Ini tentang melukiskan dunia dalam kata; tentang aku dan jejalanan yang akan atau telah aku lewati; tentang Kawan yang lebih berwarna dibandingkan pelangi; tentang ramainya penjelajah ilmu yang selalu haus memecahkan teka-teki; tentang cinta yang tak kan pernah henti meski listrik mati; dan tentang aku yang masih mencari jati diri. Aku menulis... untuk mempertahankan memoriku hidup lama, jauh lebih lama dari aku menempuhi hidup ini.
Thursday, 26 March 2026
Ironi yang Dinormalisasi
Monday, 9 March 2026
Salah dan Bermasalah
Selalu begini setiap habis beramai-ramai. Ada yang tidak bisa diungkapkan, mengganjal, tapi tidak tahu apa, mengapa, dan bagaimana. Setiap ingin bercerita, selalu ada benturan sana-sini yang mengunci mulut dan jari untuk berbagi. Bayang-bayang tanggapan "kamu kurang bersyukur, kamu terlalu memikirkan hal tidak penting, kamu keras hati dan tidak membuat orang lain nyaman, kamu terlalu menuntut, kamu terlalu memaksakan kehendak, kamu terlalu toksik, kamu terlalu banyak bicara" dan keterlaluan-keterlaluan yang lain" berputar-putar di otak.
Mengapa orang lain bisa bercerita, sedangkan aku baru akan membuka mulut saja sudah salah dan dipatahkan?
Mengapa orang lain boleh meminta tolong, sedangkan aku berusaha melakukan tanggung jawab yang bukan merupakan kebutuhanku pun, mereka buru-buru ingin pergi karena memang mereka terlalu sibuk, bahkan untuk sekadar 5 menit mendengarkan penjelasan 4 hari yang sudah susah payah kuringkas menjadi beberapa kalimat?
Mengapa setiap kata dan tindakan yang kulakukan adalah sebuah kesalahan, tetapi kata mereka bukan kesalahan, tetapi lagi mereka mempermasalahkannya berulang kali tanpa aku tahu bahwa aku si biang masalah?
Mengapa jika aku muncul, orang-orang diam? Aku juga ingin pergi jauh, jauh, dan jauh dari siapapun agar aku tidak salah mengambil keputusan dan tidak menyakiti siapapun.
Mengapa orang selalu minta maaf, tapi aku tak yakin untuk apa: apakah memang mereka yang salah atau aku yang lagi-lagi keterlaluan seperti menyalahkan mereka?
Mengapa mereka mudah pergi begitu saja? Diawali dengan tiba-tiba datang membuatku senang karena merasa diingat sebagai manusia yang layak masuk ke dalam lingkaran, lalu seketika pergi berpindah ke lingkaran lain yang lebih terang tanpa menolehkan muka sedikitpun, meninggalkanku yang membereskan serpihan kenangan yang tercecer di dalam lingkaran lama. Trauma dan rasa nista mengendap dengan tidak indah. Jika sewaktu-waktu ada hantaman batu atau hujan yang masuk, endapan itu naik dan membuat segalanya kembali keruh dan lemah: pikiran, jiwa, kekuatan, dan kewarasan.
Sudah setua ini, tapi masih seproblematik ini. Siapa yang salah? Aku lah pastinya.
Friday, 29 August 2025
Agustus Ke-80
Hidup Rakyat Indonesia!!!
Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda.
Ketika satu komando "Berangkatlah!" dititahkan dengan diiringi wejangan dan doa dari seluruh civitas akademika.
Ketika tirani mulai mengusik rakyat, maka saatnya gemuruh lantang langkah kaki mendekat, tenang tapi berdebam, menuju sumber kezaliman yang perlu dibangunkan.
Mahasiswa bersatu, rakyat bersatu, tokoh berakal bersatu!
Bukan unjuk rasa, pun jangan sampai terkompor emosi dan provokasi!
Layangkan aksi dengan tuntutan bermartabat, demi keadilan dan kesejahteraan masyarakat!
Malulah para penari di atas penderitaan rakyat pertiwi.
Turunlah para penginjak hak 280 juta jiwa pribumi, 280 juta jiwa yang mereka sebut rakyat jelata tolol dan tak tahu diri.
Perbaikilah akal, lidah, hati, dan tindak tandukmu yang tidak mencerminkan perwakilan rakyat dan abdi masyarakat sama sekali.
Ini bukan tentang baper atau emosi
Ini tentang AKAL SEHAT, HATI NURANI demi KEADILAN bagi RAKYAT
Sunday, 3 August 2025
Friday, 14 March 2025
Titipan Doa
To the point sekali, nitip doa begini ke dr. Ria, di umroh tahun ini.
1. Semoga 2 laki-laki di keluarga Ani melembut dan kembali ke jalan yang benar.
2. Semoga ibu sabar dan lebih banyak happy-nya, sampai menyaksikan anak-anaknya hidup stabil.
3. Semoga Zahra Nurussyifa lancar kuliahnya, menikmati studi dan profesinya nanti.
4. Semoga S. Andri N. bisa segera menyelesaikan masalahnya, lebih positif, berdamai dengan keluarganya, dan bisa membangun ceritanya sendiri yang happy ending.
5. Semoga Ani kembali sehat mentalnya, bertemu dengan pasangan baik (menerima Ani), selalu berdiskusi/belajar, dan memimpin ke jalan yang baik dan bermanfaat.
6. Semoga Puskesmas Alian lebih baik. Aamiin...
Aamiin
Friday, 13 September 2024
Monolog (1): Menggantung Harap
Wednesday, 7 August 2024
Meramu Kelu
Thursday, 20 June 2024
Bawang Putih Buruk Rupa
Sunday, 24 March 2024
MD: Ide Yang Tersesat
Saturday, 9 March 2024
MD: Day 1, Restarting
Baik, baik, baik. Ternyata cukup tenang sekaligus seru, mempunyai 1 tempat yang cukup lucu untuk dijadikan tempat menceritakan hal-hal random yang tidak lucu.
Hari ini hari terakhir kerja sebelum Ramadhan, saya bertemu banyak orang dari 2 desa berbeda dan ini cukup menguras tenaga, ahaha. Saya nggak yakin, apa yang saya sampaikan bisa mereka mengerti, tapi saya benar-benar happy bisa berbagi ini itu dengan mereka.
Salah satu hal yang bikin saya masih bisa bertahan dengan baik di sini adalah mereka dan semoga bisa konsisten hingga seterusnya. Mengingat semangat saya sangat pasang surut karena berbagai faktor.
Yohohoo!!! Semoga bisa mulai menciptakan kebahagiaan diri sendiri...
Saturday, 14 October 2023
Saturday, 6 August 2022
Rancu
Thursday, 15 June 2017
Lebarannya Owlet
Awawawawaw!!! Ohisashiburiii!!! Ahahaha...
"OWLET DAPAT TERKONEKSI KE WI-FI LAGI. TIDAK HANYA TETHERING HANDPHONE, TAPI KE SEGALA WI-FI. KE WI-FI RUMAH JUGA BISA. BAHKAN TAK PERLU DUDUK DI DEKAT MODEM-NYA, DARI KAMAR PUN BISA CONNECTED. BETUL-BETUL BAHAGIA SAYAAA... :D"
Monday, 14 November 2016
Curhatan Enumerator
Wahai orang-orang yang menolak berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian (apapun)...
Ketika Anda menolak untuk membantu negara (dalam bentuk penelitian tersebut), ingatkah Anda ketika Anda meminta banyak hal kepada negara ini?
Anda mengecam para pengumpul data, boleh saja. Anda mengira kami semacam sales, MLM, atau pekerja rendahan yang bekerja serabutan dengan bertanya-tanya kepo banyak hal, boleh saja.
Namun, janganlah tolak kami (tanpa alasan), kami yang secara tidak langsung ingin membantu mewujudkan perubahan negeri yang lebih baik. Anda meminta kesejahteraan dari negara ini, tapi Anda tidak mau membantu negara dalam mengumpulkan data dan informasi yang dibutuhkan untuk mewujudkan kesejahteraan itu? Entah mengapa ini terkesan lucu lagi memperihatinkan.
Ak! Fighting para petugas pengumpul data! Bagaimana pun medan dan warna-warni responden, kita harus bisa menjaga kualitas data tetap baik. Aaaaaaaak! *maaf, emosi*
Saya Mah Idealis
Ketika senior mengajarimu hal yang mengarah kepada ketidakkonsistenan dan keberpalingan --demi tawaran materi yang lebih menggiurkan... dengarkan, tapi jangan lakukan!
Yosh! Rezeki dari Tuhan tak pernah tertukar apalagi terhenti. Ini bukan tentang pasrah apalagi keras kepala, melainkan tentang prinsip dan tanggung jawab. Timbang ribuan kali sebelum berpaling, hanya kita sajakah yang merugi, atau orang lain turut dirugikan? Salut kepada orang-orang di yang setia pada tanggung jawab! 👏😆
Tuesday, 25 October 2016
Friday, 26 August 2016
SaSory: Sarung Story
Monday, 23 May 2016
Suatu Hari di Gudang Buku
Rerindangan pohon, dinginnya bangku semen, dan kotak-kotak kayu pengap yang ragu bergeming... Di antara celah mereka, kulihat seorang anak berjalan, akan menghampiri. Hampir-hampir hilang napasku, henti nadiku, dan hangus akal sehatku dalam setengah detik kala itu. Bukan! Bukan karena serangan jantung atau stroke, melainkan karena terkaget pikiran warasku.
Kuikuti sepasang kaki. Dari balikku, muncul lagi, langkah kaki lain. Dia karibnya. Kami berpapasan, aku berdebar, dia tak ubah raut muka. Kami bertiga saling diam. Kawannya melirik muka, aku terdiam sejenak. Berharap, milirik pula mata manusia di sampingnya. Namun tidak. Seekor kupu-kupu hampir mati di sudut lemari kayu karena menyaksikanku.
Aku malu, lantas beringsut ke dalam gudang buku. Ibu garang memoles muka. Ibu sayu mengukur pengunjung. Jemariku mencari buku tentang penari, sedang mataku melirik ke sana dan ke sini. "Aman untuk menjadi diri sendiri," kataku dalam hati.
Berhenti menoleh, kuperoleh sebuah manuskrip tua. Dia coklat, berbau khas, dan tampak megah. Kubuka lembar pertama, dadaku tertinju kagum. Kubuka halaman terakhir, air mata tanpa permisi berlari mengalir. Aku dan perasaanku, dibolak-balikkan lembaran tua yang tak punya judul diri.
Aku jatuh hati untuk kesejuta kali. Kumantapkan hati menulis tentang ini. Secarik kartu terlampau buruk kutarik dari saku dada. Sehelai kertas nota bekas kugelar di atas meja kusam. Pensil menari, otak bersalto liar tanpa kendali. 'Guruku akan bahagia dengan ini!' teriakku tanpa berbunyi.
Aku selesai dan bersiap mengunjungi para ibu penjaga gudang buku. Pintu tiba-tiba penuh sesak dan sinar mentari terhalang oleh benda berbayang yang tidak normal. Dia. Dia menyeruak. Kepala lebih dulu, lantas tangan menyusul, melambai tanpa gaya, entah kepada siapa. Karibnya muncul, meninggalkannya, tertawa tanpa bahasa. Aku kaku. Hatiku ingin meraih, tapi otak tak jua memberi izin. Jiwaku ingin menghambur, tapi raga tak mampu bergerak barang seinci. Maka aku diam tanpa ekspresi.
Keheningan terpecah oleh sebaris bibirnya yang serupa bulan sabit. Tanganku tak tahu cara berdusta, lantas melambai padanya, girang segirang Amelia. Tersadar, terbaca rasa tak biasa, aku mencoba bertingkah luar biasa. Tak ada daya upaya, kakiku melangkah menyamping persis seekor kepiting dikejar burung ceking. Menuju tikus elektronik, menjaring informasi palsu tetang kupu-kupu hitam putih. Napasku berlari, tempat duduk pun seakan tak mau kompromi. Dia masih menatap, aku pura-pura tak lihat.
Dalam hati aku meminta bantuan. "Oh tolong, kau karibnya, cepatlah datang. Bawa dia pulang. Masukkan dia ke dalam lubang di mana kalian biasa berkubang, di mana di depannya aku terbiasa berpura-pura berlalu-lalang."
Aku heran kepada jaring laba-laba yang berlubang besar di hadapanku. Kupu-kupu hitam putih lolos dari tangkapan. Aku kehabisan akal, lantas hilang tingkah. Dia masih di samping para ibu. Aku tak bernyali untuk mendekat. Gudang buku tiba-tiba berlalat, karenaku yang ternyata mulai membusuk, kehabisan waktu menghimpun nyali, kehabisan energi karena kaki tak henti bergetar penuh ekspresi.
Aku tak bisa pergi. Lantas pura-pura membuka diary. Ibu garang melempar perhatian. Ibu sayu masih sibuk mengukur. Dia hilang! Aku terlonjak senang. Berdiri tanpa hati-hati dan menyenggol tubuh lemari. Bruk! Suara lemari teraniaya manusia terlepas dari manisnya mara bahaya. Ibu garang makin penasaran. Berhenti menebar bedak dan membulatkan mata di balik kacamata segiempat. Aku tersenyum tanpa makna.
Aku mendekat dan menyiapkan manuskrip tua. Secarik kartu terhidang di atasnya. Pulpen masuk saku, nota bekas terselip di pengaitnya. Aku harus bergegas sebelum dia muncul dan membuatku lupa bernapas.
Perkiraanku tak sering salah, akan kucapai si ibu dalam lima langkah. Aku melayang, ringan nian dalam ketergesaan. Namun sial! Jidatku menghantam punggung yang lebar! Aku memeluk lantai dan dia memutar badan. Alangkah kesialan ini begitu penuh bintang-bintang, sang pemilik tubuh mengulurkan tangan. Mataku terbuka dan seketika inginku hilang ingatan. Dia! Dia lagi dengan wajah gelisah dan penuh rasa bersalah.
Aku berdiri tanpa menjabat tangan. Lantas tanpa sadar bertingkah tidak wajar. Si manuskrip tanpa alasan ingin kujejalkan dalam tas tangan. Si ibu garang tahu lantas menyetop laju tanganku.
Aku malu dia melihatku. Aku bertingkah salah tingkah, si ibu mengira aku kleptomania. Sedangkan dia terlihat menahan tawa. Aku memerah dan dia menjadi salah tingkah.
Aku berbalik. Membuka lemari berjudul sastra dan melempar si manuskrip. Aku lupa si guru dan lupa tujuan kunjunganku. Dia bermuka heran, si ibu garang melotot seperti biasanya bahkan si ibu sayu berhenti mengukur. Karibnya datang dari pojok ruang mendekati dia. Dia meminta maaf, aku bersiap angkat bicara.
Karibnya ingin berucap sedangkan dia telah siap mendengar pernyataan. Aku tak rela, maka dengan kecepatan kereta kuda, aku mengambil alih percakapan, "Hai! Namaku Ani. Tidakkah kau mengenalku sejak lama?"
Depok, 24 April 2012
Monday, 21 March 2016
Lucu adalah
Bulan ini saya keteteran, tapi saya tidak bisa berhenti untuk bermalas-malasan. Ini kok font-nya besar amat, ya? Wahaha.
Well. Beberapa hari, bahkan beberapa bulan terakhir ini, saya hampir tidak mengalami kejadian menarik sama sekali. Uhn, apa ini maksudnya? Maksud saya, saya nggak punya bahan untuk menulis sesuatu, ya...terlepas dari mulai berkurangnya minat dan keluangan untuk menulis, tidak adanya kejadian menarik sangat berpengaruh terhadap ada atau tidaknya ide menulis. Yep! Saya memang tidak cukup kreatif untuk memunculkan sebuah ide, tetapi ketika sudah tersulut sedikit saja pencerahan, biasanya saya dapat mengembangkan ide tersebut menjadi lebih liar dan ke mana-mana. Cenderung membosankan polanya, tapi ya begitulah cara saya mengembangkan ide pikiran.
Saya 24 tahun, tahun ini. Tahun depan seperempat abad. Ya ampun, masih saja jalan di tempat. Apa yang akan terjadi di akhir tahun? Akankah saya maju atau justru mengalami kemunduran yang signifikan? Ah, saya bukan manusia super yang dapat berubah watak dan otak dalam waktu satu bulan.
Friday, 18 March 2016
Puisi tentang Waktu untuk Event #99Penyair (dibikin kilat, sejam doang)
Ironi yang Dinormalisasi
Dalam tahun ini, terhitung belum genap tiga bulan di saat saya menulis ini, sudah ada beberapa kasus tragis yang berhubungan dengan gangguan...
-
Lagu di atas merupakan lagu Amaryllis karya komposer Henri Ghys. Saya memainkannya dengan aplikasi piano pada ponsel saya. Oh iya, mohon...
-
Hidup Rakyat Indonesia!!! Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda. Ketika satu komando "Bera...
-
Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia Masih ingat lagu itu kan? Aku juga masih ingat... Masih ingat filmnya juga? Kalau aku sih mas...
