Sunday, 6 March 2011

Dunia Penuh Koma (3)


Aku cukup ketagihan pada blog itu sejak pertama membukanya. Pemiliknya kukira adalah seorang perempuan. Ini bisa dilihat dari nama penanya yang cantik dan lembut, Aurora Katulistiwa. Blog ini bukan sebuah kumpulan lagu atau not balok dan chord gitar. Blog itu berisi ratusan tulisan panjang, dari fiksi hingga nonfiksi, dari puisi hingga syair sarat isi, dari pengalaman pribadi hingga ide-ide brilian. Aku sendiri sudah membaca sekitar 43 tulisannya. Namun, ada satu hal yang aneh. Tak seorang pun yang mem-follow-nya.

Dia, si Aurora ini adalah salah satu penulis langka. Bukan karena gaya bahasanya yang langka seperti Bapak Sarimin, tapi memang tulisannya spesial dan unik. Sedikit orang yang mempunyai kemampuan menulis seperti dia. Dia, mungkin seorang yang menuntut ilmu di jurusan astronomi atau semacamnya. Tulisannya sarat akan perbintangan dan geografi. Meskipun kebanyakan fiksi, tapi di dalamnya terdapat muatan sains yang dibungkus dalam bahasa yang menyenangkan, mencengangkan dan menginformasi dengan mengesankan. Satu hal yang begitu mencirikan tulisannya adalah “sedikit sekali penggunaan tanda titik di dalamnya”. Alih-alih menggunakan titik, dia lebih suka menggunakan tanda koma dan konjungsi antarkalimat. Hal ini membuat tulisannya dipenuhi hiasan koma, si titik berekor. Itulah mengapa aku menyebutnya “si penulis di dunia penuh koma”.

Aku tak menemukan informasi lain tentang dia di blog itu, selain zodiac dan kota asalnya, Kebumen. Ini sebuah hal yang mengagetkanku. Seseorang yang berasal dari kota kecil --yang baru aku tahu keberadaannya saat masuk UI, mampu membuat karya-karya besar seperti itu. Salah satu tulisannya yang kusuka adalah sebuah cerpen anak-anak berjudul Saat Andromeda Mendekati Spica.

*****
Suatu malam, aku membaca daftar teman penulisnya di sebuah post tua di blog tersebut. Dan kebanyakan teman penulisnya juga orang daerah. Salah duanya adalah Maharani dan Yuridista. Dua orang inilah yang membuatku mengetahui bahwa si Aurora dari jurusan Kesehatan Masyarakat UI. Janganlah kau bertanya bagaimana aku bisa menyimpulkan seperti itu. Ceritanya lebih panjang dari kereta Ekonomi AC jurusan Depok-Manggarai.

Ketiga orang yang masih belum jelas dan belum kukenal ini mengispirasiku untuk membuat sebuah “sayembara menulis fiksi sains dan essay bergengsi” yang boleh diikuti oleh seluruh mahasiswa UI. ‘Pasti bakal seru! Dugaanku, kebanyakan yang ikut mungkin anak daerah,’ pikirku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menghubungi temanku di BEM UI, Hanif dan Finza untuk membantuku dalam publikasi lomba ini. Mengenai hadiahnya, aku merelakan sedikit hadiah yang aku dapat saat mengikuti lomba PKM tahun lalu. Uang itu masih utuh tak tersentuh, jadi bisa kuberikan kepada 3 juara terbaik nantinya.

Sebagai sesama anak daerah aku merasa potensi mereka sangat besar dan peluang mereka untuk menerbitkan sebuah buku juga tak kalah besar. Terlepas dari tujuanku untuk menjaring bakat anak daerah, aku ingin mengetahui seperti apa sebenarnya si penyandang nama pena yang aneh dan terkesan maksa, si Aurora Katulistiwa ini. Oleh karena itu, aku mengharuskan para pengikut lomba untuk mencantumkan nama asli sekaligus nama pena mereka. Feeling-ku 99 persen percaya bahwa si Aurora ini akan mengikuti lomba ini. Ya ampun apakah aku terlalu terobsesi pada si Aurora?

Hanya dalam hitungan jam setelah di-published sedikitnya sepuluh orang telah mendaftar langsung padaku. Sayangnya tak ada namanya. Alih-alih menemukan namanya aku malah menemukan si Joko yang mendaftar dengan nama pena “Tuxedo Bertopeng”. Ya ampun, ini anak lagi mimpi apa ya? Sejak kapan dia bisa menulis? Kerjaannya aja masak dan gitaran tiap hari. Iya sih dia anak sastra. Sastra Medan! Ya sudahlah kubiarkan saja dia.

Dunia Penuh Koma (2)


Paper-ku selesai tiga hari lalu, yang artinya empat hari lebih cepat dari dateline yang ditentukan. Trauma sastraku sudah hilang sejak aku “berkenalan” dengan Soe Hok Gie lewat bukunya yang berjudul Catatan Seorang Demonstran. Kampus ini mengubahku. Nyata dan mendalam. Entah bagaimana caranya, Soe Hok Gie telah memberiku pencerahan di berbagai aspek. Terlepas dari semua isi bukunya, aku menyukai gaya bahasanya yang tentunya tidak meliuk-liuk seperti Bapak Sarimin. Soe mengemas pikirannya dengan cerdas, tegas dan tajam.

Aku sedang mencari referensi untuk makalah Cina dan Etnisnya saat tiba-tiba terlihat sebuah link dari sebuah blog yang menarik mataku. Doremifasollasido.tumblr.com? Menarik. Mungkin ini blog tentang kumpulan lagu dan chord gitar? Aku klik link tersebut dengan cepat. Loading sedang berjalan 20% saat tiba-tiba Joko memanggilku dari arah dapur. ‘Ah anak ini merepotkan sekali,’ pikirku.

“AJI... Aji... Kau di MANA?? Bah... macam... MANA... PULA INI sate MADURA GOSONG dibuatnya?” Suara Joko timbul tenggelam karena efek yang ditimbulkan darinya yang memasuki tiap ruangan untuk mencariku. Joko adalah teman satu kontrakan yang cerewetnya minta dipukul. Dia orang Medan asli, tapi entah bagaimana dia bisa memperoleh nama Joko. Dia selalu melotot setiap ditanya tentang asal muasal namanya.

“Bah! Di sini kau rupanya! Kau terus saja sibuk dengan komputer butut kau itu, sekalian saja nikahi dia, biar awak tidak lagi memasak untuk kau!” Terlihat semburat ungu di muka kerasnya, otot dahinya berkedut setengah kencang. Aku ragu untuk melayaninya. Aku tahu betul dia dalam kondisi emosi saat ini karena... “Bah! Sate kau gosong itu! Awak tak tahu cara buat sate! Kau pergi-pergi saja meninggalkan makan malam kita berdua!”

“Santai, Bro! Gue lagi mau ke dapur nih,” jawabku santai.

“Ah! Kau! Cepatlah!” katanya. Kulihat dia mulai kehabisan kata-kata untuk memarahiku. Kupikir diam dan santai memang trik yang paling mujarab untuk menghadapi seseorang seperti Joko ini.

Aku menuju dapur. Kulihat beberapa tusuk sate yang terpanggang merana di atas alat bakar otomatis. Belum ada tanda-tanda akan matang kukira. Namun, bau khas sate yang harum sudah mulai memenuhi ruangan dapur berukuran 3mx4m ini. Si Garong, kucing tetangga sebelah pun bisa merasakan betapa harumnya sate buatanku ini. Dia mulai mengeluarkan jurus rayuan maut dengan mondar-mandir dan kedip-kedip sok imut dari luar jendela dapur. “Maaf, Garong! Aku masih alergi pada kucing. Pergi yang jauh ya, Nak,” kataku.

Sate telah matang. Dan aku sudah tak sabar untuk membaca blog yang baru terbuka 20% tadi. Segera, aku menuju ke kamar dan meninggalkan sate-sate lezat yang sedang dipandangi si Garong sambil ngeces.

“Joko! Udah matang tuh. Bergegaslah atau si Garong akan melahapnya lebih dulu,” kataku pada Joko yang kulihat sedang berada di depan layar komputerku. Tanpa aba-aba, dia langsung berlari ke meja makan. Dan aku tidak terlalu memusingkan apa yang terjadi setelah ini.
Blog itu biasa saja, tapi...

Saturday, 5 March 2011

Dunia Penuh Koma (1)



Aku melihat sastra sebagai sebuah hal yang menyeramkan hingga aku menginjakkan kaki untuk pertama kali di kampus serba kuning ini. Yeah... aku memang bukan orang sini. Kotaku bermil-mil jauhnya dari sini dan hanya bisa dicapai setelah menyeberangi Suramadu. Mengenai bagaimana aku sampai ke sini mungkin hanya aku dan Tuhanku yang tahu.

Aku berkenalan dengan sastra sejak sekolah pastinya. Hanya saja belum tahu kalau itu namanya adalah sastra. Awalnya biasa saja dengan hal yang bernama sastra. Nothing’s special pokoknya. Namun, semenjak diajar oleh seorang guru bernama Bapak Sarimin di tahun ke-3 sekolah dasar, ada rasa semacam mual yang menjalar secara tiba-tiba saat mendengar kata sastra. Penyebabnya sepele. Aku tidak menyukai gaya bahasanya yang bergaya-gaya, meliuk-liuk dan membuatku berpikir tujuh puluh tujuh kali sebelum mengerti maknanya. Please ya! Aku baru kelas 3 saat itu dan aku yakin saat kau kelas 3 SD pun, kau tidak akan tahu apa arti dari kalimat: “Maka dari itu, Sang Baginda daripada kerajaan Ranah Hijau membalikkan gunung daripada yang mana tiang kusir meragu tuk berdiri”. Sebenarnya, sampai detik ini pun aku tidak mengerti arti kalimat itu. Atau mungkin dulu aku yang salah dengar kalimatnya ya? Entahlah.

Lupakan tentang beliau yang terkontaminasi sastra melayu sejak umur lima tahun. Namun, sebenarnya Bapak Sarimin orang Jawa tulen, terlihat dari namanya kukira. Namun, entah bagaimana, dirinya sudah berada di atas kapal menuju Bangka Belitung saat dia terbangun di suatu pagi di hari Minggu. Beliau mengaku kalau ibunya hanya memberinya makan setengah piring nasi jagung dalam sehari karena mereka tergolong konglo”melarat”. Mungkin ibunya itulah yang meletakannya di kapal pedagang karena tak mampu memberi makan. Kasihan. Saat beliau menceritakan hal ini --dengan logat Melayu pastinya-- matanya selalu berlinang, lalu berlari merindik keluar kelas, meninggalkan kami selama setengah jam untuk menghabiskan satu kantong tissue isi 50+20 sheets. Dan sayangnya, hal ini selalu terjadi setiap hari. Yang asyik di setengah jam kosong ini adalah secara tiba-tiba kelasku berubah menjadi sebuah pasar malam pagi hari. Semua anak mengeluarkan dolanannya masing-masing, memamerknnya pada teman lain, lalu memainkannya dengan kegaduhan melebihi kucing kawin. Tak jarang anak-anak kelas 4 mengetuk keras-keras dinding tripleks pembatas kelasku dan kelas mereka untuk mendiamkan kami. Dan, pasar malam pun berkahir saat Bapak Sarimin kembali dengan sekantong kresek tissue basah –oleh air mata.

Yeah... setidaknya alasan itu cukup untuk membuatku tidak menyukai sastra. Namun, entah bagaimana, entah karena apa dan entah digoda siapa, sekarang aku sedang berdiri di kampus sastra di sini. Iya! Di sini di Universitas Indonesia. Masa depan orang memang tidak ada yang tahu?

Aku diterima di sini tahun 2008, meskipun aku lulus SMA tahun 2007. Yeah... orang tuaku di kampung belum sempat menyiapkan dana kuliahku. Aku pun berhenti setahun untuk menunggu dan menyiapkan amunisi, berupa duit. Aku sangat optimis akan bisa diterima di jurusan seperti idolaku Nicholas Saputra, yaitu Arsitektur. Yeah optimis! Mengingat prestasiku yang tak terlalu buruk. Setahun itu, aku fokus untuk mencari duit, duit dan duit...dan mendaftarlah aku. Pilihan 1 Arsitektur dan pilihan 2 asal pilih, karena aku hanya ingin arsitektur.

Manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan. Aku diterima, di mana? Di pilihan kedua. Dan apa pilihan keduaku yang asal pilih itu? Tepat! Sastra Indonesia! Karena keterbatasan pengetahuan --secara, aku anak desa yang tidak terjamah informasi begituan—aku tidak curiga saat soal-soal yang muncul adalah soal IPA+IPS, padahal aku anak IPA. Di sekolahku, meskipun jurusan IPA, kami juga mempelajari Geografi dan Ekonomi. Jadi, bisa kau tebak sendiri lah...

Sayangnya... Hidupku tidak berhenti di ketersangkutan ini. Iseng, aku ambil jurusan ini. Barokah Tuhan, harus disyukuri dan dinikmati. Aku ingin mencoba menghilangkan trauma sastra ini....dan...

Tuesday, 1 March 2011

Awal Maret

Subhanallah... Ini awal Maret??? Wah! Pokoknya saya bertekad akan menuliskan apa yang terjadi lima belas terakhir ini.... Why? Buat hadiah ulang tahun saya di tanggal 15 nanti.... Yeeeey! Seumur-umur belum pernah kasih hadiah spesial buat diri sendiri pas ulang tahun... hohoho...

Awal Maret ini saya awali dengan bangun karena kaget, yeah... *piiiip* adalah alasan pertama, sedangkan alasan lain yang tak kalah penting adalaaaaaah... jeng-jeng! Quiz IPU! Yaaa gitu deh, malamnya saya tidur sangat awal, alhasil IPU pun terlewatkan. Udah biasa sih sebenernya...

Hnn... Maret ini saya awali dengan kesibukan. Haha... jarang-jarang nih seorang Ani jadi orang sibuk. Kuliah jam 8, nyampe FKM jam 08.02, PKIP. Datar. Belajar IPU pun ngga masuk. Akhirnya, duduk-duduk aja di bangku paling belakang. Kaki pegal-pegal, tangan pun tak mau kalah pegalnya. Tangan kanan saya bahkan saya pukul-pukul dengan tangan yang lain, bermaksud mengurangi rasa sakit. Namun, yang terjadi malah tambah linu aja kayaknya, ckckck... PKIP terburuk, tanpa meninggalkan satu goresan pun di note kuliah saya. (sedikit bocoran, semester 2 ini, saya lebih rajin menulis, hoho).

Lanjut... MPK Bahasa Inggris. Sayaaa... masuk kelas tentunya. Dosen dateng telat seperti biasanya, dan saya duga akan selesai cepat seperti biasanya juga. Entah kenapa saya menyukai dosen ini. Yeah, kami dituntut aktif ngomong tentunya. Namun, asyik aja sepertinya. Everything's changed to be a game! Contohnya: Kata Berkait... Oh iya ini adalah salah satu contoh kalimat yang terbentuk dari hasil olah kata mahasiswa FKM UI 2010 kelas D.206 hari Selasa jam 10.00-12.30 (tidak termasuk telat masuk, dan keluar cepet): "My university is great in Indonesia since last year among the globe, Thank You!" Apaan coba maksudnya??? Ahahahaha... Padahal pas pertemuan ini, kita itu lagi mbahas tentang preposisi dan sang dosen menyuruh kami menggunakan kata-kata preposisi.... dan hasilnya? Thank You!!! Ahaha... Zaky Amiyoso! Saya tidak akan melupakan Anda, kecuali saya amnesia tentunya.
Oh iya, tadi saya ngomong kalau dosennya telat ya? Iya... gara-gara nunggu kelamaan saya jadi bosan. Akhirnya, saya memutuskan untuk menaikkan layar. Eh, setelah ditarik-tarik, ternyata layarnya nyangkut. Ah, saya kecewa! Layarnya cuma nurut sama Pak Dosennya.... Akhirnya lagi, saya duduk termenung menikmati kaki-kaki pegal saya.

Kantin... Akhirnya, Dila mengutarakan pikirannya... bahwa saya aneh hari ini! Saya jadi ngga begitu cerewet dan nyolot aja... Yeah! Andai kau merasakan kepegalan yang bikin mules mata dan bikin nangis ini. Huks! Jadi merasa bersalah sama Indah yang sedari tadi saya marah-marahi... Aduh! Payah deh emosi saya! Labil!

Yeah! Kepegalan ini masih berlanjut...hingga tiba saatnya GL Nurani! Grand opening Nurani X+1, Teman Sejatimu, Allohu akbar! (sekalian jargonnya, hehe). So... yaaa, biasa aja sih menurut saya. Saya ngga terlalu menikmati, mungkin karena masih kepikiran nasib Quiz IPU mau gimana kali ya??

14.48, Nurul mengajak keluar aula gedung G...untuk menuju aula A yang letaknya di ujung nun jauh dari gedung G. Iya sih, bener! IPU dimulai jam 15.00. Check out!! (lho?). Quiz!!!!! Jeng-jeng! Akhirnya...sampailah kita ke saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan Ani ke depan pintu aula A yang susah dibuka. Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa dan dengan didorong oleh keinginan mencontek, akhirnya saya sedikit bertanya untuk memastikan jawaban saya kepada Dila. zzzzzz..... ah, kapan mau jujur??? Besok deh pas Ujian Semester dan Tengah Semester aja, seperti biasanya... he, Quiz mah, namanya juga Quiz, ya have fun dan dapat hadiah dong seharusnya...

Persis saat saya sedang menulis paragraf ini, saya ingat kata Anti. Kata Anti saya terlalu suka curhat dan bercerita di tulisan, sekali-kali cerita sama orang dong. Ntar stres. Nah, saya bingung kalau mau cerita...kemampuan verbal saya, saya akui sangat jelek. Kalau cerita pun garing dan tidak menarik. Hal ini membuat beberapa teman paguyuban 2010 tampak rada males ngomong sama saya. Yeah... ini karma juga kali ya? Saya selalu menuliskan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi mereka mungkin. Alhasil, saya pun dianggap aneh. Namun, maksud saya menuliskan komentar-komentar dan post-post itu adalah... buat introspeksi, eh malah kayaknya seperti benalu, parasit, sampah atau temannya lalat kali. Dianggurin gitu. Yeah... mungkin cuma Iam dan Kyu yang selalu ngerespon. Widya juga, ya walaupun saya selalu merasa agak sedikit ngga cocok sedikit banget sama Widya.
Ernnn..... hal ini juga yang mendorong saya untuk ngga terlalu mendukung dia. Tadi saya bertemu dia di kantin asrama dan dia mulai membicarakan tentang urusannya, tentang dia yang belum punya massa.... Yah! Tolong deh, biar punya massa Anda seharusnya mendekati mereka, meyakinkan mereka bahwa Anda memang bisa dan berkompeten. Alih-alih pdkt, Anda ini...muncul aja di kumpul-kumpul terakhir aja. Udah gitu ngga mau ngomong sama orang-orang semacam saya lagi. Ya sudahlah... memang begitu adanya.... Yeah, cuma menambah dosa saya. Astaghfirulloh...

PKD, di MUI... Saya suka menonton film yang diputarkan oleh kak Agung....

Besok Quiz Anfis... dan saya sudah sangat capek hari ini... Saya ngga mau badan saya rusak esok hari, jadi saya lebih memilih tidur daripada belajar malam ini. Semoga saya bisa bangun lebih pagi dari pagi ini dan memulai ringkasan Anfis dengan penuh suka cita dan keikhlasan...


Thursday, 24 February 2011

Galau

Wah! Ini tulisan pertama di bulan Februari. Udah mau abis gini baru nulis lagi, ckck.

Hmm... gue bener-bener belum bisa me-manage kegiatan gue di bulan ini hingga setahun ke depan. Padahal target gue itu banyak dan gue juga memperbanyak kesibukan dengan masuk sebuah organisasi dan beberapa kepanitiaan. Sementara ini sih, di samping bersiap menuju "Kembalinya ke latihan rutin MB", gue udah melibatkan diri dalam NURANI X+1 (Rohisnya FKM) dan udah daftar jadi staff Bedah Buku atau Dekorasi buat event populer di FKM, Tebongkar.

Kenapa gue berminat ikut? Sebab, pertama, kelihatannya sepertinya acaranya asyik gila! Kedua, dulu sepupu gue ikut! Ketiga, buat manjang-manjangin LPJ Beasiswa Bidik Misi gue! Keempat, of course, buat menyibukkan diri dan latihan bekerja sama dalam pengorganisasian. Yeah!

Ini kali pertamanya gue ikut Rohis. Gue belum terbiasa, awalnya, tapi lama-lama gue..yeah bisa lah. Belum tepat sebulan, ini sudah membawa efek baik buat gue. Mungkin ke depan, gue bakal menikmati kesibukan-kesibukan gue sebagai pekerja di depan komputer. Hnn... gue masuk jadi staff Medium, Media Umat. Gue, udah 3 kali dateng ke syuro, dan mulai menikmati suasana rapat. Hnnn... karena keahlian gue cuma menulis hal-hal gaje, maka gue menyalonkan diri di rubrik fiksi islami, hehe. Kalau disuruh nulis artikel, takutnya malah membuatnya menceng.

Hnn... entah mengapa, minggu ini, gue mulai merindukan latihan MB. Meskipun, anak-anak section gue selalu datang dengan pola shift-shift-an seperti kata Karjo, gue tetep rindu. Gue rindu sama Marimba yang selalu gue pukul-pukul tanpa ampun. Yeah, pukulan gue masih sangat buruk.

Maret will be come soon, dan seperti di setiap tahun, gue takut menghadapi bulan ini, sebab emosi gue selalu labil di bulan ini hingga setidaknya tiba ke tanggal 15 Maret, ulang tahun gue. Ya Rabb... tuntunlah saya menuju ketenangan bathin.

Gue inget saat SMP, gue selalu nangis di ulang tahun gue. Di tahun pertama, karena terharu. Gue dapet hadiah pertama dari teman terbaik gue. Hnn... seperangkat makanan ringan atau junk food. Saat gue bertanya kenapa mereka ngasih kado makanan barang bukan barang ke gue, mereke menjawab, "soalnya kita bingung, An. Kamu itu ngga mungkin suka boneka, sedangkan memberimu bola juga ngga mungkin. Kasih jepitan mana dipakai sama kamu. Jadi, yang pasti bermanfaat dan ngga di-anggurin ya, makanan-makanan ini. Yang penting pitanya ungu kan?? hihihi" Oke, alasan diterima.

Tahun kedua. Saat itu gue menangis karena tak ada yang mengingatku.
Tahun ketiga, sama lah seperti tahun kedua. Dan dua tahun itu menjadi tahun yang suram bagi gue. Yeah, walaupun prestasi akademik gue saat itu tidak bisa dibilang terlalu buruk.

Kembali ke topik, tentang bagaimana gue belum bisa me-manage waktu. Di satu sisi gue pengen menaikkan IP gue yang jongkok sedikit berdiri 17 cm. Namun, kegiatan gue yang setengah seabreg sepertinyaa...bakal...argh! These are my choices, so I must be responsible with them. SEMANGAT!!!!

Monday, 31 January 2011

Kasus pertama yang ditangani oleh Detective Auriga Amarilis ternyata diberikan oleh adek kelasnya.

Di suatu malam yang lupa suasananya, sang detective memulai rutinitasnya yang menyenangkan dan mengandalkan kelihaian tangan, bukan sulap bukan sihir, melainkan chatting-an. Saat itu sudah pukul sembilan malam lebih, tapi jarinya tak juga lelah menari. Dia melirik kalender meja yang berdiri tegak di atas tv 21 inchi di depannya, dan ditemukannya angka 9 di bulan ke-6. Tahunnya? 2009 lah.

Tiba-tiba si adek kelas mengirimkan pesan. Dia mempertanyakan kepiawaian sang detective memecahkan kasus kriminal maupun non kriminal. Merasa diremehkan sang detective pun marah-marah dan mulai menyombongkan diri dengan menceritakan sedikit keahliannya dengan sedikit bumbu rekayasa. Akhirnya, setelah meyakinkan si adek kelas bahwa dia bisa menjaga kerahasiaan kliennya ("semoga!" dalam hati sang detetive), si adek kelas pun memberanikan diri untuk menceritakan kronologis kejadian. Ini kasus kehilangan. Dialog yang digunakan sesuai dengan kultur asal sang detective.

~oamariliso~

21:57 WIB

Pirman: Wktu tgh mlm, ad 4 org gelar klasa ng lpgn, slh 1na mr x,

Trouble Maker: Pokeran y?? He... Lanjut!

Pirman: Agp aja yg lain a,b,dan c

Pirman: Trz mrka tdur..

Trouble Maker: Trz ilang?

Pirman: Ak iya, ne kwi ora

Pirman: Sat itu, blm tdur, hp mr x jath dr sakuny, nah. . .masi sadar, mr x mgmbil hpny tsb kmudian me2gangny erat2,

Trouble Maker: Then?

Pirman: Tidur...

Trouble Maker: Abz tu ilang???

Pirman: Stlh skian lma,,

Pirman: Grimiss

Pirman: Kn ng lpangan, trz d gugah kon pndah, tpi. . .mr x tidak sadar klu ia tdk me2gang hpnya lg. . .

Pirman: Then si a dan b ngusungi klasa. . .

Trouble Maker: Trz trz?

Pirman: Bar kwi. . . Mr x dan c kmbli tidur, meanwhile, si a dan b pergi golet sega goreng...

Trouble Maker: Hmm... X n c tdr dmn?

Pirman: Ak ra brg kro mreka, tp pd2 ng lpangan. . .

Trouble Maker: Okeh... Trz?

Pirman: Smentara it, ak dan tman2 lain masi asyik pokeran tkan jam stgh 3, ng lapangan,

Trouble Maker: Ah! Berlebit"... Ra pntg kwe, ... Wkwk

Pirman: Hahae, selingan lah

Trouble Maker: Trz? Trz?

Pirman: Saur

Pirman: Nah, bar saur kwi, tmbe kemudan, mr x hapene nandi?!

Pirman:

Pirman: D hubungi g aktip, pdhl btre ful, bar saur glet2 ng lpgn+pngledahan...

Pirman: But, it has no results

Trouble Maker: Hmmm

Pirman: Nah, kbtlan, si A trkenal dg sifat2 buruk n

Pirman: Alias mandan mreman

Trouble Maker: Yo, tp knp km menyangka si B??

Pirman: Ak nyngka si a..

Trouble Maker: Oh. Mki ng duwur m.b hehe...

Pirman: Maybe kwi kasmudte

Trouble Maker: Wah. Tp si C alibinya jg kurang. hehe...

Trouble Maker: Kasmudte ap?

Pirman: Maksudte,

Pirman: Ia ncen, ming mbtiri turu tok

Pirman: N yg mperkuat dugaanku ke mr A, sikapny rada aneh,

Trouble Maker: Gugup? Bingung? Air muka aneh?

Pirman: Tidak, tpi ra kaya biasane,

Pirman:

Pirman: Tek pandeng mandan kepriben,

Trouble Maker: Waw. Tatapanmu mengalihkan dunianya, hegegeg...

Trouble Maker: Hmm... Matanya bicara???

Pirman: Haha, beh tmen,

Pirman: Ia, sptinya dy ber ekspresi palsu

Trouble Maker: Hmm... Klo 2org lain gmn?

Trouble Maker: Maaf jaringan eror... Crta ws tk tampung...

~oamariliso~

Semenjak percakapan tanpa suara itu, sang detective tidak bisa tidur tenang. Dia mulai membangun hipotesis, kapanpun dia bisa berpikir. Namun, hal ini ternyata cukup susah baginya. Dia tidak mengenal keempat orang itu. Hanya dengan mengetahui kronologis kejadian dan opini kliennya, tidak cukup baginya untuk berteori dan menemukan si pelaku. Ini kasus biasa ditemuni, tapi untuk seorang detective baru bin amatir bin baru sekali diberi kasus tanpa menginterogasi korban dan calon tersangka, kasus ini terbilang cukup susah. Lama-lama dia mulai gila. Lalu lupa. Memang si detective ini mempunyai penyakit langka bernama pikun. (langka?)

Hari berlalu. Sang detective pun berjumpa dengan si adek kelas. Dan tiba-tiba dia teringat kasus yang dia lupakan itu. Untuk menutupi kelupaannya, dia sengaja bertanya, "Bagaimana? Udah ketemu? Temenan kae pelakune?"

Si adek kelas pun menjawab dengan cepat,"uwis! ternyata benar! pelakune kae! dia mengakui perbuatanne setelah didesak! akhirre hp-ne mbalik meng sing nduwe. happy ending"

Diam. Sang detective merasa gagal. Why? Dia tak bisa menyelesaikan kasus pertamanya bukan karena apa-apa, tapi karena dia lupa, zzzzzzzzz. Kasus itu terselesaikan dengan sendirinya. Sang detective benar-benar malu, lalu off. Untung si adek kelas atau kliennya, tidak pernah mempermasalahkan kelupaan sang detetive.

What a gaje case with a gaje detective!

Tuesday, 18 January 2011

Untitled (part 2)

14 Januari 2011 jam 21:42

RATMI P.O.V. (Point of View)

Aku orang Magelang. Tujuanku hijrah ke ibukota adalah untuk mengais rezeki dan mencari emakku yang hampir dua windu menghilang. Usiaku baru 4 tahun 5 bulan, saat ia pamit mau beli bawang di warung Wak Jarir. Aku ingat pasti, ia memakai daster bunga-bunga berlengan pendek dengan keranjang belanjaan penuh isi dikempit lengan kanannya. Rambutnya yang sepinggang dikucir kuda, tapi tak begitu tinggi. Dan saat kulihat matanya... Matanya sembap. Dan benar-benar dapat kubaca bahwa ada pergulatan besar di batinnya. Ia mencium keningku. Itulah ciuman terakhirnya untukku. Lalu ia pun pergi bersama semilir angin.
Di atas meja kutemukan selembar kertas putih bertulisan. Kertas itu basah. Kuduga oleh air mata emak. Lalu kubaca tulisan dalam surat itu dengan susah payah karena aku baru bisa mengeja.
"Emak mau pergi ke Jakarta. Emak sudah tak tahan dengan sikap bapakmu itu. Emak ingin bebas cari uang sendiri. Jaga dirimu baik-baik!"
Di kali ke-7 aku membacanya, baru aku paham betul makna surat itu. Aku pun diam.Tak menangis, dan tak pernah memanggil namanya hingga kini.

*****

Aku bertemu dengan Radit pertama kali di stasiun Manggarai. Dia begitu mempesona. Aku tahu dia seorang mahasiswa. Dan sejak kecil aku ingin menjadi mahasiswa. Dia duduk lesehan di dekat peron 1, membaca koran tipis yang sedikit kumal. Aku mengira dia adalah orang Jawa Tengah seperti aku. Aku yakin, lebih dari setengah yakin, karena sudah lebih dari 17 tahun aku hidup di antara orang Jawa.

Untuk sejenak tujuanku mencari emak teralihkan oleh dia. Stasiun Manggarai yang tak pernah sepi dari pedagang menjadi saksi, cinta pertamaku bersemi geli. Aku sebenarnya tidak bertemu dengannya. Hanya aku yang memandanginya dari radius 10 meter. Aku tak berani mendekat pastinya karena aku hanya pedagang asongan yang menjajakan tissue.

Namun, sepertinya dia dapat menangkap gerak-gerik anehku. Aku yang pemalu, canggung dan gampang salah tingkah ini sangat mudah menarik perhatian orang. Tiba-tiba, dia memanggilku. Sopan sekali. Hanya mendengar suaranya saja sudah cukup membuat mukaku memerah tomat. Aku diam saja karena bingung. Entah bagaimana caranya dia sudah berdiri di sampingku memandangiku dengan wajah heran. Aku yakin wajahku sangat aneh saat itu. Mulutku masih terkunci. Sebagai pedagang tissue, seharusnya aku menawarkan tissue padanya. Namun, hal yang terjadi adalah sebaliknya.

"Mba, tissue-nya dijual ndak ya, mba?" Lagi-lagi aku merasakan jantungku berdebar hebat. Ah! Bisa kena seragan jantung mendadak ini. Sepertinya tidak lucu jika aku mati berdiri dikarenakan terkena serangan jatuh cinta mendadak di stasiun. Pelan-pelan aku menjawab pertanyaannya, "B..boleh. Eh iyo, Mas. Maksudnya iya dijual, nggih Mas." Aku akhiri dengan senyuman paling konyol yang pernah aku lakukan. Kulihat ekspresi wajahnya yang tiba-tiba berubah menjadi...tersenyum. Apa yang... apa ada yang lucu??? Duh Gusti! Apa tadi aku berbicara jawa??? Pantesan!!! Ratmi...piye to koe iki???

"Oh...orang Jawa to, Mba? Aku juga iki. Asal mana mba?" Kaget. Dia benar-benar berbicara jawa? Lucu.

"Iya, Mas. Asal Magelang. Masnya? Jawa juga? Jawa Tengah? Mana?" tanyaku dengan cepat untuk menutupi suaraku agar tidak terdengar bergetar.

"Aku Kebumen. Yang ngapak-ngapak itu lho!" Kebumen ya? Sepertinya aku pernah ke sana, kapan ya?

"Oh begitu to? Jadi beli tissue, Mas?" Dan aku menyesal mengatakan hal itu. Seharusnya aku bisa memilih topik lain selain "tissue". Aduh, Ratmi!!

"Oh iya! Jadi... Mba...."

"Ratmi!"

"Kulo Radit... Raditya"

Dan hari Minggu, tanggal 9 September 2008 itu menjadi hari terindah dalam hidupku. Setelah seminggu tidak tersenyum dan terlunta-lunta seperti orang hilang di Jakarta, akhirnya aku bisa tersenyum. Kami berdua bercakap-cakap tentang banyak hal hingga aku lupa bahwa aku harus berjualan. Dia bilang dia sangat bosan menunggu kereta sendirian dan sangat bersyukur bertemu denganku. Tidak terasa, jam stasiun menunjukan pukul delapan kurang lima. Keretanya akan datang lima menit lagi. Aku enggan mengucapkan selamat tinggal padanya dan memulai hari kelamku yang biasanya. aku menunduk, berpura-pura merapikan tissue-tissue daganganku dan tiba-tiba...

"Hei, Ratmi! Kamu jualan di sini terus, kan? Bagus deh!" Lalu dia berlalu menuju peron 6 di mana keretanya akan berhenti di sana.

Iya, aku akan di sini menunggu. Siapa tahu kamu ke sini lagi Radit. Hari itu, aku betul-betul lupa tentang diriku yang seperti anak yatim piatu tapi punya ayah dan ibu. Radit...Raditya seperti namanya yang bermakna matahari...mampu menyinari satu sisi gelap hidupku. Terima kasih...

Untitled (part 1)


14 Januari 2011 jam 12:42


RADIT P.O.V

Gila! Jam empat sore tepat sekarang. Padahal, KRL ekonomi ke Manggarai berangkat jam setengah lima. Aku harus bergegas kembali ke tempat kost dan mengambil ransel dan laptop sekarang. Eh! Tunggu jam tanganku mati?? Astaghfirulloh... Jangan-jangan sudah jam lima sekarang? Sejak kapan dia mati? Ah persetan dengan "jam berapa sekarang?"!!! Yang jelas aku harus mengejar kereta.

Halte Teknik. Gerimis ya? Kenapa tiba-tiba? Kenapa di saat mendesak seperti ini? Bikun pasti akan sangat tidak nyaman dan payahnya aku tidak membawa motor. Sepertinya akan menjadi keterlambatan sempurna. Aku akan melewatkan kereta ekonomi dan ya ampun jam berapa sekarang? Aku malas mencari tahu. Dan kenapa pula tidak ada orang di sini? Halte Teknik biasanya selalu ramai. Benar-benar sepi.

Sejak kapan baliho pemira itu di sana? Sepertinya sudah cukup lama? Yeah! Bisa saja, sudah kusut begitu. Sebenarnya aku mahasiswa mana? Kukira minggu depan sudah pemilihan? Ahh... Aku ingin pulang! Jika pun aku harus kehilangan hak pilihku karena pulang kampung, aku tidak peduli. Sama seperti hujan yang seolah-olah tak peduli padaku ini. Langit... Langitnya mendung! Ah kenapa kau seperti orang linglung begini, Radit? Mana mungkin di saat hujan begini langitnya cerah tertawa. Hnn..tapi bisa saja sih. Bisa saja, dan setelah itu muncul pelangi.

Tidak! Tidak! Tidak! Sudah bermenit-menit aku di sini hingga kurasakan akal sehatku mulai terganggu, tapi bikun belum juga menampakkan batang hidungnya. Sejak kapan dia punya hidung? Ah! Masa bodoh! Kemana sebenarnya benda kuning besar dan berjalan itu???
Jam tangan ini, benar-benar mati ya? Iya. Tunggu! Sepertinya tadi aku melihat sekelebat bayangan. Seorang cewek mungkin? Perasaanku tidak enak. Sepertinya dia ada di belakangku.
Tenang. Menoleh pelan-pelan dan stay cool! Satu... Dua... Ti...

"Kak Radit!!!!"

"Aaaaaaargggghhh!!!!" teriakku. Kaget setengah hidup. Aku yakin wajahku akan terlihat menggelikan karena insiden ini. Insiden? Pokoknya itu. Dan dia adalah Mila. Aku langsung memasang muka so cool andalanku seolah-olah tidak pernah berteriak sebelumnya. Mila! Lo tau ngga sih?? Sebenarnya gue pengen banget nabok kepala lo pake sandal jepit gue! Tapiii... karena lo temen dia, gue ampuni lo!!!

"Kaget ya, Kak?" tanyanya malah cengar-cengir gaje. Sepertinya dia senang.

"Nggak! Kata siapa? Cuma reflek aja kali! Respon cepat!" Aku tidak akan mengaku kalau aku sempat ketakutan karena kukira dia makhluk halus.

"Ah...Ngaku aja deh!" senyumnya bertambah lebar seperti Spongebob yang berhasil terbang.

"Apa yang harus gue akui? Dasar centil!" Aku memang sedikit kesal padanya.

"Oke deh, Kak. Maaf! Mau ke mana, Kak? Nggak biasanya keluar kampus jam segini? Nungguin bikun lagi! Ke mana motornya? Wah muka Kakak itu lho... Galau abis!!! What's wrong??" Sumpah tambah cerewet saja anak ini. Aku bingung mau jawab yang mana dulu, tapi tidak lucu kan kalo aku menampakkan muka bingung aku di depannya? Aku cuma mendesis khas orang lelah seperti baru memikul satu truk karung beras.

"Hmm... Sebenernya, Kakak mau pulang kampung, Dek. Ada hal yang harus Kakak selesaikan. Kau tahu Kakak, kan? Orang sibuk. Haha..." Sedikit menyombongkan diri kan tidak ada salahnya? haha...

"Mau ketemu... Wah! Ngomong dong dari tadi! Ayuk aku anterin! Aku bawa motor, Kak! Mantel hujan ada dua! Helm kebetulan juga ada dua! Ke stasiun? Ayuk!!! Daripada nungguin bikun, ngga bakal dateng dia!!!" Aku sedikit terkejut. Dia benar-benar bertambah cerewet! Kenapa dia tiba-tiba semangat begitu? Pakai mau mengantarku segala.

"Ah! Nggak deh, Dek! Mau nunggu bikun aja..." kuakhiri kata-kata ini dengan senyum lebar.

"Kakak ini pikun atau pura-pura lupa sih? Hari ini kan hari Sabtu!!! Mana ada bikun jam segini! Udah hampir setengah lima nih! Nurut aja deh sama, Mila!" Dan sejak kapan dia jadi mirip nenekku???? Makin tambah ingin pulang saja diri ini. Eh, tadi dia bilanga apa ya? Apa??? Ha...hari Sabtu??? Setengah lima???

"Mana motormu?? Cepet ambil!" Tiba-tiba aku berdiri di luar keinginanku. Aku bisa melihat Mila yang tiba-tiba melonjak kaget sepertiku tadi. Bedanya dia tidak berteriak melambai sepertiku. Aduh, stay cool Radit! Stay cool! "Temenin Kakak ke Kukel, lalu anterin ke stasiun. Kakak akan naik ekonomi AC ke Manggarai. Cepet yaa..." Suaraku sedikit bergetar. BUkan karena buru-buru, tapi karena kesal pada diriku sendiri yang mulai pelupa. Aduuh!!! Bagaimana kalau aku berbuat seperti ini di depannya??? Mila masih mengambil motornya di parkiran ya? Hnn...kenapa tiba-tiba bayangannya wajah anak itu terlintas? Sabar, Radit! Sebentar lagi...

"Ayo, Kak!!!!"

Friday, 7 January 2011

Wednesday, 5 January 2011

Yaya Yaya Yaya

Yaya dan Ais




Yaya 3 tahun, di Pemandian Air Panas Krakal





Pose sok dewasa




Kabur pun tetep unyu unyu unyu




Foto beberapa jam sebelum gue berangkat ke Depok

My Lovely Sister


Yeah... Ini adek gue! Namanya Zahra Nurussyifa. Ini nama yang bikin gue lho, bagus kan? Ahaha... Zahra means flower, while nur means light, and syifa means obat. So, kalo diartiin kurang lebih adaladh: Bunga Cahaya Pengobat (Nah lho? Kebayang ngga, kayak apa tuh obat?? eh bunga? haha)

Semua orang panggil Yaya (sebenernya sih gue yang meksa semua orang suruh manggil dia Yaya, biar lucu sih, lagian dia dulu cadel sih waktu umur satu tahun, ya iyalah!!! haha)

Yaya selalu bisa jadi obat buat gue. Yeah, just like her name. Kenapa? Setiap gue lagi kesel, jengkel, marah dan pengen mbanting bantal ke muka ayam-ayam peliharaan Mama gue (sejak kapan emak gue pelihara ayam? adanya juga bebek), gue pasti ngga jadi kesel, jengkel, marah dan pengen mabanting bantal ke muka ayam (mumpung di blog bukan LTM, mau alay ah! haha) setiap lihat muka dia. Innocent banget!!! Dia begitu tampak dewasa, lebih dewasa dari gue. Dan kalian tahu berapa umurnya?? Baru 6 tahun... Gue mah waktu segitu masih suka nangis guling-guling kalo ngga dibeliin es krim.
Dulu, waktu dia masih bayi, the real bayi lah, gue sama Ais, adek pertama gue, berduel dengan asyiknya, hingga membuat gaduh seisi rumah. Entah kenapa si Yaya tiba-tiba mukanya jadi manyun-manyun mau nangis, dan beberapa detik kemudian dia nangis tanpa suara. Kasihan deh...akhirnya gue sama Ais berhenti bertengkar lalu menonton si Yaya yang nangis tanpa suara...oops, maksudnya berhenti bertengkar karena kasihan dan malu pada si Yaya. Ngga cuma saat itu aja, setiap gue sama Ais, atau sama Bapak atau Mama mulai berselisih paham, si Yaya langsung nangis-nangis gitu... Bener-bener deh, nih anak udah jadi cahaya di keluarga kami... Love you so much, Dek!!



Layaknya anak kecil biasa, si Yaya doyan main. Sejak bayi, dia jarang banget nangis. Bahkan saat gue ngga sengaja ngelukain jidat dia sampai berdarah-darah kayak drakula (??), dia cuma nangis beberapa detik, lalu tidur lagi. Gue ngga inget jelas berapa umur dia, tapi kayaknya belom ada dua bulan sih. Dia juga penurut, kalo lagi mood. Terus gampang banget kenal sama orang. Supel dah. Hingga suatu hari, seorang ibu-ibu gila lewat di depan rumah. Yaya lagi mainan pasar-pasaran di halaman. Si ibu baik hati dan ramah yang sayangnya gila itu mendekati Yaya, dan mau menggendongnya. Yaya yang notabene anak baik dan penurut serta ngga mudah curigaan (ini penurut apa rada bego sih Yaya? *dilempar drum minyak sama Mama*), sontak mengulurkan tangan-tangan mungilnya ke si Ibu baik hati dan murah senyum tapi gila dan berniat menculik. Untung Mama segera dateng dan dengan kekuatan bulan segera menghukum si Ibu murah senyum tapi gila yang gagal menculik anak. Ngga menghukum kok, cuma melotot dan komat-kamit ngga jelas. Si Ibu yang notabene tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar, mana yang ancaman mana yang hiburan, malah tepuk tangan kegirangan sambil nyanyi lagu pelangi-palangi. Yaaa...sudahlah, hari itu Yaya kecil yang baru bisa jalan terselamatkan.

Sejak saat itu, Mama gue jadi over protective dan lebih sering mengajak Yaya main di dalam rumah. Toh teman sebaya Yaya di lingkungan kami sedikit. Jadilah Yaya si anak pingitan (hah???)


Seperti namanya, Zahra, yang berarti bunga, Yaya sangat menyukai tanaman, bertanam lalu merusak sendiri hasil tanamannya. Pernah suatu ketika Mama membiarkan si Yaya yang mulai mengenal nama-nama tumbuhan untuk bermain di taman dalam di dekat kolam. Mama sangat senang, putri bungsunya ini menuruni hobinya, menanam dan mengelus-elus bunga. Mama lalu pergi ke dalam rumah mengerjakan tugasnya sebagai Ibu Rumah Tangga yang baik (I love you Mom!). Beberapa menit kemudian, saat Mama menengok Yaya yang dikira sedang bercocok tanam, terlihatlah pemandangan mengerikan di mana salah satu tanaman kesukaan Mama gundul dengan naasnya dipangkas seluruh daunnya oleh Yaya. Lemes deh Mama. Parahnya lagi, tuh daun pohon dibikin main masak-masakkan dan hampir nyuruh Mama nyicipin hasil masakannya itu. Dasar bocah!

Belakangan Mama berpikir kalo Yaya tidak berpotensi sebagai pembudidaya tanaman, melainkan pembawa berita karena dia kalo cerita bener-bener jujur, aktual tajam dan terpercaya mirip Rosiana Silalahi. Sedangkan Yaya sendiri mengaku dirinya adalah seorang guru TK, bukan presenter berita.

Terserah deeeh... Pokoknya besok aku mau pulang dan ketemu Yayaaaa.... yeeey!!! Haha...

Saturday, 1 January 2011

Abstrak, Ngga Ngerti Jelas...

Ini tahun baru
Ada dua angka kembar di tahun ini
Aku menemukan tantangan berganda menghadang di depan mata
Tentang mencangkul ilmu
Tentang bermain bunyi-bunyian
Tentang sekelompok pasukan
Tentang paguyuban
Tentang komitmen
Dan tentang-tentang lain yang tak bisa kuhitung dengan gabungan jari tangan dan kakiku sekali pun

Yeah... Ini tahun baru
Aku bertekad membabat habis disiplin ilmu tertentu
Semangatku berapi-api untuk menjadi seorang jenius
Jenius memainkan isi kepalaku juga pukulan tanganku
Oh My... Sungguh aku ingin menjadi seperti kakak ituuu...
Dua di kanan, dua di kiri
Lalu menari tanpa beban berarti...
Ingiiiiiiin...

Waw! Ini tahun baru???
Aku ingin segera mencari tahu kebenaran sastra
Keistimewaan sastra
Kelurusan serta kemiringan sastra
Aku ingin mengeksekusi beberapa milikku
Lalu mempertemukan mereka dengan ujung-ujung yang menyimpul
Wieew! Ingin sekali melihat mereka terpampang..

Iya! Ini tahun baru...
Akhir Desember
Aku akhiri dengan menyaksikan kemegahan kemenangan salah satu milikku
Melihat mereka mengangkat piala
Menciumi benda berlapis sedikit emas
Dikalungi benda bulat yang memancarkan aura kemenangan
Yah, mereka memang menang
Hadiah tahun baru terbaik untukku,
dengan melihat senyum dan air mata memolesi warna-warni wajah mereka

Benar-benar tahun baru ya?
Iya aku yakin sekarang
Hampir dua belas jam aku terbaring
Sesekali bangun melihat sekeliling
Ragu-ragu bermimpi
Lalu terlelap lagi tanpa pikir-pikir


Capek berlari dalam dunia tak terpijaki
Aku terjaga
Lantas meraih ember mandi
Kurasakan dinginnya air tahun baru
Iya ini bukan mimpi
Make A Wish!!!
selamat tahun baru
aku memulai catatan ini....

Hoaaam...
Oyasuminasai...

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...