Friday, 13 July 2012

B3 2012

Entahlah, ada perasaan lega... ada perasaan kurang rela. Mereka pergi dengan segera, di saat gue masih ngerasa belum ngasih apa-apa ke mereka. Gue pun enggak tahu apakah mereka sudah cukup puas bersama kami selama ini. Namun, dari raut wajah mereka yang superpolos, ikhlas dan tulus itu, gue bisa menyimpulkan bahwa mereka tidak pernah berbohong dengan apa yang mereka bilang. Dan mereka bilang, "Terima kasih, mbak-mbak, mas-mas." Tak terbendung kebahagiaan gue. Meskipun gue enggak pernah ngajar mereka, meskipun mereka seperti haus kasih dan pengajaran, mereka tetap bisa tersenyum dan bilang terima kasih kepada gue, bahkan salah satu di antara mereka memberikan sebuah bross lucu berbentuk bunga dan berwarna hijau tua. Gue enggak ngerti lagi.... Gue terharu, meskipun gue enggak bisa nangis karena memang beginilah gue yang selalu... datar.


Foto di atas diambil saat mereka mau pergi ke Setu Babakan. Gue juga ikut, tapi gua yang ngambil fotonya. Cantik-cantik ya? Sayang cuma 12 orang doang yang ikut. Sisanya mager, belajar atau tidur-tiduran. Anak-anak cowoknya malah baru pada kasti. Pada nggak ikut deh mereka.
























































Tuesday, 12 June 2012

:(

Serius! Hati yang gelisah itu memang nggak pernah tanpa alasan melakukannya. Ya Allah, ya Rabb... Tuhanku Pengatur Semesta Alam Yang Mahakeren... Tak mampu lagi saya mengeluh lebih dalam. Tak mampu lagi saya meringkuk memeluk lutut dalam keremangan kamar. Saya tak berani berkata-kata...

Mohon ampun saya karena saya tak juga pernah mengerti arti nikmat dan teguran-Mu. Mohon ampun sayaaa...

Wednesday, 25 April 2012

Maaf, Mama...

Gue sudah hafal dengan ekspresi dan tekanan batin seperti ini. Gue seperti seorang udang ribon yang benar-benar nggak yakin otakku berada di tempat yang benar dan digunakan untuk memikirkan sesuatu yang benar-benar benar. Gue seperti becak yang tak bisa mengejar kelajuan shin kan zen, apalagi pesawat jet Rusia.

Gue masih nggak ngerti, seberapa besar pun gue berusaha gue masih nggak bisa menjadi orang yang keren di bidang ini. Gue sering sekali melakukan hal yang sangat melenceng 180 derajat dari apa yang seharusnya gue perbuat. Gue seperti orang yang nggak visi lalu dengan sok melaksanakan misi-misi sesuka hati. Apa yang harus gue lakukan? Gue nggak siap membuat keluarga-keluarga gue di kampung sedih dan kecewa.

Apa yang harus saya lakukan, ya Allah? Saya benar-benar hilang ide dan kejernihan pikiran. Saya benar-benar ingin menangis karena lagi-lagi berada di mulult gua penuh kegelapan. Apakah saya akan berakhir dengan segala sesuatu yang biasa-biasa saja? Apakah saya akan selamanya menjadi pesuruh yang bahagia asalkan diupah diingat oleh sang majikan?

Gue nggak ngerti, kenapa gue tertarik nulis kalau lagi nggak jelas begini doang. Gue nggak ngertiiiiiii....

Gue seperti keong yang lambat, berlendir dan menghama tanaman.

Gue makin nggak berani untuk berteman dengan orang hebat, takut mereka menyesal lalu hilang perlahan, dengan  meninggalkan jejak kenangan yang menggantung di ujung kaki bulan.

Huwaaaa... Mama, maafkan anakmu ini. Anakmu yang selalu merepotkan dan nggak begitu pintar. Maaf, ya, Ma.... Maaf banget. Nggak tahu lagi harus ngomong apa. Cuma bisa diam di tanah sepian di tepian malang tanpa tanda bertemu dengan daratan... Maaf, Ma... :(

Thursday, 12 April 2012

Kangen!

Gue kangen padanya hingga pengen nangis. Gue nggak ngerti lagi, kenapa gue payah begini, hehe.
Tiba-tiba aja kangen pada percakapan yang amat jarang sekali itu. Tiba-tiba kangen pada topik percakapan yang tidak pernah jelas itu.

Emang nggak ada yang jelas dari gue dan segala hal yang berhubungan dengan gue. Sudah sekian banyak manusia yang mengatakan bahwa gue sangat tidak jelas. Namun, gue tetap enjoy aja dengan ketidakjelasan gue itu, hehe. Payah emang gue.

Begitu pun dengan kangen gue yang satu ini. Kangen yang tanpa dasar dan alasan yang jelas. Perasaan gue benar-benar seperti lirik lagunya Monita. Bedanya, mungkin si Monita itu pernah berjumpa dengan orang yang dipikirkannya itu. Sedangkan gue? Puas dengan hanya melihat tas punggung coklatnya atau kilatan kacamatanya dari kejauhan. Huaaaah...

Sebenarnya, gue yakin dia tahu kalau gue begini. Kalau gue sering memperbincangkannya mungkin. Kalau gue terlalu berharap lebih dan kalau gue itu kepo terhadapnya.

Mama pernah bilang, secuek-cueknya kaum mereka, mereka bakal nyadar kalau sedang di-kepo-in atau diberi perhatian lebih. Nah gue? Gue udah ketahuan berkali-kali malah. Namun, kenapa dia tetap nggak memberikan tanda-tanda bahwa dia tahu?

Gue yakin, gue pasti ketahuan pas gue mengetikkan nama gue dan nama dia di gemintang.com;

Gue yakin, gue pasti ketahuan memperbincangkan dia dan kekasihnya di catatan FB gue yang berjudul Kopi, di mana gue menggambarkan kelakuannya di suatu siang dari hasil gue nggak sengaja memperhatikannya;

Gue yakin, dia merasa kalau gue nge-kepo-in.
Gue bikin akun twitter karena gue nggak sengaja ke profilnya dan ngeklik profil twitternya, kemudian bertekad untuk menjadi follower-nya di twitter, berharap menemukan perbincangan yang seperti dulu dapat terwujud lewat twitter.
Gue bikin akun flickr.com saat gue login email karena sebelumnya gue melihat profil dia dan dia juga punya akun fickr sejak SMP.
Gue rajin menulis catatan sejak gue mengenal dia dan sebagian besar pokok isi catatan gue adalah mengenainya dan kawan-kawan gue. Kemudian, terkadang gue berharap dia terpanggil dan tertarik meninggalkan komentar di dalam catatan gue. Atau setidaknya gue ingin dia tahu bahwa gue benar-benar seperti ini karena dia dan untuk bisa dilihat olehnya.
Bisa dibilang gue sering mengomentari status-nya.
Bisa dibilang juga gue sering ngajak chat yang nggak penting, meski sekedar memanggil namanya dan setelah itu bingung saat ditanya "apa?" olehnya.

Gue sedikit yakin kalau dia bisa menangkap isi setiap status gue yang gue tujukan untuk dia. Alhasil, terkadang komentarnya yang mendarat di status gue, berhasil membuat gue megap-megap dan berkeringat dingin karena kaget dengan kedatangannya dan seolah-olah dia mengerti. Dia... jenius kukira, meskipun dia tak pernah memasuki kelas unggulan.

Gue sedikit panik, ketika dia pernah bertanya "kangen?" atau "cemburu?" ke gue saat gue memanggilnya atau bertanya kepadanya tentang hubungannya dengan seseorang seangkatannya.

Terus sekarang gue tetap kangen!
Meski Leli bilang dia nggak ganteng, meski Dila bilang gue cuma suka kacamatanya, meski Tiara pernah sedikit sebal gara-gara gue terlalu memikirkan dan mengharapkannya, meski mereka bilang dia udah punya kekasih, meski dia lebih kaya dari gue, meski dia anak terakhir, meski kita selisih 11, meski dia nun jauh di Jogja sana, meski kisah ini betul-betul seperti pungguk merindukan bulan, meskipun gue ancur dan dia lebih mendingan, meskipun gue sama sekali nggak pernah berjumpa langsung dan menatap matanya, meskipun seperti kesempatan seperti itu tak akan pernah sama sekali untuk datang....gue akan tetap kangen dan kangen mungkin hingga meleleh air mata.

Sungguh! Gue nggak pernah bermaksud mengganggu dia dengan memaksakan perasaan gue atau memaksa dia menghormati perasaan gue karena gue cewek yang mungkin lebih patut untuk dihormati daripada disayangi. Ah! Semakin menulis, semakin gue kangen. Kangen yang tak kan terbayar. Kangen yang akan tetap melambai-lambai tanpa disambut uluran hangat darinya. Gue... Haruskah gue mengaku kepadanya? Mengaku apalagi? Toh, mungkin dia sebenarnya sudah tahu dan sadar. Diamnya, sebenarnya isyarat dia tak ingin tahu dan tak ingin membahasnya. Gue... gue sangat sebal saat dia memanggil kemudian menelantarkan chat gue. Sungguh sangat sedih dan heartbroken. Sayangnya, hal yang demikian amat sangat sering terjadi, huwahahaha...

Ah! Gue males banget UTS TPPD! Gue belum belajar sama sekali karena sibuk menghalau kegalauan dan kangen akut ini. Gue harus bagaimana ini?

Tuesday, 10 April 2012

Shocked!

Terima kasih untuk kawanku yang lupa untuk me-logout  akun FB-nya di handphone gue sehingga gue punya topik buat nulis di blog, haha.

Hai, blog-ku tersayang! Apa kabaaaar? Lama tak jumpa. Terkahir nulis kayaknya pas gue ngasih alamat ini ke Fuzna. Yeah! Entah kenapa gue mempercayakan blog yang limited edition dan isinya curhatan doang ke dia. Semoga ini bukanlah sebuah keputusan yang salah.

Senin, 9 April 2012... Gue sedang masih dilanda kegilaan terhadap dorama Jepang. Liburan tiga hari berturut-turut yang lalu, nggak gue gunakan buat belajar dengan sangat keren. Gue tiduran nggak punya beban di kamar, guling sana guling sini. Nonton film Jepang itu, nonton dorama Jepang ini. Sungguh bagaikan putri malas mandi gue tiga hari kemarin.Stock film dan dorama pun mulai habis. Akhirnya, gue memutuskan untuk mencari sebuah dorama yang berjudul Samurai High School. Kenapa dorama ini yang gue pilih? Yeah, nggak lain nggak bukan karena ada salah satu dari tiga aktor Jepang favorit gue, yaituuu... Jeng jeng!!! Miura Haruma!!! (lagi lupa ingatan terhadap yang namanya Kenichi Matsuyama dan Teppei Koike, hyaha).

Haruma Miura as Kotaro, di sini dia memainkan peran ganda dengan ciamik-nya. Yeah, meskipun peran ganda, tetapi kedua peran tersebut sama-sama bernama Mochizuki Kotaro. Namun, kedua Kotaro ini berasal dari zaman yang berbeda dengan watak dan kepribadian yang berbeda pula, but dalam satu tubuh. Kotaro pertama adalah seorang anak SMA berumur 17 belas tahun yang bisa dibilang bukan seorang pemberani, nggak terlalu pinter, nggak menonjol dan gitu deh pokoknya. Sedangkan Kotaro kedua adalah Kotaro jaman perang era entahlah yang juga berumur 17 tahun, tapiiiiiiiiiiiii... sifatnya pemberani, nggak mau kalahan, tidak menghindari tantangan, suka penasaran dan yang pasti dengan pola pikir dan kebiasaan jaman dulu. Pokoknya mereka berdua ini amat sangat bertolak belakang gitu deh pokoknyaaa....

Ya ampun, Miura itu keren banget memerankan tokoh Double Kotaro yang sangat bertolak belakang ini. Nggak salah emang gue memilihnya jadi salah satu aktor favorit gue. Huahahaha... (kenapa gue yang bangga, ya?)

Hingga hari Selasa 10 April, gue masih aja pengen nyari-nyari dorama jepang yang berhubungan sama Miura masa. Kebetulan gue menyangka kalau FD gue ketinggalan di labkom kemarin sore setelah berlama-lama mantengin youtube  bareng si Dila. Akhirnya, gue berangkat pagi deh hari ini demi memungut FD tersayang itu. Namun, yang terjadi adalaaaah... Saat gue udah berjalan kaki sekitar setengah perjalanan ke halte Kukel, ternyata FD-nya nggak ketinggalan alias bersarang di tas dan terkapar tertirdur dengan hangatnya.
Aish! Nggak papa deh, gue jadi berangkat pagi dan bisa youtube-an lagi sebelum kuliah SIK. hihihihi  (untung aja SIK nggak jadi UTS, :p)

Gara-gara Bloody Monday sih ini, gue jadi kecanduan sama dorama Miura deh. Kalau sama dorama Jepangnya sendiri, gue sih emang udah agak tertarik sejak zaman kapaaan. Meski begitu gue nggak terlalu sering ber-Jepang ria juga sih, hehe.

Ternyata yang terkena dampak Bloody Monday nggak cuman gue aja. Si Dila kawan gue di FKM juga kena imbasnya. Dia ketagihan akut! Hohohoho... Makanya kemarin sore kita ber-youtube ria berdua di labkom hingga petang datang, hihi.

Oh, iya di awal post blog ini, gue kan berucap terima kasih terhadap kawan gue tuh? Sebenernya, isi post ini tadinya akan tentang kawan gue itu tuh. Eh, tapi malah jadi tersesat ke dorama Jepang, hehe.

Dia kawan gue. Kami berkenalan saat SMP dan entah kenapa Allah selalu menyandingkan kami di tempat belajar yang sama sejak saat itu. Nggak cuma sekolahnya, bahkan kelasnya. Nggak cuma kelasnya, bahkan semeja berdua. Nggak berhenti di situ, kami bertemu kembali di universitas yang sama, di jurusan yang sama, bahkan di pemintan yang sama. Dan lagi-lagi kami sekelas dan bermain di komunitas yang sama. Gue kira, gue cukup sangat berjodoh dengan dia. Gue bersyukur memiliki kawan seperti dia di mana memang dialah salah satu kunci hidup gue, yang turut menyimpan sebagian besar rahasia, unek-enek, perasaan dan pemikiran nggak jelas gue.

Gue pernah berkata bahwa gue masih belum punya sahabat dekat, tapi gue nggak bilang kalau gue nggak punya kawan curhat, kan? Yeah, hati, jari, otak, kaki dan mulut gue salalu mencari dia saat gue pengen curhat. Sebenarnya, lama-lama nggak enak juga sama dia karena gue selalu aja mengeluh dan bercerita macam-macam yang sebenarnya nggak terlalu bermasalah besar ke dia. Namun, gimana lagi? Seorang melankolis kayak gue emang sangat sekali memikirkan hal dengan sedetailnya, serumit-rumitnya, bahkan hal sekecil semut pun. Gue takut dia bosan, gue takut lama-lama dia malas menyimak. dan lama-lama gue takut kehilangan dia. Haha...

And then, yesterday...
Gue kemarin sengaja berangkat cepat. Jam sembilan lebih udah mencapai FKM. Rencananya, gue mau download materi SIK di labkom saat itu. Kemudian, waktu abis turun dari bikun gue langsung menuju ke kantin (bukan labkom) karena waktu itu gue kelaparan, hehehe. Nah, di perjalanan ke kantin gue itu, di tengah kelaparan dahsyat itu, gue iseng-iseng membuka FB melalui hp gue yang C5. Dengan santainya gue membuka operamini, mengetikkan facebook.com dan gue shock  saat home-nya terbuka karena ada banyak pesan masuk dan juga banyak permintaan pertemenan. Padahal tadi pagi nggak ada apa-apa, ahaha.

Usut punya usut itu bukan akun gue, tapi punyaaaa.... hehehe

Di detik itu juga, timbul niat nakal gue. Gue buka link pesan dan OH MY GOOD!!! Ada satu kata yang sangat bikin gue shock, dari sebuah nama yang juga gue kenal siapa pemilik nama itu. Hampir nggak bisa napas karena terlalu kaget gue waktu itu! Huahahaha... Pikiran gue pun semakin nakal, maka gue klik lah nama tersebut dan... jeng-jeng-jeng!!!! Seketika nafsu makan gue pun hilang. Gue nggak peduli, meski gue udah nyampai kantin waktu itu, meski gue udah mencapai depan kasir di detik itu, gue berbalik arah dengan ayunan langkah yang nggak bisa dibilang cantik atau gagah menuju ke labkom untuk nge-blog dan mengabadikan kejadian itu di hari Senin, 9 April 2012.

Huahahahaha! Gue nggak bisa berhenti ketawa, gue nggak bisa menyembunyikan perasaan geli bercampur haru, bahagia, senang, kaget, terkejut, shock, nggak habis pikir, geli, lucu, aaaaaah.... pokoknya gitu deh akibat kejadian itu. Gue terharu, kawan gue yang satu ini udah gede, udah beberapa langkah di depan gue terutama dalam hal kematangan dan kedewasaan diri. Gue yang selalu bercerita, mencurahkan segala hal tentang seseorang yang sangat pengen gue temui, seseorang yang selalu bikin gue kangen karena gue nggak pernah bertemu dengannya, merasa malu dan tertohok karena nggak bisa menjaga hati dan rahasia diri gue sendiri. Tidak seperti kawan gue itu yang ternyata diam-diam.....!!! Huahahaha, masih pengen ketawa.... Hihihihi.... Baguslah, kawan. Gue dukung! Dukung dari belakang! Semoga langgeng hingga...lebih lama dari selamanya, sayaaaaaang.... :D

Huah! Udah jam segini, dan gue harus kuliah... Good bye, my bloggie!!! Keep your wonderful life for me! Be patient facing me! Be my secret till never ending time... hihihihi

Tuesday, 3 April 2012

Dua Puluh

Angka yang tak lagi sedikit, dua digit dan diikuti oleh tanggung jawab yang lebih menggigit. Alhamdulillah, terima kasih Tuhan untuk nikmat dan berkah umur yang Kau berikan ke saya. Terima kasih untuk nikmat perasaan mencintai, disayangi, memberi, diberi lebih, dan menanti orang terkasih yang lebih terasa seperti petualangan nan indah dan penuh tantangan. Terima kasih telah Kau hidangkan keluarga nan unik, kawan-kawan nan baik dan orang-orang yang selalu memicu tumbuh lebatnya inspirasi di dalam tempurung kepala saya. Juga terima kasih karena memberi saya kesempatan untuk merasakan cinta yang cukup tidak biasa dan berdurasi panjang, cinta yang seutuhnya abstrak dan penuh harap, cinta yang mungkin sampai kapan pun tak akan tersampaikan.

Meski demikian, ingin saya berucap "terima kasih Tuhan", saya pun akan tetap menunggu hadiah terindah dari-Mu, dia entah siapa yang akan tulang rusuknya akan terlengkapi dengan kehadiran saya. Dia yang mau menerima saya sepenuh jiwa dan raga, sepenuh hati dan oleh cinta. Bismillahirrohmanirrohiim...
My Destiny in Yours, I Believe Your Great Plan for Me.


Galau 20...

Ini istilah baru gue denger di tahun 2012 dari seorang sobat. Gue bener-bener nggak paham definisi istilah ini sebelum dia bilang bahwa kebanyakan cewek yang sudah menginjak umur 20 tahun, dia akan mulai memikirkan tentang jodohnya.

Gue pun seperti terhasut tanpa diberi hasutan. Gue tiba-tiba berpikir tentang calon suami, tentang pernikahan dan lain-lain. Padahal sebelumnya, gue sama sekali nggak pernah memikirkan begituan. Oke! Gue ngaku! Gue sering memikirkan dan berkoar dan mengeluh dan bercerita dan merasa kangen berlebih terhadap seseorang. Namun, hal itu menurut gue bukan semacam keinginan buat married. Saat-saat itu, gue hanya ingin bisa dekat dengannya. Yah, dekat yang tanpa dibuat-buat. Just that! 


Nah yang ini beda nih. Tiba-tiba terpampang jelas angka 2016 di otak gue. Gue tiba-tiba mentransformasikan nominal tersebut menjadi tahun. Lalu gue pun senyum-senyum sendiri karena tiba-tiba lagi gue kepikiran untuk menargetkannya sebagai tahun di mana di salah satu bulan tersebut gue udah punya pendamping. Ingin gue bilang aamiin, baik di dalam hati maupun diucap bibir. Namun, gue sendiri masih nggak yakin. Masih sebatas pengen-pengen. Masih belum memantaskan diri. Masih belum mempersiapkan hati, jiwa dan raga. Maka gue putuskan untuk saat ini dan seterusnya, gue terima aja apa yang namanya  menanti sesuatu yang belum pasti daripada mengejar-ngejar apa yang gue pengenin tapi abis itu kesandung dan keperosok masuk jurang.

Ya ampun, gue hampir nggak percaya gue udah berkepala dua. Tiba-tiba muncul beban tambahan, berupa palu seberat 1000ton berlabel "Ani Harus Buat Mama Romo tersenyum BANGGA". Gue merasa palu ini tiba-tiba berpangkat 1000 saat gue memandang diri gue masih compang-camping sana-sini. Contoh...
-Oke IP udah pasti mau disebutin berapa ratus kali lagi juga nggak bakal berubah angkanya
-Kemampuan berkomunikasi yang masih setara anak SD kelas 3
-Kemampuan memimpin yang masih terbatas hanya untuk orang yang dikenal dan disugestikan tidak lebih keren
-Kemampuan menganalisis setiap hal dan permasalahan yang masih dangkal dan nggak ada perkembangan sejak SD
-Kemampuan mengapresiasi karya orang laing maupun diri sendiri yang masih sangat kurang
-Kemampuan menulis, bermusik, berorganisasi, menggambar, me-lain-lain yang kata orang ada, tapi menurut gue masih hanya sekedar awalan tanpa ada kelanjutan
-Kemampuan gue memperbincangkan keburukan orang lain yang luar biasa tinggi sekali hingga terkadang membuat orang lain sakit hati tak alang kepalang
-Dan lain-lain yang membuat gue masih sangat jauh-jauh sekali dari kebaikan dan keteladanan

Gue sangat ingin berubah. But? I'm still trying! It's really hard. It sometimes make a new problem when I'm trying to be better I am. 


Oh Tuhan... Gue pengen sekali menjadi orang yang bermanfaat tanpa membuat mereka takut. Namun, kalau saat gue berpikir dan diam saja sudah cukup membuat mereka bergidik dan ragu mendekat, akankah mungkin aku bisa berbagi dan bermanfaat bagi mereka?

Hujan semakin tidak bisa diprediksi akhir-akhir ini, begitu pula perasaan dan cara pikir orang lain. Gue mungkin harus lebih kreatif dalam menerka mereka tanpa harus memunculkan ratusan prejudice yang menyertai pikiran-pikiran tersebut.

Gue ini bener-bener 20 tahun nggak sih, ya? Gue masih mikir selayak anak SD gini...


Sunday, 4 March 2012

Rizki Harus Sarapan!

Pagi telah datang. Matahari tampak menebarkan senyum ceria yang membuat hari terlihat makin cerah. Hari ini hari Senin dan jam dinding di rumah Rizki baru menunjukkan pukul 06.25. Namun, Rizki sudah sangat siap untuk berangkat ke sekolah. Ia tengah memakai sepatu sebelah kirinya saat ibu tiba-tiba memanggilnya dari dapur, "Rizki! Di mana kamu, nak? Sarapan dulu sebelum berangkat sekolah!"

Rizki hanya diam. Sebenarnya ia mendengar panggilan ibu, tetapi ia tak suka sarapan pagi yang menurutnya hanya membuang-buang waktu pagi harinya. "Nanti saja di sekolah, Bu. Rizki buru-buru, takut ditinggal sama mas Nurman," teriak Rizki masih sambil meneruskan menalikan sepatunya.

Tanpa Rizki sadari, ibu sudah berada di belakangnya. Rizki pun sedikit terkaget saat menengok ke belakang dan melihat ibu yang sedang berdiri kerepotan dengan dompet dan sebuah kotak bekal besar berbentuk kodok di tangannya. "Kalau begitu, Rizki bawa bekal, ya, nak. Nanti setelah sampai sekolah baru dimakan. Pasti ada waktu kok. Bel tanda masuk kan jam 07.00 sedangkan sekarang masih sangat pagi. Oke, jagoan?" bujuk ibu dengan raut wajah yang tampak sedikit panik karena ini bukanlah pertama kalinya Rizki menolak untuk sarapan.

"Nggak mau, ah, Bu! Rizki kan udah kelas 2 SD. Rizki bukan anak TK yang selalu bawa kotak makan anak-anak ke sekolah. Nanti diketawain sama teman-teman Rizki deh, kan malu. Rizki minta uang saku aja deh!" jawab Rizki sedikit kasar kepada ibu. 

Wajah ibu terlihat semakin sedih, tetapi beliau tahu bahwa anaknya sedikit keras kepala dan bisa ngambek bahkan mogok sekolah jika keinginannya tidak dituruti. Oleh karena itu, ibu pun mengabulkan permintaan Rizki. Diserahkannya selembar uang pecahan lima ribuan kepada Rizki sambil berkata, "Nak, tahu nggak? Perut yang kosong bisa bikin kamu ngantuk, terus susah menerima pelajaran, terus jadi bodoh, nggak bisa ngerjain soal ujian, akhirnya tinggal kelas deh. Rizki mau cita-cita Rizki jadi pilot gagal karena hal sekecil itu?" Ibu betul-betul sudah kehabisan akal, maka beliau pun akhirnya mengeluarkan jurus andalan "menakut-nakuti Rizki dengan ancaman gagal jadi pilot."



Rizki terdiam. Pandangan matanya tertuju ke arah rumah mas Nurman, tetapi wajahnya tampak sedang memikirkan sesuatu dengan serius. Ibu sangat yakin kalau ia sedang memikirkan perkataan beliau dan berharap Rizki akan berubah pikiran. Tiba-tiba, Rizki pun berkata, "Itu mas Nurman! Rizki berangkat dulu, Bu. Assalamu'alaykum!" ucapnya sambil mencium punggung tangan ibu lalu berlari mengejar mas Nurman, tetangganya yang duduk di kelas 5.

Ibu pun berteriak, "Lho? Tentang tinggal kelasnya gimana?" Jelas sekali dari nada bicaranya bahwa ibu sudah sangat bingung dan pasrah.

Rizki pun berhenti berlari. Dari kejauhan dia menjawab pertanyaan ibu, "Rizki kan juara kelas terus, Bu. Nggak bakalan tinggal kelas, deh! Ibu tenang aja. Dadah ibu. Rizki berangkat dulu. Jangan lupa do'ain supaya ujian minggu ini, nilainya 100 semua, hahaha," jawab Rizki dengan nada sedikit sombong. Ibu pun hanya menggeleng-gelengkan kepala. Beliau sudah angkat tangan dalam urusan bujuk-membujuk Rizki untuk sarapan. Padahal sebenarnya, ibu sangat khawatir kalau Rizki jatuh sakit karena jarang sarapan. 

*****
Ujian mata pelajaran Bahasa Inggris kelas 2 sedang berlangsung. Semua siswa tampak berpikir dengan keras dalam mengerjakan setiap soal. Ada yang dahinya berkeringat, ada yang membacanya sambil mengeja, ada yang sesenggukan dan hampir menangis juga ada yang berkeringat dingin sampai mukanya sangat pucat. Siapakah siswa yang memucat itu? Ternyata dia adalah Rizki. 

Sebenarnya soal-soal Bahasa Inggris tersebut tidak terlalu susah bagi Rizki. Namun, entah kenapa ia baru mengerjakan sepertiga dari jumlah soal yang ada, saat bu Lili mengumumkan bahwa waktu yang tersisa tinggal 10 menit. Antara panik dan bingung, Rizki pun memberanikan diri untuk mengangkat tangan.

"Bu Guru," panggil Rizki.

"Iya, Rizki? Ada apa? Eh... Kamu tidak apa-apa? Wajah kamu tampak sangat pucat. Sakit ya?" tanya bu guru Lili sedikit panik. Disentuhnya dahi Rizki dan ternyata suhu badannya tidak normal. Bu Guru pun mengamati Rizki yang tampak menahan sakit dengan posisi tangan yang melingkar ke daerah perut. "Perutnya sakit?" tanya bu Guru yang disusul dengan anggukan lemah dari Rizki.

"Ayo, nak ikut ibu ke rumah sakit! Sepertinya penyakit kamu cukup serius," kata ibu guru. Hal ini membuat teman-teman sekelas Rizki ikut panik dan lupa bahwa mereka sedang mengerjakan ujian. Akhirnya, bu guru menyuruh anak-anak untuk meneruskan mengerjakan ujian dengan diawasi oleh guru piket sedangkan beliau sendiri membawa Rizki ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Rizki pun diperiksa. Dokter menyuruh Rizki berbaring dan memeriksa detak jantung, tekanan darah, warna lidah dan kelopak mata bagian dalamnya. Dokter juga menyuruh Rizki untuk buang air kecil dan memasukkan air seninya ke dalam sebuah botol kecil. Kata dokter, air seni itu akan dibawa di laboratorium untuk diteliti.

Tak lama kemudian, Ibu dan Ayah Rizki datang. Mereka berdua tampak sangat panik. Bu Guru Lili menjelaskan hal yang sedang terjadi kepada ibu dan itu membuat ibu sedih. Tiba-tiba dari dalam ruang pemeriksaan, terdengar teriakan Rizki yang sangat keras. Hal ini membuat ibu, ayah dan bu guru semakin panik dan berlari menghampirinya. 

Ternyata, dokter hendak mengambil contoh darah Rizki untuk diteliti dengan menggunakan jarum suntik. Rizki sangat tidak menyukai jarum apalagi disuntik. Akhirnya, dia pun menangis dan memeluk ibu. 

"Ibu... Ibu... Rizki sakit apa? Kenapa Pak Dokter mengambil darah Rizki? Kalau Rizki kehabisan darah nanti Rizki mati gimana? hiks.." rengek Rizki sambil menangis.

Ibu pun memeluk Rizki dengan lembut lalu berkata, "Rizki, Pak Dokter hanya ingin memeriksa darahnya Rizki biar tahu penyakitnya apa. Pak Dokter menduga kalau Rizki sakit tipus, makanya untuk memastikannya Rizki harus diambil darahnya begitu, nak." 

Rizki berhenti menangis sejenak. Ia pun teringat kejadian tadi pagi saat tak mau sarapan dan kejadian sesudah itu saat membeli makanan di luar kantin sekolah. "Ibu, Ibu... selama ini Rizki sering beli jajan di luar kantin, habis rasanya enak dan harganya murah. Jadi, Rizki kira, Rizki bisa hemat. Huuhu... Rizki nggak mau lagi makan makanan yang bukan masakan ibu. Rizki mau sarapan aja tiap hari. Rizki kapok." kata Rizki.

Ibu pun tersenyum, antara sedih, bahagia dan terharu karena putranya tercinta sudah tidak bandel lagi. Akhirnya, Rizki pun bersedia disuntik. Hasil pemeriksaan pun keluar dua jam kemudian dan menyatakan bahwa Rizki postif terkena tipus. Hal ini mengharuskan Rizki istirahat total selama satu minggu lebih. Akhibatnya, Rizki tidak mengikuti ujian kenaikan tahun ini. 

Namun, untungnya nilai-nilai harian Rizki tidak buruk sehingga Rizki tidak tinggal kelas. Rizki berhasil naik ke kelas 3 dengan nilai yang tidak memuaskan dan hanya menduduki peringkat ke-23. Rizki sangat kecewa dan sedih. 

Mulai saat itu dia bertekad bahwa dia tidak akan malas sarapan lagi dan tidak akan jajan makanan yang tidak sehat dan tidak jelas. Ia pun membuat poster ukuran besar bertuliskan: "Rizki Harus Sarapan!" yang ditempelkan di dalam kamarnya. Ia tidak ingin sakit lagi, tidak ketinggalan pelajaran lagi dan bisa mewuudkan cita-cita sebagai seorang pilot hebat. 

Saturday, 3 March 2012

Cerita Anak-anak?

Ini berawal dari sebuah info yang berasal dari Nurul. Sore tadi, saat Nurul akan mengambil honor ngajarnya di sebuah lembaga bimbel di Kukel, dia menceritakan tentang seorang seniornya di Menwa yang menawarinya untuk menulis cerita anak-anak untuk sebuah proyek apaan gitu. Si Nurul ini entah dengan alasan apa menolak tawaran tersebut dan malah bilang, "Temenku ada yang bisa." Teman yang dimaksud itu ternyata adalah gu.

Maka gue pun kembali terbakar. Gue pengen betul-betul bisa menulis dengan benar-benar menyandang predikat penulis betulan. Gue sih sebenernya sadar diri kalau kemampuan gue masih standar, tapi entah kenapa gue pengen aja. Ahaha.

Gue pun teringat pada salah satu catatan fb gue yang berjudul Dia. Di sana, gue menceritakan tentang sosok wanita, seorang penulis cerita anak-anak yang mempunyai gangguan pada stabilitas emosinya alias temperamen gimana gitu. Nah, hanya satu orang yang mampu membuatnya stabil, membagi inspirasi dan menenangkannya, yaitu suaminya yang sangat baik. Namun sayangnya semua cerita itu masih di kepala gue. Gue belum sempat merampungkan ceitanya. Gue malu jadinyaaa... haha

Nah, berhubung tawaran menulis untuk Nurul itu adalah menulis cerita anak-anak, maka gue pun mulai saat ini pengen berlatih menulis cerita dengan diksi dan kalimat yang sederhana tapi menarik buat anak-anak. Yup! Entah kenapa, apa yang gue tulis seolah-olah akan terjadi di kehidupan nyata gue. Hal yang membedakan adalah gue masih belum menemukan sosok yang betul-betul setia, konsisten untuk mengobarkan semangat dan inspirasi menulis gue. Gue kira ada, tapi kemunculannya seperti komet. Jarang dan agak susah ditebak atau dilihat. Bahkan gue nggak ngerti apakah gue telah memilih orang yang benar karena...yeah, kita nggak saling kenal sama sekali.

Oke!
Sekarang 00.30, tanggal 3 Maret 2012, beberapa hari sebelum gue memulai hidup dengan "dua kepala", gue berharap gue betul-betul bisa menjadi penulis atau setidaknya pengarang cerita betulan.

Jujur, ini agak berat. Tipe tulisan gue adalah deskripsi semi puisi yang agak aneh dibaca, tetapi lumayan apik karena kelebihan tulisan gue adalah dalam penggunaan diksi. Gue pun sadar, dalam hal pengembangan ide, gue masih sangat minus dan masih sekedar berbasis pengalaman, perasaan, penglihatan dan keinginan.

Maka nanti, dalam menulis cerita anak-anak, gue harus bisa mengondisikan diri gue, mengubah sementara diri dan pikiran gue menjadi seolah-olah seorang anak-anak yang polos dan nggak pernah mikir yang berat-berat apalagi rumit seperti gue saat ini.

Seumur-umur, gue belum pernah nulis cerita anak-anak, men... Mampukah gue? Wah! Pasti bisa!!! Beberapa orang bilang karya gue layak dibaca oleh lebih banyak orang kok. Jangan omdo Ani. Bukti dan pertanggungjawaban dari omdo itu sangat susah dan memilukan kalau kau gagal ngasih bukti. Oke????

SEMANGAT TERUS PANTANG MUNDUR!

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...