Sunday, 14 February 2016

Kurma Dua Kwintal

Tawanan. Itulah statusku.

Aku tinggal di desa jajahan. Seseorang bersorban dan bertopeng kain --yang hampir menutupi seluruh wajahnya-- tiba-tiba datang ke desa kami pada suatu siang yang terik dan mendeklarasikan sebuah penjajahan dengan bahasa asing yang belum pernah kudengar. Berkat kedatangannya, semua orang yang tinggal di desaku menanggalkan status kewargadesaan kami. Kami berubah status menjadi tawanan istana.

Aku tinggal di sebuah gubuk berdinding bilik tipis dari dedaunan pohon palm yang dianyam dengan indah dan kuat, hasil karya ayahku. Gubuk itu di tengah hutan, sangat jauh dari pemukiman dan berbatasan dengan persawahan yang kini sedang menguning oleh padi-padi berisi bahkan kegemukan. Ada satu danau kecil di dekat gubukku. Tidak seperti danau lainnya, "danau kami" ini tidak berbau amis. Airnya berkilat-kilat karena mentari berhasil menyinari beberapa permukaannya melewati celah-celah rerimbunan daun-daun pohon yang tak terhingga tingginya.

Di suatu senja, di danau ini, aku jatuh cinta pada seseorang yang hanya lewat dalam sekelebat. Saban hari, sejak saat itu, aku sengaja mengulang aksi, memarkirkan diri di tepian danau yang sama, berharap dia juga mengulangi kemunculannya walaupun dalam satuan sekelebat yang sama seperti senja itu. Senja itu menjadi penanda pertama dan --masih-- terakhir kali aku melihatnya, lelaki bermata elang dengan jubah coklat kumal yang menyapu guguran daun-daun cemara angin.

Aku seolah-olah berubah menjadi orang yang berbeda semenjak melihatnya. Menurut adik-adikku, aku menjadi lebih bodoh dari biasanya. Aku tidak mengerti, tapi aku tidak terlalu memusingkannya. Hingga pada suatu hari, sebuah hal --paling tidak diinginkan dari setiap warga di desa ini-- menimpaku, yang tengah kehilangan perhatian dan hampir seluruh kesadaran karena terlalu asyik berkhayal tentang danau dan lelaki berjubah coklat kumal itu. 

Sudah menjadi kewajibanku --semenjak ayah kami menghilang-- untuk pergi melaporkan hasil panen, sumber pendapatan, kesehatan seluruh anggota keluarga, dan lain-lain, kepada petugas istana pada setiap awal bulan. Betul sekali, meskipun hanya sebuah desa kecil, di sini berdiri sebuah istana yang sama sekali tak dapat dikatakan kecil. Desa kami merupakan desa yang subur sekaligus tandus. Sebagian besar tanahnya mampu membuat setiap benih yang ditelannya tumbuh rimbun meski tanpa dipupuk sekali pun. Namun, tidak dengan daerah bagian Barat yang berpasir menyerupai gurun dan hampir tak pernah terhujani sekali pun. Dan hutan tempatku tinggal bertetangga dengan tanah kering berpasir itu karena batas bagian Barat adalah tepat di balik danau yang ada di dekat gubukku. Mungkin alasan tanah subur inilah yang membuat Tuan Muda Archantan, orang bersorban dan bertopeng yang kini menjajah desaku, lalu mendirikan istana indahnya di desaku, tepat di jantung desa yang sudah pasti sangat jauh dari tempat tinggalku.

"Berapa berat badan dan tinggi mereka?" sayup-sayup, aku mendengar seorang petugas wanita menanyaiku. Namun, entah mengapa aku tak menjawabnya. Sebuah ingatan tentang sosok lelaki yang menyeberangi danau dengan secepat kilat terputar di dalam kepalaku, memenjarakanku dalam dunia khayal yang penuh perandaian. Aku dapat mendengar suara sang penjaga yang mulai meninggi, tapi aku masih malas untuk menyadarkan diri.

Brak! Si petugas istana akhirnya menggebrak meja pelaporan dan menyodorkan wajahnya ke depan wajahku. Sangat dekat hingga aku baru menyadari bahwa wajahnya sedikit mirip dengan katak. Bukan! Bukan sedikit mirip lagi, melainkan sangat mirip. Aku hanya dapat menelan ludah ketika aku sudah sepenuhnya tersadar akan kemungkinan buruk yang bisa jadi segera menimpaku.

"Apa kau bodoh, bocah tukang tidur!" hardiknya keras. Aku sedikit tidak terima karena aku sama sekali tidak tertidur ketika menghadapinya. "Kau bodoh atau tuli, sih?" kali ini dia bertanya, tentu saja tidak untuk dijawab karena berani menjawab orang-orang istana sama dengan menentang mereka dan menentang mereka merupakan istilah lain dari menggali kuburan sendiri. Begitulah kata orang-orang.

"Aku hanya sedang berpikir, Nyonya..." dan sepertinya aku memang benar-benar bodoh karena tanpa mau dikendalikan lidahku bergerak dengan sendirinya. Aku dapat melihat matanya menggelap dan menatapku tajam. Tuhan, mengapa tak Kau biarkan saja lebah lewat itu menggigit lidahku tadi pagi?

"Tahu apa kau tentang statusku? Berani-beraninya kau memanggilku NYONYA, hah?" katanya lambat-lambat tetapi dengan menekan setiap suku katanya. Dia terlihat geram. Aku tidak tahu, apa yang salah dengan sapaanku. Aku merasa aku sudah sangat menghormatinya dengan tidak memanggilnya 'Bu Katak'. Apakah dia berharap aku memanggilnya nona?

Selama bermenit-menit dia mengataiku bodoh dan semacamnya. Dan selama bermenit-menit itu pula, aku tertunduk diam sembari memilin --setengah memeras-- ujung bajuku yang kini mengusut. Di sela-sela umpatannya, sesekali dia menanyakan hal yang harus kulaporkan tentang kondisi keluargaku kepadanya .

"Dasar bocah hutan! Sekarang jawab dengan baik, berapa berat badan terakhir ayahmu? Hoah! Demi kepala troll, untuk apa aku menanyakan hal-hal membuang waktu seperti ini kepadamu," tanya sekaligus keluhnya.

"Dia sudah ditangkap. Aku tidak mengukur beratnya lagi sejak tiga bulan lalu," jawabku membuatnya terdiam. Entah bersimpati, entah... Oh, dia menyeringai. Sepertinya dia senang dengan penangkapan ayahku.

"Hmm! Jadi, begitu rupanya? Cih! Pantas saja kau ada di sini. Apa kau menggantikannya? Apa kau mengabaikanku sang petugas istana yang terhormat karena memikirkannya? Sepertinya kau sangat menikmati apa yang terjadi setelah tertangkapnya ayahmu, ya? Hahahahaha. Sudah berapa..." 

"Diam, Nyonya!" tukasku dengan suara keras, tapi bergetar. Aku marah dan malu. Marah, karena dia berburuk sangka kepadaku tentang ayahku. Malu, karena beberapa menit yang lalu, aku kehilangan konsentrasiku demi memikirkan orang selain ayahku. Aku merasa seperti anak durhaka karena telah melupakan ayahnya yang hilang ditangkap, bahkan menggantikannya dengan orang lain yang bahkan aku tak mengenalnya sama sekali.

"KAU-SUDAH-KETERLALUAN! BOCAH-TIDAK-TAHU-DIRI!!! Kau dihukum! Kau harus membayar denda ke istana! KURMA! Ya! Kau harus membawa kurma untuk diberikan ke istana. DUA KWINTAL. Tidak boleh kurang dan harus kau serahkan hari ini juga! Jika kau tidak memenuhinya, ayahmu taruhannya!" Dia marah bukan main. Aku dapat merasakan hawa membunuhnya. Kali ini dia tidak main-main. Tidak mungkin main-main karena semua orang yang sekarang memandangiku di halaman alun-alun istana ini tengah menjadi saksi atas kesalahan dan denda besar yang harus kubayar. 

"B..baik," jawabku singkat, terbata. Aku sangat ingin mengutuki Tuan Muda Archantan yang telah membawa segala malapetaka di desa ini. Mengapa dia harus datang? Mengapa dia membuat semua peraturan tidak adil ini: wajib melapor, penangkapan tanpa alasan, membuatku membayar denda untuk kesalahan yang tidak kualamatkan kepadanya. Namun, aku tak punya cukup tenaga untuk merapalkan satu kutukan pun. Aku hanya bisa diam, seperti kerbau yang menurut kepada petani yang mengikatnya siang dan malam.

"Gadis baik! Cepat bawakan kurma itu! Sekarang!" usirnya tanpa perasaan.

*****

Aku mundur, pergi menjauhi meja pelaporan. Aku menangis seperti gerimis, membasahi setiap tanah yang kupijak. Aku memang bodoh, tak menawar. Aku sudah pasti tidak mampu memenuhi hukuman itu. Bahkan, selama ini kami tidak pernah memiliki kurma lebih dari setengah kilogram. Aku tidak mungkin berjalan kaki ke negeri lain menyeberangi daerah Barat dalam satu hari untuk mendapatkan kurma-kurma itu. Sekali pun aku berhasil mencapai tempatnya, aku tak punya banyak uang untuk membeli ratusan kilogram sisanya. 

Aku berjalan tanpa arah. Kakiku, yang hanya beralaskan sandal bambu, membentur batu besar dan membuatku terjatuh. 'Jatuhlah!' pikirku. Ternyata, aku tidak lagi sekadar bodoh, tetapi buta juga hingga tidak dapat melihat batu sebesar itu dan akhirnya aku tidak terjatuh. Tunggu! Aku tidak jatuh? Bagaimana bisa aku tak menyentuh tanah ketika aku yakin aku terhuyung ke depan ketika tersandung batu besar tadi?

Hm? Ada seseorang di depanku. Dia menangkapku dengan punggungnya. Dahiku mengantuk punggungnya yang lebar dan sedikit berkeringat. Si-siapa dia? Aku sama sekali tidak mengenalinya. Aku tidak dapat melihat wajahya. Dia... bertopeng dan bersorban? 

Oh Tuhan! Apa yang kulakukan? Dia Tuan Muda itu? Kali ini aku pasti dipenggal. Tuhan! Cabut saja nyawaku saat ini juga. Aku tidak peduli. Aku tidak ingin kebodohanku membuat lebih banyak masalah lagi. Jika aku mati, mungkin denda dua kwintal kurma itu akan dibatalkan. Mungkin Nyonya Katak itu akan setidaknya bersimpati atau sekadar senang --karena tak lagi dapat melihatku--dan membebaskanku dari semua utang.

"Kau seharusnya tidak menyerah semudah itu, Shadrina," ucap lelaki berpakaian menyerupai Tuan Muda Archantan seperti yang dikatakan orang-orang, "...dan aku bukan Archantan, jika kau sempat mengira aku adalah dia," imbuhnya.

Aku terkejut. Bukan karena dia seperti dapat membaca pikiranku, melainkan karena dia adalah si lelaki bermata elang itu. Aku dapat mengenalinya, meski dia menutupi setengah wajahnya seperti ini. Aku dapat melihat jubah coklat kumalnya, yang kini tampak sedikit robekan di sekitar jahitan bagian bawahnya. Aku yakin ini bukan mimpi karena dahiku masih mengingat bagaimana rasanya ketika membentur punggungnya. Aku tak mampu berkata karena berpikir pun sedikit sulit. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selain terisak sembari memandanginya.

"Kukira kau akan senang karena akhirnya kita dapat bertemu, Shadrina. Aku sedikit kecewa karena kau justru menangis," katanya lagi. Matanya mengisyaratkan kesedihan yang aku tak mampu mengartikannya sebagai sebuah ketulusan atau justru ejekan. 

Namu, dia betul. Seharusnya aku senang. Dia muncul tanpa kuminta dan ini merupakan hal yang melebihi semua harapanku selama ini...karena dia berbicara dan MENGETAHUI NAMAKU? Entah mengapa kenyataan ini justru membuat tangisanku semakin deras dan isakanku semakin keras.

"Eh? Se-sepertinya kau memang tidak ingin bertemu denganku. Mmm-mungkin lebih baik aku per..." 

"JANGAN, Tuan, jangan! Anda tidak boleh pergi. Maaf, maaf. Saya tidak punya hak untuk melarang Anda..." lelaki yang kucintai fan kutunggu setiap hari, "...untuk melarang Anda pergi. Namun, tolong tetaplah di sini. Cukup berdiri saja, sebentar saja, uhmm... Bagaimana ini? Saya... saya bingung. Saya... Mengapa Anda datang ketika saya dalam kondisi menyedihkan seperti ini? Saya harap Anda datang di saat saya mengharapkan Anda datang, seperti di danau atau... tapi... Ya Tuhan. Maafkan saya, Tuan. Saya tidak berhak berkata seperti ini," dan aku pun jatuh terduduk di depannya. Aku tidak pernah berkata secepat dan sepanjang ini sebelumnya. Tidak kepada adik-adikku, bahkan kepada ayahku. 

Alih-alih pergi, di luar dugaan, dia justru berjongkok di hadapanku. Perlahan, dia membuka topeng hitamnya yang terbuat dari kain. Aku dapat melihat senyum menghiasi wajahnya yang luar biasa meneduhkan dan membuatku tenang. Detik itu juga, aku kembali jatuh cinta, untuk kedua kalinya, kepada orang yang sama, yang kedatangannya bukan karena pengharapan yang dibumbui nafsu. 

Akhirnya, aku memutuskan untuk beringsut kepadanya, menyandarkan dahiku ke bahunya yang ternyata lebih tinggi dari kepalaku. Dia diam, tak sedikit pun bereaksi atau pun bergeser. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya, apa pula yang dipikirkan orang-orang lain yang melihat kami berdua dengan posisi tidak layak dilihat umum. Aku sesenggukan sambil tertunduk menatap kakiku sendiri, sambil terus bersandar di bahu si lelaki.

Aku akhirnya memiliki keberanian untuk bertanya, "Mengapa Tuan..." 

"Uhm, kau dapat bertanya lebih banyak nanti. Untuk sekarang, apa kau setuju bahwa ada hal lain, yang lebih penting, yang harus kita urus dulu?" potongnya. Dia membuatku tersadar bahwa aku tengah terlilit masalah utang denda dan serangkain permasalahan lain yang akan mengekoriku jika aku tidak membayar denda tersebut.

"Ya Tuhan! Aku hampir lupa! Maaf, Tuan... saya harus pulang dan mengambil sesuatu. Namun, apakah Anda bersedia menunggu saya di sini? Jika Anda tidak keberatan tentunya," pintaku dengan penuh harap.

Dia terlihat sedikit berpikir, lalu memberiku sebuah senyuman. Aku menganggapnya sebagai sebuah persetujuan. Aku segera berlari secepat mungkin menuju ke Barat, ke tempat tinggalku, untuk mengambil setengah kilogram kurma yang kami punya sudah pasti.

"Shadrina, aku tidak menjamin aku masih berdiri di sini ketika kau kembali," aku berhenti seketika. Sayup-sayup, aku mendengar suaranya yang lebih mirip bisikan itu. Namun, aku menolak untuk mempercayai pendengaranku dan kembali berlari menuju hutan. Aku tak boleh menyia-nyiakan waktu. Aku harus menghemat dan memanfaatkannya untuk meminjam ratusan kilogram kurma dari warga di semua penjuru desa agar dapat aku dapat memenuhi angka dua kwintal tersebut. Dan aku tidak ingin membuat lelaki...uhm Tuan itu lelah menunggu. Setidaknya, aku pikir aku sudah membuatnya bersedia untuk menunggu. Dia pasti menungguku.

*****

Tepat tengah hari, aku sudah berhasil mengambil setengah kilogram kurma kami. Aku berlari seperti orang gila, menerobos, menabrak segala hal di depanku, tanpa peduli, tanpa hati-hati. Aku dapat merasakan pergelangan kakiku mulai sakit karena sempat terpeleset ketika menyeberangi area persawahan. Kain rokku tampak campang-camping karena menyapu ilalang dan rumput liar yang bersekongkol untuk tidak bersahabat denganku di hari yang gila seperti ini. Kurma! Ayah! Tuan Entah Siapa Namanya! Tiga hal itu berputar-putar di kepalaku, membuatku pusing. 

Sesampainya di alun-alun, aku tidak mendapati si Tuan itu. Tak dapat kutemukan dirinya meski hanya sekadar jejak sandal kulit bertalinya. Aku sedikit menyesal karena pergi terlalu lama, tapi aku pasti akan lebih menyesal jika aku tidak pulang mengambil kurma. Meskipun saat ini aku tidak tahu apakah ayahku betul-betul masih hidup semenjak ditangkap, tapi mau tidak mau aku harus menaruh keyakinan terbaikku. Barangkali petugas istana itu hanya berpura-pura? Siapa tahu, sebenarnya dia ingin membantuku membebaskan ayahku dari istana dengan imbalan kurma-kurma tersebut? 

Belum semenit aku sampai, aku sudah dapat mendengar suara si petugas istana berteriak-teriak menanyai setiap orang yang melewatinya, "Apakah ada yang melihat seorang gadis aneh dari hutan bagian Barat? Cih. Dia bisa membuatku menunggunya selamanya. Awas saja jika dia tidak datang!"

Aku pun meragu, sepertinya petugas istana itu tidak sedang berpura-pura mendenda. Aku tak boleh bertenang-tenang diri. Napasku masih tersengal, ketika si petugas kembali berteriak. Aku yakin, dia sudah menemukanku. "Bocah hutan! Mana dua kwintal kurma yang kuminta?" teriaknya bak dibantu alat pengeras. Akhirnya, semua orang di sana tahu bahwa aku lah biang keributan yang membuat si petugas istana bermuka katak murka seharian. Dengan ragu dan setengah takut, aku menemuinya sambil membawa setengah kilogram kurma yang aku punya. Aku menaruh kurma tersebut dengan tangan gemetar ke atas timbangan besar di atas meja pelaporan.

"Setengah kilogram? Hanya setengah kilogram ini saja?" teriaknya sangat keras, menusuk telinga setiap orang yang mendengarnya. "Aku meminta dua kwintal dan kau hanya membawakan sebanyak, bahkan, tidak ada satu persen dari yang kuminta? Hah?" aku dapat melihat urat-urat keunguan menegang di leher penjaga wanita yang bertubuh kecil tapi menyeramkan itu.

Aku tertunduk. Tak berani menjawab pun memang tak punya jawaban. Dia terus saja mengumpat, meneriaki, dan memakiku dengan keras dan tanpa henti seolah-olah aku bodoh dan tuli. Jika dia terus melakukannya, sepertinya aku akan benar-benar menjadi bodoh dan tuli keesokan harinya. Tentu saja, jika masih ada esok hari untukku.

Ketika aku mulai terbiasa --bahkan bosan-- dengan caciannya, tiba-tiba seseorang dari arah kanan datang dengan tertatih-tatih ke tempatku berdiri. Dia hampir menyenggolku, jika aku tak bergeser beberapa senti. Dia orang yang asing bagiku, tapi aku yakin dia adalah warga desa ini. 

Setelah menghela nafas beratnya --karena lelah-- selama beberapa detik, dia pun tersenyum kepadaku,. Tangan-tangan kekarnya lantas menurunkan sebuah keranjang bambu besar dari gendongan punggungnya dan meletakkannya ke atas timbangan.

"I-in-ini?" hanya itu kata yang meluncur keluar dari hasil pergerakan lidahku yang kaku. Lagi-lagi, dia hanya tersenyum untuk menjawabku.

"Hm? Tujuh kilogram? Tidak buruk! Baik, kuterima! Mundur kau, lelaki tua!" teriak si penjaga. Wajahnya yang semula mirip katak lapar, berangsur berubah menjadi mirip katak kasmaran.

Dan orang itu pun pergi setengah berlari, meninggalkanku yang belum siap mengucapkan terima kasih.

Aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Aku tak mengenalnya. Selama ini, aku menjauhkan diri dari keramaian bahkan warga desa lain. Namun, dia, yang sudah pasti tidak mengenaliku, datang menyumbangkan kurmanya dalam jumlah banyak secara cuma-cuma. Terlebih, penjaga istana menerimanya tanpa mengumpat seperti biasanya? Apakah ini keajaiban yang tengah dihadiahkan oleh Tuhan?

Tak lama setelahnya, berbondong-bondong orang datang membawa dan menyerahkan kurma-kurma mereka ke penjaga istana. Puluhan orang datang, tapi dia tidak ada. Di mana dia? Apakah dia sudah pergi ke desa atau bahkan negeri seberang? Satu, tiga, setengah, seperempat, sepersepuluh, satu setengah, dan sedikit demi sedikit warga desa berdatangan menyumbangkan kurma-kurmanya, hingga akhirnya terkumpul sebanyak 127 kilogram. 

Si Tuan itu... Mungkin, sebetulnya aku tidak betul-betul bertemunya tadi pagi. Mungkin, aku telah berhalusinasi karena terlalu mengharapkannya secara berlebihan selama ini. Namun, aku yakin dahiku ini tidak menabrak tanah ketika aku tersandung batu. Aku yakin telingaku mendengarnya menyebut namaku. Aku yakin hidungku menghirup aroma tubuhnya yang maskulin ketika aku bersandar di bahunya. Aku juga yakin mataku melihat wajahnya yang terbebas tanpa topeng penghalang, memamerkan wajahnya yang sarat akan keteguhan. Dan aku yakin mata elang itu menatapku sayu. Namun, aku juga cukup yakin, dia tidak muncul bersamaan dengan kerumunan orang-orang desa yang berdatangan ke meja pelaporan di depanku ini.

Aku masih di depan meja pelaporan. Memandangi setiap orang yang datang, mendelik bulat dan menghitung dengan kewalahan setiap angka yang muncul dari timbangan. Sepertinya, kurma-kurma itu sudah berhenti berdatangan dan...

"Hm, 163 kilogram, bocah! Apa kau punya 37 kilogram sisanya?" ucap si penjaga dengan tatapan sinis. "Kau tak ingin diseret ke hadapan Tuan Muda Archantan dan dihadiahi hukuman menyedihkan bukan, bocah hutan tolol sialan tak tahu diri?"

Aku tak tahu harus menjawab apa, maka aku hanya memperdalam tundukan kepalaku.

Braaakkk!

Dari belakang petugas katak itu, muncul seseorang berkulit tan, mengenakan baju seragam yang sama dengan petugas yang sekarang terkesan tengah menjarah ini.

"Hoi! Zabrintan! Apa kau sedang menjarah kurma warga?" tanya orang yang baru datang itu dengan wajah kesal.

"Apa masalahmu, Khais? Ini bukan urusanmu!" jawab si petugas wanita berwajah katak yang ternyata bernama Zabrintan itu.

"Justru karena ini bukan urusanku! Seharusnya kau tidak membuatku kerepotan dan terlibat dalam urusan penjarahanmu! Katak sialan!" jawab penjaga Khais.

Aku tidak mengerti, sama sekali, apa yang sedang mereka bicarakan. Aku sangat ingin melarikan diri dan berlari ke arah jam 4 di mana di sanalah si lelaki "Tuan Entah Siapa Namanya" berjanji menungguku tadi pagi. Aku pun mulai merasakan kegetiran yang lain, ketika aku teringat bahwa lelaki itu sudah pergi dan mungkin sudah digantikan oleh orang-orang lain yang sedari tadi menonton upacara penimbangan kurma untuk kasusku. 

Aku tahu tempat arah jam 4 itu tidak kosong, mungkin sejak aku baru mulai mendekati meja pelaporan untuk menyerahkan setengah kilogram kurmaku. Aku mulai penasaran siapa gerangan orang yang memiliki sangat banyak waktu untuk bergeming sepanjang waktu memandangi punggungku dari kejauhan dari tempat itu. Ketika aku menoleh sempurna ke arah jam 4, aku menemukan dia.

Dia? Tuan itu? Lelaki yang kucinta, yang pendiam dan bermata elang itu? Namun, aku yakin, bahkan sangat yakin, aku tidak menemukannya ketika aku sampai di sini dari mengambil kurma. Apakah dia baru datang lagi? Namun, ekor mataku menangkap bayangannya sedari tadi. Dia sepertinya di sana sepanjang waktu. Jadi, mungkinkah dia betul-betul tidak ada selama beberapa saat, lalu ada lagi dengan tiba-tiba? Atau aku yang tadi tidak melihatnya? Aku mulai bingung. 

Aku tidak tertarik lagi mendengarkan dua orang petugas istana yang tengah bersitegang di depanku. Aku hanya tertarik pada lelaki itu. Aku memandanginya, nyaris tidak berkedip. Dia berdiri di sana, di tempat yang sama, sejak aku jatuh di punggungnya berjam-jam yang lalu. Jubah coklat kumalnya, berkibar-kibar sesekali menyapu tanah berpasir yang mulai basah karena ternyata gerimis mulai menghadir. Mataku mulai pedas, mungkin karena gerimis, mungkin karena lelah menangis, atau mungkin karena lupa berkedip.

"Bisa kau perjelas, Khais?" tanya Zabrintan.

"Puluhan warga mendatangi mejaku! Membawa satu dua butir kurma, yah walaupun ada beberapa orang yang membawa satu karung. Ini sangat menjengkelkan, Zabrint. Kau harus mengurus 50 kilogram kurma di mejaku itu! Sekarang juga!" ucap Khais cepat dan tanpa jeda.

Apa artinya ini? Apakah orang-orang yang lain juga datang --ke meja pelaporan yang salah-- menyumbangkan kurma untukku? Aku melirik ke arah jam 4. Dia tersenyum. Lelaki yang sedari tadi diam di sana, tersenyum kepadaku. Apa semua itu ulahnya? Namun, dia tidak beranjak sedikit pun. Mungkin. Aku sangat yakin. Mungkin. 

Zabrintan cukup tercengang mendengar ucapan Khais. Matanya terbelalak sempurna, dia berkali-kali memandangiku berganti ke Khais, ke 163 kilogram kurma di meja pelaporan, ke Khais lagi, lalu ke aku, dan begitu seterusnya. Hingga akhirnya dia angkat bicara, "Baiklah, baiklah. Kau boleh pergi, bocah! Dan kau Khais, bawa kurma-kurma itu ke sini!" 

Mata Zabrintan berbinar-binar. Aku tidak tahu ada petugas istana sangat menyukai kurma hingga seperti itu. Tunggu dulu... Bukankah dia membebaskanku? BEBAS? 

Saat itu juga, aku tidak dapat mencerna apa yang kurasakan. Aku hanya merasa tubuhku seringan kapas, lantas terbang dengan sendirinya menjauhi meja pelaporan yang auranya seperti kandang buaya. Aku seperti terbebas tanpa syarat dari vonis hukuman mati yang beberapa menit lalu masih mengancamku. Aku sebetulnya tidak tahu hukuman berat apa yang akan kuterima dari Tuan Muda Archantan ketika aku ditangkap ke dalam istana. Namun, rumor yang beredar mengatakan bahwa tidak pernah ada satu orang pun yang kembali lagi, seperti ayahku. Dan apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku harus meminta petugas istana Zabrintan atau Khais yang baru kulihat ini untuk membebaskan ayahku? Atau mungkin, pertama-tama, aku harus mendatangi semua warga desa untuk berterima kasih?

"Sepertinya kau sudah mengurusnya dengan baik, Shadrina?" suara seseorang dari belakang membuatku tersadar dari pikiran-pikiranku. Aku belum siap berbalik untuk menghadapinya, apalagi menginterogasinya. 

"Apa sekarang kau mengabaikanku, Shad?" tanyanya lagi. Aku terkejut karena tiba-tiba sekarang dia sudah berada di depanku.

"Bukan begitu, Tuan. Saya hanya bingung. Ini adalah hari yang sangat gila. Saya dihukum. Lalu Anda datang. Saya berlarian menembus belukar. Ketika kembali, Anda hilang. Orang-orang desa datang membantu saya. Anda muncul lagi dan sekarang memanggil saya dengan panggilan yang... yang sama dengan panggilan yang hanya diketahui oleh Ayah dan adik-adik saya. Saya pikir saya sedang tidur dan bermimpi yang sangat panjang," kataku. Aku tidak peduli bagaimana penampakan wajah kebingunganku saat ini. Aku hanya lelah dan ini semua membuatku lemas.

"Duduklah," lagi-lagi dia dapat membaca pikiranku. Dia menuntunku untuk duduk di sebuah bangku panjang, membuatku berteduh dari hujan gerimis yang mulai mereda. Tampaknya, langit pun ikut bergembira atas kebebasanku.

"Kau terlihat sangat berantakan, Shad. Dan dalam keadaan seperti ini, aku ragu kau dapat mendengarkan apa yang akan aku katakan dengan tenang. Apa kau mau beristirahat dulu?" tawarnya. Ada nada cemas dalam setiap kata yang diucapkannya.

"Tidak. Saya ingin Anda mengatakan apa yang ingin Anda katakan. Saya akan berusaha mendengarkannya dengan baik," tentu saja aku tidak mau menundanya lagi. Andaikan kelelahan mampu membunuh seseorang, aku yakin --untuk saat ini-- rasa penasaran lebih mampu membunuhku, karena demi Tuhan aku mulai merasa aku kehilangan kewarasan.

Dia menatapku, berpikir dalam, sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Baiklah. Mulai dari mana?"

"Nama Anda," jawabku cepat.

"Namaku? Aku tidak yakin aku memiliki nama pasti, tetapi saudaraku memanggilku Sadid. Pertanyaan selanjutnya?" jawabnya cukup jelas. Namun, ini juga mengundangku untuk menanyakan hal lain kepadanya.

"Mengapa nama Anda tidak pasti?" tanyaku akhirnya, penasaran.

"Aku kira kau punya pertanyaan lain yang lebih ingin kau ketahui jawabannya tadi? Seperti bagaimana aku muncul? Atau... apa saja tadi hal-hal yang membuatmu bingung?" tanyanya setengah tertawa.

"Ah ya. Maaf," aku sedikit malu karena tetiba berbelok dari fokus pembicaraan. Lelaki ini memiliki rahasia? Namun, akhirnya aku kembali ke jalur kebingunganku dan bertanya, "Mengapa Anda tiba-tiba muncul? Lalu hilang? Lalu muncul? Lalu... yah..." aku sendiri bingung bagaimana merangkai pertanyaan ini.

Dia tersenyum, "Apakah aku seperti hantu? Oh ya, aku bukan Tuanmu dan aku tak memiliki ketertarikan dengan kehormamatan, jadi panggil aku Sadid, jika kau mau." Aku mengangguk. "Bagus, Shad. Baiklah, aku tiba-tiba muncul, ya? Apa kau kaget? Hahaha," dia terus saja mengatakan hal konyol dan ini membuatku jengkel.

"Baiklah, baiklah. Aku akan mengatakannya padamu. Aku sedang melaksanakan tugasku, mengamati seseorang. Ya, aku seorang mata-mata, Shad. Lalu, tiba-tiba kau datang beradu mulut dengannya atau tepatnya dia yang mengataimu habis-habisan dan mengajukan denda yang tidak masuk akal. Setelah itu kau melangkah dengan gerakan yang aneh dan tiba-tiba kau terjatuh begitu saja. Aku awalnya memang akan menangkapmu, tapi aku ragu dan akhirnya membalikkan badan. Ketika aku berbalik, kau menabrak punggungku. Seperti itu," jelasnya panjang.

Aku harus mencerna penjelasannya dengan cukup lama hingga akhirnya aku menyimpulkan, "Anda mengamati petugas Zabrintan? Anda... mata-mata? Oh Tuhan, pantas saja gerakan Anda sangat cepat seperti pendekar. Berupaya menolong seseorang lalu membatalkan keputusan itu dalam sekejap, saya kira tidak semua orang dapat melakukannya dengan lihai. Jangan-jangan Anda pembunuh bayaran?" jawabku. Aku sendiri terkaget dengan kesimpulan yang kudapat. Aku bergeser beberapa senti darinya, takut kalau-kalau tetiba dia membunuhku dalam satu tebasan. Walaupun aku tidak betul-betul yakin.

"Shad, aku tidak tahu, kehidupan semacam apa yang telah kau jalani selama ini hingga membuatmu seperti ini, tapi Demi Tuhan, kau harus mengurangi pemikiran bodoh itu dan aku bukan PEMBUNUH BAYARAN! Hahahaha," jawabnya diakhiri dengan tawa. Aku semakin tidak mengerti. Namun, aku bersyukur, aku tidak mencintai seorang pembunuh bayaran. Dia menambahkan, "Tapi, kau benar tentang petugas Zabrintan. Aku sedang mencari bukti atas tindak kejahatan pemerasan yang dilakukannya selama beberapa bulan ini. Aku sangat beruntung, tidak hanya barang bukti, hari ini sepertinya aku akan mendapatkan saksi mata juga."

"Jadi? Aku tak mengerti, Sadid. Bukankah dia hanya menjalankan perintah dan peraturan istana? Dan jangan katakan akulah yang kau bilang sebagai saksi mata!" timpalku.

"Akhirnya, kau memanggilku dengan namaku, Shad. Hahaha. Zabrintan? Taat peraturan? Dia membuat citra istana menjadi buruk dan tentu saja ini membuat Archantan terlihat seperti orang jahat. Kau tampak terkejut. Apa kau akan menolak menjadi saksi mata untuk membantuku menghukum tindakan buruknya?" tanyanya yakin. Matanya yang tajam seolah tengah meminta persetujuan dan sepertinya dia tidak menerima penolakan.

Ini memang terlalu mengejutkan. Ada dua cerita berbeda yang kudengar tentang Tuan Muda Archantan. Yang satunya mengatakan bahwa dia otak dari penjajahan di desa kami memiliki kegemaran menangkap orang-orang, tepatnya para kepala keluarga di desa kami. Namun, Sadid berpikir Archantan adalah orang yang dirugikan karena menjadi korban dari bawahannya sendiri. "Bukan seperti itu. Kukira, Tuan Muda Archantan adalah orang yang menyeramkan. Dia mengambil tanah kami, menjajah kami, membawa pergi kepala keluarga, menangkap ayahku dan masih banyak lagi. Aku semakin bingung, Sadid," akhirnya aku dapat mengatakan hal yang mengganjal di pikiranku selama ini. 

Sadid tercengang. 

"Aku tak menyangka, salah seorang warga desanya menyebutnya seorang penjajah. Archantan yang malang. Ck. Ck. Ck." Sadid menggeleng-gelengkan kepalanya lalu, "Bltak!" dia menjitak kepalaku. 

"Aw! Apa yang kau lakukan!" teriakku sembari mengusap ubun-ubunku yang sakit. Dia betul-betul mengerahkan seluruh tenaganya dalam jitakan itu. Aku sampai meringis menahan sakit hingga sedikit air mata terbentuk di mata kiriku. Apa yang salah dari kata-kataku? Aku hanya berkata jujur. Aku juga ingin tahu apa yang terjadi pada ayahku. 

"Sepertinya, aku butuh waktu seharian untuk menjelaskan semua kesalahpahaman ini padamu. Archantan, dia adalah putra dari kerajaan yang menaungi desamu. Dengan kata lain dia adalah pangeran, uhn, putra mahkota lebih tepatnya," kata-katanya sukses membuatku tercengang. "Boleh kulanjutkan?" tanyanya dan aku hanya mengangguk, lalu tertunduk. Aku terserang malu. 

"Sebenarnya, sudah waktunya dia naik takhta. Namun, suatu hari ketika dia sedang melakukan perjalanan, ya dia memang suka jalan-jalan, dia sampai di desa ini. Dia terkejut karena ini adalah satu-satunya desa yang tak memiliki kepala pemerintahan. Tak ada aturan, bahkan tidak ada persatuan dari para warganya. Mereka sangat tertutup dan menganggap setiap orang yang datang ke desa ini sebagai musuh. Salah satu contohnya adalah orang yang sedang di hadapanku sekarang," jelas Sadid. Aku celingak-celinguk dan sudah dipastikan tidak ada orang lain selain aku di depannya. Entah mengapa aku tidak menolak tuduhan itu.

Sadid kembali melanjutkan ceritanya, "Beruntung, Archantan tidak terbunuh waktu itu. Dia hampir saja terkena panah beracun dari salah satu warga. Kau tahu? Panah dari jarum kecil yang sudah dibubuhi racun lalu dimasukkan ke dalam senjata dari bambu, kemudian diarahkan dan ditiup ke target agar..." 

"Ya! Aku tahu! Aku juga menggunakannya untuk berburu! Dan lebih baik kau melanjutkan ceritamu yang penting saja, kukira, Sadid!" perintahku. Aku tidak tahu sejak kapan kami menjadi akrab seperti ini.

"Baiklah, jika kau memaksa, Shad. Archantan membujuk raja untuk menunda upacara kenaikan takhtanya. Dia ingin memperbaiki desa ini, ingin meningkatkan kesejahteraan warganya. Dia melihat potensi luar biasa dari desa ini. Kau tahu sendiri, bagaimana suburnya tanah dan ladang di sini. Bagaimana pandai dan terampilnya warga-warga di sini, walaupun aku agak ragu denganmu, Shad," perkataannya yang awalnya membuatku bangga akan desaku dan mulai membuatku berubah pikiran tentang Tuan Muda Archantan mendadak membuatku mendelik jengkel. Apakah dia menganggapku aku sebodoh itu karena aku hidup di hutan?

"Hahaha, aku bercanda, Shad. Maafkan aku. Singkatnya, Archantan berhasil membuat warga percaya kepadanya dan lambat laun semua permasalahan di desa dapat teratasi. Mereka tidak lagi menutup diri dan hubungan sosial mereka semakin baik. Kau dapat melihat mereka yang berdatangan untuk menyumbangkan kurma-kurma yang mereka miliki kepadamu bukan?" aku mengangguk kecil. Kini, aku sedikit terbebeni karena belum sempat berterima kasih kepada mereka.

"Selain itu kesejahteraan warga berkembang pesat. Archantan memiliki cara yang bagus untuk mengetahui kondisi setiap warga desa, yaitu dengan mewajibkan warga desa melapor tentang kondisi keluarganya. Namun, ada orang-orang seperti Zabrintan yang memanfaatkan kegiatan ini untuk menguntungkan dirinya sendiri. Kau sebagai salah satu korban, lebih tahu bagaimana detailnya. Hal inila yang membuat nama Archantan menjadi buruk di mata beberapa warga. Mungkin kau mendengar desas-desus buruk itu dari orang-orang yang menjadi korban Zabrintan. Kau masih ingat siapa yang mengatakannya padamu?" dia bicara dengan sangat panjang. Aku hampir tak dapat menangkap beberapa kata.

"Aku tidak ingat. Aku hanya dengar ketika melewati ladang. Lalu bagaimana kau menjelaskan penangkapan ayahku dan kepala keluarga lainnya?" inilah pertanyaan yang sedari tadi kunantikan jawabannya. 

Dia mulai diam dan menunduk. Aku sadar, dia mungkin sudah cukup lelah menjawab pertanyaanku. Namun, kali ini dia diam terlalu lama dan ini membuatku khawatir. Apakah dia akan menyampaikan kabar duka?

Setelah sebuah awan berganti bentuk dari seekor kelinci menjadi seekor katak --ini membuatku muak karena mengingatkanku pada petugas istana jahat yang memerasku, akhirnya Sadid mulai bicara lagi, "Kepala keluarga itu, mereka sebetulnya merupakan orang-orang yang berpenghasilan kurang sehingga dipekerjakan di istana. Archantan memberikan upah kepada mereka sehingga mereka dapat membiayai keluarga mereka. Dan..."

"Lalu, mengapa ayahku tak pernah pulang atau sekadar memberi kabar kepada kami?" aku semakin khawatir. Aku hampir menutup telinga. Aku takut dengan jawaban yang akan kudengat darinya dan aku memutuskan untuk menutup mata.

"Ayahmu. Dia... Aku minta maaf padamu karena tidak memberitahumu tentang ayahmu... Aduh. Bagaimana mengatakannya, ya?" Sadid terlihat bingung dan salah tingkah.

"Cukup. Aku belum siap mendengar berita buruk tentangnya," timpalku.

"Hm?" matanya yang tajam menyipit seiring dengan dahinya yang mengerut karena berpikir. "Aku tidak yakin ini kabar buruk atau baik, tapi..."

"Mana mungkin kematian ayahku sebuah kabar baik! Kau keterlaluan, Sadid!" tukasku. Aku mulai kesal. Aku tidak tahu jika lelaki yang kucintai ini tak memiliki hati seperti ini. Dia sama sekali bagaimana perasaan orang lain yang kehilangan orang tua dan menganggap hal besar seperti itu sebagai sesuatu yang tak penting.

"Astaga! Buruk sekali pikiranmu tentang orang tuamu, Shad! Ya Tuhan! Ayahmu masih hidup. Archantan sangat menyukai ayahmu dan menjadikannya sebagai informan tentang desa. Aku tidak habis pikir mengapa kau bisa begitu berbeda dengan ayahmu yang tenang dan berpikir panjang," jawabnya dengan keras. Sekarang, dia yang terlihat kesal denganku. 

Ya Tuhan! Aku betul-betul anak tidak tahu diri. Ayah maafkan aku. Terlepas dari rasa bersalah itu, aku sangat lega karena ayahku masih hidup. Aku tak mampu berkata lebih banyak. Hanya lelehan air mata yang dapat kutumpahkan sebagai rasa syukur dan bahagia. Samar-samar, aku melihat semburat senyuman di wajah lelaki di depanku. Dia terlihat semakin tampan.

"Apa kau sangat senang? Atau kau sedih karena ayahmu..."

"Tentu saja aku sangat senang, bodoh!" potongku. Aku tanpa sadar mengatai Sadid dengan kata tidak sopan dan aku terlalu sibuk dengan rasa bahagiaku sehingga aku tidak sempat untuk merasa malu apalagi meminta maaf kepadanya.

"Dan sekarang aku dikatai bodoh. Aku sepertinya akan marah dan pergi saja. Ini keterlaluan!" ancamnya, setengah serius.

"Tunggu dulu, Sadid! Aku masih punya satu pertanyaan!" cegahku sembari menarik jubah coklat kumalnya.

"Dan sekarang dia masih saja menanyai orang yang dibilangnya bodoh ini. Aku tidak habis pikir!" jawabnya. Aku yakin dia hanya menggoda.

"Baiklah aku minta maaf, Sadid."

"Kau tidak memanggilku Tuan Muda dan menangis-nangis lagi seperti tadi pagi, ya? Itu lucu loh," timpalnya.

Dan kali ini aku yang tidak habis pikir, lelaki bermata elang yang telah membuatku jatuh cinta sejak pandangan pertama ini, tetiba sangat jauh dari kesan mengagumkan dan meneduhkan seperti yang aku kira pagi tadi. Namun, aku menikmati obrolan santai ini. Dia tidak sedingin yang aku kira. Ini menyenangkan.

"Diamlah dan jawab saja pertanyaanku..." 

"Kau tidak bisa menyuruhku diam dan menjawab secara bersamaan. Pilih salah satu, Shad!" Oh, dia sangat cerewet.

"Baiklah, tolong jawab saja pertanyaanku. Bagaimana kau tahu namaku?"

"Ayahmu yang memberitahuku tentu saja, siapa lagi? Kau lucu, hahaha."

"Lalu bagaimana kau dapat mengenali wajahku ketika kita baru saja bertemu di alun-alun ini?" tanyaku semakin introgatif.

"Tentu saja aku mengenali wajahmu. Terus mengawasimu selama di hutan membuatku hafal wajah polosmu dan..." tiba-tiba dia terdiam. Matanya melotot menganalisis reaksi wajahku yang terkaget mendengar jawabannya. Sedetik kemudian, dia sudah memalingkan wajahnya yang memerah. Aku tidak tahu seorang lelaki juga dapat merasa malu dan salah tingkah seperti itu. Hah? Dia salah tingkah? Bukankah seharusnya aku yang malu dan salah tingkah?

"Dan apa? Sadid?"

"Dan sudah itu saja." 

"Kau curang, Sadid!"

"Jangan memaksaku untuk mengatakannya, Shad. Aku tidak akan mengatakannya, meskipun tiba-tiba bulan jatuh sekalipun."

Ketika kami mulai menghadapi kekakuan seketika dalam perbincangan ini, tetiba datang beberapa orang petugas ke arah kami. Namun, mereka melewati kami hingga sampai ke meja pelaporan di mana Zabrintan sedang sibuk mengepak kurma-kurma. Aku dan Sadid saling pandang, sepertinya kami memikirkan hal yang sama, 'Menyerahlah kau Zabrintan!'

*****

"Sadid," panggilku.

"Hn?" jawabnya singkat sambil menyesap teh yang kuhidangkan untuknya. Kami berdua memutuskan untuk kembali ke hutan dan mengistirahatkan diri di gubuk karena sore sudah mulai datang dan aku harus menyiapkan makan untuk adik-adikku. 

"Jika dipikir-pikir, kau memanfaatkanku untuk menangkap Zabrintan, ya?" sontak Sadid terbatuk, tersedak oleh air seduhan teh yang belum sempat meluncur melewati kerongkongannya. Aku menganggapnya sebagai sebuah jawaban 'ya'. "Jadi, kau sengaja membiarkanku diperlakukan seperti itu? Kau tahu dan diam saja? Jangan-jangan, kau sudah merencanakannya?" tanyaku membabi buta.

Dia masih terbatuk-batuk sembari memukul-mukul dadanya. Aku sedikit kasihan, tapi aku juga ingin sedikit menjailinya. Maka aku tak mengubah tampang marahku untuk membuatnya terintimidasi.

"K-kau salah paham, Shadrina! Aku terus mengawasimu! Tentu saja," jawabnya sambil mengalihkan pandangannya ke kiri, menatap awang-awang atau sarang laba-laba yang awut-awutan di sudut gubuk?

"Kau bohong!" timpalku. Dia selalu mengalihkan pandangannya dariku ketika dia berbohong. Aku sudah dapat menandai dan menafsirkan kebiasaannya. "Kau meninggalkanku entah berapa lama, ketika aku baru saja mengambil kurma!"

"Tentu saja aku tidak bohong! Aku tidak betul-betul meninggalkanmu saat itu, Shad. Kau pikir aku tidak bosan menunggumu mengambil kurma? Aku hanya pergi sebentar untuk memberi tahu warga... agar mereka membantu menyumbangkan kurmanya untukmu. Dan mana mungkin aku berani meninggalkan orang yang aku sayangi dalam bahaya!" jelasnya panjang, lebar, dan mengejutkan. Dia...dia menyebutku orang yang apa???

"Hehe. Aku tahu, kau tidak bohong, tapi aku baru tahu kalau kau mudah keceplosan juga, ya?" jawabku canggung.

Aku dapat melihat wajahnya mulai bereaksi, memerah lebih merah dari saat di alun-alun. Mungkin dia betul-betul keceplosan mengatakan perasaannya. Namun, tiba-tiba dia menjawab, "Tidak keceplosan, kok. Archantan memang orang yang sangat aku sayangi! Artinya, jika aku meninggalkanmu, aku mungkin membiarkannya dalam bahaya juga. Tidak langsung, tapi ya begitulah..."

"APA???" teriakku kaget. Aku ingin pingsan saja rasanya. Aku tidak menyangka. Aku tidak peduli betapa dia tergagap dalam menjawabku. Namun, aku cukup sedih dan kaget ketika dia menyebut Tuan Muda Archantan, laki-laki penjajah itu, sebagai orang yang disayanginya. Dia menyukai seorang laki-laki? Dunia serasa runtuh.

"Dia saudaraku," ucapnya sambil tersenyum lembut.

"Heh??? APA LAGI INI???" 

"Saudara kembar, tepatnya! Kau harus menyebutkannya dengan betul, adikku, Sadid." 

Kali ini bukan Sadid yang menjawab. Seseorang dengan suara yang hampir mirip dengan Sadid tiba-tiba muncul dari pintu depan. Dia mengenakan sorban dan topeng kain yang menutupi setengah wajahnya. Aku dapat melihat mata Sadid dari mata orang itu. Mata setajam mata elang yang sama, dengan mata Sadid, tapi cahayanya terlihat jauh lebih meneduhkan dibandingkan Sadid. 

"Ini pangeran Archantan, Shad," seseorang yang lain memasuki gubuk. Aku sangat mengenali suara dan irama langkah kaki orang ini. Seseorang yang sangat kurindukan kehadirannya setiap pagi dan malam selama tiga bulan lalu, ayah. Ayahku pulang. Ayah kami pulang! Terima kasih, Tuhan. Ini hari Minggu yang bersejarah. Aku dan para adikku pun berlari menghambur ke arahnya, memeluk setiap inchi tubuhnya yang dapat kami peluk.

"EHEM! EHEM! Aku masih ada di sini loh," Sadid berdehem memecahkan suasana suka cita kami.

Dan aku teringat satu hal, "Sadid! Kau berutang satu penjelasan!"

"Apa lagi?" tanyanya jengah.

"Mengapa kau bilang kau adalah seorang mata-mata untuk Tuan Muda Archantan? Kau bohong lagi!" tanyaku menyudutkannya. Sadid hanya meringis kebingungngan dan berjalan ke sana-ke mari hingga berhenti di ambang pintu.

"Aku bingung menjelaskannya, tapi kukira Archantan dapat menggantikanku menjelaskannya kepadamu. Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa, Shad. Aku akan kembali menemuimu lagi nanti!" dan dia menghilang dengan seketika dari pintu gubuk kami.

Apakah aku kehilangan dia? Apakah aku membuatnya pergi? Apakah aku menanyakan hal yang salah. Tanpa terasa, sebutir air mata meluncur di pipi kiriku. Baru saja aku merasakan kebahagiaan sempurna dengan kembalinya ayah dan mendengar pengakuan sayangnya, dalam sekejap aku harus segera kehilangan salah satunya dan itu karena pertanyaan bodohku. Aku belum memastikan satu hal, tentang pengakuan itu. Apakah rasa sayang itu memang hanya untuk saudara kembarnya? Namun, sepertinya dia tak akan dapat menjawabnya untukku. Dia sudah pergi.

Puk. 

Aku merasakan sebuah tepukan di bahu kananku. Ternyata Tuan Muda Archantan pelakunya. "Tenanglah, Shadrina. Sadid bukanlah orang yang tidak memenuhi kata-katanya. Dia pasti akan kembali jika dia telah berkata demikian. Lagipula, dia tidak mungkin meninggalkanmu semudah itu."

"Mengapa begitu, Tuan Muda," tanyaku lemah, tapi penasaran.

"Kau tahu, Shadrina? Hanya ada dua orang yang dia izinkan untuk menyita perhatiannya. Kau salah satunya. Dia tidak pernah menjaga seseorang hingga mempertaruhkan kebebasannya seperti itu, kecuali dia menginginkannya," jelas Tuan Muda Archantan. 

Setelah mendengar pertkataan Tuan Muda Archantan, aku merasa seperti ada kupu-kupu yang tiba-tiba terbang membuncah mengeliliku. Perutku terasa geli dan jantungku berdebar tidak karuan. Aku menjamin, aku terlihat seperti Majnun yang tergila-gila kepada Laila, lalu menjadi gila. Namun, kegembiraan itu sirna seketika ketika aku teringat Sadid telah pergi tanpa tahu kapan dia kembali.

"Tuan Muda, jika dia menganggapku orang yang sedemikian istimewa, mengapa dia pergi?"

Tuan Muda Archantan mendesah panjang, lalu berkata "Aku sudah bilang bukan? Dia orang yang sangat menyukai kebebasan dan tidak suka terlibat dalam urusan orang lain. Itulah yang menyebabkannya pergi dari istana dan memilih hidup melanglang buana ke seantero negeri. Sekarang dia pergi karena ada aku di sini. Hahaha."

"Bukankah dia sangat menyayangi Tuan Muda? Mengapa dia tidak ingin di samping Anda?"

"Karena dia berbeda. Dia menyayangiku dengan menjadi bayanganku, melindungiku dan mengawasiku dari kejauhan. Sama seperti saat dia menjagamu di dalam hutan selama ayahmu tinggal di istana. Dia tidak pernah memunculkan diri, tapi dia tidak akan pergi meninggalkan orang yang dia sayangi," jawaban Tuan Muda Archantan betul-betul membuatku merasa istimewa karena telah mencintai dan disayangi oleh lelaki seperti Sadid.

Satu lagi pertanyaan, "Lalu mengapa dia tidak pernah mengakuinya..me-mengakui..."

"Sayangnya kepadamu, Shadrina?" tebaknya. Aku mengangguk malu. "Hahaha. Itu karena dia..."

"SANGAT PEMALU!!!" teriak Tuan Muda Archantan dan ayahku bersamaan.


Thursday, 31 December 2015

Last December

Halo.

Besok adalah tahun depan loh.

Apakah Tuhan masih memberikan saya kesempatan untuk memperbaiki diri dan membagikan manfaat bagi orang lain, ya? Entah mengapa, saya merasa kekhawatiran saya lambat laun menjadi kenyataan.

Apakah satu tahun merupakan waktu yang cukup untuk membalikkan keadaan? Apakah saya dapat membereskan segala urusan dengan tidak menimbulkan kekecewaan?

Satu hal yang pasti, saya semakin yakin bahwa peluang saya, untuk menikmati kehidupan yang sama seperti orang lain, semakin kecil. Tidak akan ada bukti pasti untuk mendukung hipotesis ini karena saya tidak akan melakukan upaya pembuktian. Saya terlalu tidak berani.

Uhn... Saya kira, kesempatan untuk naik level seperti mereka pun tidak akan pernah terjadi. Saya harus bersiap-siap membanting haluan dan memulai perjalanan yang tak perlu level untuk menyelesaikan keseluruhan target dan tujuannya. Ah iya, otomatis saya harus menyederhanakan target-target saya agar lebih realistis, praktis, dan tidak menguras waktu dan tenaga.

Betul. Saya tak perlu lagi memusingkan masalah undangan karena saya tidak akan pernah mewujudkan hal tersebut.

Tahun depan, saya hanya perlu fokus dan bertahan. Memperbaiki diri dan meningkatkan bekal untuk perjalanan baru yang seharusnya lebih menjanjikan. Mengurangi segala macam buruk sangka juga rasa percaya. Meningkatkan pikiran positif dan kritis tanpa mencari masalah yang mengundang emosi orang lain.

Thursday, 10 September 2015

Saya, Wanita Panggilan: Berawal dari Sebuah Panggilan

Demi sandal jepit Ard*les yang hilang ketika salat di musala di SPBU di Wonosobo, saya merupakan orang yang memiliki waktu yang sangat luang sampai-sampai saya kebingungan untuk menghabiskannya. Meski demikian, entah mengapa saya sangat malas sekali untuk meluangkan sedikit waktu untuk sekadar menulis post ringan di blog ini. Beberapa tahun lalu, saya membuat blog ini dengan dalih saya menyukai menulis, khususnya cerita fiksi. Namun, faktanya, selama hampir lima tahun sejak blog ini dibuat, hanya tulisan-tulisan reportase keseharian atau perasaan saya yang berhasil terjejal ke dalam kotak entry pos blog ini. Hehehe, semoga cita-cita saya menulis sebuah cerita panjang yang selesai bukanlah hanya sekadar cita-cita dusta belaka.

Well, beberapa bulan terakhir ini, saya hampir tidak pernah menulis di sini. Alasannya klasik, yaitu karena faktor kesibukan. Loh? Bukannya saya baru saja mengatakan bahwa saya memiliki waktu yang terlalu luang? Memang luang, hanya saja itu berlaku ketika luang. Beginilah kehidupan seorang freelancer, diwarnai dengan dinamika kesibukan yang tidak tetap di setiap waktunya. Terkadang dia terlampau luang, terkadang dia sibuknya keterlaluan hingga kelimpungan dan lupa makan. Semua itu tergantung pada amal ibadahnya, eh maksud saya, ada atau tidaknya proyek pekerjaan yang berhasil diperoleh atau dijalankannya. Saya yakin, inilah alasan yang membuat sebagian besar orang berusaha keras sekuat tenaga untuk dapat memperoleh pekerjaan tetap di tempat yang layak dengan upah yang besar dan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, bahkan keluarganya. 

Menjadi freelance sebetulnya bukanlah pekerjaan utama yang saya impikan saya setelah lulus kuliah. Yeah, siapa pula yang menjadikannya sebagai sebuah cita-cita utama? Mungkin ada, tetapi saya yakin persentasenya tidak banyak. Namun, entah mengapa, menurut saya, menjadi freelancer seperti ini bukanlah hal yang buruk untuk dijalani sebagai langkah pertama dalam proses pembelajaran menjadi pekerja profesional. Uhn, tunggu dulu, apakah saya sudah menyebutkan pekerjaan freelance macam apa yang pernah (dan mungkin sedang) saya jalani saat ini? Hahahai... Saya adalah seorang "wanita panggilan".

Semua cerita saya tentang profesi saya sebagai "wanita panggilan" ini berawal dari sebuah panggilan masuk di handphone saya, di suatu pagi, di salah satu Selasa di bulan Desember 2014. Sebetulnya, saat itu sudah tidak dapat dikatakan pagi lagi. Pukul sembilan lebih --jika tidak salah ingat, saya, yang selalu saja tertimpa musibah insomnia di setiap malam, terbangun oleh sebuah panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal. Sedikit ragu, saya sengaja melama-lamakan diri dalam mengangkat panggilan tersebut hingga orang di seberang memutuskan untuk mematikan panggilan tersebut. Namun, di luar dugaan, sebuah panggilan yang lain kembali masuk, dan kali itu tanpa pikir panjang saya langsung mengangkat panggilan telepon tersebut. 

Dengan suara serak yang miskin akan semangat hidup khas orang bangun tidur, saya mengeluarkan sapa untuk menyambut sang pemanggil di seberang, "Halo, assalamu'alaykum?"

"Halo? Ani, ya?" jawab seseorang yang oleh saya terdeteksi sebagai seorang wanita dengan warna suara yang terdengar tidak asing.

"Iya, betul? Maaf ini siapa, ya?" tanya saya, masih tidak memiliki petunjuk akan pemilik suara tersebut.

"Ini, C. Anif dulu pernah ikut survei filariasis, kan, ya? Masih ingat, Nif?" tanyanya, yang akhirnya saya dapat mengenalinya dan dulu pernah memanggilnya dengan sapaan Mba C.

"Oh iya, Mba, ingat kok ingat. E... Ada apa, ya? Ada yang salah, ya, Mba?" tanya saya, gugup. Jujur, otak saya langsung berpikir tentang berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi di masa depan (bisa jadi) karena kebodohan saya di masa lalu, hampir satu tahun sebelum saya menerima panggilan tersebut. Ceritanya, pada bulan Januari 2014, saya ikut menjadi seorang enumerator dalam sebuah survei kesehatan, survei tentang filariasis, seperti yang disebutkan oleh Mba C. Survei ini diadakan oleh salah satu lembaga di kampus, yang cukup saya tahu namanya dari teman-teman satu departemen. Posisi saya sebagai enumerator dalam survei ini, mengharuskan saya untuk melaksanakan tugas mewawancarai sejumlah responden mengenai perilaku dan pengetahuan mereka terkait filariasis. Nah, ketika menerima telepon dari Mba C, saya takut saya melakukan kesalahan pada saat turun lapangan mencari responden ataupun pada saat mengisi kuesioner. Terlebih, responden-responden yang saya wawancarai pada saat itu bukan merupakan warga biasa, melainkan orang-orang yang berperan penting dalam pelaksanaan pembagian obat massal (POMP) filariasis. Dalam sekejap, saya bangun sempurna dan memusatkan perhatian dengan serius terhadap setiap patah kata yang akan dikatakan oleh Mba C.

"Nggak, kok. Nggak. Aniiif. Anif lagi sibuk apa?" tanya Mba C lagi.

"Nggak sibuk, sih, mba. Kenapa memangnya, Mba?" ada sedikit kelegaan setelah mendengar jawabannya dan juga muncul rasa penasaran akibat pertanyaannya. Oke, tentu saja saya sangat tidak memiliki kesibukan. Meskipun pada saat itu saya sedang di tengah perjalanan pengerjaan skripsi saya yang tidak pernah saya kerjakan sejak bulan Juli 2014, entah mengapa dengan ringannya, saya menjawab bahwa saya tidak sedang sibuk. 

"Nggak sibuk, ya? Jadi, begini, Nif. Filariasis kan mau jalan lagi, nih. Kalau Anif lagi nggak sibuk, Anif bisa bantuin nggak? Jadi admin. Tugasnya itu mengurus persuratan, perizinan, dan lain-lain. Pokoknya mengurus persiapan sebelum survei. Bisa, Nif?" jelas Mba C.

"Oh... Bisa sih, Mba. Itu kapan, ya, Mba, kalau boleh tahu?" tanya saya.

"Kalau mulainya sih dalam minggu ini. Anif bisa hari Kamis? Itu nggak harus ke kantor setiap hari kok. Paling, seminggu satu atau dua kali kalau lagi ada pekerjaan saja. Jadi, hari Kamis, Anif bisa?" Mba C kembali memastikan.

"InsyaAllah bisa, Mba," jawab saya, singkat.

"Oke, Nif. Nanti kita kontak-kontakkan lagi, ya, Nif? Makasih banyak, Aniiif," dan panggilan itu pun berakhir.

'Apa itu tadi?' batin saya setelah panggilan tersebut terputus. Setengah otak saya kebingungan, tetapi setengahnya lagi kegirangan. Saya menganggap ini merupakan pertanda bagi saya, untuk kembali menjalani hidup dengan serius. Saya harus kembali fokus mengerjakan skripsi saya karena jika tidak mulai mengerjakannya, saya tidak akan dapat melakukan tugas baru itu dengan baik. Atau kemungkinan lain, jika saya sudah keasyikan dalam mengerjakan hal baru, bisa jadi saya tidak mengerjakan saya dengan baik dan lagi-lagi saya akan menunggak satu semester dengan beban malu yang semakin besar.

Menit berikutnya, saya mendapati tubuh saya sudah berdiri tegak, dengan jemari terkepal setengah kuat, mata menajam dan menatap ke awang-awang, rambut acak-acakan (oke ini tidak penting), dan tekad yang bulat serta hati yang bersungguh-sungguh, saya berteriak dalam hati, "SAYA AKAN MENGERJAKAN SKRIPSI TAK JELAS INI HINGGA AKHIR! APAPUN HASILNYA, INI HARUS SELESAI BULAN JANUARI. TAK BOLEH TERLAMBAT LAGI, KARENA INI SUDAH LEBIH DARI TERLAMBAT!"


Di hari yang sama itu, saya mulai kembali mengerjakan skripsi. 'Hari Kamis, saya akan ke kampus untuk urusan filariasis itu. Jadi, sebelum hari Kamis, saya harus sudah menyiapkan bahan konsultasi saya ke pembimbing,' pikir saya saat itu. Saya memang begitu mah, kalau sudah keluar kamar, inginnya melakukan semua pekerjaan yang dapat dilakukan dengan sekaligus agar efektif dan selesai semua. Namun, yah... untuk memulai langkah pertama itu yang, subhanallah, sulit sekali dilakukan. Alhasil, semester 9 kemarin, sebagian besar hidup saya, saya habiskan di dalam kamar kos. Tidak ada pekerjaan berguna yang saya kerjakan, bahkan tidak ada keinginan untuk melakukan hal yang berguna. Oleh sebab itu, panggilan telepon dari Mba C itu sangat membuat saya senang dan menumbuhkan motivasi atau semangat saya. Saya merasa, saya masih dapat berguna untuk orang lain dan baru memikirkannya pun saya sudah merasa senang. 

Awalnya, saya ragu, Apakah Mba C tidak salah pilih? Apakah saya tidak salah dengar? Dari sekian banyak orang yang ada di muka bumi, mengapa Mba C menelepon saya? Dan bagaimana mungkin Mba C masih ingat? Proyek survei filariasis itu kan hanya berlangsung lima hari, uhn... tujuh hari jika ditambah dengan pelatihan. Kami pun bertemu hanya pada saat pelatihan dan hari terakhir turun lapangan, di mana Mba C selaku supervisor ikut turun lapangan untuk membantu mewawancarai responden. Beliau memang sosok yang seperti itu. Saya sudah mengaguminya, sejak pertama kali diajar sebuah mata kuliah. Hanya satu pertemuan dengannya dan saya masih ingat bagaimana saya terkesan dengan cara presentasinya.


Oke, itu adalah awal mula saya menjadi wanita panggilan. Hingga saat ini, entah mengapa saya masih menikmati pekerjaan ini. Mengapa? Karena saya dapat mengerjakan tugas yang diberikan di mana saja yang saya suka, tidak harus datang ke kantor. Sebagian besar kepentingan tugas dilakukan via email. Sebetulnya, tugas saya bukanlah tugas yang sulit dan berat. Saya pun tidak selalu mendapatkan pekerjaan atau tugas sesuatu. Meski demikian, saya merasa ini adalah awal yang bagus. Sedikit demi sedikit, kan? Jika saya sudah mulai bosan menjalani pekerjaan yang ritmenya fluktuatif semacam ini, mungkin saya akan lebih siap untuk mencari pekerjaan tetap, sesuatu yang lebih jelas dan bersifat rutinitas.

Ah iya, saya tidak pernah mengatakan bahwa menjadi seorang freelancer tidak baik atau tidak menyenangkan. Justru, banyak sekali pengalaman berharga yang saya peroleh dari berbagai pekerjaan berbeda yang saya lakukan. Baru kali ini saya melakukan hal-hal yang selama ini hanya ada di textbook perkuliahan. Belum semuanya memang, tetapi bukankah sebuah proses mengharuskan kita mempertaruhkan waktu sebagai modal untuk memperoleh pengalaman dan pengetahuan?

Oh, iya... tentang upah? Untuk seseorang yang lebih suka memperoleh kejutan pengalaman dibandingkan belanja, seperti saya, upah kerja yang saya terima masihlah cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Mungkin, saya dapat menyebut diri saya sebagai pemburu kesibukan, dibandingkan pemburu gaji. Asalkan saya diberi kesibukan atau tugas, meskipun tertekan, saya akan mengerjakannya, mungkin tidak dengan baik karena saya masih belajar, tapi saya akan bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya,..


Thursday, 3 September 2015

Happy New Life!

Selamat datang bulan September!!!

Saya harap ini adalah bulan yang dipenuhi dengan semangat dan senyuman. Semoga inspirasi dan motivasi senantiasa tercurah dengan melimpah kepada setiap orang, tak terkecuali saya, kau, dan kawan-kawan kita. 

Me-review beberapa September terakhir, tidak banyak kejadian berarti yang terjadi di setiap tahunnya. September selalu menjadi bulan yang kering karena hujan tidak kunjung datang hingga bulan Oktober atau November mendatang. September selalu menjadi bulan yang di dalamnya terdapat ulang tahun beberapa orang yang saya ingat tanpa syarat. September menjadi bulan di mana sebuah kepemimpinan berakhir dan dimulai dengan kepemimpinan baru yang digantungi harapan-harapan ratusan kepala akan keberlangsungan dan eksistensi wadah nauangan mereka. Mungkin, September adalah bulan yang polos dan lugu karena banyak sekali kelahiran dan permulaan yang terjadi di bulan ini pada setiap tahunnya. 

Ah, mungkin bukan ide yang buruk untuk turut lahir kembali seperti mereka, memulai kembali segalanya dari awal dengan mempertimbangkan pengalaman di masa lalu. Bukankah banyak sekali orang yang bilang bahwa "tidak ada kata terlambat bagi mereka yang memiliki kemauan untuk bertaubat"? Lantas, taubat dari kesesatan macam apa saya ini? Sesat pikir, sesat langkah, sesat hati, dan sesat-sesat yang lain sudah pastinya. Ini wajar bukan, jika saya tersesat? Saya yakin, setiap orang mengalami ketersesatan, barang satu kali, dalam hidupnya. 

Saya memang tidak berulang tahun di bulan September, tetapi saya ingin merayakan kelahiran saya. Kelahiran saya yang akan lebih cermat melihat peta dalam berjalan-jalan. Saya tidak bilang saya tidak menyukai menciptakan jalan baru, tetapi sepertinya terlalu sering menuruti diri untuk melewati jalan lain atau jalan pintas, justru membuat saya semakin tidak seperti orang kebanyakan.

Yah, apapun yang akan terjadi di bulan ini, mari menjalankan dan mendokumentasikannya dengan rapi dan senang hati!

Selamat datang September!!! Happy New Live!!!

Tuesday, 1 September 2015

Mengapa menulis fiksi lebih mudah dibandingkan menulis reportase? Karena fiksi merupakan hasil kolaborasi antara manipulasi dan imajinasi yang di dalamnya tidak melibatkan manusia-manusia atau kejadian-kejadian nyata. Pengarang fiksi berhak menentukan jalan cerita dan takdir setiap karakter yang ia ciptakan. Ia berhak mematikan semua orang yang telah ia ciptakan, pun membangkitkan mereka kembali dari kematian, jika ia menghendaki demikian.

Namun, apakah hal ini berarti bahwa bercita-cita menjadi pengarang fiksi sama dengan mempersiapkan diri menjadi manusia yang memiliki dunia sendiri, miskin berinteraksi, dan cenderung menjadi individu yang egois yang tidak mudah dimengerti dan ingin memenangkan segala hal hanya untuk dirinya sendiri?

Beberapa pengarang fiksi misteri mati dengan cara tidak manis: menenggelamkan diri di dalam sungai di musim dingin, menjerat lehernya dengan tambang pengikat leher sapi, melubangi kepala mereka dengan timah panas yang ditembakkan dalam jarak setengah senti, atau... 

Monday, 31 August 2015

Patah Hati

Aku tak mungkin dapat memberitahumu, bahwa kau lah yang membuatku patah hati. Bahwa aku semakin tak leluasa bercakap denganmu. Bahwa mulai sekarang aku harus meminta izin jika ingin berada di dekatmu. Bahwa aku salah sangka, menganggapmu orang yang merasakan hal yang sama denganku, karena hingga kini pun memang hanya aku yang membutuhkanmu untuk mengobati kesepianku, keantisosialanku.
Kukira, kita memiliki hubungan lebih dari sekadar saling mengenal. Kukira, kita seperti anggota tim yang saling mengandalkan. Namun, ternyata kita terhubung hanya karena satu topik. Aku tentang itu dan kau tentangnya. Aku yang terus-menerus memaksa bahwa kau adalah sahabat, bahkan setelah aku tersadar bahwa kau tak pernah mengingatku ketika kau bersedih apalagi berbahagia. Aku tak pernah mendapat kabarmu, dan aku tak mampu terus-menerus menjadi pencari kabarmu. Kau kira aku tak punya rasa malu dan tahu diri?
Aku ingin kita membahas lebih dari satu topik. Namun, tampaknya kau tak pernah percaya dan mengingat bahwa aku juga ada untuk mendengarkanmu. Kupikir kau memang tak pernah menganggapku lebih dari orang biasa yang sesekali lewat di depan jendela untuk sekadar disapa. Bahkan mungkin aku lebih tidak spesial dibandingkan orang lewat itu, bukan?
Ah, pokoknya aku patah hati. Kau kini dengan duniamu sendiri, dengan duniamu yang penuh cinta dan interaksi intens yang tak mampu kucolek barang sedetik. Karena aku bukan siapa-siapa, sangat bukan siapa-siapa. Hanya seonggok manusia biasa yang merindukan seorang sahabat, mengira telah menemukan satu, tapi ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Bukankah ini menggelikan?

Thursday, 27 August 2015

Jatuh Sayang

Jatuh tetaplah jatuh, apa pun bentuk dan sebabnya. Dia lebih banyak menyakitkan, alih-alih menyenangkan. Meskipun itu sebuah jatuh sayang, meskipun itu sebuah jatuh cinta, tetapi pada akhirnya yang mengalami sayang dan cinta itu pasti jatuh pada waktu yang telah ditentukan. Kapan jatuh? Kapan sakit? Kapan tak terobati? Ada saatnya. Tuhan tak akan pernah membiarkan kita lulus ujian tanpa adanya sebuah ujian bukan? 

Aku pernah jatuh cinta. Aku tidak menyangkal, karena mencari-cari alasan bukanlah keahlianku. Aku pernah terjatuh dari sebuah rasa cinta impulsif imajinatif. Jatuh ke dalam lubang kebahagian tak berdasar yang ternyata, jika kau berlama-lama di dalamya,  dapat membuatmu merasakan sebuah kejatuhan yang gelap dan sepi yang dapat membuatmu bosan akan sebuah ketidakberujungan atau malah mati akibat rasa bosan yang timbul dari ketidakberujungan tersebut.

Untuk itu, aku semakin berhati-hati dalam berjatuh cinta atau mengaku bahwa aku jatuh cinta. Aku tak ingin mengalami kepedihan yang berlarut-larut karena entah mengapa, selalu saja ada ketidakbahagiaan setiap kali aku meyakinkan diri bahwa aku sedang jatuh cinta. Bukanlah kata orang-orang cinta itu menyenangkan? Maka jika aku tidak merasakan kesenangan dan kebahagiaan, bukankah itu berarti bahwa aku sebetulnya tidak sedang jatuh cinta? Cinta tidak membuatmu terkapar dalam kesedihan, kata mereka?

Baiklah. Suatu hari, aku menyederhanakan definisi jatuh cinta itu, menurunkan kadar cinta berlebih di dalamnya, mengubah namanya menjadi jatuh sayang. Aku sayang kepada beberapa orang karena mereka membuatku sayang kepada mereka, tanpa alasan, tanpa penjelasan. Hnn. Sebetulnya, tentu saja tak ada hal yang tercipta tiba-tiba. Tak ada, melainkan karena adanya sebuah alasan. Namun, berapa kali pun aku mencoba mencari alasan itu, sebanyak kali itu pula aku gagal menemukan alasan yang tepat untuk mendukung jatuh sayangku itu.

Jauh di dasar perasaanku, sayangku pada diriku sendiri, jelas sekali lebih besar dari pada rasa sayang kepada siapapun di dunia ini. Betul sekali, rasa sayang berlebihan yang menimbulkan keegoisan dan kesombongan hati ini, mengendap lekat hingga alam bawah sadarku, hingga lama-lama tak mampu dikikis, hingga lama-lama sengaja dibiarkan mengerak tanpa disertai inisiatif akan sebuah perlawanan. Dengan ini, mungkin kau menangkap satu hal, bahwa terlalu sulit bagiku untuk merasakan sebuah rasa sayang kepada orang lain. Jika aku sayang, aku akan menyayanginya dengan sepenuh hati, dengan tak perlu bermodalkan nyali, dengan tak perlu dekat-dekat mengamati, dengan tak perlu meminta mereka menyayangiku kembali. Sekali saja aku mengunyah rasa sayang itu, aku akan mengulumnya dengan hati-hati. Dengan tanpa kekerasan meniupnya hingga menggembung menyerupai gelembung karet yang tampak tipis, tetapi kuat dan nyaris sulit untuk melenyap. Aku tak akan membuangnya, seperti sisa permen karet yang kutempelkan ke dalam saku celanaku, menyimpannya dengan cara jorok, tetapi aku tidak akan pernah kehilangannya, kecuali aku berniat untuk membersihkannya.

Namun, semakin tua umurku di dunia, semakin aku menyadari bahwa perwujudan rasa jatuh sayang yang aku lakukan terlalu berlebihan. Mungkin sebaiknya aku tidak perlu mengalami jatuh sayang. Mungkin lebih baik aku memeriksa ratusan kali alamat di mana aku menjatuhkan sayang. Mungkin aku tidak seharusnya memilih satu atau dua orang untuk dijatuhi sayang karena mereka tidak akan mampu menerima atau merasakan rasa sayangku yang sewarna angin, semanis air, dan seharum melati yang gugur. 

Aku pernah memiliki satu alamat yang kukira tepat untuk kukirimi salam. Pemiliknya bukan orang yang biasanya dapat aku dekati. Dia bukan orang yang dapat kujangkau, tapi entah mengapa dia membiarkanku berupaya menjangkaunya. Menyodorkan diri, tapi tak sudi membiarkan jemariku untuk sekedar menyentuh bayangannya. Bukankah ini hal yang tidak dapat kau mengerti dengan akal sehat, maupun akal sakit? Aku pun demikian. Aku tidak mengerti dan tidak memiliki keinginan untuk mengerti. Aku hanya ingin menjatuhkan sayangku. Aku hanya ingin menyentuh bayanganmu. Aku hanya ingin mencoba memaksakan diri hingga tetes terakhir keringatku dapat mengucur. Namun, lagi-lagi aku tersadar dengan cara yang tidak lembut sama sekali. Sebuah tamparan panas dan cepat dihadiahkan oleh waktu, disaksikan oleh pembukti takdir Tuhan, untukku yang terlalu sibuk berkelana dalam dunia tanpa udara, hanya untukku yang tak bisa membedakan antara rasa sayang dan obsesi yang terencana.

Aku sebaiknya menceramahi diriku sendiri dengan materi butir-butir hukum Tuhan dan alam. Tidak untuk waktu cepat, tidak untuk waktu yang lambat, tidak untuk tidak dilakukan.

Monday, 25 May 2015

Hidungnya seperti patah dua kali. Kulitnya coklat sawo matang khas pribumi. Rambutnya hitam dan selalu kusut meski dibawa ke salon berkali-kali. Badannya tidak semampai, selisih tinggi kami hanya beberapa senti. Dia tak banyak berdalih, tak banyak kata, tapi seringkali beraksi sembunyi-sembunyi. Dia lucu sekali, tapi tak banyak orang yang mengerti. Dia bersedia menaiki tangga merepotkan, ketika orang lain melarikan diri dengan kerepotan. Dia terus dan terus belajar banyak, ketika yang lain hanya pandai berkacak. Dia pemalu, tapi tak pernah mau menyerahkan malu. Dia kuat dengan caranya. Dia istimewa. Seseorang yang baru saja kutemukan raganya, tanpa tahu bagaimana jiwa dan hatinya. Aku tak berani berprasangka bahwa dia adalah Aji yang kucari. Dia hanya seorang Aji.

Friday, 22 May 2015

Kau Hilang

  3  2  3
Syalala...
  3 23 43
Syalalala...
   3  2  3
Syalala...
 13 3 2 343
Syalala Syalalala...
  3  2  3
Syalala...
  3 23 43
Syalalala...
   3  2  3
Syalala...
 13 3 2 343
Syalala Syalalala...

Di bawah langit abu-abu
Kulihat pesawatmu melaju
Perlahan terlahap awan
Kau hilang dan jantungku berdebar

Kau hilang

Sang pagi menggantikan malam
Dan risauku tak kunjung menghilang
Kususuri segaris jejak awan
Kau hilang dan mungkin tak akan pulang

Kau hilang

Haruskah kutunggu kau pulang
Haruskah kususul kau ke bulan
Haruskah kutanya gemintang
Haruskah kupercaya kau 'kan datang








Wednesday, 22 April 2015

Bagaimana rasanya?
Mencintai hal yang tak layak dicintai?
Bagaimana cara menghindar?
Dari rasa terjebak, akan rindu kepada seorang narapidana yang seumur hidupnya divonis hukuman tak termaafkan?
Apakah cinta yang buta adalah sebuah dosa?

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...