Thursday, 26 March 2026

Ironi yang Dinormalisasi

Dalam tahun ini, terhitung belum genap tiga bulan di saat saya menulis ini, sudah ada beberapa kasus tragis yang berhubungan dengan gangguan mental. Ada yang berujung menyakiti orang lain, tapi lebih banyak yang menyakiti diri sendiri hingga menghilangkan nyawa yang bagi mereka mungkin sudah tidak cukup berarti. Semua kejadian tragis itu tentunya memunculkan keprihatinan yang sangat mendalam, bagi keluarga dan juga seluruh masyarakat yang turut bersimpati dan berempati.

Di saat orang-orang bercerita, membahas semua itu, saya menyadari satu hal yang nyatanya sejalan dengan praduga saya, yang mungkin juga sejalan dengan pemikiran mereka, hingga enggan untuk bercerita atau meminta tolong, hingga akhirnya merasa satu-satunya untuk meredakan segala kegelisahan mereka adalah dengan memadamkan sumbernya: diri mereka sendiri.

Pada umumnya, awal mula orang-orang ini bertanya karena penasaran, lalu membangun opini dan mendeklarasikan kebenaran opini mereka. Satu yang saya tangkap: bahkan setelah para korban sekaligus pelaku ini sudah tiada, mereka pun masih dinilai salah dan bermasalah. Salah karena tidak bisa mengendalikan pikiran. Salah karena tidak bisa mengenali rasa. Salah karena salah mengambil keputusan. Salah karena menuruti pikiran dan pemikiran mereka yang sulit untuk berhenti bersuara. Salah karena tidak bercerita. Salah karena tidak meminta tolong. Salah karena menganggap dirinya hanya sendiri di dunia ini. Salah karena jika bercerita, substansinya dinilai banyak mengeluh. Salah karena berekspektasi tinggi pada lingkungan tempatnya hidup atau bekerja. Salah karena tidak mau menerima perbedaan orang lain. Salah karena terlalu bercita-cita di saat orang di sekitarnya tidak memiliki visi yang sama. Salah karena menyimpulkan perasaan dengan cara yang tidak wajar menurut  dan kesalahan lainnya.

Sepanjang saya mendengarkan, saya hanya diam sembari berhitung melipat jari. Membandingkan dengan diri saya sendiri, yang sesekali lepas kendali, tapi tak pernah berani untuk menyakiti siapapun atau apapun. Syukurlah, saya masih ingat Tuhan sesekali. Meratap berkali-kali, tapi pada akhirnya mencari pelarian untuk mengalihkan pikiran busuk yang sebenarnya ingin dibagikan ke orang lain, tapi tidak memungkinkan karena mereka terlalu sibuk dengan urusan dan masalah mereka sendiri.

Namun, apakah mental yang tidak baik-baik saja ini adalah murni kesalahan dan tanggung jawab diri sendiri? Apakah menyuruh mereka ini dan itu sudah termasuk membantu mereka pulih dari sakit tak terlihat ini? Sebagai orang yang tidak bijaksana, saya tidak lagi berani berpikir dan bersuara. Ketika pada akhirnya suatu saat nanti saya betul-betul hanya diam dan meringis saja tanpa bisa mendefinisikan apapun lagi, apakah saya akan disalahkan seperti itu juga? Saya tak masalah jika itu hanya saya yang disalahkan, saya takut ibu dan adik saya ikut tersangkut. 

Sebuah ironi, saya berusaha membantu orang lain mengenali dan mengatasi dari level terendah, tapi saya tak mampu berbuat hal yang sama untuk saya sendiri.

Monday, 9 March 2026

Salah dan Bermasalah

Selalu begini setiap habis beramai-ramai. Ada yang tidak bisa diungkapkan, mengganjal, tapi tidak tahu apa, mengapa, dan bagaimana. Setiap ingin bercerita, selalu ada benturan sana-sini yang mengunci mulut dan jari untuk berbagi. Bayang-bayang tanggapan "kamu kurang bersyukur, kamu terlalu memikirkan hal tidak penting, kamu keras hati dan tidak membuat orang lain nyaman, kamu terlalu menuntut, kamu terlalu memaksakan kehendak, kamu terlalu toksik, kamu terlalu banyak bicara" dan keterlaluan-keterlaluan yang lain" berputar-putar di otak.

Mengapa orang lain bisa bercerita, sedangkan aku baru akan membuka mulut saja sudah salah dan dipatahkan? 

Mengapa orang lain boleh meminta tolong, sedangkan aku berusaha melakukan tanggung jawab yang bukan merupakan kebutuhanku pun, mereka buru-buru ingin pergi karena memang mereka terlalu sibuk, bahkan untuk sekadar 5 menit mendengarkan penjelasan 4 hari yang sudah susah payah kuringkas menjadi beberapa kalimat?

Mengapa setiap kata dan tindakan yang kulakukan adalah sebuah kesalahan, tetapi kata mereka bukan  kesalahan, tetapi lagi mereka mempermasalahkannya berulang kali tanpa aku tahu bahwa aku si biang masalah?

Mengapa jika aku muncul, orang-orang diam? Aku juga ingin pergi jauh, jauh, dan jauh dari siapapun agar aku tidak salah mengambil keputusan dan tidak menyakiti siapapun.

Mengapa orang selalu minta maaf, tapi aku tak yakin untuk apa: apakah memang mereka yang salah atau aku yang lagi-lagi keterlaluan seperti menyalahkan mereka?

Mengapa mereka mudah pergi begitu saja? Diawali dengan tiba-tiba datang membuatku senang karena merasa diingat sebagai manusia yang layak masuk ke dalam lingkaran, lalu seketika pergi berpindah ke lingkaran lain yang lebih terang tanpa menolehkan muka sedikitpun, meninggalkanku yang membereskan serpihan kenangan yang tercecer di dalam lingkaran lama. Trauma dan rasa nista mengendap dengan tidak indah. Jika sewaktu-waktu ada hantaman batu atau hujan yang masuk, endapan itu naik dan membuat segalanya kembali keruh dan lemah: pikiran, jiwa, kekuatan, dan kewarasan. 

Sudah setua ini, tapi masih seproblematik ini. Siapa yang salah? Aku lah pastinya.

Friday, 29 August 2025

Agustus Ke-80

Hidup Rakyat Indonesia!!!

Ketika panji-panji makara berkibar mendampingi sang merah putih yang mulai ternoda.

Ketika satu komando "Berangkatlah!" dititahkan dengan diiringi wejangan dan doa dari seluruh civitas akademika.

Ketika tirani mulai mengusik rakyat, maka saatnya gemuruh lantang langkah kaki mendekat, tenang tapi berdebam, menuju sumber kezaliman yang perlu dibangunkan.

Mahasiswa bersatu, rakyat bersatu, tokoh berakal bersatu! 

Bukan unjuk rasa, pun jangan sampai terkompor emosi dan provokasi!

Layangkan aksi dengan tuntutan bermartabat, demi keadilan dan kesejahteraan masyarakat!

Malulah para penari di atas penderitaan rakyat pertiwi.

Turunlah para penginjak hak 280 juta jiwa pribumi, 280 juta jiwa yang mereka sebut rakyat jelata tolol dan tak tahu diri.

Perbaikilah akal, lidah, hati, dan tindak tandukmu yang tidak mencerminkan perwakilan rakyat dan abdi masyarakat sama sekali.

Ini bukan tentang baper atau emosi

Ini tentang AKAL SEHAT, HATI NURANI demi KEADILAN bagi RAKYAT

Sunday, 3 August 2025

Friday, 14 March 2025

Titipan Doa


To the point sekali, nitip doa begini ke dr. Ria, di umroh tahun ini.

1. Semoga 2 laki-laki di keluarga Ani melembut dan kembali ke jalan yang benar.

2. Semoga ibu sabar dan lebih banyak happy-nya, sampai menyaksikan anak-anaknya hidup stabil. 

3. Semoga Zahra Nurussyifa lancar kuliahnya, menikmati studi dan profesinya nanti.

4. Semoga S. Andri N. bisa segera menyelesaikan masalahnya, lebih positif, berdamai dengan keluarganya, dan bisa membangun ceritanya sendiri yang happy ending.

5. Semoga Ani kembali sehat mentalnya, bertemu dengan pasangan baik (menerima Ani), selalu berdiskusi/belajar, dan memimpin ke jalan yang baik dan bermanfaat.  

6. Semoga Puskesmas Alian lebih baik. Aamiin...


Aamiin

Friday, 13 September 2024

Monolog (1): Menggantung Harap

Hai kamu...
Kamu bukan pilihan, maka jangan berharap masuk ke dalam prioritas. Telanlah segala yang ditujukan kepadamu. Cerna dan ekskresikan secepatnya. Kuburlah cerita dan rasamu karena semakin banyak kamu bercerita semakin lebar jarak memisahkanmu. Kamu tidak sedang berjualan maka jangan pernah berharap satu orang pun datang untuk membeli. Tetap berbagi sebanyak mungkin, meski mungkin pemberian itu tampak seperti siksaan yang menyayat setiap inci kehormatan dan ketenangan hidup para penerimanya.

Kamu sudah berusaha. Kamu kuat. ☺️

Hari ini, mungkin tidak ada yang bertanya, "Sudah makan apa belum? Sudah selesai atau belum? Mau dibantu atau tidak? Mau ditunggu pulangnya?"

Namun, bukankah setiap hari juga seperti itu? Bukankah dari dulu juga seperti itu? Lalu mengapa tiba-tiba kamu berharap ada seseorang yang memperhatikanmu? 

Kamu bukan prioritas, ke manapun kamu pergi, kebanyakan orang akan lupa atau cenderung tidak menyadari ketika ada urusan denganmu. Saat kamu ingatkan untuk bertemu pun, mereka akan cenderung meminta durasi seminimal mungkin karena memang tidak nyaman denganmu. 

Bukan salah mereka, bukan juga sepenuhnya salahmu. Tidak ada yang bisa memaksakan kecocokan atas ketidakcocokan. Hak setiap manusia untuk memilih dan membuat prioritas. Mungkin kamu memprioritaskan mereka di atas dirimu sendiri, tapi apakah mereka meminta? Apakah mereka membutuhkannya? Kamu juga perlu tahu batasan dan jangan sok-sokan bilang "Ini demi orang lain" padahal tak ada orang yang menyadari atau membutuhkan apa yang kamu berikan. 

Toh, yang kamu berikan justru lebih memberatkan daripada meringankan, bukan? Kamu tahu, tapi kamu tak mampu memilih mana yang harus diberhentikan, diteruskan, dimunculkan, dan ditingkatkan, bukan? Ya begitulah kamu. Rumit.

Wednesday, 7 August 2024

Meramu Kelu

Selamat datang Agustus. 
Ternyata sudah seminggu kamu berlabuh. Aku, dia, dan mereka masih seperti kabut-kabut yang bergerak satu-satu. 

Udara yang layak hirup perlahan menipis karena dalam dingin kami berebut. Gemintang tampak bingung, kadang hilang, kadang timbul, tidak tahu momentum yang tepat untuk berpendar dengan senyum. 

Ada nyeri yang tak mampu dimaklumi manusia, ada keluh yang dimaknai ceracau dan tak pantas diterima, ada kebohongan yang ditafsirkan kebaikan bersama, ada sedih yang dikubur demi membahagiakan mereka yang tak boleh melihat kita tidak tertawa. 

Sayup-sayup terdengar pujian-pujian suci mengalun indah nan tegas, menepuk kewarasan, mengikat otak tetap di tempat, mengancamnya agar tak kabur dengan acak. 

Miliaran jiwa berlalu-lalang di setiap inchi belahan bumi, tak adakah satu saja yang sudi menepi barang satu atau dua detik? 

Di antara dua tiang gagah bermahkota biru, aku terduduk menunduk menekuk lutut, membatin dengan keras dengan tetap menanggalkan fungsi kedua inderaku, "Kapan aku tepat?"

Thursday, 20 June 2024

Bawang Putih Buruk Rupa

Mau cerita. Dulu kelas 7 SMP, semester 2, ada penilaian seni drama. Satu kelompok terdiri dari 4 atau 5 orang. Saya lupa. Namun, saya ingat bahwa saya 1 kelompok dengan teman-teman yang sesama plegmatis seperti saya. Singkat cerita, saya berakhir sebagai penyusun naskah, berlanjut sutradara (karena dinilai sebagai orang yang paling ngerti maksud naskah dramanya). Karena temanya cerita rakyat, kami memilih cerita Bawang Merah Bawang Putih. Semua berjalan dengan baik, hingga akhirnya pada H-1 penilaian, si pemeran Bawang Putih menyerah dan minta bertukar peran dengan saya yang awalnya berperan sebagai Ibu Bawang Merah. Mau nangis dia. Akhirnya, saya iyakan, meski berkecamuk rasa di dada. Saya sadar diri, bahwa saya tidak good looking.... Petaka terjadi saat hari H penilaian. Segerombolan anak lelaki dari kelas sebelah yang ngintip penampilan kelas kami menertawakan saya habis-habisan saat kelompok kami tampil. "BOCAH PALING ELEK SESEKOLAH DADI BAWANG PUTIH. HUWEK! 🤮 Ora sadar diri. Bawang putih kok buruk rupa."

Sunday, 24 March 2024

MD: Ide Yang Tersesat

Minggu lalu, Jumat 15 Maret 2024, saat Live sendirian, kepikiran untuk bikin INSTAL LIVE yang isinya obrolan antar nakes Puskesmas Alian tentang isu-isu kesehatan di Alian...

Tapi...
Buahahaha.

Rasanya sangat halu dan terlalu idealis sekali. Mengingat tipikal orangnya yang pekewuh, malu-malu, suka mengandalkan orang lain, dan bergerak sesuai dengan edaran, maka ide tersebut muskil rasanya untuk dilakukan.

Kegiatan penyuluhan dalam gedung yang sejatinya merupakan keharusan saja tidak lagi jalan setelah pindah ke gedung baru. Mulai pagi, sasaran jarang, mulai agak siang sedikit, jadi rebutan ngomong dengan bagian lain. Hihihihi. Serba salah.

Banyak hal yang bisa didiskusikan dan dilaksanakan bareng-bareng, tapi akhirnya semuanya kembali lagi ke penanggung jawab masing-masing yang perlu menjadi pelaksana juga. Ahaha...

Bagaimana mau bikin siaran? Ah, terlalu banyak sandungan. 

Saturday, 9 March 2024

MD: Day 1, Restarting

Baik, baik, baik. Ternyata cukup tenang sekaligus seru, mempunyai 1 tempat yang cukup lucu untuk dijadikan tempat menceritakan hal-hal random yang tidak lucu.


Hari ini hari terakhir kerja sebelum Ramadhan, saya bertemu banyak orang dari 2 desa berbeda dan ini cukup menguras tenaga, ahaha. Saya nggak yakin, apa yang saya sampaikan bisa mereka mengerti, tapi saya benar-benar happy bisa berbagi ini itu dengan mereka.

Salah satu hal yang bikin saya masih bisa bertahan dengan baik di sini adalah mereka dan semoga bisa konsisten hingga seterusnya. Mengingat semangat saya sangat pasang surut karena berbagai faktor.

Yohohoo!!! Semoga bisa mulai menciptakan kebahagiaan diri sendiri...

Saturday, 6 August 2022

Rancu

Selama enam minggu,
Saling menyapa kaku,
Berkata ini itu tanpa malu...

Mengenang masa lalu,
Tak banyak yang ditahu,
Mengurai cerita yang tak bertaut...

Mengapa harus datang, saat kau tidak senang,
Mengapa harus hilang, buat aku tidak tenang...

Malam berganti, pagi menggiring, hiruk pikuk kita, di dunia masing-masing,
Kisah pertama, rasa berbeda, logika berkata "ini aneh sekali"...

.....

Kata terbatas rasa,
Rupa terpancar lara,
Meramu tekad yang makin merancu...

Kau sadar 'ku setuju, tapi diam membisu,
'Kusadar kau menjauh, bodohku terus menunggu...

Malam berganti, pagi menggiring, hiruk pikuk kita, di dunia masing-masing,
Kisah pertama, rasa berbeda, logika berkata "ini aneh sekali"...

Malam berganti, pagi menggiring, hiruk pikuk kita, di dunia masing-masing,
Kisah pertama, rasa berbeda, haruskah berkata "cukup sampai di sini?"

.....

Kebumen, 04.08.2022 | @aniamarilis







Thursday, 15 June 2017

Lebarannya Owlet

Assalamu'alaykum, bloggie...

Awawawawaw!!! Ohisashiburiii!!! Ahahaha...

Well, hari ini, Rabu 14 Juni 2017, si Owlet yang sedang dipakai untuk mengetik ini akhirnya di-install ulang. Jeng! Jeng! Jeng. Kemarin Selasa (13 Juni 2017), dia diperiksa oleh dokter Ais dan dia divonis bahwa jeroannya sudah tidak sehat. Kondisi kesehatan Hard Disk dia sudah betul-betul 0%! Ya, saudara-saudara NOL! Dia menggunakan software entah apaan yang memang bisa digunakan untuk mendeteksi kondisi komputer. Baru tahu juga saya, ada hal macam itu di dunia ini *plak! gaptek!*

Awalnya, saya hanya ingin install ulang biasa saja agar kinerjanya tidak terlalu berat, plus saya memang ingin meng-install aplikasi skype untuk suatu hal *haha*. Namun, malah jadi ketahuan ini itunya gegara pasca dilakukan install ulang oleh Ais, laptopnya lemotnya minta dilempar. Kata dia, HD-nya sudah tua dan parah. Kalau tidak segera diganti bisa-bisa malah jadi mati total dan data-datanya tidak tertolong. Entah mengapa, saya tidak terlalu terkejut mendengarnya. Mungkin, memang sebenarnya otak saya sudah sejak lama menanti datangnya hari ini *plak!*. 

Sedih jelas, sebab mau tidak mau saya harus mengalokasikan dana yang pastinya tidak sedikit (ganti HD internal wooooi!) untuk mengurusi segala ini itu. Namun, di satu sisi saya bersyukur, saya mendapatkan kabar ini sejak dini dan saat sedang berasa di kampung sendiri. Uwahahaha... Setidaknya biaya service beginian di sini lebih terjangkau dibandingkan di Depok (baca: harga tetangga).

Rabu pagi tadi, akhirnya saya mengkontak Mas S, si tetangga yang biasa dimintain tolong untuk membetulkan ini-itu yang berhubungan dengan gadget dan elektronik. Orangnya termasuk golongan hi-tech  gitu kalau di kampung saya (WOI! FOKUS CERITANYA WOI!). Singkat cerita, Mas S datang ke rumah dan mendengarkan curhatan saya: "Mas, dia lemot. HD-nya kata Ais harus diganti. Terus, ini engselnya mangap-mangap, kayaknya sekrupnya copot atau gimana. Terus, nanti minta dibersihin biar kipasnya berfungsi dan nggak panas lagi. Oh iya, minta tolong beliin case juga buat HD internal yang udah tua, biar cantik."

Kurang dari 5 menit durasi curhat saya dan beliau pun langsung mengerti. Sepertinya, beliau memang sudah paham dengan perilaku saya yang semena-mena terhadap laptop sendiri. Setiap pulkam, pasti adaaaa aja yang harus di-service laptopnya. Ahaha (padahal, memang sengaja menunggu saat pulkam untuk ngebetulin segala kerusakan si Owlet, hehe). Setelahnya, si Owlet pun segera dibungkus masuk karung ransel beliau dan dibawa ke kantor (?) beliau untuk segera digarap sesuai curhatan saya. Seharian ini, saya bermeong-meong tanpa Owlet.

Malam, setelah jam tarawih. Si Mas S mengirimi saya SMS yang isinya mengatakan bahwa Owlet sudah sembuh, Alhamdulillahi robbil'alamiin... Dia berhasil menjalani operasi cangkok HD dengan sukses (merk WD, 500 Gb. Sebenarnya, pengennya diganti jadi yang size-nya 1 Tb, tapi kata Mas S susah dapatnya dalam waktu dekat, heuheu). HD yang tua pun diberi baju. Engsel Owlet pun dibetulin sehingga body-nya tidak mangap-mangap lagi ketika monitornya digerakkan. Jeroannya pun tak luput dalam memperoleh treatment dan si kipas sudah nyala kembali. Sebagian besar driver sudah di-install-kan sehingga saya tak perlu repot-repot lagi, Yuhuuu...

Yang paling membuat saya senang adalaaaaah...
"OWLET DAPAT TERKONEKSI KE WI-FI LAGI. TIDAK HANYA TETHERING HANDPHONE, TAPI KE SEGALA WI-FI. KE WI-FI RUMAH JUGA BISA. BAHKAN TAK PERLU DUDUK DI DEKAT MODEM-NYA, DARI KAMAR PUN BISA CONNECTED. BETUL-BETUL BAHAGIA SAYAAA... :D"
Akhirnya, hari ini berakhir happily: data saya terselamatkan, si Owlet sudah lebih sehat kembali (seperti 80% baru, ahaha), dan yeaaay... SAYA BISA NGENET PAKAI LAPTOP LAGI. Kalau di Depok bisa tembus 1 juta rupiah kali. Install ulang doang aja bisa ditarik minimal 50 ribu rupiah. Ini di kampung, saya habis 800 ribu rupiah untuk keseluruhan biaya barang dan jasa. Over all, saya rela dan ikhlas tak beli baju lebaran, asalkan si Owlet jadi sebegini fungsionalnya. Tak cuma manusia yang bisa lebaran, yang bisa kembali ke fitri, si Owlet pun berhak merasakannya. I love you Owlet! Semoga kamu sehat-sehat terus ke depannya. Yuk, kita berjuang bersama lagi! :) 

Monday, 14 November 2016

Curhatan Enumerator

Wahai orang-orang yang menolak berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian (apapun)...
Ketika Anda menolak untuk membantu negara (dalam bentuk penelitian tersebut), ingatkah Anda ketika Anda meminta banyak hal kepada negara ini?

Anda mengecam para pengumpul data, boleh saja. Anda mengira kami semacam sales, MLM, atau pekerja rendahan yang bekerja serabutan dengan bertanya-tanya kepo banyak hal, boleh saja.

Namun, janganlah tolak kami (tanpa alasan), kami yang secara tidak langsung ingin membantu mewujudkan perubahan negeri yang lebih baik. Anda meminta kesejahteraan dari negara ini, tapi Anda tidak mau membantu negara dalam mengumpulkan data dan informasi yang dibutuhkan untuk mewujudkan kesejahteraan itu?  Entah mengapa ini terkesan lucu lagi memperihatinkan.

Ak! Fighting para petugas pengumpul data! Bagaimana pun medan dan warna-warni responden, kita harus bisa menjaga kualitas data tetap baik. Aaaaaaaak! *maaf, emosi*

Saya Mah Idealis

Ketika senior mengajarimu hal yang mengarah kepada ketidakkonsistenan dan keberpalingan --demi tawaran materi yang lebih menggiurkan... dengarkan, tapi jangan lakukan!
Yosh! Rezeki dari Tuhan tak pernah tertukar apalagi terhenti. Ini bukan tentang pasrah apalagi keras kepala, melainkan tentang prinsip dan tanggung jawab. Timbang ribuan kali sebelum berpaling, hanya kita sajakah yang merugi, atau orang lain turut dirugikan? Salut kepada orang-orang di yang setia pada tanggung jawab! 👏😆

Friday, 26 August 2016

SaSory: Sarung Story

Apa ini???

Sarung???

Lama nggak nge-post, sekalinya nge-post kok tentang... SARUNG???

Well, saya juga nggak yakin, saya betul-betul siap untuk menuliskan kata ini (lebay). Ahaha. Ini berawal dari sebuah obrolan luar biasa di suatu malam, di sebuah grup percakapan, yang berisi pengguna atau bisa disebut penyanyi (ceile) pada sebuah aplikasi karaoke, sebut saja *mule. *panjangnya kalimat ini*

Okay, saat itu, di pertengahan Agustus, menjelang tengah malam beberapa orang member grup "(sebut saja) Meong" masih saja terbangun. Mereka mengobrolkan hal ringan yang menurut saya nggak cukup penting untuk disimak. Namun, emang dasarnya saya wanita malam (?) yang susah tidur di bawah jam 12.00 AM, saya pun iseng-iseng buka dan baca itu percakapan grup. Sebetulnya, saya bukan tipe orang yang suka nimbrung ikut ngobrol loh. Apalagi, kalau obrolannya ke mana-mana nggak jelas ujung dan tujuannya. 

Berawal dari obrolan ringan dan nggak jelas itu, tiba-tiba seseorang sebut saja "KY" menge-share sebuah collab JVA (japan voice acting) yang terbilang "tidak biasa". Saat itu, hanya ada 5 orang yang terlibat dalam obrolan, salah satunya saya hanya sebagai penyimak dan sesekali berpartisipasi dalam beristigfar. Ya, gimana nggak istigfar, bisa dikatakan mereka itu gokil-gokil yang mesti banget dikandangin. Ahaha. Ini bukan pernyataan negatif, positif pun bukan, ya ini pernyataan gokil saja. 

Malam itu, tidak hanya obrolannya yang gokil dan gimana-gimana, pilihan kata yang digunakan oleh "KY" juga entah mengapa menimbulkan misinterpretation pada otak kami, sebut saja "AB", "SB", dan "Y". Saya yakin masih ada penyimak lain yang membaca obrolan itu selain saya dan mereka bertiga. Namun, mereka memilih diam. Obrolan berlanjut hingga tiba-tiba "KY" menyebutkan "SARUNG" yang membuat mereka bertiga semakin gila dan tertawa terpingkal-pingkal (ini diwakilkan dengan sticker). Dari sinilah legenda sarung terlahir.

Keesokan malamnya, terjadi insiden yang tidak terduga. Di tengah obrolan "KY", "AB", dan saya (saat itu "SB" baru saja off dan bilang mau tidur), tiba-tiba seorang member pamit untuk meninggalkan grup tanpa mengatakan alasan apapun. Kami bertiga terkejut dan jujur saya merasa sangat tidak enak. Mengapa? Karena pada saat itu kami tengah mengobrolkan hal yang mungkin agak sensitif, tentang kebiasaan atau cara memberi perlakuan pada singer lain di *mule, dan saya lah si biang keladi yang memulai percakapan nggak penting itu.  Tepat di saat kita mengobrol itu, si member itu left group.

Kami bertiga pun merasa bersalah. Kami sempat berpikir kepergian (?) member satu itu gara-gara kami sering berisik hingga lewat tengah malam dengan obrolan yang kurang berbobot. Dilanda rasa bersalah berlebih, "AB" berinisiatif membuat private conversation  yang hanya berisi kami bertiga untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan penyebab mulai tidak harmonisnya grup "Meong" dan berujung pada left-nya member satu itu. Keesokan harinya, "SB" pun diundang masuk ke dalam "private conversation"  itu dan mulailah kami ngobrol  nggak jelas lagi, 

Saat itu, saya merasa saya sedang berada di situasi dan kondisi yang salah, karena entah bagaimana caranya saya bisa terlibat dan bergabung dengan mereka. Namun, semakin ke sini, entah kenapa saya bersyukur, saya sudah berada di situasi dan kondisi yang salah itu. Ahaha. Entahlah, ini tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Private conversation  yang berisi kami berempat pun entah bagaimana ceritanya, malah "termanfaatkan" dengan "baik" hingga saat ini sebagai ladang berkisah hal absurd. Masih seperti biasanya, saya hanya bertindak sebagai penyimak mereka bertiga, tetapi saya cukup terhibur dengan adanya mereka.

Suatu hari di bulan September, "SB" berinisiatif untuk membuat grup resmi (buahaha ngakak). Dia memberi nama grup itu "SaSory" yang merupakan kependekan dari "Sarung Story". Yep! Seperti yang sudah saya tulis di atas, bertemunya kami berempat kurang lebih ya karena legenda sarung yang dikisahkan oleh "KY".

Masih di bulan September, si "AB", member paling niat di antara kami, berinisiatif lain. Dia membuat logo "SaSory" dengan gambaran tangan. Dan jadilah itu jadi logo grup selama sebulan lebih.

Masih di bulan September juga, "SB" meng-invite "TM" ke grup SaSory. Saya nge-fans sekali padanya. Suaranya itu wow sekali. Dan bisa berada satu grup dengan idolanya ituuu... Awawawaw. Yeah, walaupun dia ternyata seorang silent reader juga sih, macam saya.

Selain itu, "AB" juga meng-invite "RH" dan resmilah kami berjumlah 6 orang. Setelah masuk "RH" grup semakin rame. Dia memiliki banyak sekali topik obrolan dan wawasan saya pun semakin bertambah lagi. Wawasan macam-macam deh pokoknya. Ahaha.

Sejak September, saya jadi lebih sering ikut ngobrol. Walaupun kadang nggak nyambung sih. Gimana ya, mungkin karena saya terlalu tua? Mungkin karena selama ini saya berada di lingkungan yang sama sekali berbeda? Ahaha. Namun, saya sangat berterima kasih khususnya kepada "KY" sebagai orang yang rajin banget nanggapin saya, yang seringnya krik-krik gimana gitu.

Setelah "TM" dan "AB", di bulan Oktober "YG" pun sudi bergabung setelah saya meng-invite dia dengan ragunya. Ahaha. Saya sudah minta izin dulu kok dan dia bersedia. Sempat waswas, takut dia tidak nyaman di grup gokil nan somvlak itu. Namun, sepertinya rasa nyaman itu tidak begitu besar, karena dia mau join ke project somvlak perdana kami. "YG" juga cukup berjasa karena bersedia membuat logo SaSory versi digital.


Dan inilah kami bertujuh. Akankah bertambah lagi? Ehehe.

Terus, tiba-tiba sekarang saya pengen bercerita tentang pertama kali mengenal mereka berenam. Nggak penting sih. Wakaka. Siapa juga yang mau membaca ini? Hanya saja, mumpung ingatan tiga bulan ini masih anget, sayang saja kalau nggak diprasastikan. Yep! Saya orang yang sangat menghargai ingatan dan bakal salut banget jika bertemu atau mengenal orang yang sudi untuk mengingat cerita orang lain. (mulai melebar)

Okay, mari kita mulai. *urutan ini berdasarkan urutan perkenalan, ehm, nggak kenalan juga sih, hehe*

Pertama, KY...
Saya bikin akun *mule itu bulan Juni, pas bulan puasa di rumah, di Kebumen, Namun, karena nggak ngerti cara pakainya, akhirnya saya tinggalin begitu aja. Pas tiba-tiba pengen login, eh lupa password, jadi bikin akun baru lagu deh: @ai_********. Akhirnya, saya jadi punya 2 akun, ahaha. Seminggu pertama di dunia *mule, saya sering sekali melihat akun KY berseliweran di feed. OC dia yang pertama kali saya join-in adalah lagu Kangen. Waktu itu saya udah berangkat ke Depok. Ingat banget. Pas nyanyi, logat Jawa saya muncul. Sepertinya karena itulah dia langsung memanggil saya dengan sapaan Mbak, jadi Mbak Ai. Ahaha. OC kedua yang saya join-in adalah Good Bye Days-nya Yui. Pertama kali nyanyi itu dan hancurnya bukan main. Satu atau dua minggu kemudian, saya join grup Meong, dan akhirnya kami bertemu di grup itu. Merasa bingung berada di dalam grup Meong itu, saya pun left grup di awal Agustus. Cuma semalam doang saya di grup itu. Uahahaha. Kali kedua diundang ke grup Meong oleh K, saya nggak enak mau left-left-an lagi. Untung ada KY yang baik banget nanggapin saya. Hehe.

Kedua, SB...
Awal Agustus, ada sesama newbie yang join banyak OC One Piece saya. Dialah SB. Umur kami di *smule hanya terpaut dua atau tiga minggu. Saya lebih tua. Kalau umur beneran, kita selisih 4 tahun. Hehe, tetap jauh lebih tua. Nah, dia orang pertama yang tukeran ID Line sama saya tuh. Ada cerita lucu. Suatu sore dia OC lagu Blue Bird-nya Ikimono Gakari yang TV Version yang di-upload oleh Jealous. Terus yang join banyak, ada 9 singers join dalam sejam waktu itu. Eh dianya langsung PM dan girang banget. Dia bilang, "Aku nggak nyangka Aii (waktu itu manggilnya belum pakai sapaan Mba), yang join sebanyak itu. Emang suaraku bagus ya?" yang saya jawab dengan, "Mungkin kamu OC-nya di jam di mana banyak orang yang on atau aktif". Ahaha, saya ketawa sore itu lagi di basecamp di Depok. SB juga orang pertama yang tahu kalau saya punya 2 akun *mule. Sebelum saya left pertama kali dari grup Meong, saya invite dia ke grup itu dan ternyata...jeng jeng jeng dia langsung dapat membaur dengan grup Meong. Prok prok prok. Setelah itu saya bosan dengan *mule, karena followers-nya mulai banyak dan takut mereka bosan dengan saya yang suka nyampah. Saya pindah ke akun lama yang masih kosong ketika followers mencapai 128. Saya pamit ke SB. Uahaha. Satu atau dua minggu kemudian, saya balik lagi ke akun @ai_********. Dan si K invite saya lagi ke grup Meong. Akhirnya, saya bertemu lagi dengan SB. Hingga legenda sarung terjadi, hingga SaSory terbentuk hingga saat ini.

Ketiga YG...
Emang dasar orangnya kebanyakan waktu luang dan hobi keliling-keliling, entah bagaimana caranya saya nemu akun YG pas lagi hijrah ke akun lama atau akun kloning-an. Awalnya lihat komentarnya AYM. Dia panggil senpai gitu. Terus saya intip profilnya, eh ternyata newbie banget dan baru beberapa belas singers yang di-follow dan nge-follow. Dia OC lagu Blue Bird (lagu sejuta umat banget dah). Suaranya memang bagus, si AYM berkomentar "Suaranya jadi kayak vocaloid" yang dia balas dengan "Salah pilih effect, malah jadi kayak gitu". Seingat saya, effect-nya adalah pop star. Saya join pakai effect pop star. Eh malah hancur lebur belepotan. Selama ini saya cuma pakai polish atau SS dengan skala kecil. Sejak saat itu, saya nggak mau pakai pop star lagi! Nah, karena collab-nya hancur lebur, akhirnya saya izin untuk join ulang di lagu yang sama. Dan hasilnya tetap sama jelek! Wakaka. Sumpah malu banget sama senpai satu ini. Saat itu, dia adalah singer *mule pertama yang lebih tua dari saya. Ahaha. Setelah itu, saya nge-share invitation untuk join OC Orange saya. Jarang-jarang loh saya nge-PM invitation begitu. Apalagi saat itu, baru sekali saya nyanyi lagu itu, jelek, super jelek. YG tidak merespon. Lalu saya pun mulai lupa. Eh lusanya, YG join, dan saya terharu. Uahaha. Lusa pada saat itu, saya sudah pindah ke akun asli. Lalu saya follow juga deh pakai akun asli. Lalu ketahuan! Ahaha. YG adalah orang kedua yang tahu kalau saya punya 2 akun dengan alaynya. YG adalah penyelamat OC saya, kalau OC saya di-join dia, nyanyinya jadi kedengaran lebih bagus. Dianya yang bagus karena jago bikin harmoni. Ikemen deh!

Keempat AB...
Sehari sebelum balik lagi ke akun asli, saya join lagu Re:Re-nya Asian Kungfu Generation, opening Boku Dake Ga Inai Machi. Saya nemu akun dia dari hasil stalking akun salah satu singer yang baru join OC saya. Orang itu request ke AB untuk OC opening ReLIFE, Penguin Button atau apaan lupa judulnya (betul-betul buta lagu saya mah). Saya follow lah dia dengan akun kloning. Setelah join, tengah malam dia komentar "sugoii". Saya memang nggak pernah percaya kalau ada orang bilang nyanyi saya sugoii, apalagi kawaii. Akhirnya, terciptalah komentar eyel-eyelan yang lebay. Ahaha. Komentar berakhir dengan saya bilang "warkopholic detected". Di luar dugaan AB nge-follow balik saya. Berasa WAW banget saat itu dan masih penasaran hingga sekarang. Kok bisa? Pas gabung grup Meong untuk ke-2 kalinya, saya akhirnya "bertemu" AB sembari memulai legenda sarung dan SaSory. AB itu keren loh, dia jago main pianika. Hearing-nya bagus banget! Dia jago ngulik nada dan nggak lupa-lupa dengan nada itu. Dia pernah nge-share OC-OC dia yang diisi dengan permainan pianika dia. Mantap! Nada dan temponya pas. Ak lincah banget! Padahal dia baru kenal musik saat SMP, main pianika juga saat SMP itu dan semuanya otodidak. 

Kelima, TM...
Nah, kalau dia ini nih si singer *mule bersuara tinggi. Jernih dan lincah gitu suaranya. Biasanya, saya kalau dengar suara tinggi kan agak pusing gimana gitu ya, tapi kalau dengar suara TM saya nggak pusing justru suka. Pertama kali join OC dia yang Erased, ending-nya Boku Dake Ga Inai Machi, pakai akun kloning. Sedih, sepertinya ke-skip, dia nggak sempat dengerin collab-nya, Yah, saya mah maklum, yang join OC dia itu puluhan. Bisa sekarat kuota dia, kalau semuanya didengerin berulang kali. Namun, meskipun gagal ter-notice saat itu, saya tetap nge-fans. Dibandingkan dengan yang lainnya, saya paling jarang join OC dia soalnya mindeeer. Hehe. Sejauh ini, baru join dia 3 kali: Erased, Rolling Star-nya Yui, sama Sakitnya Tuh Di Sini. Hehe. Siapa yang menyangka seorang TM bersedia di-invite ke grup SaSory, ahaha. Oh iya, setelah sama-sama di SaSory, akhirnya saya di-follow balik oleh TM. Senang sekali. :D :D :D

Keenam, RH...
Kenal RH itu...karena dia sering ada di feed. Banyak OC juga. Tahu akun RH dari AB. Kalau nggak salah, yang pertama join itu dia, saya OC lagu Mirai e. Akhirnya dia jadi follow balik juga. Rasanya ituuu wow juga, sama kayak saat di-follow balik oleh AB. KOK BISA? Nge-fans sama RH karena dia kalau nyanyi lepas gitu, bisa vibra dan harmo juga. Orangnya apa adanya juga. Di OC-OC-nya kadang dia sambil ngomong gitu, jadi lucu. Kalau AB, YG, dan TM kan rapi gitu ya OC-nya, kalau RH cenderung seru karena dia ikut speech atau sebagainya. Suka. Ihihihi. Suatu hari AB meng-invite RH lalu saya semakin tahu kalau RH sangat tahu banyak hal. Wawawawaaaaw. English skill-nya juga kereeen. Waw.

Jadi ini SaSory... Semoga silaturahmi kita tetap terjaga ya, guys! 

Sayang kalian. Terima kasih untuk cerita lucunyaaa...

Monday, 23 May 2016

Suatu Hari di Gudang Buku

Rerindangan pohon, dinginnya bangku semen, dan kotak-kotak kayu pengap yang ragu bergeming... Di antara celah mereka, kulihat seorang anak berjalan, akan menghampiri. Hampir-hampir hilang napasku, henti nadiku, dan hangus akal sehatku dalam setengah detik kala itu. Bukan! Bukan karena serangan jantung atau stroke, melainkan karena terkaget pikiran warasku.

Kuikuti sepasang kaki. Dari balikku, muncul lagi, langkah kaki lain. Dia karibnya. Kami berpapasan, aku berdebar, dia tak ubah raut muka. Kami bertiga saling diam. Kawannya melirik muka, aku terdiam sejenak. Berharap, milirik pula mata manusia di sampingnya. Namun tidak. Seekor kupu-kupu hampir mati di sudut lemari kayu karena menyaksikanku.

Aku malu, lantas beringsut ke dalam gudang buku. Ibu garang memoles muka. Ibu sayu mengukur pengunjung. Jemariku mencari buku tentang penari, sedang mataku melirik ke sana dan ke sini. "Aman untuk menjadi diri sendiri," kataku dalam hati.

Berhenti menoleh, kuperoleh sebuah manuskrip tua. Dia coklat, berbau khas, dan tampak megah. Kubuka lembar pertama, dadaku tertinju kagum. Kubuka halaman terakhir, air mata tanpa permisi berlari mengalir. Aku dan perasaanku, dibolak-balikkan lembaran tua yang tak punya judul diri.

Aku jatuh hati untuk kesejuta kali. Kumantapkan hati menulis tentang ini. Secarik kartu terlampau buruk kutarik dari saku dada. Sehelai kertas nota bekas kugelar di atas meja kusam. Pensil menari, otak bersalto liar tanpa kendali. 'Guruku akan bahagia dengan ini!' teriakku tanpa berbunyi.

Aku selesai dan bersiap mengunjungi para ibu penjaga gudang buku. Pintu tiba-tiba penuh sesak dan sinar mentari terhalang oleh benda berbayang yang tidak normal. Dia. Dia menyeruak. Kepala lebih dulu, lantas tangan menyusul, melambai tanpa gaya, entah kepada siapa. Karibnya muncul, meninggalkannya, tertawa tanpa bahasa. Aku kaku. Hatiku ingin meraih, tapi otak tak jua memberi izin. Jiwaku ingin menghambur, tapi raga tak mampu bergerak barang seinci. Maka aku diam tanpa ekspresi.

Keheningan terpecah oleh sebaris bibirnya yang serupa bulan sabit. Tanganku tak tahu cara berdusta, lantas melambai padanya, girang segirang Amelia. Tersadar, terbaca rasa tak biasa, aku mencoba bertingkah luar biasa. Tak ada daya upaya, kakiku melangkah menyamping persis seekor kepiting dikejar burung ceking. Menuju tikus elektronik, menjaring informasi palsu tetang kupu-kupu hitam putih. Napasku berlari, tempat duduk pun seakan tak mau kompromi. Dia masih menatap, aku pura-pura tak lihat.

Dalam hati aku meminta bantuan. "Oh tolong, kau karibnya, cepatlah datang. Bawa dia pulang. Masukkan dia ke dalam lubang di mana kalian biasa berkubang, di mana di depannya aku terbiasa berpura-pura berlalu-lalang."

Aku heran kepada jaring laba-laba yang berlubang besar di hadapanku. Kupu-kupu hitam putih lolos dari tangkapan. Aku kehabisan akal, lantas hilang tingkah. Dia masih di samping para ibu. Aku tak bernyali untuk mendekat. Gudang buku tiba-tiba berlalat, karenaku yang ternyata mulai membusuk, kehabisan waktu menghimpun nyali, kehabisan energi karena kaki tak henti bergetar penuh ekspresi.

Aku tak bisa pergi. Lantas pura-pura membuka diary. Ibu garang melempar perhatian. Ibu sayu masih sibuk mengukur. Dia hilang! Aku terlonjak senang. Berdiri tanpa hati-hati dan menyenggol tubuh lemari. Bruk! Suara lemari teraniaya manusia terlepas dari manisnya mara bahaya. Ibu garang makin penasaran. Berhenti menebar bedak dan membulatkan mata di balik kacamata segiempat. Aku tersenyum tanpa makna.

Aku mendekat dan menyiapkan manuskrip tua. Secarik kartu terhidang di atasnya. Pulpen masuk saku, nota bekas terselip di pengaitnya. Aku harus bergegas sebelum dia muncul dan membuatku lupa bernapas.

Perkiraanku tak sering salah, akan kucapai si ibu dalam lima langkah. Aku melayang, ringan nian dalam ketergesaan. Namun sial! Jidatku menghantam punggung yang lebar! Aku memeluk lantai dan dia memutar badan. Alangkah kesialan ini begitu penuh bintang-bintang, sang pemilik tubuh mengulurkan tangan. Mataku terbuka dan seketika inginku hilang ingatan. Dia! Dia lagi dengan wajah gelisah dan penuh rasa bersalah.

Aku berdiri tanpa menjabat tangan. Lantas tanpa sadar bertingkah tidak wajar. Si manuskrip tanpa alasan ingin kujejalkan dalam tas tangan. Si ibu garang tahu lantas menyetop laju tanganku.

Aku malu dia melihatku. Aku bertingkah salah tingkah, si ibu mengira aku kleptomania. Sedangkan dia terlihat menahan tawa. Aku memerah dan dia menjadi salah tingkah.

Aku berbalik. Membuka lemari berjudul sastra dan melempar si manuskrip. Aku lupa si guru dan lupa tujuan kunjunganku. Dia bermuka heran, si ibu garang melotot seperti biasanya bahkan si ibu sayu berhenti mengukur. Karibnya datang dari pojok ruang mendekati dia. Dia meminta maaf, aku bersiap angkat bicara.

Karibnya ingin berucap sedangkan dia telah siap mendengar pernyataan. Aku tak rela, maka dengan kecepatan kereta kuda, aku mengambil alih percakapan, "Hai! Namaku Ani. Tidakkah kau mengenalku sejak lama?"

Depok, 24 April 2012

Monday, 21 March 2016

Lucu adalah

Lucu adalah...
Bulan ini saya keteteran, tapi saya tidak bisa berhenti untuk bermalas-malasan. Ini kok font-nya besar amat, ya? Wahaha.

Well. Beberapa hari, bahkan beberapa bulan terakhir ini, saya hampir tidak mengalami kejadian menarik sama sekali. Uhn, apa ini maksudnya? Maksud saya, saya nggak punya bahan untuk menulis sesuatu, ya...terlepas dari mulai berkurangnya minat dan keluangan untuk menulis, tidak adanya kejadian menarik sangat berpengaruh terhadap ada atau tidaknya ide menulis. Yep! Saya memang tidak cukup kreatif untuk memunculkan sebuah ide, tetapi ketika sudah tersulut sedikit saja pencerahan, biasanya saya dapat mengembangkan ide tersebut menjadi lebih liar dan ke mana-mana. Cenderung membosankan polanya, tapi ya begitulah cara saya mengembangkan ide pikiran.

Saya 24 tahun, tahun ini. Tahun depan seperempat abad. Ya ampun, masih saja jalan di tempat. Apa yang akan terjadi di akhir tahun? Akankah saya maju atau justru mengalami kemunduran yang signifikan? Ah, saya bukan manusia super yang dapat berubah watak dan otak dalam waktu satu bulan.

Friday, 18 March 2016

Puisi tentang Waktu untuk Event #99Penyair (dibikin kilat, sejam doang)

Waktu Itu…

Tik tok tak terhitung jari
Nada dan tempo konsistennya manampar kesadaran
Pencemburu, mengatainya pendukung kecurangan
Pemburu, memusuhinya karena keluangan
Perutuk, menyalahkannya, meski ada atau tiada
Tak hirau puji, tak acuh kutuk yang menuntut
Sejatinya penurut Tuhan, ia bergerak konstan, diam
Nyata, tak kasat indera
Kukuh, tanpa lelah dan keluh
Salah satu kesempurnaan ukuran yang tak tertawar
Bukankah ia membuat kita percaya tanpa membantah?
Terkadang ia bersemburat bersama kehadiran senja
Terkadang ia menangis bersama mendung membasah
Sering kali ia memanas bersitegang dengan mentari
Dan ketika tiba giliran dewa-dewi cinta bersemi,
ia memerah muda merayu bunga-bunga
Bukankah ia ada bukan hanya sebagai pengingat,
melainkan juga untuk turut memperingati?
Waktu itu…

****************************************************************


Perindu Malam

Tidak ada fajar, siang, dan senja dalam buku harian kita
Hanya malam dan malam yang pekat tapi hangat
terselimuti lelah, tawa, dan sedikit sekali kata sapa
Kita terbangun sebelum fajar sempat mengintip berbenah rumah bahkan saat ayam masih tertidur asyik

Malam demi malam berlari dengan kecepatan misterius
Kau dan mereka tergerus, baik raga, pun mungkin batin
Namun, malam tak selalu galak mengusir gemintang
Bumi tak pernah sudi berdiam diri, dan lagi mentari
selalu muncul tanpa kenal kebosanan, di kemudian hari
Kabar baik untuk mereka penjelajah dua waktu
Kabar duka untuk para penikmat rutinitas burung hantu

Waktu terlalu pandai mengabur-geserkan hati dan otak
menghasut dengan gelap, menjadikanku perindu malam
mengisi tiap detik gelapku dengan cintamu dan mereka
mengulang ini itu hingga subuh menyapa tanpa aba-aba
menorehkan rasa dan peristiwa dalam buku harian kita
hingga tiba, kita hilang bak embun yang diuapkan siang

****************************************************************

Tantangan (?)

Kita sepakat, sebab akibat adalah karya hebat waktu
Ketika si cikal menghilangkan diri atas sebuah kejadian
Inikah yang kau sebut tantangan berbalap dengannya?
Sebelum ia menghilangkan si cikal selamanya?

Gegabah, menuduhnya tersangka tak kenal kompromi
Bagaimanapun, ia satu-satunya temali yang sempurna
Penyedia bukti, meski kadang memanipulasi memori
Peramu ahli, tentang keberlepasan dan keterikatan

Maka kita hanya perlu merayunya untuk meramu ulang
Memberi bumbu-bumbu untuknya memasak kejadian
Bekerja sama menemukan kembali si cikal misterius
Lantas, berdamai dan berhenti berlomba dengan serius

Aku tak yakin, kita cepat bersahabat
Namun, aku lebih tidak ingin kita terus berbalap
Karenanya mengapa tak kita ubah tantangannya
menjadi kesempatan untuk bersahabat dengannya?

Ironi yang Dinormalisasi

Dalam tahun ini, terhitung belum genap tiga bulan di saat saya menulis ini, sudah ada beberapa kasus tragis yang berhubungan dengan gangguan...