Ini tentang melukiskan dunia dalam kata; tentang aku dan jejalanan yang akan atau telah aku lewati; tentang Kawan yang lebih berwarna dibandingkan pelangi; tentang ramainya penjelajah ilmu yang selalu haus memecahkan teka-teki; tentang cinta yang tak kan pernah henti meski listrik mati; dan tentang aku yang masih mencari jati diri. Aku menulis... untuk mempertahankan memoriku hidup lama, jauh lebih lama dari aku menempuhi hidup ini.
Friday, 27 December 2013
Simfoni Empat Musim (1)
Tuesday, 24 December 2013
:)
Oke, akhirnya harapan itu terkabul. Alhamdulillah... Gue masih diberi kesempatan untuk menemukannya. Kelegaan ini tidak dapat dikatakan dengan kata. Kekhawatiran akan suatu bencana kecil yang selama ini mencabik ketenangan, tidak pernah terbukti kebenarannya. Masihlah sama. Meski terbata-bata, meski diawali dengan kekakuan luar biasa, pada akhirnya, lima menit berharga dapat gue habiskan dengan lumayan biasa. Gue akan meralat segala ketidakmutuan tulisan gue sebelumnya. Gue akan sembunyikan lagi setiap hal yang gue torehkan dengan tidak elegan dan tanpa dipikirkan sampai matang.
23 Desember 2013, di *piiip* adalah pembuktian bahwa apa yang ada ketika dahulu adalah tetaplah sama seperti dahulu. Meski topik tingkat akhir berhasil membekukan kesadaran, tapi celotehan tentang sinema, liburan dan indra cukup mengembangkan kebahagiaan dan kelegaan dalam diri gue. Alhamdulillah... Ini lebih sederhana dari teori yang gue reka kemarin. :)
Semangat!!!
Kita masih berteman... (?)
Monday, 23 December 2013
Jika Kau
Jika kau menemukan ini, mungkin kau akan segera tutup mata dan berbalik badan.
Jika kau tak sengaja membaca ini, mungkin kau akan muntah karena bosan.
Jika kau semakin mengenali diriku ini, mungkin kau akan semakin berdakwah di media tetangga.
Jika kau telah mengenalku sebelum melimpahkanku ini, mungkin kau akan segera berpaling mencari yang lain, yang lebih bermartabat.
Jika kau semakin menemukan sisi gelapku, mungkin kau akan semakin menjauhiku, membuatku semakin gelap akanmu dan lama-lama melupakanmu.
Namun, hahaha...
Ini sulit ternyata, melupakanmu tiba-tiba.
Semakin membulatkan tekad, semakin berat langkah yang kuseret dalam perjalanan.
Semakin besar memutuskan untuk tidak mau mengingat, semakin besar pula kecemasan yang bermunculan.
Kukira aku dapat membuat ini kembali hangat, seperti yang telah "waktu" lakukan dalam mengembalikan aku dan si tupai kacamata bulat kembali berteman.
Kukira aku akan cukup mengertimu hanya dengan membaca, satu dua celotehan bermuatanmu.
Kukira aku tidak perlu betul-betul menjauhkan raga, mempertebal dinding pemagar dan berceloteh tanpa batas dengan liar seperti ini.
Kukira aku telah mendapatkan sedikit perhatianmu, sedikit ingatanmu, sedikit spesialisasi darimu.
Namun, ternyata tidak ada.
Ini hanya profesionalitas.
Ini hanya penghormatan dan formalitas.
Ini hanya keceriaan dalam waktu terbatas.
Ini hanya perkiraan, ilusi dan kesalahpahamanku yang melulu melintas.
Perkiraan hanyalah praduga tanpa bukti dan tanda.
Semakin mengira, hanya akan semakin melahirkan tanya.
Semakin dibicarakan, semakin menguras logika, semakin menggerus harga diri.
Di sini, bertingkah macam orang patah hati dan tak mampu menjalankan hidup.
Memang sedikit banyak, kau memenuhi otakku, hingga setidaknya satu dua kali, kau muncul dalam imajinasi alam nyata dan mimpi.
Namun, aku tak sekeras itu, ingin memilikimu, memperoleh sepenuhnya perhatianmu atau mengemis dibalasi suka dari hati.
Meski demikian, aku tak ingin juga komunikasi antara kita berhenti tanpa arti, perjumpaan kita hanya pelarian dari mandat yang mampir dan silaturahmi berakhir karena aku yang terlalu pendir.
Aku mengoreksi diri, sudah pasti.
Aku menghukumi pikir, sesekali.
Aku membodohkan tingkah, tiap waktu.
Namun, pasti lagi dan lagi aku berbuat bodoh terus dan terus dengan cara bodoh, yang oleh orang bodoh pun dianggap bodoh.
Harus bagaimana?
Agar aku mau mengerti,
Agar aku mau mengakhiri,
Agar aku tak lagi menyesatkan diri,
Agar aku tak kecanduan untuk menguntit,
Agar aku dapat memberi pengakuan,
Agar aku berani mengajukan permohonan maaf,
Agar aku memperoleh kehangatan katamu,
Agar aku dan kau dapat berkomunikasi lagi?
Aku harus bagaimana?
Jika kau membaca ini, sebelum kau pergi, sudikah kau memceritahuku yang bodoh, cerewet di tulisan dan tidak tahu malu ini?
Maukah?
Di sini?
Saturday, 21 December 2013
Memori :)
Enaknya dari menuliskan kejadian yang kita alami atau bisa dibilang curhat ke dalam buku diary (apa pun) adalah kita dapat dengan mudah terbang lagi ke memori masa lalu yang pastinya berkesan, meski sepahit apapun itu. Maka janganlah berhenti menulis, Ani. Tulisanmu adalah bukti bahwa kau pernah ada! Buatlah prasastimu sendiri, ukir dia dengan kesabaran, lalu poles dia dengan luapan emosi, pikiran dan perasaan hati nurani.
Gue yakin, orang yang rajin menulis memiliki nilai plus dibandingkan dengan mereka yang kurang sering menulis. Sejauh ini, motivasi gue dalam menulis adalah karena gue memang suka bercerita lewat tulisan. Gue suka menyimpan perasaan dan menguncinya dalam baris kata yang aneh dan tidak dimengerti orang lain. Setidaknya itu anggapan gue.
Gue suka membaca tulisan gue sendiri, narsis memang, tapi inilah asyiknya menulis, gue bisa mengetahui gue dari waktu ke waktu. Gue yang labil? Jelas! Tanpa membaca pun tahu! Haha. Pokoknya menulis itu lezaat... :9
Gue membuka blog gue yang dulu. Di sana terdapat sebuah post yang membuat gue tersenyum malau-malu tikus. Gue ingat beberapa tahun yang lalu, saat kelas XI SMA (mungkin hingga sekarang?), gue suka sekali memelototi layar handphone. Tak rela jika lampu layarnya mati karena hal itu akan membuat gue kesusahan melihat namanya. Gue rela menghabiskan belasan ribu untuk membeli pulsa agar gue bisa mengetahui perkembangannya di dunia maya. Gue seperti seorang mata-mata yang akan menyesal, jika ada satu kegiatan tentang dia yang terlewat sedikit saja.
Ini terlihat seperti sebuah perasaan cinta? Namun, gue sangat bisa menjawab "bukan" dengan cepat karena sebenarnya gue menganggap dia sebagai inspirator dan pelawak. Gue tidak bisa membiarkan mata gue ini untuk tidak membaca sedikit pun banyolannya setiap hari.
Ada satu cerita alay. Pernah gue ketiduran dengan koneksi yang masih tersambung ke internet. Hnn... Gue sedang online, nama aplikasinya ****. Populer sekali aplikasi ini saat itu. Gue juga kecanduan. Kecanduan ini gara-gara dia? Haha bisa jadi. Jadi, di malam itu, dia mengirimkan beberapa message, memanggil-manggil gue dengan nama panggilan aneh yang seperti biasa dia layangkan ke gue. Namun, gue sudah bilang kan, kalau gue tertidur? Alhasil... Gue tidak membalasnya. Dan andai lo tahu, gue cukup menyesal, kecewa dan uggh. Semacam mendiamkan teman lama yang sudah sangat lama dinanti kedatangannya, giliran dia datan betulan, lo malah tidur. Huaahaha....
Ehnn...parah ya??? Haha... Ani Ani! Labil! Namun, apa daya, dia berbeda dengan gue, my bloggie. Dia sekarang jauh sehingga gue canggug jika ingin memintanya melawak untuk gue, atau sekedar mengirimkan pesan-pesan nyleneh kepada gue. Gue rindu sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Komunikasi kami sudah sejauh kutub utara dengan kutub selatan. Hahai! Sama-sama sulit sinyal, berseberangan dan tak mungkin akan bertemu.
Semoga lo masih mengingat gue, boy... :D
Thursday, 19 December 2013
Gue yang...
"Apa liat-liat!"
Kurang lebih seperti itu situasi dan kondisi "nya" saat ini... ToT
Ingin sekali gue meminta maaf kepadanya, tapi jika ditanya untuk apa, pasti gue akan bingung juga menjelaskannya.
Untuk apa?
Untuk segalanya.
Untuk setiap hal terkecil yang telah gue perbuat, baik secara sadar maupun tidak. Gue:
-Yang membuatnya malas melihat gue, bahkan jika itu hanya sekedar membuka pesan dengan nama gue tercantum sebagai pengirimnya;
-Yang perasa dan merasa seolah-olah gue cukup penting untuk melintas di kehidupannya;
- Yang membuatnya marah setiap gue berkicau dan entah kenapa seolah teralamatkan untuknya;
- Yang berisik, seolah mengetahui dan berhak selalu mengetahui setiap hal terkecil tentangnya;
- Yang tak sopan menggunakan dan melihat-lihat konten benda-benda miliknya;
- Yang terlalu ngotot dan memaksakan perasaan yang tak seharusnya dipaksakan;
- Yang tak mampu menjaga kepercayaannya;
- Yang terlalu rumit dalam memikirkan setiap hal yang simpel menurutnya;
- Yang selalu beralasan banyak dan tak pandai menyortirnya, juga tak peka mengenali situasi dan kondisinya;
- Yang membuatnya telah salah mendaratkan pilihannya;
- Yang membuatnya melakukan hal-hal yang mungkin lebih baik tidak dilakukannya;
- Yang terlalu ingin mengetahui kisahnya dan masa lalu yang telah dilaluinya;
- Yang tak bersikap dewasa selayaknya perempuan lain di umur sekian;
- Yang mudah panik dan tak jarang berpikir picik yang tak masuk akal;
- Yang melakukan hal-hal ekstrem dan tak biasa dilakukan gadis normal;
- Dan yang lain-lain yang pastinya masih banyak lagi.
Tuesday, 17 December 2013
Menikah
Asli!!!
Post yang sedang lo baca ini memang berisi konten tentang pernikahan. Namun, bukan artinya gue pengen menikah dalam waktu dekat dan gue juga tidak sedang galau-galau terkait jodoh, meskipun post-post gue banyak yang berisi tentang kisah galau.
Ini bukan tentang tata
Monday, 16 December 2013
Mengapa Kau Melamarku Saat Itu?
*****
*****
Sunday, 15 December 2013
Cerpen Gagal
Genre : Friendship, Music, Poetry, Drama
Setting : Middle School Life
Rate : K+
Characters: Kau dan ACI's characters
Summary :
Ini adalah cerpen tentang perjuangan Guru Jay, Andi, Cahaya, Ian dan teman-temannya dalam *melakukan sesuatu*. Cerpen ini baru sepertiga jalan tapi gagal alias tidak jadi dikirimkan, karena telat nyadar kalau saya tidak memenuhi persyaratan umur dan pendidikan--> ketuaan dan bukan lagi pelajar sekolah -____-
“Tidak ada kata terlambat bagi seorang pemimpi yang memiliki mimpi untuk mewujudkan mimpi-mimpi orang lain,” sayup-sayup terdengar suara seorang lelaki dewasa berpenampilan nyentrik dari arah kelas 9D. Guru Jay, itulah panggilan sehari-hari yang dilayangkan kepadanya di sekolah. Ia tampak nyaman saja dengan panggilan, yang sebetulnya kurang sopan untuk ukuran sebuah panggilan sapaan bagi seorang guru, itu. Guru Jay adalah seorang guru musik yang selalu memiliki ide-ide unik. Saking uniknya, ia sering kali membuat para siswanya, bahkan rekan sesama gurunya tergeleng-geleng karena takjub atau saking tidak pahamnya.
“Maksud Guru?” tanya seorang siswi yang duduk di pojok kanan tepat di depan meja guru. Wajah bulatnya terlihat semakin bulat karena ia mendongakkan kepalanya dengan berlebihan hingga rambut panjang yang ditirainya tak mampu menutupi pipi-pipi chubby-nya. Matanya membelalak sempurna, dahinya berkerut hebat hingga nyaris menyatukan kedua alisnya.
‘Anak ini terlalu penasaran atau memang ia terlalu lama dalam mencerna apa yang kuucapkan?’ batin Guru Jay. Ia tampak terkekeh geli ketika mendengar pertanyaan siswi tersebut. “Hahaha. Begini Nanda,” Guru Jay mulai menjawab pertanyaan dari siswi yang ternyata bernama Nanda itu, “tadi kita semua sama-sama mendengar apa yang dikatakan Andi, bukan? Ia berkata bahwa ia hanya seorang pemimpi dan ia terlalu pesimis dapat mewujudkan cita-citanya sebagai seorang guru musik karena...”
“...guru musik sekeren Anda, Guru Jay,” potong Andi sembari mengoreksi ucapan Guru Jay.
“Oke, Andi... sebagai seorang guru musik yang sekeren gue, hahaha...karena Andi merasa ia terlalu terlambat dalam mengenal dan mempelajari musik. Begitu bukan?” seluruh siswa mengangguk serentak. Beberapa di antaranya terkekeh sambil menirukan gaya bahasa gaul lo-gue ala Guru Jay. Guru Jay diam dan tersenyum, sembari menanti mereka kembali terfokus kepadanya. Setelah mereka diam, ia kembali malanjutkan, “Namun, ia tidak terlambat, tentu saja. Apalagi jika tujuannya adalah untuk memperkenalkan musik kepada anak-anak di daerahnya, sedari dini. Kalian kira semua jenius musik selalu memulai berlatih membaca not balok dan bermain piano ketika mereka mulai merangkak, hm? Tidak bukan? Come on, anak-anak! Kejeniusan hanya menyumbang tak lebih dari 10 persen dari suatu keberhasilan. Lalu sisanya? Tentu saja niat untuk mau mencoba hingga akhir dan kerja keras tanpa bosan,” kata Guru Jay dengan suara mantap, tapi terdengar lembut dan menyenangkan.
“Jadi, tak perlu menjadi jenius seperti Mozart dan Beethoven, Guru? Yang penting usaha?” tanya seorang siswa laki-laki berkacamata persegi yang langsung diiyakan oleh siswa laki-laki bermata coklat terang yang duduk sebangku dengannya.
“Oh, jadi kalian berdua berpikir seperti itu, Ichsan? Bagas? Nah, kau tahu Ichsan bagaimana akhir hidup Mozart, yang cemerlang sejak muda?” tanya Guru Jay sembari mendekatkanlangkahnya menuju meja duduk Ichsan dan Bagas.
Ichsan terdiam. Tangan kanannya membetulkan letak kacamatanya yang melorot ke ujung hidungnya yang mungil. Ia pun menjawab dengan pertanyaan, “Sukses? Berumur panjang dan memiliki band atau kelompok musik yang terkenal?”
“No, boy! Dia mati muda, Ichsan... dan dalam keadaan miskin,” jawab Guru Jay singkat.
“Betulkah? Bagaimana mungkin?” tanya Andi kaget.
Guru Jay tersenyum penuh arti. “Karena ia terlalu jenius, hingga lupa caranya bekerja keras dalam memanajemen kejeniusan dan kehidupannya, boy. Baik. Sepertinya ada yang masih belum berkenalan dengan tokoh-tokoh musik dunia, nih. Sepertinya, ini mengasyikkan untuk dijadikan tugas pekan ini. Hahaha!” kata Guru Jay. Sontak, seluruh kelas bergidik sekaligus menjadi ramai oleh keluhan-keluhan. Hampir semuanya menyalahkan Ichsan yang ditengarai menjadi penyebab “penganugerahan tugas musik ini”.
“Oke, anak-anak, silent please! Tidak usah terlalu bersemangat seperti itu, hahaha,” teriak Guru Jay dengan volume yang ternyata tidak cukup membuat siswanya mengalihkan perhatian kepadanya. Mereka masih saja berteriak, menawar keringanan tugas, meminta pemberian tugas dibatalkan, dan sebagainya. “Bocaaah! Diam, woy!” teriak Guru Jay dengan volume yang bisa jadi dapat menggetarkan kaca jendela ruangan kelas itu. Sontak seluruh siswa terkaget dan kembali duduk diam di bangku masing-masing. “Berkelompoklah menjadi lima kelompok dan pilih salah satu genre musik dan.... “
Kriiiiing,suara bel istirahat berbunyi.
“...dan kumpulkan kertas draft-nya setelah istirahat di meja saya. Draft-nya berisi nama anggota kelompok, genre musik dan nama tokoh yang akan kalian bahas dalam paper kalian. Dan satu lagi... Setiap kelompok wajib membuat rancangan pementasan musik sesuai genre yang kelompok kalian pilih,” jelas Guru Jay yang ditanggapi dengan hening oleh anak-anak sekelas. Bukan karena mereka sudah paham dan bersedia menerima tugas tersebut dengan senang hati, melainkan karena mereka tak menyangka akan mendapatkan tugas yang menantang semacam ini secara spontan dan tiba-tiba.
“Tugas ini akan kita bahas pekan depan! Yeay, tidak sabar menanti hari Rabu datang lagi,” Setidaknya mereka perlu beberapa detik untuk tenggelam dalam alam bawah sadarnya masing-masing, mencerna setiap poin tugas yang disampaikan oleh Guru Jay dan ketika mereka tersadar, Guru Jay sudah keluar dari kelas meereka.
“TIDAAAAAK!!!” setidaknya dua per tiga siswa 9D berteriak histeris mendapati tugas ini mengandung unsur “pementasan” dan Guru Jay tidak akan pernah main-main setiap ucapannya.
*****
Awan mendung memayungi ubun-ubun setiap siswa 9D. Mereka tidak menyangka pelajaran musik mereka, yang diawali dengan suka cita sembari mendengarkan dan menceritakan cita-cita masing-masing anak-anak 9D, berakhir suram seperti ini. Nanda dan Tiwi, si kembar siam beda ayah ibu, yang duduk sebangku, telah bertanya ke anak-anak kelas 9C dan 9E perihal pemberian “semacam tugas aneh” dari Guru Jay kepada kelas mereka dan jawabannya adalah sama-sama TIDAK. Hal ini membuat awan mendung di langit-langit kelas 9D semakin hitam.
Pasalnya, ini hanya dua bulan menjelang Ujian Nasional. Mereka harus meningkatkan kapasitas belajar mereka pada mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional. Mereka berpikir bahwa tugas yang diberikan Guru Jay hanya akan mengurangi jatah waktu belajar mereka yang berharga. Apalagi Guru Jaya membumbui tugas dengan kata "pementasan” yang artinya sembilan puluh sembilan persen, apa pun yang terjadi nantinya, Guru Jay pasti akan mewujudkan pementasan ini tetap terselenggara.
“Andiii! Ichsaaan! Bagaaas! Nandaaa! Tiwiii! Ke mari!”teriak seorang siswa laki-laki yang selalu memakai jaket setiap saat.
“Apa sih, Iaaan! Berisik deh!” jawab Tiwi dengan muka sebal. Teriakan siswa laki-laki berjaket yang dipanggil Ian itu memang sangat keras. Ditambah lagi, suara tenor yang unik, tetapi lebih mendekati cempreng seakan menggaruk-garuk telinga. Kelima orang yang namanya dipanggil itu pun mendekati Ian dengan tujuan agar ia tidak lagi menimbulkan polusi suara bagi warga kelas lain.
“Apa sebaiknya aku melaporkan ini kepada papaku?” tawarIan.
“Ini? Ini apa? Oh tidak! Maksudmu bukan tentang...” jawab Nanda sambil membekap mulutnya sendiri.
“Tepat sekali! Tugas ini tidak penting sama sekali. Kita sebentar lagi ujian loh. Ingat, kan? Kita tidak mungkin menuruti perkataan Guru Jay yang semaunya sendiri ini. Pak Salman, Papaku, kan kepala sekolah. Hanya papaku yang dapat membuat Guru Jay, membat...”
“TIDAK, papa’s boy!”jawab kelimanya serentak membuat Ian terlonjak di tempat.
Andi pun mendekati Ian. Diraihnya telinga kiri Ian kemudian berbisik dengan volume bisik yang tidak mampu didefinisikan sebagai suatu bisikan, “Sudah saatnya kamu keluar dari balik ketiak papamu, Ian. Ayolah, kita hadapi tantangan ini dengan cara jantan..."
"... dan elegan,” imbuh Nanda.
Wajah Ian memerah, bibirnya bergetar sembari menimpali, “Tapi kalian sendiri tidak suka dengan tugas ini, kan?” Mata hitamnya berkaca-kaca.
“Kami memang sedikit shocked Ian, tapi kami lebih tidak suka jika kamu menjelekkan guru dan menyelesaikan masalah tugas ini dengan cara seperti itu. Iya, kan, geng?” kata Tiwi yang langsung diiyakan oleh seantero kelas. Ian terdiam, wajahnya tertekuk dan terlukisi semburat malu.
Kriiiiing...
Bel tanda masuk pelajaran terakhir berbunyi lebih keras dibandingkan biasanya. Anak-anak 9D berlarian mencari kelompok musiknya masing-masing. Ada yang masih memilih genre musik untuk kelompoknya; ada yang mencakar rambutnya sendiri karena tak kunjung menemukan titik temu dari genre musik dan ide pementasan kelompoknya; ada yang bersorak karena akhirnya mereka berhasil menentukan satu genre musik setelah beradu opini sepanjang istirahat; dan ada pula yang masih berdebat kusir sejak sebelum istirahat. Singkat cerita, belum ada satu pun kelompok yang telah berhasil menyelesaikan draft mereka.
“Bu Kinan sudah dataaaang,” teriak Sabri, salah satu siswa 9D yang terbiasa bertugas sebagai penjaga palang pintu kelas, sambil berlarian tak tentu arah hingga akhirnya masuk ke dalam kelas.
“Terima kasih Sabri sudah mengumumkan kedatangan Ibu. Kamu boleh duduk di tempat semestinya,” kata Bu Kinan, guru Bahasa Indonesia mereka, sembari membantu Sabri, yang entah bagaimana caranya ikat pinggangnya yang menjuntai tersangkut gantungan sapu ketika berlarian tadi sehingga ia terjerembab dengan muka mendarat terlebih dahulu. Tawa anak-anak 9D pun meledak dan Sabri akhirnya kembali ke kursinya sambil mengelus-elus dahi dan hidung setengah mancungnya.
“Selamat siang anak-anak. Oh, iya. Sebelumnya ada titipan pesan dari Pak Guru Jay...” kata Bu Kinan tiba-tiba dan sukses membuat atmosfer kelas yang sempat bertabur tawa selama beberapa detik seolah berubah menjadi ruang yang terpolusi gas metana, membuat mereka menahan napas. Bu Kinan melanjutkan perkataannya, sembali tersenyum geli, “Santai saja,anak-anak. Beliau bilang kalian bisa mengumpulkan draft tugasnya maksimal jam 3 sore di mejanya. Ia akan menunggu,” kata Bu kinan yang secara signifikan berhasil membuat aura kelas berubah dan bertabur pelangi-pelangi kelegaan. Setidaknya mendung di langit-langitnya sedikit berkurang.
“Satu lagi...” ternyata pengumuman dari Bu Kinan belum selesai dan beberapa dari mereka kembali menahannafas, mengantisipasi jika apa yang diumumkan adalah kabar lain dari Guru Jay. “Hahaha ,tenang saja ini bukan tentang Pak Guru Jay dan tugasnya, tapi tentang teman sekelas kalian yang baru. Cahaya! Sini masuk, nak!” kata Bu Kinan sembari melambaikan tangan ke seseorang di luar kelas dan disusul dengan masuknya sesosok gadis perempuan cantik, berkulit langsat dengan rambut panjang terjuntai hingga sepinggang.
“Perkenalkan dirimu, Cahaya,” perintah Bu Kinan.
“Cahaya imnida... Uhm, maksud saya, nama saya Cahaya. Saya adalah siswa pindahan dari Korea Selatan,” kata si siswa baru, yang diikuti dengan gumaman dan sorak tertahan dari anak-anak 9D. Cahaya dapat membaca keterkejutan mini para calon teman sekelasnya. Ia pun melanjutkan, “Meski demikian saya lahir di Indonesia, kok. Ibu, kakek dan nenek saya berasal dari Wonosobo. Itulah sebabnya saya pindah ke sini dan... Hey, jika kalian masih tidak percaya, apa kalian tidak sadar kalau bahasa Indonesia saya cukup baik dan lancar?” tanya Cahaya dengan hiasan senyum manis yang membuat siswa 9D tertawa kecil.
“Bagus, perkenalan yang menarik Cahaya. Sekarang kamu bisa duduk di kursi kosong di samping Sabri, di belakang Tiwi dan Nanda,” kata Bu Kinan, masih dengan senyum pisangnya yangkhas. Cahaya mengikuti arah dan duduk di kursi yang ditunjukkan Bu Kinan. "Yap, tepat sekali di sana."
“Anyeong! Salam kenal Cahaya,” sapa Tiwi dan Nanda bersamaan.
“Anyeong! Wah kalian mengetahui bahasa Korea!?” jawab Cahaya bersemangat.
“Sedikit. Haha,” kata Tiwi.
“Kami kan penggemar hal-halberbau Korea, termasuk musik Korea. Ihihihi,” timpal Nanda.
“Kau jenius, Nanda! Bagaimana kalau kita mengangkat tema musik Korea untuk paper kita?” kata Tiwi saking bersemangatnya hingga membuat Bu Kinan repot-repor menyuruh mereka memperhatikannya di depan.
Raut wajah Cahaya berubah seketika setelah mendengar percakapan kecil keduanya. Ia hanya menjawab “oh” datar, yangentah mengapa berhasil membuat Nanda dan Tiwi salah tingkah dan berbalikmenghadap ke depan memperhatikan Bu Kinan.
‘Lagi-lagi ini terjadi. Orang-orang yang dengan bangga mendeklarasikan kecintaannya kepada budaya bangsa lain. Apakah aku akan asing juga di sini?’ batin cahaya.
*****
(bersambung)
Jika
Jika aku menceritakan sisa waktu ini
Akankah ada perbedaan pada dirimu?
Jika bukan sebuah pengakuan,
maka ialah sebentuk belas kasihan
Friday, 6 December 2013
Unfollow
My beloved bloggie,
Lo pasti tidak tahu bahwa salah satu orang, yang menurut gue termasuk ke dalam kelompok orang yang nyaman, sudah meng-unfollow gue. Ya, sekarang lo sudah tahu, kan? Tidak usah ditanyakan bagaimana cara gue mengetahuinya, bahwa ada orang yang meng-unfollow gue.
Oke, sebelumnya, gue jelaskan dulu, unfollow yang gue maksud itu apa. Jadi, di FB, ketika lo berteman dengan A, lo akan dapat melihat kabar berita dari A itu, baik meng-update atau mengomentari status, meng-upload foto, dan aktivitas-aktivitas lainnya. Nah, ketika lo bisa melihat aktivitas dari A di beranda lo, berarti lo masih mem-follow dia. Fitur ini memang akan menjadi deffault settings di FB ketika lo berteman dengan seseorang. Namun, lo juga dapat membuatnya tidak muncul di beranda FB dia, dengan mengutak-atik pengaturan pertemanan lo dengan dia. Dengan demikian, lo tidak akan mengetahui aktivitas dia (si A), selain lo mengunjungi akunnya atau biasa dikenal dengan sebutan kepo.
Nah, di-unfollow yang semacam itulah yang gue terima dari seseorang itu. Tindakannya itu mungkin membuat dia tidak lagi terberisiki oleh status-status labil gue. Namun, apakah dia pernah memikirkan bagaimana tingkat kecemasan dan perasaan bersalah gue terhadapnya, ketika gue tahu bahwa gue di-unfollow-nya?
Gue seorang yang parnoan. Akibatnya, gue kepikiran dan menjadi sungkan. Gue tidak lagi senyaman dulu dalam berkomunikasi dengannya. Perasaan bersalah, yang selalu tak terhentikan oleh logika, dan keinginan meminta maaf, yang tak juga tersampaikan, membuat gue galau ketika teringat tentangnya.
Atas hal itu, gue pun mengotak-atik akun twitter-nya agar tidak mem-follow gue. Gue tidak mau dia kembali terberisiki oleh gue di twitter. Namun, setelah gue pikir-pikir, buat apa gue melakukan itu? Hahaha. Tidak masuk akal memang.
Thursday, 5 December 2013
Membalas SMS
Gue adalah orang yang akan langsung berpikir macam-macam jika SMS gue tidak dibalas. Oleh karena itu, sering kali gue mengomel tidak jelas kepada siapa saja yang ada di dekat gue ketika gue sedang menantikan SMS gue yang tidak kunjung dibalas oleh seseorang.
Oke, berdasarkan pengamatan gue, kepedulian dan urutan prioritas seseorang, salah satunya dapat dilihat dari cara dia membalas SMS.
1. Jika dia selalu membalas SMS, terkadang cepat, terkadang lama, tapi setiap SMS untuknya selalu dibalasnya, artinya dia adalah seorang yang bisa jadi adil, berkecukupan (pulsa), responsif dan tidak pemilih. Tipe orang seperti ini akan menjadi orang yang akan selalu diingat atau dicari untuk dikirimi SMS, baik penting maupun tidak.
2. Jika dia sesekali membalas dan sewww
Wednesday, 4 December 2013
Ini tentang Begitu Belum (atau Memang Tidak) Berjodohnya Gue dan Itu (1)
Wednesday, 27 November 2013
Memasak
Selamat tengah malam, my beloved bloggie...
Jangan bertanya kenapa gue jadi rajin nge-blog lagi. Selain gue memang lagi bosan sekali karena gue merasa supet duper tidak ada kerjaan, gue juga lagi suka menulis post dengan aplikasi blogger yang baru, huwahaha. Jadi, terimalah nasibmu sebagai blog gue.
Oke. Ini cerita tentang gue yang mulai belajar memasak kembali setelah pindah kost di Yellow Orchid. Memang, salah satu alasan gue pindah adalah agar bisa memasak, yang notabene akan menjadi persiapan untuk masa depan. Haha.
Gue satu kamar dengan Dzakia dan dialah yang selalu setia menjadi partner memasak gue. Masakan pertama kami adalah jeng...jeng...jeng...: martabak mie, yang super duper mudah untuk dibuat. Bermodal telur, mi telur, irisan bawang, garam dan cabai, jadilah martabak mie yang notabene menjadi makanan yang paling kita masak. Keesokan harinya, gue memberanikan masak untuk memasak tumis kangkung seorang diri. Itu adalah pertama kalinya gue memasak tanpa pengawasan atau ditemani orang lain. Haha. Dimasukkanlah segala bumbu
Saturday, 23 November 2013
Disactive
Gue hobi banget dengan yang namanya disactive akun jejaring sosial. Hal ini tidak gue lakukan baru-baru ini saja, tapi memang dari dulu SMA sudah terbiasa melakukan ini. Ini gue lakukan setiap kali gue malas melihat perasaan orang lain yang mereka luapkan di medsos itu atau memang sedang menghindar dari orang-orang untuk beberapa lama. Alasan gue disactive akhir-akhir ini lebih karena gue bosan. Gue hampir selalu berkomunikasi lewat medsos alias dunia maya dibandingkan berjumpa langsung. Gue pengen menguranginya. Di sisi lain fungsi medsos untuk gue, akhir-akhir ini, tidak lebih hanya sebuah bejana penampung pemikiran, prejudis, opini, hasil observasi dan sebagainya. Gue tetap saja jarang berinteraksi dengan orang betulan. Oleh karena itu, gue pun mulai bosan bermain medsos.
Rabu, Minggu lalu, gue berbincang dengan dua teman gue: Widya dan Laeli. Dari situ gue mulai menyadari bahwa gue harus sangat mengurangi kebiasaan gue, terlalu asyik dalsm dunia gue sendiri, dalam hal ini adalah media sosial. Itulah kunci utama untuk dapat berubah, menjadi lebih hidup. Berkomunikasi menggunakan mulut bukan jari, berdiskusi dengan manusia tanpa perantara dan memecahkannya dengan cara rasional bukan hanya sekedar berandai-andai dengan banyak ide tapi sulit dijalankan. Gue memang sangat merindukan obrolan semacam itu, ketika dengan mereka berdua. Terima kasih, gue pindah ke sini, gue dikelilingi manusia yang dapat berbunyi bukan lagi tembok-tembok dan satu jendela berteralis besi yang kaku dan dingin.
Uhn... Sebelum gue merasa bosan hingga berakhir pada disactive ini, gue sebenarnya cukup banyak mengobrol selama setidaknya satu bulan. Gue merasa bahwa gue cukup punya teman yang merespon gue dengan baik di dunia maya. Namun, yeah ternyata itu hanyalah obrolan musiman di mana setelah hilang "aroma"-nya maka hilang juga kenikmatannya. Dengan nyata, gue mulai tak nyambung dan tak lagi terpanggil dalam obrolan komunitas orang-orang itu. Satu bulan itu menjadi waktu yang cukup menyenangkan, meski setelahnya gue kembali ke dalam aktivitas seperti ini, terjun ke dalam lembah yang suram dan membosankan.
Tunggu! Itu dulu sebelum gue pindah ke sini, ke Yellow Orchid, sebelum gue memiliki teman sekamar, Dzakia. Alhamdulillah... Gue tidak lagi merasa kesepian, meski jujur gue belum bisa mengusir kemalasan dan memulai apa yang seharusnya diselesaikan atau setidaknya selesai setengah.
My bloggie, gue bakal segera mengisi lo dengan berita bahagia alih-alih perasaan kecewa atau sebagainya. Support me!!!
Monday, 18 November 2013
Riwayat Cinta Gue (3)
Seorang Adik Kelas (1)
Mungkin lo sendiri sudah tahu, my bloggie, kalau sebagian besar kisah hidup dan fokus perhatian gue lebih tercurah pada kehidupan sosial dibandingkan pada keberlangsungan hidup gue di dunia kuliah. Entah itu fokus kepada Perhimak UI, pada teman-teman seangkatan, HMD, orang yang sedang lebih diperhatikan dan lain sebagainya. Yeah, jika lo bertanya "Kenapa?", gue juga tidak tahu kenapa fokus gue melenceng sekali seperti itu.
Saat ini, tepatnya sejak tiga bulan terakhir, pasca bimbel, gue lagi suka baca-baca blog orang, salah satunya ID, seorang adik kelas atau adik angkatan atau junior, yeah semacam itulah. Lama-kelamaan, gue menjurus ke arah kepo terhadap dia, melalui tulisan blog-nya itu. Hal ini dikarenakan tulisan-tulisannya sendiri yang cukup variatif, dari yang isinya rangkuman kesehariannya yang diwarnai opini dan pemikirannya, hingga tentang sosok-sosok orang yang ia kagumi dan sayangi. Dari pemikirannya tentang fenomena sosial sehari-hari, hingga puisi-puisi yang merepresentasikan perasaan hati.
Dia konsisten dalam menuliskannya. Ini poin yang membuat gue selalu tertarik untuk mengunjungi blognya. Bahkan, karena terlalu seringnya, dia sempat repot-repot menulis satu post tentang gue di blognya. Dia berkata bahwa itu adalah wujud apresiasinya kepada gue karena sering membaca dan mengomentari blognya. Gue sendiri kurang berkenan dan tidak merasa cukup pantas dimuat di dalam blognya. Terlebih jika alasannya adalah untuk mengapresiasi gue. Gue adalah orang yang gampang risih jika diapresiasi atas hal-hal sepele. Namun, pada akhirnya, gue pun tidak enak untuk memintanya menghapus post tentang gue. Sebenarnya, tidak apa-apa juga sih post itu tetap ada, asalkan alamat blog gue (yang ini) disamarkan atau kalau bisa dihapus sekalian. Gue pernah memintanya, tapi dia tidak mengabulkannya dengan alasan tulisan-tulisan dalam blognya tidak akan pernah diedit. Akhirnya, gue merelakan. Toh, tulisannya tidaklah berkonten hal-hal yang buruk.
Dia, adik kelas yang satu ini, adalah orang yang memiliki cara berpikir dan berkomunikasi yang unik, menurut gue. Dia cerdas, kritis, pandai berbicara, dan memiliki gaya dan ciri khas menyampaikan idenya tersendiri. Tata bahasanya terkadang terkesan berputar, tetapi itulah mungkin caranya membuat setiap detil ide ucapannya terkorelasi dan tersampaikan dengan baik dan sopan. Wawasannya juga luas, tidak diragukan.
Namun, entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal di pikiran gue tentang adik ini. Apakah dia semacam merindukan perhatian? Sebab terkadang dia melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan orang biasa di dunia maya: menge-post gambar atau foto editan orang tertentu, merekam aktivitasnya dan orang terdekatnya dan meng-upload-nya je situsnya, menjodoh-jodohkan orang tertentu di sekelilingnya hingga terkadang membuat orang terkait kesal olehnya. Gue tidak tahu apa motivasi dia melakukan hal-hal itu. Gue pikir, dia semacam..... Ah, ya sudah lupakan saja karena itu bukan urusan dan kewenangan gue, menerka-nerka perasaannya.
Gue berharap kelebihan adik kelas yang satu ini, suatu saat tersalurkan dengan baik dan tepat hingga bermanfaat bagi orang banyak. Gue yakin, dia berpotensi sekali menjadi orang hebat yang kritis, agamis dan menjunjung kepentingan orang banyak. Gue pernah satu atau dua kali satu kepanitiaan dengannya. Dia hebat. :)
#acak adul, nulis ini pakai handphone
Thursday, 14 November 2013
Lutung Kasarung (versi Ani dan Dzakia)
Yo...
Namun, entah kenapa setelah gue nonton salah satu folder dari Helmi yang diberi nama "Hello Baby Shinee", kecuekan gue pun langsung berubah 480 derajat! Sebenernya itu folder adalah folder titipan yang musti gue kasihin ke Dila. Eh guenya malah jadi penasran terhadap hal yang membuat Helmi jadi gila, yaitu benda-benda beraroma Korea dan bisa nyanyi-nyanyi sambil joged-joged di panggung bernama boyband Shinee ini.
Suatu malam yang terik (?), gue pun memberanikan diri buat nonton sendirian. Volume suaranya gue kecilin biar nggak ngebrisikin tetangga kamar kost dan terutama gue
Wednesday, 13 November 2013
Sepuluh Bulan (2)
Oke, bloggie... Bersiaplah menerima post gue selanjutnya tentang sepuluh bulan yang gue alami, wahahahai. :D
Agustus Ke-80
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
Lagu di atas merupakan lagu Amaryllis karya komposer Henri Ghys. Saya memainkannya dengan aplikasi piano pada ponsel saya. Oh iya, mohon...
-
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
“Mau semangka?” “Aku puasa,” jawabnya sekenanya. “Oh, afwan. Nggak pulang, Di?” tanyaku. “Tidak,” jawabnya singkat. “Kenapa...