Foto di atas diambil saat mereka mau pergi ke Setu Babakan. Gue juga ikut, tapi gua yang ngambil fotonya. Cantik-cantik ya? Sayang cuma 12 orang doang yang ikut. Sisanya mager, belajar atau tidur-tiduran. Anak-anak cowoknya malah baru pada kasti. Pada nggak ikut deh mereka.
Ini tentang melukiskan dunia dalam kata; tentang aku dan jejalanan yang akan atau telah aku lewati; tentang Kawan yang lebih berwarna dibandingkan pelangi; tentang ramainya penjelajah ilmu yang selalu haus memecahkan teka-teki; tentang cinta yang tak kan pernah henti meski listrik mati; dan tentang aku yang masih mencari jati diri. Aku menulis... untuk mempertahankan memoriku hidup lama, jauh lebih lama dari aku menempuhi hidup ini.
Friday, 13 July 2012
B3 2012
Entahlah, ada perasaan lega... ada perasaan kurang rela. Mereka pergi dengan segera, di saat gue masih ngerasa belum ngasih apa-apa ke mereka. Gue pun enggak tahu apakah mereka sudah cukup puas bersama kami selama ini. Namun, dari raut wajah mereka yang superpolos, ikhlas dan tulus itu, gue bisa menyimpulkan bahwa mereka tidak pernah berbohong dengan apa yang mereka bilang. Dan mereka bilang, "Terima kasih, mbak-mbak, mas-mas." Tak terbendung kebahagiaan gue. Meskipun gue enggak pernah ngajar mereka, meskipun mereka seperti haus kasih dan pengajaran, mereka tetap bisa tersenyum dan bilang terima kasih kepada gue, bahkan salah satu di antara mereka memberikan sebuah bross lucu berbentuk bunga dan berwarna hijau tua. Gue enggak ngerti lagi.... Gue terharu, meskipun gue enggak bisa nangis karena memang beginilah gue yang selalu... datar.
Foto di atas diambil saat mereka mau pergi ke Setu Babakan. Gue juga ikut, tapi gua yang ngambil fotonya. Cantik-cantik ya? Sayang cuma 12 orang doang yang ikut. Sisanya mager, belajar atau tidur-tiduran. Anak-anak cowoknya malah baru pada kasti. Pada nggak ikut deh mereka.
Foto di atas diambil saat mereka mau pergi ke Setu Babakan. Gue juga ikut, tapi gua yang ngambil fotonya. Cantik-cantik ya? Sayang cuma 12 orang doang yang ikut. Sisanya mager, belajar atau tidur-tiduran. Anak-anak cowoknya malah baru pada kasti. Pada nggak ikut deh mereka.
Tuesday, 12 June 2012
:(
Serius! Hati yang gelisah itu memang nggak pernah tanpa alasan melakukannya. Ya Allah, ya Rabb... Tuhanku Pengatur Semesta Alam Yang Mahakeren... Tak mampu lagi saya mengeluh lebih dalam. Tak mampu lagi saya meringkuk memeluk lutut dalam keremangan kamar. Saya tak berani berkata-kata...
Mohon ampun saya karena saya tak juga pernah mengerti arti nikmat dan teguran-Mu. Mohon ampun sayaaa...
Mohon ampun saya karena saya tak juga pernah mengerti arti nikmat dan teguran-Mu. Mohon ampun sayaaa...
Wednesday, 25 April 2012
Maaf, Mama...
Gue sudah hafal dengan ekspresi dan tekanan batin seperti ini. Gue seperti seorang udang ribon yang benar-benar nggak yakin otakku berada di tempat yang benar dan digunakan untuk memikirkan sesuatu yang benar-benar benar. Gue seperti becak yang tak bisa mengejar kelajuan shin kan zen, apalagi pesawat jet Rusia.
Gue masih nggak ngerti, seberapa besar pun gue berusaha gue masih nggak bisa menjadi orang yang keren di bidang ini. Gue sering sekali melakukan hal yang sangat melenceng 180 derajat dari apa yang seharusnya gue perbuat. Gue seperti orang yang nggak visi lalu dengan sok melaksanakan misi-misi sesuka hati. Apa yang harus gue lakukan? Gue nggak siap membuat keluarga-keluarga gue di kampung sedih dan kecewa.
Apa yang harus saya lakukan, ya Allah? Saya benar-benar hilang ide dan kejernihan pikiran. Saya benar-benar ingin menangis karena lagi-lagi berada di mulult gua penuh kegelapan. Apakah saya akan berakhir dengan segala sesuatu yang biasa-biasa saja? Apakah saya akan selamanya menjadi pesuruh yang bahagia asalkan diupah diingat oleh sang majikan?
Gue nggak ngerti, kenapa gue tertarik nulis kalau lagi nggak jelas begini doang. Gue nggak ngertiiiiiii....
Gue seperti keong yang lambat, berlendir dan menghama tanaman.
Gue makin nggak berani untuk berteman dengan orang hebat, takut mereka menyesal lalu hilang perlahan, dengan meninggalkan jejak kenangan yang menggantung di ujung kaki bulan.
Huwaaaa... Mama, maafkan anakmu ini. Anakmu yang selalu merepotkan dan nggak begitu pintar. Maaf, ya, Ma.... Maaf banget. Nggak tahu lagi harus ngomong apa. Cuma bisa diam di tanah sepian di tepian malang tanpa tanda bertemu dengan daratan... Maaf, Ma... :(
Gue masih nggak ngerti, seberapa besar pun gue berusaha gue masih nggak bisa menjadi orang yang keren di bidang ini. Gue sering sekali melakukan hal yang sangat melenceng 180 derajat dari apa yang seharusnya gue perbuat. Gue seperti orang yang nggak visi lalu dengan sok melaksanakan misi-misi sesuka hati. Apa yang harus gue lakukan? Gue nggak siap membuat keluarga-keluarga gue di kampung sedih dan kecewa.
Apa yang harus saya lakukan, ya Allah? Saya benar-benar hilang ide dan kejernihan pikiran. Saya benar-benar ingin menangis karena lagi-lagi berada di mulult gua penuh kegelapan. Apakah saya akan berakhir dengan segala sesuatu yang biasa-biasa saja? Apakah saya akan selamanya menjadi pesuruh yang bahagia asalkan diupah diingat oleh sang majikan?
Gue nggak ngerti, kenapa gue tertarik nulis kalau lagi nggak jelas begini doang. Gue nggak ngertiiiiiii....
Gue seperti keong yang lambat, berlendir dan menghama tanaman.
Gue makin nggak berani untuk berteman dengan orang hebat, takut mereka menyesal lalu hilang perlahan, dengan meninggalkan jejak kenangan yang menggantung di ujung kaki bulan.
Huwaaaa... Mama, maafkan anakmu ini. Anakmu yang selalu merepotkan dan nggak begitu pintar. Maaf, ya, Ma.... Maaf banget. Nggak tahu lagi harus ngomong apa. Cuma bisa diam di tanah sepian di tepian malang tanpa tanda bertemu dengan daratan... Maaf, Ma... :(
Thursday, 12 April 2012
Kangen!
Gue kangen padanya hingga pengen nangis. Gue nggak ngerti lagi, kenapa gue payah begini, hehe.
Tiba-tiba aja kangen pada percakapan yang amat jarang sekali itu. Tiba-tiba kangen pada topik percakapan yang tidak pernah jelas itu.
Emang nggak ada yang jelas dari gue dan segala hal yang berhubungan dengan gue. Sudah sekian banyak manusia yang mengatakan bahwa gue sangat tidak jelas. Namun, gue tetap enjoy aja dengan ketidakjelasan gue itu, hehe. Payah emang gue.
Begitu pun dengan kangen gue yang satu ini. Kangen yang tanpa dasar dan alasan yang jelas. Perasaan gue benar-benar seperti lirik lagunya Monita. Bedanya, mungkin si Monita itu pernah berjumpa dengan orang yang dipikirkannya itu. Sedangkan gue? Puas dengan hanya melihat tas punggung coklatnya atau kilatan kacamatanya dari kejauhan. Huaaaah...
Sebenarnya, gue yakin dia tahu kalau gue begini. Kalau gue sering memperbincangkannya mungkin. Kalau gue terlalu berharap lebih dan kalau gue itu kepo terhadapnya.
Mama pernah bilang, secuek-cueknya kaum mereka, mereka bakal nyadar kalau sedang di-kepo-in atau diberi perhatian lebih. Nah gue? Gue udah ketahuan berkali-kali malah. Namun, kenapa dia tetap nggak memberikan tanda-tanda bahwa dia tahu?
Gue yakin, gue pasti ketahuan pas gue mengetikkan nama gue dan nama dia di gemintang.com;
Gue yakin, gue pasti ketahuan memperbincangkan dia dan kekasihnya di catatan FB gue yang berjudul Kopi, di mana gue menggambarkan kelakuannya di suatu siang dari hasil gue nggak sengaja memperhatikannya;
Gue yakin, dia merasa kalau gue nge-kepo-in.
Gue bikin akun twitter karena gue nggak sengaja ke profilnya dan ngeklik profil twitternya, kemudian bertekad untuk menjadi follower-nya di twitter, berharap menemukan perbincangan yang seperti dulu dapat terwujud lewat twitter.
Gue bikin akun flickr.com saat gue login email karena sebelumnya gue melihat profil dia dan dia juga punya akun fickr sejak SMP.
Gue rajin menulis catatan sejak gue mengenal dia dan sebagian besar pokok isi catatan gue adalah mengenainya dan kawan-kawan gue. Kemudian, terkadang gue berharap dia terpanggil dan tertarik meninggalkan komentar di dalam catatan gue. Atau setidaknya gue ingin dia tahu bahwa gue benar-benar seperti ini karena dia dan untuk bisa dilihat olehnya.
Bisa dibilang gue sering mengomentari status-nya.
Bisa dibilang juga gue sering ngajak chat yang nggak penting, meski sekedar memanggil namanya dan setelah itu bingung saat ditanya "apa?" olehnya.
Gue sedikit yakin kalau dia bisa menangkap isi setiap status gue yang gue tujukan untuk dia. Alhasil, terkadang komentarnya yang mendarat di status gue, berhasil membuat gue megap-megap dan berkeringat dingin karena kaget dengan kedatangannya dan seolah-olah dia mengerti. Dia... jenius kukira, meskipun dia tak pernah memasuki kelas unggulan.
Gue sedikit panik, ketika dia pernah bertanya "kangen?" atau "cemburu?" ke gue saat gue memanggilnya atau bertanya kepadanya tentang hubungannya dengan seseorang seangkatannya.
Terus sekarang gue tetap kangen!
Meski Leli bilang dia nggak ganteng, meski Dila bilang gue cuma suka kacamatanya, meski Tiara pernah sedikit sebal gara-gara gue terlalu memikirkan dan mengharapkannya, meski mereka bilang dia udah punya kekasih, meski dia lebih kaya dari gue, meski dia anak terakhir, meski kita selisih 11, meski dia nun jauh di Jogja sana, meski kisah ini betul-betul seperti pungguk merindukan bulan, meskipun gue ancur dan dia lebih mendingan, meskipun gue sama sekali nggak pernah berjumpa langsung dan menatap matanya, meskipun seperti kesempatan seperti itu tak akan pernah sama sekali untuk datang....gue akan tetap kangen dan kangen mungkin hingga meleleh air mata.
Sungguh! Gue nggak pernah bermaksud mengganggu dia dengan memaksakan perasaan gue atau memaksa dia menghormati perasaan gue karena gue cewek yang mungkin lebih patut untuk dihormati daripada disayangi. Ah! Semakin menulis, semakin gue kangen. Kangen yang tak kan terbayar. Kangen yang akan tetap melambai-lambai tanpa disambut uluran hangat darinya. Gue... Haruskah gue mengaku kepadanya? Mengaku apalagi? Toh, mungkin dia sebenarnya sudah tahu dan sadar. Diamnya, sebenarnya isyarat dia tak ingin tahu dan tak ingin membahasnya. Gue... gue sangat sebal saat dia memanggil kemudian menelantarkan chat gue. Sungguh sangat sedih dan heartbroken. Sayangnya, hal yang demikian amat sangat sering terjadi, huwahahaha...
Ah! Gue males banget UTS TPPD! Gue belum belajar sama sekali karena sibuk menghalau kegalauan dan kangen akut ini. Gue harus bagaimana ini?
Tiba-tiba aja kangen pada percakapan yang amat jarang sekali itu. Tiba-tiba kangen pada topik percakapan yang tidak pernah jelas itu.
Emang nggak ada yang jelas dari gue dan segala hal yang berhubungan dengan gue. Sudah sekian banyak manusia yang mengatakan bahwa gue sangat tidak jelas. Namun, gue tetap enjoy aja dengan ketidakjelasan gue itu, hehe. Payah emang gue.
Begitu pun dengan kangen gue yang satu ini. Kangen yang tanpa dasar dan alasan yang jelas. Perasaan gue benar-benar seperti lirik lagunya Monita. Bedanya, mungkin si Monita itu pernah berjumpa dengan orang yang dipikirkannya itu. Sedangkan gue? Puas dengan hanya melihat tas punggung coklatnya atau kilatan kacamatanya dari kejauhan. Huaaaah...
Sebenarnya, gue yakin dia tahu kalau gue begini. Kalau gue sering memperbincangkannya mungkin. Kalau gue terlalu berharap lebih dan kalau gue itu kepo terhadapnya.
Mama pernah bilang, secuek-cueknya kaum mereka, mereka bakal nyadar kalau sedang di-kepo-in atau diberi perhatian lebih. Nah gue? Gue udah ketahuan berkali-kali malah. Namun, kenapa dia tetap nggak memberikan tanda-tanda bahwa dia tahu?
Gue yakin, gue pasti ketahuan pas gue mengetikkan nama gue dan nama dia di gemintang.com;
Gue yakin, gue pasti ketahuan memperbincangkan dia dan kekasihnya di catatan FB gue yang berjudul Kopi, di mana gue menggambarkan kelakuannya di suatu siang dari hasil gue nggak sengaja memperhatikannya;
Gue yakin, dia merasa kalau gue nge-kepo-in.
Gue bikin akun twitter karena gue nggak sengaja ke profilnya dan ngeklik profil twitternya, kemudian bertekad untuk menjadi follower-nya di twitter, berharap menemukan perbincangan yang seperti dulu dapat terwujud lewat twitter.
Gue bikin akun flickr.com saat gue login email karena sebelumnya gue melihat profil dia dan dia juga punya akun fickr sejak SMP.
Gue rajin menulis catatan sejak gue mengenal dia dan sebagian besar pokok isi catatan gue adalah mengenainya dan kawan-kawan gue. Kemudian, terkadang gue berharap dia terpanggil dan tertarik meninggalkan komentar di dalam catatan gue. Atau setidaknya gue ingin dia tahu bahwa gue benar-benar seperti ini karena dia dan untuk bisa dilihat olehnya.
Bisa dibilang gue sering mengomentari status-nya.
Bisa dibilang juga gue sering ngajak chat yang nggak penting, meski sekedar memanggil namanya dan setelah itu bingung saat ditanya "apa?" olehnya.
Gue sedikit yakin kalau dia bisa menangkap isi setiap status gue yang gue tujukan untuk dia. Alhasil, terkadang komentarnya yang mendarat di status gue, berhasil membuat gue megap-megap dan berkeringat dingin karena kaget dengan kedatangannya dan seolah-olah dia mengerti. Dia... jenius kukira, meskipun dia tak pernah memasuki kelas unggulan.
Gue sedikit panik, ketika dia pernah bertanya "kangen?" atau "cemburu?" ke gue saat gue memanggilnya atau bertanya kepadanya tentang hubungannya dengan seseorang seangkatannya.
Terus sekarang gue tetap kangen!
Meski Leli bilang dia nggak ganteng, meski Dila bilang gue cuma suka kacamatanya, meski Tiara pernah sedikit sebal gara-gara gue terlalu memikirkan dan mengharapkannya, meski mereka bilang dia udah punya kekasih, meski dia lebih kaya dari gue, meski dia anak terakhir, meski kita selisih 11, meski dia nun jauh di Jogja sana, meski kisah ini betul-betul seperti pungguk merindukan bulan, meskipun gue ancur dan dia lebih mendingan, meskipun gue sama sekali nggak pernah berjumpa langsung dan menatap matanya, meskipun seperti kesempatan seperti itu tak akan pernah sama sekali untuk datang....gue akan tetap kangen dan kangen mungkin hingga meleleh air mata.
Sungguh! Gue nggak pernah bermaksud mengganggu dia dengan memaksakan perasaan gue atau memaksa dia menghormati perasaan gue karena gue cewek yang mungkin lebih patut untuk dihormati daripada disayangi. Ah! Semakin menulis, semakin gue kangen. Kangen yang tak kan terbayar. Kangen yang akan tetap melambai-lambai tanpa disambut uluran hangat darinya. Gue... Haruskah gue mengaku kepadanya? Mengaku apalagi? Toh, mungkin dia sebenarnya sudah tahu dan sadar. Diamnya, sebenarnya isyarat dia tak ingin tahu dan tak ingin membahasnya. Gue... gue sangat sebal saat dia memanggil kemudian menelantarkan chat gue. Sungguh sangat sedih dan heartbroken. Sayangnya, hal yang demikian amat sangat sering terjadi, huwahahaha...
Ah! Gue males banget UTS TPPD! Gue belum belajar sama sekali karena sibuk menghalau kegalauan dan kangen akut ini. Gue harus bagaimana ini?
Subscribe to:
Comments (Atom)
Agustus Ke-80
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
Lagu di atas merupakan lagu Amaryllis karya komposer Henri Ghys. Saya memainkannya dengan aplikasi piano pada ponsel saya. Oh iya, mohon...
-
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
“Mau semangka?” “Aku puasa,” jawabnya sekenanya. “Oh, afwan. Nggak pulang, Di?” tanyaku. “Tidak,” jawabnya singkat. “Kenapa...