Thursday, 10 September 2015

Saya, Wanita Panggilan: Berawal dari Sebuah Panggilan

Demi sandal jepit Ard*les yang hilang ketika salat di musala di SPBU di Wonosobo, saya merupakan orang yang memiliki waktu yang sangat luang sampai-sampai saya kebingungan untuk menghabiskannya. Meski demikian, entah mengapa saya sangat malas sekali untuk meluangkan sedikit waktu untuk sekadar menulis post ringan di blog ini. Beberapa tahun lalu, saya membuat blog ini dengan dalih saya menyukai menulis, khususnya cerita fiksi. Namun, faktanya, selama hampir lima tahun sejak blog ini dibuat, hanya tulisan-tulisan reportase keseharian atau perasaan saya yang berhasil terjejal ke dalam kotak entry pos blog ini. Hehehe, semoga cita-cita saya menulis sebuah cerita panjang yang selesai bukanlah hanya sekadar cita-cita dusta belaka.

Well, beberapa bulan terakhir ini, saya hampir tidak pernah menulis di sini. Alasannya klasik, yaitu karena faktor kesibukan. Loh? Bukannya saya baru saja mengatakan bahwa saya memiliki waktu yang terlalu luang? Memang luang, hanya saja itu berlaku ketika luang. Beginilah kehidupan seorang freelancer, diwarnai dengan dinamika kesibukan yang tidak tetap di setiap waktunya. Terkadang dia terlampau luang, terkadang dia sibuknya keterlaluan hingga kelimpungan dan lupa makan. Semua itu tergantung pada amal ibadahnya, eh maksud saya, ada atau tidaknya proyek pekerjaan yang berhasil diperoleh atau dijalankannya. Saya yakin, inilah alasan yang membuat sebagian besar orang berusaha keras sekuat tenaga untuk dapat memperoleh pekerjaan tetap di tempat yang layak dengan upah yang besar dan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, bahkan keluarganya. 

Menjadi freelance sebetulnya bukanlah pekerjaan utama yang saya impikan saya setelah lulus kuliah. Yeah, siapa pula yang menjadikannya sebagai sebuah cita-cita utama? Mungkin ada, tetapi saya yakin persentasenya tidak banyak. Namun, entah mengapa, menurut saya, menjadi freelancer seperti ini bukanlah hal yang buruk untuk dijalani sebagai langkah pertama dalam proses pembelajaran menjadi pekerja profesional. Uhn, tunggu dulu, apakah saya sudah menyebutkan pekerjaan freelance macam apa yang pernah (dan mungkin sedang) saya jalani saat ini? Hahahai... Saya adalah seorang "wanita panggilan".

Semua cerita saya tentang profesi saya sebagai "wanita panggilan" ini berawal dari sebuah panggilan masuk di handphone saya, di suatu pagi, di salah satu Selasa di bulan Desember 2014. Sebetulnya, saat itu sudah tidak dapat dikatakan pagi lagi. Pukul sembilan lebih --jika tidak salah ingat, saya, yang selalu saja tertimpa musibah insomnia di setiap malam, terbangun oleh sebuah panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal. Sedikit ragu, saya sengaja melama-lamakan diri dalam mengangkat panggilan tersebut hingga orang di seberang memutuskan untuk mematikan panggilan tersebut. Namun, di luar dugaan, sebuah panggilan yang lain kembali masuk, dan kali itu tanpa pikir panjang saya langsung mengangkat panggilan telepon tersebut. 

Dengan suara serak yang miskin akan semangat hidup khas orang bangun tidur, saya mengeluarkan sapa untuk menyambut sang pemanggil di seberang, "Halo, assalamu'alaykum?"

"Halo? Ani, ya?" jawab seseorang yang oleh saya terdeteksi sebagai seorang wanita dengan warna suara yang terdengar tidak asing.

"Iya, betul? Maaf ini siapa, ya?" tanya saya, masih tidak memiliki petunjuk akan pemilik suara tersebut.

"Ini, C. Anif dulu pernah ikut survei filariasis, kan, ya? Masih ingat, Nif?" tanyanya, yang akhirnya saya dapat mengenalinya dan dulu pernah memanggilnya dengan sapaan Mba C.

"Oh iya, Mba, ingat kok ingat. E... Ada apa, ya? Ada yang salah, ya, Mba?" tanya saya, gugup. Jujur, otak saya langsung berpikir tentang berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi di masa depan (bisa jadi) karena kebodohan saya di masa lalu, hampir satu tahun sebelum saya menerima panggilan tersebut. Ceritanya, pada bulan Januari 2014, saya ikut menjadi seorang enumerator dalam sebuah survei kesehatan, survei tentang filariasis, seperti yang disebutkan oleh Mba C. Survei ini diadakan oleh salah satu lembaga di kampus, yang cukup saya tahu namanya dari teman-teman satu departemen. Posisi saya sebagai enumerator dalam survei ini, mengharuskan saya untuk melaksanakan tugas mewawancarai sejumlah responden mengenai perilaku dan pengetahuan mereka terkait filariasis. Nah, ketika menerima telepon dari Mba C, saya takut saya melakukan kesalahan pada saat turun lapangan mencari responden ataupun pada saat mengisi kuesioner. Terlebih, responden-responden yang saya wawancarai pada saat itu bukan merupakan warga biasa, melainkan orang-orang yang berperan penting dalam pelaksanaan pembagian obat massal (POMP) filariasis. Dalam sekejap, saya bangun sempurna dan memusatkan perhatian dengan serius terhadap setiap patah kata yang akan dikatakan oleh Mba C.

"Nggak, kok. Nggak. Aniiif. Anif lagi sibuk apa?" tanya Mba C lagi.

"Nggak sibuk, sih, mba. Kenapa memangnya, Mba?" ada sedikit kelegaan setelah mendengar jawabannya dan juga muncul rasa penasaran akibat pertanyaannya. Oke, tentu saja saya sangat tidak memiliki kesibukan. Meskipun pada saat itu saya sedang di tengah perjalanan pengerjaan skripsi saya yang tidak pernah saya kerjakan sejak bulan Juli 2014, entah mengapa dengan ringannya, saya menjawab bahwa saya tidak sedang sibuk. 

"Nggak sibuk, ya? Jadi, begini, Nif. Filariasis kan mau jalan lagi, nih. Kalau Anif lagi nggak sibuk, Anif bisa bantuin nggak? Jadi admin. Tugasnya itu mengurus persuratan, perizinan, dan lain-lain. Pokoknya mengurus persiapan sebelum survei. Bisa, Nif?" jelas Mba C.

"Oh... Bisa sih, Mba. Itu kapan, ya, Mba, kalau boleh tahu?" tanya saya.

"Kalau mulainya sih dalam minggu ini. Anif bisa hari Kamis? Itu nggak harus ke kantor setiap hari kok. Paling, seminggu satu atau dua kali kalau lagi ada pekerjaan saja. Jadi, hari Kamis, Anif bisa?" Mba C kembali memastikan.

"InsyaAllah bisa, Mba," jawab saya, singkat.

"Oke, Nif. Nanti kita kontak-kontakkan lagi, ya, Nif? Makasih banyak, Aniiif," dan panggilan itu pun berakhir.

'Apa itu tadi?' batin saya setelah panggilan tersebut terputus. Setengah otak saya kebingungan, tetapi setengahnya lagi kegirangan. Saya menganggap ini merupakan pertanda bagi saya, untuk kembali menjalani hidup dengan serius. Saya harus kembali fokus mengerjakan skripsi saya karena jika tidak mulai mengerjakannya, saya tidak akan dapat melakukan tugas baru itu dengan baik. Atau kemungkinan lain, jika saya sudah keasyikan dalam mengerjakan hal baru, bisa jadi saya tidak mengerjakan saya dengan baik dan lagi-lagi saya akan menunggak satu semester dengan beban malu yang semakin besar.

Menit berikutnya, saya mendapati tubuh saya sudah berdiri tegak, dengan jemari terkepal setengah kuat, mata menajam dan menatap ke awang-awang, rambut acak-acakan (oke ini tidak penting), dan tekad yang bulat serta hati yang bersungguh-sungguh, saya berteriak dalam hati, "SAYA AKAN MENGERJAKAN SKRIPSI TAK JELAS INI HINGGA AKHIR! APAPUN HASILNYA, INI HARUS SELESAI BULAN JANUARI. TAK BOLEH TERLAMBAT LAGI, KARENA INI SUDAH LEBIH DARI TERLAMBAT!"


Di hari yang sama itu, saya mulai kembali mengerjakan skripsi. 'Hari Kamis, saya akan ke kampus untuk urusan filariasis itu. Jadi, sebelum hari Kamis, saya harus sudah menyiapkan bahan konsultasi saya ke pembimbing,' pikir saya saat itu. Saya memang begitu mah, kalau sudah keluar kamar, inginnya melakukan semua pekerjaan yang dapat dilakukan dengan sekaligus agar efektif dan selesai semua. Namun, yah... untuk memulai langkah pertama itu yang, subhanallah, sulit sekali dilakukan. Alhasil, semester 9 kemarin, sebagian besar hidup saya, saya habiskan di dalam kamar kos. Tidak ada pekerjaan berguna yang saya kerjakan, bahkan tidak ada keinginan untuk melakukan hal yang berguna. Oleh sebab itu, panggilan telepon dari Mba C itu sangat membuat saya senang dan menumbuhkan motivasi atau semangat saya. Saya merasa, saya masih dapat berguna untuk orang lain dan baru memikirkannya pun saya sudah merasa senang. 

Awalnya, saya ragu, Apakah Mba C tidak salah pilih? Apakah saya tidak salah dengar? Dari sekian banyak orang yang ada di muka bumi, mengapa Mba C menelepon saya? Dan bagaimana mungkin Mba C masih ingat? Proyek survei filariasis itu kan hanya berlangsung lima hari, uhn... tujuh hari jika ditambah dengan pelatihan. Kami pun bertemu hanya pada saat pelatihan dan hari terakhir turun lapangan, di mana Mba C selaku supervisor ikut turun lapangan untuk membantu mewawancarai responden. Beliau memang sosok yang seperti itu. Saya sudah mengaguminya, sejak pertama kali diajar sebuah mata kuliah. Hanya satu pertemuan dengannya dan saya masih ingat bagaimana saya terkesan dengan cara presentasinya.


Oke, itu adalah awal mula saya menjadi wanita panggilan. Hingga saat ini, entah mengapa saya masih menikmati pekerjaan ini. Mengapa? Karena saya dapat mengerjakan tugas yang diberikan di mana saja yang saya suka, tidak harus datang ke kantor. Sebagian besar kepentingan tugas dilakukan via email. Sebetulnya, tugas saya bukanlah tugas yang sulit dan berat. Saya pun tidak selalu mendapatkan pekerjaan atau tugas sesuatu. Meski demikian, saya merasa ini adalah awal yang bagus. Sedikit demi sedikit, kan? Jika saya sudah mulai bosan menjalani pekerjaan yang ritmenya fluktuatif semacam ini, mungkin saya akan lebih siap untuk mencari pekerjaan tetap, sesuatu yang lebih jelas dan bersifat rutinitas.

Ah iya, saya tidak pernah mengatakan bahwa menjadi seorang freelancer tidak baik atau tidak menyenangkan. Justru, banyak sekali pengalaman berharga yang saya peroleh dari berbagai pekerjaan berbeda yang saya lakukan. Baru kali ini saya melakukan hal-hal yang selama ini hanya ada di textbook perkuliahan. Belum semuanya memang, tetapi bukankah sebuah proses mengharuskan kita mempertaruhkan waktu sebagai modal untuk memperoleh pengalaman dan pengetahuan?

Oh, iya... tentang upah? Untuk seseorang yang lebih suka memperoleh kejutan pengalaman dibandingkan belanja, seperti saya, upah kerja yang saya terima masihlah cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Mungkin, saya dapat menyebut diri saya sebagai pemburu kesibukan, dibandingkan pemburu gaji. Asalkan saya diberi kesibukan atau tugas, meskipun tertekan, saya akan mengerjakannya, mungkin tidak dengan baik karena saya masih belajar, tapi saya akan bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya,..


Thursday, 3 September 2015

Happy New Life!

Selamat datang bulan September!!!

Saya harap ini adalah bulan yang dipenuhi dengan semangat dan senyuman. Semoga inspirasi dan motivasi senantiasa tercurah dengan melimpah kepada setiap orang, tak terkecuali saya, kau, dan kawan-kawan kita. 

Me-review beberapa September terakhir, tidak banyak kejadian berarti yang terjadi di setiap tahunnya. September selalu menjadi bulan yang kering karena hujan tidak kunjung datang hingga bulan Oktober atau November mendatang. September selalu menjadi bulan yang di dalamnya terdapat ulang tahun beberapa orang yang saya ingat tanpa syarat. September menjadi bulan di mana sebuah kepemimpinan berakhir dan dimulai dengan kepemimpinan baru yang digantungi harapan-harapan ratusan kepala akan keberlangsungan dan eksistensi wadah nauangan mereka. Mungkin, September adalah bulan yang polos dan lugu karena banyak sekali kelahiran dan permulaan yang terjadi di bulan ini pada setiap tahunnya. 

Ah, mungkin bukan ide yang buruk untuk turut lahir kembali seperti mereka, memulai kembali segalanya dari awal dengan mempertimbangkan pengalaman di masa lalu. Bukankah banyak sekali orang yang bilang bahwa "tidak ada kata terlambat bagi mereka yang memiliki kemauan untuk bertaubat"? Lantas, taubat dari kesesatan macam apa saya ini? Sesat pikir, sesat langkah, sesat hati, dan sesat-sesat yang lain sudah pastinya. Ini wajar bukan, jika saya tersesat? Saya yakin, setiap orang mengalami ketersesatan, barang satu kali, dalam hidupnya. 

Saya memang tidak berulang tahun di bulan September, tetapi saya ingin merayakan kelahiran saya. Kelahiran saya yang akan lebih cermat melihat peta dalam berjalan-jalan. Saya tidak bilang saya tidak menyukai menciptakan jalan baru, tetapi sepertinya terlalu sering menuruti diri untuk melewati jalan lain atau jalan pintas, justru membuat saya semakin tidak seperti orang kebanyakan.

Yah, apapun yang akan terjadi di bulan ini, mari menjalankan dan mendokumentasikannya dengan rapi dan senang hati!

Selamat datang September!!! Happy New Live!!!

Tuesday, 1 September 2015

Mengapa menulis fiksi lebih mudah dibandingkan menulis reportase? Karena fiksi merupakan hasil kolaborasi antara manipulasi dan imajinasi yang di dalamnya tidak melibatkan manusia-manusia atau kejadian-kejadian nyata. Pengarang fiksi berhak menentukan jalan cerita dan takdir setiap karakter yang ia ciptakan. Ia berhak mematikan semua orang yang telah ia ciptakan, pun membangkitkan mereka kembali dari kematian, jika ia menghendaki demikian.

Namun, apakah hal ini berarti bahwa bercita-cita menjadi pengarang fiksi sama dengan mempersiapkan diri menjadi manusia yang memiliki dunia sendiri, miskin berinteraksi, dan cenderung menjadi individu yang egois yang tidak mudah dimengerti dan ingin memenangkan segala hal hanya untuk dirinya sendiri?

Beberapa pengarang fiksi misteri mati dengan cara tidak manis: menenggelamkan diri di dalam sungai di musim dingin, menjerat lehernya dengan tambang pengikat leher sapi, melubangi kepala mereka dengan timah panas yang ditembakkan dalam jarak setengah senti, atau... 

Monday, 31 August 2015

Patah Hati

Aku tak mungkin dapat memberitahumu, bahwa kau lah yang membuatku patah hati. Bahwa aku semakin tak leluasa bercakap denganmu. Bahwa mulai sekarang aku harus meminta izin jika ingin berada di dekatmu. Bahwa aku salah sangka, menganggapmu orang yang merasakan hal yang sama denganku, karena hingga kini pun memang hanya aku yang membutuhkanmu untuk mengobati kesepianku, keantisosialanku.
Kukira, kita memiliki hubungan lebih dari sekadar saling mengenal. Kukira, kita seperti anggota tim yang saling mengandalkan. Namun, ternyata kita terhubung hanya karena satu topik. Aku tentang itu dan kau tentangnya. Aku yang terus-menerus memaksa bahwa kau adalah sahabat, bahkan setelah aku tersadar bahwa kau tak pernah mengingatku ketika kau bersedih apalagi berbahagia. Aku tak pernah mendapat kabarmu, dan aku tak mampu terus-menerus menjadi pencari kabarmu. Kau kira aku tak punya rasa malu dan tahu diri?
Aku ingin kita membahas lebih dari satu topik. Namun, tampaknya kau tak pernah percaya dan mengingat bahwa aku juga ada untuk mendengarkanmu. Kupikir kau memang tak pernah menganggapku lebih dari orang biasa yang sesekali lewat di depan jendela untuk sekadar disapa. Bahkan mungkin aku lebih tidak spesial dibandingkan orang lewat itu, bukan?
Ah, pokoknya aku patah hati. Kau kini dengan duniamu sendiri, dengan duniamu yang penuh cinta dan interaksi intens yang tak mampu kucolek barang sedetik. Karena aku bukan siapa-siapa, sangat bukan siapa-siapa. Hanya seonggok manusia biasa yang merindukan seorang sahabat, mengira telah menemukan satu, tapi ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Bukankah ini menggelikan?

Thursday, 27 August 2015

Jatuh Sayang

Jatuh tetaplah jatuh, apa pun bentuk dan sebabnya. Dia lebih banyak menyakitkan, alih-alih menyenangkan. Meskipun itu sebuah jatuh sayang, meskipun itu sebuah jatuh cinta, tetapi pada akhirnya yang mengalami sayang dan cinta itu pasti jatuh pada waktu yang telah ditentukan. Kapan jatuh? Kapan sakit? Kapan tak terobati? Ada saatnya. Tuhan tak akan pernah membiarkan kita lulus ujian tanpa adanya sebuah ujian bukan? 

Aku pernah jatuh cinta. Aku tidak menyangkal, karena mencari-cari alasan bukanlah keahlianku. Aku pernah terjatuh dari sebuah rasa cinta impulsif imajinatif. Jatuh ke dalam lubang kebahagian tak berdasar yang ternyata, jika kau berlama-lama di dalamya,  dapat membuatmu merasakan sebuah kejatuhan yang gelap dan sepi yang dapat membuatmu bosan akan sebuah ketidakberujungan atau malah mati akibat rasa bosan yang timbul dari ketidakberujungan tersebut.

Untuk itu, aku semakin berhati-hati dalam berjatuh cinta atau mengaku bahwa aku jatuh cinta. Aku tak ingin mengalami kepedihan yang berlarut-larut karena entah mengapa, selalu saja ada ketidakbahagiaan setiap kali aku meyakinkan diri bahwa aku sedang jatuh cinta. Bukanlah kata orang-orang cinta itu menyenangkan? Maka jika aku tidak merasakan kesenangan dan kebahagiaan, bukankah itu berarti bahwa aku sebetulnya tidak sedang jatuh cinta? Cinta tidak membuatmu terkapar dalam kesedihan, kata mereka?

Baiklah. Suatu hari, aku menyederhanakan definisi jatuh cinta itu, menurunkan kadar cinta berlebih di dalamnya, mengubah namanya menjadi jatuh sayang. Aku sayang kepada beberapa orang karena mereka membuatku sayang kepada mereka, tanpa alasan, tanpa penjelasan. Hnn. Sebetulnya, tentu saja tak ada hal yang tercipta tiba-tiba. Tak ada, melainkan karena adanya sebuah alasan. Namun, berapa kali pun aku mencoba mencari alasan itu, sebanyak kali itu pula aku gagal menemukan alasan yang tepat untuk mendukung jatuh sayangku itu.

Jauh di dasar perasaanku, sayangku pada diriku sendiri, jelas sekali lebih besar dari pada rasa sayang kepada siapapun di dunia ini. Betul sekali, rasa sayang berlebihan yang menimbulkan keegoisan dan kesombongan hati ini, mengendap lekat hingga alam bawah sadarku, hingga lama-lama tak mampu dikikis, hingga lama-lama sengaja dibiarkan mengerak tanpa disertai inisiatif akan sebuah perlawanan. Dengan ini, mungkin kau menangkap satu hal, bahwa terlalu sulit bagiku untuk merasakan sebuah rasa sayang kepada orang lain. Jika aku sayang, aku akan menyayanginya dengan sepenuh hati, dengan tak perlu bermodalkan nyali, dengan tak perlu dekat-dekat mengamati, dengan tak perlu meminta mereka menyayangiku kembali. Sekali saja aku mengunyah rasa sayang itu, aku akan mengulumnya dengan hati-hati. Dengan tanpa kekerasan meniupnya hingga menggembung menyerupai gelembung karet yang tampak tipis, tetapi kuat dan nyaris sulit untuk melenyap. Aku tak akan membuangnya, seperti sisa permen karet yang kutempelkan ke dalam saku celanaku, menyimpannya dengan cara jorok, tetapi aku tidak akan pernah kehilangannya, kecuali aku berniat untuk membersihkannya.

Namun, semakin tua umurku di dunia, semakin aku menyadari bahwa perwujudan rasa jatuh sayang yang aku lakukan terlalu berlebihan. Mungkin sebaiknya aku tidak perlu mengalami jatuh sayang. Mungkin lebih baik aku memeriksa ratusan kali alamat di mana aku menjatuhkan sayang. Mungkin aku tidak seharusnya memilih satu atau dua orang untuk dijatuhi sayang karena mereka tidak akan mampu menerima atau merasakan rasa sayangku yang sewarna angin, semanis air, dan seharum melati yang gugur. 

Aku pernah memiliki satu alamat yang kukira tepat untuk kukirimi salam. Pemiliknya bukan orang yang biasanya dapat aku dekati. Dia bukan orang yang dapat kujangkau, tapi entah mengapa dia membiarkanku berupaya menjangkaunya. Menyodorkan diri, tapi tak sudi membiarkan jemariku untuk sekedar menyentuh bayangannya. Bukankah ini hal yang tidak dapat kau mengerti dengan akal sehat, maupun akal sakit? Aku pun demikian. Aku tidak mengerti dan tidak memiliki keinginan untuk mengerti. Aku hanya ingin menjatuhkan sayangku. Aku hanya ingin menyentuh bayanganmu. Aku hanya ingin mencoba memaksakan diri hingga tetes terakhir keringatku dapat mengucur. Namun, lagi-lagi aku tersadar dengan cara yang tidak lembut sama sekali. Sebuah tamparan panas dan cepat dihadiahkan oleh waktu, disaksikan oleh pembukti takdir Tuhan, untukku yang terlalu sibuk berkelana dalam dunia tanpa udara, hanya untukku yang tak bisa membedakan antara rasa sayang dan obsesi yang terencana.

Aku sebaiknya menceramahi diriku sendiri dengan materi butir-butir hukum Tuhan dan alam. Tidak untuk waktu cepat, tidak untuk waktu yang lambat, tidak untuk tidak dilakukan.

Monday, 25 May 2015

Hidungnya seperti patah dua kali. Kulitnya coklat sawo matang khas pribumi. Rambutnya hitam dan selalu kusut meski dibawa ke salon berkali-kali. Badannya tidak semampai, selisih tinggi kami hanya beberapa senti. Dia tak banyak berdalih, tak banyak kata, tapi seringkali beraksi sembunyi-sembunyi. Dia lucu sekali, tapi tak banyak orang yang mengerti. Dia bersedia menaiki tangga merepotkan, ketika orang lain melarikan diri dengan kerepotan. Dia terus dan terus belajar banyak, ketika yang lain hanya pandai berkacak. Dia pemalu, tapi tak pernah mau menyerahkan malu. Dia kuat dengan caranya. Dia istimewa. Seseorang yang baru saja kutemukan raganya, tanpa tahu bagaimana jiwa dan hatinya. Aku tak berani berprasangka bahwa dia adalah Aji yang kucari. Dia hanya seorang Aji.

Friday, 22 May 2015

Kau Hilang

  3  2  3
Syalala...
  3 23 43
Syalalala...
   3  2  3
Syalala...
 13 3 2 343
Syalala Syalalala...
  3  2  3
Syalala...
  3 23 43
Syalalala...
   3  2  3
Syalala...
 13 3 2 343
Syalala Syalalala...

Di bawah langit abu-abu
Kulihat pesawatmu melaju
Perlahan terlahap awan
Kau hilang dan jantungku berdebar

Kau hilang

Sang pagi menggantikan malam
Dan risauku tak kunjung menghilang
Kususuri segaris jejak awan
Kau hilang dan mungkin tak akan pulang

Kau hilang

Haruskah kutunggu kau pulang
Haruskah kususul kau ke bulan
Haruskah kutanya gemintang
Haruskah kupercaya kau 'kan datang








Wednesday, 22 April 2015

Bagaimana rasanya?
Mencintai hal yang tak layak dicintai?
Bagaimana cara menghindar?
Dari rasa terjebak, akan rindu kepada seorang narapidana yang seumur hidupnya divonis hukuman tak termaafkan?
Apakah cinta yang buta adalah sebuah dosa?

Monday, 9 March 2015

Dari apa yang kulihat, saat itu sedang ada sebuah event yang berlangsung di sekitar stadion-gym UI. Banyak orang yang datang. Lalu, tiba-tiba terdengar suara ledakan dan rektorat terbakar. Dalam sekejap gedung itu luluh lantak, rata dengan tanah. Api berkobar hanya di gedung rektorat itu saja, tanpa menjalar ke tempat atau bangunan lain.
Orang-orang berlarian ke Kukel dan Kutek. Aku justru berlari tergesa menuju ke FKM, tepatnya ke gedung G. Lalu, aku nganyus ke polisi yang sudah tiba di TKP. Dan aku diusir.
Aku melangkah bebas tak berarah dan tiba-tiba tubuhku berada di dalam sebuah rumah serba putih, baik temboknya, lantainya, langit-langitnya, maupun tiang terasnya.
Di rumah itu aku bertemu dengan seseorang (lupa cewek atau cowok). Aku sedang mulai jatuh cinta pada rumah serba putih itu, ketika tiba-tiba dia mengatakan sesuatu yang menurutnya adalah sebuah saran, tapi bagiku terdengar seperti sebuah ancaman. Aku tak ingat apa yang dia katakan, tapi aku kira aku semacam diperingatkan untuk tidak ikut campur dalam kasus bom rektorat. Lalu dia pergi.
Aku pun, kemudian, pergi. Tiba-tiba aku sudah kembali berada di TKP, tempat di mana gedung rektorat UI pernah berdiri. Aku tiba di tempat di mana jenazah korban bom rektorat dikumpulkan, disemayamkan sejenak, sebelum dimasukkan ke dalam kantung jenazah.
Aku tidak mengenali satu pun korban. Aku hanya melihat mereka terbaring penuh luka dan debu. Kasihan. Beberapa di antaranya memakai toga, tapi aku tak ingat pita fakultasnya. Tak ada keluarga atau kerabat yang menghampiri. Hanya petugas dan polisi yang hilir mudik membersihkan dan menyelidiki TKP.

Lalu terbangun dan lanjut entry kuesioner lagi.

Friday, 20 February 2015

Lama, Hilang

Lama sekali, sejak kita terakhir bertemu
Sekadar makan bersama, sekadar mengulum senyum
Lama sekali, sejak kita terakhir berdiskusi 
Sekadar berdebat kecil, sekadar berbising jail


Lama, lama sekali, hingga aku tak mampu mengenali warna matamu
Lama, lama sekali, hingga aku lupa bagaimana warna suaramu
Lama, lama sekali, hingga aku lupa bahwa aku pernah merindukanmu


Sore itu kau datang 
Menghampiriku yang tengah berayun di bawah naungan langit abu-abu
Tanpa kata kau menarik kecil ujung bajuku
Menginstruksikanku untuk mengikutimu
Menyuruhku diam dan menurut tanpa menanyakan tujuan yang akan kita tuju


Sekejap kita berjalan, sekejap kita tiba di halaman rumah bernuansa putih dan abu-abu

'Apakah ini rumahmu?' batinku, tanpa kutanyakan padamu

"Ini rumahku. Ini hari ulang tahunku. Kau mau masuk dan membantuku mempersiapkan pesta ulang tahunku?" jawabmu tanpa kutanya

"Apa kau tidak terlalu tua untuk merayakan ulang tahunmu? Bukankah pesta ulang tahun hanya untuk para anak kecil?" timpalku tanpa berpikir

"Apakah aku terlihat seperti anak kecil? Apakah kau pernah mendengar larangan merayakan ulang tahun bagi mereka yang sudah dinobatkan sebagai manusia akil balig?" jawabmu datar

"Tidak," kataku lemah

"Kalau begitu, kau harus membantuku," paksamu tanpa menanyakan kebersediaanku

Aku melihat lampion berwarna biru pastel, tergantung di sudut ruang tamu
Juga beraneka warna kertas hias masih terbungkus plastik, teronggok di dalam kardus bekas air minum gelasan


"Kau bisa memasak?" tanyamu tiba-tiba

"Eh? Mm...maksud.. Apa maksudmu? Tentu saja aku bisa memasak," jawabku tergagap karena aku memang tidak bisa memasak

"Sudah kuduga. Kau memang tidak bisa memasak. Kalau begitu, aku saja yang mengurus makanan dan kau mengatur dekorasi. Sudah diputuskan, kalau begitu!" putusmu

"Apa kau sedang menuduh dan menghinaku tidak bisa memasak? Itu keterlaluan! Aku bahkan dapat memasak masakan cina, jika kau tahu!" jawabku tak mau kalah

"Oh, kau ingin bertukar tugas? Kau yang memasak kalau begitu?" tanyamu dengan menunjukkan seringai jahil

"Tidak! Aku yang mengurus dekorasi. Aku tahu kau sangat buruk dalam hal ini dan aku tidak dapat bertahan melihat tatanan ruang yang jelek meskipun sebetulnya hal itu bukan acara yang berkaitan denganku. Lagipula memasak memang bukan keahlianku," timpalku ketus

"Ah, kau seperti baru saja mengaku bahwa kau memang tidak bisa memasak."

"Bukan tidak bisa. Hanya tidak ahli dan aku tidak suka melakukannya," jawabku jujur

"Ya, ya. Kau baru saja mengakuinya."

"BERISIK! Pergi kau!" usirku

"Kau ingin mengusirku dari rumahku?" tanyamu menantang

"Kau ingin aku yang pergi dari rumahmu dan tak jadi membantumu mempersiapkan pesta ulang tahun kekanak-kanakanmu, hei anak mami?" jawabku membalas tantangannya

"Tch! Kau sudah makin pintar menjawab, ya? Baiklah. Lakukan apa pun yang kau suka. Aku akan ke dapur," jawabmu sambil pergi menuju dapur. Aku dapat melihat punggungmu semakin menjauh lalu hilang tertelan pintu dapur yang tak betul-betul berpintu

Satu, dua, tiga jam berlalu
Kau masih sibuk dengan urusan dapurmu. Aroma sedap dan segar menyeruak menggoda. Aku lapar dan aku sudah selesai dengan urusan dekorasi yang kuatur dengan nuansi pastel dan abu-abu. Langit mendung dan kabut yang membayang. Kukira ini sangat serasi dengan dirimu

'Sudah kuduga, kau memang dapat melakukan hal semacam ini dengan sangat baik,' batinku ketika melihat meja dapur telah penuh dengan salad, kue, puding, dan berbagai makanan asing yang bahkan namanya sangat sulit untuk kueja

"Sudah kuduga, kau memang dapat melakukan hal semacam ini dengan sangat baik," katamu tiba-tiba

"Eh? A...apa?" responku terkaget. Kukira dia dapat membaca pikiranku

"Ya, dekorasi pesta ini. Aku sangat menyukainya," jawabmu datar

"Oh. Oh...hahaha. Tentu saja! Aku ahlinya. Tentu saja!" jawabku sedikit terbata

Pukul sebelas lewat lima puluh malam, semua persiapan pesta selesai dilakukan 
Kita duduk di sofa berlengan, berhadapan karena kelelahan

"Ini sudah sangat malam. Kapan kau akan memulai pestanya?" tanyaku

"Uhn, entahlah."

"Apa kau sedang menunggu orang-orang yang kau undang? Siapa saja yang kau undang?" tanyaku lagi

"Uhn, entahlah."

"Hah? Kau bagaimana sih? Kapan sebetulnya ulang tahunmu? Hari ini? BESOK?" tanyaku lagi, mulai tak sabar

"Uhn, bukan juga."

"APA?" aku mulai sebal

"Lima bulan lalu, kau tak ingat?" jawabmu menuntut

"Oh, ya. Ss...sepertinya aku sedikit lupa. Hahaha..." jawabku, merasa bersalah

"Kau memang seperti itu," jawabmu singkat

"Maaf, maafkan aku," aku menunduk menyesal

"Kau menyesal?"

"Tentu saja aku menyesal," jawabku jujur

"Kau menyesal melakukan ini semua denganku? Mempersiapkan pesta dan merayakannya denganku? Kau betul-betul menyesal?" tanyamu membabi buta

"Eh? Bukan begitu. Bukan itu maksudku. Aku...Aku menyesal karena aku melupakan ulang tahunmu. Aku bukan teman yang baik, bukan?" akuku

"Aku tidak peduli." 

"Kau marah...kah? Kau tidak akan peduli lagi padaku karena aku melupakan ulang tahunmu?" tanyaku cemas, tak siap kehilangan orang berartiku

"Tch! Kau bodoh atau bagaimana? Aku tidak peduli kau ingat atau tidak pada ulang tahunku. Aku hanya tidak ingin kau menyesal melakukan semua ini denganku," jawabmu, membuatku bingung

"Tentu saja aku tidak menyesal. Aku sangat senang dapat menghabiskan waktu denganmu lagi, seperti dulu. Seperti kapan? Bahkan aku hampir lupa kapan terakhir kita bertemu. Jika...jika aku tampak menyebalkan, itu karena...karena aku terlalu senang dan aku bingung."

"Baiklah. Kau baru saja mengaku," jawabmu singkat. Segaris senyum mewarnai wajah tirusmu

"Mengakui apa lagi maksudmu?" tanyaku bingung

"Lupakan. Kau terlihat mengantuk," jawabmu, tidak menjawab pertanyaanku. Namun, kau benar. Aku sangat lelah dan mengantuk

"Apa akan ada orang yang datang ke pesta gadungan ini? Aku sebal karena kau membohongiku, tapi aku terlalu lelah untuk... Hoaaahmm..." timpalku, tak selesai karena kuap buru-buru memotong kalimatku

"Untuk marah, aku tahu. Kita lihat saja nanti, siapa yang akan datang. Kau tidur saja dulu," ucapmu lembut sembari menyodorkan bantal dan selimut yang entah kau ambil dari mana

"Aku boleh tidur? Bangunkan aku jika tamu undanganmu datang. Aku ingin ikut berpesta juga," jawabku setengah terpejam

"Tentu saja."

Aku hampir tidak dapat membedakan dunia nyata dan mimpi lagi. Mataku berat. Napasku semakin pelan dan selimut yang kau berikan begitu nyaman hingga membiusku. Dalam sekejap aku tertidur di atas kursi berlengan yang sedikit apak. Ah, sudah berapa bulan kau tak membersihkannya?

Aku terbangun keesokan harinya, ketika adzan subuh menggema. Kurasakan elusan lembut di ubun-ubun kepalaku. Selimutmu telah lenyap menyisakan dingin yang sedikit menusuk kulit. Kulihat kau di sampingku. Tersenyum, memudar, nyaris menghilang.

"Selamat ulang tahun, kau. Maaf, aku pergi lebih dulu lima bulan lalu. Kau bisa menemuiku di sini, di setiap ulang tahunmu. Aku akan datang. Dan kau akan menjadi Gadis...ah bukan, bukan hanya gadis, tetapi wanita yang sangat kuat. Sampai jumpa, Gadis."

Wednesday, 28 January 2015

Tak Ada yang Selamanya

Nyatanya, yang mampu mendengar, lama-lama hanya basa-basi mendengarkan
Faktanya, yang mampu melihat, lama-lama pura-pura tak melihat
Kebenarannya, terkadang yang mengaku cinta, lama-lama bosan jika selalu melulu terlibat perjumpaan
Yah, semua orang tahu, tidak ada hal yang selalu sama selamanya

Sepuluh Alasan (saya) Tidak Ikut Wisuda

Satu, karena membayar 500 ribu. Oke tak apa, kalau 500 ribu doang cukup. Namun, pasti ada biaya tambahan lainnya, printilan-printilan yang totalnya bakal lebih mahal dari biaya pendaftaran untuk mengikuti acara itu sendiri.

Dua, karena saya hanya sendirian. Ada banyak teman sedepartemen saja belum tentu memotivasi untuk ikut, apalagi kalau tidak ada orang yang dikenal.

Tiga, karena saya benci keramaian, apalagi jika harus berlama-lama di dalamnya.

Empat, karena menurut saya hal ini bukanlah sesuatu yang perlu dirayakan dan lagi-lagi saya tidak menyukai perayaan.

Lima, karena Yaya, si adik saya yang paling kecil, tidak terlalu ingin ke Depok.

Enam, karena romo saya tidak terlihat senang dengan apa yang sudah saya hasilkan.

Tujuh, karena saya sudah terlalu lama bersenang-senang tanpa berguna bagi orang-orang dan seharusnya sekarang sudah saatnya saya turun ke jalan dan menapaki perjalanan hidup yang sesungguhnya, yang tidak sekadar bertabur kesenangan macam perayaan itu.

Delapan, karena saya tidak suka hal repot.

Sembilan, karena tidak penting bagi saya...berfoto dengan rektor atau berdandan hingga tidak terlihat seperti saya.

Sepuluh, karena saya keras kepala dan egois.

Tentu saja, saya merasa bersalah pada romo biyung, tapi toh ini semua demi kebaikan bersama di masa depan. :)

Gagak dan Burung Hantu

Aku adalah seekor burung gagak hitam kelam yang tidak pandai bernyanyi. Di suatu malam dengan bulan separo yang menggantung di langit-langit tak terlalu berawan, aku bertemu dengan seekor burung hantu berbulu abu-abu yang tidak tahu caranya ber-uhu. Saat itu, aku baru saja pulang dari rutinitasku mengabarkan berita kematian di sebuah pemukiman yang pemukimnya didominasi oleh manusia-manusia berambut merah jagung. Dan jika dugaanku benar, burung hantu abu-abu bermata kuning cerah itu tengah tersesat karena terjatuh dari pohon tempat ia dan keluarganya bersarang. Semua makhluk rimba pun tahu bahwa tidak ada yang lebih menyedihkan dari drama kehidupan terjatuhnya seekor burung hantu kecil yang belum bisa terbang dengan sayapnya sendiri.

Aku mendekatinya. Paruhnya sedikit bergetar, kutebak karena ketakutan atau kedinginan. Ketika kami semakin dekat dan mata kami bertemu dan mulai saling menyelami samudera netra kami masing-masing, aku buru-buru melemparkan pandangku ke arah sebuah pohon kenari tua yang tengah digasak dua ekor tupai muda yang baru tumbuh gigi. Aku hampir terkena lemparan kacang kenari yang mereka petik, jika aku tak cepat melompat menghindar ke kanan. Sepertinya aku telah membuat dua tupai itu kesal karena mengagetkan mereka yang tengah memanen kacang kenari.

Perhatianku kembali kepada si burung hantu abu-abu yang sepertinya semakin kebingungan. Ia tidak mengeluarkan suara, tapi gemeretak cakar mudanya yang beradau dengan batu dingin yang dipijaknya telah cukup memberitahuku satu hal. Ia tidak baik-baik saja. Aku mengambil seleret daun talas yang biasanya digunakan oleh bangau-bangau untuk berteduh dan menyodorkannya pada si burung hantu abu-abu. Aku tidak tahu, apakah daun itu cukup berguna baginya. Namun, aku berharap dia cukup pintar untuk menggunakannya sebagai semacam selimut atau sekadar payung berteduh karena kuduga malam ini tidak akan cerah dalam waktu lama. Aku dapat melihat rembulan separuh tidak lagi menampakkan diri dan...

*bersambung (?)*

Tiga Gambar di Bulan Januari

Assalamu'alaykum, my bloggie...
Huwooo, long time no see, ya? Apalagi setelah alamat ini diganti, ya? Ohohoho... Well, sekarang saya sudah bingung-bingung dan mulai tidak punya kerjaan lagi. Ada sih kerjaan. Hanya saja, yeah, sama saja tidak punya kerjaan. Sama sajaaa...

Pasca berlalunya tanggal 20 Januari, entah mengapa hati saya terasa kosong. Ada sesuatu yang terbang pergi. Tidak untuk disesali, tetapi tidak untuk disukai juga. Begitulah, saya sulit mendeskripsikannya.

Untuk mengisi kekosongan hari-hari saya pasca tanggal 20 itu, saya pun mulai corat-coret di kertas gambar peninggalan Tiara. Tidak jauh-jauh dari hasil-hasil coretan sebelumnya, saya pun menggambar beberapa karakter anime yang pernah saya tonton. Tentu saja saya mencontek gambar lain untuk dapat menggambar mereka ini. Haha. Membosankan memang bagi kalian yang mungkin sudah berkali-kali melihat hasil gambaran saya. Hanya gitu-gitu saja. Namun, entah mengapa saya tidak pernah bosan melakukannya. Ahahai.

"Fanart: Houtarou Oreki"
Depok, 20 Januari 2015
Media: Kertas Gambar A3
Alat gambar: Pensil, pensil warna hitam


"Fanart: Tetsuya Kuroko and Nigou"
Depok, 25 Januari 2015
Media: Kertas Gambar A3
Alat gambar: Pensil, pensil warna hitam




"Randomart: Someone I Know?"
Depok, 26 Januari 2015
Media: Kertas Gambar A3
Alat gambar: Pensil, pensil warna hitam

Wednesday, 31 December 2014

Aku adalah hantu. Terkadang, aku ingin muncul di tengah kumparan rutinitas manusia yang terlihat bergembira dengan seluruh keramaian dan kebisingan yang mereka timbulkan. Namun, terkadang aku ingin bersembunyi, menjauhi mata-mata ingin tahu yang menyimpan kecurigaan pada makhluk-makhluk tak ingin diketahui sepertiku.

Tuesday, 16 December 2014

Satu Sama

Ketika pagi tiba lebih cepat dan malam turun dengan terlambat, kulihat kau menggendong karung besar yang membuatmu nyaris tak bisa berjalan. Aku ingin menghampiri, tapi kulihat kau menolak semua bantuan yang orang lewat tawarkan. Kuurungkan segala niat, kusimak kau dari kejauhan.

Apa aku tak akan pernah menjangkaumu? Bahkan, ketika Tuhan telah sangat baik, menghadirkan kesempatan keseratus, aku masih saja tak mampu menyentuhmu. Kupikir aku sudah sangat berdosa, membiarkanmu tak terbantu. Padahal, aku tahu, aku satu-satunya orang yang harus dan dapat membantumu.

Aku tak bohong tentang aku yang tak mampu menyentuhmu. Bukankah ini tidak mungkin, membantumu tanpa dekat denganmu, tanpa mengertimu? Terkadang aku tak percaya, aku dan kau berasal dari latar belakang yang sama, dari rahim yang sama, dan memiliki tubuh yang sama. Namun, aku lebih tak percaya jika aku dan kau berbeda. Sebab, Tuhan menciptakan satu raga hanya untuk satu jiwa.

Mungkinkah kita betul-betul menjadi satu yang sama?

Satu hal yang harus dilakukan untuk mewujudkannya, meski aku tak yakin dapat melakukannya, adalah dengan tak lagi mengizinkan lalim dan dzalim membedakan kita. Dengan demikian, kita tak akan berpisah kejauhan. Aku mampu menyentuhmu, bahkan memelukmu dan menggendong karung itu bersamamu.

Apa kau percaya, aku dapat melakukannya? Sebab, kepercayaanmu adalah kekuatanku.

Monday, 15 December 2014

Bagaimana aku dapat melupakanmu, jika kau selalu saja sengaja memunculkan diri, meski tanpa rupa, di hadapanku.

Sunday, 14 December 2014

Tak Ada Judul

Apa kau akan mencintaiku, jika aku menjadi pintar? Apa kau akan memperhatikanku, jika aku menjadi cantik? Apa kau akan peduli kepadaku, jika aku menjadi orang terpandang? Namun, jika aku sudah menjadi pintar, cantik, dan terpandang, barangkali aku tidak akan lagi peduli, perhatian, apalagi cinta kepadamu. Berbagai kemungkinan dapat terjadi, bukan?
Dilihat dari sisi manapun, apa yang ada dan terjadi di antara aku dan kau adalah ketidaktulusan. Hubungan rumpang yang tak tahu harus dilengkapi dengan diksi tepat semacam apa. Karena, tak ada kejujuran dari pihakku juga pihakmu. Karena, tak ada urusan rasa yang  dilibatkan ketika kau berbicara denganku. Karena, tak ada bukti akurat yang dapat membuatmu yakin bahwa ada kelayakan pada diriku. Karena mungkin betul bahwa ini merupakan sebuah cinta satu sisi yang tak menarik bahkan untuk diingat oleh manusia lupa ingatan sekali pun.

Namun, jangan kau kira hal seperti itu dapat berlangsung abadi. Jika pun aku cinta mati kepadamu saat ini, belum tentu aku dapat bertahan menikmati hampanya bertepuk sebelah tangan seperti ini, apalagi jika harus sampai mati. Begitu pula kau. Meskipun kau berpura-pura tidak merasakan kehadiranku selama ini, belum tentu kau tidak merasa kehilangan ketika suatu saat tiba-tiba aku pergi tanpa kembali. Waktu tak hanya berlari tanpa permisi. Ia datang dengan jawaban-jawaban dan kejutan-kejutan yang dikirimkan oleh Tuhan. Aku dan kau, sama-sama belum tahu bagaimana akhir dari episode ini, bukan?

Hanya saja, aku yakin, hampir melebihi seratus persen, bahwa semua ini akan berakhir sebagai sebuah tragedi, apabila ketidaktulusan semacam ini berlangsung terus tanpa ada upaya untuk menghentikannya. Jika aku bersikeras diam di tempat, tak ingin bergerak untuk mengubah diri menjadi lebih layak di mata-Nya hingga layak pula bagimu. Jika kau tak menundukkan kepala untuk sedikit melihat sosok-sosok jelata, yang hanya memiliki kasih dan cinta, sepertiku.

Namun, bukankah Tuhan telah menjamin bahwa orang baik hanya untuk orang baik dan begitu pula sebaliknya? Maka, ketika tiba saatnya waktu berterus terang, ketika aku sudah menjadi lebih baik, tetapi kau tak kunjung mendekat datang; barangkali ini berarti bahwa bukan aku yang tak cukup baik untukmu, melainkan kau lah yang memang tak cukup baik untukku.

Ini memang hanyalah sebuah kesimpulan dangkal yang disimpulkan dengan tidak bijaksana oleh sesosok makhluk kekanak-kanakkan, seorang aku. Namun, kukira ini bukan ide yang buruk, menantang diriku sendiri untuk membuktikan mana yang lebih baik, kau atau aku. Aku tidak berani berharap tantangan ini berakhir remis. Karena remis menandakan bahwa kau dan aku memiliki kadar kebaikan yang sama; bahwa kau maupun aku, tidak kalah ataupun menang; bahwa kau dan aku berdiri di podium yang sama dan mau tidak mau saling berjabat; bahwa menjadi sama dan bersama itu terlalu indah, yang sayangnya justru tak pernah berhasil kubayangkan, hingga membuat kepalaku sakit seperti terpanah.

Apakah betul segala hal yang bermula akan berakhir menyakitkan? Jika benar demikian, sepertinya lebih baik aku diam dan tak mengirimkan tantangan, meskipun ini berarti bahwa aku harus menikmati kesakitanku sedari kini hingga waktu yang tak terprediksi. Bukankah lebih baik bersakit lama-lama kemudian terbiasa, daripada hidup damai berlama-lama lalu tiba-tiba terjangkit sakit memedihkan yang datang tanpa aba-aba?

Wednesday, 10 December 2014

Vertigo

*pending*

Katakan!

Kau ingin aku menjadi apa? Apa yang kau inginkan, yang ingin aku wujudkan? Apa pun itu, tolong katakanlah. Katakan padaku. Dengan begitu, aku tahu ke mana aku harus berlari dan dengan cara apa aku harus meningkatkan laju lariku itu.

Di setiap pagi aku terbangun, aku mengantongi mimpi-mimpi yang terkadang hinggap atau terperangkap dalam sarangku, sarang nyaman yang telah ratusan hari lamanya kuhuni, tanpa sekalipun kutinggal pergi. Sayangnya, hal yang nyaman belum tentu merupakan hal yang tepat untuk selalu ditempati atau dijalani. Seperti mimpi-mimpi yang tertangkap olehku, mereka mengabur dan melenyap tanpa memori, seiring pergantian hari. Mereka tak mampu bertahan hidup dalam kantong-kantong yang kusediakan. Mereka tak berkutik di sarangku, yang bagiku bagaikan surga dunia, tapi bagi mereka bagaikan anak neraka yang mengeringkan harapan kehidupan.

Maka aku bertanya, apa yang harus kulakukan agar aku terbang menjauhi sarangku? Aku tak memiliki cukup keinginan yang ingin kuwujudkan, hingga aku teringat padamu, pun pada mereka. Betul. Kalian akar keinginanku. Hanya kalian yang ingin kubuat bahagia, tertawa lepas tanpa diganduli keresahan. Namun, ketika aku menyadari bahwa tanyaku berbalas tanya, keresahan itu justru turut menginfeksiku. Apakah kita akan berakhir seperti ini? Resah dalam hidup yang sarat keresahan yang berlama-lama?

Aku ingin berjalan-jalan, mengitari taman bunga yang dipenuhi alamanda, anggrek tanah, lili merah jambu, teratai air, dan aneka mawar. Aku berharap di sana dapat menghirup wewangian penawar aroma keresahan yang lambat laun menguar dari dalam diriku. Hanya saja, aku tak tahu alamat taman itu. Dan lagi, sayap-sayapku belum siap bertahan terbang lama untuk menujunya. Jika aku harus menanti lebih lama lagi, aku takut aku melenyap, sama seperti mimpi-mimpi yang kukantongi. Namun, memaksakan diri pun sepertinya hanya akan berakhir kematian di tengah jalan. Semua dampak ini aku tak berani menanggungnya seorang diri. Maka lagi dan lagi, aku hanya meringkuk, menggelung, hari demi hari dalam sarang sialan ini.

Aku hanya ingin kau ada untukku. Bersamaku, di sampingku, mendampingi dan menuntunku keluar dari sarang yang menawan akal dan tubuhku bagai jerat setan. Karena aku yakin, kau dapat menamparku, ketika aku mulai menceracau atau barangkali berubah menjadi jalang yang mengotori jalanan. Karena aku percaya, kau dapat menarik dan memapahku, ketika aku terperosok, lumpuh, dan tak mampu untuk berjalan pulang. Karena aku tahu, hanya kau yang bersedia kubebani, oleh diriku yang menggantungkan jiwa ragaku pada bahu kurusmu yang mulai keropos tergerus waktu, setidaknya hingga tiba saatnya aku berani melepas gantungan erat tanganku itu.

Maka kepadamu lah, aku ingin mempersembahkan rajutan sarang jerami yang baru, tenunan sutra lembut yang belum pernah kau sentuh, air madu bunga matahari yang tak pernah kau teguk barang setetes, atau apa pun yang kau inginkan, yang kau ingin aku lakukan untukmu. Ini akan lebih gampang, jika kau berkenan mengatakannya kepadaku. Andai saja cara kita berbincang semudah kita mengedipkan mata, mungkin kau dapat mengatakannya sejak lama, atau aku dapat menanyakannya padamu jauh sebelum kau sempat berkata.

Kita, makhluk rimba yang melarikan diri dari bisingnya rutinitas manusia bermata menusuk lagi berisik, dapatkah kita bertahan? Dapatkah kita sembuh dari infeksi keresahan ini? Tolong katakan! Katakan padaku, apa yang harus kulakukan untuk mewujudkan pelarian ini! Katakan bahwa kita bisa berlari! Katakan lah tidak hanya dengan kata, tetapi juga keyakinan tanpa keraguan! Katakan lah bukan hanya dengan lidah, melainkan juga dengan mata dan tingkah! Katakan lah setidaknya hingga aku siap berhenti menuruti keegoisanku, hingga aku mampu berhenti bergantung padamu, berhenti bernapas tanpa bantuan embusan udara yang selali kau tiupkan untukku.

Aku akan terus menanti. Meski sekarat pun, aku akan menanti kata-kata itu datang padaku dan aku pasti mewujudkannya untukmu juga mereka yang kau cinta.

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...