia berteriak keras dengan telunjuk terangkat ke atas, "PANTAS! Pantas saja dia tampak aneh! Dia memang aneh. Dia sakit. Pohon ini mengalami gizi buruk. Daunnya menggulung dan kulit batangnya terkelupas di sana-sini. Itulah yang bikin dia aneh! Kasihan banget kamu. Huhu! Yah aku tahu kan? Hebat kan aku?" Selama beberapa saat Sandra merasa senang karena ia kira Karen sependapat dengannya mengingat ekspresi bicara Karen pada awalnya begitu meyakinkan. Namun, ucapan hipotesa atau malah simpulan si gadis penyuka biologi ini sungguh sangat berakhir sad ending bagi kami sehingga cukup membuat kami sweatdropped akut.
Aku heran kenapa teman-temanku semakin tak jelas begini di saat seperti ini di tempat yang tidak tepat seperti ini. Oh My... Help me!
"Hey! Teman-teman, apa kita mau semalaman menunggui pohon ini? Kalau aku sih mau tidur saja. Aku masuk dulu ya. Bye..." kata Sammy sambil berlalu menuju pintu masuk penginapan.
"TUNGGU AKU!!!" teriak aku, Sean, Karen dan Sandra bersamaan dengan Sandra yang hampir boleh disebut meraung.
Entah bagaimana caranya, Sean sudah sampai di depan pintu masuk lebih dulu. Untuk hal-hal yang cepat-cepat dia memang sangat bersemangat. Selama kurang lebih dua detik mata birunya terpaku pada gagang pintu yang bercat keemasan. Lalu diputarnya gagang pintu itu hingga pintu terbuka. Klinthing... Suara bell berbentuk sinterklas yang terpasang di balik pintu bergemerincing keras. Aku yakin si resepsionis penginapan akan terkaget mendengarkan bunyinya yang membahana memecah kesunyian. Ya! Memang saat itu betul-betul sunyi dan sepi. Hanya kami berlima yang teridentifikasi sebagai makhluk berisik di sana.
Namun, aku tak pernah menyangka bahwa......

Experience is Gold (part 3): "Pesan dari Chloe"

....ucapku keras hingga membuat Sandra melompat ke jok depan di antara Sammy dan Sean yang tak kalah kaget.
"Apa-apaan kamu sih? Bikin kaget orang aja! Kasihan Sandra tuh! Dasar Beo! Dari tadi diam 1001 bahasa, sekali ngomong bikin orang jantungan! Justin Beo!" kata Sean bak kereta super cepat shin kan zen.
"Oia, I'm so sorry, Sandra," ucapku penuh penyesalan sekaligus agak geli melihat tampang Sandra yang amburadul tak karuan. Kasihan juga sih.
"It's okay, Justin! By the way, tadi katanya ada sms dari Chloe. Apa katanya? Apa tentang farm ini? Atau tentang apa? Cepat katakan pada kami!" jawab dan desak Sandra yang kini mulai kembali menjadi dirinya yang biasanya, cerewet. Aku pun lega melihatnya kembali ceria. Sammy dan Sean pun tak lagi bermuka serius dan mulai melontarkan joke-joke garing. Niatnya mungkin mau mencairkan keadaan yang sedingin es sejak lima belas menit yang lalu. Namun yang aneh, Karen belum mengubah raut wajahnya yang serius dan tampak memikirkan sesuatu. Tunggu dulu... Berpikir? Atau mungkin tepatnya mengingat-ingat sesuatu? Ah nanti saja. Aku mau membacakan sms dari Chloe.
"Oke teman-teman, aku bacakan sms-nya ya! "'Justin! Kenapa kamu matikan teleponnya tadi? Aku kan mau mengingatkan kalian harus hati-hati pas lewat Naomi Farm. Itu farm baru dibeli oleh keluargaku and baru direnovasi jadi penerangannya belum berfungsi. Aku mau menyarankan kalian lewat Kings Street yang lebih ramai dan dekat, eh malah ditutup teleponnya! Apa-apaan?? Hah? Aku ngambek!"' Dan kuakhiri sms itu dengan prosesi pengangkatan setengah alis, pemerahan muka dan penyusunan kembali mukaku yang baru saja hancur dihantam malu. Tenggorokanku serasa dipaksa menelan paku sebanyak sepuluh kuintal. Sial!
Kulihat Sammy, Sean dan Sandra melotot sambil menghembuskan nafas kesal kepadaku membuatku salah tingkah. Karen masih berpikir. Ah whatever lah dengan anak ini! Aku memikirkan kata-kata yang pas untuk membela diri dan tiba-tiba sms lain dari Chloe mendesak masuk di inbox-ku. Aku membacanya dengan suara gemetar, "Oh iya, tadi teleponmu tidak bisa dihubungi jadi aku sms ke Karen juga. Semoga dia menyampaikannya pada kalian."
"NAH ITU! Tadi Chloe sms tentang sesuatu! Nah aku mau bilang itu, tapi aku lupa! Aku sudah berusaha mengingatnya tapi susah. Untung kau memperingatkanku, Justin! Trims ya! Hihihihi. Hey, kenapa wajah kalian begitu? Ada yang salah dengan ucapanku?" celetuk Karen dengan wajah tanpa dosa. "KAREN!!!" teriak kami berempat nyaris bersamaan.
"Iya?"
"KAU MENYEBALKAN!" teriak Sammy, Sandra dan aku.
"Karen, my sweetheart. Kok kamu pikun amat sih? Jadi tambah lucu aja deh!"
"SEAN!!!" teriak Karen, Sandra dan Sammy dengan Karen yang paling keras. "STOP IT!!"
"Hey! Sejak kapan kita punya hubungan, Kodok?! Hih! Aku kan ngga pernah menerima cintamu bahkan saat kau menembakku untuk yang ke-99 kali!" teriak Karen sejadi-jadinya membuat aku, Sandra dan Sammy diam sambil bertingkah selayak ibu-ibu rumah tangga menyaksikan soap opera percintaan. Mereka bertengkar layaknya sepasang kekasih yang baru saja diuji kekuatan cintanya.
Setelah menurutku sudah cukup lama mereka bercerita cinta, hn, tepatnya bertengkar seperti kucing jantan dan kucing betina aku pun berusaha menghentikan mereka berdua, "Hello friends, bersambung dulu ini ya. Hari sudah gelap dan kita baru masuk kawasan Bestonia. Rumah Chloe masih sekitar dua puluh lima kilometer lagi, sedangkan mobil kita sudah kehausan. Saranku, lebih baik kita mencari penginapan terdekat saja, bagaimana menurut kalian?" Ternyata usahaku berhasil. Karen dan Sean tak lagi bertengkar. Alih-alih itu mereka berdua mendengarkanku dengan seksama. "AKU SETUJU!", "Aku juga!", "AKU SANGAT SETUJU!!!" teriak Karen, Sammy dan Sandra bergantian. Aku mengangguk untuk memantapkan mereka bertiga. Namun, aku belum mendengar Sean berkata setuju. Dengan bahasa tubuh aku bertanya lagi kepadanya. Dan dia menjawab, "Tentu saja aku setuju. Gila apa kalau kita sampai bermalam di sini?! Eh, Beo! Gantian dong, kamu yang menyetir! Badanku capek. Apalagi kemarin baru ikut ujian SIM, bosan lihat setiran terus. Hehehe."
"APA? Jadi kamu baru dapat SIM kemarin sore? Gila!! Tidak meyakinkan sekali! Aku mana mungkin bisa menyetir, Sean, umurku baru 16 tahun! Ah kau ini!" kataku pada Sean setengah kesal membuat dia terbingung-bingung.


Monday, April 5th 2010

Experience is Gold (part 2): "Naomi Farm"

.... Aku lupa tujuan awalku datang ke sini untuk bertualang dan memecahkan misteri.
"Oke, Chloe! Mungkin kami tiba di sana saat hari gelap. Apalagi sekarang gerimis, jadi pasti kami akan sangat terlambat," kataku sambil menempelkan erat telepon genggam ke telinga kananku.
"Oke, Justin! Hati-hati di jalan terutama saat melintasi Naomi Farm. Soalnya di sana..." ucap Chloe dari seberang sana.
"Oke! Oke, Chloe! Kau tak usah terlalu cemas begitu. Thank's untuk semua informasinya dan tunggu kami di sana. Bye..." ucapku cepat-cepat dan kuakhiri dengan memencet tombol end call pada telepon genggamku.
Gerimis tak lagi mau kompromi. Volumenya makin bertambah dan hampir boleh disebut hujan. Jajaran pohon pinus dan cemara angin setinggi hampir dua kali tinggi orang dewasa membingkai kanan kiri jejalanan yang kami lewati. Begitu rapat jarak mereka satu sama lain sehingga dapat aku dengar gesekkan dedaunannya yang terdengar seperti orang merintih di tengah hujan. Bulu kudukku mulai bereaksi dan kuakui suasana saat itu memang cukup mencekam. Kupandangi wajah kelima orang temanku dan tampak jelas mereka sedang tak bahagia. Mungkin mereka merasakan hal yang sama denganku. Aku tak takut cuma merasa ngeri. Kengerian yang tak biasa dan membuat penasaran. Satu menit kemudian, aku melihat papan nama usang tertancap kuat di tanah kering sebuah peternakan tak terurus. "Naomi Farm", bunyi tulisan itu. Selama beberapa detik, aku menyesal tak mau mendengarkan penjelasan Chloe tentang peternakan ini tadi. Aku merasakan jok mobil yang aku duduki sedikit bergetar. Saat aku menoleh ke arah Sandra, kulihat wajahnya sedikit pucat dan kakinya bergoyang ke atas bawah tak berfrekuensi tetap. Aku yakin, sikapnya yang mudah panik tengah kambuh. Sementara Sean --yang bertugas menyetir-- dan Sammy saling berpandangan satu sama lain. 'Nampaknya, si kembar ini sedang bercakapan lewat ikatan batin,' pikirku mulai kacau.
Aku pun kembali memperhatikan apa yang ada di luar jendela. 'Ladang dan peternakan ini cukup luas tapi tampak tak terurus. Apa mungkin ini tak ada yang punya lagi? Atau jangan-jangan... Jangan-jangan apa? Ah! Aku tak mau berpikir macam-macam! Lebih baik aku menelpon Chloe,' pikirku lagi. Secepat kilat aku meng-contact Chloe tapi ternyata tak ada sinyal di sana. Sementara itu, langit telah menggelap, guncangan di jok mobil oleh Sandra pun semakin kencang. Kini wajahnya hampir sepucat salju. Di tengah-tengah kegalauan itu, Sean berteriak-teriak setengah berbisik, "Bensin limit, Justin! Kita harus segera menemukan GAS atau kita akan bermalam di sini."

(lanjutannya, mulai di sini... Hehe)
Pikiranku semakin tak karuan. Kulihat Karen tak cemas sedikit pun. Wajahnya memang sedang sangat serius tapi ia tak panik sedikit pun. Apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan? Sammy yang selama ini kukenal tenang orangnya pun mulai berkeringat yang aku yakin pasti keringat dingin. Aku merasa bersalah pada teman-temanku karena tidak memberitahu mereka bahwa aku hampir saja mengetahui sesuatu tentang Naomi Farm. Namun, hatiku mencegahku untuk memberitahu mereka.
Tak ada apa pun yang bisa kami lakukan selain duduk di dalam mobil dan menikmati keangkeran farm ini. Sementara itu, kudengar Sean mengeluarkan umpatan-umpatan ringan yang mungkin ditujukan untukku karena aku tak merespon ucapannya. Sungguh! Mulutku serasa terkunci. Dan Karen, aku benar-benar masih belum bisa membaca pikirannya.
Angin berhembus kencang membuat ilalang menarikan tarian kematian. Mentari sudah setengahnya sembunyi dan kawanan binatang malam pun sudah melancarkan aksi. Mereka seakan mencibir kepadaku, mengejekku yang sedang speechless dan miskin nyali saat ini. Tidak! Aku sudah betul-betul meracau sekarang!

Dari kejauhan tampak pendar lampu neon. Terang! Menurut perhitunganku, beberapa lama lagi kami akan segera keluar dari wilayah farm yang mistik ini. Namun, aku masih menanti sesuatu terjadi. Entah itu seekor werewolf yang tiba-tiba keluar dari farm, entah beberapa hantu Asia yang mengerikan, entah hantu petani penasaran karena mati dibunuh calon pembeli ladangnya atau sekedar tupai yang melompat dari atas satu-satunya pohon kenari besar itu. Namun, tak satupun yang terjadi selain gejala-gejala alam sehari-hari.

Sammy dan Sean sekarang tak lagi berkomunikasi dalam diam. Telingaku menangkap kata jurang yang tersebut berkali-kali. Benar saja, di kiri jalan sebuah jurang landai tapi tampak dalam siap menangkap mobil kami jika Sean tak berhati-hati sedikit saja. Oh My... Kapankah kami keluar dari peternakan sialan ini?

Baru selesai aku membatin, tampak lampu yang tadi kulihat semakin jelas menerangi sebuah papan lain yang lebih baru tertancap di ujung ladang Naomi Farm bertuliskan, "Naomi Farm sudah menjadi milik keluarga Woods".

"Keluarga Woods? Jangan-jangan yang itu nama keluarga Chloe? Sudah ada sinyal! Aku akan menghubungi Chloe. Eh, tapi, ternyata dia udah sms duluan," ucapku keras hingga membuat Sandra melompat ke jok depan.

Wednesday, 21 July 2010

Experience is Gold: Hari Kelahiran (bagian 1)

Butiran gerimis menyambut kami di perjalanan menuju sebuah peternakan di kawasan Bestonia. Hijaunya semak, riuhnya pohon Pinus merkusii dan bongkahan besar fosil foraminifera yang tersementasi mengundang decak kagum setiap orang. Kawasan Bestonia terletak di utara kota Petropolis yang kaya akan minyak dan terselimuti awan hitam oleh asam pabrik. Meskipun Bestonia berada di balik awan, tetapi jejak Petropolis tak tertoreh sedikit pun di kota kecil yang asri itu. Bestonia menyimpan keindahan alam yang menakjubkan dengan peternakan dan perkebunan di setiap hamparan tanahnya.

Penyelidikan kami dimulai di sini, di Bestonia, tentang apa atau mungkin siapa yang ada di balik misteri sebuah kastil tua bernama Luna de Moony. Kami hanya sekelompok anak muda dari Hogsmitry yang tertarik dengan hal-hal berbau misteri dan membutuhkan logika berpikir.

SMARTIES, itulah nama kumpulan kami yang kami dapat dari singkatan nama-nama kami, yaitu Sammy, Karen, Aku, Sean dan Sandra. Lalu siapa aku? Aku adalah bagian dari SMARTIES.

Kastil Luna de Moony adalah titik awal petualangan kami pasca peresmian nama SMARTIES pada tanggal 15 Maret yang indah.



**^o^**



Di Bestonia terdapat sebuah peternakan kuda bernama Horsehouse. Tidak banyak orang yang mengenal seluk beluk Horsehouse bahkan mendengar namanya saja hampir tak pernah. Namun anehnya, hanya sedikit orang yang tak tahu tentang sebuah kastil di dekatnya, yaitu Kastil Luna de Moony. Aku sendiri mengenal kastil itu sejak umurku lima tahun dan itu berarti sebelas tahun yang lalu.

Kastil ini beraksen Belanda dan menghadap Barat ke arah sebuah pohon ek tua yang tinggi besar dan gelap. Luna de Moony berdinding tebal. Ia dipenuhi lumut dan picis di setiap jengkal permukaannya. Atapnya memiliki bentuk yang aneh untuk sebuah kastil. Di mataku, tempat itu sungguh terlampau besar. Ukurannya yang abnormal itu sebanding dengan volume bangunannya yang tak kalah besar.

Sebuah taman labirin yang gelap dan membingungkan adalah alasan mengapa kastil ini begitu dikenal orang. Ya, labirin itu ada di dalam kastil aneh itu.

Setiap tahun, semakin banyak orang yang ingin mencicipi labirin tersebut, tak terkecuali kami.

Namun yang membuatku heran, kebanyakkan orang yang baru keluar dari dalamnya akan menampakkan rupa lesu, bingung, kecewa, sia-sia atau bahkan gila. Wah! Inilah yang kusuka! Dua hari setelah peresmian nama yang berlangsung di John and Ronn Cafe, kami berangkat ke Bestonia.

Salah seorang saudaraku yang tinggal di sana, Chloe, bersedia menyediakan beberapa kamar untuk kami berlima.

Oh iya, Chloe pula lah yang dulu memberitahuku mitos kastil Luna de Moony ini. Katanya, setiap awal musim khususnya musim dingin, orang-orang berbondong-bondong menyerbu kastil. Mereka sangat antusias seperti mencari sesuatu, padahal hingga sekarang tak ada satu pun yang mereka dapat dari dalamnya. Namun, mereka terus mengulangi dan mengulanginya di tiap awal musim.

Menurut Chloe ada sesuatu semacam harta karun di dalamnya, beberapa kilogram emas mungkin. Aku sudah membayangkan saat-saat di mana kami berfoto di depan kastil sambil memperlihatkan emas-emas yang berpendaran disorot matahari. Oh My... Aku lupa tujuan awalku datang ke sini untuk bertualang dan memecahkan misteri.





Sunday, 18 July 2010

Di Penghujung Usia

Mentari hanya tertawa sampai terbatuk-batuk di atas ubun-ubunku saat melihatku mulai gelisah. Iya aku cemas, karena usiaku mulai berubah. Aku bukan lagi ABG yamg identik dengan seragam SMP dan/atau SMA. Aku seorang baru yang nyaris mendapat gelar mahasiswa. Kenapa nyaris? Ya karena belum resmi kudapat. Piye sih?
Agustus nanti, aku akan mulai beraktivitas di sebuah kampus berpredikat kampus hijau dengan jaket almamaternya yang berwarna kuning menthereng. Wiew! Aku senang menjadi bagian baru tempat itu. Apalagi, aku tak perlu susah-susah membayar Biaya Operasional Bulanan (BOP) yang sebesar Rp 2.000.000,00. Kenapa? Tanya lagi? Karena saya adalah termasuk dalam 500 orang beruntung yang mendapatkan beasiswa Bidik Misi dari Dikti. Alhamdulillaaaah... Kudu rajin gole sinau, yo men ora percuma beasiswane. Ganbatte ne! Ohayougozaimasu! (???)
Balik lagi ke judul (silahkan liat judulnya ke atas lagi)...
Ya! Aku merasa ini adalah penghujung usiaku. Di mana aku akan menjadi orang dewasa (dilihat dari segi umur dan titel sebagai mahasiswa). Aku tak kan mudah berjumpa keluargaku, mengingat kampus universitasku yang nun jauh di mato. Aku tak kan mudah bertemu sahabat sma-ku, dll.
Aku pun akan mendiami sebuah kamar di asrama. Sendirian aku di kamar itu, karena kalo diisi 2 tidak cukup. Cukup sih asal dicukupkan, hehew.
Aku akan belajar tanpa seragam, yang membuatku pusing karena aku harus menyiapkan banyak baju. Oh My...
Aku akan berangkat naik bikun tiap hari, dan itu artinya harus siap on time di halte biar tidak ketinggalan. On time? Susah, maan!
Pokoknya, Juli ini adalah Juli ke gaje an terakhir.
And I've to be a better girl to reach my best future!

Sunday, 11 July 2010

Laskar Pelangi

Mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukan dunia

Masih ingat lagu itu kan?
Aku juga masih ingat...
Masih ingat filmnya juga?
Kalau aku sih masih ingat...
Masih ingat bagaimana perjuangan anak-anak laskar pelangi untuk sekolah di tengah segala keterbatasan
Aku masih ingat betul
(catatan apaan ini, dikiranya pembaca pada pikun apa? Huuu!)

Ya, jika dibandingkan dengan para laskar pelangi aku masih jauh
Perjuanganku masih begini-begini aja
Sekolah mampu, alhamdulillah tamat SMA tepat waktu
Bangunan sekolah kokoh, tak ada tanda-tanda mau roboh
Namun, aku diajar oleh guru-guru hebat tak jauh hebat dari Bu Muslimah Hafsari
Alhamdulillah...

Hingga lulus seperti sekarang, aku datar-datar saja mengikuti aliran air dan pasrah saja ke manapun ia membawaku... (baru kusadari ini teori salah)

Namun, kini, saat di mana aku sedang dihadapkan gerbang masa depan, diharuskan memilih pilihan super bercabang dengan resiko abstrak belum tentu nyatanya, aku pun canggung dan panik.
Jalan datar mulusku tiba-tiba berlubang, terjal dan berkelok tajam bukan buatan.
Hampir aku jatuh, menuruti aliran air yang membentur batu kali lantas terpecah berkeping-keping.
Namun, aku teringat pada para laskar pelangi tak kenal menyerah tak kenal lelah dan tetap semangat
Aku pun pasti bisa dan harus bisa
Aku adalah nahkoda di atas kapalku sendiri
Dalam mengikuti aliran air pun, harus pandai membaca, menerka dan memutuskan arahku
Aku punya kemudi penuh, dan peta dan kompas dan mereka yang siap di sampingku
Harus Semangat hadapi Gerbang itu, Gerbang tempat itu, tempat baruku menuntut ilmu...




Ini note anu asal ngawuran!

Monday, 21 June 2010

Tulisan Seorang Awam

...dapat terlihat dari perkembangan penulisannya. Sebenarnya malah mungkin dapat dikatakan terlalu berkembang dan cenderung bunglon. Susah menjadi seorang yang konsisten dan tidak mudah menemukan cirinya sendiri. Saat tertarik magnet fiksi, dia pun menuliskan apa-apa cenderung khayal penuh imajinasi. Saat ia tercebur dalam dunia puisi, maka apa pun yang ditulisnya akan berbauuu majas dan itu "meksa banget". Ketika dia tergila-gila akan something gajeness dia pun akan menjadi si gaje dengan seluruh tulisannya yang supergaje *jika tidak biasa, ini akan menjadi sebuah pemaksaan superpedih, haha*. Yang seperti itu itu layaknya bunglon. Gampang terpengaruh, gampang ilang, cenderung cari aman yang sedang marak di pasaran. Nah itu, itu saya. Itu saya seperti itu! Haha.
Lain halnya ketika dia gembira atau sedih. Terkadang di saat seperti inilah "tulisan ciri dia" betul-betul keluar. Keduanya merupakan emosi berpunggungan, tapi efektif mencirikan tulisan seseorang.

Meski demikian, si awam itu tetap keras kepala. Tetap saja menulis hingga tiba saat planet nibiru betul-betul menghantam antartika. Kekeuh banget! Lenjeh!
Biar produk gagal bertebaran di 7 benua, 7 suku, 280 jiwa dan beberapa mata-mata tanpa mata jelas yang lain, dia tetaap menulis.
Produk gagal yang mengacaukan kenangan terakhir. Produk gagal pertama dan terakhir di ujung pertengahan. Produk gagal yang merenggut wajah-wajah mereka untuk tampil close up segamblang di headline koran.
Ya, aku orangnya. Pemikir, pencipta, perumus, pekerja, penyusun, dan penanggung jawab produk gagal itu.
Saya pribadi memohon maaf kepada pihak yang bersangkutan atas kehancuran benda bergambar itu. Bolehlah kalian mencerca dan memberi saya uang. Eh maksud saya, memberi saya saran demi perbaikan ke depan.

Saya si awam, menyesal sekali dan berusaha menjadi lebih baik. Meski benda itu sudah tak bisa diubah dan diperbagus lagi, tolonglah jangan buang chemistry di dalamnya.
Setiap kalian membukanya, kalian akan ingat aku, si pengacau kenangan, karena jelas sekali ada nama penaku di sana

Sunday, 20 June 2010

DI LADANG TEBU (part 2)

"Sudahlah. Tak usah kau pikirkan. Wajahmu sama sekali tak menakutkan. Bahkan, kau tak memiliki sirip duri seperti yang kumiliki," kata Sybil pada suatu hari.
Nana sudah menceritakan tragedi kematian buaya di ladang tebu. Sejak ia tahu bahwa ia adalah anak seekor katak yang merupakan hewan pembunuh hewan lain, semangatnya mulai menurun. Profesor dan Sandra tak lagi penting baginya. Sybil yang telah mendedikasikan dirinya sendiri sebagai sahabat Nana lah yang selalu menghiburnya. Hubungan antara keduanya memang semakin dekat akhir-akhir ini.
"Ah... Sudahlah Sybil. Kata-katamu tak akan pernah membantu. Lebih baik kau pergi sebelum terbunuh seperti buaya-buaya itu!" usir Nana.
Sybil hanya diam. Bukan karena tak dengar atau tak mengerti, tapi karena ia melihat sesuatu. Matanya memelototi satu bagian tubuh Nana. Mulutnya terbuka, sampai-sampai lupa menutup.
"Na!Kau punya kaki!" teriaknya tiba-tiba. Lalu ia mengitari Nana untuk memastikan. "Yeah! Sepasang kaki belakang! Pantas saja beberapa hari ini kau bersikap aneh. Ternyata memang karena hendak tumbuh kaki. Haha... Keren!" celetuk Sybil setengah berteriak, sehingga membuat penghuni laboratorium kaget.
Kali ini Nana tak bisa lagi menghindar. Ada satu dorongan dalam tubuhya yang memaksanya tersenyum. Lalu ia berkata, "Dasar kau ikan! Hahaha... Tapi, apa itu mungkin? Aku marah-marah gara-gara mau tumbuh kaki? Coba ada emakku di sini, pasti dia sudah memberitahuku segala hal tentang kaumku."
Sybill tersadar dari kesenangan sesaatnya --merayakan tumbuhnya kaki Nana--, lalu menghampiri sahabat terkasihnya. "Sudahlah, Kawan. Kau tak butuh emakmu lagi. Ada aku dan semua saudaramu di sini. Benar kan teman-teman?" hibur Sybil lalu melirik pada penghuni akuariam lain memastikan apakah warga lain dalam akuarium berpendapat sama dengannya.
Namun, hanya beberapa ekor yang bilang "ya". Sedangkan yang lain menggumamkan kata-kata semacam: "Dasar sinting!"; "O, ya?"; "Aku tak ingat kalau aku bersaudara dengannya," atau "Siapa yang peduli? 'Cuz I don't care!"
"Oh! Jangan pedulikan mereka, Kawan. Kau pasti bisa hidup tanpa emakmu! Mereka hanya makhluk-makhluk berotak udang, bahkan lebih kecil dari otak udang. Hahaha...!" kata Sybil menanggapi keadaan.
"Sybil! Kau pikir otakmu sebesar kelapa? Enak saja kau menghna kami seperti itu!" bentak seekor ikan di belakangnya. Ternyata, tanpa ia sadari, ratusan makhluk air di sekelilingnya sedang memandangnya dengan wajah geram. Dalam hitungan detik seluruh makhluk air telah merubungnya dan mengeropoknya.
Nana hanya diam pasrah menyaksikan. "Rasakan tuh, Bil! Hehe..." batin Nana. Ia sudah hendak membantu Sybil, ketika pintu terbuka yang diikuti masuknya Profesor dan Sandra. Sandra tampak berbeda kali ini. Ia tidak memakai baju safari, sepatu boot hitam juga topi lebar bersimbol pohon seperti bisaanya. Baunya pun harum, tidak lagi amis campuran bau ikan, asap, tanah liat dan keringat. Polisi hutan ini telah berubah menjadi bidadari cantik yang memesona.
"Wah...wah... Penampilanmu tak seperti bisaanya, San? Mau ke mana kau?" tanya profesor kepada Sandra.
"Bisaa ke Bali, Prof. Aku sudah penat berada di hutan Australia sebulan ini. Apalagi dengan semakin banyaknya binatang yang mati. Mereka membuatku stres," jawab Sandra.
"Oh iya! Sekarang aku sudah yakin mengenai katak beracun Cane toad itu. Mereka sangat berbahaya bagi makhluk hidup, tak terkecuali manusia," kata profesor mulai serius.
Sandra kaget. Tas kecil yang ia selempangkan di bahunya melorot hingga ke siku. "Lalu, bagaimana cara kita membunuh mereka agar bukan malah kita yang terbunuh, Prof?" tanya Sandra. Suaranya meninggi. Wajahnya memerah. Suhu di laboratorium serasa naik drastis. Padahal langit Bogor sedang mendung saat itu.
"Seharusnya hal ini sudah kita sadari sejak lama. Toh, katak-katak itu tak bisa melompat setinggi batang tebu untuk menangkap kumbang yang justru sering hinggap di ujung batang. Aku sungguh menyesalkan kelalaianku ini! BETAPA BODOHNYA AKU!" kata Sandra. Kali ini ia tak lupa menggebrak meja kerja profesor. Kertas-kertas berhamburan akibat ulah Sandra. Namun, profesor Keynes sama sekali tidak berusaha mengambilinya. Ia hanya diam tanpa ekspresi.
Sedangkan Nana, ia tak berkedip menyaksikan peristiwa itu. Sampai-sampai ia tak sadar bahwa Sybil sudah lolos dari lingkaran penghajaran dan sekarang berada di sampingnya dengan tubuh babak belur. Beberapa sisiknya terkelupas. Tampaknya ia tak akan berani berbicara sembarangan lagi.
Sandra masih diliputi amarah. Namun, rona merah di wajahnya berangsur mulai memudar sekarang. Tangannya kembalai santai dan ia membetulkan tas tangannya yang melorot. “Maaf, Profesor!” katanya pelan.
Profesor tak lagi diam saja. Ia malah tersenyum, lalu perlahan tertawa kepada Sandra. Sandra justru bingung melihatnya. Ini bukanlah saat yang tepat untuk tertawa, pasti kurang lebih seperti maksudnya.
“Ternyata kau bisa marah juga, San? Hahahaha…” kata profesor.
“Apa maksudmu, Prfof??! Jangan bercanda!” katanya setengah berteriak. Namun, jelas terlukis sesimpul senyum kecil di sudut bibirnya. Ia malu pada profesor, sebab mukanya kembali memerah.
Profesor mengerem tawanya denan susah payah, lalu berkata, “Aku belum selesai bicara, San. Hahaha… katak itu hanya berbahaya bagi manusia jika terjadi kontak fisik saja. Tentu saja tak kan berakibat apa-apa jika kau membunuhnya dengan alat. Dasar, Sandra! Dari dulu kau memang tak berubah.”
Bagai turun hujan di tengah gurun Sahara. Itulah yang melanda Sandra kini. Kemarahan dan penyesalannya seperti terbawa arus sungai Nil dan tak menyisakannya sedikit pun. Ia merangkul profesor seperti merangkul ayahnya sendiri. Lalu ia pun berlari meninggalkan laboratorium dengan gembira tak lupa disertai lambaian tangan untuk profesor.
“Hahaha… dasar Kanguru mungil!” gumam profesor.
Baru beberapa detik, Sandra kembali lagi ke dalam laboratorium. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang tadi terlupa karena saking shocknya.
“Prof, aku titip tas ini di sini. Satu minggu lagi aku akan mengambilnya sepulang dari Bali. Aku akan menghubungi pemerintah Australia mengenai penemuan itu. Oh iya, Prof, apa kau punya usul tentang cara membunuh katak-katak itu?”
Profesor mengacungkan jempol berdiri, Lalu Sandra pergi dengan senyuman.
*****
Mentari pagi mengintip melalui lubang-lubang ventilasi laboratorium dan membagikan sinarnya ke seluruh organisme di dalamnya. Tempat itu menghangat hampir satu jam setiap harinya. Di saat seperti inilah para keluarga kaktus, ercis, aster, kumbang kayu jati, ikan tak terkecuali kecebog dan makhluk hidup lainnya asyik menjemur diri di dalam tempat hidup masing-masing. Laboratorium itu sangat besar dan mungkin lebih terlihat seperti taman wisata modern mini di dalam gedung.
Di setiap jengkal hamparan lantainya pasti terdapat organisme hidup yang terawat dengan baik. Pada sudut kanan ruangan, terdapat sekumpulan akuarium berbagai ukuran untuk berbagai hewan air tawar. Di sanalah Nana dan Sybil berada.
“Kau tahu Sybil? Setelah aku mendengarkan percakapan demi per-cakapan antara nona Sandra dan professor, aku semakin yakin bahwa tempat asalku adalah dari Aus… Australia yang berada entah di mana. Mereka telah menyebutkan tempat itu sebanyak…. banyak sekali,” kata Nana. Ia tidak bisa menghitung seperti halnya Sybil, kawannya.
“Apa kau yakin? Memang aku tak pernah melihat katak dan anaknya. Dan kata emakku, memang baru sekali ini profesor memelihara kecebong di laboratorium ini. Namun, bagaimana kalau ternyata pendapatmu salah?” jawab Sybil ada sedikit rasa cemas dalam nada suaranya. Sybil memang sudah sangat bosan menasehati Nana mengenai perkara ini.
“Kawan, do’akanlah aku. Aku akan ke Australia, bagaimanapun caranya,” katanya dengan wajah penuh semangat dan mata berapi-api.
“Ya…ya…ya… terserah kau saja lah, Na! Do’aku merestuimu!”
*****
“Halo! Sandra? Ini aku, Profesor Keynes. Aku sudah menemukan waktu pemberantasan Cane toad yang tepat. Sebentar lagi bulan mati, di malam-malam seperti inilah mereka membentuk semacam kumpulan katak jantan dan katak betina untuk kawin. Kurang lebih lima hari lagi. Maka, lusa pulanglah ke Bogor untuk mempersiakan segala hal! Oh iya, satu lagi, dibutuhkan banyak orang untuk melakukannya. Jumlah mereka ribuan!” kata profesor kepada Sandra melalu sambungan telepon.
“Lusa? Sempurna! Lusa, aku sudah berubah menjadi seekor katak. Katak jantan yang gagah! Dan aku akan ke Australia menemui emakku. Meski dia pembunuh sekali pun!” kata Nana pada Sybil. Sybil hanya bisa menggelengkan kepala. Ia benar-benar sudah pasrah, meski sebenarnya dia ingin sekali mencegah Nana demi keselamatan diri Nana sendiri.
*****
Subuh hari, Nana sudah bersiap melakukakan rencana ekspedisi pencarian emaknya. Ia benar-benar sudah berubah menjadi katak kecil --yang oleh Abdul dipanggil “Percil”—berwarna hijau lumut dengan garis hitam. Nana berpamitan kepada seluruh kawan sejawatnya selama hidup di laboratorium dan ia tak lagi bisa menahan air matanya saat harus berpisah dari Sybil. ‘Namun, mau tak mau ia telah memilih takdir hidupnya’ begitulah yang diucapkan emak Sybil kapada Sybil, sehingga membuat Sybil tegar melepas Nana.
Sandra sudah sampai di laboratorium. Lalu, dengan cekatan Nana melompat keluar akuarium. Setelah berhasil, ia langsung melompat menuju tas ransel Sandra yang dititipkannya kepada profesor semingu lalu sebelum berangkat ke Bali. Ia menyelinap ke dalam kantong paling luar yang biasanya digunakan sebagai tempat botol minum dan akan terus bersembunyi di sana hingga sampai di Australia.
“Hai, Prof! Di mana tas titipanku?” tanya Sandra.
“Oh iya, ambil saja di situ,” jawab profesor sambil menunjuk sebuah rak barang. Sandra segera mengambilnya lalu menggendongnya di punggung. ‘Wah! Hangat’ batin Nana. Saking hangtnya suhu dalam tas itu, membuat Nana mengantuk lalu tertidur dalam beberapa menit.
“Prof, bagaimana rencananya?” tanya Sandra lagi.
“Jadi begini. Adakanlah suatu festival perburuan katak beracun di ladang tebu. Ah namanya…. “Toad Day Out”. Cool bukan? Lalu, sediakan imbalan yang menggiurkan bagi mereka yang berhasil menangkap katak terbanyak dan terberat, baik hidup maupun mati. Sehingga akan banyak orang yang tertarik mengikuti perburuan ini. Jangan lupa ingatkan mereka agar tidak menyentuh bagian tubuh katak tersebut sedikit pun! Apa kau paham?” jelas profesor.
“Rencana brilian! Tentu aku paham, Prof! Kalau begitu aku pergi dulu. Dua malam lagi, ladang dan hutan akan bebas bencana. Thank’s God! Bye, Prof. Tunggulah kabar baik dari kami,” kata Sandra begitu ceria lalu ia pun bergegas pergi menuju bandara untuk segera terbang ke Queensland.
Tanpa Sandra dan Profesor sadari, di dalam air ada makhluk lain yang mengetahui rencana itu. Ia kini sedang manangis sendu, memikirkan nasib sahabatnya yang sedang mendatangi pertempuran mautnya. Ialah Sybil.
*****
“Oh aku sampai di ladang tebu Australia! Luas! Luas sekali! Tidak seperti duniaku di laboratorium. Sempit dan berair! Aku datang, Emak!” teriak Nana sesampainya di ladang.
Ia melompat ke sana ke mari berusaha mencari spesiesnya dengan hati bahagia. Baru satu menit ia mencari, ia sudah bertemu dengan seeokor katak berwarna coklat gelap dan bergaris merah. Ia begitu tampak lucu. Lalu Nana pun bertanya kepadanya, “Hai, kau pasti saudaraku! Apa kau Cane toad? Aku juga! Aku terpisah dari kalian saat aku masih telur.”
Katak itu tampak heran sekali, lalu berkata, “Apa kau bercanda, Nak? Kau hanya seekor katak sawah! Kau berbeda dengan kami! Pulang sana ke Ibumu!”
*****
Serbuan para manusia ladang itu benar-benar dahsyat. Satu per satu katak dilibas, dihantam dan ditebas dengan senjata mereka. Dalam waktu sebentar mereka sudah mengisi kantung-kantung dengan bangkai-bangakai katak beracun. Ladang tebu adalah saksi bisu pertempuran ratusan ribu katak melawan ratusan manusia pemburu.
Nana berada di waktu dan tempat yang benar-benar tidak tepat. Sebuah bumerang mendarat di kepalanya dan membuatnya tersungkur. Malam terang berhias bintang kerlap dan bulan malam ke-13 perlahan berputar, lalumakin gelap, sangat gelap dan “pett!!!”


FIN

DI LADANG TEBU (part 1)

Di Ladang Tebu
Karya Anifatun Mu’asyaroh

Musim gugur hampir berlalu. Angin musim dingin mulai bertiup menggelitik bulu kuduk dan hamparan ilalang di ladang tebu. Dari kejauhan terdengar suara ratusan langkah kaki yang makin lama makin mendekat, menggemparkan kediaman para makhluk pelompat yang sedang nyaman mendengkur di bawah terpaan cahaya bulan malam ke-13 di sana.

Perlahan tapi pasti, satu per satu dari mereka terjaga lalu berteriak seenaknya, "Wibik...wibik..." Sekarang, suara langkah kaki telah digantikan oleh riuhnya konser yang dimeriahkan musisi-musisi amfibi, membawakan theme song andalan mereka, "Wibik...wibik..." Mereka berlompatan ke sana ke mari, padahal tak ada yang mendekati. Mungkin insting mereka jauh lebih peka dari perkiraan para manusia ladang.

Sementara itu, sekitar dua puluh meter dari ladang tebu tempat para katak itu bisaa beraktivitas dan istirahat, ratusan pasang mata manusia mengintai mereka. Beberapa menit lagi, perburuan hewan amfibi ini resmi dibuka. Pesertanya tak lain tak bukan adalah ratusan pengintai ladang tadi. Berbagai senjata seperti cangkul, pisau, sapu jerami, hingga samurai telah mereka genggami. Bumerang kecil pun tak luput dijadikan benda pamungkas. Tatapan mereka --yang kebanyakan adalah petani-- tajam, teliti dan terpusat pada ladang tebu.
Kini hanya tinggal menunggu tanda, dan mereka telah siap melakukan penyerangan dan mengayunkan benda-benda di genggamannya seasyik bermain yoyo. “Priiiit...” Lalu seluruh manusia bersenjata berhamburan ke ladang melancarkan aksi.

*****
Dahinya berkerut, sehingga dapat menahan sebulir keringat yang meluncur lincah dari kepala botaknya. Meski keringat bercucuran, tapi Profesor Keynes tetap kekeuh menempelkan matanya pada lensa okuler mikroskop elektron. Objek pengamatannya adalah gumpalan kecil berinti hitam dan diselimuti lendir bening yang telah ia jadikan preparat. Entah spesies apa yang sedang ia teliti. Namun, yang pasti ini adalah suatu proyek besar sebagai bentuk sumbangannya bagi khazanah ilmu pengetahuan.

Sementara sang profesor asyik bekerja, di ruangan yang sama, ada sesuatu yang mengawasi setiap inci gerakan profesor di setiap detiknya. Jika profesor mengerutkan dahi, ia pun akan semakin serius mengamati. Jika profesor tertawa, ia ikut menari berputar di dalam kotak akuariumnya. Ia adalah seekor kecebong berumur tiga hari.

Sepanjang 3 hari hidupnya ia tak pernah melihat danau, sawah, rawa, got atau tempat-tempat semacam itu yang bisaanya merupakan tempat lahir, tanah air para kaumnya. Kecebong ini lahir dan tumbuh di akuarium profesor Keynes bersama sekitar seratus ekor saudaranya. Bahkan, ia tak punya nama. Menamai mereka satu per satu bukanlah ide bagus. Apalagi profesor sendiri sedang sibuk meneliti seluk beluk leluhur kecebong itu. Alhasil, ia pun menamai dirinya sendiri "Nana", sebab ia suka bersenandung dalam air. Satu-satunya hobi Nana adalah memperhatikan profesor. Hobi yang oleh saudara-saudaranya dianggap aneh dan membuang-buang waktu.

Di film-film kartun, anak burung yang baru menetas akan menganggap sosok pertama yang dilihatnya sebagai induknya, meskipun sosok itu adalah seekor kucing. Tampaknya, hal ini pula yang terjadi di pada Nana. Ia begitu menyayangi profesor yang sering berada di dekatnya.

Suatu hari, bertepatan dengan lima hari umur Nana, seorang wanita asing datang ke laboratorium. Dia memakai baju safari coklat, bertopi lebar dan tampaknya datang dari tempat jauh. Kedatanganya adalah untuk mendiskusikan satu hal serius dengan profesor. Namanya Sandra.

"Bagaimana perkembangan penelitianmu, Prof?" tanya Sandra kepada profesor yang sedang menulis suatu kajian ilmiah. Profesor berhenti menulis. Dibetulkannya letak kacamata perseginya yang melorot. Lalu ia menghirup nafas panjang, menahannya beberapa detik sebelum kemudian ia hembuskan.

Hening sejenak dan akhirnya ia pun menjawab sambil membelai dagunya yang tak berjenggot, "Hmm... Sandra, setelah kuteliti lebih lanjut, kematian buaya-buaya di rawa itu disebabkan oleh Cane toad."

Sandra diam. Wajahnya tampak serius berpikir, "Begitu? Tapi, bagaimana mungkin? Mereka sangat membantu para petani. Sejak tahun 1935, mereka sengaja diimpor dari benua Amerika untuk membasmi hama kumbang yang menyerang tanaman tebu di Queensland. Kini mereka telah beranak pinak di seantero Australia. Bagaimana mungkin mereka bisa membunuh para buaya-buaya itu?"

Di dalam akuarium, Nana mendengarkan percakapan itu dengan seksama. ‘Apa itu Cane toad? Queensland? Amerika? Nama-nama apa itu?’ Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan di kepala Nana. Ia pun semakin antusias memperhatikan dua makhluk besar yang tidak hidup di air itu.

"Sandra. Katak-katak ini mempunyai sistem pertahanan diri yang kompleks. Satu bulan penelitianku terhadap Cane toad, ternyata membuahkan fakta baru. Mereka berbeda dengan katak-katak jenis lain, sebab ada semacam kantung beracun yang tersembunyi di balik kaki depannya. Zat-zat mematikan yang kutemukan dalam sampel buaya itu sama dengan racun yang ada di dalam kantung katak itu," jelas profesor panjang lebar.

Kenyataan itu membuat Sandra tercengang. Tampaknya ia tak menyangka bahwa katak-katak yang panjangnya bisa mencapai 20 cm itu adalah kunci penyebab ketidakstabilan ekosistem di sekitar hutan dan ladang tebu. Perlahan-lahan ia mulai bicara lagi, "Saya mengerti, Prof. Populasinya yang begitu pesat satu dekade terakhir, bahkan hingga ke daerah rawa di hutan, memang cukup membuat saya bertanya-tanya. Apakah tak ada predator yang mau menyantap katak-katak itu? Ternyata mereka mati sebelum berhasil memangsanya. Lalu, Prof, apa mereka berbahaya bagi manusia?"

Si kecebong masih serius memperhatikan mereka. Meskipun ia mendengarkan tiap kalimat percakapan itu, tapi tak sedikit pun ia memahami maknanya. Kapasitas memori pikirannya kecil, sekecil tubuhnya.

*****
Esoknya, Nana berharap agar Sandra datang lagi dan mengatakan hal-hal lain yang lebih mudah untuk dipahami olehnya. Ia menyukai Sandra sejak awal melihatnya. Sandra adalah orang pertama yang menyapanya --menyapa mereka tepatnya-- dengan mengobok-obok akuarium. Padahal, saat itu Sandra hanya berniat merendam kelingkingnya yang sedikit melepuh karena tercelup ke dalam secangkir kopi panas.
Ckrrk... Pintu terbuka, lalu melangkah seorang anak laki-laki kecil memakai seragam TK. Anak kecil itu mengendap-endap lirih di dalam laboratorium. Ia berhenti tiba-tiba di depan akuarium lalu berteriak, "Mak... Emak! Ada ikan kecil-kecil belenang, Mak! Banyak! Ada sejuta! Di sini mak!" Suaranya yang cempreng mengagetkan Nana dan membuat gaduh seisi rumah.

"Wah, suara itu menggetarkan dunia!" kata Nana kepada seekor ikan koi bersirip kuning yang berada di dekatnya. Akuarium adalah dunia baginya.

"Iya. Aku takut suaranya menimbulkan polusi di dunia kita," jawab ikan mas itu.

"Apa itu polusi?" tanya Nana dengan penuh penasaran.

Si ikan tampak bingung saat ditanya balik, lalu dia pun menjawab, "Hmm... Profesor berkata seperti itu 7 hari yang lalu saat memandang kotak kaca itu." Mata bulatnya melotot ke arah televisi.

"Aku hanya mengutip kata-katanya. Hehe..." imbuh si ikan.

"Tujuh hari lalu? Umurku saja baru enam hari. Kalau begitu kau lebih tua dariku. Berapa umurmu?"

Si ikan berenang berputar di tempat sebanyak tiga kali yang menandakan ia sedang berpikir. Lalu ia menjawab, "Aha... biar kutanyakan pada emakku."

"Emak? Apa itu emak? Manusia kecil itu juga menyebutkan emak tadi," tanya Nana membabi buta.

"Emak itu orang yang lebih tua darimu. Dia tahu segala hal yang tak kau ketahui," jawab si ikan.

"Kalau begitu kau emakku?"

"Aku? Entahlah. Sepertinya tampang kita berdua berbeda. Kau begitu hitam legam dan mulus. Sedangkan aku, indah, berkilau tapi bersisik. Ah... sudahlah biar kutanya emakku yang ada di dunia seberang!" jawab ikan.

Lalu ia meninggalkan Nana menuju sebuah akuarium lebih besar yang berada di samping akuarium mereka. Nana terus mengawasinya hingga si ikan sampai di perbatasan "dunia" dan bertatap muka dengan seekor ikan mas koi super besar. Si ikan menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi dengan ikan besar itu. Tak lama kemudian, si ikan koi kecil bersirip kuning pun berbalik dan menemui Nana.

"Sudah kudapatkan jawaban. Kata emakku, aku menetas saat bulan bulat sempurna dan nanti malam adalah bulan bulat sempurna keduaku. Jadi umurku adalah satu bulan. Hahaha!"

"Oh... Lalu kau siapa?" tanya Nana.

"Aku? Namaku Sybil kau Nana bukan? Dan satu lagi, aku bukanlah emakmu. Kata emakku, emakmu adalah orang yang melahirkanmu. Eit... Jangan bertanya soal emakmu lagi padaku!" kata ikan itu yang ternyata bernama Sybil seolah-olah bisa membaca pikiran Nana.

"Oh...Baiklah, Sybil. Lalu, mengapa emakmu ada di dunia yang lain?"

"Entahlah. Profesor memisahkan kami sesaat setelah aku menetas."

"Lalu..." kata-kata Nana terhenti setelah terdengar suara berisik menuju laboratorium. Pintu terbuka, lalu muncul profesor dan seorang manusia bertutup kepala panjang hingga terjuntai menutupi dada.

"Aduh... Elu ya, Dul! Udah emak bilangin ratusan kali tetep aje nakal! Jangan masuk ruangan Mister Propesor! Bagimane kalo ntu barang-barang pade pecah? Pan bisa berabe ntu urusanye! Maapin, anak aye yah, Mister!" kata manusia bertutup kepala itu sambil menaboki anaknya dengan lembut.

"Hahaha... Tidak apa-apa. Saya suka dengan anak kecil yang rasa ingin tahunya besar. Apalagi setiap melihat Abdul, saya jadi ingat anak saya" kata Profesor Keynes.

"Terime kasih, Mister. Mister kagak marah same ni Bedul yang bandel. Oh iye, aye do'ain semoge Mister bisa cepet ketemu anaknye di Australie. Amin... Ya udeh, kami ke dapur dulu, Mister, mau masak makan siang. Ayo, Dul!"

"Mpok, bagaimana kalau Abdul di sini saja dulu?" pinta profesor.

"Kagak ape-ape nih? Ntar kalo ganggu Mister bagimana?"

"Kagak ape-ape, Mpok! Haha..." jawab Profesor menirukan logat Mpok Ijah.

"Ah! Mister bise-bise aje! Ya udeh, aye turun. Permisi!" 

Mpok Ijah keluar dari laboratorium. Pintu tertutup. Profesor mendekati Abdul, lalu berkata, "Dul, binatang ini namanya kecebong atau berudu, bukan ikan."

Abdul tampak mengerti, lalu ia bertanya, "Meleka saudalanya ikan, ya, Mistel?"

"Hahaha... No, son! Mereka adalah anak-anak katak. Kau tahu katak bukan?"

"Waaah... Kelen! Kok meleka tidak punya kaki?"

"Tentu saja mereka punya. Hanya saja belum tumbuh. Suatu saat nanti mereka akan bermetamorfosis menjadi katak dan hidup di darat. Kau mengerti, Nak?" tanya profesor.

Abdul mengangguk pelan. Tak jelas apakah ia mengerti atau tidak, tetapi yang pasti Nana lah yang sedang bergembira saat ini. Ia tahu siapa dirinya sekarang. Ia tahu leluhurnya. Ia adalah Putra sang Katak!

"Kau tahu Sybil? Aku adalah Putra Katak! Seperti apa katak itu, Sybil?" tanyanya. Belum sempat dijawab, dia sudah berkata lagi, "Eh... Katak? Hah?? Katak? Aku..." tiba-tiba ia berhenti bicara. Kegembiraannya meluntur seiring semakin pelan suaranya.

"Ada apa, Na?" tanya Sybil tampak heran.

"Aku anak seorang pembunuh!

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...