Ini tentang melukiskan dunia dalam kata; tentang aku dan jejalanan yang akan atau telah aku lewati; tentang Kawan yang lebih berwarna dibandingkan pelangi; tentang ramainya penjelajah ilmu yang selalu haus memecahkan teka-teki; tentang cinta yang tak kan pernah henti meski listrik mati; dan tentang aku yang masih mencari jati diri. Aku menulis... untuk mempertahankan memoriku hidup lama, jauh lebih lama dari aku menempuhi hidup ini.
Tuesday, 1 March 2011
Awal Maret
Thursday, 24 February 2011
Galau
Monday, 31 January 2011
Kasus pertama yang ditangani oleh Detective Auriga Amarilis ternyata diberikan oleh adek kelasnya.
Di suatu malam yang lupa suasananya, sang detective memulai rutinitasnya yang menyenangkan dan mengandalkan kelihaian tangan, bukan sulap bukan sihir, melainkan chatting-an. Saat itu sudah pukul sembilan malam lebih, tapi jarinya tak juga lelah menari. Dia melirik kalender meja yang berdiri tegak di atas tv 21 inchi di depannya, dan ditemukannya angka 9 di bulan ke-6. Tahunnya? 2009 lah.
Tiba-tiba si adek kelas mengirimkan pesan. Dia mempertanyakan kepiawaian sang detective memecahkan kasus kriminal maupun non kriminal. Merasa diremehkan sang detective pun marah-marah dan mulai menyombongkan diri dengan menceritakan sedikit keahliannya dengan sedikit bumbu rekayasa. Akhirnya, setelah meyakinkan si adek kelas bahwa dia bisa menjaga kerahasiaan kliennya ("semoga!" dalam hati sang detetive), si adek kelas pun memberanikan diri untuk menceritakan kronologis kejadian. Ini kasus kehilangan. Dialog yang digunakan sesuai dengan kultur asal sang detective.
~oamariliso~
21:57 WIB
Pirman: Wktu tgh mlm, ad 4 org gelar klasa ng lpgn, slh 1na mr x,
Trouble Maker: Pokeran y?? He... Lanjut!
Pirman: Agp aja yg lain a,b,dan c
Pirman: Trz mrka tdur..
Trouble Maker: Trz ilang?
Pirman: Ak iya, ne kwi ora
Pirman: Sat itu, blm tdur, hp mr x jath dr sakuny, nah. . .masi sadar, mr x mgmbil hpny tsb kmudian me2gangny erat2,
Trouble Maker: Then?
Pirman: Tidur...
Trouble Maker: Abz tu ilang???
Pirman: Stlh skian lma,,
Pirman: Grimiss
Pirman: Kn ng lpangan, trz d gugah kon pndah, tpi. . .mr x tidak sadar klu ia tdk me2gang hpnya lg. . .
Pirman: Then si a dan b ngusungi klasa. . .
Trouble Maker: Trz trz?
Pirman: Bar kwi. . . Mr x dan c kmbli tidur, meanwhile, si a dan b pergi golet sega goreng...
Trouble Maker: Hmm... X n c tdr dmn?
Pirman: Ak ra brg kro mreka, tp pd2 ng lpangan. . .
Trouble Maker: Okeh... Trz?
Pirman: Smentara it, ak dan tman2 lain masi asyik pokeran tkan jam stgh 3, ng lapangan,
Trouble Maker: Ah! Berlebit"... Ra pntg kwe, ... Wkwk
Pirman: Hahae, selingan lah
Trouble Maker: Trz? Trz?
Pirman: Saur
Pirman: Nah, bar saur kwi, tmbe kemudan, mr x hapene nandi?!
Pirman:
Pirman: D hubungi g aktip, pdhl btre ful, bar saur glet2 ng lpgn+pngledahan...
Pirman: But, it has no results
Trouble Maker: Hmmm
Pirman: Nah, kbtlan, si A trkenal dg sifat2 buruk n
Pirman: Alias mandan mreman
Trouble Maker: Yo, tp knp km menyangka si B??
Pirman: Ak nyngka si a..
Trouble Maker: Oh. Mki ng duwur m.b hehe...
Pirman: Maybe kwi kasmudte
Trouble Maker: Wah. Tp si C alibinya jg kurang. hehe...
Trouble Maker: Kasmudte ap?
Pirman: Maksudte,
Pirman: Ia ncen, ming mbtiri turu tok
Pirman: N yg mperkuat dugaanku ke mr A, sikapny rada aneh,
Trouble Maker: Gugup? Bingung? Air muka aneh?
Pirman: Tidak, tpi ra kaya biasane,
Pirman:
Pirman: Tek pandeng mandan kepriben,
Trouble Maker: Waw. Tatapanmu mengalihkan dunianya, hegegeg...
Trouble Maker: Hmm... Matanya bicara???
Pirman: Haha, beh tmen,
Pirman: Ia, sptinya dy ber ekspresi palsu
Trouble Maker: Hmm... Klo 2org lain gmn?
Trouble Maker: Maaf jaringan eror... Crta ws tk tampung...
~oamariliso~
Semenjak percakapan tanpa suara itu, sang detective tidak bisa tidur tenang. Dia mulai membangun hipotesis, kapanpun dia bisa berpikir. Namun, hal ini ternyata cukup susah baginya. Dia tidak mengenal keempat orang itu. Hanya dengan mengetahui kronologis kejadian dan opini kliennya, tidak cukup baginya untuk berteori dan menemukan si pelaku. Ini kasus biasa ditemuni, tapi untuk seorang detective baru bin amatir bin baru sekali diberi kasus tanpa menginterogasi korban dan calon tersangka, kasus ini terbilang cukup susah. Lama-lama dia mulai gila. Lalu lupa. Memang si detective ini mempunyai penyakit langka bernama pikun. (langka?)
Hari berlalu. Sang detective pun berjumpa dengan si adek kelas. Dan tiba-tiba dia teringat kasus yang dia lupakan itu. Untuk menutupi kelupaannya, dia sengaja bertanya, "Bagaimana? Udah ketemu? Temenan kae pelakune?"
Si adek kelas pun menjawab dengan cepat,"uwis! ternyata benar! pelakune kae! dia mengakui perbuatanne setelah didesak! akhirre hp-ne mbalik meng sing nduwe. happy ending"
Diam. Sang detective merasa gagal. Why? Dia tak bisa menyelesaikan kasus pertamanya bukan karena apa-apa, tapi karena dia lupa, zzzzzzzzz. Kasus itu terselesaikan dengan sendirinya. Sang detective benar-benar malu, lalu off. Untung si adek kelas atau kliennya, tidak pernah mempermasalahkan kelupaan sang detetive.
What a gaje case with a gaje detective!
Tuesday, 18 January 2011
Untitled (part 2)
RATMI P.O.V. (Point of View)
Aku orang Magelang. Tujuanku hijrah ke ibukota adalah untuk mengais rezeki dan mencari emakku yang hampir dua windu menghilang. Usiaku baru 4 tahun 5 bulan, saat ia pamit mau beli bawang di warung Wak Jarir. Aku ingat pasti, ia memakai daster bunga-bunga berlengan pendek dengan keranjang belanjaan penuh isi dikempit lengan kanannya. Rambutnya yang sepinggang dikucir kuda, tapi tak begitu tinggi. Dan saat kulihat matanya... Matanya sembap. Dan benar-benar dapat kubaca bahwa ada pergulatan besar di batinnya. Ia mencium keningku. Itulah ciuman terakhirnya untukku. Lalu ia pun pergi bersama semilir angin.
Di atas meja kutemukan selembar kertas putih bertulisan. Kertas itu basah. Kuduga oleh air mata emak. Lalu kubaca tulisan dalam surat itu dengan susah payah karena aku baru bisa mengeja.
"Emak mau pergi ke Jakarta. Emak sudah tak tahan dengan sikap bapakmu itu. Emak ingin bebas cari uang sendiri. Jaga dirimu baik-baik!"
Di kali ke-7 aku membacanya, baru aku paham betul makna surat itu. Aku pun diam.Tak menangis, dan tak pernah memanggil namanya hingga kini.
*****
Aku bertemu dengan Radit pertama kali di stasiun Manggarai. Dia begitu mempesona. Aku tahu dia seorang mahasiswa. Dan sejak kecil aku ingin menjadi mahasiswa. Dia duduk lesehan di dekat peron 1, membaca koran tipis yang sedikit kumal. Aku mengira dia adalah orang Jawa Tengah seperti aku. Aku yakin, lebih dari setengah yakin, karena sudah lebih dari 17 tahun aku hidup di antara orang Jawa.
Untuk sejenak tujuanku mencari emak teralihkan oleh dia. Stasiun Manggarai yang tak pernah sepi dari pedagang menjadi saksi, cinta pertamaku bersemi geli. Aku sebenarnya tidak bertemu dengannya. Hanya aku yang memandanginya dari radius 10 meter. Aku tak berani mendekat pastinya karena aku hanya pedagang asongan yang menjajakan tissue.
Namun, sepertinya dia dapat menangkap gerak-gerik anehku. Aku yang pemalu, canggung dan gampang salah tingkah ini sangat mudah menarik perhatian orang. Tiba-tiba, dia memanggilku. Sopan sekali. Hanya mendengar suaranya saja sudah cukup membuat mukaku memerah tomat. Aku diam saja karena bingung. Entah bagaimana caranya dia sudah berdiri di sampingku memandangiku dengan wajah heran. Aku yakin wajahku sangat aneh saat itu. Mulutku masih terkunci. Sebagai pedagang tissue, seharusnya aku menawarkan tissue padanya. Namun, hal yang terjadi adalah sebaliknya.
"Mba, tissue-nya dijual ndak ya, mba?" Lagi-lagi aku merasakan jantungku berdebar hebat. Ah! Bisa kena seragan jantung mendadak ini. Sepertinya tidak lucu jika aku mati berdiri dikarenakan terkena serangan jatuh cinta mendadak di stasiun. Pelan-pelan aku menjawab pertanyaannya, "B..boleh. Eh iyo, Mas. Maksudnya iya dijual, nggih Mas." Aku akhiri dengan senyuman paling konyol yang pernah aku lakukan. Kulihat ekspresi wajahnya yang tiba-tiba berubah menjadi...tersenyum. Apa yang... apa ada yang lucu??? Duh Gusti! Apa tadi aku berbicara jawa??? Pantesan!!! Ratmi...piye to koe iki???
"Oh...orang Jawa to, Mba? Aku juga iki. Asal mana mba?" Kaget. Dia benar-benar berbicara jawa? Lucu.
"Iya, Mas. Asal Magelang. Masnya? Jawa juga? Jawa Tengah? Mana?" tanyaku dengan cepat untuk menutupi suaraku agar tidak terdengar bergetar.
"Aku Kebumen. Yang ngapak-ngapak itu lho!" Kebumen ya? Sepertinya aku pernah ke sana, kapan ya?
"Oh begitu to? Jadi beli tissue, Mas?" Dan aku menyesal mengatakan hal itu. Seharusnya aku bisa memilih topik lain selain "tissue". Aduh, Ratmi!!
"Oh iya! Jadi... Mba...."
"Ratmi!"
"Kulo Radit... Raditya"
Dan hari Minggu, tanggal 9 September 2008 itu menjadi hari terindah dalam hidupku. Setelah seminggu tidak tersenyum dan terlunta-lunta seperti orang hilang di Jakarta, akhirnya aku bisa tersenyum. Kami berdua bercakap-cakap tentang banyak hal hingga aku lupa bahwa aku harus berjualan. Dia bilang dia sangat bosan menunggu kereta sendirian dan sangat bersyukur bertemu denganku. Tidak terasa, jam stasiun menunjukan pukul delapan kurang lima. Keretanya akan datang lima menit lagi. Aku enggan mengucapkan selamat tinggal padanya dan memulai hari kelamku yang biasanya. aku menunduk, berpura-pura merapikan tissue-tissue daganganku dan tiba-tiba...
"Hei, Ratmi! Kamu jualan di sini terus, kan? Bagus deh!" Lalu dia berlalu menuju peron 6 di mana keretanya akan berhenti di sana.
Iya, aku akan di sini menunggu. Siapa tahu kamu ke sini lagi Radit. Hari itu, aku betul-betul lupa tentang diriku yang seperti anak yatim piatu tapi punya ayah dan ibu. Radit...Raditya seperti namanya yang bermakna matahari...mampu menyinari satu sisi gelap hidupku. Terima kasih...
Untitled (part 1)
14 Januari 2011 jam 12:42
Friday, 7 January 2011
Wednesday, 5 January 2011
My Lovely Sister

Yeah... Ini adek gue! Namanya Zahra Nurussyifa. Ini nama yang bikin gue lho, bagus kan? Ahaha... Zahra means flower, while nur means light, and syifa means obat. So, kalo diartiin kurang lebih adaladh: Bunga Cahaya Pengobat (Nah lho? Kebayang ngga, kayak apa tuh obat?? eh bunga? haha)
Semua orang panggil Yaya (sebenernya sih gue yang meksa semua orang suruh manggil dia Yaya, biar lucu sih, lagian dia dulu cadel sih waktu umur satu tahun, ya iyalah!!! haha)
Yaya selalu bisa jadi obat buat gue. Yeah, just like her name. Kenapa? Setiap gue lagi kesel, jengkel, marah dan pengen mbanting bantal ke muka ayam-ayam peliharaan Mama gue (sejak kapan emak gue pelihara ayam? adanya juga bebek), gue pasti ngga jadi kesel, jengkel, marah dan pengen mabanting bantal ke muka ayam (mumpung di blog bukan LTM, mau alay ah! haha) setiap lihat muka dia. Innocent banget!!! Dia begitu tampak dewasa, lebih dewasa dari gue. Dan kalian tahu berapa umurnya?? Baru 6 tahun... Gue mah waktu segitu masih suka nangis guling-guling kalo ngga dibeliin es krim.
Dulu, waktu dia masih bayi, the real bayi lah, gue sama Ais, adek pertama gue, berduel dengan asyiknya, hingga membuat gaduh seisi rumah. Entah kenapa si Yaya tiba-tiba mukanya jadi manyun-manyun mau nangis, dan beberapa detik kemudian dia nangis tanpa suara. Kasihan deh...akhirnya gue sama Ais berhenti bertengkar lalu menonton si Yaya yang nangis tanpa suara...oops, maksudnya berhenti bertengkar karena kasihan dan malu pada si Yaya. Ngga cuma saat itu aja, setiap gue sama Ais, atau sama Bapak atau Mama mulai berselisih paham, si Yaya langsung nangis-nangis gitu... Bener-bener deh, nih anak udah jadi cahaya di keluarga kami... Love you so much, Dek!!

Layaknya anak kecil biasa, si Yaya doyan main. Sejak bayi, dia jarang banget nangis. Bahkan saat gue ngga sengaja ngelukain jidat dia sampai berdarah-darah kayak drakula (??), dia cuma nangis beberapa detik, lalu tidur lagi. Gue ngga inget jelas berapa umur dia, tapi kayaknya belom ada dua bulan sih. Dia juga penurut, kalo lagi mood. Terus gampang banget kenal sama orang. Supel dah. Hingga suatu hari, seorang ibu-ibu gila lewat di depan rumah. Yaya lagi mainan pasar-pasaran di halaman. Si ibu baik hati dan ramah yang sayangnya gila itu mendekati Yaya, dan mau menggendongnya. Yaya yang notabene anak baik dan penurut serta ngga mudah curigaan (ini penurut apa rada bego sih Yaya? *dilempar drum minyak sama Mama*), sontak mengulurkan tangan-tangan mungilnya ke si Ibu baik hati dan murah senyum tapi gila dan berniat menculik. Untung Mama segera dateng dan dengan kekuatan bulan segera menghukum si Ibu murah senyum tapi gila yang gagal menculik anak. Ngga menghukum kok, cuma melotot dan komat-kamit ngga jelas. Si Ibu yang notabene tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar, mana yang ancaman mana yang hiburan, malah tepuk tangan kegirangan sambil nyanyi lagu pelangi-palangi. Yaaa...sudahlah, hari itu Yaya kecil yang baru bisa jalan terselamatkan.
Sejak saat itu, Mama gue jadi over protective dan lebih sering mengajak Yaya main di dalam rumah. Toh teman sebaya Yaya di lingkungan kami sedikit. Jadilah Yaya si anak pingitan (hah???)

Seperti namanya, Zahra, yang berarti bunga, Yaya sangat menyukai tanaman, bertanam lalu merusak sendiri hasil tanamannya. Pernah suatu ketika Mama membiarkan si Yaya yang mulai mengenal nama-nama tumbuhan untuk bermain di taman dalam di dekat kolam. Mama sangat senang, putri bungsunya ini menuruni hobinya, menanam dan mengelus-elus bunga. Mama lalu pergi ke dalam rumah mengerjakan tugasnya sebagai Ibu Rumah Tangga yang baik (I love you Mom!). Beberapa menit kemudian, saat Mama menengok Yaya yang dikira sedang bercocok tanam, terlihatlah pemandangan mengerikan di mana salah satu tanaman kesukaan Mama gundul dengan naasnya dipangkas seluruh daunnya oleh Yaya. Lemes deh Mama. Parahnya lagi, tuh daun pohon dibikin main masak-masakkan dan hampir nyuruh Mama nyicipin hasil masakannya itu. Dasar bocah!
Belakangan Mama berpikir kalo Yaya tidak berpotensi sebagai pembudidaya tanaman, melainkan pembawa berita karena dia kalo cerita bener-bener jujur, aktual tajam dan terpercaya mirip Rosiana Silalahi. Sedangkan Yaya sendiri mengaku dirinya adalah seorang guru TK, bukan presenter berita.
Terserah deeeh... Pokoknya besok aku mau pulang dan ketemu Yayaaaa.... yeeey!!! Haha...
Saturday, 1 January 2011
Abstrak, Ngga Ngerti Jelas...
Ada dua angka kembar di tahun ini
Aku menemukan tantangan berganda menghadang di depan mata
Tentang mencangkul ilmu
Tentang bermain bunyi-bunyian
Tentang sekelompok pasukan
Tentang paguyuban
Tentang komitmen
Dan tentang-tentang lain yang tak bisa kuhitung dengan gabungan jari tangan dan kakiku sekali pun
Yeah... Ini tahun baru
Aku bertekad membabat habis disiplin ilmu tertentu
Semangatku berapi-api untuk menjadi seorang jenius
Jenius memainkan isi kepalaku juga pukulan tanganku
Oh My... Sungguh aku ingin menjadi seperti kakak ituuu...
Dua di kanan, dua di kiri
Lalu menari tanpa beban berarti...
Ingiiiiiiin...
Waw! Ini tahun baru???
Aku ingin segera mencari tahu kebenaran sastra
Keistimewaan sastra
Kelurusan serta kemiringan sastra
Aku ingin mengeksekusi beberapa milikku
Lalu mempertemukan mereka dengan ujung-ujung yang menyimpul
Wieew! Ingin sekali melihat mereka terpampang..
Iya! Ini tahun baru...
Akhir Desember
Aku akhiri dengan menyaksikan kemegahan kemenangan salah satu milikku
Melihat mereka mengangkat piala
Menciumi benda berlapis sedikit emas
Dikalungi benda bulat yang memancarkan aura kemenangan
Yah, mereka memang menang
Hadiah tahun baru terbaik untukku,
dengan melihat senyum dan air mata memolesi warna-warni wajah mereka
Benar-benar tahun baru ya?
Iya aku yakin sekarang
Hampir dua belas jam aku terbaring
Sesekali bangun melihat sekeliling
Ragu-ragu bermimpi
Lalu terlelap lagi tanpa pikir-pikir
Capek berlari dalam dunia tak terpijaki
Aku terjaga
Lantas meraih ember mandi
Kurasakan dinginnya air tahun baru
Iya ini bukan mimpi
Make A Wish!!!
selamat tahun baru
aku memulai catatan ini....
Hoaaam...
Oyasuminasai...
Thursday, 30 December 2010
Monday, 27 December 2010
Aku Tahu Caramu Menyayangiku
Oleh Anifatun Mu’asyaroh (1006668014)
Depok tidak panas hari ini. Langitnya menggelap dengan petir yang sesekali berteriak parau seperti anak kucing lapar. Sekawanan tikus got berlari santai menyeberangi gazebo asrama. Saking santainya atau tepatnya lalainya, hampir saja ada seekor tikus yang tertendang kaki mahasiswi bergaya tomboy ini. Dia berjalan gontai di tengah keramaian kantin. Bukan untuk mengisi perut tujuan kunjungannya, melainkan sekedar menumpang lewat sambil mencari kalau-kalau ada menemukan ceceran inspirasi.
Petir berteriak lagi, menyadarkan si mahasiswi bahwa keberadaanya di kantin hanya sia-sia. Dia memutar langkahnya ke arah kamarnya di gedung C. Tangga-tangga pendek itu terasa jauh lebih tinggi dari biasanya. Lambat. Dan dia merasakan kamarnya seakan sejauh kampung halamannya di Wonogiri. Dia sudah akan memutar pintu, tapi...
“Oh My! Aku benci hari ini! Arrrgh! UTS! Presentasi! Shit semua! Aku benci sastra!” teriaknya yang sukses membangunkan tidur siang beberapa tetangga kamarnya. Dibukanya daun pintu dengan kasar, lalu dia lemparkan pintu sekenanya hingga menimbulkan bunyi super gaduh. Kasur yang busanya sudah sedikit “sakit” menjadi korbannya yang selanjutnya. Dia berbaring, memejamkan mata tanpa berniat untuk tidur. Lalu tiba-tiba dia menangis. Tangisan pertamanya tahun ini. Diambilnya Lintang, lalu menarilah jemarinya di atas Lintang, si laptop jadul kesayangannya.
Senin, 8 November 2010
Tiba-tiba aku teringat lebaran tahun lalu, saat aku melukai hatinya. Kami bertikai, mempersoalkan hal yang sungguh sepele. Hingga ujungnya, aku mengunci diri di kamar paling timur dan tak mau mendengarkan sepatah kata pun dari mulutnya.
Aku sedang kesal padanya saat itu dan jujur aku memang tidak menyukai sifatnya yang keras dan benar-benar susah dibelokkan, benci bahkan. Namun, aku juga tidak pantas menyakiti hatinya, tidak sama sekali. Sebab aku sendiri pun seperti itu. Aku keras, baik kepala maupun hati. Emosiku labil dan jarang stabil... dan aku amat tahu, kesemuanya itu aku dapatkan dari dia. Tentu saja! Setiap inchi tubuhku adalah berasal darinya.
Hari ini, saat aku sendiri, saat aku tidak ada di sisinya, aku menyadari bahwa aku menyayanginya... Aku sadar betul, setiap hal yang kunikmati adalah karena dia, setiap tetes ilmu yang kudapat adalah berkat tetes keringatnya dan setiap keberhasilanku adalah karena ridho di setiap hembusan nafasnya. Lalu kenapa aku selalu berpura-pura tidak tahu dengan bertingkah sombong kepadanya? Perlahan, aku mengaku, “Aku malu!”
Pernahkah aku memujinya? Pernahkah aku memijiti bahunya sehabis kerja? Pernahkah aku mengucapkan selamat datang saat dia pulang? Tidak. Hingga tiba saatnya aku pergi untuk waktu lama, aku pun tidak menyentuh tangannya. Pernahkah aku bercerita tentang dia di depan teman-temanku? Tidak. Bukan malu, hanya bingung, apa yang ingin aku ceritakan tentang dia kepada mereka. Dia kaku sekaku karang yang congkak dihantam ombak.
Namun, hari ini aku menyadari bagaimana caranya menyayangiku. Dia tidak pernah mengucapakan sayang padaku, seperti yang aku harapkan dari dulu, seperti yang biasa terlihat di dalam televisi. Dia tidak pernah memujiku saat aku mendapatkan peringkat satu di kelas. Bahkan, dia bersikap tidak peduli saat aku diterima di perguruan tinggi impianku. Benarkah dia tidak tahu?
Memang, aku ingin sekali melihat dan merasakan kehangatan seperti yang dirasakan oleh teman-temanku yang lain. Dipeluk, dicium, dibelikan boneka atau diajak berlibur ke pulau Bali. Namun, sekarang aku sudah tahu, semua itu memang bukanlah caranya.
Suatu hari, di luar sana, dia tersenyum bahagia di antara kerumunannya. Aku iri karena orang lain begitu mudah mendapatkan senyumnya, sedangkan aku tidak. Aku melihat dia bercanda-canda, lalu menceritakan hal yang menarik membuat orang lain terkagum-kagum. Dia tampak bahagia. Aku tidak pernah melihat ekspresi seperti itu. Aku sadar, aku tidak bisa membuatnya tersenyum dan tertawa seperti itu. Aku iri lalu pergi...
Aku memendam iriku berhari-hari hingga tidak mampu dihitung dengan jari.
Hingga saat lebaran itu, aku sudah terlalu lama memendam kejengkelan. Aku muntab, lalu membanting pintu tepat di depan hidungnya. Aku menolak diajak ke tempat rekannya dan menolak apa pun yang dia perintahkan. Aku menulis catatan nista itu lalu disukai oleh beberapa teman di facebook. Aku malu sebenarnya, tapi itulah aku, seorang yang sok. Lalu sekarang, lagi-lagi aku malu...
Aku sudah bilang aku sudah tahu bagaimana caranya menyayangiku. Dia berkata sayang lewat diam. Belakangan aku tahu, dia menimbun harta untuk aku bisa sekolah. Aku pun tahu dia menceritakan aku yang mendapat juara satu, aku yang diterima di SMA favorit, aku yang mendaftar di jurusan farmasi dan arsitektur UGM dan aku yang mendapat beasiswa serta diterima di universitas impianku di jurusan Sastra Indonesia. Dia bercerita kepada teman-temannya, di kerumunnya, dengan bahagia. Dia bahagia bercerita tentang aku.
Dia tidak menampakkan kegembiraannya saat aku bercerita tentang prestasiku karena dia tidak ingin aku menjadi gadis sombong. Dia tidak pernah menanggapi soal gambar atau tulisanku karena dia tidak ingin aku cepat berpuas diri. Dia tidak selalu menuruti setiap hal yang aku mau karena dia ingin aku menjadi manusia mandiri yang tidak materialistik. Dia tidak menunjukkan lemah lembutanya karena dia tidak mau aku menjadi seorang yang tidak menghormatinya.
Astaghfirullohal’adzim... Maafkan aku, God! Maafkan aku, sayangku, yang selama ini buta oleh keinginan-keinginan yang berlebihan, yang terkadang imajiner, yang terlalu menuntut kepadanya tanpa pernah terlalu berusaha membuatmu bangga! Padahal kau tidak pernah menuntutku bisa ini dan bisa itu. Aku malu... Karena aku baru menyadari indahnya cintamu saat aku tidak di sampingmu, aku malu karena aku selalu merepotkan dan tidak pandai membuatmu senang, dan sekali lagi karena tahun ini aku belum bisa mempersembahkan yang terbaik bagimu. Maafkan aku! Maafkan Nabila, Dad...!
Dia sedang mengklik pilihan “TERBITKAN ENTRI” ketika handphone-nya tiba-tiba berbunyi. Dengan air mata yang masih mengalir dan suara yang sedikit bergetar dia berkata ke suara di seberang, “Dad, aku tahu caramu menyayangiku... Aishiteru!”\
Cerpen untuk tugas Penulisan Ilmiah
Friday, 24 December 2010
About Pisces (Cause I'm a Pisces Girl)
--> Bagi seorang Pisces, emosi adalah hal yang paling berharga bagi mereka, dan mereka akan melakukan hal apa pun yang mereka ambil untuk menghindari rasa sakit emosional. (yeah, I think it's the real me)
2. However do not be fooled by a #Pisces weaknesses for they are excessively intuitive and observant of what you do.
--> Namun, jangan terkecoh dengan kelemahan seorang Pisces karena mereka terlalu intuitif dan jeli terhadap apa yang kamu kerjakan. (Yeah, saya pengamat ulung, saya suka memperhatikan orang dalam diam saya...meski saya sedang terlihat bingung dan bodoh pun, saya sebenarnya sedang sedikit memperhatikan sesuatu)
3. #Pisces is worthy of getting to know; a tad bit insecure inside.They are the kind of boss who will never yell at you.
--> Pisces layak mengenal; sedikit seorang anak laki-laki dalam aman (aduh bahasanya ancur). Mereka adalah jenis atasan yang tidak pernah akan berteriak pada Anda. (Yeah, begitulah saya. Saya pandai menyimpan emosi saya, tapi kalau sudah meledak, wedhus gembel kalah sama kemarahan saya. Hnn, setiap memimpin memang saya cenderung sok tenang, dan ngga menyuruh-nyuruh. Sadar diri soalnya, seorang pemimpin juga bukan pemimpin tanpa anak buah mereka, jadi saya cenderung akan menghilangkan suasana pemimpin-dan yang dipimpin)
4.

#Pisces you get stuck in what you wish could happen and lose track of reality, and when you go back, everything is a mess.
--> Sebagai seorang Pisces, Anda sering terjebak dalam pikiran Anda sendiri, terhadap apa yang Anda inginkan dan seolah-olah bisa terjadi lalu kehilangan jejak dari realitas, dan ketika anda kembali, semuanya berantakan. (Yeah, sayangnya hal ini benar. Aku sangat suka mengkhayal dan mungkin ini semua terlihat dari seluruh tulisanku. Sekitar 60% tulisanku bersifat fiktif atau ada sedikit sapuan fiktif. Aku pernah berkhayal aku mendapat surat dari Hogwarts School of Witchcraft and Wizardy pada kelas 8 SMP, yang menyatakan bahwa aku diterima di sekolah tersebut. Haha, gila gila Ani)
Thursday, 23 December 2010
Wednesday, 22 December 2010
My New Friend

Jadi, kebiasaan kami adalah merencanakan duduk sampingan saat mau kuis Fisika, tapi faktanya pasti ngga sampingan. Aku selalu dipanggil lebih dulu (bukan dalam arti konotasi lho) oleh temanku untuk duduk di sampingnya. Alhasil, baru 3 aku dan Dila duduk bersama pas kuis, wkwkwk...
Aku dan dia bertemu pertama kali saat briefing welcome maba 1 di aula gedung G FKMUI. Kami pernah berkenalan sebelumnya lewat facebook. Kami sama-sama suka baca novel fiksi, dan dia tidak henti-hentinya membahsas betapa kerennya novel the Kite Runner. Yaaaaaah....selamat ya, kamu udah bikin aku melompong ngga nyambung karena aku ngga pernah baca tuh novel, ehehe.

Kami satu FGD, FGD 14, dengan slogan kami adalah "minimalis", ya karena begitulah kami, minimalis dan ngga mau yang perfeksionis perfeksionis, hehe. Entah kenapa aku suka bercerita kepadanya, soal apa pun, bahkan soal kakak mengagumkan yang katanya mirip Bambang Pamungkas itu, (haha, gokil dustanya!). Jadi, intinya dia itu pendengar yang baik gitu. Begitu pun aku, yang ingin mencoba menjadi pendengar yang baik baginya, haik haik!
Dia orang pertama yang aku kasih gambar Conan-ku. Gambar Conan pertama lagi, aku kasihin cuma-cuma, ehehe... Soalnya lagi bokek, ngga bisa beliin apa-apa. Namun, karena tindakan ini, aku jadi banyak utang nggambarin Conan untuk beberapa orang. Ngga tahu kenapa, aku senang berteman dengan orang bertangan imut yang unik ini, hahaha... (Dil, dijaga ya, gambarnya! wkwk). Aku janji deh, kalo kita masih dekat, tahun depan, tepat di ulang tahunnya, aku akan kasih sebuah gambar lagi ke dia... Woi Dilla! Jangan ke-GR-an...
with a cup of smile for Dilla...
Auriga Amarilis
:)
Tuesday, 21 December 2010
Namaku Ani...
Aku Ani.
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, angkatan 2010. Aku orang
Jawa asli, pandai berbahasa Jawa dengan logat Jawa ngapak.
Aku pendiam dan misterius. Aku suka menulis dibandingkan berbicara. Namun, banyak orang yang bilang bahwa aku cerewet. Hal ini membuatku terkesan seperti orang berkepribadian ganda. Kadang ceria, kadang pemurung, dan kadang gila, ahaha...
Sejujurnya aku gila. Orang yang baru lihat pasti bilang aku pendiam, sehingga ragu mendekat. Padahal, sekalinya ngomong aku sulit untuk berhenti. Aku suka musik, menulis, dan menggambar (ditambahin menari dan menyanyi aja dah, biar kayak hobinya anak TK, hehe). Jadi, aku adalah penyuka kedamaian dan pembenci kedustaan serta kesombongan (Btw, apa hubungannya kalimat penjelas ini dengan kalimat sebelumnya ya? Kalimat utamanya apa juga nggak jelas deng! Ahaha)
Aku adalah pengamat jitu! Hati-hati aja kalau ada di dekatku. Bisa aku terawang, baru tahu rasa, ahaha. Sixth sense-ku lumayan sih, keturunan dari sang Mama (Mama aku lho, bukan Mama Loreng, plak!). Aku suka berpikir dalam diam, sambil memandang hamparan langit atau taburan bintang manis di permukaan langit yang lezat dinikmati mata. Wiew!!
Banyak orang bilang bahwa aku lebay, bahwa aku adalah tipe orang sanguinis dan melankolis, dengan rasa toleransi, solidaritas, dan keramahan yang sangat tinggi (ini seriusan kata orang lho). Namun, aku nggak bisa dijadikan sebagai pemimpin atau diberikan tanggung jawab terlalu besar karena aku cenderung labil, masih belum bisa dipercaya untuk memimpin (ini kata orang dan juga kata Ani sendiri).
Oleh sebab itu, aku kaget setengah hidup saat aku ditunjuk menjadi seorang Section Leader di MBUI. Wakakakak, kocak sebenernya, seorang aku bisa jadi SL. Namun, bagaimana lagi, amanah ya amanah harus dipegang dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Meski sebenarnya, aku masih sangat banyak kekurangan sebagai seorang SL. Hahahihi...
Aku anak PIT MBUI... Bangga bisa menjadi anak MBUI, hahai...
I love MBUI, dengan segala kekocakkan, keseriusan dan apa pun yang ada di dalamnya, aku suka.. Aku bertemu banyak orang dari berbagai daerah berbagai jurusan berbagai jenis macam watak dan sifat yang mereka punya. Aku suka menjadi Cadets MBUI...
Aku SL Pitt cadets MBUI 2010 (ya ampun, baru sekali ini gue mengaku sebagai SL Pitt nih, bismillah) menyatakan bahwa aku telah jatuh kepada MBUI....
MBUI... BANGKIT!
Kenapa Selalu Ini?
Ini adalah kelanjutan dari catatan sebelumnya di mana saya menyebutkan bahwa saya sangat menyukai bikun (maaf, cuma ingin memperpanjang note, hehe).
Jadi, aku menjumpai banyak orang saat aku menaiki bikun. Berbagai macam orang dari berbagai kategori. Dari kategori ras, gaya pakaian, gaya bahasa, gaya duduk, gaya tidur, cara berbicara, gaya berdiri sampai gaya kupu-kupu (haik? Lo kata renang?).
Bikun adalah kendaraan beroda empat, berbentuk balok, berwarna kuning, bersopir satu orang, bertempat duduk seperti susunan tempat duduk angkot, berjalan, dan mampu menampung sekitar 50 atau 60 orang jika kamu naik dari stasiun UI.
Di dalam bikun, aku menemukan inspirasi berceceran, tidak lain tidak bukan akibat mengamati penumpang-penumpang bikun yang berceceran dan bergelantungan. Di dalam bikun, aku menyimpulkan bahwa orang-orang cenderung memilih berdesak-desakkan sambil menikmati bau ketiak orang di setiap ujung pintu, daripada berdiri di bagian tengah yang pastinya lebih nyaman dengan AC menghembuskan angin dingin yang membekukan.
Parah sekali.
Menyebalkan sekali pemandangan seperti itu. Bayangkan, jika bikun selalu diisi dengan pola seperti itu (penumpang mayoritas memilih berdiri di tiap kutub bikun) dan bagian tengah atau lambung bikun selalu kosong, lama-lama bikun bisa patah jadi dua, seperti tragedi titanic yang so sweet itu (film-nya sih yang sebenarnya so sweet). Hnn...tapi opini ini terlalu aneh deng! Haha...
Bikun ini, kapan diisi bahan bakar ya? Berapa kali sehari? Sebab, aku belum pernah memergoki bikun ini berjalan di luar jadwal tanpa membawa penumpang. Jadi, walaupun sering molor hingga sepuluh menit, bikun ini selalu berada di linkungan UI. Basecamp-nya kan di asrama, berangkat dari asrama pulang juga di asrama. Hal ini membuat asrama semakin lengkap (???).
Kembali lagi mengenai aku di dalam bikun (sejak kapan aku menjadi akuan begini? Pengen berubah deh. Haha). Setiap melihat penumpang bikun, yang hampir selalu berganti di tiap halte, aku selalu ingin membuat cerita. Lalu menerka-nerka watak mereka lewat ekspresi muka dan gerak-gerik mereka, bahkan lewat cara duduk mereka. Begitu asyik mengamati orang di dalam bikun. Lucu-lucu!
Pernah aku bermain tebak-tebakkan dengan diriku sendiri, mengenai "fakultas apakah dia?". Jadi, aku mengamati seorang penumpang bikun, lalu mulai menyusun hipotesis mengenai dari fakultas apa si penumpang bikun berasal? Haha. Autis! Main sendiri, senyam senyum sendiri. Inilah pekerjaan orang yang suka mengamati orang. Ckck, aneh ngga sih?
Saturday, 18 December 2010
Ini Soal Men-Tag
Jadi, aku adalah orang yang cukup rajin membuat catatan di facebook. Memang sedikit tidak jelas catatan-catatan aku itu, tapi aku selalu rajin-rajin saja menulis catatan karena aku suka berfantasi lalu melimpahkannya ke dalam tulisan yang aku sebut tulisan gaje. Ini salah satunya..
Kembali ke tag-men-tag. Jadi, menurut aku, entah mengapa, men-tag seseorang dalam suatu catatan seperti sebuah pemaksaan terhadap seseorang untuk membaca tulisan yang telah kita buat. Misalnya, aku telah menulis sebuah catatan berjudul "I Love Bikun". Dua hari berjalan, hanya empat orang yang membaca. Namun, setelah saya men-tag beberpa orang, mendadak catatan aku menjadi rame oleh komentar. Aku jadi ragu, apakah keramaian ini adalh sebuah paksaan akibat penge-tag-an ini?
Oleh karena itu, aku adalah tipe orang yang suka membiarkan saja apa yang sudah aku ciptakan. Tidak baik memang yang namanya malas mempublikasikan. Namun, ada satu perasaan yang berkata publikasi itu adalah wujud lain dari pamer. Iya memang pamer sih. Namun, kalau publikasi itu kan untuk sesuatu yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan karena memnag mungkin sudah terstruktur dan terkonsep dengan baik. Sedangkan catatan aku, menurutku belum layak publikasi.
Oh iya, maaf ngelantur mulu dari topik bahasan soal men-tag. Intinya, aku pribadi tidak terlalu suka men-tag, kecuali tag foto, atau tag informasi. Mengenai men-tag hasil karya, hasil pikiran, hasil seni dan sebagainya, ini mempunyai kesan yang berbeda. Aku lebih berharap orang lain mendatangi sendiri sebuah karya baru, lalu mengapresiasikan pemikiran mereka mengenai karya tersebut. Dengan begitu, sebuah karya akan terkomentari tanpa pemaksaan. Bayangkan jika kita men-tag seseorang, sedangkan orang itu bukan ahlinya, tidak menyukai hal-hal yang berhubungan dengan hal yang kita tag-an, atau parahnya lagi tidak tahu apa yang kita tag itu, pastinya komentar yang ada hanya berupa komentar sampah yang tidak ada intisarinya lagi bukan?
Hwah, super tidak jelas sekali catatan ini, ckckck.
Kesimpulannya, berpandai-pandailah dalam men-tag. Lebih selektif dalam mempublikasikan sesuatu yang bersifat hasil karya dan pintar-pintarlah men-tag nama orang dalam karya tersebut, apakah dia benar-benar orang yang tepat yang berhubungan dengan karya tersebut. Jika tidak, maka akan terjadi sebuah pemaksaan, hahaha
Aduh, Ani gajeeeeeeee.........
sddasggggg
Ini tentang anak-anak...dibilang anak jalanan bukan, dibilang anak putus sekolah sepertinya mereka memang berniat untuk tidak sekolah, dibilang-bilang yang lain takut salah bilang. Jadi saya anggap mereka sebagai anak malang saja ya, atau biar lebih mudah alang (hati hati bukan "anak layangan" lho, ntar jadi "alay"!). Jadi kalau anak malangnya jamak aku sebut mereka alang-alang.
Siang ini, dua alang-alang bermain kejar-kejaran keluar masuk bikun hari Sabtu. Hari Sabtu, bikun malas beroperasi. Banyak yang hanya berdiam diri di jejalanan depan asrama. Benda besar berjalan nan cemerlang dan menyilaukan ini tampak malas dan sok, karena berangkat hanya beberapa kali dalam satu jam dan itu pun cuma sampai pukul 14.00, di mana biasanya sampai pukul 21.00 si bikun dinahkodai pak sopir (mulailah ketidakjelasan saya) masih berkeliaran di jalurnya. Iya bikun ini tampak sombong dan sok hari ini, tapi tidak di mata alang-alang itu. Mereka berlarian dengan senangnya keluar masuk mulut bikun (baca: pintu).
Agustus Ke-80
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
Lagu di atas merupakan lagu Amaryllis karya komposer Henri Ghys. Saya memainkannya dengan aplikasi piano pada ponsel saya. Oh iya, mohon...
-
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
“Mau semangka?” “Aku puasa,” jawabnya sekenanya. “Oh, afwan. Nggak pulang, Di?” tanyaku. “Tidak,” jawabnya singkat. “Kenapa...




