Ini tentang melukiskan dunia dalam kata; tentang aku dan jejalanan yang akan atau telah aku lewati; tentang Kawan yang lebih berwarna dibandingkan pelangi; tentang ramainya penjelajah ilmu yang selalu haus memecahkan teka-teki; tentang cinta yang tak kan pernah henti meski listrik mati; dan tentang aku yang masih mencari jati diri. Aku menulis... untuk mempertahankan memoriku hidup lama, jauh lebih lama dari aku menempuhi hidup ini.
Thursday, 10 September 2015
Saya, Wanita Panggilan: Berawal dari Sebuah Panggilan
Thursday, 3 September 2015
Happy New Life!
Tuesday, 1 September 2015
Monday, 31 August 2015
Patah Hati
Kukira, kita memiliki hubungan lebih dari sekadar saling mengenal. Kukira, kita seperti anggota tim yang saling mengandalkan. Namun, ternyata kita terhubung hanya karena satu topik. Aku tentang itu dan kau tentangnya. Aku yang terus-menerus memaksa bahwa kau adalah sahabat, bahkan setelah aku tersadar bahwa kau tak pernah mengingatku ketika kau bersedih apalagi berbahagia. Aku tak pernah mendapat kabarmu, dan aku tak mampu terus-menerus menjadi pencari kabarmu. Kau kira aku tak punya rasa malu dan tahu diri?
Aku ingin kita membahas lebih dari satu topik. Namun, tampaknya kau tak pernah percaya dan mengingat bahwa aku juga ada untuk mendengarkanmu. Kupikir kau memang tak pernah menganggapku lebih dari orang biasa yang sesekali lewat di depan jendela untuk sekadar disapa. Bahkan mungkin aku lebih tidak spesial dibandingkan orang lewat itu, bukan?
Ah, pokoknya aku patah hati. Kau kini dengan duniamu sendiri, dengan duniamu yang penuh cinta dan interaksi intens yang tak mampu kucolek barang sedetik. Karena aku bukan siapa-siapa, sangat bukan siapa-siapa. Hanya seonggok manusia biasa yang merindukan seorang sahabat, mengira telah menemukan satu, tapi ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Bukankah ini menggelikan?
Thursday, 27 August 2015
Jatuh Sayang
Monday, 25 May 2015
Hidungnya seperti patah dua kali. Kulitnya coklat sawo matang khas pribumi. Rambutnya hitam dan selalu kusut meski dibawa ke salon berkali-kali. Badannya tidak semampai, selisih tinggi kami hanya beberapa senti. Dia tak banyak berdalih, tak banyak kata, tapi seringkali beraksi sembunyi-sembunyi. Dia lucu sekali, tapi tak banyak orang yang mengerti. Dia bersedia menaiki tangga merepotkan, ketika orang lain melarikan diri dengan kerepotan. Dia terus dan terus belajar banyak, ketika yang lain hanya pandai berkacak. Dia pemalu, tapi tak pernah mau menyerahkan malu. Dia kuat dengan caranya. Dia istimewa. Seseorang yang baru saja kutemukan raganya, tanpa tahu bagaimana jiwa dan hatinya. Aku tak berani berprasangka bahwa dia adalah Aji yang kucari. Dia hanya seorang Aji.
Friday, 22 May 2015
Kau Hilang
Wednesday, 22 April 2015
Monday, 9 March 2015
Dari apa yang kulihat, saat itu sedang ada sebuah event yang berlangsung di sekitar stadion-gym UI. Banyak orang yang datang. Lalu, tiba-tiba terdengar suara ledakan dan rektorat terbakar. Dalam sekejap gedung itu luluh lantak, rata dengan tanah. Api berkobar hanya di gedung rektorat itu saja, tanpa menjalar ke tempat atau bangunan lain.
Orang-orang berlarian ke Kukel dan Kutek. Aku justru berlari tergesa menuju ke FKM, tepatnya ke gedung G. Lalu, aku nganyus ke polisi yang sudah tiba di TKP. Dan aku diusir.
Aku melangkah bebas tak berarah dan tiba-tiba tubuhku berada di dalam sebuah rumah serba putih, baik temboknya, lantainya, langit-langitnya, maupun tiang terasnya.
Di rumah itu aku bertemu dengan seseorang (lupa cewek atau cowok). Aku sedang mulai jatuh cinta pada rumah serba putih itu, ketika tiba-tiba dia mengatakan sesuatu yang menurutnya adalah sebuah saran, tapi bagiku terdengar seperti sebuah ancaman. Aku tak ingat apa yang dia katakan, tapi aku kira aku semacam diperingatkan untuk tidak ikut campur dalam kasus bom rektorat. Lalu dia pergi.
Aku pun, kemudian, pergi. Tiba-tiba aku sudah kembali berada di TKP, tempat di mana gedung rektorat UI pernah berdiri. Aku tiba di tempat di mana jenazah korban bom rektorat dikumpulkan, disemayamkan sejenak, sebelum dimasukkan ke dalam kantung jenazah.
Aku tidak mengenali satu pun korban. Aku hanya melihat mereka terbaring penuh luka dan debu. Kasihan. Beberapa di antaranya memakai toga, tapi aku tak ingat pita fakultasnya. Tak ada keluarga atau kerabat yang menghampiri. Hanya petugas dan polisi yang hilir mudik membersihkan dan menyelidiki TKP.
Lalu terbangun dan lanjut entry kuesioner lagi.
Friday, 20 February 2015
Lama, Hilang
Wednesday, 28 January 2015
Tak Ada yang Selamanya
Nyatanya, yang mampu mendengar, lama-lama hanya basa-basi mendengarkan
Faktanya, yang mampu melihat, lama-lama pura-pura tak melihat
Kebenarannya, terkadang yang mengaku cinta, lama-lama bosan jika selalu melulu terlibat perjumpaan
Yah, semua orang tahu, tidak ada hal yang selalu sama selamanya
Sepuluh Alasan (saya) Tidak Ikut Wisuda
Gagak dan Burung Hantu
*bersambung (?)*
Tiga Gambar di Bulan Januari
![]() |
"Fanart: Houtarou Oreki"
Depok, 20 Januari 2015
Media: Kertas Gambar A3
Alat gambar: Pensil, pensil warna hitam |
![]() |
"Fanart: Tetsuya Kuroko and Nigou"
Depok, 25 Januari 2015
Media: Kertas Gambar A3
Alat gambar: Pensil, pensil warna hitam |
![]() |
"Randomart: Someone I Know?"
Depok, 26 Januari 2015
Media: Kertas Gambar A3
Alat gambar: Pensil, pensil warna hitam |
Wednesday, 31 December 2014
Tuesday, 16 December 2014
Satu Sama
Ketika pagi tiba lebih cepat dan malam turun dengan terlambat, kulihat kau menggendong karung besar yang membuatmu nyaris tak bisa berjalan. Aku ingin menghampiri, tapi kulihat kau menolak semua bantuan yang orang lewat tawarkan. Kuurungkan segala niat, kusimak kau dari kejauhan.
Apa aku tak akan pernah menjangkaumu? Bahkan, ketika Tuhan telah sangat baik, menghadirkan kesempatan keseratus, aku masih saja tak mampu menyentuhmu. Kupikir aku sudah sangat berdosa, membiarkanmu tak terbantu. Padahal, aku tahu, aku satu-satunya orang yang harus dan dapat membantumu.
Aku tak bohong tentang aku yang tak mampu menyentuhmu. Bukankah ini tidak mungkin, membantumu tanpa dekat denganmu, tanpa mengertimu? Terkadang aku tak percaya, aku dan kau berasal dari latar belakang yang sama, dari rahim yang sama, dan memiliki tubuh yang sama. Namun, aku lebih tak percaya jika aku dan kau berbeda. Sebab, Tuhan menciptakan satu raga hanya untuk satu jiwa.
Mungkinkah kita betul-betul menjadi satu yang sama?
Satu hal yang harus dilakukan untuk mewujudkannya, meski aku tak yakin dapat melakukannya, adalah dengan tak lagi mengizinkan lalim dan dzalim membedakan kita. Dengan demikian, kita tak akan berpisah kejauhan. Aku mampu menyentuhmu, bahkan memelukmu dan menggendong karung itu bersamamu.
Apa kau percaya, aku dapat melakukannya? Sebab, kepercayaanmu adalah kekuatanku.
Monday, 15 December 2014
Sunday, 14 December 2014
Tak Ada Judul
Wednesday, 10 December 2014
Katakan!
Kau ingin aku menjadi apa? Apa yang kau inginkan, yang ingin aku wujudkan? Apa pun itu, tolong katakanlah. Katakan padaku. Dengan begitu, aku tahu ke mana aku harus berlari dan dengan cara apa aku harus meningkatkan laju lariku itu.
Di setiap pagi aku terbangun, aku mengantongi mimpi-mimpi yang terkadang hinggap atau terperangkap dalam sarangku, sarang nyaman yang telah ratusan hari lamanya kuhuni, tanpa sekalipun kutinggal pergi. Sayangnya, hal yang nyaman belum tentu merupakan hal yang tepat untuk selalu ditempati atau dijalani. Seperti mimpi-mimpi yang tertangkap olehku, mereka mengabur dan melenyap tanpa memori, seiring pergantian hari. Mereka tak mampu bertahan hidup dalam kantong-kantong yang kusediakan. Mereka tak berkutik di sarangku, yang bagiku bagaikan surga dunia, tapi bagi mereka bagaikan anak neraka yang mengeringkan harapan kehidupan.
Maka aku bertanya, apa yang harus kulakukan agar aku terbang menjauhi sarangku? Aku tak memiliki cukup keinginan yang ingin kuwujudkan, hingga aku teringat padamu, pun pada mereka. Betul. Kalian akar keinginanku. Hanya kalian yang ingin kubuat bahagia, tertawa lepas tanpa diganduli keresahan. Namun, ketika aku menyadari bahwa tanyaku berbalas tanya, keresahan itu justru turut menginfeksiku. Apakah kita akan berakhir seperti ini? Resah dalam hidup yang sarat keresahan yang berlama-lama?
Aku ingin berjalan-jalan, mengitari taman bunga yang dipenuhi alamanda, anggrek tanah, lili merah jambu, teratai air, dan aneka mawar. Aku berharap di sana dapat menghirup wewangian penawar aroma keresahan yang lambat laun menguar dari dalam diriku. Hanya saja, aku tak tahu alamat taman itu. Dan lagi, sayap-sayapku belum siap bertahan terbang lama untuk menujunya. Jika aku harus menanti lebih lama lagi, aku takut aku melenyap, sama seperti mimpi-mimpi yang kukantongi. Namun, memaksakan diri pun sepertinya hanya akan berakhir kematian di tengah jalan. Semua dampak ini aku tak berani menanggungnya seorang diri. Maka lagi dan lagi, aku hanya meringkuk, menggelung, hari demi hari dalam sarang sialan ini.
Aku hanya ingin kau ada untukku. Bersamaku, di sampingku, mendampingi dan menuntunku keluar dari sarang yang menawan akal dan tubuhku bagai jerat setan. Karena aku yakin, kau dapat menamparku, ketika aku mulai menceracau atau barangkali berubah menjadi jalang yang mengotori jalanan. Karena aku percaya, kau dapat menarik dan memapahku, ketika aku terperosok, lumpuh, dan tak mampu untuk berjalan pulang. Karena aku tahu, hanya kau yang bersedia kubebani, oleh diriku yang menggantungkan jiwa ragaku pada bahu kurusmu yang mulai keropos tergerus waktu, setidaknya hingga tiba saatnya aku berani melepas gantungan erat tanganku itu.
Maka kepadamu lah, aku ingin mempersembahkan rajutan sarang jerami yang baru, tenunan sutra lembut yang belum pernah kau sentuh, air madu bunga matahari yang tak pernah kau teguk barang setetes, atau apa pun yang kau inginkan, yang kau ingin aku lakukan untukmu. Ini akan lebih gampang, jika kau berkenan mengatakannya kepadaku. Andai saja cara kita berbincang semudah kita mengedipkan mata, mungkin kau dapat mengatakannya sejak lama, atau aku dapat menanyakannya padamu jauh sebelum kau sempat berkata.
Kita, makhluk rimba yang melarikan diri dari bisingnya rutinitas manusia bermata menusuk lagi berisik, dapatkah kita bertahan? Dapatkah kita sembuh dari infeksi keresahan ini? Tolong katakan! Katakan padaku, apa yang harus kulakukan untuk mewujudkan pelarian ini! Katakan bahwa kita bisa berlari! Katakan lah tidak hanya dengan kata, tetapi juga keyakinan tanpa keraguan! Katakan lah bukan hanya dengan lidah, melainkan juga dengan mata dan tingkah! Katakan lah setidaknya hingga aku siap berhenti menuruti keegoisanku, hingga aku mampu berhenti bergantung padamu, berhenti bernapas tanpa bantuan embusan udara yang selali kau tiupkan untukku.
Aku akan terus menanti. Meski sekarat pun, aku akan menanti kata-kata itu datang padaku dan aku pasti mewujudkannya untukmu juga mereka yang kau cinta.
Agustus Ke-80
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
Lagu di atas merupakan lagu Amaryllis karya komposer Henri Ghys. Saya memainkannya dengan aplikasi piano pada ponsel saya. Oh iya, mohon...
-
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
“Mau semangka?” “Aku puasa,” jawabnya sekenanya. “Oh, afwan. Nggak pulang, Di?” tanyaku. “Tidak,” jawabnya singkat. “Kenapa...


