Udah berapa abad ya, gue ngga corat-coret dengan tulisan sendiri dengan sepenuh hati di blog gue yang tergeje ini? Kangen juga... Kangen jadi orang geje! Wiuw, I love geje! #abaikan
Ini Ramadhan hari ke-3, ini Agustus tanggal 3, ini hari ke-3 di minggu pertama Agustus ini... Waaah... Agustus dan Ramadhan tahun ini sepertinya memang akan spesial karena mereka saling berimpit. Kalau menurut status teman SMA gue, tahun ini seolah mengulang moment kemerdekaan Indonesia 66 tahun silam. Kemerdekaan Indonesia yang berlangsung khidmat dan dengan persiapan kilat, 17 Agustus 1945 bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan 1368 H, juga di hari yang sama di mana malam sebelumnya Al-Qur'an diturunkan. Jadi, kenapa gue menuliskan ini, ya? Hadeeh... dengan ini maka dimulailah ketidakjelasan catatan gue kali ini. Oh iya... Gue berharap di tahun yang insya Allah spesial ini, tahun dengan impitan waktu yang cukup menakjubkan seperti duplikat peristiwa paling bersejarah bagi negeri ini, gue mampu menemukan keajaiban, kemerdekaan dan kebaikan bagi seluruh orang, juga gue.
Yeah...
Gue... Gue yang selalu berpikir nyaris selalu pesimis dan rumit ini, yang selalu berdalih berpikir realistis untuk menyamarkan kepesimisan gue ini, bertekad ingin menjadi manusia yang lebih mengenal diri dan bangga terhadap diri gue sendiri, tanpa harus menengadahkan kepala, tanpa meninggikan hati melampaui nyonya Eifel yang congkak (aamiin). Di samping itu, gue pengen bisa ngomong. Ya Tuhan... sembilan belas tahun lebih gue hidup, tapi cara ngomong, kualitas ngomong dan keberanian ngomong gue masih kayak anak SD aja. Gue malu pada semua orang dan diri gue sendiri setiap saat gue menjadi garing dan susah menggiring orang ke puncak, puncak omongan gue, intinya. Aiiishh... Gimana dong?
Ini liburan awal semester... Dan gue harap di ujung liburan ini, gue bakal menjadi Ani baru yang lebih bisa berpikir positif. Huff! Udah berapa karung yang udah gue pakai but menampung kata-kata ungkapan niat itu ya???? Mungkin lo juga bakal bosen kali ya saat baca niatan ajeg gue, yeah...meskipin itu kali pertama lo membacanya.
Liburan ini, gue stay di Depok. Kebumen, udah gue tinggalin sejak tanggal 22 Juli lalu. Gue ikut rangkaian OKK, kali ini bukan sebagai maba, tapi sebagai panitia. Sehari lalu, gue udah mulai putus asa dengan gue yang selalu ngga bisa berbuat maksimal. Gue hampir bisa dibilang bohong di siang bolong, di tengah puasa lagi. Gue ijin telat dateng Welcome Maba 2 dengan alasan mengerjakan tugas Danus dan Bakpao. Namun.....
tiba-tiba gue dikagetkan oleh kritikan superpedas dari Tehe tentang kinerja bidang Danus kepanitiaan Rajawali Perhimak UI. Gue panik dan langsung ingin bertindak, entah tindakan apa, yang penting gue pengen bertindak biar bisa dapet link, dapet dana, lalu mewujudkan itu acara. Yeah...gue sempat sedikit membicarakan ketidakseriusan PO dengan acara ini, tapi gue langsung menampar pikiran negatif itu. Gue itu tahu, kalau PO acara ini sangat serius untuk mewujudkan acara ini, acara yang merupakan impiannya dari zaman SMA dulu. Lalu gue mencoba tenang, gue tampar lagi iklan-iklan pikiran supernegatif yang siap menggoda gue untuk lebih bersu'udzan. Namun...
Semua itu udah agak terlambat. Gue udah izin ke Irma, PJ gue di OKK, bahwa gue ngga bisa dateng WM 2 karena harus ngurusin danus kegiatan Perhimak. Nah, gue itu emang selalu telat nyadar. Kesadaran yang begitu lola itu telah memibikin gue makan acak-acakan kemarin Selasa. Rencana ngurusin danus dan ngobrol masalah danus dengan Hari ngga lancar. Gagal. Udah gitu, saat gue berpikir mau dateng ke WM 2, rasa maulu, gengsi dan males gue bener-bener telah memukul mundur niat gue untuk dateng. Akhirnya gue cuma menggeliat-geliat kayak cacing kelaparan di kamar Iam... Gue... gue merasa sangat merugi dan berdosa kemarin. Parahnya, hal parah lain pun seperti mengikuti keparahan itu hingga malam datang. Gue ngga shalat tarawih berjamaah di masjid. Astaghfirulloh... Nakal sekali saya ini, yaa Rabb. Maaf... :(
Huah!!
Sekarang gue ngga mau melakukan hal-hal galau lagi!!! Gue harus meluruskan dan mewujudkan niat! Gue harus komit dan konsist pada tujuan gue untuk bisa membuat gue bener-bener seorang gue yang sukses.
Kemarin, gue cari info lomba menulis cerpen. Gue baca-baca beberapa lomba beserta ketentuan dan syaratnya. Lalu di salah satu lomba gue dapati temanya adalah kemerdekaan. "Kemerdekaan... Kemerdekaan."
Kata-kata itu seolah-olah bergaung-gaung di kepala gue. Gue juga pengen merdeka! Gue pengen bangun dari kemalasan gue!!! Gue pengen bisa mewujudkan keajaiban, kemerdekaan dan kebaikan, di tahun di mana Hari Kemerdekaan terulang kembali, tanggal 17 Agustus 2011.
Gue bertekad untuk mengituti itu lomba, walaupun gue ngga yakin gue bakal bisa menyelesaikan cerpen itu, mengingat deadline penyerahan naskah cerpen adal 5 Agustus 2011. Gue ngga berharap gue menang atau sejenisnya. Gue hanya berharap gue bisa banngun lalu mengejar lagi cita-cita, ambisi atau yeah.... mimpi yang udah dari dulu gue susun saat gue belum "bangun betul" itu.
Bismillahirrahmanirrahiim... Ridhoi saya, yaa Allah... :D
Ini tentang melukiskan dunia dalam kata; tentang aku dan jejalanan yang akan atau telah aku lewati; tentang Kawan yang lebih berwarna dibandingkan pelangi; tentang ramainya penjelajah ilmu yang selalu haus memecahkan teka-teki; tentang cinta yang tak kan pernah henti meski listrik mati; dan tentang aku yang masih mencari jati diri. Aku menulis... untuk mempertahankan memoriku hidup lama, jauh lebih lama dari aku menempuhi hidup ini.
Wednesday, 3 August 2011
Monday, 25 July 2011
Untuk Dia, Siapa Lagi Kalau Bukan Dia??
Menulislah, kawan! Please, menulislah...
Di saat-saat seperti ini, aku tiba-tiba selalu ingat kawan bincang bisuku. Hai kawan! Masih kawanmu kah aku? Hahai... Aku ingat warnamu, hijau menyala seperti kertas jadwal yang tertempel di tembok utara kamarku. Aku juga masih ingat guyonanmu yang entah kenapa selalu aku nantikan saat aku bosan, haha. Kau benar-benar jadi tempat pelarian. Saat bosan carilah kau sampai ketemu. Sudah berapa puluh kali aku menulis tentang kau di jejaring sosial ini? Dan mungkin kau sempat membacanya. Anehnya kau hanya diam.
Download: www.ieType.com/f.php?F6RzTN
Hai, kawan... Perkataanku terlalu abstrak kah, hingga kau tak pernah mengerti artinya? Aduh! Aku selalu punya masalah dengan kemampuan verbal. Pfiuh...fiuh...
Oia, kawan... Kudengar kau akan segera menempuh hidup baru? Selamat ya? Melihatmu mengenakan kostum itu adalah salah satu hal yang menyenangkan dalam daftarku. Uhn... Itu, itu lho.. Sebenarnya, kamu itu siapa sih?
Aku udah ngomong panjang lebar tinggi, kok ternyata kita ngga saling kenal dan ngga pernah saling sapa? Aku ingin suatu saat nanti, entah kapan, entah saat aku sudah menua renta tak punya daya dan kau juga sama saja hanya saja masih berlari bermain voli, atau entah kapan yang lain, aku ingin kita saling bertegur sapa. Waduh! Aku lupa! Sepertinya itu susah. Sepertinya kita sudah mulai pikun tentang ini ya?
Namun... aku sangat berharap, suatu saat nanti kita mengobrol walaupun hanya untuk melemparkan julukan abnormal kita yang saling tertuju satu sama lain. Dan satu lagi harapanku, kau mau menulis. Aku ingin sekali membaca tulisanmu selain tulisan-tulisan konyol yang mampu membuatku tertawa terguling-guling, tapi tulisan lain, tulisan yang dengan aku membacanya, aku mampu menerka seperti apa kau sebenarnya. Menulislah, kawan! Please, menulislah... Dan undang aku turut serta ke dalamnya....
Wednesday, 22 June 2011
Rabu, 22 Juni 2011
hey! Saya ngga ngerasa begitu! Cuma saya emang ngga suka keramaian... Gimana caranya mengubah ekspresi muka menyeramkan itu?? :(
Friday, 29 April 2011
Esai Kaligrafi yang dibikin Satu Jam doang...
Nomor Absensi: 13
Don’t Judge A book from the Cover
Berbicara tentang lukisan, hal-hal pertama yang terlintas di benak kita pasti tidak jauh-jauh dari gambar, keindahan, polesan warna yang padu dan harmonis atau opini-opini lain yang cenderung berkaitan dengan penampilan fisik lukisan tersebut. Lukisan memanglah salah satu media penyalur seni yang menghasilkan keindahan sejuta macam dan berjuta makna. Kemajemukan makna ini timbul akibat dari perbedaan penafsiran dan penilaian setiap penikmat seni yang mengamatinya. Pada umumnya, hanya sedikit orang –di samping pelukisnya-- yang mampu menerka dengan benar makna dari sebuah lukisan. Inilah salah satu hal yang menarik dari lukisan menurut saya. Lukisan itu indah, mengantongi berjuta makna dan menjerat kita untuk berpikir sambil berimajinasi.
Lukisan hanyalah satu contoh saja dari segunung benda seni dunia yang populer di masyarakat. Seiring berlarinya waktu, lukisan terus mengalamai pemekaran. Lukisan tidak hanya menuangkan kembali wujud benda yang secara nyata ada di depan mata ke dalam kanvas, tapi dapat pula merekam ayat-ayat suci Tuhan dalam bentuk tulisan Khat atau kaligrafi, sebuah tulisan yang indah.
Seni itu indah, sebuah keindahan yang tidak hanya bisa diraba mata, tapi juga dapat disentuh dengan akal dan hati. Dengan kata lain, seni itu sangat erat kaitannya dengan rasa dan logika. Hal ini secara gamblang disampaikan dalam cerpen karya Gus Mus, Lukisan Kaligrafi tersebut.
| Ilustrasi Lukisan “Alifku Tegak Di Mana-mana” |
Mungkin awalnya kita akan terbingung-bingung kenapa sebuah alif itu mampu menggemparkan seluruh pemikat seni. Bahkan, penulisnya sendiri sempat tidak mengerti kenapa hal tersebut bisa terjadi. Namun, itulah seni, khususnya seni lukis kaligrafi. Seni tak melulu memamerkan keindahan dan keberanian memadukan warna. Seni lukis kaligrafi itu, selain bisa dilihat dan dibaca dengan otak, dapat dirasakan maknanya dengan hati. Mungkin kemenangan sebuah alif yang terkenal itu bisa membuat orang awam tertawa karena memang tidak mengetahui maknanya. Namun, bagi seseorang yang mampu melihat dan membaca sisi lain dari seni dan kesenian, alif itu mempunyai sejuta makna yang bahkan lebih mengesankan dibandingkan lukisan bebungaan tulip di tepi kincir angin di Belanda. Orang yang mampu membaca itu salah satunya tokoh Hardi yang di dalam cerpen dikisahkan sebagai pelukis ternama yang melukis segala hal dan menilai serta memaknai segala lukisan dengan begitu detail.
Cerpen tersebut mampu menyadarkan kita bahwa seni lukisan itu tidak hanya untuk indah dilihat. Seni kaligrafi itu tidak hanya untuk dibaca dan digunakan penangkal syaitan seperti yang dimanfaatkan oleh Ustadz Bachri. Dan seni Lukisan Kaligrafi itu tidak hanya mampu menimbulkan kesan indah dan susah dibaca. Namun, kesemuanya itu juga mampu dimaknai karena mereka memang sarat arti dan pesan moril.
Semakin ke ujung cerpen, saya semakin mengerti bahwa seni lukisan, termasuk lukisan kaligrafi itu memang menarik dan berarti. Sesederhana apa pun bentuknya, seminimalis apa pun pewarnaannya bahkan sehuruf saja bentuknya kaligrafi itu tetap memiliki makna dan filosofi. Belum tentu sesuatu yang lebih rumit atau lebih indah mempunyai makna dan filosofi yang membelajari pemirsanya. Seni… Sekali lagi, kaligrafi itu seni. Dibutuhkan perpaduan, mata dan hati untuk mampu menikmati seni. Dan semakin ke sini, saya semakin percaya terhadap kebenaran pepatah asing, “Don’t judge a book from the cover!”.
Wednesday, 27 April 2011
Serial Aisyah Adinda (edited)
Serial Aisyah Adinda
“..............................”
Sudah jam setengah tiga sore. Jam dinding di kamar Dinda berteriak “duaa!” sejak setengah jam yang lalu. Namun, Dinda yang sedang “sibuk” sejak pagi ini tidak juga beranjak dari depan layar laptopnya. Alunan lagu Haddad Alwi berjudul Satu Bintang mengiringi tarian jarinya di atas keyboard. Apa yang sedang dikerjakan mahasiswi semester awal ini? Ternyata oh ternyata, dia sedang online!
“Din, lagi ngapain ? Bantu Tante dulu !”
“Astaghfirullahal’adzim! Dinda belum shalat zuhur!”
“.....” sang tante pun speechless.
*****
“Namira, Maryam, Luna, Wilda, Tante bisa minta bantuan kalian?” Tanya tante Odah. Yang ditanya hanya kebingungan, lalu mengangguk ragu. Sang tante lalu melanjutkan bicara dengan pelan nyaris berbisik, “Begini. Kalian menyadari perubahan Dinda ngga ? Dua bulan terakhir, dia kecanduan internet akut, hingga sering menunda shalat dan istirahat. Jadi.....” Selama beberapa menit, mereka asyik dalam bisik-bisik mencurigakan.
“Oke! Jadi, apa kalian siap membawa Adinda kembali ke alam nyata?” Tanya tante Odah memastikan, lalu diikuti teriakan “Siaaap!” dari mereka berempat.
Dinda sedang turun dari tangga saat merasa namanya disebut-sebut. Alih-alih curiga, anak ini malah berpikir, ‘Sekeren itukah saya sampai disebut-sebut mulu, hihi.’ Sekedar info, Dinda ini telah terjangkit penyakit narsis stadium 4 sejak TK.
Setelah berpamitan dengan Tante Odah, mereka berlima berangkat ke kampus. Kompak sekali lima sekawan ini. Sejak ayah dan ibu Dinda meninggal saat ia kelas 1 SD, Tante Odah dan keempat orang inilah orang tua dan saudara Dinda. Ia selalu menempatkan kelima orang ini setelah ayah dan bundanya di daftar do’anya.
*****
“Dinda, kamu tahu link www.killerjo.net ngga? Buka ya! Please!” Pinta Maryam di suatu hari. Wajah timur tengahnya menyuguhkan ekspresi tidak biasa, membuat Dinda penasaran. Wilda dan Namira pun menampakkan seringai yang tak kalah aneh. Hening.
Tiba-tiba Luna nyeletuk, “Kalian lagi ngomongin apa sih?” Detik berikutnya, Luna sudah dihujani cubitan sebagai hadiah dari ke-lola-annya.
*****
Sore ini sedikit mendung dan sejuk. Dinda, seperti biasanya, sedang duduk di depan laptop. Dia sedang mengalami pergolakan batin, antara membuka atau tidak membuka situs itu. “Ah! Ya udah sih! Tinggal klik aja, malah jadi lebay gini!” katanya.
Dia sedang membuka situs tersebut, saat tante Odah memanggilnya, “Dinda! Shalat ashar dulu!”
“Entar aja deh, tante! Nanggung nih,” jawab Dinda sekenanya. Beberapa detik setelah ia menjawab, tiba-tiba di layar laptopnya muncul gambar sesosok “wanita” berwajah terlampau menyeramkan dengan iris mata berwarna kuning seperti mata kucing, bergigi patah-patah dan rambut terurai lebat di depan wajahnya. Tak hanya itu, suara teriakan wanita yang menyayat telinga pun terdengar bersamaan dengan terbukanya gambar. Dinda terjedot lemari di sampingnya sepersekian detik setelah mendengar suara rekayasa itu, membuat pelipis kirinya benjol cukup besar. Apalagi volume laptop-nya saat itu 100%. Tak khayal jika suara itu terdengar hingga ke ruang TV. Tante Odah tertawa geli sambil membatin, ’Jebakan Batman buatmu, Din!’
Tiba-tiba Dinda keluar dari kamar dengan tergesa-gesa. Tante pun menegurnya, “Mau ke mana?” Dengan singkat Dinda menjawab sambil menutupi jidat kirinya, “Shalat!”
“Sebentar, Din! Sini duduk samping Tante,” kata Tante Odah, membimbing Dinda ke sofa. “Dinda tahu kan? Amal yang pertama diperhitungkan di hari kiamat itu ialah shalat. Jika shalat kita baik, maka terhitung baik pula seluruh amal kita. Namun, sebaliknya, jika shalat kita buruk, maka terhitung buruk pula seluruh amalan kita. Rasulullah juga pernah mengatakan bahwa amalan yang paling utama itu adalah shalat tepat waktu, baru kemudian berbakti kepada kedua orang tua dan kemudian berjihad di jalan Allah.”
Dinda terdiam. Matanya berkaca-kaca. “Iya, tante! Dinda khilaf, menunda shalat untuk memuaskan hasrat main-main internet yang bahkan kedudukannya jauh lebih rendah dari berbakti kepada kedua orang tua dan berjuang di jalan Allah. Astaghfirullahal’adziim... Baru kepikiran ini nih tante: jika setiap waktu shalat, Dinda menunda waktu shalat 1 jam, maka jika sehari 5 jam. Jika sebulan 150 jam dan 1800 jam dalam setahun. Lalu, 12.600 jam dalam 7 tahun, dan itu setara dengan...ehmmm 12.600:24:365.... sekitar 1,5 tahun?” katanya panjang lebar.
“Nah itu! Itu artinya dalam 7 tahun, kamu menunda waktu shalat selama 1,5 tahun? Miris, kan?” kata Tante Odah, seperti berkata kepada anak kecil.
“Tapi, itu tidak akan terjadi lagi, tante! Bahkan membantu tante dan belajar sekalipun, tidak akan membuatku melakukannya. Insya Allah. Apalagi menunda shalat untuk sekadar main internet ga jelas ya ? hehe.” Tiba-tiba Dinda berlari meninggalkan tante Odah sambil berkata “Dan seharusnya tante membiarkan Dinda shalat ashar dulu, baru menasihati.” Tante Odah tersenyum.
By: Anifatun Mu’asyaroh
Subscribe to:
Comments (Atom)
Agustus Ke-80
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
Lagu di atas merupakan lagu Amaryllis karya komposer Henri Ghys. Saya memainkannya dengan aplikasi piano pada ponsel saya. Oh iya, mohon...
-
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
“Mau semangka?” “Aku puasa,” jawabnya sekenanya. “Oh, afwan. Nggak pulang, Di?” tanyaku. “Tidak,” jawabnya singkat. “Kenapa...