Sunday, 26 January 2014

Kata Mereka (Ketika Masih Maba)

Keegoisan
Menyelami danaunya sendiri
Menyampahinya dengan tinggi hati
Cerca tak menyadarkannya
Bahkan tangis hanya sebuah fatamorgana
Bukan!
Bukan fatamorgana tapi sandiwara
Aktor tunggal
Sandiwara bercabang yang dibuat-buat
Bagus sekali aku menyebut diri?
Haha

Kata Mama saya manja dan bebehan.
Kata Romo saya sangat bebehan dan boros.
Kata Leli saya pelit.
Kata Tiara saya lemot.
Kata Widya saya ya saya.
Kata Astin saya teman yang langka (kapan gole ngomong ya? Pokoknya itu kesimpulanku, he).
Kata Ayu saya ciwek dan basah.
Kata Rizky saya baik dan welcome terhadap wajah baru.
Kata Dinda, "Yakinlah!"
Kata mba Nia saya konyol.
Kata Jodi saya aneh.
Kata Solie saya wagu.
Kata Gilda saya bingungan.
Kata Wari saya mutungan.
Kata Aris saya cepat marah, ;p.
Kata Wahyu saya keras.
Kata Iam saya gabungan antara humoris dan melankolis.
Kata Alfi saya ceria dan plin plan.
Kata Dede saya pasrah.
Kata Timo saya harus lebih menghargai orang.
Kata Ririn saya cocok jadi author fic gaje.
Kata mba Iie saya pengertian.
Kata "dia" saya saya apa ya? Blablabla Writer?
Kata temennya dia blog saya isinya cerpen.
Kata Ivah saya ceria dan misterius.
Kata Tami saya...saya...?
Kata Anti, "maaf ya, An, aku ngga tahu"
Kata Kuni (idem sama Anti)
Kata mba Hani, "maba maba!"
Kata mba Ria, "Semangat!"
Kata Dewi saya adalah Bu Sutradara.
Kata Martyn, "Aku ngertine nomormu thok!"
Kata Nopi saya cengeng dan selalu berubah-ubah.
Kata Hari saya tidak cocok dipanggil mba.
Kata Amel saya wagu dan melankolis.
Kata ex-- saya seperti mbah-mbah.
Kata beberapa adek kelas saya unik.
Kata beberapa kakak senior, "Youth! Maba!"
Kata Fajar saya misterius dan selalu update status dan nulis di catatan.
Kata Erni saya memang teman basah yang unik.

Kata Kyu kata sya,ani itu org yg..mm,,
emosional,
mdah tBwa emosi,
panikan,
mgkn kdg ska menyalahkan dri sndiri,
kdg ga 'on',
sptY tdk bsa mBgi konsentrasi,
bhasaY tLalu tinggi,
mmg basah sii,hahay..
sptY jg gmpg kBwa pKtaan orla,
ksimpulanY,sptY bgtu (apaY?)..hahay,,
n yg tPntg kata saya adl,"an,sya laper.."

Kata Dila ani itu cocok banget jadi penulis.... *serius g boong
Kata Delisa "kamu orang nya baaaiiiiikkk sekali, jago gambar dan sabar"
Kata Rizky Berli, " Ani memg welcome kok,bnran dah. Anda trmasuk org2 yang pertama welcome mg aku. Kan maune ak r due kanca *emge ski due kanca y?haha*, ak kan tkg curhat ttg th*ee mg kw, kw mnanggapi keluhnku dg sbar bak cust.serv..."

Kata Jeaneria, "Aku setuju sama dhilla"
Kata Iam lagi, "sanguinis ani..."
Kata Erni lagi, " Selalu bkim senyum nek baca ctetanmu an.."

Kata siapa lagi ya???

Hn, kata saya, saya belum menemukan saya itu sosok yang bagaimana. Yang jelas saya moody dan memaksa.

Katamu?

Depok, 17 September 2010

*tapi itu dulu, sekarang apa kata mereka sudah banyak yang berubah*

Rencana Imajinatif (1)

Sepertinya ini adalah catatan ke-2 atau ke-3 milikku yang berjudul "Rencana". Aku memang orang yang sangat susah mengambil keputusan tak terkecuali memutuskan setiap judul catatanku. Alhasil, aku tak pernah ingat judul dari catatan-catatanku yang pernah published. *ngga penting banget sepertinya? (memang!)*

Begini...
Aku menargetkan telah membeli benda itu
Jauh hari sebelum menuju kampung
Sebuah marchandise bertali
Sehingga kau bisa mengikatkannya pada leher jika mau
Aku bersungguh-sungguh ingin membawakan segumpal tanah merah
Supaya kau tahu bahwa aku menginjaknya tiap minggu

Mengenai benda itu, aku ingin menggantungkannya di pohon yang bersandar kokoh di ruang kerjamu
Di mana kacamata pun ikut bergelantungan di dahannya
Aku sangat yakin kau akan mengingatku melalui benda itu

Namun, aku masih tidak tahu benda apa itu
Bahkan memori kita tak mengenal cendera mata
Hanya kontak dan komunikasi yang menjadi syarat sebuah interaksi

Aku meracau setiap bertemu kawan
Meracau tentang kau
Aku tidak tahu apakah kau ingat betul pernah menggila bersamaku
Namun, aku ingin kau tahu aku gila karena kau

Lihat?
Betapa kalimatku kini hancur
Mungkin kau punya andil atas gejala disleksia kalimat ini
Muskil!
Kau selalu menyingkir

Aku punya target
Memberimu sebuah benda tentang kota baruku, saat libur musim dingin berakhir
Awal tahun yang aku kira akan menyenangkan, semoga benar-benar menyenangkan
Kau harus ingat yang mana dahanmu
Aku akan menggantungkan benda itu di dahan yang sama dengan saat dulu kau meletakkan sarang burung woodpecker

Jangan pecahkan rencanaku
Aku punya sesuatu
Kau harus ingat dahan itu
Kau harus ingat tanda dariku

Awas!


"Rof" the Dumb Friend Valentine "sumin" Five

Depok, 17 November 2010

Curhatan Ketika Maba

Aku ingin bercerita. Waktu di sini begitu suka berlari. Atau aku yang terlalu lambat hingga terseok-seok seperti seorang suster ngesot. Tunggu! Suster ngesot bukan orang ya? Berarti apa? Sehantu suster ngesot? Ngomong-ngomong kalau menyebut hantu yang berjumlah satu apa yah? Sebuah, bukan benda. Sekuntum, tambah ngawur. Sehantu? Ah persetan dengan jabatan para hantu-hantu abstrak yang tidak jelas kebenaran dan keberadaannya itu.
 
Jadi kembali lagi ke topik bahasan awal, waktu. Aku pernah menulis soal ini. Dan ingin lagi. Empat bulan di sini, di Depok, di tanah yang tanahnya berwarna merah seperti tanah kuburan, aku sudah merasa seperti di rumah. Meskipun kadang sebal dan kaget sampai guling-guling (hiperbola) saat mendengar petir-petirnya yang kerasnya tiga kali petir Kebumen (pengukuran dilakukan dengan alat ukur perasaan dan pendengaran), aku sudah kerasan. Namun, satu hal yang masih membuatku bisa menangis tersedu-sedu hingga nyakar-nyakar tembok: "Aku belum mampu menaklukan waktu". 
 
Aku sudah bilang, waktu di mataku, sangat suka berlari. Pernah suatu hari aku tertidur, perasaan baru setengah jam. Tahu-tahu, alarm jam 8 pagi udah berbunyi aja. Padahal waktu itu, rencananya aku mau berangkat latihan MB di gymnasium pukul 8. Oke, kalo soal ini mungkin memang murni kecerobohan, kemalasan, kepikunan, dan kekeboan diriku. Aku ngaku.
 
Entah aku yang bodoh dalam menghitung menit, atau aku memang kurang menghargai waktu, aku merasa porsi jam pelajaran biologi di SMA yang durasinya 2x45 menit jauh lebih lama dibandingkan porsi jam mata kuliah biologi yang dipatok 2x50 menit per minggu. Sepertinya, semua ini bersumber dari satu sebab, aku belum terlalu mengenal hidupku saat ini dan mampu beradaptasi. Parah? Memang! 
 
Setiap hari Jumat dan Minggu, aku berlatih MB (marching band) di gymnasium atau pusgiwa. Aku datang pukul 4 sore, apel dan pemanasan 10 menit, lalu mulai latihan dengan alat masing-masing. Skip! Skip! Skip! Perasaan baru setengah jam latihan, tapi ternyata, waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, waktunya istirahat shalat maghrib. Jika dihitung-hitung, aku latihan selama 110 menit. Bagaimana mungkin, 110 menit bisa terpotong menjadi 30 menit? Aneh lah aku!
 
Manajemen waktu yang masih sangat amat sangat sangat buruk sekali, untuk seseorang yang sudah bisa dibilang sebagai mahasiswa. Lalu, bagaimana cara menanggulangi hal ini? Aku membuat semacam jadwal imajiner. Aku mematok waktu untuk setiap kegiatanku. Jika dilanggar, baik oleh aku maupun orang lain, maka aku atau orang lain itu akan mendapat hukuman. Sadis. Hukumannya bermacam-macam, tapi kebanyakan lebih ke sanksi sosial (wahahaha, kesannya kok menakutkan ya??). Biasanya, aku akan marah-marah sendiri, jika jadwal-jadwal imajinerku terlanggar, atau cemberut yang menimbulkan sebuah ekspresi bingung tiada terkira dim mata orang. 
 
Sudahkah berhasil? Lumayan, sedikit sedikit berfungsi. Namun, tiba-tiba ada satu hal yang memporak porandakan jadwal itu. Apa? Sesuatu yang abstrak, sangat abstrak karena tidak terlihat, tidak terdengar tapi terasa. Mungkin aku butuh metode lain, agar aku lebih mampu berpacu dengan waktu sehingga hidupku bisa harmonis. Disiplin!!! Dan dewasalah membagi waktu. Perbaharui skala prioritas dan jangan memikirkan "hal yang tidak-tidak", setidaknyan itulah pesan Mama sejak aku SD yang selalu aku ingat sampai sekarang. Haik! Haik! Haik! Semangat! 
 
 
With a spoonfull of Love for  everyone on the earth, Amarilis said, "Ganbatte ne, mina san!"

Depok, 4 Desember 2010

Tentang Bullying di Zaman SMA

Bisa bertahankah kau di sana, bisa bertahankah, sayang...
Coba bertahanlah,bertahanlah kau di sana...
Coba bertahanlah,sayang...
Semangat mencercaku,sedang berkobar!
Bagi yang mau baca,disarankan jangan! Anda akan bingung!
Wassalam



Terlahir di dunia disambut gelap gulita subuh hari, rasanya cukup bangga rasanya pada diriku sendiri. Orang-orang dulu bilang, "seorang bayi yang lahir di kala langit gelap menjelang subuh, di saat kabut malam menyelimuti bumi, pasti dia adalah orang yang besar, karena mempunyai keberanian tinggi... Baik dalam hal dunia maupun dunia lain."

Memang terlalu umum, dan terlalu luas makna kata-kata tersebut. Tidak khusus lah!!
Toh, aku bangga! Aku tumbuh besar di kalangan orang-orang pedesaan. Orang-orang yang solid,tapi kurang mempunyai keberanian untuk membuat terobosan. Namun, aku terlampau percaya pada mitos orang-orang dulu itu yang diceritakan oleh kakek dan nenekku. Kuanggap diriku sendiri seorang yang pemberani. Kuanggap diriku tak takut pada apa pun, kecuali bapak n ibuQ. Intinya sok-sokan lah...
Aku pun mulai membuat terobosan. Kuikuti jejak sepupuku yang meneruskan pendidikan di smp 1,lalu k sma 1. Kata orang itu sekolah bergengsi.
Masih dengan segunung keberanian, kudatangi 2 sekolah itu (dulu) hampir seorang diri (sebab,keberadaan teman tak terlalu membantuku,aku hampir ditinggalkan sendiri,dan sendiri kusiapkan diriku menggapai mimpiku...). Dengan banyak harapan tergantung...aku menjajal mencicipi aroma kedua sekolah itu.
Selepas smp keberanianku menyusut jadi sebukit, dan di sma ini dia bertanformasi mengubah dirinya menjadi sebesar kerikil foraminifera.
Ironi!!!
Seiring waktu dia terus mengecil, hingga aku takut jangan-jangan dia akan jadi sebesar sel amoeba.
Aku terus coba kembangkan sayap, berharap kerikil itu dapat mengembang pula setidaknya jadi pualam kelam yang lebih kokoh...
Sedikit demi sedikit, kembalilah dia, sekarang dia sebesar batu apung lalu di bulan ke6, sebesar karang coral...
Aku sudah optimis, keberanianku akan menggunung lagi!!
Tapi, kenyataannya bulan ke6 itu bagaikan klimaks dari metamorfose-nya. Dan bulan ke 7 hingga 12 adalah anti klimaksnya.
Sekarang bulan ke12,aku merasa keberanianku hanya sebesar sebutir padi...
Dia dan mereka telah mengikis, memarut-marutnya hingga sebesar itu. Hebat! Sungguh hebat!! Salut aku!
.
Aku mengutuki orang-orang yang memanggilku anikita willy!!!

Kebumen, 22 Juni 2009

Sepi

Tetes-tetes air mataku jatuh untuk kalian...
Di tengah kesepian yang menikam akal sehatku...
Aku teringat kalian...
Teringat dosaku pada kalian...
Teringat tabiat burukku yang tak termaafkan...
Teringat getir senyumku yang penuh paksa untuk kalian...
Tapi tak sedikit pun aku teringat keceriaan bersama kalian...
Hal ini membuatku semakin sepi...
Mungkin sejuta kunang-kunang pun tak mampu menerangi...
Sound system dan alat-alat musik orkestra sepenuh gedung opera australia pun tak mampu meramaikan...
Aku sepi...
Sungguh sepi... Dan lebay...
Ani, sendiri menanti...

Kebumen, 28 Juni 2009

YA AMPUN!!!
Dari dulu emang cengeng gitu ya gue????

Kumat!
Sepi yang berlebihan,
Kesendirian yang menyakitkan,
Menerbangkan akal sehat,
Mengendapkan kerak hampa.

Ceria diusung nestapa,
Jenaka disapu paksa,
Dan aku telah lupa cara tertawa...
Aku... Hilang perasaan...

Kebumen, 4 Oktober 2009

Percakapan Lama :)

Status Anifatun Mu'asyaroh:
terlalu lelah selalu kalah. Aku harus bangkit!!!
Semangat,An! Ganbatte ne!
4 Juni 2009
· Batal Suka · 7 Komentar · Bagikan · Hapus

Si Kawan Bisu
Apa mau kalah terus??gak kan??smagat mba ani!!
hehehe
Suka · Hapus · 4 Juni 2009

Anifatun Mu'asyaroh
Hwaha,
terharu aq...
AkhrN kau bsa ngmg dgn bnr jg,b0ng...
Suka · Sunting · 4 Juni 2009

Si Kawan Bisu
Kwe ngmge wis bner esh bang bong bae..genahe ya mbe.....curang
Suka · Hapus · 4 Juni 2009

Anifatun Mu'asyaroh
Haha,ok lah ***...
ADIK kelas yang nylelek...suksess ya!!
Lh dng status ddi wall c lah...
Suka · Hapus · 4 Juni 2009

(Ini pas zaman masih alay)

Saturday, 25 January 2014

Edensor dan Si Kawan Bisu

Dulu. Dulu sekali, saat kelas XI - XII SMA. Ketika itu, gue suka sekali dengan segala hal yang berhubungan dengan tetralogi Laskar Pelangi. Mungkin salah satu faktor yang membuat gue suka adalah karena ada orang lain juga yang suka dan gue lumayan sering memperbincangkan LP ini dengannya. Sebutlah dia Cebong. Cebong ini seorang adik kelas ketika SMA dan salah satu dari tiga adik kelas cowok yang gue kenal ketika SMA (dua yang lain adalah teman main masa kecil dan tinggal satu desa dengan gue). Bisa jadi, gue juga satu-satunya kakak kelas yang dia kenal ketika SMA.

Oke, singkat cerita gue dan Cebong sering berbalas komentar status atau wall to wall di Facebook. Nah, ketika terkuak bahwa kami berdua sama-sama suka tetralogi LP, tetiba kami berdua jadi sok-sokan menggunakan bahasa Melayu ala Belitong seperti yang digunakan dalam keseharian tokoh-tokoh LP.

Ketika itu, gue masih sangat alay dan mungkin hingga sekarang pun masih tersisa, ke-alay-an itu, hehe. Uhn, ke-alay-an itu terwujud dalam tulisan. Contoh: aq jg tau k0k, tp kykN g perlu dsebarn jg sh! (asal ketik). Alhasil, komentar gue pun terlihat semakin geje. Sudah bahasanya campuran (Bahasa Indonesia, Melayu gadungan dan ngapak), tulisannya awut-awutan, huruf-hurufnya alay lagi. Bikin pusing!

Berbeda dengan si Cebong ini. Dia tak pernah alay sama sekali. Mungkin terkadang masih menyingkat kata sih, tapi ya hanya itu. Contoh cara menulis dia: Uwis arep ujian, mbe (panggilan dia ke gue, dulu)! Sing rajin sinaune! Aja OL bae!

Nah, berkat dia dan sahabat gue Tiara lah, gue tersadarkan untuk tidak menyingkat kata dan menggunakan huruf kapital sembarangan di luar aturan EYD.

Kembali lagi ke judul. Edensor merupakan seri ke-3 dari tetralogi LP ini. Ketika SMA, gue suka sekali membaca banyatj novel, tapi tidak pernah membeli satu pun novel. Begitu pula dengan Edensor ini. Padahal, gue sudah terlanjur sangat suka dengan buku ini. Dan jika gue sudah suka terhadap sesuatu, gue akan berulang-ulang membacanya, melihatnya atau mendengarkannya, kapan pun setiap kali gue memang ingin melakukannya. Nah! Masalahnya, Edensor ini hanya buku pinjaman dan gue tidak mungkin dapat membeli buku ini ketika itu. Alhasil gue pun memikirkan sebuah cara dan...

Gue akhirnya memutuskan untuk membaca isi satu buku itu, dari awal sampai akhir; dari mozaik 1 sampai 43; dari ujung halaman pembuka hingga ujung halaman penutup; dan merekamnya dengan handphone Nokia 3110C gue. Seluruhnya gue baca dan rekam, tanpa terlewat satu kata pun.

Ini, gue baru saja membuka-buka file lama. Ternyata file-file rekaman Edensor itu masih ada. Ketika gue melihat file properties rekaman-rekaman itu, dapat diketahui bahwa ternyata gue menyelesaikannya dalam lima hari, yaitu dari Kamis-Senin, 23 - 27 April 2009. Konsekuensinya, gue hanya dapat mengerjakan PR di pagi hari, beberapa jam sebelum berangkat sekolah, karena waktu gue hanya gue curahkan untuk membaca ulang buku itu dan merekamnya, setiap harinya. Wkwk. Gila! File-nya lengkap. Ada 43 file rekaman suara berformat .amr dan dijuduli dengan judul yang sama dengan yang ada di tiap mozaik di bukunya. Dari "mozaik 1: Lelaki Zenit dan Nadir" hingga "mozaik 43: Turnbull". Tanpa berpikir panjang, langsung saja, gue copy paste satu folder rekaman Edensor itu ke memori eksternal handphone gue. Hahaha. Semacam mengabadikan memori manis (?) ketika SMA. Konyol deh kalau diingat-ingat, haha.

Nah, lebih konyol lagi, setelah selesai rekaman itu gue langsung pamer ke Cebong via Mxit, kalau gue sudah membaca dan merekam satu buku Edensor. Sontak dia terheran-heran. Dia hanya merespon, "Gila ya mbe? Diwaca dewek? Direkam? Kober temen? Nggo ngapa jel? Hahaha." Dan gue pun hanya membalas asal, tidak bisa menjawab atau memberi alasan tepat.

Hahaha. Gemblung.

Selain direkam, gue juga suka mengutip paragraf-paragraf atau kalimat-kalimat yang ada di dalam buku itu dan gue tuliskan ke dalam notes FB. Mungkin, ini yang membuat seorang teman bilang bahwa terkadang cara menulis dan hasil tulisan gue mirip seperti gaya tulisan Andrea Hirata, yang hiperbolik dan berputar-putar. Dia tersugesti oleh kutipan-kutipan dari tulisan Andrea Hirata yang gue share di note Fb.

Wohoo. Oh iya, salah satu note bertanggal 28 Juni 2009 yang berisi kutipan beberapa kalimat di buku Edensor, juga dikomentari oleh Cebong, "Rajine..wis ngrekam mbrang dicateti maning..jyan jyan" pada tanggal 2 Juli 2009. Ketika itu gue merasa senang karena merasa diingat oleh seseorang. Huahaha.

Oke. Mengapa gue melibatkan Cebong di dalam tulisan ini? Alasannya adalah karena dia termasuk ke dalam "10 orang paling berpengaruh dalam hidup gue". Dia adalah satu dari tiga orang pertama yang mengomentari note FB gue. Dia adalah satu-satunya orang yang membaca bio FB gue dan memastikan maknanya ke gue, "I wanna be a w*****. Writer?" Dia adalah satu-satunya orang yang (bisa jadi) tulus dan tanpa basa-basi dalam mendukung gue untuk menulis dengan gaya gue sendiri, meskipun satu-satunya alasan yang membuatnya berkata demikian adalah "Tulisanmu apik". Dia, yang dulu, adalah satu-satunya orang yang mengomentari status gue dengan kata-kata yang membuat gue kembali mengingat indahnya ketetapan-Nya. Dia, secara kebetulan, merupakan orang pertama yang nge-chat di FB ketika dompet kecil berisi handphone, flashdisk, modem, atm, kabel data, dan tiket sesuatu gue hilang. Dia adalah orang pertama yang mengingatkan gue untuk selalu mem-back up file-file penting ke mana-mana ketika gue menghilangkan file tugas kuliah gue, meskipun tentu saja itu merupakan respon basa-basi ketika nge-chat. Dia adalah orang yang membuat gue tertarik dengan fotografi dan akhirnya menabung untuk membeli kamera saku yang terjangkau.

Wahahaha... Uyeah akhirnya malah curhat!

Uhn, dia adalah sosok teman yang sangat berguna dan peduli, si Cebong ini. Pasca dia memulai studi Kedokterannya, dia jadi jarang bermain FB. Chatting-an pun hanya 1-3 bulan sekali, lama-lama 4-6 bulan sekali, lama-lama hanya 12 bulan sekali yaitu setiap lebaran untuk saling meminta maaf, dan lama-lama tidak pernah sama sekali. :)

Hingga saat ini, meski gue sudah tidak berteman lagi di FB, gue masih menganggap si Cebong ini sebagai salah satu teman di dunia maya yang paling peduli dan pandai menghibur gue, meski itu dulu. Teman yang tidak biasa karena belum pernah gue ajak berbicara dengan bersuara, karena kami belum pernah berjumpa selain berpapasan, karena kami berbeda angkatan. Dia adalah teman yang akan gue identifikasi dengan label: Memori Tetralogi Laskar Pelangi, Adik Kelas yang Sepertinya Banyak Temannya, Bocah Berkacamata di Tiang Voli, Si Pemilik Kamera Nikon, Si Kaskuser, Si Kakak yang Sayang Adik Perempuannya, Si Penyuka Kucing, Si Humoris, Si Dia yang Namanya Sama dengan Kakak-kakaknya, Si Dia yang Galau Antara Teknik Sipil dan FKIK, dan Si Kawan Bisu karena komunikasi pertemanan biasa ini tidak pernah terjalin secara verbal atau bersuara.

Hahai. Apa kabar Cebong? :')

Friday, 24 January 2014

Dedeknya (1)

Ini adalah dedek Ardi. Dia anak kedua mba Saroh, penjaga kos Wisma Yellow Orchid, tempat gue kos sekarang. Bocah ini lucuuu banget. Umurnya baru 2 tahun 6 bulan, tapi aktifnya minta ampun. Lebih cocok disebut hyperactive sih karena sama sekali tidak bisa diam...

(bersambung)

Monday, 20 January 2014

Betapaaa...

Betapa gue merindukan mereka.
Betapa gue ingin mendengar suaranya.
Betapa gue ingin cinta ini tersampaikan setiap saat.
Bersama mereka kurasakan manis, masam, hambar dan pahitnya cinta, cita dan cerita.
Betapa aku menggantungkan cinta pada mereka dan dirinya.
Betapa aku ingin mewujudkan cita demi mereka dan dengan dirinya.
Betapa aku melewati banyak cerita dalam perjalananku bersama mereka dan semoga untuk selanjutnya bersama dirinya.

Tuesday, 7 January 2014

Seorang Adik Kelas (2)

Panggil saja ia Abe. Gue pertama kali melihatnya pada sebuah Mei. Gue tidak terlalu mengenalnya sebetulnya, tetapi gue sangat mengagumi kepandaiannya. Berdasarkan data hasil kepoan gue, Abe memiliki jejak akademis yang sangat bagus yang konsisten hingga sekarang...

...dan tiba-tiba gue bingung mau menuliskan apa lagi tentangnya.

Mungkin sudahi sampai di sini saja. Gue terlalu tidak mampu membacanya, si Abe bergolongan darah AB ini.

Tetap semangat! Gue dapat melihat gerbang cerah mulai terbuka lebar dan mungkin menantikan kebergabungannya. Gue yakin ia akan menjadi salah satu manusia berpengaruh bagi kampung halaman kita, Kebumen.

*masih bingung, kenapa menuliskan ini*

Monday, 6 January 2014

Hnn...

Gue tidak tahu, apakah ini akan tergolong sebagai tindakan yang tidak pantas dilakukan atau bukan, menuliskan hal-hal yang berasal dari pikiran, imajinasi dan keinginan gue sendiri, bak tipikal seorang individualis bermasalah, yang seolah-olah ingin tak terlihat tetapi sembari mencari perhatian. Berkaca dan menimbang semua yang telah terjadi selama hampir dua puluh dua tahun hidup gue ini, gue akan lebih menegakkan "batas" ini, menjadi semakin tinggi dan tebal, untuk mengingatkan gue sendiri bahwa setiap orang memiliki privasi. Agar gue tidak melangkah-melompati batas itu seenaknya sendiri; agar gue dapat tegas terhadap batas gue sendiri dalam arti lebih selektif menaruh kepercayaan dan materi yang akan dipercayakan; agar gue lebih pandai membedakan antara yang baik dan batil. Oleh karena itu, gue akan mulai membatasi tulisan yang menyangkut orang lain dan privasinya.

Mari gue mulai (lagi), hidup gue yang muatannya hanya tentang gue, tetapi tujuan utamanya tetaplah untuk menegakkan kebaikan, kebahagiaan dan kepentingan umum.

Oke, tulisan di bawah ini bersifat sangat random dan tidak memiliki korelasi yang baik dengan paragraf pertama. Ini tentang gue, yang akhirnya nekad untuk menceritakan tentang "sesuatu" ini untuk pertama kalinya kepada lo, bloggie. Tentang apa? Tentang ini...

Keinginan Mengasuh Anak
Di saat kebanyakan gadis beranjak wanita seumuran gue mulai memunculkan kegalauannya untuk menikah, gue justru ingin mengasuh anak. Ini bukan berarti gue tidak mengalami kegalauan menikah itu. Gue memiliki target menikah di tahun 2016 bahkan. Namun, keinginan untuk mengasuh seorang anak dari ia masih gelap indra penglihatannya; hingga mampu mengenali gue sebagai salah satu orang yang ikut campur dalam membesarkannya; dan menyaksikannya dalam proses menguasai kemampuan berbahasa, bereksperimen dan berkesimpulan serta menghasilkan karya untuk orang lain adalah keinginan terbesar kedua gue. Gue tidak mampu menyebutkan alasan pasti terkait motivasi keinginan gue yang satu ini. Namun, gue merasa mengasuh anak merupakan hal paling menyenangkan yang pernah gue lakukan di hidup gue.

Lo tahu bagaimana rasanya mengurus seorang bayi? Lelah! Bahkan saat gue hanya melihat rutinitas perawatan bayi yang dilakukan oleh Mom ketika adik-adik gue kecil, gue sudah lelah. Namun, hal itu yang membuat keinginan gue membesar. Gue ingin merasakan apa yang dirasakan Mom, mulai dari merawat, menangani tingkah dadakan, mengajari berjalan dan berbicara dengan nyanyian, membantunya menemukan minat, memilihkan nutrisi yang tepat, memilihkan alat musik yang akan dimainkannya, menuntunnya cara melafalkan alfabet dan hijaiyah, memilihkan kain untuk seragam dan kostum karnavalnya, dan segalanya.

Gue tidak pernah bilang membesarkan dan mengasuh anak itu gampang dan gue pun tidak akan bilang hal itu sulit. Gue tidak ingin memaksakan target 2016 gue betul-betul tercapai. Namun, target gue mengasuh anak, insyaAllah akan gue wujudkan segera setelah gue mampu dan kewajiban gue terhadap keluarga gue sendiri (Mom, Dad, Yaya, Ais) terpenuhi.

Mengenai "asal-usul" si anak, gue mengutamakan ia yang berasal dari keluarga gue, baik dari sisi ingkang romo maupun ingkang biyung, yang dalam kondisi tertentu ia "membutuhkan campur tangan orang lain". Namun, jika ternyata anak pertama itu adalah anak gue sendiri, gue akan sangat berbahagia.

Yaa Rabb, kukuhkan dan ridhoilah niat hamba-Mu ini. Aamiin.

Keinginan Menaikkan Haji Mom (Mama) dan Dad (Romo)
InsyaAllah, jika tidak ada halangan, mereka akan berangkat haji pada tahun 2019. Aamiin. Mereka telah mendaftarkan diri, mengantre sembari menabung. Nah, hal yang dapat gue lakukan untuk saat ini adalah mengamini rencana tersebut sembari mendoakan kemudahan mencari rezeki bagi keduanya. Namun, tahun depan, insyaAllah gue akan mulai turut serta menimbun untuk keberangkatan mereka. Aamiin.

Yaa Rabb, panjangkanlah umur hamba dan terangkanlah jalan hamba di masa depan dalam mewujudkan cita-cita ini. Aamiin.

Ia
Gue tidak tahu apakah cukup diperbolehkan mengutarakan harapan tentang ini. Namun, gue akan bersikeras untuk menuliskannya di sini, saat ini. Sedari kecil, gue sangat ingin diimami oleh Dad. Namun, kesempatan itu sangat jarang sekali. Hal ini membuat gue menempatkan "seorang imam" sebagai harapan pertama gue akan sifat calon imam gue suatu saat nanti karena menurut gue sifat seseorang dapat dilihat dari ibadah (shalat) nya. Seorang imam ini, akan mengajak dan mengingatkan orang-orang di sisinya tanpa terkecuali, bukan justru berangkat sendiri. Ia juga mempersilahkan, mau melangkah ke depan atau juga menggantikan. Menjadi seorang imam betul-betul sudah sangat so sweet dan lebih dari cukup untuk dijadikan seorang imam dalam keluarga. Wohoo...

Selain itu, seorang yang setia, komitmen, cerdas ucapan, penyabar, pandai dalam menjaga dan memanfaatkan kepandaiannya, juga terampil menanggapi diskusi dalam keseriusan tetapi jenaka adalah karakteristik pendukung lain. Secara sifat itulah harapan-harapan gue akan ia...

Huaow!!! Kenapa arahnya jadi ke sini??? Ya sudahlah, selamat pagi!!!

Saturday, 4 January 2014

Yeay!!!!! Again!!! High Score!!!

www.pou.me I just played and scored 6619 points in the Memory game in #Pou! Beat that! @PouAlien

Huoh!!!! 6619 dalam kondisi mata kriyip-kriyip, tapi tidak bisa tertidur...keren lah. Hohoho.

Yeay!!! High score lagi!!!

www.pou.me I just played and scored 6147 points in the Memory game in #Pou! Beat that! @PouAlien

Friday, 3 January 2014

Bertanya-tanya

Gue tidak tahu apa namanya ini. Sebuah perasaan bertanya-tanya ketika dalam sebuah forum membahas topik, yang sebelumnya sudah pernah gue coba bicarakan, tapi terabaikan. Namun, ketika hari H semakin mendekat, barulah topik yang mungkin urgent itu diangkat kembali oleh orang berbeda dan dibahas betulan.  Jadi, ada dua hal yang membuat saya bertanya-tanya: 1) Apakah ada kecenderungan menerima opini, dilihat  dari siapa yang beropini?; 2) Apakah sudah menjadi tradisi dalam bermasyarakat, berpikir dan bergerak taktis di saat mulai terdesak, meskipun akan berdampak pada pelaksanaan dan pencapaian hasil yang bisa jadi akan biasa-biasa saja atau kurang memuaskan?

Oke. Hal seperti ini tidak dengan sengaja gue alamatkan ke forum tertentu, tapi (lagi-lagi) cenderung kepada diri gue sendiri. Oleh karena itu, untuk menyusun hipotesis dari pertanyaan gue itu, gue akan menggunakan diri gue sendiri sebagai sampel. Gue, bisa dibilang memiliki dua sisi.
1. Sisi pemalas menangani suatu hal ketika hal tersebut hanya menyangkut kepentingan diri gue sendiri atau dengan kata lain suatu urusan pribadi. Gue akan memaksimalkan waktu yang tersedia untuk merampungkannya, tidak terlalu berlomba dalam hal kecepatan atau ketepatan. Mengapa? Karena gue berpikir satu-satunya orang yang berkepentingan, bertanggung jawab penuh, dan mungkin nantinya akan menjadi korban hanyalah diri gue sendiri. Jadi, gue akan cenderung menjadi deadliner dan tidak terlalu membicarakan progress suatu hal tersebut. Gue selow berlebihan, jika menyangkut kepentingan pribadi.
2. Sisi antusias dan panik berlebihan ketika mengerjakan suatu hal, yang menyangkut banyak orang, baik dalam pelaksanaannya maupun penerapan hasilnya. Mengapa? Karena di sini gue harus turut bertanggung jawab untuk orang banyak, untuk tim, untuk sasaran, untuk semua pihak terkait. Gue pun akan berusaha dengan baik untuk mewujudkan hasil yang tidak mengecewakan. Akhirnya, gue cenderung tampak asyik, tapi pusing dalam mengerjakan hal yang menyangkut orang banyak ini hingga terkadang lupa dengan urusan pribadi, bahkan untuk sekadar makan atau mandi. Namun, gue justru terlihat terlampau eksis hingga semacam pencitraan di mata orang lain. Yep, kurang lebih inilah gue yang sering dilihat oleh banyak orang dan mulai tahun ini gue tidak peduli lagi, jika mereka berpikir demikian lagi. Allah Mahatahu, bagaimana niat tujuan dan isi otak-hati gue. Yeay!!!

Nah, sisi gue yang kedua lah, yang bisa jadi membuat sebagian orang bingung menanggapi opini gue. Mungkin mereka berpikir, "Panikan amat sih? Selow aja kenapa?" Hal ini membuat gue sedikit ter-"kacangkan" dan jika sudah demikian pada akhirnya gue menjadi bingung jika akan beropini lagi. Oke, sebetulnya ini hanya teori gue, hanya dengan memperkirakan.

Haduh, jadi melantur. Kembali lagi ke topik awal. Berdasarkae teori random dan analisis sok tahu yang sederhana, gue dapat menarik dua hipotesis. Pertanyaan pertama, mungkin sedikit terjawab oleh teori gue di atas, bahwa kecenderungan menanggapi seseorang bergantung pada bagaimana sifat dan watak perilaku sesungguhnya orang tersebut di dunia nyata.
Pertanyaan kedua, bisa jadi akan terjawab dengan jawaban klasik "Deadliner atau bukannya seseorang, ini dikembalikan ke dalam diri mereka masing-masing."

Pada akhirnya, semua ini saya pertanyakan dan saya jawab sendiri. AHAHAI.

My Fantastic New Year

A bestfriend said (?) to me. "Aku ga suka sama orang yang suka beralasan. Kamu udah nemu hidupmu belum sih? (Belum) Kelihatan kok! Pantesan suka cari perhatian! Kasihan! Kasihan sama diri sendiri? Atau pengen dikasihani sama orang lain? Ckckck. Kasihan! Kalau ada hal yang kamu rasa kamu belum bisa lakukan, nggak usah dicerita-ceritain. Simpan sendiri aja! Kayak kemarin pakai bilang bakal lulus terakhir segala. Kalau mau pesimis ga usah diomong-omongin. Terus kayak semalam, kamu ngomongin X di belakang, itu maksudnya apa? Aku nggak terima. Dia temenku loh. Aku ga suka kamu njelek-njelekin temenku. Kalau mau ngomongin orang ngaca dulu. Aku juga ga suka kalau ada orang yang ngomongin kamu di belakang, kamu juga katanya ga suka ngomongin orang di belakang, eh kamu malah ngomongin orang di belakang. Ngaca! Aku takut kamu berubah jadi kayak gitu. Aku yakin kamu juga pasti pernah ngomongin aku di belakang kan? Aku tahu kok. Aku sebenernya lagi sebel sama kamu beberapa hari terakhir ini. (Aku ngerasa kok) Nah itu ngerasa. (Ya udah aku yang salah. Nanti aku minta maaf juga ke X. Tapi aku kira itu bukan njelek-njelekin X. Aku cuma bilang dia sedikit sensitif dan aku jadi merasa bersalah karena dulu aku pernah membuat dia marah satu kali pas kelas 7). Aku ga terima, dia temenku. Kamu kalau mikir negatif simpan sendiri aja! (hening) Kamu ga mau keluar dari kamarku? (kurang lebih seperti itu yang dia sampaikan, dengan urutan dan isi yang berdasarkan ingatan saya, dengan penghalusan di beberapa kata)"

This bestfriend really care about me. I was touched. I love her very much. But it was kinda scary conversation. I couldn't endure my tears. And I couldn't say any word. Everything she'd said about me was right, maybe and I have to change those bad things. I must stop this cowardness. I must think and speak something positive. I must be the better Ani!!! 

That was the most memorable New Year in my life. She's really my bestfriend, the first friend who show me my bad, loudly, directly. I wish she didn't hate me in the future. I wish she helped me to change. I wish she didn't think that I am only a girl with so much excuses. I'm just an ordinary girl. Superordinary, but not pitiful one. :')

Ganbatte Ani!!!

Yeay!!! I made it!

www.pou.me I just played and scored 5927 points in the Memory game in #Pou! Beat that! @PouAlien

Wednesday, 1 January 2014

Saturday, 28 December 2013

Hari Terakhir Ngasdos BI

Gue sedang mengawasi Ujian Akhir Semester mata kuliah Biostat Intermediet untuk S2, yang PJMA-nya Pak Besral (PA gue juga) sekarang. Tak terasa, satu semester berlalu begitu cepat. Sudah satu semester gue mengasisteni PA gue sendiri dan ini akan segera berakhir.

Hoah!
Awalnya, gue mengira semester ini akan keren karena gue berkesempatan bertemu PA gue setiap minggunya. Namun, dasar coward deh ya, gue ini, bukannya makin deket, makin lama gue malah makin ngumpet setiap ketemu beliau. Hahaha *ketawa miris*. Oke, let it flow... Semester depan gue harus maksimal dan tidak takut menemui beliau. Ganbatte! Hai!!!

Meskipun ini hari terakhir ngasdos BI, tetapi gue berharap, ini bukan kesempatan terakhir gue menjadi asdos. Semoga semester depan gue masih bisa pegang 1 kelas. Kenapa? Ini membuat gue kembali mengingat materi lampau. Gue menikmati kembali belajar dengan gratis dan pastinya informasi yang didapat juga bertambah. Ada banyak hal yang baru yang gue dapat. Gue suka. Hahai.

Yeah, gue sedikit bosan dalam mengawasi kali ini. So, gue nge-blog dengan sangat random seperti ini. Ehehe. :p

Friday, 27 December 2013

Simfoni Empat Musim (1)

Ini malam yang sempurna. Besok adalah awal liburan musim dingin dan aku sudah menyusun segunung rencana yang akan kulakukan untuk menghabiskannya. Aku sudah tidak sabar menanti datangnya esok pagi. Mataku sampai-sampai tak mau terpejam. Keduanya menerawang ke langit-langit kamar, samar-samar membayangkan apa saja yang akan aku lakukan besok. Siluet abu-abu dan putih menari-nari di atas hamparan pasir yang tersapu ombak kemilau.

Aku sendirian di rumah saat ini. Mom, Dad, Cedric, dan Naomi tengah menginap di rumah bibi Serena, yang baru saja melahirkan anak laki-laki ketiganya. Mereka tidak curiga kepadaku, ketika aku menolak untuk ikut bersama mereka dengan alasan lutut kiriku, yang dioperasi tahun lalu, sedang sedikit bermasalah. Tentu saja aku mengarangnya karena sebetulnya, selepas operasi itu, kakiku sama sekali tidak pernah sakit lagi. Aku terpaksa berbohong kepada mereka karena hanya itulah satu-satunya cara agar aku dapat bermain dengan tenang.

"Anabeth! Hey, apa kau di rumah?"

'Siapa?' Sepertinya aku tidak mengundang siapa pun untuk datang ke pesta di kebun belakang. Tunggu, sepertinya aku tidak sedang mengadakan sebuah pesta. Aneh. Siapa dia? Aku seperti mengenali suaranya, jika saja tanpa serak.

"Hey! Anabeth! Aku tahu kau di rumah. Tadi sore aku melihat semua keluargamu pergi dengan van coklat milik ayahmu. Pasti mereka akan pergi ke rumah bibi Serena, paling tidak untuk tiga hari. Dan aku yakin pasti kau telah berbohong kepada mereka dengan berkata lututmu bermasalah agar kau diperbolehkan untuk tidak ikut, bukan?" teriak suara yang berasal dari pintu samping itu.

'Sial! Itu pasti Justin!' Bagaimana mungkin aku tidak mengenali suaranya. Ada apa dengan suaranya? Aku harus segera membungkamnya sebelum Mrs. Ross menyadari makna teriakan Justin dan melaporkannya kepada Dad.

"Hey, Beth! Lama sekali, apa kau tak takut kalau Mr. Ross..."

Ckrkk. Suara pintu yang kubuka berhasil membuatnya diam.

"Apa kau tidak bisa sedetik saja membuat mulutmu diam, Just? Sepertinya lain kali aku harus menyumpalnya dengan kaus kaki Naomi. Kau tahu akibatnya, jika Mrs. Ross tahu dan melaporkannya kepada Dad. Aku tidak main-main dengan perkataanku saat itu. Mengerti???" jawabku sewot. Aku sangat sebal dengan sifat kekanak-kanakannya. Tahun ini dia sudah 14 tahun, tapi tingkahnya masih sama seperti lima tahun lalu, ketika kami pertama berkenalan. Kuduga kekanak-kanakkanya inilah yang membuatnya tak pernah sekali pun disukai seorang gadis di sekolah. Ini membuatnya tampak begitu menyebalkan sekaligus memperihatinkan. Oke, aku mulai melantur.

Justin tak begitu mendengarkanku. Sesekali dia menguap lebar dan menggaruk-garuk kaki kirinya --yang kutebak tidak gatal sama sekali-- dengan kaki yang lain. Dia memang selalu seperti itu, sangat kekanak-kanakkan. "Yes, Ma'am! Sudah selesai pidatonya, ibu negara?" lagi-lagi dia mengucapkannya. Dia memang selalu menjawabku dengan kata-kata itu, yang pada akhirnya hanya akan kujawab dengan mengangkat bahu atau memutar bola mataku. Aku mempersilahkannya masuk atau lebih tepatnya dia mendorongku ke samping pintu sehingga dia dapat melompat masuk dengan gerakan yang tidak terlihat lucu sama sekali.

"Hey, dengar! Kau sudah besar bocah! Dan ada apa dengan suaramu? Kau bukan bocah lagi sepertinya? Uhn?" entah kenapa tiba-tiba mewujudkan kekesalanku menjadi kenyataan.

Dia terbelalak dan berhenti melompat-lompat. Satu, dua, tiga detik dan dia pun tertawa terbahak-bahak, "Buahahaha... Tentu saja aku bukan bocah lagi. Menurutmu siapa yang lebih bocah di sini? Aku atau kau, bocah?" jawabnya sambil tertawa mengejek sembari membanggakan suaranya yang kini memang terdengar lebih berat dibandingkan dua bulan lalu.

Aku dapat merasakan panas merayapi pipiku. Memang untuk beberapa hal, aku lebih kekanak-kanakkan daripada dia, jadi... "Tentu saja kau yang lebih bocah karena aku satu tahun lebih tua darimu, bocah!'

"Sepuluh bulan, dua puluh lima hari tepatnya! Itu belum genap satu tahun, Beth!" jawabnya meralat kalkulasiku.

"Yeah, tapi itu sudah beda tahun lahir. Itu sama saja," tentu aku tak mau mengalah.

"Tentu, saja berbeda, Beth. Lagipula, bukankah kita berada di kelas yang sama? Wah! Apa ini artinya? Jika bukan karena aku yang terlalu pintar, pasti karena kau begitu bodoh. Apa kau pernah mengulang kelasmu satu tahun, Beth? Hahahaha..."

"STOP, Justin! Kau mulai mengusik topik ini lagi. Aku tidak suka, INGAT?!! Bertingkahlah sesuai umurmu, Just!" akhirnya emosiku meledak. Sekarang aku yakin, aku dapat membuatnya merasa bersalah karena sekarang dia menundukkan kepalanya. Mungkin saja sekarang matanya berkaca-kaca atau malah mungkin sudah mulai basah? Tiba-tiba, seolah-olah muncul suatu energi dari dalam diriku yang menonjok perasaanku. Apa aku sudah keterlaluan padanya?

Aku mendekatinya, merendahkan tubuhku agar dapat sedikit mengintip wajahnya dan tiba-tiba, "Bahh!!! Yes, ma'am? Ada yang bisa saya bantu?" Dia melompat ke depan, ke arahku, membuatku terkaget dan terjengkang ke belakang. Tentu saja dia hanya tertawa terguling-guling di sofa menyaksikan posisi dan ekspresi wajahku yang tengah memancarkan aura marah, cemas dan terkejut. 'Sial! Aku menyesal mengkhawatirkanmu, Just!'

"Ya! Ada! Tinggalkan aku sendiri, kecuali kau ada urusan denganku atau memberiku sesuatu yang baru!" jawabku akhirnya, begitu acak. Namun, sepertinya, ini berhasil membungkamnya. Kulihat ekspresi wajahnya berubah. Dia sudah berhenti tertawa dan mengalihkan segala fokus perhatiannya pada tangannya yang tengah mengorek-orek satu per satu saku-saku celana longgarnya.

"Aha! Aku punya ini, Beth!" sebuah benda tiga dimensi, berbentuk persegi panjang, tetiba muncul di depan mataku. Aku tak cepat mengenali benda itu. Terlebih karena benda ini terpoles warna silver jernih, dia memantulkan cahaya yang masuk melalui ventilasi pintu kamar Cedric. Silau dan aku membutuhkan setidaknya lima detik untuk mengenalinya dengan baik.

"HARMONIKA!?" teriakku seketika. Kurebut benda itu. Kuputar-putar sembari mengamati setiap detailnya. Aku selalu tertarik dengan setiap alat musik yang dibawanya, begitu pula dengan harmonika ini. Ini pertama kalinya aku melihat dan menyentuh harmonika dengan indraku sendiri. Dia tampak begitu kaku, mengkilat dan misterius.

"Kau suka, Beth?" tanya Justin memotong aktivitasku yang tengah terbengong-bengong mengamati sebuah benda mungil di genggamanku.

"Lumayan," jawabku singkat. Tentu saja aku sangat menyukainya. Aku sangat menyukai setiap benda-benda yang bersuara, bahkan jika benda itu hanyalah atap teras belakang, yang bersuara ketika diterpa reruntuhan hujan, atau teko teh Mom, yang bersiul setiap pagi. Aku sangat menyukai mereka, meskipun Dad sangat tidak suka ketika aku bilang aku menyukai musik.

Aku mengalihkan pandanganku kepada Justin ingin sekali aku mengatakan terima kasih. Aku tidak ingin membuatnya besar kepala dan mungkin yeah, aku terlalu gengsi untuk mengapresiasi seseorang yang lebih muda dariku. Apalagi jika orang itu adalah Justin.

"Sama-sama," kata Justin tiba-tiba.

"Apa? Aku tidak mengatakan apa-apa," protesku.

"Yeah, tapi matamu mengatakan segalanya, Beth!" jawabnya dengan cekikikan.

"Oke, baiklah. Terima kasih, Just!!!" ucapku datar, akhirnya, masih tanpa memandangnya. Seluruh perhatianku seolah kucurahkan untuk benda di tanganku ini.

"Oke, tak usah memaksakan. Ayo mulai rekaman!" katanya sambil mengeluarkan alat perekam.

"Ehh? Jadi, ini bukan untukku?" jawabku, pura-pura kaget.

Entah mengapa justru Justin yang sepertinya menampakkan keterkejutan. Alisnya mengendur, air mukanya menampakkan kesalahtingkahan. "Apa kau sangat mengingkannya, Beth? Maaf aku tak bisa memberikanmu yang ini juga. Aku hanya, yeah... kau tahu, kan? Menerima apa yang diberikan oleh Papa... dan tentu saja meminta tolong darimu untuk memainkannya... dan aku merekamnya... dan menunjukkannya ke Papa ketika dia pulang... dan... "

"Hahaha, iya, boy! Aku hanya beranda, tentu saja! Aku juga tidak mungkin menyimpannya untukku, di rumah ini. Jika Dad menemukannya, bisa berbahaya. Kena kau, Just!" kataku. Geli sekali melihatnya bertingkah lucu seperti itu.

Terkadang aku penasaran, mengapa hidup kami seperti tertukar.

Papa Justin adalah seorang komposer dan pemain musik, dengan spesialisasinya adalah piano. Beliau juga mengajar musik di sebuah universitas di Australia, kalau aku tidak salah ingat. Selain itu, beliau adalah pendiri Four Seasons Orchestra yang pada setiap tahunnya rutin, mengadakan pertunjukan tengah musim, di empat negara berbeda. Papanya mengingkan atau lebih tepatnya menganggap Justin memiliki bakat yang sama dengannya. Namun, ternyata bakat itu tidak diwariskan secara genetik kepada Justin karena dia sama sekali tidak mampu memainkan alat musik apa pun, bahkan untuk sekedar membunyikan solmisasi dengan benar pun dia tidak bisa. Inilah yang membuatnya memintaku untuk memainkan alat-alat musik yang diberikan oleh papanya untuk direkam dan dikirimkan ke papanya.

Lalu bagaimana denganku? Yeah, aku bukan seperti August Rush yang begitu jenius dan dapat membuat dan mengaransemen tanpa sekolah musik, yang dapat memainkan setiap alat musik meski baru pertama kali kujumpai atau menerka nada dengan baik sejak aku masih balita. Aku hanya gadis biasa yang memiliki ketertarikan diam-diam yang luar biasa terhadap musik, tetapi aku memiliki seorang Dad yang sangat tidak menyukai musik bahkan untuk sekadar mengucapkan do-re-mi di depannya saja, aku tak berani. Aku tidak tahu pasti alasan Dad begitu membenci musik dan aku tidak berani menanyakannya. Saat aku dan Cedric seusia Naomi, kami tidak pernah bernyanyi bersama Dad. Dad pasti akan pergi melenyap tanpa jejak ketika salah satu dari kami mulai bernyanyi. Naomi baru berusia 4 tahun. Dia masih belum mengerti dan dia selalu bahagia bernyanyi hanya bersamaku, Cedric atau Mom.

Semenjak kepindahan kami ke sini, tujuh tahun lalu, aku berteman akrab dengan Justin. Dari sinilah aku mengenal dan mencintai musik. Justin begitu mengetahui musik, tapi tidak dengan memainkannya. Dia pandai sekali mengulang apa yang diajarkan papanya, tapi tidak mampu mengaplikasikannya. Alhasil, dia "menggunakanku" selama tiga tahun terakhir untuk memainkan alat-alat musik yang dimilikinya. Aku begitu menikmati "pemintaan bantuannya" dan dia pun begitu menikmati "menggunakanku".

"Beth, terkadang aku penasaran, mengapa hidup kita seperti tertukar," katanya tiba-tiba.

"Hey, kita sudah terlalu sering mengatakannya. Ayo ke "sana"! Aku sudah tidak sabar untuk mencoba memainkan harmonika ini. Ini alat musik tiup pertama yang kau perlihatkan kepadaku, Just," jawabku sembari menuntunnya ke sebuah tempat.

*****
(bersambung)

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...