Sunday, 20 July 2014

Tujuh Gambar Terakhir (Juni-Juli) 2014

"Owlet"
Depok, 21 Juni 2014
Latar belakang dibuatnya gambar ini adalah adanya rasa penasaran saya, apakah saya bisa menggambar sesuatu selain karakter anime? Ternyata, ya begitulah hasilnya. Memang tidak terlalu mirip sih, tapi saya cukup suka dan rasa penasaran saya terjawab: Bisa, walaupun seadanya. 
Selain itu saya juga cukup menyukai burung hantu. Mengapa saya menyukainya? 
Ini karena dia ada lagunya, karena dia lambang kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan, karena dia selalu terjaga di malam hari untuk menyelesaikan urusannya (seperti saya), karena dia tidak mudah ditaklukan, karena dia tokoh yang bijak nan jenius di kartun Minggu jam 7 pagi yang tayang di Indosiar pas aku masih SD, karena dia setia pada pasangannya, karena dia lucu tapi mudah stres (sepertiku?), karena aku sempat menghabiskan beberapa waktu dalam hidupku untuk takut dan membencinya sehingga sekarang tidak lagi tersisa rasa selain menyukainya. :D  (jawaban ask.fm)


"Fanart: Inuyasha Versi Cantik"
Depok, 26 Juni 2014
Terlihat aneh? Menurut saya iya. Mengapa? Karena rambutnya tidak mirip dengan Inuyasha versi aslinya. Yuhuuuu... Saya tambah-tambahan tuh poninya biar cantik dikit. Eh, hasilnya malah aneh gitu, wehehehe. Selain itu, pensil yang saya gunakan untuk menggambar ini juga supertumpul, sedangkan saya tidak punya rautan, heuheu. Ya sudahlah, seadanya, arsirannya acak adul. Akhirnya, saya gosok-gosok pakai kapas saja deh.


"Fanart: Itachi Uchiha Black and White Version"
Depok, 27 Juni 2014
Ini juga aneh, kan? Iyo. Itachinya lebih gemuk dari versi aslinya. Hahahai. Saya menggunakan pensil dan pensil warna. Terlihatkah?
Oh iya, ada cerita tersendiri untuk gambar ini. Gambar ini sebenarnya saya buat untuk saya berikan ke Annisa Haq (Nisa), adik angkatan (2011) yang juga teman satu kosan saya. Nah, pas mau menggambarnya, tetiba dapat kabar dari adik kelas lain, Rizqa Fadilla (Icha), kalau kakinya sakit dan tidak bisa berjalan. Akhirnya, saya dan Nisa pun menemani Icha yang sedang sakit di kontrakannya. Saya menggambar ini di kontrakan Icha, H-2 Ramadhan. Gambar ini selesai dibuat pada saat Icha lagi sakit-sakitnya dan akhirnya dibawa ke RS Grha Permata Ibu, untuk diperiksa. Alhamdulillah, beberapa hari kemudian Icha sembuh dari sakitnya.


"Random: Superquick Boy with Durian Hair"
Depok, 8 Juli 2014
Suatu malam yang biasa saja, saya menemukan kertas gambar bekas yang permukaan kertasnya sudah sangat buluk dan kotor oleh pensil. Sambil mengantuk, akhirnya saya memutuskan untuk menggambar seorang karakter boy imajiner secara random dengan kecepatan supercepat, 10 menit. Hasilnya, ya.... aneh gitu deh. Hehe.


"Honeymoon"
Depok, 9 Juli 2014
Sebenarnya, ini request dari seorang teman kampus asli Magelang, Nurlaely Presti (Lelly). Yeah, setahu saya, setahun belakangan ini dia memang semakin suka dengan hal-hal yang berbau naik gunung. Mungkin, ini yang membuat dia minta digambarin ini. Sebetulnya, pada contoh gambar yang dia kirimkan, si tokoh perempuan mengenakan celana. Namun, si Lelly menginginkan si tokoh perempuan ini mengenakan rok. Ya sudah, saya paksain deh...gambarnya jadi kayak gitu. Wehehe.
Mengapa saya beri judul  Honeymoon? Karena memang ini terlihat seperti bulan madu sepasang suami istri baru menikah, yang keduanya sama-sama menyukai menaiki gunung. Saya juga pengen, suatu saat saya dapat melakukannya bersama pasangan hidup saya, hahai. Aamiin.

"Fanart: Jack Frost (anime version)"
Kebumen, 18 Juli 2014
Yang pernah nonton film Rise of The Guardians pasti tahu karakter fiksi teman-temannya Santa Klaus, Kelinci Paskah, Peri Gigi dan Manusia Pasir ini. Yuppy! Dia adalah Jack Frost. No, no, no... Saya tidak percaya dengan mereka-mereka loh, ya. Saya hanya sangat menyukai ide ceritanya. Cukup menghibur deh pokoknya, di liburan lebaran tahun ini, yang benar-benar suram karena saya sedang dalam masa paling suram dalam hidup saya.
Semingguan ini saya jatuh cinta nih sama Jack Frost ini. Hahahai, saya memang baru menontonnya minggu ini. Padahal film-nya release tahun 2012. Kudet? Yeah, memang saya manusia yang kudet kok. 

"Fanart: Portgas D Ace and Luffy in Black"
Kebumen, 20 Juli 2014
Ini juga mau saya berikan ke Nisa. Saya tidak suka One Piece dan tokoh-tokohnya. 

Media   : Kertas gambar
Ukuran : A4 (all)
Alat      : Pensil 2B, pensil warna, pensil warna air, air, kuas, penghapus, kapas.

"Drawing is Delicious"

Saturday, 19 July 2014

Adik Baru

Yeah. Saya belum lulus loh. Uhn, barangkali dunia ingin tahu. Ternyata, menjadi antimainstream cukup waw juga! Waw!

Oke, itu ga penting.

Saya, punya adik angkatan lagi! Ya ampun, udah 4 angkatan loh. Udah tuanya minta ampun ya saya ini. Ckck.

Thursday, 5 June 2014

Salah Tingkah

Saya heran mengapa saya sangat mudah mengalami salah tingkah bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya sangat tidak perlu untuk disalahtingkahkan. 

Contoh salah tingkah yang tidak penting adalah ini.

Tadi, ba'da isya, sekitar pukul 8.20 PM, saya keluar dari kosan untuk mencari udara segar setelah seharian bergulingan di dalam kamar. Selain itu, saya juga memang sedang sangat menginginkan es krim tanpa alasan yang jelas sehingga saya harus pergi ke luar rumah untuk membelinya. Sebelum pergi, saya memang sempat menge-tweet ini: Okelah, mari jalan-jalan sebentar sambil ngintip-ngintip apa yang ada di jejalanan dan cari es krim pelangi... Syalalaaa...
Setelah sempat me-reply tweet Melinda dulu, saya pun segera mengambil sepeda motor saya, mengendarainya menuju rumah bimbel 2014. Di sana ada banyak panitia, tapi sayangnya panitia laki-laki semua. Hnn, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk hanya singgah sebentar saja di sana. Setelah menyapa beberapa peserta dan membaca daftar lokasi ujian SBMPTN dan SIMAK UI, saya pun melangkah ke depan, berniat untuk pulang. Namun ternyata, besoknya adik-adik peserta ini mau melaksanakan puasa sunah Senin-Kamis dan para peserta putri ini belum membeli lauk. Si Rina akhirnya meminta saya untuk mengantarkannya membeli sayur. Di depan gerbang rumbel, kami berdua bertemu dengan Jojo (peserta putra) yang baru pulang dari membeli sayur dengan dibonceng oleh Reza. Saya heran, kenapa tadi tak membelinya bersamaan saja? Oh, mungkin memang sistemnya seperti itu.  
Singkat cerita, kami berdua selesai membeli sayur. Saya pun melanjutkan perjalanan ke tempat persinggahan selanjutnya (?), tempat yang di sana menjual es krim. Akhirnya, saya memilih untuk mendatangi Indomaret yang paling dekat dari rumbel, yang terletak di pertigaan Masjid Al Barokah. Niat awal saya adalah hanya membeli es krim walls rainbow, yang rasanya beraneka macam dan harganya relatif murah. Namun, tetiba saya ingin membeli walls magnum pink karena membaca tweet Melinda. Akhirnya, saya memutuskan untuk menunda memilih. Saya berkeliling ke seantero minimarket itu. Saya pun mengambil beberapa mie instant, sebungkus makanan ringan berbentuk crepes, sebungkus lolipop milkita entah isi berapa, dan berputar-putar mencari snack lain. 
Di saat berputar-putar itu, tetiba saya terkagetkan oleh kehadiran sosok yang saya kenal. Dia adalah orang yang saya deskripsikan di post sebelumnya, yang berjudul "Seorang Adik Kelas (3)". Saya juga tidak mengerti mengapa saya bisa sekaget itu. Padahal, orang yang bersangkutan sama sekali tidak menampakkan wajah kaget sama sekali. Datar, tak berekspresi. Saya memang seorang yang mudah kaget dan ketika kaget saya tidak dapat melakukan hal dengan baik, hingga menimbulkan salah tingkah. Salah tingkah in juga yang terjadi pada saat bertemu si adik kelas ini.  
Mungkin, ada beberapa alasan selain kaget yang membuat saya salah tingkah ketika melihatnya. Pertama, karena ini baru pertama kali saya bertemu dengan seorang laki-laki yang saya kenal secara insidental, di tempat berbelanja. Saya memang agak tidak suka jika ada orang lain mengetahui barang belanjaan saya, kecuali jika kami berangkat bersama atau saya sengaja menunjukkan kepadanya. Kedua, karena saya berbelanja di tempat yang letaknya terbilang cukup jauh dari kosan saya. Saya juga malas jika nanti ditanya-tanya. Ketiga, karena ini letaknya dekat sekali dari rumbel dan pasti dia akan segera menyimpulkan bahwa saya baru saja dari rumbel. Padahal, tepat di hari sebelumnya, saya sudah bilang kepadanya dan satu orang lain bahwa saya tidak akan ke rumbel kecuali ada panggilan mengajar privat atau semacamnya, dan ternyata saya datang ke sana lagi tanpa dipanggil. Keempat, karena sebelumnya saya memang sedang memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika bertemu dengan anak-anak yang kos sekitar situ dan ternyata ini memang terjadi.
Saya masih terkaget melihatnya, ketika dia bertanya, "Jadi, beli es krim pelangi?" masih dengan muka datarnya yang khas dan entah kenapa terlihat agak menyebalkan. Saya hanya menjawab, "Iya, entar nungguin reply twitter dari Melinda."
Dan untuk mengatasi salah tingkah saya, saya pun mengambil sekotak susu Ultra Full Cream 1 liter dari rak paling atas, yang memang ingin saya beli. Saya tidak tahu barang apa yang dibelinya karena saya tidak tertarik untuk mengetahuinya. Saya melanjutkan perjalanan belanja (?) saya, menuju ke box es krim, memilah beberapa lama, lantas mengambil dua bungkus es krim pelangi dari dalamnya. Masih ada sisa-sisa salah tingkah, saya langsung menuju meja kasir, tanpa menyapa si adik kelas ini sama sekali, tanpa ingin mengintip apa barang belanjaannya.
Belanjaan saya selesai di-scan. Usai membayar, saya langsung mengebut keluar dari dalam minimarket itu, masih tanpa menyapanya. Haha... Emang rada-rada sepertinya saya ini. Di atas motor, saya sempat mengetik chat ke Nisa. Selesai memasukkan handphone ke dalam tas tangan bulu kucing saya, dia keluar dari dalam minimarket dan bertanya, "Dari rumbel, mbak?"
"Hah? Kapan? Sekarang?" jawab saya. Padahal saya jelas-jelas mendengar dengan baik apa katanya.
"Ya, tadi dari rumbel?" dia memperjelas pertanyaannya.
"Iya. Tilik doang kok, tilik doang," jawab saya sambil menyalakan mesin motor dan berbelok meninggalkannya. Dalam hati, "Ya ampun, ini anak bakal mikir saya ini apaan ya? Aneh? Nggak konsisten? Ah, ya sudahlah. Tapi, nggak nyangka juga tweet saya dibaca dan diingat orang, haha. Apalagi seorang yang seperti dia, yang kata beberapa orang, uhn... ya sudahlah."

.....................

Jadi, cerita di atas merupakan salah satu kisah salah tingkah berlebihan yang terjadi dalam hidup saya. Salah tingkah itu lebih dapat membuat saya deg-degan daripada salah tulis kata. Uhn, sepertinya saya memang perlu lebih sering bertemu dengan orang di dunia nyata agar saya tidak sering salah tingkah lagi. Saya begitu jarang berinteraksi dengan banyak orang, khususnya anak laki-laki. Hal ini membuat saya tidak nyaman ketika dikelilingi oleh banyak orang, apalagi laki-laki. Salah tingkah seperti ini, terkadang membuat orang salah paham. Di masa lalu, berbagai kesalahpahaman sering terjadi karena saya dikira salah tingkah ketika bertemu A, B, C, D bisa jadi sampai Z. Alhasil, saya pun terpandang sebagai gadis yang mudah jatuh cinta. Ciyeeee.... Padahal, ya enggak jugaaaa. 

Fyuh! Apa yang harus saya lakukan untuk meminimalisasi salah tingkah ini?


Tuesday, 3 June 2014

Seorang Adik Kelas (3)

Dia sedikit aneh karena memiliki cara bicara yang berbeda antara di medsos, chat pribadi dan di dunia nyata. Tak hanya itu, perasaan yang tersirat dalam bahasa tulisnya pun terkesan berubah-ubah. Dia...sulit diterka.

Wednesday, 28 May 2014

Ini tentang Betapa Buruknya Kemampuan Navigasi Kau dan Aku

"Hey! Ayo, cepat tebengers!" teriakmu. Orang yang kau panggil tebengers itu tak lain, tak bukan adalah aku yang tengah bercakap-cakap dengan beberapa orang yang akan pulang juga ke asrama mereka masing-masing. Ah, mungkin kau lupa. Bukan aku yang meminta tolong padamu untuk memboncengkan dan mengantarkanku sampai ke rumah, melainkan kau sendiri yang menawariku, "Mau membonceng?"

Jadi, saat itu aku merasa tidak sreg dan tidak pantas dipanggil "tebengers" karena aku tidak meminta dibonceng, kecuali ditawarimu. Lagi pula, aku sudah bertekad: tidak akan lagi meminta tolong padam untuk mengantarkanku kecuali kau yang menawarkan sendiri atau sedang dalam kondisi tertentu, sejak kau diam ketika aku memintamu lewat pesan tulisan saat itu.

Sebenarnya, aku memiliki dugaan mengenai alasanmu menawariku tumpangan. Ini karena aku cukup sedikit tahu cara berpikirmu. Bisa jadi, alasanmu menawariku tumpangan adalah untuk menghindari permintaan nebeng dari orang lain yang letak asramanya lebih jauh dibandingkan asramaku. Kau lebih memilih untuk mengantarkanku hingga asramaku yang arahnya berlawanan dengan arah asramamu karena, bagaimanapun juga, jaraknya lebih dekat dan cepat jika dibandingkan mengantarkan orang lain. Betul, kan? Alasanmu berkata "Hey! Ayo, cepat tebengers!" adalah untuk mempercepat percakapanku dengan mereka agar mereka tidak memintamu, kan?

Padahal, ketika kau mengeluarkan motor, mereka sangat gembira, dengan mata berbinar-binar, mengiramu akan mengantarkan salah satu dari mereka. Namun, kau menjawab kau akan mengantarkanku dan hal itu membuat mereka terlihat kecewa. Ah! Kau tidak tahu betapa aku merasa tidak enak pada mereka karena telah egois tak menolak tawaranmu. Akan tetapi, aku juga tidak enak padamu karena dengan mengantarkannya kau akan menunda lebih banyak waktu belajarmu untuk persiapan ujian keesokan harinya.

Ah! Sudahlah! Ini tidak penting!

Apa kau ingat? Ketika kita berdua berputar-putar di sekitar asrama lamaku, hanya untuk menemukan tempat makan yang sama seperti pada saat pertama kali kita makan di sekitar sana. Dua atau tiga kali, kita memutari tempat yang sama. Masuk gang ini keluarnya di gang itu. Memutar ke sana, memutar ke sini dan pada akhirnya kita berdua makan di tempat yang hanya berjarak 100 meter dari asramaku karena di sana ada dia yang juga ingin kau ajak bicara. Krik. Betapa ketersesatan tersebut tak berbuah apa pun karena pada akhirnya kita tidak mendatangi tempat yang ingin didatangi.

Mengapa kita sama-sama memiliki kemampuan navigasi yang buruk? Cukup tidak aman memang menjadi penumpangmu. Namun, entah kenapa ada kenyamanan tersendiri, meskipun pada akhirnya kita tersesat dan sibuk mencari-cari.

Thursday, 15 May 2014

Parfum Sekre

Sejujurnya, awalnya saya tidak tahu siapa yang bertanggung jawab atas aroma khas di dalam ruang kesekretariatan kepanitiaan rutin yang durasinya superpanjang itu. Aroma yang

Wednesday, 7 May 2014

Sore Hari di Margonda Raya

Aku memutuskan untuk melewati jalan yang berbeda pada perjalanan pulang ke kost kali ini. Rutinitas kampus yang selalu saja seperti itu, sejak dua tahun lalu, akhirnya berhasil membuatku jenuh. Terlebih lagi, hari ini banyak sekali kejadian tidak menyenangkan yang terjadi, baik yang berhubungan dengan kegiatan kampus, maupun yang tidak berhubungan dengan apa pun sama sekali. Sepertinya, hari ini aku sedang di puncak periode sensitifku. Setelah sudah berbulan-bulan lamanya aku dapat memanajemen tingkat stresku sendiri, akhirnya kesalku meledak juga karena merasa diperlakukan tidak adil oleh beberapa teman dan orang di kampus: ditinggalkan dan tidak diajak mengerjakan tugas akhir semester bersama oleh teman-teman yang lain.

Ini adalah siang menjelang sore yang begitu gerah. Entah memang karena cuaca hari ini atau karena sulutan suasana hatiku yang tengah berkecamuk oleh kekesalan, tapi aku tidak menyukai hari yang seperti hari ini. Sepanjang perjalanan, kuhabiskan langkahku untuk mengumpati sekian banyak nama orang yang kuanggap telah berkhianat dan terlanjur pelit untuk berbagi ilmu denganku. Kupandangi langit di sebelah Selatan. Perlahan tapi tampak pasti, gumpalan awan mendung terlihat mendekat, memperluas area abu-abunya, menelan awan putih cerah yang baru saja berbagi panas menggigit kepada bumi Kota Depok.

“Oh, jadi mau turun hujan? Mau hujan aja repot! Panas-panas, gerah-gerahan dulu!” gumamku pada diriku sendiri. Aku melihat ke sepanjang tepian jalan Margonda Raya, beberapa pedagang kaki lima, pedagang asongan, penjual koran dan pekerja serabutan lainnya, mulai mencemaskan dagangannya. Seorang pedagang es krim bantal keliling mengerutkan dahi, menengadah, menerawang ke arah langit yang menggelap, lalu mengalihkan pandangannya ke arah dagangannya, tampak menghitung sisa dagangan esnya. Aku menyeringaikan senyum sinis sembari membatin, ‘Aku tahu apa yang kau rasakan, Pak Tua, karena aku juga tengah merasakan kekesalan itu saat ini, terkhianati keadaan.’
Aku memilih untuk mengabaikan orang-orang itu dan kembali menekuni perjalananku yang terasa lebih panjang daripada bisanya. Ah iya! Aku sepertinya salah pilih rute karena sepertinya jarak yang kutempuh kali ini memang lebih jauh daripada jalan biasanya. Alhasil, di sepanjang jalan, aku kembali mengeluh dan melontarkan sesal karena aku memilih rute perjalanan: Gang Senggol – Depok Town Square - Fly Over dan berakhir di Jalan Margonda Raya, yang notabene justru memperjauh jarak pulang ke kost. 'Ah! Mengapa tadi tidak naik bis kuning dan turun di halte Pondok Cina saja? Capek! Bodoh sekali memang aku ini!' batinku

Aku berjalan di sebelah kanan jalan dan tidak peduli jika itu melawan arus, baik kendaraan maupun pejalan kaki lain. Aku hanya ingin cepat-cepat sampai kamar dan merebahkan tubuh lelahku. Di tengah langkah kakiku yang kian memalas, tiba-tiba, dari arah berlawanan aku melihat dua sosok yang sontak menyedot perhatian mataku. Mereka berjalan bergandengan: seorang bapak bertopi kusam dan seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar 6 tahun di gandengan lengan kirinya. Mereka tidak tampak seperti bapak-anak yang baru saja pulang berjalan-jalan dari mall dan akan segera menaiki mobil pribadi atau menghadang angkot.

Si anak kecil berbaju dekil, beralaskan sandal compang-camping yang tidak saling berpasangan karena berbeda warna dan bentuk, sandal kanan dan kiri itu. Dia merangkul erat lengan kiri orang di sisi kanannya, menuntun dengan sabar sosok yang terlihat memiliki kemiripan rupa dengannya, sang bapak yang ternyata telah kehilangan kaki kanannya.

“Hah?” teriakku pelan tanpa sadar. Benar sekali. Kaki kanan sang bapak tidak lagi sempurna. Aku menebak, kaki itu pernah diamputasi hingga hanya menyisakan bagian paha saja.

‘Masya Allah. Betapa si anak begitu menyayangi sang bapak yang terlihat tetap sangat bersemangat, meski tangannya harus bertumpu pada tongkat penyangga buatan tangan, yang terlihat tua dan merapuh, untuk menahan berat badan bagian kanannya,” batinku.

Mereka berjalan perlahan. Sesekali si anak tergoda oleh jajaran benda-benda yang terdapat di dalam pertokoan dan jajanan yang berjajar rapi di tepi jalanan. Namun, tak pernah sampai dia melepas pegangannya dari sang bapak. Ketika mulai mengendur pegangan tangannya, dengan cepat si anak akan kembali mempererat dan memperhatikan langkah sang bapak. Meski penampilan mereka terlihat memperihatinkan, aku tak berani menyimpulkan bahwa mereka tengah meminta-minta, seperti kebanyakan orang yang sering aku temui di tepi kali di samping universitas ungu, tetangga kampusku. Aku pun ragu untuk menyodorkan receh, yang sebenarnya telah cukup lama aku genggam di dalam saku jaket, kepada mereka.

Pada saat mereka berada dalam jarak sekitar sepuluh meter di depanku, tiba-tiba dari belakangku, muncul seorang bapak lain, dengan suara lonceng yang cukup nyaring dan berkelinting menyertainya. Beliau adalah sang bapak penjual es krim bantal yang kutemui sebelumnya. Dalam waktu sekejarp, dia telah mendahuluiku. Dengan gesitnya, beliau menarik gerobak mungil yang tampak seperti bekas troli beras yang digunakan di pasar-pasar tradisional ini. Tiba-tiba, tanpa sebab yang pasti, aku ingin mengejar si bapak es krim bantal. Aku hanya ingin tahu apa yang membuatnya melangkahkan kaki secepat itu. Namun, pada akhirnya, aku mengurungkan niat itu dan lantas kembali berjalan dengan kecepatan malas seperti semula. Aku putuskan untuk mengalihkan pandangan pada sebuah toko hijab di sebelah kananku.

Sesaat kemudian, tepat sekali ketika aku meluruskan kembali pandangan aku ke depan, aku tersentak dengan sebuah pemandangan yang sangat indah. Sang bapak penjual es krim tiba-tiba berhenti, setelah melewati si anak kecil bersandal compang-camping dan bapak bertopi kusam. Beliau menarik balik gerobak troli mininya ke arah mereka berdua dan memanggil si anak kecil dengan lambaian yang hangat.

Si anak kecil hanya menengok, tanpa menghentikan langakahnya. Tidak menyerah, si bapak penjual es krim bantal memanggilnya lagi. Kali kedua ini, si anak kecil merespon lantas berbalik menemui sang bapak penjual es krim, melepaskan pegangan tangannya dari bapaknya.

“Ada apa, Kek?” tanya si anak kecil.

“Kamu haus nggak, nak?” tanya balik si bapak penjual es krim bantal.

Anak kecil itu hanya terdiam. Wajahnya mengisyaratkan kebingungan dan prediksi akan kemungkinan-kemungkinan. Dia melihat si bapak penjual es krim bantal, dari ujung topi hingga ujung sandal jepitnya. Matanya berkeliling ke setiap inchi benda yang melekat pada tubuh si bapak, hingga akhirnya tatapannya berhenti ke arah sebuah box yang terpasang rapi di atas troli.

Akhirnya si anak kecil mengerti apa maksud pertanyaan si bapak penjual es krim. Dengan penuh semangat dia berteriak sambil lompat-lompat di tempat, “Iya! Haus! Haus! Haus!”

Si bapak penjual es krim tersenyum. Ditariknya troli mendekat kepadanya dan dari dalam box pendingin, yang tak kalah compang-camping dan dipenuhi bekas tempelan stiker nama dagangan esnya, dikeluarkannya dua bungkus es krim bantal. Beliau berikan es krim-es krim itu kepada si anak dan sang bapak bertopi. Si anak memilih es yang berwarna pink sedangkan sang bapak bertopi menerima es yang berwarna putih dari si bapak penjual es krim.

Lalu dengan sebuah isyarat kecil --mengayunkan tangannya yang memegang es krim ke arah bepak penjual es krim, mereka berdua pun berlalu, kembali menyusuri jejalanan Margonda Raya. Si bapak penjual es krim membalasnya dengan lambaian singkat dan senyuman serupa pisang, lantas kembali menarik gerobak trolinya.

Aku berhenti sekitar dua atau tiga detik untuk menyaksikan bagaimana interaksi dan sosialiasi antarmanusia ini terjadi. Mereka, dua pihak tidak saling mengenal satu sama lain, tetap mampu berbagi satu sama lain, bersemangat di tengah terikn panas dan mendungnya Depok Raya. Aku? Baru berjalan dari FKM UI ke tempat kost saja sudah mengeluh. Jangankan dengan sambil berbagi dan membantu orang lain, sempat terlintas pikiran untuk berbagi pun terkadang tidak.

Bapak-bapak dan anak ini jauh lebih mengerti cara memaknai hidup dibandingkan aku. Mereka yang kemungkinan sama-sama diliputi keterbatasan dan kekurangberadaan, mereka yang berjuang dari pagi hingga senja untuk mampu bertahan hidup, mereka yang masih tetap mau menyapa dan membantu orang lain meski sedang dalam ketergesaan mengejar pekerjaan, mereka yang benar-benar tahu arti hidup dan mensyukuri nikmat dari-Nya, Masya Allah.

*****
Pasca menyaksikan peristiwa indah itu, aku pun merenung, ‘Andai aku mampu untuk lebih menundukkan kepala dan hati sedikit saja, memahami keramaian di sekitar yang lebih problematik, aku pasti akan berpikir puluhan kali untuk berkeluh kesah, untuk mudah menyerah, untuk berkata bahwa aku tidak bisa, untuk menyalahkan orang lain alih-alih memperbaiki diri sendiri dan untuk lelah menyapa manusia. Aku manusia beruntung, memiliki apa yang aku miliki saat ini hingga mengenyam bangku kuliah pun bukan sebuah kemustahilan. Namun, aku masih kurang tahu diuntung, kurang menyadari dan mensyukuri apa yang telah kumiliki dan kudapati, bahkan terkadang tak puas hati lah yang aku curahkan untuk nikmat-nikmat yang telah hadir ini.’

Secara ajaib, hilanglah semua kekesalan yang kudapatkan dari kampus. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk menyelesaikan sendiri tugas akhir semesterku dengan meminimalisasi kebergantunganku pada teman-temanku yang lain. Berbagi dalam hal kebaikan, tidak sebaiknya melibatkan keterpaksaan dan kekesalan. 

Thursday, 24 April 2014

Buku Harian Rindah (1)

Awal Minggu Ke-4 April 2014

Sudah? Kau hanya mengatakan itu saja, lantas pergi?

Kau tahu, aku sangat senang dapat melihatmu. Kau datang sesuai janjimu. Kau membawakanku satu buket bunga, berisi amarilis dan berjumlah tujuh tangkai. Ketujuhnya berwarna putih. Dari kejauhan, kukira kau membawa bunga lili putih. Aku sangat senang melihatnya. Namun, ternyata kau membawakanku amarilis putih bersih yang sangat kusuka dan ini membuatku lebih dari sekadar sangat senang.  Siapa yang menyangka bahwa kau masih mengingat bunga kesukaanku? Selalu ada hal yang menarik dari seorang jenius memang. Aku akan menyimpan bunga-bunga itu dengan baik. Semoga dia dapat bertahan lama, lebih lama dari sekadar "selamanya".

Dewa, apakah aku pernah bercerita padamu bahwa setiap bunga di dunia ini memiliki arti? Atau malah, aku pernah menceritakan padamu bagaimana awal mula kelahiran bunga amarilis berdasarkan mitologi Yunani? Aku penasaran, apakah hal-hal semacam ini cukup penting untuk kau ketahui. Namun, mungkinkah kau tahu mengapa aku menyukai bunga ini? Ini karena aku merasa aku terlalu mirip dengan si dewi dalam mitologi tersebut, yang menjelma menjadi bunga ini, meskipun aku tidak ingin memiliki akhir hidup yang sama dengannya. Aku tidak ingin menusuk jantung hatiku sendiri untuk membuat satu-satunya orang, yang mengisinya, mengisi hati ini, menyadari betapa besarnya kasih dan cinta untuknya, yang telah dia jaga dengan susah payah dalam diamnya suara, dalam dalamnya tatapan, dalam dinginnya perhatian.

Meski kau telah menepati janjimu untuk datang, tapi aku tidak merasakan kehadiranmu sepenuhnya ada bersamaku, wahai Dewa. Aku dapat membaca senyummu, senyum yang kau berikan merupakan senyuman yang berhiaskan isyarat kasihan. Aku dapat membaca kerutan dahimu, kerutan yang hanya akan muncul ketika kau menyembunyikan sesuatu. Aku dapat menghirup aroma jaketmu, aroma tidak harum hasil perpaduan antara material-material praktikum dan parfum yang sama, yang kau pakai sejak tujuh tahun lalu, tetapi tidak cukup mampu untuk menutupi aroma kerja kerasmu kali itu. Aku mendengar pembicaraanmu dengan pembimbingmu dalam telepon itu, meskipun kau telah berusaha menyembunyikannya dengan beralasan akan membeli es serut tropicana fruit di kedai Abah Ali. Aku dapat menerjemahkan isyarat matamu, yang hanya memandangku sesekali dalam sepuluh menit, yang terlalu sering menjadikan layar bioskop sebagai lawan bicaramu. Aku dapat membacamu... Aku dapat melakukannya, karena kita sudah saling mengenal selama sepuluh tahun. 

Apakah dia, Dewa ini, semakin bodoh dalam menyembunyikan kegelisahan dan isi pikirannya? Satu-satu kebodohannya adalah dia tidak tahu kalau aku dapat membaca setiap detil tingkahnya.

Aku, merasa sangat berdosa karena membuatmu yang tengah sangat sibuk datang menemuiku. Aku merasa telah menunda kesuksesanmu karena telah meminta satu harimu untuk dihabiskan dengan melakukan hal-hal kekanak-kanakan yang kuminta. Dewa, apakah aku orang yang sangat tidak baik... untukmu? Dewa, maafkan aku.

_________
Rian, apakah aku harus menceritakan setiap hal kepada mereka berdua? Aku masih tidak tahu bagaimana caranya untuk berkomunikasi dengan mereka. Aku tidak yakin mereka akan mengerti. Rian, aku sedang tidak ingin membahas tentang mereka.

Kuha, sepertinya aku memang terlalu bergantung pada Dewa. Suasana hatiku bergantung pada suasana hatinya. Semangatku bergantung pada semangat dan dorongan darinya. Segala hal yang kupilih untuk kujalankan bergantung pada segala hal yang terjadi dan telah dijalankan olehnya. Padahal, aku tidak merasa dia terpengaruh olehku atau dengan kata lain tidak sering terpikirkan aku dalam setiap langkahnya. Aku iri dengannya yang dapat mengendalikan hidupnya sesuai keinginan dan pilihannya. Kukira aku mulai percaya dengan apa katanya, bahwa sukses adalah pilihan. Apakah kebergantungan ini terjadi mungkin karena aku lebih memilih Dewa dibandingkan sukses itu sendiri sehingga aku seperti ini? Kuha, apakah aku memang menyukainya... Uhn, oke... ini baru satu setengah bulan sejak aku memutuskan untuk mengambil keputusan untuk tidak menyukainya, lebih dari suka terhadap kawan?

___________

Hari kunjungan Dewa saat itu, diakhiri dengan tolehan sembilan puluh derajat darinya. Di atas motor besarnya, sebelum dia pulang, sembari memutar arah motornya menuju jalan setapak sempit itu, dia menoleh padaku. Aku menghadiahinya dengan lambaian sampai jumpa. Namun, dia hanya tersenyum dingin dan berkata, "Sudah?!" Kata pertama dan terakhir yang kudengar selama tujuh jam kebersamaan kami berdua di weekend itu. Kemudian, dia mengegas sepeda motornya menjauhiku yang berdiri mematung di tempat sembari mengawasi kepergiannya. 

'Bukankah ini adalah weekend yang sangat dingin?' batinku.

Tiba-tiba, sepeda motornya menghilang dari pandangan dalam tiga detik dan semuanya menjadi gelap.

Aku terbangun di sini, di ruang perawatan rumah sakit di tempat yang tidak tahu ada di mana karena kami berpisah di suatu tempat yang tak kukenali dengan baik karena menurunnya kesadaranku. Ternyata, kesadaranku yang tiba-tiba menghilang, bukan sepeda motor Dewa. Aku mengetik ini segera setelah terbangun. Kata suster, tekanan darahku sangat rendah dan maag kronisku semakin buruk....dan aku tidak bertanya lebih lanjut tentang yang lain, haha. Sekarang dia sedang menyiapkan makanan "spesial" untukku. Aku hanya mampu menulis sampai sini karena aku takut dia segera datang dan memarahiku karena tidak menuruti perkataannya. Uhn...aku yakin sebentar lagi Rindy akan datang karena suster bilang bahwa pihak rumah sakit telah menghubungi pihak keluargaku dan pasti itulah Rindy, karena aku masih belum menyimpan nomor ayah dan ibu. 

Oke, sudah dulu Rian dan Kuha... 
Aku menyayangi kalian! :)

Wednesday, 23 April 2014

Ini Sudah Dimulai

Ini sudah benar-benar dimulai, uhn? Setahun sejak itu sudah berlalu, uhn? Masa-masa, di mana siang dan malam akan terbolak-balik. Di mana, bisa jadi, siklus kehidupan dan masa-masa produktif seseorang akan tertukar. Aku hanya dapat memandangi mereka yang tengah tidur berserakan dengan hanya beralaskan karpet berwarna krem tua. Satu, dua, tiga...ah ternyata tujuh orang berhijab yang tidur di hadapanku, ketika aku menuliskan ini. 

Oh iya, ada juga seorang pemuda, adik tingkat yang masih tergolong maba, yang tengah menghadap laptop sembari sesekali berpikir dan memijit-mijit keyboard laptop yang ternyata hasil pinjaman dari adik angkatan yang lain. Dia sedang mengerjakan tugas deadline, katanya. Dua orang pemuda lain, tampak tertidur pulas di teras sempit, di depan rumah perjuangan ini. Oke, mereka memang beralaskan kasur tua, yang mulai mengeras dan menusuk-nusuk punggung, tapi tak cukup terselimuti tubuh mereka, hingga terkadang mereka terlihat bergerak-gerak menggosok-gosok anggota badannya yang dibelai oleh dinginnya angin malam. Ada pula seorang perempuan, adik tingkat tertua, yang tertidur dengan sengaja di ruangan sebelah, katanya dia akan kuliah pukul delapan pagi.

Mereka semua, yang telah kusebutkan tadi, adalah para panitia dari bimbingan belajar yang diselenggarakan paguyuban ini. Yeah, pemandangan ini terakhir kulihat setahun lalu. Manusia-manusia super, yang bertebaran di seluruh sudut rumah perjuangan, yang lelah setelah di hari sebelumnya mereka menjalankan fungsi ganda sebagai seorang mahasiswa yang menuntut ilmu sesuai konsentrasinya masing-masing, juga sebagai agen penebar ilmu dan penyedia fasilitas belajar kepada para peserta bimbingan belajar di rumah perjuangan ini. Fenomena tahunan, uhn?

Hwoaaah... Adik-adik ini, semangat membimbing adik-adik peserta ya. Jikalau di tengah perjalanan kalian merasa lelah, tetiba merasa menepi tanpa disadari, juga mulai bertanya-tanya "Apa yang sebenarnya sedang aku lakukan di sini? Untuk apa sebenarnya aku melakukan ini hingga meninggalkan apa yang seharusnya kuperjuangkan lebih keras dari ini?"...maka ingatlah, nikmatnya buah keikhlasan juga bunga-bunga senyum yang bersemi di wajah-wajah mereka, adik-adik peserta. Ah, ini akan sangat indah dan hangat, jika kau merasakannya dengan hati, bukan hasrat untuk dipuji. Ini akan membekas membahagiakan, jika kau menjalankannya dengan senang hati, bukan sesak hati. Ini akan membuatmu mengenal dan memiliki, lebih banyak keluarga untukmu berbagi, berkisah dan kau ajak untuk berjalan-berlari. 

Waaaah... Selamat berkontribusi, selamat menjalin kebahagiaan yang ternilai oleh materi, selamat memupuk amal untuk bekal akhirta nanti. Selamaaaaat berjuang dan berbagi! :D

Saturday, 19 April 2014

Surat? Memo? Entahlah...

Kau jadi mengunjungiku, tidak??? Kenapa tidak menghubungi atau membalas suratku? Balas segeraaaa....

Thursday, 17 April 2014

Surat Panjang untuk "Kau yang Berjanji Akan Datang"

Hahahahaha... Apa kau begitu mencemaskanku? Baru sekali ini, kau tidak tampak cool sama sekali. Suratmu terlihat begitu kacau dan cerewet! Kau mengingatkanku pada adikmu, Ambalika. Ngomong-ngomong apa kabarnya? Bagaimana ujian akhirnya? Aku harap dia dapat mengerjakannya dengan baik, lulus dengan nilai yang sempurna sepertimu, dan segera menyusulmu ke UI. Uhn... Aku penasaran, apakah dia masih setia dengan cita-citanya menjadi seorang arsitek. :D

Terima kasih, Dewaaa... Aku merasa begitu diperhatikan. Ternyata, masih ada orang yang perhatian kepadaku, eoh? Aku sangat senang memiliki teman (?) sepertimu. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan kau lakukan padaku, jika ternyata apa yang kukatakan dalam suratku yang kemarin adalah bohong. Ahahaha. Aku bohong, Wa! Aku bohong, jika aku bilang bahwa aku tidak sakit. :') 

Baiklah, aku ulangi. Ini bukan hipokondria. Dokter Rizki tidak mungkin salah mendiagnosis karena dia sudah mengangani mungkin ratusan pasien dengan penyakit yang sama denganku. Dia bilang, penyakitku ini masih stadium awal. Artinya, ginjalku belum sepenuhnya gagal bekerja. Dokter Rizki juga memujiku, tepatnya kepekaanku, menyadari tanda-tanda ini dari jauh hari. Jika telat sedikit, ini akan menjadi semakin sulit untuk ditangani. 

Dia mengatakan banyak hal, tapi aku hanya mengingat beberapa. Setidaknya, menurutnya aku masih bisa diselamatkan. Aku masih bisa memperlambat perkembangan penyakitku, jika aku patuh dengan dietku. Dia memberiku beberapa obat dan aku harus meminumnya dengan teratur. Aku harus mengunjunginya setiap minggu untuk memastikan bahwa aku benar-benar menurutinya dan tidak berbuat macam-macam. Dia juga memberiku daftar menu makanan secara detail. Aku tidak boleh lagi makan makanan berlemak terlalu banyak. Artinya, aku tidak bisa makan Jumbo Steak bersamamu lagi, mungkin. Aku juga harus mengatur jam dan asupan giziku. Takaran karbohidratku harus sama di setiap porsi makanku. Buah-buahan pun, tidak semua buah boleh kumakan. Aku tidak boleh makan tomat dan sayur bayam, juga pisang yang sangat aku sukai. Dan masih banyak lagi. Uhn...intinya, kau tidak usah repot-repot mengirimkan list menu diet untukku, seperti katamu. Dokter Rizki dan petugas gizi di sini jauh lebih mengerti dari pada kau. Dan tentu saja aku akan patuh karena aku tidak ingin cepat mati. Aku ingin membuktikan padamu bahwa hidupku memang berharga. Oh, iya... tentang donor itu, aku hanya mencoba cari-cari. Hehe... Mungkin beberapa tahun lagi aku akan memerlukannya. Aku akan segera memberitahukan tentang penyakit ini kepada ayah dan ibu, ketika aku sudah sembuh, Wa. (Kapan, ya? Hahaha)

Aku sudah pindah rumah kontrakan. Aku sekarang kost, Wa. Tidak jauh dari kontrakan yang dulu alias masih dalam kota Bandung. Hanya berjarak sekilometer mungkin? Namun, aku yakin rumah kost-ku yang sekarang jauh lebih dekat dengan kontrakanmu di Depok sana, hahaha. Jadi bisa kau simpulkan kan, Dewa yang jenius, bahwa alasanku untuk pindah bukanlah karena aku ingin berdekatan denganmu, tidak seperti yang kau pikirkan. Jangan-jangan kau sendiri yang mengaharapkan aku mendekatimu? Mengaku sajalah... 

Oia, di rumah kost-ku yang baru ada seorang koki. Aku tidak memilih rumah kost ini sembarangan. Aku sudah berkeliling mencari rumah kost yang dekat dengan kampus dan memilki koki yang mau memasakkan menu dietku dengan tepat takaran dan kandungannya. Hanya kost inilah yang menyediakannya dan menyanggupinya. Aku bersyukur sekali untuk ini. Nama kokinya adalah Pak Rahman. Dia mantan koki di Rumah Sakit Sardjito. Dia memang sudah tidak muda. Usianya sekitar 60 tahunan, kuperkirankan. Namun, dia sangat berpengalaman dalam hal menyiapkan menu makanan penderita penyakit dalam. Masakannya juga sangat enak, meskipun menyesuaikan menu dietku.

Aku tidak ingin membicarakan tugas akhirku dan jangan pernah kau bertanya tentangnya kecuali aku yang menceritakannya sendiri kepadamu. Titik. 

Kyaaaa!!! Seperti yang kukira dari seorang Dewa. Kau sangat keren, Wa. Aku yakin, pembimbingmu akan lebih terkesan lagi jika kau betul-betul telah menyelesaikan prototype-mu. Jika boleh kutahu, apa yang kau ajukan untuk tesismu? Kau membuat apa? Apakah sesuatu yang bagus? Sebuah robot? Hwoaah... Aku tidak sabar untuk melihat karyamu. Aku sangat yakin juga kalau akan lebih hebat dari Pak Danu. Beliau pasti mulai melihat potensimu, makanya dia mengajakmu mengerjakan proyeknya, kan? Kau hebat, Wa. Sungguh! 

Wa, baterai laptopku sudah hampir habis.

Aku berharap kau betul-betul dapat meluangkan waktumu untuk mengunjungiku. Tentu saja ada bioskop di dekat kost-ku. Kau pasti ingin menonton film itu, kan? Sejak kapan kau menyukai film action seperti itu? Namun, baiklah! Ayo menontonnya! Meski aku yakin, kau tidak akan menyukainya dan justru mengritik habis-habisan setiap adegan di dalamnya, seperti biasanya. Oh, iya. Aku tidak menginginkan apa pun. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Ini sudah lebih dari cukup untuk mengobati rinduku dan mungkin memperlambat keparahan penyakitku, hahaha. (Bagaimana bisa?)

Tentu saja aku masih ingat padanya. Salammu untuknya...mungkin akan sulit kusampaikan. Sudah hampir lima bulan aku tidak bertemu dengannya. Tentang wisudaku, aku justru berharap kau tidak datang. Aku tidak ingin kau melihatku dengan togaku. Aku tidak ingin dilihat oleh orang lain...dan mungkin masih seperti rencanaku yang dulu, aku tidak ingin ikut merayakan wisuda. Aku benci melihat dan terlibat di antara kerumunan orang banyak. Mungkin, kita bisa menggantinya dengan menghadiri Pesta Kembang Api? Pleasssse, aku sangat ingin  menontonnya bersamamu sebagai ganti kegagalan tahun lalu. 

Hwoaaaah....
Sudah, ya...


Dariku, 

yang mulai jenuh mengerjakan tugas akhirku.

Saya di Paguyuban (disunting dari pos saya sendiri di tumblr)

Ini tahun ke-4 saya di sini, di bumi perkuliahan Universitas Indonesia. Ini tahun ke-4 saya menjadi salah satu warga dari keluarga besar paguyuban Perhimak UI. Dan di tahun ke-4 ini, saya masih saja ingin tahu dan sedikit-sedikit ikut campur dalam salah satu agenda terbesarnya. Ckckck. Parah, ya?

Perhimak UI, siapa yang menyangka saya dapat menjadi bagiannya? Siapa pula yang menyangka jika, pada akhirnya, jalur perjalanan yang saya pilih justru didominasi oleh interaksi yang terjadi dengan warga dan kegiatan di Perhimak UI, dibandingkan dengan teman-teman atau kegiatan di kampus? 

Perhimak UI ini, bisa dibilang merupakan keluarga kedua saya. Segera setelah saya diterima di UI, saya pun menjadi anggota paguyuban, yang ternyata supersibuk dan superbanyak agendanya, ini. Sekarang, saya sudah angkatan senior, angkatan aktif tertua di tahun ini, tapi saya curiga ada yang salah dengan saya karena kesan dewasa sama sekali tidak tampak melekat pada diri saya. Dari segi umur, saya tidak lagi muda. Saya ingat, ketika saya masih mahasiswa baru (2010), saya memandang angkatan tertua saat itu (2007) sebagai angkatan senior yang harus dihormati karena lebih matang usianya, luas pengalamannya, keren pengabdiannya, tinggi ilmunya, dewasa pembawaannya, dan lain-lain. Sayang sekali, hingga saat saya menuliskan ini, saya merasa poin-poin yang saya sebutkan di atas, yang mengindikasikan bahwa saya angkatan senior yang mestinya dapat diteladani oleh adik-adik angkatannya, sama sekali tidak tampak pada saya saat ini. 

Satu-satunya pembawaan saya yang membuat saya tampak dewasa (mungkin?) menurut saya adalah sikap tenang (lebih ke kalem sebenarnya) yang cukup dapat saya kuasai akhir-akhir ini. Namun, pembawaan tenang ini bukanlah pertanda pendewasaan, melainkan karena saya yang semakin "krik" berinteraksi dengan orang lain. Pembawaan saya yang diam (saya memang pendiam) ini justru membuat beberapa adik kelas bingung. Ekspresi muka diam saya memang mengerikan, haha. Mungkin mereka kikuk melihatnya. 

Selisih usia antara saya dan adik-adik angkatan saat ini semakin lebar. Saya semakin merasa bahwa saya tidak memiliki topik atau urusan dengan mereka. Saya bertanya sesekali, menjawab jika dipersilahkan, bicara jika perlu dan sebagainya. Seharusnya, sudah saatnya saya tidak lagi terlalu ingin tahu dan mencampuri urusan mereka jika tidak diminta. Mereka pun pasti bingung, jika ditanyai, dikepoi terus menerus. Hnnn... Andai saya dapat menahan hasrat kepo ini sebaik dia. Toh, setelah saya bertanya dan mendapatkan informasi tentang kendala atau hal yang terjadi di dalamnya, saya hanya dapat menampungnya, memujinya jika memang itu adalah hal yang patut diapresiasi atau memberi dukungan semangat jika ada hal tersendat yang terjadi dalam pelaksanaan suatu kegiatan. 

Saya memang angkatan 2010. Namun, entah mengapa sejak 2011 hingga pertengahan 2013, sejak saya memiliki adik angkatan, saya justru merasa lebih mudah berkomunikasi dengan adik-adik itu. Selain karena sempat adanya kesalahpahaman saya terhadap 2010, saya juga lebih sering berinteraksi dengan para adik tingkat. Mungkin inilah yang membuat saya masih kekanak-kanakan. Sekarang, saya mulai terusik karena mereka, para adik angkatan pun, mulai menyinggung-nyinggung masalah kedewasaan saya yang patut dipertanyakan.

Satu hal yang masih menjadi tanda tanya besar bagi saya saat ini adalah: Meskipun saya sering kepo dengan kegiatan-kegiatannya, bahkan saat tahun ke-3 (tahun lalu) masih mengikuti kepanitiaannya sebagai salah satu PJ, saya masih tidak terlalu mengenal dan dekat dengan para warganya. Di sini saya tetaplah saya yang pendiam dan tidak cocok untuk terlibat dan dilibatkan dalam inti pusaran dan pergerakannya. Saya di Perhimak adalah seorang teknis 70%, tak pandai berbicara sistematis dan tak juga cukup pantas dimintai wejangan (meski sudah senior).

Selama tinggal di Depok ini, saya merasa, porsi yang saya sediakan untuk kuliah dan paguyuban ini hampir sama. Terkadang saya membelot ke paguyuban ketika bosan dengan hal-hal terkait perkuliahan, tetapi terkadang saya menjadikan urusan kuliah untuk kabur dari rapat-rapat paguyuban. Saya adalah orang yang mudah ter-distract oleh hal-hal baru yang menurut saya lebih menyenangkan untuk dijalankan. Inilah mengapa saya sering kali berakhir dengan mencari-cari sesuatu yang bisa dilakukan di paguyuban ini ketika saya sedang bosan dengan kuliah, hingga tanpa sadar saya keasyikan main di paguyuban nyaris lupa atau parahnya malas mengerjakan kewajiban kuliah. Haha... (jangan ditiru). 

Beberapa orang pernah bilang, jika motivasi saya untuk sebegitu sukanya muncul di paguyuban bisa jadi adalah suatu pencitraan diri saya sendiri, agar terlihat baik dan bagus di mata orang-orang Perhimak UI. Ah. Bisa jadi tuh. Mungkin saya terlalu terlihat ingin eksis kali, ya? Haha, sekarang saya tidak peduli apa kata mereka. Saya pernah menjadi angkatan muda di sini dan saya tahu bagaimana rasanya ketika dalam masa-masa sulit dan membutuhkan solusi atau bantuan dari orang lain. Oleh karena itu, saya sering kepo dan tetiba muncul di berbagai kegiatan. Monggo saja dibilang pengen eksis atau sebagainya. Saya hanya mampu beralasan bahwa saya hanya tidak betul-betul bisa untuk tidak mencari tahu berita tentang Perhimak UI. Selalu saja ada faktor penarik yang membuat saya datang lagi dan datang lagi ke event-event-nya, meskipun pada akhirnya hanya menonton mereka dengan krik. Bisa jadi, saya memang udah terlanjur pengen kepo keterlaluan pada Perhimak. Cinta? Tidak juga. Saya menyadarinya setelah teman sekampus saya mengatakannya. 

Jika ada anggota Perhimak lain yang membaca ini, bisa jadi mereka heran, “Kok bisa ini orang segitunya ke Perhimak UI? Hidup sejahterakah? Nemu cintakah? Dikasih makankah? Atau memang pengen ngeksiskah?”

Saya orangnya memang cukup keras kepala, suka penasaran dan mungkin setia. Meskipun lebih dari sekali dua kali saya merasa kecewa selama berada di Perhimak UI, tetapu selalu ada kenangan akan hal-hal yang menyenangkan yang mampu menghapus kekecewaan tersebut.

Saya sendiri bukan orang yang mudah move on atau jatuh hati. Jika saya suka menyapa atau mendatangi sesuatu, ini berarti bahwa saya memang masih cukup nyaman dengan hal itu. Dalam hal ini adalah Perhimak UI. Meskipun saya akui, hanya beberapa orang di sana yang nyaman dan menyamankan. Meskipun saya tidak yakin, apakah beberapa orang itu memiliki perasaan yang sama dengan saya. Meski pada akhirnya, saya sering mendapati diri saya yang sendirian saja persis orang tak punya visi, luntang-lantung tak punya lawan mengobrol di sana.

Pada akhirnya, kepada dan karena anak-anak Perhimak lah saya berkisah, tertawa, marah, sedih, berkarya, bertamasya, belajar hidup, bertanya dan mungkin bisa jadi jatuh cinta. Memang sih, tidak selalu hanya ada Perhimak UI di kehidupan merantau saya. Namun, tetap saja, Perhimak UI adalah salah satu hal paling berpengaruh dalam hidup saya. Di sini, saya memperoleh kesempatan memimpin dan memandu beberapa orang. Di sini, saya pernah dipercaya mengerjakan tugas besar. Di sini, saya merasa saya pernah dibutuhkan. Di sini pula, saya merasa bahwa saya cukup bermanfaat untuk beberapa orang. 
Terima kasih. :)

Wednesday, 16 April 2014

Surat Kejengkelan untuk "Yang Menjengkelkan"

HEH, kau!!!

BLOODY HELL!!! 
Kenapa kau baru memberitahuku sekarang? Bulan lalu katamu? Bulan lalu kau bertemu dokter Rizki? Itu artinya ketika kau menuliskan surat rindu itu, kau sudah menemuinya dan mengetahui penyakitmu, hah? Kenapa kau begitu santai? Kenapa kau malah menulis surat yang berputar-putar seperti itu???

Ke mana kau pindah? Kau datang ke kotaku? Apa kau gila? Sejauh itukah kau mencintaiku? Pikirkan dulu tugas akhirmu dan aku juga akan memikirkan tesisku! Perhatikan kesehatanmu! Jangan berbuat hal yang macam-macam. 

Kau membuatku sulit menuliskan ini. Harus kumulai dari mana ini? Apakah kau bilang kalau kau mulai mencari donor? Golongan darah B, ya. Tidak! Kenapa kau mencari donor? Stadium berapa? Katakan padaku! Aku masih tidak menyangka, ini benar-benar terjadi padamu. Aku masih menganggapmu hanya berhipokondria selama ini. Mungkin kau tersugesti dengan pikiran-pikiran itu hingga tubuhmu menuruti sugesti tersebut. Aku harap ini bukan yang kronis. Oh, Tuhan... Kenapa kau tidak memberitahu orang tuamu? Aku tidak yakin, aku dapat selalu membantumu karena kesibukanku saat ini. Bagaimana jika ada hal buruk yang terjadi padamu dan kau sendirian? Aku tidak bisa membayangkannya lagi. Ah! Golongan darah B, ya? Apakah kau membutuhkannya secepat ini? Bagaimana tentang biayanya? Kau harus memberitahuku jika tabunganmu sudah habis untuk berobat.

Oh iya, aku pernah mendengar kalau orang yang sakit ini harus melakukan diet makanan. Aku akan mencari infonya. Tetangga kontrakanku, anaknya...oh bukan, keponakannya...ah persetan siapanya, juga menderita sakit ini. Dia memiliki menu makan yang diatur dan harus mematuhinya. Aku...masih tidak percaya kau benar-benar... Baiklah!!! Kau tidak boleh naik stadium. Kau harus memperlambatnya! Berjanjilah padaku! Aku akan mengirimkan menu diet itu kepadamu dan kau harus mematuhinya. Aku akan mengirimkan setiap info tentang ini kepadamu dan kau harus mencoba menjalankannya. Satu lagi! Jangan minum obat penahan rasa sakit semacam asam mefenamat terlalu sering karena, menurut dugaanku, dia akan memperparah kondisimu, terutama lambungmu.

Apakah kali ini aku terlalu cerewet? 

Aku jengkel sekali kepadamu. Aku tidak mengerti kenapa kau menganggap hal besar seperti ini seolah-olah sesuatu yang sepele. Oke, selamat kau menang. Namun, apakah kepuasan akan kemenangan itu dapat menyembuhkan penyakitmu? Ingat! Kau ini sekarang adalah seorang perempuan berumur 22 tahun. Ingat, kan? 

Tunggu, 16 Maret lalu, sehari setelah ulang tahunmu, bukankah kita bertemu dan makan bersama? Ini kurang dari sebulan yang lalu, kan? Kau sudah tahu tentang penyakitmu, kan? Kenapa KAU TIDAK BILANG APAPUN padaku??? Hah!!! Kau tidak banyak bicara, selain bercerita tentang hal tidak penting. Apa, ya? Tentang perseteruanmu dengan teman sekampusmu? KAU ini, benar-benar... Kau tidak mau diurusi atau apa, hah?

Oke, jangan lupa kirimkan alamatmu. Weekend ini, sepertinya aku dapat sedikit meluangkan waktuku. Sepertinya aku dapat mengunjungimu. Kuharap di sana ada bioskop yang dekat karena ada satu film yang ingin kutonton. Kau ingin aku membawakanmu apa? 

Uhn... Ngomong-ngomong, selamat! Kau telah membuatku cemas sepanjang hari. Maaf, aku baru membalasnya sore. Baru saja aku kembali dari Semarang. Yeah, kemarin aku memang pergi ke sana dengan Pak Danu (bukan pembimbingku dan kami tidak pergi ke Timur). Dia sangat jenius, Ndah. Aku akan menjadi seperti dia. Semester depan, aku akan menyelesaikan tesisku. Pembimbingku sangat suka dengan judul tesis yang kuajukan. Aku sudah mulai menyusun desain prototype-nya. Hnnn... Aku juga masih menjadi asistennya. Tiga kali dalam seminggu, aku menemaninya mengajar di kelas. Lihat, betapa sibuknya aku yang keren ini, bukan? Jadi, berhentilah berpikir macam-macam tentangku. Aku tidak akan meninggalkan "ini" karena berkatnya lah aku menjadi seperti sekarang ini. Aku juga tidak berniat untuk mengabaikanmu, jika kau mulai berpikir demikian. 

Ndah, kau masih ingat dia, bukan? Bagaimana kabarnya? Apakah dia masih sibuk dengan praktik-praktik lapangannya? Bukankah tahun ini adalah tahun kelulusannya... bersama denganmu? Aku tidak tahu apakah aku dapat menghadiri pesta kelulusan itu. Aku ingin menitip salam untuknya, tapi sepertinya tidak mungkin. Oke, lupakan saja.

Kau mau cerita apa? Berceritalah sesukamu. Mungkin aku akan telat membalasnya, tapi aku pasti membaca semuanya tanpa terlambat. Ingat! Jaga kondisimu. Segera kabari aku, jika terjadi sesuatu.


Dewa.

Tuesday, 15 April 2014

Surat Ketidaksabaran untuk "Yang Tidak Bisa Dinanti dengan Kesabaran"

Heh! Apa kau tidak tahu kalau aku sangat menantikan balasan surat darimu? Kau ini jenius, bukan? Tidak mungkin kau tidak mengerti dengan isi suratku, bukan? Apa kau belum membacanya? Atau sengaja tidak ingin membalasnya? Ish! Kali ini aku tidak peduli, kau akan membalas surat-suratku atau tidak. Aku akan terus mengirimimu surat, meski kau tidak pernah menjawabku. Aku hanya memiliki waktu empat puluh menit lagi untuk menulis surat ini. Jadi, aku tidak akan berpanjang lebar seperti biasanya.

Oh, iya sebelum aku memulai bercerita, akun ingin meluruskan isi surat rinduku yang sebelumnya karena kau tak kunjung membalas surat bergambarku. Aku memang merindukanmu, aku sudah sangat jujur. Namun, aku pun sudah sangat jujur ketika bilang bahwa aku tidak menyukaimu dan kau belum masuk standar atau kriteriaku dan aku juga tidak ingin memantaskan diriku untuk memenuhi kriteriamu. Ingat ini baik-baik!

Oke, aku akan mulai bercerita. Aku harap kau tidak kaget ketika membacanya dan sepertinya memang tidak akan kaget. Ini tentang kecurigaanku terhadap tubuhku sendiri, yang pernah kuceritakan padamu, tahun lalu. Bulan lalu, akhirnya aku memberanikan diri menemui dokter Rizki, seperti saranmu...dan ternyata kecurigaanku benar. Aku tidak sedang berhipokondria, selama ini. Hahaha... Kau tidak kaget, bukan? 

Aku berbohong, jika aku berkata: aku tidak sedih. Namun, aku tidak bisa betul-betul bersedih. Kau tahu? Ini sakit, pasti. Namun, entah kenapa aku merasa puas karena dugaanku terbukti. Aku menang dan kau kalah. Aku merasa senang karena kau salah. Seorang jenius bisa salah juga. Hahaha.... Ha... Ha.. Ha... Aku masih belum memberitahukan ini kepada siapa pun, bahkan ke ayah dan ibu. Aku kira, aku masih bisa menahannya hingga hari kelulusan. Tentu saja aku tidak akan berdiam diri. Aku juga sedang mencari-cari orang baik bergolongan darah B yang mau berbagi denganku. Ternyata tidak mudah, hahaha. 

Aku belum tahu seberapa parah kondisiku. Namun, dokter Rizki bilang ini tidak sampai membuatku melakukan hemodialisis. Aku bersyukur untuk ini. 

Hmmm... aku sudah pindah rumah. Aku akan memberitahumu jika kau membalas surat ini. Tempat tinggalku yang sekarang lebih dekat dengan rumah kontrakanmu. 

Oh, iya. Aku juga ingin bercerita beberapa hal lain...tapi ini tergantung dengan balasan suratmu nanti. Aku mulai tidak sabar menanti jawabanmu. Aku mulai tidak sabar berbaik kata dalam surat-suratku kepadamu. Aku akan membuat kata-kata dalam suratku lebih sederhana agar kau tidak lelah membacanya. Aku akan terus bercerita.

Uhn... bagaimana proyekmu? Kudengar dari seseorang kau sedang sangat sibuk dengan proyek di wilayah timur? Di mana? Proyek apa? Waaah...aku senang pembimbingmu begitu baik dan mempercayaimu untuk membantunya dan melibatkanmu dalam proyek-proyeknya. Selamat dan semangat, ya. Aku akan sangat senang jika kau dapat lulus lebih cepat dari orang lain seperti yang kau inginkan. Beritahu aku lebih banyak kabar tentangmu, oke?



Dariku, 


yang tak sabar menanti balasan suratmu dan mengirimi lebih banyak surat lagi untukmu

Thursday, 10 April 2014

Permohonan Maaf untuk Telah Mengirimkan SPAM ke Beberapa E-mail Orang

Mohon maaf sebesar-besarnya kepada beberapa puluh orang yang tetiba memperoleh e-mail dari blogger yang berisi pemberitahuan tentang keberadaan blog saya juga me-share link blog saya. Kyaaa!!! Super duper baru tahu kalau ternyata memilih pembaca blog itu sama dengan mengundang mereka via e-mail untuk membaca blog kita. Sekali lagi, saya mohon maaf karena telah bertingkah alay dan tidak jelas yang mengganggu ketenangan e-mail kalian. Ini di luar pengetahuan dan pemahaman saya. :(

Maaf juga kepada **** yang akun e-mailnya saya intip karena masih ter-login (?) di laptop saya sejak mengunduh bukti pembayaran tiket kereta api seminggu yang lalu. Tindakah mengintip tanpa izin itu membuat saya tersadar tentang adanya e-mail undangan atau pemberitahuan untuk membaca blog saya ini. Jadi, terima kasih juga sebenarnya. 

Hwoaaah!!! Bahkan saya mengundang Bapak PA saya untuk membaca blog saya ini, eoh? Malu! Mau ditaruh ke mana muka ini? Semoga kiriman e-mail itu terbaca atau teranggap sebagai SPAM. Aamiin, aamiin, aamiin. Maaf ya, Pak. :(

Oh, selain ****, ada juga ***** yang saya buka e-mailnya (kyaaaa, maaf membobol akun orang lagi) untuk memastikan apakah betul e-mail tersebut dikirimkan ke orang-orang di kontak e-mail saya. Ternyata betul, ***** juga menerimanya. 

Kepada saudari **** dan saudara *****, saya menganjurkan kalian berdua untuk mengganti password akun gmail kalian, jika apa yang di dalamnya tidak ingin diintip oleh saya lagi. Saya juga menghapus e-mail tersebut sebagai respons kaget yang saya berikan ketika melihatnya, tentu saja tanpa sempat meminta izin ke kalian. Gomenasai! ToT

Mohon maaf lagi. Ini sungguh hal yang alay dan memalukan, yang herannya hal-hal seperti sulit sekali untuk terhindarkan dalam perjalanan hidup saya. 


Tertanda, 


Ani, yang betul-betul menyesali perbuatannya.

Wednesday, 9 April 2014

Bagaimana Ini: Saya Belum Bisa Move On!

Ini tentang cinta pertama saya, yang saya temukan pada saat kelas IX SMP.

Apa yang dapat saya ceritakan tentangnya? Dia masih muda dan selalu lebih muda dari saya hingga sekarang. Haha, ya iyalah. Parahnya, semakin hari jarak usia antara kita tampak semakin lebar karena dia tak juga tampak menua atau dewasa. Yeah, saya tidak tahu berapa usianya atau kapan dia lahir karena menurut saya itu tidak penting.

Pertama kali melihatnya, dia mengenakan baju oranye cerah. Tingkahnya begitu ceria, penuh semangat dan aura optimis yang tampak tak akan pernah habis. Dia memang cerewet, banyak bicara, mudah berteriak, beberapa hal yang tidak saya suka jika pemilik karakter tersebut adalah seorang laki-laki. Namun, di saat-saat tertentu, di mana sebagian besar orang akan terjatuh dan menyerah untuk menghadapi rintangan yang menghadangnya, dia justru akan berdiri dan melawannya, hingga ditemukan kedamaian.

Dia mudah tersulut amarah, juga melotot dengan ekspresi yang sangat lucu dan menggemaskan. Namun, di saat-saat genting di mana orang pada umumnya akan mudah saling mengatai dan baku hantam demi memperjuangkan kepentingan dan mempertahankan keamanan dirinya sendiri, dia justru akan menahan emosinya tanpa mau menyakiti orang-orang di sekelilingnya.

Dia memang sangat konyol dan tak mengenal rambu-rambu dalam berkata kepada siapa pun, berapa pun umurnya. Dia supel, tanpa merendahkan yang lebih muda, tanpa menjilat kepada yang lebih tua, tanpa menusuk dari belakang... kepada mereka, orang-orang yang telah mempercayainya.

Tingkah dan perilakunya seperti bocah yang terlalu aktif. Ini terbentuk bukan tanpa sebab. Dia yatim piatu sejak lahir, tak pernah disayangi dengan cukup, tak pernah dididik dengan penuh kasih sayang seperti orang lain pada umumnya. Setiap tindakan konyolnya adalah hasil belajar sosialnya, dalam menutupi kesepian hatinya, kerinduan tak tersampaikannya, keterasingan di saat kanak-kanak yang membuatnya bosan dan memicunya untuk menjadi orang yang dapat dilihat orang lain melalui kekuatan dan perbuatannya. Hmm...

Yep! Dia sangat berbakat, kuat dan jenius di saat-saat genting, sebetulnya. Namun, tidak semua orang menyadari kemampuannya. Tingkah kekanak-kanakannya menutupi kekuatan dan pemikirannya yang sangat keren. Meski, pada awalnya, banyak orang yang tidak menyukainya atau sering dibuat jengkel olehnya, tetapi sebenarnya mereka sangat menyukainya. Begitu pula saya...

Bagi saya, dia adalah seorang yang lucu, tak mudah menyerah, cerdas dan keren. Pandai? Tidak. Sabar? Tidak. Emosian? IYA! Namun, bagaimana pun juga dia tetaplah cinta pertama saya. Saya tidak tahu bagaimana kabarnya, sudah seberapa jauh perjalanannya, apakah sudah menemukan orang yang dicarinya selama ini, bagaimana peningkatan kemampuannya, cerita apa yang dimilikinya, dll...karena saya sama sekali tidak pernah mengikuti kabarnya lagi.

Satu yang saya tahu, saya masih mencintainya dan belum bisa bergeser ke yang lain, selain dia, Naruto. Betul sekali, dia adalah tokoh utama anime yang pertama kali saya sukai dalam hidup saya.

Laman Celoteh Ani (catatanseorangani)


  • When I Came Join "Them"
  • Releksi Jumat Kelabu
  • Pujian Itu Lagi
  • Section Leader??? Oh No!
  • MPKT
  • Surprising Day
  • Kamis Datar-datar
  • Penyakit Hati
  • Bu Guru?
  • Ujian
  • Nilai UTS Ke-2
  • I Love Bikun
  • Kenapa Selalu Ini?
  • Namaku Ani
  • My New Friend
  • About Pisces (Cause I'm a Pisces Girl)
  • Nyampah
  • Yaya Yaya Yaya
  • Galau
  • Awal Maret
  • Mamaaaaa...
  • Fakta tentang Saya
  • Selasa, 8 Maret 2011
  • sjsdddssffff
  • Kacau
  • Blog Ini Semakin Parah
  • Kenapa Saya Merasa Hidup Saya Semakin Tidak Jelas Begini?
  • Hari Terakhir di Kebumen
  • Hancur! Hancur! Hancur!
  • Gue dan Bakpao
  • Puskesmas
  • Jumat Berkabung (Ini Judul Udah Gue Gunakan Tiga Kali)
  • Resolusi
  • Catatan Lama
  • What a Friend Said About Me
  • Ani is...
  • Entah Kapan
  • Resume Hari Kamis
  • Sesuatuuuuu...
  • Cerita Anak-anak?
  • Dua Puluh
  • Shocked!
  • Maaf, Mama...
  • :(
  • My Long Holiday
  • Dulu Saat di MBUI
  • Sembilan Belas Nopember 2012
  • Sepuluh Bulan (1)
  • Sepuluh Bulan (2)
  • Disactive
  • Hari Terakhir Ngasdos BI
  • New Year
  • My Fantastic New Year
  • Dedeknya (1)
  • Tentang Bullying di Zaman SMA
  • Tentang Bersyukur
  • Terima Kasih Mas Indra
  • Di Kelas Biostat Dasar
  • Saya Senang
  • Saya Suka, tapi Tidak Suka
  • Nasi(b)
  • Surat Bukti untuk "Kau yang Sulit Mengerti"


    Aku hanya ingin memperlihatkannya sebagai bukti,
    bahwa mentari senja yang perlahan tenggelam di sana juga indah,
    bahwa semilir angin di sana juga memiliki kekhasan wangi,
    bahwa ini adalah keindahan yang berkebalikan,
    dengan yang ada dalam isi pesanmu tempo dulu,
    bahwa apa yang kau katakan tidaklah selalu benar, 
    bahwa logika dan pemikiranmu tidak semestinya dituruti selalu.

    Apakah kau mengerti apa yang ingin kusampaikan?
    Tidak mengerti, bukan?
    Tidak ingat, bukan?

    Baiklah, kali ini hanya ini yang dapat kukirimkan untukmu.
    Bacalah gambar ini dengan sedikit menggunakan hati...


    Dari yang sedang irit berkata-kata

    Sepatu

    Sepatu yang saya maksud di sini adalah sepatu yang judul lagu, yang dinyanyikan oleh Tulus Band, Sepatu. Pertama kali saya mendengar lagu tersebut adalah pada saat Gladi Resik acara puncak UI GTK X, 2 Februari 2014 lalu. Yep, tepat sekali, saya jatuh cinta pada saat pertama kali mendengar lagu ini. Ndilalahnya, saya merekam mereka pada saat menyanyikan lagu ini. 

    Oke, siapa mereka? 
    Mereka adalah....siapa, ya?
    Hadeuh! Geje, kan? 

    Jadi, mereka ini adalah Grup Musik Perhimak UI tahun 2013-2014 yang saya sendiri juga tak tahu nama dagangnya (?), maksudnya nama panggungnya. Grup musik ini terdiri dari tujuh orang, yaitu:

    Agustus Ke-80

    Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...