Ini tentang melukiskan dunia dalam kata; tentang aku dan jejalanan yang akan atau telah aku lewati; tentang Kawan yang lebih berwarna dibandingkan pelangi; tentang ramainya penjelajah ilmu yang selalu haus memecahkan teka-teki; tentang cinta yang tak kan pernah henti meski listrik mati; dan tentang aku yang masih mencari jati diri. Aku menulis... untuk mempertahankan memoriku hidup lama, jauh lebih lama dari aku menempuhi hidup ini.
Sunday, 6 March 2011
Dunia Penuh Koma (5)
Dunia Penuh Koma (4)
Dunia Penuh Koma (3)
Dunia Penuh Koma (2)
Saturday, 5 March 2011
Dunia Penuh Koma (1)
Tuesday, 1 March 2011
Awal Maret
Thursday, 24 February 2011
Galau
Monday, 31 January 2011
Kasus pertama yang ditangani oleh Detective Auriga Amarilis ternyata diberikan oleh adek kelasnya.
Di suatu malam yang lupa suasananya, sang detective memulai rutinitasnya yang menyenangkan dan mengandalkan kelihaian tangan, bukan sulap bukan sihir, melainkan chatting-an. Saat itu sudah pukul sembilan malam lebih, tapi jarinya tak juga lelah menari. Dia melirik kalender meja yang berdiri tegak di atas tv 21 inchi di depannya, dan ditemukannya angka 9 di bulan ke-6. Tahunnya? 2009 lah.
Tiba-tiba si adek kelas mengirimkan pesan. Dia mempertanyakan kepiawaian sang detective memecahkan kasus kriminal maupun non kriminal. Merasa diremehkan sang detective pun marah-marah dan mulai menyombongkan diri dengan menceritakan sedikit keahliannya dengan sedikit bumbu rekayasa. Akhirnya, setelah meyakinkan si adek kelas bahwa dia bisa menjaga kerahasiaan kliennya ("semoga!" dalam hati sang detetive), si adek kelas pun memberanikan diri untuk menceritakan kronologis kejadian. Ini kasus kehilangan. Dialog yang digunakan sesuai dengan kultur asal sang detective.
~oamariliso~
21:57 WIB
Pirman: Wktu tgh mlm, ad 4 org gelar klasa ng lpgn, slh 1na mr x,
Trouble Maker: Pokeran y?? He... Lanjut!
Pirman: Agp aja yg lain a,b,dan c
Pirman: Trz mrka tdur..
Trouble Maker: Trz ilang?
Pirman: Ak iya, ne kwi ora
Pirman: Sat itu, blm tdur, hp mr x jath dr sakuny, nah. . .masi sadar, mr x mgmbil hpny tsb kmudian me2gangny erat2,
Trouble Maker: Then?
Pirman: Tidur...
Trouble Maker: Abz tu ilang???
Pirman: Stlh skian lma,,
Pirman: Grimiss
Pirman: Kn ng lpangan, trz d gugah kon pndah, tpi. . .mr x tidak sadar klu ia tdk me2gang hpnya lg. . .
Pirman: Then si a dan b ngusungi klasa. . .
Trouble Maker: Trz trz?
Pirman: Bar kwi. . . Mr x dan c kmbli tidur, meanwhile, si a dan b pergi golet sega goreng...
Trouble Maker: Hmm... X n c tdr dmn?
Pirman: Ak ra brg kro mreka, tp pd2 ng lpangan. . .
Trouble Maker: Okeh... Trz?
Pirman: Smentara it, ak dan tman2 lain masi asyik pokeran tkan jam stgh 3, ng lapangan,
Trouble Maker: Ah! Berlebit"... Ra pntg kwe, ... Wkwk
Pirman: Hahae, selingan lah
Trouble Maker: Trz? Trz?
Pirman: Saur
Pirman: Nah, bar saur kwi, tmbe kemudan, mr x hapene nandi?!
Pirman:
Pirman: D hubungi g aktip, pdhl btre ful, bar saur glet2 ng lpgn+pngledahan...
Pirman: But, it has no results
Trouble Maker: Hmmm
Pirman: Nah, kbtlan, si A trkenal dg sifat2 buruk n
Pirman: Alias mandan mreman
Trouble Maker: Yo, tp knp km menyangka si B??
Pirman: Ak nyngka si a..
Trouble Maker: Oh. Mki ng duwur m.b hehe...
Pirman: Maybe kwi kasmudte
Trouble Maker: Wah. Tp si C alibinya jg kurang. hehe...
Trouble Maker: Kasmudte ap?
Pirman: Maksudte,
Pirman: Ia ncen, ming mbtiri turu tok
Pirman: N yg mperkuat dugaanku ke mr A, sikapny rada aneh,
Trouble Maker: Gugup? Bingung? Air muka aneh?
Pirman: Tidak, tpi ra kaya biasane,
Pirman:
Pirman: Tek pandeng mandan kepriben,
Trouble Maker: Waw. Tatapanmu mengalihkan dunianya, hegegeg...
Trouble Maker: Hmm... Matanya bicara???
Pirman: Haha, beh tmen,
Pirman: Ia, sptinya dy ber ekspresi palsu
Trouble Maker: Hmm... Klo 2org lain gmn?
Trouble Maker: Maaf jaringan eror... Crta ws tk tampung...
~oamariliso~
Semenjak percakapan tanpa suara itu, sang detective tidak bisa tidur tenang. Dia mulai membangun hipotesis, kapanpun dia bisa berpikir. Namun, hal ini ternyata cukup susah baginya. Dia tidak mengenal keempat orang itu. Hanya dengan mengetahui kronologis kejadian dan opini kliennya, tidak cukup baginya untuk berteori dan menemukan si pelaku. Ini kasus biasa ditemuni, tapi untuk seorang detective baru bin amatir bin baru sekali diberi kasus tanpa menginterogasi korban dan calon tersangka, kasus ini terbilang cukup susah. Lama-lama dia mulai gila. Lalu lupa. Memang si detective ini mempunyai penyakit langka bernama pikun. (langka?)
Hari berlalu. Sang detective pun berjumpa dengan si adek kelas. Dan tiba-tiba dia teringat kasus yang dia lupakan itu. Untuk menutupi kelupaannya, dia sengaja bertanya, "Bagaimana? Udah ketemu? Temenan kae pelakune?"
Si adek kelas pun menjawab dengan cepat,"uwis! ternyata benar! pelakune kae! dia mengakui perbuatanne setelah didesak! akhirre hp-ne mbalik meng sing nduwe. happy ending"
Diam. Sang detective merasa gagal. Why? Dia tak bisa menyelesaikan kasus pertamanya bukan karena apa-apa, tapi karena dia lupa, zzzzzzzzz. Kasus itu terselesaikan dengan sendirinya. Sang detective benar-benar malu, lalu off. Untung si adek kelas atau kliennya, tidak pernah mempermasalahkan kelupaan sang detetive.
What a gaje case with a gaje detective!
Tuesday, 18 January 2011
Untitled (part 2)
RATMI P.O.V. (Point of View)
Aku orang Magelang. Tujuanku hijrah ke ibukota adalah untuk mengais rezeki dan mencari emakku yang hampir dua windu menghilang. Usiaku baru 4 tahun 5 bulan, saat ia pamit mau beli bawang di warung Wak Jarir. Aku ingat pasti, ia memakai daster bunga-bunga berlengan pendek dengan keranjang belanjaan penuh isi dikempit lengan kanannya. Rambutnya yang sepinggang dikucir kuda, tapi tak begitu tinggi. Dan saat kulihat matanya... Matanya sembap. Dan benar-benar dapat kubaca bahwa ada pergulatan besar di batinnya. Ia mencium keningku. Itulah ciuman terakhirnya untukku. Lalu ia pun pergi bersama semilir angin.
Di atas meja kutemukan selembar kertas putih bertulisan. Kertas itu basah. Kuduga oleh air mata emak. Lalu kubaca tulisan dalam surat itu dengan susah payah karena aku baru bisa mengeja.
"Emak mau pergi ke Jakarta. Emak sudah tak tahan dengan sikap bapakmu itu. Emak ingin bebas cari uang sendiri. Jaga dirimu baik-baik!"
Di kali ke-7 aku membacanya, baru aku paham betul makna surat itu. Aku pun diam.Tak menangis, dan tak pernah memanggil namanya hingga kini.
*****
Aku bertemu dengan Radit pertama kali di stasiun Manggarai. Dia begitu mempesona. Aku tahu dia seorang mahasiswa. Dan sejak kecil aku ingin menjadi mahasiswa. Dia duduk lesehan di dekat peron 1, membaca koran tipis yang sedikit kumal. Aku mengira dia adalah orang Jawa Tengah seperti aku. Aku yakin, lebih dari setengah yakin, karena sudah lebih dari 17 tahun aku hidup di antara orang Jawa.
Untuk sejenak tujuanku mencari emak teralihkan oleh dia. Stasiun Manggarai yang tak pernah sepi dari pedagang menjadi saksi, cinta pertamaku bersemi geli. Aku sebenarnya tidak bertemu dengannya. Hanya aku yang memandanginya dari radius 10 meter. Aku tak berani mendekat pastinya karena aku hanya pedagang asongan yang menjajakan tissue.
Namun, sepertinya dia dapat menangkap gerak-gerik anehku. Aku yang pemalu, canggung dan gampang salah tingkah ini sangat mudah menarik perhatian orang. Tiba-tiba, dia memanggilku. Sopan sekali. Hanya mendengar suaranya saja sudah cukup membuat mukaku memerah tomat. Aku diam saja karena bingung. Entah bagaimana caranya dia sudah berdiri di sampingku memandangiku dengan wajah heran. Aku yakin wajahku sangat aneh saat itu. Mulutku masih terkunci. Sebagai pedagang tissue, seharusnya aku menawarkan tissue padanya. Namun, hal yang terjadi adalah sebaliknya.
"Mba, tissue-nya dijual ndak ya, mba?" Lagi-lagi aku merasakan jantungku berdebar hebat. Ah! Bisa kena seragan jantung mendadak ini. Sepertinya tidak lucu jika aku mati berdiri dikarenakan terkena serangan jatuh cinta mendadak di stasiun. Pelan-pelan aku menjawab pertanyaannya, "B..boleh. Eh iyo, Mas. Maksudnya iya dijual, nggih Mas." Aku akhiri dengan senyuman paling konyol yang pernah aku lakukan. Kulihat ekspresi wajahnya yang tiba-tiba berubah menjadi...tersenyum. Apa yang... apa ada yang lucu??? Duh Gusti! Apa tadi aku berbicara jawa??? Pantesan!!! Ratmi...piye to koe iki???
"Oh...orang Jawa to, Mba? Aku juga iki. Asal mana mba?" Kaget. Dia benar-benar berbicara jawa? Lucu.
"Iya, Mas. Asal Magelang. Masnya? Jawa juga? Jawa Tengah? Mana?" tanyaku dengan cepat untuk menutupi suaraku agar tidak terdengar bergetar.
"Aku Kebumen. Yang ngapak-ngapak itu lho!" Kebumen ya? Sepertinya aku pernah ke sana, kapan ya?
"Oh begitu to? Jadi beli tissue, Mas?" Dan aku menyesal mengatakan hal itu. Seharusnya aku bisa memilih topik lain selain "tissue". Aduh, Ratmi!!
"Oh iya! Jadi... Mba...."
"Ratmi!"
"Kulo Radit... Raditya"
Dan hari Minggu, tanggal 9 September 2008 itu menjadi hari terindah dalam hidupku. Setelah seminggu tidak tersenyum dan terlunta-lunta seperti orang hilang di Jakarta, akhirnya aku bisa tersenyum. Kami berdua bercakap-cakap tentang banyak hal hingga aku lupa bahwa aku harus berjualan. Dia bilang dia sangat bosan menunggu kereta sendirian dan sangat bersyukur bertemu denganku. Tidak terasa, jam stasiun menunjukan pukul delapan kurang lima. Keretanya akan datang lima menit lagi. Aku enggan mengucapkan selamat tinggal padanya dan memulai hari kelamku yang biasanya. aku menunduk, berpura-pura merapikan tissue-tissue daganganku dan tiba-tiba...
"Hei, Ratmi! Kamu jualan di sini terus, kan? Bagus deh!" Lalu dia berlalu menuju peron 6 di mana keretanya akan berhenti di sana.
Iya, aku akan di sini menunggu. Siapa tahu kamu ke sini lagi Radit. Hari itu, aku betul-betul lupa tentang diriku yang seperti anak yatim piatu tapi punya ayah dan ibu. Radit...Raditya seperti namanya yang bermakna matahari...mampu menyinari satu sisi gelap hidupku. Terima kasih...
Untitled (part 1)
14 Januari 2011 jam 12:42
Friday, 7 January 2011
Agustus Ke-80
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
Lagu di atas merupakan lagu Amaryllis karya komposer Henri Ghys. Saya memainkannya dengan aplikasi piano pada ponsel saya. Oh iya, mohon...
-
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
“Mau semangka?” “Aku puasa,” jawabnya sekenanya. “Oh, afwan. Nggak pulang, Di?” tanyaku. “Tidak,” jawabnya singkat. “Kenapa...