Di saat orang-orang bercerita, membahas semua itu, saya menyadari satu hal yang nyatanya sejalan dengan praduga saya, yang mungkin juga sejalan dengan pemikiran mereka, hingga enggan untuk bercerita atau meminta tolong, hingga akhirnya merasa satu-satunya untuk meredakan segala kegelisahan mereka adalah dengan memadamkan sumbernya: diri mereka sendiri.
Pada umumnya, awal mula orang-orang ini bertanya karena penasaran, lalu membangun opini dan mendeklarasikan kebenaran opini mereka. Satu yang saya tangkap: bahkan setelah para korban sekaligus pelaku ini sudah tiada, mereka pun masih dinilai salah dan bermasalah. Salah karena tidak bisa mengendalikan pikiran. Salah karena tidak bisa mengenali rasa. Salah karena salah mengambil keputusan. Salah karena menuruti pikiran dan pemikiran mereka yang sulit untuk berhenti bersuara. Salah karena tidak bercerita. Salah karena tidak meminta tolong. Salah karena menganggap dirinya hanya sendiri di dunia ini. Salah karena jika bercerita, substansinya dinilai banyak mengeluh. Salah karena berekspektasi tinggi pada lingkungan tempatnya hidup atau bekerja. Salah karena tidak mau menerima perbedaan orang lain. Salah karena terlalu bercita-cita di saat orang di sekitarnya tidak memiliki visi yang sama. Salah karena menyimpulkan perasaan dengan cara yang tidak wajar menurut dan kesalahan lainnya.
Sepanjang saya mendengarkan, saya hanya diam sembari berhitung melipat jari. Membandingkan dengan diri saya sendiri, yang sesekali lepas kendali, tapi tak pernah berani untuk menyakiti siapapun atau apapun. Syukurlah, saya masih ingat Tuhan sesekali. Meratap berkali-kali, tapi pada akhirnya mencari pelarian untuk mengalihkan pikiran busuk yang sebenarnya ingin dibagikan ke orang lain, tapi tidak memungkinkan karena mereka terlalu sibuk dengan urusan dan masalah mereka sendiri.
Namun, apakah mental yang tidak baik-baik saja ini adalah murni kesalahan dan tanggung jawab diri sendiri? Apakah menyuruh mereka ini dan itu sudah termasuk membantu mereka pulih dari sakit tak terlihat ini? Sebagai orang yang tidak bijaksana, saya tidak lagi berani berpikir dan bersuara. Ketika pada akhirnya suatu saat nanti saya betul-betul hanya diam dan meringis saja tanpa bisa mendefinisikan apapun lagi, apakah saya akan disalahkan seperti itu juga? Saya tak masalah jika itu hanya saya yang disalahkan, saya takut ibu dan adik saya ikut tersangkut.
Sebuah ironi, saya berusaha membantu orang lain mengenali dan mengatasi dari level terendah, tapi saya tak mampu berbuat hal yang sama untuk saya sendiri.
No comments:
Post a Comment