Friday, 7 March 2014

Aplikasi Pertama yang Dibuat dalam Mata Kuliah Pemrograman Komputer

Hello, bloggie...

Lama tak jumpa, ya! Haha... Oh, iya, tenang saja meski gue tingkat akhir gue sudah bertekad tidak akan berbagi kisah tentang perjalanan gue dalam menempuh dan merampungkan skripsi gue. Ahahai... Jadi, daripada kosong melompong begini, mendingan gue corat-coret lo dengan sesuatu deh, ya. 

Semester 5 lalu, gue ingat sekali gue pernah membuat sebuah aplikasi sangat sederhana yang dapat menghitung Indeks Masa Tubuh. Aplikasi ini sebenarnya suatu hasil kerja kelompok di mata kuliah Permrograman Koomputer. Di sini gue satu kelompok dengan Ria dan Nono, meski pada praktiknya, gue paling berisik dan cerewet dalam mengutak-atik aplikasi ini, yang membuat dosen gue sebal karena gue terlalu suka nyaut dan tidak patuh terhadap perintahnya.

Kalau mau download aplikasinya bisa loh download di sini

Aplikasi super sederhana ini dibuat sebelum UTS dan sebagai salah satu tugas UTS juga, dengan menggunakan software Visual Basic. Ada yang pernah mengoperasikan software ini? Seru loh. Ada semacam coding gitu di dalamnya. Kalau formulanya benar, aplikasinya bisa dioperasikan. Namun, kalau ada satu saja karakter yang kurang atau salah formulasi, beuuuuh... bug debug debug, bakal gagal atau tidak bisa dijalankan lah aplikasi itu. Dari mata kuliah Pemrograman Komputer ini, gue jadi tahu bagaimana suka duka seorang programmer. Keren sekali memang programmer itu.. <3 p="">

Oh, iya. Kalau ada yang pengen lihat bagaimana formulanya bisa download di sini lagi. Namun, lo harus sudah meng-instal software visual basic dulu untuk dapat melihat file ini, :D

Eh, tapi... Lucu kali yah, kalau gue copy formulanya di sini? Biar sekalian nyampah gitu, ehehehe.... Tadaaaaaa!!!! Ini formulanyaa
Option Explicit
 Dim BB As Single
 Dim TB As Single
 Dim IMT As Single

Private Sub Check4_Click()
 outputNama.FontUnderline = Check4.Value
End Sub
Private Sub Check6_Click()
 outputNama.FontSize = 16
End Sub
Private Sub cmdBersihkan_Click()
 TanggalCetak.Caption = ""
 JamCetak.Caption = ""
 Diet.Caption = ""
 Penyakit.Caption = ""
 kategoriUmur.Caption = ""
 outputNama.Caption = ""
 outputNomor.Caption = ""
 comboDiet.Text = ""
 comboUmur.Text = ""
 Nama.Text = ""
 Nomor.Text = ""
 txtBB.Text = ""
 txtTB.Text = ""
 txtIMT.Text = ""
 outputIMT.Caption = ""
 List1.Clear
 comboDiet.SetFocus
End Sub
Private Sub cmdCetak_Click()
 TanggalCetak = Now
 JamCetak = Now
 JamCetak.Caption = Format(JamCetak, "hh:mm:ss")
 TanggalCetak.Caption = Format(TanggalCetak, "dddd, dd mmmm yyyy")

 outputIMT.Caption = txtIMT.Text
 Diet.Caption = comboDiet.Text
End Sub
Private Sub cmdHitung_Click()
 Dim IMT As Single
 'Baca isi dari Textbox
 BB = Val(txtBB.Text)
 TB = Val(txtTB.Text)
 IMT = BB / ((TB * TB) / 10000)
 txtIMT.Text = Format(IMT, "##.##")
 outputIMT.Caption = txtIMT.Text
 outputIMT.FontBold = True
 outputIMT.FontSize = 14

 Select Case IMT
 Case 1 To 16.99
  Label17 = "Sangat Kurus"
 Case 17# To 18.5
  Label17 = "Kurus"
 Case 18.51 To 25#
  Label17 = "Normal"
 Case 25.01 To 27#
  Label17 = "Overweight"
 Case Else
  Label17 = "Obesitas"
 End Select
End Sub
Private Sub cmdSelesai_Click()
End
End Sub
Private Sub cmdTambah_Click()
 outputNama.Caption = Nama.Text
 outputNama.FontSize = 14
 outputNomor.Caption = Nomor.Text
 kategoriUmur.Caption = comboUmur.Text
End Sub
Private Sub Command1_Click()
 List1.AddItem comboDiet.Text
 comboDiet.SetFocus
End Sub
Private Sub Check2_Click()
 outputNama.FontItalic = Check2.Value
End Sub
Private Sub Check5_Click()
 outputNama.ForeColor = vbWhite
End Sub
Private Sub Command2_Click()
 List1.RemoveItem List1.ListIndex
End Sub
Private Sub Form_Load()
 'Isi comboUmur dengan kategori umur
 comboUmur.AddItem "<2 aduta="" br="" tahun=""> comboUmur.AddItem "2-19 tahun (Belum Dewasa)"
 comboUmur.AddItem ">=20 tahun (Dewasa)"

 'isi comboDiet dengan jenis diet
 comboDiet.AddItem "-"
 comboDiet.AddItem "Diet TKTP"
 comboDiet.AddItem "Diet Ginjal/Rendah Protein"
 comboDiet.AddItem "Diet Rendah Gula"
 comboDiet.AddItem "Diet Rendah Lemak"
 comboDiet.AddItem "Diet Luka Bakar"
 comboDiet.AddItem "Diet Rendah Garam"
 comboDiet.ListIndex = 0
 End Sub
Private Sub Check3_Click()
 outputNama.FontStrikethru = Check3.Value
End Sub
Private Sub Check1_Click()
 outputNama.FontBold = Check1.Value
End Sub
Private Sub opIdeal_Click()
 outputIMT.ForeColor = vbBlack
 outputIMT.BackColor = &H80C0FF
End Sub
Private Sub opInap_Click()
 outputNomor.ForeColor = vbWhite
 outputNomor.FontBold = True
 outputNomor.FontSize = 14
End Sub
Private Sub opJalan_Click()
 outputNomor.ForeColor = vbBlack
 outputNomor.FontBold = True
 outputNomor.FontSize = 14
End Sub
Private Sub opL_Click()
 outputNama.BackColor = &HFFFF00
End Sub
Private Sub opP_Click()
 outputNama.BackColor = &HFF00FF
End Sub
Private Sub optionBedah_Click()
 Label6.Caption = "(*)Pasca-Bedah"
End Sub
Private Sub optionTidakBedah_Click()
 Label6.Caption = ""
End Sub
Private Sub timDisplay_Timer()
 Dim HariIni As Variant
 HariIni = Now
 lblHari.Caption = Format(HariIni, "dddd")
 lblTanggal.Caption = Format(HariIni, "dd")
 lblBulan.Caption = Format(HariIni, "mmmm")
 lblTahun.Caption = Format(HariIni, "yyyy")
 lblJam.Caption = Format(HariIni, "hh:mm:ss")
End Sub

Nah, dengan sedikit rumus di atas dapat dibuat sebauh tampilan aplikasi semacam ini. Aplikasi ini dapat diisi dengan informasi sesuai dengan variabel yang tersedia. 



Setelah diisi dan diklik-klik tombol eksekusinya, akan muncul seperti ini.

Wahahahaaa... Itu IMT saya saat ini, ketika sedang mengerjakan skripsi. :"D


Wednesday, 5 March 2014

Di Siang Bolong

By the way, tadi aku memimpikan kamu, itu, dia, dan beberapa orang asing. Tokoh utamanya kamu dan itu. Itu melakukan hal yang tidak-tidak kepadamu dan aku saksinya. Lalu kamu marah.

Aku pergi dan menumpang sholat berjamaah di mushola antah berantah sama orang asing berbahasa Melayu. Pas selesai sholat ada surat permintaan maaf dari itu untuk kamu, yang disusun oleh dia dengan bahasa khasnya dia.

Isinya tentang pengakuan dan alasan itu, kenapa selama ini, itu bertindak begini dan begitu. Selain itu, jda namaku dan anak *piiip* lain juga disebut di dalamnya. Di sini, dia menjadi penengah dan berperan dalam menyelesaikan masalah. Surat dari itu benar-benar sangat panjang, sekitar 8-10 halaman. Akhirnya, kamu yang marah, pun, tetiba menghilang.
***

Oh iya, jadi kronologinya seperti ini.

Awalnya aku sedang ngobrol sama kamu sambil jalan-jalan. Di jalan, aku melihat itu lagi lesehan di depan teras. Teus aku mengajak kamu menemui itu. Aku mau bilang ke itu kalau aku galau mau milih yang mana. Aku berkata seperti ini ke itu, "Hmmm, aku galau antara SC, jadi staf perlapmu (entah acara apa, namanya aja mimpi) atau nggak menerima keduanya, fokus skripsi aja." Kamu ikut ngobrol juga denganku dan itu. Namun, aku yang lebih banyak bicara. Tidak. Kamu yang lebih banyak bicara.

Lalu, di suatu topik, tetiba itu marah, meninggikan suara ke kamu dan juga ke aku. Itu mendekat kepadamu dan terlihat seperti akan melakukan sesuatu hal kepadamu. Hal yang selama ini hanya aku saksikan dari drama dua dimensi, tak pernah di depan mata. Aku kaget pastinya, tapi tidak mampu berekspresi.

Aku terlalu tak mau melihat dan langsung pergi. Aku singgah ke mushola, yang telah aku datangi terlebih dahulu, sebelum kamu dan aku menemui itu. Di sana, aku bertemu dengan orang-orang asing berpakaian dan berbahasa tidak familiar, yang bingung dalam menentukan siapa yang akan menjadi imam sholat mereka. Sejak aku pertama ke mushola itu, jam 12.00, hingga hampir jam 14.00, mereka tidak juga menemukan imam yang cocok menurut mereka. Lelah menanti, entah bagaimana, akhirnya sholat pun dimulai. Di tengah sholat, tetiba lantai mushola menjadi miring ke depan. Hal ini membuatku sedikit tergelincir ketika ruku' dan beberapa kali nyaris terjongkong ke depan. Namun, ketika sholat selesai, lantai kembali mendatar tanpa miring sedikit pun. Aneh? Memang. Ini mimpi.

Setelah sholat, aku menemuimu. Kamu menunjukkan sesuatu. Ternyata, itu adalah surat tebal yang itu tinggalkan di depan kasir kantin. Aku terheran, mengapa itu bisa menulis surat sepanjang itu, dengan waktu secepat dan tulisan serapi itu? Aku memutuskan untuk membukanya. Kamu sudah menghilang lagi, entah ke mana.

Oh iya! Sebelum kamu pergi dan menghilang, kamu bilang begini ke aku, "Mba, kamu nggak marah ke aku, kan? Aku nggak tahu maksud dia apaan dengan bertindak kayak begitu. Aku sebel banget sama dia. Mba An cemburu, ya? Serius mba aku nggak ada apa-apa dan nggak tahu apa-apa. Dia jahat banget sumpah!" Dan, kamu pergi, tanpa membaca surat itu. Aku terbengong dan membatin, "Ini semua maksudnya apa???"

Aku membaca dengan teliti, surat permintaan maaf yang panjang itu. Tetiba, aku juga ikutan marah. Sebenarnya, itu menuliskan banyak hal, tentang bagaimana itu menyebali orang-orang yang berisik di dunia maya, tentang rumah keduanya yang tidak lagi menyenangkan, tentang orang-orang di sini yang menurutnya aneh, tentang setiap alasan yang membuatnya berubah menjadi seaneh dan semisterius ini. Namun, hal yang membuatku marah hanya satu: Itu salah dalam menuliskan nama lengkapku. Entah kenapa, hal itu membuatku sangat marah. Namun, aku menyimpulkan banyak hal dari ini.

Di antara pengakuan-pengakuan yang ditulis tangan itu, itu menyelipkan ucapan maaf. Itu tidak melakukan itu benar-benar untuk membungkam kamu yang terlalu berisik, tetapi untuk mengusir aku yang terlalu terlihat menyedihkan. Itu meminta maaf sekali. Selain itu, ada juga tulisan tangan dia, si tritagonis yang bermaksud mendamaikan kalian berdua. Tulisannya pun rapi, agak besar-miring ke kanan, dan terlihat begitu sopan-tertata, sangat mencerminkan isinya.

Kamu tahu? Entah mengapa, aku merasa lega, meski sempat marah karena itu salah mengeja namaku. Aku tidak tahu apa maksud dari isi surat ini, tentang penjelasan alasan itu melakukan hal itu kepada kamu, dan semuanya. Namun, entah mengapa rasa lega itu menjalar menenteramkan keingintahuanku.

Aku sebenarnya tidak tahu apa yan terjadi antara kamu dan itu. Apa yang itu lakukan kepadamu setelah tiba-tiba mendekatkan diri kepadamu, menciptakan angle yang tidak baik untuk dilihat? Apakah hal yang seperti dalam drama betul-betul terjadi? Dan apa yang sebenarnya terjadi setelah aku pergi? Aku tidak terlalu peduli. Namun, surat darinya ini...begitu membuatku ingin berhenti.

***

TERNYATA INI SEMUA HANYA MIMPI DI SIANG BOLONG!
Jangan-jangan, aku mimpiin ini karena kamu suka cerita tentang tweet dan keanehan dia. Terus alam bawah sadarku membuat cerita fiksi tentang kalian, hmmm. Lucunya, pas bangun, aku lihat ada WA darimu. Hwahaha. Langsung ketawa guling-guling di kasur, tanpa mikir!

Sering begitu memang, memimpikan orang, abis itu orangnya nge-WA.

Dan ketika aku menceritakan ini kepadamu, kamu pun terpingkal-pingkal menanggapi lewat tulisan, "Ini hari paling super mba nugas ditemani cerita darimu
Ceritane rampung, tugase rampung."

What a ridiculous dream!!! --"

Cast:
Aku sebagai aku
N sebagai kamu
NN sebagai itu
W sebagai dia

Tuesday, 25 February 2014

Di Kelas Biostat Dasar, A201

Setiap angkatan, memang beda-beda kebiasaannya. Haha. Ini anak-anak FKM 2013 yang lagi mengerjakan tugas praktikum kelas Biostatistika Dasar. Mereka lebih suka mengerjakan tugas sambil lesehan. Yep! Selain faktor ruangan yang memang sempit, bisa jadi faktor kenyamanan juga membuat mereka lebih suka ngeleseh. Ini sedang mitinggal dosennya. Namun, meski dosen sedang di dalam kelas pun mereka tetap ngeleseh, haha.

Serba-serbi di tingkat akhir, sembari ngasdos, sembari refreshing dan mengenang masa maba. Haha.

Saturday, 15 February 2014

Yeay!!!
Dia,
Memperoleh peran sebagai pengamat,  penurut dan pelaksana, bukan pengomentar dan pemberi keputusan.
Yeay!!!
Dia,
Menuliskan pun sebaiknya hanya tentang kesediaan dan ketepatan, bukan tentang keinginan atau kebebasan.
Yeay!!!
Mereka,
Dijatuhi peran sebagai penyuara dan pencipta suasana, bukan pemalu dan peragu: akankah melangkah maju atau mundur sekalian.
Yeay!!!
Mereka,
Dibiasakan oleh masa untuk menuliskan kabar bahagia dan (katanya) bermakna kepada dunia, tentang rencana yang niscaya diekori kebahagiaan semua kepala. 

Mengapa dia tergambarkan semacam penguin bisu tak bisa terbang yang kesepian dan terikat tali kekang, sedangkan mereka bak buruk merak jantan berekor pelangi pagi hari yang siap terbang dan menyapa para pemberi pujian?

Yeay!!!
Haruslah diingat dengan baik
Perjalanan ini,
Terporsi dengan baik dan pasti segera datang masa-masa di mana yang diam akan segera bersuara,
pun pasti akan segera hadir detik-detik di mana yang berisik akan bungkam (karena lelah bicara)
Yeay!!!
Perjuangan ini,
Terbayar dengan setimpal, oleh kejayaan atau peringatan, yang sama bagi keduanya, entah berkoar, entah berdiam.
Tergaransi-terasuransi tak habis, tak terbatas, hingga tercapai benar ci(n)ta di genggaman tangan keduanya, sama rela-sama percaya.

Lantas mengapa masih menggelungkan diri dalam kepulan kata-kata pembeda, peninggi satu sisi, perendah satu sisi lain yang seolah-olah korban kelaliman?

Iri dan dengki,
betapa terkadang dua api dingin ini membutakan pandangan, membebalkan otak dan pikiran, menyelewengkan pilihan kata pengucapan menjadi tak mengenal nilai kemanusiaan.

Tuesday, 11 February 2014

Terima Kasih Mas Indra

Pada suatu malam di semester 3 gue, Mas Indrawan Puspa Negara bilang, "Jenengmu Anifatun? Koe? Anifatun? Deneng maen temen jenengmu? Ujarku Anifatun udu kayak koe wonge. Jebule koe sing jenenge Anifatun? Kemaenen jenenge."

Terima kasih mas Indra. Berkat Anda, gue jadi lebih menyukai nama gue sendiri. Kali ini, gue tidak akan menyertakan "meski" karena nanti dikira berpikir negatif. Namun, sungguh, gue jadi lebih bangga dengan nama gue ini. Memang, sebelumnya, gue rada kurang pede dengan nama gue. Hal ini dikarenakan kebanyakan orang merasakan kesulitan ketika menuliskan atau mengucapkan nama gue. Alhasil, nama gue sering diselewengkan menjadi nama lain. Beberapa nama selewengan yang gue ingat adalah "Animaltun oleh Fajar Adhi Hartanto", "Animonster oleh Ratna Prabawati Nopiutami", "Anikita Willy oleh Huge Djendra Yuningrat", "Anipacul MasyaAllah oleh Danang Swastiko", dan "Afinatun Maesaroh oleh (Alm) Bu Reni".

Dulu, gue menganggap sapaan mereka sebagai nama ejekan atau bully-an, kecuali R.P. Nopiutami yang memanggil Animonster karena gue dulu suka anime dan adanya majalah Animonster, juga (alm) Bu Reni yang memanggil gue Afinatun karena murni faktor kesulitan pengejaan. Namun, setelah malam itu, setelah mas Indra bilang itu, gue tidak lagi merasa "gimana gitu" dengan segala nama julukan yang diberikan ke gue. Gue malah merasa, gue dianggap dekat dan spesial oleh mereka yang memanggil gue dengan "nama spesial". Misalnya "Ani-chan oleh Fauziah Nurmala Sari", "Aniooo oleh Ayu Sya'bani Wulandari MD", "Anyeong Haseo oleh Imam Ahmadi", atau "Anichun oleh Hari Purwito".

Terima kasih, untuk membuat saya tersadarkan tentang keindahan nama saya, mas Indra.
Semoga kehidupan Anda senantiasa selalu menyenangkan dan membuat orang lain seneng.

Friday, 7 February 2014

Tentang Bersyukur

Kata Junaidi Sidiq, ada kalanya sesuatu harus hilang dan pergi agar kau tahu lagi bagaimana caranya berusaha mendapat sesuatu yang sama baiknya atau yang lebih baik.
Kata Maghfirotun, sering kali kita menyadari betapa indahnya nikmat, justru ketika nikmat itu sudah (akan) pergi.
Kata mas Wiyogo Prio Wicaksono, marilah kita bersyukur dengan perbuatan...

Alhamdulillahirobbil'alamin.
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Astaghfirullohal'adziim,
Berpuluh tahun kehidupan ini selayaknya diisi dengan berterima kasih dan berbagi kebaikan, alih-alih berolah kata dan meronce alasan. Perjalanan Tafakur Alam di hari Senin (3 Februari 2014) lalu dan post Indra Darmawan di blognya yang berjudul (Syukur vs Kufur), pun dari cerita Maghfi di acara tersebut betul-betul menyentil batin.
Mengapa harus mengeluh ketika fakta tidak sejalan dengan rencana? Mengapa harus menanti diterpa coba agar kita teringat akan-Nya? Mengapa menangis berlebihan, ketika kehilangan suatu hal yang sebetulnya pasti akan diganti dengan hal yang lebih baik dan dipersiapkan dengan tepat oleh-Nya untuk kebahagiaan kita?
Syukur, syukur, mari mensyukuri setiap kejadian Ani, sebab sesungguhnya nikmat-Nya tak pernah habis, mengalir sepanjang masa. Mengeluh, jika dibahasa kasarkan, memang seolah-olah seperti sebuah keberanian tak tepat dalam menyatakan kekecewaan atas skenario yang dibuat-Nya. Dan dari apa yang dikatakan Indra dalam post-nya, dapat diketahui bahwa mengeluh itu tergolong ke dalam tindakan kufur. Na'udzubillahi min dzalik :(
Seram. Seram. Seram.
Terkait dengan post gue sebelumnya, yang berjudul Update dan Cari Perhatian, yang meski muatannya lebih ditekankan pada sebuah pembelaan dari seorang miskin bicara, tetapi ternyata ini tak lain halnya juga sebuah keluhan. Respons akan kekurangsetujuan yang disementasikan dalam kata-kata yang tidak berani untuk disampaikan.
Seharusnya, gue mampu menyikapi opini teman-teman sebagai suatu hal positif, masukan untuk kebaikan diri para orang yang potensial mengeluh. Bukannya, ngeles, ngalor ngidul dan pada akhirnya tidak menemukan titik temu antara masalah dan alasan yang dibuat. Seharusnya gue bersyukur, berkesempatan dipertemukan dengan  orang-orang yang bersedia berbagi saran dan pengetahuan, juga mengingatkan. :)
Terkait segala hal yang diperoleh, terjadi dan dilimpahkan pada kita, sudah pasti seharusnya disyukuri, tak hanya di lisan tapi juga dalam perbuatan. Pun dalam bersyukur, berterima kasih baiknya tak mengenal lelah, tak diganduli rasa terpaksa dan mungkin amarah. Ikhlas. Meski pada hakikatnya, kata Nufiqurakhmah, keikhlasan kita hanya Allah yang dapat menilainya dengan teliti, tetapi sudah seharusnya syukur dan terima kasih dilakukan dari hati tanpa niat untuk dipuji.
Ani!!! Ayo meminimalisasi mengeluh dan merendahkan diri. Ayo memaksimalkan berbuat hal kebaikan yang tak diekori keluh kesah!!! :D
Ayo Ani!!! Bersyukur di setiap waktu. Ketika bahagia maupun berduka. Ketika lepas cobaan, ketika tengah dibanjiri tawa, atau ketika melakukan rutinitas biasa saja. Sebab, hal yang biasa saja tersebut, ketika tetiba kita tidak dapat melakukannya atau mendapatkannya lagi, barulah kita rasakan betapa yang biasa itu sesungguhnya sesuatu yang luar biasa, yang meski berulang-ulang tapi sangat pantas dirindu-disyukuri. :D

Wednesday, 5 February 2014

KLB

Gue baru membajak akun seseorang. Uhn... mungkin bukan membajak karena apa yang gue lakukan tidak melalui serangkaian prosesi hacking dan tanpa menyalahgunakan kesempatan gue untuk menulis-mengirimkan hal yang tidak-tidak. Gue hanya berhasil menebak password akunnya. Di sini pun, gue murni hanya melihat-lihat apa saja yang dilakukan oleh orang itu di akunnya. Oleh karena itu, gue menyebut ini sebagai suatu tindakan Kepo di Luar Batas (KLB)

Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya gue melakukan KLB terhadap orang tersebut, melainkan sudah sejak berbulan-bulan yang lalu. Meski demikian, gue tidak rutin melakukan KLB ini karena kata Roland, kepo itu harus sesuai aturan. Awalnya, hal yang membuat gue tertarik melakukan KLB ini adalah iseng. Iseng ingin mengetahui bagaimana sikap orang tersebut terhadap orang lain. Apakah dia sosok yang adil dalam membagikan perhatian? Apakah dia begini, begitu seperti yang dibicarakan orang?

Namun, bukannya membuat rasa ingin tahu gue terpuaskan, KLB ini justru memunculkan perasaan bersalah yang entah kenapa baru sekarang kemunculannya semakin terasa. Gue memperoleh fakta lebih dari apa yang gue ingin tahu. Gue menjadi tahu bahwa gue bukanlah siapa-siapa dibandingkan siapa-siapa yang dia curahkan kelebihan perhatian kepadanya. Gue mengetahui sedikit problema yang seharusnya tidak diketahui dan dibagikan ke orang-orang, kecuali muncul sendiri dari pengakuannya. 

Gue merasa bersalah sekali, tetapi gue tercerahkan karena pertanyaan gue tentang dia yang misterius hampir seluruhnya terjawab. Gue yang tidak mampu memprediksi arah pemikiran dan tindakannya, kini sedikit mengerti latar belakan setiap keputusan yang diambilnya. Gue mampu memahami bahwa dia begitu memikirkan setiap detail tanggung jawab yang dipegangnya. Gue pun mengerti bahwa tidak seharusnya gue melanjutkan KLB ini untuk ke depannya karena ini benar-benar tidak manusiawi mencuri lihat apa yang seharusnya tidak dilihat.

Atas segala kesalahan mendaratkan perhatian dan kekhilafan saya, saya mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya kepada korban. Maaf, ya.... :(


Tuesday, 4 February 2014

Update dan Cari Perhatian

Kata Umam, orang yang sering meng-update setiap hal yang dialaminya ke dalam jejaring sosial mungkin karena mereka ingin memperoleh perhatian. Pernyataan tersebut membuat gue bertanya-tanya, "Jangan-jangan gue termasuk ke dalam orang-orang yang (terkesan) suka mencari perhatian?"

Pernyataan itu muncul pada saat Amel bertanya, "Apa yang harus aku lakukan ketika menghadapi orang yang begitu suka mengeluh?"

Apakah saat ini, sering update status identik dengan suka mengeluh? Pasalnya, gue memang sering sekali update dan men-tweet. Setelah dipikir-pikir, muatannya memang terkadang berupa kritikan atau rangkuman kejadian selama sehari. Samakah dengan mengeluh?

Tidak hanya status dan tweet, blog pun disebut-sebut sebagai wahana lain untuk curhat atau mengeluh oleh seorang adik kelas, Juned. Dia mengatakannya lewat twitter. Nah! Bukankah hobinya juga mengritik di jejaring sosial?

Selain itu, di dunia nyata, ketika gue bercerita, muatan cerita gue dibilang terlalu pesimis. Gue melakukannya tanpa sadar sebenarnya. Kata mereka, gue terlalu terbiasa memprediksi hal terburuk dari suatu rencana di samping memikirkan hal baik yang akan dicapai. Pemikiran realistis gue menurut mereka bergeser ke arah pemikiran negatif yang diwarnai pesimis dan rasa sensitif berlebih sehingga berakibat buruk pada suasana obrolan atau parahnya pada suasana hati dan semangat orang lain.

Gue memang sangat terlalu mendengarkan dan mempertimbangkan apa kata orang lain. Oleh karena itu, gue parno jangan-jangan apa yang gue lakukan selama ini begitu mengganggu mereka sampai-sampai banyak yang kurang suka dengan sifat gue?

Roland pernah bilang, jangan terlalu mendengarkan apa kata orang. Kalau Tiara lebih menekankan untuk menjadi diri gue sendiri, temukan hidup gue dan jangan cari perhatian. Hal ini membuktikan bahwa gue terlalu menuruti dan ingin menjadi apa yang seharusnya, seperti yang orang lain katakan.

Bukankah ini yang sebaiknya dilakukan? Atau selama ini gue salah mengartikan? Haha! Lihat? Gue masih sangat seperti bocah.

Setelah gue menyelami diri gue selama beberapa saat, memang inilah gue. Gue yang terbiasa karena dibiasakan untuk mengabulkan permintaan orang lain. Gue yang sejak mampu membaca dan menulis lebih terbiasa dan berani meminta, berbicara, memecahkan masalah, meminta maaf dan berterima kasih melalui kata-kata tertulis, entah SMS, surat kecil, gambar dan alur, chatting hingga status dan tweet.

Gue memang sulit menyuarakan pikiran. Pilihan kata gue di dunia pelafalan lebih sedikit dibandingkan di dunia penulisan. Ini yang membuat gue lebih sering menyampah di jejaring sosial, yang justru terbaca sebagai keluhan, kritikan, opini salah paham atau perlawanan yang tidak tersampaikan lewat ucapan.

Sebenarnya, jujur gue tidak terlalu suka eksis dan pamer atau semacam mencari perhatian. Hanya saja memang metode "berpikir dan menuliskannya yang terlalu sering seperti itu" lebih terkesan bersifat atau bertujuan demikian. Sebab ia tercetak, lebih mendetail, tidak mungkin salah dengar kata, dan tidak memiliki intonasi pengucapan. Artinya, setiap pembacanya bebas memaknai dan menciptakan intonasinya sendiri. Namun, sekali lagi saya katakan, sebagai salah satu orang yang sering update status, gue menulis sering kali dengan tanpa ada niat untuk melulu mengeluh, eksis dan mencari perhatian, melainkan begitulah cara ternyaman gue dalam berpendapat.

Jadi malu deh -,-
Sudah tua, tapi cara berpikir gue dan topik pikiran gue masih berkutat pada ini-ini saja.

Sunday, 26 January 2014

Oleh-oleh dari Brownies dan Metana (1)

Terlalu sayang untuk dibuang dua helai kertas ini. Takut hilang, sehingga saya menuliskannya kembali...
Mungkin ini terlihat bodoh karena membuka kartu sendiri. Dan bagi beberapa atau mungkin kebanyakan temanku, isi dari kertas-kertas ini bersifat pribadi dan rahasia. Kenapa aku tidak? Tidak tahu lah.
Saya tegaskan tidak ada maksud pamer, caper atau apaaa dengan menulis catatan ini... Hehe *perasaan pendahuluanne wis mlewer-mlewer temen ya? Serius! Ini serius, hehehe*

Refleksi Kelas X
diperoleh saat sekitar 3-4 minggu setelah masuk SMA
Ani itu...
-Ngga' pelit (my best chairmate)
-Pendiam (personil duo dangkal)
-Pendiam (personil duo dangkal)
-Pinter (corong, ;p)
-Mandan cerewet! (Hidane tehe)
-Suka ngobrol (sobatku yang nomor absennya selalu di atasku)
-Pinter (cewe yang sekarang juga praja IPDN)
-Lumayan bersahabat (penghuni pojok paling sering)
-Asyik (fans berat Cakka Icil)
-Aneh orangnya (master komputer brownies)
-Pinter (Betasonde)
-Biasa aja (tukang tidur)
-Biasa sasaja (pacul!!)
-Ceriwis (teajus, teh botol sosro)
-Nyelelek tapi baik (icha icha di dinding)
-Biasa aja (TePe)
-Diam/kalem (benzena, :p)
-Bersahabat (istri hitler yang berdarah-darah, hehe)
-Pendiam (miss Ikoto Pikorino)
-Calm (caesar brownies)
-Aja cengeng ya, ning pinter bgt (opang, my motivator, :D)
-Baik, mau b'bagi, pinter (my best friend, si genter)
-Pinter, rajin, mau b'bagi (ucup)
-Pinter, mau nyontoni (haha, Abi, reader sejati!)
-Cerewet, baik, pinter (novelis kita, :D)
-Diem" pinter! Cerewet+baik+rajin (daeva, paling teraniaya Fajar)
-Pendiem (timo yang rajin kasih coklat tiap tahun, :9)
-Pendiam misterius (mr. Lebay ever after, hoho)
-Serius, baek. (mba pu3 yang so sweet)
-Pinter, kerajinan (pinky girl, kacamata hitam bening yang antik, he)
-Kalem (uje)
-Baik (sastrawan berbakat, :))
-Baik, care, ya... baik!! (my sharebox)
-Kurang sosialisasi (mahasiswi FITB)
-PD, nies! (mba syif)
-Yakinlah pd dirimu! Ciee... (ratu mencheng)
-Rajin (wahyu)
-Pinter, suka ngelucu juga, baik!! (Lutfi yang so sweet)

Depok, 12 September 2010

Kata Mereka (Ketika Masih Maba)

Keegoisan
Menyelami danaunya sendiri
Menyampahinya dengan tinggi hati
Cerca tak menyadarkannya
Bahkan tangis hanya sebuah fatamorgana
Bukan!
Bukan fatamorgana tapi sandiwara
Aktor tunggal
Sandiwara bercabang yang dibuat-buat
Bagus sekali aku menyebut diri?
Haha

Kata Mama saya manja dan bebehan.
Kata Romo saya sangat bebehan dan boros.
Kata Leli saya pelit.
Kata Tiara saya lemot.
Kata Widya saya ya saya.
Kata Astin saya teman yang langka (kapan gole ngomong ya? Pokoknya itu kesimpulanku, he).
Kata Ayu saya ciwek dan basah.
Kata Rizky saya baik dan welcome terhadap wajah baru.
Kata Dinda, "Yakinlah!"
Kata mba Nia saya konyol.
Kata Jodi saya aneh.
Kata Solie saya wagu.
Kata Gilda saya bingungan.
Kata Wari saya mutungan.
Kata Aris saya cepat marah, ;p.
Kata Wahyu saya keras.
Kata Iam saya gabungan antara humoris dan melankolis.
Kata Alfi saya ceria dan plin plan.
Kata Dede saya pasrah.
Kata Timo saya harus lebih menghargai orang.
Kata Ririn saya cocok jadi author fic gaje.
Kata mba Iie saya pengertian.
Kata "dia" saya saya apa ya? Blablabla Writer?
Kata temennya dia blog saya isinya cerpen.
Kata Ivah saya ceria dan misterius.
Kata Tami saya...saya...?
Kata Anti, "maaf ya, An, aku ngga tahu"
Kata Kuni (idem sama Anti)
Kata mba Hani, "maba maba!"
Kata mba Ria, "Semangat!"
Kata Dewi saya adalah Bu Sutradara.
Kata Martyn, "Aku ngertine nomormu thok!"
Kata Nopi saya cengeng dan selalu berubah-ubah.
Kata Hari saya tidak cocok dipanggil mba.
Kata Amel saya wagu dan melankolis.
Kata ex-- saya seperti mbah-mbah.
Kata beberapa adek kelas saya unik.
Kata beberapa kakak senior, "Youth! Maba!"
Kata Fajar saya misterius dan selalu update status dan nulis di catatan.
Kata Erni saya memang teman basah yang unik.

Kata Kyu kata sya,ani itu org yg..mm,,
emosional,
mdah tBwa emosi,
panikan,
mgkn kdg ska menyalahkan dri sndiri,
kdg ga 'on',
sptY tdk bsa mBgi konsentrasi,
bhasaY tLalu tinggi,
mmg basah sii,hahay..
sptY jg gmpg kBwa pKtaan orla,
ksimpulanY,sptY bgtu (apaY?)..hahay,,
n yg tPntg kata saya adl,"an,sya laper.."

Kata Dila ani itu cocok banget jadi penulis.... *serius g boong
Kata Delisa "kamu orang nya baaaiiiiikkk sekali, jago gambar dan sabar"
Kata Rizky Berli, " Ani memg welcome kok,bnran dah. Anda trmasuk org2 yang pertama welcome mg aku. Kan maune ak r due kanca *emge ski due kanca y?haha*, ak kan tkg curhat ttg th*ee mg kw, kw mnanggapi keluhnku dg sbar bak cust.serv..."

Kata Jeaneria, "Aku setuju sama dhilla"
Kata Iam lagi, "sanguinis ani..."
Kata Erni lagi, " Selalu bkim senyum nek baca ctetanmu an.."

Kata siapa lagi ya???

Hn, kata saya, saya belum menemukan saya itu sosok yang bagaimana. Yang jelas saya moody dan memaksa.

Katamu?

Depok, 17 September 2010

*tapi itu dulu, sekarang apa kata mereka sudah banyak yang berubah*

Rencana Imajinatif (1)

Sepertinya ini adalah catatan ke-2 atau ke-3 milikku yang berjudul "Rencana". Aku memang orang yang sangat susah mengambil keputusan tak terkecuali memutuskan setiap judul catatanku. Alhasil, aku tak pernah ingat judul dari catatan-catatanku yang pernah published. *ngga penting banget sepertinya? (memang!)*

Begini...
Aku menargetkan telah membeli benda itu
Jauh hari sebelum menuju kampung
Sebuah marchandise bertali
Sehingga kau bisa mengikatkannya pada leher jika mau
Aku bersungguh-sungguh ingin membawakan segumpal tanah merah
Supaya kau tahu bahwa aku menginjaknya tiap minggu

Mengenai benda itu, aku ingin menggantungkannya di pohon yang bersandar kokoh di ruang kerjamu
Di mana kacamata pun ikut bergelantungan di dahannya
Aku sangat yakin kau akan mengingatku melalui benda itu

Namun, aku masih tidak tahu benda apa itu
Bahkan memori kita tak mengenal cendera mata
Hanya kontak dan komunikasi yang menjadi syarat sebuah interaksi

Aku meracau setiap bertemu kawan
Meracau tentang kau
Aku tidak tahu apakah kau ingat betul pernah menggila bersamaku
Namun, aku ingin kau tahu aku gila karena kau

Lihat?
Betapa kalimatku kini hancur
Mungkin kau punya andil atas gejala disleksia kalimat ini
Muskil!
Kau selalu menyingkir

Aku punya target
Memberimu sebuah benda tentang kota baruku, saat libur musim dingin berakhir
Awal tahun yang aku kira akan menyenangkan, semoga benar-benar menyenangkan
Kau harus ingat yang mana dahanmu
Aku akan menggantungkan benda itu di dahan yang sama dengan saat dulu kau meletakkan sarang burung woodpecker

Jangan pecahkan rencanaku
Aku punya sesuatu
Kau harus ingat dahan itu
Kau harus ingat tanda dariku

Awas!


"Rof" the Dumb Friend Valentine "sumin" Five

Depok, 17 November 2010

Curhatan Ketika Maba

Aku ingin bercerita. Waktu di sini begitu suka berlari. Atau aku yang terlalu lambat hingga terseok-seok seperti seorang suster ngesot. Tunggu! Suster ngesot bukan orang ya? Berarti apa? Sehantu suster ngesot? Ngomong-ngomong kalau menyebut hantu yang berjumlah satu apa yah? Sebuah, bukan benda. Sekuntum, tambah ngawur. Sehantu? Ah persetan dengan jabatan para hantu-hantu abstrak yang tidak jelas kebenaran dan keberadaannya itu.
 
Jadi kembali lagi ke topik bahasan awal, waktu. Aku pernah menulis soal ini. Dan ingin lagi. Empat bulan di sini, di Depok, di tanah yang tanahnya berwarna merah seperti tanah kuburan, aku sudah merasa seperti di rumah. Meskipun kadang sebal dan kaget sampai guling-guling (hiperbola) saat mendengar petir-petirnya yang kerasnya tiga kali petir Kebumen (pengukuran dilakukan dengan alat ukur perasaan dan pendengaran), aku sudah kerasan. Namun, satu hal yang masih membuatku bisa menangis tersedu-sedu hingga nyakar-nyakar tembok: "Aku belum mampu menaklukan waktu". 
 
Aku sudah bilang, waktu di mataku, sangat suka berlari. Pernah suatu hari aku tertidur, perasaan baru setengah jam. Tahu-tahu, alarm jam 8 pagi udah berbunyi aja. Padahal waktu itu, rencananya aku mau berangkat latihan MB di gymnasium pukul 8. Oke, kalo soal ini mungkin memang murni kecerobohan, kemalasan, kepikunan, dan kekeboan diriku. Aku ngaku.
 
Entah aku yang bodoh dalam menghitung menit, atau aku memang kurang menghargai waktu, aku merasa porsi jam pelajaran biologi di SMA yang durasinya 2x45 menit jauh lebih lama dibandingkan porsi jam mata kuliah biologi yang dipatok 2x50 menit per minggu. Sepertinya, semua ini bersumber dari satu sebab, aku belum terlalu mengenal hidupku saat ini dan mampu beradaptasi. Parah? Memang! 
 
Setiap hari Jumat dan Minggu, aku berlatih MB (marching band) di gymnasium atau pusgiwa. Aku datang pukul 4 sore, apel dan pemanasan 10 menit, lalu mulai latihan dengan alat masing-masing. Skip! Skip! Skip! Perasaan baru setengah jam latihan, tapi ternyata, waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, waktunya istirahat shalat maghrib. Jika dihitung-hitung, aku latihan selama 110 menit. Bagaimana mungkin, 110 menit bisa terpotong menjadi 30 menit? Aneh lah aku!
 
Manajemen waktu yang masih sangat amat sangat sangat buruk sekali, untuk seseorang yang sudah bisa dibilang sebagai mahasiswa. Lalu, bagaimana cara menanggulangi hal ini? Aku membuat semacam jadwal imajiner. Aku mematok waktu untuk setiap kegiatanku. Jika dilanggar, baik oleh aku maupun orang lain, maka aku atau orang lain itu akan mendapat hukuman. Sadis. Hukumannya bermacam-macam, tapi kebanyakan lebih ke sanksi sosial (wahahaha, kesannya kok menakutkan ya??). Biasanya, aku akan marah-marah sendiri, jika jadwal-jadwal imajinerku terlanggar, atau cemberut yang menimbulkan sebuah ekspresi bingung tiada terkira dim mata orang. 
 
Sudahkah berhasil? Lumayan, sedikit sedikit berfungsi. Namun, tiba-tiba ada satu hal yang memporak porandakan jadwal itu. Apa? Sesuatu yang abstrak, sangat abstrak karena tidak terlihat, tidak terdengar tapi terasa. Mungkin aku butuh metode lain, agar aku lebih mampu berpacu dengan waktu sehingga hidupku bisa harmonis. Disiplin!!! Dan dewasalah membagi waktu. Perbaharui skala prioritas dan jangan memikirkan "hal yang tidak-tidak", setidaknyan itulah pesan Mama sejak aku SD yang selalu aku ingat sampai sekarang. Haik! Haik! Haik! Semangat! 
 
 
With a spoonfull of Love for  everyone on the earth, Amarilis said, "Ganbatte ne, mina san!"

Depok, 4 Desember 2010

Tentang Bullying di Zaman SMA

Bisa bertahankah kau di sana, bisa bertahankah, sayang...
Coba bertahanlah,bertahanlah kau di sana...
Coba bertahanlah,sayang...
Semangat mencercaku,sedang berkobar!
Bagi yang mau baca,disarankan jangan! Anda akan bingung!
Wassalam



Terlahir di dunia disambut gelap gulita subuh hari, rasanya cukup bangga rasanya pada diriku sendiri. Orang-orang dulu bilang, "seorang bayi yang lahir di kala langit gelap menjelang subuh, di saat kabut malam menyelimuti bumi, pasti dia adalah orang yang besar, karena mempunyai keberanian tinggi... Baik dalam hal dunia maupun dunia lain."

Memang terlalu umum, dan terlalu luas makna kata-kata tersebut. Tidak khusus lah!!
Toh, aku bangga! Aku tumbuh besar di kalangan orang-orang pedesaan. Orang-orang yang solid,tapi kurang mempunyai keberanian untuk membuat terobosan. Namun, aku terlampau percaya pada mitos orang-orang dulu itu yang diceritakan oleh kakek dan nenekku. Kuanggap diriku sendiri seorang yang pemberani. Kuanggap diriku tak takut pada apa pun, kecuali bapak n ibuQ. Intinya sok-sokan lah...
Aku pun mulai membuat terobosan. Kuikuti jejak sepupuku yang meneruskan pendidikan di smp 1,lalu k sma 1. Kata orang itu sekolah bergengsi.
Masih dengan segunung keberanian, kudatangi 2 sekolah itu (dulu) hampir seorang diri (sebab,keberadaan teman tak terlalu membantuku,aku hampir ditinggalkan sendiri,dan sendiri kusiapkan diriku menggapai mimpiku...). Dengan banyak harapan tergantung...aku menjajal mencicipi aroma kedua sekolah itu.
Selepas smp keberanianku menyusut jadi sebukit, dan di sma ini dia bertanformasi mengubah dirinya menjadi sebesar kerikil foraminifera.
Ironi!!!
Seiring waktu dia terus mengecil, hingga aku takut jangan-jangan dia akan jadi sebesar sel amoeba.
Aku terus coba kembangkan sayap, berharap kerikil itu dapat mengembang pula setidaknya jadi pualam kelam yang lebih kokoh...
Sedikit demi sedikit, kembalilah dia, sekarang dia sebesar batu apung lalu di bulan ke6, sebesar karang coral...
Aku sudah optimis, keberanianku akan menggunung lagi!!
Tapi, kenyataannya bulan ke6 itu bagaikan klimaks dari metamorfose-nya. Dan bulan ke 7 hingga 12 adalah anti klimaksnya.
Sekarang bulan ke12,aku merasa keberanianku hanya sebesar sebutir padi...
Dia dan mereka telah mengikis, memarut-marutnya hingga sebesar itu. Hebat! Sungguh hebat!! Salut aku!
.
Aku mengutuki orang-orang yang memanggilku anikita willy!!!

Kebumen, 22 Juni 2009

Sepi

Tetes-tetes air mataku jatuh untuk kalian...
Di tengah kesepian yang menikam akal sehatku...
Aku teringat kalian...
Teringat dosaku pada kalian...
Teringat tabiat burukku yang tak termaafkan...
Teringat getir senyumku yang penuh paksa untuk kalian...
Tapi tak sedikit pun aku teringat keceriaan bersama kalian...
Hal ini membuatku semakin sepi...
Mungkin sejuta kunang-kunang pun tak mampu menerangi...
Sound system dan alat-alat musik orkestra sepenuh gedung opera australia pun tak mampu meramaikan...
Aku sepi...
Sungguh sepi... Dan lebay...
Ani, sendiri menanti...

Kebumen, 28 Juni 2009

YA AMPUN!!!
Dari dulu emang cengeng gitu ya gue????

Kumat!
Sepi yang berlebihan,
Kesendirian yang menyakitkan,
Menerbangkan akal sehat,
Mengendapkan kerak hampa.

Ceria diusung nestapa,
Jenaka disapu paksa,
Dan aku telah lupa cara tertawa...
Aku... Hilang perasaan...

Kebumen, 4 Oktober 2009

Percakapan Lama :)

Status Anifatun Mu'asyaroh:
terlalu lelah selalu kalah. Aku harus bangkit!!!
Semangat,An! Ganbatte ne!
4 Juni 2009
· Batal Suka · 7 Komentar · Bagikan · Hapus

Si Kawan Bisu
Apa mau kalah terus??gak kan??smagat mba ani!!
hehehe
Suka · Hapus · 4 Juni 2009

Anifatun Mu'asyaroh
Hwaha,
terharu aq...
AkhrN kau bsa ngmg dgn bnr jg,b0ng...
Suka · Sunting · 4 Juni 2009

Si Kawan Bisu
Kwe ngmge wis bner esh bang bong bae..genahe ya mbe.....curang
Suka · Hapus · 4 Juni 2009

Anifatun Mu'asyaroh
Haha,ok lah ***...
ADIK kelas yang nylelek...suksess ya!!
Lh dng status ddi wall c lah...
Suka · Hapus · 4 Juni 2009

(Ini pas zaman masih alay)

Saturday, 25 January 2014

Edensor dan Si Kawan Bisu

Dulu. Dulu sekali, saat kelas XI - XII SMA. Ketika itu, gue suka sekali dengan segala hal yang berhubungan dengan tetralogi Laskar Pelangi. Mungkin salah satu faktor yang membuat gue suka adalah karena ada orang lain juga yang suka dan gue lumayan sering memperbincangkan LP ini dengannya. Sebutlah dia Cebong. Cebong ini seorang adik kelas ketika SMA dan salah satu dari tiga adik kelas cowok yang gue kenal ketika SMA (dua yang lain adalah teman main masa kecil dan tinggal satu desa dengan gue). Bisa jadi, gue juga satu-satunya kakak kelas yang dia kenal ketika SMA.

Oke, singkat cerita gue dan Cebong sering berbalas komentar status atau wall to wall di Facebook. Nah, ketika terkuak bahwa kami berdua sama-sama suka tetralogi LP, tetiba kami berdua jadi sok-sokan menggunakan bahasa Melayu ala Belitong seperti yang digunakan dalam keseharian tokoh-tokoh LP.

Ketika itu, gue masih sangat alay dan mungkin hingga sekarang pun masih tersisa, ke-alay-an itu, hehe. Uhn, ke-alay-an itu terwujud dalam tulisan. Contoh: aq jg tau k0k, tp kykN g perlu dsebarn jg sh! (asal ketik). Alhasil, komentar gue pun terlihat semakin geje. Sudah bahasanya campuran (Bahasa Indonesia, Melayu gadungan dan ngapak), tulisannya awut-awutan, huruf-hurufnya alay lagi. Bikin pusing!

Berbeda dengan si Cebong ini. Dia tak pernah alay sama sekali. Mungkin terkadang masih menyingkat kata sih, tapi ya hanya itu. Contoh cara menulis dia: Uwis arep ujian, mbe (panggilan dia ke gue, dulu)! Sing rajin sinaune! Aja OL bae!

Nah, berkat dia dan sahabat gue Tiara lah, gue tersadarkan untuk tidak menyingkat kata dan menggunakan huruf kapital sembarangan di luar aturan EYD.

Kembali lagi ke judul. Edensor merupakan seri ke-3 dari tetralogi LP ini. Ketika SMA, gue suka sekali membaca banyatj novel, tapi tidak pernah membeli satu pun novel. Begitu pula dengan Edensor ini. Padahal, gue sudah terlanjur sangat suka dengan buku ini. Dan jika gue sudah suka terhadap sesuatu, gue akan berulang-ulang membacanya, melihatnya atau mendengarkannya, kapan pun setiap kali gue memang ingin melakukannya. Nah! Masalahnya, Edensor ini hanya buku pinjaman dan gue tidak mungkin dapat membeli buku ini ketika itu. Alhasil gue pun memikirkan sebuah cara dan...

Gue akhirnya memutuskan untuk membaca isi satu buku itu, dari awal sampai akhir; dari mozaik 1 sampai 43; dari ujung halaman pembuka hingga ujung halaman penutup; dan merekamnya dengan handphone Nokia 3110C gue. Seluruhnya gue baca dan rekam, tanpa terlewat satu kata pun.

Ini, gue baru saja membuka-buka file lama. Ternyata file-file rekaman Edensor itu masih ada. Ketika gue melihat file properties rekaman-rekaman itu, dapat diketahui bahwa ternyata gue menyelesaikannya dalam lima hari, yaitu dari Kamis-Senin, 23 - 27 April 2009. Konsekuensinya, gue hanya dapat mengerjakan PR di pagi hari, beberapa jam sebelum berangkat sekolah, karena waktu gue hanya gue curahkan untuk membaca ulang buku itu dan merekamnya, setiap harinya. Wkwk. Gila! File-nya lengkap. Ada 43 file rekaman suara berformat .amr dan dijuduli dengan judul yang sama dengan yang ada di tiap mozaik di bukunya. Dari "mozaik 1: Lelaki Zenit dan Nadir" hingga "mozaik 43: Turnbull". Tanpa berpikir panjang, langsung saja, gue copy paste satu folder rekaman Edensor itu ke memori eksternal handphone gue. Hahaha. Semacam mengabadikan memori manis (?) ketika SMA. Konyol deh kalau diingat-ingat, haha.

Nah, lebih konyol lagi, setelah selesai rekaman itu gue langsung pamer ke Cebong via Mxit, kalau gue sudah membaca dan merekam satu buku Edensor. Sontak dia terheran-heran. Dia hanya merespon, "Gila ya mbe? Diwaca dewek? Direkam? Kober temen? Nggo ngapa jel? Hahaha." Dan gue pun hanya membalas asal, tidak bisa menjawab atau memberi alasan tepat.

Hahaha. Gemblung.

Selain direkam, gue juga suka mengutip paragraf-paragraf atau kalimat-kalimat yang ada di dalam buku itu dan gue tuliskan ke dalam notes FB. Mungkin, ini yang membuat seorang teman bilang bahwa terkadang cara menulis dan hasil tulisan gue mirip seperti gaya tulisan Andrea Hirata, yang hiperbolik dan berputar-putar. Dia tersugesti oleh kutipan-kutipan dari tulisan Andrea Hirata yang gue share di note Fb.

Wohoo. Oh iya, salah satu note bertanggal 28 Juni 2009 yang berisi kutipan beberapa kalimat di buku Edensor, juga dikomentari oleh Cebong, "Rajine..wis ngrekam mbrang dicateti maning..jyan jyan" pada tanggal 2 Juli 2009. Ketika itu gue merasa senang karena merasa diingat oleh seseorang. Huahaha.

Oke. Mengapa gue melibatkan Cebong di dalam tulisan ini? Alasannya adalah karena dia termasuk ke dalam "10 orang paling berpengaruh dalam hidup gue". Dia adalah satu dari tiga orang pertama yang mengomentari note FB gue. Dia adalah satu-satunya orang yang membaca bio FB gue dan memastikan maknanya ke gue, "I wanna be a w*****. Writer?" Dia adalah satu-satunya orang yang (bisa jadi) tulus dan tanpa basa-basi dalam mendukung gue untuk menulis dengan gaya gue sendiri, meskipun satu-satunya alasan yang membuatnya berkata demikian adalah "Tulisanmu apik". Dia, yang dulu, adalah satu-satunya orang yang mengomentari status gue dengan kata-kata yang membuat gue kembali mengingat indahnya ketetapan-Nya. Dia, secara kebetulan, merupakan orang pertama yang nge-chat di FB ketika dompet kecil berisi handphone, flashdisk, modem, atm, kabel data, dan tiket sesuatu gue hilang. Dia adalah orang pertama yang mengingatkan gue untuk selalu mem-back up file-file penting ke mana-mana ketika gue menghilangkan file tugas kuliah gue, meskipun tentu saja itu merupakan respon basa-basi ketika nge-chat. Dia adalah orang yang membuat gue tertarik dengan fotografi dan akhirnya menabung untuk membeli kamera saku yang terjangkau.

Wahahaha... Uyeah akhirnya malah curhat!

Uhn, dia adalah sosok teman yang sangat berguna dan peduli, si Cebong ini. Pasca dia memulai studi Kedokterannya, dia jadi jarang bermain FB. Chatting-an pun hanya 1-3 bulan sekali, lama-lama 4-6 bulan sekali, lama-lama hanya 12 bulan sekali yaitu setiap lebaran untuk saling meminta maaf, dan lama-lama tidak pernah sama sekali. :)

Hingga saat ini, meski gue sudah tidak berteman lagi di FB, gue masih menganggap si Cebong ini sebagai salah satu teman di dunia maya yang paling peduli dan pandai menghibur gue, meski itu dulu. Teman yang tidak biasa karena belum pernah gue ajak berbicara dengan bersuara, karena kami belum pernah berjumpa selain berpapasan, karena kami berbeda angkatan. Dia adalah teman yang akan gue identifikasi dengan label: Memori Tetralogi Laskar Pelangi, Adik Kelas yang Sepertinya Banyak Temannya, Bocah Berkacamata di Tiang Voli, Si Pemilik Kamera Nikon, Si Kaskuser, Si Kakak yang Sayang Adik Perempuannya, Si Penyuka Kucing, Si Humoris, Si Dia yang Namanya Sama dengan Kakak-kakaknya, Si Dia yang Galau Antara Teknik Sipil dan FKIK, dan Si Kawan Bisu karena komunikasi pertemanan biasa ini tidak pernah terjalin secara verbal atau bersuara.

Hahai. Apa kabar Cebong? :')

Friday, 24 January 2014

Dedeknya (1)

Ini adalah dedek Ardi. Dia anak kedua mba Saroh, penjaga kos Wisma Yellow Orchid, tempat gue kos sekarang. Bocah ini lucuuu banget. Umurnya baru 2 tahun 6 bulan, tapi aktifnya minta ampun. Lebih cocok disebut hyperactive sih karena sama sekali tidak bisa diam...

(bersambung)

Monday, 20 January 2014

Betapaaa...

Betapa gue merindukan mereka.
Betapa gue ingin mendengar suaranya.
Betapa gue ingin cinta ini tersampaikan setiap saat.
Bersama mereka kurasakan manis, masam, hambar dan pahitnya cinta, cita dan cerita.
Betapa aku menggantungkan cinta pada mereka dan dirinya.
Betapa aku ingin mewujudkan cita demi mereka dan dengan dirinya.
Betapa aku melewati banyak cerita dalam perjalananku bersama mereka dan semoga untuk selanjutnya bersama dirinya.

Tuesday, 7 January 2014

Seorang Adik Kelas (2)

Panggil saja ia Abe. Gue pertama kali melihatnya pada sebuah Mei. Gue tidak terlalu mengenalnya sebetulnya, tetapi gue sangat mengagumi kepandaiannya. Berdasarkan data hasil kepoan gue, Abe memiliki jejak akademis yang sangat bagus yang konsisten hingga sekarang...

...dan tiba-tiba gue bingung mau menuliskan apa lagi tentangnya.

Mungkin sudahi sampai di sini saja. Gue terlalu tidak mampu membacanya, si Abe bergolongan darah AB ini.

Tetap semangat! Gue dapat melihat gerbang cerah mulai terbuka lebar dan mungkin menantikan kebergabungannya. Gue yakin ia akan menjadi salah satu manusia berpengaruh bagi kampung halaman kita, Kebumen.

*masih bingung, kenapa menuliskan ini*

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...