Ini tentang melukiskan dunia dalam kata; tentang aku dan jejalanan yang akan atau telah aku lewati; tentang Kawan yang lebih berwarna dibandingkan pelangi; tentang ramainya penjelajah ilmu yang selalu haus memecahkan teka-teki; tentang cinta yang tak kan pernah henti meski listrik mati; dan tentang aku yang masih mencari jati diri. Aku menulis... untuk mempertahankan memoriku hidup lama, jauh lebih lama dari aku menempuhi hidup ini.
Wednesday, 22 June 2011
Friday, 29 April 2011
Esai Kaligrafi yang dibikin Satu Jam doang...
Nomor Absensi: 13
Don’t Judge A book from the Cover
Berbicara tentang lukisan, hal-hal pertama yang terlintas di benak kita pasti tidak jauh-jauh dari gambar, keindahan, polesan warna yang padu dan harmonis atau opini-opini lain yang cenderung berkaitan dengan penampilan fisik lukisan tersebut. Lukisan memanglah salah satu media penyalur seni yang menghasilkan keindahan sejuta macam dan berjuta makna. Kemajemukan makna ini timbul akibat dari perbedaan penafsiran dan penilaian setiap penikmat seni yang mengamatinya. Pada umumnya, hanya sedikit orang –di samping pelukisnya-- yang mampu menerka dengan benar makna dari sebuah lukisan. Inilah salah satu hal yang menarik dari lukisan menurut saya. Lukisan itu indah, mengantongi berjuta makna dan menjerat kita untuk berpikir sambil berimajinasi.
Lukisan hanyalah satu contoh saja dari segunung benda seni dunia yang populer di masyarakat. Seiring berlarinya waktu, lukisan terus mengalamai pemekaran. Lukisan tidak hanya menuangkan kembali wujud benda yang secara nyata ada di depan mata ke dalam kanvas, tapi dapat pula merekam ayat-ayat suci Tuhan dalam bentuk tulisan Khat atau kaligrafi, sebuah tulisan yang indah.
Seni itu indah, sebuah keindahan yang tidak hanya bisa diraba mata, tapi juga dapat disentuh dengan akal dan hati. Dengan kata lain, seni itu sangat erat kaitannya dengan rasa dan logika. Hal ini secara gamblang disampaikan dalam cerpen karya Gus Mus, Lukisan Kaligrafi tersebut.
| Ilustrasi Lukisan “Alifku Tegak Di Mana-mana” |
Mungkin awalnya kita akan terbingung-bingung kenapa sebuah alif itu mampu menggemparkan seluruh pemikat seni. Bahkan, penulisnya sendiri sempat tidak mengerti kenapa hal tersebut bisa terjadi. Namun, itulah seni, khususnya seni lukis kaligrafi. Seni tak melulu memamerkan keindahan dan keberanian memadukan warna. Seni lukis kaligrafi itu, selain bisa dilihat dan dibaca dengan otak, dapat dirasakan maknanya dengan hati. Mungkin kemenangan sebuah alif yang terkenal itu bisa membuat orang awam tertawa karena memang tidak mengetahui maknanya. Namun, bagi seseorang yang mampu melihat dan membaca sisi lain dari seni dan kesenian, alif itu mempunyai sejuta makna yang bahkan lebih mengesankan dibandingkan lukisan bebungaan tulip di tepi kincir angin di Belanda. Orang yang mampu membaca itu salah satunya tokoh Hardi yang di dalam cerpen dikisahkan sebagai pelukis ternama yang melukis segala hal dan menilai serta memaknai segala lukisan dengan begitu detail.
Cerpen tersebut mampu menyadarkan kita bahwa seni lukisan itu tidak hanya untuk indah dilihat. Seni kaligrafi itu tidak hanya untuk dibaca dan digunakan penangkal syaitan seperti yang dimanfaatkan oleh Ustadz Bachri. Dan seni Lukisan Kaligrafi itu tidak hanya mampu menimbulkan kesan indah dan susah dibaca. Namun, kesemuanya itu juga mampu dimaknai karena mereka memang sarat arti dan pesan moril.
Semakin ke ujung cerpen, saya semakin mengerti bahwa seni lukisan, termasuk lukisan kaligrafi itu memang menarik dan berarti. Sesederhana apa pun bentuknya, seminimalis apa pun pewarnaannya bahkan sehuruf saja bentuknya kaligrafi itu tetap memiliki makna dan filosofi. Belum tentu sesuatu yang lebih rumit atau lebih indah mempunyai makna dan filosofi yang membelajari pemirsanya. Seni… Sekali lagi, kaligrafi itu seni. Dibutuhkan perpaduan, mata dan hati untuk mampu menikmati seni. Dan semakin ke sini, saya semakin percaya terhadap kebenaran pepatah asing, “Don’t judge a book from the cover!”.
Wednesday, 27 April 2011
Serial Aisyah Adinda (edited)
Serial Aisyah Adinda
“..............................”
Sudah jam setengah tiga sore. Jam dinding di kamar Dinda berteriak “duaa!” sejak setengah jam yang lalu. Namun, Dinda yang sedang “sibuk” sejak pagi ini tidak juga beranjak dari depan layar laptopnya. Alunan lagu Haddad Alwi berjudul Satu Bintang mengiringi tarian jarinya di atas keyboard. Apa yang sedang dikerjakan mahasiswi semester awal ini? Ternyata oh ternyata, dia sedang online!
“Din, lagi ngapain ? Bantu Tante dulu !”
“Astaghfirullahal’adzim! Dinda belum shalat zuhur!”
“.....” sang tante pun speechless.
*****
“Namira, Maryam, Luna, Wilda, Tante bisa minta bantuan kalian?” Tanya tante Odah. Yang ditanya hanya kebingungan, lalu mengangguk ragu. Sang tante lalu melanjutkan bicara dengan pelan nyaris berbisik, “Begini. Kalian menyadari perubahan Dinda ngga ? Dua bulan terakhir, dia kecanduan internet akut, hingga sering menunda shalat dan istirahat. Jadi.....” Selama beberapa menit, mereka asyik dalam bisik-bisik mencurigakan.
“Oke! Jadi, apa kalian siap membawa Adinda kembali ke alam nyata?” Tanya tante Odah memastikan, lalu diikuti teriakan “Siaaap!” dari mereka berempat.
Dinda sedang turun dari tangga saat merasa namanya disebut-sebut. Alih-alih curiga, anak ini malah berpikir, ‘Sekeren itukah saya sampai disebut-sebut mulu, hihi.’ Sekedar info, Dinda ini telah terjangkit penyakit narsis stadium 4 sejak TK.
Setelah berpamitan dengan Tante Odah, mereka berlima berangkat ke kampus. Kompak sekali lima sekawan ini. Sejak ayah dan ibu Dinda meninggal saat ia kelas 1 SD, Tante Odah dan keempat orang inilah orang tua dan saudara Dinda. Ia selalu menempatkan kelima orang ini setelah ayah dan bundanya di daftar do’anya.
*****
“Dinda, kamu tahu link www.killerjo.net ngga? Buka ya! Please!” Pinta Maryam di suatu hari. Wajah timur tengahnya menyuguhkan ekspresi tidak biasa, membuat Dinda penasaran. Wilda dan Namira pun menampakkan seringai yang tak kalah aneh. Hening.
Tiba-tiba Luna nyeletuk, “Kalian lagi ngomongin apa sih?” Detik berikutnya, Luna sudah dihujani cubitan sebagai hadiah dari ke-lola-annya.
*****
Sore ini sedikit mendung dan sejuk. Dinda, seperti biasanya, sedang duduk di depan laptop. Dia sedang mengalami pergolakan batin, antara membuka atau tidak membuka situs itu. “Ah! Ya udah sih! Tinggal klik aja, malah jadi lebay gini!” katanya.
Dia sedang membuka situs tersebut, saat tante Odah memanggilnya, “Dinda! Shalat ashar dulu!”
“Entar aja deh, tante! Nanggung nih,” jawab Dinda sekenanya. Beberapa detik setelah ia menjawab, tiba-tiba di layar laptopnya muncul gambar sesosok “wanita” berwajah terlampau menyeramkan dengan iris mata berwarna kuning seperti mata kucing, bergigi patah-patah dan rambut terurai lebat di depan wajahnya. Tak hanya itu, suara teriakan wanita yang menyayat telinga pun terdengar bersamaan dengan terbukanya gambar. Dinda terjedot lemari di sampingnya sepersekian detik setelah mendengar suara rekayasa itu, membuat pelipis kirinya benjol cukup besar. Apalagi volume laptop-nya saat itu 100%. Tak khayal jika suara itu terdengar hingga ke ruang TV. Tante Odah tertawa geli sambil membatin, ’Jebakan Batman buatmu, Din!’
Tiba-tiba Dinda keluar dari kamar dengan tergesa-gesa. Tante pun menegurnya, “Mau ke mana?” Dengan singkat Dinda menjawab sambil menutupi jidat kirinya, “Shalat!”
“Sebentar, Din! Sini duduk samping Tante,” kata Tante Odah, membimbing Dinda ke sofa. “Dinda tahu kan? Amal yang pertama diperhitungkan di hari kiamat itu ialah shalat. Jika shalat kita baik, maka terhitung baik pula seluruh amal kita. Namun, sebaliknya, jika shalat kita buruk, maka terhitung buruk pula seluruh amalan kita. Rasulullah juga pernah mengatakan bahwa amalan yang paling utama itu adalah shalat tepat waktu, baru kemudian berbakti kepada kedua orang tua dan kemudian berjihad di jalan Allah.”
Dinda terdiam. Matanya berkaca-kaca. “Iya, tante! Dinda khilaf, menunda shalat untuk memuaskan hasrat main-main internet yang bahkan kedudukannya jauh lebih rendah dari berbakti kepada kedua orang tua dan berjuang di jalan Allah. Astaghfirullahal’adziim... Baru kepikiran ini nih tante: jika setiap waktu shalat, Dinda menunda waktu shalat 1 jam, maka jika sehari 5 jam. Jika sebulan 150 jam dan 1800 jam dalam setahun. Lalu, 12.600 jam dalam 7 tahun, dan itu setara dengan...ehmmm 12.600:24:365.... sekitar 1,5 tahun?” katanya panjang lebar.
“Nah itu! Itu artinya dalam 7 tahun, kamu menunda waktu shalat selama 1,5 tahun? Miris, kan?” kata Tante Odah, seperti berkata kepada anak kecil.
“Tapi, itu tidak akan terjadi lagi, tante! Bahkan membantu tante dan belajar sekalipun, tidak akan membuatku melakukannya. Insya Allah. Apalagi menunda shalat untuk sekadar main internet ga jelas ya ? hehe.” Tiba-tiba Dinda berlari meninggalkan tante Odah sambil berkata “Dan seharusnya tante membiarkan Dinda shalat ashar dulu, baru menasihati.” Tante Odah tersenyum.
By: Anifatun Mu’asyaroh
Serial Aisyah Adinda edisi ke-2
Serial AISYAH ADINDA
“Assalamu’alaykum... Wilda, entar pas rabid tolong bawain hardcopy slide Patologi kamu ya. Mau fotocopy nih. Jam 1 depan kantin? Oke deh! Wassalamu’alaykum Wilda cantik,” kata Dinda seraya memencet tombol end call di handphone-nya. Setelah mengecek pulsanya yang ternyata tinggal Rp2.337,5, Dinda membuka buku catatannya dengan terburu-buru. Diliriknya jam tangan dan….”What? 10.30? Tidaaak! MPK Bahasa Inggris!”
Dinda berlari menuju ke sebuah gedung paling pojok di kampusnya. Lift sudah penuh sesak saat dia sampai di depan lobi. “Ah! Lantai 4 aja! Okelah kalo begitu! Ayo kita terbang!” Lalu Dinda menaiki tangga dengan setengah berlari. Ekor jilbabnya menari lincah mengimbangi larinya.
Satu menit kemudian dia sudah sampai di ruang 4.07. Ia sedang mengendap-endap membuka pintu saat tiba-tiba seseorang di belakangnya memanggilnya, “DINDA!! Kamu telat lagi? Pasti abis rabid?” Deg! Jantungnya seakan berhenti berdetak saking kagetnya. Saat ia berbalik, tampaklah wajah timur tengah sahabatnya, Maryam. Kalau mereka bukan sedang di depan ruang kelas mungkin Dinda sudah memberi Maryam pelajaran berupa jurus “gelitikan dan cubitan seribu jari superpedih ala Dinda”.
“Hehe, kaget ya?” tanya Maryam tanpa rasa bersalah, sedangkan yang ditanya hanya mengangguk-angguk karena masih shock. Mereka pun masuk kelas dan duduk bersampingan. Melihat Dinda yang keterlaluan shock-nya, Maryam berusaha mencairkan keadaan dengan bertanya, “Eh, by the way, kamu udah siap buat UAS Anatomi besok siang belum, Din?” Bukannya mencair, si Dinda malah makin beku.
*****
Namira dan Luna sedang memilih-milih jilbab di salah satu stand bazaar bulanan di kampus. Di tangan kanan Luna tergantung lesu sehelai jilbab ungu menawan, sedangkan di lengan kirinya terkulai jilbab biru muda nan cantik. “Nam, yang mana ya? Luna bingung dahsyat nih. Atau Luna salat istikharah dulu aja kali, ya, Nam?” Namira hanya geleng-geleng. Dalam hati ia berkata, ‘Nih anak galau amat ya?’
Dari kejauhan muncul Dinda melangkah gontai tak terarah. Namira dan Luna lantas menghentikannya.
“Kenapa lo, Din? Lemes amat?” tanya Namira.
“Dinda! Dinda! Kira-kira mana yang lebih bagus? Ini atau ini?” tanya Luna sambil menyodorkan dua jilbab tadi. Sepertinya Luna mengatakan hal tidak tepat di saat tidak tepat karena sekarang wajah Dinda terlihat memerah dan itu artinya dia sedang kalut parah.
“Luna, bisa tidak, sehari aja bersikap dewasa? Rabid, kuis, UAS sehari tiga makul ditambah lagi kamu merengek-rengek gitu, bikin kepala tambah pecah aja tahu ngga sih?” kata Dinda, lalu berlalu tanpa mempedulikan reaksi kedua sahabatnya.
“Emang Luna seganas kuis dan UAS ya?” tanya Luna polos. Matanya berkaca-kaca.
“Mungkin Dinda lagi banyak pikiran, Lun. Positive thingking aja,” jawab Namira sambil mengelus bahu Luna.
*****
“Eh! Tahu nggak? Kata anak-anak yang kemarin udah UAS Anatomi, soal-soalnya itu mirip sama yang tahun lalu! Gue mau fotocopy nih sekarang, pada mau nggak lo-lo pada?” Setidaknya ucapan itu yang didengar Dinda dari obrolan teman-temannya saat ia duduk di taman kampus.
‘Kata Maryam, UAS Anatomi besok. Berarti bareng sama MPK Bahasa Inggris dan Agama. Aku belum mempelajari materinya sedikit pun. Nanti pulang malem. Takutnya kecapekan dan nggak jadi belajar. Gimana dong? Kayaknya fotocopy soal-soal dan kunci jawaban itu nggak papa kali ya?’ pikir Dinda. Ia memikirkan hal ini hingga CS gedung selesai mengepel lobi di samping taman.
“Sudah diputuskan! Mau fotocopy aja! Yeah! Wah itu Sabrina pasti mau ke kelas deh, kebetulan banget! Sab! Bilangin deh!” Sabrina mendekat dan, “Aku nitip absen ya, soalnya ntar dateng telat, mau ada kumpul itu, tahu kan?”
“Selalu aja lo, Din! Ckck…” timpal Sabrina. Dinda hanya cengar-cengir malu.
*****
“Yes!!! Bener-bener keluar semua tuh soal. Alhamdulillah…” kata Dinda seusai mengerjakan soal-soal UAS Anatomi yang berjumlah 60 nomor. “Eh, tapi ini curang! Sebenernya kalo belajar pun pasti bisa ngerjain. Tapi.. ya sudahlah, sekali ini aja, hihi… Astaghfirullohal’adzim… Nggak ah! Nggak boleh begini!” ujar Dinda pada dirinya sendiri. Wilda dan Maryam yang sejak tadi memperhatikannya dari jauh semakin khawatir. Mereka takut Dinda mulai stress karena kurang mampu membagi porsi waktu kesibukannya.
Mereka berdua mendekati Dinda untuk memastikan keadaannya. Belum sempat mereka mengucapkan sesuatu, Dinda sudah nyeletuk lebih dulu, “Aku udah dapet bocoran soal. Buat apa kuliah susah-susah kalau ujungnya curang?” Pengakuan Dinda membuat Wilda dan Maryam tercengang.
Lalu Wilda bertanya, “So, kamu mau ujian ulang, Din?” Dinda mengangguk pasti.
“Subhanallah…” ucap Wilda dan Maryam serempak.
“Yeah, tadi tiba-tiba teringat hadits nabi yang berbunyi: Barang siapa berjalan untuk menuntut ilmu, maka dimudahkan-Nya jalan menuju syurga. Terus, aku merasa percuma aja, kalau dalam perjalanan hidupku aku menuntut ilmu hanya setengah-setengah, masa cuma dapat setengah syurga. Ngga mungkin bisa kan? So, ya aku harus bener-bener usaha! Hehe…” kata Dinda panjang lebar. Wilda dan Maryam menatap Dinda dengan ekspresi seperti berkata, “Bukan Dinda yang biasanya”
“Oh iya! Bye Wilda, Bye Maryam!” Dinda pun berlari.
“MAU KE MANA?” teriak Maryam.
“Minta maaf ke Luna, terus nemuin asdos Anatomi, deh, hehe.”
Serial Aisyah Adinda (original)
Serial Aisyah Adinda
“..............................”
Sudah dini hari. Jam dinding di kamar Dinda berteriak “satuu!” sejak setengah jam yang lalu. Namun, Dinda yang sedang “sibuk” ini tidak juga beranjak dari depan layar laptopnya. Alunan lagu Haddad Alwi berjudul Satu Bintang mengiringi tarian jarinya di atas keyboard. Apa yang sedang dikerjakan mahasiswi semester awal ini? Ternyata oh ternyata, dia sedang online!
“Din, masih bangun? Atau mau shalat malam?”
“Astagfirullahal’adzim! Dinda belum shalat isya!”
“.....” sang tante pun speechless.
*****
“Namira, Maryam, Luna, Wilda, Tante bisa minta bantuan kalian?” tanya tante Odah. Yang ditanya hanya kebingungan, lalu mengangguk ragu. Sang tante lalu melanjutkan bicara dengan pelan nyaris berbisik, “Begini. Kalian menyadari perubahan Dinda ngga? Dua bulan terakhir, dia kecanduan internet akut, hingga sering menunda shalat dan istirahat. Jadi.....” Selama beberapa menit, mereka asyik dalam bisik-bisik mencurigakan.
“Oke! Jadi, apa kalian siap membawa Adinda kembali ke alam nyata?” tanya tante Odah memastikan, lalu diikuti teriakan “Siaaap!” dari mereka berempat.
Dinda sedang turun dari tangga saat merasa namanya disebut-sebut. Alih-alih curiga, anak ini malah berpikir, ‘Sekeren itukah saya sampai disebut-sebut mulu, hihi.’ Sekedar info, Dinda ini telah terjangkit penyakit narsis stadium 4 sejak TK.
Setelah berpamitan dengan Tante Odah, mereka berlima berangkat ke kampus. Kompak sekali lima sekawan ini. Sejak ayah dan ibu Dinda meninggal saat ia kelas 1 SD, Tante Odah dan keempat orang inilah orang tua dan saudara Dinda. Ia selalu menempatkan kelima orang ini setelah ayah dan bundanya di daftar do’anya.
*****
“Dinda, kamu tahu link www.killerjo.net ngga? Buka ya! Please!” pinta Maryam di suatu hari. Wajah timur tengahnya menyuguhkan ekspresi tidak biasa, membuat Dinda penasaran. Wilda dan Namira pun menampakkan seringai yang tak kalah aneh. Hening.
Tiba-tiba Luna nyeletuk, “Kalian lagi ngomongin apa sih?” Detik berikutnya, Luna sudah dihujani cubitan sebagai hadiah dari ke-lola-annya.
*****
Malam ini sedikit mendung dan sejuk. Dinda, seperti biasanya, sedang duduk di depan laptop. Dia sedang mengalami pergolakan batin, antara membuka atau tidak membuka situs itu. “Ah! Ya udah sih! Tinggal klik aja, malah jadi lebay gini!” katanya.
Dia sedang membuka situs tersebut, saat tante Odah memanggilnya, “Dinda! Shalat isya dulu!”
“Entar aja deh, tante! Nanggung nih,” jawab Dinda sekenanya. Beberapa detik setelah ia menjawab, tiba-tiba di layar laptopnya muncul gambar sesosok “wanita” berwajah terlampau menyeramkan dengan iris mata berwarna kuning seperti mata kucing, bergigi patah-patah dan rambut terurai lebat di depan wajahnya. Tak hanya itu, suara teriakan wanita yang menyayat telinga pun terdengar bersamaan dengan terbukanya gambar. Dinda terjedot lemari di sampingnya sepersekian detik setelah mendengar suara rekayasa itu, membuat pelipis kirinya benjol cukup besar. Apalagi volume laptop-nya saat itu 100%. Tak khayal jika suara itu terdengar hingga ke ruang TV. Tante Odah tertawa geli sambil membatin, ’Jebakan Batman buatmu, Din!’
Tiba-tiba Dinda keluar dari kamar dengan tergesa-gesa. Tante pun menegurnya, “Mau ke mana?” Dengan singkat Dinda menjawab sambil menutupi jidat kirinya, “Shalat!”
“Sebentar, Din! Sini duduk samping Tante,” kata Tante Odah, membimbing Dinda ke sofa. “Dinda tahu kan? Amal yang pertama diperhitungkan di hari kiamat itu ialah shalat. Jika, shalat kita sempurna, maka kita akan terbebas dari siksa api neraka. Namun, sebaliknya, jika rusak shalat kita, maka celakalah bagi kita.”
Dinda terdiam. Matanya berkaca-kaca. “Iya, tante! Dinda khilaf, menunda shalat untuk memuaskan hasrat main internet. Astaghfirullahal’adziim... Baru kepikiran ini nih tante: jika setiap waktu shalat, Dinda menunda waktu shalat 1 jam, maka jika sehari 5 jam. Jika sebulan 150 jam dan 1800 jam dalam setahun. Lalu, 12.600 jam dalam 7 tahun, dan itu setara dengan...ehmmm 12.600:24:365.... sekitar 1,5 tahun?” katanya panjang lebar.
“Nah itu! Itu artinya dalam 7 tahun, kamu menunda waktu shalat selama 1,5 tahun? Sayang, kan?” kata Tante Odah, seperti berkata kepada anak kecil.
“Tapi, itu tidak akan terjadi lagi, tante! Bahkan internet sekali pun, tidak akan membuatku melakukannya. Insya Allah.. hehe,” dan Dinda berlari meninggalkan tante Odah.
By: Auriga Amarilis
Tuesday, 19 April 2011
part 1
Kisah Cintaku:
Dari Monyet, Setengah Monyet, Setengah Manusia hingga menjadi Manusia Betulan
Cinta monyet itu seperti apa ya? Kata orang-orang dan berdasarkan hasil penyimpulan dari penontonan film dan sinetron (parah beud!), cinta monyet itu cinta yang dialami saat kita masih anak-anak. Halah. Ada berapa macam cinta di dunia ini sebenarnya? Bisa-bisanya manusia saja mengarang-ngarang nama cinta, padahal cinta yang sebenarnya ya cuma untuk Allah semata kan ya? Hoho… Namun, yeah… mau bagaimana lagi? Toh, aku tertarik juga untuk menuliskan cerita cinta monyet itu, hehe.
Saat itu, aku masih kecil. Tinggi badanku mungkin baru 1,2 meter, masih bau kencur, masih nangis tiga kali sehari dan kadang masih suka ngompol di kasur, hehe. Aku adalah sosok anak kecil yang cerewet, bandel, tidak bisa diam, dan suka bikin anak tetangga nangis di tempat. Hnn… saat aku duduk si kelas 2 SD catur wulan 2, tidak ada anak kelas 2 yang tidak mengenalku dan keganasan sifatku. Satu hal yang bisa dibanggakan adalah aku selalu juara kelas sejak kelas 1 catur wulan 1. Meskipun begitu, mereka tetap berbuat baik padaku mungkin karena aku juara kelas dan ganas kali ya? Pokoknya, aku memang nakal dari anak-anak deh. Dan saat kelas 2 catur wulan 2 itu, untuk pertama kali aku merasakan indahnya bunga sakura berguguran menghujani hatiku. Memang anak kecil sekali, tapi hal itu memang betul-betul terjadi! Memalukaaan…
Ceritanya, aku yang selalu juara kelas dan ganas ini sedang bermain di belakang rumah. Ayahku yang sedang membuat adonan beton di samping rumah tiba-tiba memanggilku setengah berteriak, “Ayoh! Ada temennya dating mau pinjem buku katanya!” Aku bergegas ke pintu depan dan kudapati seorang anak laki-laki setinggi tiga sentimeter lebih pendek dariku di samping tiang lampu jalan tengah memegangi sepedanya. Aku yakin sepeda itu baru saja terbebas dari roda pembantu, terlihat saja.
Aku memanggilnya dengan suara khas preman pasar Tumenggungan, "Hey! Mau apa ya ke mari?" Dia mendekat dengan setengah berlari meninggalkan sepedanya yang terkulai lemah ke tiang lampu jalanan. "Mau pinjem buku Matematika, mau nyontek PR. Eh salah..mau nyocokkin PR Matematika. Boleh kan?" Dia mengakhiri kalimatnya dengan senyum serupa pisang. Rambutnya yang kaku dan berdiri-diri seperti duren bergerak-gerak karena kepalanya mengangguk-angguk ngga jelas. Waah... anak kecil sekali kami berdua saat itu. Entah bagaimana caranya, sejenak aku lupa kalau aku orangnya jaim dan sok ganas. Aku melangkah ke dalam rumah, memasuki kamarku di pojok paling belakang, membuka tas biru muda yang sudah setahun tak dicuci saat itu, lalu merogoh sebuah buku tulis kucel bergambar boneka beruang sekarat di covernya.
Dia masih menunggu dengan sok cool di luar sana. Dia seperti akan mengatakan sesuatu saat aku memberikan buku matematika tulisku itu. Namun, tak jadi. Diam sebentar, akhirnya dia pamit pulang dan berkata terima kasih. Diambilnya sepeda ontel yang mini sekali. Dari balik tiang lampu ternyata muncul anak laki-laki lain yang juga sekelas denganku. Aku berbalik ke dalam rumah dan senyum-senyum sendiri. Kalian ingat salah satu adegan di film Laskar Pelangi saat Ikal pertama kali bertemu A Ling di toko kelontong ayahnya A Ling? Tiba-tiba bunga-bunga tapak dara berhujanan di atas kepala Ikal kan? Yah... kira-kira seperti itu lah rasanya. astaghfirulloh... betul-betul awal "zaman jahiliyah"-nya saya saat-saat itu (ikut-ikutan kata-katanya Imam Sidiq), ckck.
Beruntung zaman jahilliyah itu segera berakhir sebelum semakin jahil. Si anak kecil berambut duren itu pindah sekolah bahkan pindah ke luar kota di awal catur wulan 3, saat dia meraih rangking 3 dan aku rangking 1. Mungkin aku satu-satunya orang yang sedih. Yaa, mungkin beberapa orang tahu kalau saya lebay kan ya??
Yah... aku bersyukur, Allah telah bertindak Mahabenar. Mjngkin jika Allah tidak membuat anak itu pindah, aku si anak kecil polos dan agak ganas akan semakin parah dan tidak lagi menjadi juara kelas di sekolah dasar. Hehe...
Aaaaa... maluuuuu...
Subscribe to:
Comments (Atom)
Agustus Ke-80
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
Lagu di atas merupakan lagu Amaryllis karya komposer Henri Ghys. Saya memainkannya dengan aplikasi piano pada ponsel saya. Oh iya, mohon...
-
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
“Mau semangka?” “Aku puasa,” jawabnya sekenanya. “Oh, afwan. Nggak pulang, Di?” tanyaku. “Tidak,” jawabnya singkat. “Kenapa...